BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penelitian dilakukan untuk menganalisis suatu hal, sehingga dapat diketahui kelebihan
dan kekurangan hal tersebut atau menemukan hal baru yang lebih [Link] kompleks
penelitian merupakan aktivitas pengumpulan data, bukti atau hasil secara sistematis dalam
rangka untuk menemukan ,mengembangkan,atau menguji pengetahuan tentang fenomena alam
maupun social.
Jumlah populasi yang terbatas memungkin kan peneliti dapat menggunakan sensus,akan
tetapi pada populasi yang sangat banyak, maka dapat dilakukan sampling untuk efisiensi
tenaga,waktu dan [Link] sampling dapat dibedakan menjadi probability sampling dan non
probability sampling. Probability sampling memberikan kesempatan pada setiap unsur untuk
dipilih,sedangkan non probability sampling tidak memberikan kesempatan yang sama untuk
dipilih. Probability sampling terdiri dari:
1. simple random sampling merupakan pengambilan sample yang memberikan kesempatan
yang sama pada setiap unsur populasi untuk dipilih,cara ini dapat menggunakan bantuan
tabel rndom maupun menggunakan cara seperti yang biasadilakukan ibuk ibuk arisan
dengan cara membuat gelas kocokan .data yang digunakan harus homogeny.
2. stratifikasi random sampling
Penentuan strata ini dapat didasarkan bermacam macam,misalnya tingkatan social
ekonomi pasie, tingkat keparahan penyakit dan lain [Link] ditentukan
stratanya barulah dari masing masing strata diambil sample yang mewakili strata tersebut
secara random atau acak
3. cluster sampling
Merupakan cara pengambilan sample dengan cara diclustarkan menjadi untuk mengambil
secara acak.
4. multistage sampling
1
Pengambilan sample dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara
bertahap,hal ini [Link] dilaksanakan bila populasi terdiri dari bermacam
macam tingkat wilayah.
Non Random ( Non Probability) sampling terdiri dari :
1. Purposive sampling
Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya.
2. Quota sampling
Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota
sampel secara quotum atau jatah. Teknik sampling ini dilakukan dengan cara: pertama-tama
menetapkan beberapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah).
Kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang
diperlukan.
3. Accidental sampling
Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil
kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks
[Link] denagan purposive sampling adalah, kalau sampel yang diambil secara
purposive berarti dengan sengaja mengambil atau memilih kasus atau responden.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Teknik Sampling ?
2. Apa yang dimaksusd dengan Random Sampling ?
3. Apa yang dimaksud dengan Non Random Sampling ?
2
1.3 Tujuan penulisan
1. Dapat mengetahui tentang Teknik Sampling ?
2. Dapat mengetahui tentang Random Sampling ?
3. Dapat mengetahui tentang Non Random Sampling ?
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teknik sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sample yang jumlahnya sesuai dengan
ukuran sample yang akan dijadikan sumber data sebenarnya,dengan memperhatikan sifat sifat
dan penyebaran populasi agar diperoleh sample yang representatif.
Pada garis dasarnya hanya ada dua jenis sample,yaitu sampel sampel probabilitas(probability
samples) atau sering disebut random sample(sample acak)dan sample sample non
[Link] tiap jenis sample sampel ini terdiri dari berbagai macam [Link] prinsipnya
teknik atau metode pengambilan sample ini dibedakan menajdi dua,yakni: teknik random (acak),
teknik non random.
2.2 Random sampling
Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling, dan sampel yang
diperoleh disebut sampel random. Teknik randomsampling ini hanya boleh digunakan apabila
setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogeny atau diasumsi homogeny. Hal ini berarti
setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel.
Teknik randem sampel ini dapat dibedakan menjadi:
Pengambilan sampel secara acak sederhana (sampel random sampling)
Hakikat dari pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota atau
dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Apabila
besarnya sampel yang diinginkan itu berbeda-beda, maka besarnya kesempatan bagi setiap
satuan elementer untuk terpilih pun berbeda-beda pula. Teknik pengambilan sampel sacera acak
sederhana imi dibedakan menjadi dua cara, yaitu dengan mengundi anggota populasi (lottery
technique) atau teknik undian, dan dengan menggunakan tabel bilangan atau angka acak
(random number). Random number ini dapat dilihat pada buku statistic.
Pengambilan sampel secara acak sistematis (systematic random sampling)
4
Teknik ini merumakan modifikasi dari sampel random sampling. Caranya adalah
membagikan jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan,
hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota
populasi secara acak antara 1 sampai dengan banyaknya anggota populasi. Kemudian membagi
dengan jumlah sampel yang diinginkan, hasilnya sebagai interval adalah X, maka yang terkena
sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut.
Contoh:
N (jumlah populasi) : 500 orang (No.1,2,3…………………200)
n (sampel) : yang diinginkan 50
I (intervalnya) : 500:50=10
Maka anggota populasi yang terkena sampel adalah setiap elemen (nama orang) yang
mempunyai nomor kelipatan 10, misalnya no. 2,12,32,42, dan seterusnya sampai mencapau
jumlah 50 anggota sampel.
Pengambilan sampel secara acakstratifikasi (stratified random sampling)
Apabila suatu populasi terdiri dari unit yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda
atau heterogen,maka teknik pengambilan sampel yang tepat digunakan adalah stratified
sampling. Hal ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi karakteristik umum dar anggota
populasi, kemudian menentukan strata atau lapisan dari jenis karakteristik unit-unit terseebut.
Penentuan strata ini dapat didasarkan bermacam-macam, misalnya tingkatan social ekonomi
pasien,tingkat keparahan penyakit,umur penderita,dan laim sebagainya. Setelah ditentukan
stratanya barulah dari masing-masing strata diambil sampel yangmewakili strata terseebut sacara
random atau acak.
Agar perimbangan sampel dari masing-masing strata memadai, maka dalam teknik ini sering
pula dilakukan perimbangan antar jumlah anggota populasi berdasarkan masing-masing strata.
Pelaksananaan pengambilan sampel denga stratified, mula-mula kita menetapkan unit-unit
anggota populasi dalam bentu strata yang didasarkan pada karakteristik umum dari angota-
anggota populasi dalam bentuk stratayang didasarkan pada karakreristik umum dari anggota-
5
anggota populasi yang berbeda-beda. Setiap unit yang mempunyai larakteristik umum yang sma,
dikelompokkan pada satu strata,kemudian dari masing-masing strata diambil sampel yang
mewakilinya.
Langkah-langkah yang ditempuh pengambilan sampel secara stratified adalah:
Menentukan populasi penelitian.
Mengidentifikasi segala karakteristik dari unit-unit yang menjadi anggota
populasi,misalnya tinglkat pendidikan,ekonomi,senioritas,dan sebagainya.
Menelompokkan unit anggota populasi yang mempunyai karakteristik umum yang sama
dalam siatu kelompok atau strata,misalnya berdasarkan tingkat pendidikan
(rendah,menengah, dan tinggi)
Mengambil dari setiap strata (tingkat pendidikan ) sebagian unit yang menjadi
anggotanya untuk mewakili strata yang bersangkutan.
Teknik pengambilan sampel dari masing-masing strata dapat dilakukan dengan cara
random atau non random.
Pengambilan sampel dari masing-masing strata sebaiknya dilakukan berdasarkan
perimbangan (proporsional).
Misalnya:
1) Populasinsuatu penelitian adalah ibu-ibu hamil di kelurahan beji.
2) Berdasarkan pendapatan dari puskesmas,sebanyak: 250 orang ibu (N=250)
3) Berdasarkan perhitungan statistic, sampel yang dianggap representative adalah 60
(n=60) orang ibu hamil.
4) cara pengambilan sampel adalah “stratified random” berdasarkan strata pendidikan,
yakni : pendidikan rendah, menengah dan tinggi
5) maka sampel akan diambil dari masing-masing strata tersebut 20 orang (pendidikan
rendah 20 orang, menengah 20 orang, dan tinggi 20 orang)
Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus (cluster sampling)
Pada teknik ini bukan terdiri dari unit individu, tetapi terdiri dari kelompok atau gugusan
(cluster). Gugusan atau kelompok yang diambil sebagai sampel ini terdiri dari unit geografis
6
(desa, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya), unit organisasi, misalnya klinik, PPK, LKMD,
dan sebagainya.
Missalnya :
a. Penelitian tentang kesinambungan imunisasi anak balita di kecamtan X, dan menurut
laporan puskesmas jumlah anak balitanya1.5000 orang (N=1.5000).
b. Sampel yang akan diambil sebesar 20% (n=300), dengan teknik gugus adalah dengan
mengambil 3 kelurahan dari 15 kelurahan yang ada di kecamtan X tersebut secara
random. Kemudian semua anak balita yang bedormisili di tiga kelurahan yang terkena
sampel tersebut itulah yang diteliti.
Pengembalian sampel secara gugus bertahap (multistage sampling)
Pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara
bertahap. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan bila populasi terdiri dari bermacam-macam
tingkat wilayah. Pelaksanaannya dengan membagi wilayah populasi ke dalam sub-sub wilayah,
dan tiap subwilayah dibagi kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan seterusnya. Misalnya
pelaksanaan suatu penelitian di suatu wilayah kabupaten. Mula-mula diambil beberapa
kecamatan sebagai sampel, dari kecamatan-kecamatan yang terkena sampel ini diambil beberapa
kelurahan sebagai sampel, selanjutnya dari kelurahan-kelurahan sampel ini diambil beberapa
RW sebagai sampel, dan dari beberapa RW sampel diambil lagi beberapa RT sebagai sampel,
dan akhirnya dari RT yang terkena sampel tersebut diambil beberapa atau seluruh unit sebagai
sampel.
Proses pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage random sampling) :
a. Tentukan area populasi berdasarkan administrasi pemerintahan provinsi, kabupaten,
kecamatan atau kelurahan, atau karakter lain (perdesaan-perkotaan, pantai-pengunungan,
dan sebagainya)
b. Dari area populasi tersebut diambil sampel gugus dibawahnya (misalnya apabila area
populasinya provinsi maka area gugus dibawahnya kabupaten).
c. Dari area gugus tersebut diambil area gugus yang dibawahnya lagi ( misalnya kalau area
gugusnya kabupaten, maka area gugus yang dibwahnya adalah kecamtaan), dan
seterusnya.
7
d. Akhirnya semua anggota populasi dari gugus yang paling kecil (bawah) misalnya RT,
diambil sebagai sampel.
2.3 Non Random ( Non Probability) sampling
Pengambilan sampel bukan secara acak atau non random adalah pengambilan sampel
yang tidak didasarkan atau kemungkinan yang dapat diperhitungkan, tetapi semata-mata. Hanya
berdasarkan kepada segi-segi kepraktisan belaka. Metode ini mencakup beberapa teknik antara
lain :
a. Purposive sampling
Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya.
Mula-mula peneliti mengidentifikasi semua karakteristik populasi, misalnya dengan
mengadakan studi pendahuluan atau dengan mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan
populasi. Teknik ini sangat cocok mengadakan studi kasus (case study), dimana banyak aspek
kasus tunggal yang representative untuk diamati dan dianalisis.
Misalnya suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh prilaku seks ibu-
ibu pascapersalinan melalui caesarean operational. Populasi penelitian ini jelas mempunyai
karakteristik yang spesifik. Oleh sebab itu, pengambilan sampelnya pun harus diarahkan kepada
ibu-ibu yang dilahirkan melalui cara ini, sehingga pengambilan sampel secara purposive adalah
pilihannya.
b. Quota sampling
Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota
sampel secara quotum atau jatah. Teknik sampling ini dilakukan dengan cara: pertama-tama
menetapkan beberapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah).
Kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang
diperlukan.
8
c. Accidental sampling
Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil
kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks
[Link] denagan purposive sampling adalah, kalau sampel yang diambil secara
purposive berarti dengan sengaja mengambil atau memilih kasus atau responden. Sedangkan
sampel yang diambil secara aksidental berarti smapel diambil dari responden atau kasus yang
kebetulan ada disuatu tempat atau keadaan tertentu. Misalnya penelitian tentang pemberian ASI
ibu-ibu diwilayah kerja puskesmas pasar minggu. Maka sampel penelitian ini dapat diambil dari
ruang KIA tenpat pemeriksaan kesehatan ibu dan anak dipuskesmas pasar minggu selama priode
tertentu.
9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sample yang jumlahnya sesuai dengan
ukuran sample yang akan dijadikan sumber data sebenarnya,dengan memperhatikan sifat sifat
dan penyebaran populasi agar diperoleh sample yang representatif.
3.2 Saran
Kami menyadari di dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini berjudul “TEKNIK
SAMPLING” masih banyak kekurangan dan maka dari pada itu kritik dan saran sangat kami
harapkan untuk mencapai kesempurnaaan makalah ini agar lebih baik lagi.
10
DAFTAR PUSTAKA
Abrahamson, J.H. 1979. Survey Methods in Community Medicine. Eidenburgh, LONDON, New
Yorrk: Churchill Livingstone.
Ali, Mohamad.1985. penelitian kependudukan,procedure,dan strategis. Bandung: Angkasa.
Arjatmo,Tjokronegoro (Editor). 1979. Metodologi Penelitian Bidang kedokteran. Jakarta:
Komisi Pengembangan,Riset, dan Perpustakaan UI.
Kartono,kartini. 1976. Pengantar Metodologi Riset. Bandung.
Koentjaraningrat. 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia.
Kinley, John B 1974. Research Methods in Health Care. New York.
Nazir,Moh.1988. Metode Penelitian. Jkarta: Ghalia Indonesia.
Pratiknyo,Ahmat Watik. 1986. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan .
Rajawali: Jakarta.
Ratih,Suryadi.1983. Metode Statistiika Analisis untuk Penarikan Kesimpulan. Jakarta: Bina
Cipta
Singarimbun, Masri dan sofian Effendi. 1982. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES
11