Pengaruh Fly Ash pada Kekuatan Beton
Pengaruh Fly Ash pada Kekuatan Beton
id
PENGARUH KADAR FLY ASH SEBAGAI PENGGANTI
SEBAGIAN SEMEN TERHADAP KUAT TARIK BELAH
DAN MODULUS OF RUPTURE PADA HIGH VOLUME FLY
ASH – SELF COMPACTING CONCRETE
(Effect of Fly Ash Content as Cement Subtitution on Split Tensile Strength and
Modulus of Rupture of High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete)
SKRIPSI
Disusun sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNS
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Disusun Oleh :
AVRI PRIATAMA
NIM I 0108073
commit to user
[Link] [Link]
commit to user
MOTTO
Learn how to use pain and pleasure instead of have pain and pleasure use you!
If you do, you’re in control of your life. If you don’t, life is control you!
[Link] [Link]
PERSEMBAHAN
Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan rizki-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan studi ini.
Ayah dan Ibu, terimakasih buat semua dukungan, semangat serta doa kalian yang selalu
mengiringi mas. Terimakasih buat semua jerih payah kalian untuk mas dan Dara selama
ini. Mas tidak akan pernah berhenti untuk membanggakan kalian. I always love this family.
Dek Dara, adekku yang pintar, terimakasih buat dukungan dan celotehan kamu yang
selalu bikin mas semangat terus. Tetap belajar yang serius untuk raih kesuksesan, buat
Ayah Ibu bangga dan bahagia!
Pak Kristiawan dan Pak Sholihin As’ad, terimakasih atas bimbingan serta ilmunya yang
secara langsung maupun tidak telah di share kepada saya. Semoga ilmu yang saya peroleh
dari bapak dapat saya manfaatkan dengan sebaik mungkin kedepannya.
Kontrakan Gapuk, walaupun tiap pagi air ledengmu sering mati dan bikin kami ke
kampus tanpa bisa mandi dulu, tempat jemuran kamu lebih sering rusak daripada kami
manfaatkan, sampah kamu cepet banget numpuknya sehingga kami malas
membersihkannya, tapi kenangan yang kamu buat didalamnya sangat tak tergantikan.
Salam buat pak Tio, hha!
Agung Prasanto Nugroho dan M. Taib Mirza A., tim skripsi HVFA-SCC, terimakasih
atas kerja sama serta bantuan kalian selama penyelesaian skripsi ini.
Dhani, Beton, Ardhi, Anang dan Ipul, terimakasih buat semua bantuan kalian selama
kita ngontrak bareng. Terimakasih sudah mau bersama dalam suka duka kehidupan di
Kontrakan Gapuk bersama aku, yang ternyata orangnya gila dan mudah frustasi. Aku tidak
akan pernah melupakan cerita kita selama ngontrak bareng, terlalu berharga kalau hanya
kita tinggalkan begitu saja di dalam kontrakan akhir Juli ini. Sukses kawan!
Gondrong, Irsandi, Atom, Badeg, Jenggot, Komplang, Kopes, Gembel, Anjar, Haris,
Ceplenk, Alhadiid, Didit, Puji, aku tidak akan pernah melupakan kebersamaan kita
semasa kuliah, baik itu saat di Kontrakan Gapuk atau saat kita nongkrong bareng melepas
kepenatan bersama. Kita adalah keluarga kecil yang tak punya celah tuk diberaikan.
Almamater Teknik Sipil UNS, saya ucapkan terimakasih kepada para cowok serta cewek
sipil baik itu angkatan 2008, 2009, dan 2010, serta para dosen yang secara langsung
ataupun tidak, pernah membantu masa perkuliahan saya di teknik sipil UNS.
commit to user
[Link] [Link]
KATA PENGANTAR
Syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
Penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan S-1 di Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, maka
banyak kendala yang sulit untuk penulis pecahkan hingga terselesaikannya
penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Pimpinan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
3. Bapak S.A. Kristiawan, ST, MSc, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing I.
4. Bapak Dr. tech. Ir. Sholihin As'ad, MT., selaku Dosen Pembimbing II.
5. Tim Dosen Penguji Pendadaran.
6. Staf pengelola Laboratorium Bahan Bangunan dan Struktur Jurusan Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
7. Rekan-rekan mahasiswa Teknik Sipil Angkatan 2008 dan semua pihak yang
telah banyak membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Disadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan berharap saran serta
kritik yang membangun. Akhir kata semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak.
vii
[Link] [Link]
ABSTRAK
Avri Priatama, 2012, Pengaruh Kadar Fly Ash sebagai Pengganti Sebagian
Semen terhadap Kuat Tarik Belah dan Modulus of Rupture pada High
Volume Fly Ash – Self Compacting Concrete. Skripsi Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan total benda uji kuat tarik
belah sebanyak 27 buah berbentuk silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm,
serta 27 buah benda uji modulus of rupture berbentuk balok dengan dimensi 10 x
10 x 50 cm. Variasi kadar fly ash yang ditinjau dalam penelitian ini adalah 35%,
55%, dan 65%. Kadar fly ash 35% digunakan sebagai pembanding sesuai dengan
syarat penggunaan maksimum fly ash pada beton dalam ASTM C618-86.
Pengujian kuat tarik belah dan modulus of rupture tiap variasi kadar fly ash diuji
pada umur 7, 28 dan 56 hari.
Dari hasil pengujian kuat tarik belah maupun modulus of rupture HVFA-SCC
diketahui bahwa penggunaan fly ash yang semakin banyak dalam beton akan
mengurangi nilai kuat tarik belah serta modulus of rupture pada umur awal beton.
Pada umur 7 hari nilai kuat tarik belah beton dengan variasi kadar fly ash 65%
cenderung sama dengan variasi kadar fly ash 35% dan 55% yaitu sebesar 1,952
MPa. Sedangkan nilai modulus of rupture dengan variasi kadar fly ash 65% pada
umur 7 hari didapat sebesar 2,133 MPa, terendah dibanding beton dengan variasi
kadar fly ash lain yang lebih rendah. Nilai modulus of rupture beton dengan kadar
fly ash 65% mengalami peningkatan terhadap umur beton yang lebih signifikan
dibanding beton dengan variasi kadar fly ash yang lebih rendah.
Kata kunci : fly ash, kuat tarik belah, modulus of rupture, HVFA-SCC.
commit to user
v
[Link] [Link]
ABSTRACT
Avri Priatama, 2012, Effect of Fly Ash Content as Cement Subtitution on Split
Tensile Strength and Modulus of Rupture of High Volume Fly Ash - Self
Compacting Concrete. Thesis Civil Engineering Departement of Engineering
Faculty, Sebelas Maret University Surakarta.
The use of conventional concrete in the casting stage that has many congested
area is not guarantee the optimal compaction of the concrete, since it was
impossible to use a vibrator that the required strength of the concrete can not be
achieved properly. As one of the solution for this problem self compacting
concrete can be achieved. The content of fly ash in the concrete can increase the
workability and flowability of the fresh concrete. Concrete that contains more
than 50% of fly ash reffered as high volume fly ash concrete. Fly ash content as
cement substitution in the concrete can decrease the space among the aggregates
so the more compact concrete can be produced. The compaction of the concrete
especially in the context of flexural strength can be known by it’s splitting tensile
strength and modulus of rupture parameters.
This research used experimental method with total 27 pieces splitting tensile
strength specimens on silinder with 15 cm diameter and 30 cm high, and 27
pieces modulus of rupture specimens on beam with 10x10x50 cm measure. The fly
ash content variation evaluate in this research is 35%, 55%, and 65%. The 35%
fly ash content variation used as the comparison concrete according to the
maximum use of fly ash in the concrete in ASTM C 618-86 specifications. The test
of splitting tensile strength and modulus of rupture of each fly ash content
variations of the concrete were tested at 7, 28, 56 days.
By the result of splitting tensile strength and modulus of rupture test of HVFA-
SCC known that the more fly ash content in the concrete will decrease the
splitting tensile strength and modulus of rupture value at the early age of
concrete. At 7 days, the splitting tensile strength value of the concrete with 65%
fly ash content variation tend to be the same with other fly ash content variation
equal to 1,952 MPa. Oterhwise, the modulus of rupture value of the concrete with
65% fly ash content variation at 7 days equal to 2,133 MPa, the lowest among
another concrete with lower fly ash content variation. The modulus of rupture
value of the concrete with 65% fly ash content variation has the more significant
increase value than otehr concrete that has lower fly ash content variation.
commit to user
vi
DAFTAR ISI
viii
commit to user
[Link]. Kelebihan dan Kekurangan High Volume Fly Ash Concrete (HVFAC) ..... 17
2.2.4. Self Compacting Concrete (SCC) ................................................................... 18
[Link]. Pengertian Self Compacting Concrete (SCC) ............................................... 18
[Link]. Spesifikasi Self Compacting Concrete (SCC) ............................................... 18
[Link]. Sifat Self Compacting Concrete (SCC) ......................................................... 20
[Link]. Kelebihan dan Kekurangan Self Compacting Concrete (SCC)..................... 24
2.2.5. High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete (HVFA-SCC)[Link]
[Link] ................... 25
[Link]. Pengertian High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete
(HVFA-SCC) ................................................................................................ 25
[Link]. Bahan Penyusun High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete
(HVFA-SCC) ................................................................................................ 26
[Link]. Rancang Campur High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete
(HVFA-SCC) ................................................................................................ 31
2.2.6. Kuat Tarik Belah ............................................................................................. 31
2.2.7. Modulus of Rupture ......................................................................................... 33
[Link]. Kekakuan Lentur Balok ................................................................................ 38
ix
commit to user
3.4. Rasio Antara Indeks Viskositas Campuran (Vfc) dan Indeks Viskositas Mortar
(Vfm) .................................................................................................................. 51
3.5. Pembuatan Benda Uji High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete ........ 52
3.6. Curing (Perawatan) High Volume Fly Ash - Self Compacting Concrete ............ 55
3.7. Pengujian Kuat Tarik Belah High Volume Fly Ash - Self Compacting
Concrete .............................................................................................................. 55
3.8. Pengujian Modulus of Rupture High Volume Fly Ash - Self Compacting
[Link] [Link]
Concrete .............................................................................................................. 56
3.9. Tahap Penelitian ................................................................................................. 57
commit to user
DAFTAR TABEL
xi
commit to user
Tabel 4.13. Hasil Pengujian L-Box Test HVFA-SCC ................................................ 66
Tabel 4.14. Hasil Pengujian Box-Type Test HVFA-SCC .......................................... 66
Tabel 4.15. Hasil Pengujian V-Funnel Test HVFA-SCC .......................................... 66
Tabel 4.16. Hasil Uji Kuat Tarik Belah Rata-Rata HVFA-SCC................................ 68
Tabel 4.17. Hasil Uji Modulus of Rupture Rata-Rata HVFA-SCC ........................... 75
Tabel 4.18. Nilai Kekakuan Lentur Rata-Rata HVFA-SCC ...................................... 78
[Link] [Link]
xii
commit to user
DAFTAR GAMBAR
xiii
commit to user
Gambar 4.6. Grafik Hubungan ft dan √(f'c) pada HVFA-SCC dengan Beberapa
Beton Normal....................................................................................... 72
Gambar 4.7. Grafik Hubungan ft dan √(f'c) pada HVFA-SCC dengan Beberapa
Jenis Beton Lain .................................................................................. 73
Gambar 4.8. Diagram Nilai Modulus of Rupture Rata-Rata HVFA-SCC ................ 76
Gambar 4.9. Grafik Hubungan Modulus of Rupture Rata-Rata dan Umur
HVFA-SCC..........................................................................................
[Link] [Link] 77
Gambar 4.10. Diagram Nilai Kekakuan Lentur Rata-Rata HVFA-SCC .................. 79
Gambar 4.11. Grafik Hubungan Kekakuan Rata-Rata dan Umur HVFA-SCC........ 79
Gambar 4.12. Grafik Hubungan MOR dan √(f'c) beberapa Variasi Fly Ash
HVFA-SCC........................................................................................ 81
Gambar 4.13. Grafik Hubungan MOR dan √(f'c) pada HVFA-SCC dengan
Beberapa Beton Normal ..................................................................... 82
Gambar 4.14. Grafik Hubungan MOR dan √(f'c) pada HVFA-SCC dengan
Beberapa Jenis Beton Lain ................................................................. 83
xiv
commit to user
DAFTAR LAMPIRAN
xv
commit to user
DAFTAR NOTASI
s = Tegangan lentur
∆ = Lendutan
a = Jarak dari titik terjadinya fracture ke tumpuan terdekat
[Link]
A = Luas penampang [Link]
ACI = American Concrete Institute
ASTM = American Standard for Testing and Materials
b = Lebar benda uji
D = Diameter silinder
E = Modulus elastisitas beton
ɛ = Regangan aksial
EI = Kekakuan lentur komponen
f = Berat pasir kering oven
f’c = Kuat Tekan
ft = Kuat Tarik Belah
h = Tinggi benda uji
I = Momen inersia
KTB = Kuat tarik belah
L = Panjang bentang benda uji
M = Momen
MOR = Modulus of Rupture
Pmaks = Beban maksimum yang diberikan
SK SNI = Surat Keputusan Standar Nasional Indonesia
SNI = Standar Nasional Indonesia
π = Phi (3,141592654)
xvi
commit to user
[Link] [Link]
BAB 1
PENDAHULUAN
Salah satu pemecahan untuk memperoleh struktur beton yang memiliki kepadatan
serta ketahanan yang lebih baik adalah dengan menggunakan self compacting
concrete (SCC). SCC adalah beton yang memiliki sifat kecairan (fluidity) yang
tinggi sehingga mampu mengalir dan mengisi ruang-ruang di dalam cetakan tanpa
commit to user
proses pemadatan (Tjaronge, 2006). Sehingga hal ini dapat mengatasi berbagai
1
[Link] 2
[Link]
Fly ash atau yang biasa disebut dengan abu terbang dihasilkan dari pengumpul
mekanik yang memisahkan fly ash dari gas sisa pembakaran batu bara. Ukuran
partikel fly ash antara 1-150 mikrometer yang lolos ayakan 45 mikrometer serta
perannya yang bersifat pozzolan ini, cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai
campuran atau bahkan pengganti semen. Penggunaan fly ash pada beton juga
commit to user
[Link] 3
[Link]
mampu mereduksi kapur bebas atau Ca(OH)2 yang merupakan hasil sampingan
dari proses hidrasi semen dan air.
Penggunaan fly ash pada beton yang masih terbatas antara 10% - 35 % dari berat
binder dinilai belum maksimal terutama dalam meningkatkan daya tahan
(durability) terhadap serangan sulfat, alkali-silika ekspansi, dan juga thermal
cracking. Untuk itu penggunaan fly ash pada beton ditingkatkan hingga kadar
minimum 50% dari berat binder atau dikenal dengan high volume fly ash concrete
(HVFAC). Hal ini dimungkinkan bagi beton untuk menghasilkan workability,
ultimate strength, serta durability yang lebih tinggi dari beton konvensional pada
umumnya. HVFAC secara umum sangat kohesif dan menunjukan kemungkinan
tidak terjadinya bleeding dan segregation. HVFAC juga memiliki workability dan
pumpability yang sangat bagus dengan hasil uji slump lebih rendah dari 75 mm
atau lebih besar dari 75 mm yang digunakan untuk heavy reinforced structures.
Dengan workability dan pumpability yang bagus ini menyebabkan material
bergerak dengan baik mengisi ruang-ruang kosong layaknya self compacting
concrete.
Kuat tarik beton merupakan suatu sifat beton yang penting dalam menahan retak
akibat perubahan kadar air, suhu, dan pembebanan. Kuat tarik beton juga
commit to user
dipengaruhi oleh lekatan antara pasta semen dengan agregat pada beton tersebut.
[Link] 4
[Link]
Sifat kuat tarik beton dipengaruhi oleh mutu beton itu sendiri. Meningkatkan mutu
beton untuk kekuatan tekan hanya disertai oleh peningkatan yang kecil dari kuat
tariknya. Menurut perkiraan kasar, nilai kuat tarik berkisar antara 9% - 15% dari
kuat tekannya. Ada anggapan lain mengatakan bahwa dalam perencanaan struktur,
beton dianggap hanya mampu menahan tegangan desak walaupun sebenarnya
beton juga mampu menahan tegangan tarik, sehingga hal ini dianggap tidak
efisien terutama pada perencanaan yang didominasi tarik dan lentur. Bagian tarik
pada balok akan mengalami retak sekalipun mendapat tegangan yang tidak begitu
besar. Hal ini disebabkan adanya retak rambut yang merupakan sifat alami dari
beton, sehingga diperlukan uji kuat tarik untuk membuat beton yang sesuai untuk
bangunan konstruksi. Dikarenakan kuat tarik beton yang tepat sulit di ukur (Tri
M., 2004), sehingga untuk mencari nilai kuat tarik bahan beton yang
mencerminkan kuat tarik yang sebenarnya, maka digunakan kuat tarik belah (split
tensile strength).
Modulus of rupture merupakan kuat tarik maksimum yang secara teoritis dipakai
pada serat bagian bawah dari sebuah balok uji (Neville, 1997). Nilai dari modulus
of rupture bergantung pada dimensi dari balok uji susunan beban. Modulus of
rupture yang merupakan dampak dari beton yang mengalami pelenturan akibat
beban - beban yang bekerja pada benda uji beton tersebut dapat diketahui dengan
melakukan percobaan yang dapat menggambarkan bagian balok yang hanya
menerima beban lentur saja, yaitu meletakkan balok beton pada tumpuan
sederhana dengan perletakan berupa sendi rol. Metode third point loading
digunakan untuk memperoleh nilai modulus of rupture.
Untuk memperoleh nilai modulus of rupture maupun kuat tarik belah yang
optimal, maka kepadatan beton harus semaksimal mungkin. Hal ini diharapkan
dapat diupayakan dengan penggunaan high volume fly ash - self compacting
concrete (HVFA-SCC).
commit to user
[Link] 5
[Link]
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat
diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana pengaruh penggunaan
fly ash dengan volume tinggi terhadap nilai kuat tarik belah dan modulus of
rupture high volume fly ash– self compacting concrete.
Dalam penelitian ini fly ash yang dipakai adalah fly ash tipe C yang diperoleh dari
PLTU Cilacap. Reaksi kimia dari senyawa-senyawa pembentuk high volume fly
ash – self compacting concrete tidak dibahas secara detail.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan fly ash
dengan volume tinggi terhadap nilai kuat tarik belah dan modulus of rupture high
volume fly ash – self compacting concrete.
commit to user
[Link] 6
[Link]
commit to user
[Link] [Link]
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Beton merupakan campuran antara semen, agregat kasar, agregat halus dan air,
dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat (SK SNI T-15-1990-
03:1). Beton yang paling padat dan kuat diperoleh dengan menggunakan jumlah
air yang minimal konsisten dengan derajad workabilitas yang dibutuhkan untuk
memberikan kepadatan maksimal. Derajat kepadatan harus dipertimbangkan
dalam hubungannya dengan cara pemadatan dan jenis konstruksi, agar terhindar
dari kebutuhan akan pekerjaan yang berlebihan dalam mencapai kepadatan
maksimal (Murdock & Brook, 1991).
Penggunaan fly ash atau biasa dikenal dengan abu terbang pada campuran beton
yang mampu mereduksi kapur bebas atau Ca(OH)2 hasil sampingan dari proses
hidrasi semen dan air, salah satunya berfungsi untuk menambah kelecakan beton
sehingga workability beton akan menjadi lebih baik dan mudah untuk dikerjakan
serta memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan beton mengalir dan
mampu memadat sendiri. Selain itu fly ash juga berfungsi sebagai filler sehingga
tujuan mendapatkan struktur beton yang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi
dapat dicapai. Fly ash merupakan limbah PLTU berbahan bakar batu bara
dikategorikan sebagai limbah berbahaya (B3) oleh Bapedal. Fly ash ini sendiri
apabila tidak dimanfaatkan dapat menjadi ancaman bagi lingkungan. Karenanya
dapat dikatakan, pemanfaatan fly ash akan mendatangkan efek ganda pada tindak
commit to user
penyelamatan lingkungan, yaitu penggunaan fly ash memangkas dampak negatif
7
[Link] 8
[Link]
kalau bahan sisa ini dibuang begitu saja dan sekaligus mengurangi penggunaan
semen Portland dalam pembuatan beton (Hardjito, 2001) dalam (Maryoto, 2008).
High volume fly ash concrete (HVFAC) adalah beton yang menggunakan
fly ash sebagai bahan pozzolanic dan digunakan bersamaan dengan semen dengan
persentase fly ash 50% atau lebih dari berat total binder. HVFAC memiliki
kelebihan yaitu ramah lingkungan, ekonomis, memperlambat setting time,
meningkatkan workability, durability, dan diharapkan meningkatkan kekuatan
dari beton (Stefanus dan Howard, 2010).
Definisi beton high volume fly ash menurut Mehta (2004) yaitu :
commit to user
[Link] 9
[Link]
Self Compacting Concrete (SCC) adalah beton yang memiliki sifat kecairan
(fluidity) yang tinggi sehingga mampu mengalir dan mengisi ruang-ruang di
dalam cetakan tanpa proses pemadatan (Tjaronge, 2006). SCC mulai
dikembangkan sekitar tahun 1980-an oleh beberapa peneliti di Jepang, dan mulai
digunakan pada konstruksi beton pada awal tahun 1990-an (Okamura et. al, 2003).
Pembangunan struktur beton yang memiliki ketahanan, membutuhkan pemadatan
yang baik yang dilakukan oleh tenaga-tenaga kerja terampil. Sedangkan
berkurangnya tenaga-tenaga kerja terampil dalam dunia konstruksi di Jepang
mengakibatkan beton kadang-kadang tidak terpadatkan dengan baik sehingga
menurunkan mutu pekerjaan konstruksi. SCC adalah salah satu pemecahan untuk
memperoleh struktur beton yang memiliki ketahanan yang lebih baik (Tjaronge et.
al, 2006). Menurut (Ouchi et. al, 2003), SCC menawarkan beberapa kelebihan
antara lain :
SCC sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran agregat dalam proses
pengalirannya. Bentuk agregat yang bulat dan berupa batu pecah akan
mempengaruhi kecepatan aliran beton. Bentuk agregat yang bulat kecepatan
alirannya akan lebih tinggi dari pada menggunakan batu pecah, karena tekstur
permukaan batu pecah lebih kasar dan bersudut sehingga terjadi gesekan antar
agregat yang menyebabkan aliran melambat. Ukuran agregat kasar maksimum
dalam SCC adalah 20 mm dan pemakaianya dibatasi kurang lebih hanya 50 % dari
total volume beton (Novi Andi S, 2011).
1) Agregat kasar yang digunakan adalah 50% volume total, agar mortar dapat
melewati sela-sela dari agregat kasar yang kurang rapat tersebut.
2) Volume agregat halus ditetapkan hanya 40% dari volume total mortar,yang
bertujuan mengisi kekosongan dari agregat kasar.
commit to user
[Link] 11
[Link]
3) Rasio volume untuk air dan bahan pengikat ditetapkan antara 0,9 hingga 1
tergantung pada sifat pada bahan pengikatnya.
4) Dosis superplasticizer dan faktor air - bahan pengikat ditentukan setelahnya
untuk mendapatkan pemadatan secara mandiri.
Hal yang berpengaruh dalam self compacting concrete adalah deformability dan
viscosity. Self compacting concrete yang berkinerja tinggi membutuhkan
deformability yang tinggi dan segregasi yang rendah. Okamura, H., & Ouchi, M,
(2003) menyatakan bahwa perbandingan antara deformability (Γm) dengan
viscosity (Rm) hampir konstan dengan variasi dari w/b dengan syarat penggunaan
superplasticizer yang konstan pula.
Viscosity
Peningkatan w/b
Deformability Γm
Gambar 2.1. Hubungan Antara Deformability dan Viscosity
Dari Gambar 2.1. menunjukkan bahwa semakin besar nilai Viscosity (Rm) maka
semakin besar pula deformability (Γm) dari beton, sebaliknya bila nilai Rm
semakin kecil maka Γm dari beton semakin kecil pula.
HVFAC yang secara umum sangat kohesif dan menunjukan kemungkinan tidak
terjadinya bleeding dan segregation serta memiliki workability dan pumpability
yang sangat bagus menyebabkan material bergerak dengan baik mengisi ruang-
ruang kosong layaknya SCC. Oleh karena itu, penggunaan High Volume Fly ash
Self Compacting Concrete akan sangat menguntungkan dari segi workability dan
durability. Kadar fly ash yang tinggi pada campuran tersebut akan meningkatkan
kemampuan beton untuk mengalir tanpa menggunakan banyak air. Kemampuan
beton untuk mempertahankan bentuk akan semakin baik akibat fly ash yang
commit to user
[Link] 12
[Link]
2.2.1. Beton
Beton merupakan ikatan dari material-material pembentuk beton, yaitu terdiri dari
campuran agregat (kasar dan halus), semen, air, dan pula ditambah dengan bahan
campuran tertentu apabila dianggap perlu. Bahan air dan semen disatukan akan
membentuk pasta semen berfungsi sebagai bahan pengikat, sedangkan agregat
halus dan agregat kasar sebagai pengisi (Nugraha, Paul dan Antoni, 2007). Bahan
tambah (admixture) dapat ditambahkan jika menginginkan sifat-sifat tertentu dari
beton yang bersangkutan untuk menjadi lebih baik.
Banyak penelitian mengenai beton yang telah dilakukan untuk memperbaiki sifat-
sifat dari beton. Selain itu bahan campurannya juga mengalami beberapa variasi.
Hal ini bertujuan selain untuk meningkatkan kualitas beton juga ditujukan untuk
menekan biaya pembuatan beton sekecil mungkin serta lebih ramah lingkungan.
High Volume Fly ash Concrete merupakan campuran beton yang menggunakan
fly ash dimana prosentase fly ash yang digunakan lebih dari 50%. Menurut ASTM
C618 penggunaan fly ash untuk tipe F dibatasi 15% – 20%. Sedangkan untuk tipe
commit to user
[Link] 13
[Link]
C dibatasi 25% – 35% dari berat binder. Fly ash pada umumnya memberi dampak
dalam workability dan biaya yang lebih ekonomis pada beton. Namun hal tersebut
tidak mencukupi untuk meningkatkan daya tahan (durability) untuk serangan
sulfat, alkali-silika ekspansi dan juga thermal cracking. Untuk mencapai tujuan
tersebut, maka dilakukan peningkatkan persentase fly ash. Malhotra dan Mehta
(2003) mengusulkan untuk menggunakan prosentase fly ash minimum 50% dari
berat semen untuk diterapkan sebagai mix design dari HVFAC. Hal tersebut sangat
memungkinkan untuk menghasilkan workability, ultimate strength, dan durability
yang tinggi.
HVFAC dengan faktor air semen yang rendah dapat digolongkan sebagai beton
dengan yang memiliki kemungkinan terjadi keretakan akibat susut. Untuk
menanggulangi hal tersebut beberapa cara harus dilakukan yaitu dengan
melindungi beton dari berbagai bentuk kehilangan air dengan cepat. Untuk
mendapatkan hasil yang baik curing harus dilakukan pada permukaan beton
minimum 7 hari untuk mendapatkan kekuatan dan bentuk beton yang optimum.
commit to user
[Link] 14
[Link]
4) Kekuatan awal beton dapat ditingkatkan pada umur 7 hari, dimana dapat
dipercepat dengan mengubah pada mix design jika dibutuhkan untuk
pembukaan bekisting dan pembebanan struktur pada awal umur beton.
5) HVFAC akan mengalami penambahan kekuatan yang terjadi antara umur 7
hari sampai 90 hari bahkan mampu melebihi 100% dari kekuatannya. Jadi
tidak perlu dilakukan overdesign untuk mendapatkan suatu kekuatan yang
tinggi.
6) HVFAC memiliki stabilitas dan ketahanan terhadap terjadinya retak pada
beton, baik retak yang diakibatkan oleh thermal shrinkage, autogenous
shrinkage, dan drying shringkage.
7) HVFAC dengan waktu curing yang mencapai tiga sampai enam bulan
memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap electrical dan chloride ion
penetration berdasarkan ASTM C1202.
Fly ash yang digunakan sebagai pengganti sebagian penggunaan semen pada
beton dapat membuat beton lebih kuat, tahan lama, dan mengurangi dampak
lingkungan. Fly ash itu sendiri memiliki kegunaan untuk meningkatkan kekuatan,
memperlambat setting time, dan mengurangi panas hidrasi dari semen, sehingga
kemungkinan terjadinya cracking dapat dikurangi.
Tipe fly ash dibedakan berdasarkan jenis batu bara yang digunakan untuk
pembakaran. Menurut ACI Manual Concrete Practice 1993 part 1 226.3R-3,
bahan pozzolan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1) Tipe C
Mengandung CaO di atas 10% yang didapat dari pembakaran lignite atau
subbitumen batu bara (batu bara muda)
a. Kadar (SiO2+Al2O3+Fe2O3) > 50%
b. Kadar CaO mencapai 10%
commit to user
[Link] 15
[Link]
2) Tipe F
Mengandung CaO lebih kecil 10% yang dihasilkan dari pembakaran
anthracite atau bitumen batu bara
a. Kadar (SiO2+Al2O3+Fe2O3) > 70%
b. Kadar CaO mencapai 50%
3) Tipe N
Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat dapat digolongkan antara
lain tanah diatomic, opaline chertz, shales, tuff dan abu vulkanik, dimana
biasa di proses melalui pembakaran atau tidak melalui proses pembakaran.
Selain itu juga mempunyai sifat pozzolan yang baik.
Malhotra dan Mehta (2003), mengatakan bahwa fly ash sebagai bahan pozzolanic
yang digunakan bersamaan dengan semen memiliki persentase tertentu dalam
pembuatan beton, dimana jika kadar fly ash 50% atau lebih dari berat total binder
disebut high volume fly ash concrete (HVFAC). Jika dibandingkan dengan beton
konvensional, HVFAC memiliki kelebihan yaitu ramah lingkungan, kekuatan
lebih tinggi, memiliki ketahanan yang lebih lama, penggunaaan air pada campuran
mortar yang lebih sedikit, lebih ekonomis, dan mengurangi panas hidrasi dari
semen sehingga mengurangi resiko cracking. HVFAC memiliki kelebihan ramah
lingkungan karena dapat mengurangi penggunaan semen pada beton, sehingga
karbon dioksida yang dihasilkan dari industri semen dapat dikurangi.
Unsur silikat dan aluminat sebagai unsur dari fly ash yang reaktif akan bereaksi
dengan kapur padam aktif (Ca(OH)2) yang merupakan hasil sampingan dari
proses hidrasi antara semen portland dan air menjadi kalsium silikat hidrat
(C3S2H3 atau “tubermorite”), sehingga
commit tomendapatkan
user hasil utama dari proses
[Link] 16
[Link]
hidrasi C3S2H3 (tubermorite). Karena dalam HVFAC menggunakan kadar fly ash
tinggi, maka akan terjadi perubahan fungsi fly ash menjadi filler. Ukuran butiran
fly ash (45µm) yang lebih kecil dari pada butiran semen (75 µm) sehingga dapat
menutup dari ruang kosong antar butiran semen dan beton bisa lebih kedap
terhadap air. Dengan beton lebih kedap, maka durability dan ultimate strength
dapat lebih meningkat.
Fly ash memiliki butiran yang lebih halus, bulat dan mempunyai sifat hidrolik.
Oleh karena itu fly ash tidak sekedar menambah kekuatan mortar. Secara mekanik
fly ash ini akan mengisi ruang kosong (rongga) di antara butiran-butiran, dan
secara kimiawi akan memberikan sifat hidrolik pada kapur mati yang dihasilkan
dari proses hidrasi, dimana mortar hidrolik ini akan lebih kuat daripada mortar
udara (kapur mati + air) (Suhud, 1993). Butiran fly ash tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2.2.
Dengan bentuk butir dari fly ash bulat maka gesekan atau friksi antar butir sangat
kecil sehingga memiliki flowability tinggi dan akan lebih mudah dalam
pengerjaan atau workability tinggi.
waktu yang dibutuhkan untuk melepas bekisting dan melakukan curing pada
beton tesebut.
[Link]. Kelebihan dan Kekurangan High Volume Fly ash Concrete (HVFAC)
1) Pada beton segar, kehalusan dan bentuk partikel fly ash yang bulat pada
HVFAC dapat meningkatkan flowability, workability, pumpability serta
mengurangi terjadinya bleeding dan segregasi.
2) HVFAC lebih kedap air karena kapur bebas yang dilepas pada proses hidrasi
akan terikat oleh silikat dan alumina aktif yang terkandung di dalam fly ash
dan menambah pembentukan silika gel, yang berubah menjadi kalsium silikat
hidrat yang akan menutupi pori-pori yang terbentuk sebagai akibat
dibebaskannya Ca(OH)2.
3) HVFAC lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah yang beracun.
4) Pada beton keras, penggunaan high volume fly ash dapat meningkatkan kuat
tekan beton setelah 28 hari, bahkan mampu melebihi 100% dari kekuatannya.
Jadi tidak diperlukan overdesign untuk mendapatkan suatu kekuatan yang
tinggi.
5) Memiliki penyelesaian permukaan yang lebih cepat dan lebih baik.
6) HVFAC memiliki stabilitas dan ketahanan terhadap terjadinya retak pada
beton, baik retak yang diakibatkan oleh thermal shrinkage, autogenous
shrinkage, dan drying shrinkage.
7) HVFAC dengan waktu curing yang mencapai tiga sampai enam bulan
memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap electrical dan chloride ion
penetration berdasarkan ASTM C1202.
8) Mengurangi jumlah air yang digunakan, sehingga kekuatan beton akan
meningkat.
9) Relatif dapat menghemat biaya karena akan mengurangi pemakaian semen
(Hidayat, 1993).
commit to user
[Link] 18
[Link]
Self Compacting Concrete (SCC) dapat didefinisikan sebagai suatu jenis beton
yang dapat dituang, mengalir dan menjadi padat dengan memanfaatkan berat
sendiri, tanpa memerlukan proses pemadatan dengan getaran atau metode lainnya,
selain itu beton segar jenis self-compacting concrete bersifat kohesif dan dapat
dikerjakan tanpa terjadi segregasi atau bleeding. Beton jenis ini lazim digunakan
untuk pekerjaan beton pada bagian struktur yang sulit dijangkau dan dapat
menghasilkan struktur dengan kualitas yang baik. SCC mensyaratkan kemampuan
mengalir yang cukup baik pada beton segar tanpa terjadi segregasi, sehingga
viskositas beton juga harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya segregasi
(Okamura dan Ozawa, 1994).
Pembatasan Fraksi
Kemampuan
Agregat Kasar
Mengalir (Flowability)
Penggunaan
Self Compactibility
Superplasticizer
Ketahanan Terhadap
Pengurangan Nilai
Segregasi Water-Binder Ratio
Menurut Dehn dan kawan-kawan (2000), perkembangan kuat tekan beton yang
tergolong self compacting concrete lebih cepat dibandingkan dengan beton normal
yang menggunakan fly ash sebagai pozolan tetapi lebih lambat jika dibandingkan
dengan beton normal yang tidak menggunakan pozolan, sehingga disarankan
untuk menggunakan kuat tekan pada umur 56 hari sebagai tolok ukur pengujian.
Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.4.
pembentukan C-S-H (tubermorite) akan lebih merata dan lebih aktif. Komposisi
agregat kasar dan halus juga harus diperhatikan dalam proses produksi SCC,
mengingat semakin besar proporsi agregat halus dapat meningkatkan daya alir
beton segar tetapi jika agregat halus yang digunakan terlalu banyak maka dapat
menurunkan kuat tekan beton yang dihasilkan, sebaliknya jika terlalu banyak
agregat kasar dapat memperbesar resiko segregasi pada beton. Sedangkan
penggunaan bahan pengisi (filler) diperlukan untuk meningkatkan viskositas
beton guna menghindari terjadinya bleeding dan segregasi, untuk tujuan tersebut
dapat digunakan fly ash, serbuk batu kapur, sillica fume atau yang lainnya
(Persson, 2000).
commit to user
[Link] 21
[Link]
b. Pengaliran (flowability)
Kinerja self compacting concrete tidak hanya dilihat dari segi flowability saja,
passingability dari SCC juga perlu diperhatikan. Passingability dari SCC dapat
diketahui melalui pengujian J-Ring flow table, L-Box dan Box Type. Perincian
syarat pengujiannya adalah sebagai berikut:
[1] Slump flow test Alat uji ini terdiri dari papan aliran dengan permukaan
licin berukuran 80 cm x 80 cm. Papan dilengkapi dengan kerucut pengarah
tuangan beton segar setinggi 30 cm dengan diameter atas 10 cm dan
diameter bawah 20 cm.
[2] Pengujian J-Ring flow table tanpa serat syarat waktu yang diperlukan
beton untuk melewati tulangan hingga diameter sebaran sebesar 500 mm
(t500) adalah 2-5 detik dan syarat diameter sebaran adalah 600 mm
(Siddique, 2001).
[3] Pengujian L-Shape Box Test tanpa serat syarat waktu yang diperlukan
untuk mencapai t200 adalah 3-4 detik, dan untuk mencapai t400 adalah 6
detik (As’ad, 2006). Perbandingan ketinggian (h2/h1) adalah ≥ 0,8 (Kumar,
2006).
[4] Pengujian Box type tanpa serat syarat ketinggian permukaan beton setelah
partition gate dibuka adalah 300 mm (Kumar, 2006).
[5] V-funnel test : Flowability beton segar dapat diuji dengan V-funnel test,
dengan cara mengukur waktu pengaliran setelah funnel diisi sekitar 12
liter beton segar.
commit to user
[Link] 22
[Link]
Sementara itu ada beberapa pengujian lain dari beton segar yang dipaparkan
oleh Tattersall (1983) adalah sebagai berikut :
[1] Filling Box Test, untuk mengetahui kemampuan beton segar dalam
mengisi tulangan dan menghindari segregasi.
[2] Wet Sieving stability Test, untuk mengetahui rasio segregasi beton segar.
[3] Penetration Test for Segregation¸ untuk mengukur resistensi penetrasi
beton yang bersifat cair dan pemadatan mandiri.
[1] Jumlah air yang dipakai dalam adukan, semakin banyak air yang dipakai
makin mudah beton segar dikerjakan
[2] Penambahan semen dalam adukan akan diikuti penambahan air campuran
untuk memperoleh nilai FAS tetap
[3] Gradasi campuran agregat halus dan agregat kasar
[4] Pemakaian butir batuan yang bulat dapat mempermudah pengerjaan
adukan
[5] Pemakaian butir maksimum agregat kasar
commit to user
[Link] 23
[Link]
a. Kekuatan (strength)
Kekuatan beton padat meliputi kekuatan tekan dan kekuatan tarik. Faktor air
semen (FAS) sangat mempengaruhi kuat tekan beton. Semakin kecil FAS,
sampai batas tertentu semakin tinggi kuat tekan beton. Kekuatan akan sesuai
dengan yang direncanakan bila pada campuran beton tersebut menggunakan
semen portland dengan kekuatan yang sesuai dengan persyaratan dan proporsi
campuran dengan perencanaan yang tepat. Kekuatan beton akan semakin
meningkat dengan bertambahnya umur beton karena proses hidrasi semen yang
ada dalam adukan beton akan terus berjalan walaupun lambat.
b. Ketahanan (durability)
Ketahanan beton dikatakan baik apabila dapat bertahan lama dalam kondisi
tertentu tanpa mengalami kerusakan selama bertahun-tahun yang disebabkan
faktor dari luar, erosi kembang dan susut akibat basah atau kering yang silih
berganti dan pengaruh bahan kimia, dan faktor dari dalam yaitu akibat reaksi
agregat dengan senyawa alkali.
commit to user
[Link] 24
[Link]
d. Porositas
Pada SCC memiliki tingkat porositas yang rendah dikarenakan pada adukan
beton segar faktor air-semen sangat rendah sehingga pada waktu mengeras,
ruangan-ruangan dari penguapan air lebih kecil, dengan demikian porositas
beton dapat berkurang.
a. Segi Durabilitas
b. Segi Produktivitas
[1] Human error akibat pemadatan yang kurang sempurna dapat dihilangkan
[2] Angka kecelakaan tenaga kerja dapat diperkecil
[3] Tidak ada polusi suara akibat vibrator
[4] Tidak terjadi Hand Arm Vibration Syndrom (HAVS)
[5] Tidak terjadi White Fingers akibat gangguan peredaran darah
[1] Dari segi biaya Self Compacting Concrete lebih mahal dari pada beton
konvensional, salah satunya penggunaan superplasticizer
[2] Pembuatan cetakan beton harus diperhatikan karena mudah terjadi
kebocoran akibat sangat encernya campuran beton
commit to user
[Link] 25
[Link]
Fly ash sebagai bahan tambah pada self compacting concrete (SCC) dapat
menambah kelecakan beton. Butiran fly ash yang berbentuk bulat akan membantu
memudahkan mengalir mengikuti berat sendiri dari beton segar serta mengisi
ruang kosong antar agregat sehingga beton dapat memadat sendiri dengan
kepadatan yang optimal. Fly ash pada SCC juga berperan sebagai water reducer
sehingga faktor air semen akan menjadi lebih kecil tanpa mengurangi kemampuan
beton untuk dapat mengalir.
Pada high volume fly ash concrete (HVFAC) dengan kadar yang lebih dari 50%
dari berat binder peran fly ash dapat meningkatkan ketahanan dan keawetan beton.
Butiran fly ash akan banyak mengisi ruang kosong antar agregat sehingga
kepadatan beton akan menjadi lebih baik. Sisa reaksi semen dengan air yang
berupa kapur padam yang cenderung melemahkan beton akan bereaksi kembali
dengan fly ash. Hasil sampingan reaksi semen dan air tersebut dapat dikurangi
sehingga beton akan menjadi lebih tahan terhadap reaksi zat asam maupun sulfat
yang ada di sekitarnya.
High volume fly ash self-compacting concrete (HVFA SCC) merupakan perpaduan
dari teknologi HVFAC dan SCC. HVFA SCC merupakan beton dengan kadar fly
ash sebagai pengganti semen mencapai lebih dari 50% dan memiliki sifat-sifat
beton segar sama seperti SCC biasa. Pemakaian fly ash sebagai bahan pengganti
semen minimum 50% dari berat binder memiliki berbagai keunggulan untuk
membuat beton segar memiliki sifat sifat SCC. Bentuk butiran fly ash yang bulat
akan meningkatkan workability beton segar sehingga kemampuan beton untuk
mengalir akan lebih baik dengan penggunaan faktor air semen yang lebih kecil.
Selain itu kadar penggantian semen yang cukup tinggi memperkecil ruang antar
agregat karena ukuran butiran fly ash lebih kecil dari semen sehingga beton yang
dihasilkan akan lebih padat sehingga dapat meningkatkan nilai kuat tarik belah
maupun modulus of rupture beton.
commit to user
[Link] 26
[Link]
[Link]. Bahan Penyusun High Volume Fly Ash – Self Compacting Concrete
(HVFA-SCC)
Bahan penyusun HVFA – SCC agak berbeda. Pembuatan HVFA – SCC diperlukan
agregat, semen dan air dengan komposisi tertentu dengan mineral admixture dan
chemical admixture untuk mendapakan beton yang flowable dan compactable.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat HVFA – SCC, diuraikan sebagai
berikut:
1) Bahan Pengikat
a. Semen
Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dalam
pekerjaan beton. Menurut SNI-2049-2004, semen portland didefinisikan sebagai
semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling clinker yang terdiri dari
kalsium silikat hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk
kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan
utamanya. Untuk mendapatkan workability yang tinggi, dapat dilakukan dengan
meningkatkan volume pasta semen. Peningkatan volume pasta diperoleh dengan
memberikan bahan mineral pada semen seperti fly ash, silica fume, limestone, dan
sebagainya. Bahan-bahan tersebut berguna untuk meningkatkan sifat mekanis dan
kimiawi serta umur beton. Jumlah semen dan bahan tambahnya berkisar antara
425 – 625 kg/m3.
b. Fly Ash
Fly ash merupakan bahan sisa buangan yang berasal dari pembakaran batu bara
yang digunakan pada pembangkit tenaga listrik. Pada akhir proses pembakaran,
partikel buangan yang melayang (fly ash) ditangkap kembali dengan filter
elektrostatis. Mutu fly ash tergantung dari kesempurnaan pembakaran.
Fly ash memiliki butiran yang lebih halus daripada butiran semen dan mempunyai
sifat hidrolik. Besar butiran fly ash antara 1-150 mikrometer. Oleh karena itu fly
ash tidak sekedar menambah kekuatan mortar. Secara mekanik fly ash ini akan
mengisi ruang kosong (rongga) diantara butiran-butiran, dan secara kimiawi akan
commitmati
memberikan sifat hidrolik pada kapur to user
yang dihasilkan dari proses hidrasi,
[Link] 27
[Link]
dimana mortar hidrolik ini akan lebih kuat daripada mortar udara (kapur mati +
air) (Suhud, 1993).
Material ini mempunyai kadar bahan semen yang tinggi dan bersifat pozzolan.
Komposisi dari fly ash sebagian besar terdiri dari silikat dioksida (SiO2),
alumunium (Al2O3), besi (Fe2O3), dan kalsium (CaO), serta magnesium,
potassium, sodium, titanium, dan sulfat dalam jumlah yang lebih sedikit. Menurut
ASTM C618-86 terdapat dua jenis abu terbang, kelas F dan C. Kelas F dihasilkan
dari pembakaran batu bara jenis antrasit dan bituminous, sedangkan kelas C dari
lignite dan subituminous. Fly ash kelas C mempunyai kadar kapur yang tinggi.
Persyaratan kandungan kimia dan fisika fly ash berdasarkan ASTM C618 – 96
disajikan pada Tabel 2.1.
commit to user
[Link] 28
[Link]
Fly ash yang dipakai untuk penelitian ini adalah fly ash yang di peroleh dari
PLTU Cilacap dan di catat bahwa produk limbah fly ash dari PLTU ini mencapai
1 juta ton per tahunnya. Penelitian tentang kandungan kimia yang terdapat dalam
fly ash dari PLTU Cilacap dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
(BTKL) dan Penanggulangan Penyakit Menular (PPM), Yogyakarta. Hasil
penelitian tentang parameter kimia yang terdapat dalam fly ash dari PLTU Cilacap
disajikan pada Tabel 2.2.
Kelas
Parameter
C
Silicon dioxide (SiO2)+ aluminum oxide (Al2O3) + iron
oxide (Fe2O3), 61,51
min, %
Sulfur trioxide (SO3), max, % 0,36
Moisture content, max, % 0,16
Loss on ignition, max, % 0,53
Sumber : BTKL dan PPM Yogyakarta (2011)
2) Agregat Kasar
Komposisi agregat kasar pada beton konvensional menempati 70-75% dari total
volume beton. Sedangkan dalam HVFA – SCC, penggunaan agregat kasar lebih
sedikit, yaitu dibatasi jumlahnya maksimal 50 % dari total volume beton supaya
bisa mengalir dan memadat sendiri tanpa alat pemadat. Selain itu pembatasan
fraksi agregat kasar dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan terhadap
segregasi. Sedangkan ukuran maksimum agregat kasar 10 mm dengan
pertimbangan kemampuan mengalir beton segar. Untuk mendapatkan beton
dengan kemampuan memadat dengan baik, lebih disarankan agar menggunakan
agregat dengan berat jenis tinggi (berat).
3) Agregat halus
Agregat halus yang digunakan lebih banyak daripada beton konvensional, yaitu
dengan volume agregat halus lebih besar 40 % dari volume mortar, dan harus
committetapi
lebih besar 50 % dari berat total agregat, to user
lebih kecil 50 % dari volume pasta.
[Link] 29
[Link]
Pasta terbentuk dari campuran semen ditambah air dan udara, sedangkan mortar
dibentuk dari pasta dan agregat.
4) Air
Faktor air semen sangat berpengaruh pada beton segar dan setelah mengeras.
Sedangkan penggunaan air pada HVFA – SCC lebih sedikit dibanding beton
konvensional yaitu dengan FAS berkisar antara 0,28 – 0,42 atau dibatasi sebesar ±
200 liter/m3. Pengurangan penggunaan air ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya segregasi.
Adapun spesifikasi (technical data) dari Sika Viscocrete 10 dapat dilihat pada
Tabel 2.3
Bentuk Cair
Warna Pale Straw
Kerapatan relatif @ 20°C 1,06
Kandungan material kering % 30
Dosis % berat semen 0,2-1,5
Ph 4,5
Water Soluble Chloride Content % <0,1 Chloride free
Equivalent Sodium Oxide as Na2O 0,30
Sumber: [Link]
commit to user
[Link] 31
[Link]
Pada setiap pembuatan beton memadat mandiri (SCC) diperlukan rancang campur
bahan penyusunnya (mix design). Dalam mendesain rancang campur beton
memadat mandiri didesain sedemikian sehingga mencapai kriteria yang
diinginkan yaitu kemampuan mengalir (flowability) dan resistensi terhadap
segregasi yang tinggi. Kriteria tersebut dapat diperoleh dengan cara mengikuti
ketentuan-ketentuan umum dari metode rancang campur beton memadat mandiri
(SCC) yaitu:
1) Agregat kasar yang digunakan adalah 50% volume total.
2) Volume agregat halus ditetapkan hanya 40% dari volume total mortar.
3) Rasio volume untuk air dan powder (water/powder ratio) ditetapkan antara
0,9 hingga 1 tergantung pada sifat powder dan dosis dari superplastcizer.
Penambahan fly ash hingga kadar volume tinggi pada rancang campur beton
memadat mandiri (SCC), membuat kemampuan mengalir (flowability) dari
campuran semakin meningkat. Kadar air yang digunakan menjadi berkurang dari
kadar air awal yang telah direncanakan pada keadaan sebelum ditambahkan fly
ash. Sehingga jika kadar air awal tersebut digunakan sepenuhnya dalam campuran
pada keadaan setelah ditambahkan fly ash hingga kadar volume tinggi, maka
campuran tersebut akan mengalami bleeding. Modifikasi kadar air pada rancang
campur perlu dilakukan untuk mendapatkan kemampuan mengalir (flowability)
yang setara saat sebelum dilakukan penambahan fly ash dengan kadar volume
tinggi dan tidak terjadi bleeding pada campuran.
Kuat tarik beton yang tepat sulit di ukur, sehingga untuk mencari nilai kuat tarik
bahan beton yang mencerminkan kuat tarik yang sebenarnya, maka digunakan
kuat tarik belah. Kuat tarik yang dihasilkan lebih mendekati kuat tarik langsung
dari beton. Kuat tarik bahan beton ditentukan melalui split cylinder yang
posisinya direbahkan lalu di desak.
commit to user
[Link] 32
[Link]
Pengujian menggunakan uji silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm,
diletakkan pada arah memanjang di atas mesin uji desak Compression Testing
Machine dengan kapasitas 2000 kN, kemudian beban tekan diberikan merata arah
tegak dari atas pada seluruh panjang silinder. Apabila kuat tarik terlampaui, benda
uji terbelah menjadi dua bagian dari ujung ke ujung.
Gaya P bekerja pada kedua sisi silinder sepanjang L dan gaya ini disebarkan
seluas selimut silinder (π.D.L). Secara berangsur-angsur pembebanan dinaikkan
sehingga tercapai nilai maksimum dan silinder pecah terbelah oleh gaya tarik
horizontal, seperti Gambar 2.5.
P P
P
L = 300 mm
Dari pembebanan maksimum yang diberikan, nilai kuat tarik belah di hitung
dengan Persamaan (2.1) sebagai berikut :
P P 2P
Ft = = = (2.1)
A 1 pDL
pDL
2
Dengan :
Beban-beban yang bekerja pada struktur, baik yang berupa beban gravitasi
(berarah vertikal) maupun beban-beban lain, seperti beban angin (dapat berarah
horisontal) atau juga beban karena susut dan karena perubahan temperatur,
menyebabkan adanya lentur dan deformasi pada elemen struktur. Lentur pada
balok merupakan akibat regangan yang timbul karena adanya beban luar. Modulus
of rupture merupakan kuat tarik maksimun yang secara teoritik dicapai pada serat
bagian bawah dari sebuah balok uji (A.M. Neville, 1987:309).
Untuk batang yang mengalami lentur sesuai dengan standar pengujian ASTM C
78, yang dipakai dalam desain adalah modulus of rupture, bukan tarik belahnya.
Untuk mengetahui kekuatan beton harus dilakukan percobaan yang dapat
menggambarkan bagian balok yang hanya menerima beban lentur saja, yaitu
meletakkan balok beton pada tumpuan sederhana pada perletakan berupa sendi-
rol. Beban yang bekerja pada pusat bentang dibagi menjadi dua sama besar
menggunakan pelat pembagi pembentuk U terbalik yang bekerja pada tiap jarak
1/3 bentang. Hal ini disebut dengan lentur murni. Lenturan murni adalah suatu
lenturan yang berhubungan dengan lenturan di bawah balok di bawah suatu
momen lentur yang konstant. Gaya lintang yang terjadi sama dengan nol.
Pengujian ini dilakukan dengan standar ASTM C-78 yaitu metode pengujian kuat
tarik lentur dengan beban terbagi menjadi dua yang bekerja pada suatu
penampang balok dengan titik yang menjadi tiga bagian daerah.
commit to user
[Link] 34
[Link]
Besar momen yang dapat mematahkan benda uji adalah momen akibat beban
maksimum dari mesin pembebanan dengan mengabaikan berat sendiri dan
gravitasi dari benda uji. Besar momen yang mematahkan balok uji dapat dilihat
pada Gambar 2.7. sebagai berikut :
commit to user
[Link] 35
[Link]
1/2 P 1/2 P
SFD
1/2 P +
- 1/2 P
+ BMD
Secara umum nilai modulus of rupture dapat dihitung dengan Persamaan (2.3)
berikut :
1 1
Px L b
MOR= 2 3 PL b (2.3)
=
1
bh 2 bh 2
6
commit to user
[Link] 36
[Link]
Dengan :
MOR = Modulus of rupture (MPa)
P = Beban maksimum pada balok benda uji (N)
Lb = Panjang bentang balok (mm)
b = Lebar balok benda uji (mm)
h = Tinggi balok benda uji (mm)
Pada pengujian kuat lentur berdasarkan ASTM C-78 akan terjadi 3 macam tipe
kemungkinan patah balok benda uji sebagai berikut :
1 1
2 P 2 P
A B C D
10 cm 10 cm 10 cm 10 cm 10 cm
Pada keadaan ini, balok uji patah pada bagian tengah (antara B dan C) dan
patahannya diakibatkan oleh momen paling maksimum. Besar MOR dihitung
berdasarkan persamaan (2.3) seperti di bawah ini :
1 1
Px L
MOR = M = 2 3 = PL
s 1 bh 2
bh 2
6
1 1
2 P 2 P
< 5% < 5%
A B C D
a
10 cm 10 cm 10 cm 10 cm 10 cm
Gambar 2.10. Patah pada Bentang antara A-B atau C-D < 5%
Bila balok patah pada bentang A-B atau C-D dengan jarak letak patah kurang
dari 5% panjang bentang, kondisi ini dapat diperhitungkan dan balok uji dapat
dipakai. Besar MOR dihitung berdasarkan persamaan (2.4) :
1
ax P
MOR = M = 2 =
3 aP (2.4)
2
s 1 2 bh
bh
6
1 1
2 P 2 P
> 5% > 5%
A B C D
10 cm 10 cm 10 cm 10 cm 10 cm
Gambar 2.11. Patah pada Bentang antara A-B atau C-D > 5%
Bila balok patah pada bentang A-B atau C-D dengan jarak letak patah lebih
dari 5% panjang bentang, kondisi ini dapat diperhitungkan dan balok uji tidak
dapat dipakai.
commit to user
[Link] 38
[Link]
Pada suatu gelagar balok bentang sederhana menahan beban yang mengakibatkan
timbulnya momen lentur, akan terjadi deformasi lentur di dalam balok tersebut.
Pada kejadian momen lentur positif, tegangan tekan akan terjadi di bagian atas
dan tegangan tarik terjadi di bagian bawah dari penampang. Tegangan-tegangan
tersebut harus ditahan oleh balok, tegangan tekan di sebelah atas dan tegangan
tarik di sebelah bawah.
Apabila bebannya bertambah, maka balok akan terjadi deformasi dan regangan
tambahan yang mengakibatkan timbulnya (atau bertambahnya) retak lentur di
sepanjang bentang balok, pada akhirnya dapat terjadi keruntuhan elemen struktur,
yaitu pada saat beban luarnya mencapai kapasitas elemen. Taraf pembebanan
demikian disebut keadaan limit dari keruntuhan pada lentur. Karena itu perencana
harus mendesain penampang elemen balok sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
retak yang berlebihan pada saat beban bekerja, dan masih mempunyai keamanan
yang cukup dan kekuatan cadangan untuk menahan beban dan tegangan tanpa
mengalami keruntuhan.
Pada pengujian kuat lentur menggunakan balok beton sebagai benda uji. Caranya
adalah dengan membuat balok beton dengan desain sedemikian rupa sehingga
nantinya setelah dibebani akan terjadi keruntuhan lentur, yang ditandai dengan
retak-retak pada balok pada posisi sekitar tengah bentang tanpa didahului retak
geser. Untuk mendapatkan balok semacam ini perlu perencanaan, sehingga balok
runtuh akibat momen maksimal karena P maksimal. Dengan cara membuat balok
beton dengan perhitungan kekuatan balok itu sendiri sehingga keruntuhan yang
dihasilkan adalah keruntuhan lentur.
Kekakuan suatu balok disebut besar jika diperlukan tegangan yang besar untuk
membuat lendutan pada balok tersebut. Sedangkan kekakuan balok disebut kecil
jika diperlukan tegangan kecil untuk membuat lendutan pada balok.
Secara mekanikal hubungan antara lendutan (Δ), kekakuan penampang (EI) dan
momen lentur (M) adalah seperti Persamaan (2.5) berikut :
(2.5)
P
1 1
2 P 2 P
a a
Dengan persamaan diferensial, dari Persamaan (2.5) dapat dicari nilai lendutan di
tengah bentang. Lendutan untuk balok yang ditumpu oleh tumpuan sederhana
dengan dua beban pada jarak tertentu dari tiap tumpuannya dihitung dengan
Persamaan (2.6) berikut :
(2.6)
Dengan :
Berdasarkan persamaan diatas nilai kekakuan lentur elemen balok dapat diketahui,
dimana nilai kekakuan adalah fungsi dari modulus elastisitas (E) dan inersia
penampang balok (I) (Kenneth-Belanger, 1981).
(2.7)
Dalam hal ini, struktur beton yang mengalami lentur harus direncanakan agar
memiliki kekakuan yang cukup untuk membatasi lendutan yang mungkin dapat
menurunkan kekuatan layan struktur pada beban kerja. Berdasarkan persamaan
lendutan diatas, bila bentang dari sebuah komponen struktur cukup panjang maka
lendutan yang terjadi akan besar. Untuk mengantisipasi lendutan yang terlalu
besar melebihi lendutan ijin maksimum, dapat diupayakan dengan memperbesar
kekakuan penampang (EI) komponen struktur tersebut.
commit to user
[Link] [Link]
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, yaitu
metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan suatu percobaan
untuk mendapatkan data atau hasil yang menghubungkan antara variabel-variabel
yang diselidiki. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengujian
bahan, trial mix design dan pengujian kuat tarik belah serta modulus of rupture.
Pengujian kadar lumpur disyaratkan PBI 1971 untuk pasir yang digunakan dalam
campuran beton maksimal adalah 5%. Maka bila pasir mengandung lumpur 5%
dari dari berat keringnya, pasir tersebut harus dicuci.
(3.1)
dengan :
commit to user
41
[Link] 42
[Link]
Pengujian kandungan zat organik pada agregat halus menggunakan larutan NaOH
3% pada percobaan perubahan warna Abrams Harder sesuai dengan PBI 1971.
Kadar zat organik pada pasir berdasarkan perubahan warnanya dapat dilihat pada
Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Tabel Perubahan Warna Pada Uji Kadar Zat Organik Pasir
Warna Prosentase kandungan zat organik
Jernih 0%
Kuning muda 0 – 10%
Kuning tua 10 – 20%
Kuning kemerahan 20 – 30%
Coklat kemerahan 30 – 50%
Coklat 50 – 100%
Pengujian specific gravity agregat halus mengacu pada ASTM C 128. Pengujian
ini ditujukan agar mendapatkan :
1) Bulk specific gravity, yaitu perbandingan antara berat pasir dalam kondisi
kering dengan volume pasir total.
2) Bulk specific gravity SSD, yaitu perbandingan antara berat pasir jenuh dalam
kondisi kering permukaan dengan volume pasir total.
3) Apparent specific gravity, yaitu perbandingan antara berat pasir dalam
kondisi kering dengan volume butir pasir.
4) Absorption, yaitu perbandingan antara berat air yang diserap dengan berat
pasir kering.
Untuk menganalisis hasil pengujian dengan Persamaan 3.2 s/d 3.5 sebagai berikut:
a
Bulk Specific Gravity = (3.2)
b+d -c
d
Bulk Specific Gravity SSD = (3.3)
b+d -c
commit to user
[Link] 43
[Link]
a
Apparent Specific Gravity = (3.4)
b+a-c
d -a
Absorption = ´ 100% (3.5)
a
dengan :
a = berat pasir kering oven (gram),
b = berat volumetric flash berisi air (gram),
c = berat volumetric flash berisi pasir dan air (gram),
d = berat pasir dalam keadaan kering permukaan jenuh (500 gram).
(3.6)
dengan :
1) Bulk specific gravity, yaitu perbandingan antara berat kerikil dalam kondisi
kering dengan volume kerikil total.
2) Bulk specific gravity SSD, yaitu perbandingan antara berat kerikil jenuh
dalam kondisi kering permukaan dengan volume kerikil total.
3) Apparent specific gravity, yaitu perbandingan antara berat kerikil dalam
kondisi kering dengan volume butir kerikil.
commit to user
[Link] 44
[Link]
4) Absorption, yaitu perbandingan antara berat air yang diserap dengan berat
kerikil kering.
Untuk menganalisis hasil pengujian dengan Persamaan 3.7 s/d 3.10 sebagai
berikut:
f
Bulk Specific Gravity = (3.7)
g -h
g
Bulk Specific Gravity SSD = (3.8)
g-h
f
Apparent Specific Gravity = (3.9)
f -h
g -h
Absorption = ´ 100% (3.10)
h
dengan :
(3.11)
dengan :
Standar pengujian abrasi pada agregat kasar menggunakan ASTM C 131, dengan
menggunakan mesin Los Angeles. Keausan agregat tidak boleh lebih dari 50%.
commit to user
[Link] 45
[Link]
(3.12)
dengan:
i = berat agregat kasar kering oven yang telah dicuci, sebelum pengausan
(gram),
j = berat agregat kasar kering oven yang tertahan ayakan 2,3 mm dan telah
dicuci setelah pengausan (gram).
Dalam penelitian ini, fly ash yang digunakan adalah bahan sisa pembakaran di
PLTU Cilacap. Pengujian fly ash dilakukan di Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta (Laboratorium
Fisika Kimia Padatan dan B3). Pengujain fly ash terdiri dari beberapa parameter
dilihat pada Tabel 3.2
commit to user
[Link] 46
[Link]
Langkah-langkah rancang campur beton dan pengujian dari awal sampai akhir
adalah sebagai berikut :
1) Kerikil ukuran 10 mm dan pasir pada kondisi saturated surface dry (SSD).
Conical mould dengan ukuran diameter atas 3,8 cm, diameter bawah 8,9 cm,
tinggi 7,6 cm, lengkap dengan alat penumbuk sebagai alat untuk mengukur
keadaan SSD pasir.
2) Disiapkan cetakan silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm.
3) Kerikil ukuran 10 mm dan pasir ditimbang dan dimasukkan ke tempat
pengadukan.
4) Semen tipe 1 (Ordinary Portland Cement) dan fly ash tipe C dari PLTU
Cilacap ditimbang kemudian dimasukkan ke tempat pengadukan.
5) Sika Viscocrete 10 ditimbang kemudian dicampurkan ke dalam air yang telah
disiapkan dalam gelas ukur. Sebelum campuran air dengan Sika Viscocrete 10
dimasukkan ke tempat pengadukan, campuran agregat kasar, agregat halus, fly
ash, semen diaduk menggunakan cangkul sampai tercampur rata. Setelah
pencampurannya sudah merata air yang telah dicampurkan dengan Sika
Viscocrete 10 dimasukkan ke tempat pengadukan secara bertahap dan diaduk
menggunakan cangkul sampai adukan beton tercampur merata.
commit to user
[Link] 47
[Link]
commit to user
[Link] 48
[Link]
jumlah total binder yang digunakan. Dari hasil pembagian tersebut diperoleh
nilai water-binder ratio.
9) Setiap adukan beton rata-rata jumlah cetakan silinder yang terisi penuh
didapat sebanyak 6 buah benda uji silinder, yang nantinya akan diuji kuat
tekannya.
10) Pengujian kuat tekan dilakukan pada beton mencapai umur 7 hari dan 28 hari.
Secara garis besar langkah-langkah rancang campur beton dapat dilihat diagram
alir pada Gambar 3.1.
Mulai
Pengadukan bahan
Pengujian
Flowability Passingability
Persyaratan HVFA-SCC
Modifikasi Tidak
Komposisi Memenuhi
bahan
Ya
Selesai
commit
Gambar 3.1. Diagram AlirtoRancang
user Campur Beton
[Link] 50
[Link]
Campuran HVFA-SCC kadar 35%, 55%, dan 65% dalam penelitian ini diuji
melalui pengujian slump flow test. Pengujian terhadap campuran HVFA-SCC ini
dimaksudkan untuk mengetahui sifat campuran dilihat dari nilai slump loss
(pengurangan diameter penyebaran akibat pengadukan yang berulang-ulang).
Berikut adalah tabel hasil pengujian slump loss HVFA-SCC dari kadar 35%, 55%,
dan 65%
Tabel 3.4. Hasil Pengujian Slump Loss HVFA-SCC Kadar 35%, 55%, dan 65%
Slump Loss
Kadar Sampel Menit Diameter maximal Waktu
Kecepatan
Fly ash Pencampuran ke- d1 d2 drata-rata t500 tmax
(mm) (mm) (mm) (dt) (dt) (mm/dt)
0 730 680 705 6.3 36.1 20
2 710 670 690 6 36.7 19
4 690 690 690 5.4 35.7 19
35% 10 April 2012 6 670 680 675 4.9 35.6 19
8 670 660 665 4.4 34.8 19
10 650 660 655 6 31.7 21
12 660 660 660 6.5 33.4 20
0 700 715 707.5 4.6 27.6 26
2 690 700 695 4 28.2 25
4 685 700 692.5 4.3 25.7 27
55% 12 April 2012 6 685 690 687.5 3.6 22.8 30
8 670 680 675 4.1 24.6 27
10 680 685 682.5 4.4 23.4 29
12 675 685 680 4 24.2 28
0 770 680 725 2.7 27.2 27
2 720 720 720 3.9 28.2 26
4 710 710 710 4 29.7 24
65% 14 April 2012 6 690 700 695 3.6 27.3 25
8 675 695 685 4 28.2 24
10 675 690 682.5 4.4 27.1 25
12 660 690 675 4.9 24.4 28
commit to user
[Link] 51
[Link]
Mortar HVFA-SCC kadar 35%, 55%, dan 65% dalam penelitian ini diuji melalui
pengujian slump flow test dan v-funnel test. Pengujian ini dimaksudkan untuk
mengetahui pengaruh pasta dalam hal kemampuan campuran untuk mengalir
(flowability dan passingability). Berikut ini adalah hasil pengujian mortar HVFA
kadar 35%, 55%, dan 65%
Tabel 3.5. Hasil Pengujian Mortar HVFA-SCC Kadar 35%, 55%, dan 65%
Uji Flow Table Uji V-funnel
Kadar Sampel
Menit ke- Waktu (t500) Waktu (tmax)
Fly ash Pencampuran
(dt) (dt)
0 1.55 -
2 2.4 -
4 2.2 -
35% 21 Mei 2012
6 - 7.3
8 - 6.1
12 - 3.8
0 1.87 -
2 1.63 -
4 1.38 -
55% 22 Mei 2012
6 - 4.57
8 - 3.95
12 - 3.21
0 4.09 -
2 3.34 -
4 3.5 -
65% 24 Mei 2012
6 - 11.01
8 - 10.23
12 - 8.27
Hubungan antara indeks viskositas campuran (Vfc) dan indeks viskositas mortar
(Vfm) dapat dinyatakan melalui rasio Vfc/Vfm. Dari rasio tersebut dapat
diketahui seperti apakah peran mortar pada campuran dalam mendukung
flowability dan passingability dari campuran HVFA-SCC. Pengaruh mortar pada
campuran dalam flowability dan passingability dapat terlihat dari besar nilai rasio
commit to user
Vfc/Vfm. Semakin besar nilai rasio Vfc/Vfm, maka pengaruh mortar dalam
[Link] 52
[Link]
Tabel 3.6. Hasil Hitungan Rasio Vfc/Vfm HVFA-SCC Kadar 35%,55%, dan 65%
Dalam pembuatan adukan beton segar, takaran komposisi bahan (fly ash, semen,
pasir, kerikil ukuran 10 mm, air, superplasticizer sika viscocrete 10) yang dipakai
adalah hasil trial mix pada penelitian pendahuluan yang telah berhasil memenuhi
persyaratan beton segar High Volume Fly ash-Self Compacting Concrete yaitu
menghasilkan adukan beton yang flowability dan passingability.
Benda uji yang digunakan dalam penelitian kuat tarik belah beton menggunakan
benda uji berbentuk silinder berdiameter 15 cm dengan tinggi 30 cm, sedangkan
untuk benda uji modulus of rupture benda uji berupa balok dengan dimensi 10 cm
x 10 cm x 50 cm. Gambar benda uji dapat dilihat pada gambar 3.2 dan 3.3.
30 cm
15 cm
Gambar 3.2. commit to user
Benda Uji Kuat Tarik Belah
[Link] 53
[Link]
10 cm
10 cm
50 cm
Benda uji yang digunakan pada penelitian kuat tarik belah dan modulus of rupture
masing-masing terdiri dari 3 sampel. Pengujian dilakukan setelah benda uji
berumur 7, 28 dan 56 hari. Perincian sampel benda uji kuat tarik belah dan
modulus of rupture dapat dilihat di Tabel 3.7.
commit to user
[Link] 54
[Link]
Tabel 3.7. Rincian Benda Uji Kuat Tarik Belah dan Modulus of Rupture HVFA-SCC
Kadar fly ash
Kode Benda Jumlah Kode Benda Jumlah
(% volume Umur Umur
Uji Kuat Tarik Benda Uji Modulus Benda
terhadap (hari) (hari)
Belah Uji of Rupture Uji
binder)
35 KTB 35-7 3 MOR 35-7 3
55 KTB 55-7 7 3 MOR 55-7 7 3
65 KTB 65-7 3 MOR 65-7 3
35 KTB 35-28 3 MOR 35-28 3
55 KTB 55-28 28 3 MOR 55-28 28 3
65 KTB 65-28 3 MOR 65-28 3
35 KTB 35-56 3 MOR 35-56 3
55 KTB 55-56 56 3 MOR 55-56 56 3
65 KTB 65-56 3 MOR 65-56 3
Jumlah benda uji 27 27
Keterangan :
3 benda uji kuat tarik belah 35 % fly ash diuji pada umur 7 hari :
KTB 35–7a, KTB 35–7b, KTB 35–7c
3 benda uji kuat tarik belah 35 % fly ash diuji pada umur 28 hari :
KTB 35–28a, KTB 35–28b, KTB 35–28c
3 benda uji kuat tarik belah 35 % fly ash diuji pada umur 56 hari :
KTB 35–56a, KTB 35–56b, KTB 35–56c
3 benda uji modulus of rupture 35 % fly ash diuji pada umur 7 hari :
MOR 35–7a, MOR 35–7b, MOR 35–7c
3 benda uji modulus of rupture 35 % fly ash diuji pada umur 28 hari :
MOR 35–28a, MOR 35–28b, MOR 35–28c
3 benda uji modulus of rupture 35 % fly ash diuji pada umur 56 hari :
MOR 35–56a, MOR 35–56b, MOR 35–56c
commit to user
[Link] 55
[Link]
1) Benda uji yang telah berumur 1 hari (perkiraan beton mengeras) dilepas dari
cetakan silinder.
2) Benda uji yang telah dilepas dari cetakan kemudian ditutup menggunakan
plastik.
3) Benda uji yang telah ditutup plastik, kemudian tutup kembali menggunakan
karung goni yang telah dibasahi.
4) Sebelum pengujian benda uji dilap agar permukaannya kering.
3.7. Pengujian Kuat Tarik Belah High Volume Fly ash – Self
Compacting Concrete
Pengujian dilakukan saat beton berumur 7, 28 dan 56 hari. Dari pengujian yang
dilakukan dengan alat Compression Testing Machine didapatkan beban
maksimum, yaitu pada saat beton hancur menerima beban tersebut (Pmaks).
1) Melepaskan plastik dan karung goni dari benda uji (setelah proses curing
selama 6 hari, 27 hari dan 55 hari).
2) Mengukur dimensi benda uji untuk mengetahui luas permukaan dan
menimbang beratnya.
3) Meletakkan benda uji dengan arah memanjang pada alat Compression Testing
Machine.
commit to user
[Link] 56
[Link]
4) Memberikan beban secara merata arah tegak dari atas pada seluruh panjang
silinder.
P P
P
L = 300 mm
commit to user
[Link] 57
[Link]
commit to user
[Link] 58
[Link]
6) Tahap VI
Tahap ini melakukan pengujian kuat tarik belah dan modulus of rupture HVFA-
SCC.
7) Tahap VII
Tahap ini melakukan analisis data hasil pengujian antara variabel – variabel
yang diteliti dalam penelitian.
8) Tahap VIII
Tahap ini melakukan pengambilan kesimpulan dari hasil analisis pengujian
yang berhubungan dengan tujuan penelitian.
commit to user
[Link] 59
[Link]
Tahapan penelitian dapat dilihat secara skematis dalam bagan alir di bawah ini.
Mulai
Persiapan
Selesai
Gambar 3.6. Bagan Alir Tahap – Tahap Penelitian
commit to user
[Link] [Link]
BAB 4
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pengujian bahan dan benda uji dilaksanakan sesuai dengan tata cara dan standar
pengujian yang terdapat pada ASTM. Waktu pelaksanaan percobaan disesuaikan
dengan jadwal penelitian dan ijin penggunaan Laboratortium Bahan Fakultas
Teknik UNS Surakarta.
Dalam bab ini akan disajikan hasil penelitian dan pembahasan terhadap hasil yang
diperoleh. Sedangkan data rinci hasil pemeriksaan bahan dasar dan penyusun
beton disajikan dalam Lampiran A.
Pengujian terhadap agregat halus dalam penelitian ini meliputi pengujian kadar
lumpur, kandungan zat organik, specific gravity, dan gradasi agregat. Data-data
pengujian dan perhitungannya secara lengkap terdapat pada Lampiran A. Hasil-
hasil pengujian tersebut disajikan dalam Tabel 4.1.
Hasil pengujian gradasi agregat halus dan syarat batas dari ASTM C-33 dapat
commit to user
dilihat pada Tabel [Link] Gambar 4.1.
60
[Link] 61
[Link]
Dari Tabel 4.2. didapat grafik gradasi beserta batas gradasi yang disyaratkan
ASTM C-33 yang ditunjukkan dalam Gambar 4.1.
Pengujian terhadap agregat kasar split (batu pecah) yang dilaksanakan dalam
penelitian ini meliputi pengujian berat jenis (specific gravity), keausan (abrasi)
dan gradasi agregat kasar. Hasil-hasil pengujian tersebut disajikan dalam Tabel
commit
4.3 dan Tabel 4.4 menyajikan hasil to user
analisis ayakan terhadap sampel agregat kasar
[Link] 62
[Link]
Dari Tabel 4.4 didapat grafik gradasi beserta batas gradasi yang disyaratkan
ASTM C-33 yang ditunjukkan dalam Gambar [Link] berikut:
commit to user
[Link] 63
[Link]
Dari hasil uji laboratorium yang telah dilakukan Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKLPPM) Yogyakarta, fly
ash yang dipakai untuk penelitian ini adalah fly ash yang di peroleh dari PLTU
Cilacap masuk dalam golongan fly ash tipe C. Hasil pengujian fly ash
berdasarkan parameter yang diteliti dapat dilihat di Tabel. 4.5.
Dari perhitungan rancang campur (mix design) adukan beton diperoleh kebutuhan
bahan untuk 1 m3 high volume fly ash - self compacting concrete (HVFA-SCC)
seperti pada Tabel [Link] dengan Tabel. 4.10.
Tabel 4.7. Proporsi Campuran Adukan HVFA-SCC untuk setiap 1 Kali Adukan
(9 Benda Uji Kuat Tarik Belah)
Kadar Semen OPC Fly ash Pasir Kerikil Air Superplasticizer
fly ash (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
35% 25,211 13,575 38,429 38,338 8,641 0,442
55% 17,454 21,333 38,425 38,338 8,552 0,442
65% 13,575 25,211 38,425 38,338 7,105 0,442
Tabel 4.9. Proporsi Campuran Adukan HVFA-SCC untuk setiap 1 Kali Adukan
(9 Benda Uji Modulus of Rupture)
Kadar Semen OPC Fly ash Pasir Kerikil Air Superplasticizer
fly ash (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
35% 23,778 12,803 36,244 36,158 8,150 0,417
55% 16,462 20,120 36,240 36,158 8,065 0,417
65% 12,803 23,778 36,240 36,158 6,701 0,417
commit to user
[Link] 65
[Link]
Perhitungan proporsi campuran adukan beton untuk setiap variasi secara lengkap
terdapat pada Lampiran B.
Untuk mendapatkan high volume fly ash concrete yang memiliki sifat beton segar
self compacting concrete perlu adanya pengujian flowability dan passingability,
yang antara lain Flow Table Test, J-Ring Flow Table Test, Box Type Test, L-Box
Test, V-Funnel Test. Dari hasil pengujian didapat nilai slump flow dari masing-
masing beton dapat dilihat pada Tabel 4.11. sampai dengan Tabel 4.15.
commit to user
[Link] 66
[Link]
Berdasarkan Tabel 4.11. sampai Tabel 4.15 dapat menyimpulkan nilai slump flow
pada HVFA-SCC, semakin banyak kandungan fly ash sebagai pengganti sebagian
semen semakin cepat kemampuan mengalirnya. Hal ini dikarenakan butiran fly
ash yang berbentuk bulat dapat menambah kelecakan beton segar pada HVFA-
SCC sehingga memiliki sifat workability yang baik. Workability merupakan faktor
yang penting dalam pembuatan adukan beton yang diperlukan untuk memudahkan
proses pengadukan, pengangkutan dan penuangan.
Selain itu beton HVFA-SCC juga memiliki kemampuan pasinggability yang baik.
Kemampuan pasinggability pada beton berkaitan erat dengan kemampuan beton
segar untuk dapat mengisi ruang kosong pada bagian beton yang memiliki
tulangan yang padat seperti pada joint balok dan kolom sehingga tidak perlu lagi
commit to user
melakukan pemadatan.
[Link] 67
[Link]
Benda uji yang digunakan pada pengujian kuat tarik belah high volume fly ash –
self compacting concrete berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30
cm, sebanyak 27 buah. Benda uji ini terdiri atas variasi kadar fly ash 35%, 55%
dan 65% dengan masing-masing terdiri dari 3 buah sampel.
Perawatan dilakukan setelah beton dilepas dari cetakan, dengan cara meletakkan
beton diatas permukaan yang lembab (karung goni basah) dan melapisinya
kembali dengan karung goni basah dan plastik. Pengujian dilakukan pada saat
beton berumur 7, 28 dan 56 hari.
Pengujian kuat tarik belah dilakukan dengan cara meletakkan silinder beton
dengan arah memanjang pada alat Compressing Testing Machine. Pembebanan
akan diterima oleh beton silinder pada sepanjang sisi silinder. Berdasarkan
pengujian ini didapatkan beban maksimum (Pmaks), yaitu pada saat beton terbelah.
Sebagai contoh, diambil perhitungan pada benda uji KTB 35-7a (benda uji kuat
tarik belah dengan kadar fly ash 35 % dan diuji pada umur 7 hari).
Hasil pengujian kuat tarik belah high volume fly ash – self compacting concrete
rata-rata dari 3 benda uji disajikan dalam Tabel 4.16. berikut ini, sedangkan data
selengkapnya untuk masing-masing benda uji disajikan dalam Lampiran D.
commit to user
[Link] 68
[Link]
Dari Tabel 4.16. dapat dibuat diagram yang menggambarkan hubungan nilai kuat
tarik belah dengan variasi kadar fly ash pada high volume fly ash – self
compacting concrete berdasarkan umur pengujiannya, seperti pada Gambar 4.1.
dibawah ini.
Pengujian kuat tarik belah dilakukan dengan metode uji belah silinder (tensile
splitting cylinder test). Pada pengujian kuat tarik belah, semua benda uji
mengalami pecah terbelah. Hal ini terjadi karena gaya horisontal akibat beban
maksimum yang disebarkan seluas selimut silinder. Dari pengujian ini dapat
diketahui pengaruh penambahan fly ash sebagai pengganti sebagian semen
terhadap nilai kuat tarik belah high volume fly ash – self compacting concrete.
commit to user
[Link] 69
[Link]
Gambar 4.1. menerangkan bahwa peningkatan nilai kuat tarik belah secara
signifikan terjadi pada tiap kadar fly ash dari umur 7 hari ke umur 28 hari. Nilai
kuat tarik belah juga meningkat pada umur 56 hari pada beton dengan kadar fly
ash 35%, sedangkan pada beton dengan kadar fly ash 55% dan 65% nilai kuat
tarik belah pada umur ini cenderung menurun. Nilai kuat tarik belah HVFA-SCC
maksimum terjadi pada kadar fly ash 55% dengan umur 28 hari, yaitu sebesar
3,505 MPa. Hubungan antara nilai kuat tarik belah dengan umur pengujian beton
dapat digambarkan lebih detail pada Gambar 4.4. dibawah ini.
Gambar 4.4. Grafik Hubungan Kuat Tarik Belah Rata-Rata dan Umur
HVFA-SCC
Dari Gambar 4.4. diketahui bahwa nilai kuat tarik belah beton dengan kadar fly
ash 55% dan 65% pada umur 56 hari lebih rendah dari kuat tarik belahnya pada
umur 28 hari. Hal ini menjadikannya berbeda dari penelitian HVFA yang telah
dilakukan sebelumnya, dimana diketahui bahwa kekuatan beton dengan parameter
kuat tekan (Hebri Artha Nugroho, 2012) meningkat seiring dengan umur beton.
Berdasarkan penelitian HVFA yang dilakukan oleh Naik Tarun et al. (2002) yang
menggunakan fly ash tipe F hingga kadar 60% pada beton, didapat nilai kuat tarik
belah meningkat seiring dengan umur beton hingga umur 182 hari. Oleh karena
itu nilai kuat tarik belah beton dengan kadar fly ash 55% dan 65% pada umur 56
commit to user
[Link] 70
[Link]
hari pada penelitian ini belum bisa menggambarkan nilai kekuatan tarik belah
beton HVFA-SCC dengan tepat.
Dari penelitian ini didapatkan bahwa kuat tarik belah dengan kadar fly ash 55%
mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga umur 28 hari dibandingkan
dengan beton dengan kadar fly ash 35% maupun 65%. Hal ini dapat disebabkan
karena pada kadar ini fly ash mencapai kondisi optimum dalam mencapai ikatan
antar partikel di dalam beton dimana terjadi pozzolanic reaction dan filler effect
oleh fly ash sehingga meningkatkan nilai kuat tarik belah beton.
4.4.1. Analisis Hubungan Kuat Tarik Belah dan Kuat Tekan HVFA-SCC
Berdasarkan ACI 318-99, hubungan antara kuat tarik belah dan kuat tekan beton
dirumuskan dengan rumus empiris sebagai berikut.
(4.1)
Dengan:
Nilai kuat tekan yang digunakan sebagai pembanding diperoleh dari data sekunder
penelitian HVFA-SCC sebelumnya oleh Hebri Artha Nugroho (2012). Untuk
mengetahui hubungan antara kuat tarik belah dan kuat tekan beton pada beberapa
kadar fly ash dapat dilihat pada Gambar 4.5.
commit to user
[Link] 71
[Link]
Untuk mengetahui seberapa baik nilai kuat tarik belah pada beberapa variasi fly
ash HVFA-SCC, berikut ini dilakukan perbandingan dengan beberapa penelitian
sebelumnya. Penelitian lain yang digunakan sebagai pembanding berupa
hubungan antara kuat tekan dan kuat tarik belah beton normal dengan beberapa
jenis beton lain dimana nilai kuat tekan rencana data sekunder yang digunakan
sebagai pembanding adalah 40 MPa. Data sekunder yang diambil merupakan
commit
penelitian yang telah dipublikasikan dan todigunakan
user sebagai pembanding dengan
[Link] 72
[Link]
HVFA-SCC pada beberapa variasi kadar fly ash sesuai dengan acuan persamaan
hubungan antara kuat tarik belah dan kuat tekan pada ACI 318-99.
Untuk mengetahui hubungan kuat tekan dan kuat tarik belah HVFA-SCC dengan
beberapa jenis beton yang lain dapat dilihat pada Gambar 4.7. dibawah ini.
commit to user
[Link] 73
[Link]
Pengujian modulus of rupture high volume fly ash – self compacting concrete
menggunakan benda uji berbentuk balok dengan ukuran 10 x 10 x 50 cm
sebanyak 27 buah. Benda uji ini terdiri atas variasi kadar fly ash 35%, 55% dan
65% dengan masing-masing terdiri dari 3 buah sampel.
Pengujian dilakukan pada saat beton berumur 7, 28 dan 56 hari dimana yang
sebelumnya telah dilakukan perawatan dengan meletakkan beton diatas
permukaan yang lembab (karung goni basah) dan melapisinya dengan karung goni
basah dan plastik.
Dari pengujian ini data yang diperoleh secara langsung adalah data beban
maksimal saat terjadi keruntuhan dan lendutan pada masing-masing benda uji di
setiap kenaikan beban yang diberikan, kemudian dari data tersebut dapat dianalis
menjadi nilai modulus of rupture masing-masing benda uji. Perhitungan nilai
modulus of rupture disesuaikan dengan tempat terjadinya modus kegagalan atau
patah pada benda uji yang bersangkutan.
Pembahasan lebih mendetail tentang modus kegagalan atau patah pada benda uji
dapat dilihat pada Bab 2.
Sebagai contoh, diambil perhitungan pada benda uji MOR 35-7a (benda uji
modulus of rupture dengan kadar fly ash 35 % dan diuji pada umur 7 hari) yang
mengalami keruntuhan di tengah bentang.
Sedangkan sebagai contoh benda uji yang mengalami keruntuhan di tepi bentang,
diambil perhitungan pada benda uji MOR 65-56c (benda uji modulus of rupture
dengan kadar fly ash 65 % dan diuji pada umur 56 hari). Dimana jarak rata-rata
keruntuhan dari tumpuan (a) adalah 96,25 mm.
Hasil pengujian modulus of rupture high volume fly ash – self compacting
concrete rata-rata dari 3 benda uji disajikan dalam Tabel 4.17. berikut ini,
sedangkan data selengkapnya untuk masing-masing benda uji disajikan dalam
Lampiran D.
Dari Tabel 4.17. dapat dibuat diagram yang menggambarkan hubungan nilai
modulus of rupture dengan variasi kadar fly ash pada high volume fly ash – self
compacting concrete berdasarkan umur pengujiannya, seperti pada Gambar 4.2.
dibawah ini.
commit to user
[Link] 76
[Link]
Gambar 4.2. menerangkan bahwa pengaruh kadar fly ash pada HVFA-SCC
cenderung mengurangi nilai modulus of rupture pada umur awal beton.
Sedangkan setelah umur 28 hari nilai modulus of rupture pada beton dengan kadar
fly ash 65% cenderung meningkat tidak seperti pada beton dengan kadar fly ash
35% dan 55%. Pada penelitian ini, untuk nilai modulus of rupture terbesar didapat
pada beton dengan penggantian kadar fly ash sebesar 35% pada umur 28 hari yaitu
6,217 MPa. Hubungan antara nilai modulus of rupture dengan umur pengujian
beton dapat digambarkan lebih detail pada Gambar 4.9. dibawah ini.
commit to user
[Link] 77
[Link]
Dari Gambar 4.9. terlihat bahwa hasil regresi polynomial grafik beton dengan
kadar fly ash 35% dan 55% cenderung tidak mengalami peningkatan dan bahkan
mengalami penurunan setelah umur 28 hari. Sedangkan pada kadar fly ash 65%
hasil regresi polynomial mengalami peningkatan seiring dengan umur beton. Hal
ini terjadi karena adanya pozzolanic reaction dan filler effect dari fly ash di dalam
beton sehingga meningkatkan nilai modulus of rupture.
commit to user
[Link] 78
[Link]
Kekakuan sebuah beton yang mengalami lentur harus direncanakan agar memiliki
nilai kekakuan lentur yang cukup untuk membatasi besarnya lendutan yang
terjadi. Besarnya lendutan yang terjadi pada elemen lentur memiliki
kecenderungan untuk memperlemah kekuatan maupun kemampuan layan struktur
pada beban kerja (M. Ujianto, 2006).
Nilai kekakuan high volume fly ash – self compacting concrete rata-rata dari 3
benda uji disajikan dalam Tabel 4.18. berikut ini, sedangkan data selengkapnya
untuk nilai kekakuan masing-masing benda uji disajikan dalam Lampiran D.
Dari Tabel 4.18. dapat dibuat diagram yang menggambarkan hubungan nilai
kekakuan dengan variasi kadar fly ash pada high volume fly ash – self compacting
concrete berdasarkan umur pengujiannya, seperti pada Gambar 4.3. dibawah ini.
commit to user
[Link] 79
[Link]
Berdasarkan Gambar 4.3. dapat diketahui bahwa nilai kekakuan dari tiap kadar fly
ash cenderung meningkat hingga umur 56 hari. Selain itu dapat diketahui pula
bahwa semakin banyak kadar fly ash pada HVFA-SCC cenderung mengurangi
nilai kekakuan pada umur awal beton. Gambaran lebih detail mengenai hubungan
antara nilai kekakuan terhadap umur beton dapat dilihat pada Gambar 4.11.
dibawah ini.
commit to user
[Link] 80
[Link]
Gambar 4.11. diatas menggambarkan bahwa nilai kekakuan pada tiap kadar fly
ash meningkat seiring dengan umur beton. Peningkatan nilai kekakuan lentur dari
umur 28 hari hingga 56 hari yang cukup signifikan terjadi pada beton dengan
kadar fly ash 65% yaitu sebesar 25,17%, dibandingkan dengan beton dengan
variasi kadar fly ash 35% dan 55% yang hanya mengalami peningkatan sebesar
4,37% dan 6,75%.
Hal ini dapat terjadi karena adanya pozzolanic reaction dan filler effect oleh fly
ash pada beton. Ukuran butiran fly ash yang lebih kecil dari butiran semen selain
terus bereaksi dengan kapur padam aktif hasil sampingan dari proses hidrasi
antara semen portland dan air, juga akan memeperkecil ruang antar agregat di
dalam beton. Dan dalam jangka lama hal ini akan membuat beton semakin padat
serta memperkuat beton sehingga nilai kekakuan lentur beton pada umur beton
yang lebih lama pun akan meningkat.
Beton dengan kadar fly ash tinggi pada umur yang lebih lama memiliki nilai
kekakuan yang lebih tinggi dari beton dengan kadar fly ash yang lebih rendah.
Namun pada umur awal beton dengan kadar fly ash yang tinggi memiliki nilai
kekakuan yang jauh lebih rendah dari beton dengan kadar fly ash rendah. Hal ini
menggambarkan bahwa beton dengan kadar fly ash tinggi pada umur yang lebih
lama lebih getas dari pada beton dengan kadar fly ash rendah yang cenderung
lebih liat.
Berdasarkan ACI 318-99, hubungan antara modulus of rupture dan kuat tekan
beton dirumuskan dengan rumus empiris sebagai berikut.
(4.11)
Dengan:
commit to user
[Link] 81
[Link]
Nilai kuat tekan diperoleh dari data sekunder penelitian sebelumnya oleh Hebri
Artha Nugroho (2012). Untuk mengetahui hubungan antara modulus of rupture
dan kuat tekan beton pada beberapa kadar fly ash dapat dilihat pada Gambar 4.12.
Gambar 4.12. Grafik Hubungan MOR dan beberapa Variasi Fly Ash
HVFA-SCC
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari seluruh pengujian, analisis data, dan pembahasan yang dilakukan dalam
penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Pada penelitian ini, didapatkan bahwa nilai kuat tarik belah beton dengan fly
ash sebagai pengganti sebagian semen pada variasi kadar 55% dan 65% pada
umur 56 hari lebih rendah daripada nilai kuat tarik belah pada umur 28 hari.
Sedangkan pada beton dengan variasi kadar fly ash 35%, didapat nilai kuat
tarik belah yang terus meningkat seiring dengan umur beton hingga pada
umur 56 hari.
b. Dari pengujian modulus of rupture pada penelitian ini didapatkan bahwa nilai
modulus of rupture beton dengan variasi kadar fly ash sebanyak 65% pada
umur awal cenderung lebih rendah daripada beton dengan variasi kadar fly
ash yang lebih sedikit. Sedangkan hingga umur 56 hari, beton dengan variasi
kadar fly ash 65% mengalami peningkatan nilai modulus of rupture yang
lebih signifikan yaitu sebesar 26,76% dari nilai modulus of rupture pada umur
28 hari, dibandingkan beton dengan variasi kadar fly ash 35% ataupun 55%
yang hanya mengalami perubahan sebesar -1,27% dan 1,46%.
c. Penggantian sebagian semen dengan fly ash pada high volume fly ash - self
compacting concrete cenderung mengurangi nilai kekakuan lentur beton pada
umur awal. Beton dengan variasi kadar fly ash 65% memiliki peningkatan
nilai kekakuan lentur hingga umur 56 hari yang lebih signifikan yaitu sebesar
25,17% dari nilai kekakuan lentur pada umur 28 hari, dibandingkan dengan
beton dengan variasi kadar fly ash 35% dan 55% yang hanya mengalami
peningkatan sebesar 4,37% dan 6,75%.
commit to user
84
[Link] 85
[Link]
d. Hubungan antar kuat tekan dan kuat tarik belah pada high volume fly ash -
self compacting concrete dengan acuan persamaan ACI 318-99 adalah
sebagai berikut :
1) HVFA SCC dengan kadar fly ash 35 % , = 0,36 f 'c (4.2)
e. Hubungan antar kuat tekan dan modulus of rupture pada high volume fly ash -
self compacting concrete dengan acuan persamaan ACI 318-99 adalah
sebagai berikut :
1) HVFA SCC dengan kadar fly ash 35 % , = 0,82 f 'c (4.12)
5.2. Saran
a. Perlu memperhatikan dengan lebih perilaku setting time yang lama yang
terjadi pada high volume fly ash-self compacting concrete.
b. Perlu memastikan bahwa alat-alat yang digunakan dalam kondisi baik agar
tidak terjadi kesalahan dalam mengambil data.
c. Perlu menjadwal dengan baik serta mengontrol pelaksanaan pengadukan beton
segar, khususnya apabila pengadukan dilakukan secara manual. Sehingga
commit to user
[Link] 86
[Link]
mutu beton yang dihasilkan antar batching pengadukan yang berbeda dapat
sesuai dengan mutu yang direncanakan.
d. Perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai efisiensi serta kompatibilitas
penggunaan high volume fly ash-self compacting concrete pada kegiatan
produksi beton serta konstruksi di Indonesia, mengingat begitu banyaknya
hasil fly ash sisa dari pelaksanaan industri di Indonesia. Selain itu agar dapat
memangkas efek negatif fly ash yang merupakan limbah berbahaya apabila
hanya dibuang begitu saja.
commit to user