0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan31 halaman

Keberhasilan Terapi Hipnoterapi Paliatif

Dokumen tersebut membahas tentang implementasi asuhan keperawatan paliatif dengan fokus pada terapi komplementer hipnoterapi. Terapi komplementer dipilih untuk mengatasi masalah pasien seperti nyeri dan gangguan psikologis. Prosedur hipnoterapi dijelaskan beserta alasan memilih terapi tersebut.

Diunggah oleh

diajengratna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan31 halaman

Keberhasilan Terapi Hipnoterapi Paliatif

Dokumen tersebut membahas tentang implementasi asuhan keperawatan paliatif dengan fokus pada terapi komplementer hipnoterapi. Terapi komplementer dipilih untuk mengatasi masalah pasien seperti nyeri dan gangguan psikologis. Prosedur hipnoterapi dijelaskan beserta alasan memilih terapi tersebut.

Diunggah oleh

diajengratna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PALIATIF

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN FOKUS PADA


TERAPI KOMPLEMENTER : HIPNOTERAPI

Disusun Oleh:
Kelas 5D Kelompok 3
 Diajeng Ratna Dila Juwita
 Indri Sesa Febrianda
 Insyra Putri Anisa
 Muhammad Destriadi
 Reda Dwiyanti
 Revi Ade Mukti
 Robbiatul Istiqomah
 Sa’rah Fauziyyah
 Selviana Putri
 Siti Jihan Juhaeriah
 Sukmawati Agung S.

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan judul “Asuhan Keperawatan paliatif ditinjau dari aspek budaya”. Kami
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyusun makalah ini. Kami juga berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan yang luas bagi pembaca. Dengan
segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan dari
para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada
tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Jakarta, Desember 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 LatarBelakang...................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................1
1.3 Tujuan...............................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................3
2.1 Definisi..............................................................................................................................3
2.2 Peran tenaga kesehatan dalam terapi komplementer........................................................3
2.3 Klasifikasi terapi...............................................................................................................4
BAB III PEMBAHASAN..............................................................................................................5
3.1 Kasus.................................................................................................................................5
3.2 Terapi Hipnoterapi..........................................................................................................17
3.3 Prosedur Hipnoterapi......................................................................................................18
3.4 Alasan memilih Hipnoterapi...........................................................................................18
BAB IV PENUTUP......................................................................................................................21
4.1 Kesimpulan.....................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Pengobatan komplementer merupakan suatu fenomena yang muncul
saat ini diantara banyaknya fenomena-fenomena pengobatan non
konvensional yang lain, seperti pengobatan dengan ramuan atau terapi herbal,
akupunktur, dan bekam. Definisi CAM (Complementary and Alternative
Madacine) suatu bentuk penyembuhan yang bersumber pada berbagai system,
modalitas dan praktek kesehatan yang didukung oleh teori dan kepercayaan
(Hamijoyo, 2003).
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga
dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan
penderita dari rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang sempurna,
dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial
atau spiritual (World Health Organization (WHO), 2016). Penyakit dengan
perawatan paliatif merupakan penyakit yang sulit atau sudah tidak dapat
disembuhkan, perawatan paliatif ini bersifat meningkatkan kualitas hidup
(WHO,2016). Pelayanan perawatan paliatif memerlukan keterampilan dalam
mengelola komplikasi penyakit dan pengobatan, mengelola rasa sakit dan
gejala lain, memberikan perawatan psikososial bagi pasien dan keluarga, dan
merawat saat sekarat dan berduka (Matzo & Sherman, 2015).
Perawatan paliatif meliputi manajemen nyeri dan gejala; dukungan
psikososial, emosional, dukungan spiritual; dan kondisi hidup nyaman dengan
perawatan yang tepat, baik dirumah, rumah sakit atau tempat lain sesuai
pilihan pasien. Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular
yang menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia.

1
World Health Organization atau WHO melaporkan 8,8 juta angka
kematian pada 2015 akibat kanker dan akan meningkat secara signifikan
menjadi sekitar 13,1 juta kematian pada tahun 2030. Sekitar 78% diantaranya
berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia
(WHO, 2017).

1.2 Rumusan Masalah


Apa itu terapi komplementer hipnoterapi dan Bagaimana implementeasi
terapi komplementer pada kasus pasien dengan paliatif?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami terapi komlemneter serta implementeasi
terapi komplementer pada kasus pasien dengan paliatif

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terapi adalah usaha
untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit,
perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat
menyempurnakan. Pengobatan komplementer dilakukan dengan tujuan
melengkapi pengobatan medis konvensional dan bersifat rasional yang tidak
bertentangan dengan nilai dan hukum kesehatan di Indonesia. Standar praktek
pengobatan komplementer telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia.
Terapi komplemeter sebagai pengembangan terapi tradisional dan ada
yang diintegrasikan dengan terapi modern yang mempengaruhi keharmonisan
individu dari aspek biologis, psikologis, dan spiritual. Hasil terapi yang telah
terintegrasi tersebut ada yang telah lulus uji klinis sehingga sudah disamakan
dengan obat modern. Kondisi ini sesuai dengan prinsip keperawatan yang
memandang manusia sebagai makhluk yang holistik (bio, psiko, sosial, dan
spiritual).

2.2 Peran tenaga kesehatan dalam terapi komplementer

A. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan


Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat
dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan
melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa
direncakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat
kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat

3
perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang
sederhana sampai dengan kompleks.
B. Peran sebagai advokat
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagia informasi dari pemberi pelayanan atau
informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan berkaitan dengan terapi komplementer yang diberikan kepada
pasiennya, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak
pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi
tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya
sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
C. Peran edukator
Tujuan keperawatan untuk memanfaatkan komunikasi dalam
membantu klien mencapai kembali adaptasi secara positif terhadap
lingkungan. Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan mengenai terapi
komplementer, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga
terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan.
2.3 Klasifikasi terapi
A. Mind-body therapy: intervensi dengan teknik untuk memfasilitasi kapasitas
berpikir yang mempengaruhi gejala fisik dan fungsi berpikir yang
mempengaruhi fisik dan fungsi tubuh (imagery, yogo, terapi musik, berdoa,
journaling, biofeedback, humor, tai chi, dan hypnoterapy).
B. Alternatif sistem pelayanan yaitu sistem pelayanan kesehatan yang
mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis (cundarismo,
homeopathy, nautraphaty).
C. Terapi biologis yaitu natural dan praktik biologis dan hasil-hasilya
misalnya herbal, dan makanan.

4
D. Terapi manipulatif dan sistem tubuh (didasari oleh manupulasi dan
pergerakan tubuh misalnya kiropraksi, macam-macam pijat, rolfiing, terapi
cahaya dan warna, serta hidroterapi.
E. Terapi energi: terapi yang berfokus pada energi tubuh (biofields) atau
mendapatkan energi dari luat tubuh (terapetik sentuhan, pengobatan
sentuhan, reiki, external qi gong magnet) terapi ini kombinasi antar energi
dan bioelektromagnetik.

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus

Seorang laki-laki, usia 55 tahun, di diagnosa menderita kanker paru dengan


metastase pada tulang, dan sedang kemoterapi ke 7 dari 20 program yang
disampaikan oleh DPJP. Akhir-akhir ini dia mengeluh sesak nafas walaupun
dalam kondisi berbaring dan terlentang di tempat tidur dan nyeri pada waktu-
waktu tertentu. Pasien juga tidak mau makan dan minum, karena setiap selesai
kemoterapi, pasien merasakan mual dan muntah setiap kali makanan dan
minuman masuk mulutnya. Pasien sudah mendapatkan terapi campuran morfin
yang diberikan setiap 4 jam, namun nyeri dan sesak masih berlanjut, sehingga
keluarga memutuskan untuk membawa pasien kembali ke rumah sakit.

Keluarga mengatakan, akhir – akhir ini pasien mengatakan tidak kuat dengan
penyakitnya, dan ingin mati saja.

TUGAS:

1. Lakukan pengkajian budaya terkait kasus diatas


2. Berikan data yang perlu ditambahan untuk menegakkan diagnosa budaya.
3. Buat Diagnosa budaya (3 diagnosa)
4. Buat rencana intervensi dan evaluasi (mandiri dan kolaborasi)

JAWAB:

6
1. Lakukan pengkajian spiritual terkait kasus diatas

Identitas pasien : Tn. B

Usia : 55 th

Data Subjektif :

Keluarga mengatakan, akhir – akhir ini pasien mengatakan tidak kuat dengan
penyakitnya, dan ingin mati saja.

2. Berikan data yang perlu ditambahkan untuk menegakkan diagnosa budaya


a. Suku pasien adalah sunda
b. Sakit sebagai budaya: selama sakit keluarga sangat memerhatikan pasien
selama sakit
c. Keluarga mengatakan, akhir – akhir ini pasien mengatakan tidak kuat dengan
penyakitnya, dan ingin mati saja.
d. Dikeluarganya sudah pernah mengalami kehilangan akibat kematian keluarga
e. Pasien mengatakan merasa sakit yang diderita ini karena pada saat masa muda
sering sekali merokok, andai saja dulu dirinya tidak merokok mungkin akan
baik baik saja.
f. Keluarga menanyakan kepada perawat, apakah pasien perlu dibawa ke dukun
karena sudah berobat kerumah sakit namun tak kunjung sembuh
g. Keluarga mengatakan di keluarga dan masyarakat sekitar menyarankan untuk
dibawa ke dukun, karena banyak yang sembuh setelah dibawah ke dukun.
h. Keluarga pasien terlihat bingung dan berkali kali menanyakn hal yang sama.

7
Data Fokus Problem Etiologi

Nyeri kronis Infiltrasi masaa tumor


Ds:

- Pasien mengatakan nyeri muncul


pada waktu-waktu tertentu

Do:

- Pasien mendapatkan terapi


morfin setiap 4 jam
- Pasien menderita kanker paru
dengan metastase pada tulang
- Pasien menjalankan kemoterapi

Pola napas tidak efektif Penuruan ekspansi paru


Ds :

- Pasien mengeluh sesak nafas


walaupun dalam kondisi
berbaring dan terlentang di
tempat tidur

Do :

- RR = 27 x/m

8
- Pasien terlihat kesulitan
bernafas
- Pasien terlihat menggunakan
otot bantu napas

Penurunan kondisi fisiologis


Ds :

- Pasien mengatakan sebentar lagi Keputusasaan


akan mati karena penyakit yang
makin parah
- Pasien mengatakan sulit tidur
- Pasien mengatakan percuma
saya hidup, tidak ada gunanya
lagi

Do :

- Pasien sering terlihat melamun


dan menyendiri
- Pasien terlihat menangis

Ds :
Kurang terpapar informasi

- Keluarga menanyakan kepada


perawat, apakah pasien perlu
dibawa ke dukun karena sudah Defisit pengetahuan
berobat kerumah sakit namun tentang manajemen
tak kunjung sembuh

9
- Keluarga mengatakan di kanker
keluarga dan masyarakat sekitar
menyarankan untuk dibawa ke
dukun, karena banyak yang
sembuh setelah dibawah ke
dukun.
Do :

Keluarga pasien terlihat bingung dan


berkali kali menanyakn hal yang
sama.

3. Buat Diagnosa budaya ( 3 diagnosa)


a. Nyeri kronis b/d Infiltrasi masaa tumor
b. Pola napas tidak efektif b/d Penuruan ekspansi paru
c. Keputusasaan b/d Penurunan kondisi fisiologis
d. Defisit pengetahuan tentang manajemen kanker b/d Kurang terpapar
informasi

10
4. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Keperawatan


Keperawatan

Nyeri kronis b/d Setelah dilakukan tindakan Observasi

1. Proses penyakit keperawatan penurunan nyeri,


diharapkan : 1. Identifikasi lokasi, nyeri,
karakteristik, frekuansi, kualitas,
1. Pasien bisa mengatasi intensitas nyeri
nyeri secara mandiri 2. Identifikasi skala nyeri
2. Pasien bisa mengatasi 3. Identifikasi respon nyeri non
nyeri secara non- verbal
farmakologis
4. Identifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan
nyeri

5. Identifikasi pengetahuan dan


keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi
komplementer : Hipnoterapi yang
sudah diberikan

Terapeutik

11
9. Berikan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
(Hipnoterapi)
10. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
11. Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

12. Jelaskan strategi meredakan nyeri


13. Ajarkan teknik nonfarmakologis
(hipnoterapi) untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi

14. Berikan terapi morfin setiap 4 jam


Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi adanya kelelahan otot

2. efektif b/d selama 1x24 jam, diharapkan bantu nafas


penurunan pola nafas klien kembali 2. Identifikasi efek perubahan posisi
ekspansi paru noermal dengan criteria terhadap status pernafasan
hasil : 3. Monitor status respirasi dan
- pasien mengatakan tida oksigen
sesak 4. Pertahankan kepatenan jalan nafas
- RR normal 20x/menit 5. Berikan posisi semi fowler
- HR normal 88x/menit 6. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
7. Bantu meningkatkan rileksasi

12
seperti aroma terapi, mengajarkan
cara bernafas dengan baik,
memberikan aliran udara segar.
Keputusasaan Setelah dilakukan tindakan Dukungan spiritual

3. b/d Penurunan keperawatan, keputusasaan 1. Menggunakan komunikasi


kondisi klien menurun. terapeutik untuk membangun
fisiologis Kriteria hasil : kepercayaan dan empati peduli.

1. Keterlibatan dalam 2. Mendorong partisipasi dalam


aktivitas perawatan interaksi dengan anggota
meningkat. keluarga, teman, dll.
2. Verbalisasi keputusasaan 3. Memberikan privasi dan
menurun. ketenangan untuk kegiatan
spiritual.
4. Terbuka terhadap sifat individu
yang merasa tidak berdaya.
5. Membantu pasien
mengembangkan spiritual diri.
6. Menciptakan lingkungan yang
memfasilitasi pasien berlatih
agama yang sesuai.
7. Memberikan pasien/keluarga
kesempatan untuk terlibat dengan
kelompok pendukung.

Defisit Setelah dilakukan tindakan Edukasi Program Pengobatan

4. pengetahuan keperawatan, diharapkan Observasi


tentang masalah defisit pengetahuan
manajemen tentang manajemen kanker 1. Identifikasi pengetahuan tentang
kanker b/d teratasi. pengobatan yang direkomendasi.
kurang terpapar Kriteria hasil :

13
infoormasi 1. Hasil pertanyaan tentang Terapeutik
masalah yang dihadapi
menurun. 2. Fasilitas informasi tertulis atau
2. persepsi yang keliru gambar untuk meningkatkan
terhadap masalah menurun. pemahaman.
3. Berikan dukungan untuk menjalani
program pengobatan dengan baik
dan benar.
4. Libatkan keluarga untuk
memberikan dukungan kepada
pasien selama pengobatan.

Edukasi

5. Jelaskan manfaat dan efek


samping pengobatan.
6. Informasikan fasilitas kesehatan
yang dapat digunakan selama
pengobatan.
7. Anjurkan bertanya jika ada sesuatu
yang tidak dimengerti sebelum dan
sesudah pengobatan dilakukan.

Manajemen Kemotherapi
Observasi

8. Monitor efek samping dan efek


toksik pengobatan (mis.
kerontokan rambut, disfungsi
seksual).

14
9. Monitor mual dan muntah akibat
kemotherapi.

Edukasi

10. Jelaskan tujuan dan prosedur


kemotherapi.
11. Ajarkan mengelola kelelahan
dengan merencanakan sering
istirahat dan membatasi kegiatan.

5. Implementasi

No Diagnosa Hari/ Implementasi Keperawatan Tanda


Keperawatan Tanggal tangan

Nyeri kronis b/d Observasi

1. Proses penyakit 31 Desember


2020 1. Mengidentifikasi lokasi, nyeri,
Pk : 07.00 karakteristik, frekuansi, kualitas,
intensitas nyeri
2. Mengidentifikasi skala nyeri
3. mengidentifikasi respon nyeri

15
non verbal
4. Mengidentifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan
nyeri
5. Mengidentifikasi pengetahuan
dan keyakinan tentang nyeri
6. MengIdentifikasi pengaruh
budaya terhadap respon nyeri
7. Mengidentifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup
8. Memonitor keberhasilan terapi
komplementer : hipnoterapi
yang sudah diberikan
9. Memonitor efek samping
penggunaan analgetik

Terapeutik

10. Memberikan teknik


nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(hipnoterapi)
11. kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
12. Memfasilitasi istirahat dan tidur

16
Edukasi

13. Menjelaskan strategi meredakan


nyeri
14. Menganjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
15. Mengajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

16. Memberikan terapi morfin setiap


4 jam

Pola napas tidak

2. efektif b/d 31 desember


penurunan 2020 1. Mengdentifikasi adanya
ekspansi paru kelelahan otot bantu nafas
Pk : 10.00
2. MengIdentifikasi efek perubahan
posisi terhadap status pernafasan
3. Memonitor status respirasi dan
oksigen
4. Mempertahankan kepatenan jalan
nafas
5. Memberikan posisi semi fowler
6. Memberikan oksigen sesuai

17
kebutuhan
7. Membantu meningkatkan
rileksasi seperti aroma terapi,
mengajarkan cara bernafas
dengan baik, memberikan aliran
udara segar.

Keputusasaan

3. b/d Penurunan 2 Januari 2021 1. Menggunakan komunikasi


kondisi terapeutik untuk membangun
fisiologis Pk : 13.00 kepercayaan dan empati peduli.
2. Mendorong partisipasi dalam
interaksi dengan anggota
keluarga, teman, dll.
3. Memberikan privasi dan
ketenangan untuk kegiatan
spiritual.
4. Terbuka terhadap sifat individu
yang merasa tidak berdaya.
5. Membantu pasien
mengembangkan spiritual diri.
6. Menciptakan lingkungan yang
memfasilitasi pasien berlatih
agama yang sesuai.
7. Memberikan pasien/keluarga
kesempatan untuk terlibat dengan
kelompok pendukung.

Defisit

4. pengetahuan 1 januari 2021 1. Mengidentifikasi pengetahuan

18
tentang
manajemen tentang pengobatan yang
kanker b/d [Link]
kurang terpapar informasi tertulis atau gambar
infoormasi untuk meningkatkan pemahaman.
2. Memberikan dukungan untuk
menjalani program pengobatan
dengan baik dan benar.
3. Melibatkan keluarga untuk
memberikan dukungan kepada
pasien selama pengobatan.
4. Menjelaskan manfaat dan efek
samping pengobatan.
5. Menginformasikan fasilitas
kesehatan yang dapat digunakan
selama pengobatan.
6. Menganjurkan bertanya jika ada
sesuatu yang tidak dimengerti
sebelum dan sesudah pengobatan
dilakukan.
7. Mengajarkan kemampuan
melakukan pengobatan mandiri
(self-medication).
8. Memonitor efek samping dan efek
toksik pengobatan (mis.
kerontokan rambut, disfungsi
seksual).
9. Memonitor mual dan muntah
akibat kemotherapi.

19
10. Menjelaskan tujuan dan
prosedur kemotherapi.
11. Mengajarkan mengelola
kelelahan dengan merencanakan
sering istirahat dan membatasi
kegiatan.

6. Evaluasi

Diagnosa Evaluasi
Nyeri kronis b.d S : Pasien mengatakan nyeri masih sering timbul
proses penyakit
O : terlihat memegang bagian yang nyeri
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi : 2, 3, 8, 9, 10, 15
Pola napas tidak S : Pasien mengatakan sesak maish ada tapi sudah berkurang
efektif b/d penurunan O : terlihat sesekali menarik nafas dalam
ekspansi paru A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi : 4, 5, 6, 7
Keputusasaan bd S : Keluarga mengatakan klien sudah tidak mengatakan ingin mati saja,
penurunan kondisi
karena tak kunjung sembuh, walaupun tidak sering
fisiologis.
O : klien sudah tidak menangis, dan mau berinteraksi

20
A : masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
Defisit pengetahuan S : Keluarga mengatakan sudah mengerti apa yang dijelaskan.
tentang manajemen
O : Keluarga sudah tidak pernah bertanya tentang berobat ke dukun.
kanker b/d kurang
terpapar infoormasi A : Masalah sudah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.

3.2 Nyeri Kronis dan terapi komplementer


Nyeri kronis adalah pengalaman sensori dan emosi tidak menyenangkan yang
berhubungan dengan kerusakan jaringan actual atau potensial, atau
digambarkan dengan terminologi dari kerusakan tersebut dan bertahan lebih
dari enam bulan bahkan selam bertahun-tahun.
Sebuah metode terapi non- farmakologi yang dapat ditawarkan bagi pasien
dengan keluhan nyeri kronik dalam proses adaptasi. Proses adaptasi dan
penerimaan pasien terhadap nyeri kronik akan berdampak tetap produktif dalam
kesehariannya. Terciptanya penerimaan pada sebuah kondisi dengan penuh
kesadaran sehingga mampu melakukan pengelolaan penyakit akan sangat
berperan besar pada penurunan kecemasan dan depresi. Hipnoterapi dapat
membantu dalam proses beradaptasi dan memandirikan pasien. Tentunya dalam
penanganan kasus ini tidak mengesampingkan terapi farmakologi yang
rasional.

3.3 Terapi Hipnoterapi


A. Definisi
Hipnoterapi merupakan salah satu jenis terapi komplementer/
nonkonvensional yang digunakan sebagai pelengkap terapi konvensional/
terapi medis. Hipnoterapi adalah suatu rangkaian proses yang digunakan
seorang hipnoterapis untuk menyelesaikan masalah klien dengan ilmu
hipnosis. Hipnoterapi dapat diartikan sebagai suatu metode dimana pasien

21
dibimbing untuk melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi
dalam ini tercapai maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar
sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih
mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang diberikan.
Hipnosis didefinisikan sebagai kondisi perubahan persepsi subyek
bersifat sementara waktu dengan bantuan orang lain dan kondisi tersebut
dapat memunculkan fenomena bervariasi secara spontan. Fenomena ini
meliputi perubahan tingkat kesadaran dan ingatan sehingga sangat mudah
menerima sugesti dimana pada saat tidak masuk kondisi hypnosis respon
atas fenomena yang terjadi sangat tidak lazim bagi subyek yang
bersangkutan.
Hipnoterapi mempengaruhi ACC dimana akan berefek pada proses
afeksi terhadap pengalaman nyeri. Modulasi afeksi akan mempengaruhi
presepsi otak terhadap pengalaman nyeri tersebut sehingga mampu
menimbulkan koping positif. Nyeri tidak dapat dihilangkan akan tetapi
koping positif akan membuat seseorang dapat menerima dan menyadari rasa
nyeri dengan lebih nyaman seiring perubahan presepsi otak selama proses
hipnoterapi dan paska hipnoterapi.
B. Hiptoterapi sebagai terapi komplementer
Hipnoterapi adalah salah satu bentuk terapi komplementer, yaitu terapi
yang digunakan untuk melengkapi terapi atau tindakan medis dan bukan
untuk menggantikan terapi atau tindakan medis yang sudah ada. Hipnoterapi
merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body Intervention
dimana terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk
mengoptimalkan fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan
keseimbangan antara pikiran, emosi, dan pernapasan.
Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata-kata yang
disampaikan dengan teknik-teknik tertentu. Satu-satunya kekuatan dalam
hipnoterapi adalah komunikasi. Setiap perawat sudah cukup akrab dengan
namanya komunikasi karena pekerjaannya adalah langsung berinteraksi

22
dengan orang banyak, termasuk klien dan keluarga. Oleh karena itu tak akan
banyak makan waktu jika dibutuhkan latihan, sebab hampir setiap hari kita
berkomunikasi dengan orang asing. Perawat mampu menghipnotis pasien
jika dia memahami bahasa yang perawat gunakan.
C. Manfaat Hipnoterapi
A. Masalah Fisik
Ketegangan otot dan rasa nyeri (nyeri kronik) yang berlebihan dapat
dibantu dengan Hipnoterapi. Hipnoterapi, dapat membuat tubuh
menjadi relaks dan mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan secara
drastis. Selain itu hipnoterapi juga bermanfaat untuk pasien dengan
kegemukan/obesitas dan irritable bowel syndrome.
B. Masalah Emosi
Serangan panik, ketegangan dalam menghadapi ujian, kemarahan, rasa
bersalah, kurang percaya diri, ansietas/cemas, duka (grief), depresi,
trauma dan phobia adalah masalah-masalah emosi yang berhubungan
dengan rasa takut dan kegelisahan. Semua masalah di atas bisa diatasi
dengan hipnoterapi. Selain ituhipnoterapi juga bisa dilakukan untuk
penyembuhan diri sendiri atau self healing. Penelitian dari NIH
(National Institute of Health) menunjukkan bahwa pada akhir dekade
ini, hipnoterapi mulai dikembangkan sebagai terapi paliatif pada pasien
kanker. Hipnoterapi terbukti memiliki manfaat dalam mengurangi nyeri
kronik, stress dan depresi pada pasien kanker stadium lanjut.
C. Masalah Perilaku
Masalah perilaku seperti merokok, makan berlebihan dan minum
minuman keras yang berlebihan dan berbagai macam perilaku
ketagihan (addiction) dapat diatasi dengan hipnoterapi. Hipnoterapi
juga bisa membantu insomnia/ gangguan tidur dan menghilangkan
latah.

23
3.4 Prosedur Hipnoterapi

Pada saat proses hipnoterapi berlangsung, klien hanya diam. Duduk atau
berbaring, yang sibuk justru terapisnya, yang bertindak sebagai fasilitator. Akan
tetapi, pada proses selanjutnya, klien lah yang menghipnosis dirinya sendiri
(Otohipnotis), berikut proses sebuah tahapan hipnoterapi:

A. Pre-Induction (Interview)
Pada tahap awal ini hipnoterapis dan klien untuk pertama kalinya bertemu.
Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya, hipnoterapis
membuka percakapan untuk membangun kepercayaan klien,
menghilangkan rasa takut terhadap hipnotis/ hipnoterapi dan menjelaskan
mengenai hipnoterapi dan menjawab semua pertanyaan klien. Sebelumnya
hipnoterapis harus dapat mengenali aspek - aspek psikologis dari klien,
antara lain hal yang diminati dan tidak diminati, apa yang diketahui klien
terhadap hipnotis, dan seterusnya. Pre-Induction merupakan tahapan yang
sangat penting. Seringkali kegagalan proses hipnoterapi diawali dari proses
Pre – Induction yang tidak tepat.
B. Suggestibility Test
Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah klien
masuk ke dalam orang yang mudah menerima sugesti atau tidak. Selain itu,
uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai pemanasan dan juga untuk
menghilangkan rasa takut terhadap proses hipnoterapi. Uji sugestibilitas
juga membantu hipnoterapis untuk menentukan teknik induksi yang terbaik
bagi sang klien.
C. Induction
Induksi adalah cara yang digunakan oleh seorang hipnoterapis
untukmembawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar (conscious) ke
pikiran bawah sadar (sub conscious), dengan menembus apa yang dikenal

24
dengan Critical Area. Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. Maka
frekuensi gelombang otak dari klien akan turun dari Beta, Alfa, kemudian
Theta. Semakin turun gelombang otak, klien akan semakin rileks, sehingga
berada dalam kondisi trance. Inilah yang dinamakan dengan kondisi ter-
hipnotis. Hipnoterapis akan mengetahui kedalaman trance klien dengan
melakukan Depth Level Test (tingkat kedalaman trance klien).
D. Deepening
Hipnoterapis akan membawa klien ke trance yang lebih dalam. Proses ini
dinamakan deepening. Deepening ini meliputi tiga level, yaitu:
1. Hypnoidal: hipnosis ringan dengan gerakan mengedip-ngedipkan
mata.
2. Cataleptic: hipnosis yang sedikit lebih dalam dengan gerakan mata
bergerakdari samping ke samping (side to side eyes movements).
3. Somnambulistic: hipnotis dengan status yang dalam, selama status
hipnotis ini, gerakan mata berputar ke depan dan ke belakang; hasil
hipnotis yang terbaik biasanya dicapai selama status ini.
E. Suggestions
Pada saat klien masih berada dalam trance, hipnoterapis juga akan memberi
Post Hypnotic Suggestion, sugesti yang diberikan kepada klien pada saat
proses hipnotis masih berlangsung dan diharapkan terekam terus oleh
pikiran bawah sadar klien meskipun klien telah keluar dari proses hipnotis.
Post Hypnotic Suggestion adalah salah satu unsur terpenting dalam proses
hipnoterapi.
F. Termination
Akhirnya dengan teknik yang tepat, hipnoterapis secara perlahan-lahan
akan membangunkan klien dari “tidur” hipnotisnya dan membawanya ke
keadaan yang sepenuhnya sadar.

25
3.5 Alasan memilih terapi ini
Alasan memilih hipnoterapi karena hipnoterpai merupakan salah satu
terapi komplementer yang efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien
dengan penyakit kronis, dan dengan menggunakan hipnoterapi ini dapat
memunculkan relaksasi yang optimal sehingga pasien akan mudah
menerima panduan sugesti yang diberikan terapis. Pasien juga akan diminta
untuk menikmati rasa nyaman baik dengan kondisi tubuh yang tidak nyeri
sambal dikembalikan gambaran peristiwa yang menyenangkan. Dan
Hipnoterapi mempengaruhi ACC dimana akan berefek pada proses afeksi
terhadap pengalaman nyeri. Modulasi afeksi akan mempengaruhi presepsi
otak terhadap pengalaman nyeri tersebut sehingga mampu menimbulkan
koping positif. Nyeri tidak dapat dihilangkan akan tetapi koping positif akan
membuat seseorang dapat menerima dan menyadari rasa nyeri dengan lebih
nyaman seiring perubahan presepsi otak selama proses hipnoterapi dan
paska hipnoterapi.

26
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Terapi komplemeter sebagai pengembangan terapi tradisional dan ada yang


diintegrasikan dengan terapi modern yang mempengaruhi keharmonisan individu dari
aspek biologis, psikologis, dan spiritual. Hasil terapi yang telah terintegrasi tersebut
ada yang telah lulus uji klinis sehingga sudah disamakan dengan obat modern.

Terdapat banyak sekali macam terapi komplementer, salah satunya hipnoterapi.


Hipnoterapi merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body Intervention
dimana terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk mengoptimalkan
fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara pikiran, emosi,
dan pernapasan. Hipnoterapi merupakan salah satu terapi komplementer yang efektif
dalam mengurangi nyeri pada pasien dengan penyakit kronis, dan dengan
menggunakan hipnoterapi ini dapat memunculkan relaksasi yang optimal sehingga
pasien akan mudah menerima panduan sugesti yang diberikan terapis.

DAFTAR PUSTAKA

Nugraha, Lucas Nando & Sugianto. (2017). Hypnoterapi pada PAsien Nyeri Kronik.
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana. VOLUME: 02 – NOMOR 02

27
Perry, Potter. 2009. Fundamentals of Nursing Buku 2 Edisi 7. Jakarta: Salemba
Medika
Gusti. 2016. Prinsip Keperawatan Holistik dalam Terapi Komplementer. Diakses
dari: [Link]
Santos, Yus. 2012. Tentang Hipnoterapi. Alfa Omega NLP Hypno Center.
Adiyanto.(2007)Hipnosis Penurunan Rasa Nyeri Pengamatan Efek Hypnosis Pada 
Otak Melalui Brain Imaging. Diunduh dari [Link].

28

Anda mungkin juga menyukai