0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan60 halaman

Asuhan Kebidanan KPD ≤ 12 Jam di Puskesmas

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan ketuban pecah dini di puskesmas 2. Ibu bersalin bernama Ny. H usia 26 tahun dengan kehamilan 39-40 minggu 3. Tujuan laporan adalah mempelajari asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan kondisi tersebut

Diunggah oleh

Santhi Devi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan60 halaman

Asuhan Kebidanan KPD ≤ 12 Jam di Puskesmas

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan ketuban pecah dini di puskesmas 2. Ibu bersalin bernama Ny. H usia 26 tahun dengan kehamilan 39-40 minggu 3. Tujuan laporan adalah mempelajari asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan kondisi tersebut

Diunggah oleh

Santhi Devi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS PADA NY.

H
DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM
DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG
TANGGAL 6 NOVEMBER 2020

Disusun Oleh :

Kelompok VI

Nama NIM

1. I Gusti Ayu Dewi Purwani P07124018017


2. Kadek Indah Santhi Devi P07124018021
3. Yuliana P07124017056
4. Ng. Pradnya Paramita D P07124018079
5. Ni Kadek Puspa Yanti P07124018080
6. Rizka Padmi Putri P07124017032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKKES KEMENKES MATARAM JURUSAN KEDBIDANAN
PRODI D- III KEBIDANAN
TAHUN AKADEMIK 2020

i
LEMBAR PERSETUJUAN

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS PADA NY. H

DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM

DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG

TANGGAL 6 NOVEMBER 2020

Laporan Kelompok Prakktik Klinik Kebidanan II

Telah Memenuhi Persyaratan Dan Disetujui

Tanggal ……………..

Disusun Oleh :

Kelompok VI

Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lahan

Irmayani, SSiT., [Link] Ni Nyoman Sri Sukarti, Amd., Keb

ii
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS PADA NY. H

DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM

DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG

TANGGAL 6 NOVEMBER 2020

Disusun Oleh:

Kelompok : VI

Telah diseminarkan di depan pembimbing

Pada tanggal.................2020

Menyetujui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lahan

Irmayani, SSiT., [Link] Ni Nyoman Sri Sukarti, Amd., Keb

Ketua Jurusan Kebidanan

Syajaratuddur Faiqah, SST., M. Keb


NIP 197608031003122002

iii
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan Hidayah-Nya sehingga laporan kelompok yang berjudul “
Asuhan Kebidanan Persalinan Patologis pada Ny “ H “ dengan Ketuban Pecah Dini
( KPD ) “ ≤ 12 jam di UPT BLUD Puskesmas Gerung dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki
laporan ini. Dengan terselesainya laporan ini, kami juga tak lupa menyampaikan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Ns. H. Hasmuni Budiawan, [Link] (Selaku Pemimpin UPT BLUD Puskesmas


Gerung)
2. H. Awan Dramawan, [Link].,[Link] (Selaku Direktur Poltekkes Mataram)
3. Syajaratuddur Faiqah, SSiT.,[Link] (Selaku Ketua Jurusan Kebidanan
Poltekkes Mataram)
4. Juliani Astuti, Amd., Keb (Selaku Bidan Koordinator UPT BLUD Puskesmas
Gerung)
5. Aty Sulianty, SST., [Link] (Selaku Kaprodi DIII Kebidanan Poltekkes
Mataram)
6. Ni Nyoman Sri Sukarti, Amd., Keb ( Selaku Pembimbing Lahan )
7. Irmayani, [Link].T., [Link] ( Selaku Pembimbing Pendidikan)
8. Semua pihak yang telah membimbing kami.

Terimakasih kepada para pembimbing yang telah membimbing kami dalam praktik
ini, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini

iv
Gerung, 10 November
2020

Kelompok VI

v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……...………………………………………………… i
LEMBAR PERSETUJUAN ………………………………………………. ii
LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………... iii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1
A. Latar Belakang Tindakan/Keterampilan …………………….. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………….. 2
C. Tujuan Tindakan/Keterampilan……………………………….. 2
D. Manfaat ……………………….………………………………... 3
BAB II TINJAUAN TEORI .………………………………………………... 5
A. Pengertian Persalinan ……………………………….……….. 5
B. Pengertian Persalinan Patologis.…………………………….. 8
C. Manajemen Asuhan Kebidanan …………………………….. 13
BAB III TINJAUAN KASUS ……..………………………………………... 18
BAB IV PEMBAHASAN …………………………………………………… 31
BAB IV PENUTUP …………………………………………………………. 37
A. Kesimpulan .……………………………………………………. 37
B. Saran …………………………………………………………… 38
DAFTAR PUSTAKA ………………….……………………………………. 39

vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, di susul dengan
pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Wirakusumah, 2010).
KPD adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina sebelum proses
persalinan. Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti. Kejadian KPD
mendekati 10% dari semua persalinan pada umur kehamilan kurang dari 34
minggu, kejadian sekitar 4% kemungkinan di sebabkan karena berbagai jenis
faktor yaitu infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang abnormal,
inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam askorbat) pecahnya selaput
ketuban berkaitan erat dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam
faktor kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban (Prawirohardjo, 2009).
Menurut World Health Organization (WHO), indicator kesejahteraan suatu
Negara salah satunya di ukur dari besarnya angka kematian ibu (AKI). AKI
yaitu banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian yang
berkaitan dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama
kehamilan, melahirkan dan nifas (42 hari setelah melahirkan). Berdasarkan
SDKI 2012 angka kematian ibu di Indonesia sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu di NTB tahun 2012 sebesar
251 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota,
jumlah kasus kematian ibu di Provinsi NTB selama tahun 2017 adalah 85
kasus, menurun dibandingkan tahun 2016 dengan 92 kasus.

Berdasarkan data Pemantauan Wilayah Setempat (PWS KIA)


Puskesmas Gerung jumlah Ibu bersalin dengan KPD yang ditangani di
Puskesmas Gerung pada bulan September 2020 yaitu 5 sedangkan pada
bulan Oktober 2020 yaitu 4, serta target kumulatifnya yaitu 31. Jumlah Ibu
bersalin dengan KPD yang dirujuk pada bulan September 2020 yaitu 4 sama
dengan bulan Oktober 2020, target kumulatifnya mencapai 25.

1
Jika ibu hamil terinfeksi, maka janin yang di kandungnya akan
mempunyai resiko terkena infeksi. Salah satu infeksi dalam persalinan yang
menyebabkan komplikasi pada persalinan adalah ketuban pecah dini (KPD)
(Saefudin, 2000). KPD adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina
sebelum proses persalinan. Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti.
Kejadian KPD mendekati 10% dari semua persalinan pada umur kehamilan
kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4% kemungkinan di sebabkan karena
berbagai jenis faktor yaitu infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban
yang abnormal, inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam askorbat)
pecahnya selaput ketuban berkaitan erat dengan perubahan proses biokimia
yang terjadi dalam faktor kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban
(Prawirohardjo, 2009).

Mengingat masih tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia


khususnya di NTB, untuk itu harus dicetak tenaga yang terampil dalam
memberikan asuhan ANC, INC, PNC, BBL dan KB, serta Kegawatdaruratan
maternal dan neonatal. Pemerintah dan masyarakat telah melaksanakan
berbagai upaya untuk memberi pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan
bersalin, sehingga melahirkan bayi yang sehat. Pelayanan kesehatan ibu dan
anak yang berkualitas mampu menurunkan AKI serta AKB yang telah lama
diupayakan pemerintah.

Berdasarkan hal ini, Kelompok kami mengkaji asuhan kebidanan pada


ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0 usia kehamilan 39-40 minggu
dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD
Puskesmas Gerung Tahun 2020.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis
mencoba merumuskan permasalahan dalam laporan kasus yaitu
”Bagaimana asuhan kebidanan pada ibu bersalin Ny. H usia 26
tahun G2P1A0 usia kehamilan 39-40 minggu dengan Ketuban

2
Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD
Puskesmas Gerung Tahun 2020”.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum
Mempelajari, memahami, dan menerapkan Asuhan kebidanan
pada ibu bersalin dengan KPD di UPT BLUD Puskesmas Gerung
Tahun 2020

2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengumpulan data dasar subyektif dan objektif pada
kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan
39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di
Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
b. Melakukan interpretasi data klien meliputi diagnosa, masalah dan
kebutuhan pada kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1
usia kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
c. Menentukan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus
dilakukan bidan dari kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun
G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah
Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
Gerung.
d. Melakukan kebutuhan/tindakan segera pada konsultasi, kolaborasi,
merujuk kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia
kehamilan 39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12
Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
[Link] rencana asuhan kebidanan pada kasus ibu
bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang
Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.

3
e. Melakukan intervensi pelaksanaan tindakan pada kasus ibu
bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan 39 - 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di Ruang
Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.
f. Melakukan evaluasi dan efektivitas asuhan kebidanan yang di
berikan dan memperbaiki tindakan yang di pandang perlu pada
kasus ibu bersalin Ny. H usia 26 tahun G2P1A0H1 usia kehamilan
39 - 40 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) ≤ 12 Jam di
Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas Gerung.

D. Manfaat

1. Secara teoritis

Wacana untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang


berkaitan dengan asuhan kebidanan pada kasus KPD dengan
pendekatan manajemen varney pada ibu bersalin.

2. Secara praktis
a. Bagi Pasien
Untuk menambah wawasan/pengetahuan mengenai KPD, serta
cara untuk mendeteksi secara dini dan di harapkan dapat
meningkatkan fasilitas kesehatan untuk mendapat asuhan yang
komprehensif.

b. Bagi UPT BLUD Puskesmas Gerung

Hasil presentasi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai


pertimbangan dalam melakukan penanganan kasus ibu bersalin
dengan KPD di UPT BLUD Puskesmas Gerung

c. Bagi Poltekkes Kemenkes Mataram

4
Dapat menambah kepustakaan dan wacana khususnya tentang
ibu bersalin, yang termasuk dalam mata kuliah program studi
kebidanan.

d. Bagi Bidan

Dapat sebagai masukan untuk melaksanakan asuhan kebidanan


pada ibu bersalin dengan KPD dan pertimbangan bagi profesi bidan
dalam meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan.

e. Bagi Penulis

Merupakan pengalaman langsung bagi penulis dalam melakukan


asuhan kebidanan ibu bersalin dengan KPD.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Persalinan
a. Pengertian Persalinan
1) Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi
(Janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(Manuaba, 2010)
2) Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah
kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran
bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi
kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui
jalan lahir (baik jalan lahir lunak maupun kasar),
dengan tenaga ibu sendiri (tidak ada intervensi dari
luar) (Winkjosastro, 2008).

b. Tanda dan Gejala Persalinan


a) Kekuatan his semakin sering terjadi dan teratur dengan
jarak kontraksi yang semakin pendek.
b) Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda, yaitu :
pengeluaran lendir dan lendir bercampur darah melalui
vagina.
c) Dapat di sertai ketuban pecah.

d) Pada pemeriksaan dalam, di jumpai perubahan servik :


perlunakan servik, pendataran servik, dan terjadi
pembukaan servik (Manuaba, 2010).

6
c. Faktor Yang Berpengaruh Pada Persalinan Menurut Hidayat
& Sujianti, 2009 yaitu
a) Power atau tenaga yang mendorong bayi
Adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang
terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran
dari [Link] merupakan tenaga primer atau kekuatan
utama yang di hasilkan oleh adanya kontraksi dan
retraksi otot – otot rahim.

b) Passage atau jalan lahir


Adalah bagian tulang panggul, servik, vagina dan dasar
[Link] harus berjalan lewat rongga panggul,
servik dan vagina sebelum di lahirkan.

c) Passanger atau fetus


Adalah janin (secara khusus bagian kepala janin ) dan
plasenta, selaput dan cairan ketuban atau amnion.

d. Mekanisme Persalinan Normal


1) Masuknya kepala janin pada pintu atas panggul
Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul (PAP)
biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan
fleksi ringan.

2) Flexion (fleksi)

Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah


hingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-
ubun besar.

3) Internal rotation (putar paksi dalam)


Pemutaran bagian terendah janin ke depan (simfisis
pubis) atau ke belakang (sakrum). Putaran paksi dalam

7
merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi
kepala dengan bentuk jalan lahir.

4) Extension
Setelah putar paksi selesai dan kepala sampai dasar
panggul maka terjadi extensi atau defleksi dari kepala,
karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan dan atas sehingga kepala harus
mengadakan extensi untuk melaluinya.

5) External rotation (putar paksi luar)


Setelah kepala lahir seluruhnya, kepala kembali
memutar ke arah punggung untuk menghilangkan torsi
pada leher karena putaran paksi dalam [Link] ini
disebut putaran restitusi kemudian putaran dilanjutkan
hingga kepala berhadapan dengan tuber ischiadicum
sepihak (di sisi kiri).

6) Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah
simfisis dan menjadi hypomochilion untuk melahirkan
bahu belakang kemudian bahu depan menyusul seluruh
badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.

e. Kala Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :

1) Kala I ( Kala Pembukaan )


Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir
bercampur darah (bloody show) karena servik mulai
membuka (dilatasi) dan mendatar (effecement).
Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler
disekitar kanalis servikalis akibat pergeseran ketika
serviks mendatar dan membuka.

8
Kala pembukaan dibagi atas 2 fase :

a) Fase laten : pembukaan servik yang berlangsung


lambat sampai pembukaan 3 cm, lama 7 – 8 jam.
b) Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 sub
fase
(1) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam,
pembukaan menjadi 4 cm.
(2) Periode dilatasi maksimal (steadi) :selama 2 jam
pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
(3) Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam
waktu 2 jam pembukaan menjadi 10 cm
(lengkap).
2) Kala II ( Kala Pengeluaran Janin )
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinasi,
kuat, cepat dan lebih lama kira-kira 2 – 3 menit
[Link] janin telah turun dan masuk keruang
panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar
panggul yang melalui lengkung refleks menimbulkan
rasa [Link] tekanan pada rektum ibu merasa
seperti mau buang air besar, dengan tanda anus
terbuka.

Pada waktu his, kepala janin mulai terlihat, vulva


membuka dan perineum meregang. Dengan his dan
mengejan terpimpin, akan lahir kepala, diikuti oleh
seluruh badan janin. Kala II pada primi berlangsung
selama 1½ - 2 jam. Pada multi ½- 1 jam.

3) Kala III ( Kala Pengeluaran Uri )


Setelah bayi lahir, kontraksi rahim beristirahat
[Link] teraba keras dengan fundus uteri setinggi
pusat dan berisi plasenta yang menjadi 2 kali lebih

9
[Link] saat kemudian, timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5 – 10 menit, seluruh
plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan
lahir spontan atau dengan sedikt dorongan dari atas
simpisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran
plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100
– 200 cc.
4) Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah
bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu,
terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.
Lamanya persalinan primi sekitar 14 ½ jam, pada multi
7 ¾ jam

2. Persalinan Patologi
a. Pengertian
Persalinan patologis adalah persalinan dengan komplikasi
(Sarwono, 2010)

b. Klasifikasi Persalinan Patologi berdasarkan Sarwono


(2010) yaitu
1) Persalinan dengan Perdarahan
Adalah persalinan yang di sebabkan karena plasenta
previa, solusio plasenta, robekan jalan lahir, atonia uteri,
dan anemia sehingga banyak mengeluarkan darah dari
jalan lahir.

2) Persalinan dengan KPD


Adalah persalinan yang di dahului dengan pecahnya
selaput ketuban sebelum adanya tanda – tanda
persalinan.

10
3) Persalinan dengan Preeklamsi atau Eklamsi
Persalinan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik
lebih dari 140/90 mmhg dengan di sertai ciri – ciri
protein urin (+) dan oedema di seluruh tubuh.

4) Persalinan lama
Adalah persalinan yang abnormal atau sulit yang di
sebabkan karena kelainan his, kelainan janin, ataupun
kelainan jalan lahir.

5) Persalinan dengan Distosia


Adalah keadaan di perlukannya tambahan manuver
obstetri.

6) Persalinan Preterm

Persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20 –


37 minggu di hitung dari hari pertama haid terakhir.

3. Ketuban Pecah Dini (KPD)


a. Pengertian KPD
1) Ketuban Pecah Dini adalah keadaan pecahnya selaput
ketuban sebelum persalinan. Bila Ketuban Pecah Dini
terjadi sebelum usia 37 minggu di sebut Ketuban Pecah
Dini pada kehamilan prematur (prawirohardjo, 2010).
2) Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban
sebelum waktunya melahirkan/sebelum inpartu, pada
pembukaan < 4 cm (fase laten). Hal ini dapat terjadi
pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan (Nugroho, 2010).
3) Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput
ketuban sebelum persalinan (Sarwono, 2008).
4) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum

11
ada tanda- tanda persalinan (Wiknjosastro, 2007).

b. Etiologi
Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti. Kejadian
KPD mendekati 10% dari semua persalinan pada umur
kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4%
kemungkinan di sebabkan karena berbagai jenis faktor yaitu
infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang
abnormal, inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam
askorbat) pecahnya selaput ketuban berkaitan erat dengan
perubahan proses biokimia yang terjadi dalam faktor
kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban (Manuaba,
2010).

Kemungkinan yang menjadi faktor predisposisinya adalah :

1) Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput


ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi
pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2) Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang
selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri
(akibat persalinan, curetage).
3) Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat
secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya
trauma, hidramnion, gemelli.
4) Trauma yang di dapat misalnya hubungan seksual,
pemeriksaan dalam, maupun amniosintesis
menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya di
sertai infeksi.
5) Kelainan Letak, misalnya sungsang, sehingga tidak
ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul

12
(PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membrane bagian bawah.
6) Keadaan social ekonomi

7) Faktor
lain :
a) Faktor golongan darah, akibat golongan darah ibu
dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan
kulit ketuban.
b) Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
c) Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan
antepartum.
d) Defisiensi gizi daritembaga atau asamaskorbat (vitamin C).

Beberapa faktor resiko dari KPD :

(1) Inkompetensi servik (leher rahim)


(2) Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
(3) Riwayat KPD sebelumnya
(4) Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
(5) Kehamilan kembar
(6) Trauma
(7) Servik (leher rahim) yang pendek (<25mm)
pada usia kehamilan 23 minggu.
(8) Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis.

c. Tanda dan Gejala


1) Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban
merembes melalui vagina.
2) Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau
amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau

13
menetes, dengan cirri pucat dan bergaris warna darah.

3) Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus di


produksi sampai kelahiran. Tetapi apabila duduk atau
berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran
sementara.

d. Diagnosa
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena
diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti
melahirkan bayi terlalu awal atau melakukan seksio sesarea yang
sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif
palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai risiko
infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu, dan keduanya.
Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa
KPD ditegakkan dengan cara :

1) Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan
cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna
keluarnya cairan tersebut, his belum teratur atau belum ada,
dan belum ada pengeluaran lendir darah.

2) Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa, akan tampak keluarnya cairan
dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban
masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.

3) Pemeriksaan dengan spekulum


Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tempak keluar
cairan dari ostium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga
tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk,

14
mengejan atau mengadakan manuver valsava, atau bagian
terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium
uteri dan terkumpil pada fornik anterior.
4) Pemeriksaan dalam
Di dalam vagina didapati cairan dan selaput ketuban
sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam
dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam
persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam.
Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa
akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan
flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut
bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan
dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah
dalam persalinan atau yang dilakukan induksi
persalinan dan dibatasi sedikit mungkin (Nugroho,
2010). Vaginal Touche (VT) tidak dianjurkan kecuali
pasien diduga inpartu. Hal ini VT akan meningkatkan
insidensi korioamnionitis, postpartum endometritis dan
infeksi neonatus. Selain itu juga memperpendek
periode laten (waktu dari ruptur hingga terjadinya
proses persalinan). (Tanto, 2014); (Nugroho, 2012);
(Norma, 2013); (Sujiyatini, 2009)

5) Pemeriksaan USG
Ditemukan volume cairan amnion yang berkurang /
oligohidramnion, namun dalam hal ini tidak dapat
dibedakan KPD sebagai penyebab oligohidramnion
dengan penyebab lainnya.

6) Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi, kriteria
laboratorium yang digunakan antara lain:

15
a. Adanya Leukositosis maternal (lebih dari
15.000/uL), adanya peningkatan C-reactive protein
cairan ketuban serta amniosentesis untuk
mendapatkan bukti yang kuat (misalnya cairan
ketuban yang mengandung leukosit yang banyak
atau bakteri pada pengecatan gram maupun pada
kultur aerob maupun anaerob).

b. Tes lakmus (Nitrazine Test) merupakan tes untuk


mengetahui pH cairan, di mana cairan amnion
memiliki pH 7,0-7,5 yang secara signifikan lebih
basa daripada cairan vagina dengan pH 4,5-5,5.
jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban. Normalnya pH
air ketuban berkisar antara 7-7,5. Namun pada tes
ini, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan
positif palsu.

c. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah Tes


Fern. Untuk melakukan tes, sampel cairan
ditempatkan pada slide kaca dan dibiarkan kering.
Pemeriksaan diamati di bawah mikroskop untuk
mencari pola kristalisasi natrium klorida yang
berasal dari cairan ketuban menyerupai bentuk
seperti pakis.

e. Penatalaksanaan
KPD termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi.
Kesalahan dalam mengelola KPD akan membawa akibat
meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun
bayinya. Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi sebagian
besar ahli kebidanan. Kasus KPD yang cukup bulan, kalau
segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi

16
bedah sesarea, dan kalau menunggu persalinan spontan
akan menaikkan insidensi korioamnionitis.

Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh


cara-cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi
Respiratory Distress Syndrome (RDS), dan kalau
menempuh cara konservatif dengan maksud untuk
memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau
keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek
prognosis janin.

Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur


[Link] umur kehamilan tidak di ketahui secara
pasti segera lakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG)
untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin.

Risiko yang lebih sering pada KPD dengan janin


kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis.
Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu
evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal
untuk persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau
lebih biasanya paru-paru sudah matang, korioamnionitis
yang diikuti dengan sepsis pada janin merupakan sebab
utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin.

Sedangkan kehamilan cukup bulan, infeksi janin


langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput
ketuban atau lamanya periode laten.

Penatalaksanaannya pada kasus KPD antara lain:

1) Konservatif
Penatalaksanaan konservatif meliputi pemeriksaan leukosit tiap
hari, tanda-tanda vital tiap 4 jam, pantau DJJ, pemberian
antibiotik tiap 6 jam. Adapun tatalaksananya :

17
a) Rawat di rumah sakit.
b) Berikan antibiotic : Bila ketuban pecah > 6 jam
(ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tidak
tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg
selama 7 hari).
c) Umur kehamilan < 32 - 34 minggu, dirawat selama
air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban
tidak lagi keluar.
d) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, belum inpartu,
tidak ada infeksi, tes busa negatif beri
deksametason, observasi tanda- tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37
minggu.
e) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, sudah inpartu,
tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol),
deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
f) Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, ada infeksi,
beri antibiotik dan lakukan induksi.
g) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-
tanda infeksi intrauterin).
h) Pada usia kehamilan 32 - 37 minggu berikan steroid untuk
memacu kematangan paru janin, dan bila memungkinkan
periksa kadar lesitin dan spingomielintiap minggu. Dosis
betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari,
deksametason I.M. 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.

2) Aktif

Kehamilan > 35 minggu, induksi dengan [Link] gagal


seksio [Link] pula diberikan misoprostol 25 µg - 50 µg

18
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 [Link] ada tanda-tanda
infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

a) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks,


kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri
persalinan dengan seksio sesarea.
b) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan (Winkjosastro, 2010).

B. Teori Manajemen Kebidanan


1. Pengertian
a. Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan merupakan penerapan fungsi dan kegiatan
yang menjadi tanggung jawab bidan dalam memberikan pelayanan
kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dibidang
kesehatan ibu pada masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi
setelah lahir serta keluarga berencana (Muslihatun, Mufdillah, dan
Setiyawati, 2009).

b. Manajemen Kebidanan
Mananjemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah
dalam melaksanakan asuhan, yang digunakan oleh bidan sebagai
satu metode pengaturan atau pengorganisasian antara pikiran dan
tindakan dalam urutan yang logis dalam memberi
asuhan(Mandriwati, 2012).Manajemen kebidanan menurut Varney
terdiri dari 7 langkah yaitu : pengumpulan data dasar, interpretasi
data dasar, mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial,
mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan
penanganan segera, merencanakan asuhan yang
menyeluruh,melaksanakan perencanaan, kemudian evaluasi
(Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati, 2009).

2. Proses Manajemen Kebidanan

19
a. Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan
mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk
mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu riwayat
kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya,
meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya,
meninjau data laboratorium dan membandingkannya
dengan hasil studi (Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati,
2009).

Data mengenai hal tersebut dapat diperoleh dengan


cara anamnesis, yang mencakup biodata atau identitas,
riwayat menstruasi, kesehatan, kehamilan, persalinan dan
nifas, biopsikospiritual, dll; pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan dan pemeriksaan; pemeriksaan khusus, seperti
palpasi, auskultasi, perkusi, dan pemeriksaan penunjang
(Mamik, 2010).

Terkait dengan teori Varney di atas maka, dalam hal


ini diadakan pengumpulan data pada sesuai dengan
identifikasi yang penulis dapat di Ruang Annisa RSI tentang
KPD. Tujuan identifikasi data dasar pada KPD yaitu untuk
mendapatkan informasi yang lebih rinci dari klien yang
nantinya akan dijadikan acuan untuk melakukan tindakan
selanjutnya.

b. Langkah II : Interpretasi Data Dasar


Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar
terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien
berdasarkan interpretasi yang benar atas dasar data-data
yang telah [Link] dasar yang telah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa
yang spesifik.

20
Diagnosa tersebut berupa pendalaman masalah yang
dialami oleh klien, dalam hal ini dilakukan diagnosa tentang
apa itu KPD dan apa penyebab terjadinya KPD. Selanjutnya
dapat di simpulkan bahwa klien tersebut benar mengalami
KPD.

c. Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial


Pada langkah ini dilakukan pengidentifikasian
masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang telah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan
dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan
diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah
potensial benar-benar terjadi.

Dari hasil diagnosa klien, maka sebelumnya klien


diberi informasi dan penjelasan tentang kemungkinan-
kemungkinan yang akan terjadi apabila KPD tersebut tidak
segera ditindaklanjuti.

d. Langkah IV : Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan


yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan
atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani
bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai
dengan kondisi klien yaitu KPD. Langkah keempat
mencerminkan keseimbangan dari asuhan proses
manajemen kebidanan. Bukan hanya selama asuhan primer
periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi selama wanita
bersama bidan terus-menerus, misalnya pada waktu klien
tersebut dalam persalinan.

21
e. Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang
menyeluruh, ditentukan langkah-langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau
antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya
meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau
dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi terhadap klien tersebut seperti apa yang
diperkirakan akan terjadi berikutnya.
Dengan perkataan lain asuhan terhadap klien tersebut
sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua
aspek asuhan, setiap rencana asuhan harus disetujui oleh
kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat
dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian
dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu pada
langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan
terhadap klien sesuai dengan pembahasan rencana bersama
klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum
melaksanakan tindakan pada kasus KPD.

f. Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan


Pada langkah ini, rencana asuhan yang menyeluruh di
langkah kelima harus dilaksanakan secara efisien dan aman.
Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau
bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Jika bidan tidak
melakukan sendiri, ia tetap memilki tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya, memastikan agar langkah-
langkah tersebut benar-benar terlaksana.

22
g. Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan meliputi pemenuhan keburuhan akan
bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah di identifikasi didalam masalah
dan diagnosis. Evaluasi mencakup jangka pendek, yaitu
sesaat setelah intervensi dilaksanakan, dan jangka panjang
yaitu menunggu proses sampai kunjungan
berikutnya/kunjungan ulang. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksaannya
(Muslihatun, Mufdillah, dan Setiyawati, 2009).

3. Manajemen Kebidanan metode SOAP


Menurut Mufdillah (2009) pendokumentasian atau catatan
manajemen kebidanan dapat diterapkan dengan metode
SOAP. Dalam metode SOAP, S adalah data subjektif, O
adalah objektif, A adalah Analysia/Assessment dan P adalah
planning. SOAP merupakan catatan yang bersifat sederhana,
jelas, logis dan singkat. Prinsip dari metode SOAP ini
merupakan proses pemikiran penatalaksanaan manajemen.

S = Subjektif : Menggambarkan pendokumentasian hasil


pengumpulan data klien melalui anamnesa sebagai langkah I
Varney.

O = Obyektif : Menggambarkan pendokumentasian hasil


pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik
lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung
asuhan sebagai langkah I Varney.

23
A = Assesment : Menggambarkan pendokumentasian hasil
analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu
identifikasi diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan.

P = Planning : Menggambarkanpendokumentasian dari


diagnosa potensial, antisipasi penanganan diagnosa potensial,
kebutuhan/tindakan segera, rencana tindakan,pelaksanaan
dan evaluasi perencanaan berdasarkan assessment sebagai
langkah 3, 4, 5, 6 dan 7 varney(Kepmenkes, 2007).

24
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS PADA NY. H
DENGAN KETUBAN PECAH DINI ≤ 12 JAM
DI RUANG BERSALIN UPT BLUD PUSKESMAS GERUNG

Tanggal masuk : 6 November 2020 Pukul : 03.00 WITA


Tanggal pengkajian : 6 November 2020 Pukul : 03.00 WITA
Ruang : Bersalin No. Register : 15-xx-xx

I. PENGUMPULAN DATA DASAR


A. DATA SUBJEKTIF
1) Biodata
Nama Pasien : Ny. H Nama Suami : Tn. R
Umur : 26 Tahun Umur : 29 tahun
Suku/Bangsa : Sasak/Indonesia Suku/Bangsa : Sasak/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMU Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh
Alamat rumah : Kesume Daye, Banyu Urip, Gerung, Lombok Barat

2) Alasan Kunjungan
Tanggal 6 November 2020 pukul 03.00 Ny. H usia 26 tahun
G2P1A0 usia kehamilan 39-40 minggu dengan KPD 12 jam

3) Keluhan utama pada waktu masuk

Ibu mengatakan ia hamil 9 bulan datang dengan keluhan keluar


air sejak tanggal 6/11/2020 pukul 00.50 WITA, sakit perut (+)
hilang timbul, keluar lendir darah (-) dan janin masih dirasakan
bergerak sampai saat ini.

25
4) Riwayat Menstruasi

Menarche : Umur 14 tahun


Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut /hari
Siklus : 28 hari, teratur
Keluhan : Tidak ada
Jenis dan warna : Cair, warna merah tua
Lamanya : 6 – 7 hari

5) Tanda – tanda

Persalinan

Belum ada.

6) Pengeluaran Pervaginam

Lendir darah : tidak ada


Air ketuban : ada, rembes
Darah : tidak ada

7) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Riwayat
Jenis BBL
Hamil UK Tempat Penolong penyulit
persalin Ket
ke (bln) persalinan persalinan BB J Umur
an H P N
(gr) K (thn)
I aterm RSP3 Bidan Spontan taa taa taa 2690 P 3,5 th Hidup

ini

8) Riwayat
Kehamilan
HPHT : 5 Februari 2020

26
Usia kehamilan menurut ibu : 9 Bulan

Gerakan janin : Ibu mengatakan gerakan janin dalam


24 jam lebih dari 10 kali. Gerakan pertama dirasakan oleh
ibu yaitu pada usia kehamilan 16 minggu.

Kecemasan : Ibu mengatakan cemas dengan keadaan bayinya.


Keluhan : Trimester I : Mual, muntah, pusing
Trimester II : Tidak ada keluhan
Trimester III : Tidak ada keluhan
ANC : Di bidan sebanyak 8 kali
teratur
Penyuluhan yang pernah didapat: nutrisi ibu hamil, tanda

bahaya kehamilan, tanda persalinan, dan persiapan

persalinan.

27
9) Riwayat Keluarga Berencana

Ibu mengatakan sebelum hamil pernah menggunakan alat

kontrasepsi KB Suntik 3 Bulan selama 2 tahun, alasan berhenti

karena ingin mempunyai anak.

10) Riwayat Penyakit Ibu

Ibu mengatakan tidak pernah dioperasi, tidak pernah menderita

penyakit gula, tekanan darah tinggi, jantung, asma, TBC,

kanker, maupun penyakit menular seksual.

11) Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita

penyakit gula, tekanan darah tinggi, jantung, asma, TBC,

kanker, maupun penyakit menular seksual serta tidak ada

riwayat keturunan kembar maupun cacat bawaan.

12) Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Psikososial

Kawin / tidak kawin : Kawin

Usia kawin pertama : 21 tahun

Lama perkawinan : 5 tahun

Perasaan Ibu dan keluarga terhadap persalinan ini cemas.

Pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara


musyawarah.

28
Tempat rujukan jika ada komplikasi di Rumah Sakit Patut Patuh
Patju.

13) Pola Kebutuhan Sehari-hari

a. Nutrisi Terakhir

Ibu mengatakan makan dan minum terakhir tanggal 5


November 2020 pukul 19.00 WITA

- Jenis makanan : Nasi, sayur, lauk.


Porsi : 1 piring
Pantangan makanan : tidak ada
Alergi : Tidak ada
- Jenis minuman : Air Putih
Gelas : 2 Gelas
Keluhan : Tidak Ada

b. Istirahat Terakhir

Ibu mengatakan tidur terakhir pukul 21.00 WITA sampai


pukul 23.00 WITA tanggal 5 November 2020. Ibu
mengatakan biasanya ia tidur siang selama 2 jam dan tidur
malam selama 8 jam, serta ibu mengatakan tidak ada
keluhan.

c. Eliminasi Terakhir

Ibu mengatakan BAB terakhir pukul 07.00 WITA tanggal 5


November 2020 warna kuning, konsistensi lunak, bau khas
feses. Ibu mengatakan BAK terakhir pukul 19.00 WITA
tanggal 5 November 2020 warna kuning jernih, bau khas
urin. Ibu mengatakan pada biasanya frekuensi ia BAK
dalam sehari yaitu 5 kali dan BAB dalam sehari yaitu 1 kali.

29
d. Personal hygiene

Ibu mengatakan mandi, gosok gigi dan ganti baju dan


pakaian dalam terakhir pukul 16.30 WITA tanggal 5
November 2020

e. Aktivitas terakhir

Aktivitas terakhir ibu dirumah yaitu berbaring ditempat tidur.


f. Hubungan Seksual

Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual terakhir 1


minggu yang lalu.

g. Kebiasaan Hidup

Merokok : Tidak pernah.

Jamu : Tidak pernah.

Minum-minuman keras : Tidak pernah.

Obat-obatan : Ibu hanya mengonsumsi obat dari


bidan.

B. DATA OBJEKTIF

1) Pemeriksaan Umum

a) Keadaan Umum : Baik.


b) Kesadaran : Compos mentis
c) Vital Sign :
Tekanan darah : 110/80 mmHg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 x/menit Respirasi : 22 x/menit
d) Tinggi Badan : 154,5 cm

30
e) Berat Badan Sekarang : 52 kg BB sebelum hamil : 44 kg
f) Lingkar Lengan Atas : 20,1 cm

2) Pemeriksaan Fisik

a) Kepala
Muka : bersih, tidak pucat, tidak ada chloasma
gravidarum.
Mata : simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih.
Mulut/Gigi : bersih, tidak ada sariawan, tidak ada gigi
berlubang.
b) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
maupun
kelenjar tyroid dan tidak ada bendungan vena
jugularis.
c) Payudara : simetris, bersih, ada hiperpigmentasi areola, puting
susu
menonjol, kolostrum sudah keluar dan tidak
ada
benjolan abnormal.
d) Abdomen
Pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilan, terdapat
striae
gravidarum, terdapat linea nigra dan tidak ada bekas operasi.

Leopold I : TFU berada di pertengahan proccesus


xypoid
dan umbilikus, teraba bulat, lunak,
tidak
melenting (bokong janin).
Leopold II : teraba tahanan keras memanjang pada
perut
sebelah kanan (punggung janin) dan
bagian-bagian

31
kecil janin pada perut sebelah
kiri
(ekstremitas).
Leopold III : teraba bulat, keras, melenting, kepala
janin
sudah tidak bisa digoyang.
Leopold IV : divergen, bagian bawah janin sudah
masuk
PAP, penurunan kepala 4/5 bagian.
TFU [Link] : 31 cm
Taksiran berat janin : (31-11) x 155 = 3100 gram.
DJJ : 144 x/menit, irama teratur 12-12-12
Punctum maximum : kuadran kanan bawah pusat.

e) Genitalia : Tidak ada oedema, tidak ada varises, tidak


ada
pembesaran kelenjar bartholini,
pengeluaran
pervaginam keluar cairan berwarna
jernih (air ketuban)
f) Ekstremitas : jari tangan dan kaki tidak ada kelainan, tidak
oedema, tidak ada varices, kuku tidak pucat.
Terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri.
3) Pemeriksaan dalam : vulva tenang, dinding vagina licin, servik tebal,
Tidak ada pembukaan, pengeluaran
pervaginam cairan berwarna
jernih(ketuban), lendir darah tidak ada.

32
4) Pemeriksaan Penunjang (melihat di buku KIA)
a. Urine
Tgl. 26 - 10 – 2020
1. Protein Urine : negative (-)
2. Glukosa Urine : negative (-)
b. Darah
Tgl. 5 - 5 - 2020
1. Hb : 11,1gr%
2. Golongan darah :O
3. HIV : negative (-)
4. HBSAG : negative (-)
5. Sifilis : negative (-)

Tgl. 26 – 10 – 2020

1. Hb : 11,3 gr%

33
II. INTERPRETASI DATA

a. Diagnosa Kebidanan
G2P1A0H1 UK 39-40 minggu T/H/IU Preskep K/U ibu dan janin baik
dengan KPD ≤ 12 jam

Data Subyektif:

a) Ibu mengatakan bernama Ny.H saat ini berumur 26 tahun.


b) Ibu mengatakan ini adalah kehamilan ke-2nya
c) Ibu mengatakan HPHT nya adalah tanggal 5 Februari 2020
d) Ibu mengatakan keluar cairan merembes dari jalan lahir sejak
tanggal 6/11/2020 pukul 00.50 WITA.

Data Obyektif:
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. Vital Sign :
Tekanan darah : 110/70 mmHg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 x/menit Respirasi : 22 x/menit
4. Palpasi Abdomen:
Leopold I : TFU berada di pertengahan proccesus
xypoid dan umbilikus, teraba bulat, lunak, tidak melenting
(bokong janin).

Leopold II : teraba tahanan keras memanjang pada


perut sebelah kanan (punggung janin) dan bagian-bagian kecil
janin pada perut sebelah kiri (ekstremitas).

Leopold III : teraba bulat, keras, melenting, kepala


janin sudah tidak bisa digoyang.

Leopold IV : divergen, bagian bawah janin sudah


masuk PAP, penurunan kepala 4/5 bagian.

TFU [Link] : 31 cm

Taksiran berat janin : (31-11) x 155 = 3100 gram.

34
DJJ : 144 x/menit teratur.

Punctum maximum : kuadran kanan bawah pusat.

g) Genitalia : Tidak ada oedema, tidak ada varises, tidak


ada pembesaran kelenjar bartholini,
pengeluaran pervaginam keluar cairan
berwarna jernih (ketuban).

h) Ekstremitas : jari tangan dan kaki tidak ada kelainan,


tidak oedema, tidak ada varices, kuku tidak
pucat. Terpasang infus RL di tangan
sebelah kiri.

5) Pemeriksaan dalam : vulva tenang, dinding vagina licin,

servik tebal, Tidak ada pembukaan,

pengeluaran pervaginam cairan

berwarna jernih (ketuban), lendir darah

tidak ada.

b. Masalah

Ibu cemas dengan keadaan bayinya.

c. Kebutuhan

Dukungan emosional berupa motivasi ibu untuk tetap tenang dan


sabar.

III. DIAGNOSA POTENSIAL DAN ANTISIPASI


Bagi Ibu : Infeksi, antisipasi yaitu pemberian antibiotic ampisilin
500 mg
Bagi janin : terjadi infeksi dan dapat mengakibatkan bayi ikterus,

35
jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan bayi
menjadi kernikterus, sehingga bayi mengalami sepsis
neonatorum.

IV. TINDAKAN SEGERA


Kolaborasi dengan Dokter Jaga yaitu melanjutkan advice dokter
pemberian infus 1 flash yang ke-2 dan ampisilin 500 mg yang ke-2.

V. RENCANA TINDAKAN

Tanggal : 6 - 11 - 2020

Pukul : 08.10 WITA


1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan kondisi ibu sekarang
2. Lakukan informed consent kepada ibu dan keluarga, persetujuan
atas segala tindakan medis yang akan dilakukan pada ibu
3. Lakukan advice dokter jaga yaitu lanjutkan pasang infus RL 1 flash
20 tpm yang ke-2 dan beri ampisilin 500 mg secara IV yang ke-2
4. Beri dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu dengan
hadirkan keluarganya, sesuai protokol kesehatan saat pandemi
Covid-19 saat ini pasien dapat ditemani hanya dengan 1 orang
pendamping yaitu suaminya
5. Anjurkan pada ibu makan dan minum untuk tenaga ibu dalam
pemenuhan nutrisi, karena saat ini disamping pemenuhan nutrisi
melalui infus, ibu juga butuh pemenuhan nutrisi dari makan dan
minum untuk menggantikan cairan yang hilang, yaitu pemenuhan
input dan output nutrisi ibu dan janin
6. Beritahu ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan anjurkan tidur
miring kanan/kiri agar tidak menyebabkan tali pusat menumbung
yang disebabkan karena adanya gaya gravitasi yang akan
menekan tali pusat untuk keluar dan terdorong oleh cairan ketuban
7. Observasi kesejahteraan ibu dan janin
8. Observasi kemajuan persalinan dengan menghitung his (kontraksi)

36
9. Lakukan dokumentasi asuhan kebidanan persalinan patologis
dengan manajemen varney
10. Lakukan persiapan merujuk pasien ke RSP3 yaitu BAKSOKUDA
antara lain :
a. Bidan (B) : Pastikan ibu didampingi tenaga kesehatan
salah satunya Bidan
b. Alat (A) : Bawa perlengkapan yang diperlukan seperti
spuit, infus set, partus set, tensimeter, dan stetoskop
c. Keluarga (K) : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu
dan alasan ia di rujuk
d. Surat (S) : Beri surat ke tempat rujukan berisi identifikasi
ibu, alas an rujukan, asuhan dan obat-obatan yang telah
diterima ibu
e. Obat (O) : Bawa obat-obat esensial yang diperlukan
selama perjalanan merujuk
f. Kendaraan (K) : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
ibu dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat
rujukan dalam waktu yang cepat
g. Uang (U) : Ingatkan keluarga untuk membawa uang
dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan
keseharan yang diperlukan di tempat rujukan seperti BPJS
h. Darah (DA) : Siapkan darah untuk sewaktu-waktu
membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan

VI. PELAKSANAAN

Tanggal : 6 - 11 - 2020

Pukul : 08.12 WITA


1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa
keadaan ibu dan janin sehat

37
2. Melakukan informed consent kepada ibu dan keluarga, yang
berisi persetujuan atas segala tindakan medis yang akan
dilakukan untuk menolong kelahiran bayi
3. Melakukan advice Dokter Jaga yaitu :
a. Memasang infus RL 1 flash 20 tpm yang ke-2
b. Memberikan injeksi Ampicilin 500 mg secara IV yang ke-2
4. Memberi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu
dengan menghadirkan keluarganya, sesuai protokol kesehatan saat
pandemi Covid-19 saat ini pasien dapat ditemani hanya dengan 1
orang pendamping yaitu suaminya
5. Menganjurkan pada ibu makan dan minum untuk tenaga ibu dalam
pemenuhan nutrisi, karena saat ini disamping pemenuhan nutrisi
melalui infus, ibu juga butuh pemenuhan nutrisi dari makan dan
minum untuk menggantikan cairan yang hilang, yaitu pemenuhan
input dan output nutrisi ibu dan janin
6. Memberitahu ibu untuk bed rest ditempat tidur dan menganjurkan
ibu tidur miring kiri atau kanan, agar tidak menyebabkan tali pusat
menumbung yang disebabkan karena adanya gaya gravitasi yang
akan menekan tali pusat untuk keluar dan terdorong oleh cairan
ketuban
7. Mengobservasi kesejahteraan ibu dan janin
Catatan perkembangan berisi observasi nadi, DJJ, his setiap 1 jam,
suhu setiap 2 jam dan tekanan darah setiap 4 jam
8. Melakukan observasi kemajuan persalinan dengan menghitung his
(kontraksi)
9. Melakukan dokumentasi asuhan kebidanan persalinan patologis
dengan manajemen varney
10. Melakukan persiapan untuk merujuk pasien yaitu BAKSOKUDA :
a. Bidan (B) : memastikan ibu didampingi tenaga kesehatan
salah satunya Bidan

38
b. Alat (A) : membawa perlengkapan yang diperlukan
seperti spuit, infus set, partus set, tensimeter, dan stetoskop
c. Keluarga (K) : memberitahu keluarga tentang kondisi terakhir
ibu dan alasan ia di rujuk
d. Surat (S) : memberi surat ke tempat rujukan berisi
identifikasi ibu, alas an rujukan, asuhan dan obat-obatan yang
telah diterima ibu
e. Obat (O) : membawa obat-obat esensial yang diperlukan
selama perjalanan merujuk
f. Kendaraan (K) : menyiapkan kendaraan yang cukup baik
untuk ibu dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai
tempat rujukan dalam waktu yang cepat
g. Uang (U) : mengingatkan keluarga untuk membawa uang
dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan
keseharan yang diperlukan di tempat rujukan seperti BPJS
h. Darah (DA) : menyiapkan darah untuk sewaktu-waktu
membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan

11. Merujuk pasien ke RSP3 pada pukul 13.00 WITA

Lembar Observasi
Pengeluara
n
Tgl/ HIS DJJ TTV Keluhan
pervagina
Jam
m
Fre La Inte +/ Iram
Frek TD N S
k ma ns - a
(08.00) 15” 1x lema + 144 terat - 82 - Keluar air Ibu tidak ada
10’ h ur jernih mengeluh
merembes
(09.00) - - - + 136 terat - 81 36,5 Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh

39
sedikit
(10.00) - - - + 136 terat - 80 - Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh
sedikit
(11.00) - - - + 140 terat 110/ 81 36,6 Keluar air Ibu tidak ada
ur 70 jernih mengeluh
sedikit
(12.00) - - - + 144 terat - 81 - Keluar air Ibu tidak ada
ur jernih mengeluh
sedikit

VII. EVALUASI
Evaluasi I
Tanggal : 6 - 11 - 2020
Pukul : 12.00 WITA
1. Ibu dan keluarga sudah mengerti hasil pemeriksaan keadaan
umum baik, kesadaran compos mentis, tekanan darah: 110/70
mmHg, suhu 36,6 ºC, nadi : 81 x/menit, respirasi : 22 x/menit, DJJ
(+) teratur 12-12-12, dan tidak ada kemajuan persalinan. Hasil
pemeriksaan keseluruhan tidak menunjukkan infeksi yaitu tidak
ada tanda-tanda infeksi seperti dolor(nyeri), kalor(panas),
tumor(bengkak), rubor(kemerahan), dan fungsio laesa(perubahan
fungsi jaringan)
2. Suami sudah mengerti dan menandatangani informed consent.
3. Advice dokter telah dilakukan yaitu pemasangan infus yang ke-2
dan injeksi amphisilin yang ke-2
4. Ibu tampak segar, murah senyum, dan dapat lebih responsif saat
ditanya bidan

40
5. Ibu sudah makan dengan jenis nasi, sayur, dan tahu goreng porsi
sedang dan minum air putih 2 gelas sehingga sudah tercukupi
nutrisi ibu dan janin dan terpenuhinya mekanisme input dan output
nutrisi ibu dan janin
6. Ibu sudah melakukan istirahat total di tempat tidur dan juga sudah
melakukan miring kiri/kanan secara berkala sehingga tidak ada tali
pusat menumbung
7. Dokumentasi sudah dilakukan sesuai asuhan kebidanan
persalinan patologis dengan manajemen varney

Evaluasi II
Tanggal : 6 - 11 - 2020
Pukul : 13.00 WITA
1. Persiapan merujuk sudah siap sesuai BAKSOKUDA yaitu :
a. Bidan (B) : pasien didampingi bidan
b. Alat (A) : perlengkapan yang diperlukan sudah dibawa
c. Keluarga (K) : keluarga sudah mengetahui bahwa pasien akan
dirujuk
d. Surat (S) : sudah memberi surat ke tempat rujukan
e. Obat (O) : obat-obat esensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk sudah dibawa
f. Kendaraan (K) : pasien diantarkan menggunakan ambulance
puskesmas
g. Uang (U) : keluarga sudah membawa BPJS dan sudah
membawa uang di dompet
h. Darah (DA) : golongan darah yang sama dengan pasien adalah
suaminya
2. Pasien telah diterima di rumah sakit rujukan yaitu Rumah Sakit Patut
Patuh Patju Gerung pada pukul 13.10 WITA

41
42
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini, kelompok akan menjelaskan kesenjangan yang terjadi
antara teori yang ada dengan praktik yang dilakukan di lahan. Pembahasan ini
dibuat dengan maksud agar dapat diambil suatu kesimpulan dan pemecahan
masalah dari kesenjangan yang terjadi sehingga dapat digunakan sebagai tindak
lanjut dalam penerapan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin
dengan ketuban pecah dini.
Pada bab ini akan diuraikan tentang kesenjangan yang terjadi dalam
penerapan proses asuhan kebidanan intranatal care pada Ny “ H “ G 2P1A0H1 UK 39-
40 minggu T/H/IU preskep k/u ibu dan janin baik dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
< 12 jam. Pembahasan ini disusun berdasarkan teori dengan asuhan yang diberikan
berdasarkan pendekatan manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh
langkah ( VARNEY ).

A. Langkah I Pengumpulan Data Dasar


Dalam pengkajian yang dimulai dari pengumpulan data berupa anamnesa
serta data-data yang dapat ditemukan saat melakukan anamnesa yang dapat
mendukung terjadinya kasus tersebut. Setelah dilakukan anamnesa, dilakukan
pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Selain
pemeriksaan fisik, juga dilakukan pemeriksaan dalam untuk memantau kemajuan
persalinan, khususnya untuk memastikan pecahnya selaput ketuban. Dalam
tahapan pengkajian data, kelompok tidak mendapat hambatan. Hal ini karena
respon kooperatif ibu yang dapat menerima kehadiran penulis saat pengumpulan
data sampai tindakan yang diberikan. Ibu menunjukkan sikap terbuka dan menerima
anjuran serta saran yang diberikan oleh bidan maupun tenaga medis lainnya dalam
memberikan asuhan kebidanan.
Pada kasus Ny H didapatkan riwayat keluhan berupa terdapat pengeluaran
air yang merembes dari jalan lahir ibu pada tanggal 06 November 2020, pukul 00.50
WITA, dengan sakit perut namun hilang dan timbul dan belum ada keluar lendir serta
darah. Gerakan janin masih dirasakan oleh Ibu. Pada pemeriksaan dalam

43
didapatkan hasil belum terjadi pembukaan serviks ( VT 0cm, eff 0%, ket – ( jernih ),
preskep, denom belum terlihat, belum terjadi penurunan kepala, ttb bag kec janin/
tali pusat ). Dilanjutkan pemantauan DJJ 144x/menit , his 0 kali/ 10 menit.
Selain itu, data yang didapatkan dari hasil pemeriksaan tes lakmus di
Puskesmas Gerung yaitu kertas lakmus berubah menjadi biru, yang menandakan
pelepasan air yang keluar yaitu air ketuban ibu.
Pada langkah pertama, kelompok tidak mendapatkan kesenjangan antara
teori dan kasus yang terjadi di lapangan.

B. Langkah II Interpretasi Data Dasar


Dalam menegakkan suatu diagnosa kebidanan, didukung dan ditunjang oleh
beberapa data, dan dilakukan identifikasi yang benar tehadap diagnosis atau
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data
yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan, diinterpretasikan
sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Masalah dan
diagnosis keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan,
tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam sebuah rencana
asuhan terhadap klien. Masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang
diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan pengarahan.
Pada kasus Ny H, telah dilakukan pengumpulan data subjektif yaitu Ny H
mengatakan adanya pengeluaran air yang merembes dari jalan lahir ibu pada
tanggal 06 November 2020, pukul 00.50 WITA, dengan sakit perut namun hilang dan
timbul dan belum ada keluar lendir serta darah. Gerakan janin masih dirasakan oleh
Ibu.
Pada pemeriksaan dalam didapatkan hasil belum terjadi pembukaan serviks
( VT 0cm, eff 0%, ket – ( jernih ), preskep, denom belum terlihat, belum terjadi
penurunan kepala, ttb bag kec janin/ tali pusat ).
Selain itu, data penunjang yang didapatkan dari hasil pemeriksaan tes
lakmus di Puskesmas Gerung yaitu kertas lakmus berubah menjadi biru, yang
menandakan pelepasan air yang keluar yaitu air ketuban ibu. Sehingga berdasarkan

44
data yang didapatkan, maka kelompok menyimpulkan bahwa diagnosa yang
dinyatakan yaitu KPD.
Namun, diagnosis KPD secara tepat sangat penting untuk menentukan
penanganan selanjutnya. Cara-cara yang dipakai untuk menegakkan diagnosis
KPD, yakni berikut :
1. Anamnesis
Pasien merasakan adanya cairan yang keluar secara tiba-tiba dari jalan lahir
atau basah pada vagina. Cairan ini berwarna bening dan pada tingkat lanjut
dapat disertai mekonium.
2. Pemeriksaan inspekulo Terdapat cairan ketuban yang keluar dari kanalis
servikalis, pada tingkat lanjut ditemukan cairan amnion yang keruh dan
berbau.
3. Pemeriksaan USG Ditemukan volume cairan amnion yang berkurang /
oligohidramnion, namun dalam hal ini tidak dapat dibedakan KPD sebagai
penyebab oligohidramnion dengan penyebab lainnya.
4. Pemeriksaan Laboratorium Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi,
kriteria laboratorium yang digunakan adalah :
a. adanya Leukositosis maternal (lebih dari 15.000/uL), adanya peningkatan
C-reactive protein cairan ketuban serta amniosentesis untuk
mendapatkan bukti yang kuat (misalnya cairan ketuban yang
mengandung leukosit yang banyak atau bakteri pada pengecatan gram
maupun pada kultur aerob maupun anaerob).
b. Tes lakmus (Nitrazine Test) merupakan tes untuk mengetahui pH cairan,
di mana cairan amnion memiliki pH 7,0-7,5 yang secara signifikan lebih
basa daripada cairan vagina dengan pH 4,5-5,5. jika kertas lakmus
merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban.
Normalnya pH air ketuban berkisar antara 7-7,5. Namun pada tes ini,
darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan positif palsu.
c. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah Tes Fern. Untuk
melakukan tes, sampel cairan ditempatkan pada slide kaca dan dibiarkan
kering. Pemeriksaan diamati di bawah mikroskop untuk mencari pola

45
kristalisasi natrium klorida yang berasal dari cairan ketuban menyerupai
bentuk seperti pakis.
Dari pengkajian, kelompok menemukan kesenjangan antara teori dan praktik.
Untuk menegakkan diagnosa pada Ny “H” yang hanya dilakukan yakni
anamnesis,pemeriksaan dalam, dan tes lakmus untuk memastikan cairan yang
keluar adalah ketuban.

C. Langkah III Diagnosa Potensial / Masalah Potensial


Pada perumusan diagnosa/ masalah potensial akan dibahas tentang
kemungkinan terjadi hal yang lebih fatal apabila apa yang menjadi masalah tidak
segera ditangani. Pada tinjauan pustaka, masalah potensial yang dapat terjadi yaitu
infeksi dalam persalinan, infeksi masa nifas, meningkatnya tindakan operatif
obstetric (khususnya SC), morbiditas dan mortalitas maternal. Pada kasus ini,
kelompok tidak menemukan tanda-tanda infeksi atau komplikasi yang mungkin akan
terjadi pada ibu maupun janin karena telah diberikan penanganan antisipasi kepada
ibu bersalin dengan KPD sudah diberikan penatalaksanaan yakni tindakan
pemasangan infus, dan pemberian obat antibiotic setiap 6 jam sekali yakni pada
pukul 03.10 dan pada pukul 09.10 sesuai dengan teori, sehingga diagnosa potensial
tidak terjadi dan tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

D. Langkah IV Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera


Beberapa data yang memberikan indikasi adanya tindakan segera yang
harus dilakukan guna untuk menyelamatkan klien. Dalam kasus ini, tindakan
tersebut berupa kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lebih professional (dokter
obgyn).
Pada tinjauan kasus, tindakan segera/kolaborasi pada KPD adalah
mengkolaborasikan dengan dokter obgyn untuk pemasangan infus dan pemberian
antibiotik serta tindakan merujuk pasien.
Pada studi Ny “H” tindakan segera yang dilakukan adalah kolaborasi dengan
dokter obgyn dalam menangani persalinan dengan KPD yaitu pemasangan infus RL

46
pada jam 03.05 WITA, dan pemberian antibiotic amphicilin 1 gr/IV pada jam 03.10
WITA
Dilakukan pemeriksaan dalam jam 03.00 WITA yang di dapatkan hasil
belum terjadi pembukaan serviks ( VT 0cm, eff 0%, ket – ( jernih ), preskep, denom
belum terlihat, belum terjadi penurunan kepala, ttb bag kec janin/ tali pusat ).
Dilanjutkan pemantauan DJJ 144x/menit , his 0 kali/ 10 menit.
Menurut (Tanto, 2014); (Nugroho, 2012); (Norma, 2013); (Sujiyatini, 2009) :
Vaginal Touche (VT) tidak dianjurkan kecuali pasien diduga inpartu. Hal ini VT akan
meningkatkan insidensi korioamnionitis, postpartum endometritis dan infeksi
neonatus. Selain itu juga memperpendek periode laten (waktu dari ruptur hingga
terjadinya proses persalinan). Dalam kasus ini tidak ada perbedaan yang ditemukan
antara teori dan tindakan yang diberikan pada Ny “H” dan tetap mengacu pada
tindakan yang sesuai kebutuhan klien.

47
E. Langkah V Perencanaan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosis kebidanan dan
masalah potensial yang akan terjadi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh
kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan
efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut.
Pada studi kasus Ny “H”, penulis merencanakan tindakan asuhan kebidanan
berdasarkan diagnosa/ masalah serta berdasarkan diagnosa potensial yang akan
terjadi, rencana tersebut yaitu :
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Jelaskan pada ibu tentang kondisi ibu sekarang
3. Lakukan informed consent kepada ibu dan keluarga, persetujuan atas
segala tindakan medis yang akan dilakukan pada ibu
4. Lakukan advice dokter obgyne
5. Beri dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu
6. Anjurkan ibu untuk makan dan minum untuk tenaga ibu ketika mengejan
7. Beritahu ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan anjurkan tidur miring
kanan/kiri
8. Lakukan dokumentasi dan observasi kesejahteraan ibu dan janin
9. Lakukan observasi kemajuan persalinan
Dalam rencana tindakan asuhan kebidanan pada kasus Ny “H”, tidak terdapat
kesenjangan
antara teori dengan kasus yang ada dilapangan.

F. Langkah VI Pelaksanaan
Semua rencana yang ditentukan telah dilaksanakan seluruhnya dengan
menyesuaikan kondisi, keadaan dan kebutuhan ibu, dan tentunya dilaksanakan
dengan menerapkan protocol kesehatan dimasa pandemi covid-19 ini yang
dilaksanakan pada tanggal 06 November 2020 di Ruang VK UPT BLUD Puskesmas
Gerung dalam menangani persalinan dengan KPD yaitu memberitahu ibu hasil
pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan janin baik, menjelaskan pada ibu tentang

48
kondisi ibu sekarang, melakukan informed consent kepada ibu dan keluarga untuk
persetujuan atas segala tindakan medis yang akan dilakukan pada ibu untuk
menolong kelahiran bayi, melakukan advice dokter obgyne ( memasang infuse RL
secara IV, memberikan injeksi amphicilin 1 gr secara IV dengan skintest ( IC )
terlebih dahulu untuk mengetahui pasien alergi terhadap terapi yang diberikan ),
memberi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan ibu, menganjurkan ibu
untuk makan dan minum untuk tenaga ibu ketika mengejan, memberitahu ibu untuk
istirahat total ditempat tidur dan anjurkan tidur miring kanan/kiri, melakukan
dokumentasi dan observasi kesejahteraan ibu dan janin ( catatan perkembangan
berisi observasi nadi, DJJ, HIS setiap 1 jam, tekanan darah dan pemeriksaan dalam,
serta suhu ), melakukan observasi kemajuan [Link] tidak
menemukan hambatan, karena adanya kerjasama dan penerimaan yang baik dari
klien dan keluarga serta dukungan, bimbingan dan asuhan dari pembimbing dilahan
praktek.

G. Langkah VII Evaluasi


Adapun evaluasi yang dimaksudkan untuk memperoleh atau memberi nilai
terhadap asuhan yang telah dilakukan kepada Ny “H”. Ny “H” dan keluarganya
memahami hasil pemeriksaan dengan baik dan menerimanya dengan baik. Ny “H”
mengerti akan kondisinya yakni sedang mengalami Ketuban Pecah dini. Ny “H” dan
keluarganya telah setuju melakukan dan menandatangani informed consent. Ny “H”
telah diberikan asuhan sesuai dengan anjuran dari kolaborasi bidan dengan dokter
obgyne. Ny “H” senang dan lebih tenang karena mendapatkan support dari keluarga
dan tenaga kesehatan yang membantunya. Ny “H” sudah makan dan minum di sela
sela istirahatnya. Ny “H” hanya berdiam diri di tempat tidur dan sudah melakukan
miring kiri. Bidan dan mahasiswa telah melakukan dokumentasi dan observasi pada
kasus Ny “H”. Observasi kemajuan persalinan pada Ny “H” telah dilaksanakan.
Semua tindakan dalam asuhan yang diberikan kepada Ny “H” telah
dilaksanakan dan sudah dilakukan evaluasi sehingga didapatkan hasil dari evaluasi
tersebut. Hal ini karena tenaga kesehatan bekerja sama baik dengan pasien dan

49
keluarganya, sehingga memperlancar proses asuhan. Sehingga tidak ditemukan
kesenjangan.

50
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan apa yang penulis dapatkan dalam presentasi kasus
dan pembahasan dalam manajemen kebidanan pada ibu bersalin Ny. H
usia 26 tahun G2P1A0 usia kehamilan 40 minggu dengan Ketuban
Pecah Dini (KPD) 12 Jam di Ruang Bersalin UPT BLUD Puskesmas
Gerung Tahun 2020, maka penulis mampu mengambil kesimpulan yaitu :
1. Penulis melakukan pengkajian ibu bersalin dengan KPD melalui
anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam serta dilakukan
pemeriksaan penunjang. Setelah dilakukan anamnesa diperoleh data
bahwa pasien bernama Ny. H berumur 26 tahun, mengatakan
ketubannya rembes sejak pukul 00.50 WIB. Pada genetalia keluar
cairan dari jalan lahir, pemeriksaan dalam ditemukan pembukaan
tidak ada.
2. Berdasarkan data perkembangan pada kasus ini, dapat ditegakkan
diagnosa kebidanan Ny. H usia 26 tahun G2P1A0 usia kehamilan 40
minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) 12 Jam. Masalah yang
muncul adalah kecemasan pasien terhadap kondisi janinnya.
Kebutuhan yang diperlukan pasien berupa dukungan emosional baik
dari tenaga kesehatan maupun keluarga.

3. Penulis menegakkan adanya diagnosa potensial yaitu bagi ibu


adalah infeksi dan bagi janin tidak ada. Antisipasi penanganannya
dengan diberikan antibiotik.
4. Pada kasus ini tindakan segera yang dilakukan yaitu kolaborasi
dengan dr. SpOG.
5. Rencana tindakan yang diberikan pada kasus Ny. H adalah beritahu
ibu tentang hasil pemeriksaan, jelaskan pada ibu tentang kondisi ibu
sekarang, lakukan informed consent untuk persetujuan segala
tindakan medis yang akan dilakukan, lakukan kolaborasi dengan
dokter obgyn, beri dukungan psikologis untuk mengurangi

51
kecemasan ibu, anjurkan pada ibu makan dan minum, beritahu ibu
untuk bed rest total di tempat tidur, anjurkan ibu untuk BAK dan BAB
dengan pispot, siapkan perlengkapan ibu dan bayi, siapkan partus
set, alat resusitasi, dan perlengkapan persalinan, lakukan
pengawasan kala 1 dengan partograf.
6. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah
dibuat.
7. Evaluasi dari asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. H adalah
ibu telah bersalin dengan selamat dan bayi sehat, keadaan ibu dan
bayi baik, tidak ada tanda – tanda infeksi sehingga ibu diperbolehkan
pulang.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis akan memberikan
saran antara lain :
1. Perlu adanya peningkatan dan pemahaman dalam deteksi dini ibu
bersalin yang potensial mengalami KPD sehingga pada waktu
persalinan hal-hal yang fatal dapat dihindari.
2. Perlu adanya peningkatan dan pengetahuan ibu tentang faktor resiko
pada KPD untuk mencegah terjadinya infeksi.
3. Perlu dipertahankan dalam melakukan pertolongan persalinan sesuai
dengan SOP yang ada di rumah sakit dan melaksanakan asuhan
sayang ibu agar klien merasa nyaman dalam menghadapi persalinan.

52
DAFTAR PUSTAKA
Antonius. 2007. Perawatan Ketuban Pecah Dini. Jakarta : Muha Medika
Ambarwati, R, dan Wulandari, D. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendika :
Yogyakarta

Cunningham, FG. 2006. Obstetri Williams. EGC: Jakarta

Demiarti, M. (2017). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini di RSU


PKU Muhammadiyah Bantul. Naskah Publikasi. Yogyakarta: Universitas
‘Aisyiyah Yogyakarta.
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR: Jakarta

Manuaba, Ida Bagus Gede. Dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. EGC: Jakarta

Mochtar, Rustam .2012. Synopsis Obstetri. EGC: Jakarta.

NL Rif’ati, H Kristanto – 2018 – [Link]


PP-IBI. 2006. Standar Pelayanan Kebidanan. Buku I: Jakarta.

Prawirohardjo, S. (2010). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo
Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. YBPSP: Jakarta

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Bedah. YBPSP: Jakarta

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. YBPSP: Jakarta

Saifuddin, AB. 2010. Buku Paduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. YBP-SP:


Jakarta.

Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Fitramaya: Jakarta

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. ANDI:
Yogyakarta

53
Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Salemba Medika:
Jakarta

Varney, Helen dan Jan [Link], Carolyn [Link]. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 4 Volume 1. EGC: Jakarta

Varney, Helen dan Jan [Link], Carolyn [Link]. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 4 Volume 2. EGC: Jakarta

Wulanda, Ayu Febri. 2011. Biologi Reproduksi. Salemba Medika: Jakarta.

54

Anda mungkin juga menyukai