Penyakit Menular Seksual pada Wanita
Penyakit Menular Seksual pada Wanita
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penyakit kelamin (veneral disease) sudah lama dikenal dan beberapa
diantaranya sangat popular di Indonesia yaitu sifilis dan gonorhea. Semakin
majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban
masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah
tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi sexual transmitted disease (STD)
atau penyakit menular seksual (Fahmi dkk, 2014).
Peningkatan insiden Infeksi Menular Seksual (IMS) dan
penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di
beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang
intensif akan menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relatif
tetap. Namun demikian di sebagian besar negara insiden IMS relatif masih
tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya
antara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan
pertumbuhan, kanker bahkan juga kematian memerlukan penanggulangan,
sehingga hal ini akan meningkatkan biaya kesehatan. Selain itu pola infeksi
juga mengalami perubahan, misalnya infeksi Klamidia, Herpes genital, dan
Kondiloma akuminata di beberapa negara cenderung meningkat dibandingkan
dengan uretritis gonore dan sifilis. Beberapa penyakit sudah resisten terhadap
antibiotika misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae,
Hemophylus ducreyl, dan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap
metronidazole (Fahmi dkk, 2014).
Data dari profil pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
tahun 2012 didapatkan total kasus IMS yang ditangani pada tahun 2012
sebanyak 140.803 kasus dari 430 layanan IMS. Jumlah kasus IMS terbanyak
berupa cairan vagina abnormal (klinis) 20.962 dan servicitis (lab) 33.025. IMS
merupakan salah satu pintu masuk atau tanda-tanda adanya HIV (Kemenkes,
2013).
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian IMS masih
menjadi permasalahan sehingga perlu ada pencegahan guna menekan
1
angka kejadian IMS dan menurunkan angka morbiditas. Dari beberapa
tindakan pencegahan yang ada, pemakaian kondom saat berhubungan
seksual merupakan alternatif yang harus dipertimbangkan karena terbukti
efektif mencegah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi
gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati,
otak, dan organ tubuh lainnya. Contohnya, baik HIV/AIDS dan Hepatitis B
dapat ditularkan melalui hubungan seks tapi keduanya tidak terlalu menyerang
alat kelamin.
Terkadang, PMS tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga kita
tidak tahu kalau kita sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak
memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan
tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-
tahun setelah terinfeksi. Pada wanita, PMS bahkan tidak dapat terdeteksi.
Walaupun seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS, dan
tidak mengetahui bahwa mereka terkena PMS, mereka tetap bisa menulari
orang lain.
Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala
setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak seorangpun dapat menentukan
apakah betul atau tidak seseorang terinfeksi hanya berdasarkan
penampilannya saja. Walaupun orang tsb mungkin terlihat sehat, mereka
masih bisa menularkan HIV kepada orang lain. Kadang, orang yang sudah
terinfeksi HIV tidak sadar bahwa mereka mengidap virus tsb, karena
mereka merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya tes laboratorium yang
dapat menunjukkan seseorang telah terinfeksi HIV atau tidak
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Pengertian
antaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonorrea .Dengan semakin
istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases
( STD ) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Kemudian sejak 1998, istilah
Sexually Transmitted Diseases (STD) mulai berubah menjadi Infeksi menular seksual
adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui
kontak seksual. Semua teknik hubungan seksual baik lewat vagina, dubur, atau oral
baik berlawanan jenis kelamin maupun dengan sesama jenis kelamin bisa menjadi
terbatas pada daerah genital saja, tetapi dapat juga di daerah ekstra genital. Kelompok
umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular IMS adalah kelompok remaja
3
2.1.2 Tanda dan gejala
1. Perempuan
a. Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus, mulut atau
bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil – kecil, diikuti luka yang sangat sakit
b. Cairan tidak normal yaitu cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan, kehijauan,
c. Sakit pada saat buang air kecil yaitu IMS pada wanita biasanya tidak
e. Sakit pada bagian bawah perut yaitu rasa sakit yang hilang muncul dan tidak
a. Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus , mulut atau
bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil – kecil , diikuti luka yang sangat sakit di
b. Cairan tidak normal yaitu cairan bening atau bewarna berasal dari pembukaan
c. Sakit pada saat buang air kecil yaitu rasa terbakar atau rasa sakit selama atau
setelah urination.
d. Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di kantong zakar
4
2.1.3 Kelompok Perilaku Resiko Tinggi
Dalam Infeksi menular seksual ( IMS ) yang dimaksud dengan perilaku resiko
tinggi ialah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang
penyakit tersebut.
1. Usia
3. Pecandu narkotik
4. Homo seksual.
1. IMS yang disebabkan bakteri, yaitu: Gonore, infeksi genital non spesifik,
Sifilis, Ulkus Mole, Limfomagranuloma Venerum,Vaginosis bakterial
2. IMS yang disebabkan virus, yaitu: Herpes genetalis, Kondiloma
Akuminata, Infeksi HIV, dan AIDS, Hepatitis B, Moluskus Kontagiosum.
3. IMS yang disebabkan jamur, yaitu: Kandidiosis genitalis
4. IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit, yaitu: Trikomoniasis,
Pedikulosis Pubis, skabies.
5
Berdasarkan cara penularannya, infeksi menular seksual dibedakan menjadi dua, yaitu
IMS mayor ( penularannya dengan hubungan seksual ) dan IMS minor ( Penularannya tidak
a. Gonore
Etiologi Gonore: Neisseria gonorrhoeae . Masa inkubasi : Pria 2-5 hari, gejala
pada wanita sulit diketahui oleh karena sering asimtomatik . Gejala klinis: Pria duh
tubuh uretra, kental, putih kekuningan atau kuning, kadang-kadang mukoid atau
mukopurulen; eritema atau edema pada meatus. Sedangkan pada wanita seringkali
asimtomatik, apabila ada duh tubuh serviks purulen atau mukopurulen, kadang-
kadang disertai eksudat purulen dari uretra atau kelenjar Bartholini. Pada wanita
biasanya datang berobat setelah ada komplikasi antara lain servisitis, bartilinitis, dan
tes Thomson
Penatalaksanaan :
1) Pennisilline G prokain dengan dosis 2,4 – 4,8 juta unit
2) cefriaxone ( untuk gonore tanpa komplikasi pada ibu hamil) IM 125 mg atau oral
cefixime (400 mg)
3) spectinomycin dengan eritromicyn (untuk wanita yang alergi terhadap penisilin
atau antibiotic beta-laktam) 2 gram/12jam.
4) Dipantau selama 24-48jam. Jika ada kemajuan diteruskan dengan :
a. Cefixime 400 mg /2 kali sehari
6
b. Ciprofloxacin (tidak hamil)
5) Untuk gonore dengan endokarditis terapi selama 4 minggu dan untuk gonore
meningitis selama 10-14 hari
b. Sifilis
remisi dan ekserbasi,dapat menyerang seluruh organ tubuh. Mempunyai periode laten
tanpa manifestasi lesi pada tubuh,dan dapat di tularkan dari ibu kepada janinnya.
Sifilis di bagi menjadi sifilis akuisita (di dapat) dan sifilis kongenital.
Gejala dan tanda , Sebuah luka mula-mula muncul beberapa minggu setelah
tertular. luka ini biasanya merupakan borok yang tidak sakit di daerah tempat
hubungan pertama kali terjadi (penis, leher rahim, dubur, dinding belakang
bulan muncul tahap kedua. Tahap ini ditandai dengan ruam yang menyebar dan
pembengkakan kelenjar. Setelah masa laten selama 5-20 tahun dengan sedikit atau
tanpa gejala, tahap ketiga dari sifilis ini bisa termasuk penyakit-penyakit yang
menyerang susunan saraf pusat atau sistem kardiovaskular, yang bisa menyebabkan
7
Sifilis akuisita di bagi menjadi 3 stadium sebagai berikut :
3) Stadium III : bersifat destruktif, berupa guma di kulit atau alat – alat
menemukan [Link].
Fixation).
Penatalaksanaan
Penisilin prokain dosis 2,4 – 4,8 juta unit, tetrasiklin 4 x 500 mg/hari
Gambar [Link]
8
c. Ulkus Mole
chancroid merupakan penyakit infeksi genentalia akut. Gejala klinis : Ulkus multipel,
bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar ulkus eritema dan edema,
sangat nyeri. Kelenjar getah bening inguinal bilateral atau unilateral membesar,
dengan pengecatan gram memperlihatkan basil kecil negatif gram yang berderat
[Link], pemeriksaan yang di peroleh lebih [Link] di ambil dari dasar ulkus
yang di peroleh lebih akurat. Bahan di ambil dari dasar ulkus yang purulen atau pus.
Selain itu bisa dengan tes serologi ito-Reenstierma ,tes ELISA, presipitin, dan
aglutinin.
Penatalaksanaan :
Sulfatiazol 4 x 500 mg/hari, selama 10 – 14 hari.
Trimetroprim sulfa forte 2 x (160/800 mg)/hari selama 10 -14 hari.
Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari selama 10 – 20 hari.
Komplikasi : Luka terinfeksi dan menyebabkan nekrosis jaringan .
9
Gambar 3. Ulkus Mole
d. Limfogranuloma Venerum
10
Gambar 4. Limfogranuloma Venerum
e. Granuloma Inguinal
tahun ) . Dan lebih sering terdapat pada pria dari pada wanita.
timbul lesi bentuk papula atau vesikel yang berwana merah dan tidak nyeri, perlahan
berubah menjadi ulkus granulomatosa yang bulat dan mudah berdarah, mengeluarkan
Penatalaksanaan
Ampisilin 4 x 500 mg/hari selama 2 minggu.
Streptomisin 1 g/hari IM selama 20 hari.
Tetrasiklin 4 x 500 mg /hari selama 10-20 hari.
Eritromisin 4 x 500 mg/ hari selama 2-3 minggu.
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet/hari selama 1 bulan.
a. Herpes Genetalis
Herpes genitalis adalah infeski pada genital yang disebabkan oleh Herpes
simpleks virus dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar
eritema dan bersifat rekurens. Hubungan resiko yang beresiko tinggi dengan
seseorang penderita herpes dapat meningkatkan resiko terkena virus herpes simpleks.
11
Manifestasi klinis di pengaruhi oleh faktor hospes, pajanan HSV sebelumnya, episode
terdahulu dan tipe virus. Daerah predileksi pada pria biasanya di preputium, gland
penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal (homoseksual).Sedangkan
pada wanita biasanya di dareah labia mayor atau labia minor, klitoris, introitus vagina,
serviks.
limfadenopati bilateral, dan kenyal, disertai gejala sistemik seperti malaise, anoreksia
dan demam , umumnya lesi tidak sebanyak seperti pada lesi primer, dan keluhan tidak
Herpes genital dapat kambuh apabila ada faktor pencetus daya tahan menurun,
faktor stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan dan lain-lain. Umumnya lesi
Penatalaksanaan :
Asiklovir 5 x 200 mg/hari selama 5 hari.
Valasiklovir 2 x 500 – 1000 mg/hari selama 5 hari.
12
Famsiklovir 3 x 500 mg/hari selama 5 hari.
b. Clamidia Trachomatis
c. Tricomoniasis
Merupakan infeksi dari penyakit protozoa yang disebebakan oleh
Trichomonas vaginalis, biasanya di tularkan melalui hubungan seksual dan sering
menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada pria maupun wanita,namun
peranannya pada pria sebagai penyebab penyakit masih diragukan. Gejala pada wanita
sering asimptomatik . Bila ada keluhan biasanya berupa sekret vagina yang berlebihan
dan [Link] berwarna kehijauan dan berbusa. Sedangkan pada pria gambaran
13
klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Dapat berupa disuria, poliuria, dan
secret uretra mukoid atau mukopurulen. Walaupun begitu, infeksi ini biasanya tidak
memiliki gejala. Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik dari cairan
serta identitikasi adanya parasit.
14
Penatalaksanaan
- Metronidazol dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari selama 7 hari.
- Nimorazol dosis tunggal 2 gram.
- Tinidazol dosis tunggal 2 gram.
- Omidazol dosis tunggal 1,5 gram.
- Secara topikal, dapat diberikan cairan berupa irigasi. Misalnya hidrogen peroksida
1- 2% dan larutan asam laktat 4%.
Gambar [Link]
d. Kandidiasis vaginali
oleh candida, candida albicans dan ragi (yeast) lain (terkadang [Link]) dari genus
candida. Kandida pada wanita umumnya infeksi pertama kali timbul pada vagina yang
di sebut vaginitis dan dapat meluas sampai vulva (vulvitis), jika mukosa vagina dan
ini adalah rasa panas dan iritasi pada vulva, selain itu juga sekret vagina yang
berlebihan berwarna putih susu. Pada dinding vagina terdapat gumpalan seperti keju.
15
pengobatan kandidiasis vaginalis dapat dilakukan secara topikal maupun
sistemik. Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu: gel, krim, losion,
1. Derivat Rosanillin Gentian violet 1-2 % dalam bentuk larutan atau gel, selama
10 hari.
anti jamur.
3. Derivat Polien Nistatin 100.000 unit krim/tablet vagina selama 14 hari Nistatin
4. Derivat Imidazole
a. Topical
tunggal.
b. Sistemik
16
3) Flukonazol 150 mg dosis tunggal Dan pada pengobatan kandidiasis
tetapi perlu jangka lama (10-14 hari) baik obat tropikal maupun oral.
c. Profilaksasi
1x/bulan
menstruasi.
17
e. Vaginosis bacterial
18
Gambar 8. Vaginosis
bacterialis
f. Kondiloma Akuminata
human papiloma virus (HPV) dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan
bentuk akuminata, bentuk datar. Penyakit ini berupa vegetasi yang bertangkai dan
berwarna kemerahan kalau masih baru, jika telah lama menjadi agak kehitaman.
condyloma) dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul infeksi sekunder warna
kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak enak. terutama
ditegakan berdasarkan gejala klinis. Untuk lesi yang meragukan bisa menggunakan
asam asetat 5 % yang di bubuhkan ke lesi selama 3-5 menit,lesi kondiloma akan
Penatalaksanaan :
19
Prosedur Pembedahan
Pembedahan dilakukan untuk kondiloma akuminata yang berukuran besar, yang tidak
memberikan respon dengan obat atau pada wanita hamil. Pilihan pembedahan yang bisa
dilakukan meliputi:
20
Gambar 9. Kondiloma Akuminata
g. Moluskum Kontagiosum
anak– anak. Orang dewasa yang kehidupan seksualnya sangat aktif,serta orang yang
berwarna putih, kuning muda, atau seperti warna kulit. Bila di tekan akan keluar masa
tersebut kecil (seukuran biji kacang hijau). Beberapa bintil ada yang terasa gatal. Bintil
mudah menyebar ke area kulit lainnya dan mudah menular pada orang lain. Jika pecah,
contagiosum.
seperti ekstrator komedo,jarum suntik , bedah beku, dan elektrocauterisasi , Karena virus hanya
berkembang sebatas permukaan kulit saja, maka perlu diketahui bahwa penyakit ini jarang
Menjaga kebersihan.
Menghindari kontak langsung dengan anggota keluargaatau kerabat yang sehat.
21
h. AIDS
imunodeficiency virus ( HIV ). AIDS disebebkan oleh masuknya HIV kedalam tubuh
manusia.
Jika sudah masuk dalam tubuh ,HIV akan menyerang sel- sel darah putih yang
mengatur system kekebalan tubuh,yaitu sel –sel penolong, ” sel T Helper”
Gejala mayor :
Gejala minor :
- Limfadenopati umum
- Kandidiasis orofaring
- Dermatitis umum
Anjuran WHO:
a. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
b. Program penyuluhan sebaya ( peer group education) untuk berbagai
kelompoksasaran
c. Program kerja sama dengan media cetak dan elektronik
22
d. Paket pencegahan komprehensif bagi pengguna narkotika termasuk
program penggandaan jarum suntik steril
e. Program pendidikan agama dan pelatihan ketrampilan hidup,
layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS), promosi
f. Pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling, dukungan untuk
anak jalanan dan pengerantasan prostitusi anak, integrasi program pencegahan
dan perawatan dan dukungan ODHA
g. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberiaan obat
ARV
Pengobatan yang diberikan bagi orang yang terkena HIV yaitu dapat diberikan
obat antivirus. Ada 2 jenis obat yang dapat diberikan bagi orang yang terinfeksi HIV
yaitu analog nucleotide yang berfungsi untuk mencegah aktifitas reversetran scriptase
seperti timidine-AZT, dideoksinosin dan dideoksisitidin yang dapat mengurangi kadar
RNA HIV dalam plasma. Selain itu ada juga inhibitor protease virus yang sekarang
digunakan untuk mencegah proses protein prekusor menjadi kapsid virus matang dan
protein core.
Be faithful. Bagi yang sudah menikah, setialah pada pasangan! Saling setia berarti
keduanya harus setia, bukan hanya salah satu yang setia. Banyak kasus HIV-AIDS
menimpa ibu-ibu yang sangat setia pada suaminya yang ternyata hidung belang.
karena hal tersebut dapat meningkatkan risiko tertularnya HIV/AIDS dari sexual
partner
23
Education. Pendidikan seksual sangat penting khususnya bagi para remaja agar
mereka tidak terjerumus dalam kehidupan yang salah. Pengetahuan yang baik dapat
mencegah remaja untuk bertindak tidak sepantasnya karena mereka tahu risiko yang
sangat besar dari perbuatan mereka tersebut.
a. ANAMNESIS
Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis atau pun paramedis, bertujuan untuk:
menentukan faktor risiko pasien.
membantu menegakkan diagnosis sebelum dilakukan pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang lainnya.
membantu mengidentifikasi pasangan seksual pasien.
Untuk menggali faktor risiko perlu ditanyakan beberapa hal tersebut di bawah ini.
Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO (World Health Organization) di beberapa
negara (di Indonesia masih belum diteliti), pasien akan dianggap berperilaku berisiko
tinggi bila terdapat jawaban “ya” untuk satu atau lebih pertanyaan di bawah ini:
1. Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir
2. Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir
3. Mengalami 1/ lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir.
4. Perilaku pasangan seksual berisiko tinggi.
24
10. Hubungan keluhan dengan keadaan lainnya – menjelang/sesudah haid; kelelahan
fisik/psikis; penyakit: diabetes, tumor, keganasan, lain-lain); penggunaan obat:
antibiotika, kortikosteroid, kontrasepsi); pemakaian alat kontrasepssi dalam rahim
(AKDR); rangsangan seksual; kehamilan; kontak seksual
11. Riwayat IMS sebelumnya dan pengobatannya
12. Hari terakhir haid
13. Nyeri perut bagian bawah
14. Cara kontrasepsi yang digunakan dan mulai kapan
Pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada daerah genitalia dan sekitarnya, yang
dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang cukup terang . Lampu sorot tambahan
diperlukan untuk pemeriksaan pasien perempuan dengan spekulum. Dalam pelaksanaan
sebaiknya pemeriksa didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain. Pada pemeriksaan
terhadap pasien perempuan, pemeriksa didampingi oleh paramedis perempuan, sedangkan
pada pemeriksaan pasien laki-laki, dapat didampingi oleh tenaga paramedis laki-laki.
Beri penjelasan lebih dulu kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan:
1. Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genitalia dan sekitarnya, pemeriksa harus
selalu menggunakan sarung tangan. Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah
memeriksa.
2. Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan pemeriksaan genitalia
(pada keadaan tertentu, kadang–kadang pasien harus membuka seluruh pakaiannya
secara bertahap).
Pasien perempuan, diperiksa dengan berbaring pada meja ginekologik dalam posisi
litotomi
− Pemeriksa duduk dengan nyaman sambil melakukan inspeksi dan palpasi
mons pubis, labia, dan perineum
− Periksa daerah genitalia luar dengan memisahkan ke dua labia, perhatikan
adakah kemerahan, pembengkakan, luka/lecet, massa.
Pemeriksaan pasien laki-laki dapat dilakukan sambil duduk/ berdiri.
− Perhatikan daerah penis, dari pangkal sampai ujung, serta daerah skrotum
− Perhatikan adakah pembengkakan, luka/lecet atau lesi lain
3. Lakukan inspeksi dan palpasi daerah genitalia, perineum, anus dan sekitarnya.
25
4. Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui pembesaran kelenjar getah
bening setempat (regional)
5. Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan pengambilan bahan
pemeriksaan.
PENGAMBILAN SPESIMEN
Pasien laki-laki :
1. Beri penjelasan lebih dahulu agar pasien tidak perlu merasa takut saat pengambilan
bahan duh tubuh gentalia dengan sengkelit atau dengan swab berujung kecil
2. Bila menggunakan swab, gunakanlah swab steril.
3. Masukkan swab ke dalam orifisium uretra eksterna sampai kedalaman 1-2 cm, putar
swab (untuk sengkelit tidak perlu diputar namun cukup menekan dinding uretra), dan
tarik keluar perlahan-lahan.
4. Oleskan spesimen ke atas kaca obyek yang sudah disiapkan
Pasien perempuan dengan status sudah menikah, dilakukan pemeriksaan dengan
spekulum serta pengambilan spesimen .
1. Beri penjelasan lebih dulu mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan agar
pasien tidak merasa takut
2. Bersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah dibasahi larutan NaCl
3. Setiap pengambilan bahan harus menggunakan spekulum steril (sesuaikan ukuran
spekulum dengan riwayat kelahiran per vaginam), swab steril
4. Masukkan spekulum steril dalam keadaan tertutup dengan posisi tegak/vertikal ke
dalam vagina, dan setelah seluruhnya masuk kemudian putar pelan-pelan sampai
daun spekulum dalam posisi datar/horizontal. Buka spekulum dan dengan bantuan
lampu sorot vagina cari serviks. Kunci spekulum pada posisi itu sehingga serviks
terfiksasi .
5. Setelah itu dapat dimulai pemeriksaan serviks, vagina dan pengambilan spesimen
6. Cara melepaskan spekulum: kunci spekulum dilepaskan, sehingga spekulum
dalam posisi tertutup, putar spekulum 90 derajat sehingga daun spekulum dalam
posisi tegak, dan keluarkan spekulum perlahan-lahan.
Pada pasien perempuan berstatus belum menikah tidak dilakukan pemeriksaan
dengan spekulum, karena akan merusak selaput daranya sehingga bahan pemeriksaan
hanya diambil dengan sengkelit steril dari vagina dan uretra. Untuk pasien perempuan
26
yang belum menikah namun sudah aktif berhubungan seksual, diperlukan informed
consent sebelum melakukan pemeriksaan dengan spekulum. Namun bila pasien
menolak pemeriksaan dengan spekulum, pasien ditangani menggunakan bagan alur
tanpa spekulum.
Infeksi menular seksual dapat dicegah. CDC (Centres for Disease Control
2. Identifikasi orang yang terinfeksi baik tanpa gejala atau dengan gejala
3. Diagnosis dan pengobatan orang yang terinfeksi dengan cepat dan efektif
dengan pasangan yang tidak terinfeksi adalah cara yang paling dapat
dan untuk siapa saja yang ingin menghindari penyakit menular seksual dan
kehamilan yang tidak diinginkan. Kedua pasangan harus diuji untuk IMS,
27
2.1.7 Penanggulangan Infeksi Menular Seksual
28
kena, pikiran buruk akan muncul seperti tuduhkan melakukan seks orang lain.
Oleh karena itu, jangan saling menyalahkan. Lebih baik dibicarakan baik-baik.
Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi pada pasangan. Penyakit yang susah
disembuhkan seperti HIV atau herpes akan bertahan di tubuh seumur hidup.
Kemungkinan terburuk ini harus diwaspadai oleh pasangan sehingga mereka bisa
melanjutkan hidup dengan kondisi yang bisa saja menjadi parah setiap saat.
29
BAB III
KESIMPULAN
30
DAFTAR PUSTAKA
31