Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi
Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi
Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang digunakan oleh Warga Negara Indonesia dan
sebagai “Bahasa Persatuan Antar Warga”
C. Fungsi Bahasa
1. Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
2. Bahasa Sebagai Wahana Ekspresi Diri
3. Bahasa Sebagai Media Integrasi Dan Adaptasi Social
4. Bahasa Sebagai Alat Control Sosial
PENGERTIAN EJAAN
Ejaan, ialah: Keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi Bahasa untuk mencapai
keseragaman. Ejaan yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas
ejaan-ejaan sebelumnya.
f. Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau instansi
- Profesor Zainuddin Zidane Aliudin
g. Huruf pertama pada nama Negara, Pemerintahan, Lembaga Negara, juga Dokumen
(kecuali kata dan).
- Mahkamah Internasional
- Republik Rakyat Cina
- Badan Pengembang Ekspor Nasional dan Industri
2. Tanda Koma (,)
a. Tanda koma dipakai di antara unsur – unsur dalam suatu perincianatau pembilangan.
Misalnya:
- Surat biasa, surat kilat, atau pun surat khusus memerlukan prangko
b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
berikutnya yang didahului oleh kata seperti, tetapi, atau melainkan.
Misalnya:
- Saya ingin datang, tetapi hari hujan
c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dan induk kalimat jika anak
kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
- karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
d. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika
anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
- Dia lupa akan janjinya karena sibuk
e. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang
terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya “Oleh karena itu, jadi, lagi pula,
meskipun begitu, akan tetapi”.
Misalnya:
- …. Oleh karena itu, kita harus berhati – hati
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari
kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
- Wah, bukan main!
g. Tanda koma diapkai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat . Misalnya:
- “Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”
Misalnya:
- Surat – surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
i. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam
daftar pustaka.
Misalnya:
- Alisjahbana, Sutan Takdir, 1949, Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia, Jilid 1 dan
2, Djakarta: PT. Pustaka Rakyat.
k. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
- Ny. Khadijah, M.A
l. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
- 12,5 m.
m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
Misalnya:
- Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak di apit tanda koma.
- Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
n. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah bacaan di belakang keterangan
yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
- Dalam pembinaan dan pengembangan Bahasa, kita memerlukan sikap yang
bersungguh – sungguh.
- Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
- Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
o. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang
mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda Tanya
atau tanda seru.
Misalnya:
- “Di mana Saudara tinggal?” Tanya Karim
b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
a. 1 Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika
angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan
waktu. Misalnya:
- Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan jangka waktu. Misalnya:
- 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
e. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan
tanda Tanya dan tanda seru, oan tempat terbit dalam daitar pustaka. Misalnya:
- Siregar, Merari, 1920, Azab dan Sengsara, Weltevreden: Balai Poestaka.
f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya:
- Desa itu berpenduduk [Link] orang.
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak
menunjukan jumlah. Misalnya:
- Nomor gironya 5645678
- Kode NPM. 215.11.7.4567
g. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau
kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya:
b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran
dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Misalnya:
- Kini ada cara yang baru untuk mengukur panas
Akhiran tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
d. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian - bagian
tunggal.
Misalnya:
- 3-12-2018
e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(i) Hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan
(ii) Penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
Ber-evolusi
Tanggung-jawab dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
be-revolusi
Tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
g. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur Bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa asing.
Misalnya:
- di-smash,
b. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya:
1. Bibit buah Durian;
2. Bibit buah Manggis: dan
3. Bibit buah Cempedak.
b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam
kalimat. Misalnya:
- Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 Buku itu.
c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai
arti khusus. Misalnya:
- Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
- Kata tono, “Saya juga minta satu.”
e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik
yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung
kalimat atau bagian kalimat. Misalnya:
- Karena kulitnya hitam, Budi mendapat julukan “Si Hitam”
Catatan :
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama
tinggi di sebelah atas baris.
b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemberian itu merupakan pelengkap
yang mengakhiri pernyataan. Misalnya:
- Kita memerluka kursi, meja, dan lemari.
c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian.
Misalnya:
1. Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : B. Hartawan
d. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan. Misalnya:
Misalnya:
- Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita?,
Djakarta: Eresco, 1968.
d. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
- Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik;
tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Abdul Qohar menyebutkan: Pendidikan adalah sebuah tuntunan ke arah perubahan ...
untuk menjadikan siswa lebih dewasa, berkemampuan, dan memiliki kompetensi....
b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap/per, dan.
Misalnya:
- Dikirimkan lewat darat/laut/udara (dikirimkan lewat darat atau laut dan udara)
harganya Rp.25,00/lembar (harganya Rp.25,00 tiap lembar).
PENGERTIAN BAHASA INDONESIA BAKU
1. Bahasa baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang berkekuatan sanksi sosial dan
vang diterima masyarakat bahasa sebagai acuan atau model (Moeliono, 1989:43)
2. Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia, baik
yang menyangkut ejaan, lafal, bentuk kata, struktur kalimat, maupun penggunaan bahasa
(Junaiyah, 1991:18)
3. Bahasa baku ialah suatu bentuk pemakaian bahasa yang menjadi model yang dapat dicontoh
oleh setiap pemakai bahasa yang hendak berbahasa secara benar (Moeljono, 1989:23)
4. Bahasa baku atau bahasa standar ialah ragam bahasa atau dialek yang diterima atau dipakai
dalam situasi resmi, seperti dalam pcrundang-udangan. surat-menyurat resmi, dan berbicara
di depan umum (Kridalaksana, 1982:21)
Dari pengertian bahasa baku di atas, maka yang disebut dengan kata baku adalah kata yang
ditulis dan diucapkan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Pertama,
dalam komunikasi resmi, yaitu dalam surat-menyurat resmi atau dinas, pengumuman-
pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan. penamaan dan
peristilahan resmi.
Kedua,
dalam wacana teknis, yaitu dalam laporan resmi dan karangan ilmiah berupa makalah, skripsi,
tesis, disertasi, dan laporan hasil penelitian.
Ketiga,
pembicaraan di depan umum, yaitu ceramah, kuliah, khotbah.
Keempat,
pembicaraan dengan orang yang dihormati, yaitu atasan dengan bawahan di dalam kantor?siswa
dan guru di kelas atau di sekolah, guru dan kepala sekolah di pertemuan- pertemuan resmi,
mahasiswa dan dosen di ruang perkuliahan.
Di dalam konteks pertama dan kedua didukung oleh bahasa Indonesia baku tulis konteks kedua
dan ketiga didukung oleh bahasa Indonesia baku lisan. Di luar konteks itu dipergunakan bahasa
Indonesia nonbaku atau bahasa Indonesia nonstandard.
Memedulikan - memperdulikan
Memelihara - Mempelihara
Memesona - Mempesona
Kata frekuensi merupakan serapan dan bahasa Beianda, frequentie atau dari bahasa Inggris
frequency Di samping perubahan huruf konsonan q menjadi huruf konsonan k dan bunyi tie atau
-cv menjadi si. yang perlu diperhatikan bahwa huruf vokal u pada kata asing itu tidak berubah
menjadi huruf konsonan w setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia Oleh karena itu. yang
baku adalah frekuensi yang bermakna kekerapan, jumlah pemakaian.
Bahasa Indonesia Baku dan Nonbaku mempunyai kode atau ciri bahasa dan fungsi pemakaian
yang berbeda Kode atau ciri dan fungsi setiap ragam bahasa itu saling berkait Bahasa Indonesia
baku berciri seragam, sedangkan ciri Bahasa Indonesia nonbaku beragam.
9. Penggantian vocal
Kata-kata tidak baku seringkali digunakan pada percakapan bahasa Indonesia Misalnya saja kata
mengapa diganti dengan kata ngapain.
Berikut pasangan kata tidak baku dan kata baku dalam bahasa Indonesia
1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau
rapat.
2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
3. Bersifat kccendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain
mengungkapkan penalaran yang teratur .
4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa,
melainkan kesamaan kaidah.
5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.
9. Contoh:
Baku Tidak baku
Sah Syah
Insaf insyaf
Teladan tauladan
Nafsu napsu
KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA
-> Jadi, seharusnya kalimat tersebut diubah penghayatanmu utas sajak yang telah kauhafalkan
itu akan hilang.
-> Jika pelakunya orang ketiga, harus dikatakan penghayatan atas sajak yang telah dihafalkan itu
akan hilang.
3. Atas Perhatiannya
-> Menurut maksudnya, kalimat tersebulditujukan kepada seseorang yang kita ajak berbicara
-> Karena itu yang betul mestinya Atas perhatiaan Saudara, saya ucapkan terima kasih.
4. Menyingkat Waktu
Untuk menyingkat waktu, marilah kita mulai acara ini.
->Waktu tidak dapat dipersingkat; karena itu kalimat tersebut salah. Yang betuk Untuk
menghemat waktu, marilah kita mulai acara ini.
5. Penghormatan
Atas kerawuhan Bapak-bapak, saya haturkan terima kasih.
-> Maksud pembuat kalimat tersebut untuk menghormat lawan bicara. Sudah cukup hormat dan
betul, jika dikatakan atas kedatangan Bapak-bapak, saya ucapkan terima kasih.
7. Bentuk Jamak
Tidak sedikit orang-orang yang tidak dapat memahami puisi.
-> Mestinya kalimat tersebut cukup dikatakan: tidak sedikit orang yang dapat memahami puisi.
Bentuk sejenis dengan bentuk di atas
- Para hadirin....
- hadirin sekalian....
- daftar para mahasiswa....
- rombongan para olahragawan....
- dewan gereja-gereja....
- jawatan gedung-gedung negara -kumpulan barang-barang bekas....
- kaum politisi....
Kata-kata para, hadirin, sekalian, daftar, rombongan, dewan, jawatan, kumpulan, kaum, dan
politisi sudah mengandung atau menunjuk pengertian jamak Karena itu tidak boleh dipakai
bersama-sama, atau digunakan dengan bentuk perulangan.
8. saling
Sebagai sesama manusia, kita wajib saling tolong-menolong
-> Maka yang betul sebagai sesama manusia, kita wa/ib saling menolong, atau, sebagai sesama
manusia, kita wajib tolong menolong Bentuk yang sejenis dengan bentuk tersebut
Bentuk seperti di atas, termasuk gejala pleonasme.
9. Untuk Sementara
Untuk sementara waktu ia tinggal bersama saya
-> Kata sementara sudah menunjukkan pengertian waktu.
-> Dengan demikian cukup dikatakan: Untuk sementara ia tinggal bersama saya.
-> Jadi, untuk menggantikan kalimat di atas dapat dipilih salah satu dari kedua bentuk
tersebut.
11. Bersama Ini
Bersama ini saya beri tahukan, bahwa ....
-> seharusnya kita katakan: Dengan ini saya beritahukan....
12. Berhubung
Berhubung pergi ke Jakarta, hari ini ia tidak dapat datang
- Jadi, kalimat itu seharusnya kita ubah demikian Berhubung dengan kepergiannya ke
Jakarta, hari ini ia tidak dapat datang.
16. Datang Ke
Harap segera datang ke semarang
-> Kata depan yang paling dekat mengikuti kata datang ialah di Apabila kita ingin menggunakan
ke. kata datang tidak usah kita pakai
->Jadi cukup kita katakan Harap segera ke Semarang.
17. Dari-Oleh
Berita duka ini dikirim dari Saudara Darwis, Jalan Bima 5 Semarang
-> Kata depan yang seharusnya mengikuti kata dikirimkan mestinya bukan dari, melainkan oleh
-> Jadi mestinya kalimat tersebut berbunyi demikian:
Berita duka ini dari Saudara Darwis ....
19. Pelopor
Salah seorang yang mempelopori berdirtinya koperasi di desa mi ialah bapak saya.
->Yang betul memelopori.
20. Ubah
Hanya usaha kita sendirilah yang dapat merubah nasib kita.
-> Karena awalan yang melekat pada kata tersebut me-, maka bentuk yang betul tentulah
mengubah.
23. Dipersilahkan
Para tamu dipersilahkan masuk.
- Kesalahan kalimat tersebut pada penulisan kata dipersilahkan. Kata tersebut seharusnya
dituliskan tanpa h: dipersilakan.
24. Pun
Lafalnyapun sering menyimpang Jari lafal yang umum.
-> Menurut EyD, partikel pun seharusnya ditulis terpisah dan kata yang mendahuluinya. Jadi
kalimat tersebut seharusnya ditulis demikian:_
Lafalnya pun sering menyimpang Jari lafal umum.