0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan30 halaman

Terapi ECT: Prosedur dan Indikasi

Terapi kejang listrik (ECT) merupakan tindakan terapi yang menggunakan aliran listrik untuk menimbulkan kejang pada pasien dengan gangguan psikiatri tertentu. Prosedurnya melibatkan pemberian anestesi umum dan melintaskan aliran listrik melalui otak untuk menghasilkan kejang. Terapi ini digunakan untuk mengatasi depresi berat, mania, skizofrenia katatonik, dan kondisi lainnya.

Diunggah oleh

Bonita Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan30 halaman

Terapi ECT: Prosedur dan Indikasi

Terapi kejang listrik (ECT) merupakan tindakan terapi yang menggunakan aliran listrik untuk menimbulkan kejang pada pasien dengan gangguan psikiatri tertentu. Prosedurnya melibatkan pemberian anestesi umum dan melintaskan aliran listrik melalui otak untuk menghasilkan kejang. Terapi ini digunakan untuk mengatasi depresi berat, mania, skizofrenia katatonik, dan kondisi lainnya.

Diunggah oleh

Bonita Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI KEJANG LISTRIK

(ELECTRO CONVULSIVE THERAPY)

Oleh:
Ns. ALINI, M. Kep
Program Studi S1 Keperawatan
STIKes Tuanku Tambusai Bangkinang
A. PENGERTIAN ECT/ TKL (TERAPI KEJANG
LISTRIK)
• ECT adalah suatu tindakan terapi dengan
menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang
pada penderita baik tonik maupun klonik
• ECT adalah induksi kejang jenis grand mal (umum)
melalui penggunaan aliran listrik ke otak. Rangsangan
disalurkan melalui elektroda yang dapat ditempatkan
secara bilateral pada daerah fronto temporal atau
secara unilateral pada sisi kepala yg sama dg sisi dg sisi
tangan yg non dominan (APA, 1978)
• Tindakan ini merupakan bentuk terapi pada
klien dengan mengalirkan arus listrik melalui
elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien
untuk membangkitkan kejang grandmall.
• Peran perawat pada terapi ECT : sebelum
melakukan terapi ECT, perawat
mempersiapkan alat dan mengantisipasi
kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan
yang akan dilakukan
B. SEJARAH PENGGUNAAN ECT
 Penggunaan terapi kejang pada gangguan
psikiatri merupakan sejarah yang panjang,
petunjuk paling awal untuk pengobatan dengan
menggunakan listrik dilakukan oleh Scribonius
Sargus (47 SM) dipakai listrik dari semacam belut
untuk mengobati kaisar romawi, Claudius.
 Tahun 1930 Lazlo Von Meduna menemukan cara
yg lebih nyata dg mengguanakan Pentylens
Tetrazole (Metrazol) secara IV untuk
menimbulkan kejang
………
 Inspirasi terapi kejang dari Von Meduna
didapatkan dari pengamatan dokter Rumah sakit
Jiwa yg menunjukkan bahwa gejala-gejala
psikotik menghilang, jika klien mendapat kejang.
Dari laporan statistik menunjukkan bahwa hampir
tidak pernah epilepsi dan schizophrenia terjadi
pada klien yg sama
 Tahun 1937, peneliti italia, Carletti dan Bini
menggunakan arus listrik untuk menimbulkan
kejang
 Tahun 1938 dipublikasikan ECT secara resmi
dengan nama “Electro Shock Therapy”. Akhirnya,
American Journal of Psychiatric menyebutnya
“Electro Convulsive Therapy”, dengan tehnik
bilateral dan memakai arus bolak-balik
 Friedman dan Wilcox (1942), melalui modifikasi
dengan unilateral dengan menggunakan arus
searah
C. TEORI TENTANG MEKANISME ECT TERKAIT
TENTANG RESPON BIOKIMIA

1. Neurotransmitter Theory
Mengemukakan bahwa ECT bertindak seperti
antidepresi trisiklik yang menghasilkan kurangnya
neurotranmitter pada sistem monoaminergik yg
diperkirakan dapat meningkatkan
neurotransmitter dopaminergik, serotonergik dan
adrenalin
2. Neuroendoerine Theory
ECT menyebabkan dilepaskannya hormon-hormon
hipotalamik dan pituitari atau keduanya yang
menghasilkan efek antidepresan

3. Anticonvulsant Theory
ECT berpengaruh terhadap efek anticonvulsant di otak
yang menghasilkan efek antidepresi. Dukungan terhadap
teori ini didasarkan pada fakta bahwa ambang kejang
seseorang meningkat dan durasi kejang menurun selama
penggunaan ECT dan beberapa klien dengan epilepsi
mengalami kejang yang lebih sedikit setelah menerima
ECT
D. INDIKASI ECT

Menurut Goodman, et al (1993)


 Depresi mayor
 Manik
 Schizophrenia katatonik
 Klien yang mempunyai ide bunuh diri
 Psikotik dan retardasi psikomotor
 Perubahan-perubahan neurovegetatif seperti gangguan
tidur, nafsu makan dan energi
 Resistensi terhadap medikasi atau ketika klien tidak
toleransi terhadap medikasi karena efek samping yg berat
(Zarate, et al, 1995)
 Dilakukan apabila lebih aman dibandingkan medikasi
(AHCPR, 1993)
E. KONTRA INDIKASI ECT

 Usia lanjut, dulu usia >65 tahun tidak diperbolehkan,


dengan tehnik baru non kejang dapat diberikan sampai
batas usia 80 tahun
 kehamilan, kehamilan triwulan I dan terakhir
 Peningkatan TIK (Tekanan Intra Karnial)
 Penyakit kardiovaskuler: hipertensi, MI, CVA, klien dengan
pace maker
 Penyakit otak organik: tumor otak, aneurisma cerebri
 Phaechromocytona (tumor dan korteks adrenal)
F. KOMPLIKASI ECT

Komplikasi/ efek samping ECT meliputi efek


kardiovaskuler, sistemik dan kognitif
 Efek kardiovaskuler, dapat terjadi episode
singkat terjadinya hipotensi atau hipertensi,
bradikardia/ takikardia, aritmia minor selama
atau segera setelah prosedur. Komplikasi
kardiovaskuler merupakan penyebab utama
morbiditas dan motilitas yg dihubungkan dg
tindakan ECT
 Efek sistemik, meliputi sakit kepala, mual, nyeri
otot, kelemahan, anoreksia dan amenorhea

 Efek kognitif meliputi periode kebingungan segera


setelah kejang dan gangguan ingatan selama
prosedur. Kehilangan ingatan merupakan efek
jangka lama dari pemakaian ECT, banyak klien yg
tidak mengalami hal ini, namun ada juga yang
mengeluhkan adanya kehilangan beberapa
kenangan dalam beberapa bulan atau bahkan
tahun (Dubousky dan Thomas, 1995)
G. PENATALAKSANAAN ECT

1. Persiapan Alat dan Obat-obatan


Semua peralatan yang dibutuhkan harus sudah dalam
keadaan siap meliputi:
a. Alat konvulsator lengkap dengan alat monitoring, elektroda ECG
dan EEG, pasta/ gel elektroda dan chart paper
b. Alat-alat ventilasi meliputi, cubing mask, ambu bags dan gudel
c. Alat-alat intubasi, bite block sesuai ukuran
d. Cuff tekanan darah, oximeter pulse, stetoskop, reflek hamer, jarum
suntik dan infus set
e. Tabung oxigen yang sudah dipersiapkan
f. Alat penghisap lendir
g. Cairan alkohol, NaCl, kain kasa, plester
2. Persiapan Obat-obatan
• Obat-obatan yang akan digunakan dalam
tindakan ECT harus sudah dipersiapkan secara
baik dan benar seperti, glikopirulat, sulfas
atropin, midazolam, caffein, penthotal,
diazepam brevital, diprivan dan suksinil kolin
• Demikian pula dengan obat-obatan emergency
disiapkan sesuai dengan anjuran dari staf
anastesi, seperti adrenalin dan perangsang
pernafasan efedrin, aminophilin, dopamin,
myelon
3. Persiapan Pasien
Sebelum terapi kejang listrik dilakukan, perawat
harus melakukan pengkajian baik terhadap
keadaan fisik maupun psikologis pasien yang
meliputi:
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan
darah, suhu, nadi dan pernafasan.
b. Pemeriksaan penunjang diagnostik bila
diperlukan, misalkan EKG, EEG, [Link],
CT scan dan [Link] belakang
c. Pemeriksaan darah dan urine bila diperlukan
d. Pemeriksaan gigi, terutama bila menggunakan gigi palsu
e. Pemeriksaan mata bila menggunakan kontak lens agar
dilepaskan
f. Keadaan rambut dan kulit diupayakan agar bersih sehingga
tidak menghambat peletakan elektroda
g. Apakah klien telah dipuasakan? Biasanya dilakukan 4-6 jam
sebelum terapi
h. Vesika urinaria dan rectum sebaiknya dikosongkan
i. Perhatikan obat-obat yang digunakan klien, terutama obat yang
dapat menghambat, memperlambat maupun memperpanjang
ambang kejang (Benzodiazepin, lithium, theophylin)
j. Kaji tingkat kecemasan keluarga maupun klien
k. Kaji tingkat pengetahuan klien maupun keluarga terhadap
prosedur, kegunaan maupun side efek terapi kejang listrik
l. Kaji mekanisme koping yang digunakan klien maupun keluarga
4. Penatalaksanaan Tindakan ECT Premedikasi dan Anastesi

a. Pasien disiapkan ditempat tidur dengan posisi dagu kearah atas


dengan leher diganjal selimut, pasien diberi dukungan mental, jelaskan
tindakan yg akan dilakukan
b. Pasien diberi premedikasi anastesi injeksi sulfas atrofin 1-2 cc  30-60
menit sebelum dilakukan anastesi
c. Pasang INT (semacam wing needle) dan tensimeter
d. Longgarkan pakaian yang ketat
e. Pasang alat elektrode untuk EKG, EEG dan ECT
f. Monitor dicoba dahulu (self test) bila elektrode pemasangannya sudah
betul, akan terlihat dilayar monitor berhasil (self test passed), bila gagal
(failed) letak elektrode harus diperbaiki sampai berhasil (self test
passed)
g. Masukkan obat anastesi 2 cc dormikum atau phentotal 4-6 cc
(disesuaikan dg berat badan) melalui INT, aspirasi dulu untuk
mengetahui INT buntu atau tidak. Jika memakai phentotal, cara
memasukkan harus pelan-pelan, setiap masuk 1 cc, aspirasi dulu betul
masuk vena atau tidak, kemudian baru diteruskan sampai selesai,
karena jika tidak masuk vena akan menyebabkan nekrose jaringan
h. Naikkan tensimater diantara 180-200 (paling sedikit 10-20 diatas sistole)
ini dimaksudkan agar obat pelemas otot auccinylcholine tidak masuk ke
bagian distal lengan, sehingga lengan akan tetap kontraksi sebagai
kontrol kejang
i. Masukkan obat pelemas otot succinylcholine 3-4 cc (disesuaikan dg berat
badan) secara cepat. Perhatikan fasikulasi yg terjadi beri nafas buatan dg
respirator selama kurang lebih 1-2 menit sampai fasikulasi hilang.
j. Pasang spatel agar lidah tidak tergigit
k. Pasien dilepaskan sama sekali, jangan dipegang
l. Lakukan ECT dg monitor, biarkan sampai kejang pada lengan terhenti.
Setelah berhenti, tensimeter diturunkan lagi tapi jangan dilepaskan
[Link] nafas buatan kembali sampai pasien dapat bernafas dapat bernafas
sendiri secara adequat, ini dapat dilihat melalui gerakan otot perutnya
setelah setelah kurang lebih 4-5 menit. Tekanan pada pompa respirator
tidak boleh terlalu cepat atau lambat, frekuensi antara 12-20 kali
permenit.
n. Setelah pasien sadar, tensimeter, elektrode, INT dapat dilepas
Yang perlu diperhatikan:
 Dosis sulfas atrofin
0,01 mg/ kg BB
1 cc = 0,25 mg
 Phentotal
3-4 mg/ kg BB
1 cc = 50 mg
 Succinylcholin
1,5 mg/ kg BB
1 cc = 20 mg
 Dormikum
0,2 mg/ kg BB
1 cc = 5 mg
H. PROSEDUR DAN PELAKSANAAN ECT

 Prosedur ECT adalah dengan melintaskan aliran listrik


secara singkat melalui otak untuk menghasilkan kejang
secara umum dengan aliran listrik sebanyak 10-25 volt
selama 0,7-1,5 detik. Lamanya waktu untuk menghasilkan
kejang adalah 20-90 detik.
 Pelaksanaan ECT ini dilakukan sebanyak 6-12 kali untuk
klien dengan gangguan efektif. Pada klien Schizophrenia,
ECT diberikan 20-30 kali. ECT diberikan paling umum 3
kali seminggu, meskipun dapat diberikan setiap hari atau
lebih dari sekali sehari (Stuart & Sundeen, 1995)
I. DIAGNOSIS KEPERAWATAN YG MUNCUL MENURUT
NANDA

 Kecemasan
 Kurang pengetahuan
 Ketakutan
 Kebingungan akut
 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
 Resiko untuk aspirasi
 kelelahan
 Resiko untuk injuri
 Kerusakan memori
 Nyeri
 Ketidakefektifan regimen therapeutic management etc
J. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Intervensi Keperawatan pada Pre ECT

Tindakan keperawatan yang dilakukan perawat


terhadap pasien dan keluarga meliputi:
a. Membantu mengurangi tingkat kecemasan dan
rasa takut akibat persepsi yg salah terhadap
tindakan ECT. Misalnya keluarga menjadi
cemas dan takut karena menganggap bahwa
tindakan ECT akan menyebabkan kerusakan
otak yg permanen
b. … … …
b. Pasien sering kali mempersepsikan bahwa tindakan ECT merupakan suatu
hukuman yg kurang manusiawi, terutama bagi pasien yg pernah melihat
pasien lain di ECT dg cara konvensional.
c. Memberikan kesempatan pada pasien maupun keluarga untuk
mengungkapkan perasaan, terutama pengetahuan mengenai ECT
d. Memberikan pendidikan kesehatan dan informasi mengenai prosedur ECT,
manfaatnya maupun efek sampingnya
e. Menginformasikan persyaratan administratif untuk menandatangani
informed consent/ surat persetujuan ECT
f. Memastikan kembali bahwa pasien tidak menggunakan gigi palsu, contact
lens, kaca mata, pemerah kuku maupun bibir yg dapat menghalangi
pelaksanaan ECT
g. Menganjurkan pasien untuk mrnggunakan baju yg bersih dan longgar
h. Kandung kencing dalam keadaan kosong, kulit bersih terutama pada
arena yg akan dipasang elektroda, untuk menunjang penempelan
elektroda
i. Memberikan obat premedikasi seperti:
- Sulfas atropi. Diberikan 30-60 menit sebelum ECT dg dosis (0,01 mg/ kg BB IM.
- Tujuannya untuk mengurangi sekresi pernafasan dan mulut mencegah
brandikardia
- Penthotal/ thiopental diberikan secara perlahan-lahan
melalui intra vena dg dosis 3-4 mg/ kg BB. Kasiatnya
memberikan efek tidur yg tidak terlalu dalam sehingga
masa pemulihannya cepat dan tidak menimbulkan
muntah
- Suksinil kolin merupakan obat pelemas otot, diberikan
setelah pemberian anastesi dg dosis 1,5 mg/ kg BB secara
intra vena dg penyuntikan yg cepat dan akan bereaksi
setelah 30-60 detik dg masa kerja yg cukup singkat
kurang dari 10 menit. Efek samping yg perlu
diperhatikan adanya brandikardia dan peningkatan
tekanan intra karnial.
- ………
2. Intervensi Keperawatan Pasca ECT
Sebelum pasien sadar betul setelah tindakan ECT, asuhan
keperawatan yg diberikan sama dengan asuhan keperawatan
pasien coma pernafasan yaitu:
a. Jalan nafas pasien harus selalu terpelihara dengan baik
b. Posisi kepala dimiringkan untuk mencegah aspirasi oleh sekret
atau muntahan (suction harus tersedia dalam keadaan siap
pakai)
c. Monitor tanda-tanda vital (TA nadi pernafasan) sampai pasien
sadar betul
d. 10-15 menit setelah tindakan biasanya pasien sadar, tetapi
masih mengantuk oleh karena pengaruh obat anastesi
e. Orientasi pasien bila sudah sadar betul oleh karena
pasienbingung dan ketakutan melihat situasi sekelilingnya.
f. Orientasi dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan pasien
g. Bantu pasien untuk ambulasi atau berjalan keruang
maintarance
h. Waspadai terjadinya postual hipotensi pada saat pasien
berubah posisi
l. Perawat harus sensitif terhadap kebingungan pasien
yang disebabkan oleh pengobatan, observasi derajat
kebingungannya dan bila perlu laporkan ke dokter
m. Pada beberapa pasien, setelah tindakan ECT mengalami
sakit kepala dari ringan sampai berat dan sakit otot,
kerjasama dg dokter untuk pemberian analgetik
n. Perawat harus mengkaji sakit kepala pasien bila itu
merupakan masalah
o. Kadang-kadang pasien mengeluh mual dan muntal
setelah tindakan ECT. Hal ini dapat diatasi dengan
pemberian obat anti emetik

Anda mungkin juga menyukai