0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
234 tayangan16 halaman

Morfologi dan Siklus Wuchereria bancrofti

Dokumen tersebut membahas tentang nematoda darah/jaringan, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Ketiga nematoda ini menyebabkan penyakit filariasis dan memiliki siklus hidup yang mirip, dimana cacing dewasa hidup di jaringan limfatik dan menghasilkan mikrofilaria yang berada di darah, serta ditularkan melalui gigitan nyamuk tertentu. Gejala klinis yang ditimbulkan antara lain limf

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
234 tayangan16 halaman

Morfologi dan Siklus Wuchereria bancrofti

Dokumen tersebut membahas tentang nematoda darah/jaringan, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Ketiga nematoda ini menyebabkan penyakit filariasis dan memiliki siklus hidup yang mirip, dimana cacing dewasa hidup di jaringan limfatik dan menghasilkan mikrofilaria yang berada di darah, serta ditularkan melalui gigitan nyamuk tertentu. Gejala klinis yang ditimbulkan antara lain limf

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kegiatan Belajar 3 : Nematoda Darah/jaringan

1. Wuchereria bancrofti

Hospes
Hospes definitif adalah manusia, dengan cacing dewasa berada di kelenjar dan saluran limfe,
sedangkan mikrofilaria dalam darah. Nama penyakitnya filariasis bancrofti. Distribusi geografik di Asia
Tenggara, Asia Timur, Timur Jauh, Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah, dan
Indonesia.

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing dewasa berbentuk seperti
benang, putih kekuningan, Betina berukuran
90–100 x 0,25 mm, ekor lurus ujung tumpul,
uterus berpasangan. Sedangkan Jantan
berukuran 35–40 x 0,1 mm, ekor melingkar,
dengan 2 spikula. (lihat gambar disamping ini
merupakan bentuk dewasa Wuchereria
bancrofti)
Mikrofilaria : Bersarung, ukuran 250-
300 x 7-8 µ, Periodisitas nocturna ;
mikrofilaria berada di dalam darah tepi pada malam hari sedangkan pada siang hari berada di kapiler
organ viseral.

Microfilaria Wuchereria bancrofti Mikrofilaria [Link] Ekor Mf. W. bancrofti

Spesies di daerah Pasifik bersifat subperiodik nocturna. Siklus hidup Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori sama, terjadi pada saat : Infeksi mikrofilaria terisap oleh nyamuk dan selanjutnya
dalam lambung nyamuk tersebut berubah menjadi ; Larva, berkembang menjadi Larva 1, 2 dan akhirnya
menjadi Larva 3 (otot toraks dan kepala ; berlangsung selama 6,5 – 9,5 hari), larva 3 infektif jika
ditularkan nyamuk melalui gigitannya ket tubuh manusia, kemudian dalam tubuh manusia masuk dalam
sistem limfatik perifer dan migrasi saluran Limfe distal menjadi L4 dan L5 (dewasa) dan akhirnya
menghasilkan mikrofilaria (berlangsung 8 – 12 bulan pascainfeksi)
Gambar 8. Siklus Hidup Wuchereria bancrofti

Aspek Klinis
Penyebab timbulnya gejala klinis dapat bersumber dari cacing dewasa dan mikrofilaria. Cacing
dewasa pada stadium akut menyebabkan; limfadinitis dan limfangitis retrogard antara 10-15 tahun dapat
terjadi obstruktif. Mikrofilaria dapat menimbulkan; occult filariasis (kasus jarang). Patogenesis; stadium
mikrofilaremi, akut dan kronik (gejala tidak begitu tegas/saling tumpang tindih). Peradangan umum;
radang sistem limfatik organ genital pria (epididimitis, funikulitis dan orkitis) mengakibatkan peradangan
saluran sperma menimbulkan pembengkakan dan keras, menimbulkan rasa nyeri. Pada kasus kronis;
terbentuk hidrokel, limfadema dan elefantiasis (tungkai/lengan, payudara, testis dan vulva).
Berikut ini adalah gambar penderita elefantiasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti

28
Buku Ajar Helmintologi Medik
Diagnosis
Anamnesa berhubungan dengan vektor (endemik), kemudian konfirmasi hasil laboratorium, dengan cara
pengambilan darah jari pada malam hari. Penderita dengan gejala klinik +, tidak selalu mikrofilaria +.
Secara serologis dapat dilakukan dengan tes intradermal antigen dirofilaria, ikat komplemen,
hemaglutinasi dan floculasi. Hal penting bagi petugas laboratorium agar memperhatikan :
1. Anamnesa dapat membantu waktu pengambilan darah dan identifikasi spesies
2. Ciri-ciri khas mikrofilaria
3. Sarung jelas warnanya terutama jika diwarnai dengan hematoksilin
4. Cacing dewasa dalam cairan / kelenjar limfe dapat ditentukan dengan rontgen

Pengobatan
1. Preparat antimon dan arsen mampu membunuh mikrofilaria (pengobatan jangka waktu lama)
2. Obat pilihan; Dietil carbamasin (DEC)

Epidemiologi dan Pencegahan


Kasus di Indonesia lebih banyak di daerah pedesaan dibanding perkotaan. Penyebaran bersifat
lokal, vektor di perkotaan; nyamuk Culex quinquefasciatus, Vektor di pedesaan; Anopheles, sp dan
Aedes sp. Kelompok usia mudah terserang terdapat pada dewasa muda dengan status ekonomi rendah.
Obat DEC kurang baik bagi upaya pengendalian, pencegahan dianjurkan menghindari gigitan nyamuk.

29
Buku Ajar Helmintologi Medik
2. Brugia malayi dan Brugia timori

Hospes
Hospes definitif [Link] adalah manusia dan mamalia lainnya, seperti; kera, anjing, kucing.
Cacing dewasa dalam tubuh manusia terdapat pada kelenjar dan saluran limfe, sedangkan bentuk
mikrofilaria dalam darah, vektor; Anopheles barbirostris dan Mansonia sp. Sedangkan hospes definitif
[Link] adalah manusia, dan vektor penularannya adalah Anopheles barbirostris. Nama penyakitnya
adalah filariasis brugia.
Distribusi geografik Brugia malayi di Indonesia, Filipina, Srilanka, India Selatan, Asia, Korea,
Tiongkok dan Jepang, sedangkan penyebaran Brugi timori di Indonesia; Timor, Rote, Flores, Alor dan
dibeberapa pulau NTT.

Morfologi dan Siklus hidup


Cacing dewasa Seperti benang, putih kekuningan, ujung anterior ; mulut tanpa bibir (2 baris papil ;
baris luar 4 buah, baris dalam 10 bh). Cacing betina berukuran : 55 x 0,16 mm, ekor lurus, vulva
mempunyai alur transversal dan langsung berhubungan dg vagina. Sedangkan jantan berukuran : 23 x
0,09 mm, ekor melingkar, dg 3-4 papil. Dibelakang anus ; 1 papil, ujung ekor 4-6 papil kecil dan 2 spikula
dengan panjang tidak sama. Mikrofilaria : Bersarung panjang, ukuran 177-230 µ. Periodisitas nocturna ;
didalam darah tepi pada malam hari, sedangkan strain pada daerah Pasifik bersifat subperiodik nocturna.
Siklus hidup sama dengan pola Wuchereria bancrofti, hanya saja Pertumbuhan L1, L2, L3 di vektor ± 10
hari, dan di manusia selama 3 bulan.

Gambar 9. Siklus Hidup Brugia malayi dan Brugia timori


30
Buku Ajar Helmintologi Medik
Keterangan: Vektor Brugia malayi dan Brugia timori yang menyebabkan filariasis adalah spesies-spesies
dari genus Mansonia and Aedes. Sewaktu mengisap darah, nyamuk infektif memasukkan larva stadium
III melalui kulit human host, dimana mereka melakukan penetrasi (melingkar) . Selanjutnya
berkembang menjadi dewasa biasanya bertempat dalam limphatik . Cacing dewasa menyerupai
Wuchereria bancrofti namun lebih kecil. Cacing betina berukuran panjang 43 - 55 mm dan lebar 130 -
170 μm, dan jantan berukuran panjang 13-23 mm dan lebar 70 - 80 μm. Dewasa menghasilkan
microfilariae, berukuran panjang 177-230 μm dan lebar 5 - 7 μm, memiliki sarung dan memiliki nocturnal
periodicity. Microfilariae bermigrasi ke lymph dan masuk dalam pembiuluh darah dan ditemukan dalam
darah kapiler . Nyamuk terinfeksi karena mengisap darah . Sesudah tertelan, microfilaria
melepaskan sarungnya dan menuju jaringan proventriculus dan cardiac portion dari midgut untuk
mencapai thoracic muscles . Microfilaria berkembang menjadi larava stadium I dan pada tahap
akhir menjadi larva stadium III . Larva stadium III bermigrasi melalui hemocoel ke proboscis nyamuk
dan dapat menginfek manusia lain ketika nyamuk mengisap darahnya .

Aspek Klinis
Gejala sama dengan [Link], namun tidak pernah dilaporkan adanya serangan pada limfe alat
genital. Limfedenitis dapat menjadi bisul kemudian pecah menimbulkan ulkus jika sembuh menimbulkan
bekas luka parut (paha), hal ini merupakan salah satu gejala limfatik khas. Limfedema hilang setelah
gejala peradangan tidak ada, jika terjadi serangan berulang dapat menyebabkan elefantiasis. Organ yang
sering terserang umumnya bagian kelenjar limfe tungkai, ketiak dan lengan. Penderita mengalami
hidrokel, tetapi tidak terjadi kiluria. Berikut inigambar penderita elefantiasis.

Diagnosis
Anamnesa berhubungan dengan vektor (endemik). Konfirmasi hasil laboratorium dengan cara
mengambil darah jari pada malam hari. Penderita dengan gejala +, tidak selalu mikrofilaria +. Tes
intradermal antigen dirofilaria, ikat komplemen, hemaglutinasi dan floculasi. Hal penting bagi petugas
laboratorium;
31
Buku Ajar Helmintologi Medik
1. Anamnesa akan membantu pengambilan dan identifikasi spesies
2. Ciri-ciri khas mikrofilaria
3. Menghindari penggumpalan mikrofilaria saat SD dikeringkan + kloroform/mentol dalam spesimen
4. Cacing dewasa dalam cairan / kelenjar limfe ; rontgen

Tabel 2. Perbedaan Spesies Mikrofilaria di Indonesia


Identifikasi [Link] mf. malayi mf. timori
Gambaran umum Melengkung rata Kaku dan patah Kaku dan patah
Panjang (micron) 224-296 177-220 265-323
Cepalo space 1:1 1:2 1:3
∑ inti ujung ekor 0 2 2
Inti badan Tersusun rapi Berkelompok Berkelompok
Ujung ekor Keujung Seperti pita Ujung agak tumpul Ujung agak tumpul
Warna sarung Kurang jelas (merah Jelas (merah muda) Tidak terlihat (pucat)
muda)

Pengobatan
1. Preparat antimon dan arsen mampu membunuh mikrofilaria (pengobatan jangka waktu lama)
2. Druge choice ; Dietil carbamasin (DEC) dengan dosis rendah

Epidemiologi dan Pencegahan


Vektor di pedesaan [Link]; Anopheles barbirostris, [Link] periodik Anopheles barbirostris
(dipersawahan), subperiodik Mansonia sp (rawa-rawa). Strain periodik distribusi luas di Asia, strain
subperiodik ; Indonesia, Malaysia dan Filipina. Kelompok usia muda mudah terserang; dewasa muda
dengan status ekonomi rendah. Obat DEC kurang baik bagi upaya pengendalian, pencegahan ;
menghindari gigitan nyamuk. Perlu diperhatikan hospes reservoar selain manusia.

32
Buku Ajar Helmintologi Medik
3. Onchocerca volvulus

Hospes
Hospes definitif tunggal adalah manusia, cacing dewasa berada pada jaringan subkutis, bersimpai
dalam benjolan fibrotik. Benjolan tersebut berisi cacing dan mikrofilaria dalam jumlah yang berbeda-beda.
Kadang-kadang cacing yang tidak bersimpai berpindah-pindah dalam jaringan tubuh. Mikrofilaria yang
bebas terdapat dalam benjolan, jaringan sub kutis, limfe dan kulit, jarang berada dalam darah atau alat-
alat dalam. Hospes intermediat adalah lalat hitam genus simulium sp ([Link]). Nama penyakitnya
onkoserkosis, blinding filariasis, river blindness.

Morfologi dan Siklus Hidup


Dewasa betina berukuran; 23-60 cm x 0,30-05 mm, vulva terbuka dan terletak disebelah posterior
esofagus, uterus mengandung mikrofilaria, sedangkan cacing jantan berukuran; 16-42 cm x 0,124-0,2
mm, ujung posterior melingkar ke ventral, terdapat papila perianal dan kaudal dengan jumlah bervariasi.
Mikrofilaria; Tidak bersarung, panjang sampai 360 µ, ujung ekor tdk ada inti. Ditemukan pada; kelenjar
limfe, stratum germinativum kulit dan kunjungtiva korneal (jarang ditemukan di darah perifer). Siklus
hidup: mikrofilaria dalam darah dan cairan jaringan kulit penderita, terisap viktor (lalat hitam; simulium)
menembus lambung dan ke jaringan toraksnya lalat (berlangsung± 6–10 hari) menjadi larva infektif
(Larva1=gr.7, Larva3=gr.8) bermigrasi dari torax ke probosis (9), jika vektor menggigit (1), masuk melalui
sub kutan (2), kemudian dalam tubuh manusia (sub kutan dan jaringan lymfatic) menjadi dewasa
(inkubasi 1 th). Sifat vektor pada hari cerah dapat menggigit pagi dan sore, tempat rindang, langit ber
awan menggigit sepanjang hari.

Gambar 10. Siklus Hidup Onchocerca volvulus


33
Buku Ajar Helmintologi Medik
Aspek Klinis
Onchocercosis merupakan infeksi menahun di jaringan sub kutis, kulit dan mata. Kelianan
disebabkan oleh dewasa dan mikrofilaria, ditambah oleh reaksi alergi penderita. Benjolan berukuran 5–25
mm, dapat timbul pada tiap bagian tubuh. Di Afrika kelainan
timbul pada bagian bawah, paha, lengan (lihat gambar
kasus penderita sebelah kanan ini) Sedangkan di Amerika
Tengah pada bagian kepala dan pundak. Pembagian ini
didasarkan atas tubuh yang tidak tertutup. Benjolan
umumnya antara 3–6 buah, walaupun pernah dilaporkan
sampai 150 buah tonjolan.
Bentuk dewasa umumnya tidak patogen. Gejala berat terjadi pada mikrofilaria yang berada
dalam kelenjar limfe di viseral, kulit dan mata, penderita mengalami reaksi alergi berupa gatal-gatal
(penyebab infeksi skunder dan dermatitis), terjadi edema intradermal dan likenifikasi. Pada Bangsa
Yaman dilaporkan terjadi dermatitis hebat; sowda (pada bagian tubuh–
hiperpigmentasi). Mikrofilaria di mata menyebabkan kelainan mata berupa
konjungtivitis, lakrimasi dan fotofobia. Stadium Kronis terjadi keratitis
berbintik, glaukoma dan atrofi optik, dan akhirnya dapat menyebabkan
kebutaan. Hal ini berhubungan dengan lokalisasi, berat dan lama infeksi.
Timbulnya kelainan pada mata disebabkan oleh beberapa keadaan;
Aktivitas mekanis atau hasil metabolisme mikrofilaria hidup, toksin yang
dilepaskan mikrofilaria mati, toksin dari cacing dewasa, kerentanan
penderita. Cacing dewasa dapat menimbulkan; benjolan (onkoserkoma)
tidak sakit, padat dan dapat digerakkan, biasanya pada daerah iga, siku dan
lutut.

River blindes

Diagnosis
Menemukan mikrofilaria dalam kulit, kadang; darah, sputum dan urin (biasanya setelah
pengobatan DEC), menemukan cacing dewasa dari jaringan fibrotik bila terdapat kasus onkoserkoma.
Diagnosa penunjang; Tes imunologik; fiksasi komplemen dan tes hematologik (eosinofilia)

Pengobatan :
obat pilihan; DEC dan Suramin

Epidemiologi dan pencegahan


Wilayah Afrika di sekitar: pantai Barat dan Sierra Leone sampai Congo Basin, dan di bagian timur;
Congo, Angola, Sudan dan Afrika Timur. Benua Amerika ; Guatemala, mexico dan timur laut Venezuela.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara pengeluaran benjolan dan pemberantasan vektor

34
Buku Ajar Helmintologi Medik
4. Loa loa (eye worm, filaria okuli)

Hospes
Hospes definitifnya manusia dan kera, cacing dewasa berada paa jaringan subkutis. Lama hidup
pada manusia antara 4-17 tahun. Hospes intermediat genus Chrysops sp. Penyakit yang disebabkan
Loaiasis, Calabar swelling. Distribusi Afrika trofik (Sahara Selatan)

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing dewasa betina; 50-70 x 0,46-0,60 mm, vulva terbuka dan terletak di daerah servikal,
mempunyai sepasang papil terminal. Jantan; 30-40 x 0,36-0,40 mm, ekor melingkar ke ventral,
mempunyai sayap lateral dan 8 psg papil perianal. Mikrofilaria; bersarung, ukuran 250-300 x 6-8,5 µ.
Periodisitas diurna didarah perifer dan malam hari migrasi ke paru-paru. Mikrofilaria kadang ditemukan di
sputum dan urin, serta cairan sumsum tulang belakang. Siklus Hidup; Mikrofilaria dalam Chrysops sp
(selama 10–12 hari pascainfeksi) menjadi larva infektif dan dalam 1 jam larva menembus jaringan
subkutis dan otot manusia dan dewasa (1-4 th). Cacing betina gravid mengandung mikrofilaria.

Gambar 11. Siklus Hidup Loa loa

35
Buku Ajar Helmintologi Medik
Aspek Klinis
Cacing dewasa dapat berpindah melalui jaringan subkutan (maks 0,5 inci per menit), dapat hinggap
pada semua bagian tubuh, terutama conjungtiva dan
batang hidung. Jika cacing berada pada conjungtiva
mata akan terjadi rangsangan, sumbatan, nyeri,
pembengkakan kelopak dan gangguan penglihatan.
Peradangan sementara berbentuk Calabar Swelling
berupa pembengkakan di bawah kulit, tidak sakit, tidak
dapat ditekan, mungkin sebesar telur ayam, sering
tampak pada tangan, lengan dan sekitar rongga mata.
Benjolan tersebut timbul tiba-tiba pada waktu tertentu,
dan hilang sesudah satu minggu, mungkin berhubungan
dengan sensitivitas penderita. Ingkubasi ; demam ringan,
nyeri anggota badan, kesemutan, gatal dan urtikaria,
seperti terlihat pada gambar penderita sebelah kanan ini.

Kasus loasis pada mata terjadi seperti penderita berikut ini:

Diagnosis
Ditemukannya mikrofilaria dalam darah perifer siang hari. Cacing dewasa dari bahan biopsi
subkutan, kunjungtiva, daerah lipat paha, payudara, penis dan kulit kepala. Tes imunologik menggunakan
tes; dirofilaria imitis. Secara hematologik terjadinya; eosinofilia. Hal penting bagi diagnosis laboratorium
sampel darah diambil siang hari (optimum 10.00 – 14.00)

Pengobatan
Obat pilihan yang dianjurkan adalah DEC

Epidemiologi dan pencegahan


Daerah endemik Afrika di daerah hutan hujan. Vektor di daerah endemis; Chrysop silacea dan
Chrysops dimidiata (di hutan) umumnya menyerang pria dewasa. Pencegahan dengan menghindari
gigitan vektor, pemberantasan vektor dan mengeringkan tempat perindukan

36
Buku Ajar Helmintologi Medik
5. Mansonella ozzardi

Hospes
Hospes definitifnya adalah manusia, dimana cacing dewasa hidup di dalam rongga tubuh,
mesenterium dan lemak alat-alat dalam. Hospes intermediat berupa genus Simulium sp dan Culicoides
sp. Penyakit disebut filariasis ozzardi, mansoneliasis ozzardi. Distribusi geografik meliputi Hindia Barat,
Amerika Tengah dan Amerika Selatan (indigeneus).

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing dewasa betina berukuran; 6,5-8 x 0,2-0,25 mm, Kulit mengandung kutikulum, bagian ekor
tampak sepasang lipatan yang mengkilap. Jantan; 3,8x0,2 mm, bagian anterior melengkung kearah
ventral dan ujungnya membesar. Mikrofilaria; tidak bersarung, panjang 173-240 µ, berujung runcing,
ujung ekor tidak ada inti dan sifatnya non periodik. Larva infektif di vektor ± 6 – ke probosis hari ke 8.

Gambar 12. Siklus Hidup Mansonella ozzardi

Aspek klinis
Gejala Infeksi tidak serius, penyebab nyeri ekstremitas lutut bagian bawah dan pergelangan kaki.
Pruritis, dermatitis, edema, lesi makulopapuler, eosinopilia dan demam. Cacing dewasa tidak
menimbulkan reaksi jaringan.

Diagnosis: Menemukan mikrofilaria dalam darah


Pengobatan: Kasus tanpa gejala tidak perlu pengobatan, DEC tidak efektif.
Pencegahan: Pemberantasan vektor dan perlindungan manusia terhadap gigitan vektor.

37
Buku Ajar Helmintologi Medik
6. Dracunculus medinensis (cacing naga)

Hospes
Hospes definitifnya adalah manusia, anjing, sapi, kuda. Cacing dewasa pada manusia berada
pada; jaringan kulit, jaringan subkutan lengan, punggung dan kaki). Hospes intermediat genus Cyclops
sp. Penyakitnya disebut drakunkuliasis. Distribusi geografik; Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah,
Timur Tengah, Iran , Arab, Irak dan Myanmar.

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing dewasa silendrik, sangat panjang, ujung anterior tumpul, ujung ekor melingkar ke ventral
dengan kutikula halus, ujung anterior; alat pelindung oval, tengahnya ada mulut berbentuk Betina
berukuran; 500-1200 x 0,9-1,7 mm, oviduk dan uterus berpasangan, uterus gravid mengandung
rhabditiform. segitiga dan dikelilingi cincin dalam dengan 6 papila dan luar 4 pasang. Jantan ; 12-29 x 0,4
mm, ujung ekor melengkung dan dilengkapi 10 batang papila ekor. Larva rhabditiform : Ukuran 500-750 x
15-25 µ. Langsing, ekor halus seperti benang, tidak ada mikrofilaria. Seekor cacing betina dapat hidup
sampai 12 – 18 bulan. Dalam waktu ± 1 tahun cacing betina pindah ke jaringan subkutis tungkai, lengan,
pundak dan tubuh bagian bawah yang banyak bersentuhan air. Jika tiba waktunya untuk mengeluarkan
larva, bagian kepala cacing membentuk benjolan kecil pada kulit yang berindurasi, kemudian benjolan
tersebut menjadi vesikel dan dapat menjadi ulkus, jika permukaan ulkus terkena air maka larva ke luar
bergerak ke dalam air, dengan siklus sebagai berikut: “Larva (air) --- Cyclops (infektif/filariform; 3 mg) –
bergerak aktif dan melingkar – tertelan manusia (pecah di tractusgastrointestinalis) – menembus dinding
usus --- saluran limfe --- sub kutan (± 1 bln) --- dewasa (3-4 bln) --- dewasa mencapai kulit dan
mengeluarkan larva (1 th)”. Larva di dalam cyclops berjumlah 1–3, Jika larva 5 atau lebih maka cyclops
tersebut akan mati.

Gambar 13. Siklus hidup Dracunculus medinensis


38
Buku Ajar Helmintologi Medik
Keterangan: Manusia dapat terinfeksi karena meminum air yang tidak bersaring mengandung kopepoda
(krustasea kecil) yang terinfeksi dengan larva D. medinensis . Kopepoda yang tertelan mati, dan
mengeluarkan larva, kemudian melakukan penetrasi pada perut hospes dan dinding usus dan masuk
pada abdominal cavity dan ruang retroperitoneal . Sesudah pematangan menjadi dewasa dan terjadi
kopulasi, cacing jantan mati dan betina (panjang: 70 - 120 cm) migrasi dalam jaringan subcutaneous
permukaan kulit . Kira-kira 1 tahun setelah infeksi, cacing betina menyusup di kulit, bergenerasi di
distal lower extremity, selanjutnya memecah. Ketika lesi ini contact dengan air, maka cacing betina akan
mengeluarkan larva . Larva tertelan oleh kopepoda dan sesudah 2 minggu berkembang menjadi
larva infektif . Manusia tertelan kopepoda (siklus selanjutnya) .

Aspek Klinis
Terjadinya kalsifikasi karena cacing yang mati dan tidak berada di jaringan kulit, hal ini disebabkan
cacing tidak dapat mencapai kulit sehingga mati dan mengalami desintegrasi. Pada jaringan
mesenterium menimbulkan alergi. Permukaan tubuh; reaksi peradangan lokal (vesikel steril berisi
eksudat jernih); penyebab toxin. Terowongan subkutis; gejala lepuh, indurasi dan edema (vesikel
memungkinkan keluarnya larva di air); tungkai pergelangan kaki, sela jari kaki. Gejala lain sebelum
cacing pecah; alergi ; urtikaria, eritema, pusing, muntah, sesak napas.
Kasus berikut merupakan penderita yang terinfeksi Dracunculus medinensis.

Diagnosis
Secara klinis ditemukannya lesi jelas jika cacing di dalam kulit, menemukan cacing dewasa pada
ulkus atau larva yang keluar bersama cairan ulkus. Rontgen pda kasus terjadinya kalsifikasi. Bentuk
cacing di jaringan subkutan (+) melalui penyinaran cahaya Larva dikeluarkan dengan cara ; pendinginan
ulkus. Tes intradermal (ekstrak [Link])

39
Buku Ajar Helmintologi Medik
Pengobatan
1. Obat pilihan ; DEC dosis tinggi
2. Penderita alergi + antihistamin
3. Pengeluaran cacing dewasa Æ mengurangi gejala toksemia

Epidemiologi dan pencegahan


Di dunia ± 48 juta orang penderita ; Afrika Utara, Barat dan Tengah. Di daerah Barat Daya Asia,
Timur Laut Amerika Utara dan Tiongkok. Di India Barat prosentasi sakit tinggi dan kebanyakan berumur <
20 tahun, karena terinfeksi oleh air dari sumber air minum. Sumber ini tidak disediakan tali atau ember,
tetapi orang masuk hingga lutut atau pergelangan kaki ke dalam air saat mengisi tempat air mereka.
Penularan pada musim panas terjadi kerana air sumur surut dan kepadatan cyclops tinggi. Pencegahan
dapat dilakukan dengan cara memasak air, memberi klor/kupri sulfat atau memasukkan ikan untuk
memakan crustacea.

40
Buku Ajar Helmintologi Medik
Rangkuman

Cacing dewasa berhabitat pada sistem limfatik, subkutan dan jaringan ikat dalam pada tubuh
manusia, sedangkan mikrofilaria (prelarva), ada yang bersarung dan tidak. Berada pada darah
perifer/jaringan kulit dan sifatnya sangat aktif. Penularan penyakit melalui viktor arthropoda (nyamuk).
Siklus hidup tiap spesies memiliki pola kompleks (larva infektif berkembang menjadi dewasa memerlukan
waktu bertahun-tahun yang dapat menimbulkan patologik nyata manusia). Berdasarkan keberadaan
mikrofilaria dalam darah perifer pada manusia untuk tiap spesies berbeda, di antaranya ; mikrofilaria yang
ada pada malam hari di darah perifer ; disebut periodisitas nocturna. siang hari di darah perifer ; disebut
periodisitas diurna, dan tidak memiliki periode yang tetap disebut ; nonperiodik.
spesies nematoda jaringan dan darah yang hidup pada manusia adalah [Link], [Link],
[Link], Mansonella ozzardi, Onchocerca volvulus, Loa loa dan Dracunculus medinensis. Pada
umumnya manusia sebagai hospes definitif nematoda jaringan dan darah, sedangkan hospes perantara
adalah nyamuk ([Link], [Link] dan [Link]), lalat ([Link], [Link], Loa loa), sebangsa
copepoda ([Link]).
Distribusi geografik nematoda jaringan dan darah banyak terdapat di daerah tropik yang cocok
untuk tempat perindukan vektor. Nematoda jaringan dewasa berbentuk selindrik panjang, menyerupai
benang, terdiri dari cacing betina dan jantan dengan ukuran bervariasi dari 3,8x0,2 mm ([Link])
sampai 60 cm x 0,5 mm ([Link]). Mikrofilaria nematoda jaringan dan darah terdapat dalam darah
perifer ([Link], [Link], [Link], Mansonella ozzardi, Onchocerca volvulus dan Loa loa),
sedangkan larva dalam jaringan ([Link]). Mikrofilaria bersarung ([Link], [Link], [Link],
dan Loa loa), sedangkan mikrofilaria tidak bersarung terdapat pada Mansonella ozzardi dan Onchocerca
volvulus. Untuk melengkapi daur hidupnya, nematoda jaringan dan darah membutuhkan hospes
perantara vektor, yaitu nyamuk ([Link], [Link] dan [Link]), lalat ([Link], [Link], Loa loa),
dan sebangsa copepoda ([Link]). Larva infektif berkembang dalam tubuh vektor dan ditularkan
melalui gigitan dan tumbuh dewasa dalam hospes definitif (manusia dan mamalia lainnya)
Aspek klinis penderita yang terinfeksi oleh nematoda jaringan dan darah dapat ditimbulkan oleh
cacing dewasa, larva dan mikrofilaria. Aspek klinis ada yang bersifat asimtomatik dan sistomatik.
Cara menegakkan diagnosa nematoda jaringan dan darah dilakukan dengan menemukan
mikrofilaria dalam darah tepi, larva dalam jaringan dan cacing dewasa yang diperoleh dari bahan biopsi.
Diagnosa lebih terarah bila dikonfirmasikan dengan gejala dan perjalanan penyakit. Apabila cacing sulit
ditemukan dilakukan tes seroimunologik.
Pengobatan nematoda jaringan dan darah ada yang langsung membunuh cacing dan beberapa di
antaranya hanya bersifat pencegahan. Penularan nematoda jaringan dan darah melalui hospes perantara
(vektor). Stadium infektif cacing terbentuk dalam tubuh vektor.
Pencegahan nematoda jaringan dan darah dilakukan dengan tindakan kemoterapi (pengobatan),
menghindari gigitan vektor, pemberantasan vektor dengan membersihkan tempat perindukannya dan
pemakaian insektisida maupun senyawa kimia lainnya.
Penyakit kaki gajah (filariasis) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi
cacing filarial. Ditularkan oleh berbagai jenis (spesies) nyamuk. Di Indonesia diperkirakan menginfeksi
sekitar 120 juta penduduk di 80 negara, terutama di daerah tropic dan beberapa daerah subtropik.

41
Buku Ajar Helmintologi Medik
Penyakit ini merupakan penyebab utama kecacatan, stigma social, hambatan psikososial, dan penurunan
produktivitas kerja individu, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang
besar. Dengan demikian penderita menjadi beban keluarga dan negara. Di Indonesia kasus filaria
menyerang sekitar 10 juta orang penduduk terutama di daerah pedesaan yang disebabkan oleh spesies
[Link], [Link], dan [Link]. dari tiga spesies tersebut secara epidemiologi dapat dibagi menjadi 6
tipe, yaitu ;
1. Wuchereria bancrofti tipe perkotaan (urban)
2. Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural)
3. Brugia malayi tipe periodik nokturna
4. Brugia malayi tipe subperiodik nokturna
5. Brugia malayi tipe non periodik
6. Brugia timori
Diagnosa filariasis di Indonesia dengan cara ; anamnesa dan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi
tersangka akut. Tersangka kronis dengan menemukan terjadinya elefantiasis dan atau pembesaran buah
pelir. Diagnostik laboratorium dengan menemukan mikrofilaria dalam darah tepi secara mikroskopis.

Latihan 3
1. Sebutkan morfologi utama tiap spesies nematoda jaringan.
2. Jelaskan sifat tiap spesies nematoda intetinalis.
3. Jelaskan pathogenesis tiap spesies nematoda jaringan.
4. Jelaskan siklus hidup tiap spesies nematoda intetinalis.
5. Jelaskan kan distribusi penyebaran penyakit tiap spesies nematoda jaringan.
6. Jelaskan bagaimana cara diagnosa laboratorium tiap spesies nematoda jaringan.
7. Jelaskan cara pengobatan dan pencegahan tiap spesies nematoda jaringan
8. Identifikasi dan tunjukkan perbedaan utama tiap spesies nematoda jaringan

42
Buku Ajar Helmintologi Medik

Anda mungkin juga menyukai