0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan14 halaman

Pedoman RPU Puskesmas Jatiwates

Dokumen tersebut merupakan pedoman pelayanan klinis di Ruang Pemeriksaan Umum Puskesmas Jatiwates. Pedoman ini mengatur standar ketenagakerjaan, fasilitas, tata laksana pelayanan, logistik, dan keselamatan pasien di ruang tersebut agar pelayanan berjalan efektif dan aman.

Diunggah oleh

asna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan14 halaman

Pedoman RPU Puskesmas Jatiwates

Dokumen tersebut merupakan pedoman pelayanan klinis di Ruang Pemeriksaan Umum Puskesmas Jatiwates. Pedoman ini mengatur standar ketenagakerjaan, fasilitas, tata laksana pelayanan, logistik, dan keselamatan pasien di ruang tersebut agar pelayanan berjalan efektif dan aman.

Diunggah oleh

asna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEDOMAN

RUANG PERIKSA UMUM (RPU)


BLUD PUSKESMAS JATIWATES

PD/3/RPU/2020

Nomor Revisi :1

Tanggal Terbit : 17 PEBRUARI 2020

Disusun Oleh : Disetujui Oleh :

Nama Elfrida Wahyurini Nama drg. Ami Setyaningrum


Jabatan Penanggung Jawab Jabatan Kepala BLUD Puskesmas
Ruang Periksa Umum Jatiwates

Hanya salinan terkendali yang mendapatkan perbaikan, jika ada


perubahan dokumen
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai salah satu jenis
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan penting dalam
sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan.
Pelayanan rawat jalan adalah suatu bagian pelayanan di Puskesmas yang
memberikan pelayanan pencegahan, pengobatan serta pemulihan terhadap
penderita dimana dalam pelayanannya terkait dengan kegiatan penunjang lain
seperti laboratorium, unit terkait dan farmasian.
Upaya kesehatan di puskesmas merupakan upaya kesehatan yang
bersifat menyeluruh terpadu yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif. Pelayanan Klinis di Puskesmas terdiri atas :
1. Pelayanan klinis dalam gedung
2. Pelayanan klinis luar gedung
Pelayanan klinis di dalam gedung bersifat individual dapat berupa
pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan pelayanan
klinis di luar gedung umumnya pelayanan pemeriksaan pada kelompok dan
masyarakat dalam bentuk promotif dan preventif yang dapat diwujudkan
dengan kerjasama seluruh unit pelayanan dalam lingkup wilayah kerja
Puskesmas.

B. TUJUAN PEDOMAN
Pedoman kerja bagi tenaga medis dan paramedis dalam melakukan
pelayanan klinis di Ruang Pemeriksaan Umum

C. SASARAN PEDOMAN
Sasaran Pelaksanaan Pelayanan Pemeriksaan Umum yaitu Pasien
Pemeriksaan Umum Puskesmas Jatiwates

D. RUANG LINGKUP PEDOMAN


Ruang lingkup pelayanan klinis meliputi pelayanan kuratif dan rehabilitative
tanpa mengesampingkan aspek promotif dan preventif.

E. BATASAN OPERASIONAL
Batasan operasional pelayanan klinis berdasarkan kerangka acuan dan
standar pelayanan operasional (SOP).
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Sumber daya manusia pada pelayanan klinis terdiri dari :
1. Penanggung jawab pelayanan poliklinik adalah seorang dokter.
2. Perawat pelaksana adalah minimal perawat lulusan D III Keperawatan.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Jumlah tenaga kesehatan yang melaksanakan pelayanan di Ruang
Pemeriksaan Umum adalah :
- Dokter Umum : 1 Orang
- Perawat : 3 Orang

C. JADWAL KEGIATAN
Jadwal kegiatan pelaksanaan pelayanan di Ruang Pemeriksaan Umum adalah
setiap hari kerja, yakni Senin hingga Sabtu.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANGAN

wastafel

Meja
komputer

alma
Bed ri
Meja periksa Meja
ana
pasien mnes
a

Pintu

B. STANDAR FASILITAS
Adapun alat dan fasilitas yang digunakan dalam pelaksanaan Pelayanan
Klinis meliputi :
I. Alat Kesehatan :
1. Stetoskop
2. Tensimeter
3. Termometer
4. Penlight
5. Timbangan
6. Microtoise
7. Spatel
8. Snellen Chart
9. Buku Ishihara

II. Bahan Habis Pakai:


1. Alkohol : sesuai kebutuhan
2. Kapas : sesuai kebutuhan
3. Masker wajah : sesuai kebutuhan
4. Sabun tangan atau antiseptik : sesuai kebutuhan
5. Sarung tangan non steril : sesuai kebutuhan
III. Perlengkapan
1. Wastafel : 1 buah
2. Tempat sampah tertutup : 2 buah

IV. Meubel:
1. Kursi kerja : 3 Buah
2. Kursi pasien : 3 buah
3. Lemari arsip : 1 buah
4. Meja kerja : 3 buah
5. Bed Periksa : 1 buah

V. Pencatatan dan Pelaporan


1. Blangko Register pasien
2. Blangko RJTP
3. Surat Keterangan sakit sesuai kebutuhan
4. Surat Keterangan Sehat sesuai kebutuhan
5. Kertas resep untuk pasien rujuk balik
6. Blangko kajian awal
7. Blangko asuhan keperawatan
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN
Lingkup Kegiatan Pelayan Klinis menitiberatkan pada kegiatan yang bersifat
kuratif dan rehabilitatif tanpa mengesampingkan kegiatan promotif dan
preventif.

B. METODE
Kegiatan Pelayanan Klinis dijalankan dengan Metode :
- Wawancara dengan menanyakan Keluhan utama pasien, kemudian
menggali Keluhan tambahan serta riwayat penyakit dahulu Riwayat
penyakit dalam keluarga serta pengobatan yang telah didapat.
- Pemeriksaan Langsung untuk mengukur tinggi badan, berat badan, suhu,
tekanan darah dan nadi.
- Pemeriksaan fisik dengan metode Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan
Auskultasi dan pemeriksaan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan
pasien
- Pemberian Edukasi dengan metode ceramah dan tanya jawab.

C. LANGKAH KEGIATAN
Langkah – langkah yang dilakukan dalam Kegiatan Pelayanan Klinis :
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisis
- Pemeriksaan Penunjang (jika dibutuhkan)
- Menentukan Diagnosa
- Dilakukan pemberian rujukan internal jika dibutuhkan penanganan dari
profesi lain
- Menentukan Rencana Terapi
- Pemberian Terapi dan tindakan
- Pemberian Konseling dan Edukasi sesuai kebutuhan Pasien
- Untuk peserta yang membutuhkan rujukan ke RS kemudian diberikan
rujukan dengan menggunakan format rujukan ke rumah sakit, bagi
pengguna kartu BPJS, dengan formulir Rujukan BPJS melalui sistem
penginputan di P-Care, sedangkan pasien umum dengan rujukan umum.
- Pasien kemudian dicatat dalam register kunjungan pasien.
- Memasukkan data pasien pada aplikasi Simpus dan P – Care
BAB V
LOGISTIK

A. BAHAN HABIS PAKAI


Untuk menunjang terselenggaranya pelayanan klinis yang bermutu,
maka perlu didukung oleh penyediaan logistik yang memadai dan optimal,
melalui perencanaan yang baik dan berdasarkan kebutuhan pasien.
Ketersediaan logistik harus dijamin kecukupannya dan pemeliharaan yang
sudah dianggarkan dan dijadwalkan. Pengadaan alat dan bahan dalam
pelaksanaan upaya klinis Puskesmas diselenggarakan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

B. ALAT KESEHATAN
Perencanaan Kebutuhan Alat Kesehatan dilakukan tiap akhir tahun
untuk persiapan tahun depannya. Untuk peralatan yang mengalami kerusakan
akan ditangani sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. PENGERTIAN
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana Puskesmas
membuat asuhan pasien lebih aman termasuk assesment resiko, identifikasi
dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk menimbulkan
resiko.

B. TUJUAN
Tujuan sistem ini adalah mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil. Selain itu sistem keselamatan pasien ini
mempunya tujuan agar terciptanya budaya keselamatan pasien di wilayah
kerja Puskesmas.
Ada enam sasaran keselamatan pasien, yaitu:
1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien
2. Komunikasi efektif
3. Tidak terjadinya kesalahan pemberian obat
4. Tidak terjadinya kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan
5. Pengurangan terjadinya resiko infeksi di Puskesmas
6. Tidak Terjadinya pasien jatuh
Upaya Puskesmas untuk mencapai enam sasaran keselamatan pasien
tersebut adalah :
1. Identifikasi Pasien Secara Benar
Indikator melakukan identifikasi pasien secara benar adalah:
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, seperti nama
pasien dan tanggal lahir pasien, tidak termasuk nomor dan lokasi
kamar.
b. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah, dan specimen lain
untuk keperluan pemeriksaan.
c. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan perawatan atau prosedur
lainnya.
Prosedur dalam Identifikasi Pasien
Ada 2 identitas yaitu menggunakan Nama dan Tanggal Lahir yang
disesuaikan dengan tanda pengenal resmi. Pengecualian prosedur
identifikasi dapat dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan pasien di
Ruang Tindakan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan petugas adalah:
a. Petugas meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal  lahir
sebelum melakukan prosedur, dengan pertanyaan terbuka, contoh :”
Nama bapak siapa?” “Tolong sebutkan tanggal lahir Bapak”.
b. Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama, identitas pasien dapat
ditanyakan kepada penunggu/ pengantar pasien.
2. Meningkatkan Komunikasi Efektif
Menggunakan teknik SBAR (Situation – Background – Assessment –
Recomendation) dalam melaporkan kondisi pasien untuk meningkatkan
efektivitas komunikasi antar pemberi layanan.
a. Situation : Kondisi terkini yang terjadi pada pasien.
b. Background : Informasi penting apa yang berhubungan dengan   kondisi
pasien terkini
c. Assessment : Hasil pengkajian kondisi pasien terkini
d. Recommendation : Apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah
pasien saat ini.
3. PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN
Indikator Usaha Menurunkan Infeksi Nosokomial:
a. Menggunakan panduan hand hygiene terbaru yang diakui umum.
b. Mengimplementasikan program kebersihan tangan yang efektif.
Semua petugas di rumah sakit termasuk dokter melakukan
kebersihan tangan pada 5 MOMEN yang telah ditentukan, yakni:
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Sesudah kontak dengan pasien
c. Sebelum tindakan asepsis
d. Sesudah terkena cairan tubuh pasien
e. Sesudah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
Ada 2 cara cuci tangan yaitu :
a. HANDWASH : dengan air mengalir, waktunya : 40 – 60 detik
b. HANDRUB : dengan gel berbasis alcohol, waktunya : 20 – 30
detik
.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh pasien


dan keluarga pasien maka tuntutan pengelolaan program Keselamatan Kerja
semakin tinggi, karena Sumber Daya Manusia (SDM) puskesmas,
pengunjung/pengantar pasien, pasien sekitar puskesmas ingin mendapatkan
perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik sebagai dampak
proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana
yang ada di puskesmas yang tidak memenuhi standar.
Puskesmas sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang
harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya
pasal 165 : ”Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan
melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga
kerja”. Berdasarkan pasal di atas maka pengelola tempat kerja di puskesmas
mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para tenaga kerjanya. Salah satunya
adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja. Puskesmas
harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien, penyedia layanan
atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya di puskesmas.
Program keselamatan kerja di Ruangan Pemeriksaan Umum merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan puskesmas, khususnya dalam hal
kesehatan dan keselamatan bagi SDM puskesmas, pasien, keluarga pasien,
masyarakat sekitar.
1. Tujuan umum
Terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat dan produktif untuk SDM
puskesmas, aman dan sehat bagi pasien, pengunjung/pengantar pasien,
masyarakat dan lingkungan sekitar sehingga proses pelayanan puskesmas
berjalan baik dan lancar.
2. Tujuan khusus
a. Terlindunginya pekerja dan mencegah terjadinya PAK (Penyakit Akibat Kerja)
dan KAK (Kecelakaan Akibat Kerja).
b. Peningkatan mutu dan citra puskesmas.
Alat Keselamatan Kerja
1. Pemadam kebakaran (hidrant)
2. APD (alat Pelindung Diri)
3. Peralatan pembersih
4. Obat-obatan
5. Kapas
6. Plaster pembalut
7. Pembersih tangan di depan tiap-tiap ruangan pasien.

Aturan umum dalam tata tertib keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk
memudahkan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja,
2. Pakailah APD saat bekerja,
3. Orientasi pada petugas baru,
4. Harus mengetahui cara pemakaian alat darurat seperti pemadam kebakaran,
5. Harus mengetahui cara mencuci tangan dengan benar,
6. Buanglah sampah pada tempatnya,
7. Lakukan latihan keselamatan kerja secara periodik,
8. Dilarang merokok.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu   (quality control) dalam manajemen mutu merupakan


suatu sistem kegiatan  teknis yang bersifat rutin yang dirancang  untuk mengukur dan
menilai mutu produk atau jasa yang diberikan kepada pelanggan.  Pengendalian
mutu pada pelayanan klinis diperlukan agar produk layanan klinis terjaga kualitasnya
sehingga memuaskan masyarakat sebagai pelanggan.
Ishikawa (1995) menyatakan bahwa pengendalian mutu adalah pelaksanaan
langkah-langkah yang telah direncanakan secara terkendali agar semuanya
berlangsung sebagaimana mestinya, sehingga mutu produk yang direncanakan
dapat tercapai dan terjamin. Dalam pengertian Ishikawa tersirat pula bahwa
pengendalian mutu itu dilakukan dengan orientasi pada kepuasan konsumen. Dalam
bahasa layanan kesehatan keseluruhan proses yang diselenggarakan oleh
puskesmas ditujukan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen.
Pada unit Ruangan Pemeriksaan Umum Puskesmas Jatiwates selalu
dilakukan survey kepuasan pelanggan untuk mengetahui tingkat kepuasan penerima
layanan di BLUD Puskesmas Jatiwates. Hasil dari survey pelanggan di analisa
sehingga dapat merumuskan follow up dari permasalahan yang ada. Jika ada KTD,
KTD, KPC dan KNC segera melaporkan pada Ketua Tim Mutu dan Keselamatan
Pasien untuk segera di follow up bersama-sama dengan Anggota Tim Mutu dan
keselamatan pasien BLUD Puskesmas Jatiwates.
BAB IX
PENUTUP

Demikian telah disusun suatu Pedoman Pelayanan Klinis yang dapat dipakai
sebagai acuan di dalam pelayanan klinis di Ruang Pemeriksaan Umum BLUD
Puskesmas untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan di BLUD
Puskesmas Jatiwates. Pedoman ini akan mengalami perbaikan dalam upaya
peningkatan kualitas dari waktu ke waktu sehingga diperlukan evaluasi secara teratur
dan berkelanjutan dalam hal pemantauannya. Dengan adanya suatu pedoman
pelayanan maka kegiatan pelayanan secara khusus di rawat jalan dapat
mengutamakan kepuasan dan keselamatan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Direktorat Bina


Kesehatan [Link]

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang


Standar Puskesmas.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2016 Tentang


Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Anda mungkin juga menyukai