Asuhan Kebidanan KPD ≤ 12 Jam di Puskesmas
Asuhan Kebidanan KPD ≤ 12 Jam di Puskesmas
H
DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM
DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG
TANGGAL 6 NOVEMBER 2020
Disusun Oleh :
Kelompok VI
Nama NIM
i
LEMBAR PERSETUJUAN
Tanggal ……………..
Disusun Oleh :
Kelompok VI
Mengetahui,
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Disusun Oleh:
Kelompok : VI
Pada tanggal.................2020
Menyetujui,
iii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan Hidayah-Nya sehingga laporan kelompok yang berjudul “
Asuhan Kebidanan Persalinan Patologis pada Ny “ H “ dengan Ketuban Pecah Dini
( KPD ) “ ≤ 12 jam di UPT BLUD Puskesmas Gerung dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki
laporan ini. Dengan terselesainya laporan ini, kami juga tak lupa menyampaikan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
Terimakasih kepada para pembimbing yang telah membimbing kami dalam praktik
ini, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini
iv
Gerung, 10 November
2020
Kelompok VI
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……...………………………………………………… i
LEMBAR PERSETUJUAN ………………………………………………. ii
LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………... iii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1
A. Latar Belakang Tindakan/Keterampilan …………………….. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………….. 2
C. Tujuan Tindakan/Keterampilan……………………………….. 2
D. Manfaat ……………………….………………………………... 3
BAB II TINJAUAN TEORI .………………………………………………... 5
A. Pengertian Persalinan ……………………………….……….. 5
B. Pengertian Persalinan Patologis.…………………………….. 8
C. Manajemen Asuhan Kebidanan …………………………….. 13
BAB III TINJAUAN KASUS ……..………………………………………... 18
BAB IV PEMBAHASAN …………………………………………………… 31
BAB IV PENUTUP …………………………………………………………. 37
A. Kesimpulan .……………………………………………………. 37
B. Saran …………………………………………………………… 38
DAFTAR PUSTAKA ………………….……………………………………. 39
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, di susul dengan
pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Wirakusumah, 2010).
KPD adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina sebelum proses
persalinan. Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti. Kejadian KPD
mendekati 10% dari semua persalinan pada umur kehamilan kurang dari 34
minggu, kejadian sekitar 4% kemungkinan di sebabkan karena berbagai jenis
faktor yaitu infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang abnormal,
inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam askorbat) pecahnya selaput
ketuban berkaitan erat dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam
faktor kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban (Prawirohardjo, 2009).
Menurut World Health Organization (WHO), indicator kesejahteraan suatu
Negara salah satunya di ukur dari besarnya angka kematian ibu (AKI). AKI
yaitu banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian yang
berkaitan dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama
kehamilan, melahirkan dan nifas (42 hari setelah melahirkan). Berdasarkan
SDKI 2012 angka kematian ibu di Indonesia sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu di NTB tahun 2012 sebesar
251 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota,
jumlah kasus kematian ibu di Provinsi NTB selama tahun 2017 adalah 85
kasus, menurun dibandingkan tahun 2016 dengan 92 kasus.
1
Jika ibu hamil terinfeksi, maka janin yang di kandungnya akan
mempunyai resiko terkena infeksi. Salah satu infeksi dalam persalinan yang
menyebabkan komplikasi pada persalinan adalah ketuban pecah dini (KPD)
(Saefudin, 2000). KPD adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina
sebelum proses persalinan. Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti.
Kejadian KPD mendekati 10% dari semua persalinan pada umur kehamilan
kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4% kemungkinan di sebabkan karena
berbagai jenis faktor yaitu infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban
yang abnormal, inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam askorbat)
pecahnya selaput ketuban berkaitan erat dengan perubahan proses biokimia
yang terjadi dalam faktor kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban
(Prawirohardjo, 2009).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis
mencoba merumuskan permasalahan dalam laporan kasus yaitu
”Bagaimana asuhan kebidanan pada ibu bersalin Ny. H usia 26
tahun G2P1A0 usia kehamilan 39-40 minggu dengan Ketuban
2
Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD
Puskesmas Gerung Tahun 2020”.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mempelajari, memahami, dan menerapkan Asuhan kebidanan
pada ibu bersalin dengan KPD di UPT BLUD Puskesmas Gerung
Tahun 2020
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengumpulan data dasar subyektif dan objektif pada
kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan
39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di
Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
b. Melakukan interpretasi data klien meliputi diagnosa, masalah dan
kebutuhan pada kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1
usia kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
c. Menentukan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus
dilakukan bidan dari kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun
G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah
Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
Gerung.
d. Melakukan kebutuhan/tindakan segera pada konsultasi, kolaborasi,
merujuk kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia
kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12
Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
[Link] rencana asuhan kebidanan pada kasus ibu
bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang
Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
3
e. Melakukan intervensi pelaksanaan tindakan pada kasus ibu
bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang
Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
f. Melakukan evaluasi dan efektivitas asuhan kebidanan yang di
berikan dan memperbaiki tindakan yang di pandang perlu pada
kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan
39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di
Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
D. Manfaat
1. Secara teoritis
2. Secara praktis
a. Bagi Pasien
Untuk menambah wawasan/pengetahuan mengenai KPD, serta
cara untuk mendeteksi secara dini dan di harapkan dapat
meningkatkan fasilitas kesehatan untuk mendapat asuhan yang
komprehensif.
4
Dapat menambah kepustakaan dan wacana khususnya tentang
ibu bersalin, yang termasuk dalam mata kuliah program studi
kebidanan.
d. Bagi Bidan
e. Bagi Penulis
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Persalinan
a. Pengertian Persalinan
1) Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi
(Janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(Manuaba, 2010)
2) Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah
kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran
bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi
kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui
jalan lahir (baik jalan lahir lunak maupun kasar),
dengan tenaga ibu sendiri (tidak ada intervensi dari
luar) (Winkjosastro, 2008).
6
c. Faktor Yang Berpengaruh Pada Persalinan Menurut Hidayat
& Sujianti, 2009 yaitu
a) Power atau tenaga yang mendorong bayi
Adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang
terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran
dari [Link] merupakan tenaga primer atau kekuatan
utama yang di hasilkan oleh adanya kontraksi dan
retraksi otot – otot rahim.
2) Flexion (fleksi)
7
merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi
kepala dengan bentuk jalan lahir.
4) Extension
Setelah putar paksi selesai dan kepala sampai dasar
panggul maka terjadi extensi atau defleksi dari kepala,
karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan dan atas sehingga kepala harus
mengadakan extensi untuk melaluinya.
6) Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah
simfisis dan menjadi hypomochilion untuk melahirkan
bahu belakang kemudian bahu depan menyusul seluruh
badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.
e. Kala Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :
8
Kala pembukaan dibagi atas 2 fase :
9
[Link] saat kemudian, timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5 – 10 menit, seluruh
plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan
lahir spontan atau dengan sedikt dorongan dari atas
simpisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran
plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100
– 200 cc.
4) Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah
bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu,
terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.
Lamanya persalinan primi sekitar 14 ½ jam, pada multi
7 ¾ jam
2. Persalinan Patologi
a. Pengertian
Persalinan patologis adalah persalinan dengan komplikasi
(Sarwono, 2010)
10
3) Persalinan dengan Preeklamsi atau Eklamsi
Persalinan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik
lebih dari 140/90 mmhg dengan di sertai ciri – ciri
protein urin (+) dan oedema di seluruh tubuh.
4) Persalinan lama
Adalah persalinan yang abnormal atau sulit yang di
sebabkan karena kelainan his, kelainan janin, ataupun
kelainan jalan lahir.
6) Persalinan Preterm
11
ada tanda- tanda persalinan (Wiknjosastro, 2007).
b. Etiologi
Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti. Kejadian
KPD mendekati 10% dari semua persalinan pada umur
kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4%
kemungkinan di sebabkan karena berbagai jenis faktor yaitu
infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang
abnormal, inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam
askorbat) pecahnya selaput ketuban berkaitan erat dengan
perubahan proses biokimia yang terjadi dalam faktor
kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban (Manuaba,
2010).
12
(PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membrane bagian bawah.
6) Keadaan social ekonomi
7) Faktor
lain :
a) Faktor golongan darah, akibat golongan darah ibu
dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan
kulit ketuban.
b) Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
c) Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan
antepartum.
d) Defisiensi gizi daritembaga atau asamaskorbat (vitamin C).
13
menetes, dengan cirri pucat dan bergaris warna darah.
d. Diagnosa
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena
diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti
melahirkan bayi terlalu awal atau melakukan seksio sesarea yang
sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif
palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai risiko
infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu, dan keduanya.
Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa
KPD ditegakkan dengan cara :
1) Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan
cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna
keluarnya cairan tersebut, his belum teratur atau belum ada,
dan belum ada pengeluaran lendir darah.
2) Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa, akan tampak keluarnya cairan
dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban
masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
14
mengejan atau mengadakan manuver valsava, atau bagian
terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium
uteri dan terkumpil pada fornik anterior.
4) Pemeriksaan dalam
Di dalam vagina didapati cairan dan selaput ketuban
sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam
dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam
persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam.
Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa
akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan
flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut
bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan
dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah
dalam persalinan atau yang dilakukan induksi
persalinan dan dibatasi sedikit mungkin (Nugroho,
2010). Vaginal Touche (VT) tidak dianjurkan kecuali
pasien diduga inpartu. Hal ini VT akan meningkatkan
insidensi korioamnionitis, postpartum endometritis dan
infeksi neonatus. Selain itu juga memperpendek
periode laten (waktu dari ruptur hingga terjadinya
proses persalinan). (Tanto, 2014); (Nugroho, 2012);
(Norma, 2013); (Sujiyatini, 2009)
5) Pemeriksaan USG
Ditemukan volume cairan amnion yang berkurang /
oligohidramnion, namun dalam hal ini tidak dapat
dibedakan KPD sebagai penyebab oligohidramnion
dengan penyebab lainnya.
6) Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi, kriteria
laboratorium yang digunakan antara lain:
15
a. Adanya Leukositosis maternal (lebih dari
15.000/uL), adanya peningkatan C-reactive protein
cairan ketuban serta amniosentesis untuk
mendapatkan bukti yang kuat (misalnya cairan
ketuban yang mengandung leukosit yang banyak
atau bakteri pada pengecatan gram maupun pada
kultur aerob maupun anaerob).
e. Penatalaksanaan
KPD termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi.
Kesalahan dalam mengelola KPD akan membawa akibat
meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun
bayinya. Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi sebagian
besar ahli kebidanan. Kasus KPD yang cukup bulan, kalau
segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi
16
bedah sesarea, dan kalau menunggu persalinan spontan
akan menaikkan insidensi korioamnionitis.
1) Konservatif
Penatalaksanaan konservatif meliputi pemeriksaan leukosit tiap
hari, tanda-tanda vital tiap 4 jam, pantau DJJ, pemberian
antibiotik tiap 6 jam. Adapun tatalaksananya :
17
a) Rawat di rumah sakit.
b) Berikan antibiotic : Bila ketuban pecah > 6 jam
(ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tidak
tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg
selama 7 hari).
c) Umur kehamilan < 32 - 34 minggu, dirawat selama
air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban
tidak lagi keluar.
d) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, belum inpartu,
tidak ada infeksi, tes busa negatif beri
deksametason, observasi tanda- tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37
minggu.
e) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, sudah inpartu,
tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol),
deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
f) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, ada infeksi,
beri antibiotik dan lakukan induksi.
g) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-
tanda infeksi intrauterin).
h) Pada usia kehamilan 32 - 37 minggu berikan steroid untuk
memacu kematangan paru janin, dan bila memungkinkan
periksa kadar lesitin dan spingomielintiap minggu. Dosis
betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari,
deksametason I.M. 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
2) Aktif
18
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 [Link] ada tanda-tanda
infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri.
b. Manajemen Kebidanan
Mananjemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah
dalam melaksanakan asuhan, yang digunakan oleh bidan sebagai
satu metode pengaturan atau pengorganisasian antara pikiran dan
tindakan dalam urutan yang logis dalam memberi
asuhan(Mandriwati, 2012).Manajemen kebidanan menurut Varney
terdiri dari 7 langkah yaitu : pengumpulan data dasar, interpretasi
data dasar, mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial,
mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan
penanganan segera, merencanakan asuhan yang
menyeluruh,melaksanakan perencanaan, kemudian evaluasi
(Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati, 2009).
19
a. Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan
mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk
mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu riwayat
kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya,
meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya,
meninjau data laboratorium dan membandingkannya
dengan hasil studi (Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati,
2009).
20
Diagnosa tersebut berupa pendalaman masalah yang
dialami oleh klien, dalam hal ini dilakukan diagnosa tentang
apa itu KPD dan apa penyebab terjadinya KPD. Selanjutnya
dapat di simpulkan bahwa klien tersebut benar mengalami
KPD.
21
e. Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang
menyeluruh, ditentukan langkah-langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau
antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya
meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau
dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi terhadap klien tersebut seperti apa yang
diperkirakan akan terjadi berikutnya.
Dengan perkataan lain asuhan terhadap klien tersebut
sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua
aspek asuhan, setiap rencana asuhan harus disetujui oleh
kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat
dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian
dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu pada
langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan
terhadap klien sesuai dengan pembahasan rencana bersama
klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum
melaksanakan tindakan pada kasus KPD.
22
g. Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan meliputi pemenuhan keburuhan akan
bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah di identifikasi didalam masalah
dan diagnosis. Evaluasi mencakup jangka pendek, yaitu
sesaat setelah intervensi dilaksanakan, dan jangka panjang
yaitu menunggu proses sampai kunjungan
berikutnya/kunjungan ulang. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksaannya
(Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati, 2009).
23
A = Assesment : Menggambarkan pendokumentasian hasil
analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu
identifikasi diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan.
24
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS PADA NY. H
DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM
DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG
2) Alasan Kunjungan
Tanggal 6 November 2020 pukul 03.00 Ny. H usia 26 tahun
G2P1A0 usia kehamilan 39-40 minggu dengan KPD 12 jam
25
4) Riwayat Menstruasi
5) Tanda – tanda
Persalinan
Belum ada.
6) Pengeluaran Pervaginam
Riwayat
Jenis BBL
Hamil UK Tempat Penolong penyulit
persalin Ket
ke (bln) persalinan persalinan BB J Umur
an H P N
(gr) K (thn)
I aterm RSP3 Bidan Spontan taa taa taa 2690 P 3,5 th Hidup
ini
8) Riwayat
Kehamilan
HPHT : 5 Februari 2020
26
Usia kehamilan menurut ibu : 9 Bulan
persalinan.
27
9) Riwayat Keluarga Berencana
28
Tempat rujukan jika ada komplikasi di Rumah Sakit Patut Patuh
Patju.
a. Nutrisi Terakhir
b. Istirahat Terakhir
c. Eliminasi Terakhir
29
d. Personal hygiene
e. Aktivitas terakhir
g. Kebiasaan Hidup
B. DATA OBJEKTIF
1) Pemeriksaan Umum
30
e) Berat Badan Sekarang : 52 kg BB sebelum hamil : 44 kg
f) Lingkar Lengan Atas : 20,1 cm
2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Muka : bersih, tidak pucat, tidak ada chloasma
gravidarum.
Mata : simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih.
Mulut/Gigi : bersih, tidak ada sariawan, tidak ada gigi
berlubang.
b) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
maupun
kelenjar tyroid dan tidak ada bendungan vena
jugularis.
c) Payudara : simetris, bersih, ada hiperpigmentasi areola, puting
susu
menonjol, kolostrum sudah keluar dan tidak
ada
benjolan abnormal.
d) Abdomen
Pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilan, terdapat
striae
gravidarum, terdapat linea nigra dan tidak ada bekas operasi.
31
kecil janin pada perut sebelah
kiri
(ekstremitas).
Leopold III : teraba bulat, keras, melenting, kepala
janin
sudah tidak bisa digoyang.
Leopold IV : divergen, bagian bawah janin sudah
masuk
PAP, penurunan kepala 4/5 bagian.
TFU [Link] : 31 cm
Taksiran berat janin : (31-11) x 155 = 3100 gram.
DJJ : 144 x/menit, irama teratur 12-12-12
Punctum maximum : kuadran kanan bawah pusat.
32
4) Pemeriksaan Penunjang (melihat di buku KIA)
a. Urine
Tgl. 26 - 10 – 2020
1. Protein Urine : negative (-)
2. Glukosa Urine : negative (-)
b. Darah
Tgl. 5 - 5 - 2020
1. Hb : 11,1gr%
2. Golongan darah :O
3. HIV : negative (-)
4. HBSAG : negative (-)
5. Sifilis : negative (-)
Tgl. 26 – 10 – 2020
1. Hb : 11,3 gr%
33
II. INTERPRETASI DATA
a. Diagnosa Kebidanan
G2P1A0H1 UK 39-40 minggu T/H/IU Preskep K/U ibu dan janin baik
dengan KPD ≤ 12 jam
Data Subyektif:
Data Obyektif:
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. Vital Sign :
Tekanan darah : 110/70 mmHg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 x/menit Respirasi : 22 x/menit
4. Palpasi Abdomen:
Leopold I : TFU berada di pertengahan proccesus
xypoid dan umbilikus, teraba bulat, lunak, tidak melenting
(bokong janin).
TFU [Link] : 31 cm
34
DJJ : 144 x/menit teratur.
tidak ada.
b. Masalah
c. Kebutuhan
35
jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan bayi
menjadi kernikterus, sehingga bayi mengalami sepsis
neonatorum.
V. RENCANA TINDAKAN
Tanggal : 6 - 11 - 2020
36
9. Lakukan dokumentasi asuhan kebidanan persalinan patologis
dengan manajemen varney
10. Lakukan persiapan merujuk pasien ke RSP3 yaitu BAKSOKUDA
antara lain :
a. Bidan (B) : Pastikan ibu didampingi tenaga kesehatan
salah satunya Bidan
b. Alat (A) : Bawa perlengkapan yang diperlukan seperti
spuit, infus set, partus set, tensimeter, dan stetoskop
c. Keluarga (K) : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu
dan alasan ia di rujuk
d. Surat (S) : Beri surat ke tempat rujukan berisi identifikasi
ibu, alas an rujukan, asuhan dan obat-obatan yang telah
diterima ibu
e. Obat (O) : Bawa obat-obat esensial yang diperlukan
selama perjalanan merujuk
f. Kendaraan (K) : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
ibu dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat
rujukan dalam waktu yang cepat
g. Uang (U) : Ingatkan keluarga untuk membawa uang
dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan
keseharan yang diperlukan di tempat rujukan seperti BPJS
h. Darah (DA) : Siapkan darah untuk sewaktu-waktu
membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan
VI. PELAKSANAAN
Tanggal : 6 - 11 - 2020
37
2. Melakukan informed consent kepada ibu dan keluarga, yang
berisi persetujuan atas segala tindakan medis yang akan
dilakukan untuk menolong kelahiran bayi
3. Melakukan advice Dokter Jaga yaitu :
a. Memasang infus RL 1 flash 20 tpm yang ke-2
b. Memberikan injeksi Ampicilin 500 mg secara IV yang ke-2
4. Memberi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu
dengan menghadirkan keluarganya, sesuai protokol kesehatan saat
pandemi Covid-19 saat ini pasien dapat ditemani hanya dengan 1
orang pendamping yaitu suaminya
5. Menganjurkan pada ibu makan dan minum untuk tenaga ibu dalam
pemenuhan nutrisi, karena saat ini disamping pemenuhan nutrisi
melalui infus, ibu juga butuh pemenuhan nutrisi dari makan dan
minum untuk menggantikan cairan yang hilang, yaitu pemenuhan
input dan output nutrisi ibu dan janin
6. Memberitahu ibu untuk bed rest ditempat tidur dan menganjurkan
ibu tidur miring kiri atau kanan, agar tidak menyebabkan tali pusat
menumbung yang disebabkan karena adanya gaya gravitasi yang
akan menekan tali pusat untuk keluar dan terdorong oleh cairan
ketuban
7. Mengobservasi kesejahteraan ibu dan janin
Catatan perkembangan berisi observasi nadi, DJJ, his setiap 1 jam,
suhu setiap 2 jam dan tekanan darah setiap 4 jam
8. Melakukan observasi kemajuan persalinan dengan menghitung his
(kontraksi)
9. Melakukan dokumentasi asuhan kebidanan persalinan patologis
dengan manajemen varney
10. Melakukan persiapan untuk merujuk pasien yaitu BAKSOKUDA :
a. Bidan (B) : memastikan ibu didampingi tenaga kesehatan
salah satunya Bidan
38
b. Alat (A) : membawa perlengkapan yang diperlukan
seperti spuit, infus set, partus set, tensimeter, dan stetoskop
c. Keluarga (K) : memberitahu keluarga tentang kondisi terakhir
ibu dan alasan ia di rujuk
d. Surat (S) : memberi surat ke tempat rujukan berisi
identifikasi ibu, alas an rujukan, asuhan dan obat-obatan yang
telah diterima ibu
e. Obat (O) : membawa obat-obat esensial yang diperlukan
selama perjalanan merujuk
f. Kendaraan (K) : menyiapkan kendaraan yang cukup baik
untuk ibu dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai
tempat rujukan dalam waktu yang cepat
g. Uang (U) : mengingatkan keluarga untuk membawa uang
dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan
keseharan yang diperlukan di tempat rujukan seperti BPJS
h. Darah (DA) : menyiapkan darah untuk sewaktu-waktu
membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan
Lembar Observasi
Pengeluara
n
Tgl/ HIS DJJ TTV Keluhan
pervagina
Jam
m
Fre La Inte +/ Iram
Frek TD N S
k ma ns - a
(08.00) 15” 1x lema + 144 terat - 82 - Keluar air Ibu tidak ada
10’ h ur jernih mengeluh
merembes
(09.00) - - - + 136 terat - 81 36,5 Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh
39
sedikit
(10.00) - - - + 136 terat - 80 - Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh
sedikit
(11.00) - - - + 140 terat 110/ 81 36,6 Keluar air Ibu tidak ada
ur 70 jernih mengeluh
sedikit
(12.00) - - - + 144 terat - 81 - Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh
sedikit
VII. EVALUASI
Evaluasi I
Tanggal : 6 - 11 - 2020
Pukul : 12.00 WITA
1. Ibu dan keluarga sudah mengerti hasil pemeriksaan keadaan
umum baik, kesadaran compos mentis, tekanan darah: 110/70
mmHg, suhu 36,6 ºC, nadi : 81 x/menit, respirasi : 22 x/menit, DJJ
(+) teratur 12-12-12, dan tidak ada kemajuan persalinan. Hasil
pemeriksaan keseluruhan tidak menunjukkan infeksi yaitu tidak
ada tanda-tanda infeksi seperti dolor(nyeri), kalor(panas),
tumor(bengkak), rubor(kemerahan), dan fungsio laesa(perubahan
fungsi jaringan)
2. Suami sudah mengerti dan menandatangani informed consent.
3. Advice dokter telah dilakukan yaitu pemasangan infus yang ke-2
dan injeksi amphisilin yang ke-2
4. Ibu tampak segar, murah senyum, dan dapat lebih responsif saat
ditanya bidan
40
5. Ibu sudah makan dengan jenis nasi, sayur, dan tahu goreng porsi
sedang dan minum air putih 2 gelas sehingga sudah tercukupi
nutrisi ibu dan janin dan terpenuhinya mekanisme input dan output
nutrisi ibu dan janin
6. Ibu sudah melakukan istirahat total di tempat tidur dan juga sudah
melakukan miring kiri/kanan secara berkala sehingga tidak ada tali
pusat menumbung
7. Dokumentasi sudah dilakukan sesuai asuhan kebidanan
persalinan patologis dengan manajemen varney
Evaluasi II
Tanggal : 6 - 11 - 2020
Pukul : 13.00 WITA
1. Persiapan merujuk sudah siap sesuai BAKSOKUDA yaitu :
a. Bidan (B) : pasien didampingi bidan
b. Alat (A) : perlengkapan yang diperlukan sudah dibawa
c. Keluarga (K) : keluarga sudah mengetahui bahwa pasien akan
dirujuk
d. Surat (S) : sudah memberi surat ke tempat rujukan
e. Obat (O) : obat-obat esensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk sudah dibawa
f. Kendaraan (K) : pasien diantarkan menggunakan ambulance
puskesmas
g. Uang (U) : keluarga sudah membawa BPJS dan sudah
membawa uang di dompet
h. Darah (DA) : golongan darah yang sama dengan pasien adalah
suaminya
2. Pasien telah diterima di rumah sakit rujukan yaitu Rumah Sakit Patut
Patuh Patju Gerung pada pukul 13.10 WITA
41
42
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini, kelompok akan menjelaskan kesenjangan yang terjadi
antara teori yang ada dengan praktik yang dilakukan di lahan. Pembahasan ini
dibuat dengan maksud agar dapat diambil suatu kesimpulan dan pemecahan
masalah dari kesenjangan yang terjadi sehingga dapat digunakan sebagai tindak
lanjut dalam penerapan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin
dengan ketuban pecah dini.
Pada bab ini akan diuraikan tentang kesenjangan yang terjadi dalam
penerapan proses asuhan kebidanan intranatal care pada Ny “ H “ G 2P1A0H1 UK 39-
40 minggu T/H/IU preskep k/u ibu dan janin baik dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
< 12 jam. Pembahasan ini disusun berdasarkan teori dengan asuhan yang diberikan
berdasarkan pendekatan manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh
langkah ( VARNEY ).
43
didapatkan hasil belum terjadi pembukaan serviks ( VT 0cm, eff 0%, ket – ( jernih ),
preskep, denom belum terlihat, belum terjadi penurunan kepala, ttb bag kec janin/
tali pusat ). Dilanjutkan pemantauan DJJ 144x/menit , his 0 kali/ 10 menit.
Selain itu, data yang didapatkan dari hasil pemeriksaan tes lakmus di
Puskesmas Gerung yaitu kertas lakmus berubah menjadi biru, yang menandakan
pelepasan air yang keluar yaitu air ketuban ibu.
Pada langkah pertama, kelompok tidak mendapatkan kesenjangan antara
teori dan kasus yang terjadi di lapangan.
44
data yang didapatkan, maka kelompok menyimpulkan bahwa diagnosa yang
dinyatakan yaitu KPD.
Namun, diagnosis KPD secara tepat sangat penting untuk menentukan
penanganan selanjutnya. Cara-cara yang dipakai untuk menegakkan diagnosis
KPD, yakni berikut :
1. Anamnesis
Pasien merasakan adanya cairan yang keluar secara tiba-tiba dari jalan lahir
atau basah pada vagina. Cairan ini berwarna bening dan pada tingkat lanjut
dapat disertai mekonium.
2. Pemeriksaan inspekulo Terdapat cairan ketuban yang keluar dari kanalis
servikalis, pada tingkat lanjut ditemukan cairan amnion yang keruh dan
berbau.
3. Pemeriksaan USG Ditemukan volume cairan amnion yang berkurang /
oligohidramnion, namun dalam hal ini tidak dapat dibedakan KPD sebagai
penyebab oligohidramnion dengan penyebab lainnya.
4. Pemeriksaan Laboratorium Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi,
kriteria laboratorium yang digunakan adalah :
a. adanya Leukositosis maternal (lebih dari 15.000/uL), adanya peningkatan
C-reactive protein cairan ketuban serta amniosentesis untuk
mendapatkan bukti yang kuat (misalnya cairan ketuban yang
mengandung leukosit yang banyak atau bakteri pada pengecatan gram
maupun pada kultur aerob maupun anaerob).
b. Tes lakmus (Nitrazine Test) merupakan tes untuk mengetahui pH cairan,
di mana cairan amnion memiliki pH 7,0-7,5 yang secara signifikan lebih
basa daripada cairan vagina dengan pH 4,5-5,5. jika kertas lakmus
merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban.
Normalnya pH air ketuban berkisar antara 7-7,5. Namun pada tes ini,
darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan positif palsu.
c. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah Tes Fern. Untuk
melakukan tes, sampel cairan ditempatkan pada slide kaca dan dibiarkan
kering. Pemeriksaan diamati di bawah mikroskop untuk mencari pola
45
kristalisasi natrium klorida yang berasal dari cairan ketuban menyerupai
bentuk seperti pakis.
Dari pengkajian, kelompok menemukan kesenjangan antara teori dan praktik.
Untuk menegakkan diagnosa pada Ny “H” yang hanya dilakukan yakni
anamnesis,pemeriksaan dalam, dan tes lakmus untuk memastikan cairan yang
keluar adalah ketuban.
46
pada jam 03.05 WITA, dan pemberian antibiotic amphicilin 1 gr/IV pada jam 03.10
WITA
Dilakukan pemeriksaan dalam jam 03.00 WITA yang di dapatkan hasil
belum terjadi pembukaan serviks ( VT 0cm, eff 0%, ket – ( jernih ), preskep, denom
belum terlihat, belum terjadi penurunan kepala, ttb bag kec janin/ tali pusat ).
Dilanjutkan pemantauan DJJ 144x/menit , his 0 kali/ 10 menit.
Menurut (Tanto, 2014); (Nugroho, 2012); (Norma, 2013); (Sujiyatini, 2009) :
Vaginal Touche (VT) tidak dianjurkan kecuali pasien diduga inpartu. Hal ini VT akan
meningkatkan insidensi korioamnionitis, postpartum endometritis dan infeksi
neonatus. Selain itu juga memperpendek periode laten (waktu dari ruptur hingga
terjadinya proses persalinan). Dalam kasus ini tidak ada perbedaan yang ditemukan
antara teori dan tindakan yang diberikan pada Ny “H” dan tetap mengacu pada
tindakan yang sesuai kebutuhan klien.
47
E. Langkah V Perencanaan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosis kebidanan dan
masalah potensial yang akan terjadi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh
kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan
efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut.
Pada studi kasus Ny “H”, penulis merencanakan tindakan asuhan kebidanan
berdasarkan diagnosa/ masalah serta berdasarkan diagnosa potensial yang akan
terjadi, rencana tersebut yaitu :
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Jelaskan pada ibu tentang kondisi ibu sekarang
3. Lakukan informed consent kepada ibu dan keluarga, persetujuan atas
segala tindakan medis yang akan dilakukan pada ibu
4. Lakukan advice dokter obgyne
5. Beri dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu
6. Anjurkan ibu untuk makan dan minum untuk tenaga ibu ketika mengejan
7. Beritahu ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan anjurkan tidur miring
kanan/kiri
8. Lakukan dokumentasi dan observasi kesejahteraan ibu dan janin
9. Lakukan observasi kemajuan persalinan
Dalam rencana tindakan asuhan kebidanan pada kasus Ny “H”, tidak terdapat
kesenjangan
antara teori dengan kasus yang ada dilapangan.
F. Langkah VI Pelaksanaan
Semua rencana yang ditentukan telah dilaksanakan seluruhnya dengan
menyesuaikan kondisi, keadaan dan kebutuhan ibu, dan tentunya dilaksanakan
dengan menerapkan protocol kesehatan dimasa pandemi covid-19 ini yang
dilaksanakan pada tanggal 06 November 2020 di Ruang VK UPT BLUD Puskesmas
Gerung dalam menangani persalinan dengan KPD yaitu memberitahu ibu hasil
pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan janin baik, menjelaskan pada ibu tentang
48
kondisi ibu sekarang, melakukan informed consent kepada ibu dan keluarga untuk
persetujuan atas segala tindakan medis yang akan dilakukan pada ibu untuk
menolong kelahiran bayi, melakukan advice dokter obgyne ( memasang infuse RL
secara IV, memberikan injeksi amphicilin 1 gr secara IV dengan skintest ( IC )
terlebih dahulu untuk mengetahui pasien alergi terhadap terapi yang diberikan ),
memberi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu, menganjurkan ibu
untuk makan dan minum untuk tenaga ibu ketika mengejan, memberitahu ibu untuk
istirahat total ditempat tidur dan anjurkan tidur miring kanan/kiri, melakukan
dokumentasi dan observasi kesejahteraan ibu dan janin ( catatan perkembangan
berisi observasi nadi, DJJ, HIS setiap 1 jam, tekanan darah dan pemeriksaan dalam,
serta suhu ), melakukan observasi kemajuan [Link] tidak
menemukan hambatan, karena adanya kerjasama dan penerimaan yang baik dari
klien dan keluarga serta dukungan, bimbingan dan asuhan dari pembimbing dilahan
praktek.
49
keluarganya, sehingga memperlancar proses asuhan. Sehingga tidak ditemukan
kesenjangan.
50
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan apa yang penulis dapatkan dalam presentasi kasus
dan pembahasan dalam manajemen kebidanan pada ibu bersalin Ny. H
usia 26 tahun G2P1A0 usia kehamilan 40 minggu dengan Ketuban
Pecah Dini (KPD) 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
Gerung Tahun 2020, maka penulis mampu mengambil kesimpulan yaitu :
1. Penulis melakukan pengkajian ibu bersalin dengan KPD melalui
anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam serta dilakukan
pemeriksaan penunjang. Setelah dilakukan anamnesa diperoleh data
bahwa pasien bernama Ny. H berumur 26 tahun, mengatakan
ketubannya rembes sejak pukul 00.50 WIB. Pada genetalia keluar
cairan dari jalan lahir, pemeriksaan dalam ditemukan pembukaan
tidak ada.
2. Berdasarkan data perkembangan pada kasus ini, dapat ditegakkan
diagnosa kebidanan Ny. H usia 26 tahun G2P1A0 usia kehamilan 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) 12 Jam. Masalah yang
muncul adalah kecemasan pasien terhadap kondisi janinnya.
Kebutuhan yang diperlukan pasien berupa dukungan emosional baik
dari tenaga kesehatan maupun keluarga.
51
kecemasan ibu, anjurkan pada ibu makan dan minum, beritahu ibu
untuk bed rest total di tempat tidur, anjurkan ibu untuk BAK dan BAB
dengan pispot, siapkan perlengkapan ibu dan bayi, siapkan partus
set, alat resusitasi, dan perlengkapan persalinan, lakukan
pengawasan kala 1 dengan partograf.
6. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah
dibuat.
7. Evaluasi dari asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. H adalah
ibu telah bersalin dengan selamat dan bayi sehat, keadaan ibu dan
bayi baik, tidak ada tanda – tanda infeksi sehingga ibu diperbolehkan
pulang.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis akan memberikan
saran antara lain :
1. Perlu adanya peningkatan dan pemahaman dalam deteksi dini ibu
bersalin yang potensial mengalami KPD sehingga pada waktu
persalinan hal-hal yang fatal dapat dihindari.
2. Perlu adanya peningkatan dan pengetahuan ibu tentang faktor resiko
pada KPD untuk mencegah terjadinya infeksi.
3. Perlu dipertahankan dalam melakukan pertolongan persalinan sesuai
dengan SOP yang ada di rumah sakit dan melaksanakan asuhan
sayang ibu agar klien merasa nyaman dalam menghadapi persalinan.
52
DAFTAR PUSTAKA
Antonius. 2007. Perawatan Ketuban Pecah Dini. Jakarta : Muha Medika
Ambarwati, R, dan Wulandari, D. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendika :
Yogyakarta
Manuaba, Ida Bagus Gede. Dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. EGC: Jakarta
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. ANDI:
Yogyakarta
53
Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Salemba Medika:
Jakarta
Varney, Helen dan Jan [Link], Carolyn [Link]. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 4 Volume 1. EGC: Jakarta
Varney, Helen dan Jan [Link], Carolyn [Link]. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 4 Volume 2. EGC: Jakarta
54