Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
2.1.1. Definisi Alat Plumbing
Istilah alat plumbing digunakan untuk semua peralatan yang dipasang di dalam
maupun di luar gedung, yang merupakan media untuk menyediakan (memasukkan) air panas
atau air dingin, dan untuk menerima (mengeluarkan) air buangan. Atau secara singkat dapat
dikatakan sebagai semua peralatan yang dipasang pada :
Ujung akhir pipa, untuk memasukkan air
Ujung awal pipa, untuk membuang air buangan
(Morimura dan Noerbambang, 1999)
2.1.2. Kualitas Alat Plumbing
Bahan yang digunakan sebagai alat plumbing harus memenuhi syarat-syarat berikut :
Tidak menyerap air
Mudah dibersihkan
Tidak berkarat dan tidak mudah aus
Relatif mudah dibuat dan mudah dipasang
Bahan yang banyak digunakan adalah porselen, besi atau baja yang dilapisi email,
berbagai jenis plastik, dan baja tahan [Link] bagian alat plumbing yang tidak atau jarang
terkena air, dapat digunakan bahan [Link] plambing yang tergolong mewah menggunakan
marmer berkualitas tinggi.
(Morimura dan Noerbambang, 1999)
2.2. Sistem Penyediaan Air Bersih
Tujuan terpenting dari sistem penyediaan air bersih adalah menyediakan air
[Link] air bersih dengan kualitas yang tetap baik merupakan prioritas
[Link] negara telah menetapkan standar kualitas untuk tujuan [Link] penyediaan
air bersih dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1. Sistem Sambungan Langsung
ANGGA PRASETYA II-1
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama
penyediaan air minum (misalnya dari Perusahaan Air Minum). Sistem ini digunakan
untuk gedung/rumah yang memiliki kebutuhan dan tekanan yang sama dengan atau lebih
kecil dari kapasitas dan tekanan dari sistem penyediaan air minum. Namun karena
terbatasnya kedalaman pipa utama dan dibatasinya ukuran pipa cabang dari pipa utama
tersebut, maka sistem ini dapat diterapkan terutama untuk perumahan dan gedung-
gedung kecil dan [Link] pipa cabang biasanya diatur/ditetapkan oleh Perusahaan
Air Minum.
Gambar 2.1 Sistem Sambungan Langsung
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
2. Sistem Tangki Atap
Sistem ini digunakan apabila berbagai alasan tidak dapat diterapkan selain itu juga untuk
bangunan dengan kebutuhan yang lebih besar dari kapasitas sistem, namun mempunyai
tekanan yang [Link] sistem ini air ditampung terlebih dahulu dalam tangki
bawah (dipasang di lantai terendah bangunan atau di bawah permukaan tanah), kemudian
dipompakan ke tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di lantai tertinggi
[Link] tangki ini, air didistribusikan ke seluruh bangunan.
Gambar 2.2 Sistem Tangki Atap
ANGGA PRASETYA II-2
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
3. Sistem Tangki Tekan
Sistem ini digunakan untuk bangunan yang memerlukan tekanan melebihi tekanan yang
tersedia dan kebutuhan air juga melebihi kapasitas yang tersedia. Air yang telah
ditampung di tangki bawah dipompakan ke dalam suatu bejana tertutup sehingga udara
di dalamnya terkompresi. Air dari tangki tersebut dialirkan dalam sistem distribusi
bangunan. Pompa bekerja secara otomatis dan diatur oleh detektor tekanan, yang
menutup atau membuka saklar motor listrik penggerak pompa. Pompa berhenti bekerja
bila tekanan tangki mencapai batas maksimum yang ditetapkan dan bekerja kembali
setelah tekanan mencapai batas minimum yang ditetapkan.
Gambar 2.3 Sistem Tangki Tekan
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
Gambar 2.4 Sistem Tangki Takan dengan Sumur untuk Rumah
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
4. Sistem Tanpa Tangki (Booster System)
Sistem ini juga digunakan untuk bangunan dengan tekanan yang tidak [Link]
dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan pompa menghisap air langsung
ANGGA PRASETYA II-3
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
dari pipa [Link] ini dilarang di Indonesia, baik oleh Perusahaan Air minum
(PAM) maupun pada pipa-pipa utama dalam pemukiman khusus (tidak untuk umum).
2.2.1. Penentuan Kebutuhan Air Bersih
Dalam perancangan sistem penyediaan air untuk suatu gedung, kapasitas peralatan
dan dimensi pipa didasarkan pada jumlah dan laju aliran air (kebutuhan air bersih) dari tiap-
tiap peralatan plambing yang ada dalam gedung yang harus disediakan untuk gedung
tersebut.
Untuk memperkirakan besarnya laju aliran air, terdapat 3 metode yang dapat
digunakan, yaitu :
1. Penaksiran berdasarkan jumlah pemakai (penghuni)
Metode ini didasarkan pada pemakaian air rata-rata sehari dari tiap penghuni, dan
perkiraan jumlah [Link] diketahuinya jumlah penghuni, maka angka tersebut
digunakan untuk menghitung pemakaian air rata-rata sehari berdasarkan “standar” pemakaian
air per orang per hari tergantung dari peruntukan gedung [Link] jumlah penghuni
tidak diketahui, dapat ditaksir berdasarkan luas lantai dan menetapkan kepadatan hunian per
luas [Link] lantai yang digunakan sebagai patokan adalah luas lantai efektif, berkisar
antara 55 sampai 80 % dari luas keseluruhan gedung. Tabel Pemakaian air rata-rata per orang
setiap hari (tabel 3.12 pada buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing,
MORIMURA dan NOERBAMBANG hal. 48) dapat dipakai sebagai acuan, tetapi harus tetap
diperiksa kondisi pemakaian gedung yang dirancang.
Tabel 2.1
Pemakaian Air Rata-Rata Per Orang Setiap Hari
Pemakaian Jangka Waktu Perbandingan
Air Rata-rata Pemakaian Luas lantai
No Jenis Gedung Keterangan
Sehari Rata-rata Efektif/total
(liter) Sehari ( jam) (%)
1. Perumahan 250 8-10 42-45 Setiap penghuni
mewah
2. Rumah biasa 160-250 8-10 50-53 Setiap penghuni
3. Apartement 200-250 8-10 45-50 Mewah 250 L
Menengah 180 L
Bujangan 120 L
4. Asrama 120 8 Bujangan
ANGGA PRASETYA II-4
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Pemakaian Jangka Waktu Perbandingan
Air Rata-rata Pemakaian Luas lantai
No Jenis Gedung Keterangan
Sehari Rata-rata Efektif/total
(liter) Sehari ( jam) (%)
5. Rumah Sakit Mewah>1000 (setiap tempat
Menengah tidur pasien)
500-1000 8-10 45-48 Pasien luar: 8 L
Umum Staf/pengawal:
350-500 120 L
Keluarga pasien:
160 L
6. Sekolah dasar 40 5 58-60 Guru: 100 L
7. SLTP 50 6 58-60 Guru: 100 L
8. SLTA dan lebih 80 6 Guru/dosen: 100 L
tinggi
9. Rumah-toko 100-200 8 Penghuni: 160 L
10. Gedung kantor 100 8 60-70 Setiap pegawai
11. Toserba (toko 3 7 55-60 Pemakaian hanya
serba ada untuk kakus,
departement belum termasuk
store untuk restoran
12. Pabrik/industri Buruh pria: 60 8 Perorang, setiap
Wanita: 100 giliran (kalau kerja
lebih dari 8 jam
sehari)
13. Stasiun/terminal 3 15 Setiap penumpang
(yang tiba maupun
berangkat)
14. Restoran 30 5 Untuk penghuni
15. Restoran Umum 15 7 160 L
Untuk penghuni
160 L, pelayan:
100 L, 70%dari
jumlah tamu perlu
15 L/orang untuk
kakus, cuci tangan
dsb.
16. Gedung 30 5 53-55 Kalau digunakan
pertunjukkan siang dan malam,
pemakaian
dihitung per
penonton. Jam
pemakaian dalam
tabel adalah per
penonton
ANGGA PRASETYA II-5
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Pemakaian Jangka Waktu Perbandingan
Air Rata-rata Pemakaian Luas lantai
No Jenis Gedung Keterangan
Sehari Rata-rata Efektif/total
(liter) Sehari ( jam) (%)
17. Gedung bioskop 10 3 IDEM
18. Toko pengecer 40 6 Pedagang besar:
30L/tamu, 150
L/staff, atau 5 L
perhari setiap m2
luas lantai.
19. Hotel/penginapa 250-300 10 Untuk setiap tamu,
n untuk staff 120-
150 L, penginapan
200 L
20. 10 2 Berdasarkan
Gedung jumlah jamaah
peribadatan perhari
21. 25 6 Untuk setiap
Perpustakaan pembaca yang
tinggal
22. 30 6 Setiap tam
23. Bar 30 Setiap tamu
Perkumpulan
24. sosial 120-350 Setiap tempat
25. Kelab malam 150-200 duduk
Gedung Setiap tamu
26. perkumpulan 100-200 8 Setiap staff
Laboratorium
Sumber: Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing, hal 48, Morimura dan
Noerbambang,1985
Jika jumlah penghuni tidak diketahui dengan pasti, maka jumlah penghuni
ditetapkan dari luas lantai efektif dengan penetapan hunian 5-10 m2/orang, terutama untuk
gedung perkantoran seperti pada perencanaan [Link] air rata-rata yang diperoleh
dengan metode ini hanya bisa digunakan untuk menghitung dimensi pipa penyediaan air
(misalnya pipa dinas/pipa dari PAM) dan bukan untuk menentukan dimensi pipa dalam
seluruh jaringan.
Persamaan yang digunakan adalah :
Luas efektif total = 55-80% x luas total (Persamaan 2.1)
Jumlah Penghuni = luas lantai ef./[Link] (Persamaan 2.2)
ANGGA PRASETYA II-6
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Q = S penghuni x [Link] per kapita (Persamaan 2.3)
2. Penaksiran berdasarkan jenis dan jumlah alat plambing
Metode ini dipakai bila kondisi pemakaian dan jumlah dari setiap jenis alat plambing
diketahui. Apabila tidak diketahui dapat diperkirakan berdasarkan jumlah penghuni gedung
dan untuk jumlah alat plumbingnya dapat dilihat pada tabel 1-2a “Plumbing” hal 8, Harold
E.. Babbitt. Tabel Pemakaian air tiap alat plambing, laju aliran airnya dan ukuran pipa cabang
pipa air (tabel 3.13 Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing, MORIMURA dan
NOERBAMBANG hal. 49) dan Tabel Faktor pemakaian (%) dan jumlah alat plambing (tabel
3.15 Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing, MORIMURA dan NOERBAMBANG
hal. 66) dapat digunakan sebagai referensi dalam perhitungan kebutuhan air rata-rata, yakni
kebutuhan air setiap alat plumbing disesuaikan dengan faktor pemakaiannya.
Tabel 2.2
Jumlah Alat Plumbing Berdasarkan Jumlah Penghuni
Water Closet (WC) Urinoir (UR) Lavatory (LV)
Tipe Bangunan Jumlah Laki- Wanita Jumlah Laki- Jumlah Jumlah
Orang laki Orang laki Orang Alat
Sekolah 1-15 1 1 1-30 1 1-30 1
16-30 1 2 31-55 2 31-55 2
31-55 2 3 56-80 2 56-80 2
56-80 3 4 81-110 3 81-110 3
81-110 4 5 111-150 4 11-150 3
11-150 6 7 151-190 4 151-190 4
151-190 7 8 191-240 6 191-240 4
191-240 8 10 241-300 6 241-300 5
242-300 9 12 lebih dr 1 per lebih dr 1 per 50
lebih dr 1 per 30 1 per 30 300 50 org 300 org
300 org org
Gedung 1-15 1 1 1-15 0 1-15 1
kantor/bangunan 16-35 2 2 16-35 1 16-35 2
umum 36-60 3 4 36-60 1 36-60 3
61-90 4 5 61-90 1 61-90 4
91-120 5 7 91-120 2 91-120 4
121-150 6 8 121-150 2 121-150 5
151-190 6 9 151-190 3 151-190 5
191-240 8 11 191-240 4 191-240 6
241-300 9 12 241-300 4 241-300 7
lebih dr 1 per 35 1 per 25 lebih dr 1 per lebih dr 1 per 405
300 org org 300 75 org 300 org
Auditorium 1-100 1 1 1-200 1 1-100 1
umum 101-200 2 2 201-750 2 101-200 1
ANGGA PRASETYA II-7
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Water Closet (WC) Urinoir (UR) Lavatory (LV)
Tipe Bangunan Jumlah Laki- Wanita Jumlah Laki- Jumlah Jumlah
Orang laki Orang laki Orang Alat
201-400 3 3 lebih dr 1 per 201-400 2
401-750 3 4 750 300 org 401-750 3
lebih dr 1 per 1 per lebih dari 1 per 500
750 500 org 300 org 750 org
Sumber: “Plumbing” hal. 8, Harold E. Babbitt, 1960
Tabel 2.3
Pemakaian air Tiap Alat Plumbing, Laju Aliran air,
dan Ukuran Pipa Cabang Air
Penggunaan Pipa Pipa cabang air
Waktu
air untuk Laju sambungan bersih ke
Nama alat Penggunaan untuk
penggunaan aliran alat plambing (mm)
plambing per jam pengisian
satu kali (ltr/min) plambing Pipa Temba-
(detik)
(liter) (mm) baja ga
1 Kloset
(dgn
13 – 15 16 - 12 15 60 13 20 13
tangki
gelontor)
2 Peturasan
(dgn katup 5 12 - 20 30 10 13 20 13
gelontor)
3 Peturasan,
5-7 orang
22,5 - 31,5
(dgn 12 4,5-6,3 300 13 20 13
(@ 4,5)
tangki
gelontor)
4 Bak cuci
tangan
10 6 - 12 15 40 13 20 13
biasa
(Lavatory)
5 Bak cuci
dapur
(sink) dgn 25 6 - 12 25 60 20 20 20
keran 20
mm
6 Pancuran
mandi 24 – 60 3 12 120-300 13 - 20 20 13 - 20
(shower)
ANGGA PRASETYA II-8
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Sumber: Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing, hal 49, Morimura dan Noerbambang,
1985
Tabel 2.4
Faktor Pemakaian Serentak (%) dan Jumlah Alat Plumbing
Jumlah Alat
Plumbing
Jenis 1 2 4 8 12 16 24 32 40 50 70 100
Alat
Plumbing
Kloset 1 50 50 40 30 27 23 19 17 15 12 10
dengan katup satu 2 3 4 5 6 7 7 8 9 10
gelontor
Alat 1 100 75 55 48 45 42 40 39 38 35 33
plumbing Dua 5 5 6 7 10 13 16 19 25 33
biasa
Sumber:Morimura dkk. Hal. 66,1985
3. Penaksiran berdasarkan unit beban alat plambing
Dalam metode ini untuk setiap alat plumbing ditetapkan suatu unit beban (fixture unit).
Untuk setiap bagian pipa, besarnya unit beban dari semua alat plambing dijumlahkan,
kemudian ditentukan besarnya laju aliran air dengan memplotkan antara unit beban alat
plambing dengan laju aliran air dengan kurva pada kurva hubungan antara unit beban alat
plambing denga laju aliran (Gb. 3.61. pada Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing,
Morimura dkk hal. 67). Dalam menentukan besarnya laju aliran air dengan kurva tersebut,
perlu dimasukkan faktor kemungkinan penggunaan serempak dari masing-masing alat
plambing. Tabel Unit alat plambing untuk penyediaan air dingin (tabel 3.16 pada
Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing, Morimura hal. 68) memberikan besarnya
unit beban untuk setiap alat plambing.
Untuk menentukan kebutuhan air yang diperlukan untuk perancangan diameter pipa
yaitu kebutuhan air jam maksimum yang diperoleh dari pemakaian air rata-rata. Rumus yang
digunakan adalah :
Qh = Qd/T (Persamaan 2.4)
ANGGA PRASETYA II-9
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Dimana :
Qh = Pemakaian air rata-rata (m3/jam)
Qd = Pemakaian air rata-rata sehari (m3)
T = Jangka waktu pemakaian (jam)
Faktor Peak (Fp) = Kebutuhan air berdasarkan alat plumbing/Kebutuhan air rata-
rata (Qd)
Kebutuhan air jam maksimum:
Qh-max = C1 x Qh (Persamaan 2.5)
Dimana: C1 = konstanta yang berkisar antar 1,5-2
Kebutuhan air menit maksimum:
Qh-max = C2 x (Qh/60) (Persamaan 2.6)
Dimana: C2 = konstanta yang berkisar antara 3-4
Tabel 2.5
Unit Beban Alat Plumbing untuk air Bersih
Unit alat
Jenis Jenis plambing
Alat Plambing Penyediaan Air Untuk Untuk
pribadi umum
Kloset Katup gelontor 6 10
Kloset Tangki gelontor 3 5
Peturasan terbuka
Katup gelontor - 5
(urinal stall)
Peturasan terbuka
Tangki gelontor - 3
(urinal stall)
Bak cuci tangan Keran 1 2
(untuk tiap
Bak cuci bersama - 2
keran)
Sumber: Morimura dkk. hal.68,1985
2.2.2. Penentuan Tekanan Air
Tekanan air yang kurang mencukupi dapat menimbulkan kesulitan dalam pemakaian
air. Tekanan yang berlebihan akan menimbulkan kerusakan alat plumbing, ketidaknyamanan
ANGGA PRASETYA II-10
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
(rasa sakit) pada saat pemakaian kran atau pancuran serta juga dapat menimbulkan pukulan
air. Besarnya tekanan air tergantung pada persyaratan pemakai dan alat yang harus dilayani.
Secara umum dikatakan bahwa besarnya tekanan standar adalah 1 kg/cm2, tekanan
statik diusahakan antara 4-5 kg/cm2 untuk perkantoran, dan 2,5 – 3,5 kg/cm2 untuk
perumahan. Alat-alat plambing tidak akan berfungsi dengan baik apabila tekanan airnya
kurang dari batas minimum yang terdapat pada tabel, sebagai berikut :
Tabel 2.6
Tekanan Yang Dibutuhkan Alat Plumbing
Tekanan yang Dibutuhkan Tekanan Standar
Nama Alat Plambing
(kg/cm2) (kg/cm2)
Katup gelontor kloset 0,7
Katup gelontor peturasan 0,4
Pancuran mandi dengan 0,7 1,0
pancaran halus
Pancuran mandi biasa 0,35
Keran biasa 0,3
Pemanas air langsung 0,25-0,7
Sumber:Morimura dkk. Hal. 50,1985
2.2.3. Penentuan Keceptan Aliran
Biasanya standar kecepatan adalah 0,6 – 1,2 m/dt dan batas maksimumnya adalah
1,5 – 2,0 m/dt. Kecepatan aliran yang terlalu rendah dapat menimbulkan efek yang kurang
baik dari segi korosi, pengendapan kotoran ataupun kualitas air. Kecepatan terlalu tinggi akan
menambah kemungkinan adanya pukulan air, suara berisik dan kadang-kadang menyebabkan
ausnya permukaan pipa.
(Morimura dan Noerbambang,1985)
ANGGA PRASETYA II-11
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
2.2.4. Penentuan Dimensi Pipa
Ukuran pipa ditentukan berdasarkan laju aliran [Link] samping itu ada tambahan
pertimbangan-pertimbangan lain yang didasarkan pada pengalaman [Link],
menurut perhitungan diperoleh ukuran pipa yang makin kecil untuk setiap cabang. Tetapi
karena dalam pelaksanaannya akan menimbulkan kesulitan dengan setiap kali memasang
reduser, maka biasanya ukuran pipa dibuat sama setelah mencapai diameter terkecil yang
diinginkan. Dengan demikian, pada beberapa bagian dari sistem pipa tersebut akan diperoleh
diameter pipa yang lebih besar dari yang ditentukan berdasarkan perhitungan. Hal ini
terutama apabila makin besar kemungkinan penggunaan serentak dari peralatan plambing
tersebut.
(Morimura dan Noerbambang,1985)
a. Dimensi Pipa Induk
Pipa induk adalah pipa yang menghubungkan sumber air (sumur) dengan reservoir 1
(ground tank).Diameter pipa induk ditentukan berdasarkan debit [Link]
persamaan:
Q=VxA (Persamaan 2.7)
A = ¼ x D2 x πÞQ = V. ¼ x D2 x π (Persamaan 2.8)
Dengan asumsi aliran air dalam pipa mempunyai kecepatan 1,5 – 3 m/det
4 xQ
D= √ Vx π (Persamaan 2.9)
Dimana:
D = diameter pipa (cm atau mm atau inch)
Q = debit rata-rata (kebutuhan air rata-rata) (m3/det )
V = asumsi kecepatan aliran air dalam pipa (m/det)
Dari rumus tersebut akan didapatkan diameter pipa induk sehingga dapat dihitung
kecepatan aliran air dalam pipa dengan menggunakan rumus:
V = Q/A (Persamaan 2.10)
Dimana :
Q = debit rta-rata (kebutuhan air rata-rata) (m3/det)
ANGGA PRASETYA II-12
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
A = luas pipa
V = kecepatan aliran dalam pipa
b. Dimensi Pipa Penghantar dari Pompa Ground Tank ke Roof Tank
Debit yang dipakai untuk menentukan dimensi pipa penghantar yaitu debit pompa,
dengan rumus sebagai berikut:
Dengan asumsi kegiatan perkantoran berlangsung selama 8 jam yaitu mulai 08.00-16.00.
Q pompa = 24jam/8 jam x Q rata-rata (Persamaan 2.11)
Q=VxA
A = ¼ x D2 x π Þ Q = V. ¼ x D2 x π
Asumsi aliran air dalam pipa memiliki kecepatan di antara 0.9 - 3 m/detik.
4 xQ p
Diameter pipa = D = √ Vx π (Persamaan 2.12)
Dimana:
D = diameter pipa (cm atau mm atau inch)
Q = debit pompa (m3/det )
V = asumsi kecepatan aliran air dalam pipa (m/det)
Setelah diperoleh diameter pipa maka dapat ditentukan beasrnya kecepatan aliran
dalam pipa dengan rumus:
V = Q/A
Dimana :
Q = debit pompa (m3/det)
A = luas pipa
V = kecepatan aliran dalam pipa
c. Dimensi Pipa Horisontal dan Pipa Tegak
Dalam menentukan ukuran pipa perlu juga dipertimbangkan batas kerugian gesek atau
gradien hydraulic yang diijinkan, demikian juga batas kecepatan tertinggi yang biasanya 2
ANGGA PRASETYA II-13
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
m/dtk atau kurang. Ada dua metode penentuan dimensi pipa air bersih yang dapat dipakai,
yaitu:
1. Metode Ekivalensi Tekanan Pipa
Metode ini didasarkan pada konsep sirkuit tertutup pipa-pipa cabang yang bermula dari
pipa terjauh menuju ke pipa pengumpul (header).Pertama yang harus dilakukan yaitu mencari
fixture unit dari masing-masing alat plumbing (plumbing fixture) pada setiap sektor (tabel
2.5). Dari kumulatif fixture unit dapat ditentukan besarnyanya flow (debit) dengan cara
membaca gambar di bawah ini:
Gambar 2.5 Hubungan Antara Unit Beban Alat Plumbing dengam flow
Sumber: Sofyan, Morimura, Takeo, 1999
Kurva 1) untuk sistem yang sebagian besar menggunakan katup [Link] 2)
untuk sistem yang sebagian besar menggunakan tangki gelontor. Setelah mendapatkan
besarnya flow (gpm), maka dapat diketahui besarnya diameter pipa dengan membaca tabel
2.7 berikut ini:
Tabel 2.7
Diameter Pipa
Number of Fixture
Fixture
1 2 4 8 12 16 24 32 40
[Link] loset Tank:
Gpm 8 16 24 48 60 80 96 128 150
Pipe size 0,5 0,75 1 1,2 1,5 1,5 2 2 2
Water Closet 5
Flush valve: 30 50 80 140 160 200 250 300
ANGGA PRASETYA II-14
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Gpm 1 1,25 1,5 120 2 2 2 2,5 2,5
Pipe size 2
1. Urinal Tank 6 12 20 42 56 72 90 120
Gpm 0,5 0,75 1 32 1,25 1,25 1,5 2 2
Pipe size 1,2
Urinal flash 25 37 45 5 85 100 125 150 120
valve 1 1,25 1,25 1,5 2 2 2 2
75
Gpm
4 8 12 1,5 30 40 48 64 75
Pipe size
0,5 0,5 0,75 1 1,25 1,25 1,5 1,5
2. Wash Basin:
24
Gpm
15 30 40 1 96 112 144 192 240
Pipe size
0,75 1 1,25 2 2 2,5 2,5 3
3. Bathtube:
80
Gpm
8 16 32 1,5 96 128 192 256 320
Pipe size
0,5 0,75 1,25 2 2 2 2,5 3
4. Shower Bath:
64
Gpm
15 25 40 1,5 84 96 120 150 200
Pipe size 0,75 1 1,25 1,5 2 2 2 2,5
5. Sink: 64
Gpm 1,5
Pipe size
Sumber: Babbitt, hal. 55, 1960
Kemudian setelah didapatkan flow dan diameter maka dapat diketahui panjang
equivalen fitting (gambar 2.17), dan headloss pipa serta kecepatan aliran dalam pipa (gambar
2.18) dengan menggunakan gambar di bawah ini:
ANGGA PRASETYA II-15
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Gambar 2.6 Panjang Equivalen Fitting
Sumber: Sofyan, Morimura, Takeo, 1999
Gambar 2.7 Grafik Nomograph
untuk Menentukan Tekanan yang Hilang dengan Rumus Hazen dan William, dengan
C=100
Sumber: Sofyan, Morimura, Takeo, 1999
2. Metode Kerugian Gesek Yang Diijinkan
Kerugian gesek yang diijinkan dapat dihitung dengan rumus:
R = (1000) (H – H1) / (l + l’) (Persamaan 2.13)
dimana:
R = Kerugian gesek yang diijinkan (mm air/m)
H = Head statik pada alat plambing (m)
H1 = Head standart pada alat plambing (m)
l = Panjang lurus pipa (m)
ANGGA PRASETYA II-16
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
l’ = Panjang ekivalen perlengkapan pipa (m)
Selain rumus di atas, ada juga rumus yang dapat digunakan untuk memperhitungkan kerugian
gesek yang diijinkan, yaitu:
R = (1000) (H – H1) / K(L + 1) (Persamaan 2.14)
dimana:
R = Kerugian gesek yang diijinkan (mm air/m)
H = Head statik pada alat plambing (m)
H1 = Head standart pada alat plambing (m)
K = Koefisien sistem pipa (2 – 3)
L = Penjang pipa lurus, pipa cabang (m)
Koefisien sistem pipa perlu ditentukan di sini, karena pada awal perancangan perlu
ditetapkan perbandingan (ratio) antar panjang pipa (termasuk panjang ekivalen) terhadap
tahanan lokal pipa. Menurut pengalaman, koefisien K sebesar 2,0 sampai 3,0 biasanya cukup.
Perancang dapat mengurangi koefisien K ini, asal setelah ukuran-ukuran pipa diperoleh,
koefisien ini diperiksa [Link] sistem pipa mempunyai banyak cabang, koefisien K
bertambah besar.
Kerugian gesek yang diijinkan dapat dihitung untuk pipa dengan laju aliran
[Link] lantai yang lebih rendah dari lantai tertinggi, harus dikurangkan dengan
kerugian gesek pipa utama antara lantai tersebut sampai lantai tepat di atasnya.
Jadi untuk kerugian gesek yang diijinkan untuk lantai ke n , dapat dihitung dengan rumus:
Rn = (Hn–Rn-1(Ln-1+L’n-1) - R n-2(Ln-2+L’n-2 )…– H1nx1000) / K(Ln+l n)
(Persamaan 2.15)
dimana:
Rn = Kerugian gesek yang diijinkan pada lantai ke (n)
Rn-1 = Kerugian gesek yang diijinkan pada lantai ke (n-1)
R n-2 = Kerugian gesek yang diijinkan pada lantai ke (n-2)
Hn = Head statik pada alat plambing lantai ke-n
H1n = Head statik standar pada alat plambing lantai ke-n
K = Koefisien sistem pipa
Ln = Panjang lurus pipa utama pada lantai ke (n)
ANGGA PRASETYA II-17
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Ln-1 =Panjang lurus pipa utama pada lantai ke (n-1)
Ln-2 =Panjang lurus pipa utama pada lantai ke (n-2)
ln = Panjang lurus pipa-pipa cabang pada lantai ke (n)
Dalam menghitung kerugian gesek yang diijinkan, perlu dicari dahulu keadaan yang
paling buruk, misalnya pada suatu sistem penyediaan air dengan tangki atap, ditinjau dari
tekanan yang tersedia, perlu diperiksa lebih dahulu alat plumbing mana yang akan mendapat
tekanan paling rendah, yang terletak pada jarak vertikal paling rendah/pendek dari tangki
atap. Perhitungan kemudian dilakukan terhadap alat plumbing yang mendapat tekanan akhir
(tekanan sisa) paling rendah.
2.3. Tangki Air
Apabila tekanan dari pipa tidak cukup untuk mensuplai air ke gedung yang
bertingkat maupun tidak tercukupinya kebutuhan maksimal, maka dalam hal ini dapat
dilakukan penampungan terlebih dahulu ke dalam tangki-tangki air sebelum didistribusikan
ke seluruh sistem. Tangki penampung tersebut berupa ground reservoir dan roof tank.
(Morimura dan Noerbambang,1985).
2.3.1. Ground Tank
Penentuan kapasitas ground reservoir ini didasarkan pada besarnya suplai air yang
masuk, yaitu dari jaringan pipa PDAM. Besarnya suplai ini dianggap 100%, artinya bahwa
air yang nantinya akan dipergunakan dalam gedung perkantoran ini semuanya berasal dari
PDAM tanpa ada sumber tambahan. Hal ini bisa diasumsi bahwa suplai air dari jaringan
PDAM kuantitasnya mencukupi - juga pada saat peak time - hanya saja faktor head tidak
memenuhi sehingga diperlukan suatu reservoir dimana air nantinya dipompa ke roof
[Link] perencanaan ini dianggap bahwa aliran dari PDAM mengalir secara kontinu selama
24 jam. Sehingga besarnya suplai dari PDAM utnuk setiap jamnya dapat ditentukan berikut :
% suplai per jam = besar suplai / 24 jam (Persamaan 2.16)
Persamaan yang dapat digunakan untuk menentukan ground reservoar sebagai berikut :
VR = (% kebutuhan air per-jam - % pelayanan air) x jam pemakaian x Qd
(Persamaan 2.17)
dimana :
VR = Volume Ground Reservoir ( m3 )
ANGGA PRASETYA II-18
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Qd = Kebutuhan air rat-rata per hari (m3/hari )
Pengisian kekurangan air bersih dilakukan pada saat bukan jam kantor dan selama
jam kantor PDAM terus mensuplai air bersih, sehingga kebutuhan air dalam sehari dapat
terpenuhi.
(Morimura dan Noerbambang,1985)
2.3.2. Roof Tank
Roof tank atau elevated reservoir atau tangki atap dimaksudkan untuk menampung
kebutuhan puncak dan biasanya disediakan dengan kapasitas cukup untuk kebutuhan puncak
tersebut. Volume roof tank dihitung berdasarkan jumlah air yang dicadangkan untuk setiap
peralatan plumbing.
(Morimura dan Noerbambang,1985)
2.3.3. Penentuan Tinggi Menara Roof Tank
Dari rancangan sistem distribusi air bersih dalam gedung dapat dilihat letak alat
saniter yang mempunyai suatu jumlah head yang besar sehingga mempunyai kerugian gesek
yang ukup [Link] sisa pada titik tersebut menentukan tinggi roof tank yang harus
disediakan.
Tinggi menara reservoir diperoleh berdasarkan hasil perbandingan H kritis dengan H
available.H available diperoleh dari tinggi lantai teratas ditambah dengan tinggi roof tank.
Sedangkan H kritis diperoleh dari penjunmlahan Headloss horizontal terbesar ditambah
dengan head tertinggi alat plumbing. Jika nilai H kritis lebih kecil daripada H available maka
roof tank tidak memerlukan menara (penyangga). Demikian pula sebaliknya.
2.4. Pemompaan
Dalam memilih suatu pompa untuk tujuan tertentu harus tersedia data-data mengenai
sistem pemompaan maupun data pompa-pompa yang ada di pasaran yang didapat dari brosur
pompa yang dikeluarkan suatu [Link] mengenai sistem pemompaan yang harus tersedia
adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas sistem
ANGGA PRASETYA II-19
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
2. Head sistem yang didasarkan pada:
kondisi suction
kondisi discharge
3. Daya / energi yang tersedia
(Morimura dan Noerbambang,1985)
Dalam perencanaan sistem plambing kali ini digunakan 2 perhitungan pompa, yaitu :
1. Pompa Submersible
Pompa Submersible (pompa benam) disebut juga dengan electric submersible pump
(ESP ) adalah pompa yang dioperasikan di dalam air dan akan mengalami kerusakan jika
dioperasikan dalam keadaan tidak terdapat air terus-menerus. Jenis pompa ini mempunyai
tinggi minimal air yang dapat dipompa dan harus dipenuhi ketika bekerja agar life
time pompa tersebut [Link] jenis ini bertipe pompa [Link] sentrifugal
sendiri prinsip kerjanya mengubah energi kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi potensial
(dinamis) melalui suatu impeller yang berputar dalam casing.
Berikut kelebihan dari jenis pompa submersible :
1. Biaya perwatan yang rendah
2. Tidak bising, karena berada dalam sumur
3. Pompa memiliki pendingin alami, karena posisinya terendam dalam air
4. System pompa tidak menggunakan shaft penggerak yang panjang dan bearing, jadi
problem yang biasa terjadi pada pompa permukaan ( Jet Pump ) seperti keausan bearing
dan shaft tidak terjadi.
Qpompa = VGT / jam operasional (Persamaan 2.18)
Hstatis = Tinggi gedung + Tinggi muka air max RT + Tinggi muka air max GT
(Persamaan 2.19)
Lpipa = Tinggi gedung + Tinggi GT – Tinggi muka air + Tinggi RT
(Persamaan 2.20)
ANGGA PRASETYA II-20
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Hmayor = Q1,85/ (0,2785 x C x D2,63)1,85 x L pipa penghantar
(Persamaan 2.21)
Hf = H mayor + H minor (Persamaan 2.22)
Gambar 2.8 Pompa Submersible
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
2. Pompa Pneumatik
Gambar 2.9 Pompa Pneumatik
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
ANGGA PRASETYA II-21
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
2.4.1. Kapasitas Sistem
Dalam menentukan kapasitas pompa, perlu diketahui kondisi sistem pemompaan.
Pada sistem distribusi air minum, kapasitas yang harus dialirkan tergantung dari kebutuhan
air suatu daerah pelayanan (dalam hal ini adalah gedung perencanaan), dimana kebutuhan air
ini berfluktuasi tergantung dari [Link] merencanakan sistem pompa distribusi
dan menentukan kapasitas pompa distribusi, diperlukan data perkiraan kebutuhan air
maksimum, kebutuhan air rata-rata dan kebutuhan air minimum, sehingga diharapkan sistem
dapat melayani kebutuhan air daerah pelayanan (gedung perencanaan).
(Morimura dan Noerbambang,1985)
2.4.2. Head Sistem
Head menunjukkan energi atau kemampuan untuk usaha persatuan massa. Dalam
pompa, head adalah ukuran energi yang diberikan ke air pada kapasitas dan kecepatan operasi
tertentu, sehingga air dapat mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Dalam
sistem pompa ada beberapa macam head :
Head Statik
Head kecepatan
Headloss
Persamaan untuk head total pompa :
H = Hf + HS + HV + RH (Persamaan 2.23)
dimana :
H = head total
HS = head statik pompa
2
v
HV = 2g
Hf = head mayor + head minor
RH = head sisa tekan (residu head)
Untuk menghitung headloss pipa dapat menggunakan dua cara yaitu:
1. Persamaan head akibat gesekan :
1 , 85
Q
hmayor = x L
(0 , 2785 xD 2 , 63 xC )1 , 85
ANGGA PRASETYA II-22
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
hminor = 10% x hminor
Dimana :
Hf = kehilangan tekanan akibat gesekan (m)
Q = debit air dalam pipa (m3/dt)
C = koefisien kekasaran pipa
D = diameter pipa (m)
L = Panjang jalur pipa (m)
2. Headloss dicari dengan cara menjumlakan panjang pipa dan
panjang equivalen (Leq) fitting. Cara ini terdapat dalam buku “Plambing” Harold E.
Babbitt (Gambar 2.16, Tabel 2.7, Gambar 2.17, Gambar 2.18).Untuk cara perhitungannya
sudah dijelaskan didepan yaitu pada penentuan dimensi pipa horisontal dan pipa tegak.
2.4.3. Daya dan Efisiensi Pompa
Data mengenai daya/energi yang tersedia diperlukan untuk menentukan motor yang
digunakan untuk menggerakkan pompa. Penggunaan motor yang tidak sesuai dengan daya
yang tersedia akan mempengaruhi operasi pompa dan umur dari pompa maupun motor itu
sendiri.
Daya hidraulik adalah daya yang dimasukkan ke dalam air oleh rotor atau torak
pompa sehingga air tersebut dapat mengalir.
Nh = 0,163 x Q x H x γ
Dimana: H : tinggi angkat total (m)
Q : kasitas pompa (m3/menit)
γ : berat spesifik (kg/liter)
Daya poros pompa (brake horse power) adalah daya yang harus dimasukkan ke
dalam poros pompa.
Np = Nh/ η p
Dimana: Nh : daya hidraulik pompa (Kwatt)
η p : efisiensi pompa
Daya motor penggerak pompa (Nm) harus lebih besar dari pada daya poros pompa,
kelebihannya tergantung pada jenis motor dan hubungan poros pompa dengan poros motor.
ANGGA PRASETYA II-23
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Nm = Np x (1+A)/( η p x η k )
Dimana:
Np : daya poros pompa (KWatt)
η p :efisiensi pompa
A : faktor yang bergantung jenis motor
0,1 sampai 0,2 untuk motor listrik
0,2 untuk motor bakar besar
0,25 untuk motor bakar kecil
k : efisiensi hubungan poros, dengan nilai 1 untuk poros yang dikopel langsung
Untuk menentukan besarnya efisiensi pompa dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Gambar 2.10 Grafik Efisiensi Pompa
Sumber : Morimura dan Noerbambang, 1999
2.4.4. Karakteristik Pompa
Karakteristik pompa dapat digambarkan pada kurva karakteristik yang menyatakan
hubungan antara kapasitas dengan head daya poros dan efesiensi [Link] karakterisrik
pompa pada umumnya digambarkan pada putaran yang [Link] head kapasitas dapat
dibedakan menjadi 2 macam :
1. Karakteristik stabil, yaitu karakteristik dimana satu kapasitas dapat diperoleh satu
head. Karakteristik dapat dibedakan menjadi :
a. Rising Characteristic
Peningkatan head secara kontinu terhadap pengurangan kapasitas
b. Steep Characteristic
ANGGA PRASETYA II-24
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Pertambahan head lebih besar daripada pengurangan kapasitas
c. Dropping Characteristic
Head pada kapasitas nol bukan head yang terbesar
d. Flat Characteristic
Variasi yang stabil dibandingkan pertambahan kapasitas
2. Karakteristik tidak stabil, yaitu karakteristik dimana pada head yang sama dapat
diperoleh dua atau lebih kapasitas.
2.5. Sistem Pembuangan
Sistem pembuangan air kotor sangat penting bagi kesehatan suatu gedung, sehingga
sistem pembuangannya harus sehat dan tidak mencemari [Link] buangan atau air
limbah biasanya berasal dari toilet yaitu berupa kotoran manusia atau air sisa penyiraman dan
air sisa dari aktivitas manusia lainnya.
2.5.1. Jenis Air Buangan
Air buangan dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu:
1. Air kotor, yaitu air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, dan air buangan yang
mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat-alat plambing lainnya.
2. Air bekas,yaitu air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya seperti bak
mandi, bak cuci tangan, bak dapur dan sebagainya
3. Air hujan, yaitu air hujan yang jatuh dari atap dan dari air halaman.
4. Air buangan khusus, yaitu air buangan yang mengandung gas, racun atau bahan-bahan
berbahaya, seperti yang berasal dari pabrik, air buangan dari laboratorium, tempat
pengeboran, tempat pemeriksaan di rumah sakit, rumah pemotongan hewan, air buangan
yang bersifat radioaktif yang dibuang dari pusat listrik tenaga nuklir, atau laboratorium
penelitian atau pengobatan yang menggunakan bahan-bahan radioaktif. Air buangan
yang mengandung banyak lemak berasal dari restaurant, akhir-akhir ini menjadi masalah
dan dipermasalahkan dalam kelompok ini karena banyak mengandung heksana.
Sebagai catatan, air kotor dan air bekas sering disebut air buangan sehari-hari karena
keduanya berasal dari kehidupan sehari-hari.
(Morimura,1985)
ANGGA PRASETYA II-25
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
2.5.2. Klasifikasi Sistem Pembuangan Air
Sistem pembuangan air umumnya dibagi dalam beberapa klasifikasi menurut jenis
air buangan, cara membuang air dan sifat-sifat lain dari lokasi dimana saluran itu akan
dipasang.
Tabel 2.8
Klasifikasi Sisem Pembuangan Air menurut Jenis Air Buangan
Klasifikasi Keterangan
Sistem pembuangan dimana air kotor dari
Sistem Pembuangan Air Kotor kloset, peturasan dan lain-lain dalam gedung
dikumpulkan dan dialirkan keluar.
Sistem pembuangan untuk air bekas dalam
Sistem Pembuangan Air Bekas gedung yang dikumpulkan dan dialirkan ke
luar.
Sistem pembuangan khusus untuk air hujan
Sistem Pembuangan Air Hujan dari atap gedung dan tempat lainnya, yang
dikumpulkan dan dialirkan ke luar.
Hanya untuk air buangan khusus, ditinjau
dari segi kesehatan lingkungan, adalah sangat
berbahaya apabila air buangan khusus
Sistem Air Buangan Khusus dibuang langsung ke riol umum. Karena itu
perlu disediakan peralatan pengolahan yang
tepat pada sumbernya dan baru kemudian
dimasukkan ke dalam riol umum.
Khusus untuk air buangan yang berasal dari
bak cuci dapur; untuk air buangan dari dapur
rumah makan yang terletak di ruang bawah
tanah sebuah gedung harus diperlakukan
Sistem Pembuangan Air dari Dapur secara khusus, mencegah timbulnya
pencemaran akibat aliran balik dari saluran
air kotor atau air bekas, sedangkan bila air
buangannya banyak mengandung lemak
perlu dilengkapi dengan perangkap lemak.
ANGGA PRASETYA II-26
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Sumber : Morimura, 1985
Tabel 2.9
Klasifikasi Sisem Pembuangan Air menurut Cara Pembuangan Air
Klasifikasi Keterangan
Sistem pembuangan di mana segala macam
air buangan dikumpulkan ke dalam satu
Sistem Pembuangan Air Campuran
saluran dan dialirkan ke luar gedung tanpa
memperhatikan jenis air buangan.
Sistem pembuangan di mana setiap jenis air
Sistem Pembuangan Air Terpisah buangan dikumpulkan dan dialirkan ke luar
gedung secara terpisah.
Sistem pembuangan di mana air buangan dari
Sistem Pembuangan Air Tak Langsung beberapa lantai gedung bertingkat
digabungkan dalam satu kelompok.
Sumber : Morimua, 1985
Klasifikasi menurut cara pengalirannya:
Sistem gravitasi yaitu air buangan mengalir dari tempat lebih tinggi secara gravitasi ke
saluran umum yang lebih rendah.
Sistem bertekanan.
(Morimura. Hal.170, 1985)
2.5.3. Sistem Pembuangan Air
1. Sistem Campuran
Yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas dikumpulkan dan dialirkan
dalam satu aliran.
2. Sistem Terpisah
Yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas masing-masing dikumpulkan
dan dialirkan secara terpisah.
ANGGA PRASETYA II-27
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
2.5.4. Bagian-Bagian Sistem Pembuangan
Sistem pembuangan terdiri dari :
1. Pipa pembuangan alat plambing
Adalah pipa pembuangan yang menghubungkan perangkap alat plambing dengan pipa
pembuangan lainnya, dan biasanya dipasang tegak. Ukuran pipa ini harus sama atau
lebih besar dengan ukuran lubang keluar perangkap alat plambing.
2. Cabang mendatar
Adalah semua pipa pembuangan mendatar yang menghubungkan pipa pembuangan
alat plambing dengan pipa tegak air buangan.
3. Pipa tegak air buangan
Adalah pipa tegak untuk mengalirkan air buangan dari cabang-cabang mendatar.
4. Pipa tegak air kotor
Adalah pipa tegak untuk megalirkan air kotor dari cabang-cabang mendatar.
5. Pipa atau saluran pembuangan gedung
Adalah pipa pembuangan dalam gedung, yang mengumpulkan air kotor, air bekas dari
pipa-pipa tegak air buangan. Pipa pembuangan gedung ini dibatasi sampai jarak 1
meter keluar dari dinding terluar gedung tersebut.
6. Riol gedung
Adalah pipa di halaman gedung yang menghubungkan pipa pembuangan gedung
dengan riol umum.
(Morimura. Hal.171, 1985)
2.5.5. Kemiringan dan Kecepatan Aliran Pipa Pembuangan
Sistem pembuangan harus mampu mengalirkan dengan cepat air buangan yang
biasanya mengandung bagian-bagian [Link] maksud tersebut, pipa pembuangan harus
mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup, sesuai dengan banyak dan jenis air buangan
yang harus dialirkan.
Biasanya pipa dianggap tidak penuh berisi air buangan, melainkan hanya tidak lebih
dari 2/3 terhadap penampang pipa, sehingga bagian atas yang “kosong” cukup untuk
mengalirkan udara.
Kecepatan terbaik dalam pipa berkisar antara 0,6 sampai 1,2 m/detik. Apabila
kecepatan dalam pipa terlalu rendah, kotoran dalam air buangan dapat mengendap yang pada
ANGGA PRASETYA II-28
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
akhirnya akan menyumbat pipa. Sebaliknya bila terlalu cepat akan menimbulkan turbulensi
aliran, yang dapat menimbulkan gejolak-gejolak tekanan dalam pipa.
(Morimura. Hal.174, 1985)
2.6. Sistem Vent
2.6.1. Tujuan Sistem Vent
Pipa ven merupakan bagian penting dari suatu sistem pembuangan. Tujuan
pemasangan pipa ven adalah sebagai berikut :
1. menjaga sekat perangkap dari efek sipon atau tekanan
2. menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan
3. mensirkulasikan udara dalam pipa pembuangan
(Morimura dan Noerbambang,1999)
2.6.2. Jenis Sistem Vent dan Pipa Vent
Sistem vent merupakan bagian yang penting dari suatu sistem pembuangan. Jenis
pipa vent yang utama adalah :
1. Sistem vent tunggal
Pipa vent ini dipasang untuk melayani suatu alat plambing dan disambungkan kepada
sistem vent lainnya atau langsung terbuka ke udara luar.
2. Sistem vent lup
Pipa vent ini melayani dua atau lebih perangkat alat plambing dan disambungkan pada
pipa vent tegak.
3. Sistem vent pipa tegak
Pipa ini merupakan perpanjangan dari pipa tegak air buangan, diatas cabang mendatar
pipa air buangan tertinggi.
4. Sistem vent bersama
Suatu pipa vent yang melayani perangkap dari 2 alat plambing yang dipasang bertolak
belakang atau sejajar. Pipa ini dipasang pada pipa pengering bersama kedua alat
plambing.
5. Sistem vent basah
Yaitu vent yang sekaligus menerima air buangan selain dari buangan kloset.
ANGGA PRASETYA II-29
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
6. Sistem vent balik
Adalah pipa vent tunggal yang membelok ke atas sampai lebih tinggi dari muka air
banjir alat plambing kemudian membelok ke bawah dan mendatar pada lantai gedung
untuk selanjutnya disambungkan pada vent pipa tegak.
7. Sistem vent pelepas
Adalah pipa vent untuk melepas tekanan udara dalam pipa pembuangan air.
(Morimura, 1985)
Gambar 2.11 Contoh Ven Balik
Sumber : Morimura, 1985
2.6.3. Persyaratan Pipa Vent
1. Kemiringan pipa vent
Pipa vent harus dibuat dengan kemiringan cukup agar titik air yang terbentuk atau
air yang terbawa masuk ke dalamnya dapat mengalir secara gravitasi kembali ke pipa
buangan.
2. Cabang pada pipa vent
Dalam membuat abang pipa vent harus diusahakan agar udara tidak akan terhalang
olehmasuknya iar kotor atau air bekas.
Pipa vent untuk cabangmendatar pipa air buangan harus disambungkan ke pipa
cabang tersebut pada bagian tertinggi dari penampampang pipa cabang tersebut secara
vertikal, hanya dalam keadaan terpaksa boleh disambungkan denga sudut 45o terhadap
vertikal. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah masuknya air buangan diman vent
tersebut disambungkan.
3. Letak bagian mendatar pipa vent
ANGGA PRASETYA II-30
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Dari tempat sambungan pipa vent dengan cabang mendatar pipa air buangan, pipa
vent rersebut harus dibuat tegak sampai sekurang-kurangnya 250 mm di atas muka aiar
banjir alat plambing tertinggi yang dilayani vent tersebut, sebelum dibelokkan mendatar
atau disambungkan kepada cabang pipa vent.
Walaupun demikian, cukup banyak ditemukan keadaan dimana terpaksa dipasang
“pipa vent di bawah lantai”. Pipa vent semacam ini melayani cabang mendatar air
buangan dan dari tempat sambungannya dengan cabang mendatr tersebut pipa vent
hanya dibuat pendek dalam arah tegak kemudian langsung dibelokkan mendatar .
4. Ujung pipa vent
Ujung pipa vent harus terbuka ke udara luar, tetapi harus dengan cara yang tidak
menimbulkan gangguan kesehatan. Berikut ini adalah persyaratan untuk pembukaan
ujung pipa tersebut:
Ujung terbuka
Lokasi ujung pipa vent
Gambar 2.12 Cara Membuat Cabang Pipa Ven
Sumber : Morimura, 1999
2.6.4. Penentuan Diameter Pipa Vent
Ukuran pipa vent lup, pipa vent pelepas dan pipa vent tunggal, ukuran minimum
yang dipakai adalah 32 mm dan tidak boleh kurang dari setengah cabang pipa air buangan
yang dilayani atau pipa tegak vent yang disambung.
Ukuran pipa vent didasarkan pada nilai unit beban alat plumbing dari pipa air
buangan yang dilayani dan panjang pipa vent tersebut. Bagian pipa vent mendatar, tidak
termasuk pipa vent dibagian bawah lantai, tidak boleh lebih dari 20 % dari total panjangnya.
ANGGA PRASETYA II-31
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Pada sistem vent pipa tegak, semua pipa pengering alat plambing disambungkan
langsung dengan pipa tegak air buangan.
(Morimura. Hal.223, 1985)
Tabel 2.10
Diameter dan Panjang Pipa Vent
Size of
Diametre of vent required (inch)
soil or Fixture
1.25 1.25 2 2.5 3 4 5 6 8
waste units
stack connected Maximum lenght of vent (ft)
(inch)
1.25 2 30
1.5 8 50 150
1.5 10 30 100
2 12 30 75 200
2 20 26 50 150
2.5 42 30 100 300
3 10 30 100 200 600
3 30 60 200 500
3 60 50 80 400
4 100 35 100 260 1000
4 200 30 90 250 900
4 500 20 70 180 700
5 200 35 80 350 1000
5 500 30 70 300 900
5 1100 20 50 200 700
6 350 25 50 200 400 1300
6 620 15 30 125 300 1100
6 960 24 100 250 1000
6 1900 20 70 200 700
8 600 50 150 500 1300
8 1400 40 100 400 1200
8 2200 30 80 350 1100
8 3600 25 60 250 800
10 1000 75 125 1000
ANGGA PRASETYA II-32
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
Size of Fixture
Diametre of vent required (inch)
soil or units
1.25 1.25 2 2.5 3 4 5 6 8
waste connected Maximum lenght of vent (ft)
10
stack 2500 50 100 500
10 3800 30 80 350
10 5600 25 60 250
Sumber : Babbit, 1960
2.7. Septic Tank
Sebuah tangki septik pada umumnya terdiri dari sebuah tangki (atau kadang-kadang
lebih dari satu tangki) dalam ukuran tersambung ke pipa air limbah adalah sebuah teluk kecil
di satu ujung dan sebuah lapangan di menguras septik yang lain. Sambungan pipa ini
biasanya dilakukan melalui pipa T yang memungkinkan cairan masuk dan keluar tanpa
mengganggu setiap kerak di permukaan.
Desain tangki biasanya menggabungkan dua kamar (masing-masing dilengkapi
dengan penutup lubang) yang dipisahkan dengan suatu dinding pembatas yang memiliki
bukaan yang terletak sekitar tengah antara lantai dan atap [Link] memasuki ruang
pertama dari tangki, sehingga memungkinkan limbah padat untuk menyelesaikan dan sampah
[Link] anaerob mencerna makanan padat adalah mengurangi volume
makanan padat. Komponen cairan mengalir melalui dinding pemisah ke kamar kedua
penyelesaian lebih lanjut dilakukan dengan mengalirkan kelebihan cairan maka dalam
kondisi yang relatif jelas dari stopkontak ke lapangan leach, juga disebut sebagai lapangan
menguras, atau lapangan rembesan, tergantung lokalitas. Pompa angkat septic tank sistem
alarm yang terletak di sebuah rumah.
Septic tank seluruh sistem dapat beroperasi dengan gravitasi atau dimana
memerlukan pertimbangan topografi, dengan dimasukkannya pompa. Termasuk desain septic
tank siphons atau metode lain untuk meningkatkan volume dan kecepatan arus perpindahan
ke bidang drainase. Ini membantu untuk memuat semua bagian dari pipa drainase lebih
merata dan memperluas lapangan drainase kehidupan dengan mencegah penyumbatan.
Sebuah tangki Imhoff adalah dua tahap sistem septik di mana lumpur diproses dalam
tangki [Link] ini untuk menghindari pencampuran lumpur dengan limbah yang masuk.
Juga, beberapa desain septic tank memiliki tahap kedua di mana anaerobik limbah dari tahap
ANGGA PRASETYA II-33
21080118140072
Tugas Besar Plambing 2020
Gedung SMA Hidayatullah Banyumanik
pertama adalah yang bercampur degan udara sebelum mengalir ke lapangan rembesan.
Sampah yang tidak membusuk oleh pencernaan anaerobik akhirnya harus dikeluarkan dari
tangki septik dan air limbah yang tidak terdekomposisi ,pembuangan drainase langsung ke
lapangan. Hal ini tidak hanya buruk bagi lingkungan, tetapi jika lumpur meluap di septic tank
hal itu mungkin menyumbat pipa atau mengurangi porositas tanah itu sendiri, yang
memerlukan perbaikan mahal.
Seberapa sering septic tank harus dikosongkan tergantung pada volume tangki relatif
terhadap jumlah padatan yang masuk dan suhu lingkungan (sebagai pencernaan anaerob
terjadi lebih efisien pada temperatur yang lebih tinggi).Frekuensi yang diperlukan sangat
bervariasi tergantung pada yurisdiksi, penggunaan, dan karakteristik sistem. Beberapa sistem
memerlukan memompa setiap beberapa tahun atau lebih cepat, sementara yang lain mungkin
dapat antara 10-20 tahun. Sebuah sistem yang lebih tua dengan tank yang berukuran sedang
digunakan oleh sebuah keluarga besar akan membutuhkan jauh lebih sering memompa dari
sistem baru yang digunakan oleh hanya beberapa orang. Dekomposisi anaerobik dengan
cepat kembali dimulai ketika tangki mengisi ulang.
ANGGA PRASETYA II-34
21080118140072