SKRIPSI
PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR ANAK
HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA MADIUN
Diajukan untuk memenuhi
Salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
OLEH:
APRILIA DWI SOLEHAH
NIM : 201402004
PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2018
i
LEMBAR PERSETUJUAN
Laporan Skripsi ini telah disetujui
oleh pembimbing dan telah dinyatakan layak mengikuti Ujian Sidang.
SKRIPSI
PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR
ANAK HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA
MADIUN
Menyetujui, Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link] Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)
NIS. 20160139 NIS. 20160130
Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
Mega Arianti P , [Link].,Ns, [Link]
NIS. 20130092
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji Tugas Akhir (SKRIPSI)
Dan Ditanyakan Telah Memenuhi Sebagian Syarat Untuk Memperoleh Gelar
([Link])
Pada Tanggal : .....................................
Dewan Penguji :
1. Ketua Dewan Penguji
Sesaria Betty M. [Link].,Ns [Link]
NIS. 20150124 : ................................................
2. Penguji 1
Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link]
NIS. 20160239 : ................................................
3. Penguji 2
Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)
NIS. 20160130 : ................................................
Mengesahkan
STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Ketua,
Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)
NIS. 20160130
iii
LEMBAR PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur “Alhamdulillah”, ku persembahkan karya
kecilku ini untuk orang-orang yang kusayangi :
Ayah ibu tercinta, motivator terbesar dalam hidupku yang tak pernah lelah
mendo’akan dan menyanyangiku, atas semua pengorbanan dan kesabaran
mengantarkanku sampai kini. Tak pernah cukup ku membalas ayah ibu pada
ku. April tidak akan bisa sampai disini tanpa ayah dan ibu
Saudara ku , terima kasih untuk kakak ku tersayang sudah banyak membantu
dalam kelancaran ku untuk menyelesaikan tugas-tugas ku. Akan ku balas
kebaikan mu suatu saat nanti.
Keluarga besar, keluarga adalah tempat berbagi pengalaman untuk kedepan
menjadi lebih baik. Terima kasih untuk keluarga besar ku yang sudah banyak
memberikan motivasi dan memberi ku semangat untuk membahagiakan ayah
dan ibu
Sahabat - sahabat seperjuangan ku “4Dimentions” terima kasih untuk waktu
yang sangat singkat ini, dari semester awal sampai sekarang kalian selalu ada
dalam keadaan suka maupun duka, tangis canda dan tawa selalu menemani
perjalanan kita dan semua teman-teman yang tak mungkin untuk disebutkan
satu persatu , for you all I miss you forever.
Terima kasih untuk seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya yang
selalu mendukung saya dalam menyelesaikan tugas-tugas saya.
“Keberhasilan bukanlah berapa banyak yang kita dapatkan tetapi berapa
banyak yang dapat kita berikan serta berarti untuk orang lain”
iv
HALAMAN PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Aprilia D Solehah
NIM : 201402004
Prodi : S1 Keperawatan
Dengan ini menyatakan bahwa SKRIPSI ini adalah hasil pekerjaan saya
sendiri dan didalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan dalam
memperoleh gelar Sarjana di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan
lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian baik yang sudah
maupun belum/tidak dipublikasikan, sumbernya dijelaskan dalam tulisan dan
daftar pustaka.
Madiun, Juni 2018
Aprilia D Solehah
NIM. 201402004
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Aprilia D Solehah
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Tempat dan Tanggal Lahir : Madiun, 03 April 1996
Alamat : Desa Tiron RT 17 RW 06 Jl. Cokro
Kembang 02 Kec/Kab Madiun
Email : Apriliasolehah@[Link]
No. Hp : 081231482138
Riwayat Pendidikan : TK Desa Tiron
SDN Tiron 01
SMPN 01 Nglames
SMAN 01 Nglames
Riwayat Pekerjaan : Belum pernah bekerja
vi
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kenikmatan, berupa
kenikmatan iman, nikmat islam, dan nikmat kesempatan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas
Tidur Pada Anak Hospitalisasi”. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Keperawatan ([Link])
STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana
sebagaimana yang diharapkan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang
telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis. Bersama ini
penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. dr. Resti Lestanti, [Link] selaku Direktur Rumah Sakit yang telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian di RSUD
Kota Madiun.
2. Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid), selaku Ketua STIKes Bhakti Husada
Mulia Madiun.
3. Mega Arianti P, [Link].,Ns., [Link], selaku Ketua Program Studi
Keperawatan yang telah memberikan kesempatan, fasilitas untuk mengikuti
dan menyelesaikan pendidikan di Prodi Keperawatan
4. Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing I telah meluangkan
banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid) selaku pembimbing II yang dengan
kesabaran dan ketelitiannya dalam membimbing, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
6. Bapak beserta ibu tercinta, yang telah mendukung dan selalu memberikan
motivasi kepada saya .
7. Dan semua pihak dari saudara dan teman-teman yang sudah membantu dalam
terselesaikannya skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu..
vii
Semoga Allah SWT membalas budi baik serta ketulusan yang telah mereka
berikan selama ini pada peneliti. Peneliti menyadari dalam menyelesaikan skripsi
ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga diharapkan adanya kritik dan saran
yang sifatnya membangun. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan kita semua.
Madiun, Juni 2018
Aprilia Dwi Solehah
NIM. 201402004
viii
Program Studi Keperawatan
Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRAK
PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR ANAK
HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA MADIUN
Aprilia Dwi Solehah
Rawat inap pada anak-anak akan membawa beberapa perubahan
ketegangan psikologis dan kecemasan yang mengarah pada gangguan kualitas
tidur anak. Terapi ini dilakukan untuk mengurangi ketegangan psikologis yaitu
dengan bercerita. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
biblioterapi terhadap kualitas tidur pada anak usia pra sekolah (3-6 tahun) di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimental dengan
rancangan one-group pra-test post-test tanpa desain kelompok kontrol. Populasi
dalam penelitian ini sejumlah 32 pasien anak. Tehnik sampling yang digunakan
adalah puposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner The
Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) yang sudah divaliditas dan
reabilitaskan. Analisa data menggunakan uji Paired T-Test.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa kualitas tidur baik dengan (50%).
Hasil analisa Paired T-Test diperoleh nilai signifikansi P Value = 0,000 < ɑ 0,05,
artinya ada pengaruh terapi biblio yang diberikan untuk meningkatkan kualitas
tidur anak hospitalisasi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun.
Terapi Biblio yang dilakukan sebagai intervensi dapat sebagai metode
distraksi untuk meningkatkan kualitas tidur pada anak yang menjalani perawatan
dirumah sakit. Keefektifan biblioterapi dapat ditunjang dengan tenaga kesehatan
perawat serta peran serta orang tua. Dengan demikian diharapkan tenaga
kesehatan khususnya perawat memberikan terapi biblio untuk membantu
meningkatkan kualitas tidur pada anak usia pra sekolah (3-6 tahun) yang
mengalami hospitalisasi.
Kata kunci : Biblioterapi, kualitas tidur, anak hospitalisasi
ix
Nursing Program
Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRACK
The hospitalization in children will bring some changes in the
psychological tension and anxiety taht affects to the child sleep quality
disturbance. The therapy tah can we do to decreasing the psychological tension is
storytelling. The aim of study is to analyze the influence of bibliotherapy in sleep
quality to children who are undergoing hospitalization.
This research is a pre-experimental study (pre-test and post-test without
control group design). The population in this study amounted to 32 pediatric
patients. Method of sampling in this study is purposive sampling technique. The
data was collected using a questionnaire interview and observation of The
Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) which has been tested the validity
dan reability. The data were analyzed using Paired T-Test with a significant level
P>0,05
The results of this study note that good sleep quality (50%). After
analyzing by Paired T-Test, obtained value of significance P Value = 0,000 < ɑ
0,05. Meaning there is influence of bibliotherapy taht given to improve the sleep
quality of hospitalization children in Melati Room of RSUD Madiun City .
Bibliotherapy performed as an intervetion can be a method of distraction
to improve the quality of sleep in children undergoing hospitalization. The
effectiveness of bibliotherapy can be supported by nurse health personel as well as
the role of parents. It is expected the health workers, especially nurses provide
bibliotherapy to help improve sleep quality of preschool age (3-6 years) who
experienced a hospitalization.
Key word : Bibliotherapy, sleep quality, child hospitalization
x
DAFTAR ISI
Halaman Judul..........................................................................................................i
Lembar Persetujuan.................................................................................................ii
Lembar Pengesahan................................................................................................iii
Lembar Persembahan.........................................................................................….iv
Halaman Pernyataan.....................................................................................…...….v
Daftar Riwayat Hidup.............................................................................................vi
Kata Pengantar..................................................................................................….vii
Abstrak....................................................................................................…………ix
Abstract....................................................................................................…………x
Daftar Isi............................................................................................................….xi
Daftar Tabel............................................................................................…..........xiv
Daftar Gambar....................................................................................................…xv
Daftar Lampiran....................................................................................................xvi
Daftar Istilah........................................................................................................xvii
Daftar Singkatan.................................................................................................xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................5
1.3 Tujuan Masalah..........................................................................….......5
1.3.1 Tujuan Umum.................................................................…......5
1.3.2 Tujuan Khusus...............................................................….......5
1.4 Manfaat Penelitian........................................................................…....6
1.4.1 Teoritis......................................................................................6
1.4.2 Praktis.......................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hospitalisasi.............................................................................7
2.1.1 Pengertian Hospitalisasi............................................................7
2.1.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Reaksi Anak
Terhadap Sakit dan Hospitalisasi..............................................8
2.1.3 Reaksi Anak Terhadap Proses Hospitalisasi Sesuai
Tahap Usia.................................................................................9
2.1.4 Efek Hospitalisasi Terhadap Anak..........................................13
2.1.5 Dampak Hospitalisasi..............................................................14
2.1.6 Keuntungan Hospitalisasi.........................…...........................15
2.2 Konsep Kualitas Tidur
2.2.1 Pengertian Kualitas Tidur........................................................15
2.2.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tidur.............16
2.2.3 Jenis – Jenis Tidur...................................................................17
2.2.4 Fungsi Tidur............................................................................20
2.2.5 Manfaat Tidur Untuk Kesehatan.............................................20
2.2.6 Gangguan Tidur.......................................................................21
2.2.7 Indikator Kualitas Tidur...............................….......................23
xi
2.2.8 Penanganan Kualitas Tidur......................................................24
2.3 Konsep Biblioterapi.............................................................................25
2.3.1 Pengertian Biblioterapi............................................................25
2.3.2 Tujuan Biblioterapi.........................................................…....28
2.3.3 Manfaat Biblioterapi........................................….........…......28
2.3.4 Teknik – Teknik Biblioterapi...............…...............................28
2.3.5 Pengaruh Biblioterapi.............................................….............29
2.3.6 Terapi Berkisah.......................................................................30
2.3.7 Tipe – Tipe Biblioterapi..........................................................30
2.3.8 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi
Keberhasilan Biblioterapi.......................................................34
2.4 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi.......................................................................................34
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep................................................................................36
3.2 Hipotesis..............................................................................................37
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian................................................................................38
4.2 Populasi dan Sampel...........................................................................39
4.2.1 Populasi...................................................................................39
4.2.2 Sampel.....................................................................................39
4.3 Teknik Sampling.................................................................................40
4.3 Kerangka Kerja Peneliti......................................................................40
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.....................................42
4.5.1 Identifikasi Variabel................................................................42
4.5.2 Definsi Operasional.................................................................43
4.6 Instrumen Penelitian............................................................................44
4.7 Uji Validitas dan Reabilitas................................................................44
4.8 Lokasi dan Waktu Peneliti..................................................................45
4.9 Prosedur Pengumpulan Data...............................................................46
4.10 Teknik Analisis Data...........................................................................47
4.10.1 Teknik Pengolahan Data..........................................................47
4.10.2 Analisis Data...........................................................................50
4.11 Etika Penelitian...................................................................................52
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum................................................................................55
5.2 Data Umum.........................................................................................56
5.2.1 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin...............................56
5.2.2 Karakteristik Berdasarkan Usia...............................................57
5.2.3 Karakteristik Berdasarkan Cahaya..........................................57
xii
5.2.4 Karakteristik Berdasarkan Suhu..............................................58
5.2.5 Karakteristik Berdasarkan Suara.............................................58
5.2.6 Karakteristik Berdasarkan Kebersihan....................................59
5.3
Data Khusus........................................................................................59
5.3.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................59
5.3.2 Kualiatas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................62
5.4 Hasil Analisa Bivariat............................................................….........64
5.5 Pembahasan...........................................................................…..........65
5.5.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................65
5.5.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah diberikan
Biblioterapi..............................................................................69
5.5.3 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi Di Ruang Melati RSUD Kota Madiun...............70
BAB 6 PENUTUP
6.1 Kesimpulan.........................................................................................72
6.2 Saran...................................................................................................73
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................74
LAMPIRAN...........................................................................................................76
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Desain Penelitian............................................................................38
Tabel 4.2 Definisi Operasional Pengaruh Biblioterapi Kualitas Tidur
Anak Hospitalisasi.........................................................................43
Tabel 4.3 Hasil Uji Reabilitas Kuisioner Kebiasaan Tidur Pada Anak.........45
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Anak Hospitalisasi Di Ruang
Melati RSUD Kota Madiun
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Umur Anak Hospitalisasi Di Ruang Melati
RSUD Kota Madiun
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Cahaya Di Ruang Melati......................
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Suhu Di Ruang Melati................
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Suara Di Ruang Melati................
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kebersihan Di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun.....................
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Pre Test Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Sebelum Dilakukan Biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun...................
Tabel 5.8 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Pre Test berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ Pada Anak Di Ruang Melati...
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Post Test Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Setelah Dilakukan Biblioterapi Di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun................
Tabel 5.10 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Post Test Berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ Pada Anak Hospitalisasi
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Pre – Post Test Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi Setelah Dilakukan Biblioterapi di Ruang Melati
RSUD Kota Madiun................
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas
Tidur Pada Anak Hospitalisasi.......................................................36
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Biblioterapi
Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi.................................41
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Ijin Pengambilan Data
Lampiran 2 Surat Ijin Uji Validitas dan Reabilitas Kuisioner
Lampiran 3 Surat Keterangan Penelitian
Lampiran 4 Laporan Penelitian / Survey
Lampiran 5 Surat Pernyataan Persetujuan
Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
Lampiran 7 Kuesioner Penelitian
Lampiran 8 Standart Operasional Prosedur (SOP) Pengaruh
Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
di Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Lampiran 9 Lembar Observasi
Lampiran 10 Buku Cerita yang akan digunakan untuk terapi
Lampiran 11 Lembar Konsul
Lampiran 12 Hasil Olah Data
Lampiran 13 Hasil Uji Validitas Reabilitas Kuisioner CSHQ
Lampiran 14 Dokumentasi
xvi
DAFTAR ISTILAH
Adrenocorticotropic hormone (ACTH) :Hormon yang dihasilkan oleh lobus
anterior dalam kelenjar hipofisis atau
biasa disebut dengan kelnjar pituitari
yang terdiri dari beberapa lobus.
Bibliotherapy :Terapi Buku
Bounding :Kasih Sayang
Children Sleep Habits Quisionarre :Kuisioner Kualitas Tidur Anak
Initial Insomnia :Ketidakmampuan untuk jatuh tidur
atau mengawali tidur
Intermitten Insomnia :Ketidakmampuan tetap tidur karena
selalu terbangun pada malam hari
Terminal Insomnia :Ketidakmampuan untuk tidur
kembali setelah bangun tidur pada
malam hari
Stranger Anxiety :Kecemasan pada orang lain
xvii
DAFTAR SINGKATAN
ACTH : Adrenocorticotropic
KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia
CSHQ : Children Sleep Habits Quisionarre
NREM : Non – Rapid Eye Movement
REM : Rapid Eye Movement
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
STIKES : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
WHO : World Health Organitation
xviii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan cara efektif untuk penyembuhan anak sakit. Bagi
anak hospitalisasi merupakan suatu pengalaman yang mengancam, kesepian dan
membingungkan sehingga anak bisa mengalami stress. Hospitalisasi merupakan
stressor yang besar harus dihadapi setiap orang, khususnya pada anak karena
lingkungan yang asing, kebiasaan yang berbeda atau perpisahan dengan keluarga
(Aizah, 2014). Manfaat hospitalisasi anak adalah membantu perkembangan orang
tua dan anak dengan cara memberi kesempatan orang tua mempelajari tumbuh-
kembang anak dan reaksi anak terhadap stressor yang dihadapi selama dalam
perawatan di rumah sakit. Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang
tua. Untuk itu, perawat dapat memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar
tentang penyakit anak, terapi yang didapat, dan prosedur keperawatan yang
dilakukan pada anak, tentunya sesuai dengan kapasitas belajarnya, untuk
meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan memberi
kesempatan pada pada pasien untuk mengambil keputusan, tidak bergantung pada
orang lain dan percaya diri, dan fasilitas klien untuk tetap menjaga sosialisasinya
dengan sesama klien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Berikan
kesempatan padanya untuk saling kenal dan membagi pengalamannya. Demikian
juga interaksi dengan petugas kesehatan dan keluarga harus difasilitasi oleh
1
perawat karena selama dirumah sakit klien dan keluarga mempunyai kelompok
yang baru (Supartini dalam Hastuti, 2015)
Hospitalisasi akan membawa beberapa perubahan psikis pada anak.
Keadaan stres yang dialami anak akan menimbulkan reaksi tubuh dalam
menghantarkan rangsangan keatas melalui batang otak dan akhirnya menuju
puncak median hipotalamus. Selanjutnya hipotalamus akan merangsang kelenjar
hipofisis anterior melepaskan Adrenocorticotropic hormone (ACTH) yang
berperan dalam pelepasan kostisol secara cepat. Pelepasan kostisol menyebabkan
rangsangan susunan saraf pusat otak yang berakibat tubuh menjadi waspada dan
sulit tidur (Guyton dan Hall, 2007). Kalau hal tersebut berlanjut akan berdampak
pada kesehatan, sakit yang tak kunjung sembuh, dapat memperparah sakit yang
diderita dan akan menyebabkan proses hospitalisasi semakin lama.
Biblioterapi sangat efektif dikenalkan melalui berqisah atau bercerita,
dengan bercerita kepada anak dapat membantu untuk mengurangi penyebab
stressor, misal cemas, rasa takut, lingkungan yang berbeda. Dengan diberikan
biblioterapi membuat pikiran anak akan menjadi lebih rileks, anak akan merasa
tenang, dengan begitu kualitas tidur anak akan membaik.
Menurut survey American National Sleep Foundation (2006) dalam Utami,
201 menyatakan bahwa selama menjalani hospitalisasi sebanyak 40% orang tua
dan perawat anak yang ikut dalam survey tersebut menyatakan bahwa bayi dan
batita mereka tidur kurang dari 12-15 jam/hari. Anak-anak mereka mengalami
masalah tidur setiap malam dikeluhkan oleh orang tua anak sebanyak 40% dan
sebanyak 64% mengatakan bahwa bayi, anak prasekolah dan anak sekolah mereka
2
tidak dapat mencapai kuota tidur seperti yang direkomendasikan. Disamping itu,
25% orang tua dan perawat anak yang disurvey mengatakan bahwa bayi, anak pra
sekolah dan anak sekolah mereka tampak mengantuk atau lelah pada siang hari
serta 34% orang tua percaya bahwa pola tidur anak bisa mengganggu seluruh
keluarga.
Berdasarkan survei dari WHO pada tahun 2008 pada Sofa, 2012 hampir
80% anak mengalami perawatan di rumah sakit, sedangkan di Indonesia
diperkirakan 35 per 1000 anak menjalani hospitalisasi (Sumaryoko, 2008 dalam
Anita, 2011) dan berdasarkan survei kesehatan ibu dan anak tahun 2010
didapatkan hasil bahwa dari 1.425 anak mengalami dampak hospitalisasi dan
33,2% diantaranya mengalami dampak hospitalisasi berat, 46% mengalami
dampak hospitalisasi sedang dan 22,5% mengalami dampak hospitalisasi ringan
(Rahma & Puspasari, 2010). Di Indonesia tingkat prevalensi gangguan tidur pada
anak sebesar 44,2%. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh
Yuniartini (2013) di RSUP Sanglah Denpasar dari 15 orang tua didapatkan 11
orang tua yang mengeluh anaknya yang berusia prasekolah mengalami gangguan
pemenuhan kebutuhan tidur selama masa perawatan di rumah sakit.
Data dari study pendahuluan pada tanggal 19 Desember 2017 di RSUD
Kota Madiun. Perawat memberikan informasi tentang data anak yang di rawat
inap selama 6 bulan terakhir ini sebanyak 649 anak yang dirawat di RSUD Kota
Madiun. Peneliti juga melakukan wawancara kepada 10 orang tua. Peneliti
memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan proses hospitalisasi tentang
apakah anak bapak/ibu sering bangun ketika malam hari, 8 dari 10 orang tua
3
mengatakan sering bangun ketika malam hari yang disebabkan oleh ingin ke
kamar mandi, nyeri yang dirasakan anak, adanya suntikan tambahan dan
lingkungan yang ramai. Lalu peneliti juga bertanya tentang apakah anak
mengalami kesulitan untuk tidur, 5 dari 10 orang tua mengatakan anak mereka
mengalami kesulitan untuk tidur dikarenakan lingkungan yang kurang nyaman,
lingkungan yang ramai dengan aktivitas pengunjung, peneliti juga bertanya
tentang kebiasaan anak menangis ketika di rawat di RS, 1 dari 10 orang tua
mengatakan anaknya sering menangis ketika adanya suntikan tambahan, namun 6
orang tua mengatakan bahwa anaknya menangis karena nyeri yang dirasakan dan
mimpi buruk, peneliti juga menanyakan apakah anak sering rewel ketika berada
dirumah sakit, semua orang tua mengatakan anaknya sering rewel ketika di rawat
dikarenakan lingkungan yang berbeda, merasa takut karena banyak orang asing
disekelilingnya, dan merasa cemas dengan tindakan keperawatan yang akan
dilakukan petugas kesehatan.
Penelitian dari Yuniartini (2013) menunjukkan terapi bercerita dapat
meningkatkan kualitas tidur anak yang menjalani hospitalisasi yang dapat
memberi efek penyembuhan, dengan hasil tingkat kepercayaan sebesar 95%
(p≤0.05) diperoleh nilai asymp sig (2-tailed) 0,0000. Penelitian dari Wati (2011)
menjelaskan adanya pengaruh biblioterapi terhadap tingkat kecemasan anak yang
menjalani hospitalisasi, hasil penelitian tersebut menujukan terapi biblio dapat
menurunkan tingkat kecemasan hingga 15%. Penelitian dari Trihantoro (2016)
menunjukkan bahwa terapi bliblio juga dapat untuk mengubah konsep diri,
ditunjukkan dari nilai Asymp. Sig sebesar 0,037 lebih kecil dari nilai signifikansi
4
ɑ sebesar 0,05. Selain itu penelitian dari Eliasa (2007) menjelaskan bahwa
biblioterapi merupakan metode tindakan yang bermakna untuk mengatasi masalah
yang dihadapi seseorang hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa
biblioterapi sebagai salah satu teknik efektif dalam meningkatkan motivasi dan
untuk mengembangkan self-concept individu.
Biblioterapi akan membantu anak untuk menurunkan rasa cemas, takut atau
stressor yang menjadi penyebab kualitas tidur kurang. Biblioterapi merupakan
terapi yang mudah dilaksanakan, murah, dan dapat dilakukan kapan saja.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang “ Pengaruh Biblioterapi terhadap kualitas tidur anak yang menjalani
Hospitalisasi di Ruangan Anak di RSUD Kota Madiun”
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh
biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi di RSUD Kota
Madiun?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Menganalisis kualitas tidur anak hospitalisasi sebelum dilakukan
biblioterapi di RSUD Kota Madiun
5
b. Menganalisis kualitas tidur anak hospitalisasi sesudah dilakukan biblioterapi
RSUD Kota Madiun
c. Menganalisis pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi
di RSUD Kota Madiun
1.4 MANFAAT
1.4.1 Teoritis
Manfaat ini dapat digunakan untuk mendukung teori dalam bidang
keperawatan anak untuk intervensi yang mengalami gangguan tidur.
1.4.2 Praktis
1. Bagi Institusi Rumah Sakit
Manfaat yang bisa diperoleh bagi RSUD Kota Madiun adalah dapat
dimanfaatkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak yang
mengalami hospitalisasi sehingga dapat meningkatkan kualiatas tidur anak.
2. Bagi Responden dan Keluarga
Dapat dijadikan terapi yang efektif yang dapat dilakukan di rumah sakit atau
rumah untuk meningkatkan kualitas tidur anak, ketika anak mengalami
kesulitan tidur.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini bisa sebagai referensi untuk dilakukan penelitian selanjutnya
khususnya pada pasien anak yang mengalami kualitas tidur kurang.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hospitalisasi
2.1.1 Pengertian
Hospitalisasi adalah suatu keadaan yang mengharuskan anak
tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan karena suatu
alasan yang berencana maupun kondisi darurat. Tinggal dirumah sakit
dapat menimbulkan stress bagi anak, remaja, dan keluarga merek (Ni
Ketut Mendri, 2016)
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang penuh dengan stress baik
bagi anak itu sendiri maupun orang tua (Yuli Utami, 2014).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
hospitalisasi suatu proses karena alasan berencana maupun darurat yang
mengharuskan anak dirawat atau tinggal di rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan yang dapat menyebabkan beberapa perubahan
psikis pada anak.
Perubahan psikis terjadi dikarenakan adanya suatu tekanan atau
krisis pada anak. Jika seorang anak di rawat di rumah sakit, anak-anak
tersebut akan mudah mengalami krisis yang disebabkan anak mengalami
stres akibat perubahan baik terhadap status kesehatannya maupun
lingkungannya dalam kebiasaan sehari-hari. Selain itu, anak mempunyai
7
sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi
masalah maupun kejadian-kejadian yang sifatnya menekan (Arif
Kurniawan, 2008)
2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Anak Terhadap Sakit
dan Hospitalisasi
a. Perkembangan Usia
Reaksi anak terhadap sakit berbeda-beda, sesuai tingkat perkembangan
anak (Supartini, 2004). Pada anak usia sekolah reaksi perpisahan adalah
kecemasan karena berpisah dengan orang tua dan kelompok sosialnya.
Pasien anak usia sekolah umumnya takut pada dokter dan perawat
(Ngastiyah, 2005).
b. Pola Asuh Keluarga
Pola asuh keluarga yang terlalu over protektif dan selalu memanjakan
anak juga dapat mempengaruhi reaksi takut dan cemas anak dirawat di
rumah sakit. Beda dengan keluarga yang suka memandirikan anak untuk
aktivitas sehari-hari anak akan lebih kooperatif bila di rumah sakit
(Supartini, 2004)
c. Keluarga
Keluarga yang terlalu khawatir atau stres yang anaknya dirawat dirumah
sakit akan menyebabkan anak menjadi semakin stres dan takut
(Supartini, 2004)
8
d. Pengalaman dirawat dirumah sakit sebelumnya
Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan
dirawat dirumah sakit sebelumnya akan menyebabkan anak takut dan
trauma. Sebaliknya apabila anak dirawat dirumah sakit mendapatkan
perawatan yang baik dan menyenangkan anak akan lebih kooperatif pada
perawat dan dokter (Supartini, 2004)
e. Support System yang tersedia
Anak mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk melepaskan
tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta
dukungan orang tua atau saudaranya. Perilaku ini biasanya ditandai
dengan permintaan anak untuk ditunggu selama dirumah sakit,
didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa
takut dan cemas bahkan saat merasa kesakitan (Supartini, 2004)
f. Keterampilan Koping dalam Menangani Stressor
Apabila mekanisme koping anak baik dalam menerima dia harus dirawat
dirumah sakit, akan lebih kooperatif anak tersebut dalam menjalani
perawatan dirumah sakit (Supartini, 2004)
2.1.3 Reaksi Anak terhadap Proses Hospitalisasi Sesuai Tahap Usia
Anak yang mengalami hospitalisasi selama dirawat dirumah sakit
akan menunjukan respon masing-masing sesuai dengan tahapan usianya.
Menurut Supartini (2004) reaksi anak yang dirawat dirumah sakit sesuai
dengan tahapan perkembangan adalah :
9
a. Masa bayi (0-1 tahun)
Pada usia ini bayi membutuhkan waktu tidur 14-18 jam sehari. Masalah
utama yang terjadi adalah karena dampak perpisahan dengan orang tua
sehingga ada gangguan pembentukan percaya diri dan kasih sayang. Pada
anak usia lebih dari enam bulan terjadi starnger anxiety atau cemas,
apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya dan cemas
karena perpisahan. Reaksi yang muncul pada anak usia ini adalah
menangis, marah dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap starnger
anxiety . Bila ditinggalkan ibunya bayi akan merasa cemas karena
perpisahan dan perilaku yang ditunjukkan adalah dengan menangis keras,
pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi wajah yang tidak
menyenangkan.
b. Masa Toddler (1-3tahun)
Anak usia toddler biasanya tidur 10-11 jam sehari dan bereaksi terhadap
hospitalisasi terhadap sumber stres yang utama adalah cemas akibat
perpisahan. Respon perilaku anak sesuai dengan tahapannya yaitu
tahapan proses, putus asa dan pengingkaran. Pada tahap pengingkaran,
perilaku yang ditunjukkan adalah menangis kuat, menjerit memanggil
orang tua, atau menolak perhatian dari orang lain. Pada tahap putus asa,
perilaku yang ditunjukkan menangis berkurang, anak kurang
menunjukkan minat untuk bermain dan makan, sedih dan apatis. Pada
tahap pengingkaran perilaku yang ditunjukkan adalah secara sama, mulai
menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal dan akan
10
memulai menyukai lingkungan. Oleh karena adanya pembatasan
pergerakannya anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengkontrol
diri dan akan menjadi tergantung pada lingkungannya. Akhirnya anak
akan kembali mundur pada kemampuan sebelumnya atau regresi.
Perilaku yang dialami atau nyeri yang dirasakan karena mendapatkan
tindkan yang invasif seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan
menangis, menggigit bibir dan memukul. Walaupun demikian anak dapat
menunjukkan lokasi rasa nyeri dan mengkomunikasikan rasa nyerinya.
c. Masa Prasekolah (3-6 tahun)
Anak pada masa sekolah biasanya membutuhkan waktu tidur 11 jam
sehari. Perawatan anak dirumah sakit memaksa untuk berpisah dari
lingkungan yang dirasakannya aman. Penuh kasih sayang dan
menyenangkan, yaitu lingkungan rumah, permainan dan teman
sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia
prasekolah ialah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis
walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas
kesehatan, perawatan dirumah sakit jugan membuat anak kehilangan
kontrol dirinya.
Perawatan anak dirumah sakit juga mengharuskan adanya pembatasan
aktifitas sehingga anak merasakan kehilangan kekuatan diri. Perawatan
anak dirumah sakit sering diekspresikan anak prasekolah sebagai
hukuman sehingga anak merasa malu, takut, dan bersalah. Ketakutan
anak terhadap perlukaan, muncul karena anak menganggap tindakan dan
11
prosedur yang dilakukan mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena
itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak,
ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja
sama terhadap perawat dan tergantungan terhadap orang tua.
d. Masa sekolah (6-12 tahun)
Anak pada masa sekolah membutuhkan waktu tidur sekitar 10 jam sehari.
Perawatan anak dirumah sakit memaksan anak berpisah dengan
lingkungan yang dicintainya yaitu keluarga dan kelompok sosialnya dan
menimbulkan kecemasan. Kehilanagn kontrol dan juga terjadi dirawat di
rumah sakit karena adanya pembatasan aktifitas. Kehilangan kontrol
tersebut berdampak terhadap perubahan peran dalam keluarga, anak
kehilangan kelompok sosialnya, karena ia biasa melakukan kegiatan
bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati dan adanya
kelemahan fisik atau nyeri yang tunjukkan ekspresi verbal maupun non
verbal, karena anak sudah bisa mengkomunikasikannya. Anak usia
sekolah sudah mampu mengontrol perlakuan jika merasa nyeri, yaitu
dengan mengigit bibir dan memegang sesuatu dengan erat.
e. Masa remaja (13-18 tahun)
Pada masa remaja anak membutuhkan waktu tidur 8,5 sehari. Anak usia
remaja mengekspresikan perawatan dirumah sakit mengakibatkan
timbulnya perasaan cemas karena berpisah dengan teman sebayanya.
Anak remaja begitu percaya dan sering kali terpengaruh teman
12
sebayanya. Apabila dirawat dirumah sakit anak akan merasa kehilangan
dan timbul perasan cemas karena perpisahan itu.
Pembatasan aktifitas dirumah sakit membuat anak kehilangan kontrol
dirinya dan menjadi tergantung pada keluarga atau petugas kesehatan
dirumah sakit. Reaksi yang timbul akibat pembatasan aktifitas ini adalah
dengan menolak dan perawatan yang dilakukan padanya atau anak tidak
mau kooperatif terhadap petugas atau menarik diri dari keluarga, sesama
pasien, dan petugas kesehatan . Perasaan sakit karena perlakuan atau
pembedahan menimbulkan respon anak bertanya-tanya menarik diri dari
lingkungan, dan menolak kehadiran orang lain.
2.1.4 Efek Hospitalisasi Terhadap Anak
Anak-anak dapat bereaksi terhadap stres hospitalisasi setelah
mereka masuk selama hospitalisasi dan setelah perawatan. Konsep sakit
yang dimiliki anak bahkan lebih penting dibandingkan usia dan
kematangan intelektual dalam mempertahankan tingkat kecemasan
sebelum hospitalisasi (Carson, Simon & Tiendermam, 1999)
a. Faktor resiko individual
Sejumlah faktor resiko membuat anak-anak tertentu menjadi rentan
terhadap stres hospitalisasi dibandingkan dengan yang lain. Mungkin
karena perpisahan merupakan masalah penting seputar hospitalisasi bagi
anak-anak yang lebih mudah. Anak yang aktif dan berkeinginan kuat
cenderung lebih baik ketika dihospitalisasi bila dibandingkan dengan
anak yang pasif. Akibatnya, perawat harus mewaspadai anak-anak yang
13
menerima secara pasif semua perubahan dan pertahanan anak ini dapat
memerlukan dukungan yang lebih banyak dari pada yang lebih aktif.
b. Perubahan pada populasi pediatrik.
Saat ini populasi pediatrik dirumah sakit mengalami perubahan drastis,
meskipun terdapat kecenderungan memendeknya lama rawat. Sifat dan
kondisi anak kecenderungan bahkan mereka akan mengalami prosedur
yang lebih invasif dan traumatik pada saat mereka mengalami
hospitalisasi. Faktor inilah yang membuat mereka lebih rentan terhadap
dampak emosional dari hospitalisasi dan menyebabkan kebutuhan
berbeda. Perhatikan pada tahun-tahun sekarang telah berfokus pada
peningkatan jumlah pada anak-anak tumbuh dirumah sakit (Britton &
Johnton, 1993), rencana pemulangan menjadi lama karena kompleknya
asuhan medis dan keperawatan. Tanpa perhatian yang khusus yang
diberikan untuk memenuhi kebutuhan psikolososial dan perkembangan
anak dilingkungan rumah sakit.
2.1.5 Dampak Hopitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat dirumah sakit bagi anak dan
keluarga akan menimbulkan stres dan tidak aman. Jumlah dan efek stres
tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit
dan pengobatan. Penyebab stres pada anak meliputi psikososial (berpisah
dengan orang tua, keluarga lain, teman dan perubahan peran), fisiologis
(kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri),
serta lingkungan asing (kebiasaan sehari-hari berubah).
14
Reaksi orang tua, kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya
penyakit, prosedur, pengobatan dan dampak terhadap masa depan anak,
frustasi karena kurang informasi terhadap masa depan anak, frustasi
karena kurang infromasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak
familiernya peraturan dirumah sakit ( Anisa Okitiawati, 2017)
2.1.6 Keuntungan Hospitalisasi
Meskipun hospitalisasi dapat dan biasa menimbulkan stres bagi
anak-anak tetapi hospitalisasi juga bermanfaat. Manfaat yang paling
nyata adalah pulih dari sakit, tetapi hospitalisasi juga cepat dapat
memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengatasi stres dan merasa
kompeten dalam kemampuan koping mereka (Wong, 2008)
2.2 Konsep Kualitas Tidur
2.2.1 Pengertian
Kualitas tidur merupakan kepuasan seseorang terhadap tidur,
sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah
terangsang, gelisah, lesu dan apatis, kehitaman sekitar mata, kelopak
mata bengkak, konjungtiva mearh, mata perih, perhatian terpecah –
pecah, sakit kepala, sering mengantuk, atau menguap (Hidayat, 2006)
Kualitas tidur merupakan susunan atau pola tidur seseorang yang
terbatas dari gangguan meliputi kebiasaan mudah tertidur, lama latensi
tidur antara 20-30 menit, mengalami deep sleep secara terus menerus
selama siklus tidur yang berlangsung baik NREM maupun REM, dan
durasinya berlangsung selama 90 menit setiap siklusnya, jarang
terbangun saat tidur, apabila terbangun pun mudah terbangun kembali,
15
perasaan menyegarkan ketika bangun dipagi hari, aktivitas dasar sehari-
hari dapat dilakukan dengan baik, kemampuan dalam pekerjaan dapat
terlaksana dengan efektif (Snyder-Helpen & Verran dalam Shadik, 2011)
2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur
Pemenuhan kebutuhan bagi setiap orang berbeda-beda, ada yang
dapat terpenuhi dengan baik bahkan sebaliknya. Seseorang bisa tidur
ataupun tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu diantaranya sebagai
berikut (Asmadi, 2008) :
a. Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat tidur
dengan nyenyak, sedangkan untuk seseorang yang kondisinya kurang
sehat (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak nyenyak
(Asmadi, 2008)
b. Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk
tidur. Pada lingkungan bersih,bersuhu dingin dan suasana tidak gaduh
(tenang) dan penerangan yang yang tidak terlalu terang akan membuat
seseorang tidur dengan nyenyak, begitupun sebaliknya jika lingkungan
kotor,bersuhu panas, suasana ramai dan penerangan yag sangat terang,
dapat mempengaruhi kualitas tidurnya (Asmadi, 2008)
c. Strees psikologi
Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur.
Hal ini disebabkan karena kondisi cemas akan meningkatkan
16
nonepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan
mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2008)
d. Diet
Makanan yang banyak mengandung L-Triotofan seperti keju, susu,
daging, dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang mudah tidur.
Sebaliknya minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akna
mengganggu tidur (Asmadi, 2008)
e. Gaya hidup
Kelelahan yang dirasakan seseorang dapat pula mempengaruhi kualitas
tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan
nyenyak. Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan
periode tidur REM lebih pendek (Asmadi, 2008)
f. Obat-obatan
Obat – obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek
menyebabkan tidur, adapula yang sebaliknya mengganggu tidur (Asmadi,
2008)
2.2.3 Jenis-jenis tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifiksikan ke dalam dua karegori
yaitu dengan gerakan bola mata cepat / REM dan tidur dengan gerakan
bola mata lambat / NREM ( Asmadi, 2008)
17
a. Tidur REM
Merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut
bisa disimpulkan bahwa seseorang dapat tidur dengan nyenyak
sekali,namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat
aktif . Tidur REM ini tandai dengan mimpi, otot – otot kendor , tekanan
darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bergerak bolik-
balik), sekresi lambung meningkat,ereksi penis tidak teratur sering lebih
cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat, tanda – tanda orang yang
mengalami kehilangan tidur REM yaitu cenderung hiperaktif, emosi sulit
terkendali, nafsu makan bertambah, bingung dan curiga (Asmadi, 2008)
b. Tidur NREM
Menurut Asmadi (2008), merupakan tidur yang nyaman dan dalam . Pada
tidur NREM gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang
sadar atau yang tidak tidur . Tanda-tanda tidur NREM antara lain : mimpi
berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah menurun, kecepatan
pernapasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola lambat . Pada
tidur NREM ini mempunyai empat tahap masing – masing tahap ditandai
dengan pola perubahan aktivitas gelombang otak .
1) Tahap I
Merupakan tahap terminasi dimana seseorang beralih dari sadar menjadi
tidur. Ditandai seseorang merasa kabur dan rileks, seluruh otot menjadi
lemas, kelopak mata menutup mata, kedua bola mata bergerak ke kiri dan
18
ke kanan kecepatan jantung dan pernapasan menurun secara jelas,
seseorang yang tidur pada tahap ini dapat diabngunkan dengan mudah.
2) Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tumbuh terus menerus. Tahap
ini ditandai dengan kedua bola mata berhenti bergerak, suhu tubuh
menururn, pernapasan turun dnegan jelas. Tahap II ini berlangsung
sekitar 10 – 15 menit.
3) Tahap III
Merupakan tahap fisik yang lemah lunglai karena tonus otot lenyap
secara menyeluruh. Kecepatan jantung, pernapsan, dan proses tubuh
berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem saraf
parasimpatis. Seseorang yang tidur pada tahap III ini sulit untuk
dibangunkan.
4) Tahap IV
Merupakan tahap dimana seseorang tersebut tidur dalam keadaan rileks,
jarang bergerak karena keadaan fisik yang sudah lemah lunglai, dan sulit
dibangunkan. Pada tahap ini dapat memulikan keadaan tubuh.
Selain keempat tahaptersebut, sebenarnya ada satu tahap lagi yakni tahap
V. Tahap ini merupakan tahap tidur REM dimana setelah tahap IV
seorang masuk pada tahap V, yang ditandai dengan kembalinya
bergeraknya kedua bola mata yang berkecepatan lebih tinggi dari tahap –
tahap sebelumnya. Tahap ini berlangsung sekitar 10 menit, dan dapat
terjadi mimpi. Selama tidur malam sekitar 6 – 7 jam. Seseorang
19
mengalami REM dan NREM bergantisn sekitar 4 – 6 kali (Asmadi,
2008)
2.2.4 Fungsi tidur
(Wulandari, 2012) Fungsi tidur tetap belum jelas (Hodgson, 1991
dalam Potter & Perry, 2005). Namun, tidur dapat berfungsi dalam
pemeliharaan fungsi jantung terlihat pada denyut turun 10 hingga 20 kali
setiap menit. Selain itu, selama tidur, tubuh melepaskan hormon
pertumbuhan untuk memperbaiki dan memperbarui sel epitel dan khusus
seperti sel otak. Otak akan menyaring informasi yang terekam selama
sehari dan otak mendapatkan asupan oksigen serta aliran darah serebral
dengan optimal sehingga selama tidur terjadi penyimpanan memori dan
pemulihan kognitif. Fungsi lain yang dirasakan ketika individu tidur
adalah reaksi otot sehingga laju metabolik basal akan menurun. Hal
tersebut dapat membuat tubuh menyimpan lebih banyak energi saat tidur.
Bila individu kehilangan tidur selama waktu tertentu dapat menyebabkan
perubahan fungsi tubuh, baik kemampuan motorik, memori dan
keseimbangan. Jadi, tidak dapat membantu perkembangan perilaku
individu karena individu yang mengalami masalah pada tahap REM akan
merasa bingung dan curiga.
2.2.5 Manfaat tidur untuk kesehatan
Tidur nyenyak dapat mengembalikan vitalitas seseorang menjadi
lebih baik. Tidak mengherankan bila waktu tidur pasa setiap orang pun
berdeba – beda. The National Sleep Foundation menyebutkan bahwa
20
bayi harus tidur sekitar 80% dalam sehari. Sementara bagi orang dewasa
30% dari 24 jam atau sekitar 1-9 jam sebaiknya digunakan untuk tidur.
Pada orang dewasa dibtuhkan tidur 8 jam sehari. Jika kurang, mereka
akan merasakan beberapa dampak yang tidak baik untuk untuk
kesehatan. Beberapa dampak yang dirasakan di antaranya akan
berdampak pada pengaruh daya ingat, konsentrasi, dari berpikir menjadi
menurun. Kurang tidur juga bisa memicu obesitas atau kegemukan.
Karena seseorang yang kurang tidur cenderung mencari makanan manis
dan berlemak. Hal itu dipengaruhi hormon ghrelin yang menjadi
meningkat, sedangkan hormon septin menurun. Selain itu, juga dapat
meningkatkan gula darah dalam tubuh atau yang dalam istilah kesehatan
disebut dengan diabetes ( Iqbal Wahit, 2015)
2.2.6 Gangguan tidur
Gangguan tidur ialah merupakan suatu keadaan seseorang dengan
kualitas tidur yang kurang (Gunawan L, 2001 dalam Wahyuningsih,
2007)
1. Insomnia
Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur
yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang
hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi 3 jenis yaitu,
initial insomia, intermitten insomnia,terminal insomnia. Proses gangguan
tidur ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa kwatir, tekanan
jiwa, ataupun stres.
21
2. Hipersomnia
Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan,
pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari, disebabkan
oleh kemungkinan adanya psikologis, depresi, kecemasan, gangguan
susunan saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.
3. Parasomnia
Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat
mengganggu pola tidur, seperti somnambulism (sleep walking/ berjalan-
jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak – anak yaitu pada tahap
III dan IV dari tidur NREM. Somnambulism ini dapat menyebabkan
cedera.
4. Enuresis
Enuresis merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu
tidur, atau bisa juga disebut denggan istilah mengompol. Enuresis dibagi
menjadi dua jenis, yaitu enuresis noktural yang merupakan mengompol
di waktu tidur dan enuresis diurnal merupakan mengompol pada saat
bangun tidur. Enuresis noktural umunya merupakan gangguan pada tidur
NREM.
5. Apnea Tidur dan Mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur,
tetappi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi
masalah. Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam
pengaliran udara di hidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya
22
disebabkan oleh adanya adenoid, amandel, atau mendengkurnya otot di
belakang mulut. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya
pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti napas. Apabila kondisi
ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam
darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
6. Narkolepsi
Narkolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk
tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudi kendaraan
atau di saat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan gangguan
neurologis.
7. Mengigau
Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan
diluar kebiasaan. Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa hampir semua
orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM. ( [Link] Alimul,
2016)
2.2.7 Indikator kualitas tidur
Indikator kualitas tidur dari kuisioner CSHQ menurut Judith (2000)
ada beberapa indikator yaitu : tidur tepat waktu, tertidur sendiri, tertidur
di tempat orang lain, membutuhkan orang tua di kamar untuk tidur, usaha
untuk tidur, takut bila tidur sendiri, tidur di 20 menit, durasi tidur yang
sedikit/durasi yang tepat, durasi tidur setiap hari, takut bila tidur
dikegelapan, bangun sekali/lebih ditengah malam, membasahi tidur
dimalam hari, berbicara ketika tidur, gelisah dan berpindah posisi tidur,
23
anak bangun tidur dengan kelelahan,bangun terlalu pagi atau terlambat
bangun.
2.2.8 Penanganan Kualitas Tidur
1. Lingkungan
Menurut Potter & Perry 2005, faktor – faktor lingkungan yang
menyebabkan masalah kualitas tidur diantaranya lingkungan tempat tidur
seperti ventilasi, ukuran dan kekerasan tempat tidur, posisi tempat tidur,
teman tidur, dan suara udara.
Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada
kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur. Ventilasi yang baik adalah
esensial untuk tidur yang tenang. Jika seseorang biasanya tidur dengan
individu lain, maka tidur sendiri menyebabkan ia terjaga. Sebalikanya,
tidur tanpa ketenangan atau teman tidur yang mengorok juga menggangu
tidur.
Suara juga mempengaruhi tidur. Tingkat suara yang diperlukan untuk
membangunkan orang tergantung pada tahap tidur (Webster dan
Thompson, 1986 dalam Potter & Perry, 2005). Suara yang rendah lebih
sering membangunkan seseorang pada tahap I, sementara suara yang
keras membangunkan seseorang dari tahap tidur III atau IV. Beberapa
orang membutuhkan ketenangan untuk tidur, sementara yang lain lebih
menyukai suara sebagai latar belakangan seperti musik dan televisi.
24
Studi menunjukkan bahwa masalah tidur pada anak – anak dan remaja
sangat umum terjadi, dengan prevelensi berkisar dari 25% sampai 40%
dan sering persisten (Mindell dan Meltze, 2008) .
2. Terapi Farmakologi
Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan
seperti ketergantungan, maka terapi ini hanya boleh dilakukan oleh
dokter yang kompeten dibidangnya. Obat-obatan untuk penanganan
gangguan tidur antara lain:
a. Golongan obat hipnotik
b. Golongan obat antidepresan
c. Terapi hormon melatonin dan agonis
d. Golongan obat antihistamin
3. Terapi Non Farmakologi
1. Terapi aroma
2. Terapi musik
3. Terapi biblio
2.2 Konsep Bibliotherapy
2.3.1 Pengertian
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terapi berarti
usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan
penyakit, perawatan penyakit”. Dalam KBBI, terdapat contoh kata yang
dapat disandingkan dengan kata terapi, antara lain: terapi bahasa, terapi
25
bermain, terapi gizi, terapi kimiawi, dan terapi musik. Berdasarkan
kesamaan objek, Istilah “bahasa” sejalan dengan isah dan cerita. Bermain
merupakan predikat, sama halnya dengan berkisah atau bercerita.
Kemudian terapi musik. Musik merupakan kata benda, sama halnya
dengan puisi atau syair. Dengan demikian meskipun KBBI belum
tercantum istilah terapi buku, terapi kisah, maupun terapi membaca, kita
dapat mengakui istilah dengan membangun istilah, kemudian mengikat
maknanya dan menyamakan persepsi atas istilah tersebut. Jadi istilah
biblioterapi mengacu pada terapi buku dan terapi membaca atau berkisah.
Selama bertahun – tahun, sejak 1904 ketika pustakawan rumah
sakit di Amerika ditunjuk untuk mengambil alih perpustakaan pasien di
Rumah Sakit Maclen di Boston, konsep perpustakaan sebagai agen terapi
dan perpustakawan sebagai biblioterapis telah berkembang. Beberapa
pustakawan di perpustakaan di rumah sakit Amerika, ketika itu sudah
memperlakukan perpustakaannya sebagai agen terapi. Bukan hanya itu,
DR. Gordon R. Kamman, dalam beberapa artikel penting yang
dituliskannya pada tahun 1930-an dan awal 1940-an, mendukung
biblioterapi dan menekankan perlunya pustakawan dilatih sebagai
anggota yang terlibat konstribusi dan tim terapi.
Monroe dalam Rubin (1979) mengatakan, biblioterapi adalah
bagian dari rangkaian kesatuan layanan perpustakaan. Referensi,
bimbingan membaca, dan biblioterapi semuanya memiliki kesamaan
fungsi. Seluruhnya merupakan layanan bersifat informasi, instruksional,
26
dan/atau kebutuhan bimbingan. Layanan referensi adalah objek,
informasi dan durasi yang singkat, sementara bimbingan membaca sangat
subjektif dan lebih mendidik. Bahkan, dapat dikatakan bahwa
biblioterapi merupakan pendekatan jangka panjang untuk layanan
perpustakaan dengan tujuan teraupetik. Konsep biblioterapi, yang
merupakan pengembangan layanan pembaca, sejalan dengan Hannigan “
Keterampilan biblioterapi adalah softskill pustakawan yang berfungsi
sebagai pembimbing pembaca.
Menurut Shechtman (2009) menekankan bahwa biblioterapi dapat
dikombinasikan dengan kegiatan mendengarkan cerita, membaca puisi,
menonton film dan gambar dilakukan didalam rangkaian biblioterapi,
sehingga aktivitas berjalan menarik dan menyenangkan.
Pendampingan terbaik bagi permasalahan perilaku pada individu
anak maupun dewasa adalah melalui terapi buku (biblioterapi). Berkisah
menjadi salah satu metode dalam biblioterapi. Buku adalah guru yang
paling sabar dalam pemberian pemahaman. Buku bisa dibaca berulang –
ulang, hingga pembacanya menemukan kunci terbaik untuk
menyelesaikan masalahnya.
Buku menjadi media yang praktis untuk digunakan dan terjangkau.
Namun, ditengah kondisi budaya baca masyarakat Indonesia tergolong
rendah, praktik terapi buku sangat efektif dikenalkan melalui metode
berkisah atau bercerita. Buku digunakan sebagai media berkisah. Howie
(1988) mengatakan “Terapi membaca mengacu pada biblioterapi maupun
27
terapi puisi/prosa dan sastra, yang melibatkan pekerja profesional di
Institusi pendidikan, medis, psikolog, guru, psikiater, dan pekerja sosial.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terapi buku, terapi membaca,
dan praktiknya akan melibatkan multidisiplin keilmuan dan profesi.
2.3.2 Tujuan
Tujuan utama dari biblioterapi adalah memanfaatkan media buku,
literatur dan/atau media audio, visual, audio visual untuk menfasilitasi
aktivitas terapi, membimbing diskusi, serta menunjukkan perkembangan
berfikir individu. Jadi, biblioterapi akan menjadi langkah yang
menyenangkan dalam membentuk perilaku positif keluarga. Orang tua
menjadi biblioterapis terbaik bagi anak – anaknya (Susanti, 2017)
2.3.3 Manfaat
Manfaat biblioterapi bagi kesehatan adalah dapat menjadi suatu
metode pengalihan perhatian atau distraksi dari rasa nyeri, dapat
menambah ilmu dan sebagai intervensi untuk seseorang mengatasi
masalah pribadinya yang dilakukan secara interaktif menekankan
perkembangan, pertumbuhan, dan pengembangan diri. (Susanti, 2017)
2.3.4 Teknik-teknik Biblioterapi
1. Identifikasi kebutuhan klien. Tugas ini dilakukan dengan berbincang
dengan orang tua.
2. Sesuaikan klien dengan bahan-bahan yang tepat. Carilah buku yang
berhubungan dengan cerita yang dapat memotivasi klien, hidup sehat dan
tentang keluarga.
28
a. Buku harus sesuai dengan tingkat kemampuan klien
b. Tema bacaan seharusnya sesuai dengan kebutuhan yang telah
diidentifikasi dari klien.
c. Karakteristik seharusnya dapat dipercaya dan mampu memunculkan
rasa ingin tau dan empati.
d. Alur kisah seharusnya realistis dan melibatkan kreativitas untuk
penyelesaian masalah.
3. Putuskan susunan waktu dan sesi
4. Rangcangkanlah aktivitas-aktivitas tindak lanjut setelah dilakukan terapi,
seperti berdiskusi.
5. Motivasi klien untuk mengajukan pertanyaan untuk menuju ke
pembahasan tentang tema yang dibicarakan
6. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pokok dan mulailah berdiskusi kecil
tentang tema.
7. Berilah waktu jeda beberapa menit agar klien bisa merefleksikan
materinya
8. Kenalkan aktivitas tindak lanjut :
a. Menceritakan kembali kisah, diskusi tentang buku, misalnya tentang
benar dan salah, dan pesan moral.
2.3.5 Pengaruh Biblioterapi
Terapi buku atau disebut juga biblioterapi yang merupakan suatu
teknik distraksi yaitu teknik pengalihan dari fokus perhatian terhadap
nyeri atau rasa sakit, rasa cemas, rasa bosan ketika dirawat dirumah sakit,
29
mengisi kejenuhan ketika pasien mulai merasa tidak nyaman dan dapat
menambah pengalaman bagi pasien. Dengan adanya teknik ini akan
berpengaruh kepada pasien yaitu akan merasa rileks, tidak cemas, dan
merasa aman ketika di rumah sakit.
2.3.6 Terapi Berkisah
Terapi berkisah juga sebenarnya bagian dari penerapan prinsip –
prinsip hynotherapy. Keduanya sama – sama mengandalkan keterampilan
bahasa. Terapi berkisah mengandalkan bahasa untuk membantu anak
mengubah perilaku yang tampak.
Menurut pendapat Albert Meharabien (2011), ada tiga hal yang
bisa memengaruhi keberhasilan daya tangkap dalam komunikasi –
Mengingat saluran terapi berkisah didasarkan pada konsep bercerita
adalah komunikasi. Tiga hal tersebut meliputi : bahasa tubuh 55%,
pilihan kata 7%, dan intonasi kata 38%. Semakin ekspresif bahasa tubuh
saat berkisah bagus, ditunjang intonasi kalimat dan pemilihan kata yang
baik akan semakin bagus kisah untuk terapi perilaku anak.
2.3.7 Tipe-Tipe Bibliotherapy
Menurut Berry (Nur Fathiyah, 2006) terapi pustaka dapat dibagi
menjadi dua macam tipe, yaitu : 1) tipe klinis dan 2) tipe
pendidikan/humanistik
1) Tipe Klinis.
Merupakan bentuk psikoterapi yang dilaksanakan oleh profesi kesehatan
termasuk psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan sebagainya. Adapun
30
tujuannya untuk membantu klien untuk memperoleh keadaan yang lebih
baik. Dalam tipe ini fungsi terapi adalah membentuk kehidupan individu.
Seorang pasien yang menderita penyakit atau mengalami cacat tertentu
dapat merasakan suatu kepuasan tertentu dengan membaca biografi atau
cerita keberhasilan penyesuaian diri dari orang yang mengalami
penderitaan yang sama.
2) Tipe pendidikan/humanistik.
Merupakan tipe terapi pustaka yang dilaksanakan oleh konselor, guru,
dan petugas perpustakaan dalam setting pendidikan. Fasilitatornya adalah
pimpinan atau manajer kelompok. Adapun pastisipan pada terapi pustaka
tipe ini adalah orang yang sehat, misalnya siswa. Tujuan dari tipe ini
membantu partisipan untuk mencapai pendidikannya atau mencapai
kepuasan dan aktualisasi yang lebih besar. Dalam tipe pendidikan ini,
terapi pustaka dapat memperluas pandangan seseorang tentang perbedaan
kondisi manusiawi, sehingga diperoleh pandangan yang luas mengenai
perbedaan kondisi yang sifatnya manusiawi. Di samping itu, terapi ini
juga membantu membuka wawasan adanya nilai-nilai yang beraneka
ragam yang dapat membangun hidup seseorang. Pada akhirnya seseorang
dapat memahami berbagai kondisi sosial seperti kemiskinan, prasangka
sosial, dan sebagainya serta dapat memberikan tekanan terhadap pola-
pola kehidupan individu.
Adapun para penerima kedua macam terapi itu antara lain : pasien rumah
sakit, veteran perang, anak-anak nakal, orang memerlukan bantauan
31
mengatasi penyalah gunaan obat dan alkohol, siswa yang memerlukan
bimbingan pendidikan dan karier, serta individu yang sedang berada
dalam kegiatan psikoterapi, konseling perkawinan, dan sebaginya.
Sedangkan tipe bibliotherapy menurut Scechtman (2009) ada 2 yaitu :
a) Affective bibliotherapy
Sebagian besar literatur yang ada pada bibliotherapy anak-anak lebih
bersifat bibliotherapy afektif (Gladding, 2005;Scechtman, 2009).
Bibliotherapy afektif menggunakan fiksi dan literatur berkualitas tinggi
untuk membantu pembaca terhubung ke pengalaman emosional dan
situasi manusia melalui proses identifikasi. Bibliotherapy afektif
bergantung pada teori-teori psikodinamik, menelusuri kembali ke
Sigmund dan Anna Freud. Asumsi dasar dalam bibliotehrapy afektif
adalah bahwa orang menggunakan defence mechanism atau mekanisme
pertahanan diri, seperti represi, untuk melindungi diri dari rasa sakit.
Ketika pertahanan tersebut sering diaktifasikan, individu menjadi
terputus dari emosi mereka dan mereka tidak menyadari perasaan yang
sebenarnya. Oleh karena tidak dapat menyelesaikan masalah mereka
secara konstruktif, maka diperlukan teknik bercerita yang sangat
membantu dalam menawarkan wawasan ke dalam masalah pribadi
(Forgan, 2002). Kemudian melalui penciptaan jarak yang aman,
membawa anak dan remaja secara tidak langsung kepada isu-isu sensitif,
isu-isu yang mengancam, dan mungkin terlalu menyakitkan untuk
dihadapi secara langsung.
32
Nilai positif dari bibliotherapy afektif adalah pemahaman diri yang
tinggi, menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah universal dan
unik. Pembaca mempelajari bahwa mereka dihubungkan dengan
beberapa orang dan budaya lain yang memberikan kenyamanan dan
melegtimasi perasaan dan pikiran mereka (Gladding, 2005). Dengan
mendengarkan atau membaca cerita-cerita orang lain menjadi metode
pengobatan memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk menemukan
kebenaran, untuk memahami, untuk menemukan suatu penjelasan untuk
pengalaman yang menyakitkan dan bahkan untuk menantang
ketidakadilan.
Temuan yang ada menunjukkan hasil mengenai efektivitas bibliotherapi
afektif. Pardeck (1984), dalam tinjuan literatur mereka, menemukan 24
studi yang mendukung pengunaan positif dari buku fiksi dalam
mengubah sikap klien, ketegasan klien meningkat, dan perubahan
perilaku klien.
b) Kognitif Bibliotherapy
Bibliotherapy kognitif telah dilakukan pada awal abad ke-20, dengan
psikiater dan pustakawan bekerja sama dalam upaya untuk membantu
klien dengan masalah psikologis. Mereka menawarkan buku-buku
kepada pasien yang sesuai dengan kesulitan mereka , dengan asumsi
bahwa orang-orang akan belajar dari proses dan menerapkannya pada
kehidupan mereka sendiri. Ini bisa dilakukan menjadi self-help atau
diikuti oleh pertemuan-pertemuan sesekali untuk membahas buku itu.
33
Namun, fokus utama adalah pada konten yang disajikan dalam buku dan
relevansinya dengan kesulitan seseorang atau masalah.
Asumsi dasar biblioterapi kognitif adalah bahwa semua perilaku
dipelajari, dan karenanya dapat mempelajarinya kembali dengan
bimbingan yang tepat. Teori ini bergantung pada pembelajaran sebagai
katalis utama perubahan perilaku. Oleh karena itu biblioterapi kognitif
adalah proses belajar berkualitas tinggi yang bermanfaat teraupetik.
2.3.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Biblioterapi
1. Buku yang sesuai dengan tingkat kemampuan klien
2. Terapis yang seakan-akan perduli dengan kesehatannya
3. Faktor lingkungan (nyaman, tidak bising,dan tidak berbau)
4. Faktor psiko (anak masih bisa diajak berinteraksi)
5. Cara penyampaian terapi dari mulai intonasi, raut wajah.
( Susanti, 2017)
2.4 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Biblioterapi merupakan terapi bermakna untuk mengatasi masalah
yang dihadapi seseorang. Biblioterapi dapat dilakukan dengan bercerita.
Anak yang menjalani perawatan dirumah sakit akan mengalami kualitas
tidur yang kurang. Dengan kualitas tidur yang kurang akan berdampak ke
kesehatan anak sendiri, sakit yang tidak kunjung sembuh, atau bahkan
akan memperparah keadaan. Dengan diberikan terapi biblio ini, akan
membantu anak untuk melupakan atau mengalihkan perhatian yang dapat
34
mengurangi kecemasan yang dihadapi dirumah sakit. Biblioterapi akan
membuat pikiran anak menjadi rileks, nyaman dan tenang, dengan itu
anak tidak akan merasa cemas lagi. Maka kualitas tidur anak akan
membaik.
35
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3. 1 Kerangka Konsep
Faktor – faktor pendukung :
1. Terapi yang mudah untuk di lakukan
2. Tidak memperlukan biaya yang lebih
3. Dapat dilakukan oleh siapa saja
4. Dapat dilakukan kapan saja serta
melibatkan kemandirian dan
partisipasi
5. Dapat untuk membentuk konsep diri
anak
6. Dapat digunakan untuk mengurangi
stess dan kecemasan.
Biblioterapi Anak Hospitalisasi Faktor – faktor
yang
mempengaruhi
1. Psikososial kualitas tidur:
2. Fisiologis
3. Lingkungan -Status kesehatan
-Lingkungan
Kualitas tidur - Stress psikologi
Keterangan :
: Tidak diteliti
: Diteliti
: Mempengaruhi
Gambar 3.1 Kerangka konseptual pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur
usia prasekolah dan sekolah anak hospitalisasi.
36
Gambar 3.1 Menjelaskan tentang pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur
anak usia 4 sampai 12 tahun yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Kualitas
tidur dipengaruhi oleh status kesehatan, lingkungan, stress psikologi. Biblioterapi
sebagai terapi yang baik didukung oleh beberapa faktor yaitu terapi yang mudah
dilakukan, tidak memperlukan biaya yang berlebihan, dapat dilakukan oleh siapa
saja, dan dapat dilakukan kapan saja serta dapat melibatkan kemandirian dan
partisipasi. Anak yang menjalani rawat inap dirumah sakit akan mengalami
dampak hospitalisasi antara lain psikososial, fisiologis dan lingkungan yang dapat
mengakibatkan kualitas tidur yang kurang, maka dengan diberikan intervensi
biblioterapi untuk mengurangi faktor yang menyebabkan kualitas tidur kurang.
3.2 Hipotesis
Berdasarkan teori yang telah diungkapkan maka dapat disusun hipotesis
sebagai berikut :
”Ada pengaruh bibliioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi”
37
Tabel 4.2 Definisi Operasional Penelitian Pengaruh Biblioterapi terhadap Kualitas tidur anak Hospitalisasi
Variabel penelitian Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Hasil Ukur
Independen Biblioterapi adalah terapi buku Memberikan cerita SOP - -
Biblioterapi yang dapat digunakan untuk klasik dunia kepada
seseorang yang mengalami anak kemudian
masalah emosional dan sakit diharapkan anak
mental. menceritakan
kembali isi / inti
cerita tersebut.
Dependen Kualitas tidur merupakan 1. Jam tidur Kuisioner Interval Kualitas tidur
Kualitas Tidur fenomena yang sangat kompleks 2. Kebiasaan tidur kualitas tidur baik jika skor
yang melibatkan beragai domain, 3. Terbangun saat CSHQ ≥ 60
antara lain, penilaian terhadap malam Total skor Kualitas tidur
lama waktu tidur, gangguan 4. Bangun tidur 20 – 100 cukup jika
tidur, masa laten tidur, disfungsi skor 40
tidur pada siang hari, efisiensi sampai 60
tidur, kualitas tidur, penggunaan Kualiats tidur
obat tidur. kurang jika
skor 20-40.
Skor 20-100
43
BAB VI
METODE PENELITIAN
4.1 Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan
menggunakan rancangan one-group pra-test post-test design, dalam
desain ini melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek
diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi
setelah intervensi (Nursalam, 2013)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bibioterapi terhadap
kualitas tidur pada anak prasekolah mengalami hospitalisasi. Berikut
rancangan yang digambarkan sebagai berikut :
Pre-Test post-test
01 X 02
Table 4.1 Desain Penelitian
Keterangan :
01 : Pre-test pada kelompok intervensi
02 : Post-test pada kelompok intervensi
X : Intervensi yang diberikan
38
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas :
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2014).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang berusia 3 sampai
6 tahun, yang dirawat RSUD Kota Madiun dan tidak mengalami
gangguan pendengaran. Setiap bulannya di RSUD Kota Madiun rata-rata
pasien anak yang dirawat sejumlah 35 anak.
4.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2014).
Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia 3 sampai 6 tahun
yang dirawat inap yang mengalami gangguan tidur dan memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi. Dalam penelitian ini besar sampel
ditetapkan berdasarkan rumus sebagai berikut (Nursalam 2003) :
39
n = 32 responden
Keterangan :
n = perkiraan besar sampel
N = perkiraan besar populasi
z = nilai standar normal untuk
p = perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50%
q = 1 – p (100% - p)
d = Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0,05)
4.3 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Non-
Probability sampling dengan Purposive Sampling yaitu suatu teknik
penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai
dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian),
sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang
telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2015). Dengan kriteria sampel
yaitu berusia 3 – 6 th, tidak mengalami gangguan pendengaran, dapat
berinteraksi dan di rawat di RSUD Kota Madiun.
4.4 Kerangka Kerja Peneliti
Kerangka kerja merupakan bagan kerja terhadap rancangan
kegiatan penelitian yang akan, meliputi siapa yang akan diteliti (subyek
penelitian), variable yang akan diteliti, dan variabel yang mempengaruhi
dalam penelitian (Hidayat, 2007).
40
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah anak yang dirawat diruumah sakit usia
3 sampai 6 tahun di RSUD KOTA MADIUN sebanyak 32 anak.
Sampel
Semua anak yang di rawat di RSUD KOTA MADIUN sebanyak 32 anak
Sampling : Purposive Sampling
Desain Penelitian : pre-eksperimental dengan menggunakan
rancangan one-group pra-test post-test design
Pengumpulan Data
Menggunakan kuisioner
Variabel bebas : Variabel terikat : Kualitas
biblioterapi tidur menggunakan
kuisioner ( CSHQ )
Pengolahan Data
Editing, coding, data entry, scoring, cleaning
Analisis Uji Statistik Paired T-test ɑ 0,05
Hasil dan Kesimpulan
Pelaporan
41
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Gambar 4.1 Kerangka kerja penelitian
4.5.1 Identifikasi Variabel
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau
ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu
konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian ini
terdapat 2 variabel yaitu :
1. Variabel Independen (Bebas)
Variabel Independen adalah variabel yang mulainya menentukan variabel
lain (Nursalam, 2012). Variabel independen dalam penelitian ini adalah
biblioterapi
2. Variabel Dependen (Terikat)
Variabel dependen adalah variabel yang diamati dan diukur untuk
menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel bebas
(Nursalam, 2012). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas
tidur.
4.5.2 Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah definisi berdasarkan
karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut.
Definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi
dan replikasi (Nursalam, 2016).
42
38
4.6 Instrumen Penelitian
Kuisioner variabel kualitas tidur menggunakan kuisioner
Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) sesuai dengan kerangka
konsep yang berisi 20 item yang terdiri dari jam tidur pada pertanyaan
soal nomor 1-8, kebiasaan tidur soal pada nomor 9-14, terbangun saat
malam hari pada nomor 15-16 dan bangun tidur pada nomor 17 - 20
dengan menggunakan skala likert. Pertanyaan dengan jawaban selalu (4),
kadang-kadang (3), jarang (2), tidak pernah (1).
Pertanyaan yang digunakan adalah angket tertutup atau terstruktur
dimana peneliti hanya tinggal menjawab atau memilih kolom yang sudah
disediakan (responden hanya memberikan tanda (√))
4.7 Uji Validitas dan Uji Reabilitas
4.7.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang dapat menunjukkan tingkat
kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid
atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang
kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2007). Uji
validitas sebaiknya dilakukan pada setiap butir penelitian di uji
validitasnya. Hasil r hitung kita bandingkan dengan r tabel dimana df=n-
2 dengan sig 5%. Jika r tabel < r hitung maka valid (Suwerjeni, 2014).
44
Untuk mengetahui validitas item dalam penelitian ini menggunakan uji
validitas dengan rumus Uji Wilcoxon. Uji validitas kuesioner kulitas
tidur akan dilakukan uji kembali pada penelitian ini.
4.7.2 Uji Reabilitas
Realibilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa instrumen
cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data
karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan
bersifat tendensius, mengarahkan responden memilih jawaban-jawaban
tertentu. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya,
maka berapa kalipun diambil tetap akan sama hasilnya (Arikunto, 2010).
Dinyatakan reliabel bila nilai alpha croonbach’s > r kriteria (0,70)
(Ghozali, 2009).
Tabel 4.3 Hasil Uji Reabilitas Kuisioner Kualitas Tidur Pada Anak
4.8 Lokasi dan waktu penelitian
Lokasi penelitian direncanakan di RSUD Kota Madiun dan mulai
penelitian sampai selesai penelitian direncanakan bulan Desember –
Maret 2018 mulai dari perizinan sampai pengambilan data berlangsung
bimbingan dan ujian proposal antara bulan November sampai Februari.
Kemudian pengambilan data penelitian, izin bulan Juni, pengolahan data
pada bulan Juli dan Pelaporan pada bulan akhir Juli.
45
4.9 Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan kepada
subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan
dalam suatu penelitian (Nursalam, 2016). Dalam melakuka penelitian,
prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengurus surat
ijin penelitian dari pihak Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES
BHM Madiun ke RSUD Kota Madiun
2. Menentukan responden penelitian sesuai kriteria berdasarkan data
dari pihak RSUD Kota Madiun
3. Menjelaskan tujuan penelitian, jika responden sudah mengerti dan
setuju responden diminta untuk mendatangani lembar (informed
concent).
4. Menanyakan karakteristik responden dengan mengisi lembar identitas
yang mencakup nama, jenis kelamin, usia dan pemilihan buku
5. Melakukan kuisioner sebelum dilakukan terapi biblio
6. Lalu melakukan terapi biblio sesuai dengan SAP dengan waktu 10
menit. Selama 3 X intervensi setiap malam akan tidur.
7. Lalu melakukan observasi untuk pengisian kuisioner CSHQ setelah
dilakukan terapi biblio
46
4.10 Teknik Analisis Data
4.10.1 Pengolahan data
Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan menggunakan
software statistik . Menurut Nugroho (2012), pengolahan data meliputi :
1. Editing
Ediing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian
formulir atau kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2012) :
a. Apakah lengkap, dalam arti semua pertanyaan sudah terisi.
b. Apakah jawaban atau tulisan masing-masing pertanyaan cukup
jelas atau terbaca.
c. Apakah jawabannya relevan dengan pertanyaannya.
d. Apakah jawaban-jawaban pertanyaaan konsisten dengan jawaban
pertanyaan yang lainnya.
2. Memberi tanda kode (coding)
Coding mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka
atau bilangan (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian jenis kalimat yang
diberi kode antara lain yaitu :
a. Data demografi
1) Jenis Kelamin
- Laki –laki : diberi kode 1
- Perempuan : diberi kode 2
2) Lingkungan (saat tidur)
47
- Cahaya
Terang : diberi kode 1
Redup : diberi kode 2
Gelap : diberi kode 3
- Suhu
Hangat : diberi kode 1
Panas : diberi kode 2
Dingin : diberi kode 3
- Suara
Bising : diberi kode 1
Biasa : diberi kode 2
Hening : diberi kode 3
- Lingkungan
Bersih : diberi kode 1
Tidak bersih : diberi kode 2
3. Data Entry
Data yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam
progam atau “software” computer. Dalam proses ini dituntut ketelitian
dari orang yang melakukan “data entry” ini. Apabila tidak maka terjadi
bias, meskipun hanya memasukkan data.
4. Pemberian skor (Scoring)
48
Scoring yaitu penilaian data dengan memberikan skor pada pertanyaan
yang berkaitan dengan tindakan responden. Hal ini dimaksudkan untuk
memberikan bobot ada masing-masing jawaban, sehingga mempermudah
perhitungan (Nazir, 2011)
Skor kuisioner kualitas tidur CSHQ
1 = Tidak pernah
2 = Jarang
3 = Kadang-kadang
4 = Selalu
Untuk menentukan kategori kualitas tidur menggunakan rumus Azwar
(2011) yaitu :
X max = 4
X min=1
Mean = ½ ( X max +
X min ) × total item pertanyaan
½ ( 4 + 1 ) 20
½ × 100 = 5 0
L max = 20 x 4 = 80
L min = 20 x 1 = 20
49
Standart Deviasi = ⅙ ( L max - L min )
⅙ ( 80 - 20 )
⅙ × 60 = 10
Baik : jika skor jawaban x ≥ (µ + 1.σ)
x ≥ (50 + 1.10)
x ≥ 60
Cukup : jika skor jawaban (µ - 1.σ) ≥ x < (µ + 1.σ)
(50 – 1.10) ≥ x < (50 + 1.10)
40 ≥ x < 60
Kurang : jika skor jawaban x < (µ - 1.σ)
x < (50 – 1.10)
x < 40
5. Tabulasi data (tabulating)
Tabulating yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan
penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti (Notoatmodjo, 2012). Tabel
yang akan ditabulasi adalah tabel yang berisikan data yang sesuai dengan
kebutuhan analisis.
4.11 Teknik Analisa Data
Analisa data adalah pengelompokkan data berdasarkan karakteristik
responden, menyajikan ddata dari setiap variabel yang diteliti
menggunakan perhitungan untuk menguji hipotesis yang diajukan
50
(Sugiyono, 2011). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan
analisis univariat dan bivariat meliputi :
1. Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik seperti umur, jenis kelamin, lingkungan ( cahaya, suhu,
suara, kebersihan) setiap variabel penelitian. Penyajiannya dalam bentuk
distribusi dan prosentase dari setiap variabel (Notoatmodjo, 2012). Pada
Penelitian ini menganalisa pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur
anak yang menjalani perawatan di rumah sakit. Data tersebut merupakan
numeric yang berskala nominal dan ordinal.
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya
pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur di rumah sakit. Untuk
menentukan analisa bivariat dari penelitian ini peneliti melakukan analisa
data terlebih dahulu. Peneliti menggunakan uji Statistik paired T-Test.
Uji ini merupakan analisis dengan libatkan dua pengukuan terhadap
subyek yang sama terhadap suatu pengaruh atau lakuan tertentu. Pada uji
paired T-test,peneliti menggunakan sampel yang sama, tetapi pengujian
terhadap sampel di lakukansebanyak dua kali. Dalam penelitian ini test
yang diberikan disebut dengan pretest (test sebelum mengadakan
perlakuan) dan post test (setelah di berikan perlakuan). Adapun
51
pengguanaan paired sample. T-test satu sampel yang di berikan dua
pengakuan yang berbeda, merupakan data kuantitatif (interval-rasio), dan
sampel yang digunakan harus dalam kondisi yang sama atau homogenya
dan berasal dari tabulasi yang telah berdistribusi secara normal. Ada
tidaknya perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah di lakukan
intevensi dapat diketahui melalui dua cara pertama harga t hitung di
bandingkan dengan harga t tabel sehingga diperoleh interpretasi.
Ketentuan pengujian adalah bila harga t hitung lebih besar harga t tabel
H0 di tolak. Cara yang kedua, digunakan nilai probalitas berdasarkan
tingkat kemaknaan 95% (alpha 0,05). Apabila distribusi tidak normal
menggunakan uji wilcoxon. Uji wilcoxon yang dipilih dalam penelitian
ini jika data tidak berdistribusikan adalah uji wilcoxon Sign Rank test
untuk pengambilan keputusan menggunakan cara pertama yaitu jika
Sig> 0,05 maka H0 diterima, artinya tidak ada perbedaan antara variabel
jika Sig < 0,05 maka H0 di tolak, artinya ada perbedaan antar variabel.
Perhitungan uji statistik menggunakan perhitungan dengan system
komputerisasi SPSS 16.0.
4.12 Etika Penelitian
Dalam penelitian ini, saya telah melakukan semua penelitian dengan
memperhatikan etika penelitian. Saya memperhatikan etika dalam
penelitian sesuai dengan pernyataan menurut Nursalam (2016), prinsip
52
etika dalam penelitian dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu prinsip
manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek, dan prinsip keadilan.
1. Prinsip manfaat
a. Bebas dari pendiritaan
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada
subjek, khusunya jika menggunakan tindakan khusus.
b. Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keaadaan
yang tidak menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa
partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang telah diberikan, tidak
akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan subjek dalam
bentuk apa pun.
c. Risiko (benfits ratio)
Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang
akan berakibat kepada subjek pada setiap tindakan.
2. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)
a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to self
determination)
Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak
memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun tidak,
tanpa adanya sangsi apapun atau akan berakibat terhadap
kesembuhannya, jika mereka seorang klien.
53
b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan
(right to full disclosure)
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara terperinci serta
bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada subjek.
c. Informed consent
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan
penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas
berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada informed consent
juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan
dipergunakan untuk pengembangan ilmu.
3. Prinsip keadilan (right to justice)
a. Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair
treatment)
Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama, dan sesudah
keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila
ternyata mereka tidak bersedia atau dikeluarkan dari penelitian.
b. Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy)
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus
dirahasiakan, untuk itu perlu adanya tanpa nama (anonymity) dan rahasia
(confidentiality).
54
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
RSUD Kota Madiun merupakan salah satu layanan kesehatan milik
Pemerintah Kota Madiun yang terletak di Jl. Campursari No 12b Madiun.
RSUD Kota Madiun dibangun pada tahun 2004 dan mulai beroperasi
pada tahun 2005 yang tercatat sebagi rumah sakit tipe C. RSUD milik
pemerintahan kota ini mempunyai luas tanah 45.000 dengan luas
bangunan 10.966,74. RSUD Kota Madiun ini memiliki 217 tempat tidur
yang terdiri 14 tempat tidur VIP, 36 tempat tidur kelas I, 32 tempat tidur
kelas II, 85 tempat tidur kelas III, 6 tempat tidur di ICU, 10 tempat tidur
di HCU, 16 tempat tidur di IGD, 11 tempat tidur dikamar bersalin, 5
tempat tidur di kamar operasi, dan 2 tempat tidur diruang isolasi.
Sedangkan jumlah tenaga kesehatan RSUD Kota Madiun terdapat 71
perawat, 26 bidan dan 33 dokter. Didalam penelitian ini peneliti
mengambil tempat penelitian di ruang anak yang diberi nama Ruang
Melati. Ruang Melati mempunyai mempunyai 10 kamar, 28 tempat tidur
dengan tempelan bermacam-macam gambar animasi/kartun favorite anak
sehingga ruang melati cocok untuk anak, terdapat 1 ruang bermain
berukuran panjang 5 meter dan lebar 3 meter dengan 1 TV yang
menempel didinding tetapi di ruang bermain belum disediakan mainan
untuk bermain anak. RSUD Kota Madiun memiliki visi dan misi dalam
55
melakukan pelayanan terhadap masyarakat. Visi RSUD Kota Madiun
yaitu mewujudkan fasilitas kesehatan masyarakat yang terjangkau. Misi
RSUD Kota Madiun yaitu meningkatkan SDM yang berkualitas. Peneliti
mengambil 32 pasien anak, ketika peneliti melakukan observasi kepada
orang tua dan pasien sebelum dilakukan biblioterapi banyak
permasalahan yang muncul, antara lain kuota tidur yang tidak
mencukupi, sering menangis, susah tidur ketika malam hari dan lemas
ketika siang hari, faktor penyebabnya antara lain lingkungan yang asing,
cemas karena ketakutan, lingkungan yang kurang kondusif. `
5.2 Data Umum
5.2.1 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Anak Hospitalisasi Di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun
No Jenis Kelamin Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Laki-laki 15 47
2 Perempuan 17 53
Jumlah 32 100
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan
jenis kelamin diketahui dari 32 pasien, sebagian besar pasien yang
berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 17 (53%).
56
5.2.2 Karakteristik Berdasarkan Usia
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Umur Pasien Anak Hospitalisasi Di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun
No Usia Jumlah Presentase
(f) (%)
1 3 2 6
2 4 17 53
3 5 7 22
4 6 6 19
Jumlah 32 100
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan
umur diketahui dari 32 pasien, sebagian besar pasien yang berusia 4 th
yaitu berjumlah 17 pasien (55%). Sedangkan sebagian kecil umur pasien
pada usia 3 th yang berjumlah 2 pasien (6%).
5.2.3 Karakteristik Berdasarkan Cahaya
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Cahaya di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
No Kategori Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Terang 32 100
2 Redup 0 0
3 Gelap 0 0
Jumlah 32 100
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa seluruh pasien menyatakan bahwa
cahaya terang yaitu berjumlah 32 atau 100 %.
57
5.2.4 Karakteristik Berdasarkan Suhu
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Suhu di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
No Kategori Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Hangat 9 28
2 Panas 19 59
3 Dingin 4 13
Jumlah 32 100
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar suhu yang ada
diruang melati berjumlah 19 atau 59% dan sebagian kecil berjumlah 4
atau 13%.
5.2.5 Karakteristik Berdasarkan Suara
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Suara di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
No Kategori Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Bising 4 13
2 Biasa 27 84
3 Hening 1 3
Jumlah 32 100
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar suara yang ada
diruang melati yaitu biasa dengan jumalh 27 atau 84% dan sebagian kecil
yang menunjukkan bahwa suara hening berjumlah 1 atau 3%
58
5.2.6 Karakteristik Berdasarkan Kebersihan
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kebersihan di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
No Kategori Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Bersih 32 100
2 Tidak Bersih 0 0
Jumlah 32 100
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa kebersihan yang ada di ruang melati
dinyatakan bersih dengan jumlah 32 atau 100%.
5.3 Data Khusus
5.3.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan Biblioterapi
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Pre Test Kualitas tidur Anak Hospitalisasi
sebelum dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Tahun 2018
No Kualitas Tidur Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Baik 1 3
2 Cukup 16 50
3 Kurang 15 47
Jumlah 32 100
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa 32 pasien anak usia pra sekolah di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun sebelum diberikan biblioterapi
sebagian besar anak mengalami kualitas tidur cukup sejumlah 16 anak
59
(50%) dan 15 (47%) pasien anak yang mengalami kualitas tidur cukup
sedangkan anak yang mengalami kualitas tidur baik hanya 1 anak atau
3%
Tabel 5.8 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Pre Test Berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ ( Children’s Sleep Habits
Questionnaire ) Pada Anak Di Ruang Melati, Mei 2018
Komponen Pernyataan Hasil
1 Anak pergi tidur tepat 72% responden menyatakan
waktu setiap malam bahwa anak pergi tidur tepat
waktu pukul 21.00 WIB
Anak tertidur setelah 22% responden menyatakan
20 menit setelah bahwa anak tertidur setelah 20
berbaring menit
Anak tertidur sendiri 62% responden menyatakan
ditempat tidurnya bahwa anak tertidur sendiri
ditempat tidurnya
Anak tertidur dengan 53% responden menyatakan
digoyang-goyangkan/ bahwa anak tertidur dengan
digerakkan digoyang-goyangkan/
digerakkan
Anak memerlukan 47% responden menyatakan
benda khusus untuk bahwa anak memerlukan
tertidur (boneka, benda khusus untuk tertidur
selimut, guling,dll)
Anak membutuhkan 100 % responden menyatakan
orang tua untuk berada bahwa anak membutuhkan
di kamar orang tua untuk berada di
kamar
Anak menolak untuk 87% responden menyatakan
tidur saat jam tidur tiba bahwa anak menolak untuk
tidur saat jam tidur tiba
Anak ketakutan untuk 94% responden menyatakan
tidur dalam keadaan bahwa anak ketakutan untuk
gelap tidur dalam keadaan gelap
2 Anak tidur kurang 21% responden menyatakan
lebih berjumlah sama bahwa anak tidur kurang lebih
waktunya pada berjumlah sama waktunya 10-
perawatan dan dirumah 11 jam
60
Anak tidak bisa tenang 91% responden menyatakan
dan selalu bergerak bahwa anak tidak bisa tenang
gerak saat tidur dan selalu bergerak gerak saat
tidur
Anak mengeratkan gigi 13% responden menyatakan
saat tidur bahwa anak mengeratkan gigi
saat tidur
Anak mengorok keras 16% responden menyatakan
bahwa anak mengorok keras
Anak terbangun saat 22% responden menyatakan
malam dan berkeringat, bahwa anak terbangun saat
rewel dan tidak dapat malam dan berkeringat, rewel
ditenangkan dan tidak dapat ditenangkan
Anak tidur saat siang 72% responden menyatakan
hari bahwa anak tidur saat siang
hari , 2-3 jam
3 Anak sesekali 84% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak sesekali
hari terbangun saat malam hari
Anak lebih dari sekali 75% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak lebih dari sekali
hari terbangun saat malam hari
4 Anak terbangun sendiri 15% responden menyatakan
bahwa anak terbangun sendiri
Anak bangun dini hari 53% responden menyatakan
(atau lebih pagi dari bahwa anak bangun dini hari
yang seharusnya/ yg
diinginkan)
Anak terlihat kelelahan 28% responden menyatakan
saat siang hari bahwa anak terlihat kelelahan
saat siang hari
Anak tertidur saat 6% responden menyatakan
sedang terlibat dalam bahwa anak tertidur saat
aktivitas sedang terlibat dalam aktivitas
61
5.3.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Setelah Dilakukan Biblioterapi
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Post Test Kualitas tidur Anak
Hospitalisasi setelah dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
No Kualitas Tidur Jumlah Presentase
(f) (%)
1 Baik 16 50
2 Cukup 13 41
3 Kurang 3 9
Jumlah 32 100
Tabel 5.9 menunjukkan bahwa 32 pasien anak usia pra sekolah di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun setelah dilakukan biblioterapi
sebagian besar anak mengalami peningkatan dalam kualitas tidur yaitu 16
(50%) pasien, sedangkan 13 atau 41% pasien anak mengalami kualitas
tidur cukup dan yang mengalami kualitas tidur anak yang kurang
sejumlah 3 atau 9%.
Tabel 5.10 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Post Test Berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ ( Children’s Sleep Habits
Questionnaire ) Pada Anak Di Ruang Melati, Mei 2018
Komponen Pernyataan Hasil
1 Anak pergi tidur tepat 84% responden menyatakan
waktu setiap malam bahwa anak pergi tidur tepat
waktu pukul 20.00 WIB
Anak tertidur setelah 62% responden menyatakan
20 menit setelah bahwa anak tertidur setelah 20
berbaring menit
Anak tertidur sendiri 69% responden menyatakan
ditempat tidurnya bahwa anak tertidur sendiri
ditempat tidurnya
62
Anak tertidur dengan 31% responden menyatakan
digoyang-goyangkan/ bahwa anak tertidur dengan
digerakkan digoyang-goyangkan/
digerakkan
Anak memerlukan 47% responden menyatakan
benda khusus untuk bahwa anak memerlukan
tertidur (boneka, benda khusus untuk tertidur
selimut, guling,dll)
Anak membutuhkan 100 % responden menyatakan
orang tua untuk berada bahwa anak membutuhkan
di kamar orang tua untuk berada di
kamar
Anak menolak untuk 28% responden menyatakan
tidur saat jam tidur tiba bahwa anak menolak untuk
tidur saat jam tidur tiba
Anak ketakutan untuk 94% responden menyatakan
tidur dalam keadaan bahwa anak ketakutan untuk
gelap tidur dalam keadaan gelap
2 Anak tidur kurang 84% responden menyatakan
lebih berjumlah sama bahwa anak tidur kurang lebih
waktunya pada berjumlah sama waktunya 10-
perawatan dan dirumah 11 jam
Anak tidak bisa tenang 44% responden menyatakan
dan selalu bergerak bahwa anak tidak bisa tenang
gerak saat tidur dan selalu bergerak gerak saat
tidur
Anak mengeratkan gigi 13% responden menyatakan
saat tidur bahwa anak mengeratkan gigi
saat tidur
Anak mengorok keras 9% responden menyatakan
bahwa anak mengorok keras
Anak terbangun saat 16% responden menyatakan
malam dan berkeringat, bahwa anak terbangun saat
rewel dan tidak dapat malam dan berkeringat, rewel
ditenangkan dan tidak dapat ditenangkan
Anak tidur saat siang 88% responden menyatakan
hari bahwa anak tidur saat siang
hari , 2-3 jam
3 Anak sesekali 88% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak sesekali
hari terbangun saat malam hari
Anak lebih dari sekali 63% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak lebih dari sekali
hari terbangun saat malam hari
63
4 Anak terbangun sendiri 50% responden menyatakan
bahwa anak terbangun sendiri
Anak bangun dini hari 38% responden menyatakan
(atau lebih pagi dari bahwa anak bangun dini hari
yang seharusnya/ yg
diinginkan)
Anak terlihat kelelahan 9% responden menyatakan
saat siang hari bahwa anak terlihat kelelahan
saat siang hari
Anak tertidur saat 3% responden menyatakan
sedang terlibat dalam bahwa anak a nak tertidur saat
aktivitas sedang terlibat dalam aktivitas
5.4 Hasil Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh biblioterapi
terhadap kualitas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun.
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Pre - Post Test Kualitas tidur Anak
Hospitalisasi setelah dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018
N Mean Median SD Min- As%Cl P
Max Value
Pre 32 43.03 41.00 7.293 35-61 40.40 – 0,000
45.66
Post 60.44 60.50 8.413 40-73 57.40 –
63.47
Tabel 5.11 menunjukkan bahwa dari 32 pasien anak usia
prasekolah sebelum diberikan biblioterapi 43.03 atau 50% anak yang
mengalami kualitas tidur anak yang cukup dan 41.00 atau 41% anak
mengalami kualitas tidur kurang. Pada pengukuran kedua (setelah
dilakukan biblioterapi) sejumlah 60.44 pasien anak atau 50% mengalami
64
peningkatan kualitas tidur menjadi baik dan 60.50 atau 41% pasien
mengalami kualitas tidur cukup dan tidak ada anak yang mengalami
kualiats tidur kurang.
Dari hasil uji statistik menggunakan Paired T-Test di dapatkan
nilai ρ-value = 0,000 < ɑ = 0,05) maka H1 diterima dan H0 ditolak,
sehingga ada pengaruh yang signifikan antara bibilioterapi terhadap
kualiatas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota Madiun,
dengan tingkat kepercayaan (CI) sebesar 95%.
5.5 Pembahasan
5.5.1 Kualitas Tidur Anak Hospitaslisasi Sebelum Diberikan Biblioterapi
Berdasarkan tabel 5.7 dari hasil peneltiian yang merupakan
keadaan nyata tingkat kualiatas tidur pada anak di Ruang Melati RSUD
Kota Madiun . Data tersebut dijadikan acuan dalam pembahasan sebagai
hasil akhir dalam skripsi yang dinyatakan sebagai berikut.
Kualitas tidur pada anak usia prasekolah di Ruang Melati RSUD
Kota Madiun sebelum diberikan biblioterapi didominasi oleh tingkat
kualiatas tidur cukup, yaitu sejumlah 16 anak 50%. Hal tersebut
didukung oleh kuisioner yang menerangkan bahwa ketaatan anak untuk
pergi tidur tepat waktu ketika malam hari dan sebagian besar responden
tertidur sendiri dan sebagian besar responden bisa tertidur dengan hanya
digoyangkan atau digerakkan namun sebagian kecil anak yang hanya
tidur setelah 20 menit menurut pendapat penelitian ini disebabkan karena
65
lingkungan yang berbeda dan kondisi anak yang tidak sehat dan anak
juga menolak untuk tidur serta anak ketakutan untuk tidur dalam keadaan
gelap. Menurut Soetjiningsih (2000) ada beberapa faktor yang dialami
saat dirawat dirumah sakit salah satunya adalah rasa takut baik pada
dokter maupun perawat serta lingkungan dirumah tentu berbeda bentuk
dan suasananya dengan alat-alat yang ada diruang perawatan. Data
menunjukkan semua anak yang dirawat membutuhkan orang tua untuk
berada disampingnya. Menurut pendapat peneliti ini disebabkan oleh rasa
ketakutan dan kecemasan karena berada dalam lingkungan yang baru
pada saat kondisinya tidak baik. Karena hal tersebut anak membutuhkan
orang tua untuk berada disampingnya. Pada pasien anak reaksi
perpisahan adalah kecemasan karena berpisah dengan orang tua dan
kelompok sosialnya. Sesuai dengan teori menurut Ngastiyah (2011)
bahwa pasien anak umumnya takut pada dokter dan perawat.
Pada anak usia 3-6 tahun yang dirawat dirumah sakit akan
mempengaruhi jam tidurnya ketika tidak dirawat dirumah sakit, sebagian
kecil responden yang kuota tidur ketika dirawat atau tidak jumlahnya
kurang lebih sama namun sebagian besar responden mengalami kondisi
yang tidak bisa tenang dan selalu bergerak saat tidur . Menurut peneliti
ini bisa disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif yaitu ditandai
dengan panas akibat banyaknya pengunjung dan ruangan yang tidak
begitu luas. Sesuai dengan teori pada lingkungan bersih, bersuhu dingin
dan suasana tidak gaduh (tenang) dan penerangan yang yang tidak terlalu
66
terang akan membuat seseorang tidur dengan nyenyak, begitupun
sebaliknya jika lingkungan kotor, bersuhu panas, suasana ramai dan
penerangan yag sangat terang, dapat mempengaruhi kualitas tidurnya
(Asmadi, 2008). Dan sebagian kecil anak yang sedang tidur mengeratkan
gigi dan mengorok keras ketika tidur, menurut pendapat peneliti ini
disebakan oleh kebiasaan yang dilakukan disaat tidur dan adanya
gangguan kesehatan yang menyebabkan terhalangnya saluran pernafasan.
Dan sebagian kecil anak terbangun ketika malam hari dan berkeringat
sampai tidak bias dikendalikan, menurut pendapat peneliti ini disebabkan
oleh rasa takut atau rasa sakit yang dialami oleh responden. Namun
sebagian besar anak yang dirawat dirumah sakit melakukan tidur siang
menurut pendapat peneliti ini sesuai dengan kebutuhan tidur anak yang
ketika malam hari mengalami kesulitan untuk tidur. Menurut Asmadi
(2008) bahwa seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia
dapat tidur dengan nyenyak, sedangkan seseorang yang kondisinya
kurang baik (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak
nyenyak.
Pada pasien yang dirawat sebagian besar mengalami bangun saat
malam hari dan sebagian besar pula terbangun lebih dari sekali. Menurut
pendapat peneliti tidur yang berkualitas salah satunya ditandai dengan
kemampuan tertidur sepanjang malam. Jika responden mudah terbangun,
hal itu bukan hanya mengurangi jam tidur juga akan menyebabkan
pusing keesokan harinya. Pada responden yang sering terbangun hal ini
67
disebabkan oleh mimpi buruk karena rasa kecemasan dan ketakutan,
ketidaknyamannya tempat tidur akibat hospitalisasi. Menurut Asmadi
(2018) seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat
tidur dengan nyenyak, sedangkan untuk seseorang yang kondisinya
kurang sehat (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak
nyenyak.
Penurunan periode tidur yang diketahui dari sebagian kecil anak
terbangun sendiri sebelum jam bangunnya, menurut pendapat peneliti
yang disebabkan lingkungan atau rasa nyeri yang dirasakan oleh anak
dan menunjukkan bahwa kuota tidur tidak mencukup serta akan
mempengaruhi proses kesembuhan. Menurut Wulandari (2012) tidur
dapat berfungsi dalam pemeliharaan fungsi jantung dan selama tidur
tubuh akan melepaskan hormone pertumbuhan untuk memperbaiki dan
memperbaiki sel epitel khusus seperti sel otak. Dan sebagian besar anak
bangun lebih dini dan terlihat kelelahan saat siang hari. Menurut
pendapat peneliti anak yang bangun lebih dini yaitu mengalami jam tidur
yang memendek. Ini disebabkan oleh ketakutan dan kecemasan yang
dialami anak yang menimbulkan stress dan mempengaruhi jam tidurnya
memendek. Sesuai dengan teori menurut Ni Ketut Mendri (2016) bahwa
tinggal dirumah sakit dapat menimbulkan stress, bagi anak, remaja dan
keluarga mereka.
68
5.5.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah Diberikan Biblioterapi
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar kualitas
tidur anak hospitalisasi pada usia pra sekolah di Ruang Melati RSUD
Kota Madiun setelah diberikan biblioterapi didominasi oleh kualitas tidur
yang baik yaitu sejumlah 16 anak (50)%. Hal ini ditunjukkan oleh data
yang menjelaskan sebagian besar anak pergi tidur tepat waktu, kuota
tidur yang membaik, menurunkan angka kejadian anak bangun dini hari
dan dengan ini menunjukkan bahwa kondisi fisik anak lebih baik, anak
sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan, dan kecemasan yang
dirasakan berkurang. Menurut pendapat peneliti peningkatan kualitas
tidur pada anak yang dirawat dirumah sakit merupakan hal yang wajar
karena pada dasarnya anak yang sedang sakit memerlukan perhatian yang
lebih dari orang sekitar dan orang tua termasuk tenaga kesehatan yang
berperan langsung dengan anak. Menurut Ngastiyah (2005) bahwa kasih
sayang dari orang tuanya (ayah/ibu) akan menciptakan ikatan yang erat
(bounding) dan kepercayaan dasar (basic trust) serta menurut Ngastiyah
(2005) Peran perawat sebagai pengganti ibu yang memenuhi kebutuhan
pasien selama dirawat, perawat juga sebagai pendidik mengenai
kesehatan anak baik secara langsung atau kepada orang tuanya, karena
hal itu dapat mempengaruhi pertumbuhan. Menurut (Prasasti, 2005)
bibilioterapi dengan cara bercerita adalah salah satu terapi bermain yang
merupakan aktivitas sesuai dengan perkembangan emosi anak – anak.
Terapi bermain diberikan untuk mengurangi cemas yang dihadapi akibat
69
hospitalisasi. Dengan bermain pertumbuhan dan perkembangan anak
yang sakit tetap terus berkembang (Alimul, 2007). Didukung oleh
penelitian Subardiah (2009) yang menunjukkan bahwa permainan
teraupetik mampu menurunkan kecemasan.
5.5.3 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Di Ruang Melati RRSUD Kota Madiun
Berdasarkan tabel 5.11 hasil uji statistik menggunakan Paired T-
Test di dapatkan nilai ρ-value = 0,000 < ɑ = 0,05) maka H1 diterima dan
H0 ditolak, sehingga ada pengaruh yang signifikan antara bibilioterapi
terhadap kualiatas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun, dengan tingkat kepercayaan (CI) sebesar 95%.
Biblioterapi bagi kesehatan adalah dapat menjadi suatu metode
pengalihan perhatian atau distraksi dari rasa nyeri, dapat menambah ilmu
dan sebagai intervensi untuk seseorang mengatasi masalah pribadinya
yang dilakukan secara interaktif menekankan perkembangan,
pertumbuhan, dan pengembangan diri (Susanti, 2017) . Dengan metode
pengalihan rasa cemas, dan ketakutan yang dialami responden dapat
teratasi. Terapi dengan cara bercerita cukup efektif dalam meningkatkan
kualitas tidur anak sehingga dapat diterapkan secara rutin pada anak yang
mengalami gangguan tidur selama hospitalisasi. Melalui diberikan
biblioterapi dengan cara diberikan cerita – cerita yang membawa anak ke
alam fantasi, cerita sebagai penghantar tidur anak, cerita mengandung
70
hiburan sehingga akan menimbulkan rasa tenang dan membuat anak
menjadi rileks serta mengalihkan perhatiannya dan melepaskkan rasa
ketakutan oleh lingkungannya, kecemasan (Yuniarti, 2013).
Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Yuniarti (2013)
tentang pengaruh terapi bercerita terhadap kualitas tidur anak usia pra
sekolah yang menjalani hospitalisasi diruangan perawatan anak RSUP
Sanglah Denpasar bahwa ada pengaruh signifikan antara kualitas tidur
sebelum dan sesudah diberikan terapi bercerita dengan p value ≤ 0,05 .
Hasil dari penelitian ini sama dengan penelitian dari Yuniarti yaitu
didukung oleh peran dari orang tua yang selalu menjaga dan ada untuk
anaknya yang diraat dirumah sakit.
Berdasarkan penjelasan diatas maka pemberian terapi biblio perlu
dilakukan karena untuk meningkatkan kualitas tidur anak usia 3-6 tahun
yang menjalani rawat inap dirumah sakit. Selain itu anak yang sedang
menjalani perawatan dirumah sakit hendaknya diberi perhatian yang
lebih dari orang tau dan lingkungannya, untuk menunjang proses
kesembuhan.
71
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta diuraikan
pada pembahasan di bab 5, maka penulis dapat memberikan beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
1. Sebelum dilakukan biblioterapi, sebagian besar anak sejumlah
16 anak (50%) mengalami kualitas tidur yang cukup.
2. Setelah dilakukan biblioterapi, sebagian besar anak sejumlah 16
anak (50%) mengalami kualitas tidur yang baik.
3. Ada pengaruh biblio terapi terhadap kualitas tidur anak
hospitalisasi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun
6.2 Saran
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis ingin
menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi Perawat Rumah Sakit
Bagi perawat yang bekerja di rumah sakit khusunya yang
bertugas diruang anak, diharapkan untuk melakukan tugasnya
dengan ramah agar pasien anak tidak merasa takut oleh perawat
dan biblioterapi ini dapat dijadikan alternatif terapi untuk
meningkatkan kualitas tidur akibat hospitalisasi pada anak usia pra
72
sekolah dan memberikan pengetahuan bahwa biblioterapi perlu
dilaksanakan untuk mendukung proses penyembuhan. Selain itu
ruang anak dapat menyediakan pojok baca untuk pasien agar
menambah ilmu dengan buku sesuai dengan usia peserta sebagai
pengalihan rasa jenuh atau sakit.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan untuk menambah referensi yang ada
dan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa di bidang
keperawatan anak khususnya mahasiswa program studi ilmu
keperawatan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai data dasar dan pembanding untuk
penelitian selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang
berhubungan dengan biblioterapi dalam mengatasi kualitas tidur
pada anak akibat hospitalisasi.
4. Bagi Orang Tua
Untuk meningkatkan kualitas tidur anak dapat dilakukan
biblioterapi dengan ditunjang oleh lingkungan yang kondusif.
Biblioterapi juga dapat dilakukan dirumah atau dirumah sakit
ketika anak mengalami gangguan tidur.
73
DAFTAR PUSTAKA
Apriliawati, Anita. ( 2011 ), Pengaruh Biblioterapi Terhadap Tingkat Kecemasan
Anak Usia Sekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Di Rumah Sakit Islam
Jakarta. [Link] Diakses 15
Desember 2017
Asmadi. ( 2008 ), Teknik Prosedur Keperawatan : Konsep Dasar Keperawatan,
Jakarta : Salemba Medika
Eliasa, E.I.(n.d.). Biblioterapi sebagai sebuah metode tindakan yang bermakna.
UNY. [Link] . Diakses 15 Desember 2017
Hartini, Sunarti, Siti, dan Sotoshi. ( 2017 ), Analisis Item dan Konsistensi Internal
Anak Anak Sleep Habit Questionnaire ( CSHQ ) Di Versi Indonesia.
[Link] . Diakses 02 Februari 2018
Herlina. ( 2013 ). Bibliotherapy: Mengatasi Masalah Anak dan Remaja Melalui
Buku. Bandung : Pustaka Cendekia Utama
Hidayat, Aziz, Alimul dan Uliyah, Musrifatul. ( 2016 ), Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika
Kurniawan, Arif ( 2008 ) , Konsep Hospitalisasi. Jakarta : Gramedia
Mendri, Ni Ketut dan Prayogi, Agus, Sarwono. ( 2017 ), Asuhan Keperawatan
Pada Anak Sakit dan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta : Gramedia
Mubarak, Iqbal, Lilis, Joko. ( 2015 ), Buku Ajar Ilmu Kperawatan Dasar. Malang
: Salemba Medika
Ngastiyah. ( 2005 ), Perawatan Anak Sakit ( Edisi 2 ). Jakarta : ECG
Oktiawati, Khodijh, Ikawati, Rizki. ( 2017 ), Teori dan Konsep Keperawatan
Pediatrik. Jakarta : EGC
Pilliteri, Adele. ( 2002 ), Buku Saku Asuhan Ibu & Anak. Jakarta : EGC
Supayo, Yossy. ( 2017 ), Bagaimana Menerapkan Biblioterapi.
[Link] . Diakses tanggal 15 Desember 2017
Susanti, ( 2017 ), Biblioterapi Untuk Pengasuhan. Bandung : Noura Publising
74
Utami, Yuli. ( 2014 ), Dampak Hospitalisasi Terhadap Perkembangan Anak.
[Link] . Diakses tanggal 15 Desember 2017
Yuniartini. Widasatra, Utami. ( 2013 ), Pengaruh Terapi Bercerita Terhadap
Kualitas Tidur Anak Usia Prasekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Di
Ruangan Perawatan Anak RSUP Sanglah Denpasar. [Link]
[Link] . Diakses 15 Desember 2017
75
LAMPIRAN – LAMPIRAN
76
LAMPIRAN 1
77
LAMPIRAN 2
78
LAMPIRAN 3
79
LAMPIRAN 4
80
LAMPIRAN 5
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(Informed Consent)
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Umur :
Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan
kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
yang bernama Aprilia Dwi Solehah “Pengaruh Biblioterapi terhadap kualitas tidur
anak hospitalisasi di RSUD Kota Madiun” saya mengetahui bahwa informasi
yang akan saya berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di
Indonesia. Untuk itu saya akan memberikan data yang diperlukan dengan
sebenar-benarnya. Demikian pernyataan ni saya buat untuk dipergunakan sesuai
keperluan.
Madiun, Juni 2018
Saksi Responden
( Peneliti ) (......................................)
81
LAMPIRAN 6
KISI – KISI KUISIONER KEBIASAAN TIDUR PADA ANAK
NO PERTANYAAN NOMOR SOAL JUMLAH
1. Jam tidur 1–8 8 Soal
2. Kebiasaan tidur 9 – 14 6 Soal
3. Terbangun saat malam hari 15 – 16 2 Soal
4. Bangun tidur 17 – 20 4 Soal
82
LAMPIRAN 7
KUISIONER KEBIASAAN TIDUR PADA ANAK
Umur :
Tinggal dengan :
Lingkungan :
Bersih : Tidak bersih :
Suhu :
Dingin : Panas : Hangat :
Suara :
Bising : Biasa : Hening :
Cahaya :
Gelap : Terang : Redup :
Jam tidur
Tulislah waktu biasa anak tidur : malam hari : : WIB
NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK
(4) KADANG ( 2 ) PERNAH
(3) (1)
1. Anak pergi tidur
tepat waktu setiap
malam
2. Anak tertidur
setelah 20 menit
setelah berbaring
3. Anak tertidur
sendiri ditempat
tidurnya
4. Anak tertidur
dengan digoyang-
goyangkan/
83
digerakkan
5. Anak memerlukan
benda khusus
untuk tertidur
(boneka, selimut,
guling,dll)
6. Anak
membutuhkan
orang tua untuk
berada di kamar
7. Anak menolak
untuk tidur saat
jam tidur tiba
8. Anak ketakutan
untuk tidur dalam
keadaan gelap
Kebiasaan tidur
Tuliskan jumlah waktu tidur anak biasanya setiap hari jam menit
(termasuk tidur siang)
NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK
(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
9. Anak tidur kurang
lebih berjumlah
sama waktunya
pada perawatan
dan dirumah
10. Anak tidak bisa
tenang dan selalu
bergerak gerak
saat tidur
11. Anak mengeratkan
gigi saat tidur
12. Anak mengorok
keras
84
13. Anak terbangun
saat malam dan
berkeringat, rewel
dan tidak dapat
ditenangkan
14. Anak tidur saat
siang hari
Tulislah beberapa
menit anak
biasanya tidur
siang jam
menit
Terbangun saat malam hari
NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK
(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
15. Anak sesekali
terbangun saat
malam hari
16. Anak lebih dari
sekali terbangun
saat malam hari
Bangun tidur
Tulislah pukul berapa anak bangun pagi jam menit
NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK
(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
17. Anak terbangun
sendiri
18. Anak bangun dini
hari (atau lebih
pagi dari yang
85
seharusnya/ yg
diinginkan)
19. Anak terlihat
kelelahan saat
siang hari
20. Anak tertidur saat
sedang terlibat
dalam aktivitas
Penyebab :
Keterangan :
Selalu :4
Kadang – kadang : 3
Jarang :2
Tidak pernah :1
Baik : jika skor jawaban 60 - 100
Cukup : jika skor jawaban 40 - 60
Kurang : jika skor jawaban 1 - 40
By Owens [Link] 2000 dari USA
86
LAMPIRAN 8
SOP ( STANDART OPERASIONAL PROSEDUR )
BIBLIOTERAPI
Pengertian Biblioterapi adalah terapi buku yang dapat digunakan
untuk seseorang yang mengalami masalah emosional dan
sakit mental.
Tujuan Memanfaatkan media buku, literatur dan/atau media audio,
visual, audio visual untuk menfasilitasi aktivitas terapi,
membimbing diskusi, serta menunjukkan perkembangan
berfikir individu.
Prosedur 1. Fase Pra Interaksi
Mempersiapkan beberapa buku yang akan
digunakan untuk terapi
Pastikan lingkungan yang kondusif
Sertakan orang tua klien untuk
mendampingi waktu dilakukan terapi
Persetujuan dilakukan terapi biblio / inform
consent
2. Fase Orientasi
Memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan dari terapi ini
Dan menjelaskan tentang kontrak terapi (
waktu, tempat, dan 3X terapi )
87
3. Fase Kerja
Ajukan pertanyaan kepada klien untuk
pemilihan buku yang sesuai dengan apa
yang diinginkan klien.
Atur posisi klien senyaman mungkin
Melakukan terapi cerita kepada anak selama
10 menit
4. Fase Terminasi
Anak diharapkan untuk menceritakan
kembali isi dari cerita yang sudah diberikan
Beri tahu pesan moral yang ada pada buku
tersebut
Menanyakan bagaimana perasaan klien
setelah dilakukan terapi
Membuat kontrak untuk terapi selanjutnya
Berpamitan
88
LAMPIRAN 9
89
LAMPIRAN 10
90
LAMPIRAN 11
91
LAMPIRAN 12
ɑ . Uji Normalitas
b. Uji Paired T-Test
92
LAMPIRAN 13
Hasil Uji Validitas Variabel Kebiasaan Tidur Pada Anak (CSHQ)
No r hitung Syarat Keterangan
1. 0,825 >0,349 Item soal valid
2. 0,864 >0,349 Item soal valid
3. 0,788 >0,349 Item soal valid
4. 0,855 >0,349 Item soal valid
5. 0,644 >0,349 Item soal valid
6. 0,780 >0,349 Item soal valid
7. 0,915 >0,349 Item soal valid
8. 0,848 >0,349 Item soal valid
9. 0,747 >0,349 Item soal valid
10. 0,677 >0,349 Item soal valid
11. 0,856 >0,349 Item soal valid
12. 0,791 >0,349 Item soal valid
13. 0,782 >0,349 Item soal valid
14. 0,871 >0,349 Item soal valid
15. 0,874 >0,349 Item soal valid
16. 0,793 >0,349 Item soal valid
17. 0,766 >0,349 Item soal valid
18. 0,586 >0,349 Item soal valid
19. 0,857 >0,349 Item soal valid
20. 1 >0,349 Item soal valid
93
LAMPIRAN 14
94