11
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Peramalan
Peramalan adalah metode untuk memperkirakan suatu nilai dimasa depan
dengan menggunakan data masa lalu. Peramalan juga dapat diartikan sebagai seni
dan ilmu untuk memperkirakan kejadian pada masa yang akan datang, sedangkan
aktivitas peramalan merupakan suatu fungsi bisnis yang berusaha memperkirakan
penjualan dan penggunaan suatu produk sehingga produk-produk itu dapat dibuat
dalam kuantitas yang tepat (Gazpersz, 2002).
Peramalan yang dibuat selalu diupayakan agar dapat :
1. Meminimumkan pengaruh ketiak pastian terhadap perusahaan.
2. Peramalan bertujuan mendapatkan peramalan (forecast) yang bisa
meminimumkan kesalahan meramal (forecast error) yang biasanya diukur
dengan MSE (Mean Squared Error), MAE (Mean Absolute Error), dan
sebagainya (Subagyo, 1986).
Peramalan yang baik adalah peramalan yang dilakukan dengan mengikuti
langkah-langkah atau prosedur penyusunan yang baik yang akan menentukan
kualitas atau mutu dari hasil peramalan yang disusun. Pada dasarnya ada 3
langkah peramalan yang penting, yaitu (Assauri, 1984) :
1. Menganalisa data yang lalu, tahap ini berguna untuk pola yang terjadi di masa
lalu.
2. Menentukan data yang dipergunakan. Metode yang baik adalah metode yang
memberikan hasil ramalan yang tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang
terjadi.
12
3. Memproyeksikan data yang lalu dengan menggunakan metode yang
dipergunakan, dan mempertimbangkan adanya beberapa factor perubahan
(perubahan kebijakan-kebijakan yang mungkin terjadi, termasuk perubahan
kebijakan pemerintah, perkembangan potensi masyarakat, perkembangan
teknologi dan penemuan-penemuan baru).
Terdapat dua langkah dasar yang harus dilakukan dalam membuat atau
menghasilkan suatu peramalan yang akurat dan berguna. Langkah dasar yang
pertama adalah pengumpulan data yang relevan dengan tujuan peramalan yang
dimaksud dan menurut informasi – informasi yang dapat menghasilkan peramalan
yang akurat. Langkah dasar yang kedua adalah memilih metode peramalan yang
tepat yang akan digunakan dalam mengolah informasi yang terkandung dalam
data yang telah dikumpulkan.
Sedangkan prinsip-prinsip peramalan yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Peramalan melibatkan kesalahan (error), peramalan akan hanya mengurangi
ketidakpastian tetapi tidak menghilangkannya.
2. Peramalan sebaiknya memakai tolak ukur kesalahan peramalan, pemakai
harus tahu besar kesalahan, yang dapat dinyatakan dalam suatu unit atau
persentase (probability) permintaan aktual akan jatuh dalam interval
peramalan.
3. Peramalan family produk lebih akurat dari pada peramalan produk individu
(item).
4. Peramalan jangka pendek lebih akurat dari pada peramalan jangka panjang,
karena peramalan jangka pendek, kondisi yang mempengaruhi permintaan
13
cenderung tetap atau berubah lambat, sehingga peramalan jangka pendek lebih
akurat.
5. Jika memungkinkan coba melakukan perhitungan permintaan dari pada
meramalkan permintaan.
Adapun karakteristik peramalan yang baik adalah :
1. Accuracy
2. Low Rupiah Cost Of Software Purchase Or Development
3. Low Computer Time Requirments
4. On-Line Capabilities
Peramalan adalah seni atau ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa
depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data historis dan
memproyeksikannya ke masa mendatang dengan suatu bentuk model sistematis,
Atau bisa juga dengan menggunakan kombinasi model matematis yang
disesuaikan dengan pertimbangan yang baik dari seorang manajer (Render &
Heizer, 2009). Peramalan biasanya diklasifikasikan berdasarkan horizon waktu
masa depan yang dilingkupinya. Peramalan biasanya diklarifikasikan berdasarkan
horizon waktu masa depan yang dilingkupinya. Peramalan diperlukan perhitungan
yang akurat sehingga diperlukan peramalan yang tepat. Pada dasarnya terdapat
dua pendekatan umum untuk mengatasi semua model keputusan untuk meramal
(Nasution, 2008):
14
1. Peramalan Kualitatif Yaitu peramalan yang menggabungkan faktor faktor
seperti intuisi pengambilan keputusan, emosi, pengalaman pribadi, dan
system nilai
2. Peramalan Kuantitatif Yaitu peramalan yang menggunakan satu atau lebih
model matematis dengan data masa lalu dan variabel sebab akibat untuk
meramalkan permintaan. Ada lima metode peramalan kuantitatif, yaitu
metode pendekatan naif, metode rata-rata bergerak, metode penghalusan
eksponential, penghalusan tren, dan regresi linear.
Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari penyelesaian
Forecasting dengan tujuan meramalkan proses produksi yang akan datang. Hasil
penelitian oleh (Prasetio, 2014) menunjukkan bahwa metode terbaik untuk
menentukan tingkat permintaan terhadap produk adalah metode Linear Regression
karena memiliki nilai MAD dan MSE paling rendah diantara metode peramalan
lainnya dan untuk membeli bahan baku utama yaitu PVC. PVC harus dibeli dalam
jumlah yang tepat agar proses produksi dapat berjalan dengan baik dan efisien.
Penelitian lain yang dilakukan oleh (Wardah, 2016) menunjukkan pengumpulan
dan pengolahan data.
2.1.1 Perananan Teknik Peramalan
Situasi peramalan sangat beragam dalam horison waktu peramalan,
faktor menentukan hasil sebenarnya, tipe pola data dan berbagai aspek
lainnya. Untuk menghadapi penggunaan yang luas seperi itu, beberapa teknik
telah dikembangkan. Teknik tersebut dibagi dalam dua kategori utama, yaitu
metode kuantitatif dan metode kualitatif atau teknologis. Metode kuantitatif
15
dapat dibagi menjadi deret berkala dan metode kausal, sedangkan metode
kualitatif atau teknologis dapat dibagi menjadi metode eksploratoris dan
normatif. Peramalan kuantitatif dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi
berikut :
1. Tersedia informasi tentang masa lalu
2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik
3. Dapat diasumsikan bahwa bebeapa aspek pola masa lalu akan terus
berkelanjut di masa mendatang.
Kondisi yang terakhir ini dikenal sebagai asumsi kesinambungan;
asumsi ini merupakan premis yang mendasari semua metode peramalan
kuantitatif dan banyak metode peramalan teknologis, terlepas dari
bagaimana canggihnya metode tersebut.
Teknik peramalan kuantitatif sangat beragam, dikembangkan dari
berbagai disiplin dan untuk berbagai maksud. Setiap teknik mempunyai
sifat, ketepatan dan biaya tersendiri yang harus dipertimbangkan dalam
memilih metode tertentu. Prosedur peramalan kuantitatif terletak diantara
dua ekstrim rangkaian kesatuan, yaitu metode naif atau instuitif, dan
metode kuantitatif formal yang didasarkan atas prinsip-prinsip statistika.
Orang yang tidak mengenal metode peramalan kuantitatif sering
berfikir bahwa masa lalu tidak dapat menerangkan masa depan secara
tepat karena segala sesuatunya berubah secara tidak konstan. Tetapi
setelah sedikit mengenal data dan teknik peramalan, maka menjadi jelas
bahwa walaupun tidak ada yang tetap sama, sejarah ternyata berulang pada
batas tertentu. Penerapan metode yang benar seringkali dapat menjelaskan
16
hubungan antara faktor yang diramalkan dan waktu itu sendiri (atau
beberapa faktor lainnya), yang memungkinkan terjadinya peningkatan
peramalan.
Terdapat dua jenis model peramalan yang utama, yaitu: model deret
berkala dan model regresi (kausal). Pada jenis pertama, pendugaan masa
depan dilakukan berdasarkan nilai masa lalu dari suatu variable atau
kesalahan masa lalu. Tujuan metode peramalan deret berkala seperti itu
adalah menemukan pola dalam deret data historis mengestrapolasikan poa
tersebut ke masa depan. Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis
siklis dan trend.
1. Pola horizontal (H) terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di
sekitar nilai rata-rata yang konstan. (Deret seperti itu “stasioner”
terhadap nilai rata-ratanya). Suatu produk yang penjualan nya
tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu termasuk
jenis ini. Demikian pula, suatu keadaan pengendalian mutu yang
menyangkut pengambilan contoh dari suatu proses produksi
berkelanjutan yang secara teoritis tidak mengalami perubahan
juga termasuk jenis ini. Gambar 2.1 menunjukan suatu pola khas
dari data horizontal atau stasioner seperti ini.
Gambar 2.1. Pola Data Horizontal
17
2. Pola musiman (S) terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh
faktor musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau
hari-hari pada minggu tertentu). Penjualan dari produk seperti
minuman ringan, es krim, dan bahan bakar pemanas ruang
semuanya menunjukkan jenis pola ini. Untuk pola musiman
kuartalan, datanya mungkin serupa dengan gambar 2.2
Gambar 2.2. Pola Data Musiman
3. Pola siklis (C) terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi
ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus
bisnis. Penjualan produk seperti mobil, baja, dan peralatan utama
lainnya menunjukkan jenis pola ini seperti ditunjukkan pada
gambar 2.3.
Gambar 2.3. Pola Data Siklus
4. Pola trend (T) terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan
sekuler jangka panjang dalam data. Penjualan banyak perusahaan,
18
produk bruto nasional (GNP) dan berbagai indikator bisnis atau
ekonomi lainnya mengikuti suatu pola trend selama peubahannya
sepanjang waktu. Gambar 2.4 menunjukkan salah satu pola trend
seperti itu.
Gambar 2.4. Pola Data Tren
Banyak deret data yang mencakup kombinasi dari pola-pola di atas. Metode
peramalan yang dapat membedakan setiap pola harus dipakai bila diinginkan
adanya pemisahan komponen pola tersebut. Demikian pula, metode peramalan
alternatif dapat digunakan untuk mengenal pola dan mencocokan data secara tepat
sehingga nilai mendatang dapat diramalkan.
2.2 Tujuan Peramalan
Menurut Subagyo (2002:1) tujuan peramalan adalah mendapatkan peramalan
yang bisa meminimumkan kesalahan meramal ( forecast error) yang biasa diukur
dengan Mean Absolute Error (MAD) dan Mean Square Error (MSE). Sehingga
dengan adanya peramalan produksi manajemen perusahaan akan mendapatkan
gambaran keadaan produksi dimasa yang akan datang, dan akan memberikan
kemudahan manajemen perusahaan dan menentukan kebijakan yang akan dibuat
oleh perusahaan.
19
2.2.1 Hal-hal Yang Tidak Bisa Diramalkan
Hal yang tidak dapat mempengaruhi suatu kehidupan perusahaan dan
yang tidak bisa diramalkan adalah pengaruh lingkungan. Dan pengaruh
lingkungan ini dapat dibagi menjadi :
1. Pengaruh Sosial
Yaitu pengaruh social yang berupa keadaan sosial atau masyarakat
disekitar perusahaan.
2. Pengaruh Lingkungan Teknis
Pengaruh lingkungan ini terutama cara-cara atau tingkat teknologi
yang ada. Keadaan teknis dan kemajuan teknologi tida dapat
diramalkan.
3. Lingkungan ekonomi makro
Lingkungan ini meliputi keadaan perekonomian ditempat
perusahaan berada atau memasarkan hasil produksinya.
2.2.2 Kebutuhan Dan Kegunaan Peramalan
Sering terdapat waktu senjang (time lag) antara kesadaran akan
peristiwa atau kebutuhan mendatang dengan peristiwa itu sendiri. Adanya
waktu tenggang (lead time) ini merupakan alasan utama bagi perencanaan
dan peramalan. Jika waktu tenggang ini nol atau sangat kecil, maka
perencanaan tidak diperlukan. Jika waktu tenggang ini panjang dan hasil
peristiwa akhir bergantung pada faktor-faktor yang dapat diketahui, maka
perencanaan dapat memegang peranan penting. Dalam situasi seperti itu
peramalan diperlukan untuk menetapkan kapan suatu peristiwa akan terjadi
atau timbul, sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan.
20
Dalam hal manajemen dan administrasi, perencanaan merupakan
kebutuhan yang besar, karena waktu tenggang untuk mengambil keputusan
dapat berkisar dari beberapa tahun (untuk kasus penanaman modal) sampai
beberapa hari atau beberapa jam (untuk penjadwalan produksi dan
transportasi). Peramalan merupakan alat bantu yang penting dalam
perencanaan yang efektif dan efesien.
2.3 Jenis Peramalan
Menurut Render dan Heizer (2005:138) peramalan dapat dibedakan menjadi 3
jenis yaitu:
1. Peramalan Ekonomi ( Economic Forecast )
Menjelaskan silkus bisnis dengan memprediksi tingkat inflansi,
ketersediaan uang, dana, yang dibutuhkan untuk membangun perumahan
dan indikator perencanaan lainnya.
2. Peramalan Teknologi ( Tchnological Forecast )
Memperhatikan tingkat kemajuan teknologi yang dapat meluncurkan
produk baru yang menarik, membutuhkan pabrik, dan peralatan baru.
3. Peramalan Permintaan ( Demand Forecast )
Proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan.
Peramalan ini juga disebut peramalan penjualan, yang mengendalikan
produksi, kapasitas serta system penjadwalan dan menjadi input bagi
perencanaan keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia.
2.3.1 Proses peramalan
Proses peramalan terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
21
a. Penentuan tujuan, menganalisis dan membicarakan dengan para
pembuat keputusan dalam perusahaan untuk mengetahui apa
kebutuhan-kebutuhan mereka dalam menentukan:
1. Variabel-variabel apa yang diestimasi,
2. Siapa yang akan menggunakan hasil peramalan
3. Untuk tujuan apa hasil peramalan akan digunakan.
4. Estimasi jangka panjang atau jangka pendek yang diinginkan.
5. Derajat kecepatan estimasi yang diinginkan.
6. bagian-bagian peramalan yang diinginkan, seperti peramalan
kelompok pembeli, daerah geografis, dan produk.
b. Pengembangan Model
Setelah tujuan ditetapkan, langkah berikutnya adalah
mengembangkan model. Pengembangan model ini merupakan
penyajian yang lebih lebih sederhana sistem yang dipelajari. Model
adalah suatu karangka analitik yang apabila dimasukkan data masukan
menghasilkan estimasi penjualan diwaktu mendatang (atau variabel apa
yang meramal). Analisator hendaknya memilih satu model yang
menggambarkan secara realistis pelaku variabel-variabel yang
dipertimbangkan.
Sebagai contoh, bila perusahaan ingin meramalkan volume
penjualan yang berbentuk linear, model yang mungkin dipilih Y = A
+ BX,
Keterangan :
Y = besarnya volume penjualan
22
X = unit waktu
c. Pengujian Model
Sebelum diterapkan, model biasanya diuji untuk menentukan
tingkat akurasi, validitas, dan reliabilitas yang diharapkan. Ini sering
mencakup penerapannya pada data historis, dan penyiapan estimasi
untuk tahun-tahun sekarang dengan data nyata dan tersedia. Nilai
suatu model ditentukan oleh derajat ketepatan hasil peramalan data
aktual.
d. Penerapan Model
Setelah pengujian model, maka model akan diterapkan dalam
tahap ini, data historis dimasukkan dalam model untuk menghasilkan
satu ramalan. Dalam kasus model penjualan, Y = A+BX, analisator
menerapkan teknik-teknik matematika agar diperoleh A dan B.
e. Revisi dan Evaluasi
Ramalan-ramalan yang telah dibuat harus diperbaiki dan ditinjau
kembali. Perbaikan mungkin perlu dilakukan karena adanya
perubahan-perubahan dalam perusahaan atau lingkungannya, seperti
tingkat harga produk perusahaan, karakteristik-karakteristik produk,
pengeluaran-pengeluaran periklanan, tingkat pengeluaran pemerintah,
kebijakan monoter dan kemajuan teknologi.
Evaluasi di pihak lain, merupakan perbandingan ramalan-ramalan
dengan hasil nyata untuk menilai ketepatan penggunaan suatu
metodologi atau teknik peramalan. Dalam proses peramalan
(forecasting), akan ditemukan situasi, persoalan, dan keputusan yang
23
berbeda-beda.
Namun demikian, ada 3 unsur pokok yang sama dalam kaitannya
dengan masalah peramalan, yaitu:
a. Waktu, secara spesifik dalam semua situasi pengambilan
keputusan selalu berhubungan dengan masa depan.
b. Situasi ketidakpastian, jika pengambil keputusan yakin terhadap
suatu hasil yang akan terjadi di masa dating, maka peramalan
tidak ada gunanya.
c. Keputusan-keputusan yang didasarkan pada ramalan-ramalan
yang dibuat, berdasarkan analisis statistik untuk mengidentifikasi
pola data histories yang dapat diramalkan.
2.4 Metode Peramalan
a. Metode Moving Average
Rata-rata bergerak (Moving Average) adalah suatu metode peramalan
yang dilakukan dengan mengambil sekelompok nilai pengamatan, mencari
nilai rata-rata tersebut sebagai ramalan untuk periode yang akan dating
(Subagyo, 2008). Metode Moving Average mempunyai
Karakteristik khusus yaitu ;
1. Untuk menentukan ramalan pada periode yang akan datang
memerlukan data historis selama jangka waktu tertentu. Misalnya,
dengan 3 bulan moving average, maka ramalan bulan ke 5 baru dibuat
setelah bulan ke 4 selesai/berakhir. Jika bulan moving averages bulan
ke 7 baru bisa dibuat setelah bulan ke 6 berakhir.
24
2. Semakin panjang jangka waktu moving average, efek pelicinan
semakin terlihat dalam ramalan atau menghasilakan moving average
yang semakin halus.
Persamaan matematis single moving averages adalah sebagai berikut:
(1)
n = Jumlah batas dalam moving average
Dalam model moving average dapat dilihat bahwa bahwa semua data
observasi memiliki bobot yang sama yang membentuk rata-ratanya. Padahal
data observasi terbaru seharusnya memiliki bobot yang lebih besar
dibandingkan dengan data observasi dimasa lalu. Hal ini dipandang sebagai
kelemahan dalam metode moving average.
Tujuan utama dari penggunaaan rata-rata bergerak adalah untuk
menghilangkan atau mengurangi acakan dalam deret waktu. Teknik rata-rata
bergerak dalam deret waktu terdiri dari pengambilan suatu kumpulan nilai-
nilai yang diobservasi, mendapatkan rata-rata dari nilai ini, dan kemudian
menggunakan nilai rata-rata tersebut sebagai ramalan untuk periode yang
akan datang (Assauri, 1984). Peramalan dengan teknik moving average
melakukan perhitungan terhadap nilai data yang paling baru sedangkan data
yang tua/lama akan dihapus. Nilai rata-rata dihitung berdasarkan jumlah data,
yang angka rata-rata bergeraknya ditentukan dari harga 1 sampai nilai N data
yang dimiliki.
25
b. Metode Rata-rata Bergerak Tunggal (Single Moving Averages).
Metode rata-rata bergerak tunggal menggunakan sejumlah data aktual
permintaan yang baru untuk membangkitkan nilai ramalan untuk permintaan
di masa yang akan datang. Metode ini akan efektif diterapkan apabila kita
dapat mengasumsikan bahwa permintaan pasar terhadap produk akan tetap
stabil sepanjang waktu (Gaspersz, 2005:87). Bila permintaan berubah secara
signifikan dari waktu ke waktu, ramalan harus cukup agresif dalam
mengantisipasi parubahan tersebut, sehingga nilai N yang kecil akan lebih
cocok dipakai. Sebaliknya, bila permintaan cenderung stabil selama jangka
waktu yang panjang, sebaiknya dipakai nilai N yang besar (Nasution,
2005:247). Secara sistematis, penulisan persamaan Single Moving Averages
adalah sebagai berikut:
Keterangan:
𝐹𝑡−1 = Ramalan untuk periode ke t + 1
𝑋𝑡 = Data untuk periode ke t
N = Jangka waktu rata-rata bergerak
c. Exponentials Smoothing
Metode ini digunakan untu peramalan jangka pendek. Model
mengasumsikan bahwa data berfluktuasi di sekitar nilai mean yang tetap,
tanpa trend atau pola pertumbuhan konsisten. Tidak seperti Moving Average,
Exponential Smoothing memberikan penekanan yang lebih besar kepada time
series saat ini melalui penggunaan sebuah konstanta smoothing (penghalus).
26
Konstanta smoothing mungkin berkisar dari 0 ke 1. Nilai yang dekat dengan
1 memberikan penekanan terbesar pada nilai saat ini sedangkan nilai yang
dekat dengan 0 memberi penekanan pada titik data sebelumnya (Herjanto,
2009).
Menurut Garpersz (2005:97) untuk penetapan nilai α yang
diperkirakan tepat, kita dapat menggunakan panduan berikut:
1. Apabila pola historis dari data aktual permintaan sangat bergejolak
atau tidak stabil dari waktu ke waktu, kita memilih nilai α yang
mendekati satu. Biasanya dipilih nilai α = 0,9; namun pembaca dapat
mencoba nilai-nilai α yang lain yang mendekati satu, katakanlah: α =
0,8; 0,95; 0,99, dan lain-lain, tergantung pada sejauh mana gejolak dari
data itu. Semaikin bergejolak, nilai α yang dipilih harus semakin tinggi
menuju ke nilai satu.
2. Apabila pola historis dari data aktual permintaan tidak berfluktuasi
atau relatf stabil dari waktu ke waktu, kita memilih nilai α yang
mendekati nol. Biasanya dipilih nilai α = 0,1; namun pembaca dapat
mencoba nilai- nilai α yang lain yang mendekati satu, katakanlah: α=
0,2; 0,15; 0,05, dan lain-lain, tergantung pada sejauh mana kestabilan
dari data itu. Semaikin stabil, nilai α yang dipilih harus semakin kecil
menuju ke nilai nol.
Secara metematis, persamaan penulisan Eksponensial adalah sebagai
berikut
27
Rumus untuk Simple exponential smoothing adalah sebagai berikut:
Dimana:
St = peramalan untuk periode t.
Xt + (1-α) = Nilai aktual time series
Ft-1 = peramalan pada waktu t-1 (waktu sebelumnya)
α = konstanta perataan antara 0 dan 1
Metode Exponential Smoothing cocok untuk data yang bergerak acak ke
atas dan ke bawah secara terus menerus berarti tidak ada tren maupun
musiman.
Ada empat model dari metode exponential smoothing yang
mengakomodasi asumsi mengenai trend dan musiman:
1. Simpel (tunggal), model ini mengasumsikan bahwa seri pengamatan
tidak memiliki trend dan variasi musiman.
2. Holt, model ini mengasumsikan bahwa seri pengamatan memiliki
trend linier namun tidak memiliki variasi musiman.
3. Winters, model ini mengasumsikan bahwa seri pengamatan memiliki
trend linier dan variasi musiman.
4. Custom, model ini memungkinkan untuk melakukan penetapan
komponen trend dan variasi musiman.
28
Ada tiga parameter yang perlu penetapan, tergantung dari komponen
trend dan variasi musiman:
1. Alpha (α ) merupakan parameter yang mengontrol pembobotan
relatif pada pengamatan yang baru dilakukan. Jika alpha bernilai 1
maka hanya pengamatan terbaru yang digunakan secara eksklusif.
Sebaliknya bila alpha bernilai 0 maka pengamatan yang lalu dihitung
dengan bobot sepadan dengan yang terbaru. Parameter alpha
digunakan pada semua model.
2. Beta (β ) merupakan parameter yang mengontrol pembobotan relatif
pada pengamatan yang baru dilakukan untuk mengestimasi
kemunculan trend seri. Nilai beta berkisar dari 0 sampai 1 Nilai
semakin besar menujukkan pemberian bobot yang semakin besar
pada pengamatan terbaru. Parameter beta digunakan pada model
yang memiliki komponen trend linier atau eksponensial dengan tidak
memiliki variasi musiman.
3. Gamma (γ ) merupakan parameter yang mengontrol pembobotan
relatif pada pengamatan yang baru dilakukan untuk mengestimasi
kemunculan variasi musiman. Nilai gamma berkisar dari 0 sampai 1.
Nilai semakin besar menunjukkan pemberian bobot yang semakin
besar pada pengamatan terbaru. Parameter gamma digunakan pada
model yang memiliki variasi musiman.
29
2.5 Peramalan Menurut Horizon Waktunya
Peramalan dapat dibedakan kedalam tiga kelompok, yaitu (Nasution,
2005:236):
1. Peramalan Jangka Panjang, yaitu peramalan yang umumnya 2 sampai 10
tahun. Peramalan ini digunakan untuk perencanaan produk dan
perencanaan sumber daya.
2. Peramalan Jangka Menengah, yaitu peramalan yang umumnya 1 sampai
24 bulan. Peramalan ini lebih mengkhusus dibandingkan peramalan jangka
panjang, biasanya digunakan untuk menentukan aliran kas, perencanaan
produksi, dan penentuan anggaran.
3. Peramalan Jangka Pendek, yaitu peramalan yang umumnya 1 samapai 5
minggu. Peramalan ini digunakan untuk mengambil keputusan dalam hal
perlu tidaknya lembur, penjadwalan kerja, dan lain-lain.
2.6 Ta hap-tahap Peramalan
Proses peramalan biasanya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menentukan Tujuan Peramalan
Terdiri atas penentuan macam estimasi yang diinginkan. Sebaiknya tujuan
tercantum pada kebutuhan-kebutuhan informasi para manager. Analisis
membicarakan dengan para pembuat keputusan kebutuhan-kebutuhan
mereka dan menentukan :
a. Variable-variabel apa yang diestimasikan
b. Siapa yang akan memakai atau menggunakan hasil peramalan
c. Untuk tujuan apa hasil peramalan digunakan
d. Estimasi jangka panjang atau jangka pendek yang diinginkan
30
e. Derajat ketepatan estimasi yang diinginkan
f. Kapan estimasi akan dibutuhkan
g. Bagian-bagian peramalan yang diinginkan seperti : peramalan untuk
kelompok pembelian, kelompok produk atau daerah geografis.
2. Mengevaluasi dan Menganalisis data yang sesuai
Langkah ini melibatkan identifikasi data apa yang diperlukan dan data apa
saja yang tersedia. Pengidentifikasian data ini akan berdampak pada
pemilihan metode peramalan nanti. Misalnya, jika kita ingin meramalkan
jumlah penjualan pada suatu produk baru, mungkin kita tidak memiliki
data historis penjualan sehingga membatasi kita untuk menggunakan
metode peramalan yang bersifat kuantitatif.
3. Memilih dan Menguji Metode Peramalan
Setelah data dievaluasi, langkah selanjutnya adalah memilih dan
menentukan model atau metode peramalan yang tepat. Umumnya, Metode
Peramalan yang dipilih adalah metode yang telah mempertimbangkan
faktor-faktor seperti biaya dan kemudahan penggunaannya. Selain itu, satu
faktor yang terpenting adalah faktor keakuratan peramalan. Cara yang
`paling umum adalah dengan mencari dua atau tiga metode yang terbaik
kemudian mengujinya pada data historis untuk melihat metode atau model
forecasting mana yang paling akurat.
4. Menghasilkan Peramalan
Setelah menentukan metode atau model forecast/peramalan mana yang
akan kita gunakan, selanjutnya adalah menghasilkan ramalan yang kita
butuhkan.
31
5. Memantau Keakurasian Peramalan
Forecasting atau Peramalan merupakan proses yang berkelanjutan. Setelah
membuat ramalan, kita harus mencatat apa yang sebenarnya terjadi
(aktual) dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk memantau
keakurasian peramalan kita. Perlu diketahui bahwa metode peramalan
yang terbaik pada masa lalu belum tentu bisa memberikan hasil yang
terbaik untuk masa depan. Oleh karena itu, kita harus selalu bersiap-siap
untuk merevisi metode peramalan kita seiring dengan perubahan data kita.
2.7 Ukuran Ketepatan Nilai Peramalan
Dalam semua situasi peramalan mengandung derajat ketidakpastian. Kita
mengenali fakta ini dengan memasukkan unsur kesalahan (error) dalam
perumusan sebuah peramalan deret waktu. Sumber penyimpangan dalam
peramalan bukan hanya disebabkan oleh unsur error , tetapi ketidakmampuan
suatu model peramalan mengenali unsur yang lain dalam deret data juga
mempengaruhi besarnya penyimpangan dalam peramalan. Jadi besarnya
penyimpangan hasil peramalan bisa disebabkan oleh besarnya faktor yang tidak
diduga (outliers) dimana tidak ada metode peramalan yang mampu menghasilkan
peramalan yang akurat, atau bisa juga disebabkan metode peramalan yang
digunakan tidak dapat memprediksi dengan tepat komponen trend, komponen
musiman, atau komponen siklus yang mungkin terdapat dalam deret data, yang
berarti metode yang digunakan tidak tepat (Bowerman dan O’Connell, 1987,
p.12).
32
Jika Xi merupakan data aktual untuk periode i dan Fi merupakan ramalan (atau
nilai kecocokan/fitted value) untuk periode yang sama, kesalahan didefinisikan
sebagai
ei = Xi-Fi
Jika terdapat nilai pengamatan dan ramalan untuk n periode waktu, akan terdapat
n buah galat dan ukuran statistik standar berikut (Makridakis et all, 1999) yang
dapat didefinisikan:
a. Nilai tengah galat (mean error)
n
1
ME = ∑ei
n i=1
b. Nilai tengah galat absolut (mean absolute error)
1n
MAE = ∑ ei
n i=1
c. Jumlah kuadrat galat (sum of squared error)
n2
SSE=∑ei
I=1
d. Nilai tengah galat kuadrat (mean squared error)
1 n2
MSE= ∑e i
n I=1
33
e. Deviasi standar galat (standard deviation of error)
N 2
SDE = ∑e /(n−1)
i
I=1
d. Galat persentase (percentage error)
PEt =⎛⎜ Xt −Ft ⎞⎟×100%
⎝Xt ⎠
Ada pula ukuran-ukuran ketepatan lain yang sering digunakan untuk
mengetahui ketepatan suatu metode peramalan dalam memodelkan data deret
waktu , yaitu nilai MAPE (Mean Absolute Percentage Error), MSE (Mean
Squared Error), MAD (Mean Absolute Deviation)
1. Rata–rata persentase kesalahan absolut (Mean Absolute Persentage Error =
MAPE)
MAPE merupakan ukuran kesalahan relatif, MAPE biasanya lebih berarti bila
dibandingkan dengan MAD karena MAPE menyatakan persentase kesalahan
hasil peramalan terhadap permintaan aktual selama periode tertentu yang akan
memberikan informasi persentase kesalahan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Secara sistematis, MAPE dinyatakan sebagai berikut:
N
100 (Yt −Y ' t)
MAPE =
N ∑ Yt
t =1
Yt = Nilai observasi
Y’t = Nilai peramalan
34
1. Rata–rata deviasi mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD)
MAD merupakan rata–rata kesalahan mutlak selama periode waktu tertentu
tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan dengan faktanya. Secara sistematis, MAD dirumuskan sebagai
berikut
(Y −Y ' t)
MAD =∑
n
Yt = Nilai observasi
Y’t = Nilai peramalan
2. Cara lain untuk menghindari penyimpangan nilai positif dan
penyimpangan negatif saling meniadakan adalah dengan mengkuadratkan nilai
kesalahan tersebut. MSE merupakan ukuran penyimpangan ramalan dengan
merata-ratakan kuadrat error (penyimpangan semua ramalan).
Persamaannya adalah sebagai berikut:
(Y −Y ' t) 2
MSE =∑
n
Yt = Nilai observasi
Y’t = Nilai peramalan
Tujuan optimalisasi statistik seringkali dilakukan untuk memilih suatu model
agar nilai MSE minimal, tetapi ukuran ini mempunyai dua kelemahan. Pertama
ukuran ini menunjukkan pencocokkan (fitting) suatu model terhadap data historis.
Pencocokan seperti ini tidak selalu mengimplikasikan peramalan yang baik. Suatu
35
model yang terlalu cocok (over fitting) dengan deret data berarti sama dengan
memasukkan unsur random sebagai bagian proses bangkitan, adalah sama
buruknya dengan dengan tidak berhasil mengenai pola non acak dalam data.
Kekurangan kedua dalam MSE sebagai ukuran ketepatan model adalah
berhubungan dengan kenyataan bahwa metode berbeda akan menggunakan
prosedur yang berbeda pula dalam fase pencocokan.
Dalam fase peramalan penggunaan MSE dan MAD sebagai suatu ukuran
ketepatan juga dapat menimbulkan masalah. Ukuran ini tidak memudahkan
perbandingan antar deret berskala yang berbeda dan untuk selang waktu yang
berlainan, karena MSE dan MAD merupakan ukuran absolut yang sangat
tergantung pada skala dari data deret waktu. Lagi pula, interpretasi nilai MSE
tidak bersifat intuitif, karena ukuran ini menyangkut pengkuadratan sederetan
nilai.
Karena alasan tersebut dalam hubungan dengan keterbatasan MSE dan MAD
sebagai ukuran ketepatan peramalan, maka dipakai ukuran alternatif sebagai salah
satu indikasi ketepatan dalam peramalan, yaitu MAPE.
2.7 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah narasi atau uraian atau pernyataan (proposisi)
tentang kerangka konsep pemecahan masalah yang telah di identifikasi atau
dirumuskan. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini yaitu suatu perusahaan
pasti mempunyai tujuan salah satunya yaitu meningkatkan volume penjualan.
PT. Trijaya Tirta Dharma dalam melakukan penjualan mengalami
fluktuasi dari bulan ke bulan, entah itu naik, turun, atau stabil, sehingga
36
perusahaan perlu membuat suatu peramalan untuk mengetahui berapa
besarnya penjualan produk pada periode yang akan datang. Dimana untuk
membuat ramalan tersebut diperlukan suatu data historis pada periode-
periode sebelumnya. Data sebelumnya digunakan untuk meramalkan
penjualan diperiode yang akan datang. Dalam menghitung data tersebut
digunakan 2 metode, yaitu Single Moving Average, Exponential Smoothing.
Dari hasil peramalan tersebut dicari tingkat kesalahan pada masing-
masing metode peramalan. Penghitungan kesalahan peramalan tersebut
menggunakan MAD (Mean Absolute Error) dan MSE (Mean Square
Error).Untuk mengetahui mana metode yang paling tepat dicari tingkat
kesalahan (error) yang lebih mendekati nol pada masing-masing metode
peramalan.
Data Historis
Data penjualan produk
Metode Peramalan
Single Moving Avarage
Exponential Smoothing
Penentuan error
Mencari tingkat kesalahan Pengambilan Volume
dari masing-masing keputusan penjualan
metode peramalan
Penentuan metode
peramalan yang tepat
Dipilih tingkat error
terkecil
Ramalan Yang Akan Datang
Penjualan produk yang akan
datang
37
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran