0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan8 halaman

Metode Intuitif dalam Visi dan Misi

Dokumen ini membahas tentang visi, misi, dan tujuan perusahaan. Visi dan misi perusahaan harus disusun dengan baik agar dapat memotivasi karyawan dan mengarahkan perusahaan ke masa depan. Tujuan perusahaan harus sejalan dengan visi dan misi serta memiliki waktu yang jelas untuk pencapaian.

Diunggah oleh

Annisa Anilda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan8 halaman

Metode Intuitif dalam Visi dan Misi

Dokumen ini membahas tentang visi, misi, dan tujuan perusahaan. Visi dan misi perusahaan harus disusun dengan baik agar dapat memotivasi karyawan dan mengarahkan perusahaan ke masa depan. Tujuan perusahaan harus sejalan dengan visi dan misi serta memiliki waktu yang jelas untuk pencapaian.

Diunggah oleh

Annisa Anilda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : ANNISA ANILDA S.

NIM : A031171008
RMK MANAJEMEN STRATEGIK
VISI & MISI PERUSAHAAN
A. Visi Perusahaan
Menurut Ismail Solihin (2012:21) peryataan visi menunjukkan arah strategis
perusahaan untuk mencapai berbagai hasil di masa mendatang sehingga akan menuntun
pengarahan sumber daya perusahaan bagi pencapaian berbagai tujuan tersebut. Visi
yang dibuat oleh perusahaan memiliki kaitan yang sangat erat dengan Misi perusahaan,
dalam arti strategis yang dinyatakan di dalam Visi masih berada di dalam lingkup usaha
yang dijalankan oleh perusahaan. Visi perusahaan lebih menggambarkan “What do you
want to become” sedangkan Misi perusahaan lebih menunjukkan “What is our business.
Ruben Mark, mantan CEO Colgate menyakini sebuah misi yang jelas harus
semakin masuk akal secara Internasional. Pemikran Mark tentang Visi adalah sebagai
berikut:
“Jika ingin mengajak semua orang dibawah bendera perusahaan, adalah hal yang
penting untuk memperkenalkan satu visi secara global alih-alih berusaha menyatukan
beragam pesan dalam berbeda. Triknya adalah dengan membuat visi sederhana
sekaligus menggigit: "kami membuat komputer tercepat di dunia" atau "layanan telpon
untuk semua orang." Anda tidak perlu membuat orang mengakong senapan mesin hanya
untuk tujuan-tujuan finansial. Hal yang dibutuhkan hanyalah membuat orang merasa
lebih baik, merasa menjadi bagian dari sesuatu.”
Visi juga mempunyai beberapa manfaat, diantaranya:
1. Memudahkan komitmen semangat kerja karyawan.
Karyawan tidak akan bekerja dengan penuh antusias jika dia tidak tahu untuk apa
dia bekerja. Namun, jika dia tahu apa kontribusi perusahaan pada masyarakat dia akan
termotivasi bahwa dia bekerja bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk
masyarakat.
2. Menumbuhkan rasa kebermaknaan.
Salah satu tempat karyawan mencari makna kehidupan adalah lingkungan
pekerjaannya.
3. Menumbuhkan standar yang prima.
Jika seorang karyawan memahami dia bekerja untuk suatu tujuan yang sangat
mulia, dia akan bekerja penuh semangat dan meletakkan standar prima untuk setiap
pekerjaannya.
Setiap perusahaan senantiasa mempunyai cita-cita ideal yang hendak dicapai.
Citai-cita. Tersebut akan diperjuangkan agar jati dirinya jelas, yakin citra nilai dan
kepercayaan perusahaan. Visi perusahaan adalah citra nilai dan kepercayaan ideal.
Dengan kata lain, Visi merupakan wawasan luas ke masa depan dari manajemen dan
merupakan kondisi ideal yang hendak dicapai oleh perusahaan di masa yang akan
datang. Visi memberi arah dan ide actual kepada manajemen dalam proses pembuatan
keputusan, agar setiap tindakan yang akan dilakukan senantiasa berlandasan visi
perusahaan dan memungkinkan untuk mewujudkannya.
Adapun karakteristik visi yaitu sebagai berikut.
a. Diciptakan melalui permufakatan/konsesus.
b. Memberikan pandangan atas segala sesuatu yang terbaik di masa yang akan
datang.
c. Mempengaruhi orang untuk menuju ke misi.
d. Tanpa keterbatasan dimensi waktu.
B. Misi Perusahaan
Menurut David (2009:84), peryataan misi (mission statement) adalah sebuah
deklarasi tentang "alasan keberadaan" suatu organisasi. pertanyaan misi harus
menjawab pertanyaan paling penting, "apakah bisnis kita?". pertanyaan misi yang jelas
sangat penting untuk menetapkan tujuan dan merumuskan strategi. Terkadang juga
diistilahkan sebagai pertanyaan keyakinan (creed statement), sebuah pertanyaan filosofi,
pernyataan kepercayaan, pernyataan prinsip-prinsip bisnis, atau pernyataan yang
"menentukan bisnis kita", pernyataan misi menjelaskan ingin menjadi apa suatu
organisasi dan siapa saja yang coba dilayaninya. Semua organisasi memiliki alasan
kenapa mereka ada, meskipun bila para penyusun strategi tidak secara sadar
mentranformasikan alasan ini kedalam bentuk tulisan.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa misi adalah pernyataan
tentang apa yang harus dikerjakan oleh perusahaan dalam uasahanya, mewujudkan
visi. Misi merupakan sesuatu yang nyata untuk dituju serta dapat pula memberikan
petunjuk garis besar cara pencapaian visi. Adapun manfaat misi antara lain:
a. Memastikan tujuan dasar organisasi.
b. Memberikan basis atau standar untuk mengalokasikan SD di organisasi.
c. Menciptakan kondisi atau iklim organisasi yang umum.
d. Menjadikan titik utama bagi individu dalam mengidentifikasi tujuan dan arah
organisasi.
e. Memfasilitasi penerjemahan tujuan menjadi struktur kerja yang melibatkan
penungasan hingga elemen tujuan dalam bentuk sedemikian rupa hingga
perameter waktu, biaya, dan kinerja dapat dievaluasi dan dikontrol.
Menurut Davit, Fred R, (2009:102) terdapt Sembilan karakteristi yang harus
terangkum dalam suatu misi perusahaan, dank arena misi perusahaan merupakan bagian
dari proses strategic management yang akan dipublikasikan kepada masyarakat, maka
misi perusahaan sebaiknya mencakup Sembilan komponen pokok tersebut, yang terdiri
dari:
 Customer
Secara eplisit misi harus menyebutkan siapa yang menjadi pelanggan bagi
produk perusahaan.
 Product or Services
Dalam hal ini secara spesifik perusahaan harus menyebutkan produk atau jasa
apa saja yang dihasilkan oleh perusahaan.
 Markets
Pernyataan ini menjelaskan di pasar mana produk perusahaan akan bersaing
dengan produk yang dihasilkan oleh pesaing.
 Technology
Pernyataan misi menyebutkan arah pengembangan teknologi perusahaan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen.
 Concern for survival, growth, and profitability
Dalam hal ini peryataan misi menunjukan secara komitmen perusahaan terhadap
kelangsungan hidup perusahaan, pertumbuhan dan kemampuan untuk menghasilkan
laba (proditabilitas).
 Philosophy
Misi akan menjelaskan kepercayaan (beliefs), nilai (values), aspirasi, dan
prioritas etis dari perusahaan.
 Self Concept
Misi akan menjelaskan apa yang menjadi kompetensi unggulan (distinctive
comperences) dari perusahaan dibandingkan pesaingnya.
 Concern for public image
Misi akan menunjukan apakah perusahaan memiliki respons terhadap masalah-
masalah social, kemasyarakatan maupun terhadap masalah lingkungan.
 Concern for employees
Dalam hal ini pernyataan misi akan menunjukan apakah karyawan merupakan
asset yang berharga perusahaan.
C. Tujuan Perusahaan
Tujuan perusahaan merupakan pernyataan tentang keinginan yang akan
dijadikan pedoman bagi manajemen perusahaan untuk meraih hasil tertentu atas
kegiatan yang dilakukan dengan dimensi waktu tertentu. Dengan demikian tujuan
memiliki karakteristik yang berbeda dengan visi maupun misi di antaranya:
1. Sesuai: tujuan selaras dengan visi dan misi.
2. Berdemendi wsktu: tujuan harus konkrit dan bisa diantisipasi kapan terjadinya.
3. Layak: tujuan hendaknya merupakan suatu tekad yang bisa diwujudkan
4. Fleksibel: tujuan senantiasa bisa di sesuaikan atau peka terhadap perubahan
situasi dan kondisi
5. Mudah dipahami
Adapun empat alas an tujuan pentingnya tujuan bagi perusahaan dan bagi
menajemen strategi, yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya. Sebagai besar
organisasi perlu membenarkan keabsahan eksistensinya, untuk mengabsahkan diri
dalam pandangan pemerintah, kosumen, dan masyarakat luas. Dengan menetapkan
tujuan, perusahaan akan menarik orang mengelali tujuan ini sehingga mau bekerja
untuk mereka.
2. Tujuan membantu mengkoordinasi keputusan dan pengambil keputusan. Tujuan
yang menyatakan mengarahkan perhatian karyawan kepada norma perilaku yang
dikehendaki. Tujuan dapat mengurangi pertentangan dalam pengambilan keputusan
kalau semua karyawan mengetahui tujuannya. Tujuan menjadi kehendak dalam
keputusan.
3. Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaan prestasi organisasi. Tujuan
merupakan norma terakhir untuk organisasi menilai dirinya. Tanpa tujuan,
oerganisasi tidak mempunyai dasar yang jelas untuk menilai keberhasilannya.
4. Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan visi dan misi.
Pada saat sekarang perumusan tujuan perusahaan harus mempertimbangkan 3
faktor:
1. Realitas lingkungan dan salaing berhubungan kekuasaan ekternal.
2. Realitas sumbe-sumber dan saling berhubungan kekuatan internal perusahaan
3. System nilai para eksekutif puncak.
D. Menyusun, Mengembangkan, dan Mengevaliasi Visi,Misi dan Tujuan
Dalam penetapan visi, perusahaan harus memenuhi persyaratan dan kriteria.
Adapun persyaratan dan kriteria visi perusahaan secara umum antara lain:
1. Dapat dibayangkan oleh seluruh jajaran organisasi perusahaan.
2. Dapat dikomunikasikan dan dapat dimengerti oleh seluruh jajaran organisasi
perusahaan.
3. Berwawasan jangka panjang dan tidak mengabaikan perkembangan zaman.
4. Memiliki nilai yang diinginkan oleh anggota organisasi perusahaan.
5. Terfokus pada permasalahan instansi perusahaan agar dapat beroprasi.
Setelah menyusun visi yang baik bagi perusahaan, dapat ditentukan bagaimana
visi bisnis perusahaan. Hal pertama yang dapat dilakukan dalam rangka menyusun visi
perusahaan adalah dengan mengidentifikasikan aktivitas perusahaan berdasarkan impian
yang ingin dicapai. Setelah itu, dapat ditetapkan pandangan masa depan perusahaan,
ingin mencapai titik kesuksesan setinggi apakah perusahaan tersebut. Menyediakan
gambaran besar yang mengambarkan siapa saja yang ada di dalam perusahaan tersebut,
apa yang akan dilakukan setiap peronil perusahaan dan kemanakah arah pergerakan
perusahaan.
Sebelum membahas lebih jauh tentang bagaimana penyusun, mengembangkan
serta mengevaluasi misi bisnis suatu perusahaan, perlu terlebih dahulu untuk
mengetahui apa saja komponen misi. Ada Sembilan komponen yang mutlak ada dalam
sebuah misi apabila misi tersebut hendak menjadi misi yang efektif.
Setelah mengetahui komponen misi yang baik bagi suatu perusahaan, dapat
ditemukan strategi penyusunan misi dari sebuah perusahaan. Hal pertama yang dapat
dilakukan dalam rangka menyusun misi perusahaan adalah dengan menetapkan
perusahaan menjadi bagian-bagian yang kecil. Setelah itu, barulah dapat ditentukan
bagaimana bagian-bagian dari perusahaan tersebut akan bergerak mencapai visi
perusahaan.
Melaksanakan pengembangan visi dan misi perusahaan tentunya membutuhkan
sebuah pendekatan. Satu pendekatan yang digunakan secara luas untuk
mengembangkan visi dan misi antara lain melalui langkah-langkah:
1. Pertama-tama memilih beberapa artikel atau dokumen mengenai pernyataan ini
meminta semua manajer untuk membaca sebagai informasi latar.
2. Meminta para manajer untuk membuat sendiri pernyataan visi dan mis bagi
organisasi.
3. Meminta seorang fasitator atau dewan manajer puncak, menyatukan pernyataan-
pernyataan ini ke dalam sebuah dokumen dan membagikan draf pernyataan
kepada semua manajer.
4. Permintaan akan perubahan, penambahan, dan penghapusan diperlukan
setelahnya, saat diadakan sebuah pertemuan untuk merevisi dokumen tersebut.
5. Bagitu semua manajer telah memberikan masukan mereka serta mendukung
dokumen final, organisasi dapat dengan mudah memperoleh dukungan manajer
untuk aktivitas perusahaan, penerapan, dan pengevaluasian strategi.
6. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya ini, salah satu
cara yang paling sering dan lazim digunakan adalah dengan membentuk forum-
forum diskusi.
E. Pendekatan Pengambilan Keputusan
Menurut Lawrence R. Jauch & W.F Glueck (1996) ada berbagai teori tentang
bagaimana pengambilan keputusan, mengambil suatu keputusan, namun sebagian besar
penulis memusatkan perhatiannya pada tiga cara pendekatan, yaitu rasional analisi,
intuitif emosional, dan perilaku politis (behavioral political).
a. Pengambilan Keputusan yang rasional-analisis
Dalam model ini, pengambilan keputusan merupakan seseorang aktor yang tunduk-
tunduknya bukan saja cerdas tetapi juga rasional. Aktor memilih keputusan dengan
penuh kesadaran tentang semua alternative yang mungkin ada untuk mendapatkan
keuntungan maksimal. Oleh karena itu, pengambil keputusan mempertimbangkan
semua alternative dan segala akibat dari pilihan yang dapat diambilnya, menyusun
segala akibatnya dengan memperhatikan skala pilihan (scale of performsnce) yang pasti,
dan memiliki alternative yang memberikan hasil maksimum.
b. Pengambilan Keputusan yang Intuitif-emosional
Lawan dari pengambilan keputusan yang rasional adalah pengambilan keputusan
yang intuitif. Pengambil keputusan ini menyukai kebiasaan dan pengalaman, perasaan
yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri dengan menggunakan proses alam
bawah sadar. Proses ini dapat disorong oleh naluri, orientasi kreatif, dan konfrontasi
kreatif. Pengambilan keputusan intuitif mempertimbangkan sejumlah alternative dan
peluang secara serempak meloncat dari satu langkah dalam analisis atau mencari yang
lain dan kembali lagi.
Beberapa orang yang menekankan intuisi atau pendapat sebagai cara pendekatan
yang disukai, menunjukkan bahwa dalam banyak persoalan, pertimbangan mungkin
mengarah ke keputusan yang lebih baik dari pada teknik mengoptimumkan. Misalnya,
analisis kepekaan alat seperti pesanan dalam jumlah yang paling ekonomis (EOQ =
economic order quantity). Model ini menggunakan bahwa ada pesanan jumlah optimal
berkenaan dengan untuk rugi (trade-off ) dari biaya pemesanan dan penyimpanan.
Tetapi mungkin akan menjadi jauh dari “optimal” ini dakan banyak hal tanpa dampak
sangat nyata pada perbedaan pembiayaan keseluruhan. Oleh karena itu, di sini
pertimbangan factor lainnya dalam suasana keputusan dapat mengarah ke kesimpulan
menyeluruh yang lebih baik berkenaan dengan jumlah pesanan, dari pada tetap
berpegang pada keputusan dapat mengarah ke kesimpulan menyuruh yang lebih baik
berkenaan intuitif tentang apa yang dikemukakan data. Dalam banyak kasus,
pertimbangan seperti ini mungkin lebih disukai dari pada mengandalkan analisis.
c. Pengambilan Keputusan Secara Politis-perilaku
Pendangan ketiga mengemukakan bahwa pengambil keputusan yang sesungguhnya
harus mempertimbangkan sejumlah tekanan dari orang lain yang terpengaruh oleh
keputusan mereka. Serikat buruh menukarkan tenaganya untuk upayah yang paling
pantas dan jaminan kerja. Konsumen menukarkan uang mereka dengan produk dan jasa.
Pemilik menukar modalnya untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan dari
investasinya. Pemasok (supplir) menukarkan perlindungan dan jaminan ekonomi
dengan pajak. Bahkan pesaing pun menukarkan informasi satu sama lainnya melalui
asosiasi perdagangan atau hubungan lainnya, dan sebaiknya.
Sedangkan jika ditinjau dari kondisi keputusan yang harus diambil, terdapat empat
pengambilan keputusan, yaitu:
1. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti (certainty).
2. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang mengandung risiko.
3. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang tidak pasti.
4. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang timbulkan karena pertentangan
dengan keadaan lain.
d. Gaya Pengambilan Keputusan
Salah satu pandangan mengenai gaya-gaya pengambilan keputusan menurut
Robbins dan D A. De Cenzo dalam bukunya “Supervision Today”, didasarkan pada
pendekatan dua dimensi dalam pengambilan keputusan yaitu:
1. Cara berpikir seseorang, yaitu didasarkan pada anggapan bahwa sebagian di
antara kita cenderung lebih bersifat rasional dan logis dalam cara berfikir atau
memproses informasi. Tipe rasional ini memandang informasi secara teratur dan
memastikan bahwa informasi itu logis dan konsisten sebelum mengambil
keputusan.
2. Dimensi yang menggambarkan toleransi seseorang akan ambiguitas. Tipe ini
lebih cenderung kea rah intuitif yang memandang bahwa memproses informasi
tidak harus menurut urutan tertentu melainkan memandangnya sebagai
kesuluruhan atau banyak pikiran sekaligus.
REFERENSI
[Link]
[Link]. Diakses 18/02/2020
[Link]
[Link]. Diakses 20/02/2020

Anda mungkin juga menyukai