SATUAN ACARA PENYULUHAN
“PENCEGAHAN STUNTING”
DI DUSUN KUDON DESA MADULEGI SUKODADI
Pembimbing:
1) Arifal Aris, S. Kep., Ns., [Link]
2) Hj. Siti Solikhah, S. Kep., Ns., M. Kes
PRATIK KEPERAWATAN KOMUNITAS
PROGAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENCEGAHAN STUNTING
Tempat : Rumah Kepala Dusun Kudon
Sasaran : Ibu yang menghadiri posyandu balita
Hari / Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
Alokasi waktu : 30 menit
I. LATAR BELAKANG
Pada Musawarah Masyarakat Desa di Madulegi yang dilaksanakan pada
10 Maret 2020 diketahui masih ada balita yang menunjukan pertumbuhan
pada garis merah yang berarti pertumbuhan balita masih di bawah normal,
yang merupakan salah satu tanda gejala anak mengalami stunting.
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak
sesuai dengan ukuran semestinya, ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan
anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang
normal dan sehat sesuai usia anak. Stunting merupakan kekurangan gizi
kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai
indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan
menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linear yang dicapai pada pra
dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat
dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan.
Sekitar 8,8 juta anak indonesia menderita stunting (tubuh pendek)
karena kurang gizi. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 mencatat
angka keadian stunting nasional mencapai 37,2 persen. Angka ini meningkat
dari 2020 sebesar 35,6 persen (Rizma, 2016). Oleh karena itu dalam hal ini
diperlukan upaya pencegahan stunting diberikan pada orang tua anak.
II. TUJUAN UMUM
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan orang tua
anak dapat mengetahui dan memahami bagaimana mencegah stunting.
III. TUJUAN KHUSUS
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit orang tua mampu
memahami tentang:
1. Definisi Stunting
2. Penyebab Stunting
3. Dampak Stunting
4. Cara pencegahan Stunting
5. Pola makan pada balita
IV. STRATEGI PELAKSANAAN
Tema/ Sub tema : balita/pencegahan Stunting
Hari/Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
Jam : 09.00 – 09.30 wib
Moderator :
Penyaji :
Notulen :
Observer :
Fasilitator :
V. PENGORGANISASIAN
Moderator :
- Membuka acara penyuluhan
- Memperkenalkan diri
- Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
- Menyampaikan kontra waktu lama penyuluhan
- Menyebutkan materi yang akan disampaikan
- Mengatur jalannya penyuluhan
- Menjadi penengah antara penyaji dan audiens
- Menutup acara penyuluhan
Penyaji
- Menyampaikan materi penyuluhan
- Menjawab pertanyaan dari peserta penyuluhan
- Memberikan feedback untuk peserta tentang materi yang
disampaikan
Notulen
- Menyimak dan menulis pertayaan dari peserta
- Menyimak dan menulis jawaban dari penyaji
Observer
- Mengawasi jalannya kegiatan penyuluhan
- Membuat laporan penyuluhan
Fasilitator
- Memfasilitasi segala keperluan dalam kegiatan penyuluhan
- Memotifasi peserta untuk aktif dalam penyuluhan
- Membagikan lefleat
VI. METODE
Ceramah
Tanya jawab
VII. SETTING TEMPAT
Keterangan:
B A
A :Moderator
E
B :Penyaji
C :Fasilitator
C F
D : Observer
E :Notulen
D F :Audiens
VIII. MEDIA
1. Lembar balik
2. Leafleat
IX. PROSES KEGIATAN
NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA
1 3 Menit Pembukaan:
1. Mengucapkan salam 1. Menyambut salam dan
mendengarkan
2. Memperkenalkan diri
2. Mendengarkan
3. Menjelaskan tujuan umum 3. Mendengarkan
2 20 Menit Pelaksanaan:
1. Menjelaskan tentang definisi 1. Mendengarkan dan
Stunting memperhatikan
2. Mendengarkan dan
2. Menjelaskan tentang penyebab
memperhatikan
Stunting
3. Menjelaskan tentang dampak 3. Mendengarkan dan
memperhatikan
Stunting
4. Mendengarkan dan
4. Menjelaskan cara mencegahan memperhatikan
5. Menjelaskan tentang pola makan 5. Mendengarkan dan
memperhatikan
pada balita
3 5 Menit Evaluasi :
1. Mengajukan beberapa pertanyaan 1. Menjawab pertayaan
2. Merangkum hasil/ kesimpulan 2. Mendengarkan
materi 3. Menjawab salam
3. Salam penutup
4 2 Menit Terminasi :
1. Mengucapkan terimakasih 1. Mendengarkan
2. Mengucapkan salam 2. membalas salam
X. KRITERIA
Kriteria struktur :
Adanya koordinasi antara pemateri, peserta penyuluhan dan panitia
penyelenggara selama acara penyuluhan berlangsung
Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan setelah posyandu balita
penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan saat penyuluhan.
Kriteria Proses :
Mempersiapkan materi dan mengkonsulkan pada pembimbing
peserta Antusias Terhadap Materi Penyuluhan.
Perserta Konsentrasi Mendengarkan Penyuluhan.
Peserta Mengajukan Pertanyaan Dan Menjawab Pertanyaan Secara
Lengkap Dan Benar.
Kriteria Hasil :
Peserta mampu menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan
dengan benar melalui pertanyaan lisan meliputi pengertian, cara mencegahan
dan pola makan yang diberikan pada balita untuk menghindari shunting
(75%).
MATERI PENYULUHAN
STUNTING
A. PENGERTIAN
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak
sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting (tubuh
pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit
2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi
referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek
dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted
adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan
terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam
mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted
merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu
dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan
menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra
dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat
dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan. Stunting merupakan
pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi genetic sebagai akibat
dari pola makan yang buruk dan penyakit (ACC/SCN, 2000).
Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan
atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata
standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan
anak – anak lain seusianya (MCN, 2009) (WHO, 2006). Ini adalah indikator
kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi
pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan keadaan sosial
ekonomi.
B. PENYEBAB STUNTING
Menurut beberapa penelitian, kejadian stunting pada anak merupakan
suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan
sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya
stunting pada anak dan peluang peningkatan stunting terjadi dalam 2 tahun
pertama kehidupan.
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab
tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin
mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir
dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan
kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang
berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu
makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini
semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya
berpeluang terjadinya stunting (Allen and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor
saja seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak faktor,
dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama lainnnya.
Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai berikut :
1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi
dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan
air).
2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),
3. Riwayat penyakit.
Lancet “Maternal and Child Nutrition” Series tahun 2004 memuat satu
konsep model faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan gizi, kecacatan
atau disability dan kematian.
• kekurangan gizi kronis atau pendek lebih dipengaruhi oleh faktor gangguan
pertumbuhan pada masa janin, kekurangan asupan zat gizi mikro dan
kekurangan asupan energy dan protein.
• Sementara itu gizi kurang akut yang sering disebut gizi kurang atau kurus
lebih banyak dipengaruhi oleh faktor tidak cukupnya asupan gizi terutama
kalori dan protein dan infeksi penyakit.
• Tidak optimalnya pemberian Air Susu Ibu merupakan salah satu
penyebabnya tingginya infeksi pada bayi yang mengakibatkan kekurangan
gizi akut dan kematian.
• Kekurangan gizi mikro disamping menyebabkan kekurangan gizi kronis
juga menyebabkan disability, yang meningkatkan risiko kematian
• Faktor-faktor kemiskinan, sosial budaya dan politik, meningkatnya infeksi
penyakit, ketahanan pangan dan tidak optimalnya cakupan dan kualitas
pelayanan merupakan merupakan faktor yang secara bersama-sama
maupun secara sendiri-sendiri berpengaruh pada keadaan gizi ibu hamil,
kekurangan gizi mikro, asupan energy yang rendah dan tidak optimalnya
pemberian Air Susu Ibu.
C. DAMPAK STUNTING
Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga
prestasi belajar menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila
mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara pekerjaan menjadi besar
dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang berakibat penghasilan rendah
(economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi kebutuhan
pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya
pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas
dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara.
Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan
kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko
meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan
motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen &
Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-
masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit
diperbaiki.
Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka
waktu panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.
D. CARA PENCEGAHAN STUNTING
1. Pada saat hamil¸ibu harus makan lebih banyak dari biasanya. Banyak
makan buah dan sayur, lengkapi dengan lauk dan pauk
2. Selama kehamilan, ibu dapat mengkonsumsi tablet tambah darah dan
dilanjutkan sampai dengan masa nifas dapat mencegah anemia dan
menjaga sistem ketahanan tubuh
3. Melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), bayi mendapatkan ASI
kolostrum yang kaya akan daya tahan tubuh dan ketahanan terhdap infeksi.
4. Gunakan garam ber iodium agar pertumbuhan dan perkembangan janin
dan mencegah bayi lahir cacat
5. Berikan bayi ASI Ekslusif 0-6 bulan, kebutuhan gizi pada bayi usia 0-6
bulan cukup terpenuhi dari ASI saja
6. Pemberikan ASI hingga 23 bulan didampingi MP-ASI, ASI terus diberikan
semau bayi, memasuki 6 bulan bayi perlu mendapatkan makanan
pendamping ASI.
7. Menanggulangi kecacingan dengan menjaga kebersihan lingkungan, cuci
tangan pakai sabun dan memggunakan alas kaki ketika berada di luar
rumah
8. Memberikan imunisasi dasar lengkap, imunisasi lengkap menjadikan anak
tetap sehat untuk dirinya dan lingkungannya.
E. Pola makan pada balita
Umur (Bulan) Macam Makanan Pemberian Dalam Sehari
0 s/d 6 ASI Sekehendak
6 s/d 8 ASI Sekehendak
Buah 2x
Bubur Susu 2x
8 s/d 10 ASI Sekehendak
Buah 1x
Bubur Susu 1x
Nasi tim 2x
10 s/d 12 ASI Sekehendak
Buah 3x
Nasi tim/ makanan 3x
seperti keluarga
12 s/d 24 ASI 2-3x
Buah 1x
Makanan seperti keluarga 3x
Makanan kecil (biscuit,
bubur kajang ijo, dll) 1x
24 s/d 60 Susu 2-3x
Buah 1x
Makanan seperti keluarga 3x
Makanan kecil (biscuit,
bubur kajang ijo, dll) 1x
DAFTAR PUSTAKA
Adinda. 2014. Masalah Gizi penyebab Stunting (Pendek).
([Link]
[Link]). Diakses pada tanggal 24 April 2016.
Laporan Tahuna Unicef Indonesia. 2012. Ringkasan Kajian Kesehatan Unicef
[Link] 2012.
Laporan Tahunan Indonesia. 2013. Penyajian Pokok-Pokok Hasil Riset Kesehatan
Dasar 2013.
Rizma. 2016. 8,8 Juta Anak Indonesia Bertubuh Kerdil.(
[Link]
88-juta-anak-indonesia-bertubuh-kerdil-part1). Diakses pada tanggal 20
Maret 2016.
DAFTAR HADIR
NAMA TANDATANGAN
1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
7. 7.
8. 8.
9. 9.
10. 10.
11. 11.
12. 12.
13. 13.
14. 14.
15. 15.
16. 16
17. 17.
18. 18.
19. 19.
20. 20.
22. 21.
23 23.
24. 24.
25. 25.
26. 26.
27. 27.