0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan10 halaman

Panduan Lengkap Electro Convulsive Therapy

ECT (Electro Convulsive Therapy) adalah terapi dengan mengalirkan listrik ke pelipis pasien untuk menimbulkan kejang. Terapi ini digunakan untuk mengatasi depresi berat dan gangguan bipolar. Efek terapinya belum jelas tetapi diduga melibatkan perubahan aliran darah otak dan neurotransmiter. Prosedurnya memerlukan persiapan pasien, peralatan, dan observasi pasca tindakan.

Diunggah oleh

Ika Indah Priyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan10 halaman

Panduan Lengkap Electro Convulsive Therapy

ECT (Electro Convulsive Therapy) adalah terapi dengan mengalirkan listrik ke pelipis pasien untuk menimbulkan kejang. Terapi ini digunakan untuk mengatasi depresi berat dan gangguan bipolar. Efek terapinya belum jelas tetapi diduga melibatkan perubahan aliran darah otak dan neurotransmiter. Prosedurnya memerlukan persiapan pasien, peralatan, dan observasi pasca tindakan.

Diunggah oleh

Ika Indah Priyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STASE KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN

ELECTRO CONVULSIVE THERAPY

DISUSUN OLEH :

IKA INDAH PRIYANI

203203033

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2020

1
KONSEP ELECTRO CONVULSIVE THERAPY (ECT)

2
1. Pengertian

ECT (Electro Convulsive Therapy) adalah suatu tindakan terapi dengan


menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik
maupun klonik. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan
arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk
membangkitkan kejang tonik klonik umum dengan efek terapeutik.

2. Mekanisme Kerja ECT

Mekanisme kerja terapeutik ECT masih belum banyak diketahui. Salah satu
teori yang brkaitan dengan hal ini adalah teori [Link] ini mempelajari
aliran darh serebral, suplai glukosa dan oksigen, serta permea bilitas sawar otak akan
meningkat. Setelah kejang, aliran darah dan metabolisme glukosa menurun. Hal ini
paling jelas dilihat pada lobus frontalis. Beberapa penelitian mengatakan bahwa
derajat penurunan metabolisme serebral berhubungan dengan respon terapeutik.

Teori lain adalah teori neurokimiawi yang memusatkan perhatian pad


perubahan neurotrasmiter dan second messenger .Hampir semua pada sistem
neurotrasmiter dipengaruhi oleh [Link] ahir ini mulai berkembang neuroplastisitas
yang berhubungan dengan stimulasi kejang [Link] percobaan hewan,di jumpai
plastisitas sinaps, dihipotalamus,yakni pertumbuhan serabut saraf, peningkatan
konektifitas jaras saraf, dan terjadinya neurogenesis

3. Jenis ECT

Jenis ECT ada 2 macam :

a. ECT konvensional

ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada pasien


sehingga tampak tidak [Link] konvensional ini di lakukan tanpa
menggunakan obat-obatan anastesi seperti pada ECT premedikasi.

b. ECT pre-medikasi

3
Terapi ini lebih manusiawi dari pada ECT konvensional,karena pada
terapi ini di berikan obat-obatan anastesi yang bisa menekan timbulnya kejang
yang terjadi pada pasien.

4. Fekuensi Tindakan ECT

Frekuensi pemberian ECT tergantung pada keadaan pemberita yang dapat di


perlakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Pemberian ECT secara blok 2-4 hari berturut-turut 1-2 kali sehari.

b. Dua sampai tiga kali seminggu.

c.  ECT “maintanance’ sekali tiap 2-4 minggu.

d. Pasien dengan gangguan depresi berat di berikan antara 5-10 kali.

e. Untuk pasien yang mengalami gangguan di polar,mania,dengan


gangguan skijo frenia,pasien baru mendapat respon yang maksimum
setelah 20-25 kali tindakan ECT.

5. Indikasi

Indikasi penggunaan ECT adalah :

a. Penyakit depresi berat yang tidak berespon terhadap obat anti depresan atau
pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat.

b. Gangguan bipolar dimana pasien sudah tidak berespon terhadap obat lagi.

c. Pasien dengan bunuh diri akut yang sudah lama tidak menerima pengobatan
untuk dapat mencapai efek terpeutik.

d. Jika efek samping ECT yang diantisipasikan lebihrendah dari padaefek terapi
pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung, dan selam
kehamilan.

6. Kontraindikasi

4
ECT merupakan prosedur yang hanya digunakan pada keadaan yang
direkomendasikan. Sedangkan kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan ECT,
adalah sebagai berikut:

a. Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP).

b. Keguguran pada kehamilan, gangguan sistem muskuloskeletal


(osteoartritis berat, osteoporosis, fraktur karena kejang grandmall).

c. Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi,


aritmia dan aneurisma.

d. Gangguan sistem pernafasan, asma bronkial.

e. Keadaan lemah.

7. Komplikasi

a. Amnesia (retrograd dan anterograd) bervariasi dimulai setelah 3-4 terapi


berakhir 2-3 bulan (tetapi [Link] lebih lama dan lebih berat dengan
metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik yang
meningkat dan adanya organik sebelumnya.

b. Sakit kepala, mual, nyeri otot.

c. Kebingungan.

d. Reserpin dan ECT diberikan secara bersamaan akan berakibat fatal

e. Fraktur jarang terjadi dengan relaksasi otot yang baik.

f. Risiko anestesi pada ECT, atropin mernperburuk glaukom sudut sempit, kerja

Suksinilkolin diperlama pada .keadaan defisiensi hati dan bisa


menyebabkan hipotonia.

8. Efek Samping Penggunaan ECT

5
Adapun efek samping yang timbul dari tindakan ECT secara konvensional
adalah dislokasi vertebra,takikardi, hipertensi,spasme laring paralise nervus
peronosus, status epileptikus, dan kerusakan gigi. Sedangkan efek samping dari ECT
pre-medikasi adalah aspirasi pneumonia, apnoe, alergi obat-obatan pre-medikasi, dan
bradicardi paska kejang. Secara umum efek samping akibat kejang antara lain
hemoptoe, fraktur dan panas.

9. Peran Perawat

Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan


mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.

10. Persiapan Alat

Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai berikut:

a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer).

b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain.

c. Kain kasa.

d. Cairan Nacl secukupnya

e. Spuit disposibel.

f. Obat SA injeksi 1 ampul.

g. Tensimeter.

h. Stetoskop.

i. Slim suiger.

j. Set konvulsator.

11. Persiapan Klien.

6
a. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan
yang akan dilakukan.

b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya


kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT.

c. Siapkan surat persetujuan.

d. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT.

e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin
dipakai klien

f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi

g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum
ECT

h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnotik, dan


antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan
beberapa hari sebelumnya karena berisiko organik.

i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam


sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal dan
menurunkan sekresi gastrointestinal.

12. Pelaksanaan

a. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan


rata dan cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian
dikendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.

b. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai


untuk menghasilkan koma ringan.

c. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk


menghindari kemungkinan kejang umum.

7
d. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat
elektrode menempel.

e. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi
caira Nacl.

f. Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang


dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit.

g. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang
dengan dilapisi kain.

h. Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan


mengikuti gerak kejang.

i. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai
timer berhenti dan dilepas.

j. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan


kejang (menahan tidak boleh dengan kuat).

k. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan


diafragma.

l. Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger.

m. Kepala dimiringkan.

n. Observasi sampai klien sadar.

o. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan.

13. Post ECT

a. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil.

b. Jaga keamanan.

8
c. Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan,
biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.

9
DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa.
Jakarta : Trans Info Media.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J., dan Grebb, J.A. (2000). Synopsis of Psychiatry. New
York : Williams and Wilkins

Stuart, G.W. dan Laraia, M.T. (2001). Principles and Practice of Psychiatric
Nursing. (Ed ke-7). St. Louis: Mosby, Inc.

Maramis, W.F. 1994. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press

Baihaqi, MIF. 2007. Psikiatri. Bandung : PT. Refika Aditama.

10

Anda mungkin juga menyukai