0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan24 halaman

Pengertian Belajar dan Mengajar dalam Pendidikan

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka yang meliputi pengertian belajar, mengajar, pembelajaran, dan hasil belajar menurut para ahli. Juga dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, baik faktor intern seperti faktor jasmani dan psikologis, maupun faktor ekstern seperti faktor keluarga dan lingkungan sekolah.

Diunggah oleh

Rizqan Anshari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan24 halaman

Pengertian Belajar dan Mengajar dalam Pendidikan

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka yang meliputi pengertian belajar, mengajar, pembelajaran, dan hasil belajar menurut para ahli. Juga dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, baik faktor intern seperti faktor jasmani dan psikologis, maupun faktor ekstern seperti faktor keluarga dan lingkungan sekolah.

Diunggah oleh

Rizqan Anshari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori
1. Pengertian Belajar
Pendidikan belajar merupakan unsur yang sangat penting dan mendasar
untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan Undang-undang
Dasar 1945. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada
keberhasilan proses pelajar yang di laksanakan di sekolah atau lembaga
pendidikan lainnya.
Slameto (2016:2) menyatakan bahwa “Belajar ialah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya”. Perubahan yang terjadi dalam
diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu
sudah tentu tidak semua perubahan dalam diri seseorang merupakan
perubahan dalam arti belajar. Misalnya tangan seseorang anak bengkok
karena patah itu bukan perubahan dalam arti belajar.

Oemar Hamalik (2014:36) menyatakan bahwa “Belajar merupakan suatu


proses,suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengigat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami”. Hasil belajar bukan
suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan pengertian ini
sangat berada dengan pengertian lama tentang belajar, yang menyatakan bahwa
belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan
pembentukan kebiasaan secara otomatis dan seterusnya.
Makmun Khairani (2013:3) menyatakan bahwa “Belajar merupakan
kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat
menguasai atau memperoleh sesuatu. Belajar dapat didefinisikan secara sederhana
sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan didalam
diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu
pengetahuan keterampilan, dan sebagainya”.

7
8

Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran adalah proses


prubahan prilaku yang permanen akibat interaksi individu yang kompleks dengan
lingkungan melalui latihan maupun pengalaman baik secara sengaja maupun tidak
dan berlangsung sepanjang waktu.

2. Pengertian Mengajar
Mengajar dan belajar adalah kegiatan yang berbeda, akan tetapi di antara
keduannya terdapat hubungan yang erat, bahkan antara keduannya terjadi kaitan
dan interaksi satu sama lain secara bersamaan. Mengajar adalah segala [upaya
yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya
proses belajar dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Wina Sanjaya (2013:96) menyatakan bahwa “Mengajar diartikan sebagai
proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa”. Proses
penyampaian itu sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Setelah
dilakukan proses mentransfer ilmu yang dimiliki oleh seorang guru, ilmu yang
dimiliki guru akan semakin bertambah. Mentransfer dalam konteks ini diartikan
sebagai proses menyebarluaskan proses penyampaikan pengetahuan.
Alvin W. Howard dalam Slameto (2016:32) menyatakan bahwa
"Mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing
seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan Skill, attitude,
ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan Knowledge". Sardiman A.M.
(2016:47) menyatakan bahwa “Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada
anak didik. Pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin
medapatkan dan menguasai pengetahuan”.
Berdasarkan definisi mengajar menurut para ahli tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu aktivitas yang menonjol dalam
pembelajaran pada siswa. Suatu kegiatan menyampaikan informasi dari guru
kepada siswa sehingga siswa lebih mengerti apa yang dipelajarinya dalam
kegiatan ini menciptakan lingkungan yang kondusif. Mengajar juga mempunyai
kaitan dengan praktek sehingga siswa lebih mudah mengingat apa yang
diamatinya tersebut.
9

3. Pengertian Pembelajaran
Selain belajar unsur lain yang juga penting dalam penyelenggaraan
pendidikan adalah pembelajaran. Pembelajaran memegang peran penting dalam
melaksanakan tujuan pendidikan di sekolah lebih tepatatnya pembelajaran lebih
berfokus pada pelaksanaan pendidikan di dalam kelas yang dilaksanakan oleh
guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Di bawah ini akan
dijelaskan berbagai pengertian pembelajaran dari berbagai pendapat ahli.
Ahmad Susanto (2013:19) menyatakan bahwa “Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
keyakinan pada peserta didik”. Miftahul Huda (2014:2) menyatakan bahwa
“Pembelajaran merupakan hasil dari memori, kohnisi, dan metakohnisi yang
berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang
sedang belajar,dan kondisi sini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena
belajar merupakan proses alamiah setiap orang”.
Oemar Hamalik (2014:57) menyatakan bahwa “Pembelajaran adalah
suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam
sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya
tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan
kapur, fotografi, slide, dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan
perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga
komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian
informasi, praktik, ujian dan sebagainya”.

Dari pendapat para ahli tersebut, maka pembelajaran adalah interaksi dua
arah yang dilakukan oleh guru dan siswa secara sadar untuk mencapai tujuan
tertentu dengan proses yang direncanakan dengan melibatkan proses mental siswa
secara maksimal untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir
siswa.
10

4. Pengertian Hasil Belajar


Proses belajar di sekolah yang tujuannya untuk melaksanakan tujuan
pendidikan yang diaplikasikan dengan melaksanakan proses pembelajaran di
dalam kelas akan memberikan pengaruh dan perubahan kepada siswa. Pengaruh
dan perubahan tersebut dapat dikatakan sebagai hasil dari belajar. Di bawah ini
akan dijelaskan lebih mendalam pengertian hasil belajar dari berbagai kesimpulan
ahli.
Purwanto (2014:46) menyatakan bahwa “Hasil belajar merupakan
realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar yang diukur sangat
tergantung kepada tujuan pendidikan”. Nana Sudjana (2013:22) menyatakan
bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajarnya”. Asep Jihad dan Abdul Haris dalam
bukunya (2013: 14 ) menyimpulkan bahwa “Hasil belajar merupakan pencapaian
bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif
dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu.”
Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan hasil belajar adalah
perubahan ranah kognitif, afektif dan psikomotoris yang terjadi pada individu
yang menagalami proses belajar yang ditandai dengan pencapaian tujuan
pendidikan dengan wujud nyata mengusai kecakapan, keterampilan dan
penguasaan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dinilai melalui
tes dan dapat dinilai.

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil belajar


Aktivitas belajar siswa tidak selamanya berlangsung baik dan wajar, ada
yang lancar dan ada pula yang tidak lancar, ada yang mudah dimengerti dan
dipahami apa yang dipelajari, terkadang terasa sulit untuk dimengerti dan
dipahami. Dalam hal semangat dan berkonsentrasi dalam belajar pun berkurang.
Yang ada hanya keasikan bermain dan bercerita dengan teman sebangku didalam
kelas. Demikian kenyataan yang sering dijumpai pada setiap siswa dalam
kehidupannya sehari-hari di dalam aktivitas belajar mengajar.
11

Slameto (2016:54) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil


belajar banyak jenisnya tetap dapat digolongkan menjadi 2 yaitu faktor intern dan
faktor ekstern. Faktor intern merupakan faktor yang ada dalam diri individu yang
sedang belajar sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berada diluar
individu yang sedang belajar.
Slameto (2016:54-60) menyatakan bahwa "Faktor Intern dapat dibagi
menjadi 3 faktor yaitu : 1) faktor jasmaniah, 2) faktor psikologis, dan 3) faktor
kelelahan". Di dalam ketiga faktor tersebut terdapat bagian-bagian dari ketiga
faktor tersebut, yaitu : faktor jasmaniah, meliputi : a) Faktor Kesehatan, b) Cacat
Tubuh, faktor psikologis meliputi : a) Inteligensi, b) Perhatian, c) Minat, d) Bakat,
e) Motif, f) kematangan, g) Kesiapan, faktor kelelahan meliputi : a) kelelahan
jasmani, b) Kelelahan Rohani.
Faktor Ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar, dapat dikelompokkan
menjadi 3 faktor yaitu : 1. Faktor Keluarga Meliputi : a) Cara orang tua mendidik
: cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya.
b) Relasi antaranggota keluarga: relasi antaranggota keluarga yang terpenting
adalah relasi orang tua dengan anaknya. c) Suasana rumah : suasana rumah
dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam
keluarga di mana anak berada dan belajar. d) Keadaan ekonomi keluarga :
keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. e) Pengertian
orang tua : Anak yang sedang belajar perlu dorongan dan pengertian dari orang
tua. f) Latar belakang kebudayaan : tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam
keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. 2. Faktor Sekolah Meliputi : a)
Metode mengajar : metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui
di dalam mengjar. b) Kurikulum : kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan
yang diberikan kepada siswa. c) Relasi guru dengan siswa : proses belajar
mengajar terjadi antara guru dengan siswa. d) Relasi siswa dengan siswa : guru
yang kurang mendekati siswa dan kurang bijaksana, tidak akan melihat bahwa di
dalam kelas ada grup yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas tidak
terbina, bahkan hubungan masing-masing siswa tidak tampak. e) Disiplin sekolah:
kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan
juga dalam belajar. f) Alat pelajaran : alat pelajaran erat hubungannya dengan cara
belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waku mengajar
dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan. g) Waktu sekolah :
waktu disekolah ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu
itu dapat pagi hari, siang, sore/malam hari. h) Standar pelajaran di atas ukuran :
guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di
atas ukuran standar. i) Keadaan gedung : dengan jumlah siswa yang banyak serta
variasi karateristik mereka masing-masing menuntut keadaan gedung dewasa ini
haru memadai di dalam setiap kelas. j) Metode belajar : banyak siswa
melaksanakan cara belajar yang salah. k) Tugas rumah : waktu belajar terutama
adalah di sekolah, di samping untuk belajar waktu di rumah biarlah digunakan
untuk kegiatan-kegiatan lain. 3. Faktor Masyarakat Meliputi : a) Kegiatan siswa
12

dalam masyarakat : kegiatan siswa dalam masyarakat dapat mengguntungkan


terhadap perkembangan pribadinya. b) Media massa : yang termasuk mass media
adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik-komik, dan
lain-lain. c) Teman bergaul : pengaruh-pengaruh dari teman bergaul siswa lebih
cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. d) Bentuk kehidupan
masyarakat : kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap
belajar siswa. Misalnya, tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan lainnya.
Dari beberapa faktor-faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern. Kedua faktor
tersebut saling berkaitan dan menunjang satu sama lainnya sehingga
mempengaruhi meningkatnya hasil belajar siswa.

6. Pengertian Model Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai hasil belajar
dapat dilakuakn dengan berbagai cara. Merancang pembelajaran merupakan
proses awal yang dapat dilakuakan sebelum melaksanakan pembelajaran. Untuk
merancang pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan memilih model
pembelajaran yang mendukung proses belajar. Dibawah ini akan dijelaskan
pengertian model pembelajaran dari berbagai sumber.
Istarani (2012:1) menyatakan bahwa “Model pembelajaran adalah seluruh
rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum sedang dan
sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang
digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar”.
Ngalimun (2015:27) menyatakan bahwa “Model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas”. Trianto (2015:51) menyatakan bahwa
“Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran
dalam tutorial.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah rangkaian kegiatan, pola atau rencana yang disusun oleh
guru dengan memperhatikan tujuan belajar dan pembelajaran, kebutuhan siswa,
cara mengajar, dan lingkungan belajar dan digunakan sebagai pedoman dalam
13

pelaksanaan pembelajaran yang tujuannya agar siswa dapat mencapai tujuan


pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum.

7. Pengertian Model Pembelajaran Snowball Throwing


Istarani (2012:92) menyatakan bahwa “Model pembelajaran Snowball
Throwing 'bola salju bergulir' merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola
kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama anggota kelompok”.
Pada prinsipnya, model ini memadukan pendekatan komunikatif, integratif,
dan keterampilan proses. Jika proses pembelajaran ini berjalan dengan lancar,
maka akan terbentuklah suasana kelas yang dinamis, karena kegiatan siswa tidak
hanya berpikir, menulis, bertanya, atau berbicara. Akan tetapi mereka juga
melakukan aktivitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada
siswa lain. Dengan demikian, tiap anggota kelompok mempersiapkan diri karena
pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat
dalam bola kertas. Model ini juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk
mengembangkan keterampilan menyimpulkan isi berita atau informasi yang
mereka peroleh dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks.
Aris Shoimin (2014:174) menyatakan bahwa "Model pembelajaran Snowball
Throwing adalah model pembelajaran yang merupakan pengembangan dari model
pembelajaran diskusi dan merupakan bagian dari model pembelajaran kooperatif.
Selanjutnya Istarani (2012:92) menyatakan bahwa "Model pembelajaran Snowball
Throwing merupakan rangkaian penyajian materi ajar yang diawali dengan
penyampaian materi, lalu membentuk kelompok dan ketua kelompoknya yang
kemudian masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknnya masing-
masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada
temannya serta dilanjutkan dengan masing-masing peserta didik diberi satu
lembar kertas, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut
materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa model
pembelajaran Snowball Throwing adalah menjelaskan pada ketua kelompok,
14

ketua kelompok menjelaskan pada anggotanya, masing-masing anggota membuat


pertanyaan yang dimasukkan dalam bola, lalu bola tersebut dilempar pada siswa
lain untuk menjawab pertanyaan yang ada didalam bola tersebut.

8. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing


Muftahul Huda (2014:227) menyatakan bahwa “Langkah-Langkah model
pembelajaran Snowball Throwing adalah sebagai berikut :
a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua
kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c. Masing-masing ketua kelompok kembali kekelompoknya masing-masing,
kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
d. Masing-masing peserta didik diberi satu lembar kertas, untuk menuliskan satu
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua
kelompok.
e. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan
dilempar dari satu peserta didik kepeserta didik yang lain selama ± 15 menit.
f. Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas
berbentuk bola tersebut secara bergantian.
g. Penutup.

9. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Snowball Throwing


Suatu model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan model pembelajaran Snowball Throwing berdasarkan pendapat Aris
Shoimin (2014:176) adalah :

a) Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain


dengan melempar bola kertas kepada siswa lain.
b) Siswa mendapat kesemptan untuk mengembangkan kemampuan berpikir
karena diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan pada siswa lain.
15

c) Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu
soal yang dibuat temannya seperti apa.
d) Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
e) Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung
lewat praktik
f) Pembelajaran menjadi lebih efektif
g) Ketiga aspek Kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat tercapai.
Kekurangan model pembelajaran Snowball Throwing berdasarkan
pendapat Aris Shoimin (2014:176-177) adalah:
a) Sangat bergantung pada kemampuan siswa dalam memahami materi sehingga
apa yang dikuasai siswa hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari soal yang
dibuat siswa biasanya hanya seputar materi yang sudah dijelaskan atau seperti
contoh soal yang telah diberikan.
b) Ketua kelompok yang tidak mampu menjelaskan dengan baik tentu menjadi
penghambat bagi anggota lain untuk memahami materi sehingga diperlukan
waktu yang tidak sedikit untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran.
c) Tidak ada kuis individu maupun penghargaa kelompok sehingga siswa saat
berkelompok kurang termotivasi untuk bekerja sama. Akan tetapi, tidak
menutup kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberian kuis
individu dan penghargaan kelompok.
d) Memerlukan waktu yang panjang.
e) Murid yang nakal cenderung berbuat onar.
f) Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh siswa.

10. Pembelajaran Konvensional


Dalam pembelajaran konvensional yang paling berperan aktif dalam
proses pembelajaran adalah guru sedangkan siswa hanya dituntut untuk
mendengar dan mengikuti apa yang disampaikan guru. Djamarah dalam Eka Nella
Kresma (2014:155) menyarakan bahwa: “Pembelajaran konvensional adalah
pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan ceramah, karena sejak dulu
metode ini dipergunakan sebagai alat lisan antara guru dengan anak didik dalam
16

proses belajar dan pembelajaran”. Menurut Bellanca dalam Safrina, dkk (2014:14)
bahwa “Pembelajaran konvensional yakni pembelajaran yang menekankan
pengendalian guru atas kebanyakan kejadian dan penyajian pembelajaran
terstruktur di ruangan kelas”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
konvensional adalah suatu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran
dimana guru berperan aktif dalam pembelajaran tersebut, sedangkan siswa hanya
mendengarkan apa yang disampaikan guru.
a. Langkah-langkah Pembelajaran Konvensional
Ada beberapa langkah-langkah dalam melaksanakan pembelajaran
konvensional. Kardi dalam Kresma (2014:155) menyatakan langkah-langkah dari
pembelajaran konvensional adalah:
Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Konvensional
Fase Kegiatan Guru
Fase 1 Guru menjelaskan tujuan
Menyampaikan tujuan dan menyiapkan pembelajaran konvensional,
siswa informasi latar belakang pelajaran,
pentingnya pembelajaran,
mempersiapkan siswa untuk belajar.
Fase 2 Guru mendemonstrasikan
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan benar atau
keterampilan menyajikan informasi tahap demi
tahap.
Fase 3 Guru merencanakan dan memberi
Membimbing penelitian bimbingan pelatihan awal.
Fase 4 Mengecek apakah siswa telah
Mengecek pemahaman dan berhasil melakukan tugas dengan
memberikan umpan baik memberi umpan balik.
Fase 5 Guru mempersiapkan kesempatan
Memberi kesempatan dalam pelatihan melakukan pelatihan lanjut dengan
lanjutan dan penerapan perhatian khusus kepada situasi lebih
kompleks dan kehidupan sehari-hari.
Langkah-langkah pembelajaran konvensional secara umum adalah, guru
memberikan apersepsi dilanjutkan dengan menerangkan bahan ajar secara verbal
dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh, guru membuka sesi tanya jawab
dan dilanjutkan dengan pemberian tugas, guru melanjutkan dengan
17

mengkonfirmasi tugas yang dikerjakan siswa dan guru menyimpulkan inti


pelajaran.

b. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Konvensional


Kelebihan pembelajaran konvensional antara lain sebagai berikut: 1)Setiap
siswa memiliki kesempatan yang sama mendengarkan penjelasan guru. 2) Isi
silabus dapat diselesaikan dengan mudah karena guru tidak harus menyesuaikan
dengan kemampuan guru sebab bahan pelajaran telah disusun secara urut.
Sedangkan kelemahan pembelajaran konvensional antara lain sebagai berikut: 1)
Pelajaran berjalan membosankan, 2) Siswa menjadi pasif dan hanya menulis saja,
3) Karena siswa pasif maka pengetahuan yang diperoleh mudah dilupakan, 4)
Siswa hanya belajar menghafal tanpa pemahaman.
Ginting dalam Moestlfa dan Sondang (2013:257) menyatakan kelebihan
dan kekurangan pembelajaran konvensional. Kelebihan pembelajaran
konvensional sebagai berikut: 1) Dapat digunakan untuk mengajar siswa dalam
jumlah yang banyak bersamaan, 2) Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan
dengan mudah, 3) Pengajaran dapat mengendalikan isi, arah, dan kecepatan
pembelajaran. 4) Ceramah yang infiratif dapat menstimulasi siswa untuk belajar
lebih lanjut secara mandiri. Kelemahan pembelajaran konvensional sebagai
berikut: 1) Rumusan tujuan instruksional yang sesuai hanya dengan tingkat
comprehension, 2) Hanya cocok untuk kemampuan kognitif, 3) Komunikasi
cenderung satu arah, 4) Bergantung komunikasi verbal penyaji, 5) Ceramah yang
kurang inspiratif akan menurunkan aktivitas belajar.

11. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD


Hakikat pembelajaran IPA di SD bukan hanya sekedar penugasan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan. Pembelajaran untuk anak SD sebenarnya banyak
disediakan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, berfikir dan memperoleh
kesempatan berdiskusi, berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat
juga bekerjasama secara kelompok.
18

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan


yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP
(Depdiknas, 2006) bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang
alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas
tentang fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan
pembelajaran IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini menunjukkan
bahwa, hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran
IPA yang empirik dan faktual. Hakikat IPA sebagai proses diwujudkan dengan
melaksanakan pembelajaran yang melatih ketrampilan proses bagaimana cara
produk sains ditemukan.
Jadi IPA pada hakekatnya merupakan suatu produk, proses dan penerapan.
Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa IPA adalah Ilmu yang mempelajari
alam semesta beserta isinya yang bersifat objektif tentang alam sekitar, peristiwa
dan gejala-gejala yang muncul di alam.

12. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Penelitian tindak kelas (PTK) berupaya untuk memperbaiki pelaksanaan
proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kualitas lulusan. Kegiatan PTK
sebagian besar guru yang berpengalaman sudah menerapkannya dalam
pembelajaran, walau pun kurang disadari dan belum direncanakan.
PTK kegiatan yang dilakukan guru untuk memperbaiki kekurangan-
kekurangan pembelajarannya di kelasnya dengan menggunakan media dan
metode. PTK dimulai dari tahapan perencanaan setelah dikemukakan masalah
dalam pembelajaran, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan, pengamatan dan
refleksi.
Imas Kurniasih & Berlin Sani (2014:2) menyatakan bahwa “ Penelitian
Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian yang berkonteks kelas yang
dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi
oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal
19

baru dalam pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran”.


Penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara individu maupun kolaboratif
(Ani W, 2008).
Suharsimi Arikunto (2014:2) menyatakan bahwa “Penelitian tindakan
kelas terdiri dari tiga kata yaitu Penelitian, Tindakan dan Kelas dimana dengan
menggabungkan ketiga kata tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas adalah
suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang
sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”. Tindakan
tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh
siswa. Kunandar (2013:42) menyatakan bahwa “Penelitian Tindakan Kelas
merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research), dan penelitian
tindakan ini bagian dari penelitian umumnya”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan Penelitian Tindak
Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui
refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar
siswa meningka.

13. Manfaat Penelitian Tindak Kelas (PTK)


Kunandar (2013:68) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah sebagai
berikut:
a. Manfaat aspek akademis adalah untuk membantu guru menghasilkan
pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki
mutu pembelajaran dalam jangka pendek.
b. Manfaat praktis dari pelaksanaan PTK antara lain: (1) merupakan
pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan
perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan
wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu selalu
mencoba untuk mengubah, mengembangkan dan meningkatkan pendekatan,
metode, maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model
pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas; (2)
pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan
20

PTK, maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran


praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan
dengan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif
melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan.

14. Tujuan Penelitian Tindak Kelas


Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahannya nyata yang
terjadi didalam kelas kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk
memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal
tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. PTK bertujuan untuk
meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya.
McNiff dalam Arikunto (2014:106) menyatakan bahwa "Tujuan utama
penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan
profesional pendidik dalam menangani proses belajar mengajar”. Sedangkan Borg
dalam Arikunto (2014:107) menyatakan bahwa "Tujuan utama penelitian tindakan
kelas adalah pengembangan keterampilan proses pembelajaran yang dihadapi oleh
guru di kelasnya, bukan bertujuan untuk mencapai pengetahuan umum dalam
bidang pendidikan”.
Dari defenisi yang dikemukakan, dapat disimpulkan tujuan dari Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) adalah untuk meningkatkan mutu praktik mengajar guru
di dalam kelas serta memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi
oleh pendidik.

15. Kelebihan dan Kekurangan PTK


Poppy [Link] dalam Saur Tampubolon (2014:38) menyatakan bahwa
“Kelebihan dan kelemahan PTK” adalah:
a. Kelebihan PTK
1) Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual.
2) Menggunakan kerangka berpikir yang teratur untuk pemecahan masalah dan
pengembangan baru yang lebih unggul dari cara-cara yang ada sebelumnya.
3) Berdasarkan observasi yang nyata dan objektif.
21

4) Fleksibel, spesifik, dan inovatif.


5) Dapat digunakan dalam inovatif pembelajaran.
6) Dapat digunakan untuk pengembangan pembelajaran kurikulum di sekolah.
7) Dapat digunakan untuk peningkatan/pembinaan profesionalisme guru.
8) Hasil PTK dapat diseminarkan di sekolah.
9) Pemanfaatan lainnya seperti untuk pengembangan keilmuan lain.
b. Kelemahan PTK
1. Peneliti adalah guru/dosen yang memiliki pengetahuan penelitian sangat
terbatas karena selama ini cendrung mempelajari/mempraktekan penelitian
kuantitatif, penelitian kualitatif, dan penelitian pengembangan yang disebut
penelitian non penelitian tindakan kelas (non-PTK).
2. Keterbatasan waktu, karena peneliti yang dirancang sesuai dengan alokasi
waktu pembelajaran di kelas, yang sering tidak cukup waktu yang
mengakibatkan kebenaran data sering kurang objektif.
3. Dalam memilih strategi pembelajaran, pendekatan/model/metode dan
media/alat peraga/praktik pembelajaran sering kurang tepat.
4. Kurang memakai pemanfaatan hasil PTK, dan sering kali dilakukan untuk
keperluan penyelesaian studi promosi pangkat/golongan,dan sertifikasi guru
yang seharusnya berkesinambungan.
5. Belum ada sistematika proposal dan laporan hasil PTK yang baku (beragam).
6. Masih ada pihak atau lembaga pendidikan/sekolah yang kurang memberi
dukungan/kurang memahami makna PTK di bidang pendidikan, khususnya
bidang kualitas praktik pembelajaran dan dampaknya.
7. Kurang tertib ilmiah, karna validitas internal dan eksternalnya lemah.
8. Tujuan penelitian bersifat situasional.
9. Sampel terbatas (mikro) sehingga kurang representatif dankendalinya
terhadap variabel bebas sangat sedikit.
10. Pelaksanaan PTK terlalu lama (1 semester) dan setiap siklus terdiri atas tiga
pertemuan.
11. Jadwal pelaksanaan PTK sering kurang sesuai dengan jadwal pelaksanaan
program pembelajaran di sekolah.
22

12. Peneliti sering terfokus pada praktik pembelajaran dan hasil belajar, kurang
mengkaitkan faktor-faktor lain yang relevan.
Kunandar (2013:69) kelebihan dan kekurangan PTK adalah sebagai
berikut:
a. Kelebihan PTK adalah sebagai berikut:
1. Kerja sama dalam PTK menimbulkan rasa memiliki.
2. Kerja sama dalam PTK mendorong kreativitas dan pemikiran kritis dalam hal
ini guru yang sekaligus sebagai peneliti.
3. Melalui kerja sama, kemungkinan untuk berubah meningkat.
4. Kerja sama dalam PTK meningkatkan kesepakatan dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapi.
b. Kekurangan PTK adalah sebagai berikut:
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar PTK pada
pihak peneliti (guru). Penelitian tindakan kelas yang lazimnya dilakukan oleh
guru, pelatih, pengelola, pengawas, kepala sekolah, widyaiswara dan pihak-
pihak lainnya yang selalu peduli akan ketimpangan atau kekurangan yang ada
dalam situasi kerjanya dan berkehendak untuk memperbaikinya. Karena para
praktisi ini biasanya berurusan dengan hal-hal yang praktis, mereka kurang
dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik dasar PTK. Hal
ini diperparah oleh perasaan bahwa kegiatan penelitian hanya layak dilakukan
oleh masyarakat kampus yang bergelut dengan kegiatan ilmiah, sehingga para
praktisi (guru) pada umumnya kurang tertarik untuk melakukan penelitian.
Berkenan dengan waktu kerena PTK memerlukan komitmen peneliti untuk
terlibat dalam prosesnya, faktor faktor waktu ini dapat menjadi kendala yang
cukup besar. Hal ini disebabkan belum optimalnya pembagian waktu antara untuk
kegiatan rutinnya dengan aktivitas PTK. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan
mengelola waktu yang optimal sehingga kegiatan rutin dan aktivitas penelitian
dapat dilaksanakan secara efektif, sebab pada hakikatnya kegiatan PTK dapat
dilakukan bersama-sama tanpa saling mengganggu dengan tugas rutin.
23

16. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam


Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata
sains ini berasal dari bahasa latin yaitu scienta yang berarti “saya tahu”. Dalam
bahasa inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti “pengetahuan”.
Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam bahasa
indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang
dalam bahasa indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Dalam
kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai: systematic and
formulated knowledge dealing with material phenomena and based mainly on
observation and induction (yang diartikan bahwa ilmu pengetahuan alam
didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan
menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada
hasil pengamatan dan induksi). Sumber lain menyatakan bahwa natural science
didefinisikan sebagai piece of theoretical knowladge atau sejenis pengetahuan
teoritis.
Fowler dalam Trianto (2015:136) menyatakan bahwa “IPA adalah
pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-
gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi”.
Wahyana dalam Trianto (2015:136) menyatakan bahwa “IPA adalah suatu
kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya
secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangannya tidak hanya
ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap
ilmiah.
Nokes di dalam bukunya 'Science in Education' menyatakan bahwa
Pengertian IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) ialah pengetahuan teoritis yang
diperoleh dengan metode khusus. H.W. Fowler et-al adalah ilmu yang sistematis
dan dirumuskan, dimana berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan
didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi.
24

Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam


adalah berhubungan dengan cara mencari tau tentang alam dengan sistematis,
sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta,
konsep,atau prinsip saja,tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

17. Materi Pembelajaran


a) Jenis Makanan Hewan
Dialam bebas, hewan mempunyai jenis makanan tersendiri. Jenis
makanan hewan yang dipelajari adalah makanan yang tersedia di alam. Agar
kamu dapat lebih mengetahui jenis makanan hewan, lakukanlah kegiatan
berikut. Dialam bebas, hewan mempunyai jenis makanan tersendiri. Jenis
makanan hewan yang dipelajari adalah makanan yang tersedia di alam. Sumber
makanan hewan dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu tumbuhan dan
hewan. Makanan yang berasal dari tumbuhan di antaranya dapat berupa daun,
batang, buah, biji-bijian, dan akar atau umbi-umbian. Sedangkan makanan yang
berasal dari hewan dapat berupa daging, ikan, tulang, dan serangga.
b) Menggolongkan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya
Tentunya kamu sudah mengetahui jenis makanan hewan yang berbeda
beda. Berdasarkan jenis makanannya hewan dapat digolongkan menjadi: hewan
pemakan tumbuhan (herbivora), hewan pemakan daging (karnivora), dan hewan
pemakan segala (omnivora).
1. Herbivora
Hewan pemakan tumbuhan saja atau disebut herbivora. Herbivora
dapat memakan bagian tumbuhan berupa daun, batang, biji dan juga
umbi-umbian. Contoh herbivora pemakan rumput dan dedaunan misalnya sapi,
kuda dan kambing. Kelinci sangat menyukai jenis umbi-umbian seperti
wortel. Jenis burung ada yang tergolong ke dalam herbivora. Burung pemakan
biji-bijian seperti merpati, tekukur dan burung gereja. Ada pula burung pemakan
buah-buahan seperti burung beo dan jalak. Biasanya burung tersebut memiliki
bentuk paruh yang khas sesuai dengan jenis makanannya.
Hewan-hewan yang termasuk herbivora umumnya mempunyai gigi seri
25

dan gigi [Link] seri berguna untuk memotong-motong makanan


sebelum dikunyah. Gigi geraham dengan permukaan yang luas digunakan untuk
mengunyah makanan hingga lumat.

Gambar 2.1 Contoh Hewan Herbivora


Sumber [Link]

2. Karnivora
Hewan yang memakan hewan lain disebut karnivora. Hewan karnivora yang
hidup di sekitar kita seperti anjing dan kucing. Anjing memakan daging dan
tulang. Di rumah kucing memangsa tikus, memakan daging ayam dan
ikan. Harimau dan serigala merupakan hewan karnivora yang hidup di hutan
belantara. Mereka berburu untuk mendapatkan makanannya. Bagaimanakah
bentuk gigi dan cakar harimau? Hewan ini memiliki taring yang berguna untuk
merobek daging hewan yang dimangsanya. Kakinya memiliki cakar yang berguna
untuk mencengkram mangsanya. Ciri hewann yang termasuk karnivora
mempunyai indra penglihat, pencium, dan pendengar yang baik.
26

Gambar 2.2 Contoh Hewan Karnivora


Sumber [Link]
Hewan karnivora mempunyai gigi taring dan gigi geraham yang
tajam. Gigi taring yang besar. Gigi gerahamnya pun tajam yang berguna untuk
mengunyah daging dan tulang. Jenis burung yang termasuk karnivora seperti
burung elang dan burung hantu mempunyai cakar juga kuku yang tajam dan kuat.
3. Omnivora
Hewan omnivora atau pemakan segala yang sering kita jumpai
sehari-hari seperti: ayam, tikus, bebek, ikan, dan lain-lain. Contoh :
ayam memakan biji-bijian seperti beras dan jagung dapat pula makan cacing
27

Gambar 2.3 Contoh Hewan Omnivora


Sumber [Link]

B. Kerangka Berikir
Pada dasarnya mata pelajaran IPA di sekolah dasar berisi bahan pelajaran
yang ditekankam kepada pengalaman dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari
yang ditunjuk dengan pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai bekal untuk
mengikuti pendidikan berikutnya. Fungsi dari mata pelajaran IPA di SD adalah
membentuk siswa yang aktif dan kreatif.
Namun selama ini, proses pembelajaran di lapangan atau sekolah-sekolah
masih berpusat pada guru yang selalu mengendalikan seluruh kegiatan kelas
sehingga dalam belajar di kelas siswa kurang terlibat di dalamnya sehingga siswa
bersikap pasi dan hanya sebagai pendengar dalam arti aktivitas siswa selama
mengikuti pembelajaran di kelas kurang akibatnya siswa merasa jenuh serta bosan
pada mata pelajaran IPA. Suasana belajar seperti itu semakin menjahkan peran
28

pendidikan IPA di SD dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk


berikir kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi ini partisipasi siswa dan
tanggung jawabnya dalam belajar serta pembentukan diri siswa. Dalam arti dapat
membentuk siswa yang aktif, kreatif cerdas, terampil dan berkarakter.
Untuk itu perlu dilakukan perubahan dalam kegiatan dan suasana belajar
mengajar dengan siswa sebagai pusat pembelajaran. Salah satu inovasi dalam
pelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan
model pembelajaran yang memilih kontribusi terhadap peningkatan hasil dan
mutu pendidikan IPA di SD. Karena aktivitas siswa terkait erat dengan
pemahaman dan hasil belajar siswa. Dimana, hasil belajar merupakan indikator
keberasilan siswa dalam belajar. Selain itu guru juga diharapkan memiliki
kemampuan menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih aktif dan kreatif
memberikan dorongan belajar kepada siswa.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk menciptakan situasi belajar
mengajar yang lebih aktif dan kreatif serta untuk meningkatkan hasil belajara
siswa dalam pembelajaran IPA adalah dengan menggunakan model Snowball
Throwing. Karena implementasinya model Snowball Throwing dilaksanakan
dengan cara membuat kelompok kecil yang dapat berpikir secara aktif dan
kreaktif dalam setiap aktivitas belajar di sekolah mampu di luar sekolah sehingga
diharapkan semangat belajar anak serta meningkatkan hasil belajar akan lebih
meningkat.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran
Snowball Throwing siswa diharapkan dapat mewujudkan aktivitas belajar yang
aktif dan menciptakan proses belajar yang bermakna bagi siswa agar
meningkatkan hasil belajar siswa.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berpikir, hipotesis tindakan dalam
penelitian ini adalah hasil belajar sisiwa menggunakan model pembelajaran
Snowball Throwing lebih baik daripada hasil belajar siswa menggunakan model
pembelajaran Konvensional pada Mata Pelajaran IPA Materi Penggolongan
29

Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya di kelas IV SD Negeri 060934 Medan


Johor Tahun Ajaran 2017/2018.

D. Definisi Oprasional
Agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan dan menghindari kesalahan
pahaman maka perlu definisi oprasionalnya yaitu sebagai berikut:
1. Belajar pada Mata Pelajaran IPA Materi Penggolongan Hewan Berdasarkan
Jenis Makanannya merupakan suatu proses yang mengakibatkan terjadinya
perubahan tingkah laku ataupun pengetahuan siswa sebagai subjek belajar
baik melalui interaksi dengan lingkungan maupun hasil pengalaman dan
latihan.
2. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk
mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta
dapat meningkatkan kemampuan mengkonsumsi pengetahuan baru sebagai
upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
3. Mengajar pada Mata Pelajaran Penggolongan Hewan Berdasarkan Jenis
Makanannya adalah suatu kegiatan memanusiakan manusia. Manusia yang
dimaksud dalam hal ini adalah anak didik, yang dapat memberi kemungkinan
bagi siswa untuk terjadinya proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
yang telah dirumuskan.
4. Hasil belajar adalah hasil yang diproleh siswa setelah terjadinya proses
pembelajaran IPA materi sumber daya alam dan hasilnya, yang ditunjukkan
dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setelah sesuai memberikan materi
pelajaran pada suatu pokok bahasan.
5. Model pembelajaran adalah pedoman yang digunakan dalam merencanakan
pembelajaran dengan sistemasis untuk mencapai tujuan belajar yang
dilaksanakan oleh guru.
6. Model pembelajaran Snowball Throwing merupakan rangkaian penyajian
materi ajar yang diawali dengan penyampaian materi, lalu membentuk
kelompok dan ketua kelompoknya yang kemudian masing-masing ketua
30

kelompok kembali ke kelompoknnya masing-masing, kemudian menjelaskan


materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya serta dilanjutkan
dengan masing-masing peserta didik diberi satu lembar kertas, untuk
menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah
dijelaskan oleh ketua kelompok.
7. Penelitian Tindak Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di
kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki
kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat.
8. IPA pada Materi Pembelajaran Penggolongan Hewan Berdasarkan Jenis
Makanannya adalah suatu kumpulan yang sistematis, penerapannya secara
umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode
ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti
rasa ingin tau, terbuka, jujur, dan sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai