0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan8 halaman

Terapi Modalitas untuk Lansia

Terapi modalitas lansia bertujuan untuk mengisi waktu luang lansia dengan kegiatan bermanfaat secara fisik dan psikis. Terapi ini meliputi berbagai aktivitas kelompok seperti stimulasi sensori, orientasi realitas, sosialisasi, dan keagamaan. Prinsip pengelompokan pasien didasarkan pada gejala, kategori, jenis kelamin, dan usia yang seragam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan8 halaman

Terapi Modalitas untuk Lansia

Terapi modalitas lansia bertujuan untuk mengisi waktu luang lansia dengan kegiatan bermanfaat secara fisik dan psikis. Terapi ini meliputi berbagai aktivitas kelompok seperti stimulasi sensori, orientasi realitas, sosialisasi, dan keagamaan. Prinsip pengelompokan pasien didasarkan pada gejala, kategori, jenis kelamin, dan usia yang seragam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI MODALITAS LANSIA (TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK)

A. Pengertian Terapi Modalitas


Terapi modalitas merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang
bagi lansia. Terapi modalitas adalah suatu kegiatan dalam memberikan askep baik di
Institusi pelayanan maupun di masyarakat yang bermanfaat. Pencapaian tujuan terapi
modalitas tergantung pada keadaan kesehatan klien dan tingkat dukungan yang tersedia
(Maryam, dkk 2008). Pencapaian tujuan terapi modalitas tergantung pada keadaan
kesehatan klien dan tingkat dukungan yang tersedia. Terapi ini merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi lansia ( Anastasia, 2010 )

B. Manfaat Terapi Modalitas Pada Lansia


Manfaat terapi aktifitas kelompok pada lansia (Mubarak, 2008)
a) Agar anggota kelompok merasa dimiliki, diakui dan dihargai eksistensinya oleh
anggota kelompok yang lain.
b) Membantu anggota kelompok berhubungan dengan yang lain serta merubah perilaku
yang dekstruktif dan maladaptif.
c) Sebagai tempat untuk berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lain untuk
menemukan cara menyelesaikan masalah.
d) Mengisi waktu luang bagi lansia.
e) Meningkatkan kesehatan lansia.
f) Meningkatkan produktivitas lansia.
g) Meningkatkan interaksi sosial antar lansia

C. Jenis Terapi
Berikut ini terdapat beberapa jenis terpi yang bisa diterapkan sebagai aktivitas
kelompok para lansia, diantaranya:

1. Stimulasi Sensori (Musik)


Jenis terapi ini dapat berfungsi untuk ungkapan perhatian, baik itu bagi
pendengar maupun bagi pemusik. Kualitas dari musik sendiri memiliki andil
terhadap fungsi-fungsi untuk mengungkapkan perhatian yang mana terletak
pada struktur dan ururan matematis, yang mana mampun untuk menunjukkan
pada ketidak beresan di dalam kehidupan seseorang. Peran dan sertanya akan
nampak dalam sebuah pengalaman musikal, semisal menyanyi, menghasilkan
integrasi pribadi yang dapat mempersatukan fisik, pikiran, dan roh. Ada
beberapa manfaat yang diberikan musik di dalam proses stimulasi ini, antara
lain adalah:
 Musik memberikan banyak pengalaman yang ada di dalam stuktur
 Musik memberikan pengalaman untuk mengorganisasi diri
 Musik memberikan kesempatan yang digunakan untuk pertemuan
kelompok yang mana di dalamnya individu telah mengutamakan
kepentingan kelompok dibanding kepentingan individu.
2. Stimulasi Persepsi
Di dalam proses stimulasi ini klien akan dilatih mengenai cara
mempersepsikan stimulus yang telah disediakan ataupun yang sudah pernah
dialami. Kemmapuan untuk mempersepsikan inilah yang akan dievaluasi dan
ditingkatkan di dalam setiap sesinya.
Tujuan dari proses ini diharapkan respon klien menjadi lebih adaptif
dalam berbagai stimulus. Aktifitas yang akan dilakukan berupa stimulus dan
persepsi. Ada beberapa stimulus yang diberikan mulai dari membaca majalah,
menonton televisi, pengalaman dari masa lalu, dan masih banyak lainnya.
3. Orientasi Realitas
Klien nantinya akan diorientasikan kepada kenyataan yang ada di
sekitarnya, mulai dari diri sendiri, orang lain yang ada di sekitar klien, hingga
lingkungan yang memiliki hubungan dan kaitanya dengan klien. Hal ini juga
berlaku pada orientasi waktu di saat ini, waktu yang lalu, hingga rencana di
masa depan. Aktivitas yang dilakukan dapat berupa orientasi orang, tempat,
waktu, benda, serta kondisi yang nyata.
4. Sosialisasi
Klien akan dibantu untuk bisa melakukan sosialisasi dengan individu-
individu di sekitar klien. Sosialiasi akan dilakukan secara bertahap secara
interpersonal, kelompok, maupun massa. Aktivitas yang dapat dilakukan
berupa latihan sosialisasi yang ada di dalam kelompok.
5. Terapi Berkebun
Terapi berkebun memiliki tujuan untuk bisa melatih kesabaran,
kebersamaan, serta bagaimana memanfaatkan waktu luang. Ada beberapa
kegiatan yang dilakukan semisal penanaman kangkung, lombok, bayam, dan
lainnya.
6. Terapi Dengan Binatang
Terapi ini memiliki tujuan untuk bisa meningkatkan rasa kasih sayang
serta mengisi kesepian di sehari-harinya dengan cara bermain bersama
binatang. Semisal memiliki peliharaan kucing, bertenak ayam, sapi, dan
lainnya. Hal ini ,merupakan cara pencegah gangguan jiwa pada lansia yang
cukup efektif.
7. Terapi Okupasi
Terapi ini memiliki tujuan untuk bisa memanfaatkan waktu luang yang
dimiliki lansia serta meningkatkan produktivitas yang nantinya dapat
dimanfaatkan untuk membuat dan menghasilkan karya dari hal-hal yang
sudah disediakan. Misalnya saja membuat kipas, membuat sulak, membuat
bunga, menjahit, merajut, dan masih banyak lainnya.
8. Terapi Kognitif
Terapi perilaku kognitif memiliki tujuan untuk mencegah agar daya ingat
seseorang tidak  menurun. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah dengan
mengadakan cerdas cermat, mengerjakan tebak-tebakan, puzzle, mengisii
TTS, dan lainnya.
9. Life Review Terapi
Terapi ini memiliki tujuan untuk bisa meningkatkan gairah hidup serta
harga diri. Proses nya dengan menceritakan berbagai pengalaman-pengalam di
dalam hidupnya. Misalnya saja menceritakan tentang masa muda nya.

10. Rekreasi
Memiliki tujuan untuk bisa meningkatkan sosialiasi, gairah hidup,
menghilangkan rasa bosan, bahkan dapat melihat pandangan yang mana
digunakan sebagai cara mengatasi stres dan depresi. Ada beberapa kegiatan
yang dapat dilakukan mulai dari mengikuti senam lansia, bersepesa, posyandu
lansia, rekreasi ke kebun raya, mengunjungi saudara, dan masih banyak
lainnya.
11. Terapi Keagamaan
Terapi keagamaan ini digunakan untuk tujuan kebersamaan, memberikan
rasa kenyamanan, bahkan persiapan untuk menjelang kematian. Kegiatan-
kegiatan yang dilakukannya dapat berupa pengajian, sholat berjamaah,
kebantian, dan lainnya.
12. Terapi Keluarga
Terapi keluarga ini merupakan terapi yang diberikan oleh seluruh anggota
keluarga yang mana sebagai unit penanganan. Tujuan dari terapi keluarga ini
adalah untuk mampu melaksanakan fungsi-fungsinya sebagai keluarga.
Sasaran utama dari dari terapi ini adalah keluarga yang kondisinya mengalami
disfungsi, tidak dapat melaksanakan fungsi yang mana dituntut oleh
anggotanya.

Dalam terapi keluarga, semua masalah yang terjadi di dalam keluarga akan
diidentifikasikan dan dikontribusikan dari masing-masing anggota di dalam keluarga
pada penyebab munculnya masalah tersebut. Misalnya saja penyebab keluarga tidak
harmonis. Sehingga nantinya masing-masing anggota keluarga dapat lebih mawas diri
pada masalah yang terjadi dalam keluarga dan mencari solusi yang tepat untuk
mengembalikan fungsi keluarga sebagaimana sebelumnya.

Proses terapi ini memiliki 3 tahapan di dalamnya, fase pertama adalah perjanjian,
fase kedua adalah kerja, dan fase ketiga adalah terminasi. Pada fase pertama, perawat dan
klien akan mengembangkan hubungan untuk saling percaya satu sama lainnya. Isu di
dalam keluarga kan diidentifikasi dan tujuan dari terapi akan ditetapkan bersama. Fase
kedua atau fase kerja merupakan fase dimana keluarga akan dibantu dengan perawat yang
dijadikan sebagai terapis yang nantinya berusaha untuk mengubah pola interaksi yang
terjadi di dalam anggota keluarga, peraturan di dalam keluarga, dan eksplorasi batasan di
dalam keluarga.

Kemudian di dalam fase terakhir keluarga akan melihat kembali bagiaman proses
yang telah dijalani selama ini untuk bisa mencapai tujuan terapi. Keluarga juga memiliki
peran yang penting dalam mempertahankan perawatan secara berkesinambungan.
D. Prinsip Terapi Aktivitas Kelompok
Prinsip di dalam memilih pasien yang ikut dalam terapi aktivitas kelompok adalah
dengan homogenitas, yang dijelaskan pada poin-poin berikut ini:

1. Gejala Yang Sama


Misalnya saja dalam terapi aktivitas kelompok tersebut dikhususkan untuk
pasien penderita depresi, halusinasi, atau lainnya. Setiap terapi aktivitas
kelompok tentunya memiliki tujuan masing-masing yang spsifik untuk
anggotanya. Setiap tujuan tersebut tentunya dapat dicapai jika pasien-pasien di
dalanya memiliki gejala atau masalah yang sama. Sehingga nantinya pasien-
pasien di dalam kelompok tersebut dapat bekerja sama dalam proses terapi.
2. Kategori Sama
Disini mengartikan jika pasien yang memiliki skor hampir sama dari
kategorisasi. Pasien yang  dapat diikutkan ke dalam terapi aktivitas kelompok
merupakan pasien yang akut dengan skor rendah hingga pasien pada tahap pro
motion. Bila dalam sebuah terapi pasien-pasien di dalamnya memiliki skor
yang hampir sama tentu saja tujuan dalam terapi akan tercapai dengan mudah.
3. Jenis Kelamin Sama
Pengalaman dalam terapi aktivitas kelompok yang dijalani pasien dengan
memiliki gejala yang sama, biasanya laki-laki akan mendominasi
dibandingkan dengan kaum perempuan. Sehingga akan lebih baik jika
dibedakan.
4. Kelompok Umur Hampir Sama
Tingkat perkembangan pasien yang sama nantinya akan lebih
memudahkan interaksi yang terjadi antara pasien satu sama lainnya.
5. Jumlah Anggota Yang Efektif
Jumlah anggota kelompok di dalam sebuah terapi tentunya harus efektif.
Jumlah yang efektif biasanya sekitar 7-10 orang di dalamnya. Jika terlalu
banyak pasien di dalamnya maka tujuan terapi akan terasa sulit untuk dicapai
karena kondisinya akan terlalu ramai dan kurangnya perhatian terapis untuk
pasien. Namun jika terlalu sedikit maka tentu saja interaksi yang terjadi akan
terasa sepi dan tujuan menjadi sulit tercapai.

E. Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok Bagi Lansia


Ada bebrapa manfaat yang bisa dirasakan bagi kaum lansia yang mengikuti terapi
aktivitas kelompok, antara lain adalah:
 Agar anggota di dalam kelompok tersebut merasa diakui, dimiliki, serta
dihargai eksistensinya oleh anggota lainnya di dalam kelompok
 Membantu agar anggota kelompok lain yang berhubungan satu sama
lainnya dan merubah sikap dan perilaku yang maladaptive dan destrkutif
 Sebagai tempat yang digunakan untuk berbagi pengalamn serta saling
memantau satu sama lainnya yang dipertuntukkan untuk menemukan
solusi menyelsaikan masalah
F. PERAN PERAWAT DALAM TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
a. Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok.
b. Sebagai leader dan co leader
1. Leader 
Tugasnya:
- Menyusun rencana pembuatan proposal
- Memimpin jalannya therapi aktifitas kelompok
- Merencanakan dan mengontrol terapi aktifitas kelompok
- Membuka aktifitas kelompok
- Memimpin diskusi dan terapi aktifitas kelompok
-
Leader memperkenalkan diri dan mempersilahkan anggota diskusi lainnya untuk 
memperkenalkan diri
- Membacakan tujuan terapi aktivitas kelompok
- Membacakan tata tertib
2. Co-leader 

Tugasnya:

- Membantu leader mengorganisasi anggota

- Apabila terapi aktivitas pasif diambil oleh Co-leader

- Menggerakkan anggota kelompok

- Membacakan aturan main

c. Sebagai fasilitator

Tugasnya :

- Ikut serta dalam kegiatan kelompok untuk aktif jalannya permainan

- Memfasilitasi anggota dalam diskusi kelompok

d. Sebagai observer

Tugasnya :

 Mengobservasi jalannya terapi aktifitas kelompok mulai dari persiapan, proses 
dan penutup.
 Mencari serta mengarahkan respon klien
 Mencatat semua proses yang terjadi
 Memberi umpan balik pada kelompok
 Melakukan evaluasi pada terapi aktifitas kelompok
 Membuat laporan jalannya aktivitas kelompok
 Membacakan kontrak waktu
e. Mengatasi masalah yang timbul pada saat pelaksanaa

G. CONTOH KEGIATAN
a. Definisi terapi aktivitas kelompok sosial (TAKS
Terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi kem
ampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial.
b. Tujuan 
1. Tujuan umum
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu memperkenalkan diri.
b. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok.
c.  Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok.
d. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan.
e. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada ora
ng lai
f.  Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok.
g. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS ya
ng telah dilakukan.
c. Aktivitas dan Indikasi
1. Tujuan
 Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok:
 Menyebutkan jati diri sendiri : nama lengkap, nama panggilan, asal 
dan hobi
 Menanyakan jati diri anggota kelompok lain : nama lengkap, nama 
panggilan, asal dan hobi. 
 Setting

d. KEMANPUAN MEMPERKANALKAN DIRI

A. Kemampuan Verbal

Nama klien
No ASPEK YANG DINILAI

1. Menyebutkan nama lengkap
2. Menyebutkan nama panggil
an
3. Menyebutkan asal
4. Menyebutkan hobi
JUMLAH
B. Kemampuan non verbal

Nama klien
No ASPEK YANG DINILAI

1. Kontak mata
2. Duduk tegak
3. Menggunakan bahasa tubuh 
yang sesuai
4. Mengikuti kegiatan dari aw
al sampai akhir
JUMLAH

Petunjuk :
1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.
2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda Ö jika ditemu
kan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 4 klien mampu, dan ji
ka nilai 0, 1, atau 2 klien belum mampu

Anda mungkin juga menyukai