0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
359 tayangan3 halaman

Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana

Peta Risiko Bencana disusun dengan melakukan overlay Peta Ancaman, Peta Kerentanan, dan Peta Kapasitas untuk setiap jenis bencana yang mengancam suatu daerah. Peta Risiko Bencana digunakan untuk menghitung jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda serta kerusakan lingkungan akibat bencana.

Diunggah oleh

Yulia Nuraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
359 tayangan3 halaman

Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana

Peta Risiko Bencana disusun dengan melakukan overlay Peta Ancaman, Peta Kerentanan, dan Peta Kapasitas untuk setiap jenis bencana yang mengancam suatu daerah. Peta Risiko Bencana digunakan untuk menghitung jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda serta kerusakan lingkungan akibat bencana.

Diunggah oleh

Yulia Nuraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Metode penyusunan hazard mapping


Pada Gambar terlihat bahwa Peta Risiko Bencana merupakan overlay (penggabungan) dari Peta
Ancaman, Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. Peta-peta tersebut diperoleh dari berbagai indeks
yang dihitung dari data dan metode perhitungan tersendiri. Peta risiko bencana dibuat untuk
setiap jenis ancaman bencana yang ada pada suatu kawasan. Metode perhitungan dan data yang
dibutuhkan untuk menghitung berbagai indeks akan berbeda untuk setiap jenis ancaman.

Peta Risiko Bencana disusun dengan melakukan overlay Peta Ancaman (Hazard Map), Peta
Kerentanan (Vulnerability Map) dan Peta Kapasitas (Capacity Map). Peta Risiko Bencana disusun
untuk tiap-tiap bencana yang mengancam suatu daerah. Peta kerentanan baru dapat disusun
setelah Peta Ancaman selesai.
Pemetaan risiko bencana minimal memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Memenuhi aturan tingkat kedetailan
analisis (kedalaman analisis di tingkat nasional minimal hingga kabupaten/kota, kedalaman
analisis di tingkat provinsi minimal hingga kecamatan, kedalaman analisis di tingkat
kabupaten/kota minimal hingga tingkat kelurahan/desa).
 Skala peta minimal adalah 1:250.000 untuk provinsi; peta dengan skala 1:50.000 untuk
kabupaten/kota di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi; peta dengan skala 1:25.000 untuk
kabupaten/kota di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
 Dapat digunakan untuk menghitung jumlah jiwa terpapar bencana (jiwa).
 Dapat digunakan untuk menghitung kerugian harta benda, (rupiah) dan kerusakan lingkungan.
 Menggunakan 3 kelas interval tingkat risiko (tinggi, sedang dan rendah)
 Menggunakan GIS.
Peta Risiko dipersiapkan berdasarkan
grid indeks atas peta Ancaman, peta Kerentanan dan peta Kapasitas, berdasarkan rumus: R ≈
H∗V/C atau dengan modifikasi :

Peta risiko multi ancaman dihasilkan berdasarkan penjumlahan dari indeks risiko setiap ancaman
berdasarkan pembobotan masing-masing ancaman, dengan acuan sebagai berikut:

2. Sifat hazard mapipng


Sifat peta resiko ancaman meliputi tiga hal, masing-masing :
 Dinamis : analisis risiko bukan sesuatu yang mati tetapi suatu analisis yang dinamis dan dapat
berubah setiap saat tergantung upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk terkait dengan
penyelenggaraan penanggulangan bencana.
 Partisipatif : pelaku kajian / mapping menawarkan bukan hanya sekedar hasil peta risiko dan
laporan semata, tapi lebih pada proses yang partisipatif dan berkelanjutan
 Akuntabel : hasil peta risiko dapat dipertanggungjawakan, di mana data yang diperoleh dari
seluruh instansi harus melalui proses validasi dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

3. Manfaat hazard mapping


Peta risiko bencana merupakan alat analisis risiko bencana secara spasial dan database yang
dapat diintegrasikan dalam perencanaan tata ruang / tata bangunan dan lingkungan, untuk
mengoptimalkan pembangunan berkelanjutan dalam perspektif pengurangan risiko bencana.
Dalam integrasinya ke dalam rencana tata ruang ataupun rencana tata bangunan dan lingkungan
dari suatu wilayah/kawasan, peta resiko bencana dapat menjadi rujukan yang substansial dalam
perumusan upaya minimalisasi resiko bencana, di dalam wilayah / kawasan tersebut, dalam
koridor :
 Memperkecil ancaman di dalam kawasan;
 Mengurangi kerentanan kawasan yang terancam;
 Meningkatkan kapasitas kawasan yang terancam.

Anda mungkin juga menyukai