0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Penyakit Menular Seksual pada Wanita

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit menular seksual (PMS) yang mencakup latar belakang masalah, gejala, kelompok resiko, jenis penyakit, dan pengobatan PMS seperti gonore.

Diunggah oleh

Khusnul Eka Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Penyakit Menular Seksual pada Wanita

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit menular seksual (PMS) yang mencakup latar belakang masalah, gejala, kelompok resiko, jenis penyakit, dan pengobatan PMS seperti gonore.

Diunggah oleh

Khusnul Eka Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Penyakit kelamin (veneral disease) sudah lama dikenal dan beberapa
diantaranya sangat popular di Indonesia yaitu sifilis dan gonorhea. Semakin
majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban
masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah
tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi sexual transmitted disease (STD)
atau penyakit menular seksual (Fahmi dkk, 2014).
Peningkatan insiden Infeksi Menular Seksual (IMS) dan
penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di
beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang
intensif akan menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relatif
tetap. Namun demikian di sebagian besar negara insiden IMS relatif masih
tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya
antara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan
pertumbuhan, kanker bahkan juga kematian memerlukan penanggulangan,
sehingga hal ini akan meningkatkan biaya kesehatan. Selain itu pola infeksi
juga mengalami perubahan, misalnya infeksi Klamidia, Herpes genital, dan
Kondiloma akuminata di beberapa negara cenderung meningkat dibandingkan
dengan uretritis gonore dan sifilis. Beberapa penyakit sudah resisten terhadap
antibiotika misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae,
Hemophylus ducreyl, dan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap
metronidazole (Fahmi dkk, 2014).
Data dari profil pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
tahun 2012 didapatkan total kasus IMS yang ditangani pada tahun 2012
sebanyak 140.803 kasus dari 430 layanan IMS. Jumlah kasus IMS terbanyak
berupa cairan vagina abnormal (klinis) 20.962 dan servicitis (lab) 33.025. IMS
merupakan salah satu pintu masuk atau tanda-tanda adanya HIV (Kemenkes,
2013).
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian IMS masih
menjadi permasalahan sehingga perlu ada pencegahan guna menekan

1
angka kejadian IMS dan menurunkan angka morbiditas. Dari beberapa
tindakan pencegahan yang ada, pemakaian kondom saat berhubungan
seksual merupakan alternatif yang harus dipertimbangkan karena terbukti
efektif mencegah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi
gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati,
otak, dan organ tubuh lainnya. Contohnya, baik HIV/AIDS dan Hepatitis B
dapat ditularkan melalui hubungan seks tapi keduanya tidak terlalu menyerang
alat kelamin.
Terkadang, PMS tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga kita
tidak tahu kalau kita sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak
memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan
tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-
tahun setelah terinfeksi. Pada wanita, PMS bahkan tidak dapat terdeteksi.
Walaupun seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS, dan
tidak mengetahui bahwa mereka terkena PMS, mereka tetap bisa menulari
orang lain.
Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala
setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak seorangpun dapat menentukan
apakah betul atau tidak seseorang terinfeksi hanya berdasarkan
penampilannya saja. Walaupun orang tsb mungkin terlihat sehat, mereka
masih bisa menularkan HIV kepada orang lain. Kadang, orang yang sudah
terinfeksi HIV tidak sadar bahwa mereka mengidap virus tsb, karena
mereka merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya tes laboratorium yang
dapat menunjukkan seseorang telah terinfeksi HIV atau tidak

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infeksi Menular Seksual

2.1.1 Pengertian

Penyakit kelamin ( veneral disease ) sudah lama di kenal dan beberapa di

antaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonorrea .Dengan semakin

majunya ilmu pengetahuan ,dan semakin banyaknya penyakit–penyakit baru, sehingga

istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases

( STD ) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Kemudian sejak 1998, istilah

Sexually Transmitted Diseases (STD) mulai berubah menjadi Infeksi menular seksual

(IMS) agar dapat menjangkau penderitaan asimptomatik.

Infeksi menular Seksual ( IMS ) atau Sexually Transmitted Diseases (STD)

adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui

kontak seksual. Semua teknik hubungan seksual baik lewat vagina, dubur, atau oral

baik berlawanan jenis kelamin maupun dengan sesama jenis kelamin bisa menjadi

sarana penularan penyakit kelamin. Sehingga kelainan ditimbulkan tidak hanya

terbatas pada daerah genital saja, tetapi dapat juga di daerah ekstra genital. Kelompok

umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular IMS adalah kelompok remaja

sampai dewasa muda sekitar usia (15-24 tahun).

3
2.1.2 Tanda dan gejala

Gejala infeksi menular seksual ( IMS ) di bedakan menjadi:

1. Perempuan

a. Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus, mulut atau

bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil – kecil, diikuti luka yang sangat sakit

disekitar alat kelamin.

b. Cairan tidak normal yaitu cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan, kehijauan,

berbau atau berlendir.

c. Sakit pada saat buang air kecil yaitu IMS pada wanita biasanya tidak

menyebabkan sakit atau burning urination.

d. Tonjolan seperti jengger ayam yang tumbuh disekitar alat kelamin

e. Sakit pada bagian bawah perut yaitu rasa sakit yang hilang muncul dan tidak

berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda infeksi saluran reproduksi

( infeksi yang telah berpindah kebagian dalam sistemik reproduksi, termasuk

tuba fallopi dan ovarium )

f. Kemerahan yaitu pada sekitar alat kelamin.


2. Laki – laki

a. Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus , mulut atau

bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil – kecil , diikuti luka yang sangat sakit di

sekitar alat kelamin

b. Cairan tidak normal yaitu cairan bening atau bewarna berasal dari pembukaan

kepala penis atau anus.

c. Sakit pada saat buang air kecil yaitu rasa terbakar atau rasa sakit selama atau

setelah urination.

d. Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di kantong zakar

4
2.1.3 Kelompok Perilaku Resiko Tinggi

Dalam Infeksi menular seksual ( IMS ) yang dimaksud dengan perilaku resiko

tinggi ialah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang

penyakit tersebut.

Yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah :

1. Usia

a. 20 – 34 tahun pada laki – laki

b. 16 – 24 tahun pada wanita

c. 20 – 24 tahun pada pria dan wanita

2. PSK ( Pekerja Seks Komersial )

3. Pecandu narkotik

4. Homo seksual.

2.1.4 Macam – macam penyakit menular seksual

Berdasarkan penyebabnya, Infeksi menular seksual di bedakan menjadi empat


kelompok yaitu:

1. IMS yang disebabkan bakteri, yaitu: Gonore, infeksi genital non spesifik,
Sifilis, Ulkus Mole, Limfomagranuloma Venerum,Vaginosis bakterial
2. IMS yang disebabkan virus, yaitu: Herpes genetalis, Kondiloma
Akuminata, Infeksi HIV, dan AIDS, Hepatitis B, Moluskus Kontagiosum.
3. IMS yang disebabkan jamur, yaitu: Kandidiosis genitalis
4. IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit, yaitu: Trikomoniasis,
Pedikulosis Pubis, skabies.

5
Berdasarkan cara penularannya, infeksi menular seksual dibedakan menjadi dua, yaitu

IMS mayor ( penularannya dengan hubungan seksual ) dan IMS minor ( Penularannya tidak

harus dengan hubungan seksual ).

1). IMS mayor

a. Gonore

Etiologi Gonore: Neisseria gonorrhoeae . Masa inkubasi : Pria 2-5 hari, gejala

pada wanita sulit diketahui oleh karena sering asimtomatik . Gejala klinis: Pria duh

tubuh uretra, kental, putih kekuningan atau kuning, kadang-kadang mukoid atau

mukopurulen; eritema atau edema pada meatus. Sedangkan pada wanita seringkali

asimtomatik, apabila ada duh tubuh serviks purulen atau mukopurulen, kadang-

kadang disertai eksudat purulen dari uretra atau kelenjar Bartholini. Pada wanita

biasanya datang berobat setelah ada komplikasi antara lain servisitis, bartilinitis, dan

nyeri pada panggul bagian bawah.

Diagnosis ditegakan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan beberapa

pemeriksaan penunjang yaitu: sediaan langsung, kultur (biakan), tes betalaktamase,

tes Thomson

Komplikasi : Pada pria epididimitis, orkitis => infertilitas, sedangkan

komplikasi pada wanita adneksitis, salpingitis => kehamilan ektopik, infertilitas,

striktur uretra, konjungtivitas, meningitis, dan endokarditis .

Penatalaksanaan :
1) Pennisilline G prokain dengan dosis 2,4 – 4,8 juta unit
2)   cefriaxone ( untuk gonore tanpa komplikasi pada ibu hamil) IM 125 mg atau oral
cefixime (400 mg)
3) spectinomycin dengan eritromicyn (untuk wanita yang alergi terhadap penisilin
atau antibiotic beta-laktam) 2 gram/12jam.
4) Dipantau selama 24-48jam. Jika ada kemajuan diteruskan dengan :
a. Cefixime 400 mg /2 kali sehari

6
b.    Ciprofloxacin (tidak hamil)
5) Untuk gonore dengan endokarditis terapi selama 4 minggu dan untuk gonore
meningitis selama 10-14 hari

Gambar 1. Infeksi bakteri akibat Gonore

b. Sifilis

Etiologi Sifilis : Treponema Palidum. Merupakan penyakit menahun dengan

remisi dan ekserbasi,dapat menyerang seluruh organ tubuh. Mempunyai periode laten

tanpa manifestasi lesi pada tubuh,dan dapat di tularkan dari ibu kepada janinnya.

Sifilis di bagi menjadi sifilis akuisita (di dapat) dan sifilis kongenital.

Gejala dan tanda , Sebuah luka mula-mula muncul beberapa minggu setelah

tertular. luka ini biasanya merupakan borok yang tidak sakit di daerah tempat

hubungan pertama kali terjadi (penis, leher rahim, dubur, dinding belakang

kerongkongan/faring). Kuman kemudian memasuki aliran darah; dalam waktu 1-3

bulan muncul tahap kedua. Tahap ini ditandai dengan ruam yang menyebar dan

pembengkakan kelenjar. Setelah masa laten selama 5-20 tahun dengan sedikit atau

tanpa gejala, tahap ketiga dari sifilis ini bisa termasuk penyakit-penyakit yang

menyerang susunan saraf pusat atau sistem kardiovaskular, yang bisa menyebabkan

kelumpuhan dan kematian muda.

7
Sifilis akuisita di bagi menjadi 3 stadium sebagai berikut :

1) Stadium I : erosi yang selanjutnya menjadi ulkus durum

2) Stadium II : dapat berupa roseola, kondiloma lata, bentuk varisela

atau bentuk plak mukosa atau alopesia

3) Stadium III : bersifat destruktif, berupa guma di kulit atau alat – alat

dalam dan kardiovaskuler serta neurosifilis.

Diagnosis di tegakan dengan diagnosis klinis di konfirmasi dengan

pemeriksaan labolatorium berupa pemeriksaan lapangan gelap (pemeriksaan

lapangan gelap, mikroskop fluorensi) menggunakan bagian dalam lesi guna

menemukan [Link].

Selain itu menggunakan penentuan antibody dalam serum ( tes

menentukan anti body nonspesifik, tes menentukan antibodi spesifik,

antibody terhadap kelompok antigen yaitu tes Reiter Protein Complement

Fixation).

Penatalaksanaan
Penisilin prokain dosis 2,4 – 4,8 juta unit, tetrasiklin 4 x 500 mg/hari

selama 15-30 hari., eritromisin 4 x 500 mg/hari selama 15-30 hari .,

doksisiklin 2 x 100 mg/hari selama 15-30 hari .

Gambar [Link]

8
c. Ulkus Mole

Etiologi: Haemophillus ducreyi gram negatif streptobacillus, biasa disebut

chancroid merupakan penyakit infeksi genentalia akut. Gejala klinis : Ulkus multipel,

bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar ulkus eritema dan edema,

sangat nyeri. Kelenjar getah bening inguinal bilateral atau unilateral membesar,

nyeri, dengan eritema di atasnya, seringkali disertai tanda-tanda fluktuasi, biasanya

tidak disertai gejala sistemik.

Diagnosis ulkus mole di tegakan berdasarkan riwayat pasien, keluhan dan

gejala klinis,serta pemeriksaan labolatorium. Pemeriksaan langsung bahan ulkus

dengan pengecatan gram memperlihatkan basil kecil negatif gram yang berderat

berpasangan seperti rantai di intersel atau ekstrasel. Dengan menggunakan kultur

[Link], pemeriksaan yang di peroleh lebih [Link] di ambil dari dasar ulkus

yang di peroleh lebih akurat. Bahan di ambil dari dasar ulkus yang purulen atau pus.

Selain itu bisa dengan tes serologi ito-Reenstierma ,tes ELISA, presipitin, dan

aglutinin.

Penatalaksanaan :
Sulfatiazol 4 x 500 mg/hari, selama 10 – 14 hari.
Trimetroprim sulfa forte 2 x (160/800 mg)/hari selama 10 -14 hari.
Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari selama 10 – 20 hari.
Komplikasi : Luka terinfeksi dan menyebabkan nekrosis jaringan .

9
Gambar 3. Ulkus Mole
d. Limfogranuloma Venerum

Limfogranuloma Venerum adalah infeksi menular seksual yang mengenai


sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada daerah genital,
inguinal, anus, dan rectum. Penyebabnya adalah Clamydia trachomatis, yang
merupakan organisme dengan sifat sebagian seperti bakteri dalam hal pembelahan
sel, metabolisme, struktur, maupun kepekaan terhadap antibiotika dan kemoterapi,
dan sebagian lagi bersifat seperti virus yaitu memerlukan sel hidup untuk
berkembang biaknya.
Gejala penyakit berupa malaise, nyeri kepala, athralgia , anoreksia, nausea,
dan demam. Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening inguinal medial
dengan tanda – tanda [Link] ini dapat berlanjut memberikan gejala – gejala
kemerahan pada saluran kelenjar dan fistulasi.
Diagnosis dapat di tegakan berdasarkan gambaran klinis, tes GPR, tes Frei, tes
serologi, pengecatan giemsa dari pus bubo,dan kultur jaringan.
Penatalaksanaan :
Kotrimoksazol 3 x 2 tablet, selama 1 – 5 minggu.
Sulfonamida 3 x 1 g/hari selama 7 hari.
Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari selama 14 hari.
Komplikasi : Elefantiasis genital atau sindroma anorektal

10
Gambar 4. Limfogranuloma Venerum

e. Granuloma Inguinal

Granuloma Inguinal merupakan penyakit yang timbul akibat proses granuloma

pada daerah anogenital dan inguinal. Etiologinya adalah: Donovania granuloma (

Calymatobacterium granulomatosis ). Lebih banyak menerang usia aktif ( 20 – 40

tahun ) . Dan lebih sering terdapat pada pria dari pada wanita.

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan, awalnya

timbul lesi bentuk papula atau vesikel yang berwana merah dan tidak nyeri, perlahan

berubah menjadi ulkus granulomatosa yang bulat dan mudah berdarah, mengeluarkan

sekret yang berbau amis. Diagnosis laboratorium biasanya dilakukan dengan

mengidentifikasi adanya "bakteri Donovan" di dalam smear yang menjalani

pemeriksaan mikroskopik Giemsa stain.

Penatalaksanaan
Ampisilin 4 x 500 mg/hari selama 2 minggu.
Streptomisin 1 g/hari IM selama 20 hari.
Tetrasiklin 4 x 500 mg /hari selama 10-20 hari.
Eritromisin 4 x 500 mg/ hari selama 2-3 minggu.
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet/hari selama 1 bulan.

2). IMS Minor

a. Herpes Genetalis

Herpes genitalis adalah infeski pada genital yang disebabkan oleh Herpes

simpleks virus dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar

eritema dan bersifat rekurens. Hubungan resiko yang beresiko tinggi dengan

seseorang penderita herpes dapat meningkatkan resiko terkena virus herpes simpleks.

11
Manifestasi klinis di pengaruhi oleh faktor hospes, pajanan HSV sebelumnya, episode

terdahulu dan tipe virus. Daerah predileksi pada pria biasanya di preputium, gland

penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal (homoseksual).Sedangkan

pada wanita biasanya di dareah labia mayor atau labia minor, klitoris, introitus vagina,

serviks.

Gejala klinis => diawali dengan papul – vesikel. Ulkus/erosi multipel

berkelompok, di atas dasar eritematosa, sangat nyeri dan edema di inguinal,

limfadenopati bilateral, dan kenyal, disertai gejala sistemik seperti malaise, anoreksia

dan demam , umumnya lesi tidak sebanyak seperti pada lesi primer, dan keluhan tidak

seberat lesi primer, timbul bila ada faktor pencetus.

Herpes genital dapat kambuh apabila ada faktor pencetus daya tahan menurun,

faktor stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan dan lain-lain. Umumnya lesi

tidak sebanyak dan seberat pada lesi primer

Komplikasi dapat ditumpangi oleh infeksi bakteri lain.

Gambar 5. Hepers Genitalis

Penatalaksanaan :
Asiklovir 5 x 200 mg/hari selama 5 hari.
Valasiklovir 2 x 500 – 1000 mg/hari selama 5 hari.
12
Famsiklovir 3 x 500 mg/hari selama 5 hari.

b. Clamidia Trachomatis

Clamidia trachomatis merupakan penyakit menular seksual yang paling sering


dijumpai pada orang dewasa dan remaja, paling sering dijumpai pada wanita yang
aktif secara seksual diantara usia 12 dan 19 tahun.
Gejala dan tanda pada pria keluarnya cairan uretra mukoid atau mukopurulen ,
dysuria . Pada wanita  sebagian besar wanita dengan infeksi klamidia di serviks tidak
memperlihatkan gejala tetapi sebagian kecil mengeluh keluarnya cairan vagina yang
tidak normal dan dysuria . Mungkin tidak terdapat tanda-tanda spesifik, serviks
mungkin tampak normal / mungkin terjadi endoservitis disertai pengeluaran mukopus
dari os.  Nyeri tekanan adneksa yang ringan.
Komplikasi yang menyebabkan kemandulan pada perempuan juga umum terjadi.
Infeksi mata mungkin menyerang bayi yang dilahirkan oleh perempuan yang
terinfeksi. Diagnosis biasanya didasari oleh tidak adanya kuman penyebab gonore
pada smear atau pada pembiakan cairan dari leher rahim atau dari uretra (lubang
kencing). Hal ini bisa dipastikan dengan mengetes cairan smear untuk melihat adanya
antigen klamidia.
Penatalaksanaan :
Tetrasiklin HCl 4 x 500 mg/hari selama satu minggu
Eritromisin 4 x 500 mg/hari selama satu minggu (untuk wanita hamil)
Doksisiklin 2 x 100 mg/hari selama satu minggu
Azitromisin dosis tunggal 1-2 gram sekali minum
*
Tetrasiklin dan doksisiklin tidak boleh diberikan untuk wanita hamil.

c. Tricomoniasis
Merupakan infeksi dari penyakit protozoa yang disebebakan oleh
Trichomonas vaginalis, biasanya di tularkan melalui hubungan seksual dan sering
menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada pria maupun wanita,namun
peranannya pada pria sebagai penyebab penyakit masih diragukan. Gejala pada wanita
sering asimptomatik . Bila ada keluhan biasanya berupa sekret vagina yang berlebihan
dan [Link] berwarna kehijauan dan berbusa. Sedangkan pada pria gambaran

13
klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Dapat berupa disuria, poliuria, dan
secret uretra mukoid atau mukopurulen. Walaupun begitu, infeksi ini biasanya tidak
memiliki gejala. Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik dari cairan
serta identitikasi adanya parasit.

14
Penatalaksanaan
- Metronidazol dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari selama 7 hari.
- Nimorazol dosis tunggal 2 gram.
- Tinidazol dosis tunggal 2 gram.
- Omidazol dosis tunggal 1,5 gram.
- Secara topikal, dapat diberikan cairan berupa irigasi. Misalnya hidrogen peroksida
1- 2% dan larutan asam laktat 4%.

Gambar [Link]

d. Kandidiasis vaginali

Kandidiasis adalah infeksi dengan berbagai manifestasi klinis yang disebabkan

oleh candida, candida albicans dan ragi (yeast) lain (terkadang [Link]) dari genus

candida. Kandida pada wanita umumnya infeksi pertama kali timbul pada vagina yang

di sebut vaginitis dan dapat meluas sampai vulva (vulvitis), jika mukosa vagina dan

vulva keduanya terinfeksi disebut kandidiosis vulvovaginalis ( KVV). Gejala penyakit

ini adalah rasa panas dan iritasi pada vulva, selain itu juga sekret vagina yang

berlebihan berwarna putih susu. Pada dinding vagina terdapat gumpalan seperti keju.

15
pengobatan kandidiasis vaginalis dapat dilakukan secara topikal maupun

sistemik. Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu: gel, krim, losion,

tablet vagina, suppositoria dan tablet oral.

1. Derivat Rosanillin Gentian violet 1-2 % dalam bentuk larutan atau gel, selama

10 hari.

2. Povidone – iodine Merupakan bahan aktif yang bersifat antibakteri maupun

anti jamur.

3. Derivat Polien Nistatin 100.000 unit krim/tablet vagina selama 14 hari Nistatin

100.000 unit tablet oral selama 14 hari

4. Derivat Imidazole

a. Topical

1) Mikonazol 2% krim vaginal selama 7 hari, 100 mg tablet vaginal

selama 7 hari 200 mg tablet vaginal selama 3 hari, 1200 mg tablet

vaginal dosis tunggal .

2) Ekonazol 150 mg tablet vaginal selama 3 hari .

3) Fentikonazol 2% krim vaginal selama 7 hari, 200 mg tablet vaginal

selama 3 hari, 600 mg tablet vaginal dosis tunggal.

4) Tiokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari, 6,5% krim vaginal dosis

tunggal.

5) Klotrimazol 1% krim vaginal selama 7 – 14 hari, 10% krim vaginal

sekali aplikasi, 100 mg tablet vaginal selama 7 hari, 500 mg tablet

vaginal dosis tunggal.

6) Butokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari .

7) Terkonazol 2% krim vaginal selama 3 hari

b. Sistemik

1) Ketokanazol 400 mg selama 5 hari

2) Itrakanazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal

16
3) Flukonazol 150 mg dosis tunggal Dan pada pengobatan kandidiasis

vaginalis berulang sama seperti pada pengobatan kandidiasis akut akan

tetapi perlu jangka lama (10-14 hari) baik obat tropikal maupun oral.

c. Profilaksasi

1) Ketokanazol 50 mg/hari selama 6 bulan

2) Klotrimazol 200 mg tablet vaginal 2x/minggu, 500 mg tablet vaginal

1x/minggu, 500 mg tablet vaginal 1x/2 minggu, 500 mg tablet vaginal

1x/bulan

3) Terkonazol 0,8% krim vagina 5 gram 1x/minggu

4) Intrakonazol 200 mg 1x/bulan, 400 mg 1x/bulan

5) Flukonazol 150 mg 1x/bulan

6) Boric acid 600 mg vaginal suppositoria sekali sehari selama

menstruasi.

Gambar 7. Kandidiosis Vulvovaginalis

17
e. Vaginosis bacterial

Adalah suatu sindrom perubahan ekositem vagina dimana terjadi pergantian


dari lactobacillus yang normalnya memproduksi H2O2 di vagina dengan bakteri
anaerob ( seperti Prevotella Sp, Mobiluncus Sp,Gardenerella vaginalis, dan
Mycoplasma hominis) yang menyebabkan peningkatan pH dari nilai kurang 4,5
sampai 7,0. Wanita dengan vaginosis bacterialis dapat tanpa gejala atau mempunyai
bau vagina yang khas seperti bau amis, terutama waktu menstruasi dan berhubungan
seksual, Selain itu, ada gejala lain yang mungkin muncul, seperti vagina terasa gatal
dan nyeri, serta perih ketika buang air kecil.
Berdasarkan Centre for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2010
regimen pengobatan yang direkomendasikan untuk VB pada wanita tidak hamil ialah
metronidazol 500 mg yang diberikan dua kali sehari selama 7 hari, atau metronidazol
0,75% intravagina yang diberikan satu kali sehari selama 5 hari, atau klindamisin krim
2% intravagina yang diberikan pada malam hari selama 7 hari. Atau regimen alternatif
, yaitu tinidazol 2 gram, yang diberikan satu kali sehari selama dua hari, atau tinidazol
1 gram yang diberikan satu kali sehari selama 5 hari atau klindamisin 300 mg, yang
diberikan dua kali sehari selama lima hari atau klindamisin ovula 100 mg satu kali
sehari pada malam hari selama tiga hari. sedangkan pada wanita hamil , berdasarkan
CDC tahun 2010 pengobatan yang direkomendasikan ialah ; metronidazol 500 mg
yang diberikan dua kali sehari selama 7 hari, atau metronidazol 250 mg yang
diberikan tiga kali sehari selama 7 hari atau klindamisin 300 mg yang diberikan dua
kali sehari selama 7 hari.

18
Gambar 8. Vaginosis

bacterialis

f. Kondiloma Akuminata

Kondiloma Akuminata ialah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh

human papiloma virus (HPV) dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan

mukosa. Sinonim genital warts, kutil kelamin, penyakit jengger ayam

Untuk kepentingan klinis maka KA dibagi menjadi 3 bentuk: bentuk papul,

bentuk akuminata, bentuk datar. Penyakit ini berupa vegetasi yang bertangkai dan

berwarna kemerahan kalau masih baru, jika telah lama menjadi agak kehitaman.

Permukaannya berjonjot (papilomatosa) sehingga pada vegetasi yang besar (giant

condyloma) dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul infeksi sekunder warna

kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak enak. terutama

terdapat di daerah lipatan yang lembab, misalnya di daerah genitalia [Link]

ditegakan berdasarkan gejala klinis. Untuk lesi yang meragukan bisa menggunakan

asam asetat 5 % yang di bubuhkan ke lesi selama 3-5 menit,lesi kondiloma akan

berubah menjadi [Link] juga dilakukan pemeriksaan histopatologis.

Penatalaksanaan :

o Podofilox, dioleskan pada kondiloma akuminata di bagian luar kelamin untuk


menghentikan pertumbuhan sel kondiloma akuminata.
o Imiquimod untuk Krim ini membantu meningkatkan sistem imun untuk
melawan virus penyebab kondiloma akuminata. 
o Salep dari sinecatechins (ekstrak teh hijau) yang dioleskan pada kondiloma
akuminata di sekitar alat kelamin dan anus. Efek samping biasanya ringan dan
meliputi kemerahan pada kulit, gatal atau rasa kebakar dan nyeri.

19
Prosedur Pembedahan
Pembedahan dilakukan untuk kondiloma akuminata yang berukuran besar, yang tidak
memberikan respon dengan obat atau pada wanita hamil. Pilihan pembedahan yang bisa
dilakukan meliputi:

 Bedah beku dengan nitrogen cair (cryotherapy). Kerja teknik ini adalah dengan


menyebabkan luka/ lepuh di sekitar kondiloma akuminata. Ketika kulit sembuh,
lesi akan mengelupas sehingga membuat kulit baru tumbuh. Efek samping utama
dari teknik ini adalah bengkak dan nyeri.
 Elektrokauter. Prosedur ini menggunakan alat listrik untuk membakar kondiloma
akuminata. Nyeri dan bengkak bisa terjadi pasca tindakan.
 Bedah eksisi. Dokter menggunakan pisau untuk memotong kondiloma akuminata.
Butuh anastesi lokal atau umum untuk melakukan tindakan ini dan rasa nyeri bisa
muncul setelah terapi.
 Laser. Tindakan ini menggunakan gelombang cahaya. Efek samping yang
ditimbulkan meliputi skar (jaringan parut) dan nyeri.

20
Gambar 9. Kondiloma Akuminata

g. Moluskum Kontagiosum

Moluskum Kontagiosum merupakan neoplasma jinak padajaringan kulit dan

mukosa yang di sebabkan oleh virus moluskum kontagiosum. Terutama menyerang

anak– anak. Orang dewasa yang kehidupan seksualnya sangat aktif,serta orang yang

mengalami gangguan imunitas. Lesi MK berupa papul milier,ada lekukan ( delle ),

permukaan halus,konsistensi kenyal, dengan umbilikasi pada bagian [Link]

berwarna putih, kuning muda, atau seperti warna kulit. Bila di tekan akan keluar masa

putih seperti nasi. Munculnya bintil-bintil pada permukaan [Link] bintil

tersebut kecil (seukuran biji kacang hijau). Beberapa bintil ada yang terasa gatal. Bintil

mudah menyebar ke area kulit lainnya dan mudah menular pada orang lain. Jika pecah,

akan keluar cairan putih kekuningan. Cairan ini dapat menularkan molluscum

contagiosum.

Prinsip penatalaksanaannya adalah mengeluarkan masa putih di dalamnya dengan alat

seperti ekstrator komedo,jarum suntik , bedah beku, dan elektrocauterisasi , Karena virus hanya

berkembang sebatas permukaan kulit saja, maka perlu diketahui bahwa penyakit ini jarang

menimbulkan jaringan parut; kecuali bila lesi terinfeksi.

Selain dengan menerapkan langkah pengobatan di atas, pasien juga akan


dianjurkan untuk:

 Menjaga kebersihan.
 Menghindari kontak langsung dengan anggota keluargaatau kerabat yang sehat.

21
h. AIDS

Acquired Imunodeficiency Syndrome adalah kumpulan gejala yang timbul akibat

menurunnya kekebalan suhu tubuh yang di peroleh,di sebabkan oleh human

imunodeficiency virus ( HIV ). AIDS disebebkan oleh masuknya HIV kedalam tubuh

manusia.
Jika sudah masuk dalam tubuh ,HIV akan menyerang sel- sel darah putih yang
mengatur system kekebalan tubuh,yaitu sel –sel penolong, ” sel T Helper”
Gejala mayor :

- Penurunan BB yang mencolok/ pertumbuhan abnormal

- Diare kronik lebih dari 1 bulan

- Demam lebih menjadi 1 bulan

Gejala minor :

- Limfadenopati umum

- Kandidiasis orofaring

- Infeksi umum berulang

- Batuk lebih 1 bulan

- Dermatitis umum

- Infeksi HIV maternal


Tujuan utama dalam penatalaksanaan HIV/AIDS adalah untuk menurunkan
morbiditas dan mortalitas. Pengobatan diperlukan untuk menekan replikasi
virus,mengatasi penyakit penyerta (jamur, TB, hepatitis, toksoplasma, sarcoma
kaposi,limfoma, kanker serviks) serta pengobatan suportif seperti gizi, gaya hidup,
danterapi psikososial.

 Anjuran WHO:
a. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
b. Program penyuluhan sebaya ( peer group education) untuk berbagai
kelompoksasaran
c. Program kerja sama dengan media cetak dan elektronik

22
d. Paket pencegahan komprehensif bagi pengguna narkotika termasuk
program penggandaan jarum suntik steril
e. Program pendidikan agama dan pelatihan ketrampilan hidup,
layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS), promosi 
f. Pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling, dukungan untuk
anak jalanan dan pengerantasan prostitusi anak, integrasi program pencegahan
dan perawatan dan dukungan ODHA
g. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberiaan obat
ARV

Pengobatan yang diberikan bagi orang yang terkena HIV yaitu dapat diberikan
obat antivirus. Ada 2 jenis obat yang dapat diberikan bagi orang yang terinfeksi HIV
yaitu analog nucleotide yang berfungsi untuk mencegah aktifitas reversetran scriptase
seperti timidine-AZT, dideoksinosin dan dideoksisitidin yang dapat mengurangi kadar
RNA HIV dalam plasma. Selain itu ada juga inhibitor protease virus yang sekarang
digunakan untuk mencegah proses protein prekusor menjadi kapsid virus matang dan
protein core.

Pencegahan HIV/AIDS dapat diingat dengan ABCDE :


Abstinence. Sudah jelas jika tidak ingin tertular maka jauhilah media penularnya.
Hindari seks bebas .

Be faithful. Bagi yang sudah menikah, setialah pada pasangan! Saling setia berarti
keduanya harus setia, bukan hanya salah satu yang setia. Banyak kasus HIV-AIDS
menimpa ibu-ibu yang sangat setia pada suaminya yang ternyata hidung belang.
karena hal tersebut dapat meningkatkan risiko tertularnya HIV/AIDS dari sexual
partner

Condom. Penggunaan kondom adalah upaya efektif dalam mencegah penularan


HIV/AIDS. Penggunaan kondom dapat mencegah interaksi cairan kelamin sehingga
penularan virus dapat diminimalisasi.

Drug. Maksud drugs disini adalah tidak menggunakan obat-obatan terlarang


(narkoba) terutama yang cara penggunaannya dengan disuntikkan. HIV-AIDS bisa
menular melalui jarum suntik yang tidak sekali pakai, itulah sebabnya kenapa para
pecandu narkoba banyak yang tertular HIV-AIDS. Hati-hati juga pada kegiatanlain
yang menggunakan jarum, misal tindik, tatto, bekam dll. Pastikan bila anda
melakukan kegiatan tersebut digunakan jarum yang baru dan steril.

23
Education. Pendidikan seksual sangat penting khususnya bagi para remaja agar
mereka tidak terjerumus dalam kehidupan yang salah. Pengetahuan yang baik dapat
mencegah remaja untuk bertindak tidak sepantasnya karena mereka tahu risiko yang
sangat besar dari perbuatan mereka tersebut.

2.1.5 Penegakan Diagnosis

a. ANAMNESIS
Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis atau pun paramedis, bertujuan untuk:
 menentukan faktor risiko pasien.
 membantu menegakkan diagnosis sebelum dilakukan pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang lainnya.
 membantu mengidentifikasi pasangan seksual pasien.
Untuk menggali faktor risiko perlu ditanyakan beberapa hal tersebut di bawah ini.
Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO (World Health Organization) di beberapa
negara (di Indonesia masih belum diteliti), pasien akan dianggap berperilaku berisiko
tinggi bila terdapat jawaban “ya” untuk satu atau lebih pertanyaan di bawah ini:
1. Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir
2. Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir
3. Mengalami 1/ lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir.
4. Perilaku pasangan seksual berisiko tinggi.

Informasi yang perlu ditanyakan kepada pasien:


1. Keluhan utama
2. Keluhan tambahan
3. Riwayat perjalanan penyakit
4. Siapa menjadi pasangan seksual tersangka (wanita/pria penjaja seks, teman, pacar,
suami/isteri
5. Kapan kontak seksual tersangka dilakukan
6. Jenis kelamin pasangan seksual
7. Cara melakukan hubungan seksual (genito-genital, orogenital, anogenital)
8. Penggunaan kondom (tidak pernah, jarang, sering, selalu)
9. Riwayat dan pemberi pengobatan sebelumnya (dokter/bukan dokter/sendiri)

24
10. Hubungan keluhan dengan keadaan lainnya – menjelang/sesudah haid; kelelahan
fisik/psikis; penyakit: diabetes, tumor, keganasan, lain-lain); penggunaan obat:
antibiotika, kortikosteroid, kontrasepsi); pemakaian alat kontrasepssi dalam rahim
(AKDR); rangsangan seksual; kehamilan; kontak seksual
11. Riwayat IMS sebelumnya dan pengobatannya
12. Hari terakhir haid
13. Nyeri perut bagian bawah
14. Cara kontrasepsi yang digunakan dan mulai kapan

Pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada daerah genitalia dan sekitarnya, yang
dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang cukup terang . Lampu sorot tambahan
diperlukan untuk pemeriksaan pasien perempuan dengan spekulum. Dalam pelaksanaan
sebaiknya pemeriksa didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain. Pada pemeriksaan
terhadap pasien perempuan, pemeriksa didampingi oleh paramedis perempuan, sedangkan
pada pemeriksaan pasien laki-laki, dapat didampingi oleh tenaga paramedis laki-laki.

Beri penjelasan lebih dulu kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan:
1. Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genitalia dan sekitarnya, pemeriksa harus
selalu menggunakan sarung tangan. Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah
memeriksa.
2. Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan pemeriksaan genitalia
(pada keadaan tertentu, kadang–kadang pasien harus membuka seluruh pakaiannya
secara bertahap).
 Pasien perempuan, diperiksa dengan berbaring pada meja ginekologik dalam posisi
litotomi
− Pemeriksa duduk dengan nyaman sambil melakukan inspeksi dan palpasi
mons pubis, labia, dan perineum
− Periksa daerah genitalia luar dengan memisahkan ke dua labia, perhatikan
adakah kemerahan, pembengkakan, luka/lecet, massa.
 Pemeriksaan pasien laki-laki dapat dilakukan sambil duduk/ berdiri.
− Perhatikan daerah penis, dari pangkal sampai ujung, serta daerah skrotum
− Perhatikan adakah pembengkakan, luka/lecet atau lesi lain
3. Lakukan inspeksi dan palpasi daerah genitalia, perineum, anus dan sekitarnya.

25
4. Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui pembesaran kelenjar getah
bening setempat (regional)
5. Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan pengambilan bahan
pemeriksaan.

PENGAMBILAN SPESIMEN
Pasien laki-laki :
1. Beri penjelasan lebih dahulu agar pasien tidak perlu merasa takut saat pengambilan
bahan duh tubuh gentalia dengan sengkelit atau dengan swab berujung kecil
2. Bila menggunakan swab, gunakanlah swab steril.
3. Masukkan swab ke dalam orifisium uretra eksterna sampai kedalaman 1-2 cm, putar
swab (untuk sengkelit tidak perlu diputar namun cukup menekan dinding uretra), dan
tarik keluar perlahan-lahan.
4. Oleskan spesimen ke atas kaca obyek yang sudah disiapkan
Pasien perempuan dengan status sudah menikah, dilakukan pemeriksaan dengan
spekulum serta pengambilan spesimen .
1. Beri penjelasan lebih dulu mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan agar
pasien tidak merasa takut
2. Bersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah dibasahi larutan NaCl
3. Setiap pengambilan bahan harus menggunakan spekulum steril (sesuaikan ukuran
spekulum dengan riwayat kelahiran per vaginam), swab steril
4. Masukkan spekulum steril dalam keadaan tertutup dengan posisi tegak/vertikal ke
dalam vagina, dan setelah seluruhnya masuk kemudian putar pelan-pelan sampai
daun spekulum dalam posisi datar/horizontal. Buka spekulum dan dengan bantuan
lampu sorot vagina cari serviks. Kunci spekulum pada posisi itu sehingga serviks
terfiksasi .
5. Setelah itu dapat dimulai pemeriksaan serviks, vagina dan pengambilan spesimen
6. Cara melepaskan spekulum: kunci spekulum dilepaskan, sehingga spekulum
dalam posisi tertutup, putar spekulum 90 derajat sehingga daun spekulum dalam
posisi tegak, dan keluarkan spekulum perlahan-lahan.
Pada pasien perempuan berstatus belum menikah tidak dilakukan pemeriksaan
dengan spekulum, karena akan merusak selaput daranya sehingga bahan pemeriksaan
hanya diambil dengan sengkelit steril dari vagina dan uretra. Untuk pasien perempuan

26
yang belum menikah namun sudah aktif berhubungan seksual, diperlukan informed
consent sebelum melakukan pemeriksaan dengan spekulum. Namun bila pasien
menolak pemeriksaan dengan spekulum, pasien ditangani menggunakan bagan alur
tanpa spekulum.

2.1.6 Pencegahan Infeksi Menular Seksual

Infeksi menular seksual dapat dicegah. CDC (Centres for Disease Control

and Prevention) merekomendasikan lima strategi sebagai dasar untuk program

pencegahan yang efektif:

1. Pendidikan dan konseling bagi orang yang beresiko untuk memotivasi

adopsi perilaku seksual yang lebih aman.

2. Identifikasi orang yang terinfeksi baik tanpa gejala atau dengan gejala

untuk mencari layanan diagnostik dan pengobatan.

3. Diagnosis dan pengobatan orang yang terinfeksi dengan cepat dan efektif

4. Evaluasi, pengobatan, dan konseling pasangan seksual terkena.

5. Vaksinasi orang yang berisiko untuk terkena infeksi menular seksual

yang dapat dicegah dengan vaksin.

Tidak berhubungan seksual atau hubungan yang saling monogami

dengan pasangan yang tidak terinfeksi adalah cara yang paling dapat

diandalkan untuk mencegah IMS. Dianjurkan selama pengobatan untuk IMS

dan untuk siapa saja yang ingin menghindari penyakit menular seksual dan

kehamilan yang tidak diinginkan. Kedua pasangan harus diuji untuk IMS,

termasuk HIV, sebelum memulai hubungan .

27
2.1.7 Penanggulangan Infeksi Menular Seksual

Penyakit kelamin jenisnya ada banyak dan semuanya memiliki cara


penanganan yang berbeda-beda. Kalau Anda didiagnosis memiliki salah satu penyakit
kelamin, lakukan beberapa hal di bawah ini :

1. Lakukan pengobatan dengan cepat

Begitu didiagnosis oleh dokter mengidap penyakit kelamin tertentu misal


gonore, segera lakukan pengobatan dengan tepat. Ikuti saran dari dokter agar
penyakit segera bisa diatasi. Tidak semua penyakit kelamin memberikan dampak
permanen dan bisa diatasi dengan mudah asal konsisten. Jangan menunda waktu
pengobatan. Meski hanya gejala saja segera sembuhkan. Kalau penyakit kelamin
yang terlihat ringan dibiarkan, dampaknya bisa besar dan bisa saja mengancam
kesuburan dan fungsi seksual pria dan wanita.

2. Bicarakan dengan pasangan


Selalu bicarakan masalah penyakit kelamin dengan pasangan. Karena
Anda dan pasangan akan sering melakukan kontak fisik, saling mengetahui
kondisi pasangan adalah hal yang harus dilakukan dengan baik. Bicarakan pada
pasangan kalau mengalami penyakit kelamin tertentu agar ada penyelesaian yang
terbaik. Kalau menyembunyikannya, justru berbahaya untuk kehidupan seks.
Kemungkinan penyakit menular juga cukup besar. Datanglah ke dokter dengan
pasangan agar bisa dijelaskan permasalahan dan penyelesaiannya.

3. Jangan saling menyalahkan satusama lain


Salah satu ketakutan dari pasangan yang paling besar saat terkena
penyakit kelamin adalah disalahkan. Kalau pasangan tidak terkena dan dirinya

28
kena, pikiran buruk akan muncul seperti tuduhkan melakukan seks orang lain.
Oleh karena itu, jangan saling menyalahkan. Lebih baik dibicarakan baik-baik.

4. Cari tahu informasi tentang penyakit yang diderita

Setelah mengetahui diagnosis, ada baiknya mencari tahu tentang penyakit


yang sedang diderita. Dengan mencari tahu, berbagai pantangan bisa diketahui. 
Misal tidak boleh mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Pelajari
segalanya dengan baik sambil mempertimbangkan saran dari dokter.
Berusahalah untuk sembuh kembali dengan cepat.

5. Berhubungan intim tetap bisa dilakukan dengan syarat

Sebenarnya berhubungan intim masih bisa dilakukan meski pasangan memiliki


penyakit seksual yang menular. berhubungan bisa dilakukan dengan pengaman
seperti kondom. Beberapa penyakit seperti HPV atau herpes mungkin harus
ditangani lebih khusus karena kondom tidak akan menurunkan peluang
penularannya.

6. Lakukan pemeriksaan secara berkala

Lakukan pemeriksaan secara berkala setelah menjalani pengobatan.


Datanglah dengan pasangan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan pada
organ kelamin.

7. Siapkan kemungkinan terburuk

Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi pada pasangan. Penyakit yang susah
disembuhkan seperti HIV atau herpes akan bertahan di tubuh seumur hidup.
Kemungkinan terburuk ini harus diwaspadai oleh pasangan sehingga mereka bisa
melanjutkan hidup dengan kondisi yang bisa saja menjadi parah setiap saat.

29
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan mengenai Sexual Transmitted Disease yang telah diuraikan di


atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sexual Transmitted Disease dapat menyebabkan
penyakit penyakit yang dapat menimbulkan stigma negatif dari masyarakat. Penyakit
menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian
penyakit ini termasuk tinggi di [Link] resiko yang rentan terinfeksi
tentunya adalah seseorang yang sering punya kebiasaan perilaku yang tidak sehat.
Maka dari itu kejadian Sexual Transmitted Disease masih menjadi
permasalahan sehingga perlu ada pencegahan guna menekan angka kejadian Sexual
Transmitted Disease dan menurunkan angka morbiditas. Dari beberapa tindakan
pencegahan yang ada, pemakaian kondom saat berhubungan seksual merupakan
alternatif yang harus dipertimbangkan karena terbukti efektif mencegah penyakit
yang ditularkan melalui hubungan seksual, selain itu juga harus mengenali tanda
dan gejalanya dan cara penatalaksanaannya dengan cara melakukan pemeriksaan
secara berkala di rumah sakit dengan dokter supaya dapat diobati secara cepat dan
tepat.

30
DAFTAR PUSTAKA

Daili SF. Infeksi Menular [Link]: Balai penerbit FK UI [Link] :


[Link]

Fahmi Daili, Sjaiful. Tinjauan Penyakit Menular Seksual (P.M.S.).


Dalam:Adhi D, Mochtar H, Siti A, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi [Link]:
Balai Penerbit FKUI, 2005
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi
Menular [Link]: Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan.2011
Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehat
Lingkungan. (2014). Jakarta: Depkes RI
Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI 2015

31

Anda mungkin juga menyukai