0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan23 halaman

Mekanisme Pengajuan NUPTK untuk PTK

Mekanisme pengajuan NUPTK melibatkan verifikasi dan validasi dokumen oleh berbagai instansi, yaitu satuan pendidikan, dinas pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK. Pengajuan dimulai dari satuan pendidikan, kemudian diverifikasi dinas pendidikan dan LPMP/BPKLN, apabila lolos validasi maka NUPTK diterbitkan PDSPK. Persyaratan pengajuan NUPTK antara lain KTP, ijazah, dan surat keputusan pen

Diunggah oleh

prima lydia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan23 halaman

Mekanisme Pengajuan NUPTK untuk PTK

Mekanisme pengajuan NUPTK melibatkan verifikasi dan validasi dokumen oleh berbagai instansi, yaitu satuan pendidikan, dinas pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK. Pengajuan dimulai dari satuan pendidikan, kemudian diverifikasi dinas pendidikan dan LPMP/BPKLN, apabila lolos validasi maka NUPTK diterbitkan PDSPK. Persyaratan pengajuan NUPTK antara lain KTP, ijazah, dan surat keputusan pen

Diunggah oleh

prima lydia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mekanisme Pengusulan NUPTK

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) merupakan Nomor Induk bagi
seorang Pendidik atau Tenaga Kependidikan (PTK). NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik
PNS maupun Non-PNS yang memenuhi persyaratan dan ketentuan. NUPTK merupakan Nomor
Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan
kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga
kependidikan.
NUPTK identik dengan Nomor Induk Siswa Nasional yang sudah ada, dimana
pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan dan persyaratan yang berlaku di masing-masing
unit kerja. NUPTK diberikan kepada Tenaga Pendidik dan/atau Tenaga Kependidikan jalur formal
maupun non formal di seluruh jenis dan jenjang pendidikan yang ada. Unit utama Pembina dapat
memanfaatkan hasil penerbitan NUPTK untuk kepentingan pelaksanaan programnya sesuai
dengan persyaratan, ketentuan, dan kebutuhan yang berlaku.
Berdasarkan Peraturan Sesjen Kemendikbud, Nomor 1 Tahun 2018 tentang Petunjuk
Teknis Pengelolaan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan dengan mekanisme
pengajuan NUPTK dimulai dari sekolah, kemudian dilakukan approval di Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota/Provinsi, selanjutnya dilakukan approval di LPMP/BPKLN, dan kemudian bagi
yang memenuhi persyaratan, NUPTK diterbitkan oleh PDSPK. Adapun verifikasi dan validasi
yang melibatkan Satuan Pendidikan, Dinas Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK adalah,
A. Proses Penerbitan NUPTK
Penerbitan NUPTK adalah pemberian nomor NUPTK kepada calon penerima NUPTK
yang sudah memenuhi seluruh persyaratan dan sudah diajukan oleh sekolah (OPS).
Penerbitan NUPTK dilaksanakan oleh PDSPK melalui aplikasi verval PTK setelah
diajukan oleh satuan pendidikan. Pengajuan NUPTK dapat dikabulkan apabila semua
persyaratan terpenuhi dan masih berlaku. Proses pengajuan NUPTK dimulai dari satuan
pendidikan mengajukan melalui aplikasi verval PTK dengan melampirkan dokumen yang
dibutuhkan setelah itu diverifikasi legalitasnya oleh Dinas Pendidikan, kemudian
LPMP/BPKLN memastikan kembali dokumen yang dilampirkan sudah sesuai dengan yang
dibutuhkan. Selanjutnya PDSPK memastikan kembali semua dokumen yang dilampirkan
sudah sesuai dan masih berlaku, serta memastikan kembali PTK tersebut masih berada di
satuan pendidikan maka pengajuan NUPTK tersebut akan diterbitkan.
Langkah-langkah pengajuan dan penerbitan NUPTK:
1. PTK mengajukan penerbitan NUPTK ke Satuan Pendidikan dengan melengkapi
persyaratan dalam bentuk file elektronik (hasil scan).
2. Satuan Pendidikan mengajukan penerbitan NUPTK melalui aplikasi verval PTK
dengan melengkapi semua persyaratan yang masih berlaku sesuai dengan apa yang
telah ditentukan.
3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi menerima pengajuan penerbitan
NUPTK dari sekolah dalam aplikasi verval PTK dengan melakukan pemeriksaan
berkas persyaratan dalam file elektronik, dalam hal keaslian cap dan tanda tangan,
keaslian hasil legalisir (untuk ijazah jika tidak ada berkas yang asli, maka bisa diganti
dengan SK pengganti ijazah), serta masa berlaku berkas. Apabila semua persyaratan
terpenuhi dan masih berlaku diteruskan (disetujui), kalau tidak sesuai dikembalikan
(ditolak).
4. LPMP menerima pengajuan penerbitan NUPTK dalam aplikasi verval PTK dari
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi dengan memeriksa persyaratan dalam
berkas (file) elektronik. BPKLN menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari satuan
pendidikan Indonesia di luar negeri. Apabila semua persyaratan terpenuhi dan masih
berlaku pegajuan diteruskan (disetujui), kalau tidak sesuai dikembalikan (ditolak).
5. PDSPK menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari satuan pendidikan yang sudah
disetujui oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/ Provinsi dan LPMP/BPKLN
melalui verval PTK, dengan memeriksa semua kelengkapan dan masa berlaku
berkas, dan kondisi saat ini terdata di Dapodik. Apabila semua persyaratan terpenuhi
dan masih berlaku, serta terdata di Dapodik sebagai guru aktif memiliki rombongan
belajar (rombel), maka pengajuan sah dan NUPTK diterbitkan, kalau tidak sesuai di
kembalikan (ditolak). Pengajuan NUPTK yang ditolak Surat Keputusan (SK) oleh
PDSPK, maka tidak melalui mekanisme pengajuan NUPTK dari awal, tetapi satuan
pendidikan cukup mengunggah SK yang diminta dan langsung masuk di antrian
PDSPK.

Catatan: setiap penolakan dari masing-masing tingkatan harus dilengkapi dengan


catatan yang menunjukan letak kesalahan dan memberikan solusi yang benar dan
jelas.

Persyaratan pengajuan dan penerbitan NUPTK:


1. PTK terdata dalam pangkalan data Dapodik dan memiliki rombongan belajar.
2. Belum memiliki NUPTK.
3. Bertugas di satuan pendidikan yang memiliki NPSN.
4. Kartu Tanda Penduduk (KTP).
5. Ijazah dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan terakhir.
6. Bukti memiliki kualifikasi akademik paling rendah diploma IV (D-IV) atau strata 1
(S-1) bagi Pendidik pada Satuan Pendidikan Formal.
7. Bagi yang berstatus CPNS/PNS melampirkan:
a. SK pengangkatan CPNS/PNS, dan b. SK Penugasan dari Dinas Pendidikan.
8. Surat keputusan pengangkatan dari Kepala Dinas Pendidikan bagi yang berstatus
bukan PNS yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah daerah; dan telah bertugas paling sedikit selama 2 (dua) tahun secara
terus menerus yang dibuktikan melalui surat keputusan pengangkatan dari ketua
yayasan atau badan hukum lainnya dan SK Penugasan/pembagian jam mengajar dari
kepala sekolah/kepala yayasan bagi yang berstatus bukan PNS pada satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Penjelasan Persyaratan penerbitan NUPTK:
1. Untuk guru PNS atau CPNS di sekolah negeri dan swasta;
(1) SK Pengangkatan PNS/CPNS dan atau SK Penugasan dari Dinas Pendidikan.
Apabila pada SK Pengangkatan dijelaskan tentang nama guru yang bersangkutan
beserta satuan pendidikan dimana guru tersebut ditugaskan maka cukup melampirkan
SK Pengangkatan saja. Jika tidak, maka harus melampirkan juga SK Penugasan dari
Kepala Dinas Pendidikan terkait penempatan/penugasan guru tersebut, (2) KTP, (3)
Ijazah SD atau sederajat, (4) Ijazah SMP atau sederajat, (5) Ijazah SMA/ SMK atau
sederajat, (6) Ijazah S1 atau D4.
2. Untuk guru non PNS di sekolah negeri;
(1) SK Pengangkatan bisa berupa; SK Penugasan, Surat Perjanjian Kontrak Kerja,
Surat Keterangan dari Kepala Dinas Pendidikan/Bupati/Gubernur/BKD, Surat
Perintah Melaksanakan Tugas, SK Pembayaran Honorarium. SK yang dilampirkan
haruslah yang terbaru atau terakhir dan harus memiliki KOP surat. Apabila SK
Pengangkatan berbentuk kolektif pada bagian daftar nama guru yang bersangkutan
harus dilegalisir oleh Dinas Pendidikan dan diberi tanda pada nama guru yang
bersangkutan (nomor dilingkari), (2) KTP, (3) Ijazah SD atau sederajat, (4) Ijazah
SMP atau sederajat, (5) Ijazah SMA/SMK atau sederajat, (6) Ijazah S1 atau D4.
3. Untuk guru non PNS (diangkat oleh pemerintah) di sekolah swasta;
(1) SK Pengangkatan bisa berupa; SK Penugasan, Surat Perjanjian Kontrak Kerja,
Surat Keterangan dari Kepala Dinas Pendidikan/ Bupati/Gubernur/BKD, Surat
Perintah Melaksanakan Tugas, SK Pembayaran Honorarium. SK yang dilampirkan
haruslah yang terbaru atau terakhir. Apabila SK Pengangkatan berbentuk kolektif
pada bagian daftar nama PTK yang bersangkutan harus dilegalisir oleh dinas
pendidikan dan diberi tanda pada nama PTK yang bersangkutan (nomor dilingkari),
(2) SK Penugasan dari Kepala Sekolah/Kepala Yayasan dalam penetapan jadwal
mengajar atau pembagian tugas mengajar paling sedikit 2 (dua) tahun terakhir secara
terus menerus (5 semester di yayasan yang sama walaupun beda jenjang). (3) KTP,
(4) Ijazah SD atau sederajat, (5) Ijazah SMP atau sederajat, (6) Ijazah SMA/SMK
atau sederajat, (7) Ijazah S1 atau D4.
4. Untuk guru non PNS (diangkat oleh yayasan) di sekolah swasta;
(1) SK Pengangkatan dari Ketua Yayasan yang masih berlaku, (2) SK Penugasan dari
Kepala Sekolah/Yayasan dalam penetapan jadwal mengajar atau pembagian tugas
mengajar paling sedikit 2 tahun terakhir secara terus menerus (5 semester di yayasan
yang sama walaupun beda jenjang).
Contoh apabila guru tersebut diangkat pada tahun ajaran 2010/2011 mengajukan
penerbitan NUPTK pada tahun ajaran 2018/2019, maka SK Penugasan yang
dilampirkan adalah tahun 2016/2017, 2017/2018 dan 2018/2019.
(3) KTP, (4) Ijazah SD atau sederajat, (5) Ijazah SMP atau sederajat, (6) Ijazah
SMA/SMK atau sederajat, (7) Ijazah S1 atau D4.
5. Dokumen SK Pengangkatan dan SK Penugasan harus di-scan dari dokumen asli, jika
fotokopi harus dilegalisir cap basah oleh instansi terkait.
6. Jenis-jenis guru Non PNS yang dimaksud adalah guru honor, guru kontrak, guru
bantu daerah, Guru Tetap Yayasan (GTY), Guru Tidak Tetap (GTT), Guru Wiyata
Bakti.
7. Untuk kepala sekolah di sekolah negeri; (1) SK Pengangkatan sebagai Kepala
Sekolah yang terbaru dari Dinas Pendidikan, (2) KTP, (3) Ijazah SD atau sederajat,
(4) Ijazah SMP atau sederajat, (5) Ijazah SMA/SMK atau sederajat, (6) Ijazah S1 atau
D4.
8. Untuk kepala sekolah di sekolah swasta; (1) SK Pengangkatan sebagai Kepala
Sekolah yang terbaru dari Yayasan, (2) KTP, (3) Ijazah SD atau sederajat, (4) Ijazah
SMP atau sederajat, (5) Ijazah SMA/SMK atau sederajat, (6) Ijazah S1 atau D4.
9. Untuk Tenaga Kependidikan (tenaga administrasi, pustakawan, dan lainnya)
pengajuan penerbitan NUPTK persyaratannya sama dengan guru/ pendidik tetapi
untuk kualifikasi pendidikan mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2008
tentang Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah dan Permendikbud Nomor 32 Tahun
2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Minimal Pendidikan.
10. Semua yang dilampirkan berupa hasil scan dokumen asli.
Untuk KTP harus scan dokumen asli berwarna. Apabila hilang atau belum
mendapatkan, dapat melampirkan Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil. Jika fotokopi harus dilegalisir oleh Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil/Kecamatan.
Untuk Ijazah dilampirkan scan dokumen asli berwarna atau dokumen fotokopi yang
dilegalisir cap basah oleh lembaga yang mengeluarkan ijazah atau Dinas Pendidikan
tempat domisili. Jika ijazah hilang maka dokumen yang dilampirkan adalah surat
keterangan pengganti ijazah yang ditandatangani oleh kepala sekolah yang
bersangkutan serta diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat. (Surat tersebut
dibuat berdasarkan dari surat laporan kehilangan dari kepolisian yang tertuang di
dalam redaksi).
11. Yang berhak melakukan pengesahan SK Pengangkatan adalah pejabat yang
berwenang (Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala BKD
atau pelaksana tugas (Plt)).
12. Masa berlaku SK Pengangkatan;
Masa berlaku SK Pengangkatan disesuaikan dengan bunyi redaksinya, ada yang
mulai berlaku dari tanggal ditetapkan hingga tanggal yang sudah ditentukan. Ada
yang menetapkan satu tahun anggaran, ada pula yang menetapkan satu tahun
pelajaran. Apabila pada SK Pengangkatan tidak ada redaksi yang menyebutkan batas
masa berlakunya maka SK Pengangkatan tersebut masih berlaku dengan catatan
belum ada SK Pengangkatan terbaru yang keluar. Approval mengacu pada tahun SK
Pengangkatan dengan tahun pengajuan penerbitan NUPTK bukan pada tahun verval.
Masa berlaku SK Pengangkatan dari yayasan disesuaikan dengan bunyi redaksinya.
Ada yang setiap tahun yayasan mengeluarkan SK Pengangkatan. Ada yang
menetapkan per tahun pelajaran, ada juga yang mulai berlaku dari tanggal ditetapkan
hingga tanggal yang sudah ditentukan. Ada pula yang dikeluarkan sekali dan berlaku
tanpa ada batas waktu sampai keluar SK Pembaharuan.
13. Yang dimaksud program khusus sebagaimana yang dijelaskan pada pasal 6 Persesjen
nomor 1 tahun 2018 adalah guru yang mengikuti program Kemendikbud yang bukan
program regular dan tidak untuk umum (Guru Garis Depan, SM3T). Salah satu
contoh program reguler yang tidak masuk dalam kriteria pasal tersebut adalah lulus
pretes PPG dan lulus PPG.
14. Status Penerbitan NUPTK;

Pengajuan Penerbitan NUPTK sudah diajukan oleh Operator Sekolah dan


sekarang berada di antrian Dinas Pendidikan

Pengajuan Penerbitan NUPTK ditolak oleh Dinas Pendidikan.

Pengajuan Penerbitan NUPTK sudah diapprove oleh Dinas Pendidikan dan


sekarang berada di antrian LPMP.

Pengajuan Penerbitan NUPTK ditolak oleh LPMP.

Pengajuan Penerbitan NUPTK sudah diapprove oleh LPMP dan sekarang


berada di antrian PDSPK.

Pengajuan Penerbitan NUPTK diapprove oleh PDSPK, dan NUPTK


diterbitkan.
Pengajuan Penerbitan NUPTK ditolak oleh PDSPK.

B. Penonaktifan NUPTK
Seseorang PTK yang karena sesuatu hal berhenti menjadi PTK, maka PTK yang
bersangkutan wajib dan merupakan keharusan untuk menonaktifkan NUPTK yang telah dimiliki.
Dokumen persyaratan penonaktifan NUPTK disiapkan oleh PTK yang bersangkutan,
dalam bentuk scan dokumen asli dengan tipe file PDF, kemudian diserahkan ke Operator Sekolah
untuk di-upload melalui aplikasi verval PTK.
Dokumen persyaratan penonaktifan NUPTK adalah sebagai berikut:
1. Surat pernyataan menonaktifkan NUPTK bermaterai dalam bentuk cetak dan salinan digital
ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan.
2. Surat persetujuan Kepala Satuan Pendidikan dalam bentuk salinan digital.
3. Surat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan setempat dalam bentuk salinan digital.
Penonaktifan NUPTK yang diajukan operator sekolah membutuhkan persetujuan (approve) Dinas
Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK.
C. Reaktivasi NUPTK
Seseorang yang karena sesuatu hal menginginkan kembali menjadi guru maka yang
bersangkutan harus mengaktifkan kembali NUPTK yang telah dinonaktifkan sebelumnya.
Dokumen persyaratan reaktivasi NUPTK disiapkan oleh PTK yang bersangkutan, dalam bentuk
scan dokumen asli dengan tipe file PDF (.pdf), kemudian diserahkan ke Operator Sekolah untuk
di-upload melalui aplikasi verval PTK.
Dokumen persyaratan reaktivasi NUPTK adalah sebagai berikut:
1. Surat pernyataan mengaktifkan NUPTK dengan bermaterai dalam bentuk cetak dan salinan
digital ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan.
2. Surat persetujuan Kepala Satuan Pendidikan dalam bentuk cetak.
3. Surat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan dalam bentuk salinan digital.
Reaktivasi NUPTK diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) Dinas Pendidikan, LPMP/BPKLN, dan PDSPK secara berurutan.

D. Klaim NUPTK
Persyaratan Klaim NUPTK adalah sebagai berikut:
1. PTK yang sudah memiliki NUPTK tapi terdaftar sebagai calon penerima NUPTK dapat
melakukan proses klaim NUPTK. Pastikan NUPTK yang dimiliki tersebut memang terdaftar
di laman: [Link] [Link]/Data/Status.
2. Operator sekolah memasukkan NUPTK yang diajukan oleh PTK pada kolom yang tersedia
dan mengirim pengajuan klaim NUPTK.
3. Operator PDSPK memeriksa validitas data yang diajukan dan apakah sudah sesuai dengan
data arsip atau belum. Jika data valid, maka pengajuan diterima. Selanjutnya jika data tidak
valid, maka pengajuan ditolak dan diberikan alasannya.
4. Operator sekolah memberi informasi status pengajuan klaim NUPTK ke PTK terkait.
5. Klaim NUPTK diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) PDSPK.
6. Syarat- syarat Klaim NUPTK:
Klaim NUPTK untuk mengganti atau memperbaiki NUPTK menjadi NUPTK yang benar dan
berlaku. Syarat dan dokumen yang perlu dilampirkan adalah:
a. NUPTK yang diklaim bukan milik orang lain.
b. NUPTK orang yang bersangkutan terdata di Dapodik.
c. Surat Penugasan (dari Dinas Pendidikan bagi satuan pendidikan negeri dan dari yayasan
bagi satuan pendidikan swasta).
d. PTK yang pindah tugas pada jenjang yang berbeda harus melampirkan surat penugasan
(bagi yang ditempatkan di satuan pendidikan negeri melampirkan Surat Penugasan dari
Dinas Pendidikan, dan bagi yang ditempatkan di satuan pendidikan swasta melampirkan
surat penugasan dari Yayasan).
e. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan swasta harus melampirkan Surat
Penugasan dari Yayasan penerima.
f. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan yang beda yayasan harus melampirkan SK
dari Yayasan penerima.
g. PTK yang pindah tugas dari satuan pendidikan dalam jenjang yang berbeda dalam satu
Yayasan harus melampirkan SK dari Yayasan penerima.
h. PTK yang pindah dari satuan pendidikan swasta ke satuan pendidikan negeri harus
melampirkan Surat Penugasan dari Dinas Pendidikan.
E. Perbaikan Data Master
Dokumen persyaratan perbaikan data master disiapkan oleh PTK yang bersangkutan,
dalam bentuk scan dokumen asli, jika fotokopi harus dilegalisir cap basah oleh instansi terkait
dengan tipe file gambar (.jpg atau .png). Kemudian diserahkan ke Operator Sekolah untuk di-
upload melalui aplikasi Verval PTK. Memilih salah satu dokumen yang sesuai dengan jenis
perubahan:
a. Kartu Keluarga
b. Akte Kelahiran
c. Buku Nikah
d. KTP
e. Ijazah
Perbaikan data master diajukan oleh operator sekolah selanjutnya membutuhkan persetujuan
(approve) Dinas Pendidikan (Kabupaten/ Kota/Provinsi).
Mekanisme Pengusulan Penilaian Angka Kredit

A. Berkas Pengusulan
Berkas yang harus dilengkapi untuk melakukan pengusulan Penilaian Angka Kredit sebagai
berikut :
I. Dokumen Kepegawaian
1. Guru minimal Golongan IV/b Keatas;
2. Surat Pengantar dari pejabat yang berwenang mengusulkan;
3. DUPAK (Lampiran I, sesuai Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010);
4. PAK IV/a dan PAK IV/b;
5. SK kenaikan pangkat;
6. SK jabatan fungsional terakhir;
7. Fotocopy Penyesuaian PAK, jika sudah disesuaikan. Bagi yang belum disesuaikan, agar
melampirkan surat pernyataan belum memiliki penyesuaian PAK;
8. Penilaian Prestasi Kerja Pegawai (PPKP) 2 tahun terakhir;
9. Fotocopy KARPEG;
10. Fotocopy Konversi NIP;
11. Fotocopy Sertifikat Pendidik;
12. Fotocopy Ijazah S1, S2, dan/atau S3 berikut Surat Izin Belajar atau SK Tugas Belajar
yang sudah dan/atau akan diperhitungkan angka kreditnya;
Bagi yang tugas belajar dilengkapi dengan :
a. SK Pembagian Tugas Mengajar;
b. SK Pembebasan sementara dari jabatan fungsional guru;
c. SK Pengangkatan kembali dalam jabatan fungsional guru;
13. Surat laporan Hasil Penilaian Angka Kredit (HPAK) yang ditandatangani oleh Sekretaris
Tim Penilai Pusat yang berkedudukan di Jakarta, bila ada (apelan/perbaikan).

II. Dokumen Pengembangan Diri


1. Laporan Kegiatan Pengembangan Diri sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan;
2. Surat tugas atau surat izin dari atasan langsung;
3. Surat Pernyataan Melakukan Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan,
(Lampiran III, sesuai Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010);
4. Fotokopi surat keterangan/sertifikat/STTPL yang dilegalisir oleh pejabat yang
berwenang;
5. Bukti fisik sesuai dengan ketentuan yang berlaku (dokumentasi, jadwal, struktur program
kegiatan)
III. Dokumen Pembelajaran
1. Melampirkan Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas: Pembelajaran/Bimbingan. Surat
Pernyataan Telah Melaksanakan Tugas Pembelajaran/Pembimbingan dan tugas tertentu
(Lampiran II, sesuai Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010);
2. Surat keputusan mengenai pembagian tugas guru dari kepala sekolah; SK pengangkatan
Kepsek/Wakasek/KaLAB/ Kaperpustakaan
3. Penilaian Kinerja Guru yang mencakup 14 butir kompetensi ( seluruh instrumen wajib
dilampirkan) atau Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) untuk Kepala Sekolah.

IV. Dokumen PIKI (Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif)


1. Melampirkan minimal 1 (satu) buah PTK/PTS, Karya Inovatif atau Jurnal ber-ISSN;
2. Didalam 1 jurnal maksimal terdiri dari 16 judul. Jika lebih dari 16 judul, maka disarankan
untuk berbeda volume penerbitan;
3. Email penerbit jurnal sebaiknya bukan email pribadi;
4. Penerbit jurnal merupakan asosiasi yang berkaitan dengan Guru dan
Kependidikan/LPTK, Universitas (Penerbit jurnal tidak boleh dari yayasan);
5. Di dalam PTK/PTS wajib melampirkan dokumen yang lengkap, seperti dokumentasi
kegiatan, daftar hadir, RPP, Daftar Nilai Awal dan Akhir, Soal, Hasil Karya Siswa atau
Lembar Kerja Siswa;
6. PTK/PTS wajib diseminarkan dengan melampirkan dokumen laporan seminar PTK/PTS.
7. PTK/PTS wajib melampirkan notulen seminar, berita acara, dan daftar hadir seminar
Penelitian Tindakan Kelas.

V. Unsur Penunjang
1. Surat pernyataan melaksanakan penunjang tugas guru. Surat Pernyataan Telah
Melaksanakan Unsur Penunjang, sebagaimana (Lampiran IV, sesuai Permendiknas
Nomor 35 Tahun 2010).
2. Ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampu:
a. fotokopi ijazah pendidikan lanjutan yang akan diperhitungkan angka kreditnya yang
disahkan oleh pejabat yang berwenang, yaitu dekan atau ketua sekolah tinggi atau
direktur politeknik pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Apabila ijazah
diperoleh dari Luar Negeri, harus mendapat pengakuan dari Kementerian Ristek dan
Dikti;
b. fotokopi surat izin belajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
c. fotokopi SK tugas belajar, SK pembebasan sementara dan SK pengangkatan
kembali yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.
3. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan yang mendukung tugas guru sesuai ketentuan dalam
masa penilaian;
4. Fotokopi penghargaan/tanda jasa yang diperoleh dalam masa penilaian yang dilegalisir
oleh pejabat yang berwenang;
5. Fotokopi Kartu Korpri dan Kartu PGRI
B. Prosedur Pengajuan PAK Golongan IV/b Ke Atas

a. Guru mengumpulkan berkas DUPAK beserta bukti fisiknya kepada Kepala Sekolah.
b. Kepala Sekolah melakukan klarifikasi terhadap berkas DUPAK, bukti fisiknya dan surat
pengantar kemudian diajukan kepada Dinas Pendidikan Prov/Kab/Kota.
c. Dinas Pendidikan Prov/Kab/Kota melakukan klarifikasi terhadap berkas DUPAK dan bukti
fisiknya, kemudian menandatangani surat pengantarnya untuk diajukan kepada Direktur
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan u.p. Kepala LPMP Sumatera Utara Sekretariat Tim
Penilai Pusat yang berkedudukan di LPMP setempat yang ditunjuk melalui PO BOX 1041
Medan.
d. Tim Sekretariat LPMP Sumatera Utara melakukan entry data pokok, PI dan KI. Kemudian
bersama-sama dengan Tim Sekretariat pusat mengelola DUPAK, bukti fisik dan lembar
penilaian untuk dilakukan penilaian oleh tim penilai angka kredit.
e. Tim penilai angka kredit melakukan penilaian terhadap berkas DUPAK dan bukti fisiknya,
kemudian hasil penilaian dikembalikan ke tim sekretariat pusat.
f. Jika berkas dinyatakan lulus atau dapat diajukan untuk kenaikan pangkat berikutnya, maka:
i. Tim sekretariat membuatkan surat penyesuaian angka kredit dan draft surat penetapan
angka kredit (PAK). Draft surat PAK diajukan kepada Dirjen PTK untuk ditandatangani.
ii. Dirjen PTK menandatangani surat PAK dan dikembalikan kepada tim sekretariat pusat.
iii. SK PAK, SK Penyesuaian Angka Kredit dan Surat Klarifikasi dikirim ke alamat sekolah
guru yang bersangkutan.
g. Jika berkas dinyatakan tidak lulus atau belum mencukupi untuk kenaikan pangkat berikutnya,
maka:
i. Tim Sekretariat membuatkan surat hasil penilaian angka kredit.
ii. Surat hasil penilaian angka kredit dikirim ke alamat sekolah guru yang bersangkutan atau
dapat di akses melalui laman e-pak guru : [Link]

Unsur dan Subunsur Kegiatan yang Dinilai Angka Kreditnya


C. Unsur dan Subunsur Kegiatan yang Dinilai Angka Kreditnya

Unsur dan Subunsur kegiatan Guru yang dinilai angka kreditnya adalah :
a. Unsur Utama
1) Pendidikan, meliputi:
a) Pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah dan
b) Pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan dan memperoleh surat tanda tamat
pendidikan dan pelatihan (STTPP) prajabatan atau sertifikat termasuk program
induksi.
2) Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, meliputi:
a) Melaksanakan proses pembelajaran, bagi guru kelas dan guru mata pelajaran.
b) Melaksanakan proses bimbingan, bagi guru bimbingan dan konseling
c) Melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
3) Pengembangan keprofesian berkelanjutan, meliputi:
a) Pengembangan diri:
1) Diklat fungsional
2) Kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru
b) Publikasi Ilmiah:
1) Publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang
pendidikan formal
2) Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru
c) Karya Inovatif:
1) Menemukan teknologi
2) Menemukan/menciptakan karya seni
3) Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum
4) Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya
b. Penunjang tugas guru, meliputi:
1) Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya
2) Memperoleh penghargaan/tanda jasa
3) Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru, antara lain:
a) Membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ekstrakurikuler dan
sejenisnya
b) Menjadi organisasi profesi/kepramukaan
c) Menjadi tim penilai angka kredit
d) Menjadi tutor/pelatih/instruktur
Penilaian Kinerja Guru

Penilaian pada subunsur pembelajaran/pembingan tugas tertentu dilakukan melalui


penilaian kinerja guru dengan sistem paket (per tahun ajaran) sesuai dengan tugas utama dan
kompetensi guru. Pemberian angka kredit untuk subunsur pembelajaran/pembimbingan tugas
tertentu ditentukan dari hasil penilaian kinerja guru sesuai dengan jenjang pangkat dan jabatan
guru.
Penilaian Kinerja Guru adalah penilaian dari setiap butir kegiatan tugas utama guru dalam
rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Penilaian ini dilakukan melalui pengamatan
dan pemantauan, yaitu proses penilaian berdasar bukti yang dilakukan pada saat pelaksanaan
pembelajaran sedang berlangsung
Komponen yang dinilai dalam PK Guru difokuskan pada penguasaan 4 (empat) kompetensi
guru, yaitu: Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional yang dikaitkan dengan pelaksanaan
tugas utama guru. Tugas utama guru mata pelajaran/kelas mencakup perencanaan, pelaksanaan,
dan penilaian pembelajaran, sedangkan tugas utama guru BK/konselor mencakup perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi pelaporan serta tinda lanjut pembimbingan.
Mekanisme Pendidikan Profesi Guru

Guru merupakan sebuah profesi, sehingga proses pembuktian profesionalitas perlu


dilakukan. Seorang guru harus melalui sertifikasi guru untuk membuktikan seseorang layak
menduduki profesi guru tersebut. Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai
suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua pihak
bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kesadaran dan pemahaman ini akan
melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas.
Contohnya, kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk meningkatkan kualifikasi
akademiknya, maka belajar kembali ini bertujuan untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan
dan keterampilan, sehingga mendapatkan ijazah S-1. Ijazah S-1 bukan tujuan yang harus dicapai
dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar melainkan konsekuensi dari telah belajar dan
telah mendapatkan tambahan ilmu dan keterampilan baru.
Demikian pula kalau guru mengikuti sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan
tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukan bahwa yang bersangkutan telah memiliki
kompetensi sebagaimana diisyaratkan dalam standar kompetensi guru. Tunjangan profesi adalah
konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini
maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali
mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi sertifikasi. Berdasarkan hal
tersebut, maka sertifikasi akan membawa dampak positif, yaitu meningkatnya kualitas guru.
Mulai tahun 2018, sertifikasi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik dilakukan melalui
Pendidikan Profesi Guru, karena sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2017 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, menjelaskan bahwa guru
yang diangkat sampai dengan tahun 2015, telah memiliki kualifikasi akademik S1 dan belum
bersertifikat pendidik, maka untuk memperoleh sertifikat pendidik mengikuti Pendidik Profesi
Guru (PPG).
Program Pendidikan Profesi Guru yang selanjutnya disebut Program PPG sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 1 butir 5 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru adalah program pendidikan yang
diselenggarakan setelah program sarjana atau sarjana terapan untuk mendapatkan sertifikat
pendidik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau
pendidikan menengah.
Terdapat dua jenis Program PPG berdasarkan kelompok sasaran yaitu:
1. PPG Pra Jabatan, yaitu PPG yang diperuntukkan bagi calon guru yang telah memenuhi
persyaratan kualifikasi akademik S-1/D-IV dan akan melamar menjadi guru
2. PPG Dalam Jabatan, yaitu PPG yang diperuntukkan bagi guru dalam jabatan. Guru dalam
Jabatan adalah guru pegawai negeri sipil dan guru bukan pegawai negeri sipil yang sudah
mengajar pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan pemerintah pusat, pemerintah
daerah, maupun masyarakat penyelenggara pendidikan yang sudah mempunyai perjanjian kerja
atau kesepakatan kerja bersama.
Persyaratan mengikuti PPG dalam jabatan adalah:
1. Harus lolos seleksi akademik (pretest) dan seleksi administrasi

 Cara mendaftar pretes PPG adalah dengan cara guru mengakses aplikasi simpkb masing-
masing di alamat website [Link]. Masuk atau login dengan menuliskan nomor
peserta UKG dan password bagi guru yang lupa nomor UKG nya dapat menghubungi
operator SIMPKB Dinas.

 Persyaratan akademik (pretest):


a. Calon peserta PPG Dalam Jabatan harus mengikuti seleksi kemampuan akademik
melalui tes online. Seleksi kemampuan akademik meliputi tes potensi akademik
(TPA), tes pedagogik, tes bidang studi, dan tes bakat, dan minat.
b. Standar minimal nilai hasil seleksi kemampuan akademik calon peserta ditetapkan oleh
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, untuk tahun 2018 ditetapkan
batas lulus pretest adalah 50 untuk program studi kejuruan dan 60 untuk program studi
non kejuruan.

 Persyaratan administrasi:
a. Diangkat sebagai guru sampai dengan 31 Desember 2015.
b. Terdaftar pada Dapodik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per tanggal 31 Juli
2017.
c. Memiliki NUPTK (dapat dipenuhi setelah lulus pretest).
d. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari perguruan
tinggi yang memiliki program studi yang terakreditasi, dibuktikan dengan scan ijazah
S-1/ D-IV.
e. Berkualifikasi akademik S-1/D-IV yang sesuai dengan program studi pada PPG yang
akan diikuti.
f. Masih aktif mengajar dibuktikan dengan memiliki SK pembagian tugas mengajar dari
kepala sekolah 2 (dua) tahun terakhir.
g. Berstatus guru PNS, guru Bukan PNS di sekolah negeri, dan guru tetap yayasan (GTY).
Guru bukan PNS di sekolah negeri dibuktikan dengan SK Pengangkatan dari Kepala
Daerah atau Kepala Dinas Pendidikan 2 (dua) tahun terakhir.
h. Berusia setinggi-tingginya 58 tahun dihitung sampai dengan tanggal 31 Desember
tahun 2018.
i. Sehat jasmani dan rohani
j. Bebas Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).
k. Berkelakuan baik.
2. Persyaratan guru bukan PNS di sekolah negeri seperti disebutkan pada huruf g di atas, hanya
berlaku untuk pendaftaran dan pelaksanaan PPG Dalam Jabatan, tidak berlaku untuk
persyaratan pembayaran tunjangan profesi pendidik. Biaya pelaksanaan PPG Dalam Jabatan
bagi guru bukan PNS di sekolah negeri menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah atau Satuan
Pendidikan, kecuali guru yang mengajar di daerah khusus (3T).
3. Guru menetapkan program studi yang akan diikuti dalam PPG. Ketentuan penetapan program
studi PPG adalah linier dengan program studi/jurusan pada ijazah S-1/D-IV yang dimiliki.
Daftar Linieritas program studi PPG pada Lampiran II. Guru mengisi nama perguruan tinggi
dan program studi sesuai dengan ijazah S-1/D-IV.
4. LPMP melakukan verifikasi dan validasi kesesuaian atau linieritas antara program studi PPG
yang dipilih dengan program studi/jurusan pada ijazah S-1/D-4. Hasil verifikasi dan validasi
tersebut dinyatakan dengan 3 (tiga) kategori sebagai berikut:
a. “Diterima” jika program studi PPG yang dipilih linier dengan program studi/jurusan pada
ijazah S-1/D-IV.
b. “Ditolak” jika program studi PPG yang dipilih tidak linier dengan ijazah S-1/D-IV dan
tidak dimungkinkan adanya perbaikan. Contoh: Guru dengan kualifikasi akademik Sarjana
Hukum tidak linier dengan program studi PPG yang ada.
c. “Diperbaiki’ jika bidang studi PPG yang dipilih tidak linier dengan ijazah S-1/D-IV tetapi
dimungkinkan adanya perbaikan. Contoh: Guru dengan kualifikasi akademik Sarjana
Bahasa Inggris memilih program studi PPG Guru Kelas SD. Jika Guru tersebut ingin
mengikuti PPG maka guru harus memperbaiki program studinya menjadi Bahasa Inggris.
5. Semua berkas tersebut dikirimkan ke Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten Kota untuk
diverifikasi dan divalidasi. Guru yang lolos verifikasi dan validasi dinyatakan sebagai peserta
pretest PPG dalam jabatan.
PPG dalam jabatan diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
selama 1 semester sebanyak 24 SKS.
Tahapannya adalah sebagai berikut:
 Pembelajaran daring melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Ristekdikti selama 3 bulan
 Pembelajaran tatap muka (lokakarya) di LPTK selama 5 minggu
 Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah sekitar LPTK selama 3 minggu
 Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG) di LPTK di akhir
pelaksanaan pendidikan.
Layanan Umum

Layanan Umum adalah satu layanan selain layanan lainnya yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang/jasa yang dijual tanpa
mengutamanakanmencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
efisiensi dan produktivitas.
Salah satu jenis layanan yang ada di ULT LPMP Sumatera Utara adalah mengenai layanan
umum. Maksud dari layanan umum ini adalah layanan selain NUPTK, Tunjangan Profesi, dan
Penilaian Angka Kredit (PAK).
Layanan yang termasuk ke dalam layanan umum adalah:
1. Calon Kepala Sekolah (CKS)
2. Penguatan Kepala Sekolah
3. Pengadaan dan penawaran barang/jasa
4. Peminjamam fasilitas gedung LPMP Sumut
5. Peningkatan Mutu Pendidikan
6. Rapot Mutu
7. Sekolah model

A. Calon Kepala Sekolah

Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan
pendidikan. Peranan kepala kekolah dalam mengembangkan dan memajukan sekolah menjadi
satuan pendidikan yang berkualitas cukup besar. Persyaratan Bakal Calon Kepala Sekolah.
Kualitas pendidikan di sekolah sangat tergantung kepada kualitas diri kepala kekolah. Kepala
Sekolah yang berkualitas adalah kepala sekolah yang memiliki keunggulan dalam lima
kompetensi. Kompetensi tersebut terdiri atas kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan,
supervisi dan kompetensi sosial.
Selain kompetensi tersebut, seorang kepala sekolah harus memiliki bekal kepemimpinan,
bukan penguasa. Tugas pokok kepala sekolah adalah memimpin dan mengelola guru dan staf
untuk bekerja sebaik-baiknya demi tercapainya tujuan sekolah. Pada saat memimpin, kepala
sekolah harus mampu menerapkan tipe kepemimpinan sesuai dengan karakteristik guru dan staf
di sekolahnya. Tipe kepemimpinan itu situasional, artinya kepemimpinan dapat efektif pada situasi
tertentu namun kurang efektif untuk situasi yang lain. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan
oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS).

Guru dapat menjadi bakal calon Kepala Sekolah apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana S-1 atau D-IV dari perguruan tinggi dan
program studi yang terakreditasi paling rendah B.
2. Memiliki sertifikat pendidik.
3. Bagi Guru PNS memiliki pangkat paling rendah Penata, golongan ruang III/c
4. Pengalaman mengajar paling sedikit 6 (enam) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah masing-
masing. Kecuali di TK/TKLB memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga)
tahun.
5. Memiliki hasil penilaian prestasi kerja guru dengan sebutan paling rendah “Baik” selama 2
(dua) tahun terakhir.
6. Memiliki pengalaman manajerial dengan tugas yang relevan dengan fungsi sekolah paling
sedikit 2 (dua) tahun.
7. Sehat jasmani, rohani, dan bebas NAPZA berdasarkan surat keterangan dari rumah sakit
Pemerintah.
8. Tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
9. Tidak sedang menjadi tersangka atau tidak pernah menjadi terpidana.
10. Berusia paling tinggi 56 (lima puluh enam) tahun pada waktu pengangkatan pertama sebagai
Kepala Sekolah.

B. Penguatan Kepala Sekolah


Mekanisme pelaksanaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah berdasarkan Juknis Pendidikan
dan Pelatihan (Diklat) Penguatan Kepala Sekolah, merupakan kegiatan tatap muka. Model ini
dirancang untuk memberikan pengalamanbelajar yang terpadu antara aspek pengetahuan,
keterampilan, dan sikap dengan pengalaman empirik sesuai dengan karakteristik peserta diklat.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam durasi 71 jam dengan 45 menit tiap jam pelajaran.
Tujuan umum diklat penguatan kepala sekolah adalah untuk memperkuat kompetensi kepala
sekolah pada Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi, Kepemimpinan, Penguatan Pendidikan
Karakter dan Pengembangan Sekolah Berdasarkan 8 SNP. Tujuan khusus diklat penguatan kepala
sekolah adalah untuk menguatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap, terkait materi :

a. Manajerial meliputi; Teknik Analisis Manajemen; Pengembangan RKS-RKAS, Pengelolaan


Kurikulum, Pengelolaan Keuangan, Pengelolaan PTK, Pengelolaan Peserta Didik dan
Pengelolaan Sarana Prasarana
b. Kewirausahaan meliputi; Pengantar dan Konsep Kewirausahaan dan Pengembangan
Kewirausahaan.
c. Supervisi Guru dan Tenaga Kependidikan
d. Kepemimpinan meliputi; Kepemimpinan Pembelajaran dan Kepemimpinan Perubahan
e. Pengembangan Sekolah Berdasarkan 8 SNP.

C. Pengadaan Barang/Jasa

Pengadaan merupakan proses kegiatan untuk pemenuhan atau penyediaan


kebutuhan dan pasokanbarang atau jasa di bawah kontrak atau pembelian langsung untuk
memenuhi kebutuhan bisnis. Pengadaan dapat mempengaruhi keseluruhan proses
arus barang karena merupakan bagian penting dalam proses tersebut.
Pengadaan barang dan jasa identik dengan adanya berbagai fasilitas baru, berbagai bangunan,
jalan, rumah sakit, gedung perkantoran, alat tulis, sampai dengan kursus bahasa inggris yang
dilaksanakan di sebuah instansi pemerintah. Pengadaan barang dan jasa yang biasa disebut proses
tender ini sebenarnya bukan hanya terjadi di instansi pemerintah. Pengadaan barang dan jasa bisa
terjadi di BUMN dan perusahaan swasta nasional maupun internasional. Intinya, pengadaan
barang dan jasa dibuat untuk memenuhi kebutuhan perusahaan atau instansi pemerintah akan
barang dan/atau jasa yang dapat menunjang kinerja dan performance mereka.
ULP sebagai unit yang melayani pengadaan, keanggotaan kelompok kerja ULP wajib
ditetapkan untuk:

1. Menyusun perencanaan pemilihan rekanan atau kontraktor yang akan melaksanakan


pengadaan barang dan jasa pemerintah.
2. Menetapkan dokumen yang berhubungan dengan pengadaan tersebut.
3. Menetapkan besaran nominal jaminan penawaran dari calon rekanan atau kontrakor yang
mengajukan diri.
4. Mengadakan pengumuman baik melalui website resmi K/L/D/I maupun melalui papan-
papan pengumuman di instansi terkait.
5. Menilai kualifikasi calon penyedia barang dan jasa melalui prakualifikasi dan
pascakualifikasi.
6. Melakukan evaluasi secara administratif, teknis, dan harga dari penawaran yang masuk.
7. Diharuskan menjawab sanggahan dan menetapkan penyedia barang dan jasa apabila
dilakukan dengan metode pelelangan atau penunjukan langsung untuk paket pengadaan
barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bernilai paling tinggi 100 miliar rupiah, dan
untuk seleksi atau penunjukan langsung pada paket pengadaan jasa konsultansi yang
bernilai paling tinggi 100 miliar rupiah.
8. Memberikan salinan dokumen pengadaan kepada PPK dan menyimpan aslinya.
9. Menyerahkan dokumen asli pemilihan penyedia kepada PA atau KPA.
10. Membuat laporan mengenai proses dan hasil dari pengadaan barang dan jasa kepada
pemimpin instansi terkait.
11. Memberikan pertanggungjawaban atas kinerjanya kepada PA atau KPA.
12. ULP bisa mengusulkan perubahan HPS atau teknis pekerjaan bila diperlukan. 27 Ruang
lingkup pelaksanaan tugas ULP meliputi penyelenggaraan.

D. Peminjaman Fasilitas Gedung

Informasi Peminjaman Sarana dan Prasarana


KAMPUS 1
Nama Jumlah Kapasitas Keterangan
Melati 36 Kamar 108 Orang Asrama
Dahlia 36 Kamar 108 Orang Asrama
Tanjung 36 Kamar 108 Orang Asrama
Kemuning 32 Kamar 64 Orang Asrama
Cemara 11 Kamar 11 Orang Asrama ( Tamu)
Muhammad Hatta 4 Ruangan, 1
Perpustakaan, 1
40 orang / Kelas Ruang Belajar
Ruang komputer, 2
Ruang Belajar
Ki Hajar Dewantara 300-400 Orang Ruang Makan
KAMPUS 2
Nama Jumlah Kapasitas Keterangan
Melur 20 Kamar 48 Orang Asrama
Dharmawanita 1 Kelas 40 Orang Ruang Belajar
Ki Sugondo 3 Kelas 40 Orang / kelas Ruang Belajar
William Iskandar 4 Kelas 40 Orang / Kelas Ruang Belajar
Nila Mas 40 Orang (100 Orang Ruang Belajar / Aula
1 Kelas untuk kegiatan Mini
pembukaan/penutupan)
Pancasila Aula Pancasila
300-400 Orang (Kegiatan
pembukaan/penutupan)

Untuk layanan informasi lebih lengkap mengenai peminjaman sarana dan prasarana, dapat
menghubungi call center LPMP Sumut 061-8222372

E. Raport Mutu
Secara nasional, mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum seperti yang
diharapkan. Hasil pemetaan mutu pendidikan secara nasional pada tahun 2014 menunjukkan
hanya sekitar 16% satuan pendidikan yang memenuhi standar nasional pendidikan (SNP).
Sebagian besar satuan pendidikan belum memenuhi SNP, bahkan ada satuan pendidikan yang
masih belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).
Standar kualitas pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah berbeda dengan standar yang
dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Standar yang digunakan oleh sebagian besar sekolah jauh
di bawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Akibatnya, kualitas lulusan yang dihasilkan
oleh satuan pendidikan belum memenuhi standar yang diharapkan. Kesenjangan antara hasil ujian
nasional dengan hasil ujian sekolah yang lebar menunjukkan bahwa ada permasalahan dalam
instrumen dan metode pengukuran hasil belajar siswa
Upaya peningkatan mutu pendidikan ini tidak akan dapat diwujudkan tanpa ada upaya
perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan menuju pendidikan bermutu. Untuk mewujudkan
pendidikan bermutu ini, upaya membangun budaya mutu di satuan pendidikan menjadi suatu
kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Satuan pendidikan harus mengimplementasikan penjaminan
mutu pendidikan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Mutu pendidikan dasar dan menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada satuan
pendidikan dasar dan pendidikan menengah dan/atau program keahlian. Mutu pendidikan di
satuan pendidikan tidak akan meningkat tanpa diiringi dengan penjaminan mutu pendidikan oleh
satuan pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah suatu mekanisme
yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses
penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Untuk
dapat melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan baik diperlukan adanya sistem penjaminan
mutu pendidikan.
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang
terdiri dari organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk
meningkatkan mutu Pendidikan Dasar dan Menengah secara sistematis, terencana dan
berkelanjutan.
Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk menjamin
pemenuhan standar pada satuan pendidikan dasar dan menengah secara sistemik, holistik, dan
berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara
mandiri.
Sistem penjaminan mutu pendidikan berfungsi sebagai pengendali penyelenggaraan
pendidikan oleh satuan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu

Cara login ke aplikasi rapot mutu sekolah:

1. Mula mula login ke website PMP dengan alamat


berikut [Link]
2. Masukkanlah alamat Email dan juga Password seperti yang dipakai untuk Login aplikasi
dapodik
3. Setelah berhasil login maka akan tampil Rapor Mutu
4. Guna mengetahui Standar Capaian maka silahkan anda Klik pada Tombol “Info Kategori
Capaian”.
5. Guna mengetahui Capaian sekolah masing-masing atau melihat Rapor Mutu Sekolah, silahkan
di Klik pada fitur Standar, Indikator dan juga Sub Indikator. Apabila di klik pada fitur Standar
maka akan muncul Rapor Mutu Sekolah Per-standar. Apabila di klik pada fitur Indikator maka
akan tampil Rapor Mutu Sekolah per-indikator. Apabila di klik pada Sub Indikator maka akan
tampil rapor mutu per-sub indikator.

F. Sekolah Model

Definisi sekolah model menurut Buku Juknis Dikdasmen, adalah sekolah yang ditetapkan dan
dibina oleh LPMP untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam penerapan
penjaminan mutu pendidikan secara mandiri; menerapkan seluruh siklus penjaminan mutu
pendidikan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga budaya mutu tumbuh dan
berkembang secara mandiri serta memiliki tanggungjawab untuk mengimbaskan praktik baik
penerapan penjaminan mutu pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya.

Sekolah model dipilih dari sekolah yang belum memenuhi SNP untuk dibina oleh LPMP agar
dapat menerapkan penjaminan mutu pendidikan di sekolah mereka sebagai upaya untuk memenuhi
SNP. Pembinaan oleh LPMP dilakukan hingga sekolah telah mampu melaksanakan penjaminan
mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model dijadikan sebagai sekolah percontohan bagi
sekolah lain yang akan menerapkan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model
memiliki tanggungjawab untuk mengimbaskan praktik baik penerapan penjaminan mutu
pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya, sekolah yang diimbaskan ini selanjutnya disebut
dengan sekolah imbas.

Kriteria Sekolah Model

1. Sekolah belum memenuhi SNP


2. Seluruh komponen sekolah bersedia dan berkomitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian
pelaksanaan pengembangan sekolah model.
3. Adanya dukungan dari pemerintah daerah.

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di sekolah harus dilakukan oleh seluruh anggota
sekolah yaitu kepala sekolah, guru, siswa dan staf sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Ada
lima tahapan siklus yang harus dilaksanakan yaitu:

1. Tahap pertama adalah memetakan mutu sekolah dengan berpedoman pada EDS
2. Tahap kedua adalah membuat perencanaan peningkatan mutu sekolah
3. Tahap ketiga adalah pelaksanaan program penjaminan mutu sekolah
4. Tahap keempat adalalah monitoring dan evaluasi
5. Tahap kelima strategi peningkatan mutu sekolah

Dalam pelaksanaannya, LPMP akan memberikan pendampingan kepada sekolah model yang
telah dipilih sampai sekolah tersebut mampu melaksanakan siklus pemenuhan mutu pendidikan
internal secara mandiri. Adapun program pendampingan yang dilaksanakan LPMP pada tahun
2016 terbagi kepada beberapa tahap antara lain:

1. Bimtek Sekolah Model, di tiap kabupaten/kota yang terpilih menjadi pilot project SPMI;
2. Pendampingan Tahap 1, di sekolah model;
3. Pendampingan Tahap 2, di sekolah model;
4. Workshop Penyusunan Potret Sekolah, di LPMP Propinsi;
5. Ekspose Sekolah Model, di kabupaten dilanjutkan di tingkat pusat.

Puncak dari pendampingan program sekolah ini adalah ekspose/pameran yang dilaksanakan di
tingkat kabupaten dan dilanjutkan di tingkat pusat. Materi yang ditampilkan di ekspose sekolah
model adalah;
1) Potret / Profil Sekolah Model
2) Odner (map) yang berisikan dokumentasi kegiatan sekolah dalam pelaksanaan 5 siklus
SPMI mencakup dokumen tertulis dan foto-foto kegiatan
3) Foto-foto kegiatan pelaksanaan SPMI di sekolah
4) Slide show kegiatan SPMI
5) Banner, Pamflet, Newsletter, dan lainnya

Anda mungkin juga menyukai