Laporan Kasus Abortus Inkomplit 9 Minggu
Laporan Kasus Abortus Inkomplit 9 Minggu
DOKTER INTERNSIP
ABORTUS INKOMPLIT
Disusun Oleh:
Nama : dr. Atalya Vetta Widarto
Wahana : RSUD Ungaran
1
HALAMAN PENGESAHAN
2
BAB I
LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. RNA
Jenis kelamin : Wanita
Umur : 25 tahun
Alamat : Randusari, Gunung Pati
Agama : Islam
No. RM : 2408XX
Tanggal MRS : 16 September 2018
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
B. Anamnesis
1. Keluhan Utama : perdarahan dari jalan lahir
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang mengeluh tiba-tiba keluar darah dan jaringan dari jalan lahir
sekitar 1JSMRS. Pasien mengaku perdarahan banyak, sudah ganti pembalut 1x.
Jaringan yang keluar sebesar bola ping-pong, pasien tidak yakin bentuk jaringan
menyerupai janin. Pasien merasakan nyeri perut seperti saat sedang haid. Mual,
muntah disangkal. Riwayat keputihan disangkal. Sejak mengetahui hamil, pasien
baru periksa 1x di bidan, diberikan obat suplemen Fe dan asam folat.
3. Riwayat Pernikahan
Perkawinan 1 kali, dengan suami sekarang selama kurang lebih 6 bulan. Umur pertama
kali kawin 24 tahun.
4. Riwayat Obstetri
G1P0A0
Sekarang tidak sedang memakai KB
Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) : 14 Juli 2018
3
Hari Perkiraan Lahir (HPL) : 21 April 2019
Usia Kehamilan : 9 minggu
5. Riwayat Haid
Menarche : sejak usia 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya haid : 6-7 hari
Jumlah haid : biasa
Nyeri : sebelum haid
C. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan di IGD pada tanggal 16 September 2018 pk 22.40 WIB
1. Status Present
● Kesadaran : Compos mentis GCS 15 (E4M6V5)
● Keadaan Umum : sedang
● Tekanan Darah : 110/70 mmHg
● Nadi : 84 x/menit, isi dan tegangan cukup
● Frekuensi pernafasan : 20 x/menit.
4
● Suhu : 36,7 °C
● Saturasi : 97%
2. Status Generalis
● Kepala & Leher : normocephale, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
● Thorax :
- Pulmo :
Inspeksi : simetris normal kanan kiri
Palpasi : pergerakan paru simetris, tactile fremitus kanan=kiri
Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)
- Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V
Perkusi : konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I-II regular, bising (-)
● Abdomen :
perut datar, supel, fundus uteri teraba membesar, bising usus (+) normal
● Ekstremitas :
Akral hangat, nadi kuat, WPK <2 detik, edema -/-
3. Status Ginekologi
Genitalia Eksterna
Inspeksi : v/u tenang, fluor (-)
Inspekulo : dinding vagina licin, fluor (-), Porsio membuka, terlihat adanya
jaringan dan darah keluar
Vaginal Touche : dinding vagina licin, massa (-), fluor (-), Porsio terbuka 1
jari, teraba adanya jaringan mengisi cavum uteri.
Adnexa Parametrium D/S massa (-) nyeri (-)
Cavum Douglas dalam batas normal
5
D. Pemeriksaan Penunjang
1. Plano Test : positif
2. Laboratorium :
Darah Rutin
Parameter Uji Hasil Nilai Rujukan Satuan
Hemoglobin 12.4 13.2 – 17.3 gr/dL
Leukosit 6.9 4.5 – 12.5 103 /uL
Trombosit 318 140 – 392 103 /uL
Hematokrit 39.3 40 – 52 %
Eritrosit 4.32 4,4 – 5,9 106 /uL
Neutrofil 69.5 28 - 78 %
Limfosit 27.3 25 – 40 %
Monosit 5.0 2–8 %
MCV 81.9 80 – 100 Fl
MCH 28.9 26 – 34 Pg
MCHC 35.3 32 – 36 g/dL
E. DIAGNOSIS
● Abortus Inkomplit, G1P0A0 hamil
9 minggu
F. PENATALAKSANAAN
● IVFD RL 25 tpm
● Inj. Gentamisin 80mg/ 12 jam IV
● Pro Kuretase
G. LAPORAN KURETASE
● Setelah tindakan septik dan antiseptik di daerah vulva dan sekitarnya di samping
spekulum bawah yang dipegang oleh asistendengan pertolongan spekulum atas bibir
6
depan portio dijepit dengan Kogeltang Sonde masuk sedalam 7cm, corpus uteri
retrofleksi.
● Dilakukan kuretase biasa secara sistematis dan hati-hati sampai cavum uteri bersih
dengan curet No.2 dan No. 3.
● Berhasil dikeluarkan jaringan plasenta sebanyak kira-kira 10-15 gram.
● Jumlah perdarahan selama kuretase 10 cc.
● Tidak dilakukan pemasangan IUD.
● Lama kuretase 15 menit.
Diagnose pra kuretase: Abortus inkomplit
Diagnose pasca kuretase: Abortus inkomplit
Keadaan pasca kuretase:
● Keadaan Umum :baik,compos mentis
● Tensi : 120/80
● Nadi : 86x/menit
● RR : 18x/menit
H. FOLLOW UP
17/9/2018 S : perdarahan (+)
13.00 O : sedang, GCS 15
TD: 110/70 N: 86x/m R: 20x/m t: 36.7°C
A:
● Abortus Inkomplit, G1P0A0 hamil
9 minggu pro kuretase
P:
● Telah dilakukan kuretase
● IVFD RL 25 tpm
● Inj. Gentamisin 80 mg/ 12 jam IV
● Asam mefenamat 3x500mg
7
TD: 110/70 N: 88x/m R: 20x/m t: 36.8°C
A:
● Abortus Inkomplit, G1P0A0 hamil 9 minggu post kuretase
P:
● BLPL
● Amoxicillin 3x500mg
● As. Mefenamat 3x 500 mg
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 22 minggu, namun
beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram.
B. ETIOLOGI
Etiologi penyebab abortus adalah sebagai berikut:
● Faktor dari janin (Fetal), yang terdiri dari: kelainan genetik (kromosom)
● Faktor dari ibu (maternal), yang terdiri dåri: infeksi kelainan hormonal seperti
hipotiroidisme, diabetes melitus, malnutrisi, penggunaan obat-obatan, merokok,
konsumsi alkohol, faktor imunologis, dan defek anatomis seperti uterus didelfis,
inkompetensia serviks (penipisan dan pembukaan serviks sebelum waktu inpartu,
umumnya pada trisemester kedua) dan sinekhiae uteri karena sindro Asherman.
C. KLASIFIKASI
1. Abortus spontan: Abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk
mengosongkan uterus, maka abortus tersebut dinamai abortus spontan. Kata lain yang luas
digunakan adalah keguguran (Miscarriage).
2. Abortus imminens (keguguran mengancam): Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus
pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa
8
adanya dilatasi serviks.
3. Abortus insipiens (keguguran berlangsung): Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat,
perdarahan bertambah.
4. Abortus inkomplet (keguguran tidak lengkap): Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada
pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri
atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
5. Abortus complet (keguguran lengkap): Perdarahan pada kehamilan muda di mana seluruh
hasil konsepsi telah di keluarkan dari kavum uteri. Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan
dengan lengkap.
6. Missed abortion (retensi janin mati): Kematian janin sebelum berusia 20 minggu, tetapi
janin yang mati tertahan di dalam kavum uteri tidak dikeluarkkan selama 8 minggu atau lebih.
D. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Anamnesa merupakan suatu cara penegakan diagnosis yang dilakukan pertama kali.
Di mana anamnesa yang baik dan benar dapat mengarahkan diagnosis. Anamnesa pada kasus
obstetri dan ginekologi memiliki prinsip yang sama dengan anamnesa pada umumnya, yaitu
meliputi identitas, keluhan utama, penyakit saat ini, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat
pengobatan, riwayat keluarga, riwayat sosial. Pada kasus obstetri dan ginekologi, anamnesis
dititikberatkan pada riwayat perkawinan, kehamilan, siklus menstruasi, penyakit yang pernah
diderita khususnya penyakit obstetri dan ginekologgi, serta pengobatan, riwayat KB, serta
keluhan-keluhan seperti perdarahan dari jalsn lahir, keputihan (fluor albus), nyeri, maupun
benjolan (Prawirohardjo, 2011).
Menurut Sastrawinata et al. , pada tahun 2005, abortus memiliki manifestasi klinik
sebagai berikut di bawah:
● Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu
● Rasa mulas atau keram perut didaerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.
9
Menurut WHO, setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada
tiga gejala seperti: perdarahan pada vagina, nyeri pada abdomen bawah, riwayat amenorea,
harus dipikirkan kemungkinan terjadinya abortus.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis.
Pemeriksaan fisik untuk penegakan diagnosis abortus menurut Prawirohardjo, 2007 adalah
sebagai berikut:
● Inspeksi Vulva: Pendarahan pervaginam ada atau tidaknya jaringan hasil konsepsi,
tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
● Inspekulo: Pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup ada atau
tidaknya jaringan keluar dari ostium, ada atau tidaknya cairan atau jaringan berbau busuk
dari ostium.
● Vaginal Touche: Porsio terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum
uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada peraban adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.
Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens (threatened abortion),
abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkompletus (incomplete abortion) atau abortus
kompletus (complete abortion), a bortus tertunda (missed abortion), abortus habitualis (recurrent
abortion), d an abortus s eptik (septic abortion) ( Cunningham et al., 2005; Griebel et al., 2 005).
● Abortus Iminens (Threatened abortion)
Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama kehamilan
awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat mempengaruhi
satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar setengah dari kehamilan
ini akan berakhir dengan abortus.
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu
mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat
berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti
saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma serviks, kehamilan ektopik, dan
kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens karena dapat memberikan
perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip, ulserasi vagina
atau karsinoma serviks, sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi.
10
● Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan
banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim
kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban
dapat teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan
yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin
biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan
kontraindikasi.
● Abortus Inkompletus atau Abortus Kompletus
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau
teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). Perdarahan
biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka
karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus
alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan
kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada abortus insipiens. Jika
hasil konsepsi lahir dengan lengkap, maka disebut abortus komplet. Pada keadaan ini kuretasi
tidak perlu dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim
dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena
dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan
segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus
inkompletus atau endometritis pasca abortus harus dipikirkan.
● Abortus Tertunda (Missed abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam
rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda akan dijumpai
amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya, serta selama
observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada pemeriksaan dalam,
serviks tertutup dan ada darah sedikit.
● Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan kelainan
struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis. Abortus habitualis
merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Etiologi abortus ini adalah
kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah
patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan kesalahan plasenta yaitu
tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga
merupakan etiologi dari abortus habitualis.
11
● Abortus Septik (Septic abortion)
Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau
toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada abortus
inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan
syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat menyebabkan abortus septik
adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Proteus vulgaris, Hemolytic
streptococci d an Staphylococci.
Pada pemeriksaan didapatkan pasien dalam keadaan baik, status generalis dalam batas normal.
Tidak ada anemia maupun ikterus. Kondisi jantung maupun paru juga dalam batas normal. Pada
pemeriksaan abdomen terlihat membesar, namun bising usus terdengar normal dan tidak ada shifting
dullness. Inspeksi pada genitalia eksterna terlihat darah keluar minimal tanpa disertai fluor, terlihat
adanya jaringan. Kemudian dilakukan inspekulo tampak adanya portio multi paritas terbuka kurang
lebih 1 jari, licin, tampak adanya perdarahan minimal dan jaringan. Pemeriksaan kemudian
dilanjutkan dengan melakukan vaginal touché tidak didapatkan kelainan dan corpus uteri anteflexi,
dindingnya dalam batas normal. Dalam corpus uteri teraba adanya jaringan. Pada pemeriksaan adnexa
perimetrium dextra dan sinistra tidak didapatkan massa ataupun nyeri.
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perdarahan minimal
benar keluar dari jalan lahir disertai dengan jaringan dengan kondisi portio terbuka.
3. Pemeriksaan Penunjang
Plano test adalah uji hormonal kehamilan yang didasarkan pada adanya produksi korionik
gonadotropin (hCG) oleh sel-sel sinsiotrofoblas pada awal kehamilan. Hormon ini disekresikan ke
dalam sirkulasi ibu hamil dan diekskresikan melalui urin. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)
dapat dideteksi pada sekitar 26 hari setelah konsepsi dan peningkatan ekskresinya sebanding
12
meningkatnya usia kehailan di antara 30-60 hari. Produksi puncaknya adalah pada usia 60-70 hari,
kemudian menurun secara bertahap dan menetap hingga akhir kehamilan setelah usia 100-130 hari.
Pemeriksaan kuantitatif hCG cukup bermakna bagi kehamilan. Kadar hCG yang rendah ditemui pada
kehamilan ektopik dan abortus iminens. Kadar yang tinggi dapat dijumpai pada kehamilan majemuk,
mola hidatidosa, atau korio karsinoma.
Pada banyak kasus, pemeriksaan serum untuk kehamilan sangat berguna. Pemeriksaan
laboratorium paling sedikit harus meliputi biakan dan uji kepekaan mukosa serviks atau darah (untuk
mengidentifikasi patogen pada infeksi) dan pemeriksaan darah lengkap. Pada beberapa kasus,
penentuan kadar progesteron berguna untuk mendeteksi kegagalan korpus luteum. Jika terdapat
perdarahan, perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah dan pencocokan silang serta panel
koagulasi.
Ultrasonografi dapat memperlihatkan massa adnexa, kehamilan intrauterin atau cairan dalam
cavum Douglas. Visualisasi dari kutub janin di dalam kantong gestasi intrauterin benar-benar
menyingkirkan diagnosis kehamilan ektopik. Uterus yang kosong atau uterus yang membesar sedang
tanpa gestasi intrauterin dihubungkan dengan tes kehamilan positif merupakan petunjuk dugaan
gestasi ektopik.
Analisis genetik bahan abortus dapat menentukan adanya kelainan kromososm sebagai
etiologi abortus. Analisis ini sering kali memberikan informasi yang sangat berharga untuk konseling.
E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.
1. Perdarahan : Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jka perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi
apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi : Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,
penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang
dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalaan gawat karena perlukaan uterus
biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan kandung kemih atau usus. Degan adanya
dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk
menentukan luasnya cidera, untuk selanjutnya mengambil tindakan seperlunya guna
mengatasi komplikasi.
3. Infeksi : Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi
biasanya ditemukan pada abortus inkomletus dan lebih sering pada abortus buatan yang
13
dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis. Umumnya pada abortus infeksius infeksi terbatas
pada desidua.
4. Syok : Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik).
F. TATA LAKSANA
Menurut WHO tahun 2007, penatalaksaan dan perawatan pertama kali pada kasus
abortus adalah sebagai berikut:
Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum ibu termasuk tanda-tanda
vital (nadi, tekanan darah, pernafasan, suhu)
● Periksa tanda-tanda syok (akral dingin, pucat, takikardi, tekanan sistolik < 90 mmHg).
● Bila terdapat tanda-tanda sepsis atau dugaan abortus dengan komplikasi berikan kombinasi
antibiotika sampai ibu bebas demam untuk 48 jam:
14
Oksitosin 10 IU.500ml larutan Dekstrosa 5% dalam larutan Ringer laktat IV dengan kecepatan
kira-kira 125 ml/jam) akan membuat uterus berkontraksi, membatasi perdarahan, membantu
pengeluaran bekuan darah atau jaringan dan mengurangi kemungkinan perforasi uterus selama dilatasi
dan kuretase. Pengeluaran hasil konsepsi biasanya dapat dikerjakan dengan aman dengan blok
paraserviks pada fasilitas rawat jalan. Namun, faktor yang membatasi adalah kemampuan
mengobservasi pasien secara memadai setelah tindakan. Sebagian besar pasien yang dirawat jalan
dapat dipulangkan setelah observasi (1-6 jam) dapat memastikan kembalinya fungsi fisiologis dan
tidak ada komplikasi dini. Komplikasi utama kuretase adalah perforasi uterus. Jika dicurigai adanya
perforasi, pasien harus diobservasi di rumah sakit terhadap adanya tanda-tanda perdarahan
intraperitoneal, ruptur usus atau kandung kemih, atau peritonitis. Mungkin diperlukan laparotomi
spektrum luas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Diktat UNAIR Ilmu Penyakit Kebidanan dan Kandungan: Abortus. Surabaya: Balai Penerbit
FK UNAIR, 2005
2. Hacker Moore (1999), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
4. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi
3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
6. Prawirohardjo,,S. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
7. WHO. 2013. Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan Edisi 1. Jakarta,
Indonesia.
15