0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
845 tayangan4 halaman

Pemahaman Control Self Assessment (CSA)

Dokumen tersebut membahas tentang control self assessment (CSA) sebagai salah satu teknik penilaian risiko yang dapat digunakan oleh perusahaan. CSA merupakan proses dimana manajemen dan karyawan secara terus menerus menilai faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi agar dapat mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan. Proses CSA dilakukan melalui workshop dengan partisipasi sel

Diunggah oleh

Evi sulastri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
845 tayangan4 halaman

Pemahaman Control Self Assessment (CSA)

Dokumen tersebut membahas tentang control self assessment (CSA) sebagai salah satu teknik penilaian risiko yang dapat digunakan oleh perusahaan. CSA merupakan proses dimana manajemen dan karyawan secara terus menerus menilai faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi agar dapat mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan. Proses CSA dilakukan melalui workshop dengan partisipasi sel

Diunggah oleh

Evi sulastri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

Dalam proses manajemen risiko dan pengendalian internal, organisasi yang mengidentifikasi
risiko yang dimilikinya dan menilai kecukupan serta efektivitas pengendalian yang
dijalankannya agar dapat merencanakan dan mengembangkan tindakan-tindakan yang
dibutuhkan untuk perbaikan. Kerangka kerja sistem pengendalian internal COSO
menempatkan sebagai pusat bahasan dalam topik pengendalian. Oleh karena itu, sangat
penting untuk melibatkan manajemen dan personel dalam tahap-tahap di atas, manajemen
dan personel yang diidentifikasi oleh bagian / departemennya, menilai kecukupan
pengendalian yang telah melaporkan, dan merencanakan tindakan pengembangan perbaikan
yang dibutuhkan oleh bagian / departemennya, ini disebut control self-assessment (CSA).
Dengan CSA, manajer dan karyawan diharapkan dapat mengidentifikasi sendiri masalah
yang dihadapinya serta solusi yang dibutuhkannya sehingga manajer dan karyawan tersebut
terlibat dan menjadi bagian penting dari proses pengendalian. Untuk mencapai hasil tersebut,
diperlukan proses CSA yang lelah diulas dalam bab yang termasuk definisi CSA, manfaat
CSA, proses dan audit program CSA, dan endapan CSA.

A. Pengertian Control Self Assessment

Control Self Assessment atau disingkat CSA, yaitu salah satu teknik ‘risk assessment’
yang dapat digunakan oleh berbagai perusahaan dengan beberapa keunggulan dalam
penerapannya, terutama dalam membangun ‘risk culture’ yang sehat dan mendorong
pendekatan ‘bottom-up’ dalam pelaksanaan manajemen risiko operasional suatu organisasi.
Pengertian CSA adalah sebuah proses dimana tim karyawan dan manajemen, di tingkat
lokal dan eksekutif, terus menerus menjaga kesadaran semua faktor material yang cenderung
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi, sehingga memungkinkan mereka membuat
penyesuaian-penyesuaian yang tepat. Untuk meningkatkan independensi, objektivitas, dan
kualitas dalam proses tersebut, serta tata kelola yang efektif, maka diharapkan auditor internal
terlibat dalam proses tersebut dan bahwa mereka secara independen melaporkan hasil-
hasilnya ke manajemen senior dan dewan komisaris.
Berdasarkan hal-hal tersebut, CSA bisa digambarkan sebagai berikut:

Control Self Assessment merupakan sebuah proses dimana tim karyawan dan
manajemen, di tingkat lokal dan eksekutif, terus-menerus menjaga kesadaran semua
faktor material yang cenderung memengaruhi pencapaian tujuan organisasi, sehingga
memungkinkan mereka membuat penyesuaian-penyesuaian yang tepat. Untuk
meningkatkan independensi, objektivitas dan kualitas dalam proses tersebut. Serta tata
kelola yang efektif, maka diharapkan auditor internal terlibat dalam proses tersebut
dan bahwa mereka secara independen melaporkan hasil-hasilnya ke manajemen
senior dan dewan komisaris.
Konsep CSA pertama kali dikembangakan pada tahun 1987 oleh departemen internal
audit sebuah perusahaan minyak di Kanada Gulf Canada Resources Ltd. Penerapannya pada
waktu itu dalam bentuk suatu pertemuan yang dihadiri para karyawan dan manager
perusahaan yang difasilitasi oleh staf senior internal auditor untuk membahas fokus masalah
yang menghambat pencapaian tujuan atau risiko di masing-masing departeman serta rencana
tindakan yang perlu dilakukan untuk mangatasinya. Proses CSA ini terus dikembangkan dan
dirasakan manfaatnya karena dapat mengungkapkan masalah-masalah yang luas yang
mencakup dalam konsep pengendalian risiko.

Lalu mengapa sebuah organisasi membutuhkan CSA?


CSA dibutuhkan oleh suatu organisasi karena memiliki peran penting dalam menentukan
prioritas berdasarkan risiko yang akan dihadapi dalam kegiatan manajemen/organisasi.
Tahapan kegiatan CSA adalah sebagai berikut :
 Mengidentifikasi dan menentukan prioritas dari sasaran bisnis bagi perusahaan dan
prioritas sasaran kegiatan manajemen organisasi bagi sektor public.
 Menilai dan memanage area dari proses bisnis yang berisiko tinggi.
 Evaluasi kecukupan kontrol.
 Mengembangkan rencana tindak lanjut penanganan risiko.
 Memastikan bahwa identifikasi, pemahaman dan evaluasi sasaran bisnis dan risiko
konsisten pada seluruh tingkat organisasi.

Karakteristik CSA dalam organisasi adalah sebagai Preventive Control, berorientasi pada
kinerja, Bersifat konstruktif (positive thinking), Komunikasi
reguler/kontinyu/berkesinambungan antar setiap pemangku kepentingan dalam organisasi,
Financial, Compliance and Performance audit dan sebagai Mitra kerja/konsultan/katalis. Jadi
posisi CSA dalam audit adalah sebagai suplemen audit bukan pengganti audit.
CSA bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan pada manajer dan pegawai dalam
memetakan tujuan, resiko dan pengendalian yang melekat pada focus bisnis sehingga mereka
dapat mengelolanya lebih efektif. CSA juga dinilia mampu menggali isu-isu secara lebih luas
dan lebih efektif untuk mengevaluasi pengendalian yang sifatnya informal atau soft control.

B. Alat dan Teknik yang Digunakan


Ada lima komponen kunci untuk rapat kerja yang sukses, yaitu :
1. Fasilitator akan melakukan wawancara dengan manajemen dan partisipan lain
sebelum pertemuan dimulai.
2. Tim yang menghadiri rapat kerja membutuhkan waktu untuk berpikir dan menggali
ide-ide yang muncul
3. Bisa muncul bila peserta puas karena masalah mereka telah diidentifikasi dan dibahas.
4. Mengembalikan dengan segera ringkasan pembahasan dan pengumpulan suara (jika
ada) ke peserta.
5. Tindakan atas semua yang telah dibahas.
C. Pendekatan CSA
Metode atau pendekatan CSA dibagi ke dalam tiga pendekatan, yaitu :
 Workshop
adalah pertemuan yang difasilitasi oleh fasilitator untuk memperoleh informasi yang
akan digunakan dalam penilaian resiko.
 Survey
adalah metode pengumpulan informasi yang bisa dilakukan dengan memberikan
kuisioner kepada responden.
 Analisi Manajemen
merupakan analisi yang dilakukan oleh manajemen berdasarkan diskusi, review, atau
kuisioner dalam rangka mendukung suatu opini/pendapat tertentu atau membuat
kesimpulan atas suatu permasalahan tertentu.
Dari ketiga metode CSA tersebut diatas yang paling popular dan direkomendasikan oleh
IIA adalah metode Workshop.

D. Variasi Tema
Seringkali CSA diharapkan diberikan secara internal, karena merupakan proses
pembelajaran integral bagi organisasi. Namun, ada tiga situasi yang lebih baik mencari
sumber daya dari luar.
• Pertama, dalam pelatihan dan implementasi awal dengan target tinggi tapi
kemampuan peserta masih rendah
• Kedua, saat manajemen puncak memutuskan menggunakan rapat CSA dengan target
tinggi. Maka independensi dan objektivitas merupakan hal yang penting.
• Ketiga, ketika program CSA yang telah berjalan baik membutuhkan penelaahan pihak
luar atau penyegaran.

E. Independensi, Objektivitas dan Etika Fasilitator


Meskipun CSA umumnya menyebabkan hubungan auditor/fasilitator dengan klien
menjadi lebih dekat, tetapi sangat penting untuk tetap menjaga independensi dan
objektivitas. Tahap riset sebelum rapat kerja sangatlah penting karena fasilitator
mendapatkan tolok ukur eksternal yang independen untuk digunakan sebagai
perbandingan. Fasilitator juga harus menjaga etika sendiri dalam dua hal penting, yaitu :
• Pertama, penting untuk mengakui bahwa CSA teragantung pada keterbukaan
partisipandan kejujuran mereka sendiri mengenai individu-individu.
• Aspek kedua yang harus dipahami fasilitator adalah mereka juga manusia dan bisa
berbuat salah sehingga perlu mengelola potensi konflik kepentingan yang ada.

F. Hubungan antar-CSA dan Kegiatan Audit Internal yang Lain


Berbeda dengan kegiatan audit konvensional, CSA memiliki lingkup yang luas,
mengumpulkan informasi yang material secara tepat dan interaktif, dan menghabiskan
sedikit waktu untuk verifikasi dan pelaporan. Dari sudut pandang manajer audit, CSA
merupakan metode penentuan risiko yang cepat dan biasanya handal di tingkat makro
tetapi tidak seperti beberapa alat audit, CSA tidak dirancang untuk penyelidikan lebih
dalam. Bila CSA dilakukan secara berkesinambungan di organisasi maka CSA
merupakan alat ideal untuk mengidentifikasi risiko dan bidang-bidang bernilai tinggi
yang akan bermanfaat untuk dilakukan audit. Partisipan rapat kerja biasanya pandai
dalam mengidentifikasi bidang-bidang masalah utama.

G. Proses CSA Dalam Penilaian Resiko


Metode yang paling umum digunakan untuk proses CSA dalam penilaian resiko
adalah format workshop. Tujuan dari workshop ini adalah mengidentifikasi dan menilai
resiko suatu kegiatan di unit organisasi.

Keunggulan dan Kelemahan CSA


Keunggulan Kelemahan
 Pembelajaran bagi peserta  Terlalu banyak rapat kerja dan kurangnya
memadainya analisis
 Peningkatan kebersamaan tim  Tidak menepati janji atau membuat
terlalu banyak janji
 Efisiensi penggunaan waktu  Tidak sensitif terhadap kebutuhan dan
kekhawatiran partisipan
 Pembelajaran tentang pengelolaan resiko  Terlalu dalam masuk ke dalam masalah
tanpa tahu caranya mengatasi masalah
itu.
 Pengembangan berkelanjutan
 Mendorong Pengawasan

H. Faktor Pendukung Keberhasilan CSA


Kegiatan workshop dapat berhasil dengan baik apabila dilaksanakan secara jujur dan
terbuka disamping didukung oleh kemampuan fasilitator dan komitmen pimpinan
instansi. Hal-hal yang menentukan keberhasilan CSA, yaitu :
o Keterbukaan, kejujuran, dan obyektifitas pimpinan instansi dalam proses workshop
o Pemilihan peserta yang tepat, yaitu mempunyai pemahaman dan berperan aktif dalam
proses bisnis kegiatan.
o Peran aktif peserta selama pelaksanaan workshop
o Budaya organisasi mendukung diskusi yang terbuka dan transparan
o Tidak terdapat indikasi penyimpangan/KKN

Anda mungkin juga menyukai