100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
539 tayangan21 halaman

Perbedaan LWD dan Well Logging

Kelompok 3 terdiri atas 5 anggota yang akan melakukan penelitian tentang Logging While Drilling (LWD). LWD merupakan teknik baru yang ditemukan pada tahun 1980-an untuk melakukan pengukuran parameter geologi di dalam sumur secara real-time selama proses pengeboran berlangsung. LWD menggunakan sensor yang terintegrasi dengan drill string untuk melakukan pengukuran sambil melakukan pengeboran.

Diunggah oleh

Rizky Apriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
539 tayangan21 halaman

Perbedaan LWD dan Well Logging

Kelompok 3 terdiri atas 5 anggota yang akan melakukan penelitian tentang Logging While Drilling (LWD). LWD merupakan teknik baru yang ditemukan pada tahun 1980-an untuk melakukan pengukuran parameter geologi di dalam sumur secara real-time selama proses pengeboran berlangsung. LWD menggunakan sensor yang terintegrasi dengan drill string untuk melakukan pengukuran sambil melakukan pengeboran.

Diunggah oleh

Rizky Apriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kelompok : 3 (Tiga)

Anggota : 1. Febri Jaya Kusuma (1603001)

2. Wahyu Agung Agastio (1603025)

3. Aulia Lu’lu Al-Jannah Suli (1603018)

4. Nikodemus Prakoso (1603003)

5. Diki Setiawan (1603024)

“Logging While Drilling (LWD)”

I. Sejarah Logging While Drilling (LWD)

Logging sumur adalah pengukuran dalam lubang sumur menggunakan


instrumen yang ditematkan pada ujung kabel wireline dalam lubang bor. Wireline
terdiri atas outer wire rope dan inner wire group of wires. Kabel luar memberikan
kekuatan untuk menurunkan dan mengangkat instrumen dan kabel dalam berupa
transmisi untuk mengatur peralatan logging dan untukmentelemetrikan data uphole
ke perangkat perekaman di permukaan.

Pada tahun 1980an, teknik baru ditemukan, Logging While Drilling (LWD),
diperkenalkan degan menghasilkan informasi tentang sumur. Pada sensor yang
terletak diujung kabel wireline, sensor terintegrasi dengan drill string dan
pengukuran dilakuka saat pengeboran. Ketika melakukan loging sumur setelah drill
string dikeluarkan dari sumur. LWD mengukur parameter geologi didalam sumur
yang telah dibor. Karena terdapat dua kabel yang terkoneksi dengan permukaan, data
direkam kebawah dan diangkat kembali ketika drill string dikeluarkan dalam lubang.
Subset kecil dari data pengukuran dapat ditransmisikan ke permukaan real time
menggunakan pressure pulses dalam wells mud fluid colomn. data telemetri dari
dalam tanah mempunyai bandwidth yang kecil kurang dari 100bit per detik, sehingga
informasi dapat didapat real time dengan bandwidth yang kecil.
II. Pengertian Logging While Drilling (LWD)

Well logging dalam bahasa Prancis disebut carrotage electrique yang berarti
“electrical coring”, hal itu merupakan definisi awal dari well logging ketika pertama
kali ditemukan pada tahun 1927. Saat ini well logging diartikan sebagai “perekaman
karakteristik dari suatu formasi batuan yang diperoleh melalui pengukuran pada
sumur bor” (Ellis & Singer,2008). Well logging mempunyai makna yang berbeda
untuk setiap orang bor (Ellis & Singer,2008). Bagi seorang geolog, well logging
merupakan teknik pemetaan untuk kepentingan eksplorasi bawah permukaan. Bagi
seorang petrofisisis, well logging digunakan untuk mengevaluasi potensi produksi
hidrokarbon dari suatu reservoar. Bagi seorang geofisisis, well logging digunakan
untuk melengkapi data yang diperoleh melalui seismik. Seorang reservoir enginer
menggunakan well log sebagai data pelengkap untuk membuat simulator. Kegunaan
utama dari well logging adalah untuk mengkorelasikan pola – pola electrical
conductivity yang sama dari satu sumur ke sumur lain kadang – kadang untuk area
yang sangat luas bor (Ellis & Singer,2008). Saat ini teknologi well logging terus
berkembang sehingga dapat digunakan untuk menghitung potensi hidrokarbon yang
terdapat di dalam suatu formasi batuan.

Log adalah suatu grafik kedalaman (bisa juga waktu), dari satu set data yang
menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah
sumur (Harsono, 1997). Log elektrik pertama kali digunakan pada 5 September 1927
oleh H. Doll dan Schlumberger bersaudara pada lapangan minyak kecil di
Pechelbronn, Alsace, sebuah propinsi di timur laut Prancis (Ellis & Singer,2008).
Log terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada tahun 1929 log
resistivitas mulai digunakan, disusul dengan kehadiran log SP tiga tahun kemudian,
selanjutnya log neutron digunakan pada tahun 1941 disusul oleh kehadiran
mikrolog,laterolog, dan log sonic pada tahun 1950-an (Schlumberger,1989).

Alat LWD terdiri dari tiga bagian yaitu: sensor logging bawah lubang bor,
sebuah sistem transmisi data, dan sebuah penghubung permukaan. Sensor logging
ditempatkan di belakang drill bit, tepatnya pada drill collars (lengan yang berfungsi
memperkuat drill string) dan aktif selama pemboran dilakukan (Bateman,1985).
Sinyal kemudian dikirim ke permukaan dalam format digital melalui pulse telemetry
melewati lumpur pemboran dan kemudian ditangkap oleh receiver yang ada di
permukaan (Harsono,1997). Sinyal tersebut lalu dikonversi dan log tetap bergerak
dengan pelan selama proses pemboran. Logging berlangsung sangat lama sesudah
pemboran dari beberapa menit hingga beberapa jam tergantung pada kecepatan
pemboran dan jarak antara bit dengan sensor di bawah lubang bor (Harsono,1997).

Layanan yang saat ini disediakan oleh perusahaan penyedia jasa LWD
meliputi gamma ray, resistivity, densitas, neutron, survei lanjutan (misalnya sonik).
Tipe log tersebut sama (tapi tidak identik) dengan log sejenis yang digunakan pada
wireline logging. Secara umum, log LWD dapat digunakan sama baiknya dengan log
wireline logging dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang sama pula
(Darling,2005). Meskipun demikian, karakteristik pembacaan dan kualitas data
kedua log tersebut sedikit berbeda.

Gambar 1. Konsep LWD

III. Perhitungan Yang Disediakan Logging While Drilling (LWD)

A. Log Listrik
1. Log Spontaneous Potensial (SP)
Log SP adalah rekaman perbedaan potensial listrik antara elektroda di
permukaan dengan elektroda yang terdapat di lubang bor yang bergerak naik
–turun. Supaya SP dapat berfungsi maka lubang harus diisi oleh lumpur
konduktif.
Log SP digunakan untuk :
a) Identifikasi lapisan permeabel
b) Mencari batas-batas lapisan permeabel dan korelasi antar sumur
berdasarkan lapisan itu.
c) Menentukan nilai resistivitas air formasi (Rw)
d) Memberikan indikasi kualitatif lapisan serpih.
Pada lapisan serpih, kurva SP umumnya berupa garis lurus yang
disebut garis dasar serpih, sedangkan pada formasi permeabel kurva SP
menyimpang dari garis dasar serpih dan mencapai garis konstan pada lapisan
permeabel yang cukup tebal yaitu garis pasir. Penyimpangan SP dapat ke kiri
atau ke kanan tergantung pada kadar garam air formasi dan filtrasi lumpur
(Rider, 2002).

Gambar 1. Karakteristik Log SP (G. Asquith, 1976)


Log SP hanya dapat menunjukkan lapisan permeable, namun tidak
dapat mengukur harga absolute dari permeabilitas maupun porositas dari
suatu [Link] SP sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti
resistivitas formasi, air lumpur pemboran, ketebalan formasi dan parameter
lainnya. Sehingga jika salinitas komposisi dalam lapisan lebih besar dari
salinitas lumpur maka kurva SP akan berkembang negative, dan jika salinitas
komposisi dalam lapisan lebih kecil dari salinitas lumpur maka kurva SP
akan berkembang positif. Dan apabila salinitas komposisi dalam lapisan
sama dengan salinitas lumpur maka defleksi kurva SP akan menunjukkan
garis lurus sebagaimana pada shale (G. Asquith, 1976).

2. Log Resistivity
Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu kemampuan
batuan untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui batuan
tersebut (Darling, 2005).Nilai resistivitas rendah apabila batuan mudah untuk
mengalirkan arus listrik, sedangkan nilai resistivitas tinggi apabila batuan
sulit untuk mengalirkan arus listrik. Log Resistivity digunakan untuk
mendeterminasi zona hidrokarbon dan zona air, mengindikasikan zona
permeabel dengan mendeteminasi porositas resistivitas, karena batuan dan
matrik tidak konduktif, maka kemampuan batuan untuk menghantarkan arus
listrik tergantung pada fluida dan pori Alat-alat yang digunakan untuk
mencari nilai resistivitas (Rt) terdiri dari dua kelompok yaitu Laterolog dan
Induksi. Yang umum dikenal sebagai log Rt adalah LLd (Deep Laterelog
Resistivity), LLs (Shallow Laterelog Resisitivity), ILd ( Deep Induction
Resisitivity), ILm (Medium Induction Resistivity), dan SFL.
a) Laterolog
Prinsip kerja dari laterelog ini adalah mengirimkan arus bolak- balik
langsung ke formasi dengan frekuensi yang berbeda. Alat laterolog (DLT)
memfokuskan arus listrik secara lateral ke dalam formasi dalam bentuk
lembaran tipis. Ini dicapai dengan menggunakan arus pengawal (bucking
current), yang fungsinya untuk mengawal arus utama (measured current)
masuk ke dalam formasi sedalam-dalamnya. Dengan mengukur tegangan
listrik yang diperlukan untuk menghasilkan arus listrik utama yang besarnya
tetap, resistivitas dapat dihitung dengan hukum [Link] ini biasanya
digunakan untuk resistivitas menengah-tinggi.

Gambar 2. Prinsip Kerja Alat Lateralog (Harsono, 1997)


b) Induksi

Prinsip kerja dari induksi yaitu dengan menginduksikan arus listrik


keformasi. Pada alat memanfaatkan arus bolak-balik yang dikenai pada
kumparan, sehingga menghasilkan medan magnet, dan sebaliknya medan
magnet akan menghasilkan arus listrik pada kumparan. Secara umum,
kegunaan dari log induksi ini antara lain mengukur konduktivitas pada
formasi, mengukur resistivitas formasi dengan lubang pemboran yang
menggunakan lumpur pemboran jenis “oil base mud” atau “fresh water base
mud”.

Penggunaan Lumpur pemboran berfungsi untuk memperkecil


pengaruh formasi pada zona batulempung/shale yang besar. Penggunaan Log
Induksi menguntungkan apabila :
 Cairan lubang bor adalah insulator misal udara, gas, air tawar,atauoil base
mud.
 Resistivity formasi tidak terlalu besar Rt < 100 Ω
 Diameter lubang tidak terlalu besar.

Gambar 3. Prinsip Kerja Alat Induksi (Harsono 1997)

B. Log Radioaktif
1. Log Gamma Ray (GR Log)

Log Gamma Ray merupakan suatu kurva dimana kurva tersebut


menunjukkan besaran intensitas radioaktif yang ada dalam [Link] ini
bekerja dengan merekam radiasi sinar gamma alamiah batuan, sehingga
berguna untuk mendeteksi / mengevaluasi endapan-endapan mineral
radioaktif seperti Potasium (K), Thorium (Th), atau bijih Uranium (U).

Pada batuan sedimen unsur-unsur radioaktif banyak terkonsentrasi


dalam serpih dan lempung, sehingga besar kecilnya intensitas radioaktif akan
menunjukkan ada tidaknya mineral-mineral lempung. Batuan yang
mempunyai kandungan lempung tinggi akan mempunyai konsentrasi
radioaktif yang tinggi, sehingga nilai gamma ray-nya juga tinggi, dengan
defleksi kurva kekanan. Unsur radioaktif yang utama adalah potassium yang
umumnya ditemukan pada illite. Pada lapisan permeabel yang bersih, kurva
log GR akan menunjukkan intensitas radioaktif yang sangat rendah, kecuali
bila lapisan tersebut mengandung mineral-mineral tertentu yang bersifat
radioaktif, atau lapisan yang mengandung air asin yang mengandung garam-
garam potassium yang terlarutkan.

Unsur-unsur radioaktif banyak terkandung dalam lapisan serpih,


sehingga log GR sangat berguna untuk menentukan besar kecilnya kandungan
serpih atau lempung. Dengan menarik garis Gamma Ray yang mempunyai
harga minimum dan garis Gamma Ray maksimum pada suatu penampang
log, maka kurva tersebut merupakan indikasi adanya lapisan serpih. Gamma
Ray log dinyatakan dalam API Units (GAPI).

Kurva GR biasanya ditampilkan dalam kolom pertama, bersama kurva


SP dan Kaliper dengan skala dari kiri kekanan 0–100 atau 0–150 [Link]
GR merupakan log yang sangat bagus untuk menentukan permeabilitas suatu
batuan karena mampu memisahkan dengan baik antara lapisan serpih dari
lapisan permeabel.

Kegunaan log GR ini antara lain adalah untuk menentukan kandungan


serpih (Vsh), kandungan lempung, menentukan lapisan permeabel,
evaluasimineral bijih yang radioaktif, evaluasi lapisan mineral tidak
radioaktif, dan korelasi antar sumur.
Gambar 4. Respon Log Gamma Ray Terhadap Batuan (G. Asquith, 2004)

2. Log Denisty
Log densitas merupakan kurva yang menunjukkan besarnya densitas
(bulk density) dari batuan yang ditembus lubang bor dengan satuan gram)
cm3. Prinsip dasar dari log ini adalah menembakkan sinar gamma kedalam
formasi, dimana sinar gamma ini dapat dianggap sebagai partikel yang
bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Banyaknya energi sinar
gamma yang hilang menunjukkan densitas elektron di dalam formasi,
dimana densitas elektron merupakan indikasi dari densitas formasi.
Bulk density (b)merupakan indikator yang penting untuk
menghitung porositas bila dikombinasikan dengan kurva log neutron, karena
kurva log densitas ini akan menunjukkan besarnya kerapatan medium beserta
isinya. Selain itu apabila log densitas dikombinasikan dengan Log netron,
maka akan dapat dipakai untuk memperkirakan kandungan hidrokarbon atau
fluida yang terdapat di dalam formasi, menentukan besarnya densitas
hidrokarbon (h) dan membantu dalam evaluasi lapisan shaly. Pada lapisan
yang mengandung hidrokarbon, kurva densitas akan cenderung mempunyai
defleksi ke kiri (densitas total (Rhob) makin kecil), sedangkan defleksi log
netron ke kanan.
Pada batuan yang sangat kompak, dimana per satuan volume (cc)
seluruhnya atau hampir seluruhnya terdiri dari matrik batuan porositasnya
adalah mendekati atau nol. Dengan demikian batuan yang mempunyai
densitas paling besar, dimana porositas () adalah nol, dan ini disebut
sebagai densitas matrik (ma). Pada batuan homogen dengan porositas
tertentu, jika mengandung air asin akan mempunyai densitas lebih rendah
dibanding dengan batuan yang seluruhnya terdiri dari matrik. Untuk yang
mengandung minyak, densitas batuan lebih rendah daripada yang
mengandung air asin, sebab densitas air asin lebih besar daripada minyak.
Pada batuan homogen yang mengandung fluida gas, densitas batuan lebih
rendah lagi daripada yang berisi minyak. Sedangkan yang mengandung
batubara, mempunyai densitas paling rendah diatara jenis batuan yang
mengandung fluida. Gambaran variasi harga densitas dari beberapa lapangan
minyak dan gas bumi dapat dilihat pada Tabel 1.
Harga-harga pada tabel 1 besifat tidak mutlak tergantung dari
karakteristik batuan setempat, dan untuk meyakinkan adanya zona-zona air
asin, minyak, dan gas masih perlu ditunjang dengan data-data lain seperti
kurva SP, resistivitas, dan Natural Gamma Ray (GR) kurva neutron.
Terkecuali lapisan batubara yang mempunyai harga densitas yang khas yaitu
sangat rendah.

Tabel 1. Variasi harga densitas batuan dengan kandungan fluida tertentu dari
beberapa lapangan minyak bumi (Harsono 1997)
Gambar 5. Respon Log densitas tethadap batuan (Malcolm Rider, 2002)

3. Log Neutron
Prinsip dasar dari log neutron adalah mendeteksi kandungan atom
hidrogen yang terdapat dalam formasi batuan dengan menembakan atom
neutronke formasi dengan energi yang tinggi. Neutron adalah suatu partikel
listrik netral yang mempunyai massa hampir sama dengan atom hidrogen.
Partikel-partikel neutron memancar menembus formasi dan bertumbukan
dengan material formasi, akibat dari tumbukan tersebut neutron akan
kehilangan energi. Energi yang hilang saat benturan dengan atom di dalam
formasi batuan disebut sebagai porositas formasi (ф N). Hilangnya energi
paling besar bila neutron bertumbukan dengan sesuatu yang mempunyai
massa sama atau hampir sama, contohnya atom hidrogen. Dengan demikian
besarnya energi neutron yang hilang hampir semuanya tergantung
banyaknya jumlah atom hidrogen dalam formasi.
Gambar 6. Respon Log Neutron (Malcolm Rider, 2002)
4. Kombinasi Log Density (RHOB) dan Log Neutron (NPHI)

Berdasarkan sifat – sifat defleksi kurva 𝜌𝑏 dan 𝜑𝑁 maka dapat


memberikan keuntungan tersendiri pada lapisan – lapisan yang mengandung
hidrokarbon. Pada lapisan hidrokarbon, kurva densitas akan cenderung
mempunyai defleksi ke kiri (makin kecil harga 𝜌𝑏 nya), sedangkan pada log
neutron, harga porositasnya akan cenderung makin ke kanan (makin kecil
harga 𝜑𝑁 nya), dan pada lapisan shale kedua jenis kurva akan
memperlihatkan gejala yang sebaliknya.

Dengan demikian, pada lapisan hidrokarbon akan terjadi separasi


antarakedua kurva, dimana separasi disebut positif, sebaliknya pada lapisan
shale terjadi separasi negative.
Gambar 7. Log penentu jenis litologi (Bateman, 1985)

C. Log Caliper
Log ini digunakan untuk mengukur diameter lubang bor yang
sesungguhnyauntuk keperluan poerencanaan atau melakukan
[Link] dapat merefleksikan lapisan permeable dan lapisan yang
impermeable. Padal apisan yang permeable diameter lubang bor akan
semakin kecil karena terbentukya kerak lumpur (mud cake) pada dinding
lubang bor. Sedangkan pada lapisan yang impermeable diameter lubang bor
akan bertambah besar karena ada dinding yang runtuh (vug).
Gambar 8. Tipikal respon kaliper untuk berbagai litologi (Malcolm Rider,
2002)
D. Log Sonic
Sonic log merupakan log akustik dengan prinsip kerja mengukur
waktu tempuh gelombang bunyi pada jarak tertentu didalam lapisan batuan
Prinsip kerja alat ini adalah bunyi dengan interval yang teratur dipancarkan
dari sebuah sumber bunyi (transmitter) dan alat penerima akan mencatat
lamanya waktu perambatan bunyi di dalam batuan (∆t). Lamanya waktu
perabatan bunyi tergantung kepada litologi batuan dan porositas
[Link] sonik mengukur kemampuan formasi untuk meneruskan
gelombang suara. Secara kuantitatif, log sonik dapat digunakan untuk
mengevaluasi porositas dalam lubang yang terisi fluida, dalam interpretasi
seismik dapat digunakan untuk menentukan interval velocities dan velocity
profile, selain itu juga dapat dikalibrasi dengan penampang seismik. Secara
kualitatif dapat digunakan untuk mendeterminasi variasi tekstur dari lapisan
pasir-shaledan dalam beberapa kasus dapat digunakan untuk identifikasi
rekahan (fractures) (Rider, 1996).
Alat sonic yang sering dipakai pada saat ini adalah BHC(Borehole
Compensated Sonic Tool), dimana alat ini sangat kecil dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan lubang bor maupun posisi alat sewaktu pengukuran
[Link]- faktor yang mempengaruhi pengukuran antara lain adalah
kepadatan, komposisi serpih, hidrokarbon, rekahan dan pori/gerohong, serta
pengaruh dari lubang bor.

Gambar 9. Sistem BHC (Harsono, 1997)

IV. Interpretasi Kualitatif Well Logging

Interpretasi secara kualitatif bertujuan untuk identifikasi lapisan batuan


cadangan, lapisan hidrokarbon, serta perkiraaan jenis hidrokarbon. Untuk suatu
interpretasi yang baik, maka harus dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa
log. Untuk mengidentifikasi litologi, maka dapat dilakukan interpretasi dari log GR
atau log SP. Apabila defleksi kurva GRnya ke kiri atau minimum, kemungkinan
litologinya menunjukkan batupasir, batugamping atau batubara, sedangkan untuk
litologi shale atau organic shale, maka defleksi kurva GRnya ke kanan atau
[Link] mempunyai porositas yang kecil, sehingga pembacaan 𝜌𝑏
nya besar, dan harga 𝜑𝑁nya kecil, sedangkan untuk litologi batubara menunjukkan
pembacaan sebaliknya.

Untuk membedakan jenis fluida yang terdapat di dalam formasi, air,minyak


atau gas, ditentukan dengan melihat log resistivitas dan gabungan log Densitas
Neutron. Zona hidrokarbon ditunjukkan oleh adanya separasi antara harga tahanan
jenis zona terinvasi (Rxo) dengan harga resistivitassebenarnya formasi pada zona
tidak terinvasi (Rt). Separasi tersebut dapat positif atau negatif tergantung pada harga
Rmf/Rw > 1, harga perbandingan Rxo dengan Rt akan maksimum dan hampir sama
dengan harga Rmf/Rw di dalam zona air. Nilai Rxo/Rt yang lebih rendah dari harga
maksimum menunjukkan adanya hidrokarbon dalam [Link] lubang bor
keterangan harga Rmf lebih kecil daripada Rw (Rmf/Rw kecil), zona hidrokarbon
ditunjukkan harga Rxo/Rt lebih kecil dari satu.

Untuk membedakan gas atau minyak yang terdapat di dalam formasi dapat
dilihat pada gabungan log neutron- densitas. Zona gas ditandai dengan harga
porositas neutron yang jauh lebih kecil dari harga porositas densitas, sehingga akan
ditunjukkan oleh separasi kurva log neutron- densitas yang lebih besar. Dalam zona
minyak, kurva neutron atau kurva densitas membentuk separasi positif yang lebih
sempit daripada zona gas (dalam formasi bersih).
Gambar 10. Well Log Response (Pertamina, 2000)

V. Keunggulan & Kelemahan Logging While Drilling (LWD)

A. Keunggulan Logging While Drilling (LWD)

Menurut Darling (2005), alat LWD mempunyai sejumlah keunggulan yaitu:

 Data yang didapat berupa real-time information


Informasi tersebut dibutuhkan untuk membuat keputusan penting selama
pemboran dilakukan seperti menentukan arah dari mata bor atau
mengatur casing.
 Informasi yang didapat tersimpan lebih aman
Hal ini karena informasi tersebut disimpan di dalam sebuah memori
khusus yang tetap dapat tetap diakses walaupun terjadi gangguan pada
sumur.
 Dapat digunakan untuk melintas lintasan yang sulit
LWD tidak menggunakan kabel sehingga dapat digunakan untuk
menempuh lintasan yang sulit dijangkau oleh wireline logging seperti
pada sumur horizontal atau sumur bercabang banyak (high deviated
well).
 Menyediakan data awal apabila terjadi hole washing-out atau invasi
Data LWD dapat disimpan dengan menggunakan memori yang ada pada
alat dan baru dilepas ketika telah sampai ke permukaan atau
ditransmisikan sebagai pulsa pada mud column secara real-time pada saat
pemboran berlangsung (Harsono,1997).

B. Kelemahan Logging While Drilling (LWD)

Darling (2005) menyebutkan sejumlah kelemahan dari LWD yang


membuat penggunaannya menjadi terbatas yaitu :

 Mode pemboran: Data hanya bisa ditransmisikan apabila ada lumpur


yang dipompa melewati drillstring.
 Daya tahan baterai: tergantung pada alat yang digunakan pada string,
biasanya hanya dapat bekerja antara 40-90 jam
 Ukuran memori: Sebagian besar LWD mempunyai ukuran memori yang
terbatas hingga beberapa megabit. Apabila memorinya penuh maka data
akan mulai direkam di atas data yang sudah ada sebelumnya.
Berdasarkan sejumlah parameter yang direkam, memori tersebut penuh
antara 20-120 jam
 Kesalahan alat: Hal ini bisa menyebabkan data tidak dapat direkam atau
data tidak dapat ditransmisikan.
 Kecepatan data: Data ditransmisikan tanpa kabel, hal ini membuat
kecepatannya menjadi sangat lambat yaitu berkisar antara 0,5-12 bit/s
jauh dibawah wireline logging yang bisa mencapai 3 Mb/s.

Gambar 11. Skematik dari alat string LWD dengan beberapa sensor

VI. Sistem Telemetri Dalam Pengeboran

Sistem telemetri adalah sistem penyampaian informasi jarak jauh melalui


media dan sumber telemetri yang berbeda-beda. Sistem ini adalah sistem terbaik
yang bisa digunakan untuk menyampaikan informasi dari dalam sumur bor ke
komputer yang berada di permukaan.

Perhitungan di dalam sumur bor dapat terkirim ke permukaan secara langsung


melalui suatu sistem yang disebut telemetri. Alat Measurement While Drilling
(MWD) yang ada di dalam sumur berperan penting untuk menghantarkan data hasil
perhitungan alat-alat logging (LWD) agar bisa diterima dan diproses di komputer di
permukaan.

Alat MWD mengirimkan data ke permukaan dengan membuat pulsa tekanan


terhadap lumpur bor yang ada di dalam pipa bor. Selanjutnya suatu sensor pulsa
tekanan yang ditempatkan di pangkal pipa bor di permukaan sumur akan menerima
pulsa tersebut dan merubah wujud energi dari tekanan menjadi energi listrik untuk
dikirimkan selanjutnya ke komputer di unit logging yang kemudian dapat
diterjemahkan ke dalam binari digital yang sesuai dengan kode-kode binari yang
telah diprogram sebelumnya, bisa diterjemahkan ke dalam suatu data dalam bentuk
bermacam-macam seperti kurva (log), numerik, dan gambar (image).

Setiap tipe alat MWD memiliki tipe sensor penerima pulsa tekanan yang
berbeda, bergantung dari jenis pulsa yang dikirimkan. Pulsa ini bisa berupa pulsa
negatif, pulsa positif dan pulsa berkesinambungan. Sistem ini bisa lebih dipelajari
lebih detil melalui fisika getaran dan gelombang. Begitu pula dengan media yang
digunakan untuk menghantarkan pulsa tekanan tersebut (lumpur bor) juga bisa
dipelajari lebih detil melalui termodinamika, dinamika fluida dan fisika bumi, yaitu
tentang karakterisasi lumpur dan lingkungan pengeboran (berat jenis, viskositas, yiel
point, suhu, dan lain-lain).

Bagaimana alat MWD bisa menghasilkan pulsa tekanan? yaitu dengan


adanya berputar dan berhentinya suatu alat turbin modulasi sesuai dengan program
yang telah dilakukan oleh operator saat alat MWD ada dipermukan. Perputaran
turbin modulasi ini menghasilkan bentuk pulsa tekanan tertentu pada lumpur bor dan
karena sifat fisis gelombang maka pulsa ini akan berjalar sampai energi berubah
menjadi bentuk energi lainnya. Hal ini juga berpengaruh pada kuat atau lemahnya
sinyal MWD yang diterima oleh sensor pulsa tekanan di permukaan. Karena faktor
media penjalaran gelombang yang dihasilkan MWD akan sangat berpengaruh pada
hasil yang diterima oleh sensor di permukaan, disamping itu faktor-faktor lain yang
menentukan kuatnya sinyal MWD antara lain kedalaman pengeboran, jenis turbin
modulasi, kuatnya aliran lumpur, tekanan lumpur di permukaan, dan gangguan
(noise) di media penjalaran yang bisa berasal dari motor bor, kabel listrik, gangguann
piston pompa. Sistem ini adalah suatu sistem lengkap yang sangat menarik dan bagus
untuk dipelajari bagi mahasiswa fisika.

Tipe lain dari sistem telemetri adalah pemakaian gelombang elektromagnetik.


Prinsip kerja sistem ini tentu sama saja dengan prinsip kerja pulsa tekanan, tapi tentu
peralatan yang dipakai berbeda, dan sistem kerjanya juga sedikit berbeda. Faktor
yang berpengaruh juga berbeda, misalnya seberapa jauh gelombang ini bisa menjalar
pada media yang ada di bawah permukaan, apa saja yang bisa mengurangi besarnya
energi gelombang elektromagnetik saat menjalar melalui media tertentu, dan
sebagainya. Sistem telemetri lain yang kita kenal misalnya adalah gelombang radio,
ini hampir belum pernah dipakai pada alat MWD karena karakter fisis gelombang
radio yang tidak memungkinkan untuk dipakai sebagai sarana telemetri untuk
menghantarkan data-data hasil perhitungan di dalam sumur bor. Namun gelombang
radio banyak dipakai di industri balap seperti Formula 1 dan di berbagai bidang
lainnya.

Anda mungkin juga menyukai