0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan10 halaman

Defisit Perawatan Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan ini membahas defisit perawatan diri pada pasien gangguan jiwa. Defisit perawatan diri terjadi karena faktor predisposisi, presipitasi, dan gangguan proses berpikir yang menurunkan kemampuan mandiri. Diagnosa keperawatan meliputi defisit kebersihan diri, berpakaian, makan, dan eliminasi. Penatalaksanaan meliputi terapi obat, keluarga, musik, dan latihan aktivitas mandiri seperti mandi, berpakaian

Diunggah oleh

Dina Herlita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan10 halaman

Defisit Perawatan Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan ini membahas defisit perawatan diri pada pasien gangguan jiwa. Defisit perawatan diri terjadi karena faktor predisposisi, presipitasi, dan gangguan proses berpikir yang menurunkan kemampuan mandiri. Diagnosa keperawatan meliputi defisit kebersihan diri, berpakaian, makan, dan eliminasi. Penatalaksanaan meliputi terapi obat, keluarga, musik, dan latihan aktivitas mandiri seperti mandi, berpakaian

Diunggah oleh

Dina Herlita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK KEPERAWATAN JIWA

“DEFISIT PERAWATAN DIRI”

DOSEN PEMBIMBING :

WAHYU ENDANG SETYOWATI, SKM, M. KEP

DI SUSUN OLEH :

DINA HERLITA

40901800026

D3 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2020/2021
A. PENGERTIAN
Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalai
kelemahan kemapuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri
secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian/berhias, makan, BAB/BAK
(toileting).(Fitria, 2012).

B. PENYEBAB

1) Faktor Predisposisi
a) Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b) Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c) Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan
realitas yang kurang menyebabkan ketidak pedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.
d) Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
[Link] lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam
perawatan diri.
2) Faktor Presipitasi Yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah
kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas,
lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang
mampu melakukan perawatan diri.

C. KLASIFIKASI

Menurut NANDA (2012) dalam Mukhripah Damaiyanti (2014), jenis perawatan diri
terdiri dari:

1) Defisit perwatan diri: mandi; Hambatan kemampuan untuk melakukan atau


menyelesaikan mandi/beraktivitas perawatan diri untuk diri sendiri.
2) Defisit perawatan diri: berpakaian; Hambatan kemampuan untuk melakukan
atau menyelesaikan aktivitas berpakaian dan berhias untuk diri sendiri.
3) Defisit perawatan diri: makan; Hambatan kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktivitas sendiri.
4) Defisit perawatan diri: eliminasi; Hambatan kemampuan untuk melakukan
atau menyelesaikan aktivitas eliminasi sendiri.

D. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Fitria (2012) tanda dan gejala yang tampak pada klien yang mengalami
defisit perawatan diri adalah sebagai berikut:

1) Mandi/hygiene Klien mengalami ketidak mampuan dalam membersihkan


badan, memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran
air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi, meringankan tubuh, serta
masuk dan keluar kamar mandi.
2) Berpakian/berhias Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau
mengambil potongan pakaian, menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau
menukar pakaian. Klien juga memiliki ketidakmampuan untuk mengenakan
pakaian dalam, memilih pakaian, menggunakan alat tambahan, menggunakan
kancing tarik, melepaskan pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan
penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian, dan
mengenakan sepatu.
3) Makan Klien mempunyai ketidak mampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan, menangani perkakas, mengunyah makanan,
menggunakan alat tambahan, mendapatkan makanan, mengambil makanan
dari wadah lalu memasukkannya ke mulut, melengkapi makan,mencerna
makanan menurut cara yang diterima masyarakat,mengambil cangkir atau
gelas,sertamencerna cukup makanan dengan aman.
4) BAB/BAK (toiletting) Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan
dalam mendapatkan jamban atau kamar kecil, duduk atau bangkit dari jamban,
memanipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan diri setelah BAB/BAK
dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.
E. PATOFISIOLOGI
Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya
perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan
diri menurun. Kurang perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat
kebersihan diri, makan secara mandiri,berhias diri secara mandiri, dan toileting
( buang air besar [BAB]atau buang air kecil (BAK)secara mandiri (Yusuf, Rizky &
Hanik,2015:154).

F. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN DAN MEDIS


1. Penatalaksanaan Medis

 Farmakologi

a) Obat anti psikosis : Penotizin.


b) Obat anti depresi : Amitripilin.
c) Obat antu ansietas : Diasepam, bromozepam, clobozam.
d) .Obat anti insomia : phnebarbital
 Terapi
a. Terapi Keluarga Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu
mengatasi masalah klien dengan memberikan perhatian :

1) Jangan memancing emosiklien.


2) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengankeluarga.
3) Berikan kesempatan klien mengemukakanpendapat.
4) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan masalah
yang dialaminya.
b. Terapi Aktivitas Kelompok Berfokus pada dukungan dan perkembangan,
keterampilan sosial, atau aktivitas lainnya, dengan berdiskusi serta bermain
untuk mengembalikan keadaan klien karena maslah sebagian orang
merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain. Ada 5 sesi yang harus
dilakukan :
1) Manfaat perawatan diri.
2) Menjaga kebersihan diri
3) Tata cara makan dan minum.
4) Tata cara eliminasi.
5) Tata cara berhias

c. Terapi Musik Dengan musik klien bisa terhibur, rileks, dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran pasien. Penatalaksanaan manurut herman (Ade,
2011) adalah sebagai berikut.
1) Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri.
2) Membimbing dan menolong klien merawat diri.
3) Ciptakan lingkungan yang mendukung
2. Penatalaksanaan Keperawatan
 Membina hubungan saling percaya
 Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri Untuk melatih pasien
dalam menjaga kebersihan diri , perawat dapat melakukan tahapan
tindakan yang meliputi:

1. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri.


2. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri

3. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri.


4. Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri.

 Melatih pasien berdandan/berhias Untuk pasien laki-laki latihan meliputi :


1) Berpakaian, Menyisir rambut dan Bercukur Untuk pasien wanita, latihannya meliputi
:Berpakaian, Menyisir rambut dan Berhias
 Melatih pasien makan dan minum secara mandiri Untuk melatih makan dan minum
pasien, perawat dapat melakukan tahapan sebagai berikut:
- Menjelaskan kebutuhan (kebutuhan makan perhari dewasa 2000-2200 kalori (untuk
perempuan) dan untuk laki-laki antara 2400-2800 kalori setiap hari makan minum 8
gelas (2500 ml setiap hari) dan cara makan dan minum
- Menjelaskan cara makan dan minum yang tertib.
- Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan dan minum setelah makan dan minum
- Mempraktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
- Mengajarkan pasien melakukan BAB dan BAK secara mandiri Perawat dapat melatih
pasien untuk BAB dan BAK mandiri sesuai tahapan
- Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Pasien Defisit Perawatan Diri Keluarga
diharapkan dapat merawat pasien defisit perawatan diri di rumah dan menjadi sistem
pendukung yang efektif bagi pasien.

G. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN


a. Data yang perlu dikaji :
Data Subjektif
 Klien mengatakan dirinya malas mandi karena arnya dingin, atau di RS tidak
tersedia alat mandi
 Klien mengatakan dirinya malas berdandan
 Jkien mengatakan ingin disuapin makanan
 Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK/BAB.

Data Objektif
 Ketidakmapuan mandi atau membersihakan diri ditandai cengan rambut kotor,
gigi kotor, kulit berdaki dan berbau, serta kuku panjang dan kotor
 Ketidakmamapuan [Link] ditandai dengan rambut acak-acakan,
pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (laki-laki),
atau tidak berdandan (perempuan)
 Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan
mengambil makanan sendiri, makanan berceceran dan makan tisdak pada
tempatnya
 Ketidakmapuan BAK/BAB ditandai dengan BAK/BAB tidak pada tempatnya,
tidak membersihakn diri dengan baik setelah BAL/BAB.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Defisit perawatan diri : Kebersihan diri,berdAndan, makan dan minum, BAB dan
BAK.
I. POHON MASALAH

risiko tinggi isolasi sosial

deficit perawatan diri

Harga diri rendah

J. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Intervensi Generalis Pasien :
a. Latih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri
- Monitor kemampuan klien melakukan perawatan diri secara mandiri.
- Identifikasi bersama klien hambatan yang dialami klien dalam perawatan diri
- Fisik : adanya keterbatasan gerak/ aktifitas, penyakit fisik, kelemahan, dan lain-lain
- Intelektual : penolakan
- Emosi : kondisi labil,akut/kronis
- Sosial : ketidakmampuan klien mengendalikan perilaku.
b. Diskusikan bersama klien keuntungan/ manfaat kebersihan diri.
c. Sediakan peralatan mandi : sabun, shampoo , handuk, sikat gigi, pastagigi,air yang
cukup.
d. Berikan bantuan sampai klien dapat mandiri dalam perawatan dirinya.
e. Evaluasi perasaan klien setelah mandi.
f. Berikan reinforcement terhadap kemajuan klien dalam melkukan kebersihan diri.
g. Latih pasien berdandan dan berhias
1. Monitor kemampuan klien dalam berpakaian dan berhias.
2. Monitor/identifikasi adanya kemunduran sensori, kognitif, dan psikomotor yang
menyebabkan klien mempunyai kesulitan dalam berpakaian dan berhias.
3. Diskusikan dengan klien kemungkinan adanya hambatan dalam berpakaian dan berhias.
4. Gunakan komunikasi/instruksi yang mudah dimengerti klien untuk mengakomodasi
keterbatasan kognitif klien.
5. Sediakan baju bersih dan sisir, jika mungkin bedak, parfum, dan sebagainya.
6. Dorong klien untuk mengenakan baju sendiri dan memasang kancing dengan benar.
7. Berikan bantuan kepada klien jika perlu.. Bantu klien menentukan tindakan untuk
mandi/kebersihan diri
8. Evaluasi perasaan klien setelah mampu berpakain dan berhias.
9. Berikan reinforcement atas keberhasilan klien berpakaian dan berhias

c. Latih pasien makan secara teratur


1. Monitor kemampuan klien makan.
2. Identifikasi bersama klien faktor-faktor penyebab klien tidak mau makan.
3. Identifikasi adanya hambatan makan.
- Fisik : kelemahan, isolasi, keterbatasan extremitas, fixasi.
- Emosi : depresi, manik, penurunan nafsu makan.
- Intelektual : curiga.
- Sosial : curiga.
- Spiritual : adanya waham.
d. Diskusikan dengan klien fungsi makanan bagi kesehatan.
e. Diskusikan dengan klien akibat kurang/ tidak mau makan.
f. Bantu klien memutuskan untuk makan.
g. Ajak klien makan bersama di ruangmakan.
h. Berikan bantuan makan sesuai kondisi klien.
i. Evaluasi perasaan klien setelah [Link] reinforcement terhadap kemajuan klien
(misal : peningkatan porsi makan)
j. Latih pasien untuk BAB/BAK secara mandiri
1. Monitor kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi.
2. Kaji adanya kemunduran kemampuan klien ke kamar mandi/toilet.
3. Kaji keterbatasan klien dalam pemenuhan eliminasi.
4. Diskusikan dengan klien keuntungan bab/bak di kamar mandi/toilet.
5. Diskusikan masalah yang ditimbulkan bila bab/bak di sembarang tempat.
6. Berikan instruksi yang singkat, jelas, dan mudah dimengerti oleh klien.
7. Bantu klien untuk memutuskan/ mengambil alat bantu yang diperlukan dalam
pemenuhan kebutuhan eliminasinya.
8. Sediakan alat bantu (pispot, urinal, dan sebagainya) di kamar klien.
9. Evaluasi perasaan klien.

Berikan reinforcement terhadap keberhasilan klien menentukan pilihan yang


tepatdalam pemenuhan eliminasinya.

 Intervensi generalis keluarga


 Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh
pasien untuk menjaga perawatan diri pasieat diri pasien dan membantu
mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadual yang telah disepakati).
 Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat
 Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien dalam
merawat diri.
DAFTAR PUSTAKA

Ade, H. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

dkk, A. (2014). Laporan Pendahuluan Keperawatan Jiwa Defisit Perawatan Diri. Jakarta: Bina
Medika.

Herdman, T. (2012). NANDA International Nursing Diagnoses Definition and. Oxford: Wiley-
Blackwell .

Iskandar, M. &. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Keliat, B. A. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Yogyakarta: EGC.

Yusuf, R. &. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Buku Praktikum Lab [Link] Prodi D3 Keperawatan

Anda mungkin juga menyukai