0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan47 halaman

Tatalaksana Inseminasi Buatan Sapi

 Membantu dokter hewan dalam pelayanan kesehatan hewan.  Melakukan penyuluhan kesehatan hewan.  Melakukan vaksinasi dan penyuntikan obat. Inseminator:  Melakukan deteksi birahi pada sapi.  Melakukan inseminasi buatan pada sapi.  Mencatat hasil inseminasi buatan. Laboratorium: 

Diunggah oleh

Tamii mathul99
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan47 halaman

Tatalaksana Inseminasi Buatan Sapi

 Membantu dokter hewan dalam pelayanan kesehatan hewan.  Melakukan penyuluhan kesehatan hewan.  Melakukan vaksinasi dan penyuntikan obat. Inseminator:  Melakukan deteksi birahi pada sapi.  Melakukan inseminasi buatan pada sapi.  Mencatat hasil inseminasi buatan. Laboratorium: 

Diunggah oleh

Tamii mathul99
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan sektor peternakan mendapat perhatian cukup besar dari
pemerintah, terutama untuk memenuhi kebutuhan protein hewani melalui usaha
ternak sapi potong. Kebutuhan protein hewani dapat terpenuhi apabila jumlah
dan mutu genetik ternak dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi
reproduksi yang tepat. Salah satu teknologi reproduksi yang dapat diterapkan
adalah inseminasi buatan (IB) adalah teknologi tersebut sampai sekarang masih
merupakan teknologi andalan bagi pemerintah maupun peternak-peternak di
Indonesia untuk meningkatkan mutu genetik terutama sapi perah dan sapi potong.
Keberhasilan IB tergantung dari deteksi birahi yang tepat yang selanjutnya
adalah kecepatan dan ketepatan pelayanan IB.
Inseminasi Buatan adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran
reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina menjadi bunting tanpa
perlu terjadi perkawinan alami. Teknologi IB perlu dilaksanakan untuk
memperbaiki mutu genetik ternak, mencegah penularan penyakit, menghemat
dana pemeliharaan pejantan, meningkatkan pemanfaatan penjantan unggul, serta
memperpendek calving interval (Siahaan, 2012).
Pelaksanaan IB secara luas diakui mempunyai dampak yang besar pada
program pembiakan sapi, khususnya di negara yang lebih maju dengan pelayanan
inseminasi yang terorganisasi dengan baik, meskipun tujuan IB yang bertolak
belakang tampaknya lebih banyak timbul pada negara kurang maju. Sebagai
teknik untuk meningkatkan kinerja hewan ternak, teknik ini dengan sangat cepat
dapat diterima setelah diperkenalkan secara komersial dan telah diterapkan
dengan banyak memberi keuntungan ekonomi, khususnya dalam pembiakan sapi
(Hunter, 1995).
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis tertarik melakukan Praktik Kerja
Lapangan untuk mengetahui “Tatalaksana Inseminasi Buatan (IB) Pada Sapi di
Unit Pelayanan Teknik Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong ”.

1
1.2. Tujuan dan Kegunaan Praktik Kerja Lapangan
1.2.1 Tujuan PKL
Adapun tujuan dari Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai
berikut :
1. Meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan Mahasiswa
khususnya dalam bidang Tatalaksana Inseminasi Buatan (IB) pada
sapi.
2. Menerapkan atau membandingkan ilmu yang diperoleh selama
dibangku kuliah dengan kenyataan di lapang.
3. Untuk mengetahui secara langsung kondisi dan proses pelaksanaan
Inseminasi Buatan yang baik dan sesuai prosedur.
1.2.1 Kegunaan PKL
Adapun kegunaan kegiatan PKL ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan kesempatan kepada Mahasiswa Peternakan dalam
menambah pengetahuan dan wawasan dibidang Peternakan
khususnya dalam peningkatan reproduksi ternak melalui Tatalaksan
Inseminasi Buatan.
2. Memberikan pengalaman kepada Mahasiswa sebagai bekal
pengetahuan yang dapat berguna dalam kehidupan.
3. Menerapkan Mahasiswa mampu mengaplikasikan teknik IB dalam
kehidupan sehari-hari dan dapat memberikan informasi kepada
peternak, inseminator serta pihak-pihak yang membutuhkan.

2
BAB 2
KEGIATAN PKL

2.1. Waktu dan Tempat


Kegiatan PKL dilaksanakan mulai dari tanggal 6 Juli 2020 sampai 6
Agustus 2020 bertempat di UPT Puskeswan dan Peternakan Kecamatan
Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
2.2. Metode Pelaksanaan Kegiatan
Metode yang digunakan dalam kegiatan kerja lapangan ini adalah sebagai
berikut:
a. Orientasi
Kegiatan orientasi di UPT Puskeswan dan Peternakan Kecamatan
Selong, Lombok Timur dilakukan pada hari pertama kunjungan yakni pada
tanggal 6 juli 2020 yang bertujuan untuk mengetahui macam-macam
kegiatan yang akan dilaksanakan selama PKL berlangsung.
b. Metode Pengambilan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara melalui
diskusi bersama pihak-pihak terkait di lapangan seperti para peternak dan
inseminator atau petugas. Observasi atau mengamati dan mencatat kegiatan
selama PKL berlangsung tentang pengamatan dan pelaporan hasil deteksi
birahi pada sapi di Kecamatan Selong dan Kecamatan Labuhan Haji.
c. Pelaksanaan PKL
Kegiatan yang dilakukan pada saat PKL meliputi kegiatan utama
(prosedur pengamatan dan pelaporan hasil deteksi birahi pada ternak sapi)
serta seluruh kegiatan yang ada di UPT Puskeswan dan Peternakan
Kecamatan Selong, Lombok Timur sebagai kegiatan tambahan.
2.3. Macam Kegiatan PKL
1. Kegiatan utama
a. Deteksi Birahi misalnya calon resepien IB
b. Inseminasi Buatan

3
- Proedur
- Pelaksanaan
- Pencatatan data IB/ kartu ternak
c. Pemeriksaan Kebuntingan (PKB)
d. Evaluasi Hasil IB
- NRR
2. Kegiatan tambahan
a) Pelaksanaan IB (Inseminasi Buatan)
b) PKB (pemeriksaan kebuntingan)
c) Penanganan kelahiran
d) Penangan penyakit pada ternak
e) Pelayanan penyuntikan hormon
f) Pelayanan suntik sehat pada ternak
g) Produksi pakan konsentrat
h) Pemeriksaan hati hewan kurban

4
BAB 3
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1. Gambaran Umum Lokasi PKL


1. Lokasi

Gambar 1. Mahasiswa PKL dan Stap Puskeswan dan Peternakan


Kecamatan Selong
Unit Pelayanan Tekhnis Puskeswan dan Peternakan Selong, Lombok
Timur terletak di Jalan Pejanggik No.74, Kelurahan Rakam, Kecamatan
Selong, Lombok Timur, NTB. Kecamatan Selong memiliki luas wilayah
31,68 km² dan terdiri dari 11 kelurahan dan 1 desa. Lokasi kantor Unit
Pelayanan Tekhnis Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong berada
di dekat SMKN Model 1 Selong dan bersebelahan dengan Kantor
Penyuluhan Pertanian Kecamatan Selong.
2. Motto
UPT Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong memiliki motto
yaitu Kesehatan Hewan untuk Kesejahteraan Manusia.
3. Program kerja
Program kerja UPT Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong
yaitu:
a. Pengamatan penyakit hewan

5
Pengamatan penyakit hewan terdiri dari pengamatan penyakit menular
strategis dan pengiriman specimen ke laboratorium (Lab Tipe C, Lab Tipe
B dan BBVET Denpasar).
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan
Pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan meliputi kegiatan yang
terdiri dari vaksinasi ND, vaksinasi antrax, vaksinasi dan desinfeksi flu
burung, pemberantasan scabies dan pencegahan rabies.
c. Kesmavet
Kegiatan kesmavet yang dilakukan meliputi pemeriksaan ante mortem dan
pos mortem hewan potong, pemeriksaan ante mortem dan pos mortem
hewan qurban dan pengawasan pemotongan ternak betina produktif.
d. Pembinaan Terpadu
Dalam pembinaan terpadu terdapat kegiatan seperti: penyuluhan kesehatan
hewan dan aktif servis, penyuluhan terpadu bidang peternakan kesehatan
hewan dan kesmavet, sosialisasi asuransi ternak (SAT).

6
4. Struktur Organisasi

KEPALA UPT

SUPAR, S,Pt

KTU

SUHARYATI, [Link]

MEDIK PARAMEDIK INSEMINATOR

DRH. YUNIARTI SASMITA [Link] SUBHAN AFANDI, [Link]


jfhf
AKMALUDIN
SUPAR S,Pt
SAPRUDIN, [Link]

MUH. ROZALI,
ARFIAN SAIDI
SE
ZULFANI
ARISANDI
AMRIL HADI

PENGELOLA LABORATORIUM TENAGA ADMINISTRASI PENJAGA RPH

DRH. NINDI PUJI RAHAYU NILA SANDI, SP HASAN BASRI

5. Tugas dan Fungsi


Tugas :
 Melakukan kegiatan pelayanan kesehatan hewan di wilayah kerjanya.
 Melakukan konsultasi veteriner dan penyuluhan di bidang kesehatan
hewan.
 Memberikan surat keterangan dokter hewan.
Fungsi:
 Pelaksanaan kesehatan hewan.
 Pelayanan kesehatan masyarakat veteriner.
 Pelaksanaan epidemiologik.
 Pelaksanaan infomasi veteriner dan kesiagaan.
 Pemberian pelayanan jasa veteriner.

7
8
6. Tugas dan Tanggung Jawab
Dokter hewan:
 Bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan di wilayah kerjanya.
 Memantau, mengendalikan dan memberantas penyakit hewan.
 Melaporkan semua kegiatan pelayanan kesehatan hewan kepada
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan kabupaten, Kepala Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi sesuai petunjuk/ketentuan
yang ada.
Paramedis:
 Membantu medis veteriner puskeswan dalam memantau,
mengendalikan dan memberantas penyakit hewan.
 Membantu medis veteriner puskeswan dalam memasyarakat
kesehatan masyarakat veteriner.
 Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh medis veteriner
puskeswan.

7. Pelayanan
Sistem pelayanan yang dilakukan di UPT Puskeswan dan Peternakan
Selong adalah pelayanan aktif, semi aktif dan pasif. Sistem ini dapat
digunakan mengingat potensi peternakan yang ada di daerah sekitarnya
sangat bervariasi. Pelayanan aktif dilaksanakan sesuai dengan program kerja
yang telah disusun setiap tahunnya seperti survei, vaksinasi dan pembinaan
kelompok. Pelayanan semi aktif dilakukan apabila ada laporan dari peternak
kemudian petugas mendatangi lokasi untuk melakukan pelayanan dan
penanganan, seperti melakukan IB, PKB, kelahiran dan penanganan penyakit
pada ternak. Pelayanan pasif yaitu melakukan pelayanan di puskeswan itu
sendiri, dimana peternak akan langsung mendatangi puskeswan untuk
melakukan penangan langsung pada ternaknya.
Pelaksanaan PKL di UPT Puskeswan dan Peternakan Selong dilakukan di dua
kecamatan yakni Kecamatan Selong dan Kecamatan Labuhan Haji yang

9
terdiri dari 12 desa/kelurahan yang tersebar di Kecamatan Selong dan 12
desa/kelurahan di Kecamatan Labuhan Haji.
8. Populasi Ternak
Berdasarkan data populasi ternak di UPT Puskeswan dan Peternakan
Kecamatan Selong, dimana wilayah kerjanya yaitu Kec. Selong dan Kec.
Labuhan Haji diketahui total populasi ternak Sapi pada bulan juli-agustus
2020 antara lain anak <1 tahun untuk jantan 190 ekor dan untuk betina 155
ekor. Muda umur 1-2 tahun untuk jantan 707 ekor dan untuk betina 203 ekor.
Dewasa umur >2 tahun untuk jantan 801 ekor dan untuk betina 1.049 ekor.
Sehingga total penjumlahan seluruhnya dari sapi anak, muda dan dewasa
pada wilayah Kec. Selong untuk jantan 1.698 dan untuk betina 1.407 ekor.
Sedangkan jumlah sapi di Kec. Labuhan Haji antara lain anak <1 tahun untuk
jantan 194 ekor dan untuk betina 262 ekor. Muda umur 1-2 tahun untuk
jantan 845 ekor dan untuk betina 253 ekor. Dewasa umur >2 tahun untuk
jantan 1.774 dan untuk betina 1.172. Sehingga total penjumlahan seluruhnya
dari sapi anak, muda dan dewasapada wilayah Kec. Labuhan Haji untuk
jantan 2.813 dan untuk betina 1.687 ekor.
3.2. Hasil Praktik Kerja Lapang
1. Deteksi Birahi
Pada lampiran Tabel 1 jenis kegiatan ini bersifat semi aktif artinya
petugas peternakan UPT Selong sebelum melakukan proses pelayanan
penanganan pada ternak biasanya petugas yang terjun langsung kelapangan
atau menunggu teleponan dari peternak. Petugas yang terjun langsung
kelapangan biasanya mengikuti program kerja yang telah diatur dikantor
sedangkan laporan dari peternak dilakukan dengan cara menghubungi
fasilitator yang bersangkutan untuk melakukan tindak lanjut terhadap
pemberitahuan tentang kondisi ternak yang ingin diberi pelayanan sehinggan
fasilitator akan segera menuju lokasi untuk melakukan pengamatan secara
langsung terhadap ternak dengan cara mengecek ternak tersebut benar-benar
sedang sedang birahi atau tidak. Kerena ada beberapa peternak yang

10
mengetahui melaporkan bahwa ternaknya sedang birahi ternyata tidak. Hal ini
terjadi pada beberapa peternak yang kurang paham mengenai kondisi ternak
yang birahi itu seperti apa dan keterlambatan pelaporan karena tidak
mengetahui jarak birahi dan waktu birahi ternak.
Pengamatan lanjutan yang dilakukan oleh fasilitator adalah dengan
cara melihat tingkah laku ternak dilanjutkan dengan visualisasi vulva yang
ditandai dengan warna kemerahan, bengkak dan hangat disertai dengan
keluarnya lendir bening atau transparan dengan kekentalan yang khas. Selain
itu, deteksi birahi dapat dilakukan dengan cara palpasi per rektal yakni
memasukkan tangan kedalam rektum untuk memastikan bahwa terdapat
ovarium yang siap untuk dibuahi.
Selama melaksanakan PKL jumlah yang dilaporkan birahi oleh
peternak sebanyak 96 ekor dari 96 ekor ternak terdapat 4 ekor ternak yang
kawin berulang. Ternak kawin berulang terlalu panjang siklus birahinya.
Kawin berulang bisa menjadi faktor utama ketidaksuburan dan terdapat
penyakit salpingitis yang terjadi setelah ternak mengalami distokia.
Pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara palpasi
rectal dengan memeriksa ovariumnya, setelah di periksa dapat diketahui
ternak tersebut terdapat nanah pada bagian reproduksinya. Pengobat yang
dilakukan dengan cara penyepulan dengan povidon iodine 1,5% ± 25 ml
setelah disuntik dengan injekvit 12, B kompleks dan modoxy L. Namun jika
tidak birahi maka fasilitator akan mengambil langkah lain untuk memecahkan
masalah tersebut agar ternak segera birahi maka fasilitator akan memberikan
hormon dengan menyuntikan hormon prostaglandin (PGF2α) atau hormon
estron untuk merangsang pertumbuhan folikel yang akan menyebabkan
timbulnya estrus atau birahi dan ditunggu dua kali dua puluh empat jam.
Sebelum melakukan proses penyuntikan fasilitator melakukan
kesepakatan dengan peternak terlebih dahulu untuk mengetahui kesediaanya
agar ternaknya disinkronisasi. Jika peternak setuju dengan hal tersebut maka
Inaeminator akan segera melakukan sinkronisai. Kemudian untuk

11
pengontrolan sinkronisasi birahi ini tidak ada sehingga Inseminator hanya
akan menunggu kembali laporan peternak jika ternaknya telah mengalami
birahi. Selama melakukan sinkronisasi ternak yang sudah di sinkronisasi
kembali birahi setelah satu minggu di suntik prostaglandin ( PGF2α ).

6. Gambar 1. Tanda ternak birahi pada sapi Simental ekor


diangkat dan terdapat lendir bening.
2. Inseminasi Buatan
Berdasarkan lampiran pada Tabel 3, dapat dilihat jumlah ternak betina
yang dikawinkan selama PKL berlangsung, yakni berjumlah 96 ekor sapi
yang terdiri dari 43 ekor sapi Bali, 27 ekor sapi Simental, 1 ekor sapi simbal
(simental dan bali), 11 ekor sapi limosin, 3 ekor sapi Angus dan 1 ekor sapi
brabal (Angus dan Bali). Ternak yang dikawinkan selama PKL semuanya
dikawinkan dengan cara IB, tidak ada yang dikawinkan secara alami karena
rata-rata sapi yang sudah di IB langsung bunting yang ditandai dengan tidak
ada ternak yang sudah di IB menunjukkan keinginan untuk kawin kembali.
Ada 7 ekor sapi yang disuntikkan hormon agar birahi dan bisa bunting
kembali. Sedangkan, Cara IB ada yang menggunakan 2 dosis sekaligus dalam
satu waktu perkawinan, yakni maksudnya setiap perkawinan secara IB
digunakan dua kali injeksi. Tujuannya adalah supaya tingkat kebuntingan

12
menjadi lebih tinggi, dengan asumsi apabila injeksi yang pertama tidak
menghasilaan suatu kebuntingan maka diharapkan injeksi kedua dapat
menghasilkan kebuntingan atau sebaliknya. Kemudian ada ternak yang
mengalami kawin berulang. Adapun semen/straw yang digunakan ada 5
yakni semen sapi Bali, Simental, Angus, Limosin, dan Brahman. Namun,
semen/straw yang paling sering digunakan yaitu semen sapi Bali dan semen
Simental.

Gambar 1. Pelaksanaan IB
Keterlambatan pelayanan IB akan berakibat pada kerugian waktu
cukup lama. Jarak antara satu birahi ke birahi berikutnya adalah kira-kira 21
hari sehingga bila satu birahi terlewatkan maka harus menunggu selama 21
hari lagi untuk melakukan IB kembali. Kegagalan kebuntingan setelah
pelaksanaan IB juga akan berakibat pada terbuangnya waktu percuma, selain
kerugian dalam hal biaya, kerugian lainnya seperti tenaga dan waktu juga
menjadi hal yang percuma, terbuangnya semen, alat dan bahan pelaksanaan
IB serta terbuangnya biaya transportasi baik untuk melaporkan dan
memberikan pelayanan dari kantor IB ke lokasi tempat ternak yang akan di
IB.
Inseminasi Buatan ternak sapi pada umumnya menggunakan teknik
rectovaginal dimana semen di deposisikan di dua bagian yaitu uterus dan

13
servik. Teknik ini menggunakan Inseminasi gun yakni dengan cara
memasukkan alat ke dalam alat reproduksi betina.
Sebelum mempersiapkan inseminasi gun, hal yang harus dilakukan
adalah mengambil straw (semen beku) di dalam container yang di bawa oleh
petugas IB. jenis straw yang di bawa dan digunakan adalah sesuai dengan
permintaan peternak. Didalam container kecil yang dibawa tersedia 5 jenis
straw ( semen beku) yaitu terdiri dari bibit Bali, Simental, Brahman,
Limousine, dan Angus.
Untuk mengambil straw dari dalam container yakni dengan cara
membuka tutup container, mengangkat canister dan mengambil straw yang
berada didalam goblet dengan menggunakan pinset, proses ini hanya
membutuhkan waktu sekitar 5 menit kemudian dimasukkan kedalam
container kecil yang dibawa oleh petugas yang berisi N2 cair dengan suhu
-1960C untuk mempertahankan suhu straw tetap konstan. Bibit straw kadang-
kadang diminta oleh peternak dengan menyebutkan bangsa ternaknya dan
kadang pula hanya menyebutkan sapi besar tanpa tahu itu bibit bangsa ternak
apa. Jika hal ini terjadi maka petugas menentukan pelihan ternak yang akan
di IB sesuai pemerintaan peternak yang biasanya jelas permintaan bangsa
ternaknya ataupun tidak. Jika keputusan petugas yang mengambil dan
disesuaikan dengan straw dibawa oleh petugas.

Gambar 2. Tempat penyimpanan straw dan N2


cair didalam container

14
Berikut adalah prosedur pengambilan starw didalam container
sebagai berikut : membuka tutup container hingga terbuka penuh. Kemudian
pilih nomor canister dimana straw yang diinginkan disimpan sesuai dengan
catatan. Setelah itu, angkat canister kira-kira 5-6 cm diatas leher container
akan tetapi straw tetap pada atas leher container. Selanjutnya, tahan canister
beberapa saat sementara diambil straw yang diinginkan dengan
menggunakan pinset. Setelah itu, kembalikan canister kedalam N2 cair.
Selanjutnya siapkan alat dan bahan yang sudah tersedia langsung dibawa oleh
fasilitator kelokasi tempat ternak yang akan diinseminasi. Setelah sampai
kelokasi tempat pelayanan langkah-langkah yang harus disiapkan sebelum
melakukan IB sebagai berikut:
Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk prosedur pemasangan
inseminasi gun adalah sebagai berikut: Tarik pistolet sepanjang 15 cm dan
tahan dengan jari kiri. Kemudian pegang ujung straw dibagian sumbat pabrik
dengan ibu jari telunjuk. Lalu tahan ujung pistolet dengan jari tangan kiri dan
masukkan straw kedalam lubang pistolet. Selanjutnya tekan ujung straw
dibagian sumbat laboratorium sampai straw duduk pada tempatnya didalam
pistolet. Setelah itu, gunting ujung straw dibagian rongga udara dibawah
sunbat laboratorium dan sisakan bagian straw yang diluar pistolet sepanjang
kira-kira 1,5 cm. Kemudian, pasanglah plastic sheat mengengelubungi straw.
Lalu eratkan cincin kunci. Selanjutnya usahakan plastic sheat menyelubungi
dengan sempurna ujung straw pada bagian bekas guntingan karena bila tidak
maka semen akan tumpah dalam plastic sheat pada waktu penyemperotan
semen dilakukan. Kemudian, secara halus dan perlahan tekanlah piston
kedalam pistolet sampai dirasakan gerakan sumbat pabrik mendesak semen
atau terlihat cairan semen dibagian ujung straw.

15
Gambar 4. Proses pemasangan straw dan plastic sheat
kedalam inseminasi gun
Cara kerja Inseminasi Buatan adalah dengan cara menggunkan teknik
rectovaginal dimana proses IB dilakukan dengan meraba servik melalui
rectum dengan menggunakan tangan yang telah dilapisi dengan plastic glove.
Inseminasi gun dimasukkan melalui vagina untuk memasukkan semen yang
berada didalam straw menuju ke servik hingga vagina.
Berikut prosedur IB adalah jika ada pelaporan peternak tentang ternak birahi,
maka fasilitator harus segera menuju lokasi ternak yang akan di IB dengan
membawa alat dan bahan antara lain ( container kecil(canister,globet berisi
N2 cair), inseminasi gun, straw atau semen beku, gunting, pinset, termos 250
ml berisi air tempat thawing, plastic sheat, plastic glove, tissue, sabun, dan
kandang jepit). Selanjutnya berangkat kelokasi secepatnya agar dapat
melakukan IB tepat waktu. Setelah itu, melihat ternak apakah benar-benar
waktunya untuk di IB. Jika sudah waktunya di IB maka siapkan alat dan
bahan untuk melakukan IB. Kemudian cucilah tangan terlebih dahulu
sebelum malaksanakan IB maka straw (semen) harus di cairkan (thawing)
terlebih dahulu. Setelah di thawing straw diangkat dari termos dan
dikeringkan menggunakn tissue. Kemudian straw dimasukkan kedalam
inseminasi gun dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan
gunting. Setelah itu masukkan unjung gun kedalam plastic sheat.

16
Selanjutnya ternak yang akan di IB dimasukkan kekandang jepit yang
telah disiapkan oleh peternak. Kemudian pasang plastic glove dan diolesi
menggunakan sabun sebagai pelican. Lalu membawa gun yang sudah berisi
straw dan dekati ternak yang akan di IB. Masukkan tangan kiri membentuk
corong dengan sabar dan gerakan berputar masuk kedalam rectum. Seletlah
tahap ini berhenti sebentar sehingga anus dapat relaks dan tangan mudah
masuk. Kemudian hindari keributan dan gerakan kasar yang dapat
menyebabkan ternak menjadi steress. Lalu membersihkan dan mengeluarkan
feses yang ada di rectum dengan tangan untuk memudahkan menemukan
servik. Selanjutnya perngelangan tangan yang telah masuk ke dalam rectum
menekan kebawah agar bibir vulva mudah dimasuki gun untuk memasuki ke
vagina.
Setelah itu masukkan gun sepanjang vulva dan vagina dengan ujung
gun melekat pada bagian atas yang menyentuh tangan. Kemudian dengan
hati-hati dorong ujung gun kedepan dengan ujungnya ada diatas kantung
kencing, kemudian gerakkan gun ke depan hingga masuknya gun bertahan.
Bila ujung tertahan sebelum mencapai servik, dorong servik searah dengan
kepala sapi. Dengan cara ini lipatan-lipatan dalam vagina akan merenggang
dan memudahkan gun bergerak kedepan. Setelah itu, tekan kebawah dan
temukan servik dengan tangan kiri. Pegang servik dengan jari. Bila tidak
dapat menyentuh servik berarti bertahan di pelvis. Kemudian dengan pelan
tekan gun kedepan tempelkan servik di ujung gun. Dengan meraba ujung gun
di permukaan uterus maka gun telah mencapai sasaran. Perlu dihindari dan di
perhatikan jangan masukkan gun terlalu dalam ke uterus. Karena luka pada
bagian uterus akan mempengaruhi fertilitas ovum.
Selanjutnya, dorong penghisap gun hati-hati dan perlahan serta
semperotkan 2-3 bagian semen di depan uterus sambil menarik gun hingga
ujungnya berjarak 1 cm di belakang uterus. Semperotkan sisa semen
dibelakang uterus. Kadang-kadang gun tidak bisa mencapai ujung servik
tetapi betina dapat bunting. Gun ditarik pelan-pelan dari servik dan vagina.

17
Pengeluaran gun tergesa-gesa dapat mengembalikan semen dari servik ke
vagina. Mengeluarkan tangan kiri dari rectum secara perlahan. Lepaskan
kunci ring pada gun dan tari plastic sheat dengan tangan kiri. Buang plastic
sheat dan straw yang sudah digunakan. Kendala pada saat proses IB adalah
sangat jarang peternak yang memiliki kandang saat melakukan IB sehingga
peternak harus menyiapkan kadang jepit terlebih dahulu pada saat proses IB
dan petugas harus menunggu peternak membuat kandang jepit dan terkadang
petuga ikut membantu peternak dalam pembuatan kandang jepit.
a. Thawing Straw ( Semen Beku)
Thawing semen adalah proses dimana semen yang berada didalam straw yang
disimpan didalam container diencerkan dengan cara direndam didalam air
dengan suhu 370C. Tujuan thawing ini juga adalah untuk mengurangi
pengaruh dari N2 cair. Setelah di thawing straw tunggu 15-30 detik untuk
pengenceran straw sudah dapat digunakan.

Gambar 3. Proses thawing ternak sapi Simental


Menyiapkan alat dan bahan untuk thawing ( bak atau termos 250 ml dan air).
Kemudian keluarkan straw yang berada didalam container kemudian thawing
straw kedalam bak atau termos 250 ml yang berisi air rendam straw selama
15-30 detik. Lalu masukkan straw yang sudah dithawing menggunakan
tangan kanan kemudian keringkan straw dengan kapas atau tissu lalu
masukkan kedalam inseminasi gun.
b. Pencatatan Data Inseminasi Buatan

18
Pencatatan data IB sangat berguna agar ternak yang di IB terhindar dari
inbreeding. Pencatatan dilakukan pada buku ternak atau di tiang yang ada di
kandang sapi. Pencatatan biasanya dilakukan pada setiap inseminator untuk
kelengkapan data. Data yang di catat petugas inseminator yaitu data hasil IB.
Pencatatan hampir digunakan pada semua UPT dalam organisasi inseminasi
buatan di wilayah kerja, bahkan jika inseminator mempunyai buku ternak
maka dijadikan rangkap tiga. Untuk peternak, untuk inseminator dan untuk
data UPT.

Gambar 4. Kartu ternak


c. Evaluasi Hasil Inseminasi Buatan
 NRR
NRR adalah angka (dalam persen) yang menunjukkan perbandingan antara
jumlah sapi yang tidak birahi kembali 18-24 hari setelah IB. NRR merupakan
salah satu indikator keberhasilan IB dengan mengamati pada siklus birahi
berikutnya. Siklus birahi pada sapi antara 18-24 hari, bersifat non seasonal
poliestrus yang artinya sapi akan menujukkan birahi kembali 18 sampai 24
hari setelah IB bila hewan tersebut tidak bunting.. Penilaian terhadap NRR
bahwa setiap sapi yang tidak menunjukkan birahi kembali tidak pasti kembali
bunting. Pada saat PKL dilakukan dengan cara jika ternak yang tidak
menunjukkan birahi kembali setelah dikawinkan dalam waktu 60-90 hari

19
kemungkinan bunting. Cara perhitungan persentase NRR adalah sebagai
berikut : jumlah sapi yang tidak estrus kembali 18-24 hari setelah kawin
dibagi dengan jumlah sapi yang kawin, dikalikan dengan %.
3. Pemeriksaan Kebuntingan (PKB)
Pemeriksaan kebuntingan (PKB) adalah salah satu kegiatan yang yang
bersifat aktif dan semi aktif. Dikatakan aktif kerena petugas memerlukan data
ternak yang sudah di PKB untuk keperluan dinas (kantor) sedangkan semi
aktif artinya kandangkala peternak yang terlebih dahulu menghubungi
petugas untuk mengecek ternak yang sudah bunting atau tidak. Dalam hal ini
system pelayanan semi aktif lebih banyak terjadi dikarenakan dari peternak
antusias menghubungi petugas IB dan PKB untuk melakukan PKB ketika
melihat kondisi ternaknya yang ingin segera bunting saat telah dilakukan
pelayanan IB. PKB harus dilakukan petugas setelah melaksanakan IB
sebelumnya, untuk mengetahui keberhasilan IB maka perlu dilakukan PKB 2
bulan setelah ternak di IB, apakah ternak tersebut positif atau negatif dapat
dilihat dari siklus birahinya. Pemeriksaan kebuntingan yang paling umum
dilakukan adalah palpasi untuk mengecek adanya ovarium dengan
memasukkan tangan kedalam rectum. Tujuan PKB ini adalah untuk
mengecek adanya pertumbuhan fetus di dalam perut ternak betina yang telah
dikawinkan. Manfaatnya agar peternak bias segera mengetahui ternaknya
bunting atau tidak jika tidak maka peternak akan mempertimbangkan apakah
di jual atau disuntik hormon oleh petugas IB.
Berdasarkan pada lampiran dapat diketahui bahwa ada pelayanan
PKB yang pernah dilakukan pada hari, desa, jenis ternak serta umur
kebuntingan yang berbeda. Dapat diketahui dari pelayanan PKB ada 8 ternak
yang di diagnose tidak bunting, hal tersebbut dapat terjadi pada seekor ternak
ternak karena dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pada
saat proses IB yang dilakukan tidak sesuai prosedur misalnya straw setelah
thawing di diamkan di udara lebih dan lain sebagainya. PKB ini bertujuan
untuk mengetahui umur kebuntingan ternak dan untuk megengecek apakah

20
ternak yang telah di IB tersebut di IB tersebut bunting atau tidak (di diagnosa
positif atau negatif).
Adapun penyutikan hormon dan vitamin juga dilakukan utuk ternak
yang di PKB, obat yang diberikan bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh
ternak agar tetap sehat saat ternak bunting. Oleh karena itu, PKB ini sangat
diperlu dilakukan setelah 18-20 hari untuk dapat mengetahui ternak tersebut
telah bunting atau tidak untuk tindak lanjuti perlakuan seperti apa yang harus
diberikan disuntikkan vitamin B kompleks untuk menjaga ketahanan pada
saat bunting atau perlu di IB kembali karena IB yang pernah dilakukan tidak
berhasil.

Gambar 5. PKB
Berdasarkan tabel 1 pada lampiran 1 selama kegiatan PKL
berlangsung, ada ternak yang dilakukan pemeriksaan kebuntingan dan ada
ternak yang tidak dilakukan pemeriksaan kebuntingan karena sebagian besar
ternak betina sudah dikawinkan sebelum masa PKL berlangsung dan semua
yang sudah dikawinkan tersebut sudah dilakukan pemeriksaan kebuntingan.
Kemudian, untuk sapi-sapi betina yang dikawinkan selama periode PKL tidak
dilakukan pemeriksaan kebuntingan, karena belum saatnya untuk dilakukan
pemeriksaan kebuntingan. Pemeriksaan kebuntingan baru bisa dilakukan
setelah dua bulan dilakukan perkawinan, sementara periode PKL hanya
berlangsung selama satu bulan. Adapun jumlah ternak sapi yang bunting

21
sampai akhir kegiatan PKL adalah sebanyak 10 ekor dan ternak yang tidak
bunting sebanyak 9 ekor. Jadi, jumlah ternak yang dilakukan pemeriksaan
kebuntingan sebanyak 19 ekor.
3.3 Kegiatan tambahan
1. Penanganan kelahiran
Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan
adanya kontraksi kuat dan teratur dari uterus dan servix. Proses kelahiran
ternak kebanyakan terjadi secara normal. Ketika sudah mulai terlihat tanda-
tanda sebagai mana yang dijelaskan di atas, maka ternak yang akan
melahirkan diisolasi ke kandang tempat melahirkan atau ke tempat yang
lebih luas dan induk dibiarkan melahirkan secara alami. Apabila ternak
mengalami kesulitan dalam melahirkan, baru kemudian dibantu oleh
petugas yang menangani kelahiran ternak. Biasanya sapi dara yang baru satu
kali melahirkan akan sedikit kesulitan dalam melahirkan dibandingkan
dengan induk yang sudah lebih dari satu kali melahirkan.

Gambar 6. Melahirkan Secara Normal


Berdasarkan dibagian Tabel 4 lampiran 4 , terdapat 19 ekor ternak
yang ditangani kelahirannya. Akan tetapi dari 19 tersebut terdapat 7 ternak
yang mengalami kendala kesulitan melahirkan, yakni satu kelahiran yang
mengalami kasus kelahiran yang lemah dan yang 6 ternak distokia.

22
Terjadinya kasus kelahiran lemah dapat disebabkan oleh kurangnya asupan
nutrisi induk selama periode trimester ketiga kebuntingan, dimana pada
periode tersebut sangat dibutuhkan asupan nutrisi yang banyak supaya
perkembangan fetus bisa optimal serta lahir dalam keadaan yang normal dan
sehat. Selain itu, nutrisi yang baik di periode akhir-akhir kebuntingan
diperlukan sebagai energi induk pada saat melahirkan dan juga membantu
kerja hormonal daripada induk, sehingga proses melahirkan depat
berlangsung dengan cepat dan induk tidak lemah setelah melahirkan. Selain
itu, disebabkan karena besarnya anak dan induk yang kecil yang bisa
menyebabkan distokia dan kadang anaknya bisa mengalami kematian.
Pada kasus kelahiran yang lemah tadi, selain mengakibatkan kematian
pada pedet, induknya juga mengalami kesulitan keluar plasenta sehingga
perlu dilakukan pertolongan oleh petugas. Langkah pertama yang dilakukan
adalah dengan menginjeksi hormon oxitosin secara intramuscular sebanyak
10 ml. Setelah diijeksi, kemudian ditunggu selama 24 jam dan jika belum
keluar maka induk tersebut langsung digiring ke kandang jepit untuk
dilakukan penanganan yakni dilakukan palpasi untuk mengeluarkan
plasentanya.

Gambar 7. Pengeluaran placenta


a. Distokia
Distokia atau kesulitan dalam kelahiran. Apabila tahap pertama,
terutama tahap kedua proses kelahirkan sangat diperpanjang, sulit atau tidak

23
mungkin dilakukan induk atau tanpa bantuan petugas (fasilitator), maka
kondisi ini disebut distokia. Ditokia diusebabkan karena ternak selalu
dikandangkan. Hal ini disebabkan karena tonus otot yang kurang atau tidak
aktif seperti ternak yang sering mengalami exercise (dikeluarkan dari
kandangnya). Otot-otot yang cukup penting dalam proses kelahiran adalah
otot uterus, otot abdomen dan diafragma. Berdasarkan faktor penyebabnya,
distokia digolongkan menjadi 3 yaitu, karena faktor fetus (distokia foetalis),
faktor maternal (distokia maternalis) dan faktor mekanik. Kejadian distokia
terbesar diakibatkan oleh foetus yang mencapai 80 – 85 %, faktor maternal
14 – 19 .

Gambar 8. Distokia (Melahirkan Secara Tidak Normal)


b. Abortus
Adapun kendala pada kelahiran yang satunya adalah terjadi kasus
abortus. Kasus abortus ini juga bisa disebabkan oleh kekurangan nutrisi
induk, selain itu asumsi yang paling besar adalah disebabkan oleh bakteri.
Penyebab abortus lainnya adalah dsebabkan oleh bakteri, antara lain kuman
Brucella, Leptospira, Camphylobacter, Chlamydia, Chlamydophila dan
Vibrio. Upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan penyakit abortus ini
adalah memisahkan sapi yang menderita abortus dari kawanan ke tempat
isolasi, menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang terkena
abortus, tidak memberikan air susu kepada sapi dengan air susu sapi yang
terkena abortus, pengguguran plasenta juga fetus dibakar dan dikubur. Induk

24
yang mengalami abortus dilakukan penyepulan untuk mengembalikan
keadaan normal atau membersihkan bagian rektum agar bisa mengalami
bunting kembali.

Gambar 9. Penyepulan
c. Penanganan kelahiran
Pedet setelah dilahirkan oleh induknya, induk akan langsung menjilati
ari-ari tubuh pedet yang penuh dengan lendir. Namun, jika terlalu lama maka
akan segera dibantu oleh petugas kandang dengan membersihkan
menggunakan kain yang bersih. Tujuan dari pembersihan lendir oleh induk
secara alamiah adalah lendir tersebut menjadi sumber nutrisi pertama bagi
induk yang baru melahirkan dan untuk menhilangkan bau amis supaya tidak
tercium oleh hewan predator jika di alam liar. Tujuan lain dari pembersihan
lendir ini agar pedet tidak kedinginan dan merangsang respirasi alami bagi
pedet.
Normalnya pedet akan mulai menyusu pada induknya 0,5-1 jam setelah
dilahirkan. Apabila dalam satu jam lebih pedet masih belum bisa menyusu
maka akan dibantu oleh petugas dengan menyusukannya kepada induk atau
petugas yang memerah kemudian disusukan ke pedet menggunakan dot. Hal
tersebut sangat penting supaya pedet mendapatkan kolostrum. Kolostrum
adalah susu yang diihasilkan oleh sapi setelah melahirkan sampai sekitar 5

25
atau 6 hari. kolostrum sangat penting bagi pedet setelah lahir karena
kolostrum mengandung zat pelindung atau antibodi yang dapat menjaga
ketahanan tubuh pedet dari penyakit yang berbahaya. Jika pedet terlahir
dalam kondisi yang sehat maka beberapa waktu kemudian akan bisa berdiri
dan mulai mencari puting induk untuk memperoleh kolostrum. Namun
apabila ternak yang lahir dalam keadaan lemah, maka petugas akan
membantu pedet supaya bisa mendapat kolostrum yakni dengan memerah
induk dan colostrum dimasukkan ke dalam dot bayi kemudian diberikan
kepada pedet tersebut.
Pedet-pedet yang baru lahir akan dibiarkan bersama induknya selama
kurang lebih 3 bulan supaya pedet bisa dengan leluasa mendapatkan asupan
susu dari induk. Hal ini dimaksudkan agar pedet dapat bertumbuh dan
berkembang dengan baik sehingga menjadi pedet yang sehat dan lincah.
Setelah 3 bulan dibiarkan bersama dengan induk, kemudian pedet disapih dan
ditempatkan pada kandang pedet. Induk akan dikawinkan kembali setelah 2
bulan setelah melahirkan, yakni ketika alat/saluran reproduksi kembali
normal terutama uterus sudah kembali ke ukurannya yang normal seperti
sebelum bunting (involusi uteri). Menurut Feradis (2014a), involusi uterus
membutuhkan waktu kurang lebih 45 hari setelah partus.

Gambar 10. Penanganan kelahiran

26
d. Prolapsus
Prolapsus uteri (broyong) adalah kondisi dimana rahim (uterus)
ternak betina keluar dari tubuh pada saat ternak betina merejan. Sebagian
besar prolapsus uteri terjadi karena dilakukan inseminasi buatan dengan
bibit unggul pada sapi simental sehingga menyebabkan terjadinya distokia
dan dilakukan penarikan paksa yang menyebabkan penggantungan uterus
putus sehingga terjadi prolapsus uteri. Kasus prolapsus uteri sering terjadi
pada hewan yang tidak bergerak secara teratur sehingga menyebabkan
otot-otot saluran reproduksi tidak fleksibel dan menyebabkan gangguan
sirkulasi darah sehingga pada saat partus kesulitan sehingga terjadinya
distokia yang dapat memicu terjadinya prolapsus uteri. Kondisi akan selalu
berulang kecuali dengan penanganan yang cermat. Pada kasus prolapsus
uteri mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada pula
yang sebagian. Prolapsus atau pembalikan uterus sering terjadi segera
sesudah partus dan jarang terjadi beberapa jam itu. Predisposisi terhadap
prolapsus uteri adalah pertautan mesometrial yang panjang, uterus yang
lemah, atonik dan mengendur, retensi plasenta pada apek uterus bunting
dan relaksasi daerah pelvis yang berlebihan.
Penanganan prolapsus uteri:
Penanganan secar teknis yaitu dengan menempatkan ternak pada
kandang dengan kemiringan 5-15 cm lebih tinggi dari bagian belakang.
Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah.
Uterus dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan. Uterus dicuci
bersih dengan air yang ditaruhkan antisptik sedikit. Uterus direposisi,
sesudah uuterus kembali secara sempurna ke tempatnya, injeksi oksitosin
30-50 ml intramuskuler. Kedalam uterus dimasukkan larutan tardomisol
(TM) atau trramisin. Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa
atau Bunher. Penyuntikan antibiotic secara intramuskuler diperlukan untuk
pencegahan infeksi uterus. Prinsip dasar penanganan kasus ini adalah
mengembalikan organ yang mengalami prolapsus ke posisi normalnya.

27
Gambar 11. Prolapsus
2. Penanganan Penyakit
Penanganan Penyakit hewan dilakukan saat ditemukan adanya
kelainan atau gejala klinis yang terlihat pada hewan setelah dilakukan
pengontrolan secara rutin. Proses penanganan kesehatan pada ternak
dilakukan oleh petugas IB, PKB, dan ATR. Penanganan penyakit dilakukan
secara semi aktif atrtinya petugas datang ke lokasi peternak setelah peternak
menghubungi petugas untuk mengobat ternaknya tentunya ada proses
wawancara mengenai kondisi ternaknya sebelum ke lokasi peternak.
Sehingga, petugas langsnung datang ke lokasi untuk mengecek
keadaan ternaknya. Pengamatan dilakukan dengan cara langsung masuk
kedalam kandang dengan memastikan petugas pengontrol dalam posisi aman
dan ternak sapi yang diamati tetap dalam kondisi nyaman. Tujuan dari
kegiatan ini yaitu untuk memastikan bahwa ternak dalam keadaan sehat baik
fisik maupun psikologisnya karena dengan begitu suatu usaha peternakan
akan cepat berhasil dan berkembang. Namun apabila ada ternak yang sakit
maka diperlakukan sesuai dengan prosedur (SOP) perusahaan yang tentunya
tidak keluar dari “Animal welfare”. Sebelum memonitor dan mengontrol
ternak, harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana ciri – ciri ternak yang
sehat maupun sakit.

28
Ada beberapa penyakit pada ternak sapi yang pernah dilakukan antara
lain: lemah, pincang, penyakit perut kembung (bloat) brucellosis, mastitis,
enteritis, demam, kontoran tidak teratur, endometritis dan myasis. Adapun
jenis obat yang digunakan hampir sama hanya saja berbeda dosis yang
digunakan. Penyakit lemah dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, baik bakteri
gram positif maupun bakteri grang negative. Selain itu, juga dapat disebabkan
karena kekurangan vitamin. Gejala yang ditimbulkan akibat dari penyakit
lemah ini antara lain nafsu makan menurun, ternak malas bergerak, serta
terlihat lesuh. Pengobatan ternak yang lemah adalah dengan melakukan
injeksi injectamin dan penstrep-400 pada masing-masing bagian leher kiri
dan kanan. Dosis yang digunakaan: injectamin 2,5-5,0 ml/100-300 kg bobot
badan, sedangkan penstrep 1,0 ml/10 kg bobot badan.
Penyakit pincang adalah sebuah jenis abnormalitas asimetris dari daya
jalan. Pincang dapat disebabkan oleh cidera, lemah, ketidaksimbangan otof
saraf atau kelainan bentuk kerangka tulang. Sebab palig umum dari cendera
pivang adalah trauma fisik . Penanganan dilakukan dengan suntik vitamin B-
kompleks dan medoxy L.
Penyakit perut kembung (bloat) adalah penimbunan gas yang
berlebihan pada rumen sehingga legok lapar menggebung. Bloat merupakan
penyakit alat pencernaan yang disertai penimbunan gas dalam lambung akibat
proses fermentasi berjalan cepat. Penanganan melalui suntik dengan
menggunakan obat yaitu sulfidon 8 ml, viamin 10 ml, dan tifanol -5 B
(campur air hangat ½ gelas) 80 ml.
Penyakit myasis atau belatungan adalah investasi larva lalat ke dalam
suatu jaringan hidup hewan berdarah panas termasuk manusia. Lalat yang
sering menjadi penyebab penyakit myasis ini adalah lalat Chrysomya
bezziana. Investasi larva myasis tidak menimbulkan gejala klinis yang
spesifik serta sangat bervariasi tergantung pada lokasi luka. Gejala klinis pada
hewan yakni demam, radang, peningkatan suhu tubuh,kurang nafsu makan,

29
tidak tenang sehingga mengakibatkan penurunn bobot badan dan produksi
susu ternak, kerusakan jaringan, infertilitas, hipereosinofilia serta anemia.
Pengobatan penyakit myasis adalah pertama-tama membersihkan luka
dengan menggunakan kapas dan alkohol, selanjutnya semprot dengan
noromectin pada luka, tetesi dengan iodine atau betadin dan mengambil ulat
menggunakan pinset. Setelah semua ulat keluar masukkan tembakau kedalam
luka tersebut dan terakhir injeksi dengan penstrep-400 sebanyak 1 ml/10 kg
bobot badan ternak. Proses penanganan pada penyakit ini harus segera
dilakuk an sebelum terjadi penyebaran yang dapat dapat menyebabkan
ternak mati.

Gambar 12. Penyakit Myasis


3. Penanganan Penyuntikan Hormon
Proses penyuntikan hormone dilakukan oleh petugas IB. Pelayanan ini
bersifat semi aktif artinya peternak menghubungi petugas untuk melihat
kondisi ternaknya dan melakukan wawancara sebelum ke lokasi peteernak
yang bersangkutan. Penyuntikan hormone dapat dilakukan karena terkadang
peternak yang ingin mengetahui ternaknya sudah bunting atau tidak dan tidak
mengetahui bagaimana bisa mengambil kesimpulan terhadap kondisi
ternaknya, itulah mengapa peternak langsung menghubungi petugasuntuk

30
mengecek langsung kondisi ternaknya. Proses penanganan penyuntikan
hormone ini dilakukan pada ternak tujuannya untuk menjaga kondisi ternak
agar tetap dalam kondisi sehat. Hormone adalah derivate protein, lemak atau
asam amino yang telah disekresikan akan bertindak pada reseptor untuk
menimbulkan reaksi pada masing-masing sel reseptif. Hormone secara alami
diproduksi oleh hewan, menyebabkan perubahan morfologi, tingkah laku,
fisiologi dan biokemis. Berdasarkan kegiatan PKL yang telah dilakukan ada
12 proses pelayanan penyuntikan hormone yang pernah dilakukan yaitu 11
pada ternak sapi dengan jenis yang berbeda yakni 1 ekor sapi Simbal, 5 ekor
sapi Bali, 1 ekor sapi Limosin dan 4 ekor sapi Simental dan 1 ekor Kuda.
Penggunaan hormone baik untuk meningkatkan reproduki ternak
ataupun menacapai berat badan ideal. Disamping itu proses penyuntikan
hormone ini dapat dilakukan setelah di Inseminasi Buatan (IB) tidak bunting
atau ternak yang tidak kembali birahi dan ternak yang sailent hate (birahi
tenangn) untuk merangsang agar birahi dan dapat dilakukan Inseminasi
Buatan (IB). Selain itu, penyuntikan hormone pada ternak bunting untuk
menjaga kandungannya agar tetap sehat dan kuat. Penyuntikan hormone yang
digunakan yaitu capriglandine dengan dosis 4-5 ml dan apabila sailent hate
hormone yang digunakan estrogen dengan dosis 2,5 ml dan injekvit-B12.
Selain itu, apabila suntik hormone sebelum melahirkan yaitu menggunakan
intracin 10 S.
4. Injeksi Vitamin
Injeksi vitamin pada ternak dilakukan oleh petugas IB. Pelayanan ini
bersifat semi aktif artinya petugas menerima panggilan atau dihubungi oleh
peternak. Pada saat itulah petugas menyiapkan peralatan untuk segera ke
lokasi peternak setelah melakukan wawancara mengenai kondisi ternaknya.
Pelayanan suntik sehat adalah penambahan multivitamin untuk menjaga
ketahanan tubuh ternak karena merupakan salah satu senyawa kompleks yang
sangat dibutuhkan oleh tubuh ternak. Senyawa yang diproduksi di dalam
tubuh ternak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh ternak

31
sehingga memerlukan asupan dari luar berupa Vitamin B Kompleks dan
Injekvit B-12 yang diberikan dengan cara disuntik sub kutan pada ternak.
Sehingga suntik sehat perlu dilakukan untuk memberikan tambahan vitamin
untuk tetap agar dapat menjaga system metabolisme tubuhnya.
Data pelayanan suntik sehat yang pernah dilakukan adalah sebanyak
35 kali pelayananan di dusun yang berbeda meliputi ternak sapi. Adapun
ternak sapi dari berbagai macam jenis sapi yakni 17 ekor sapi Bali, 1 ekor
sapi Simbal, 9 ekor sapi Simental, 4 ekor sapi Angus dan 4 ekor sapi Limosin.
Adapun vitamin yang digunakan berupa Vitamin B-Compleks dan
injektamin-B12 dengan masing-masing menggunakan dosis yang sama yakni
7 ml atau 10 ml tergantung umur ternak. Selain itu, pemberian obat cacing
tujuannya untuk meningkatkan nafsu makan ternak dan ternak sapi dari
berbagai macam jenis yakni (Bali, Simental, Angus dan Limosin). Serta
suntik vitamin yaitu pada ternak sapi Bali dan Simental. Karena kondisi
ternak yang sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan maka harus
diberi multivitamin. Sehingga, ternak tetap dalam keadaan sehat dan vitamin
yang dibutuhkan ternak dapat terpenuhi untuk kebutuhan nutrisinya.

Gambar 13. Injeksi vitamin ternak

32
4. Pemeriksaan Hati Hewan Qurban
Pemeriksaan hati dilakukan untuk mengetahui kondisi hati
ternak, apakah mengandung cacing hati atau tidak. Pada hasil
pemriksaan yang dilakukan di maing – masing desa yang bebeda
didapatkan hasil yaitu ada beberapa ternak sapi yang terdapat cacing.
Tetapi cacingnya hanya sedikit dan masih bisa dikonsumsi dan ternak
yang lainnya tidak mengandung cacing hati. Cacing ahati adalah sebuah
kelompok polifeletik yang terdiri dari trematoda parasit dalam filum
platyhelminthes. Cacing hati mampu bergerak melalui system
peredaran darah, sehingga dapt ditemukan juga disaluran juga disaluran
empedu, kantung empedu dan patenkim hati.

Gambar 14. Pemeriksaan Hati


5. Produksi pakan konsentrat
Pakan merupakan salah satu faktor untuk menunjang keberhasilan
dalan usaha penggemukan sapi potong. Pada usaha sapi potong di perlukan
pakan yang cukup untuk memberikan asupan nutrisi yang baik pada ternak.
Pada umumnya jenis pakan untuk ternak dapat dibedakan menjadi 2 macam
yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. Kelompok Tani Ternak Bareng
Mele II yang diketuai oleh Pak Subhan Apandi, [Link] atau sekligus fasilitator
pembimbing PKL telah mampu memproduksi pakan konsentrat sendiri,
dengan begitu kebutuhan akan bahan pakan bisa diatasi dan tercukupi, karena
bahan pakan yang diproduksi khususnya bahan pakan konsentrat bukan saja

33
untuk diberikan kepada ternak yang dipelihara, namun pakan yang di
produksi ada juga yang akan dijual, sehingga sampai sekarang. Kelompok
Tani Ternak Bareng Mele II mampu menekan biaya terhadap penyediaan
bahan pakan khususnya konsentrat. Produksi pakan konsentrat melalui
beberapa tahapan, antara lain: penerimaan bahan baku, penyimpanan,
produksi (pencampuran bahan), Penyimpanan dalam drum, pengarungan,
penimbangan dan pengikatan karung.
Produksi pakan konsentrat setiap harinya tergantung pada permintaan
devisi feed control. Produksi pun dapat mencapai 500 kg per harinya atau
pembuatan jika pasokan konsentrat sudah berkurang. Produksi pakan
konsentrat di Kelompok Tani Ternak Bareng Mele II terdiri dari beberapa
jenis bahan pakan, antara lain:
Berdasarkan pada lampiran Tabel 5 pakan ternak yang di produksi di
Kelompok Tani Ternak Bareng Mele II yang diketuai oleh pak Subhan
Apandi, [Link] atau fasilitator pembimbing PKL yang terdiri dari pakan
ruminansia. Pakan-pakan diatas memiliki perbedaan sesuai dengan nutrisi
kebutuhan. Proses pembuatan pakan konsentrat di Kelompok Tani Ternak
Bareng Mele II terbilang sudah cukup canggih, karena sudah menggunakaan
mesin pencampur, tetapi pencampuran dalam satu kali campur hanya dengan
kapasitas sebanyak 25 kg. Setelah bahan-bahan baku ditimbang, maka
langsung dimasukkan ke dalam mesin pencapur ini dengan mendahulukan
bahan-bahan yang ukurannya lebih besar. Tujuannya adalah supaya bahan-
bahaan tersebut mudah tercampur dan bisa homogen dalam waktu yang cepat.
Waktu yang diperlukan untuk mencampur pakan ini adalah sekitar
kurang lebih 10 menit. Setelah selesai dicampur selanjutnya mematikan
mesin dan membuka bagian atas mesin, membalik tutup mesin tersebut
sebagai jalan untuk keluar pakan. Maka pakan langsung keluar/jatuh dengan
sendirinya dan pekerja memasukkan pakan ke dalam drum menggunakan
sekop. Pada kapasitas 25 kg terdapat 10 kg dedak halus seharga 2.500 ribu
rupiah/kg sehingga totalnya 25000 ribu rupiah, pada bungkil kacang tanah

34
dengan kapasitas 6,25 kg seharga 4.500 ribu rupiah/kg sehingga totalnya 27.
112 ribu rupiah, pada bungkil inti sawit dengan kapasitas 5 kg dengan harga
4.500 ribu rupiah/kg dengan total 24000 ribu rupiah, dan molasses dengan
kapasitas 3,75 kg dengan harga 6000 ribu rupiah/kg dengan total 22.500 ribu
rupiah. Jadi konsentrat dengan kapasitas 25 kg dengan total biaya 49.049,612
ribu rupiah pada bahan konsentrat saja belum upah pekerja 30.000rb dan
karung 1 karung seharga 1000 rb dengan kapasitas 25kg kosentrat jadi
keseluruhan biaya pembuatan konsentrat 80.049,612rb. Harga jual pada
konsentrat tersebut dengan harga 4000rb/kg jadi jika 25kg yang dibuat maka
harga jual 100.000 dan mendapatkan keuntungan kurang lebih 20.000rb
dalam 25kg. Setiap ada yang membeli pakan, baru pakan dimasukkan ke
dalam karung, penimbangan, pengikatan karung yang sudah berisi konsentrat
dan melakukan pengantaran ke masing-masing kandang sesuai dengan
jumlah yang dibutuhkan menggunakan pick-up atau pembeli sendiri yang
mengambilnya sendiri.

Gambar 15. Pembuatan Konsentrat


2.4 Manfaat Kegiatan PKL
Adapun manfaat yang di peroleh dari kegiatan PKL adalah
sebagai berikut :
1. Manfaat bagi mahasiswa
a. Memperoleh ilmu pengetahuan baik teori maupun praktek khususnya dalam
proses dan tatalaksana hasil IB.

35
b. Dapat menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan
mahasiswa dalam proses palpasi per rectal, Pemeriksaan Kebuntingan (PKB),
pengananan kelahiran, penanganan penyakit pada ternak, pelayanan suntik
sehat dan proses penyuntikan hormon serta pembuatan pakan konsentrat
c. Mengetahui teknik penanganan perkawinan pada ternak .
d. Mempratikkan dengan baik dan membandingkan teori yang didapat
diperkuliahan dengan lapangan.
2. Manfaat bagi UPT Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong
a. Dapat bekerjasama dengan mahasiswa untuk membantu perusahaan dan
dapat saling berbagi pengatahuan dengan mahasiswa. Serta dalam rangka
meningkatkan pengetahuan dan keahlian mahasiswa (Life skill).
b. Sebagai pendukung dan penghubung UPT Puskeswan dan Peternakan
Kecamatan Selong dengan perguruan tinggi khususnya Fakultas Peternakan
Universitas Mataram untuk meningkatkan sumber daya manusia dalam
menghadapi kemajuan teknologi dalam bidang reproduksi ternak.
c. Sebagai sarana dan prasarana untuk memperkenalkan program UPT
Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong kepada lembaga perguruan
tinggi untuk mendukung kemajuannya.
d. Dapat membantu dan meringankan pekerjaan fasilitator yang ada di UPT
Puskeswan dan Peternakan Kecamatan Selong.
3. Manfaat bagi lembaga (Fakultas)
a. Adanya kerjasama yang baik dan berkelnajutan antara tempat PKL dan
Fakultas Peternakan Universitas Mataram (mahasiswa terkait) serta dosen
pembimbing PKL dan pengurus Fakultas Peternakan Universitas Mataram
dalam aplikasi ilmu pengetahuan bagi kemajuan teknologi khususnya di
bidang peternakan maupun untukmenerima kembali Mahsiswa PKL
selanjutnya.
b. Mahasiswa dapat berbagi pengalaman khususnya tentang manajemen
reproduksi ternak betina di tempat PKL kepada pembimbing dan mahasiswa
lainnya.

36
BAB III
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN
3.1. Permasalahan
Ada beberapa permasalahan yang dapat dijumpai pada saat
melaksanakan pelayanan praktik kerja lapang di Kecamatan Selong Lombok
Timur yang berkaitan langsung dengan kegiatan PKL diantaranya yaitu sebagai
berikut:
1. Keterbatasan untuk bisa mencoba sendiri proses dari kegiatan seperti
inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan kita hanya bisa mengamati saja.
Kegiatan yang bisa kita coba lakukana yaitu pemasangan gun, palpasi rectal,
pengananan kelahiran, penanganan penyakit pada ternak, pelayanan suntik
sehat dan proses penyuntikan hormon serta pembuatan konsentrat.
2. Pemberian pakan tambahan pada induk bunting di semester ke-3 (pakan
flusing) kurang diperhatikan.
3. Kurangnya pengetahuan peternak tentang pengamatan ternak birahi.
4. Keterlambatan peternak menghubungi fasilitator sehingga menyebabkan
terlambatnya terjadinya pelayanan terhadap ternak yang akan di IB.
3.2. Pemecahan

37
Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi permasalahan
yang sedang dihadapi adalah:
1. Mahasiswa PKL lebih banyak mengamati secara cermat tentang proses
Inseminasi Buatan agar lebih memahami dan mengerti proes tersebut.
2. Kurangnya perhatian terhadap pemberian pakan tambahan kepada ternak
induk trimester ke-3 alasanya karena ternak yang bunting disatukan didalam
kandang kelompok tanpa memperhtikan usia kebuntingannya, sehingga
pemberian pakan tambahan pada ternak induk trimester ke-3 sulit dilakukan.
Untuk mengatasinya adalah ternak-ternak bunting yang sudah menginjak usia
kebuntingan lebih dari enam bulan dipisahkan dari kawanan dan ditempatkan
pada kandang khusus (kandang isolasi).
3. Memberikan arahan kepada peternak bagaimana cara mengamati tanda-tanda
birahi pada ternak sehingga peternak dapat mengetahui gejalanya.
4. Cara untuk menangani peternak yang telat melapor kepada fasilitator adalah
dengan cara menelpon peternak untuk diingatkan bahwa ternak sudah birahi
kembali atau fasilitator memberi pemahaman kepada peternak untuk
mengetahui gejala-gejala birahi pada ternak yang baik dan tepat waktu.

38
39
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Dari kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) yang telah dilaksanakan dapat
disimpulkan bahwa dengan kegiatan PKL ini Mahasiswa diberi kesempatn
untuk praktik secara langsung di lapangan dan dapat menambah wawasan,
pengetahuan, keterambilan.
2. Menambah pengalaman dan mampu mengaplikasikan khususnya dalam
bidang reproduksi yang telah didapat saat di lapangan bersama fasilitator
dalam beberapa hal seperti cara bersosialisasi dengan peternak, teknik
pengamatan dan deteksi birahi, Inseminasi Buatan (IB), proses palpasi per
rectal, Pemeriksaan Kebuntingan (PKB), pengananan kelahiran, penanganan
penyakit pada ternak, pelayanan suntik sehat dan proses penyuntikan hormon
serta pembuatan pakan konsentrat.
3. Untuk itu, PKL ini sangat baik dan bermanfaat sehingga diharapkan dapat
membantu Mahasiswa mengembangkan keahlian dalam bidang ini baik
kegiatan utama yakni prosedur dan tatalaksana hasil IB maupun kegiatan
lainnya seperti IB, penyuntikan hormone, penanganan kesehatan dan lain
sebagainya seperti penjelasan tersebut sebelumnya.
4.2. Saran
Adapun beberapa saran yang dapat praktikan berikan dalah sebagai
berikut:
1. Dalam melakukan setiap aktivitas kerja di lapangan hendaknya
memperhatikan prosedur kerja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
2. Dalam melaksanakan prosedur dan tatalaksana hasil Inseminasi Buatan
diharapkan dilakukan dengan mengutamakan kehati-hatian, teliti dan
dilakukan dengan baik agar mendapakan hasil yang akurat.

40
3. Dalam melaksanakan proses Inseminasi Buatan diharapkan mengutamakan
kehati-hatian dan dilakukan dengan baik agar tingkat keberhasilan IB menjadi
lebih tinggi. Selain itu, prosees pengerjaanya harus disiplin sehingga dapat
meng-IB ternak secara tepat.
4. Bagi mahasiswa PKL harus bekerja sungguh-sungguh dan mencari ilmu
sebanyak-banyaknya supaya pada saat kembali ke kampus mendapatkan ilmu
yang maksimal, karena teori terkadang tidak sebnading dengan praktik secara
langsung.

41
DAFTAR PUSTAKA

Fradis. 2010. Reproduksi Ternak. CV Alfabeta. Bandung.


Hunter R.H.F., 1995. Fisiologi dan teknologi reproduksi hewan betina
domestik. ITB: Bandung.
Siahaan E. A., 2012. Efektivitas penambahan berbagai konsentrasi β-Karoten
terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa sapi bali post thawing.
Indonesia Medicus Veterinus, 1 (2): 239-251

42
Lampiran 1. Foto Kegiatan Selama PKL

Gambar 2. Tempat thawing


Gambar 1. Container kecil
straw

Gambar 3. Kartu ternak [Link] straw

Gambar 5. Memasukkan straw Gambar 6. Pelaksanaan IB

43
Gambar 7. Palpasi rektal Gambar 8. Penanganan
kelahiran

Gambar 9. Retensio plasenta Gambar 10. Penyuntikan

Gambar 11. Nyepul Gambar 12. Prolapsus

44
Gambar 13. Antibiotik dan Gambar 14. disokia

multivitamin

Gambar 15. Pemberian obat cacing Gambar 16. Pemeriksaan


hewan qurban

Gambar 17. Pembuatan konsentrat Gambar 18. Myasis

45
Gambar 19. Pertemuan di Dinas Gambar 20. Perpisahan PKL
peternakan dan Stap UPT

46
Lampiran 5. Biodata Pribadi

Nama : MUTAMMIMATUL ADIAN


NIM : B1D017216
TTL : Pengempok, 15 April 1999
Agama : ISLAM
Program studi : S1 Peternakan
Fakultas : Peternakan
Universitas : Universitas Mataram
IPK : 2, 78
Alamat : Jln. Swakarsa no.2 Kekalik Grisak Kec. Sekarbela
[Link]/Hp : 082 341 897 488

47

Anda mungkin juga menyukai