0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Prinsip Pendekatan RME dalam Matematika

Prinsip pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep matematika dalam menyelesaikan masalah kontekstual dengan mengembangkan model sendiri dan berdiskusi dengan teman. Pendekatan ini bertujuan untuk menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata.

Diunggah oleh

fitra ramadani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Prinsip Pendekatan RME dalam Matematika

Prinsip pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep matematika dalam menyelesaikan masalah kontekstual dengan mengembangkan model sendiri dan berdiskusi dengan teman. Pendekatan ini bertujuan untuk menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata.

Diunggah oleh

fitra ramadani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prinsip-prinsip Pendekatan Realistic Mathematic

Education (RME)
Secara umum pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) mengkaji tentang materi
apa yang akan diajarkan kepada siswa beserta rasionalnya, bagaimana siswa belajar
matematika, bagaimana topik-topik matematika seharusnya diajarkan, serta bagaimana
menilai kemajuan belajar siswa. Gravenjer dalam (Irwan Rozani, 2010) menyebutkan
tiga prinsip pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) sebagai berikut.

1) Guided Reinventation and Progessive Mathematizing


Berdasarkan prinsip Reinvention, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk
mengalami proses yang sama dengan proses saat matematika ditemukan. Untuk
keperluan tersebut maka perlu ditemukan masalah konstektual yang dapat
menyediakan beragam prosedur penyelesaian serta mengindikasikan rute
pembelajaran yang berangkat dari tingkat belajar matematika secara nyata ke tingkat
belajar matematika secara formal (progessive mathemazing).

2)Didactical
Berdasar prinsip ini penyajian topik-topik matematika yang termuat dalam pembelajran
matematika realistik disajikan atas dua pertimbangan yaitu (i) memunculkan ragam
aplikasi yang harus diantisipasi dalam proses pembelajaran dan (ii) kesesuaiannya
sebagai hal yang berpengaruh dalam proses progressive mathemazing.

3) Self Developed Models


Berdasar prinsip ini saat mengerjakan masalah konstektual siswa diberi kesempatan
untuk mengembangkan model mereka sendiri yang berfungsi untuk menjembatani
jurang antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada tahap awal siswa
mengembangkan model yang diakrabinnya. Selanjutnya melalui generalisasi dan
pemformalan akhirnya mode tersebut menjadi sungguh-sungguh ada (entity) yang
dimiliki siswa.

Berdasarkan uraian di atas, maka prinsip pendekatan Realistic Mathematic Education


(RME) adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep
matematika dalam menyelesaikan berbagai masalah. Masalah tersebut dapat berupa
masalah konstektual yang harus dirubah kedalam bentuk masalah matematika,
kemudian menyelesaikannya dengan menggunakan konsep, operasi dan prosedur
matematika yang berlaku dan dipahami siswa. Siswa mengembangkan cara
penyelesaian tersebut dengan menggunakan cara-cara matematika yang sudah
diketahuinya.
Karakteristik Pendekatan Realistic Mathematics
Education
Menurut Soedjadi dalam (Irwan Rozani, 2010) Pendekatan Realistic Mathematics
Education mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut.

1) Menggunakan konsteks, artinya dalam pembelajaran matematika realistik lingkungan


keseharian atau pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian
materi belajar yang konstektual bagi siswa.
2) Menggunakan model, artinya permasalahan atau ide dalam matematika dapat
dinyatakan dalam bentuk model, baik model dari situasi nyata maupun model yang
mengarah tingkat abstrak.
3) Menggunakan kontribusi siswa, artinya pemecahan masalah atau penemuan konsep
didasarkan pada sumbangan gagasan siswa.
4) Interaktif, artinya aktivitas proses pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa
dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan lingkungan dan sebagainya.    
5) Intertwin, artinya topik-topik yang berbeda dapat diintegrasikan sehingga dapat
memunculkan pemahaman tentang suatu konsep secara serentak.

Langkah-langkah pendekatan Realistic Mathematic


Education
Berdasarkan pengertian, prinsip, dan karakterisistik Pendekatan Realistic Mathematic
Education sebagaimana telah diuraikan maka dapat dirancang langkah-langkah
pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematic Education sebagai berikut.

Langkah 1: Memahami masalah kontekstual


Pada langkah ini guru menyajikan masalah konstektual kepada siswa. Selanjutnya guru
meminta siswa untuk memahami masalah itu terlebih dahulu. Karakteristik pendekatan
Realistic Mathematic Education yang muncul pada langkah ini adalah mennggunakan
konsteks.

Langkah 2: Menjelaskan masalah kontekstual


Langkah ini ditempuh saat siswa mengalami kesulitan memahami masalah kontektual.
Pada langkah ini guru memberikan bantuan dengan memberi petunjuk atau
pertanyaan seperlunya yang dapat mengarahkan siswa untuk memahami masalah.
Karakteristik pendekatan Realistic Mathematic Education yang muncul pada langkah ini
adalah interaktif, yaitu terjadinya interaksi antara guru dengan siswa maupun antara
siswa dengan siswa.

Langkah 3. Menyelesaikan masalah kontektual


Pada tahap ini siswa didorong menyelesaikan masalah kontektual secara individu
berdasar kemampuannya dengan memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang telah
disediakan. Pada tahap ini, dua prinsip pendekatan Realistic Mathematic Education
yang dapat dimunculkan adalah guided reiventation and progressive mathemazing dan
self-developed models. Karakteristik yang dapat dimunculkan adalah penggunaan
model. Dalam menyelesaikan masalah siswa mempunyai kebebasan membangun
model atas masalah tersebut.

Langkah 4: Membandingkan dan mendiskusikan jawaban


Pada tahap ini guru mula-mula meminta siswa untuk membandingkan dan
mendiskusikan jawaban masing-masing. Selanjutnya guru meminta siswa untuk
membandingkan dan mendiskusikan jawaban yang telah dimilikinya dalam diskusi
kelas, sedangkan karakteristik pendekatan Realistic Mathematic Education yang muncul
pada tahap ini adalah interaktif dan menggunakan kontribusi siswa. Interaksi dapat
terjadi antara siswa dengan siswa juga antara guru dengan siswa. 

Langkah 5: Menyimpulkan
Dari hasil diskusi kelas guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan mengenahi
pemecahan masalah, konsep, prosedur atau prinsip yang telah dibangun bersama.
Pada tahap ini karakteristik pendekatan Realistic Mathematic Education yang muncul
adalah interaktif serta menggunakan kontribusi siswa. (Irwan Rozani, 2010).

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Realistic


Mathematic Education
1) Kelebihan Pendekatan Realistic Mathematic Education
Menurut Suwarsono (dalam Evi Luthvia, 2009) terdapat beberapa kelebihan dari
pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) antara lain sebagai berikut.
a) RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang
keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan dunia nyata)
dan tentang kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.

b) RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa
matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri
oleh siswa, tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.

c) RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara
penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal, dan tidak harus sama antara
orang yang satu dengan orang yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau
menggunakan caranya sendiri, asalkan orang itu bersungguh-sungguh dalam
mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara
penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara
penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan tujuan dari penyesaian soal atau
masalah tersebut.
d) RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam
mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama, dan
untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk
menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan pihak lain yang sudah
lebih tahu (misalnya guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut,
pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.

2) Kelemahan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)


Beberapa kelemahan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah sebagai
berikut.

a) Upaya mengimplementasikan RME membutuhkan perubahan pandangan yang


sangat mendasar megenahi beberapa hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan,
misalnya mengenahi siswa, guru, dan peranan soal kontekstual. Di dalam RME, siswa
tidak lagi dipandang sebagai pihak yang mempelajari segala sesuatu yang sudah “jadi”
tetapi dipandang sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep-konsep matematika.
Guru tidak lagi terutama sebagai pengajar, tetapi lebih sebagai pendamping bagi siswa.
Di samping itu peranan soal konstektual tidak sekedar dipandang sebagai wadah untuk
menerangkan aplikasi dari matematika, tetapi justru digunakan sebagai titik tolak untuk
mengkonstruksi konsep-konsep matematika itu sendiri.

b) Pencarian soal-soal konstektual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut RME


tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih-
lebih karena soal-soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam-macam cara.

c) Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyesaikan
soal juga merupakan hal yang tidak mudah dilakukan oleh guru.

d) Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa, melalui soal-soal konstektual,


proses pematematikaan horisontal, dan proses pematematikaan vertikal juga bukan
merupakan sesuatu yang sederhana, karena proses dan mekanisme berpikir siswa
harus diikuti dengan cermat, agar guru bisa membantu siswa dalam melakukan
penemuan kembali terhadap konsep-konsep matematika tertentu.

Anda mungkin juga menyukai