Efisiensi Mesin dan Fungsi Radiator
Efisiensi Mesin dan Fungsi Radiator
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan
Pada kehidupan sehari-hari alat transportasi menjadi sarana penting dalam
menunjang tujuan dari rencana kita. Zaman sekarang alat transportasi baik darat, laut dan udara
mengalami kemajuan pesat. Pesawat udara, kapal laut dan bus angkutan menjadi alternatif
pilihan yang banyak
digunakan orang. Kalau kita lihat dari mayoritas alat angkut tersebut kebanyakan menggunakan
mesin motor bakar sebagai penghasil dayanya. Penulis memilih jenis motor bakar yang
digunakan pada kendaraan umum, mobil misalnya. Pada jenis kendaraan ini umumnya
menggunakan alat pendingin berupa radiator untuk menjaga suhu mesin agar tetap
optimal. Sering kita sebagai pengguna kendaraan ini menganggap remeh peran dari radiator.
Salah satu yang menjadi latar belakang dari penulisan ini adalah pengalaman pribadi penulis.
Ketika perjalanan keluar kota, tiba-tiba mesin tidak bertenaga dan terjadi bunyi menggelitik yang
sering. Pada indicator suhu, menunjukan bahwa temperatur sudah melebihi dari batas yang
diizinkan, kemudian mesin langsung dimatikan.
Ketika diperiksa pada bagian mesin dan alat pendingin, ternyata air
pada radiator sudah tidak [Link] kami mengisi air radiator hingga penuh dan suhu mesin
turun. Pada saat meneruskan perjalanan, ternyata terdapat beberapa tempat yang mengeluarkan
uap air yang mengakibatkan air menjadi menguap dan [Link] mesin meningkat cepat dan
tidakbertenaga.
Dari peristiwa tersebut penulis mencoba menganalisa hubungan antara
effisiensi mesin dan pendinginan radiator. Secara sederhana penulis ingin mengetahui
besar kalor yang dihasilkan pada mesin dan besar kalor yang dapat diredam oleh radiator. Pada
motor bakar otto, terbakarnya campuran uap bensin dan udara mengakibatkan naiknya
temperatur ruang bakar. Temperaturnya mencapai sekitar 2500 0C dan ini dapat merusak
komponen di dalamnya.
1.2 Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1.4 Metodoligi penulisan
Penulisan tugas akhir ini terdiri dari lima bab yang membahas tentang sifat dan fungsi
radiator serta mengetahui temperature radiator dengan efisiensi mesin. Teori pendukung,
perhitungan dan analisa dari hasil pengujian, serta satu bab mengenai kesimpulan dan saran-
saran tambahan lainya, yang dilakukan dengan menggunakan studi literatur, melalui
pengumpulan data dan referensi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan teori yang mendukung pendinginan pada radiator.
Sesuai dengan tujuan penulisan maka teori mengenai kalor dan fluida adalah bagian
utamanya. Untuk itu penulis membagi landasan teori pada bab ini menjad itiga bagian
yaitu pada motor bakar, air (fluida) dan radiator.
Dan
Keterangan :
b. Perpindahan
panas secara konduksi
Konveksi adalah proses transport energy dengan kerja gabungan dari konduksi panas,
penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting sebagai
mekanisme perpindahan energy antara permukaan benda padat dan cairan atau gas.
Rumusan perpindahan panas secara konveksi adalah :
Dan
Keterangan :
Qa : Laju aliran panas dengan cara konduksi (W)
Aa : Luas Perpindahan panas secara konduksi (m2)
∆T : Beda temperature dari bagian permukaan dengan temperature lokasi (K)
ha : Konduktifitas thermal konveksi rata-rata(W/m2K)
Ra : Tahanan termal untuk konveksi (K/W)
Perpindahan panas radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda itu terpisah di dalam
ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa diantara benda-benda tersebut. Panas radiasi
dipancarkan oleh suatu benda dalam bentuk kumpulan (batch) energi yang terbatas
atau quanta.
ɛi : Emisitasi
ɑ : 5,67.10-8(Watt/m2C4)
Panas yang dibuang oleh cairan pendingin dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan:
Q = MCp∆T
Q = MCp( T1-T2)
Keterangan :
Q : Laju perpindahan panas oleh cairan dingin(W)
M : Massa cari cairan pendingin tiap detik (kg/s)
Cp : Kapasitas panas yang masuk (J/kg0C)
T1 : Temperatur cairan panas yangmasuk (0C)
T2 : Temperatur cairan panas yang keluar (0C)
2.3 Radiator
Pada bagian ini akan dijelaskan fungsi dari radiator dan bagian-bagian dari radiator.
Tetapi sebelumnya akan diuraikan terlebih dahulu jenis alat perpindahan kalor. Menurut
Ramesh [Link], jenis penukar kalor yang sampai sekarang dapat dibagi berdasarkan
kepada :
1. Proses perpindahan panas.
b. Penukarkalortipeplat,misalnya:
1. Penukarkalorpelatgasket.
5) Klasifikasi berdasarkan banyaknya fluida yang dipakai ada dua jenis yaitu:
Berdasarkan klasifikasi diatas, penulis memilih radiator mobil dengan dengan sifat
Selain dari pada itu fungsi dari radiator adalah menjaga suhu dari kerja mesin
agar tetap stabil. Jadi ada sejumlah panas yang diredam oleh radiator dan dibuang ke
udara sekeliling dari hasil kerja mesin tersebut yang berupa kalor. Pada penulisan ini
panas yang dihasilkan oleh mesin diredam dengan putaran kipas dan laju aliran fluida
melalui pompa.
pembuatannya dipilih bahan untuk radiator ini yang memiliki konduktivitas termal
pembuatannya. Selain tembaga ada juga bahan yang digunakan missalnya aluminium.
Bahan ini jarang digunakan karena biaya pembuatannya relatif lebih tinggi dan memiliki
3. Memiliki kondiktivitas termal (k) yang tinggi yaitu 380 W / m 0C pada suhu 850C.
4. Memiliki density yaitu 8.9gr/cm3
Gambar : 2.4. Radiator Secara Terpisah
2. Leher pengisi adalah saluran untuk memasukkan air dari luar kedalam radiator.
5. Bingkai adalah pelat yang menyatuhkan sekat masuk dan sekat keluar, tempat sarang
tawon terpasang.
6. Sekat masuk adalah tempat tangki masuk saluran air sarang tawon terpasang.
7. Sekat keluar adalah tempat tangki keluar saluran air sarang tawon terpasang.
12. Pipa keluar adalah saluran air keluar dari radiator dan masuk kedalam mantel.
13. Tutup radiator adalah tutup leher pengisi serta pembatas tekanan dalam radiator.
15. Merek pembuatan adalah kode yang diberikan oleh produsen sesuai dengan spesifikasi
Keterangan:
1. Kipasangin
2. Pulikipas
3. Impeller
4. Porospompa
5. Bantalanpeluru
6. Sekatair
Kecepatan air dalam pompa berkisar antara 2,5 – 3 m/s. Sedangkan kecepatan air
yang melalui silinder blok dan bagian depan pompa tidak lebih dari 1 m\s. dan
besar dari tenaga yang diperlukan oleh pompa air pada suatu mesin adalah sekitar 0,5 – 1
% dari tenaga yang dihasilkan oleh mesin tersebut. Misalnya saja suatu mesin memiliki
tenaga 80 tenaga kuda. Maka diperlukan pompa yang memiliki tenaga maksimum 0,8
tenaga kuda.
2. Termostat.
Fungsi dari termostat adalah mengatur aliran fluida pada suhu tertentu. Jumlah
suatu aliran fluida berbeda setiap suhu tertentu. Juka suhu kerja masih rendah maka
diperlukan jumlah aliran yang sesuai dengan suhu tersebut. Jika suhu naik misalnya pada
suhu 91 0C maka katup yang dibantu oleh termostat akan membuka. Akibatnya jumlah
aliran fluida bertambah dan terjadi keseimbangan antara panas dari kerja
mesin dan panas yang dapat dibuang ke udara. Selain itu penggunaan thermostat dapat
meringankan beban mesin
3. Tutup Radiator
Tutup radiator berfungsi untuk menutup tangki radiator dan mengeluarkan panas
dari uap air yang berlebihan. Selain itu untuk menambah air jika dalam sirkulasi tersebut
kekurangan cairan. Tekanan pada tutup radiator ini dirancang sampai mencapai pada
suhu 1200C.
Pada tutup radiator terdapat dua [Link] pertama adalah katup tekan dan yang
kedua adalah katup vakum. Katup tekan berfungsi untuk menyalurkan tekanan berlebih
dari uap air yang dibawa oleh aliran fluida.
Sedangkan katup vakum berfungsi untuk menyamakan tekanan ketika mesin
[Link] sistem pendingin membuat sendiri kondisi vakum dalam lingkungannya.
Katup ini akan membuka pada 0.6 – 0.9 kPa dibawah tekanan atmosfir.
4. Kipas.
Kipas pada system pendingin mesin berfungsi untuk menyerap panas dari sarang
tawon pada radiator dan mendinginkan permukaan mesin bagian luar. Kipas yang banyak
digunakan adalah kipas aksial.
Kipas ini ada yang digerakan oleh crankshaft karena menyatu dengan kompa air dan
ada juga yang digerakan oleh motor elektrik. Jumlah daun kipas yang banyak digunakan
adalah 4 – 7 daun. Sedangkan maksimum kecepatan dari kipas berkisar antara70–
100m/[Link] diameter dari kipas yang digunakan berkis arantara 0.25– 0.65 m.
5. Air
Zat fluida yang digunakan pada radiator ini adalah [Link] adalah salah satu
alat penukar kalor yang menggunakan air sebagai alat alat penukarnya.
Beberapa sifat air yang menguntungkan untuk digunakan pada radiator pada suhu 80 0C –
90 0C :
1. Konduktivitas termal (k) = 0,7 W/m 0C
2. Kerapatan(ρ) = 968,6kg/m3
3. Viskositas(μ) = 0,336Ns/m2
Selain itu penggunaan air cocok untuk iklim tropis dan tidak berbau. Perbedaan
temperatur yang tidak begitu besar antara suhu sekitar terhadap proses kerja mesin
menjadi satu pilihan yang tepat untuk radiator sebagai alat penukar kalor pada mesin
mobil.
2.6 Perpindahan panas radiator
Sesuai dengan tujuan dari penulisan ini, maka akan dibahas secara garis besar
tentang kemampuan melepas kalor dari radiator. Untuk jenis radiator yang digunakan
oleh segala jenis kendaraan yang digunakan di wilayah Indonesia, sudah ada ketentuan
yang berlaku.
Dalam hal ini Dewan Standarisasi Nasional (DSN) sudah memberikan batasan- batasan
mengenai kemampuan melepas kalor radiator yang dibuat di Indonesia. Batasan-batasan
tersebut adalah :
1. Kalor rambat adalah kalor yang dirambatkan oleh benda satu kebenda yang lain dan
dinyatakan dalam Joule per jam(J/h).
2. Kalor rambat air adalah jumlah kalor yang dilepaskan oleh air, dinyatakan dalam Joule
per jam(J/h).
3. Kalor rambat udara adalah jumlah kalor yang diserap oleh aliran udara di sekitar,
dinyatakan dalam Joule per jam(J/h).
4. Perbedaan temperatur pemasukan adalah perbedaan antara temperatur air masuk ke
dalam radiator dan temperatur udara yang akan mengalir kesarang tawon radiator, dan
dinyatakan dalam derajat Celcius(0C)
5. Aliran air adalah jumlah air yang mengalir kedalam radiator,dinyatakan dalam meter
per detik(m/s).
6. Kecepatan udara adalah udara yang mengalir dengan arah frontal kesarang tawon
radiator yang diuji dan dinyatakan dalam meter perdetik(m/s)
Dimana :
ρa = Massa jenis air pada temperatur air masuk (kg/m3) Va = Volume aliran air(m3/s).
2. Jumlah kalor yang diterima oleh udara pendingin:
Qu = mu x cpu x (tu2 – tu1) …..…(2.4 Perpindahan Kalor, J.P. Holman, 1988)
Dimana :
Qu = Jumlah kalor yang diterima oleh udara pendingin (kW).
mu = Massa udara yang mengalir (kg/min).
cpu = Kalor jenis udara (kJ/kg 0C).
tu1 = Temperatur udara keluar ( 0C).
tu2 = Temperatur udara masuk (0C).
sedangkan :
mu = Vu x ρu .............................(2.5 Perpindahan Kalor, J.P. Holman, 1988)
Dimana :
Dalam perencanaan alat penukar panas jenis radiator, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan sebagai bahan rujukan, antara lain :
1. Untuk mengalirkan air pada ruang dan daya yang terbatas maka dapat dipilih konstruksi
dengan menggunakan pipa gepeng (flattened tube). Karena dapat memperbesar luas aliran
dan turbulensi yang terbentuk lebih kecil sehingga dapat memperkecil adanya kehilangan
terkenan pada suatualiran.
2. Jumlah kalor yang dapat dipindahkan setiap satuan volume metrics sebagai funtgsi dari
daya untuk menghasilkan alirantersebut.
3. Spesifikasi radiator dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
Spesifikasi Performa atau Unjuk Kerja:
a. Jumlah panas yang dapat dilepaskan oleh radiator pada kondisi kecepatan udara,
kecepatan air (debit) dan beda temperatur (∆t) antara temperatur ruang bakar dan
temperatur air pada saat masuk. Dinyatakan dalam besaran kcal/jam atau kw. [Link]
Drop (airside).
Besarnya tahanan udara antara sisi sebelum udara melalui radiator, dengan sisi setelah
udara melewati radiator, dan dinyatakan dalam besaran mm Aq (mm H 2O).[Link]
Drop (water side).
Besarnya tahanan air antara pipa inlet dengan pipa outlet dan dinyatakan dalam besaran
mm Hg
d. Cap OpeningPressure.
Tekan bukaan cap assy, dinyatakan dalam kg/cm2.
e. TestPressure.
Besarnya tekanan udara yang diberikan oleh radiator saat dilakukan pulse test.
Dan dinyatakan dalam besaran kg/cm2.
f. VibrationDurability.
Batasan minimum kekuatan radiator yang diizinkan pada vibration test.
SpesifikasiKonstruksi.
Spesifikasi ini berkaitannya dengan kondisi fisik radiator :
a) Coresize yaitu ukuran core radiator dalam lebar (W)xtinggi(H)xtebal(D).
b) Fin pitch yaitu jarak antara puncak sirip.
c) Heat rejection area yaitu luas perpindahan panas padat abung dan sirip pendingin,
dinyatakan dalam m2.
d) Frontal area yaitu luas permukaan tegak lurus dengan aliran udara dan dinyatakan
dalam m2.
e) Sectional area of water path yaitu luas penampang aliran air dalam m2.
g) Water volume yaitu isi air atau fluida dari radiator, dalam liter.
h) Surface treatment yaitu jenis proses akhir bagi permukaan radiator, biasanya adalah
pengecatan seluruh bagian radiator dengan warna hitam.
BAB III
METODE
langkah yang telah tersusun secara sistematis seperti dalam diagram alir di bawah ini .
P e
ngujian terhadap radiator untuk
mengetahui hasil yang dinginkan memerlukan tiga tahap dalam pengujian yaitu :
1. Pengujian radiator keadaan dingin yang dilakukan setelah mesin dihidupkan selama 15
menit.
2. Pengujian radiator keadaan normal yang dilakukan setelah mesin dihidupkan selama
30menit.
3. Pengujian radiator keadaan panas yang dilakukan setelah mesin dihidupkan selama 50
menit.
Sebelum pengambilan data dilakukan studi pustaka untuk mendapatkan teori-
teori yang mendukung selama pengujian. Kemudian dilakukan persiapan alat-
alat yang digunakan dalam pengujian. Setelah alat dipersiapkan maka pengambilan data
dapat dilakukan.
Pengambilan data dimulai dengan memeriksa semua komponen- komponen alat uji
dalam keadaan baik seperti : Radiator, Air pendingin, Bahan
bakar (Bensin), minyak pelumas. Kemudian memasang kabel accu untuk start dan
memulai pengujian, pertama pengujian radiator keadaan dingin setelah mesin dihidupkan
selama 15 menit, yang kedua pengujian radiator keadaan normal setelah mesin
dihidupkan selama 30 menit dan yang ketiga pengujian radiator keadaan panas setelah
mesin dihidupkan selama 50menit.
Setelah pengujian pengukuran panas dari mesin diukur pada putaran 710 rpm –
4000 rpm, putaran poros diukur menggunakan tachometer yang sudah terdapat pada
panel. Hasil pembebanan dilihat pada neraca beban, lama aliran bahan bakar pada fuel
gauge diukur menggunakan [Link] putaran dinaikkan untuk mendapatkan
harga konsumsi bahan bakar spesifik dari harga –
harga tersebut dianalisis dan dibuat kesimpulan hasil akhir dari pengujian.
BAB IV
4.1. Dimensi Radiator
Pada perhitungan kalor yang digunakan radiator ini bagian yang terpenting
adalah luas dari pada core atau sarang tawon. Jenis dari sarang tawon yang digunakan
Ukuran radiator adalah panjang x lebar x tebal = W x H x D mm. Untuk jenis yang
4.2 Perhitungan Daya.
Sebelum memasuki perhitungan tentang radiator, maka perlu diketahui besar daya
Dimana :
P :Daya ( Watt)
N :Putaran ( rpm)
T :Torsi ( Nm)
F : Gaya ( N)
r : Jarak/lengan ( mm)
m :Masa ( kg )
g : Gravitasi ( m/s )
Jika diketahui : m = 80 kg
r = 30 cm
Setelah diketahui besarnya gaya yang bekerja (F) maka dapat dihitung besarnya tor
si yang bekerja, yaitu:
T Fxr
T 78,4x0,3
T = 23,52Nm
Setelah diketahui torsi yang bekerja(T) maka besarny ada yauntuk masing-masing
putaran adalah:
1. Putaran 710rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 710
60
P = 1.747 Watt
2. Putaran 1000rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x1000
60
P = 2.462 Watt
3. Putaran 1500rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x1500
60
P = 3.693 Watt
4. Putaran 2000rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 2000
60
P = 4.924 Watt
5. Putaran 2500rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 2500
60
P = 6.155 Watt
6. Putaran 3000rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 3000
60
P = 7.386 Watt
7. Putaran 4000rpm.
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 4000
60
P = 9.846 Watt
P 2NT
60
P 2 x 3,14x 3000
60
P = 7.386 Watt
N F T P
(rpm) (N) (N.m) (Watt)
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Di dalam analisa perhitungan di dapat bahwa semakin besar putaran mesin semakin besar
pula daya yang dihasilkan olehmesin.
2. Setelah dihitung besarnya daya yang berker jadi tiap-tiap kecepatan putaran mesin yang
berkerja maka didapat hasil perhitungan daya dengan besarnya kalor total yang dapat
dipindahkan dari radiator mendekati persamaan.
3. Dari data-data tersebut diatas maka fungsi dari radiator adalah sebagai peredam kalor
dan menjaga keadaan motor bakar pada suhu kerja ini dapat dicapai, oleh karena itu
pendingin pada motor bakar memegang peranan penting dalam proses kerja pada
motorbakar.
4. Penggunaan air pada radiator adalah alternatif paling tepat pada sistem pendingin suatu
motor bakar karena negara kita beriklim tropis dan mudah mendapatkan air maka
radiator menjadi pilihan utama para produsen mobil untuk digunakan pada motor bakar.
5.2 Saran
Saran dari penulis adalah tetap memperhatikan keadaan dari system pendingin
pada kendaraan yang digunakan, karena kebanyakan orang kurang memperhatikan hal
ini, panas yang dihasilkan oleh suatu motor bakar secara berlebih akan berakibat fatal
pada komponen di dalam mesin tersebut. Pemeriksaan secara rutin dan penanggulangan
secara dini merupakan cara yang tepat untuk menjaga sistem pendingin suatu motor
bakar, misalnya dengan mengganti air pada radiator setiap
sebulan sekali dan selalu mengontrol radiator setiap kali mesin akan digunakan. Sistem
pendingin suatu radiator berkaitan erat dengan system yang lain termasuk menjadikan
mesin menjadi lebih effisien dan tahan lama.
Saran untuk pengujian lebih lanjut adalah perlu dilakukan pengujian pada
berbagai kondisi beban dan juga pada kondisi operasi lain yang dapat mempengaruhi
laju pelepasan kalor dan untuk pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan penelitian
mengenai pengaruh pendinginan motor bakar terhadap komponen motor bakar.
DAFTAR PUSTAKA
ArendsB.P.M dan BerenscotH, (1980) MOTOR BENSI Jakarta: Erlangga.