Algoritma Resusitasi ACLS Dewasa
Algoritma Resusitasi ACLS Dewasa
Cek pernapasan
Lihat, dengar, dan rasakan
a) VF/ pulseless VT
b) Asistol
Irama jantung yang tidak stabil adalah salah satu yang dapat
menyebabkan bahaya hemodinamik (kegagalan, penurunan derajat
kesadaran, nyeri dada persisten atau VPC’S berkelanjutan pada keadaan
kemungkinan hipotensi infark miokard akut), gagal jantung kongestif.
a. Bradikardi stabil.
e. VT stabil.
4. Irama jantung yang mematikan
Irama yang mematikan membutuhkan pengenalan segera dan tindakan
yang sesuai oleh penolong misalnya jika seorang pasien mengalami fibrilasi
ventrikel atau takikardi ventrikel tanpa denyut nadi, defibrilasi segera adalah
penanganan yang tepat sedangkan penanganan serupa berbahaya dan
berpotensi mematikan pada kasus pulseless electrical activity (hadirnya
depolarisasi listrik pada keadaan hilangnya denyut nadi) atau asistol
(penyebab yang mendasari harus dikoreksi pada situasi terakhir).
Sejak tahun 60-an epinefrin telah digunakan sebagai obat pilihan untuk
kejut VF refrakter; epinefrin bekerja sebagai agonis alpa yang menyebabkan
vasokonstriksi sistemik yang mempertahankan vasokonstriksi perifer; yang
mempertahankan tonus pembuluh darah perifer dan mencegah kolaps
pembuluh darah, selain meningkatkan perfusi arteri koroner
Vasopressin, vasokontriktor potensial yang bekerja dengan
meningkatkan siklik adenosin monofosfat (AMP) yang mungkin lebih di atas
dari epinefrin untuk terapi kejut VF refrakter/ pulseless VT; tidak ada bukti
yang mendukung penggunaannya pada PEA atau asistol dimana epinefrin
tetap digunakan sebagai obat pilihan pertama. Dibandingkan dengan
epinefrin yang memiliki waktu paruh 3-4 menit, vasopressin memiliki waktu
paruh 10- 20 menit dan diberikan dalam dosis tunggal 40 IU secara
[Link] juga dikaitkan dengan efek sampingnya yang kurang,
perbaikan hemodinamik, dan perbaikan survival dibandingkan dengan
epinefrin.
Percobaan defibrilasi sampai 3 kali kejut Epinefrin 1 mg IV, ulangi setiap 3- 5 menit
Perhatikan 5H dan 5T
HipovolemiaTablet (overdosis obat)
Pacing darurat segera (2b) Henti jantung brady systolic (jantung) H- ion (asidosis)TensionPneumotoraks Hiper/hipokalemia Trombos
HipoksiaTamponade
Atropin 1 mg IV jika PEA lambat, ulangi setiap 3-5 menit, jika perlu (dosis total 0.04 mg/kg)
1. Takikardi
Secara klinis penolong harus mengetahui apakah pasien stabil atau tidak;
penting juga untuk mengelompokkan apakah takikardinya kompleks sempit atau
lebar karena hal tersebut yang menuntun pilihan terapi obat.
Jika pasien tidak stabil, penolong harus menstabilkan denyut jantung sebagai
penyebab dari gejala (hampir selalu denyut jantung lebih dari 150). Langkah
berikutnya adalah untuk mengkardioversi irama tidak stabil tersebut. Defibrilator
modern/ kardioverter dapat menghasilkan kejut yang tidak sinkron maupun kejut
yang sinkron; pada awalnya kejut listrik dapat menurun dimana saja di siklus
jantung, sementara sebagai akhirnya kejut dihasilkan secara sinkron dengan
puncak kompleks QRS. Kejut listrik tersinkronisasi mennghindarkan
dihasilkannya kejut sepanjang repolarisasi jantung, periode yang rentan selama
kejutan dapat memicu fibrilasi ventrikel. Rekomendasi ACLS adalah untuk
mensinkronkan pasien dengan takikardi stabil dan pasien dengan takikardi tidak
stabil yang sangat tidak stabil, yang penundaan sebentar saja dapat
mengakibatkan kemunduran klinis yang lebih lanjut. Sebaliknya, untuk
menghindari penundaan yang berbahaya, pasien yang sangat tidak stabil,
seperti mereka yang dalam syok berat atau pulseles VT, harus mendapatkan
kejut listrik yang tidak sinkron. Jika, kejut yang tidak sinkron menimbulkan VF,
defibrilasi harus dilakukan dengan segera.
Untuk kardioversi tersinkronisasi, langkah pertama adalah menyiapkan
peralatan; monitor saturasi oksigen, jalur intravena dan peralatan intubasi harus
tersedia dan jika mungkin pasien harus dipremedikasi dengan
midazolam±fentanil di bawah supervise dari seorang ahli anestesi. Langkah
selanjutnya adalah memberikan kejut DC tersinkronisasi pada VT monomorfik
dengan denyut nadi, paroxysmal supraventricular tachycardia (PSVT), fibrilasi
atrium (AF), atrial flutter dengan kejut monofasik 100-200-300-360J atau setara
dengan kejut bifasik 70-120-150-170J. Jika pasien tidak stabil, penolong harus
melanjutkan untuk kardioversi segera. Jika pasien stabil penolong kemudian
mengelompokkan jenis aritmianya dan melanjutkan dengan algoritma individual.
Takikardi kompleks sempit yang stabil diklasifikasikan lebih lanjut ke dalam
PSVT, takikardi atrium multifocal (MAT) dan takikardi junctional.
Membedakannya penting karena PSVT disebabkan oleh fenomena re-entri
ketika yang lain sebagai tambahan takikardi atrium ektopik biasanya disebabkan
oleh fokus otomatis atau fokus yang mudah terangsang dan tidak berespon
dengan kardioversi.
Pada VT, perhatian diberikan pada apakah pasien stabil atau tidak,
morfologi (monomorfik atau polimorfik), fraksi ejeksi dan interval QT. Ketika QT
normal, VT disebabkan karena iskemia atau ketidakseimbangan elektrolit;
penolong harus menangani iskemia, dan melakukan koreksi elektrolit.
Pada korban dengan interval QT yang memanjang (Torsades), penolong
harus mengoreksi elektrolit, coba magnesium, menambah kecepatan pacing,
isoprotrenol, fenitoin atau lidokain.
Fibrilasi atrium/ atrial flutter diterapi dalam tahap biasa yang bergantung
pada beberapa faktor; jika pasien tidak stabil, penolong melakukan satu kali
kardioversi, jika pasien stabil, kontrol denyut jantung menjadi prioritas diikuti
dengan konversi irama jantung jika dianggap perlu dan/atau sesuai.
ALGORITMA UNTUK TAKIKARDI KOMPLEKS LEBAR STABIL, TIDAK
DIKETAHUI
EF kurang dari
Pertahankan fungsi
40%, CHF
jantug
Kardioversi DC
Amiodaron
Prokainamid Kardioversi DC
Amiodaron
Penolong harus mencoba 50J untuk PSVT atau atrial flutter pada percobaan
pertama kardioversi
PROTOKOL FIBRILASI ATRIUM/ ATRIAL FLUTTER
EF NORMAL EF NORMAL
EF <40%,CHF
Amiodaron
2. Bradikardi
Pertanyaan klinis utama adalah apakah bradikardi memperburuk keadaan
pasien atau ada hal lain yang menimbulkan bradikardi. Kita seharusnya hanya
menangani bradikardi simptomatik tapi kita harus mengenali bradikardi yang
berbahaya dengan kata lain bradikardi yang tampaknya memburuk bahkan jika
pasien asimptomatik. Jenis bradikardi tersebut meliputi:
a. Blok AV derajat II, Tipe 2
b. Blok jantung derajat III (blok jantung total)
Penting untuk mengenali bradikardi yang dihasilkan oleh infark miokard
akut, khususnya infark inferior atau infark ventrikel kanan; efek parasimpatik
menyebabkan bradikardi tapi hipotensi, jika ada dikaitkan dengan keadaan
hipovolemia dan pasien seperti itu membutuhkan pemberian cairan dengan
menggunakan normal saline (250-500 ml selama 15- 30 menit) dan tindakan ini
dapat menyelamatkan jiwa. Atropin adalah obat pilihan dalam penatalaksanaan
awal dari banyak kasus bradikardi; obat ini bekerja dengan menghalangi fungsi
nervus vagus. Akan tetapi area jantung yang tidak dipersarafi oleh nervus vagus
tidak akan berespon terhadap atropin; oleh karena itu atropin tidak diindikasikan
pada blok jantung derajat III atau Mobitz tipe II. Penggunaannya dapat
mempercepat denyut atrial dan menghasilkan peningkatan blok nodus AV.
BRADIKARDI, (2)
(ABSOLUT/ RELATIF*)
Elevasi segmen ST/ LBBB onset barusegmen ST atau T terbalik/ angina tidakEKG
Depresi non-diagnostik
stabil resiko tinggi Angina intermediate/ resiko renda
KELUAR RS/FOU
PCI/ CABG*****
Keterangan
*Jika pemberian nitrogliserin saja tidak menghilangkan nyeri, Morfin atau petidine
diberikan secara intravena.*Tidak ada kontraindikasi.***Berdasarkan sumber
daya setempat.**** UHF unfractionated heparin, LMWH low molecular weight
heparin, yang terakhir lebih disukai pada kasus depresi segmen ST.*****
Percutaneous Coronary Intervention/Coronary Artery Bypass
a. Semua pasien dengan infark miokard membutuhkan aspirin dan beta- bloker jika
tidak ada kontraindikasi.
b. Pemeriksaan EKG 12-lead pre- rumah sakit (kelas 2a) meningkatkan diagnosis
dan mengurangi waktu di rumah sakit untuk penanganan.
d. PCI lebih unggul dari terapi fibrinolitik pada pasien usia <75 tahun dengan syok
kardiogenik.
e. Heparin bolus 80 m/kg dan infus 12 m/kg perhari diindikasikan sebagai terapi
tambahan dengan terapi fibrinolitik (misalnya, alteplase) dan untuk semua pasien
yang menjalani PCI.
Infark Miokard Akut dengan Depresi Segmen ST
Obat- obat yang menghambat reseptor glikoprotein IIb/IIIa khususnya
yang durasi kerja pendek seperti Eptifabatide dan Triofiban memperbaiki
prognosis pasien yang beresiko tinggi karena depresi segmen ST, marker positif
dan iskemia refrakter; obat- obatan tersebut juga direkomendasikan untuk pasien
yang menjalani PCI.
a. Enoxaparin, heparin dengan berat molekul rendah (LMWH) lebih unggul
daripada unfractionated heparin (UFH) dan mudah untuk diberikan tanpa
adanya angina berulang (rebound angina).
b. Penggunaan terapi dengan tiga anti-trombotik (aspirin dan klopidogrel*,
penghambat GP IIb/IIIa dan UFH/LMWH) merupakan terapi yang paling efektif
untuk IMA dengan depresi segmen ST dan angina tidak stabil.
Farmakologi Resusitasi
a. Amiodaron (kelas 2b) 300 mg IV bolus cepat adalah obat pilihan untuk henti
jantung karena VT/VF yang tetap berlangsung setelah pemberian kejut
berkali- kali. (Lidokain 1.0-1.5 mg/kg kelasnya tidak dapat ditentukan untuk
indikasi yang sama).
b. Amiodaron dan Sotalol (kelas 2b) adalah obat yang direkomendasikan untuk
terapi VT monomorfik stabil dan polimorfik.
c. Amiodaron dan prokainamid (kelas 2b) direkomendasikan di depan daripada
adenosine untuk terapi takikardi kompleks lebar stabil.
d. Bretyllium** telah dikeluarkan dari protokol VF/pulseless VT.
* Kira- kira 20% pasien tidak mempan dengan Aspirin
** Persediaan Bretyllium di dunia hampir habis
Sodium Bikarbonat
a. Kelas 1: Pada keadaan hiperkalemia yang telah ada sebelumnya.
b. Kelas 2a: Pada keadaan asidosis yang berespon dengan pemberian bikarbonat.
c. Kelas 2a: Pada overdosis obat antidepresan trisiklik.
d. Kelas 2a: Pada urin yang alkali akibat overdosis aspirin atau obat lainnya.
e. Kelas 2b: Untuk intubasi dan ventilasi pasien- pasien dengan
interval henti jantung yang lama.
f. Kelas 2b: Kembalinya sirkulasi setelah henti jantung yang lama.
g. Kelas 3: Berbahaya pada asidosis hiperkarbik
REFERENSI
1. AP Adams et al. Recent Advances in Anaesthesia and Intensive Care 2003; 22: 259-99.
2. Richard O. Cummins, ACLS text book. Essential of ACLS 1997; 1-71.
3. Eisenberg et al. Cardiac arrest and resuscitation, Ann Emerg Med 1990; 19: 179-86.
4. Lombardi et al. Phase Study, JAMA. 1994; 271: 678-83.
5. Chapman PD Et al. Monphasic vs biphasic waveforms for non thoracotomy
canine internal fibrillation. J Am Coll Cardiol 1989; 14; 242-45.
6. Gliner BE et al. Trans thoracic defibrillation of swine with monophasic and
biphasic waveforms. Circulation 1995; 92:1634-43.
7. Richard L Page et al. Use of AEDS by US Airline. N Engl J Med 2000; 343: 1210-7.
8. Schuder et al. Transthoracic ventricular defibrillation in 100 kg calf with one cycle
of bidirectional rectangular, wave stimuli. Trans Biomed Eng 1983; 30: 415-22.
9. Cummins R et al. chain of survival concept, AHA. Circulation. 1991; 83(5): 1832-47.
10. M Mark Awar et al. ACLS Geriatrics 2003; 5: 30-34.
11. Alfred Halstrom et al. CPR by chest compression alone or with mouth to mouth
ventilation. N Engl J Med 2000; 342(21);1546-53
12. Cummins et al. Pre hospital CPR, JAMA 1985; 253: 2408-12.
13. Eisenberg MS et al. Cardiac arrest in community JAMA 1979; 241: 1905-07.
14. Thompson RG et al. Bystander initiated CPR for the management of VF. Ann
Intern Med 1979; 90:737-40.
15. Waalewijm RA et al. Out of hospital cardiac arrests in Amsterdam and
surrounding areas. Resuscitation 1998; 38:157-167.
16. Babbs C F, Ralston et al. Theoretical advantages of abdominal counterpulsation
in CPR. Ann Emerg Med 1984; 22: 499-506.
17. Leone et al. Mild hypothermia improves neurological outcomes, during and after
arrest in dogs. J Cereb Flow and Metab 1990; 10: 57-70.
18. Wenzel, Inder KH et al. Effects of phased chest and abdominal compression and
decompression CPR on myocardial and cerebral blood flow in pigs. Crit Care Med
2000; 28: 1107-1112.
19. Hans Richard et al. Phased chest and abdominal Compression Decompression
Vs Conventional CPR in out of hospital Cardiac arrest. Circulation 2001; 104:
768-7.
20. Dlaisaine P, Lurie KG et al. comparison of standard CPR with active compression
decompression for out of hospital cardiac arrest. N Engl J Med 1999; 314: 1993-
99.
21. Sterz et al. Active compression decompression in patients with cardiac arrest.
Circulation 1996; 94: 1-9.
22. Cogbill PD et al. Rationale for selective thoracotomy in trauma. J Trauma 1983; 23: 453-60.
23. Danne PD et al. Emergency Bay Thoracotomy. J Trauma 1984; 24: 796-802.