TERAPI KOMPLEMENTER
Dosen : Ns. Bestfy Anitasari, [Link]., [Link]. [Link]
Disusun Oleh:
Tasya Alivia Hasri 01.2018.024
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
STIKES KURNIA JAYA PERSADA
TAHUN AJARAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas hidayahnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktu nya. Makalah ini penulis buat untuk
melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Paliatif dengan judul “Terapi Komplementer”.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang
telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca,demi kesempurnaan makalah [Link] kata penulis berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Desember, 2020
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................................
B. Rumusan Masalah.......................................................................................................
C. Tujuan..........................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi........................................................................................................................
B. Tujuan Terapi Komplementer.....................................................................................
C. Macam-Macam Terapi Komplementer.......................................................................
D. Aspek Lega Terapi Komplementer.............................................................................
E. Efek Samping Terapi Komplementer..........................................................................
F. Penerapan Dalam Praktik Keperawatan......................................................................
G. Terapi Komplementer Pada Pasien Paliatif.................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..................................................................................................................
B. Saran............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak
negara. Klien yang menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan. Salah
satu alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu adanya harmoni
dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan lainnya karena
klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan peningkatan
kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Sejumlah 82% klien melaporkan adanya reaksi
efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima menyebabkan memilih terapi
komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).
Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan
masyarakat. Di berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien bertanya tentang
terapi komplementer atau alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter ataupun
perawat. Masyarakat mengajak dialog perawat untuk penggunaan terapi alternatif (Smith
et al., 2004). Hal ini terjadi karena klien ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai
dengan pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi akan berdampak ada kepuasan
klien. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk berperan memberikan terapi
komplementer.
B. Rumusan masalah
a. Apa yang dimaksud dengan terapi komplementer?
b. Apa tujuan dari terapi komplementer?
c. Apa saja macam-macam terapi komplemeneter?
d. Bagaimana aspek legal terapi komplementer?
e. Bagaimana efek samping dari terapi komplementer?
f. Bagaimana penerapan terapi komplementer dalam praktik keperawatan?
g. Bagaimana terapi komplementer pada pasien paliatif?
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui defenisi dari terapi komplementer.
b. Untuk mengetahui tujuan dari terapi komplementer.
c. Untuk mengetahui macam-macam terapi komplemeneter.
d. Untuk mengetahui aspek legal terapi komplementer.
e. Untuk mengetahui efek samping dari terapi komplementer.
f. Untuk mengetahui penerapan terapi komplementer dalam praktik keperawatan.
g. Untuk mengetahui terapi komplementer pada pasien paliatif.
a.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi merupakan usaha untuk
memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan
penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan.
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung kepada pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan
pilihan lain diluar pengobatan medis yang konvensional.
Terapi komplementer (complementary and alternative medicine/CAM) adalah
penyembuhan alternatif untuk melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional
maupun biomedis (Cushman dan Hoffman, 2004) agar bisa mempercepat proses
penyembuhan. Pengobatan konvensional (kedokteran) lebih mengutamakan penanganan
gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami (komplementer) menangani penyebab
penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang diderita.
B. Tujuan Terapi Komplementer
1. Sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis.
2. Untuk memperbaiki fungsi dari system system tubuh, terutama system kekebalan dan
pertahanan tubuh.
3. Lebih berserah diri dan ikhlas menerima keadaan.
C. Macam-Macam Terapi Komplementer
Terapi komplementer ada yang invasif dan noninvasif. Contoh terapi
komplementer invasif adalah akupuntur dan cupping (bekam basah) yang menggunakan
jarum dalam pengobatannya. Sedangkan jenis non-invasif seperti terapi energi (reiki,
chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi biologis (herbal, terapi nutrisi, food
combining, terapi jus, terapi urin, hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas;
akupresus, pijat bayi, refleksi, reiki, rolfing, dan terapi lainnya (Hitchcock et al., 1999
dalam Widyatuti 2008)
1. System Medis Alternatif
a. Akupunktur
Suatu metode tradisional Cina yang menghasilkan analgesia atau perubahan
fungsi system tubuh dengan cara memasukan jarum tipis sepanjang rangkaian
garis atau jalur yang disebut meredian.
b. Ayurveda
System pengobatan tradisional Hindu yang memkombinasikan obat herbal, obat
pencahar dan minyak gosok.
c. Pengobatan Homeopatic
System mengobatan medis yang didasari pada teori bahwa penyakit tertentu dapat
diobati dengan memberikan dosis kecil substansi yang ada pada individu sehat
akan menghasilkan gejala seperti penyakit.
d. Pengobatan Naturopatik
System pengobatan didasari pada makanan alami, cahaya, kehangatan, pijatan air
segar, olah raga teratur dan menghindari pengobatan, mengenali kemampuan
mnyembuhkan tubuh alami.
e. Pengobatan Tradisional Cina
Kumpulan tehnik dan metode sistematik termasuk Akupunktur, pengobatan
herbal, pijatan, akupreser, moxibustion (menggunakan panas dari herbal yang
dibakar), qigong (menyeimbangkan aliran energi melalui gerakan tubuh).
2. Terapi Biologis
Menggunakan substansi alam seperti herbal, makanan dan vitamin.
a. Zona
Progam diet yang memerlukan makanan berprotein, karbohidrat dan lemak
dengan perbandingan 30:40:30. Digunakan untuk menyeimbangkan insulin dan
hormone lain untuk kesehatan yang optimal.
b. Diet Mikrobiotik
Diutamakan diet vegetarian.
c. Pengobatan Ortomolekuler
Meningkatkan nutrisi seperti vitamin c dan bertakoren.
3. Manipulasi dan Metode didasari Tubuh
Didasari pada manipulasi dari atau penggerakan dari satu atau lebih bagian tubuh.
a. Akupresur
Tehnik terapetik mempergunakan tekanan digital dalam cara tertentu pada titik
yang dibuat pada tubuh untuk mengurangi rasa nyeri menghasilkan analgesic atau
mengatur fungsi tubuh.
b. Pengobatan Kiropratik
System terapi yang melibatkan manipulasi kolumna spinalis dan memasukan
fisiotherapy dan terapi cliet.
c. Metode Feldenkrais
Terapi alternatif yang didasarkan pada citra tubuh yang baik melalui perbaikan
pergerakan tubuh.
d. Tai chi
Terapi alternatif yang menghubungkan pernafasan, pergerakan dan meditasi untuk
membersihkan, memperkuat dan sirkulasi energi dan darah kehidupan yang
penting.
e. Terapi Pijat
Manipulasi jaringan ikat melalui pukulan, gosokan atau meremas untuk
meningkatkan sirkulasi, memperbaiki sifat otot dan relaxsi.
f. Sentuhan Ringan
Sentuhan pada klien dengan cara yang tepat dan halus untuk membuat hubungan
menunjukkan penerimaan dan memberikan penghargaan.
4. Intervensi tubuh dan pikiran
Menggunakan berbagai tehnik yang di buat untuk meningkatkan kapasitas pikiran
untuk mempengaruhi tubuh.
a. Terapi Seni
Menggunakan seni untuk mendamaikan konflik emosional, meningkatkan
kewaspadaan diri dan mengungkapkan masalah yang tidak di katakan dan didasari
klien penyakit mereka.
b. Umpan balik biologis
Suatu proses yang memberikan individu dengan informasi visual dan suara
tentang fungsi fisiologis otonomi tubuh.
5. Intervensi tubuh-pikiran
Menggunakan berbagai tehnik yng dibuat untuk meningkatkan kapasitas pikiran
guna mempengaruhi fungsi dan gejala tubuh.
a. Terapi Dansa
Sarana memperdalam dan memperkuat terapi karena merupakan ekspresi
langsung dari pikiran dan tubuh.
b. Terapi Pernafasan
Menggunakan segala jenis pola pernafasan untuk merelaxasi, memperkuat atau
membuka jalur emosional.
c. Imajinasi Terbimbing
Tehnik terapiutik untuk mengobati kondisi patologis dengan berkonsentrasi pada
imajinasi atau serangkaian gambar.
d. Meditasi
Praktik yang ditujukan pada diri untuk merelaxasi tubuh dan menenangkan
pikiran menggunakan ritme pernafasan yang berfokus.
e. Terapi Musik
Menggunakan music untuk menunjukkan kebutuhan fisik, psikologis, kogniti dan
sosial individu yang menderita cacat dan peny.
f. Usaha Pemulihan (doa)
Berbagai tehnik yang menggunakan dalam banyak budaya yang menggabungkan
pelayanan, kesabaran, cinta atau empati dengan target doa.
g. Psikoterapi
Pengobatan kelainan mental dan emosional dengan tehnik psikologi
h. Yoga
Tehnik yang befokus pada susunan otot, postur, mekanisme pernafasan dan
kesadaran tubuh.
6. Terapi Energi
Melibatkan penggunaan medan energi
a. Terapi Reiki
Terapi yang berasal dari praktik budha kuno di mana praktisi menempatkan
tangannya pada atau diatas bagian tubuh dan memindahkan keharmonisan dan
keseimbangan untuk mengobati gangguan kesehatan.
b. Sentuhan Terapiutik
Pengobatan melibatkan pedoman keseimbangan energi atau praktisi dalam suatu
cara yang disengaja tidak semua pasien.
D. Aspek Legal Terapi Komplementer
1. Undang – Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
a. Pasal 1 butir 16, pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau
perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan
keterampilan turun – temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan
dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat;
b. Pasal 48 tentang pelayanan kesehatan tradisional;
c. Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang pelayanan kesehatan tradisonal.
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan
tradisional;
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang standar
pelayanan hiperbarik;
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang
penyelenggaraan pengobatan komplementer – alternatif di fasilitas pelayanan
kesehatan;
5. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010
tentang pedoman kriteria penetepan metode pengobatan komplementer – alternatif
yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan.
E. Efek Samping Terapi Komplementer
Pada terapi Akupunktur dapat terjadi komplikasi seperti infeksi karena sterilesasi
jarum yang tidak adekuat atau jarum yang ditinggalkan dalam tempat untuk waktu yang
lama, jarum yang patah, perasaan mengantuk pasca pengobatan. Kontraindikasi
pengobatan pada individu yang memiliki kelainan perdarahan trombositopeni, infeksi
kulit atau yang memiliki ketakutan terhadap jarum.
Kontaminasi dengan herbal atau bahan kimia lain termasuk pestisida dan logam
berat juga terjadi, tidak semua perusahaan menjalankan pengawasan kualitas yang ketat
dan garis pedoman pabrik yang menentukan standar untuk kadar pestisida yang dapat
diterima, bahan pelarut sisa tingkat bacterial dan logam berat untuk alasan ini pembelian
obat herbal hanya dari pabrik yang mempunyai reputasi. Label pada produk herbal harus
mengandung nama ilmiah tanaman nama dan alat pabrik yang sebenarnya, tanggal
kemasan dan tanggal kadaluarsa.
Di Indonesia ada 3 jenis tehnik pengobatan komplementer yang telah di terapkan
oleh Derpartemen Kesehatan untuk di Integrasikan ke dalam pelayanan konvensional
yaitu:
1. Akupunktur Hiperbarik
Dilakukan oleh dokter umum berdasarkan kompetensinya.
2. Terapi Hiperbarik
Yaitu suatu metode terapi dimana pasien di masukan ke dalam sebuah ruangan
yang memiliki tekanan udara atmosfir normal, lalu di beri pernafasan oksigen murni
(100%)
3. Terapi herbal medic
Yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alami baik berupa herbal terstandar
dalam kegiatan pelanyanan penelitian maupun berupa fitofarmaka.
F. Penerapan Dalam Praktik Keperawatan
Keperawatan holistic menghormati serta mengobati jiwa, tubuh dan pikiran klien,
perawatan menggunakan Intervensi Keperawatan holistic seperti terapi relaxasi, terapi
music, sentuhan ringan dan usaha pemulihan (doa). Intervensi seperti ini mempengaruhi
Individu secara keseluruhan (jiwa, tubuh, pikiran) dan merupakan pelengkap yang
bersifat efektif ekonomis, non, invasive serta non farmakologis untuk pelayanan medis
terapi tersebut di susun dalam 2 tipe:
1. Terapi yang dapat diakses Keperawatan
Di mana seorang perawat dapat mulai mempelajari dan mempergunakanya dalam
pelayanan klien seperti relaksasi. Tujuan : agar individu mampu memonitor dirinya
secara terus menerus terhadap indicator ketegangan serta untuk membiarkan,
melepaskan dengan sadar ketegangan yang terdapat di bebagai tubuh. Macam
relaksasi yakni relaksasi progresif ialah mengajarkan individu bagaimana beristirahat
dengan efektif dan mengurangi ketegangan pada tubuh dan relaksasi pasif ialah
mengajarkan individu untuk merelaksasikan sekelompok otot secara pasif. Cara
terapi relaksasi :
a. Meditasi dan pernafasan berirama
Menyediakan lingkungan yang tenang.
Membantu klien untuk mendapatkan kenyamanan saat sedang duduk atau
berbaring,minta klien untuk tetap diam sebisa mungkin dan bergerak jika
perlu agar tetap merasa nyaman.
Menginstruksikan klien untuk bernafas kedalam dan keluar secara perlahan
dan dalam menggunakan otot perut.
Pada awal setiap mengeluarkan nafas, minta klien untuk menyebut angka satu
dalam pikirannya, lanjutkan ketahap meditasi.
Menjelaskan ketika pikiran mengembara, bawa kembali untuk memulai
mengeluarkan nafas dalam tanpa pertimbangan.
Minta klien melakukan setiap jenis latihan selama 5,10,15 dan 20 menit
Lakukan setiap hari untuk minimal satu jenis latihan.
b. Relaksasi dan progesif
Menyediakan lingkungan yang tenang
Membantu klien untuk mendapatkan kenyamanan saat sedang duduk atau
berbaring, meminta klien untuk tetap diam sebisa mungkin dan bergerak jika
perlu agar tetap merasa nyaman.
Mengintrusikan klien untuk menutup mata dan mempertahankan sikap mau
menerima.
Menginstruksikan untuk bernafas dalam dan keluar secara perlahan dan dalam
menggunakan otot otot paru paru
Saat klien bernafas secara perlahan dan nyaman, instruksikan klien untuk
merelaksasikan dan meregangkan otot sesuai urutan yang diperintahkan,
menenangkan dan merelasaksikan serta merasakan tiap bagian yang
berelaksasi.
Instruksikan klien untuk menegangkan dan kemudian merelaksasikan betis,
lutut, dan seterusnya.
c. Relaksasi dengan gerakan sensoris
Menyediakan tempat yang tenang
Membantu klien untuk mendapatkan kenyamanan saat sedang duduk atau
berbaring, meminta klien untuk tetap diam sebisa mungkin dan bergerak jika
perlu agar tetap merasa nyaman.
Menginstruksikan klien untuk menutup mata dan mempertahankan sikap mau
menerima.
Menginstruksikan klien untuk bernafas ke dalam dan ke luar secara perlahan
dan dalam menggunakan otot otot perut.
Instrusikan klien untuk mengulang secara perlahan lahan menyelesaikan
setiap kalimat berikut dengan suara rendah atau untuk dirinya:
Sekarang saya sadar melihat ………….
Sekarang saya sadar merasakan …………
Sekarang saya sadar mendengarkan ………..
Instrusikan klien untuk mengulang dan menyelesaikan setiap kata empat kali,
kemudian tiga kali, kemudian dua kali dan terakhir satu kali.
d. Relaksasi dengan music
Menfasilitasi klien dengan alat perekam dan alat pendengar.
Meminta klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman (duduk atau berbaring
dengan tangan dan kaki disilang) dan untuk menutup mata dan mendengarkan
music melalui alat pendengar.
Instrusikan klien untuk membanyangkan terapung atau ditiup dengan music
ketika sedang mendengarkan.
Evaluasi:
Mengkaji tanda tanda vital klien terutama pola pernafasan.
Minta klien untuk menggambarkan tingkat ketegangan atau perasaan
khawatir.
Mengamati klien terhadap adanya perilaku yang menunjukan kecemasan.
2. Terapi latihan spesifik
Di mana seorang perawat tidak dapat melakukan tanpa pelatihan tambahan dan
atau sertifikat.
a. Umpan balik biologis
Merupakan suatu kelompok prosedur terapeutik yang menggunakan alat
elektronik, atau elektromekanik untuk mengukur, memproses dan memberikan
informasi bagi individu tentang aktivitas system saraf otonom dan neuro
moskuler.
b. Sentuhan terapiutik
Sentuhan terapiutik merupakan satu potensi alami manusia yang terdiri dari
meletakkan tangan praktisi pada atau dekat dengan tubuh seseorang kemudian
praktisi mencoba mengarahkan energi yang ada dalam tubuhnya untuk membawa
individu kembali masuk kedalam keseimbangan energi yang sama dengan
praktisi.
c. Terapi kiropraktik
Manipulasi spinal yang diarahkan pada sendi tertentu ole praktisi dengan
menggunakan tangan atau alat.
d. Akupunktur
Merupakan metode stimulasi titik tertentu pada tubuh dengan memasukan jarum
kusus untuk memodifikasi persepsi rasa nyeri, menormalkan fungsi fisiologis
serta mengobati dan mencegah penyakit.
e. Terapi herbal
Menggunakan tanaman, hewan, atau mineral.
G. Terapi Komplementaer Pada Pasien Paliatif
1. Terapi akupuntur pada pasien paliatif
Pelayanan medik akupunktur yang dilakukan oleh dokter merupakan salah satu
jenis pelayanan kesehatan yang telah digunakan secara luas di dunia kedokteran dan
manfaatnya telah dirasakan oleh masyarakat dalam hal pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan, bahkan digunakan dalam penyembuhan terhadap beberapa
penyakit tertentu, serta untuk pemeliharaan kualitas hidup manusia.
dr. Yuddi Gumara, SpAn, Koordinator Operasional Nyeri dan Komplementer
Instalasi Paliatif, menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari pemberian pelayanan
komplementer untuk mengurangi nyeri. Hal ini dikarenakan nyeri kanker sangat
kompleks (total pain).
Tugas seorang fisioterapis sangat diharapkan oleh dokter spesialis rehabilitasi
medik dan pasien yang memerlukan terapi pemulihan fisik, baik akibat trauma /
kecelakaan maupun karena penyakit dan proses degenerasi maupun pasca bedah.
Namun fisioterapis juga menghadapi kendala-kendala khusus dari pasien. Kendala
yang dihadapi yang berasal dari pasien antara lain adalah nyeri pada pasien pasca
trauma, kelemahan otot gerak serta suasana psikologis / emosional pasien sangat
dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing.
Ketiga hal tersebut umumnya dihadapi oleh fisioterapis, sehingga diperlukan
metode yang tepat untuk [Link] yang memerlukan fisioterapis
cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama, oleh karena itu diperlukan metode
yang tepat, efisien dan efektif. Akupunktur Adalah Metode Fisioterapi Yang Tepat.
a. Akupunktur mampu mengatasi nyeri
WHO (World Health Organization) atau Badan Kesehatan Dunia, telah
memberikan rekomendasi bahwa akupunktur dapat digunakan untuk terapi nyeri,
meliputi :
Nyeri akut : pasca bedah, persalinan, cedera olahraga.
Nyeri kronik: artritis, nyeri kepala, tennis arm, shoulder arm syndrom, nyeri
punggung bawah, nyeri leher (torticollis), migrain, dan lain-lain.
Nyeri kanker: baik nyeri akibat pembesaran / pendesakan tumor ke jaringan
sekitar, nyeri karena proses tindakan untuk menegakkan diagnosa, maupun
nyeri karena terapi menggunakan obat sitostatika.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia sudah menerbitkan Surat
Keputusan dan Peraturan Menkes yang mengatur mengenai Pengobatan
Tradisional, Akupunktur sebagai salah satu bentuk pelayanan di sarana kesehatan,
maupun tenaga lulusan D3 Akupunktur sebagai Tenaga Kesehatan.
b. Akupunktur mampu Menunjang Pemulihan Fungsi Alat Gerak
Penggunaan praktis akupunktur untuk kasus Bell’s palsy sudah sangat
sering dilakukan dan diteliti. Meskipun titik-titik yang dipilih berbeda antara
praktisi akupunktur satu dengan yang lain, akan tetapi pada prinsipnya adalah
pemilihan titik akupunktur di otot-otot mimik yang terkena kelumpuhan. Melalui
rangsangan listrik frekuensi rendah, maka otot yang ditusuk jarum dan dialiri
listrik tersebut mengalami kontraksi secara ritmis. Biasanya dilakukan selama 15-
30 menit, 2 hari sekali selama 12 kali dalam 1 seri, dan memberi hasil jauh lebih
baik dan lebih cepat dibandingkan terapi yang hanya menggunakan obat.
Akupunktur tidak hanya digunakan untuk terapi Bell’s palsy (kelumpuhan
otot wajah) tetapi juga kelumpuhan otot gerak lain baik di anggota gerak atas
maupun bawah, baik akibat trauma maupun penyakit dan proses degenerasi.
Akupunktur memberi hasil yang memuaskan bila terapi akupunktur segera
dilakukan (tidak terlambat) pada pasien stroke maupun cedera tulang belakang
sepanjang saraf motoriknya tidak putus/ rusak berat.
c. Akupunktur mampu Menenangkan Emosi Pasien
Mengenai pengaruh akupunktur terhadap emosi pasien, seperti penelitian
yang menggunakan fMRI di atas, terbukti bahwa bagian otak yang menghilang
aktivitasnya yaitu cortex eingulum [Link] otak tersebut adalah bagian
yang juga menghubungkan dengan sistem limbik, yaitu bagian otak yang
mengendalikan emosi seseorang.
2. Terapi Hypnotherapy Pada Pasien Paliatif
Hipnoterapi adalah salah satu bentuk terapi komplementer, yaitu terapi yang
digunakan untuk melengkapi terapi atau tindakan medis, dan bukan untuk
menggantikan terapi atau tindakan medis yang sudah ada. Terapi komplementer
bersifat holistik dan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hipnoterapi
merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body Intervention dimana
terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk mengoptimalkan fungsi
tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara pikiran, emosi, dan
pernapasan. Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata - kata yang
disampaikan dengan teknik- teknik tertentu. Satu-satunya kekuatan dalam hipnoterapi
adalah komunikasi.
Perawat merupakan profesi kesehatan yang merawat pasien dengan melakukan
pendekatan secara holistik (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual). Dan terapi
komplementer ini juga dianggap sebagai terapi dengan pendekatan holistik karena
berusaha menyembuhkan pasien dengan memandang dari berbagai sudut dan
beraneka aspek kehidupan pasien.
Saat ini hipnoterapi dapat digunakan untuk mengatasi masalah – masalah sebagai
berikut:
a. Masalah Fisik
Ketegangan otot dan rasa nyeri (nyeri kronik) yang berlebihan dapat
dibantu dengan Hipnoterapi. Dengan Hipnoterapi, dapat membuat tubuh menjadi
relaks dan mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan secara drastic. Selain itu
hipnoterapi juga bermanfaat kegemukan/ obesitas dan irritable bowel syndrome.
b. Masalah Emosi
Serangan panik, ketegangan dalam menghadapi ujian, kemarahan, rasa
bersalah, kurang percaya diri, ansietas/ cemas, duka (grief), depresi, trauma dan
phobia adalah masalah- masalah emosi yang berhubungan dengan rasa takut dan
kegelisahan. Semua masalah di atas bisa diatasi dengan hipnoterapi. Selain itu
hipnoterapi juga bisa dilakukan untuk penyembuhan diri sendiri atau self healing.
Sebenarnya beberapa penyakit sumbernya dari pikiran kita. Ramalan diri
sendiri atau sugesti hipnosis seringkali menjadi nyata karena pikiran kita yang
memasukan sugesti dalam proses pemikiran. Seperti saat kita kehujanan, di dalam
pikiran kita akan tersugesti, saya akan sakit kepala atau pusing karena kehujanan.
Akibatnya tubuh benar-benar mengalami sakit kepala. Padahal jika ditanamkan
sugesti saya akan sehat dan tidak akan terjadi apa-apa maka sakitpun tidak akan
datang. Fenomena seperti ini yang disebut oleh pengobatan medis barat sebagai
efek plasebo. Penelitian dari NIH (National Institute of Health) menunjukkan
bahwa pada akhir dekade ini, hipnoterapi mulai dikembangkan sebagai terapi
paliatif pada pasien kanker. Hipnoterapi terbukti memiliki manfaat dalam
mengurangi nyeri kronik, stress dan depresi pada pasien kanker stadium lanjut.
c. Masalah Perilaku
Masalah perilaku seperti merokok, makan berlebihan dan minum
minuman keras yang berlebihan dan berbagai macam perilaku ketagihan
(addiction) dapat diatasi dengan hipnoterapi. Hipnoterapi juga bisa membantu
insomnia/ gangguan tidur dan menghilangkan latah.
3. Terapi Akupresur Pada Pasien Paliatif
Terapi akupresure merupakan terapi non medis yang meliputi pemijatan dengan
cara menekan titik-titik syaraf tubuh terutama di bagian tangan dan kaki. Akupresur
adalah salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi
pada titik- titik tertentu pada tubuh. berguna untuk mengurangi bermacam-
macam sakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan, kelelahan dan penyakit. Salah
satu bentuk dari pembedahan dengan menusukkan jarum-jarum ketitik-titik tertentu di
badan, akupresur menyembuhkan sakit dan nyeri yang sukar disembuhkan, nyeri
punggung, spondilitis, kram perut, gangguan. Efek samping dari Terapi Akupresure
antara lain : Ngantuk, Merasa Lapar, Gatal-gatal (kadang-kadang), dan merasa ingin
BAB.
4. Terapi Self-Hypnosis Pada Pasien Paliatif
Salah satu bentuk aplikasi hipnotis adalah self hipnotis. Namun demikian, selain
self hypnosis, masih banyak aplikasi hipnotis lainnya, seperti Stage Hypnosis, yang
pengaplikasiannya banyak kita tonton di televise, Hypnotherapy, aplikasi dalam
mengatasi masalah psikosomatis, misalnya fobia, stress, penyimpangan perilaku,
mual, muntah, melahirkan, penyakit kulit, dll. Anodyne Awarness, aplikasi hypnosis
untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan. Banyak dokter, tenaga medis, perawat,
ahli bedah dan dokter gigi menggunakan teknik Anodyne untuk mengurangi rasa
sakit yang diderita pasien maupun pada saat operasi.
Self hipnotis berarti anda melakukan hipnotis terhadap diri sendiri, atau dalam
konkret lain anda sendiri yang mengarahkan arah dan tujuan pikiran anda. Ada
banyak manfaat positif yang bisa anda dapatkan dengan melakukan self hypnosis,
Misalnya berhenti merokok, membangkitkan semangat, mengendalikan rasa sakit,
meningkatkan daya ingat dan konsentrasi, mengatasi rasa takut dan masih banyak
lagi.
Kunci keberhasilan self hypnosis adalah postsynaptic suggestion, yang berarti
sugesti yang diberikan saat seorang masih berada dalam kondisi trance, dan sugesti /
perintah ini baru akan dilaksanakan setelah seorang kembali ke kesadaran normal.
5. Terapi herbal pada pasien paliatif
Diberbagai belahan dunia tumbuhan obat telah banyak digunakan untuk
pengobatan kanker, baik sebagai pencegahan maupun pengobatan. Tanaman yang
digunakan adalah yang mengandung senyawa atau substansi seperti karotenoid,
vitamin C, selenium, serat dan komponenkomponennya, dithiolthiones, isotiosianat,
indol, fenol, inhibitor protease, senyawa aliin, fitisterol, fitoestrogen dan limonen.
Glukosianalat dan indol, tiosianat dan isotiosianat, fenol dan kumarin dapat
menginduksi multiplikasi enzim fase II (melarutkan dan umumnya mengaktivasi).
Asam askorbat dan fenol memblok pembentukan karsinogen seperti nitrosamine.
Flavonoid dan karotenoid bertindak sebagai antioksidan. Karotenoid dan sterol
mengubah struktur membran atau integritas. Senyawa yang mengandung sulfur dapat
menekan DNA dan sintesis protein, sedangkan fitoestrogen bersaing dengan estradiol
untuk reseptor estrogen sehingga akan terjadi keadaan anti proliperatif.
Penyelenggaran pengobatan komplementer alternatif diatur dalam standar
pelayanan medik herbal menurut Kepmenkes No.121/Menkes/SK/II/2008 yang
meliputi melakukan anamnesis; melakukan pemeriksaan meliputi pemeriksaan fisik
(inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi) maupun pemeriksaan penunjang
(laboratorium, radiologi, EKG); menegakkan diagnosis secara ilmu kedokteran;
memberikan obat herbal hanya pada pasien dewasa; pemberian terapi berdasarkan
hasil diagnosis yang telah ditegakkan; penggunaan obat herbal dilakukan dengan
menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai contoh yang selama ini telah
digunakan di beberapa rumah sakit dan PDPKT; mencatat setiap intervensi (dosis,
bentuk sediaan, cara pemberian) dan hasil pelayanan yang meliputi setiap kejadian
atau perubahan yang terjadi pada pasien termasuk efek samping.
Beberapa fakta yang kita jumpai pada masyarakat akhir-akhir ini adalah
kecenderungan kembali ke alam. Banyaknya pilihan tanaman obat yang ditawarkan,
mahalnya biaya pengobatan kanker secara konvensional, ketidakberhasilan dan
banyaknya penyulit sampingan dalam pengobatan kanker dalam kedokteran
konvensional, serta adanya kasus kanker yang dapat disembuhkan dengan tanaman
obat mendorong makin banyak masyarakat yang memilih pengobatan alternatif antara
lain dengan tanaman obat sebagai cara pengobatan kanker.
6. Terapi pijat refleksi pada pasien paliatif
Studi penelitian di Amerika Serikat dan di seluruh dunia menunjukkan manfaat
positif dari pijat refleksi untuk berbagai kondisi. Secara khusus, ada beberapa
penelitian yang dirancang dengan baik, yang didanai oleh National Cancer Institute
dan National Institute of Health yang menunjukkan janji refleksologi sebagai
intervensi untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan relaksasi, tidur, dan
pengurangan gejala psikologis, seperti kecemasan dan depresi. Mungkin hasil yang
paling menguntungkan telah di bidang paliatif kanker (Ernst, Posadzki, & Lee,
2010).
Kunz dan Kunz (2008) telah mengembangkan ringkasan dari 168 studi penelitian
dan abstrak dari jurnal dan pertemuan dari seluruh dunia. Banyak dari studi ini
berasal dari jurnal peer-review di Cina dan Korea. Semua studi memiliki informasi
tentang frekuensi dan durasi dari aplikasi refleksologi.
Berdasarkan studi mereka terakhir, Kunz dan Kunz mengidentifikasi empat efek
utama yang reflexology menunjukkan:
Reflexology berdampak pada organ tertentu (misalnya, pembacaan fMRI
menunjukkan peningkatan aliran darah ke ginjal dan usus)
Reflexology dapat menunjukkan perbaikan gejala (misalnya, perubahan positif
yang dicatat dalam ginjal berfungsi dengan pasien dialisis ginjal)
Reflexoogy menciptakan efek relaksasi (misalnya, EEG mengukur alpha dan theta
gelombang, tekanan darah menurun, dan kecemasan diturunkan)
Bantu Reflexology dalam pengurangan nyeri (27 studi menunjukkan hasil yang
positif bagi pengurangan rasa sakit, misalnya, AIDS, nyeri dada, neuropati perifer
diabetes mellitus, batu ginjal, dan osteoarthritis)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi komplementer (complementary and alternative medicine/CAM) adalah
penyembuhan alternatif untuk melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional
maupun biomedis (Cushman dan Hoffman, 2004) agar bisa mempercepat proses
penyembuhan. Pengobatan konvensional (kedokteran) lebih mengutamakan penanganan
gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami (komplementer) menangani penyebab
penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang
[Link] tujuan terapi komplementer sebagai pengobatan pilihan lain diluar
pengobatan medis, untuk memperbaiki fungsi dari system system tubuh, terutama system
kekebalan dan pertahanan tubuh serta pasien lebih berserah diri dan ikhlas menerima
keadaan.
Terapi komplementer ada yang invasif dan noninvasif. Contoh terapi
komplementer invasif adalah akupuntur dan cupping (bekam basah) yang menggunakan
jarum dalam pengobatannya. Sedangkan jenis non-invasif seperti terapi energi (reiki,
chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi biologis (herbal, terapi nutrisi, food
combining, terapi jus, terapi urin, hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas;
akupresus, pijat bayi, refleksi, reiki, rolfing, dan terapi lainnya (Hitchcock et al., 1999
dalam Widyatuti 2008)
Akupunktur mempunyai peran penting terkait dengan praktek fisioterapi
khususnya di dalam hal mengatasi rasa nyeri, mempercepat pemulihan otot gerak serta
mengendalikan emosi pasien yang akan menguntungkan pasien serta dapat meningkatkan
kepercayaan pasien terhadap fisioterapis. Akupunktur memenuhi kriteria dalam
mendukung terapi jangka panjang rehabilitasi pasien karena beberapa hal berikut :
Efisien dan aman karena tidak ada efek samping berarti yang ditimbulkan maupun dalam
jangka panjang, Efektif dan rasional karena didukung oleh berbagai hasil penelitian dan
jurnal di seluruh dunia dan Simpel serta tidak membutuhkan biaya yang tinggi.
Hipnoterapi merupakan salah satu jenis Terapi Komplementer Mind Body
Intervention dimana terapi ini merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk
mengoptimalkan fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara
pikiran, emosi, dan pernapasan. Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata -
kata yang disampaikan dengan teknik - teknik tertentu. Satu-satunya kekuatan dalam
hipnoterapi adalah komunikasi.
Akupresur merupakan klasifikasi dari terapi menipulatif dan berbasis tubuh.
Terapi akupresur terbukti berpengaruh terhadap penurunan mual muntah pada pasien
kemoterapi kanker karena dapat memperbaiki aliran energi lambung dan meningkatkan
pengeluaran beta endorpin di hipofise.
Kunci keberhasilan self hypnosis adalah postsynaptic suggestion, yang berarti
sugesti yang diberikan saat seorang masih berada dalam kondisi trance, dan sugesti /
perintah ini baru akan dilaksanakan setelah seorang kembali ke kesadaran normal.
Mengenai Terapi Herbal, beberapa fakta yang kita jumpai pada masyarakat akhir-
akhir ini adalah kecenderungan kembali ke alam. Banyaknya pilihan tanaman obat yang
ditawarkan, mahalnya biaya pengobatan kanker secara konvensional, ketidak- berhasilan
dan banyaknya penyulit sampingan dalam pengobatan kanker dalam kedokteran
konvensional, serta adanya kasus kanker yang dapat disembuhkan dengan tanaman obat
mendorong makin banyak masyarakat yang memilih pengobatan alternatif antara lain
dengan tanaman obat sebagai cara pengobatan kanker.
Beberapa penelitian yang didanai oleh National Cancer Institute dan National
Institute of Health menunjukkan janji refleksologi sebagai intervensi untuk mengurangi
rasa sakit dan meningkatkan relaksasi, tidur, dan pengurangan gejala psikologis, seperti
kecemasan dan depresi. Hasil yang paling menguntungkan adalah di bidang paliatif
kanker (Ernst, Posadzki, & Lee, 2010).
B. Saran
Demikian yang dapat penyusun paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
pembahasan dalam makalah ini. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat membangun akan penyusun terima dengan baik demi sempurnanya makalah ini
dan penulisan makalah di kesempatan [Link] makalah ini berguna bagi kita
semua.
DAFTAR PUSTAKA
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. EGC: Jakarta.
Snyder, M. & Lindquist, R. (2002). Complementary/alternative therapies in nursing. 4th ed. New
York: Springer.
Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004). Clinical nursing skills: Basic to advanced skills.
New Jersey: Pearson Prentice Hall.
[Link] sebagai-
[Link]. Diakses Pada Tanggal 14 Mei 2018.
Mardiatu. Pengaruh Akupresu Dalam Meminimalisir Disminore Primer Pada Remaja Putri Di
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram Tahun 2013