0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan7 halaman

Modul 5

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan7 halaman

Modul 5

Diunggah oleh

M Risal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kegiatan Belajar 5 : Cestoda jaringan

1. Echinococcus granulosus
Hippocrates, Aretaeus dan Goden telah mengenal gejala klinik penyakit yang disebabkan oleh
kista hidatid. Pada tahun 1766 Palbes untuk pertama kali menyatakan persamaan hidatid pada manusia
dan pada binatang lain. Infeksi kista hidatid yang pertama dibuat diagnosis pada manusia ialah di
Amerika Serikat pada tahun 1808.

Hospes
Cacing dewasa Echinococcus granulosus menempati saluran usus vertebrata dan larvanya hidup
di jaringan vertebrata dan invertebrata. Hospes perantara cacing ini yang biasanya adalah domba, sapi
dan herbivora lain. Manusia hampir selalu memperoleh infeksi dari anjing, walaupun serigala, koyote dan
rubah juga bertindak sebagai hospes tetap. cacing dewasa hidup didalam usus muda anjing, serigala,
anjing jaga, coyote, anjing hutan, dan jarang pada kucing. Hospes-hospes ini mendapat cacing pita
dewasa karena makan berbagai alat dalam dari herbivora yang mengandung stadium kistanya dengan
protoscolex yang berjumlah besar.
manusia dapat dihinggapi stadium larvanya yang menimbulkan penyakit yang disebut hidatidosis
atau hidatid. Setiap larva membentuk kantung berisi cairan kista hidatid yang terus membesar dan
membentuk kista dalam sekunder yang dikenal sebagai kapsul eraman.

Morfologi dan Siklus Hidup


Echinococcus adalah suatu genus cacing pita yang terkecil ( 2,5 sampai 9,0 mm) bersegmen tiga
yang ditemukan di usus anjing dan karnivora lainnya. Skoleknya bulat dan mempunyai rosteum yang
menonjol dengan mahkota rangkap dua yang terdiri dari 30 sampai 36
kait-kait dan empat batil isap yang menonjol. Progottid pertama
diantara ketiga proglottid
mengandung alat kelamin
yang belum matang,
proglottid tengah yang lebih E granulosus dewasa
memanjang mengandung alat reproduksi yang sudah lengkap,
dan proglottid yang terakhir atau yang gravid mengandung
Echinococcus granulosus kista hidatid
uterus di tengah dengan 12 sampai 15 cabang yang melebar
dengan kira-kira 500 telur.
Telur yang keluar dari proglottid akan meninggalkan inang, menginfeksi usus dan melewati berbagai
jaringan, khususnya usus dan otak. Di situ larva tumbuh menjadi kista besar yang berisi cairan yang
mengandung skoleks. Kista hidatid besar ini infektif pada anjing yang makan organ dalam sapi atau
domba yang terinfeksi. Kondisi yang muncul pada domba itu juga dapat terjadi pada manusia: penyakit
hidatida atau hidatidosi, kadang mengakibatkan munculnya kista yang banyak mengandung cairan.
Siklus hidup Echinococcus granulosus terjadi jika cacing pita dewasa di usus anjing → bertelur →
telur keluar melalui tinja anjing atau tinja manusia, domba dan mamalia lain→ Kista ditemukan di → hati
dan rongga perut atau paru-paru dan alat lain→ kista yang keluar akan menghasilkan kista yang terdiri
dari: broad capsule, lapisan germinatif, lapisan kutikulum, dan jaringan hospes → Hydatid sand Skolek
dari kista termakan anjing.

Gambar 17. Siklus hidup Echinococcus granulosus

Cara infeksi Echinococcus granulosus yaitu; dengan menelan telur. Telur yang tertelan akan
menetas menjadi larva, maka larva yang dilepaskan akan menembus dinding usus dan disebarkan
keseluruh tubuh melalui sistem getah bening dan peredaran darah. Hati adalah organ yang paling sering
terinfeksi, tetapi larva mungkin juga menetap di paru-paru, ginjal, tulang atau otak. Setiap larva
membentuk kantung berisi cairan kista hidatid yang terus membesar dan membentuk kista daam
sekunder yang dikenal sebagai kapsul eraman. Kista primer dan sekunder mengandung skoeks yang
tidak terhitung jumlahnya dan masing-masing skoleks mungkin berkembang manjadi cacing dewasa
apabila ditelan oleh anjing. Pecahnya hidatid mungkin melepaskan beribu-ribu skoleks ke dalam jaringan
disekitarnya.

Gejala Klinis
Patologi pada manusia tergantung pada lokalisasi kista. Biasanya satu kista berkembang dan
sering kista ini mengganggu fungsi organ dengan tekanan pada jaringan di sekitarnya. Terjadi

57
Buku Ajar Helmintologi Medik
peradangan, sebagian disebabkan oleh tanggapan hipersensitivitas terhadap skoleks dan jaringan yang
berdekatan menjadi atrofi atau mengalami nekrosis tekanan.
Gejala-gejala yang ditimbulkan larva cacing disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Desakan kista hidatid.
2. Cairan kista yang dapat menimbulkan reaksi alergi.
3. Pecahnya kista, sehingga cairan kista masuk peredaran darah dan dapat menimbulkan renjatan
anafilaktik yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.
Gejalanya yang dapat dibandingkan dengan gejala tumor yang tumbuh perlahan-lahan, tergantung pada
lokalisasi kista hidatid. Di dalam abdomen kista menimbulkan rasa tidak enak yang makin bertambah,
tetapi tidak tampak gejala sampai kista telah mencapai ukuran yang besar.
Pecahnya suatu kista menyebabkan terlepasnya protoscolex, potongan membran germinativum,
kapsul perindukan dan kista sekunder, yang mungkin sampai ke jaringan lain melalui darah atau karena
penyebaran langsung dan pertumbuhan menjadi kista sekunder. Dalam hal ini, infeksi ini dengan
metastasenya menyerupai kanker. Kista mungkin pecah karena batuk, ketegangan otot, pukulan, aspirasi
dan tindakan pembedahan. Setelah kista pecah mungkin selama 2 sampai 5 tahun tidak tampak gejala
echinococcosis sekunder. Kista hepar biasanya memecah ke dalam rongga perut, akan tetapi mungkin
juga mengeluarkan cairan ke dalam rongga perut, akan tetapi mungkin juga mengeluarkan cairan ke
dalam kandung empedu, saluran empedu, atau rongga pleura. Pecahnya kista primer dari jantung kanan
mungkin menyebabkan metastase ke dalam paru-paru dan dari jantung kiri metastase ke otak, limpa,
ginjal, hati dan alat lain.

Diagnosis
Diagnosis klinik penyakit hidatid biasanya berdasarkan penemuan adanya massa tumor yang
berupa kista, biasanya di hati, yang tumbuhnya perlahan-lahan, dan riwayat hubungan dengan anjing di
daerah endemik. Kista hidatid harus dibedakan dari tumor maligna, abses, cirrhosis hepatis, tuberculosis,
dan sifilis. Pemeriksaan dengan sinar X berguna terutama untuk kista paru-paru dan kista yang telah
mengapur di tempat lokalisasi. Sinar X mungkin menunjukkan dinding kista yang berkapur.
Diagnosis mungkin diperkuat dengan menunjukkan kapsul eraman dan skoleks dalam cairan kista
yang dibuang secara pembedahan. Diagnosis laboratorium dibuat dengan ditemukan protoscolex, kapsul
perindukan, atau kista sekunder di dalam kista setelah dikeluarkan dengan cara pembedahan atau
bagian hidatid dari kista yang pecah dari sputum atau urine. Eosinofili dapat mengingatkan kita kepada
kista hidatid, tetapi banyak penderita mempunyai jumlah sel eosinofil yang normal. Tes hemaglutinasi
yang tidak langsung (IHA) dan tes flokulasi bentonit (BFT) adalah tes-tes serologi yang sering digunakan
karena mudah dikerjakan dan dapat dipercaya. Titer yang melebihi 1 : 400 pada IHA, dan 1 : 5 atau
lebih pada BFT, dianggap sebagai tes yang positif. Hal yang penting adalah menemukan kista residual
pada penderita setelah pembedahan, karena titer menurun setelah kista dikeluarkan.

Pengobatan
Pengobatan kista hidatid unilokuler (tumbuh perlahan-lahan dan memerlukan beberapa tahun
untuk perkembangannya) yang mudah dicapai adalah dengan cara pembedahan, lokalisasi kista

58
Buku Ajar Helmintologi Medik
menetapkan tindak pembedahan mana yang tepat. Kebanyakan obat-obatan tidak efektif untuk
kemoterapi penyakit hidatid, pengobatan biasanya harus tergantung pada pembuangan kista hidatid
pada pembedahan. Sedapat-dapatnya kista harus dikeluarkan, akan tetapi hubungan yang erat dengan
jaringan di sekitarnya sering menyukarkan pengeluarannya. Pengeluaran cairan kista dan
penggantiannya dengan formalin 10% untuk mendapat konsentrasi akhir sebesar 2% akan mematikan
protoscolex dan membran germinativum.
Bila kistanya besar atau ada infeksi sekunder atau penutupannya tidak mungkin, marsupialisasi
adalah tindakan yang dianjurkan. Kista primer di dalam otak memerlukan tindakan operasi, tetapi kista
sekunder tidak dapat dibedah. Kista paru-paru harus dikeluarkan bila mungkin. Perlu bertindak hati-hati
untuk mencegah pecahnya kista dan keluarnya cairan ke dalam jaringan. Gejala alergi harus diobati
dengan epinefrin atau obat antihistamin. Untuk kista yang tidak dapat dibedah atau yang sekunder dan
multiple, di Amerika Selatan telah dipakai pengobatan yang disebut terapi biologi, yang berdasarkan
suntikan dengan antigen cairan hidatid. Telah dilaporkan adanya perbaikan gejala subyektif dan atrofi
kista yang berangsur-angsur. Pengendalian diarahkan pada pencegahan infeksi pada anjing, anjing
hendaknya tidak diberi makan organ-organ dalam (jeroan) mentah dari tempat pemotongan hewan.
Anjing-anjing di daerah endemik harus diobati secara periodik dengan menggunakan Atabrin atau
niklosamida.

59
Buku Ajar Helmintologi Medik
2. Multiceps multiceps

Hospes
Cacing dewasa dari genus Multiceps ditemukan di dalam usus anjing dan anjing hutan. Larvanya
yang dikenal dengan nama coenurus yaitu gelembung yang mempunyai banyak skoleks, tumbuh di
dalam jaringan binatang herbivora atau omnivora. Infeksi ini dikenal sebagai coenurosis dan keadaannya
bisa [Link] spesies, khusus dari Multiceps sangat sukar.

Morfologi
Kista yang berbentuk bujur sampai berbentuk seperti sosis berukuran sampai 20 mm atau lebih,
mengandung banyak scoleks kecil yang menonjol ke dalam, yang timbul dari dinding germinativum.

Patologi dan Gejala Klinis


Yang merupakan parasit dewasa biasanya ditemukan pada anjing, mempunyai penyebaran
kosmopolit di negeri-negeri dengan peternakan domba.
Coenurus terutama tumbuh di dalam susunan saraf pusat. Menyebabkan buta dan penyakit yang
menyebabkan domba terhuyung-huyung dan jatuh, walaupun jaringan lain mungkin juga terserang.
Paling sedikit 24 infeksi pada otak telah dilaporkan pada manusia yang dapat infeksi karena
menelan telir cacing pita ini dari tinja anjing. Larva cacing ini biasanya tunggal, walaupun sebanyak 20
ekor pernah ditemukan pada seorang bayi.
Gejala-gejala yang memerlukan beberapa tahun untuk menjadi nyata, tergantung dari lokalisasi
yang tapat dari pada coenurus tersebut. Biasanya ada gejala-gejala kenaikan tekanan intra cranium,
termasuk kehilangan kesadaran, kejang-kejang, kesulitan dalam berbicara (afasia), lumpuh anggota
badan (paraplegia), hemiplagia, paresis, kadang-kadang diplopi, jalan terhuyung-huyung dan reaksi
Romberg yang positif. Jumlah sel dan kadar protein di dalam cairan serebrospinal meningkat.

Diagnosis
Hanya dapat dibuat dengan menemukan larva dengan cara pembedahan yang diperiksa secara
mikroskopik. Prognosisnya buruk.

Pengobatan dan Pencegahan


Obat yang efektif untuk kasus kecacingan ini diberikan Atabrine, sedangkan upaya pencegahan terutama
di daerah endemik diperlukan perlindungan makanan dan tangan terhadap tinja anjing.

60
Buku Ajar Helmintologi Medik
Rangkuman
Cestoda berdasarkan tempat hidupnya dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu ; cestoda
intestinal (usus) dan cestoda jaringan. Cestoda jaringan yang penting dalam bidang medik di anataranya
adalah Echinococcus granulosus dan Multiceps multiceps.
Echinococcus granulosus menempati saluran usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata
dan invertebrata. manusia dapat dihinggapi stadium larvanya yang menimbulkan penyakit yang disebut
hidatidosis atau hidatid. Echinococcus genus cacing pita yang terkecil ( 2,5 sampai 9,0 mm) bersegmen
tiga yang ditemukan di usus anjing dan karnivora lainnya.
Siklus hidup Echinococcus granulosus terjadi jika cacing pita dewasa di usus anjing → bertelur →
telur keluar melalui tinja anjing atau tinja manusia, domba dan mamalia lain→ Kista ditemukan di → hati
dan rongga perut atau paru-paru dan alat lain→ kista yang keluar akan menghasilkan kista yang terdiri
dari: broad capsule, lapisan germinatif, lapisan kutikulum, dan jaringan hospes → Hydatid sand Skolek
dari kista termakan [Link] infeksi Echinococcus granulosus yaitu ; dengan menelan telur.
Patologi pada manusia tergantung pada lokalisasi kista. Terjadi peradangan, sebagian disebabkan
oleh tanggapan hipersensitivitas terhadap skoleks dan jaringan yang berdekatan menjadi atrofi atau
mengalami nekrosis tekanan.
Diagnosis klinik penyakit hidatid biasanya berdasarkan penemuan adanya massa tumor yang
berupa kista (hati) dan diperkuat dengan menunjukkan kapsul eraman dan skoleks dalam cairan kista
yang dibuat secara pembedahan. Diagnosis laboratorium dibuat dengan ditemukan protoscolex, kapsul
perindukan, atau kista sekunder di dalam kista setelah dikeluarkan dengan cara pembedahan atau
bagian hidatid dari kista yang pecah dari sputum atau urine.
Pengobatan kista hidatid unilokuler (tumbuh perlahan-lahan dan memerlukan beberapa tahun untuk
perkembangannya) yang mudah dicapai adalah dengan cara pembedahan, lokalisasi kista menetapkan
tindak pembedahan mana yang tepat.
Cacing dewasa Multiceps multiceps (coenurus : gelembung yang mempunyai banyak
skoleks)ditemukan di dalam usus anjing dan anjing hutan. Larvanya yang dikenal dengan nama
Kista berbentuk bujur sampai berbentuk seperti sosis berukuran sampai 20 mm atau lebih,
mengandung banyak scoleks kecil yang menonjol ke dalam, yang timbul dari dinding germinativum.
Coenurus terutama tumbuh di dalam susunan saraf pusat. Menyebabkan buta dan penyakit yang
menyebabkan domba terhuyung-huyung dan jatuh, walaupun jaringan lain mungkin juga terserang.
Diagnosis Hanya dapat dibuat dengan menemukan larva dengan cara pembedahan yang diperiksa
secara mikroskopik. Prognosisnya buruk. Atabrine merupakan obat yang efektif.

61
Buku Ajar Helmintologi Medik
Latihan 5
1. Sebutkan morfologi utama tiap spesies cestoda jaringan.
2. Jelaskan sifat tiap spesies cestoda jaringan.
3. Jelaskan aspek klinis tiap spesies cestoda jaringan
4. Jelaskan siklus hidup tiap spesies cestoda jaringan.
5. Jelaskan penyebaran penyakit tiap spesies cestoda jaringan.
6. Jelaskan cara diagnosa laboratorium tiap spesies cestoda jaringan
7. Jelaskan cara pengobatan dan pencegahan tiap spesies cestoda jaringan.
8. Lakukan identifikasi dan tunjukkan perbedaan tiap spesies cestoda jaringan.

62
Buku Ajar Helmintologi Medik

Anda mungkin juga menyukai