0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan11 halaman

Modul 6

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan11 halaman

Modul 6

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kegiatan Belajar 6 : Trematoda darah

1. Schistosoma japonicum (Oriental blood fluke)

Hospes
Schistosoma japonicum terdapat di Jepang, Korea, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, Serawak,
Sulawesi dan Cina. Prevalensi infeksi secara keseluruhan antara 10 sampai 25%. Di Taiwan cacing ini
luar biasa oleh karena jarang menginfeksi manusia tetapi hanya berbagai mamalia lain. Dalam beberapa
hal, parasit ini tampaknya sama dengan Schistosoma japonicum yang terdapat di Timur Jauh. Hospes
yang paling sering dijumpai pada spesies Taiwan ini adalah tikus, tetapi kadang-kadang pada shrews dan
bandicoots. Berbagai hospes reservoir laboratorium termasuk babi, anjing, kucing, kerbau, sapi, kambing,
kuda dan rodensia.

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing darah ini terutama hidup di dalam vena mesenterika superior, di situ betina menonjolkan
tubuhnya dari yang jantan atau meninggalkan yang jantan untuk bertelur di dalam venula-venula
mesenterika kecil pada dinding usus. Cacing
jantan lebih gemuk seperti daun melipat,
memiliki kanalis ginekoforalis, dengan ukuran
12-20x0.50-0.55 mm, kulit berduri lancip dan
halus. Cacing betina berada dalam kanalis
ginekoporalis, berukuran 26x0.3 mm, langsing
dan memanjang, ovarium berada di posterior
pertengahan tubuh, dan biasanya berisi telur 50-
100 buah.
Telur-telur oval sampai bulat, memerlukan
beberapa hari untuk berkembang menjadi
mirasidia masak di dalam kulit telur. Masa telur Cacing betina Cacing jantan
menyebabkan tekanan pada dinding venula yang tipis, yang biasanya dilemahkan oleh sekresi dari
kelenjar histolitik mirasidium yang masih berada di dalam kulit telur. Dinding itu kemudian sobek, dan
telur menembus ke dalam lumen usus yang kemudian keluar dari tubuh. Pada infeksi berat, beribu-ribu
cacing ditemukan di dalam pembuluh darah. Berikut ini gambar telur dari Scistosoma japonicum.

: Schistosoma japonicum eggs S. japonicum eggs : Schistosoma japonicum eggs S. japonicum eggs
Penetasan berlangsung di dalam air. Walaupun pH, kadar garam, suhu, dan aspek-aspek
lingkungan lainnya penting, namun faktor-faktor di dalam telur barangkali berperan utama dalam proses
penetesan. Migrasi Schistosoma japonicum ke dalam tubuh di mulai dari masuknya cacing tersebut ke
dalam pembuluh darah kecil, kemudian ke jantung dan sistema peredaran darah. Cacing yang sedang
migrasi biasanya tidak atau sedikit menimbulkan kerusakan atau gejala-gejala, tetapi kadang-kadang
terjadi reaksi hebat, misalnya pneumonia akibat masuknya cacing ke dalam paru-paru. Schistosoma
japonicum merupakan penyakit yang lebih berat dan destruktif daripada penyakit yang disebabkan oleh
dua spesies lain yang biasa menginfeksi manusia.
Gejala-gejala dan gangguan yang terjadi berkaitan dengan jumlah cacing, jaringan yang terinfeksi,
dan sensitifitas hospes. Meskipun toksin, cacing yang mati, dan malnutrisi mungkin terlibat di dalam
skistosomiasis hepatosplenik pada tikus dan mencit percobaan, namun kenyataan yang jelas
menunjukkan bahwa telur schistosoma merupakan faktor utama dalam patogenesis. Kenyataan ini
didasarkan pada penelitian elektron mikroskopik dari parenkima hati dan pigmen schistosoma.

Gambar 18. Siklus Hidup Schistosoma

Keterangan: Telur dapat ditemukan pada bersama urin atau tinja . Di bawah kondisi optimal telur
menetas dan mengeluarkan mirasidium , selanjutnya berenang dan mempenetrasi keong yang spesifik
sebagai hospes intermediat . Dalam keong terjadi 2 generasi sporocysts dan menghasilkan
serkaria . Setelah keluar dari tubuh keong, serkaria infektif berenang, mempenetrasi kulit manusia ,
dan selanjutnya akan menjadi schistosoma . Schistosoma bermigrasi selanjutnya di jaringan dan
berdiam dalamurat darah halus/vena ( , ). Cacing dewasa di tubuh manusia di berbagaui tempat
mesenteric venula, waktu tertentu menjadi spesifik untuk tiap spesies . Untuk, S. japonicum sering
ditemukan pada saluran vena superior mesenteric usus halus , dan S. mansoni biasanya pada saluran
vena superior mesenteric usus besar . Namun, mereka dapat berpindah tempat

64
Buku Ajar Helmintologi Medik
Patologi dan Gejala Klinis
Masa tunas mulai dengan waktu cercaria menembus kulit, yang dapat menimbulkan pruritus dan
kemerahan yang bersifat sementara. Selama invasi hati dan alat-alat lain oleh cacing yang belum
dewasa, timbullah pendarahan berupa petechia dan sarang infiltrasi sel eosinofil dan leukosit. Reaksi
toksik dan alergi dapat menyebabkan urtikaria, edema subkutan, serangan asthma, leukositosis dan
eosinofili. Pada waktu berakhirnya masa tunas, hati menjadi besar dan nyeri, dan terdapat pula rasa
perut tidak enak, demam, berkeringat, menggigil, dan kadang-kadang diare.
Cacing muda kemudian bermigrasi menentang aliran darah S. japonicum ke vena mesenterica
superior dan cabang-cabangnya dan telur menyerbu dinding usus. Dengan dimulainya perletakan telur,
stadium akut mulai. Pada lingkaran hidup yang normal, telur mencari jalan melewati dinding usus dan
masuk ke dalam tinja; bilamana terdapat banyak telur disertai dapah dan sel jaringan nekrosis. Banyak
telur terbawa kembali, masuk ke dalam aliran darah ke hati. Stadium dengan gejala akut menunjukkan
permulaan penyerbuan telur ke dalam usus, hati, dan paru-paru. Stadium ini ditandai oleh demam,
malaise, urtikaria, eosinofili, sakit perut, diare, berat badan turun, hati agak membesar, dan kadang-
kadang limpa membesar. Pada penyakit menahun, yang mulai sesudah 1,5 tahun pada infeksi berat dan
sesudah 4 atau 5 tahun pada infeksi ringan, terdapat berat badan menurun anemia, gejala-gejala yang
berhubungan dengan alat pencernaan, dan sering terdapat spenomegali, cirrhosis hati, dan ascites.
Telur S. japonicum diletakkan di kelenjar limfe mesenterium dan di dinding usus. Lesi yang terberat
disebabkan oleh S. japonicum, yang menghasilkan 10 kali lebih banyak telur daripada S. mansoni. Telur
yang menyerbu menimbulkan infeksi sel yang hebat di dalam dinding usus dengan proliferasi jaringan
ikat yang luas, pembentukkan papiloma, dan thrombosis pembuluh darah kecil. Telur ditemukan dalam
appendix dalam jumlah 75% daripada infeksi usus, kadang-kadang disertai dengan infeksi bakteri
sekunder, tetapi telur ini jarang menimbulkan sindroma appendicitis.
Telur yang menjadi emboli terutama menyebabkan proliferasi progresif dan fibroblastik, fibrosis
periduktus, dan cirrhosis interstisial dengan hipertensi portal yang semakin tinggi. Zat toksin dari cacing
dewasa, pigmentasi dan hipoproteinemia karena salah gizi mungkin juga memegang peranan dalam
pembentukkan lesi hepar. Fibrosis hati yang menuju ke cirrhosis, adalah biasa pada infeksi S. japonicum.
Infeksi otak yang jarang sekali terjadi, terutama disebabkan [Link], ditimbulkan oleh telur
yang menjadi emboli, yang bereaksi secara mekanis, sebagai zat protein asing dan sebagai bahan toksik
dan menimbulkan reaksi yang hebat dengan edema, infiltrasi sel pada susunan saraf, sel-sel raksasa,
perubahan pada vena, dan degenerasi jaringan sekitarnya.
Sakit di daerah perut, hepatitis, anoreksi, demam, myalgia, disentri, dan berat badan turun adalah
gejala-gejala khas untuk schistosomiasis intestinalis. Stadium akut berlangsung 3 sampai 4 bulan, dan
lebih hebat pada infeksi berat dan pada infeksi dengan S. japonicum karena jumlah telur yang dihasilkan
spesies ini lebih besar. Stadium menahun dapat berjalan bertahun-tahun, dan penderita akan meninggal
karena pneumoni atau infeksi lain, atau ruptur varices di oesophagus.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau dalam jaringan biopsi hati atau
biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi

65
Buku Ajar Helmintologi Medik
yang biasa dipakai adalah COPT (circumoval precipitin test), IHT (inderect haemagglutination test), CFT
(complement fixation test), FAT (fluorescent antibodi test) dan ELISA (enzyme linked immuno sorbent
assay).

Pengobatan
1. Astiban TW 56 (Stibocaptate atau antimony- dimercaptosuccinate, garam Na dan K).
2. Niridazol (1-Nitro-2, thiazoyl-2 imidazolidnone) (Ambilhar, Ciba-32, 644, Ba).
3. Prazikuantel (Embay® 8440; Droncit®; Biltricide®) Bayer, A.G. dan Merck Darmstadt.

66
Buku Ajar Helmintologi Medik
2. Schistosoma mansoni (large intestinal blood fluke)

Hospes
Schistosoma mansoni adalah salah satu species dari Trematoda darah, mempunyai kelamin yang
terpisah dengan nama penyakitnya adalah Schistosomiosis. Pertama kali ditemukan oleh Mansoni 1907,
dengan penyebab Schistosoma mansoni.
Hospes definitif adalah manusia dan kera babon di Afrika sebagai hospes reservoar. Pada manusia
cacing ini menyebabkan Skistomiosis usus.

Morfologi
Cacing dewasa jantan berukuran kira-kira 1
cm dan yang betina kira-kira 1,4 cm. Pada
badan cacing jantan Schistosoma mansoni
terdapat tonjolan lebih kasar bila
dibandingkan dengan Schistosoma
haematobium dan Schistosoma japonicum.
Tempat hidupnya di vena, kolon, dan
rektum. (lihat gambar samping)
Telur juga tersebar ke alat-alat lain seperti : hati, paru-paru dan otak. Bentuk telur lonjong, coklat
kekuning-kuningan, dinding hilain, ukuran 114-175x45-64 mikron, pada satu sisi dekat ujung terdapat duri
agak panjang berisi mirasidium (lihat gambar di bawah ini)

Schistosoma mansoni egg Schistosoma mansoni egg Schistosoma mansoni egg

Patologi dan Gejala Klinis


Pada Schistosoma mansoni terjadi perubahan yang disebabkan oleh 3 stadium cacing ini, yaitu
serkaria, cacing dewasa dan telur. Secara patologis telur merupakan bentuk yang penting diperhatikan.
Perubahan-perubahan pada Schistosomiosis dapat dibagi dalam 3 stadium :
1. Masa tunas biologik: yaitu mulai dengan waktu Serkaria menembus kulit, yang dapat menimbulkan
pruritus dan kemerahan yang bersifat sementara. Selama invasi hati dan alat-alat lain oleh cacing
yang belum dewasa, timbullah pendarahan berupa petichia dan sarang infiltrasi sel eosinofil dan
leukosit. Reaksi toksik dan alergi dapat menyebabkan urtikaria, edemia subkutan. Serangan asthma,
leukositas dan eosinofil, pada waktu berakhirnya masa tunas hati menjadi besar dan nyeri dan
terdapat pula rasa perut tidak enak, demam, berkeringat menggigil dan kadang-kadang diare. Cacing
67
Buku Ajar Helmintologi Medik
muda kemudian bermigrasi menentang aliran darah ke vena mesentericum dan cabang-cabangnya
dan telur menyerbu dinding usus. Dengan dimulainya perlekatan telur, stadium akut mulai pada
lingkaran hidup yang normal, telur mencari jalan melewati dinding usus dan masuk ke dalam tinja,
bilamana terdapat banyak telur disertai darah dan sel jaringan nekrosis, banyak telur terbawa
kembali, masuk ke dalam aliran darah ke hati.
2. Stadium akut: yaitu stadium yang menunjukkan permulaan penyerbuan telur ke dalam usus, hati dan
paru-paru. Stadium ini ditandai oleh demam, malaise, urtikaria, eosinofilia, sakit perut, diare, berat
badan turun, hati agak membesar dan kadang-kadang limpa membesar. Hepatomegali timbul lebih
dini disusul dengan splenomegali dapat terjadi dalam waktu 5-8 bulan. Telur Schistosoma mansoni
diletakkan di kelenjar limfe mesentrium dan di dinding usus. Telur yang menyerbu menimbulkan
infeksi sel yang hebat di dalam dinding usus dengan proliferasi jaringan ikat yang luas, pembentukan
papiloma dan thrombosis pembuluh darah kecil. Perubahan ini adalah kongesti, mukosa menjadi
bergranula atau mengadakan hipertrofi, papil yang kekuning-kuningan dan pembentukan ulkus dan
pada penyakit yang sudah lanjut, polip dan striktur.
3. Stadium menahun: di stadium ini terjadi penyembuhan jaringan dengan pembentukan jaringan ikat
atau Fibrosis. Hepar yang semula membesar karena peradangan, kemudian mengalami pengecilan
karena terjadi Fibrosis; hal ini disebut Sirosis. Pada skistosomiosis, sirosis yang terjadi adalah sirosis
periportal, yang mengakibatkan terjadinya hipertensi portal karena adanya bendungan di dalam
jaringan hati. Gejala yang timbul adalah: Splenomegali, edema yang biasanya ditemukan pada
tungkai bawah, bisa pula pada alat kelamin. Dapat ditemukan ascites dan ikterus. Pada stadium
lanjut sekali dapat terjadi hematemesis yang disebabkan karena pecahnya varises pada esophagus.

Diagnosis
Penyakit Schistosomiosis intestinal diketahui dengan adanya gejala diare atau disentri dengan
pemeriksaan sigmoidiskop. Sesudah terdapat splenomegali dan cirrhosis hati, kerusakan sel hati menjadi
nyata dan beberapa test faal hati menjadi jelas positif. Diagnosis ditegakkan dengan :
1. Pemeriksaan tinja, yaitu menemukan telur dalam tinja bila sediaan langsung yang sederhana
negatif. Maka, diperlukan cara konsentrasi dengan sedimentasi, tinja yang keluar seluruhnya harus
dicampur baik-baik dengan 0,5% sel larutan glycerin dalam air.
2. Telur ditemukan dalam urine, pemeriksaan langsung atas beberapa tetes terakhir urine yang
dikeluarkan pada tengah hari atau di dalam urine sesudah penderita gerak badan sebentar atau
sesudah massage prostat.
3. Biopsi hati
4. Reaksi serologis, yang biasa dipakai adalah: COPT (Circumoval Precipitin Test), IHT (Indirect
Haemaglutination Test), CFT (Complement Fixation Test), FAT (Fluorescent Antibody Test), dan
ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay).

Pengobatan
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa obat-obat anti Schistosoma tidak ada yang aman atau
agak toksik dan semuanya mempunyai resiko masing-masing. Pengaruh obat anti Schistosoma dapat

68
Buku Ajar Helmintologi Medik
menyebabkan terlepasnya pegangan cacing dewasa pada pembuluh darah dan mengakibatkan
tersapunya cacing tersebut ke dalam hati oleh sirkulasi portal; keadaan ini disebut hepatic shift.
Ada beberapa obat yang mempengaruhi cacing dewasa ini menghambat sistem enzim tertentu,
seperti persenyawaan antimon trivalen yang menghambat sistem enzim fosfofruktokinase Schistosoma
mansoni, sehingga cacing tersebut tidak dapat memanfaatkan glikogen. Obat-obat anti Schistosoma
yang telah dikenal adalah sebagai berikut :
1. Emetin (Tartras emetikus) :.
2. Fuadin Stibofen, Reprodal, Neo-antimosan (Antimony-bispyrocatechin-disulfonic-Na Compound) :
3. Astiban TW 56 (Stibocaptate atau antimony-dimercaptosuccinate, garam Na dan K)
4. Lucanthone-HCL, Miracil D. Nilodin (1-R. B-diethyl amino-ethylamino-4methyl thioxanthone-hydro
chloride)
5. Niridazol (1-Nitro-2, thiazoyl-2 imidazolidnone) (Ambilhar, Ciba-32, 644, Ba)
6. Prazikuantel (EmbayR 8440; DroncitR, BiltiricideR) Bayer, A.G. dan Merck Darmstadt)

Pencegahan
1. Mengurangi sumber infeksi
2. Mengurangi air yang berisi keong terhadap kontaminasi dengan urien atau tinja karena infeksi.
3. Mengurangi keong sebagai hospes
4. Melindungi orang terhadap air yang mengandung cercaria.

Epidemiologi
Schistosoma mansoni tersebar luas di Sahara, Afrika, itu terjadi pula ditengah-tengah penduduk
Atlantik America Selatan dan pulau Caribia. Dimana penularannya terus menerus melalui para budak
belian sehingga ditemukan juga di delta sungai Nil Mesir dan Saudi Arabia. Lima spesies dari parasit
Trematoda ini merupakan penyebab Schistosomiasis pada manusia. Pada tahun 1996 Schistosomiasis
usus disebabkan oleh [Link], ini dilaporkan dari 52 negara di Afrika, bagian timur medeterania,
karibia dan Amerika Selatan. Pada Negara-negara timur dan Asia, Schistosomiasis usus disebabkan
[Link] atau [Link] dilaporkan endemic di 7 negara Asia. Selain dari [Link] dan
[Link], Schistosomiasis usus bisa juga disebabkan oleh [Link], ini dilaporkan dari 10
negara Afrika Tengah. Urinary atau vesical Schistosomiasis disebabkan oleh S. haematobium dilaporkan
tersebar pada 54 negara di Afrika dan Medeterania Timur.

69
Buku Ajar Helmintologi Medik
3. Schistosoma haematobium (bladder blood fluke)
Nama penyakit yang ditimbulkan oleh cacing Schistosoma haematobium adalah hematuria
schistosoma, schistosoma vesicalis, bilharziasis urinarius atau yang sering disebut skistosomiasis
kandung kemih. Cara infeksi dari Schistosoma haematobium yaitu serkaria menembus kulit pada waktu
manusia mandi dan masuk ke dalam air yang mengandung serkaria. Dimana serkaria adalah bentuk
infektif dari Shistosoma.
Schistosoma haematobium menginfeksi kira-kira 40 juta orang Arfika Madagaskar, Turki, Siprus,
dan Portugal Selatan. Organ yang paling sering dan paling hebat diserang adalah kandung kencing
“kistitis bilharzial” bisanya terjadi pada orang-orang muda berumur 10-30 tahun. Beberapa kasus terdapat
pada setengah baya dan jarang pada umur tua. Penyakit ini menyerang ureter, ginjal, vesika seminalis,
prostata, uretra , saluran sperma, epidemis pada testis , dan penis. Pada simpanze, parasit ini pernah
ditemukan pada kandung kencing, rekrum, paru-paru, hati , apendiks, dan vena-vena mesentrika.

Morfologi
Cacing ini berukuran tengah antara dua cacing lain yang terdapat pada manusia, dengan panjang
yang jantan mencapai 15 mm (rata-rata 12 mm), lebar antara 0,8 sampai 1 mm. Tubuh cacing jantan
diselubungi oleh tuberkulum-tuberkulum tegumenter kecil yang mungkin berfungsi sensoris. Cacing yang
langsing seperti benang, panjang kira-kira 2 cm dan berwarna
gelap setelah makan darah. Morfologinya sama dengan
Schistosoma japonicum, mempunyai tuberkulum-tuberkulum
kecil pada bagian-bagian terminal tubuh yang biasanya
mencuat dari kanalis ginekoforus cacing jantan. Cacing betina
ini dapat memanjangkan tubuhnya dengan cepat, dengan
cara seperti ular, dari kanalis ginekoforus ke dalam vena-vena
kecil, diman telu-telur diletakkan, dan kemudian menarik
kembali dengan cepat kedalam kanal. Telur berukuran rata-
rata 170 X 40 sampai 70 um dan ditandai oleh sebuah tonjolan lancip pada ujung terminal. cacing jantan
berukuran panjang mencapai 15 mm (rata-rata 12 mm), lebar antara 0,8 sampai 1 mm. Tubuh cacing
diselubungi oleh tuberkulum tegumenter kecil yang mungkin berfungsi sensoris. Cacing betina yang
langsing seperti benang, panjang kira-kira 2 cm dan berwarna gelap setelah makan darah. Morfologinya
serupa dengan Schistosoma japonicum, mempunyai tuberkulum kecil pada bagian-bagian terminal tubuh
yang biasanya mencuat dari kanalis ginekoforos cacing jantan. Cacing betina ini dapat memanjangkan
tubuh dengan cepat, dengan cara sepertia ular, dari kanalis ginekoforos kedalam vena-vena kecil dimana
telur-telur diletkkan, dan kemudian menarik kembali dengan cepat kedalam kanal.
Telur berukuran rata-rata 170 x 40 sampai 70
μm dan ditandai oeh sebuah tonjolan lancip
pada ujung terinal. Telur menmbus kandung
kencing atau usus menuju kelumen kemudian
keluar dari tubuh. Telur-telur ini terdapat
S. haematobium eggs S. haematobium eggs didalam air kencing. Pengeluaran terbanyak

70
Buku Ajar Helmintologi Medik
terjadi pada tengah hari atau permulaan tengah hari. Barangkali, mirasidium didalam telur terdorong
keluar oleh berbagai teanan. Spina pada telur mungkin membantunya.

Epidemiologi
Penyebaran Schistosoma haematobium manusia tegantng dari variasi hospes keong air.
Schistosoma haematobium sangat endemis diseluruh lembah sungai Nil dan boleh dikatakan, telah
menyebar diseluruh Afrika dan pulau-pulau Malagasi dan Mauritius. Sarang-sarang endemi ditemukan di
Israel, Jordania, Syria, Irak, Arab, Yaman dan daerah kecil pantai barat India. Didaerah-daerah di Mesir
dan bagian lain benua afrika, 75 – 95 % dari penduduk telah tekena infeksi. Kera dan Baboon mendapat
infeksi alami, akn tetapi hal ini mungkin tidak penting untuk penyebaran infeksi. Dan penyebaran di
Indonesia terdapat disekitar danau Lindu sulawesi Tengah.
Distribusi Schistosoma haematobium sebagian besar di sub-Saharan, di lembah Sungai Nil, di
Afrika, Negara-Negara Utara lain dan di Timur Tengah. Sedangkan Schistosoma japonicum adalah jenis
parasit yang terjadi di Asia dari timur, di Negeri China dan negara Pilipina.

71
Buku Ajar Helmintologi Medik
Rangkuman
Schistosoma japonicum terdapat di Jepang, Korea, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, Serawak, Sulawesi
dan Cina. Schistosoma mansoni memiliki hospes definitif manusia dan kera babon di Afrika sebagai
hospes reservoar. Pada manusia cacing ini menyebabkan Skistomiosis usus. Schistosoma haematobium
penyebab skistosomiasis kandung kemih. Cara infeksi dari Schistosoma haematobium yaitu serkaria
menembus kulit pada waktu manusia mandi dan masuk ke dalam air yang mengandung serkaria.
Telur-telur oval sampai bulat, memerlukan beberapa hari untuk berkembang menjadi mirasidia
masak di dalam kulit telur.
Gejala-gejala dan gangguan yang terjadi berkaitan dengan jumlah cacing, jaringan yang terinfeksi,
dan sensitifitas hospes. Meskipun toksin, cacing yang mati, dan malnutrisi mungkin terlibat di dalam
skistosomiasis hepatosplenik pada tikus dan mencit percobaan, namun kenyataan yang jelas
menunjukkan bahwa telur schistosoma merupakan faktor utama dalam patogenesis. Kenyataan ini
didasarkan pada penelitian elektron mikroskopik dari parenkima hati dan pigmen schistosoma.
Gejala klinis terjadi pada saat cercaria menembus kulit, yang menimbulkan pruritus dan kemerahan yang
bersifat sementara. Selama invasi hati dan alat-alat lain oleh cacing yang belum dewasa, timbullah
pendarahan berupa petechia dan sarang infiltrasi sel eosinofil dan leukosit. Reaksi toksik dan alergi dapat
menyebabkan urtikaria, edema subkutan, serangan asthma, leukositosis dan eosinofili.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau dalam jaringan biopsi hati atau
biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi
yang biasa dipakai adalah COPT (circumoval precipitin test), IHT (inderect haemagglutination test), CFT
(complement fixation test), FAT (fluorescent antibodi test) dan ELISA (enzyme linked immuno sorbent
assay).
Cacing dewasa Schistosoma mansoni jantan berukuran kira-kira 1 cm dan yang betina kira-kira
1,4 cm. Pada badan cacing jantan terdapat tonjolan lebih kasar bila dibandingkan dengan Schistosoma
haematobium dan Schistosoma japonicum. Tempat hidupnya di vena, kolon, dan rektum. Telur juga
tersebar ke alat-alat lain seperti : hati, paru-paru dan otak. Bentuk telur lonjong, coklat kekuning-
kuningan, dinding hilain, ukuran 114-175x45-64 mikron, pada satu sisi dekat ujung terdapat duri agak
panjang berisi mirasidium
Penyakit Schistosomiosis intestinal diketahui dengan adanya gejala diare atau disentri dengan
pemeriksaan sigmoidiskop.
Schistosoma haematobium berukuran tengah antara dua cacing lain yang terdapat pada manusia,
dengan panjang yang jantan mencapai 15 mm (rata-rata 12 mm), lebar antara 0,8 sampai 1 mm.
Obat-obat anti Schistosoma tidak ada yang aman atau agak toksik dan semuanya mempunyai
resiko masing-masing. Pengaruh obat anti Schistosoma dapat menyebabkan terlepasnya pegangan
cacing dewasa pada pembuluh darah dan mengakibatkan tersapunya cacing tersebut ke dalam hati oleh
sirkulasi portal; keadaan ini disebut hepatic shift.
Pencegahan dengan cara ; Mengurangi sumber infeksi, mengurangi air yang berisi keong
terhadap kontaminasi dengan urien atau tinja karena infeksi, mengurangi keong sebagai hospes,
melindungi orang terhadap air yang mengandung cercaria.

72
Buku Ajar Helmintologi Medik
Latihan 6
1. Sebutkan morfologi utama tiap spesies trematoda darah.
2. Jelaskan sifat tiap spesies trematoda darah.
3. Jelaskan aspek klinis tiap spesies trematoda darah.
4. Jelaskan siklus hidup tiap spesies nematoda intetinalis.
5. Jelaskan penyebaran penyakit tiap spesies trematoda darah.
6. Jelaskan cara diagnosa laboratorium tiap spesies trematoda darah.
7. Jelaskan cara pengobatan dan pencegahan tiap spesies trematoda darah
8. Identfikasi dan tunjukkan perbedaan utama tiap spesies trematoda darah.

73
Buku Ajar Helmintologi Medik

Anda mungkin juga menyukai