0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan15 halaman

Glaukoma Sekunder Pasca Trauma Mata

Pasien laki-laki berusia 61 tahun mengeluhkan penglihatan kabur dan nyeri pada mata kanan setelah terkena bola bulu tangkis. Pemeriksaan menunjukkan adanya hiperemis konjungtiva dan sklera serta nyeri tekan pada mata kanan, didiagnosis glaukoma sekunder pasca trauma dan direncanakan operasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan15 halaman

Glaukoma Sekunder Pasca Trauma Mata

Pasien laki-laki berusia 61 tahun mengeluhkan penglihatan kabur dan nyeri pada mata kanan setelah terkena bola bulu tangkis. Pemeriksaan menunjukkan adanya hiperemis konjungtiva dan sklera serta nyeri tekan pada mata kanan, didiagnosis glaukoma sekunder pasca trauma dan direncanakan operasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

Glaukoma Sekunder ec Trauma

Disusun Oleh:
Bayu Putra Killa 112018050
Pembimbing:
dr. Werlinson Tobing, Sp.M (K)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA JAKARTA
PERIODE 14 SEPTEMBER –17 OKTOBER 2020

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Arjuna Utara No 6, Kebon Jeruk – Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/ Tanggal Ujian / Presentasi: Jumat 09 Jumat 2020
SMF ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN, JAKARTA

Nama : Bayu Putra Killa


NIM : 112018050
Dokter : dr. Werlinson Tobing, SpM Tanda Tangan:

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.S
Jenis Kelamin : Laki- Laki
Umur : 61 tahun
Alamat : Jl. Pajaran raya no 102 F.29, RT 004 RW 024, karawaci, Tanggerang
Pekerjaan : Marketing
B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dari pasien
Diambil pada : tanggal 1 oktober 2020, pukul 13.00
Keluhan Utama : Mata kanan merah, dan tiba- tiba buram sejak 3 minggu yang lalu.
Keluhan Tambahan :Pasien mengeluh mata kanan terasa nyeri saat di sentuh.

Riwayat Perjalanan Penyakit :


3 minggu SMRS Pasien laki-laki usia 61 tahun mengeluh mata merah dan penglihatan
buram secara mendadak setelah terkena kok bulu tangkis. Pasien juga mengeluh rasa nyeri
di mata kanan terutama saat disentuh. Pasien kemudian dibawa ke rs Siloam karawaci untuk
berobat selama 1 minggu namun tidak ada perubahan sehingga pasien di rujuk ke RSUD
Tarakan Jakarta. Keluhan Rasa silau pada mata disangkal, gatal disangkal,riwayat

2
penggunaan kontak lens disangkal, riwayat alergi disangkal, pasien tidak ada riwayat
penggunaan kaca mata.
Kamis 17 September 2020, pasien pergi berobat ke RSUD Tarakan dengan keluhkan
mata kanan masih tetap buram dan sedikit nyeri. Kemudian pasien mendapat terapi Trobosin
salep, levofloxacin eye drop,Cendo tropin,Metil Prednisolon 1x 64 mg,omeprazole 2x1,
Cavit d3 1x1, Glauseta 4x1,transamin 3x500 mg. Keluhan Demam disangkal,rasa silau pada
mata disangkal, gatal disangkal, riwayat alergi disangkal,
Kamis 24 september 2020 pasien kembali berobat ke RSUD Tarakan untuk kontrol
dengan keluhan mata kanan masih tetap buram dan sedikit nyeri. Kemudian pasien
mendapat terapi Trobosin salep,Cendo tropin eye drop,Metil Prednisolon 1x 64
mg,omeprazole 2x1, Cavit d3 1x1, Glauseta 4x1,lanjutkan terapi yang lain.. Keluhan
Demam disangkal,rasa silau pada mata disangkal, gatal disangkal, riwayat alergi disangkal,.
Kamis 1 oktober 2020 pasien kembali berobat ke RSUD Tarakan untuk kontrol
dengan keluhan yang sama, mata kanan masih buram dan sedikit nyeri. Kemudian pasien
mendapat terapi Cendo Timol 0.5 % eye drop,Polydex eye drop,Metil Prednisolon 1x 64
mg,omeprazole 2x1, Glauseta 4x1, KSR 3x1 lalu pasien di rencanakan operasi
trabekulektomi .Keluhan Demam disangkal,rasa silau pada mata disangkal, gatal disangkal,
riwayat alergi disangkal,.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi (-), DM (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit serupa dengan pasien. Ibu dan
Ayah pasien mengalami hipertensi.
C. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Sopor
Tanda Vital : TD 120/80, HR 87x/menit, RR 18x/menit, Suhu: 36°C
Kepala : Tidak dilakukan
Leher : Tidak dilakukan
Paru-paru : Tidak dilakukan

3
Jantung : Tidak dilakukan
Abdomen : Tidak dilakukan
Ekstremitas : Tidak dilakukan

D. STATUS OPHTALMOLOGIS

OD PEMERIKSAAN OS

Hand movement test: 1/300 Visus Tidak dilakukan

Koreksi
Tidak dilakukan Addisi Tidak dilakukan

Gerak bola mata : Gerak bola mata :


Tidak dapat dinilai Bulbus Oculi Tidak dapat dinilai
Enopthalmus (-) Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-) Exopthalmus (-)
Strabismus (-) Strabismus (-)
Nyeri tekan (+) Nyeri tekan (-)
Edema (-) Edema (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Trikiasis (-) Palpebra Trikiasis (-)
Blefarospasme (-) Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-) Lagopthalmus (-)
Ektropion (-) Ektropion (-)
Entropion (-) Entropion (-)
Pseudoptosis (-) Pseudoptosis (-)

4
Edem (-) Edem (-)
Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar () Conjunctiva Injeksi siliar (-)
Massa(-) Massa(-)
Infiltrat (-) Infiltrat (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Hiperemis (+) Sclera Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Bulat (+) Bulat (.-)
Edem (+) Kornea Edem (-)
Infiltrat (-) Infiltrat (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Arcus senilis (-) Arcus senilis (-)
Kedalaman : Hipopion (-)
dangkal Camera Oculi Hifema (-)
Hipopion (-) Anterior
Hifema (-)

Warna : coklat Warna: (coklat)


Edema (-) Iris Edema (-)
Sinekia (-) Sinekia: (-)
Atrofi (-) Atrofi : (-)

Reguler, bulat Reguler,bulat


Letak: ditengah Pupil Letak : di tengah
Diameter: 3 mm Diameter:
Refleks pupil: (-) Refleks pupil: (-)

5
Letak : ditengah Letak : ditengah
Kejernihan : jernih Lensa Kejernihan : keruh

Fundus Okuli

Refleks fundus
Ratio arteri : vena
C/D ratio
Makula lutea
Tidak dilakukan Retina Tidak dilakukan
Eksudat
Perdarahan

N/P Tekanan Intra Okuler N-1/P


Tonometri digital
TIdak dilakukan Tes Konfrontasi Tidak dilakukan

E. RESUME
3 minggu SMRS Pasien laki-laki usia 61 tahun mengeluh mata merah dan penglihatan
buram secara mendadak setelah terkena kok bulu tangkis. Pasien juga mengeluh rasa nyeri
di mata kanan terutama saat disentuh. Pasien kemudian dibawa ke rs Siloam karawaci untuk
berobat selama 1 minggu namun tidak ada perubahan sehingga pasien di rujuk ke RSUD
Tarakan Jakarta. Keluhan Rasa silau pada mata disangkal, gatal disangkal,riwayat
penggunaan kontak lens disangkal, riwayat alergi disangkal, pasien tidak ada riwayat
penggunaan kaca mata. Kamis 17 September 2020, pasien pergi berobat ke RSUD Tarakan
dengan keluhkan mata kanan masih tetap buram dan sedikit nyeri. Kemudian pasien
mendapat terapi Trobosin salep, levofloxacin eye drop,Cendo tropin,Metil Prednisolon 1x
64 mg,omeprazole 2x1, Cavit d3 1x1, Glauseta 4x1,transamin 3x500 mg. Kamis 24
september 2020 pasien kembali berobat ke RSUD Tarakan untuk kontrol dengan keluhan
mata kanan masih tetap buram dan sedikit nyeri. Kemudian pasien mendapat terapi Trobosin
salep,Cendo tropin eye drop,Metil Prednisolon 1x 64 mg,omeprazole 2x1, Cavit d3 1x1,

6
Glauseta 4x1,lanjutkan terapi yang lain. Kamis 1 oktober 2020 pasien kembali berobat ke
RSUD Tarakan untuk kontrol dengan hkeluhan yang sama, mata kanan masih buram dan
sedikit nyeri. Kemudian pasien mendapat terapi Cendo Timol 0.5 % eye drop,Polydex eye
drop,Metil Prednisolon 1x 64 mg,omeprazole 2x1, Glauseta 4x1, KSR 3x1 lalu pasien di
rencanakan operasi trabekulektomi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang kesadaran
compos mentis, TD: 120/80mmHg, HR:87x/menit, RR 18x/menit, Suhu 36°C. Pemeriksaan
ophtalmologis mata kanan didapatkan nyeri tekan palpebral, konjungtiva hiperemis. Injeksi
konjungtiva (+) Sklera Hiperemis (+), COA jernih dan dangkal, Iris berwarna coklat, Pupil
bentuk bulat, ukuran 3mm, letak di tengah, refleks cahaya langsung dan tidak langung (-),
lensa keruh, pada palpasi didapatkan TIO n/p, nyeri tekan(+). Pada pemeriksan
ophtalmologis mata kiri didapatkan Konjuntiva hiperemis, injeksi konjungtiva (+), lensa
keruh, pada palpasi didapatkan TIO n-1/p.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan tonometry

7
G. WORKING DIAGNOSIS
Glaukoma sekunder ec trauma OD + katarak senilis imatur OS
H. DIAGNOSIS BANDING
-
I. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Goniokopi
- Funduskopi
- Pemeriksaan lapang pandang

J. PENATALAKSANAAN
 Medikamentosa
- Timolol maleat 0.5 % 1-2 dd x1
- Metil Prednisolon 1x 64 mg

K. PROGNOSIS
OD OS
Ad vitam : dubia ad bonam dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad malam dubia ad bonam
Ad sanationam : dubi ad bonam dubia ad bonam

8
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Glaukoma adalah suatu neuropati optic (kerusakan saraf mata) kronik didapat yang
ditandai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang;biasanya disertai
peningkatan tekanan intraokular.1 Tekanan intraocular ditentukan oleh kecepatan pembentukan
humor akueus dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Tekanan intraocular dianggap
normal bila kurang dari 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer aplanasi yang dinyatakan
dengan tekanan air raksa.2

Glaucoma sudut terbuka adalah glaucoma yang penyebabnya tidak ditemukan dan
ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaucoma sudut terbuka ini diagnosisnya
dibuat bila ditemukan glaucoma pada kedua mata pada pemeriksaan pertama, tanpa ditemukan
kelainan yang dapat merupakan penyebab.

Klasifikasi

Klasifikasi glaukoma ;1,3

A. Glaucoma primer
 Sudut terbuka
 Sudut tertutup
B. Glaukoma sekunder
 Sudut terbuka
 Sudut tertutup
C. Glaukoma kongenital

ETIOLOGI

Penyebab glaukoma sudut terbuka tidak pasti, dimana tidak didapatkan kelainan ynag
merupakan penyebab glaucoma.2 Glaucoma ini didapatkan pada orang yang telah memiliki
bakat bawaan glaucoma seperti :

9
a. Bakat dapat berupa gangguan fasilitas pengeluaran cairan mata atau susunan anatomis
bilik mata yang menyempit.
b. Mungkin disebabkan kelainan pertumbuhan pada sudut bilik mata depan
(goniodisgenesis), berupa trabekulodisgenesis, iridisgenesis dan korneodisgenesis dan
yang paling sering berupa trabekulodisgenes dan goniodisgenesis.

Glaucoma sudut terbuka sering terjadi setelah usia 40 tahun, tetapi kadang terjadi pada
anak-anak. Penyakit ini cenderung diturunkan dan paling sering ditemukan pada
penderita diabetes atau myopia. Glaucoma sudut terbuka lebih sering terjadi dan biasanya
penyakit ini lebih berat jika diderita oleh orang kulit hitam. 3

EPIDEMIOLOGI

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua di seluruh dunia, dengan


morbiditas yang tidak proporsional diantara wanita dan orang asia. Berbeda dengan
katarak, glaukoma merupakan penyakit mata yang mengakibatkan kerusakan permanen
atau bersifat tidak dapat diperbaiki (Irreversible).1,4 Menurut WHO terdapat sekitar 60,7
juta orang menderita glaucoma tahun 2010 yang dimana diperkirakan tahun 2020 akan
menjadi 79,4 juta orang. Di Indonesia glaucoma diderita oleh 3% dari total populasi
penduduk. Umurnya penderita glaucoma telah berusia lanjut. Pada usia 50 tahun, tingkat
resiko penderita glaucoma meningkat sekitar 10%. Hampir separuh penderita glaucoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Glaucoma sudut terbuka
adalah bentuk glaucoma yang tersering dijumpai, sekitar 0,4-0,7% orang berusia lenih
dari 40 tahun dan 2-3% orang berusia lebih dari 70 tahun diperkirakan mengidap
glaucoma sudut terbuka. 4

PATOGENESIS

Sudut bilik mata dibentuk dari jaringna korneosklera dengan pangkal iris. Pada
keadaan fisiologis bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Berdekatan
dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal schemn. biji sklera, garis
Schwalbe dan jonjot iris. Pada sudut filtrasi terdapat garis Schwalbe yang merupakan
akhir perifer endotel dan membrane desemet, kanal schlemn yang menampung cairan
mata kesalurannya.

10
Sudut filtrasi terbatas dengan akar iris berhubungan dengan skelera kornea dan
disini ditemukan skelera spur yang membuat cincin melingkar 360 derajat dan
merupakan batas belakang sudut filtrasi yang mempunyai dua komponen yaitu badan
siliar dan uvea.

Tekanan intraocular ditentukan oleh kecepatan terbentuknya cairan (akueus


humor) bola mata oleh badan siliar dan hambatan yang terjadi pada jaringan trabecular
meshwork. Akueus humor yang dihasilkan badan siliar masuk ke bilik mata belakang,
kemudian melalui pupil menuju ke bilik depan dan terus ke sudut bilik mata depan,
tepatnuya ke jaringan trabekulum mencapai kanal schlemn dan melalui saluran ini keluar
dari bola mata. Pada glaucoma kronik sudut terbuka, hambatannya terletak pada jaringan
trabekulum maka akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga
tekanan bola mata meninggi. Pada glaucoma akut hambatan terjadi karena iris perifer
menutup sudut bilik depan, hingga jaringan trabekulum tidak dapat dicapai oleh akueus.5

Gejala Klinis

Glaucoma disebut sebagai “pencuri penglihatan” karena berkembang tanpa


ditandai dnegan gejalan yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaucoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut.1,2,3 Biasanya nanti diketahui
saat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan. Glaukoma primer yang
kronis dan berjalan lambat sering tidak diketahui bilai mulainya, karena keluhan pasien
amat sedikit atau samar. Misalnya mata sebelah terasa berat, kepala pening sebelah,
kaadang-kadang penglihatan kabur dengan anamnesa tidak khas. Pasien tidak mengeluh
adanya halo dan memerlukan kacamata koreksi untuk presbyopia lebih kuat dibanding
usianya. Kadang-kadang tajam penglihatan tetap normal sampai keadaan glaukomanya
sudah berat. Pada akhirnya akan terjadi penyempitan lapang padang yang menyebabkan
penderita sulit melihat benda-benda yang terletak di sisi lain Ketika penderita melihat
lurus ke depan (disebuut penglihatan terowongan).1

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut;1,2,5

11
a) Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus
macula dan pembuluh darah retina
b) Tonometri : Adalah alat untuk mengukurtekanan intra okuler, nilai mencurigakan
apabila berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
Tonometri dibedakan menjadi dua antara lain
1) Tonometri Schiotz
Pemakaian Tonometri Schiotz untuk mengukur tekanan bola mata
dengan cara sebagai berikut :
a) Penderita di minta telentang
b) Mata di teteskan tetrakain
c) Ditunggu sampai penderita tidak merasa pedas
d) Kelopak mata penderita di buka dengan telunjuk dan ibu jari (jangan menekan bola
mata penderita)
e) Telapak tonometer akan menunjukkan angka pada skala tonometer .
Pembacaan skala dikonversi pada tabel untuk mengetahui bola mata dalam milimeter
air raksa.
a. Pada tekanan lebih tinggi 20 mmHg di curigai adanya glaukoma.
b. Bila tekanan lebih dari pada 25 mmHg pasien menderita glaukoma.

2) Tonometri Aplanasi
Dengan tonometer aplanasi diabaikan tekanan bola mata yang dipengaruhi kekakuan
sklera (selaput putih mata). Teknik melakukan tonometri aplanasi adalah
a) Diberi anestesi lokal tetrakain pada mata yang akan diperiksa
b) Kertas fluorosein diletakkan pada selaput lendir
c) Di dekatkan alat tonometer pada selaput bening maka tekanan dinaikkan sehingga
ingkaran tersebut mendekat sehingga bagian dalam terimpit
d) Dibaca tekanan pada tombol putaran tonometer aplanasi yang memberi gambaran
setengah lingkaran berimpit. Tekanan tersebut merupakan tekanan bola mata.
e) Dengan tonometer aplanasi bila tekanan bola mata lebih dari 20 mmHg dianggap
sudah menderita glaucoma

12
c) Gonioskopi
pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan
goniolens. Gonioskopi adalah cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut bilik
mata,juga untuk melihat hal hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing.
Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaucoma penderita apakah glaucoma
terbuka atau glaucoma sudut tertutup.
d) Pemeriksaan lapang pandang
Kerusakan nervus optikus memberikan gangguan lapang pandangan yang khas pada
glaukoma. Secara sederhana, lapang pandangan dapat diperiksa dengan tes konfrontasi.

Penatalaksanaan

A medikamentosa

Obat-obat yang dapat dipakai dalam pengobatan glaucoma adalah sebagai berikut:5

a) Parasimpatomimetik:Miotikum,memperbesar outflow
 Pilokarpin 2-4%,3-6 dd 1 tetes sehari
 Eserin ¼-1/2 % 3-6 dd 1 tetes sehari
b) Beta-Blocker (menghambat produksi humor akueus
Timolol maleat 0,25-0,5 % 1-2 dd tetes,sehari

B Non medikamentosa

Operasi

a. Trabekulektomi

Pada glaukoma masalahnya adalah terdapatnya hambatan filtrasi (pengeluaran) Cairan


mata keluar bola yang tertimbun dalam mata sehingga tekanan bola mata naik. Bedah
trabekulektomi merupakan Teknik bedah untuk mengalirkan cairan melalui saluran yang ada.
Pada trabekulektomi ini cairan mata tetap terbentuk normal akan tetapi pengaliran keluarnya
dipercepat atau salurannya diperluas. Bedah trabekulektomi membuat katub sklera sehingga
cairan mata keluar dan masak di bawah konjungtiva.6

b. Bedah Filtrasi
Bedah filtrasi dilakukan tanpa perlu pasien dirawat dengan memberi anestesi local
kadang-kadang sedikit obat tidur. Dengan memakai alat sangat halus diangkat sebagian kecil
sklera sehingga terbentuk suatu lubang. Melalui celah sklera yang dibentuk cairan mata akan
keluar sehingga tekanan bola mata berkurang, yang kemudian diserap dibawah kingjungtiva.

13
Pascah bedah pasien harus memakai penutup mata dan mata yang dibedah tidak boleh kena
air.6

Prognosis
Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan glaucoma pada kebanyakan kasus
glaukoma,pada kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan. Glaukoma dapat dirawat
dengan obat tetes mata,tablet ,operasi laser atau operasi mata. Menurunkan tekanan pada mata
dapat mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. Oleh karena itu semakin dini deteksi
glaukoma maka akan semakin besar tingkat kesuksesan pencegahan kerusakan mata.

Kesimpulan

Glaukoma adalah suatu neuropati optic (kerusakan saraf mata) kronik didapat yang
ditandai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang;biasanya disertai
peningkatan tekanan intraocular. Glaucoma sudut terbuka adalah glaucoma yang penyebabnya
tidak ditemukan dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaucoma sudut
terbuka ini diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaucoma pada kedua mata pada pemeriksaan
pertama, tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan penyebab.

Glaukoma disebut sebagai “pencuri penglihatan” karena berkembang tanpa ditandai


dnegan gejalan yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaucoma tidak menyadari
bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui saat penyakitnya sudah
lanjut dan telah kehilangan penglihatan.

Pemeriksaan glukoma yaitu pemeriksaan tekanan bola mata (tonomei schiotz,tonometry


aplanasi, tonometry digital). Gonioskopi,oftalmoskopi,pemeriksaan lapang pandang.
Penatalaksaan glaukoma dilakukan dengan 2 cara yaitu medikamentosa dan operatif.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan,D.G Ashury, T. Riodan-Eva, P Glaukoma dalam ; Oftalmologi Umum ed


Suryono Joko,edisi 14, Jakarta, Widya Medika, 2000, hal 212-232
2. Yuli, glaucoma,diunduh dari [Link] dipublikasikan
3 desember 2006
3. Ilyas, [Link] penyakit mata. Edisi 5. Jakarta: FKUI.2015;h.222-223.
4. Kementrian Kesehatan (KEMKES). Situasi gdan analisis glaucoma [online] 2013. [Di
akses pada: kamis, 19 maret 2015]. Tersedia dari:
[Link]
[Link]?fbclid=IwAR3bcgsYm_q3S0ZXpvzBsCt5vhJJxCVQpvMusj1-
8i927HDmuBq9yKq7dGA.
5. Wijaya Nana. Glaukoma dalam : Ilmu Penyakit Mata, ed Wijaya Nana, cet 6, Jakarta
AbadiTegal 1993:219-232
6. Ilyas, [Link] penyakit mata. Edisi 3. Jakarta: FKUI.2015;h.121-139.

15

Anda mungkin juga menyukai