0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan16 halaman

Skor Kondisi Tubuh Kambing Potong

Makalah ini membahas tentang Body Condition Scoring (BCS) pada kambing potong, yang merupakan metode untuk menilai kondisi tubuh kambing berdasarkan pengamatan dan perabaan lemak di beberapa bagian tubuh. Makalah ini juga menjelaskan cara menentukan skor BCS dan hubungannya dengan produksi susu serta klasifikasi BCS pada kambing."

Diunggah oleh

andi wulan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan16 halaman

Skor Kondisi Tubuh Kambing Potong

Makalah ini membahas tentang Body Condition Scoring (BCS) pada kambing potong, yang merupakan metode untuk menilai kondisi tubuh kambing berdasarkan pengamatan dan perabaan lemak di beberapa bagian tubuh. Makalah ini juga menjelaskan cara menentukan skor BCS dan hubungannya dengan produksi susu serta klasifikasi BCS pada kambing."

Diunggah oleh

andi wulan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK POTONG DAN KERJA

BODY CONDITION SCORING (BCS) PADA KAMBING POTONG

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Agus Darmawan (H3418002)
Andi Marawulan Prabasari (H3418005)
Meidi Sifia Nur Anggraini (H3418031)
Ririn Nofitasari (H3418038)

PROGRAM STUDI D3 AGRIBISNIS MINAT PETERNAKAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena limpahan rahmat serta anugerah
dari-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan tugas penulisan makalah Makalah
Manajemen Ternak Potong dan Kerja.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Makalah
Manajemen Ternak Potong dan Kerja. Makalah ini kami susun berdasarkan data-
data yang kami kumpulkan. Penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan tepat
waktu, kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada
kita semua.
2. Kepala Program Studi D3 Agribisnis Minat Peternakan, Fakultas
Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta
3. Bapak Dr. Ir. Joko Riyanto, M.P selaku dosen pembimbing mata kuliah
Manajemen Ternak Potong dan Kerja.
4. Teman-teman yang senantiasa membantu dalam mengerjakan makalah ini.
Akhirnya kami sadar bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
baik, sehingga kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca guna perbaikan diri pada kesempatan berikutnya.
Demikian kami sampaikan, besar harapan kami makalah ini dapat
bermanfaat dan digunakan dalam sebaik-baiknya.

Surakarta, April 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR......................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................

DAFTAR GAMBAR........................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN................................................................................

A. Latar Belakang...............................................................................

B. Rumusan Masalah..........................................................................

BAB II. PEMBAHASAN.................................................................................

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................


A. Kesimpulan....................................................................................
B. Saran..............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Halaman

1.
2.
3.
4.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi tubuh ternak atau istilah yang lebih dikenal di kalangan
peternak adalah Skor Kondisi Tubuh (BCS) adalah cara sederhana yang dapat
digunakan untuk menaksir tubuh sapi, domba dan kambing. BCS adalah
indikator yang terbaik dan sederhana untuk mengetahui cadangan lemak yang
digunakan oleh ternak pada saat membutuhkan energi tinggi, stres atau
kekurangan nutrisi. Kecukupan pakan dan manajemen yang baik akan
disetujui pada nilai BCS. BCS membutuhkan waktu 10-15 menit, dengan cara
melakukan perabaan dan pengamatan lemak tubuh di bawah kulit pada tulang
belakang (backbone) dan pinggul (rump), sekitar pangkal ekor.
BCS telah terbukti menjadi alat praktis yang dapat digunakan oleh
ternak dalam periode apapun. Penilaian BCS merupakan suatu metode
penilaian kondisi tubuh ternak baik secara visual (inspeksi) maupun dengan
perabaan (palpasi) terhadap lemak tubuh pada bagian tertentu. Nilai BCS
dapat menggambarkan bobot badan dan cadangan lemak yang digunakan
sebagai sumber energi untuk mengoptimalkan produktivitas selama periode
pertumbuhan, kebuntingan dan laktasi. Penaksiran bobot badan juga
dilakukan sebagai alternatif untuk mengetahui bobot badan ternak
secarampraktis. Ukuran-ukuran linear tubuh dapat digunakan untuk menaksir
bobot badan. Penilaian anggota tubuh dapat menentukan besar kecilnya nilai
akhir BCS.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Body Condition Scoring (BCS) pada kambing?
2. Bagaimana cara menentukan Body Condition Scoring (BCS) pada
kambing?
3. Bagaimana hubungan Body Condition Scoring (BCS) dengan produksi
susu pada kambing?
4. Bagaimana klasifikasi Body Condition Scoring (BCS) pada kambing?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Body Condition Scoring (BCS) pada kambing potong


Body Condition Score atau BCS adalah metode perhitungan semi
kuantitatif dengan menggunakan interval tertentu untuk mengetahui skala
kegemukan atau Frame pada ternak berdasarkan pada penampakan fenotip
pada 8 titik yaitu : processus spinosus, processus transversus, legok lapar,
tuber coxae (hooks), antara tuber coxae dan tuber ischiadicus (pins), antara
tuber coxae kanan dan kiri dan pangkal ekor ke tuber ischiadicus. Hasil
perhitungan BCS sangat bergantung pada jenis dan bangsa ternak serta
bersifat sangat obyektif dan tidak dapat dikaitkan dengan berat hidup ternak,
oleh karenanya antara satu ternak dengan ternak lainnya yang memiliki berat
hidup sama, nilai BCS nya belum tentu sama.
Skor kondisi tubuh atau Body Condition Score (BCS) induk erat
hubungannya dengan status cadangan energi tubuh ternak, sedangkan
cadangan energi tersebut erat hubungannya dengan gizi yang dikonsumsi
(Anisa, 2017). Kondisi tubuh ternak atau yang biasa disebut dengan istilah
Body Condition Score (BCS) adalah cara sederhana yang dapat digunakan
untuk menaksir kondisi tubuh ternak karena BCS adalah indikator yang
terbaik dan sederhana untuk mengetahui cadangan lemak yang dapat
digunakan oleh ternak pada periode saat kebutuhan energi tinggi, stress atau
saat kekurangan nutrisi. Kecukupan pakan dari ternak dan manajemen yang
baik akan tercermin pada nilai BCS (Susilorini, 2019).
Body Condition Score (BCS) adalah salah satu tolak ukur tinggi
rendahnya kandungan lemak dalam tubuh. Semakin tinggi angka BCS, maka
semakin banyak pula kandungan lemak dalam tubuh seekor ternak, begitu
pula dengan sebaliknya. Tinggi rendahnya nilai BCS banyak dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya yaitu konsumsi pakan, lingkungan, periode
laktasi atupun faktor genetik keturunan dari induknya yaitu berupa anggota
linier tubuh. Penilaian BCS ternak yang ideal tergantung pada tujuan
pemeliharaan. Ternak yang dipelihara untuk ternak pedaging atau
penggemukan semakin besar BCS tubuh maka akan semakin baik. Ternak
untuk tujuan pembibitan tidak memerlukan kondisi tubuh yang terlalu gemuk.
Bibit yang ideal yaitu mempunyai nilai kondisi tubuh 3 atau ternak tidak
terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus (Dewi, 2015).
B. Cara menentukan Body Condition Scoring (BCS) pada kambing

Menentukan BCS kambing yaitu dengan scoring yang dilakukan pada


kambing menggunakan BCS mulai 1,0 – 5,0 dengan bertahap. Kambing
dengan skor BCS 1,0 memiliki tubuh yang kurus dan tidak mempunyai
cadangan lemak, sementara kambing yang mempunyai skor BCS 5,0
merupakan kambing yang terlalu gemuk (obesitas). Umumnya kambing normal
mempunyai BCS 2,0 – 4,0.
Penentuan BCS tidak dapat diberikan hanya dengan melihat ternaknya saja,
melainkan ternak harus disentuh dan dirasakan tubuhnya.
Daerah tubuh pertama yang perlu diamati dan dirasakan dalam
menentukan BCS adalah daerah lumbal yang merupakan daerah belakang dari
belakang tulang rusuk yang berupa pinggang. Scoring di daerah ini didasarkan
pada penentuan jumlah otot dan lemak atas dan sekitar tulang belakang.
Vertebrata lumbalis memiliki tonjolan vertical dan dua tonjolan horizontal.
Penilai harus menggunakan rabaan tangan diatas daerah ini dan mencoba intuk
merasakan dengan ujung jari dari tangan. Daerah tubuh kedua yang perlu
dirasakan adalah lemak yang menutupi stemum (tulang dada). Scoring di
daerah tulang dada didasarkan pada jumlah lemak. Wilayah ketiga adalah
tulang rususk dan jaringan penutup lemak pada tulang rusuk dan intercostal

(antara tulang rusuk).


Cara menentukan BCS kambing menurut Subrata (2014) yaitu dengan
cara mengukur, meraba dan menilai bagian spinous proses (kepadatan atau
perlemakan otot daging pinggul) dapat dilihat pada gambar 1, bagian
transverse proses (lekukan tulang belakang atas perut) dapat dilihat pada
gambar 2, bagian sternum (ketebalan perlemakan-otot-daging dada) dapat
dilihat pada gambar 3, dan bagian ribs (tulang rusuk) dapat dilihat pada gambar
4.
C. Klasifikasi Body Condition Scoring (BCS) pada kambing
BCS dapat digunakan untuk menentukan status gizi dari ternak, dengan
melihat cadangan lemak dalam tubuh untuk dasar metabolism, pertumbuhan,
laktasi dan aktivitas dari ternak tersebut. Lemak dalam tubuh merupakan
indikasi untuk mengetahui energi yang tersimpan dalam tubuh ternak.
Cadangan energi digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh, fungsi reproduksi,
dan produksi. Pemberian Body Condition Score (BCS) pada domba berguna
untuk mengetahui apakah kambing sudah sesuai ukurannya pada beberapa fase
produksi seperti laktasi, siap kawin, dan siap dipotong.
Body Condition Score bersifat menduga perkembangan perototan dan
lemak dari kambing. Pemberian angka berdasarkan perkiraan perototan
dibagian tulang belakang pada wilayah loin, rusuk, dan melihat badan secara
keseluruhan. Body Condition Score domba menjadi lima kelas yakni dengan
angka 1-5.
Berikut ini adalah Kriteria BCS kambing dari 1,0 -5,0 :

a. BCS 1,0
Penampang dari kambing: hewan
kurus dan lemah, tulang belakang
sangat jelas terlihat dan bentuknya
saling menyambung. Panggul kososng,
ribs terlihat jelas, perlemakan sangat
tipis dan jari dengan mudah menembus
ke ruang intercostal (antara tulang
rusuk).

Tonjolan vertical pada vertebra


lumbalis dapat dengan mudah dirasakan
dengan ibu jari dan telunjuk. Tonjolan
vertical kasar, menonjol dan bergerigi.
Otot sangat sedikit dan lemak tidak
dapat dirasakan antara kulit dan tulang

Tangan dapat dengan mudah


meraba vertebrae lumbalis secara
melintang karena bentuknya yang
sangat menonjol

Lemak sternum dapat dengan


mudah dirasakan diantara ibu jari dan
jari-jari lain yang berpindah dari satu
sisi ke sisi lain. Tulang rawan dan sendi
bergabung dengan rusuk dan tulang
dada yang mudah dirasakan

b. BCS 2,0
Penampang kambing: sedikit
bertulang, tulang punggung masih terlihat
dengan punggungan lurus. Beberapa
tulang rusuk terlihat da nada beberapa
tertutup lemak. Ruang intercostal halus
tapi masih bisa ditembus.

Tonjolan vertical pada vertebrae


lumbalis jelas dan masih dapat dirasakan
dengan ibu jari dan telunjuk. Massa otot
dapat dirasakan antara kulit dan tulang.
Ada depresi yang jelas dalam transisi dari

c. BCS 3,0
Penampang kambing: tulang belakang
tidak menonjol, ribs hamper tidak dapat
dilihat karena dilapisis oleh lemak. Ruang
intercostal dapat dirasakan menggunakan
tekanan.

Tonjolan vertikal pada vertebrae


lumbalis sulit dirasakan karena terdapat
lapisan jaringan lemak tebal yang
menutupi tulang. Saat menekan jari di atas
tonjolan vertical, tulang punggung dapat
dirasakan karena terdapat sedikit rongga

Garis utama pada tonjolan melintang


dari vertebra lumbalis sedikit terlihat.
Kurang dari sepeempat dari panjang
tonjolan transversal terlihat

Lemak sternum lebar dan tebal, hal itu


bisa dirasakan namun memiliki gerakan
yang sangat sedikit. Sendi bergabung
dengan tulang rawan dan tulang rusuk
yang hamper tidak terasa

d. BCS 4,0
Penampang kambing: tulang
punggung tidak dapat dilihat. Ribs tidak
terlihat, sisi hewan yang ramping dalam
penampilan

Tonjolan vertical dari vertebra


lumbalis tidak mungkin dapat dirasakan
karena dibungkus dengan lapisan otot
dan lemak tebal.

Garis utama tonjolan melintang dari


vertebra lumbalis tidak lagi terlihat.
Tonjolan melintang tersebut halus, bulat
tepi, dan terlihat seperti tanpa tulang.

Lemak sternum sulit untuk


dirasakan karena lebar dan tebal.

e. BCS 5,0
Penampang kambing: tulang belakang
tertimbun oleh lemak. Ribs tidak terlihat.
Rusuk sangkar ditutupi dengan lemak yang
berlebihan.

Otot dan lemak sangat tebal sehingga


tanda pada tonjolan vertical hilang. Tonjoan
vertical dan vertebra lumbalis membentuk
depresi di sepanjang tulang punggung dan
ada tansisi menggembung dari tonjolan
vertical melintang
Ketebalan otot dan lemak begitu besar
sehingga tanda referensi pada tonjolan
melintang juga hilang. Tidak dapat
dirasakan tonjolan secara melintangnya.

Lemak sternal meluas dan mencakup


sternum, gabungan lemak meliputi tulang
rawan dan tulang rusuk. Hal ini
menyebabkan bagian tersebut tidak dapat di
genggam.

D. Hubungan Body Condition Scoring (BCS) dengan reproduksi pada kambing


potong

Pengertian BCS adalah cara untuk mengevaluasi hewan berdasarkan


otot dan penutup lemak eksternal. Nilai BCS yang didasarkan pada estimasi
visual timbunan lemak tubuh dibawah kulit sekitar pangkal ekor, tulang
punggung, tulang rusuk dan pinggul lemak. Ternak kambing yang sehat harus
memiliki BCS 2,0-3,5 jika dibawah 2,0 menunjukkan masalah manajemen atau
masalah kesehatan. Nilai BCS 4,5 atau 5 adalah hampir tidak pernah diamati
karena manajemen dan pakan yang sudah bagus. terdapat pengaruh antara BCS
dengan interval beranak, persentase kebuntingan, persentase kebuntingan pasca
penyapihan, dan kekuatan anak untuk berdiri segera setelah lahir. Penilaian
BCS perlu diperhatikan juga, jika ternak menjadi terlalu gemuk atau BCS lebih
dari 5 diperkirakan ternak tersebut tidak memiliki keinginan untuk berkembang
biak.
Penilaian BCS 1 atau terlalu kurus badannya pada awal musim kawin
mungkin tidak memiliki stamina yang cukup dan tidak memiliki keinginan
untuk bereproduksi oleh karena itu, mereka perlu berada dalam kondisi tubuh
yang baik. Ternak yang mengalami kebuntingan ternak tidak harus memiliki
BCS yang tinggi karena menjelang kelahiran dapat timbul risiko terserang
toxemia (ketosis) atau distokia.
Penilaian BCS ternak yang ideal tergantung pada tujuan pemeliharaan.
Ternak yang dipelihara untuk ternak pedaging atau penggemukan maka
semakin besar BCS tubuh semakin besar maka akan semakin [Link]
dengan tujuan pembibitan tidakmemerlukan kondisi tubuh yang terlalu gemuk.
Ternak yang ideal untuk bibit yang ideal adalah mempunyai nilai kondisi tubuh
ternak nilai 3 atau ternak tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.
Perlemakan pada tubuh ternak mempunyai hubungan dengan reproduksi karena
lemak berperan dalam pembuatan hormon reproduksi. Hal ini karena lemak di
dalam tubuh ternak digunakan sebagai zat essensial yang menjadi prekusor
pembuatan hormon steroid di dalam darah. Hormon steroid berbahan baku
lemak, sehingga hormon estrogen dan progesteron yang termasuk hormone
steroid pembentukannya dipengaruhi oleh kadar lemak dalam darah. nilai BCS
yang terlalu rendah menyebabkan ternak terganggu dalam reproduksinya
termasuk saat penentuan litter size sebelum dilahirkan, karena litter size adalah
salah satu keberhasilan proses bereproduksi (Prasita et. al, 2015).
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Body Condition Score (BCS) adalah salah satu tolak ukur tinggi
rendahnya kandungan lemak dalam tubuh. Semakin tinggi angka BCS,
maka semakin banyak pula kandungan lemak dalam tubuh seekor ternak,
begitu pula dengan sebaliknya. Tinggi rendahnya nilai BCS banyak
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu konsumsi pakan,
lingkungan, periode laktasi atupun faktor genetik keturunan dari induknya.
Cara menentukan BCS kambing yaitu dengan cara mengukur, meraba dan
menilai bagian spinous proses (kepadatan atau perlemakan otot daging
pinggul), bagian transverse proses (lekukan tulang belakang atas perut),
bagian sternum (ketebalan perlemakan-otot-daging dada), dan bagian ribs
(tulang rusuk). Scoring yang dilakukan pada kambing menggunakan BCS
mulai 1,0 – 5,0 dengan bertahap. Kambing dengan skor BCS 1,0 memiliki
tubuh yang kurus dan tidak mempunyai cadangan lemak, sementara
kambing yang mempunyai skor BCS 5,0 merupakan kambing yang terlalu
gemuk (obesitas). Umumnya kambing normal mempunyai BCS 2,0- 4,0.
BCS 5,5-4,0 hampir tidak pernah ditemui dipeternakan-peternakan umum,
namun dapat dijumpai pada acara kontes kambing. Hubungan Body
Condition Scoring (BCS) dengan reproduksi pada kambing potong yaitu
ternak kambing yang sehat harus memiliki BCS 2,0-3,5 jika dibawah 2,0
menunjukkan masalah manajemen atau masalah kesehatan. Perlemakan
pada tubuh ternak mempunyai hubungan dengan reproduksi karena lemak
berperan dalam pembuatan hormon reproduksi.
B. Saran
Melakukan BCS sebaiknya dilakukan secara rutin bertujuan agar
mengevalusasi kecukupan pakan dari ternak dan manajemen yang baik.
Evaluasi tersebut berguna untuk memperbaiki.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, S. M. 2015. Performa Body Condition Score dan Bobot Badan pada
Kelompok Ternak Domba Garut di BPPTD Margawati, Garut.
Fakultas kedokteran Hewan : IPB.
Prasista, D., D. Samsudewa dan E.T. Setiatin. 2015. Hubungan antara body
condition score (bcs) dan lingkar panggul terhadap litter size kambing
jawarandu di Kabupaten Pemalang. Agromedia. Vol 33 (2):67.
Subrata, G. 2014. Identifikasi body condition score kambing peranakan ettawa
betina sebagai standar bibit pada kelompok peternak di Desa Geres
Kecamatan Gerunglombok Barat. Publikasi Ilmiah Program Studi
Peternakan, Universitas Mataram.

Susilorini, T. E. (2019). Budi Daya Kambing dan Domba. Universitas Brawijaya


Press.

[Link]
[Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai