100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
172 tayangan113 halaman

Pengaruh Biblioterapi pada Tidur Anak

Ringkasan singkat dalam 3 kalimat: Skripsi ini membahas pengaruh terapi biblioterapi terhadap kualitas tidur anak usia pra sekolah yang dirawat inap di rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan terapi biblioterapi berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kualitas tidur anak. Dengan demikian, terapi biblioterapi efektif digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur anak selama perawatan di rumah sakit.

Diunggah oleh

Fina handayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
172 tayangan113 halaman

Pengaruh Biblioterapi pada Tidur Anak

Ringkasan singkat dalam 3 kalimat: Skripsi ini membahas pengaruh terapi biblioterapi terhadap kualitas tidur anak usia pra sekolah yang dirawat inap di rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan terapi biblioterapi berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kualitas tidur anak. Dengan demikian, terapi biblioterapi efektif digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur anak selama perawatan di rumah sakit.

Diunggah oleh

Fina handayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR ANAK


HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA MADIUN

Diajukan untuk memenuhi


Salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])

OLEH:

APRILIA DWI SOLEHAH

NIM : 201402004

PRODI S1 KEPERAWATAN

STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN

2018

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Skripsi ini telah disetujui

oleh pembimbing dan telah dinyatakan layak mengikuti Ujian Sidang.

SKRIPSI

PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR


ANAK HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA
MADIUN

Menyetujui, Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II

Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link] Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)


NIS. 20160139 NIS. 20160130

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Ilmu Keperawatan

Mega Arianti P , [Link].,Ns, [Link]


NIS. 20130092

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji Tugas Akhir (SKRIPSI)

Dan Ditanyakan Telah Memenuhi Sebagian Syarat Untuk Memperoleh Gelar

([Link])

Pada Tanggal : .....................................

Dewan Penguji :

1. Ketua Dewan Penguji

Sesaria Betty M. [Link].,Ns [Link]

NIS. 20150124 : ................................................

2. Penguji 1

Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link]

NIS. 20160239 : ................................................

3. Penguji 2

Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)

NIS. 20160130 : ................................................

Mengesahkan

STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Ketua,

Zaenal Abidin, SKM.,[Link] (Epid)

NIS. 20160130

iii
LEMBAR PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur “Alhamdulillah”, ku persembahkan karya


kecilku ini untuk orang-orang yang kusayangi :
 Ayah ibu tercinta, motivator terbesar dalam hidupku yang tak pernah lelah
mendo’akan dan menyanyangiku, atas semua pengorbanan dan kesabaran
mengantarkanku sampai kini. Tak pernah cukup ku membalas ayah ibu pada
ku. April tidak akan bisa sampai disini tanpa ayah dan ibu
 Saudara ku , terima kasih untuk kakak ku tersayang sudah banyak membantu
dalam kelancaran ku untuk menyelesaikan tugas-tugas ku. Akan ku balas
kebaikan mu suatu saat nanti.
 Keluarga besar, keluarga adalah tempat berbagi pengalaman untuk kedepan
menjadi lebih baik. Terima kasih untuk keluarga besar ku yang sudah banyak
memberikan motivasi dan memberi ku semangat untuk membahagiakan ayah
dan ibu
 Sahabat - sahabat seperjuangan ku “4Dimentions” terima kasih untuk waktu
yang sangat singkat ini, dari semester awal sampai sekarang kalian selalu ada
dalam keadaan suka maupun duka, tangis canda dan tawa selalu menemani
perjalanan kita dan semua teman-teman yang tak mungkin untuk disebutkan
satu persatu , for you all I miss you forever.
 Terima kasih untuk seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya yang
selalu mendukung saya dalam menyelesaikan tugas-tugas saya.

“Keberhasilan bukanlah berapa banyak yang kita dapatkan tetapi berapa


banyak yang dapat kita berikan serta berarti untuk orang lain”

iv
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Aprilia D Solehah

NIM : 201402004

Prodi : S1 Keperawatan

Dengan ini menyatakan bahwa SKRIPSI ini adalah hasil pekerjaan saya

sendiri dan didalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan dalam

memperoleh gelar Sarjana di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan

lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian baik yang sudah

maupun belum/tidak dipublikasikan, sumbernya dijelaskan dalam tulisan dan

daftar pustaka.

Madiun, Juni 2018

Aprilia D Solehah

NIM. 201402004

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Aprilia D Solehah

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Tempat dan Tanggal Lahir : Madiun, 03 April 1996

Alamat : Desa Tiron RT 17 RW 06 Jl. Cokro

Kembang 02 Kec/Kab Madiun

Email : Apriliasolehah@[Link]

No. Hp : 081231482138

Riwayat Pendidikan : TK Desa Tiron

SDN Tiron 01

SMPN 01 Nglames

SMAN 01 Nglames

Riwayat Pekerjaan : Belum pernah bekerja

vi
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kenikmatan, berupa
kenikmatan iman, nikmat islam, dan nikmat kesempatan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas
Tidur Pada Anak Hospitalisasi”. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Keperawatan ([Link])
STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun.

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana


sebagaimana yang diharapkan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang
telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis. Bersama ini
penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. dr. Resti Lestanti, [Link] selaku Direktur Rumah Sakit yang telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian di RSUD
Kota Madiun.
2. Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid), selaku Ketua STIKes Bhakti Husada
Mulia Madiun.
3. Mega Arianti P, [Link].,Ns., [Link], selaku Ketua Program Studi
Keperawatan yang telah memberikan kesempatan, fasilitas untuk mengikuti
dan menyelesaikan pendidikan di Prodi Keperawatan
4. Asrina Pitayanti [Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing I telah meluangkan
banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid) selaku pembimbing II yang dengan
kesabaran dan ketelitiannya dalam membimbing, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
6. Bapak beserta ibu tercinta, yang telah mendukung dan selalu memberikan
motivasi kepada saya .
7. Dan semua pihak dari saudara dan teman-teman yang sudah membantu dalam
terselesaikannya skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu..

vii
Semoga Allah SWT membalas budi baik serta ketulusan yang telah mereka

berikan selama ini pada peneliti. Peneliti menyadari dalam menyelesaikan skripsi

ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga diharapkan adanya kritik dan saran

yang sifatnya membangun. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat

bagi pembaca dan kita semua.

Madiun, Juni 2018

Aprilia Dwi Solehah


NIM. 201402004

viii
Program Studi Keperawatan

Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun 2018

ABSTRAK

PENGARUH BIBLIOTERAPI TERHADAP KUALITAS TIDUR ANAK


HOSPITALISASI DI RUANG MELATI RSUD KOTA MADIUN
Aprilia Dwi Solehah
Rawat inap pada anak-anak akan membawa beberapa perubahan
ketegangan psikologis dan kecemasan yang mengarah pada gangguan kualitas
tidur anak. Terapi ini dilakukan untuk mengurangi ketegangan psikologis yaitu
dengan bercerita. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
biblioterapi terhadap kualitas tidur pada anak usia pra sekolah (3-6 tahun) di
Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimental dengan
rancangan one-group pra-test post-test tanpa desain kelompok kontrol. Populasi
dalam penelitian ini sejumlah 32 pasien anak. Tehnik sampling yang digunakan
adalah puposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner The
Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) yang sudah divaliditas dan
reabilitaskan. Analisa data menggunakan uji Paired T-Test.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa kualitas tidur baik dengan (50%).
Hasil analisa Paired T-Test diperoleh nilai signifikansi P Value = 0,000 < ɑ 0,05,
artinya ada pengaruh terapi biblio yang diberikan untuk meningkatkan kualitas
tidur anak hospitalisasi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun.
Terapi Biblio yang dilakukan sebagai intervensi dapat sebagai metode
distraksi untuk meningkatkan kualitas tidur pada anak yang menjalani perawatan
dirumah sakit. Keefektifan biblioterapi dapat ditunjang dengan tenaga kesehatan
perawat serta peran serta orang tua. Dengan demikian diharapkan tenaga
kesehatan khususnya perawat memberikan terapi biblio untuk membantu
meningkatkan kualitas tidur pada anak usia pra sekolah (3-6 tahun) yang
mengalami hospitalisasi.

Kata kunci : Biblioterapi, kualitas tidur, anak hospitalisasi

ix
Nursing Program

Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun 2018

ABSTRACK

The hospitalization in children will bring some changes in the


psychological tension and anxiety taht affects to the child sleep quality
disturbance. The therapy tah can we do to decreasing the psychological tension is
storytelling. The aim of study is to analyze the influence of bibliotherapy in sleep
quality to children who are undergoing hospitalization.
This research is a pre-experimental study (pre-test and post-test without
control group design). The population in this study amounted to 32 pediatric
patients. Method of sampling in this study is purposive sampling technique. The
data was collected using a questionnaire interview and observation of The
Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) which has been tested the validity
dan reability. The data were analyzed using Paired T-Test with a significant level
P>0,05
The results of this study note that good sleep quality (50%). After
analyzing by Paired T-Test, obtained value of significance P Value = 0,000 < ɑ
0,05. Meaning there is influence of bibliotherapy taht given to improve the sleep
quality of hospitalization children in Melati Room of RSUD Madiun City .
Bibliotherapy performed as an intervetion can be a method of distraction
to improve the quality of sleep in children undergoing hospitalization. The
effectiveness of bibliotherapy can be supported by nurse health personel as well as
the role of parents. It is expected the health workers, especially nurses provide
bibliotherapy to help improve sleep quality of preschool age (3-6 years) who
experienced a hospitalization.

Key word : Bibliotherapy, sleep quality, child hospitalization

x
DAFTAR ISI

Halaman Judul..........................................................................................................i
Lembar Persetujuan.................................................................................................ii
Lembar Pengesahan................................................................................................iii
Lembar Persembahan.........................................................................................….iv
Halaman Pernyataan.....................................................................................…...….v
Daftar Riwayat Hidup.............................................................................................vi
Kata Pengantar..................................................................................................….vii
Abstrak....................................................................................................…………ix
Abstract....................................................................................................…………x
Daftar Isi............................................................................................................….xi
Daftar Tabel............................................................................................…..........xiv
Daftar Gambar....................................................................................................…xv
Daftar Lampiran....................................................................................................xvi
Daftar Istilah........................................................................................................xvii
Daftar Singkatan.................................................................................................xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................5
1.3 Tujuan Masalah..........................................................................….......5
1.3.1 Tujuan Umum.................................................................…......5
1.3.2 Tujuan Khusus...............................................................….......5
1.4 Manfaat Penelitian........................................................................…....6
1.4.1 Teoritis......................................................................................6
1.4.2 Praktis.......................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hospitalisasi.............................................................................7
2.1.1 Pengertian Hospitalisasi............................................................7
2.1.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Reaksi Anak
Terhadap Sakit dan Hospitalisasi..............................................8
2.1.3 Reaksi Anak Terhadap Proses Hospitalisasi Sesuai
Tahap Usia.................................................................................9
2.1.4 Efek Hospitalisasi Terhadap Anak..........................................13
2.1.5 Dampak Hospitalisasi..............................................................14
2.1.6 Keuntungan Hospitalisasi.........................…...........................15
2.2 Konsep Kualitas Tidur
2.2.1 Pengertian Kualitas Tidur........................................................15
2.2.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tidur.............16
2.2.3 Jenis – Jenis Tidur...................................................................17
2.2.4 Fungsi Tidur............................................................................20
2.2.5 Manfaat Tidur Untuk Kesehatan.............................................20
2.2.6 Gangguan Tidur.......................................................................21
2.2.7 Indikator Kualitas Tidur...............................….......................23

xi
2.2.8 Penanganan Kualitas Tidur......................................................24
2.3 Konsep Biblioterapi.............................................................................25
2.3.1 Pengertian Biblioterapi............................................................25
2.3.2 Tujuan Biblioterapi.........................................................…....28
2.3.3 Manfaat Biblioterapi........................................….........…......28
2.3.4 Teknik – Teknik Biblioterapi...............…...............................28
2.3.5 Pengaruh Biblioterapi.............................................….............29
2.3.6 Terapi Berkisah.......................................................................30
2.3.7 Tipe – Tipe Biblioterapi..........................................................30
2.3.8 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi
Keberhasilan Biblioterapi.......................................................34
2.4 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi.......................................................................................34
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep................................................................................36
3.2 Hipotesis..............................................................................................37
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian................................................................................38
4.2 Populasi dan Sampel...........................................................................39
4.2.1 Populasi...................................................................................39
4.2.2 Sampel.....................................................................................39
4.3 Teknik Sampling.................................................................................40
4.3 Kerangka Kerja Peneliti......................................................................40
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.....................................42
4.5.1 Identifikasi Variabel................................................................42
4.5.2 Definsi Operasional.................................................................43
4.6 Instrumen Penelitian............................................................................44
4.7 Uji Validitas dan Reabilitas................................................................44
4.8 Lokasi dan Waktu Peneliti..................................................................45
4.9 Prosedur Pengumpulan Data...............................................................46
4.10 Teknik Analisis Data...........................................................................47
4.10.1 Teknik Pengolahan Data..........................................................47
4.10.2 Analisis Data...........................................................................50
4.11 Etika Penelitian...................................................................................52
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum................................................................................55
5.2 Data Umum.........................................................................................56
5.2.1 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin...............................56
5.2.2 Karakteristik Berdasarkan Usia...............................................57
5.2.3 Karakteristik Berdasarkan Cahaya..........................................57

xii
5.2.4 Karakteristik Berdasarkan Suhu..............................................58
5.2.5 Karakteristik Berdasarkan Suara.............................................58
5.2.6 Karakteristik Berdasarkan Kebersihan....................................59

5.3
Data Khusus........................................................................................59
5.3.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................59
5.3.2 Kualiatas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................62
5.4 Hasil Analisa Bivariat............................................................….........64
5.5 Pembahasan...........................................................................…..........65
5.5.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan
Biblioterapi..............................................................................65
5.5.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah diberikan
Biblioterapi..............................................................................69
5.5.3 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi Di Ruang Melati RSUD Kota Madiun...............70
BAB 6 PENUTUP
6.1 Kesimpulan.........................................................................................72
6.2 Saran...................................................................................................73

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................74
LAMPIRAN...........................................................................................................76

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Desain Penelitian............................................................................38


Tabel 4.2 Definisi Operasional Pengaruh Biblioterapi Kualitas Tidur
Anak Hospitalisasi.........................................................................43
Tabel 4.3 Hasil Uji Reabilitas Kuisioner Kebiasaan Tidur Pada Anak.........45
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Anak Hospitalisasi Di Ruang
Melati RSUD Kota Madiun
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Umur Anak Hospitalisasi Di Ruang Melati
RSUD Kota Madiun
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Cahaya Di Ruang Melati......................
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Suhu Di Ruang Melati................
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Suara Di Ruang Melati................
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kebersihan Di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun.....................
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Pre Test Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Sebelum Dilakukan Biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun...................
Tabel 5.8 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Pre Test berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ Pada Anak Di Ruang Melati...
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Post Test Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
Setelah Dilakukan Biblioterapi Di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun................
Tabel 5.10 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Post Test Berdasarkan 4
Komponen Model Kuisioner CSHQ Pada Anak Hospitalisasi
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Pre – Post Test Kualitas Tidur Anak
Hospitalisasi Setelah Dilakukan Biblioterapi di Ruang Melati
RSUD Kota Madiun................

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas


Tidur Pada Anak Hospitalisasi.......................................................36
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Biblioterapi
Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi.................................41

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Ijin Pengambilan Data


Lampiran 2 Surat Ijin Uji Validitas dan Reabilitas Kuisioner
Lampiran 3 Surat Keterangan Penelitian
Lampiran 4 Laporan Penelitian / Survey
Lampiran 5 Surat Pernyataan Persetujuan
Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
Lampiran 7 Kuesioner Penelitian
Lampiran 8 Standart Operasional Prosedur (SOP) Pengaruh
Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi
di Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Lampiran 9 Lembar Observasi
Lampiran 10 Buku Cerita yang akan digunakan untuk terapi
Lampiran 11 Lembar Konsul
Lampiran 12 Hasil Olah Data
Lampiran 13 Hasil Uji Validitas Reabilitas Kuisioner CSHQ
Lampiran 14 Dokumentasi

xvi
DAFTAR ISTILAH

Adrenocorticotropic hormone (ACTH) :Hormon yang dihasilkan oleh lobus


anterior dalam kelenjar hipofisis atau
biasa disebut dengan kelnjar pituitari
yang terdiri dari beberapa lobus.
Bibliotherapy :Terapi Buku
Bounding :Kasih Sayang
Children Sleep Habits Quisionarre :Kuisioner Kualitas Tidur Anak
Initial Insomnia :Ketidakmampuan untuk jatuh tidur
atau mengawali tidur
Intermitten Insomnia :Ketidakmampuan tetap tidur karena
selalu terbangun pada malam hari
Terminal Insomnia :Ketidakmampuan untuk tidur
kembali setelah bangun tidur pada
malam hari
Stranger Anxiety :Kecemasan pada orang lain

xvii
DAFTAR SINGKATAN

ACTH : Adrenocorticotropic
KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia
CSHQ : Children Sleep Habits Quisionarre
NREM : Non – Rapid Eye Movement
REM : Rapid Eye Movement
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
STIKES : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
WHO : World Health Organitation

xviii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hospitalisasi merupakan cara efektif untuk penyembuhan anak sakit. Bagi

anak hospitalisasi merupakan suatu pengalaman yang mengancam, kesepian dan

membingungkan sehingga anak bisa mengalami stress. Hospitalisasi merupakan

stressor yang besar harus dihadapi setiap orang, khususnya pada anak karena

lingkungan yang asing, kebiasaan yang berbeda atau perpisahan dengan keluarga

(Aizah, 2014). Manfaat hospitalisasi anak adalah membantu perkembangan orang

tua dan anak dengan cara memberi kesempatan orang tua mempelajari tumbuh-

kembang anak dan reaksi anak terhadap stressor yang dihadapi selama dalam

perawatan di rumah sakit. Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang

tua. Untuk itu, perawat dapat memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar

tentang penyakit anak, terapi yang didapat, dan prosedur keperawatan yang

dilakukan pada anak, tentunya sesuai dengan kapasitas belajarnya, untuk

meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan memberi

kesempatan pada pada pasien untuk mengambil keputusan, tidak bergantung pada

orang lain dan percaya diri, dan fasilitas klien untuk tetap menjaga sosialisasinya

dengan sesama klien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Berikan

kesempatan padanya untuk saling kenal dan membagi pengalamannya. Demikian

juga interaksi dengan petugas kesehatan dan keluarga harus difasilitasi oleh

1
perawat karena selama dirumah sakit klien dan keluarga mempunyai kelompok

yang baru (Supartini dalam Hastuti, 2015)

Hospitalisasi akan membawa beberapa perubahan psikis pada anak.

Keadaan stres yang dialami anak akan menimbulkan reaksi tubuh dalam

menghantarkan rangsangan keatas melalui batang otak dan akhirnya menuju

puncak median hipotalamus. Selanjutnya hipotalamus akan merangsang kelenjar

hipofisis anterior melepaskan Adrenocorticotropic hormone (ACTH) yang

berperan dalam pelepasan kostisol secara cepat. Pelepasan kostisol menyebabkan

rangsangan susunan saraf pusat otak yang berakibat tubuh menjadi waspada dan

sulit tidur (Guyton dan Hall, 2007). Kalau hal tersebut berlanjut akan berdampak

pada kesehatan, sakit yang tak kunjung sembuh, dapat memperparah sakit yang

diderita dan akan menyebabkan proses hospitalisasi semakin lama.

Biblioterapi sangat efektif dikenalkan melalui berqisah atau bercerita,

dengan bercerita kepada anak dapat membantu untuk mengurangi penyebab

stressor, misal cemas, rasa takut, lingkungan yang berbeda. Dengan diberikan

biblioterapi membuat pikiran anak akan menjadi lebih rileks, anak akan merasa

tenang, dengan begitu kualitas tidur anak akan membaik.

Menurut survey American National Sleep Foundation (2006) dalam Utami,

201 menyatakan bahwa selama menjalani hospitalisasi sebanyak 40% orang tua

dan perawat anak yang ikut dalam survey tersebut menyatakan bahwa bayi dan

batita mereka tidur kurang dari 12-15 jam/hari. Anak-anak mereka mengalami

masalah tidur setiap malam dikeluhkan oleh orang tua anak sebanyak 40% dan

sebanyak 64% mengatakan bahwa bayi, anak prasekolah dan anak sekolah mereka

2
tidak dapat mencapai kuota tidur seperti yang direkomendasikan. Disamping itu,

25% orang tua dan perawat anak yang disurvey mengatakan bahwa bayi, anak pra

sekolah dan anak sekolah mereka tampak mengantuk atau lelah pada siang hari

serta 34% orang tua percaya bahwa pola tidur anak bisa mengganggu seluruh

keluarga.

Berdasarkan survei dari WHO pada tahun 2008 pada Sofa, 2012 hampir

80% anak mengalami perawatan di rumah sakit, sedangkan di Indonesia

diperkirakan 35 per 1000 anak menjalani hospitalisasi (Sumaryoko, 2008 dalam

Anita, 2011) dan berdasarkan survei kesehatan ibu dan anak tahun 2010

didapatkan hasil bahwa dari 1.425 anak mengalami dampak hospitalisasi dan

33,2% diantaranya mengalami dampak hospitalisasi berat, 46% mengalami

dampak hospitalisasi sedang dan 22,5% mengalami dampak hospitalisasi ringan

(Rahma & Puspasari, 2010). Di Indonesia tingkat prevalensi gangguan tidur pada

anak sebesar 44,2%. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh

Yuniartini (2013) di RSUP Sanglah Denpasar dari 15 orang tua didapatkan 11

orang tua yang mengeluh anaknya yang berusia prasekolah mengalami gangguan

pemenuhan kebutuhan tidur selama masa perawatan di rumah sakit.

Data dari study pendahuluan pada tanggal 19 Desember 2017 di RSUD

Kota Madiun. Perawat memberikan informasi tentang data anak yang di rawat

inap selama 6 bulan terakhir ini sebanyak 649 anak yang dirawat di RSUD Kota

Madiun. Peneliti juga melakukan wawancara kepada 10 orang tua. Peneliti

memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan proses hospitalisasi tentang

apakah anak bapak/ibu sering bangun ketika malam hari, 8 dari 10 orang tua

3
mengatakan sering bangun ketika malam hari yang disebabkan oleh ingin ke

kamar mandi, nyeri yang dirasakan anak, adanya suntikan tambahan dan

lingkungan yang ramai. Lalu peneliti juga bertanya tentang apakah anak

mengalami kesulitan untuk tidur, 5 dari 10 orang tua mengatakan anak mereka

mengalami kesulitan untuk tidur dikarenakan lingkungan yang kurang nyaman,

lingkungan yang ramai dengan aktivitas pengunjung, peneliti juga bertanya

tentang kebiasaan anak menangis ketika di rawat di RS, 1 dari 10 orang tua

mengatakan anaknya sering menangis ketika adanya suntikan tambahan, namun 6

orang tua mengatakan bahwa anaknya menangis karena nyeri yang dirasakan dan

mimpi buruk, peneliti juga menanyakan apakah anak sering rewel ketika berada

dirumah sakit, semua orang tua mengatakan anaknya sering rewel ketika di rawat

dikarenakan lingkungan yang berbeda, merasa takut karena banyak orang asing

disekelilingnya, dan merasa cemas dengan tindakan keperawatan yang akan

dilakukan petugas kesehatan.

Penelitian dari Yuniartini (2013) menunjukkan terapi bercerita dapat

meningkatkan kualitas tidur anak yang menjalani hospitalisasi yang dapat

memberi efek penyembuhan, dengan hasil tingkat kepercayaan sebesar 95%

(p≤0.05) diperoleh nilai asymp sig (2-tailed) 0,0000. Penelitian dari Wati (2011)

menjelaskan adanya pengaruh biblioterapi terhadap tingkat kecemasan anak yang

menjalani hospitalisasi, hasil penelitian tersebut menujukan terapi biblio dapat

menurunkan tingkat kecemasan hingga 15%. Penelitian dari Trihantoro (2016)

menunjukkan bahwa terapi bliblio juga dapat untuk mengubah konsep diri,

ditunjukkan dari nilai Asymp. Sig sebesar 0,037 lebih kecil dari nilai signifikansi

4
ɑ sebesar 0,05. Selain itu penelitian dari Eliasa (2007) menjelaskan bahwa

biblioterapi merupakan metode tindakan yang bermakna untuk mengatasi masalah

yang dihadapi seseorang hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa

biblioterapi sebagai salah satu teknik efektif dalam meningkatkan motivasi dan

untuk mengembangkan self-concept individu.

Biblioterapi akan membantu anak untuk menurunkan rasa cemas, takut atau

stressor yang menjadi penyebab kualitas tidur kurang. Biblioterapi merupakan

terapi yang mudah dilaksanakan, murah, dan dapat dilakukan kapan saja.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “ Pengaruh Biblioterapi terhadap kualitas tidur anak yang menjalani

Hospitalisasi di Ruangan Anak di RSUD Kota Madiun”

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh

biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi di RSUD Kota

Madiun?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Menganalisis kualitas tidur anak hospitalisasi sebelum dilakukan

biblioterapi di RSUD Kota Madiun

5
b. Menganalisis kualitas tidur anak hospitalisasi sesudah dilakukan biblioterapi

RSUD Kota Madiun

c. Menganalisis pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi

di RSUD Kota Madiun

1.4 MANFAAT

1.4.1 Teoritis

Manfaat ini dapat digunakan untuk mendukung teori dalam bidang

keperawatan anak untuk intervensi yang mengalami gangguan tidur.

1.4.2 Praktis

1. Bagi Institusi Rumah Sakit

Manfaat yang bisa diperoleh bagi RSUD Kota Madiun adalah dapat

dimanfaatkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak yang

mengalami hospitalisasi sehingga dapat meningkatkan kualiatas tidur anak.

2. Bagi Responden dan Keluarga

Dapat dijadikan terapi yang efektif yang dapat dilakukan di rumah sakit atau

rumah untuk meningkatkan kualitas tidur anak, ketika anak mengalami

kesulitan tidur.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini bisa sebagai referensi untuk dilakukan penelitian selanjutnya

khususnya pada pasien anak yang mengalami kualitas tidur kurang.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Hospitalisasi

2.1.1 Pengertian

Hospitalisasi adalah suatu keadaan yang mengharuskan anak

tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan karena suatu

alasan yang berencana maupun kondisi darurat. Tinggal dirumah sakit

dapat menimbulkan stress bagi anak, remaja, dan keluarga merek (Ni

Ketut Mendri, 2016)

Hospitalisasi merupakan pengalaman yang penuh dengan stress baik

bagi anak itu sendiri maupun orang tua (Yuli Utami, 2014).

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa

hospitalisasi suatu proses karena alasan berencana maupun darurat yang

mengharuskan anak dirawat atau tinggal di rumah sakit untuk

mendapatkan perawatan yang dapat menyebabkan beberapa perubahan

psikis pada anak.

Perubahan psikis terjadi dikarenakan adanya suatu tekanan atau

krisis pada anak. Jika seorang anak di rawat di rumah sakit, anak-anak

tersebut akan mudah mengalami krisis yang disebabkan anak mengalami

stres akibat perubahan baik terhadap status kesehatannya maupun

lingkungannya dalam kebiasaan sehari-hari. Selain itu, anak mempunyai

7
sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi

masalah maupun kejadian-kejadian yang sifatnya menekan (Arif

Kurniawan, 2008)

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Anak Terhadap Sakit

dan Hospitalisasi

a. Perkembangan Usia

Reaksi anak terhadap sakit berbeda-beda, sesuai tingkat perkembangan

anak (Supartini, 2004). Pada anak usia sekolah reaksi perpisahan adalah

kecemasan karena berpisah dengan orang tua dan kelompok sosialnya.

Pasien anak usia sekolah umumnya takut pada dokter dan perawat

(Ngastiyah, 2005).

b. Pola Asuh Keluarga

Pola asuh keluarga yang terlalu over protektif dan selalu memanjakan

anak juga dapat mempengaruhi reaksi takut dan cemas anak dirawat di

rumah sakit. Beda dengan keluarga yang suka memandirikan anak untuk

aktivitas sehari-hari anak akan lebih kooperatif bila di rumah sakit

(Supartini, 2004)

c. Keluarga

Keluarga yang terlalu khawatir atau stres yang anaknya dirawat dirumah

sakit akan menyebabkan anak menjadi semakin stres dan takut

(Supartini, 2004)

8
d. Pengalaman dirawat dirumah sakit sebelumnya

Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan

dirawat dirumah sakit sebelumnya akan menyebabkan anak takut dan

trauma. Sebaliknya apabila anak dirawat dirumah sakit mendapatkan

perawatan yang baik dan menyenangkan anak akan lebih kooperatif pada

perawat dan dokter (Supartini, 2004)

e. Support System yang tersedia

Anak mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk melepaskan

tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta

dukungan orang tua atau saudaranya. Perilaku ini biasanya ditandai

dengan permintaan anak untuk ditunggu selama dirumah sakit,

didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa

takut dan cemas bahkan saat merasa kesakitan (Supartini, 2004)

f. Keterampilan Koping dalam Menangani Stressor

Apabila mekanisme koping anak baik dalam menerima dia harus dirawat

dirumah sakit, akan lebih kooperatif anak tersebut dalam menjalani

perawatan dirumah sakit (Supartini, 2004)

2.1.3 Reaksi Anak terhadap Proses Hospitalisasi Sesuai Tahap Usia

Anak yang mengalami hospitalisasi selama dirawat dirumah sakit

akan menunjukan respon masing-masing sesuai dengan tahapan usianya.

Menurut Supartini (2004) reaksi anak yang dirawat dirumah sakit sesuai

dengan tahapan perkembangan adalah :

9
a. Masa bayi (0-1 tahun)

Pada usia ini bayi membutuhkan waktu tidur 14-18 jam sehari. Masalah

utama yang terjadi adalah karena dampak perpisahan dengan orang tua

sehingga ada gangguan pembentukan percaya diri dan kasih sayang. Pada

anak usia lebih dari enam bulan terjadi starnger anxiety atau cemas,

apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya dan cemas

karena perpisahan. Reaksi yang muncul pada anak usia ini adalah

menangis, marah dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap starnger

anxiety . Bila ditinggalkan ibunya bayi akan merasa cemas karena

perpisahan dan perilaku yang ditunjukkan adalah dengan menangis keras,

pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi wajah yang tidak

menyenangkan.

b. Masa Toddler (1-3tahun)

Anak usia toddler biasanya tidur 10-11 jam sehari dan bereaksi terhadap

hospitalisasi terhadap sumber stres yang utama adalah cemas akibat

perpisahan. Respon perilaku anak sesuai dengan tahapannya yaitu

tahapan proses, putus asa dan pengingkaran. Pada tahap pengingkaran,

perilaku yang ditunjukkan adalah menangis kuat, menjerit memanggil

orang tua, atau menolak perhatian dari orang lain. Pada tahap putus asa,

perilaku yang ditunjukkan menangis berkurang, anak kurang

menunjukkan minat untuk bermain dan makan, sedih dan apatis. Pada

tahap pengingkaran perilaku yang ditunjukkan adalah secara sama, mulai

menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal dan akan

10
memulai menyukai lingkungan. Oleh karena adanya pembatasan

pergerakannya anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengkontrol

diri dan akan menjadi tergantung pada lingkungannya. Akhirnya anak

akan kembali mundur pada kemampuan sebelumnya atau regresi.

Perilaku yang dialami atau nyeri yang dirasakan karena mendapatkan

tindkan yang invasif seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan

menangis, menggigit bibir dan memukul. Walaupun demikian anak dapat

menunjukkan lokasi rasa nyeri dan mengkomunikasikan rasa nyerinya.

c. Masa Prasekolah (3-6 tahun)

Anak pada masa sekolah biasanya membutuhkan waktu tidur 11 jam

sehari. Perawatan anak dirumah sakit memaksa untuk berpisah dari

lingkungan yang dirasakannya aman. Penuh kasih sayang dan

menyenangkan, yaitu lingkungan rumah, permainan dan teman

sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia

prasekolah ialah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis

walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas

kesehatan, perawatan dirumah sakit jugan membuat anak kehilangan

kontrol dirinya.

Perawatan anak dirumah sakit juga mengharuskan adanya pembatasan

aktifitas sehingga anak merasakan kehilangan kekuatan diri. Perawatan

anak dirumah sakit sering diekspresikan anak prasekolah sebagai

hukuman sehingga anak merasa malu, takut, dan bersalah. Ketakutan

anak terhadap perlukaan, muncul karena anak menganggap tindakan dan

11
prosedur yang dilakukan mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena

itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak,

ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja

sama terhadap perawat dan tergantungan terhadap orang tua.

d. Masa sekolah (6-12 tahun)

Anak pada masa sekolah membutuhkan waktu tidur sekitar 10 jam sehari.

Perawatan anak dirumah sakit memaksan anak berpisah dengan

lingkungan yang dicintainya yaitu keluarga dan kelompok sosialnya dan

menimbulkan kecemasan. Kehilanagn kontrol dan juga terjadi dirawat di

rumah sakit karena adanya pembatasan aktifitas. Kehilangan kontrol

tersebut berdampak terhadap perubahan peran dalam keluarga, anak

kehilangan kelompok sosialnya, karena ia biasa melakukan kegiatan

bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati dan adanya

kelemahan fisik atau nyeri yang tunjukkan ekspresi verbal maupun non

verbal, karena anak sudah bisa mengkomunikasikannya. Anak usia

sekolah sudah mampu mengontrol perlakuan jika merasa nyeri, yaitu

dengan mengigit bibir dan memegang sesuatu dengan erat.

e. Masa remaja (13-18 tahun)

Pada masa remaja anak membutuhkan waktu tidur 8,5 sehari. Anak usia

remaja mengekspresikan perawatan dirumah sakit mengakibatkan

timbulnya perasaan cemas karena berpisah dengan teman sebayanya.

Anak remaja begitu percaya dan sering kali terpengaruh teman

12
sebayanya. Apabila dirawat dirumah sakit anak akan merasa kehilangan

dan timbul perasan cemas karena perpisahan itu.

Pembatasan aktifitas dirumah sakit membuat anak kehilangan kontrol

dirinya dan menjadi tergantung pada keluarga atau petugas kesehatan

dirumah sakit. Reaksi yang timbul akibat pembatasan aktifitas ini adalah

dengan menolak dan perawatan yang dilakukan padanya atau anak tidak

mau kooperatif terhadap petugas atau menarik diri dari keluarga, sesama

pasien, dan petugas kesehatan . Perasaan sakit karena perlakuan atau

pembedahan menimbulkan respon anak bertanya-tanya menarik diri dari

lingkungan, dan menolak kehadiran orang lain.

2.1.4 Efek Hospitalisasi Terhadap Anak

Anak-anak dapat bereaksi terhadap stres hospitalisasi setelah

mereka masuk selama hospitalisasi dan setelah perawatan. Konsep sakit

yang dimiliki anak bahkan lebih penting dibandingkan usia dan

kematangan intelektual dalam mempertahankan tingkat kecemasan

sebelum hospitalisasi (Carson, Simon & Tiendermam, 1999)

a. Faktor resiko individual

Sejumlah faktor resiko membuat anak-anak tertentu menjadi rentan

terhadap stres hospitalisasi dibandingkan dengan yang lain. Mungkin

karena perpisahan merupakan masalah penting seputar hospitalisasi bagi

anak-anak yang lebih mudah. Anak yang aktif dan berkeinginan kuat

cenderung lebih baik ketika dihospitalisasi bila dibandingkan dengan

anak yang pasif. Akibatnya, perawat harus mewaspadai anak-anak yang

13
menerima secara pasif semua perubahan dan pertahanan anak ini dapat

memerlukan dukungan yang lebih banyak dari pada yang lebih aktif.

b. Perubahan pada populasi pediatrik.

Saat ini populasi pediatrik dirumah sakit mengalami perubahan drastis,

meskipun terdapat kecenderungan memendeknya lama rawat. Sifat dan

kondisi anak kecenderungan bahkan mereka akan mengalami prosedur

yang lebih invasif dan traumatik pada saat mereka mengalami

hospitalisasi. Faktor inilah yang membuat mereka lebih rentan terhadap

dampak emosional dari hospitalisasi dan menyebabkan kebutuhan

berbeda. Perhatikan pada tahun-tahun sekarang telah berfokus pada

peningkatan jumlah pada anak-anak tumbuh dirumah sakit (Britton &

Johnton, 1993), rencana pemulangan menjadi lama karena kompleknya

asuhan medis dan keperawatan. Tanpa perhatian yang khusus yang

diberikan untuk memenuhi kebutuhan psikolososial dan perkembangan

anak dilingkungan rumah sakit.

2.1.5 Dampak Hopitalisasi

Hospitalisasi atau sakit dan dirawat dirumah sakit bagi anak dan

keluarga akan menimbulkan stres dan tidak aman. Jumlah dan efek stres

tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit

dan pengobatan. Penyebab stres pada anak meliputi psikososial (berpisah

dengan orang tua, keluarga lain, teman dan perubahan peran), fisiologis

(kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri),

serta lingkungan asing (kebiasaan sehari-hari berubah).

14
Reaksi orang tua, kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya

penyakit, prosedur, pengobatan dan dampak terhadap masa depan anak,

frustasi karena kurang informasi terhadap masa depan anak, frustasi

karena kurang infromasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak

familiernya peraturan dirumah sakit ( Anisa Okitiawati, 2017)

2.1.6 Keuntungan Hospitalisasi

Meskipun hospitalisasi dapat dan biasa menimbulkan stres bagi

anak-anak tetapi hospitalisasi juga bermanfaat. Manfaat yang paling

nyata adalah pulih dari sakit, tetapi hospitalisasi juga cepat dapat

memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengatasi stres dan merasa

kompeten dalam kemampuan koping mereka (Wong, 2008)

2.2 Konsep Kualitas Tidur

2.2.1 Pengertian

Kualitas tidur merupakan kepuasan seseorang terhadap tidur,


sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah
terangsang, gelisah, lesu dan apatis, kehitaman sekitar mata, kelopak
mata bengkak, konjungtiva mearh, mata perih, perhatian terpecah –
pecah, sakit kepala, sering mengantuk, atau menguap (Hidayat, 2006)

Kualitas tidur merupakan susunan atau pola tidur seseorang yang


terbatas dari gangguan meliputi kebiasaan mudah tertidur, lama latensi
tidur antara 20-30 menit, mengalami deep sleep secara terus menerus
selama siklus tidur yang berlangsung baik NREM maupun REM, dan
durasinya berlangsung selama 90 menit setiap siklusnya, jarang
terbangun saat tidur, apabila terbangun pun mudah terbangun kembali,

15
perasaan menyegarkan ketika bangun dipagi hari, aktivitas dasar sehari-
hari dapat dilakukan dengan baik, kemampuan dalam pekerjaan dapat
terlaksana dengan efektif (Snyder-Helpen & Verran dalam Shadik, 2011)

2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur

Pemenuhan kebutuhan bagi setiap orang berbeda-beda, ada yang

dapat terpenuhi dengan baik bahkan sebaliknya. Seseorang bisa tidur

ataupun tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu diantaranya sebagai

berikut (Asmadi, 2008) :

a. Status kesehatan

Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat tidur

dengan nyenyak, sedangkan untuk seseorang yang kondisinya kurang

sehat (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak nyenyak

(Asmadi, 2008)

b. Lingkungan

Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk

tidur. Pada lingkungan bersih,bersuhu dingin dan suasana tidak gaduh

(tenang) dan penerangan yang yang tidak terlalu terang akan membuat

seseorang tidur dengan nyenyak, begitupun sebaliknya jika lingkungan

kotor,bersuhu panas, suasana ramai dan penerangan yag sangat terang,

dapat mempengaruhi kualitas tidurnya (Asmadi, 2008)

c. Strees psikologi

Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur.

Hal ini disebabkan karena kondisi cemas akan meningkatkan

16
nonepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan

mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2008)

d. Diet

Makanan yang banyak mengandung L-Triotofan seperti keju, susu,

daging, dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang mudah tidur.

Sebaliknya minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akna

mengganggu tidur (Asmadi, 2008)

e. Gaya hidup

Kelelahan yang dirasakan seseorang dapat pula mempengaruhi kualitas

tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan

nyenyak. Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan

periode tidur REM lebih pendek (Asmadi, 2008)

f. Obat-obatan

Obat – obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek

menyebabkan tidur, adapula yang sebaliknya mengganggu tidur (Asmadi,

2008)

2.2.3 Jenis-jenis tidur

Pada hakekatnya tidur dapat diklasifiksikan ke dalam dua karegori

yaitu dengan gerakan bola mata cepat / REM dan tidur dengan gerakan

bola mata lambat / NREM ( Asmadi, 2008)

17
a. Tidur REM

Merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut

bisa disimpulkan bahwa seseorang dapat tidur dengan nyenyak

sekali,namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat

aktif . Tidur REM ini tandai dengan mimpi, otot – otot kendor , tekanan

darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bergerak bolik-

balik), sekresi lambung meningkat,ereksi penis tidak teratur sering lebih

cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat, tanda – tanda orang yang

mengalami kehilangan tidur REM yaitu cenderung hiperaktif, emosi sulit

terkendali, nafsu makan bertambah, bingung dan curiga (Asmadi, 2008)

b. Tidur NREM

Menurut Asmadi (2008), merupakan tidur yang nyaman dan dalam . Pada

tidur NREM gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang

sadar atau yang tidak tidur . Tanda-tanda tidur NREM antara lain : mimpi

berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah menurun, kecepatan

pernapasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola lambat . Pada

tidur NREM ini mempunyai empat tahap masing – masing tahap ditandai

dengan pola perubahan aktivitas gelombang otak .

1) Tahap I

Merupakan tahap terminasi dimana seseorang beralih dari sadar menjadi

tidur. Ditandai seseorang merasa kabur dan rileks, seluruh otot menjadi

lemas, kelopak mata menutup mata, kedua bola mata bergerak ke kiri dan

18
ke kanan kecepatan jantung dan pernapasan menurun secara jelas,

seseorang yang tidur pada tahap ini dapat diabngunkan dengan mudah.

2) Tahap II

Merupakan tahap tidur ringan dan proses tumbuh terus menerus. Tahap

ini ditandai dengan kedua bola mata berhenti bergerak, suhu tubuh

menururn, pernapasan turun dnegan jelas. Tahap II ini berlangsung

sekitar 10 – 15 menit.

3) Tahap III

Merupakan tahap fisik yang lemah lunglai karena tonus otot lenyap

secara menyeluruh. Kecepatan jantung, pernapsan, dan proses tubuh

berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem saraf

parasimpatis. Seseorang yang tidur pada tahap III ini sulit untuk

dibangunkan.

4) Tahap IV

Merupakan tahap dimana seseorang tersebut tidur dalam keadaan rileks,

jarang bergerak karena keadaan fisik yang sudah lemah lunglai, dan sulit

dibangunkan. Pada tahap ini dapat memulikan keadaan tubuh.

Selain keempat tahaptersebut, sebenarnya ada satu tahap lagi yakni tahap

V. Tahap ini merupakan tahap tidur REM dimana setelah tahap IV

seorang masuk pada tahap V, yang ditandai dengan kembalinya

bergeraknya kedua bola mata yang berkecepatan lebih tinggi dari tahap –

tahap sebelumnya. Tahap ini berlangsung sekitar 10 menit, dan dapat

terjadi mimpi. Selama tidur malam sekitar 6 – 7 jam. Seseorang

19
mengalami REM dan NREM bergantisn sekitar 4 – 6 kali (Asmadi,

2008)

2.2.4 Fungsi tidur

(Wulandari, 2012) Fungsi tidur tetap belum jelas (Hodgson, 1991

dalam Potter & Perry, 2005). Namun, tidur dapat berfungsi dalam

pemeliharaan fungsi jantung terlihat pada denyut turun 10 hingga 20 kali

setiap menit. Selain itu, selama tidur, tubuh melepaskan hormon

pertumbuhan untuk memperbaiki dan memperbarui sel epitel dan khusus

seperti sel otak. Otak akan menyaring informasi yang terekam selama

sehari dan otak mendapatkan asupan oksigen serta aliran darah serebral

dengan optimal sehingga selama tidur terjadi penyimpanan memori dan

pemulihan kognitif. Fungsi lain yang dirasakan ketika individu tidur

adalah reaksi otot sehingga laju metabolik basal akan menurun. Hal

tersebut dapat membuat tubuh menyimpan lebih banyak energi saat tidur.

Bila individu kehilangan tidur selama waktu tertentu dapat menyebabkan

perubahan fungsi tubuh, baik kemampuan motorik, memori dan

keseimbangan. Jadi, tidak dapat membantu perkembangan perilaku

individu karena individu yang mengalami masalah pada tahap REM akan

merasa bingung dan curiga.

2.2.5 Manfaat tidur untuk kesehatan

Tidur nyenyak dapat mengembalikan vitalitas seseorang menjadi

lebih baik. Tidak mengherankan bila waktu tidur pasa setiap orang pun

berdeba – beda. The National Sleep Foundation menyebutkan bahwa

20
bayi harus tidur sekitar 80% dalam sehari. Sementara bagi orang dewasa

30% dari 24 jam atau sekitar 1-9 jam sebaiknya digunakan untuk tidur.

Pada orang dewasa dibtuhkan tidur 8 jam sehari. Jika kurang, mereka

akan merasakan beberapa dampak yang tidak baik untuk untuk

kesehatan. Beberapa dampak yang dirasakan di antaranya akan

berdampak pada pengaruh daya ingat, konsentrasi, dari berpikir menjadi

menurun. Kurang tidur juga bisa memicu obesitas atau kegemukan.

Karena seseorang yang kurang tidur cenderung mencari makanan manis

dan berlemak. Hal itu dipengaruhi hormon ghrelin yang menjadi

meningkat, sedangkan hormon septin menurun. Selain itu, juga dapat

meningkatkan gula darah dalam tubuh atau yang dalam istilah kesehatan

disebut dengan diabetes ( Iqbal Wahit, 2015)

2.2.6 Gangguan tidur

Gangguan tidur ialah merupakan suatu keadaan seseorang dengan

kualitas tidur yang kurang (Gunawan L, 2001 dalam Wahyuningsih,

2007)

1. Insomnia

Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur

yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang

hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi 3 jenis yaitu,

initial insomia, intermitten insomnia,terminal insomnia. Proses gangguan

tidur ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa kwatir, tekanan

jiwa, ataupun stres.

21
2. Hipersomnia

Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan,

pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari, disebabkan

oleh kemungkinan adanya psikologis, depresi, kecemasan, gangguan

susunan saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.

3. Parasomnia

Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat

mengganggu pola tidur, seperti somnambulism (sleep walking/ berjalan-

jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak – anak yaitu pada tahap

III dan IV dari tidur NREM. Somnambulism ini dapat menyebabkan

cedera.

4. Enuresis

Enuresis merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu

tidur, atau bisa juga disebut denggan istilah mengompol. Enuresis dibagi

menjadi dua jenis, yaitu enuresis noktural yang merupakan mengompol

di waktu tidur dan enuresis diurnal merupakan mengompol pada saat

bangun tidur. Enuresis noktural umunya merupakan gangguan pada tidur

NREM.

5. Apnea Tidur dan Mendengkur

Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur,

tetappi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi

masalah. Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam

pengaliran udara di hidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya

22
disebabkan oleh adanya adenoid, amandel, atau mendengkurnya otot di

belakang mulut. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya

pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti napas. Apabila kondisi

ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam

darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.

6. Narkolepsi

Narkolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk

tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudi kendaraan

atau di saat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan gangguan

neurologis.

7. Mengigau

Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan

diluar kebiasaan. Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa hampir semua

orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM. ( [Link] Alimul,

2016)

2.2.7 Indikator kualitas tidur

Indikator kualitas tidur dari kuisioner CSHQ menurut Judith (2000)

ada beberapa indikator yaitu : tidur tepat waktu, tertidur sendiri, tertidur

di tempat orang lain, membutuhkan orang tua di kamar untuk tidur, usaha

untuk tidur, takut bila tidur sendiri, tidur di 20 menit, durasi tidur yang

sedikit/durasi yang tepat, durasi tidur setiap hari, takut bila tidur

dikegelapan, bangun sekali/lebih ditengah malam, membasahi tidur

dimalam hari, berbicara ketika tidur, gelisah dan berpindah posisi tidur,

23
anak bangun tidur dengan kelelahan,bangun terlalu pagi atau terlambat

bangun.

2.2.8 Penanganan Kualitas Tidur

1. Lingkungan

Menurut Potter & Perry 2005, faktor – faktor lingkungan yang

menyebabkan masalah kualitas tidur diantaranya lingkungan tempat tidur

seperti ventilasi, ukuran dan kekerasan tempat tidur, posisi tempat tidur,

teman tidur, dan suara udara.

Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada

kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur. Ventilasi yang baik adalah

esensial untuk tidur yang tenang. Jika seseorang biasanya tidur dengan

individu lain, maka tidur sendiri menyebabkan ia terjaga. Sebalikanya,

tidur tanpa ketenangan atau teman tidur yang mengorok juga menggangu

tidur.

Suara juga mempengaruhi tidur. Tingkat suara yang diperlukan untuk

membangunkan orang tergantung pada tahap tidur (Webster dan

Thompson, 1986 dalam Potter & Perry, 2005). Suara yang rendah lebih

sering membangunkan seseorang pada tahap I, sementara suara yang

keras membangunkan seseorang dari tahap tidur III atau IV. Beberapa

orang membutuhkan ketenangan untuk tidur, sementara yang lain lebih

menyukai suara sebagai latar belakangan seperti musik dan televisi.

24
Studi menunjukkan bahwa masalah tidur pada anak – anak dan remaja

sangat umum terjadi, dengan prevelensi berkisar dari 25% sampai 40%

dan sering persisten (Mindell dan Meltze, 2008) .

2. Terapi Farmakologi

Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan

seperti ketergantungan, maka terapi ini hanya boleh dilakukan oleh

dokter yang kompeten dibidangnya. Obat-obatan untuk penanganan

gangguan tidur antara lain:

a. Golongan obat hipnotik

b. Golongan obat antidepresan

c. Terapi hormon melatonin dan agonis

d. Golongan obat antihistamin

3. Terapi Non Farmakologi

1. Terapi aroma

2. Terapi musik

3. Terapi biblio

2.2 Konsep Bibliotherapy

2.3.1 Pengertian

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terapi berarti

usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan

penyakit, perawatan penyakit”. Dalam KBBI, terdapat contoh kata yang

dapat disandingkan dengan kata terapi, antara lain: terapi bahasa, terapi

25
bermain, terapi gizi, terapi kimiawi, dan terapi musik. Berdasarkan

kesamaan objek, Istilah “bahasa” sejalan dengan isah dan cerita. Bermain

merupakan predikat, sama halnya dengan berkisah atau bercerita.

Kemudian terapi musik. Musik merupakan kata benda, sama halnya

dengan puisi atau syair. Dengan demikian meskipun KBBI belum

tercantum istilah terapi buku, terapi kisah, maupun terapi membaca, kita

dapat mengakui istilah dengan membangun istilah, kemudian mengikat

maknanya dan menyamakan persepsi atas istilah tersebut. Jadi istilah

biblioterapi mengacu pada terapi buku dan terapi membaca atau berkisah.

Selama bertahun – tahun, sejak 1904 ketika pustakawan rumah

sakit di Amerika ditunjuk untuk mengambil alih perpustakaan pasien di

Rumah Sakit Maclen di Boston, konsep perpustakaan sebagai agen terapi

dan perpustakawan sebagai biblioterapis telah berkembang. Beberapa

pustakawan di perpustakaan di rumah sakit Amerika, ketika itu sudah

memperlakukan perpustakaannya sebagai agen terapi. Bukan hanya itu,

DR. Gordon R. Kamman, dalam beberapa artikel penting yang

dituliskannya pada tahun 1930-an dan awal 1940-an, mendukung

biblioterapi dan menekankan perlunya pustakawan dilatih sebagai

anggota yang terlibat konstribusi dan tim terapi.

Monroe dalam Rubin (1979) mengatakan, biblioterapi adalah

bagian dari rangkaian kesatuan layanan perpustakaan. Referensi,

bimbingan membaca, dan biblioterapi semuanya memiliki kesamaan

fungsi. Seluruhnya merupakan layanan bersifat informasi, instruksional,

26
dan/atau kebutuhan bimbingan. Layanan referensi adalah objek,

informasi dan durasi yang singkat, sementara bimbingan membaca sangat

subjektif dan lebih mendidik. Bahkan, dapat dikatakan bahwa

biblioterapi merupakan pendekatan jangka panjang untuk layanan

perpustakaan dengan tujuan teraupetik. Konsep biblioterapi, yang

merupakan pengembangan layanan pembaca, sejalan dengan Hannigan “

Keterampilan biblioterapi adalah softskill pustakawan yang berfungsi

sebagai pembimbing pembaca.

Menurut Shechtman (2009) menekankan bahwa biblioterapi dapat

dikombinasikan dengan kegiatan mendengarkan cerita, membaca puisi,

menonton film dan gambar dilakukan didalam rangkaian biblioterapi,

sehingga aktivitas berjalan menarik dan menyenangkan.

Pendampingan terbaik bagi permasalahan perilaku pada individu

anak maupun dewasa adalah melalui terapi buku (biblioterapi). Berkisah

menjadi salah satu metode dalam biblioterapi. Buku adalah guru yang

paling sabar dalam pemberian pemahaman. Buku bisa dibaca berulang –

ulang, hingga pembacanya menemukan kunci terbaik untuk

menyelesaikan masalahnya.

Buku menjadi media yang praktis untuk digunakan dan terjangkau.

Namun, ditengah kondisi budaya baca masyarakat Indonesia tergolong

rendah, praktik terapi buku sangat efektif dikenalkan melalui metode

berkisah atau bercerita. Buku digunakan sebagai media berkisah. Howie

(1988) mengatakan “Terapi membaca mengacu pada biblioterapi maupun

27
terapi puisi/prosa dan sastra, yang melibatkan pekerja profesional di

Institusi pendidikan, medis, psikolog, guru, psikiater, dan pekerja sosial.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terapi buku, terapi membaca,

dan praktiknya akan melibatkan multidisiplin keilmuan dan profesi.

2.3.2 Tujuan

Tujuan utama dari biblioterapi adalah memanfaatkan media buku,

literatur dan/atau media audio, visual, audio visual untuk menfasilitasi

aktivitas terapi, membimbing diskusi, serta menunjukkan perkembangan

berfikir individu. Jadi, biblioterapi akan menjadi langkah yang

menyenangkan dalam membentuk perilaku positif keluarga. Orang tua

menjadi biblioterapis terbaik bagi anak – anaknya (Susanti, 2017)

2.3.3 Manfaat

Manfaat biblioterapi bagi kesehatan adalah dapat menjadi suatu

metode pengalihan perhatian atau distraksi dari rasa nyeri, dapat

menambah ilmu dan sebagai intervensi untuk seseorang mengatasi

masalah pribadinya yang dilakukan secara interaktif menekankan

perkembangan, pertumbuhan, dan pengembangan diri. (Susanti, 2017)

2.3.4 Teknik-teknik Biblioterapi

1. Identifikasi kebutuhan klien. Tugas ini dilakukan dengan berbincang

dengan orang tua.

2. Sesuaikan klien dengan bahan-bahan yang tepat. Carilah buku yang

berhubungan dengan cerita yang dapat memotivasi klien, hidup sehat dan

tentang keluarga.

28
a. Buku harus sesuai dengan tingkat kemampuan klien

b. Tema bacaan seharusnya sesuai dengan kebutuhan yang telah

diidentifikasi dari klien.

c. Karakteristik seharusnya dapat dipercaya dan mampu memunculkan

rasa ingin tau dan empati.

d. Alur kisah seharusnya realistis dan melibatkan kreativitas untuk

penyelesaian masalah.

3. Putuskan susunan waktu dan sesi

4. Rangcangkanlah aktivitas-aktivitas tindak lanjut setelah dilakukan terapi,

seperti berdiskusi.

5. Motivasi klien untuk mengajukan pertanyaan untuk menuju ke

pembahasan tentang tema yang dibicarakan

6. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pokok dan mulailah berdiskusi kecil

tentang tema.

7. Berilah waktu jeda beberapa menit agar klien bisa merefleksikan

materinya

8. Kenalkan aktivitas tindak lanjut :

a. Menceritakan kembali kisah, diskusi tentang buku, misalnya tentang

benar dan salah, dan pesan moral.

2.3.5 Pengaruh Biblioterapi

Terapi buku atau disebut juga biblioterapi yang merupakan suatu

teknik distraksi yaitu teknik pengalihan dari fokus perhatian terhadap

nyeri atau rasa sakit, rasa cemas, rasa bosan ketika dirawat dirumah sakit,

29
mengisi kejenuhan ketika pasien mulai merasa tidak nyaman dan dapat

menambah pengalaman bagi pasien. Dengan adanya teknik ini akan

berpengaruh kepada pasien yaitu akan merasa rileks, tidak cemas, dan

merasa aman ketika di rumah sakit.

2.3.6 Terapi Berkisah

Terapi berkisah juga sebenarnya bagian dari penerapan prinsip –

prinsip hynotherapy. Keduanya sama – sama mengandalkan keterampilan

bahasa. Terapi berkisah mengandalkan bahasa untuk membantu anak

mengubah perilaku yang tampak.

Menurut pendapat Albert Meharabien (2011), ada tiga hal yang

bisa memengaruhi keberhasilan daya tangkap dalam komunikasi –

Mengingat saluran terapi berkisah didasarkan pada konsep bercerita

adalah komunikasi. Tiga hal tersebut meliputi : bahasa tubuh 55%,

pilihan kata 7%, dan intonasi kata 38%. Semakin ekspresif bahasa tubuh

saat berkisah bagus, ditunjang intonasi kalimat dan pemilihan kata yang

baik akan semakin bagus kisah untuk terapi perilaku anak.

2.3.7 Tipe-Tipe Bibliotherapy

Menurut Berry (Nur Fathiyah, 2006) terapi pustaka dapat dibagi

menjadi dua macam tipe, yaitu : 1) tipe klinis dan 2) tipe

pendidikan/humanistik

1) Tipe Klinis.

Merupakan bentuk psikoterapi yang dilaksanakan oleh profesi kesehatan

termasuk psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan sebagainya. Adapun

30
tujuannya untuk membantu klien untuk memperoleh keadaan yang lebih

baik. Dalam tipe ini fungsi terapi adalah membentuk kehidupan individu.

Seorang pasien yang menderita penyakit atau mengalami cacat tertentu

dapat merasakan suatu kepuasan tertentu dengan membaca biografi atau

cerita keberhasilan penyesuaian diri dari orang yang mengalami

penderitaan yang sama.

2) Tipe pendidikan/humanistik.

Merupakan tipe terapi pustaka yang dilaksanakan oleh konselor, guru,

dan petugas perpustakaan dalam setting pendidikan. Fasilitatornya adalah

pimpinan atau manajer kelompok. Adapun pastisipan pada terapi pustaka

tipe ini adalah orang yang sehat, misalnya siswa. Tujuan dari tipe ini

membantu partisipan untuk mencapai pendidikannya atau mencapai

kepuasan dan aktualisasi yang lebih besar. Dalam tipe pendidikan ini,

terapi pustaka dapat memperluas pandangan seseorang tentang perbedaan

kondisi manusiawi, sehingga diperoleh pandangan yang luas mengenai

perbedaan kondisi yang sifatnya manusiawi. Di samping itu, terapi ini

juga membantu membuka wawasan adanya nilai-nilai yang beraneka

ragam yang dapat membangun hidup seseorang. Pada akhirnya seseorang

dapat memahami berbagai kondisi sosial seperti kemiskinan, prasangka

sosial, dan sebagainya serta dapat memberikan tekanan terhadap pola-

pola kehidupan individu.

Adapun para penerima kedua macam terapi itu antara lain : pasien rumah

sakit, veteran perang, anak-anak nakal, orang memerlukan bantauan

31
mengatasi penyalah gunaan obat dan alkohol, siswa yang memerlukan

bimbingan pendidikan dan karier, serta individu yang sedang berada

dalam kegiatan psikoterapi, konseling perkawinan, dan sebaginya.

Sedangkan tipe bibliotherapy menurut Scechtman (2009) ada 2 yaitu :

a) Affective bibliotherapy

Sebagian besar literatur yang ada pada bibliotherapy anak-anak lebih

bersifat bibliotherapy afektif (Gladding, 2005;Scechtman, 2009).

Bibliotherapy afektif menggunakan fiksi dan literatur berkualitas tinggi

untuk membantu pembaca terhubung ke pengalaman emosional dan

situasi manusia melalui proses identifikasi. Bibliotherapy afektif

bergantung pada teori-teori psikodinamik, menelusuri kembali ke

Sigmund dan Anna Freud. Asumsi dasar dalam bibliotehrapy afektif

adalah bahwa orang menggunakan defence mechanism atau mekanisme

pertahanan diri, seperti represi, untuk melindungi diri dari rasa sakit.

Ketika pertahanan tersebut sering diaktifasikan, individu menjadi

terputus dari emosi mereka dan mereka tidak menyadari perasaan yang

sebenarnya. Oleh karena tidak dapat menyelesaikan masalah mereka

secara konstruktif, maka diperlukan teknik bercerita yang sangat

membantu dalam menawarkan wawasan ke dalam masalah pribadi

(Forgan, 2002). Kemudian melalui penciptaan jarak yang aman,

membawa anak dan remaja secara tidak langsung kepada isu-isu sensitif,

isu-isu yang mengancam, dan mungkin terlalu menyakitkan untuk

dihadapi secara langsung.

32
Nilai positif dari bibliotherapy afektif adalah pemahaman diri yang

tinggi, menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah universal dan

unik. Pembaca mempelajari bahwa mereka dihubungkan dengan

beberapa orang dan budaya lain yang memberikan kenyamanan dan

melegtimasi perasaan dan pikiran mereka (Gladding, 2005). Dengan

mendengarkan atau membaca cerita-cerita orang lain menjadi metode

pengobatan memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk menemukan

kebenaran, untuk memahami, untuk menemukan suatu penjelasan untuk

pengalaman yang menyakitkan dan bahkan untuk menantang

ketidakadilan.

Temuan yang ada menunjukkan hasil mengenai efektivitas bibliotherapi

afektif. Pardeck (1984), dalam tinjuan literatur mereka, menemukan 24

studi yang mendukung pengunaan positif dari buku fiksi dalam

mengubah sikap klien, ketegasan klien meningkat, dan perubahan

perilaku klien.

b) Kognitif Bibliotherapy

Bibliotherapy kognitif telah dilakukan pada awal abad ke-20, dengan

psikiater dan pustakawan bekerja sama dalam upaya untuk membantu

klien dengan masalah psikologis. Mereka menawarkan buku-buku

kepada pasien yang sesuai dengan kesulitan mereka , dengan asumsi

bahwa orang-orang akan belajar dari proses dan menerapkannya pada

kehidupan mereka sendiri. Ini bisa dilakukan menjadi self-help atau

diikuti oleh pertemuan-pertemuan sesekali untuk membahas buku itu.

33
Namun, fokus utama adalah pada konten yang disajikan dalam buku dan

relevansinya dengan kesulitan seseorang atau masalah.

Asumsi dasar biblioterapi kognitif adalah bahwa semua perilaku

dipelajari, dan karenanya dapat mempelajarinya kembali dengan

bimbingan yang tepat. Teori ini bergantung pada pembelajaran sebagai

katalis utama perubahan perilaku. Oleh karena itu biblioterapi kognitif

adalah proses belajar berkualitas tinggi yang bermanfaat teraupetik.

2.3.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Biblioterapi

1. Buku yang sesuai dengan tingkat kemampuan klien

2. Terapis yang seakan-akan perduli dengan kesehatannya

3. Faktor lingkungan (nyaman, tidak bising,dan tidak berbau)

4. Faktor psiko (anak masih bisa diajak berinteraksi)

5. Cara penyampaian terapi dari mulai intonasi, raut wajah.

( Susanti, 2017)

2.4 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi

Biblioterapi merupakan terapi bermakna untuk mengatasi masalah

yang dihadapi seseorang. Biblioterapi dapat dilakukan dengan bercerita.

Anak yang menjalani perawatan dirumah sakit akan mengalami kualitas

tidur yang kurang. Dengan kualitas tidur yang kurang akan berdampak ke

kesehatan anak sendiri, sakit yang tidak kunjung sembuh, atau bahkan

akan memperparah keadaan. Dengan diberikan terapi biblio ini, akan

membantu anak untuk melupakan atau mengalihkan perhatian yang dapat

34
mengurangi kecemasan yang dihadapi dirumah sakit. Biblioterapi akan

membuat pikiran anak menjadi rileks, nyaman dan tenang, dengan itu

anak tidak akan merasa cemas lagi. Maka kualitas tidur anak akan

membaik.

35
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3. 1 Kerangka Konsep

Faktor – faktor pendukung :

1. Terapi yang mudah untuk di lakukan


2. Tidak memperlukan biaya yang lebih
3. Dapat dilakukan oleh siapa saja
4. Dapat dilakukan kapan saja serta
melibatkan kemandirian dan
partisipasi
5. Dapat untuk membentuk konsep diri
anak
6. Dapat digunakan untuk mengurangi
stess dan kecemasan.

Biblioterapi Anak Hospitalisasi Faktor – faktor


yang
mempengaruhi
1. Psikososial kualitas tidur:
2. Fisiologis
3. Lingkungan -Status kesehatan

-Lingkungan
Kualitas tidur - Stress psikologi

Keterangan :

: Tidak diteliti

: Diteliti

: Mempengaruhi

Gambar 3.1 Kerangka konseptual pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur


usia prasekolah dan sekolah anak hospitalisasi.

36
Gambar 3.1 Menjelaskan tentang pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur

anak usia 4 sampai 12 tahun yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Kualitas

tidur dipengaruhi oleh status kesehatan, lingkungan, stress psikologi. Biblioterapi

sebagai terapi yang baik didukung oleh beberapa faktor yaitu terapi yang mudah

dilakukan, tidak memperlukan biaya yang berlebihan, dapat dilakukan oleh siapa

saja, dan dapat dilakukan kapan saja serta dapat melibatkan kemandirian dan

partisipasi. Anak yang menjalani rawat inap dirumah sakit akan mengalami

dampak hospitalisasi antara lain psikososial, fisiologis dan lingkungan yang dapat

mengakibatkan kualitas tidur yang kurang, maka dengan diberikan intervensi

biblioterapi untuk mengurangi faktor yang menyebabkan kualitas tidur kurang.

3.2 Hipotesis

Berdasarkan teori yang telah diungkapkan maka dapat disusun hipotesis

sebagai berikut :

”Ada pengaruh bibliioterapi terhadap kualitas tidur anak hospitalisasi”

37
Tabel 4.2 Definisi Operasional Penelitian Pengaruh Biblioterapi terhadap Kualitas tidur anak Hospitalisasi

Variabel penelitian Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Hasil Ukur

Independen Biblioterapi adalah terapi buku Memberikan cerita SOP - -


Biblioterapi yang dapat digunakan untuk klasik dunia kepada
seseorang yang mengalami anak kemudian
masalah emosional dan sakit diharapkan anak
mental. menceritakan
kembali isi / inti
cerita tersebut.

Dependen Kualitas tidur merupakan 1. Jam tidur Kuisioner Interval Kualitas tidur
Kualitas Tidur fenomena yang sangat kompleks 2. Kebiasaan tidur kualitas tidur baik jika skor
yang melibatkan beragai domain, 3. Terbangun saat CSHQ ≥ 60
antara lain, penilaian terhadap malam Total skor Kualitas tidur
lama waktu tidur, gangguan 4. Bangun tidur 20 – 100 cukup jika
tidur, masa laten tidur, disfungsi skor 40
tidur pada siang hari, efisiensi sampai 60
tidur, kualitas tidur, penggunaan Kualiats tidur
obat tidur. kurang jika
skor 20-40.
Skor 20-100

43
BAB VI

METODE PENELITIAN

4.1 Desain penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan

menggunakan rancangan one-group pra-test post-test design, dalam

desain ini melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek

diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi

setelah intervensi (Nursalam, 2013)

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bibioterapi terhadap

kualitas tidur pada anak prasekolah mengalami hospitalisasi. Berikut

rancangan yang digambarkan sebagai berikut :

Pre-Test post-test

01 X 02

Table 4.1 Desain Penelitian

Keterangan :

01 : Pre-test pada kelompok intervensi


02 : Post-test pada kelompok intervensi
X : Intervensi yang diberikan

38
4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas :

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2014).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang berusia 3 sampai

6 tahun, yang dirawat RSUD Kota Madiun dan tidak mengalami

gangguan pendengaran. Setiap bulannya di RSUD Kota Madiun rata-rata

pasien anak yang dirawat sejumlah 35 anak.

4.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2014).

Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia 3 sampai 6 tahun

yang dirawat inap yang mengalami gangguan tidur dan memenuhi

kriteria inklusi dan eksklusi. Dalam penelitian ini besar sampel

ditetapkan berdasarkan rumus sebagai berikut (Nursalam 2003) :

39
n = 32 responden
Keterangan :

n = perkiraan besar sampel


N = perkiraan besar populasi
z = nilai standar normal untuk
p = perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50%
q = 1 – p (100% - p)
d = Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0,05)

4.3 Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Non-

Probability sampling dengan Purposive Sampling yaitu suatu teknik

penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai

dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian),

sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang

telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2015). Dengan kriteria sampel

yaitu berusia 3 – 6 th, tidak mengalami gangguan pendengaran, dapat

berinteraksi dan di rawat di RSUD Kota Madiun.

4.4 Kerangka Kerja Peneliti

Kerangka kerja merupakan bagan kerja terhadap rancangan

kegiatan penelitian yang akan, meliputi siapa yang akan diteliti (subyek

penelitian), variable yang akan diteliti, dan variabel yang mempengaruhi

dalam penelitian (Hidayat, 2007).

40
Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah anak yang dirawat diruumah sakit usia
3 sampai 6 tahun di RSUD KOTA MADIUN sebanyak 32 anak.

Sampel

Semua anak yang di rawat di RSUD KOTA MADIUN sebanyak 32 anak

Sampling : Purposive Sampling

Desain Penelitian : pre-eksperimental dengan menggunakan


rancangan one-group pra-test post-test design

Pengumpulan Data

Menggunakan kuisioner

Variabel bebas : Variabel terikat : Kualitas


biblioterapi tidur menggunakan
kuisioner ( CSHQ )

Pengolahan Data

Editing, coding, data entry, scoring, cleaning

Analisis Uji Statistik Paired T-test ɑ 0,05

Hasil dan Kesimpulan

Pelaporan

41
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Gambar 4.1 Kerangka kerja penelitian

4.5.1 Identifikasi Variabel

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau

ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu

konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian ini

terdapat 2 variabel yaitu :

1. Variabel Independen (Bebas)

Variabel Independen adalah variabel yang mulainya menentukan variabel

lain (Nursalam, 2012). Variabel independen dalam penelitian ini adalah

biblioterapi

2. Variabel Dependen (Terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang diamati dan diukur untuk

menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel bebas

(Nursalam, 2012). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas

tidur.

4.5.2 Definisi Operasional


Definisi operasional variabel adalah definisi berdasarkan

karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut.

Definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi

dan replikasi (Nursalam, 2016).

42
38
4.6 Instrumen Penelitian

Kuisioner variabel kualitas tidur menggunakan kuisioner

Children’s Sleep Habits Questionnaire (CSHQ) sesuai dengan kerangka

konsep yang berisi 20 item yang terdiri dari jam tidur pada pertanyaan

soal nomor 1-8, kebiasaan tidur soal pada nomor 9-14, terbangun saat

malam hari pada nomor 15-16 dan bangun tidur pada nomor 17 - 20

dengan menggunakan skala likert. Pertanyaan dengan jawaban selalu (4),

kadang-kadang (3), jarang (2), tidak pernah (1).

Pertanyaan yang digunakan adalah angket tertutup atau terstruktur

dimana peneliti hanya tinggal menjawab atau memilih kolom yang sudah

disediakan (responden hanya memberikan tanda (√))

4.7 Uji Validitas dan Uji Reabilitas

4.7.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang dapat menunjukkan tingkat

kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid

atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang

kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2007). Uji

validitas sebaiknya dilakukan pada setiap butir penelitian di uji

validitasnya. Hasil r hitung kita bandingkan dengan r tabel dimana df=n-

2 dengan sig 5%. Jika r tabel < r hitung maka valid (Suwerjeni, 2014).

44
Untuk mengetahui validitas item dalam penelitian ini menggunakan uji

validitas dengan rumus Uji Wilcoxon. Uji validitas kuesioner kulitas

tidur akan dilakukan uji kembali pada penelitian ini.

4.7.2 Uji Reabilitas

Realibilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa instrumen

cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data

karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan

bersifat tendensius, mengarahkan responden memilih jawaban-jawaban

tertentu. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya,

maka berapa kalipun diambil tetap akan sama hasilnya (Arikunto, 2010).

Dinyatakan reliabel bila nilai alpha croonbach’s > r kriteria (0,70)

(Ghozali, 2009).

Tabel 4.3 Hasil Uji Reabilitas Kuisioner Kualitas Tidur Pada Anak

4.8 Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi penelitian direncanakan di RSUD Kota Madiun dan mulai

penelitian sampai selesai penelitian direncanakan bulan Desember –

Maret 2018 mulai dari perizinan sampai pengambilan data berlangsung

bimbingan dan ujian proposal antara bulan November sampai Februari.

Kemudian pengambilan data penelitian, izin bulan Juni, pengolahan data

pada bulan Juli dan Pelaporan pada bulan akhir Juli.

45
4.9 Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan kepada

subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan

dalam suatu penelitian (Nursalam, 2016). Dalam melakuka penelitian,

prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengurus surat

ijin penelitian dari pihak Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES

BHM Madiun ke RSUD Kota Madiun

2. Menentukan responden penelitian sesuai kriteria berdasarkan data

dari pihak RSUD Kota Madiun

3. Menjelaskan tujuan penelitian, jika responden sudah mengerti dan

setuju responden diminta untuk mendatangani lembar (informed

concent).

4. Menanyakan karakteristik responden dengan mengisi lembar identitas

yang mencakup nama, jenis kelamin, usia dan pemilihan buku

5. Melakukan kuisioner sebelum dilakukan terapi biblio

6. Lalu melakukan terapi biblio sesuai dengan SAP dengan waktu 10

menit. Selama 3 X intervensi setiap malam akan tidur.

7. Lalu melakukan observasi untuk pengisian kuisioner CSHQ setelah

dilakukan terapi biblio

46
4.10 Teknik Analisis Data

4.10.1 Pengolahan data

Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan menggunakan

software statistik . Menurut Nugroho (2012), pengolahan data meliputi :

1. Editing

Ediing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian

formulir atau kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2012) :

a. Apakah lengkap, dalam arti semua pertanyaan sudah terisi.

b. Apakah jawaban atau tulisan masing-masing pertanyaan cukup

jelas atau terbaca.

c. Apakah jawabannya relevan dengan pertanyaannya.

d. Apakah jawaban-jawaban pertanyaaan konsisten dengan jawaban

pertanyaan yang lainnya.

2. Memberi tanda kode (coding)

Coding mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka

atau bilangan (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian jenis kalimat yang

diberi kode antara lain yaitu :

a. Data demografi

1) Jenis Kelamin

- Laki –laki : diberi kode 1

- Perempuan : diberi kode 2

2) Lingkungan (saat tidur)

47
- Cahaya

Terang : diberi kode 1

Redup : diberi kode 2

Gelap : diberi kode 3

- Suhu

Hangat : diberi kode 1

Panas : diberi kode 2

Dingin : diberi kode 3

- Suara

Bising : diberi kode 1

Biasa : diberi kode 2

Hening : diberi kode 3

- Lingkungan

Bersih : diberi kode 1

Tidak bersih : diberi kode 2

3. Data Entry

Data yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam

progam atau “software” computer. Dalam proses ini dituntut ketelitian

dari orang yang melakukan “data entry” ini. Apabila tidak maka terjadi

bias, meskipun hanya memasukkan data.

4. Pemberian skor (Scoring)

48
Scoring yaitu penilaian data dengan memberikan skor pada pertanyaan

yang berkaitan dengan tindakan responden. Hal ini dimaksudkan untuk

memberikan bobot ada masing-masing jawaban, sehingga mempermudah

perhitungan (Nazir, 2011)

Skor kuisioner kualitas tidur CSHQ

1 = Tidak pernah

2 = Jarang

3 = Kadang-kadang

4 = Selalu

Untuk menentukan kategori kualitas tidur menggunakan rumus Azwar

(2011) yaitu :

X max = 4

X min=1

Mean = ½ ( X max +

X min ) × total item pertanyaan

½ ( 4 + 1 ) 20

½ × 100 = 5 0

L max = 20 x 4 = 80

L min = 20 x 1 = 20

49
Standart Deviasi = ⅙ ( L max - L min )

⅙ ( 80 - 20 )

⅙ × 60 = 10

Baik : jika skor jawaban x ≥ (µ + 1.σ)

x ≥ (50 + 1.10)

x ≥ 60

Cukup : jika skor jawaban (µ - 1.σ) ≥ x < (µ + 1.σ)

(50 – 1.10) ≥ x < (50 + 1.10)

40 ≥ x < 60

Kurang : jika skor jawaban x < (µ - 1.σ)

x < (50 – 1.10)

x < 40

5. Tabulasi data (tabulating)

Tabulating yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan

penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti (Notoatmodjo, 2012). Tabel

yang akan ditabulasi adalah tabel yang berisikan data yang sesuai dengan

kebutuhan analisis.

4.11 Teknik Analisa Data

Analisa data adalah pengelompokkan data berdasarkan karakteristik

responden, menyajikan ddata dari setiap variabel yang diteliti

menggunakan perhitungan untuk menguji hipotesis yang diajukan

50
(Sugiyono, 2011). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan

analisis univariat dan bivariat meliputi :

1. Analisa Univariat

Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik seperti umur, jenis kelamin, lingkungan ( cahaya, suhu,

suara, kebersihan) setiap variabel penelitian. Penyajiannya dalam bentuk

distribusi dan prosentase dari setiap variabel (Notoatmodjo, 2012). Pada

Penelitian ini menganalisa pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur

anak yang menjalani perawatan di rumah sakit. Data tersebut merupakan

numeric yang berskala nominal dan ordinal.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya

pengaruh biblioterapi terhadap kualitas tidur di rumah sakit. Untuk

menentukan analisa bivariat dari penelitian ini peneliti melakukan analisa

data terlebih dahulu. Peneliti menggunakan uji Statistik paired T-Test.

Uji ini merupakan analisis dengan libatkan dua pengukuan terhadap

subyek yang sama terhadap suatu pengaruh atau lakuan tertentu. Pada uji

paired T-test,peneliti menggunakan sampel yang sama, tetapi pengujian

terhadap sampel di lakukansebanyak dua kali. Dalam penelitian ini test

yang diberikan disebut dengan pretest (test sebelum mengadakan

perlakuan) dan post test (setelah di berikan perlakuan). Adapun

51
pengguanaan paired sample. T-test satu sampel yang di berikan dua

pengakuan yang berbeda, merupakan data kuantitatif (interval-rasio), dan

sampel yang digunakan harus dalam kondisi yang sama atau homogenya

dan berasal dari tabulasi yang telah berdistribusi secara normal. Ada

tidaknya perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah di lakukan

intevensi dapat diketahui melalui dua cara pertama harga t hitung di

bandingkan dengan harga t tabel sehingga diperoleh interpretasi.

Ketentuan pengujian adalah bila harga t hitung lebih besar harga t tabel

H0 di tolak. Cara yang kedua, digunakan nilai probalitas berdasarkan

tingkat kemaknaan 95% (alpha 0,05). Apabila distribusi tidak normal

menggunakan uji wilcoxon. Uji wilcoxon yang dipilih dalam penelitian

ini jika data tidak berdistribusikan adalah uji wilcoxon Sign Rank test

untuk pengambilan keputusan menggunakan cara pertama yaitu jika

Sig> 0,05 maka H0 diterima, artinya tidak ada perbedaan antara variabel

jika Sig < 0,05 maka H0 di tolak, artinya ada perbedaan antar variabel.

Perhitungan uji statistik menggunakan perhitungan dengan system

komputerisasi SPSS 16.0.

4.12 Etika Penelitian

Dalam penelitian ini, saya telah melakukan semua penelitian dengan

memperhatikan etika penelitian. Saya memperhatikan etika dalam

penelitian sesuai dengan pernyataan menurut Nursalam (2016), prinsip

52
etika dalam penelitian dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu prinsip

manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek, dan prinsip keadilan.

1. Prinsip manfaat

a. Bebas dari pendiritaan

Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada

subjek, khusunya jika menggunakan tindakan khusus.

b. Bebas dari eksploitasi

Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keaadaan

yang tidak menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa

partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang telah diberikan, tidak

akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan subjek dalam

bentuk apa pun.

c. Risiko (benfits ratio)

Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang

akan berakibat kepada subjek pada setiap tindakan.

2. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)

a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to self

determination)

Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak

memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun tidak,

tanpa adanya sangsi apapun atau akan berakibat terhadap

kesembuhannya, jika mereka seorang klien.

53
b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan

(right to full disclosure)

Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara terperinci serta

bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada subjek.

c. Informed consent

Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan

penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas

berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada informed consent

juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan

dipergunakan untuk pengembangan ilmu.

3. Prinsip keadilan (right to justice)

a. Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair

treatment)

Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama, dan sesudah

keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila

ternyata mereka tidak bersedia atau dikeluarkan dari penelitian.

b. Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy)

Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus

dirahasiakan, untuk itu perlu adanya tanpa nama (anonymity) dan rahasia

(confidentiality).

54
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RSUD Kota Madiun merupakan salah satu layanan kesehatan milik

Pemerintah Kota Madiun yang terletak di Jl. Campursari No 12b Madiun.

RSUD Kota Madiun dibangun pada tahun 2004 dan mulai beroperasi

pada tahun 2005 yang tercatat sebagi rumah sakit tipe C. RSUD milik

pemerintahan kota ini mempunyai luas tanah 45.000 dengan luas

bangunan 10.966,74. RSUD Kota Madiun ini memiliki 217 tempat tidur

yang terdiri 14 tempat tidur VIP, 36 tempat tidur kelas I, 32 tempat tidur

kelas II, 85 tempat tidur kelas III, 6 tempat tidur di ICU, 10 tempat tidur

di HCU, 16 tempat tidur di IGD, 11 tempat tidur dikamar bersalin, 5

tempat tidur di kamar operasi, dan 2 tempat tidur diruang isolasi.

Sedangkan jumlah tenaga kesehatan RSUD Kota Madiun terdapat 71

perawat, 26 bidan dan 33 dokter. Didalam penelitian ini peneliti

mengambil tempat penelitian di ruang anak yang diberi nama Ruang

Melati. Ruang Melati mempunyai mempunyai 10 kamar, 28 tempat tidur

dengan tempelan bermacam-macam gambar animasi/kartun favorite anak

sehingga ruang melati cocok untuk anak, terdapat 1 ruang bermain

berukuran panjang 5 meter dan lebar 3 meter dengan 1 TV yang

menempel didinding tetapi di ruang bermain belum disediakan mainan

untuk bermain anak. RSUD Kota Madiun memiliki visi dan misi dalam

55
melakukan pelayanan terhadap masyarakat. Visi RSUD Kota Madiun

yaitu mewujudkan fasilitas kesehatan masyarakat yang terjangkau. Misi

RSUD Kota Madiun yaitu meningkatkan SDM yang berkualitas. Peneliti

mengambil 32 pasien anak, ketika peneliti melakukan observasi kepada

orang tua dan pasien sebelum dilakukan biblioterapi banyak

permasalahan yang muncul, antara lain kuota tidur yang tidak

mencukupi, sering menangis, susah tidur ketika malam hari dan lemas

ketika siang hari, faktor penyebabnya antara lain lingkungan yang asing,

cemas karena ketakutan, lingkungan yang kurang kondusif. `

5.2 Data Umum

5.2.1 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Anak Hospitalisasi Di


Ruang Melati RSUD Kota Madiun

No Jenis Kelamin Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Laki-laki 15 47
2 Perempuan 17 53
Jumlah 32 100

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan

jenis kelamin diketahui dari 32 pasien, sebagian besar pasien yang

berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 17 (53%).

56
5.2.2 Karakteristik Berdasarkan Usia

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Umur Pasien Anak Hospitalisasi Di


Ruang Melati RSUD Kota Madiun

No Usia Jumlah Presentase


(f) (%)
1 3 2 6
2 4 17 53
3 5 7 22
4 6 6 19
Jumlah 32 100

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan

umur diketahui dari 32 pasien, sebagian besar pasien yang berusia 4 th

yaitu berjumlah 17 pasien (55%). Sedangkan sebagian kecil umur pasien

pada usia 3 th yang berjumlah 2 pasien (6%).

5.2.3 Karakteristik Berdasarkan Cahaya

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Cahaya di Ruang Melati RSUD Kota


Madiun Tahun 2018

No Kategori Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Terang 32 100
2 Redup 0 0
3 Gelap 0 0
Jumlah 32 100
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa seluruh pasien menyatakan bahwa

cahaya terang yaitu berjumlah 32 atau 100 %.

57
5.2.4 Karakteristik Berdasarkan Suhu

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Suhu di Ruang Melati RSUD Kota


Madiun Tahun 2018

No Kategori Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Hangat 9 28
2 Panas 19 59
3 Dingin 4 13
Jumlah 32 100

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar suhu yang ada

diruang melati berjumlah 19 atau 59% dan sebagian kecil berjumlah 4

atau 13%.

5.2.5 Karakteristik Berdasarkan Suara

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Suara di Ruang Melati RSUD Kota


Madiun Tahun 2018

No Kategori Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Bising 4 13
2 Biasa 27 84
3 Hening 1 3
Jumlah 32 100
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar suara yang ada

diruang melati yaitu biasa dengan jumalh 27 atau 84% dan sebagian kecil

yang menunjukkan bahwa suara hening berjumlah 1 atau 3%

58
5.2.6 Karakteristik Berdasarkan Kebersihan

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kebersihan di Ruang Melati RSUD Kota


Madiun Tahun 2018

No Kategori Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Bersih 32 100
2 Tidak Bersih 0 0
Jumlah 32 100

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa kebersihan yang ada di ruang melati

dinyatakan bersih dengan jumlah 32 atau 100%.

5.3 Data Khusus

5.3.1 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sebelum Dilakukan Biblioterapi

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Pre Test Kualitas tidur Anak Hospitalisasi
sebelum dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun
Tahun 2018

No Kualitas Tidur Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Baik 1 3
2 Cukup 16 50
3 Kurang 15 47
Jumlah 32 100

Tabel 5.7 menunjukkan bahwa 32 pasien anak usia pra sekolah di

Ruang Melati RSUD Kota Madiun sebelum diberikan biblioterapi

sebagian besar anak mengalami kualitas tidur cukup sejumlah 16 anak

59
(50%) dan 15 (47%) pasien anak yang mengalami kualitas tidur cukup

sedangkan anak yang mengalami kualitas tidur baik hanya 1 anak atau

3%

Tabel 5.8 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Pre Test Berdasarkan 4


Komponen Model Kuisioner CSHQ ( Children’s Sleep Habits
Questionnaire ) Pada Anak Di Ruang Melati, Mei 2018

Komponen Pernyataan Hasil


1 Anak pergi tidur tepat 72% responden menyatakan
waktu setiap malam bahwa anak pergi tidur tepat
waktu pukul 21.00 WIB
Anak tertidur setelah 22% responden menyatakan
20 menit setelah bahwa anak tertidur setelah 20
berbaring menit
Anak tertidur sendiri 62% responden menyatakan
ditempat tidurnya bahwa anak tertidur sendiri
ditempat tidurnya
Anak tertidur dengan 53% responden menyatakan
digoyang-goyangkan/ bahwa anak tertidur dengan
digerakkan digoyang-goyangkan/
digerakkan
Anak memerlukan 47% responden menyatakan
benda khusus untuk bahwa anak memerlukan
tertidur (boneka, benda khusus untuk tertidur
selimut, guling,dll)
Anak membutuhkan 100 % responden menyatakan
orang tua untuk berada bahwa anak membutuhkan
di kamar orang tua untuk berada di
kamar
Anak menolak untuk 87% responden menyatakan
tidur saat jam tidur tiba bahwa anak menolak untuk
tidur saat jam tidur tiba
Anak ketakutan untuk 94% responden menyatakan
tidur dalam keadaan bahwa anak ketakutan untuk
gelap tidur dalam keadaan gelap
2 Anak tidur kurang 21% responden menyatakan
lebih berjumlah sama bahwa anak tidur kurang lebih
waktunya pada berjumlah sama waktunya 10-
perawatan dan dirumah 11 jam

60
Anak tidak bisa tenang 91% responden menyatakan
dan selalu bergerak bahwa anak tidak bisa tenang
gerak saat tidur dan selalu bergerak gerak saat
tidur
Anak mengeratkan gigi 13% responden menyatakan
saat tidur bahwa anak mengeratkan gigi
saat tidur
Anak mengorok keras 16% responden menyatakan
bahwa anak mengorok keras
Anak terbangun saat 22% responden menyatakan
malam dan berkeringat, bahwa anak terbangun saat
rewel dan tidak dapat malam dan berkeringat, rewel
ditenangkan dan tidak dapat ditenangkan
Anak tidur saat siang 72% responden menyatakan
hari bahwa anak tidur saat siang
hari , 2-3 jam
3 Anak sesekali 84% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak sesekali
hari terbangun saat malam hari
Anak lebih dari sekali 75% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak lebih dari sekali
hari terbangun saat malam hari
4 Anak terbangun sendiri 15% responden menyatakan
bahwa anak terbangun sendiri
Anak bangun dini hari 53% responden menyatakan
(atau lebih pagi dari bahwa anak bangun dini hari
yang seharusnya/ yg
diinginkan)
Anak terlihat kelelahan 28% responden menyatakan
saat siang hari bahwa anak terlihat kelelahan
saat siang hari
Anak tertidur saat 6% responden menyatakan
sedang terlibat dalam bahwa anak tertidur saat
aktivitas sedang terlibat dalam aktivitas

61
5.3.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Setelah Dilakukan Biblioterapi

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Post Test Kualitas tidur Anak


Hospitalisasi setelah dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018

No Kualitas Tidur Jumlah Presentase


(f) (%)
1 Baik 16 50
2 Cukup 13 41
3 Kurang 3 9
Jumlah 32 100

Tabel 5.9 menunjukkan bahwa 32 pasien anak usia pra sekolah di

Ruang Melati RSUD Kota Madiun setelah dilakukan biblioterapi

sebagian besar anak mengalami peningkatan dalam kualitas tidur yaitu 16

(50%) pasien, sedangkan 13 atau 41% pasien anak mengalami kualitas

tidur cukup dan yang mengalami kualitas tidur anak yang kurang

sejumlah 3 atau 9%.

Tabel 5.10 Hasil Pengukuran Kualitas Tidur Post Test Berdasarkan 4


Komponen Model Kuisioner CSHQ ( Children’s Sleep Habits
Questionnaire ) Pada Anak Di Ruang Melati, Mei 2018

Komponen Pernyataan Hasil


1 Anak pergi tidur tepat 84% responden menyatakan
waktu setiap malam bahwa anak pergi tidur tepat
waktu pukul 20.00 WIB
Anak tertidur setelah 62% responden menyatakan
20 menit setelah bahwa anak tertidur setelah 20
berbaring menit
Anak tertidur sendiri 69% responden menyatakan
ditempat tidurnya bahwa anak tertidur sendiri
ditempat tidurnya

62
Anak tertidur dengan 31% responden menyatakan
digoyang-goyangkan/ bahwa anak tertidur dengan
digerakkan digoyang-goyangkan/
digerakkan
Anak memerlukan 47% responden menyatakan
benda khusus untuk bahwa anak memerlukan
tertidur (boneka, benda khusus untuk tertidur
selimut, guling,dll)
Anak membutuhkan 100 % responden menyatakan
orang tua untuk berada bahwa anak membutuhkan
di kamar orang tua untuk berada di
kamar
Anak menolak untuk 28% responden menyatakan
tidur saat jam tidur tiba bahwa anak menolak untuk
tidur saat jam tidur tiba
Anak ketakutan untuk 94% responden menyatakan
tidur dalam keadaan bahwa anak ketakutan untuk
gelap tidur dalam keadaan gelap
2 Anak tidur kurang 84% responden menyatakan
lebih berjumlah sama bahwa anak tidur kurang lebih
waktunya pada berjumlah sama waktunya 10-
perawatan dan dirumah 11 jam

Anak tidak bisa tenang 44% responden menyatakan


dan selalu bergerak bahwa anak tidak bisa tenang
gerak saat tidur dan selalu bergerak gerak saat
tidur
Anak mengeratkan gigi 13% responden menyatakan
saat tidur bahwa anak mengeratkan gigi
saat tidur
Anak mengorok keras 9% responden menyatakan
bahwa anak mengorok keras
Anak terbangun saat 16% responden menyatakan
malam dan berkeringat, bahwa anak terbangun saat
rewel dan tidak dapat malam dan berkeringat, rewel
ditenangkan dan tidak dapat ditenangkan
Anak tidur saat siang 88% responden menyatakan
hari bahwa anak tidur saat siang
hari , 2-3 jam
3 Anak sesekali 88% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak sesekali
hari terbangun saat malam hari
Anak lebih dari sekali 63% responden menyatakan
terbangun saat malam bahwa anak lebih dari sekali
hari terbangun saat malam hari

63
4 Anak terbangun sendiri 50% responden menyatakan
bahwa anak terbangun sendiri
Anak bangun dini hari 38% responden menyatakan
(atau lebih pagi dari bahwa anak bangun dini hari
yang seharusnya/ yg
diinginkan)
Anak terlihat kelelahan 9% responden menyatakan
saat siang hari bahwa anak terlihat kelelahan
saat siang hari
Anak tertidur saat 3% responden menyatakan
sedang terlibat dalam bahwa anak a nak tertidur saat
aktivitas sedang terlibat dalam aktivitas

5.4 Hasil Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh biblioterapi

terhadap kualitas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota

Madiun.

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Pre - Post Test Kualitas tidur Anak
Hospitalisasi setelah dilakukan biblioterapi di Ruang Melati RSUD Kota
Madiun Tahun 2018

N Mean Median SD Min- As%Cl P


Max Value
Pre 32 43.03 41.00 7.293 35-61 40.40 – 0,000
45.66
Post 60.44 60.50 8.413 40-73 57.40 –
63.47

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa dari 32 pasien anak usia

prasekolah sebelum diberikan biblioterapi 43.03 atau 50% anak yang

mengalami kualitas tidur anak yang cukup dan 41.00 atau 41% anak

mengalami kualitas tidur kurang. Pada pengukuran kedua (setelah

dilakukan biblioterapi) sejumlah 60.44 pasien anak atau 50% mengalami

64
peningkatan kualitas tidur menjadi baik dan 60.50 atau 41% pasien

mengalami kualitas tidur cukup dan tidak ada anak yang mengalami

kualiats tidur kurang.

Dari hasil uji statistik menggunakan Paired T-Test di dapatkan

nilai ρ-value = 0,000 < ɑ = 0,05) maka H1 diterima dan H0 ditolak,

sehingga ada pengaruh yang signifikan antara bibilioterapi terhadap

kualiatas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota Madiun,

dengan tingkat kepercayaan (CI) sebesar 95%.

5.5 Pembahasan

5.5.1 Kualitas Tidur Anak Hospitaslisasi Sebelum Diberikan Biblioterapi

Berdasarkan tabel 5.7 dari hasil peneltiian yang merupakan

keadaan nyata tingkat kualiatas tidur pada anak di Ruang Melati RSUD

Kota Madiun . Data tersebut dijadikan acuan dalam pembahasan sebagai

hasil akhir dalam skripsi yang dinyatakan sebagai berikut.

Kualitas tidur pada anak usia prasekolah di Ruang Melati RSUD

Kota Madiun sebelum diberikan biblioterapi didominasi oleh tingkat

kualiatas tidur cukup, yaitu sejumlah 16 anak 50%. Hal tersebut

didukung oleh kuisioner yang menerangkan bahwa ketaatan anak untuk

pergi tidur tepat waktu ketika malam hari dan sebagian besar responden

tertidur sendiri dan sebagian besar responden bisa tertidur dengan hanya

digoyangkan atau digerakkan namun sebagian kecil anak yang hanya

tidur setelah 20 menit menurut pendapat penelitian ini disebabkan karena

65
lingkungan yang berbeda dan kondisi anak yang tidak sehat dan anak

juga menolak untuk tidur serta anak ketakutan untuk tidur dalam keadaan

gelap. Menurut Soetjiningsih (2000) ada beberapa faktor yang dialami

saat dirawat dirumah sakit salah satunya adalah rasa takut baik pada

dokter maupun perawat serta lingkungan dirumah tentu berbeda bentuk

dan suasananya dengan alat-alat yang ada diruang perawatan. Data

menunjukkan semua anak yang dirawat membutuhkan orang tua untuk

berada disampingnya. Menurut pendapat peneliti ini disebabkan oleh rasa

ketakutan dan kecemasan karena berada dalam lingkungan yang baru

pada saat kondisinya tidak baik. Karena hal tersebut anak membutuhkan

orang tua untuk berada disampingnya. Pada pasien anak reaksi

perpisahan adalah kecemasan karena berpisah dengan orang tua dan

kelompok sosialnya. Sesuai dengan teori menurut Ngastiyah (2011)

bahwa pasien anak umumnya takut pada dokter dan perawat.

Pada anak usia 3-6 tahun yang dirawat dirumah sakit akan

mempengaruhi jam tidurnya ketika tidak dirawat dirumah sakit, sebagian

kecil responden yang kuota tidur ketika dirawat atau tidak jumlahnya

kurang lebih sama namun sebagian besar responden mengalami kondisi

yang tidak bisa tenang dan selalu bergerak saat tidur . Menurut peneliti

ini bisa disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif yaitu ditandai

dengan panas akibat banyaknya pengunjung dan ruangan yang tidak

begitu luas. Sesuai dengan teori pada lingkungan bersih, bersuhu dingin

dan suasana tidak gaduh (tenang) dan penerangan yang yang tidak terlalu

66
terang akan membuat seseorang tidur dengan nyenyak, begitupun

sebaliknya jika lingkungan kotor, bersuhu panas, suasana ramai dan

penerangan yag sangat terang, dapat mempengaruhi kualitas tidurnya

(Asmadi, 2008). Dan sebagian kecil anak yang sedang tidur mengeratkan

gigi dan mengorok keras ketika tidur, menurut pendapat peneliti ini

disebakan oleh kebiasaan yang dilakukan disaat tidur dan adanya

gangguan kesehatan yang menyebabkan terhalangnya saluran pernafasan.

Dan sebagian kecil anak terbangun ketika malam hari dan berkeringat

sampai tidak bias dikendalikan, menurut pendapat peneliti ini disebabkan

oleh rasa takut atau rasa sakit yang dialami oleh responden. Namun

sebagian besar anak yang dirawat dirumah sakit melakukan tidur siang

menurut pendapat peneliti ini sesuai dengan kebutuhan tidur anak yang

ketika malam hari mengalami kesulitan untuk tidur. Menurut Asmadi

(2008) bahwa seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia

dapat tidur dengan nyenyak, sedangkan seseorang yang kondisinya

kurang baik (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak

nyenyak.

Pada pasien yang dirawat sebagian besar mengalami bangun saat

malam hari dan sebagian besar pula terbangun lebih dari sekali. Menurut

pendapat peneliti tidur yang berkualitas salah satunya ditandai dengan

kemampuan tertidur sepanjang malam. Jika responden mudah terbangun,

hal itu bukan hanya mengurangi jam tidur juga akan menyebabkan

pusing keesokan harinya. Pada responden yang sering terbangun hal ini

67
disebabkan oleh mimpi buruk karena rasa kecemasan dan ketakutan,

ketidaknyamannya tempat tidur akibat hospitalisasi. Menurut Asmadi

(2018) seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat

tidur dengan nyenyak, sedangkan untuk seseorang yang kondisinya

kurang sehat (sakit) dan rasa nyeri, maka kebutuhan tidurnya akan tidak

nyenyak.

Penurunan periode tidur yang diketahui dari sebagian kecil anak

terbangun sendiri sebelum jam bangunnya, menurut pendapat peneliti

yang disebabkan lingkungan atau rasa nyeri yang dirasakan oleh anak

dan menunjukkan bahwa kuota tidur tidak mencukup serta akan

mempengaruhi proses kesembuhan. Menurut Wulandari (2012) tidur

dapat berfungsi dalam pemeliharaan fungsi jantung dan selama tidur

tubuh akan melepaskan hormone pertumbuhan untuk memperbaiki dan

memperbaiki sel epitel khusus seperti sel otak. Dan sebagian besar anak

bangun lebih dini dan terlihat kelelahan saat siang hari. Menurut

pendapat peneliti anak yang bangun lebih dini yaitu mengalami jam tidur

yang memendek. Ini disebabkan oleh ketakutan dan kecemasan yang

dialami anak yang menimbulkan stress dan mempengaruhi jam tidurnya

memendek. Sesuai dengan teori menurut Ni Ketut Mendri (2016) bahwa

tinggal dirumah sakit dapat menimbulkan stress, bagi anak, remaja dan

keluarga mereka.

68
5.5.2 Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi Sesudah Diberikan Biblioterapi

Hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar kualitas

tidur anak hospitalisasi pada usia pra sekolah di Ruang Melati RSUD

Kota Madiun setelah diberikan biblioterapi didominasi oleh kualitas tidur

yang baik yaitu sejumlah 16 anak (50)%. Hal ini ditunjukkan oleh data

yang menjelaskan sebagian besar anak pergi tidur tepat waktu, kuota

tidur yang membaik, menurunkan angka kejadian anak bangun dini hari

dan dengan ini menunjukkan bahwa kondisi fisik anak lebih baik, anak

sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan, dan kecemasan yang

dirasakan berkurang. Menurut pendapat peneliti peningkatan kualitas

tidur pada anak yang dirawat dirumah sakit merupakan hal yang wajar

karena pada dasarnya anak yang sedang sakit memerlukan perhatian yang

lebih dari orang sekitar dan orang tua termasuk tenaga kesehatan yang

berperan langsung dengan anak. Menurut Ngastiyah (2005) bahwa kasih

sayang dari orang tuanya (ayah/ibu) akan menciptakan ikatan yang erat

(bounding) dan kepercayaan dasar (basic trust) serta menurut Ngastiyah

(2005) Peran perawat sebagai pengganti ibu yang memenuhi kebutuhan

pasien selama dirawat, perawat juga sebagai pendidik mengenai

kesehatan anak baik secara langsung atau kepada orang tuanya, karena

hal itu dapat mempengaruhi pertumbuhan. Menurut (Prasasti, 2005)

bibilioterapi dengan cara bercerita adalah salah satu terapi bermain yang

merupakan aktivitas sesuai dengan perkembangan emosi anak – anak.

Terapi bermain diberikan untuk mengurangi cemas yang dihadapi akibat

69
hospitalisasi. Dengan bermain pertumbuhan dan perkembangan anak

yang sakit tetap terus berkembang (Alimul, 2007). Didukung oleh

penelitian Subardiah (2009) yang menunjukkan bahwa permainan

teraupetik mampu menurunkan kecemasan.

5.5.3 Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kualitas Tidur Anak Hospitalisasi

Di Ruang Melati RRSUD Kota Madiun

Berdasarkan tabel 5.11 hasil uji statistik menggunakan Paired T-

Test di dapatkan nilai ρ-value = 0,000 < ɑ = 0,05) maka H1 diterima dan

H0 ditolak, sehingga ada pengaruh yang signifikan antara bibilioterapi

terhadap kualiatas tidur anak yang dirawat di Ruang Melati RSUD Kota

Madiun, dengan tingkat kepercayaan (CI) sebesar 95%.

Biblioterapi bagi kesehatan adalah dapat menjadi suatu metode

pengalihan perhatian atau distraksi dari rasa nyeri, dapat menambah ilmu

dan sebagai intervensi untuk seseorang mengatasi masalah pribadinya

yang dilakukan secara interaktif menekankan perkembangan,

pertumbuhan, dan pengembangan diri (Susanti, 2017) . Dengan metode

pengalihan rasa cemas, dan ketakutan yang dialami responden dapat

teratasi. Terapi dengan cara bercerita cukup efektif dalam meningkatkan

kualitas tidur anak sehingga dapat diterapkan secara rutin pada anak yang

mengalami gangguan tidur selama hospitalisasi. Melalui diberikan

biblioterapi dengan cara diberikan cerita – cerita yang membawa anak ke

alam fantasi, cerita sebagai penghantar tidur anak, cerita mengandung

70
hiburan sehingga akan menimbulkan rasa tenang dan membuat anak

menjadi rileks serta mengalihkan perhatiannya dan melepaskkan rasa

ketakutan oleh lingkungannya, kecemasan (Yuniarti, 2013).

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Yuniarti (2013)

tentang pengaruh terapi bercerita terhadap kualitas tidur anak usia pra

sekolah yang menjalani hospitalisasi diruangan perawatan anak RSUP

Sanglah Denpasar bahwa ada pengaruh signifikan antara kualitas tidur

sebelum dan sesudah diberikan terapi bercerita dengan p value ≤ 0,05 .

Hasil dari penelitian ini sama dengan penelitian dari Yuniarti yaitu

didukung oleh peran dari orang tua yang selalu menjaga dan ada untuk

anaknya yang diraat dirumah sakit.

Berdasarkan penjelasan diatas maka pemberian terapi biblio perlu

dilakukan karena untuk meningkatkan kualitas tidur anak usia 3-6 tahun

yang menjalani rawat inap dirumah sakit. Selain itu anak yang sedang

menjalani perawatan dirumah sakit hendaknya diberi perhatian yang

lebih dari orang tau dan lingkungannya, untuk menunjang proses

kesembuhan.

71
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta diuraikan

pada pembahasan di bab 5, maka penulis dapat memberikan beberapa

kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebelum dilakukan biblioterapi, sebagian besar anak sejumlah

16 anak (50%) mengalami kualitas tidur yang cukup.

2. Setelah dilakukan biblioterapi, sebagian besar anak sejumlah 16

anak (50%) mengalami kualitas tidur yang baik.

3. Ada pengaruh biblio terapi terhadap kualitas tidur anak

hospitalisasi di Ruang Melati RSUD Kota Madiun

6.2 Saran

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis ingin

menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi Perawat Rumah Sakit

Bagi perawat yang bekerja di rumah sakit khusunya yang

bertugas diruang anak, diharapkan untuk melakukan tugasnya

dengan ramah agar pasien anak tidak merasa takut oleh perawat

dan biblioterapi ini dapat dijadikan alternatif terapi untuk

meningkatkan kualitas tidur akibat hospitalisasi pada anak usia pra

72
sekolah dan memberikan pengetahuan bahwa biblioterapi perlu

dilaksanakan untuk mendukung proses penyembuhan. Selain itu

ruang anak dapat menyediakan pojok baca untuk pasien agar

menambah ilmu dengan buku sesuai dengan usia peserta sebagai

pengalihan rasa jenuh atau sakit.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan untuk menambah referensi yang ada

dan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa di bidang

keperawatan anak khususnya mahasiswa program studi ilmu

keperawatan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat dijadikan sebagai data dasar dan pembanding untuk

penelitian selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang

berhubungan dengan biblioterapi dalam mengatasi kualitas tidur

pada anak akibat hospitalisasi.

4. Bagi Orang Tua

Untuk meningkatkan kualitas tidur anak dapat dilakukan

biblioterapi dengan ditunjang oleh lingkungan yang kondusif.

Biblioterapi juga dapat dilakukan dirumah atau dirumah sakit

ketika anak mengalami gangguan tidur.

73
DAFTAR PUSTAKA

Apriliawati, Anita. ( 2011 ), Pengaruh Biblioterapi Terhadap Tingkat Kecemasan


Anak Usia Sekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Di Rumah Sakit Islam
Jakarta. [Link] Diakses 15
Desember 2017

Asmadi. ( 2008 ), Teknik Prosedur Keperawatan : Konsep Dasar Keperawatan,


Jakarta : Salemba Medika

Eliasa, E.I.(n.d.). Biblioterapi sebagai sebuah metode tindakan yang bermakna.


UNY. [Link] . Diakses 15 Desember 2017

Hartini, Sunarti, Siti, dan Sotoshi. ( 2017 ), Analisis Item dan Konsistensi Internal
Anak Anak Sleep Habit Questionnaire ( CSHQ ) Di Versi Indonesia.
[Link] . Diakses 02 Februari 2018

Herlina. ( 2013 ). Bibliotherapy: Mengatasi Masalah Anak dan Remaja Melalui


Buku. Bandung : Pustaka Cendekia Utama

Hidayat, Aziz, Alimul dan Uliyah, Musrifatul. ( 2016 ), Pengantar Kebutuhan


Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika

Kurniawan, Arif ( 2008 ) , Konsep Hospitalisasi. Jakarta : Gramedia

Mendri, Ni Ketut dan Prayogi, Agus, Sarwono. ( 2017 ), Asuhan Keperawatan


Pada Anak Sakit dan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta : Gramedia

Mubarak, Iqbal, Lilis, Joko. ( 2015 ), Buku Ajar Ilmu Kperawatan Dasar. Malang
: Salemba Medika

Ngastiyah. ( 2005 ), Perawatan Anak Sakit ( Edisi 2 ). Jakarta : ECG

Oktiawati, Khodijh, Ikawati, Rizki. ( 2017 ), Teori dan Konsep Keperawatan


Pediatrik. Jakarta : EGC

Pilliteri, Adele. ( 2002 ), Buku Saku Asuhan Ibu & Anak. Jakarta : EGC

Supayo, Yossy. ( 2017 ), Bagaimana Menerapkan Biblioterapi.


[Link] . Diakses tanggal 15 Desember 2017

Susanti, ( 2017 ), Biblioterapi Untuk Pengasuhan. Bandung : Noura Publising

74
Utami, Yuli. ( 2014 ), Dampak Hospitalisasi Terhadap Perkembangan Anak.
[Link] . Diakses tanggal 15 Desember 2017

Yuniartini. Widasatra, Utami. ( 2013 ), Pengaruh Terapi Bercerita Terhadap


Kualitas Tidur Anak Usia Prasekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Di
Ruangan Perawatan Anak RSUP Sanglah Denpasar. [Link]
[Link] . Diakses 15 Desember 2017

75
LAMPIRAN – LAMPIRAN

76
LAMPIRAN 1

77
LAMPIRAN 2

78
LAMPIRAN 3

79
LAMPIRAN 4

80
LAMPIRAN 5

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(Informed Consent)

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan


kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
yang bernama Aprilia Dwi Solehah “Pengaruh Biblioterapi terhadap kualitas tidur
anak hospitalisasi di RSUD Kota Madiun” saya mengetahui bahwa informasi
yang akan saya berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di
Indonesia. Untuk itu saya akan memberikan data yang diperlukan dengan
sebenar-benarnya. Demikian pernyataan ni saya buat untuk dipergunakan sesuai
keperluan.

Madiun, Juni 2018

Saksi Responden

( Peneliti ) (......................................)

81
LAMPIRAN 6

KISI – KISI KUISIONER KEBIASAAN TIDUR PADA ANAK

NO PERTANYAAN NOMOR SOAL JUMLAH

1. Jam tidur 1–8 8 Soal

2. Kebiasaan tidur 9 – 14 6 Soal

3. Terbangun saat malam hari 15 – 16 2 Soal

4. Bangun tidur 17 – 20 4 Soal

82
LAMPIRAN 7

KUISIONER KEBIASAAN TIDUR PADA ANAK

Umur :

Tinggal dengan :

Lingkungan :

Bersih : Tidak bersih :

Suhu :

Dingin : Panas : Hangat :

Suara :

Bising : Biasa : Hening :

Cahaya :

Gelap : Terang : Redup :

Jam tidur

Tulislah waktu biasa anak tidur : malam hari : : WIB

NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK


(4) KADANG ( 2 ) PERNAH
(3) (1)
1. Anak pergi tidur
tepat waktu setiap
malam

2. Anak tertidur
setelah 20 menit
setelah berbaring

3. Anak tertidur
sendiri ditempat
tidurnya
4. Anak tertidur
dengan digoyang-
goyangkan/

83
digerakkan

5. Anak memerlukan
benda khusus
untuk tertidur
(boneka, selimut,
guling,dll)
6. Anak
membutuhkan
orang tua untuk
berada di kamar

7. Anak menolak
untuk tidur saat
jam tidur tiba

8. Anak ketakutan
untuk tidur dalam
keadaan gelap

Kebiasaan tidur
Tuliskan jumlah waktu tidur anak biasanya setiap hari jam menit
(termasuk tidur siang)
NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK
(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
9. Anak tidur kurang
lebih berjumlah
sama waktunya
pada perawatan
dan dirumah

10. Anak tidak bisa


tenang dan selalu
bergerak gerak
saat tidur

11. Anak mengeratkan


gigi saat tidur

12. Anak mengorok


keras

84
13. Anak terbangun
saat malam dan
berkeringat, rewel
dan tidak dapat
ditenangkan

14. Anak tidur saat


siang hari
Tulislah beberapa
menit anak
biasanya tidur
siang jam
menit

Terbangun saat malam hari

NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK


(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
15. Anak sesekali
terbangun saat
malam hari

16. Anak lebih dari


sekali terbangun
saat malam hari

Bangun tidur

Tulislah pukul berapa anak bangun pagi jam menit

NO PERTANYAAN SELALU KADANG- JARANG TIDAK


(4) KADANG (2) PERNAH
(3) (1)
17. Anak terbangun
sendiri

18. Anak bangun dini


hari (atau lebih
pagi dari yang

85
seharusnya/ yg
diinginkan)
19. Anak terlihat
kelelahan saat
siang hari
20. Anak tertidur saat
sedang terlibat
dalam aktivitas

Penyebab :

Keterangan :
Selalu :4
Kadang – kadang : 3
Jarang :2
Tidak pernah :1
Baik : jika skor jawaban 60 - 100
Cukup : jika skor jawaban 40 - 60
Kurang : jika skor jawaban 1 - 40

By Owens [Link] 2000 dari USA

86
LAMPIRAN 8

SOP ( STANDART OPERASIONAL PROSEDUR )


BIBLIOTERAPI

Pengertian Biblioterapi adalah terapi buku yang dapat digunakan


untuk seseorang yang mengalami masalah emosional dan
sakit mental.
Tujuan Memanfaatkan media buku, literatur dan/atau media audio,
visual, audio visual untuk menfasilitasi aktivitas terapi,
membimbing diskusi, serta menunjukkan perkembangan
berfikir individu.
Prosedur 1. Fase Pra Interaksi
Mempersiapkan beberapa buku yang akan
digunakan untuk terapi
Pastikan lingkungan yang kondusif
Sertakan orang tua klien untuk
mendampingi waktu dilakukan terapi
Persetujuan dilakukan terapi biblio / inform
consent
2. Fase Orientasi
Memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan dari terapi ini
Dan menjelaskan tentang kontrak terapi (
waktu, tempat, dan 3X terapi )

87
3. Fase Kerja
Ajukan pertanyaan kepada klien untuk
pemilihan buku yang sesuai dengan apa
yang diinginkan klien.
Atur posisi klien senyaman mungkin
Melakukan terapi cerita kepada anak selama
10 menit

4. Fase Terminasi
Anak diharapkan untuk menceritakan
kembali isi dari cerita yang sudah diberikan
Beri tahu pesan moral yang ada pada buku
tersebut
Menanyakan bagaimana perasaan klien
setelah dilakukan terapi
Membuat kontrak untuk terapi selanjutnya
Berpamitan

88
LAMPIRAN 9

89
LAMPIRAN 10

90
LAMPIRAN 11

91
LAMPIRAN 12

ɑ . Uji Normalitas

b. Uji Paired T-Test

92
LAMPIRAN 13

Hasil Uji Validitas Variabel Kebiasaan Tidur Pada Anak (CSHQ)

No r hitung Syarat Keterangan


1. 0,825 >0,349 Item soal valid
2. 0,864 >0,349 Item soal valid
3. 0,788 >0,349 Item soal valid
4. 0,855 >0,349 Item soal valid
5. 0,644 >0,349 Item soal valid
6. 0,780 >0,349 Item soal valid
7. 0,915 >0,349 Item soal valid
8. 0,848 >0,349 Item soal valid
9. 0,747 >0,349 Item soal valid
10. 0,677 >0,349 Item soal valid
11. 0,856 >0,349 Item soal valid
12. 0,791 >0,349 Item soal valid
13. 0,782 >0,349 Item soal valid
14. 0,871 >0,349 Item soal valid
15. 0,874 >0,349 Item soal valid
16. 0,793 >0,349 Item soal valid
17. 0,766 >0,349 Item soal valid
18. 0,586 >0,349 Item soal valid
19. 0,857 >0,349 Item soal valid
20. 1 >0,349 Item soal valid

93
LAMPIRAN 14

94

Anda mungkin juga menyukai