100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
1K tayangan16 halaman

Refleksi Kasus Pemeriksaan Kala IV

Laporan ini membahas refleksi kasus pemeriksaan kala IV persalinan normal yang dilakukan tidak sesuai standar. Pemeriksaan hanya dilakukan dua kali padahal seharusnya enam kali, dan tidak dilengkapi dengan pemeriksaan parameter penting seperti suhu, nadi, tekanan darah. Hal ini dapat membahayakan ibu dan bayi karena kala IV merupakan masa kritis bagi kesehatan ibu pasca persalinan.

Diunggah oleh

Hayu Dia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
1K tayangan16 halaman

Refleksi Kasus Pemeriksaan Kala IV

Laporan ini membahas refleksi kasus pemeriksaan kala IV persalinan normal yang dilakukan tidak sesuai standar. Pemeriksaan hanya dilakukan dua kali padahal seharusnya enam kali, dan tidak dilengkapi dengan pemeriksaan parameter penting seperti suhu, nadi, tekanan darah. Hal ini dapat membahayakan ibu dan bayi karena kala IV merupakan masa kritis bagi kesehatan ibu pasca persalinan.

Diunggah oleh

Hayu Dia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN

REFLEKSI KASUS PEMERIKSAAN KALA IV


TAHUN AKADEMIK 2019/2020

Disusun Oleh

Puspita Rahayu Widyasari

1610104052

PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA TERAPAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘ AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN


REFLEKSI KASUS TENTANG PEMERIKSAAN KALA IV
TAHUN AKADEMIK 2019/2020

Laporan ini dibuat sebagai tugas Praktik Klinik Kebidanan dan


digunakan sebagai syarat memperoleh nilai dimata kuliah
Praktik Klinik Kebidanan

Disetujui :
Pembimbing Praktik Klinik
Nama Dosen : Nurul Mahmudah., [Link],[Link]
Tanggal : 04 Mei 2020

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh


Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga iman dan Islam tetap terjaga. Shalawat dan
salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya serta para
sahabatnya.
Berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT dan bantuan semua pihak,
penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Klinik Kebidanan yang berjudul “
Refleksi Kasus Pemeriksaan Kala IV ”. Tujuan disusunnya laporan Praktik
Klinik Kebidanan ini adalah untuk melengkapi sebagai syarat mencapai gelar
Prodi Kebidanan Program Sarjana Terapan Fakultas Ilmu Kesehatan di
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penyusunan laporan Praktik Klinik Kebidanan
ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari
semua pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada berbagai pihak yang membantu dalam penyusunan :
1. Warsiti, [Link]., [Link]., [Link], selaku Rektor Universitas ‘Aisyiyah
Yogyakarta.
2. Moh. Ali Imron, [Link], selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
3. Fitria Siswi Utami, [Link]., MNS, selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Sarjana Terapan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
4. Nurul Mahmudah, [Link], selaku pembimbing Praktik Klinik Kebidanan
yang telah senantiasa membimbing dan mengarahkan penulis dalam
penyusunan laporan Praktik Klinik Kebidanan
5. Kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan materi maupun
spiritual.
6. Teman-teman yang telah memberikan semangat, dan dukungan tiada hentinya.
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan Praktik Klinik Kebidanan ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh

Yogyakarta, April 2020

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ii
KATA PENGANTAR...........................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
A. Deskripsi.....................................................................................................1
B. Emosi Pribadi..............................................................................................1
C. Evaluasi.......................................................................................................1
D. Analisis........................................................................................................1
E. Kesimpulan..................................................................................................4
F. Tindak Lanjut..............................................................................................4

iv
A. Deskripsi

Seorang ibu nifas P2 A0 Ah 2 baru saja melahirkan 1 jam yang lalu. Hasil

pemeriksaan tanda – tanda vital yaitu tekanan darah = 120/ 80 mmHg, nadi =

85x/ menit, respirasi = 22 x/ menit, suhu = 36,6 Celcius. TFU 1 jari dibawah

pusat, kontraksi keras, kandung kemih tidak dicek, perdarahan 20 cc, tidak

ditanyakan ASI sudah keluar atau belum. Bidan langsung melakukan

pendokumentasian secara lengkap dari pemantauan 1 jam pertama hingga

satu jam kedua tanpa pemeriksaan kembali. Terjadi kesenjangan pada

pemeriksaan kala IV yang dilakukan dilahan dan teori, seharusnya

pemeriksaan Kala IV dilakukan selama 2 jam penuh. Pada satu jam pertama

dilakukan setiap 15 menit, sedangkan pemeriksaan kedua dilakukan setiap 30

menit dengan total pemeriksaan kala IV sebanyak 6 kali. Sedangkan dilahan

hanya dilakukan 2 kali pemeriksaan. Dua jam setelah persalinan merupakan

saat yang paling kritis bagi pasien dan bayinya. Tubuh pasien melakukan

adaptasi yang luar biasa setelah kelahiran bayinya agar kondisi tubuh kembali

stabil, sedangkan bayi melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan

hidupnya di luar uterus. Kematian ibu terbanyak terjadi pada kala ini, oleh

karena itu pentingnya pemantauan secara lengkap dan tepat oleh tenaga

kesehatan.

B. Emosi Pribadi

Mahasiswa merasa senang karena mendapatkan kesempatan untuk


mencoba melakukan pemeriksaan Kala IV persalinan. Mahasiswa sangat
antusias dengan tindakan tersebut. Tetapi juga ada perasaan tidak

1
menyenangkan karena pemantauan tidak dilakukan dengan tepat dan
lengkap.
C. Evaluasi
Mahasiswa merasa khawatir terhadap keadaan pasien jika hanya
dilakukan pemantauan Kala IV 1 kali pada jam pertama dan 1 kali jam
kedua. Selain itu pemeriksaan dilakukan dengan tidak lengkap, banyak
bagian penting pemeriksaan lain yang tidak dilakukan contohnya
pengecekan suhu, kandung kemih, perdarahan. Pengkajian pada partograf
bagian pemanatauan Kala IV sudah diisi secara lengkap dengann 1 kali
pemeriksaan, sehingga hasil pemeriksaan tidak valid. Untuk pengalaman
baiknya, mahasiswa diberikan kesempatan melakukan tindakan
pemeriksaan Kala IV.
D. Analisis
1. Pengertian
Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, beserta
plasenta dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir (Mochtar,
2011).Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui
jalan lahir atau jalan lain (Manuaba, 2012).Persalinan adalah proses
membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke jalan lahir
(Winkjosastro, 2013). Ada empat tahapan dalam proses persalinan
yaitu, Kala I, Kala II, Kala III dan Kala IV.
Kala IV adalah 0 menit sampai 2 jam setelah persalinan plasenta
berlangsung. Ini merupakan masa kritis bagi ibu, karena kebanyakan
wanita melahirkan kehabisan darah atau mengalami suatu keadaan
yang menyebabkan kematian pada kala IV ini. Bidan harus terus
memantau keadaan ibu sampai masa kritis ibu telah terlewati. Kala IV
dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah proses
tersebut. (Reni Saswita, 2011). Dalam kala IV ini, ibu membutuhkan
pengawasan yang intensif karena dikhawatirkan akan terjadi
pendarahan. Pada keadaan ini atonia uteri masih mengancam. Pada

2
saat proses persalinan terkadang harus dilakukan episiotomi misalnya
kepala bayi terlalu besar atau mencegah ruptur  perineum totalis. Oleh
karena itu kala IV penderita belum boleh dipindahkan kekamarnya dan
tidak boleh ditinggalkan.

Sebagian besar kematian ibu pada periode pasca persalinan terjadi


pada 6 jam pertama setelah persalinan. Kematian ini disebabkan oleh
infeksi, perdarahan dan eklampsia. Oleh karena itu, pemantauan
selama 2 jam pertama postpartum sangat penting. Selama kala IV ini
bidan harus meneruskan proses penatalaksanaan kebidanan yang telah
dilakukan selama Kala I, Kala II, Kala III untuk memastikan tidak
terjadi masalah apapun pada ibu. Observasi yang harus dilakukan
pada kala IV :
a. Tingkat kesadaran

b. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi dan pernafasan

c. Kontraksi uterus

d. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika


jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc.

2. Evidance Baseb Asuhan Persalinan Normal


Untuk melakukan asuhan persalinan normal (APN) dirumuskan
58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut:

1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.

2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk


mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali
pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.

3. Memakai celemek plastik.

4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan


dgn sabun & air mengalir.

5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan

3
digunakan untuk pemeriksaan dalam.

6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan,


isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus
set.

7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah yang


telah dibasahi oleh air matang (DTT), dengan gerakan vulva ke
perineum.

8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah


lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.

9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam


larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan
terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.

10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai


– pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).

11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu
sudah merasa ingin meneran.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk


meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah
duduk dan pastikan ia merasa nyaman.

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan


yang kuat untuk meneran.

14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil


posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk
meneran dalam 60 menit.

15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut


ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 –
6 cm.

16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong
ibu.

17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali

4
kelengkapan alat dan bahan

18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan

19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
memasang handuk bersih pada perut ibu untuk mengeringkan
bayi jika telah lahir dan kain kering dan bersih yang dilipat 1/3
bagian dibawah bokong ibu. Setelah itu kita melakukan perasat
stenan (perasat untuk melindungi perineum dngan satu tangan,
dibawah kain bersih dan kering, ibu jari pada salah satu sisi
perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang
lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi
agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap
melewati introitus dan perineum).

20. Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan
kasa steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat pada
leher janin

21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran


paksi luar secara spontan.

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara


biparental. Menganjurkankepada ibu untuk meneran saat
kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan
distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan
kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu
belakang.

23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu
untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah.
Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan
dan siku sebelah atas.

24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung
kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang
tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua
lutut janin)

25. Melakukan penilaian sepintas

a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa


kesulitan?

5
b. Apakah bayi bergerak aktif ?

26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian
tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan
verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering.
Membiarkan bayi atas perut ibu.

27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus.

28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus


berkontraksi baik.

29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10


unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral
(lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem
kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah
distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari
klem pertama.

31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit
(lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat
diantara 2 klem tersebut.

32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan
mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.

33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang
topi di kepala bayi.

34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm


dari vulva

35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas
simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.

36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan


tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan
hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30
– 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu

6
hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.

37. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga


plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik
tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas,
mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-
kranial).

38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan


plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan),
pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran
searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah
robeknya selaput ketuban.

39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus


uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler
menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi
uterus baik (fundus teraba keras)

40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan
kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput
ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong
plastik yang tersedia.

41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.


Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi


perdarahan pervaginam

43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada


ibu paling sedikit 1 jam.

44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri


tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg
intramaskuler di paha kiri anterolateral.

45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan


imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.

46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan


pervaginam.

47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan

7
menilai kontraksi.

48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15


menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30
menit selama jam kedua pasca persalinan.

50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi


bernafas dengan baik.

51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin


0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah di dekontaminasi.

52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah


yang sesuai.

53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT.


Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu
memakai memakai pakaian bersih dan kering.

54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk


membantu apabila ibu ingin minum.

55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.

56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%


melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%

57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

58. Melengkapi patograf

3. Evidence Baseb Pada Persalinan Kala IV

a. Asuhan Pemantauan Kala IV


1) Lakukan rangsangan taktil (seperti pemijatan) pada uterus, untuk
merangsang uterus berkontraksi.
2) Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara

8
melintang antara pusat dan fundus uteri.
3) Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

4) Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah ada


laserasi atau episotomi).
5) Evaluasi kondisi ibu secara umum

6) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV


persalinan di halaman belakang partograf segera setelah asuhan
diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

b. Pemantauan Keadaan Umum Kala IV

Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu


disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan dan terjadi dalam 4
jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena alasan ini, penting
sekali untuk memantau ibu secara ketat segera setelah setiap
tahapan atau kala persalinan diselesaikan. Hal-hal yang perlu
dipantau selama dua jam pertama pasca persalinan :

1) Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan


perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30
menit dalam satu jam kedua pada kala IV.
2) Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras, setiap
15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam jam
kedua kala IV.
3) Pantau suhu ibu satu kali dalam jam pertama dan satu kali pada
jam kedua pascapersalinan.

4) Biarkan ibu beristirahat karena telah bekerja keras melahirkan


bayinya, bantu ibu posisi yang nyaman.
5) Biarkan bayi didekat ibu untuk meningkatkan hubungan ibu
dan bayi. Bayi sangat bersiap segera setelah melahirkan. Hal
ini sangat tepat untuk memberikan ASI
6) Biarkan bayi didekat ibu untuk meningkatkan hubungan ibu

9
dan bayi. Bayi sangat bersiap segera setelah melahirkan. Hal
ini sangat tepat untuk memberikan ASI
7) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit
dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.
8) Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai tonus dan
perdarahan uterus, juga bagaimana melakukan pemijatan jika
uterus menjadi lembek.
9) Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan
bantu ibu mengenakan baju atau sarung yang bersih dan
kering,atur posisi ibu agar nyaman, duduk bersandarkan bantal
atau berbaring miring. Jaga agar bayi diselimuti dengan baik,
bagian kepala terlutup baik, kemudian berikan bayi ke ibu dan
anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI.
10) Lakukan asuhan esensial bagi bayi baru lahir. Jangan gunakan
kain pembebat perut selama dua jam pertama pasca persalinan
atau hingga kondisi ibu sudah stabil. Kain pembebat perut
menyulitkan penolong untuk menilai kontraksi uterus secara
memadai. Jika kandung kemih penuh, bantu ibu untuk
mengosongkan kandung kemihnya dan anjurkan untuk
mengosongkannya setiap kali diperlukan.

E. Kesimpulan
Tindakan yang berbeda dengan teori adalah pada teori
pemantauan kala IV dilakukan 1 jam pertama sebanyak 4 kali
sehingga setiap 15 menit sekali bidan harus melakukan
pemantauan TTV lengkap, kontraksi, TFU, kandung kemih,
perdarahan, luka jahitan. Kemudian pada 1 jam kedua dilakukan
pemantauan sebanyak 2 kali setiap 30 menit sekali bidan harus
melakukan pemantauan TTV lengkap, kontraksi, TFU, kandung
kemih, perdarahan, luka jahitan. Sedangkan pada kenyataannya
pemantauan hanya dilakukan 15 menit pertama dan 30 menit

10
terakhir. Pemeriksaan pada kala IV juga tidak lengkap hanya
dilakukan pemeriksaan TD, TFU, kontraksi tanpa melakukan
pemeriksaan nadi, respirasi, suhu, perdarahan, menanyakan apakah
pasien sudah mengganti pembalut atau belum, menanyakan ASI
sudah keluar atau belum. Bidan melakukan pendokumentasian
pada partograf bagian pemantauan kala IV secara lengkap tanpa
melakukan pemeriksaan kala IV secara lengkap sehingga data tidak
valid.
F. Tindak Lanjut
Mahasiswa akan melakukan dan mentaati SOP pemantauan kala
IV sesuai dengan teori yaitu melakukan pemantauan TTV lengkap,
kontraksi, TFU, kandung kemih, perdarahan, luka jahitan sesuai dengan
Evidance Based Medicine yang ada bahwa pemantauan kala IV secara
lengkap bermanfaat bagi ibu nifas dan bayinya.

11
REKAP BIMBINGAN INDIVIDU

NamaMahasiswa : Puspita Rahayu


NIM : 1610104052
Pembimbing : Nurul Mahmudah, [Link]., [Link]
Hari/ Tanggal Waktu Cara Materi Bimbingan Tanda Tangan
No Bimbingan Pembimbing
1 Senin, 21 April 2020 16.00 Online (Email) Konsul Refleksi Kasus ACC

2 Sabtu, 02 Mei 2020 17.00 Online (Email) ACC Refleksi Kasus ACC

3 Senin, 04 Mei 2020 08:00 Online Ujian Refleksi Kasus ACC


(Zoom)

4 Jum’at, 08 Mei 2020 10:00 Online (Email) Konsul Revisi Pasca


Ujian

12

Anda mungkin juga menyukai