Mekanisme Pengajuan NUPTK untuk PTK
Mekanisme Pengajuan NUPTK untuk PTK
Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) merupakan Nomor Induk bagi
seorang Pendidik atau Tenaga Kependidikan (PTK). NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik
PNS maupun Non-PNS yang memenuhi persyaratan dan ketentuan. NUPTK merupakan Nomor
Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan
kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga
kependidikan.
NUPTK identik dengan Nomor Induk Siswa Nasional yang sudah ada, dimana
pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan dan persyaratan yang berlaku di masing-masing
unit kerja. NUPTK diberikan kepada Tenaga Pendidik dan/atau Tenaga Kependidikan jalur formal
maupun non formal di seluruh jenis dan jenjang pendidikan yang ada. Unit utama Pembina dapat
memanfaatkan hasil penerbitan NUPTK untuk kepentingan pelaksanaan programnya sesuai
dengan persyaratan, ketentuan, dan kebutuhan yang berlaku.
Berdasarkan Peraturan Sesjen Kemendikbud, Nomor 1 Tahun 2018 tentang Petunjuk
Teknis Pengelolaan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan dengan mekanisme
pengajuan NUPTK dimulai dari sekolah, kemudian dilakukan approval di Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota/Provinsi, selanjutnya dilakukan approval di LPMP/BPKLN, dan kemudian bagi
yang memenuhi persyaratan, NUPTK diterbitkan oleh PDSPK. Adapun verifikasi dan validasi
yang melibatkan Satuan Pendidikan, Dinas Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK adalah,
A. Proses Penerbitan NUPTK
Penerbitan NUPTK adalah pemberian nomor NUPTK kepada calon penerima NUPTK
yang sudah memenuhi seluruh persyaratan dan sudah diajukan oleh sekolah (OPS).
Penerbitan NUPTK dilaksanakan oleh PDSPK melalui aplikasi verval PTK setelah
diajukan oleh satuan pendidikan. Pengajuan NUPTK dapat dikabulkan apabila semua
persyaratan terpenuhi dan masih berlaku. Proses pengajuan NUPTK dimulai dari satuan
pendidikan mengajukan melalui aplikasi verval PTK dengan melampirkan dokumen yang
dibutuhkan setelah itu diverifikasi legalitasnya oleh Dinas Pendidikan, kemudian
LPMP/BPKLN memastikan kembali dokumen yang dilampirkan sudah sesuai dengan yang
dibutuhkan. Selanjutnya PDSPK memastikan kembali semua dokumen yang dilampirkan
sudah sesuai dan masih berlaku, serta memastikan kembali PTK tersebut masih berada di
satuan pendidikan maka pengajuan NUPTK tersebut akan diterbitkan.
Langkah-langkah pengajuan dan penerbitan NUPTK:
1. PTK mengajukan penerbitan NUPTK ke Satuan Pendidikan dengan melengkapi
persyaratan dalam bentuk file elektronik (hasil scan).
2. Satuan Pendidikan mengajukan penerbitan NUPTK melalui aplikasi verval PTK
dengan melengkapi semua persyaratan yang masih berlaku sesuai dengan apa yang
telah ditentukan.
3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi menerima pengajuan penerbitan
NUPTK dari sekolah dalam aplikasi verval PTK dengan melakukan pemeriksaan
berkas persyaratan dalam file elektronik, dalam hal keaslian cap dan tanda tangan,
keaslian hasil legalisir (untuk ijazah jika tidak ada berkas yang asli, maka bisa diganti
dengan SK pengganti ijazah), serta masa berlaku berkas. Apabila semua persyaratan
terpenuhi dan masih berlaku diteruskan (disetujui), kalau tidak sesuai dikembalikan
(ditolak).
4. LPMP menerima pengajuan penerbitan NUPTK dalam aplikasi verval PTK dari
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi dengan memeriksa persyaratan dalam
berkas (file) elektronik. BPKLN menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari satuan
pendidikan Indonesia di luar negeri. Apabila semua persyaratan terpenuhi dan masih
berlaku pegajuan diteruskan (disetujui), kalau tidak sesuai dikembalikan (ditolak).
5. PDSPK menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari satuan pendidikan yang sudah
disetujui oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/ Provinsi dan LPMP/BPKLN
melalui verval PTK, dengan memeriksa semua kelengkapan dan masa berlaku
berkas, dan kondisi saat ini terdata di Dapodik. Apabila semua persyaratan terpenuhi
dan masih berlaku, serta terdata di Dapodik sebagai guru aktif memiliki rombongan
belajar (rombel), maka pengajuan sah dan NUPTK diterbitkan, kalau tidak sesuai di
kembalikan (ditolak). Pengajuan NUPTK yang ditolak Surat Keputusan (SK) oleh
PDSPK, maka tidak melalui mekanisme pengajuan NUPTK dari awal, tetapi satuan
pendidikan cukup mengunggah SK yang diminta dan langsung masuk di antrian
PDSPK.
B. Penonaktifan NUPTK
Seseorang PTK yang karena sesuatu hal berhenti menjadi PTK, maka PTK yang
bersangkutan wajib dan merupakan keharusan untuk menonaktifkan NUPTK yang telah dimiliki.
Dokumen persyaratan penonaktifan NUPTK disiapkan oleh PTK yang bersangkutan,
dalam bentuk scan dokumen asli dengan tipe file PDF, kemudian diserahkan ke Operator Sekolah
untuk di-upload melalui aplikasi verval PTK.
Dokumen persyaratan penonaktifan NUPTK adalah sebagai berikut:
1. Surat pernyataan menonaktifkan NUPTK bermaterai dalam bentuk cetak dan salinan digital
ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan.
2. Surat persetujuan Kepala Satuan Pendidikan dalam bentuk salinan digital.
3. Surat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan setempat dalam bentuk salinan digital.
Penonaktifan NUPTK yang diajukan operator sekolah membutuhkan persetujuan (approve) Dinas
Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK.
C. Reaktivasi NUPTK
Seseorang yang karena sesuatu hal menginginkan kembali menjadi guru maka yang
bersangkutan harus mengaktifkan kembali NUPTK yang telah dinonaktifkan sebelumnya.
Dokumen persyaratan reaktivasi NUPTK disiapkan oleh PTK yang bersangkutan, dalam bentuk
scan dokumen asli dengan tipe file PDF (.pdf), kemudian diserahkan ke Operator Sekolah untuk
di-upload melalui aplikasi verval PTK.
Dokumen persyaratan reaktivasi NUPTK adalah sebagai berikut:
1. Surat pernyataan mengaktifkan NUPTK dengan bermaterai dalam bentuk cetak dan salinan
digital ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan.
2. Surat persetujuan Kepala Satuan Pendidikan dalam bentuk cetak.
3. Surat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan dalam bentuk salinan digital.
Reaktivasi NUPTK diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) Dinas Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK secara berurutan.
D. Klaim NUPTK
Persyaratan Klaim NUPTK adalah sebagai berikut:
1. PTK yang sudah memiliki NUPTK tapi terdaftar sebagai calon penerima NUPTK dapat
melakukan proses klaim NUPTK. Pastikan NUPTK yang dimiliki tersebut memang terdaftar
di laman: [Link] [Link]/Data/Status.
2. Operator sekolah memasukkan NUPTK yang diajukan oleh PTK pada kolom yang tersedia
dan mengirim pengajuan klaim NUPTK.
3. Operator PDSPK memeriksa validitas data yang diajukan dan apakah sudah sesuai dengan
data arsip atau belum. Jika data valid, maka pengajuan diterima. Selanjutnya jika data tidak
valid, maka pengajuan ditolak dan diberikan alasannya.
4. Operator sekolah memberi informasi status pengajuan klaim NUPTK ke PTK terkait.
5. Klaim NUPTK diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) PDSPK.
6. Syarat- syarat Klaim NUPTK:
Klaim NUPTK untuk mengganti atau memperbaiki NUPTK menjadi NUPTK yang benar dan
berlaku. Syarat dan dokumen yang perlu dilampirkan adalah:
a. NUPTK yang diklaim bukan milik orang lain.
b. NUPTK orang yang bersangkutan terdata di Dapodik.
c. Surat Penugasan (dari Dinas Pendidikan bagi satuan pendidikan negeri dan dari yayasan
bagi satuan pendidikan swasta).
d. PTK yang pindah tugas pada jenjang yang berbeda harus melampirkan surat penugasan
(bagi yang ditempatkan di satuan pendidikan negeri melampirkan Surat Penugasan dari
Dinas Pendidikan, dan bagi yang ditempatkan di satuan pendidikan swasta melampirkan
surat penugasan dari Yayasan).
e. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan swasta harus melampirkan Surat
Penugasan dari Yayasan penerima.
f. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan yang beda yayasan harus melampirkan SK
dari Yayasan penerima.
g. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan dalam jenjang yang berbeda dalam satu
Yayasan harus melampirkan SK dari Yayasan penerima.
h. PTK yang pindah dari satuan pendidikan swasta ke satuan pendidikan negeri harus
melampirkan Surat Penugasan dari Dinas Pendidikan.
E. Perbaikan Data Master
Dokumen persyaratan perbaikan data master disiapkan oleh PTK yang bersangkutan,
dalam bentuk scan dokumen asli, jika fotokopi harus dilegalisir cap basah oleh instansi terkait
dengan tipe file gambar (.jpg atau .png). Kemudian diserahkan ke Operator Sekolah untuk di-
upload melalui aplikasi Verval PTK. Memilih salah satu dokumen yang sesuai dengan jenis
perubahan:
a. Kartu Keluarga
b. Akte Kelahiran
c. Buku Nikah
d. KTP
e. Ijazah
Perbaikan data master diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) Dinas Pendidikan (Kabupaten/ Kota/Provinsi).
Mekanisme Pengusulan Penilaian Angka Kredit
A. Berkas Pengusulan
Berkas yang harus dilengkapi untuk melakukan pengusulan Penilaian Angka Kredit sebagai
berikut :
I. Dokumen Kepegawaian
1. Guru minimal Golongan IV/b Keatas;
2. Surat Pengantar dari pejabat yang berwenang mengusulkan;
3. DUPAK (Lampiran I, sesuai Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010);
4. PAK IV/a dan PAK IV/b;
5. SK kenaikan pangkat;
6. SK jabatan fungsional terakhir;
7. Fotocopy Penyesuaian PAK, jika sudah disesuaikan. Bagi yang belum disesuaikan, agar
melampirkan surat pernyataan belum memiliki penyesuaian PAK;
8. Penilaian Prestasi Kerja Pegawai (PPKP) 2 tahun terakhir;
9. Fotocopy KARPEG;
10. Fotocopy Konversi NIP;
11. Fotocopy Sertifikat Pendidik;
12. Fotocopy Ijazah S1, S2, dan/atau S3 berikut Surat Izin Belajar atau SK Tugas Belajar
yang sudah dan/atau akan diperhitungkan angka kreditnya;
Bagi yang tugas belajar dilengkapi dengan :
a. SK Pembagian Tugas Mengajar;
b. SK Pembebasan sementara dari jabatan fungsional guru;
c. SK Pengangkatan kembali dalam jabatan fungsional guru;
13. Surat laporan Hasil Penilaian Angka Kredit (HPAK) yang ditandatangani oleh Sekretaris
Tim Penilai Pusat yang berkedudukan di Jakarta, bila ada (apelan/perbaikan).
V. Unsur Penunjang
1. Surat pernyataan melaksanakan penunjang tugas guru. Surat Pernyataan Telah
Melaksanakan Unsur Penunjang, sebagaimana (Lampiran IV, sesuai Permendiknas
Nomor 35 Tahun 2010).
2. Ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampu:
a. fotokopi ijazah pendidikan lanjutan yang akan diperhitungkan angka kreditnya yang
disahkan oleh pejabat yang berwenang, yaitu dekan atau ketua sekolah tinggi atau
direktur politeknik pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Apabila ijazah
diperoleh dari Luar Negeri, harus mendapat pengakuan dari Kementerian Ristek dan
Dikti;
b. fotokopi surat izin belajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
c. fotokopi SK tugas belajar, SK pembebasan sementara dan SK pengangkatan
kembali yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.
3. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan yang mendukung tugas guru sesuai ketentuan dalam
masa penilaian;
4. Fotokopi penghargaan/tanda jasa yang diperoleh dalam masa penilaian yang dilegalisir
oleh pejabat yang berwenang;
5. Fotokopi Kartu Korpri dan Kartu PGRI
B. Prosedur Pengajuan PAK Golongan IV/b Ke Atas
a. Guru mengumpulkan berkas DUPAK beserta bukti fisiknya kepada Kepala Sekolah.
b. Kepala Sekolah melakukan klarifikasi terhadap berkas DUPAK, bukti fisiknya dan surat
pengantar kemudian diajukan kepada Dinas Pendidikan Prov/Kab/Kota.
c. Dinas Pendidikan Prov/Kab/Kota melakukan klarifikasi terhadap berkas DUPAK dan bukti
fisiknya, kemudian menandatangani surat pengantarnya untuk diajukan kepada Direktur
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan u.p. Kepala LPMP Sumatera Utara Sekretariat Tim
Penilai Pusat yang berkedudukan di LPMP setempat yang ditunjuk melalui PO BOX 1041
Medan.
d. Tim Sekretariat LPMP Sumatera Utara melakukan entry data pokok, PI dan KI. Kemudian
bersama-sama dengan Tim Sekretariat pusat mengelola DUPAK, bukti fisik dan lembar
penilaian untuk dilakukan penilaian oleh tim penilai angka kredit.
e. Tim penilai angka kredit melakukan penilaian terhadap berkas DUPAK dan bukti fisiknya,
kemudian hasil penilaian dikembalikan ke tim sekretariat pusat.
f. Jika berkas dinyatakan lulus atau dapat diajukan untuk kenaikan pangkat berikutnya, maka:
i. Tim sekretariat membuatkan surat penyesuaian angka kredit dan draft surat penetapan
angka kredit (PAK). Draft surat PAK diajukan kepada Dirjen PTK untuk ditandatangani.
ii. Dirjen PTK menandatangani surat PAK dan dikembalikan kepada tim sekretariat pusat.
iii. SK PAK, SK Penyesuaian Angka Kredit dan Surat Klarifikasi dikirim ke alamat sekolah
guru yang bersangkutan.
g. Jika berkas dinyatakan tidak lulus atau belum mencukupi untuk kenaikan pangkat berikutnya,
maka:
i. Tim Sekretariat membuatkan surat hasil penilaian angka kredit.
ii. Surat hasil penilaian angka kredit dikirim ke alamat sekolah guru yang bersangkutan atau
dapat di akses melalui laman e-pak guru : [Link]
Unsur dan Subunsur kegiatan Guru yang dinilai angka kreditnya adalah :
a. Unsur Utama
1) Pendidikan, meliputi:
a) Pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah dan
b) Pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan dan memperoleh surat tanda tamat
pendidikan dan pelatihan (STTPP) prajabatan atau sertifikat termasuk program
induksi.
2) Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, meliputi:
a) Melaksanakan proses pembelajaran, bagi guru kelas dan guru mata pelajaran.
b) Melaksanakan proses bimbingan, bagi guru bimbingan dan konseling
c) Melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
3) Pengembangan keprofesian berkelanjutan, meliputi:
a) Pengembangan diri:
1) Diklat fungsional
2) Kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru
b) Publikasi Ilmiah:
1) Publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang
pendidikan formal
2) Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru
c) Karya Inovatif:
1) Menemukan teknologi
2) Menemukan/menciptakan karya seni
3) Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum
4) Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya
b. Penunjang tugas guru, meliputi:
1) Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya
2) Memperoleh penghargaan/tanda jasa
3) Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru, antara lain:
a) Membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ekstrakurikuler dan
sejenisnya
b) Menjadi organisasi profesi/kepramukaan
c) Menjadi tim penilai angka kredit
d) Menjadi tutor/pelatih/instruktur
Penilaian Kinerja Guru
Cara mendaftar pretes PPG adalah dengan cara guru mengakses aplikasi simpkb masing-
masing di alamat website [Link]. Masuk atau login dengan menuliskan nomor
peserta UKG dan password bagi guru yang lupa nomor UKG nya dapat menghubungi
operator SIMPKB Dinas.
Persyaratan administrasi:
a. Diangkat sebagai guru sampai dengan 31 Desember 2015.
b. Terdaftar pada Dapodik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per tanggal 31 Juli
2017.
c. Memiliki NUPTK (dapat dipenuhi setelah lulus pretest).
d. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari perguruan
tinggi yang memiliki program studi yang terakreditasi, dibuktikan dengan scan ijazah
S-1/ D-IV.
e. Berkualifikasi akademik S-1/D-IV yang sesuai dengan program studi pada PPG yang
akan diikuti.
f. Masih aktif mengajar dibuktikan dengan memiliki SK pembagian tugas mengajar dari
kepala sekolah 2 (dua) tahun terakhir.
g. Berstatus guru PNS, guru Bukan PNS di sekolah negeri, dan guru tetap yayasan (GTY).
Guru bukan PNS di sekolah negeri dibuktikan dengan SK Pengangkatan dari Kepala
Daerah atau Kepala Dinas Pendidikan 2 (dua) tahun terakhir.
h. Berusia setinggi-tingginya 58 tahun dihitung sampai dengan tanggal 31 Desember
tahun 2018.
i. Sehat jasmani dan rohani
j. Bebas Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).
k. Berkelakuan baik.
2. Persyaratan guru bukan PNS di sekolah negeri seperti disebutkan pada huruf g di atas, hanya
berlaku untuk pendaftaran dan pelaksanaan PPG Dalam Jabatan, tidak berlaku untuk
persyaratan pembayaran tunjangan profesi pendidik. Biaya pelaksanaan PPG Dalam Jabatan
bagi guru bukan PNS di sekolah negeri menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah atau Satuan
Pendidikan, kecuali guru yang mengajar di daerah khusus (3T).
3. Guru menetapkan program studi yang akan diikuti dalam PPG. Ketentuan penetapan program
studi PPG adalah linier dengan program studi/jurusan pada ijazah S-1/D-IV yang dimiliki.
Daftar Linieritas program studi PPG pada Lampiran II. Guru mengisi nama perguruan tinggi
dan program studi sesuai dengan ijazah S-1/D-IV.
4. LPMP melakukan verifikasi dan validasi kesesuaian atau linieritas antara program studi PPG
yang dipilih dengan program studi/jurusan pada ijazah S-1/D-4. Hasil verifikasi dan validasi
tersebut dinyatakan dengan 3 (tiga) kategori sebagai berikut:
a. “Diterima” jika program studi PPG yang dipilih linier dengan program studi/jurusan pada
ijazah S-1/D-IV.
b. “Ditolak” jika program studi PPG yang dipilih tidak linier dengan ijazah S-1/D-IV dan
tidak dimungkinkan adanya perbaikan. Contoh: Guru dengan kualifikasi akademik Sarjana
Hukum tidak linier dengan program studi PPG yang ada.
c. “Diperbaiki’ jika bidang studi PPG yang dipilih tidak linier dengan ijazah S-1/D-IV tetapi
dimungkinkan adanya perbaikan. Contoh: Guru dengan kualifikasi akademik Sarjana
Bahasa Inggris memilih program studi PPG Guru Kelas SD. Jika Guru tersebut ingin
mengikuti PPG maka guru harus memperbaiki program studinya menjadi Bahasa Inggris.
5. Semua berkas tersebut dikirimkan ke Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten Kota untuk
diverifikasi dan divalidasi. Guru yang lolos verifikasi dan validasi dinyatakan sebagai peserta
pretest PPG dalam jabatan.
PPG dalam jabatan diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
selama 1 semester sebanyak 24 SKS.
Tahapannya adalah sebagai berikut:
Pembelajaran daring melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Ristekdikti selama 3 bulan
Pembelajaran tatap muka (lokakarya) di LPTK selama 5 minggu
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah sekitar LPTK selama 3 minggu
Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG) di LPTK di akhir
pelaksanaan pendidikan.
Layanan Umum
Layanan Umum adalah satu layanan selain layanan lainnya yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang/jasa yang dijual tanpa
mengutamanakanmencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
efisiensi dan produktivitas.
Salah satu jenis layanan yang ada di ULT LPMP Sumatera Utara adalah mengenai layanan
umum. Maksud dari layanan umum ini adalah layanan selain NUPTK, Tunjangan Profesi, dan
Penilaian Angka Kredit (PAK).
Layanan yang termasuk ke dalam layanan umum adalah:
1. Calon Kepala Sekolah (CKS)
2. Penguatan Kepala Sekolah
3. Pengadaan dan penawaran barang/jasa
4. Peminjamam fasilitas gedung LPMP Sumut
5. Peningkatan Mutu Pendidikan
6. Rapot Mutu
7. Sekolah model
Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan
pendidikan. Peranan kepala kekolah dalam mengembangkan dan memajukan sekolah menjadi
satuan pendidikan yang berkualitas cukup besar. Persyaratan Bakal Calon Kepala Sekolah.
Kualitas pendidikan di sekolah sangat tergantung kepada kualitas diri kepala kekolah. Kepala
Sekolah yang berkualitas adalah kepala sekolah yang memiliki keunggulan dalam lima
kompetensi. Kompetensi tersebut terdiri atas kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan,
supervisi dan kompetensi sosial.
Selain kompetensi tersebut, seorang kepala sekolah harus memiliki bekal kepemimpinan,
bukan penguasa. Tugas pokok kepala sekolah adalah memimpin dan mengelola guru dan staf
untuk bekerja sebaik-baiknya demi tercapainya tujuan sekolah. Pada saat memimpin, kepala
sekolah harus mampu menerapkan tipe kepemimpinan sesuai dengan karakteristik guru dan staf
di sekolahnya. Tipe kepemimpinan itu situasional, artinya kepemimpinan dapat efektif pada situasi
tertentu namun kurang efektif untuk situasi yang lain. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan
oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS).
Guru dapat menjadi bakal calon Kepala Sekolah apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana S-1 atau D-IV dari perguruan tinggi dan
program studi yang terakreditasi paling rendah B.
2. Memiliki sertifikat pendidik.
3. Bagi Guru PNS memiliki pangkat paling rendah Penata, golongan ruang III/c
4. Pengalaman mengajar paling sedikit 6 (enam) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah masing-
masing. Kecuali di TK/TKLB memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga)
tahun.
5. Memiliki hasil penilaian prestasi kerja guru dengan sebutan paling rendah “Baik” selama 2
(dua) tahun terakhir.
6. Memiliki pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah paling
sedikit 2 (dua) tahun.
7. Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA berdasarkan surat keterangan dari rumah sakit
Pemerintah.
8. Tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
9. Tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
10. Berusia paling tinggi 56 (lima puluh enam) tahun pada waktu pengangkatan pertama sebagai
Kepala Sekolah.
C. Pengadaan Barang/Jasa
Untuk layanan informasi lebih lengkap mengenai peminjaman sarana dan prasarana, dapat
menghubungi call center LPMP Sumut 061-8222372
E. Raport Mutu
Secara nasional, mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum seperti yang
diharapkan. Hasil pemetaan mutu pendidikan secara nasional pada tahun 2014 menunjukkan
hanya sekitar 16% satuan pendidikan yang memenuhi standar nasional pendidikan (SNP).
Sebagian besar satuan pendidikan belum memenuhi SNP, bahkan ada satuan pendidikan yang
masih belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).
Standar kualitas pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah berbeda dengan standar yang
dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Standar yang digunakan oleh sebagian besar sekolah jauh
di bawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Akibatnya, kualitas lulusan yang dihasilkan
oleh satuan pendidikan belum memenuhi standar yang diharapkan. Kesenjangan antara hasil ujian
nasional dengan hasil ujian sekolah yang lebar menunjukkan bahwa ada permasalahan dalam
instrumen dan metode pengukuran hasil belajar siswa
Upaya peningkatan mutu pendidikan ini tidak akan dapat diwujudkan tanpa ada upaya
perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan menuju pendidikan bermutu. Untuk mewujudkan
pendidikan bermutu ini, upaya membangun budaya mutu di satuan pendidikan menjadi suatu
kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Satuan pendidikan harus mengimplementasikan penjaminan
mutu pendidikan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Mutu pendidikan dasar dan menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada satuan
pendidikan dasar dan pendidikan menengah dan/atau program keahlian. Mutu pendidikan di
satuan pendidikan tidak akan meningkat tanpa diiringi dengan penjaminan mutu pendidikan oleh
satuan pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah suatu mekanisme
yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses
penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Untuk
dapat melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan baik diperlukan adanya sistem penjaminan
mutu pendidikan.
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang
terdiri dari organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk
meningkatkan mutu Pendidikan Dasar dan Menengah secara sistematis, terencana dan
berkelanjutan.
Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk menjamin
pemenuhan standar pada satuan pendidikan dasar dan menengah secara sistemik, holistik, dan
berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara
mandiri.
Sistem penjaminan mutu pendidikan berfungsi sebagai pengendali penyelenggaraan
pendidikan oleh satuan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu
F. Sekolah Model
Definisi sekolah model menurut Buku Juknis Dikdasmen, adalah sekolah yang ditetapkan dan
dibina oleh LPMP untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam penerapan
penjaminan mutu pendidikan secara mandiri; menerapkan seluruh siklus penjaminan mutu
pendidikan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga budaya mutu tumbuh dan
berkembang secara mandiri serta memiliki tanggungjawab untuk mengimbaskan praktik baik
penerapan penjaminan mutu pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya.
Sekolah model dipilih dari sekolah yang belum memenuhi SNP untuk dibina oleh LPMP agar
dapat menerapkan penjaminan mutu pendidikan di sekolah mereka sebagai upaya untuk memenuhi
SNP. Pembinaan oleh LPMP dilakukan hingga sekolah telah mampu melaksanakan penjaminan
mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model dijadikan sebagai sekolah percontohan bagi
sekolah lain yang akan menerapkan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model
memiliki tanggungjawab untuk mengimbaskan praktik baik penerapan penjaminan mutu
pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya, sekolah yang diimbaskan ini selanjutnya disebut
dengan sekolah imbas.
Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di sekolah harus dilakukan oleh seluruh anggota
sekolah yaitu kepala sekolah, guru, siswa dan staf sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Ada
lima tahapan siklus yang harus dilaksanakan yaitu:
1. Tahap pertama adalah memetakan mutu sekolah dengan berpedoman pada EDS
2. Tahap kedua adalah membuat perencanaan peningkatan mutu sekolah
3. Tahap ketiga adalah pelaksanaan program penjaminan mutu sekolah
4. Tahap keempat adalalah monitoring dan evaluasi
5. Tahap kelima strategi peningkatan mutu sekolah
Dalam pelaksanaannya, LPMP akan memberikan pendampingan kepada sekolah model yang
telah dipilih sampai sekolah tersebut mampu melaksanakan siklus pemenuhan mutu pendidikan
internal secara mandiri. Adapun program pendampingan yang dilaksanakan LPMP pada tahun
2016 terbagi kepada beberapa tahap antara lain:
1. Bimtek Sekolah Model, di tiap kabupaten/kota yang terpilih menjadi pilot project SPMI;
2. Pendampingan Tahap 1, di sekolah model;
3. Pendampingan Tahap 2, di sekolah model;
4. Workshop Penyusunan Potret Sekolah, di LPMP Propinsi;
5. Ekspose Sekolah Model, di kabupaten dilanjutkan di tingkat pusat.
Puncak dari pendampingan program sekolah ini adalah ekspose/pameran yang dilaksanakan di
tingkat kabupaten dan dilanjutkan di tingkat pusat. Materi yang ditampilkan di ekspose sekolah
model adalah;
1) Potret / Profil Sekolah Model
2) Odner (map) yang berisikan dokumentasi kegiatan sekolah dalam pelaksanaan 5 siklus
SPMI mencakup dokumen tertulis dan foto-foto kegiatan
3) Foto-foto kegiatan pelaksanaan SPMI di sekolah
4) Slide show kegiatan SPMI
5) Banner, Pamflet, Newsletter, dan lainnya