BAB III
PELAKSANAAN STUDI KASUS
A. Pengkajian Fisioterapi
Sebagai tenaga kesehatan yang profesional maka fisoterapi harus melakukan
anamnesis. Anamnesis dilakukan dengan cara tanya jawab, dilakukan untuk
memperoleh data pasien, dan dengan anamnesis dapat diperoleh data-data dalam
penentuan terapi, pemeriksaan selanjutnya, diagnose dan terapi yang akan
diberikan.
1. Anamnesis
Pada kasus ini pemeriksaan dilakukan tanggal 4 Maret 2016 dengan auto
anamnesis yaitu ditanyakan kepada pasien secara langsung.
a. Anamnesis Umum
Dari anamnesis didapatkan hasil meliputi (1) Nama: Ny. I, (2) Umur:
28 tahun, (3) Jenis Kelamin: Perempuan, (4) Agama: Islam, (5) Pekerjaan:
Ibu Rumah Tangga, (6) Alamat: Desa Gandu, Kecamatan Mlarak,
Kabupaten Ponorogo, (7) No RM: 353858.
b. Anamnesis Khusus
Dari anamnesis khusus didapatkan hasil berikut:
27
28
1) Keluhan Utama
Nyeri pada siku kanan dan kesulitan untuk menggerakkan siku
kanan. Hal yang memperberat nyeri adalah ketika digunakan untuk
menekuk lengan, sedangkan paling nyaman ketika istirahat.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 10 Februari 2015 pasien jatuh terpeleset dirumah, lalu
tangan kanan pasien sebagai topangan tubuh ketika terjatuh. Akhirnya
tangan kanan pasien tertindih dan tangan pasien kaku dalam posisi
menekuk serta tidak bisa digerakkan. Setelah itu pasien dibawa ke
RSUD Dr. Harjono dan dilakukan rontgen, dari hasil rontgen dinyatakan
patah tulang. Pada tanggal 11 Februari 2015 dilakukan operasi. Pasca
operasi, pasien dirujuk ke fisioterapi sampai sekarang.
c. Anamnesis Sistem
Kepala dan leher : tidak ada keluhan, kardiovaskuler : tidak ada keluhan,
respirasi : tidak ada keluhan, gastrointestinal : tidak ada keluhan, urogenital :
tidak ada keluhan, muskuloskeletal : fraktur antebrachii dextra, nervorum :
tidak ada keluhan.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Vital Sign
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi,
suhu tubuh, pernapasan per menit.
1) Tekanan Darah=120/80 mmHg
29
2) Denyut Nadi= 80x/menit.
3) Pernafasan= 20x/menit.
4) Temperatur= 36°C.
5) Tinggi Badan dan berat badan= TB 158cm dan BB 52kg.
b. Inspeksi
Dari pemeriksaan didapatkan hasil antara lain:
1) Statis : (1) Ekspresi wajah pasien tidak terlihat menahan rasa sakit, (2)
Pasien tidak menggunakan alat bantu, (3) terdapat bekas incisi di lateral
dan medial lengan bawah, (4) tidak ada oedema.
2) Dinamis : (1) terlihat pasien dapat menggerakkan jari-jari dan
pergelangan tangan kanan, (2) pasien dapat menggerakkan bahu kanan
tanpa rasa nyeri, (3) pasien mempunyai keterbatasan untuk
menggerakkan elbow dextra kearah flexi dan pronasi-supinasi.
c. Palpasi
Palpasi pada kasus ini didapatkan hasil (1) nyeri tekan pada luka
incisi, (2) tidak terdapat oedema pada siku kanan, (3) Suhu lokal pada siku
kanan dan kiri sama.
d. Pemeriksaan Gerak Dasar
1) Gerak Aktif
Pada kasus ini pemeriksaan gerak aktif dilakukan pada posisi tidur di
bed. Didapatkan hasil pasien mampu menggerakkan full ROM pada
30
gerakan ekstensi elbow tetapi tidak bisa full ROM pada gerakan fleksi,
pronasi, supinasi dan pasien merasakan nyeri.
2) Gerak Pasif
Pada kasus ini pemeriksaan dilakukan pada posisi tiduran di bed,
dilakukan dengan cara sendi elbow digerakkan oleh terapis. Gerakan
yang dilakukan elbow (fleksi dan ekstensi, pronasi supinasi). Didapatkan
hasil sendi elbow untuk gerakan fleksi dan ekstensi : dapat digerakan,
ada nyeri, gerakan full ROM, end feel fleksi elbow soft, dan ekstensi
hard end feel. Untuk gerakan pronasi: dapat digerakkan, tidak full ROM,
nyeri, serta end feel firm. Supinasi: dapat digerakkan, tidak full ROM,
nyeri, serta end feel springy.
3) Gerak Isometrik Melawan Tahanan
Hasil pemeriksaan ini isometric melawan tahanan didapatkan
terdapat provokasi nyeri saat melakukan gerakan dan kontraksi otot yang
ditimbulkan adalah kontraksi minimal.
e. Pemeriksaan Kognitif, Intra Personal dan Inter Personal
Hasil pemeriksaan didapat (1) kognitif : Pasien dapat menjelaskan
kronologis penyakitnya kepada terapis dengan baik, (2) intra personal :
Pasien mempunyai motivasi untuk sembuh dan semangat sangat tinggi, (3)
inter personal : Pasien ramah dan dapat berkomunikasi dengan baik kepada
terapis.
31
f. Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktifitas
Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil : (1) terdapat gangguan dalam
aktifitas bathing, dressing, dan feeding, (2) belum mampu bekerja secara
mandiri sebagai ibu rumah tangga, sehingga mengaharuskan pasien
menggunakan bantuan tangan kiri, (3) belum mampu untuk mengendarai
sepeda motor.
3. Pemeriksaan Spesifik
a. Pemeriksaan Nyeri
Pemeriksaan yang dipilih fisioterapi adalah VDS (Visual Descriptive
Scale). Skala pengukuran VDS dilakukan dengan cara pasien diminta untuk
menilai derajad nyerinya sendiri sesuai kriteria berikut: (Trisnowiyanto,
2012).
Tabel 3.3 Skala Nyeri dengan VDS
Kriteria
Tidak nyeri
Nyeri sangat ringan
Nyeri ringan
Nyeri tidak begitu berat
Nyeri cukup berat
Nyeri berat
Nyeri tak tertahankan
Dari pemeriksaan didapatkan hasil: 1) nyeri diam= tidak nyeri, 2)
nyeri tekan (luka incisi)= nyeri ringan, 3) nyeri gerak (gerakan flexi-
extensi, pronasi-supinasi elbow)= nyeri cukup berat.
32
b. Pemeriksaan Kekuatan Otot (MMT)
Manual Muscle Testing (MMT) merupakan salah satu bentuk
pemeriksaan kekuatan otot yang paling sering digunakan (Trisnowiyanto,
2012).
Tabel 3.4 Skala Manual Muscle Testing
(Jacqueline, 2007).
Kekuatan Otot Keterangan
5 N (normal) Mampu bergerak dengan ROM penuh melawan
gravitasi dan melawan tahanan maksimal
4 G (good) Mampu bergerak dengan ROM penuh melawan
gravitasi dan melawan tahanan minimal
4- G- Mampu bergerak dengan lebih besar dari satu
setengah ROM melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
3+ F+ Mampu bergerak dengan kurang dari satu setengah
ROM melawan gravitasi dan melawan tahanan
minimal
3 F (fair) Mampu bergerak dengan LGS penuh melawan
gravitasi
3- F- Mampu bergerak dengan lebih besar dari satu
setengah ROM melawan gravitasi
2+ P+ Mampu bergerak dengan kurang dari satu setengah
ROM melawan gravitasi
2 P (poor) Mampu bergerak dengan ROM penuh tanpa
melawan gravitasi
2- P- Mampu bergerak dengan lebih besar dari satu
setengah ROM tanpa melawan gravitasi
1+ T+ Mampu bergerak dengan kurang dari satu setengah
ROM tanpa melawan gravitasi
1 T (trace) Tidak ada gerakan hanya terjadi kontraksi otot
0 0 (zero) Tidak ada kontraksi otot
33
Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 3.5 Hasil Pemeriksaan MMT
Sendi Bidang Grup Otot Kanan Kiri
Elbow Sagital Fleksor 3- 5
Ekstensor 3 5
Forearm Rotasi Supinator 3- 5
Pronator 3- 5
c. Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi (LGS)
Lingkup gerak sendi adalah ruang lingkup gerakan sendi yang mampu
dicapai/dilakukan oleh sendi. (Trisnowiyanto, 2012).
Tabel 3.6 Hasil Pemeriksaan LGS
LGS
Sendi
Aktif Pasif
Elbow S= 0°-0°-100° S= 0°-0°-120°
Forearm R= 40°-0°-50° R= 50°-0°-60°
d. Pemeriksaan Antropometri
Pemeriksaan antropometri adalah pemeriksaan untuk mengetahui
massa/komposisi tubuh. Dari pengukuran antropometri didapatkan hasil
sebagai berikut
Tabel 3.7 Hasil Pengukuran Antropometri
Epicondylus lateral
Dextra Sinistra Selisih
ke distal
5 23 cm 23 cm 0
10 23 cm 23 cm 0
15 24 cm 24 cm 0
Epicondylus lateral
34
ke proximal
5 22 cm 22 cm 0
10 22 cm 21 cm 1
15 21 cm 20 cm 1
Dari hasil pemeriksaan di atas dapat disimpulkan bahwa pasien tidak
mengalami bengkak pada lengan bawahnya baik sisi kiri maupun kanan.
e. Pemeriksaan Aktifitas Fungsional dengan Index UEFS
Pemeriksaan nyeri dan kemampuan fungsional dilakukan dengan
Upper Extremity Functinal Scale (UEFS).
Tabel 3.8 Skala Pemeriksaan Aktivitas Fungsional dengan UEFS
(Binkley JM, et al. 2001)
Kesuli
Tidak Sangat Cukup Tidak
tan
No Aktivitas Mam Kesuli Kesuli Kesul
Ringa
pu tan tan itan
n
1 Berjalan dengan 4 3 2 1 0
lambaian tangan
2 Tidur dengan nyaman di 4 3 2 1 0
malam hari
3 Tidur miring 4 3 2 1 0
4 Mengambil sesuatu di 4 3 2 1 0
saku depan
5 Mengambil suatu di saku 4 3 2 1 0
belakang
6 Merapikan lipatan baju 4 3 2 1 0
bagian belakang
7 Mandi dengan lengan 4 3 2 1 0
yang sakit
8 Keramas menggunakan 4 3 2 1 0
lengan yang sakit
9 Meletakkan gelas di rak 4 3 2 1 0
35
setinggi bahu
10 Meletakkan makanan di 4 3 2 1 0
rak setinggi bahu
11 Memindah baju yang 4 3 2 1 0
digantung di lemari
12 Meletakkan cangkir di 4 3 2 1 0
rak yang tinggi
13 Memakai shower mandi 4 3 2 1 0
14 Mengambil sebotol susu 4 3 2 1 0
dari kulkas
15 Menenteng kurang lebih 4 3 2 1 0
5 kg barang belanjaan
16 Menuangkan minuman 4 3 2 1 0
dari 1 liter botol
17 Melempar bola kecil 4 3 2 1 0
setinggi 10 kaki
18 Melempar bola besar 4 3 2 1 0
setinggi 10 kaki
19 Membersihkan 4 3 2 1 0
lantai/menyapu
20 Memakai/melepas 4 3 2 1 0
sweater
21 Meletakkan jaket 4 3 2 1 0
digantungan pakaian
setinggi bahu
22 Aktivitas sehari-hari 4 3 2 1 0
(berpakaian, mandi, dll)
23 Pekerjaan rumah tangga 4 3 2 1 0
(bersih-bersih, mencuci
mobil/motor, dll)
24 Bekerja sesuai 4 3 2 1 0
pekerjaannya
25 Rekreasi/olahraga 4 3 2 1 0
Dari daftar item penilaian 25 aktivitas yang terdapat dalam index
UEFS dapat dipilih kurang lebih 20 item (20x100/25=80) untuk
digunakan dalam penilaian aktivitas fungsional pasien. Dengan cara
jumlah/80x100. Dari hasil penilaian jika semakin sedikit presentase hasil
36
maka akan semakin sedikit kesulitan yag dialami pasien dalam melakukan
aktivitas fungsionalnya.
Tabel 3.9 Hasil Pemeriksaan Aktivitas Fungsional dengan Index
UEFS
No. Aktivitas Nilai
1 Berjalan dengan lambaian tangan 2
2 Tidur dengan nyaman di malam hari 2
3 Tidur miring 3
4 Mengambil sesuatu di saku depan 3
5 Mengambil suatu di saku belakang 4
6 Merapikan lipatan baju bagian belakang 3
7 Mandi dengan lengan yang sakit 4
8 Keramas menggunakan lengan yang sakit 4
9 Meletakkan gelas di rak setinggi bahu 3
10 Meletakkan makanan di rak setinggi bahu 3
11 Memindah baju yang digantung di lemari 3
12 Memakai shower mandi 4
13 Mengambil sebotol susu dari kulkas 3
14 Menenteng kurang lebih 5 kg barang belanjaan 4
15 Membersihkan lantai/menyapu 3
16 Memakai/melepas sweater 3
17 Meletakkan jaket digantungan pakaian setinggi bahu 3
18 Aktivitas sehari-hari (berpakaian, mandi, dll) 3
19 Pekerjaan rumah tangga (bersih-bersih, mencuci
3
mobil/motor, dll)
20 Rekreasi/olahraga 4
Jumlah Skor 64
Hasil akhir 64/80x100
=80%
Dari hasil pemeriksaan aktivitas fungsional dengan menggunakan index
UEFS pada pasien Ny. I didapat tingkat ketidak mampuan pasien masih
80%. Ini berarti pasien masih kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.
37
B. Problematika Fisioterapi
1. Impairment
Dari hasil pemeriksaan didapatkan : (1) adanya nyeri tekan pada luka incisi
dan nyeri gerak flexi-extensi, pronasi-supinasi, (2) adanya keterbatasan LGS
pada gerakan flexi elbow dextra, pronasi-supinasi forearm dextra, (3) adanya
penurunan kekuatan grup otot flexor elbow dextra, supinator dan pronator
forearm dextra.
2. Fungsional Limitation
Dari pemeriksaan didapatkan hasil : (1) Pasien kesulitan dalam dressing, (2)
Pasien kesulitan dalam aktifitas feeding, (3) Pasien kesulitan ketika bathing.
3. Disability
Dari hasil anamnesis didapatkan hasil bahwa pasien merasa kesulitan sebaga
ibu rumah tangga ketika menggendong bayi, menyapu, mencuci piring, dll.
C. Program/Rencana Fisioterapi
1. Rencana/tujuan fisioterapi dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Tujuan jangka pendek
Tujuan jangka pendek diantaranya : (1) Mengurangi nyeri tekan dan
nyeri gerak pada elbow dextra, (2) Meningkatkan LGS elbow dextra, (3)
Meningkatkan kekuatan grup otot flexor-extensor dan pronator-supinator
elbow dextra.
38
b. Tujuan jangka panjang
Tujuan jangka panjangnya adalah meningkatkan aktivitas fungsional
pasien secara bertahap dan mengembalikan aktivitas fungsional pasien
seperti semula.
2. Edukasi
Edukasi yang diberikan diantaranya: (1) Pasien dianjurkan untuk tetap
berlatih sendiri dirumah seperti yang telah diberikan terapis, (2) Pasien
dianjurkan untuk tidak mengangkat benda/barang berat, (3) jangan menumpu
berat badan menggunakan tangan kanan.
D. Penatalaksanaan Fisioterapi
Penatalaksanaan fisiterapi dilakukan pada tanggal 04, 08, 12, 16, 19, 22 Maret
2016 yang telah diberikan yaitu dengan infra merah dan terapi latihan (exercise).
1. Terapi ke-1, tanggal 4 Maret 2016
a. Infra Red
1) Tujuan dari infra red untuk meningkatkan sirkulasi darah dan
merileksasikan otot.
2) Persiapan alat yang dilakuakan adalah pastikan kabel dan stop kontak
dalam keadaan baik dan pastikan lampu Infra Red dalam keadaan baik.
3) Persiapan pasien
a) Posisikan pasien senyaman mungkin.
b) Tes sensibilitas area yang akan diterapi dengan panas dingin.
39
c) Beritahu pasien bahwa yang akan dirasakan adalah hangat.
4) Penatalaksanaan
a) Pasang lampu dengan posisi tegak lurus pada area yang diterapi
(pada bagian wajah sisi kanan) dengan jarak ±30-45 cm. Tekan
tombol ON.
b) Putar waktu selama 15 menit.
c) Monitor pasien setiap 5 menit.
d) Bila alarm berbunyi pertanda terapi telah selesai.
e) Tekan tombol OFF untuk dirapikan kembali.
b. Terapi Latihan
1) Posisi pasien tidur terlentang di atas bed dengan rilex dan nyaman
2) Posisi Terapis berada di sebelah pasien, di dekat tangan yang akan
terapis
3) Penatalaksanaan
a) Active Asissted Exercise
Pasien diminta untuk melakukan gerakan secara aktif namun
dengan sedikit bantuan dari terapis yaitu gerakan flexi-extensi elbow
dextra dan pronasi-supinasi forearm dextra dan terapis memberikan
fiksasi pada proximal radius-ulna (letak fraktur) pasien serta distal
radius-ulna. Setiap gerakan dilakukan pengulangan 6-8 kali.
40
b) Free Active Exercise
Pasien diminta untuk melakukan gerakan secara aktif yaitu
gerakan flexi-extensi elbow dextra dan pronasi-supinasi forearm
dextra dan terapis memberikan fiksasi pada proximal radius-ulna
(letak fraktur) pasien serta distal radius-ulna. Setiap gerakan
dilakukan pengulangan 6-8 kali.
2. Terapi ke-2 sampai ke-3 (Tanggal 8 dan 12 Maret 2016)
Terapi yang dilakukan sama seperti terapi ke-1.
3. Terapi ke-4 sampai dengan terapi ke-6 (Tanggal 16, 19, dan 23 Maret 2016)
Terapi sama dengan terapi yang ke-1 hanya saja ditambah dengan latihan:
a. Active Resisted Exercise
Pasien diminta melakukan gerakan flexi-extensi elbow dextra dengan
diberikan tahanan dari terapis. Sehingga pasien diminta untuk melawan
tahanan yang diberikan oleh terapis. Setiap gerakan dilakukan pengulangan
6-8 kali.
b. Hold Relax
Pasien diminta untuk menekuk siku kanannya semampu pasien.
Kemudian terapis memberikan tahanan isometrik dan instruksikan pasien
untuk meluruskan sikunya dengan aba-aba dorong tangan saya, dengan
fiksasi pada proximal radius ulna (letak fraktur) dan tahanan pada
pergelangan tangan kanan pasien. Kontraksi di pertahankan selama 7 detik,
41
kemudian pasien diminta untuk rilex dan dilakukan penguluran ke arah flexi
siku secara pasif. Gerakan dilakukan 6-8 kali pengulangan.
E. Rencana Evaluasi
1. Evaluasi nyeri menggunakan VDS
2. Evaluasi LGS menggunakan goneometer
3. Evaluasi kekuatan otot dengan MMT
4. Evaluasi kemampuan fungsional dengan UEFS