0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
249 tayangan5 halaman

Penggunaan Simple Face Mask dalam Terapi Oksigen

Masker wajah sederhana (SFM) adalah masker oksigen sekali pakai yang terbuat dari plastik bening untuk memberikan terapi oksigen kepada pasien dengan kondisi seperti nyeri dada, pusing, atau perdarahan ringan dengan meningkatkan konsentrasi oksigen yang dihirup. SFM mampu meningkatkan laju aliran oksigen hingga 10 liter per menit untuk menghasilkan konsentrasi oksigen antara 40-60% tergantung la
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
249 tayangan5 halaman

Penggunaan Simple Face Mask dalam Terapi Oksigen

Masker wajah sederhana (SFM) adalah masker oksigen sekali pakai yang terbuat dari plastik bening untuk memberikan terapi oksigen kepada pasien dengan kondisi seperti nyeri dada, pusing, atau perdarahan ringan dengan meningkatkan konsentrasi oksigen yang dihirup. SFM mampu meningkatkan laju aliran oksigen hingga 10 liter per menit untuk menghasilkan konsentrasi oksigen antara 40-60% tergantung la
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : GRACE KRISTIN MARRANG

NIM : 20170811024025

SEMESTER : REGULER/VII

PRODI : ILMU KEPERAWATAN

SIMPLE FACE MASK

Simple Face Mask ( SFM ) adalah masker sekali pakai dasar, terbuat dari
plastik bening, untuk memberikan terapi oksigen bagi pasien yang
mengalami kondisi seperti nyeri dada (kemungkinan serangan jantung),
pusing , dan perdarahan ringan.. Masker ini hanya dimaksudkan untuk
pasien yang dapat bernapas sendiri, tetapi mungkin memerlukan
konsentrasi oksigen yang lebih tinggi daripada konsentrasi 21% yang
ditemukan di udara ambien. Pasien yang tidak dapat bernapas sendiri
ditempatkan pada ventilator medis sebagai gantinya. Masker wajah
sederhana dapat memberikan kecepatan aliran yang lebih tinggi
daripada kanula hidung (6–10 liter per menit) untuk FiO2 dengan 40–
60% oksigen.. Kanula hidung dan masker wajah sederhana digambarkan
sebagai sistem pengiriman aliran rendah.
A person wearing a simple face mask
. Seseorang yang memakai
masker wajah sederhana

masker wajah sederhana tidak memiliki kantong reservoir. Masker juga


memiliki lubang di masker alih-alih katup satu arah non-rebreather,
sehingga udara sekitar dapat masuk ke masker.. Fitur ini menghilangkan
bahaya mati lemas jika masker dengan katup satu arah terputus dari
oksigen. Oleh karena itu, masker wajah sederhana biasanya lebih disukai
oleh personel pendukung kehidupan dasar seperti petugas pemadam
kebakaran, penjaga pantai, dan personel penyelamat non-medis lainnya
yang terlatih dalam pertolongan pertama dasar. Konsentrasi oksigen
akhir yang diberikan oleh masker wajah sederhana bergantung pada
jumlah udara ruangan yang bercampur dengan oksigen yang dihirup
pasien..Pencampuran udara ditentukan oleh berapa banyak udara yang
dihirup setiap individu saat ini, dikombinasikan dengan kesesuaian
masker. Karena variabilitas faktor-faktor ini, konsentrasi oksigen akhir
agak tidak terkontrol. Alat venturi yang dipasang pada masker dapat
digunakan untuk mengontrol sampai tingkat tertentu konsentrasi oksigen
yang dikirim, biasanya ini digunakan untuk mencegah hipoksia pada
pasien emfisema yang kehilangan kemampuan untuk menghirup
sepenuhnya.. Efektivitas terapi dapat terus dipantau menggunakan
oksimeter denyut , meskipun data yang lebih berguna secara klinis dapat
diperoleh dengan menggambar gas darah arteri.
Simple face mask juga merupakan pemberian oksigen dengan cara
menempatkan masker pada muka pasien, hasilnya akan meningkatkan
volume tampungan oksigen yang lebih besar daripada ukuran
tampungan anatomis saluran napas yang terbatas.

Tampungan oksigen yang lebih besar akan meningkatkan FiO2 (fraksi


oksigen inspirasi). Kecepatan aliran oksigen harus cukup tinggi
(biasanya 5 L/menit atau lebih) untuk mencegah pengumpulan CO2
yang dikeluarkan saat ekspirasi, agar tidak terhirup kembali
(rebreathing). Namun demikian, bila kecepatan aliran oksigen semakin
ditingkatkan, aliran oksigen di atas 10 L/menit tidak bisa lagi
meningkatkan FiO2 karena tampungan dalam masker sudah penuh.

Simple face mask memiliki lubang ventilasi di kedua sisi untuk


mempertahankan volume ruang udara dan tempat lewatnya udara
ekspirasi. Masker sederhana ini tidak mempunyai katup atau kantong
udara. Masker harus dipasang dengan benar sehingga menutup hidung,
mulut, dan dagu. Tekan bagian logam fleksibel pada daerah hidung
sehingga bentuk masker sesuai dengan bentuk hidung pasien, agar bisa
menutup dengan baik dan mencegah gas keluar dari masker. Atur tali
pengikat di kepala pasien dan beritahu pasien tentang pentingnya

penggunaan masker. Bersihkan bagian dalam masker dan buang air


yang terkumpul, khususnya bila menggunakan air pelembab. Pantau
kulit yang mendapat tekanan masker. Saat makan, masker sementara
bisa diganti denga kanula nasal.

Tabel berikut memperlihatkan FiO2 yang dihasilkan bila diberikan


oksigen 100% melalui simple face mask dengan berbagai kecepatan
aliran (L/menit).
Kecepatan aliran FiO2

5-6 L/mnt 0,40

6-7 L/mnt 0,50

7-8 L/mnt 0,60

 Kelebihan simple face mask


 Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter
atau kanula nasal,
 system humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan
sungkup berlubang besar,
 dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
 Sederhana, ringan
 Bisa dilengkapi dengan pelembab udara
 Mampu menghasilkan FiO2 sampai 0,6

 Kekurangan simple face mask


 Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%,
 dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah,
menyekap,
 tidak memungkinkan untuk makan dan batuk. Bias terjadi
aspirasi bila pasien muntah.
 Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit
dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastic
yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan
dan kenyamanan.
 Pada beberapa pasien terasa mengganggu, ingin membuka
masker saat bicara
 Membatasi akses muka pasien untuk ekspektorasi sekresi
 Kesulitan menempatkan masker secara tepat, pada pasien
dengan NGT atau orogastric tube
 Tidak nyaman bila pada muka terdapat trauma atau luka bakar
 Iritasi atau rasa kering pada mata, bila pengaturan logam
fleksibel daerah hidung kurang tepat atau ukuran masker
terlalu besar

Common questions

Didukung oleh AI

A simple face mask is preferred when a patient requires a higher concentration of oxygen that cannot be achieved with a nasal cannula, typically above 40% FiO2. It is also used when patients can spontaneously breathe but may experience conditions such as chest pain, dizziness, or minor bleeding that might require elevated oxygen levels. Despite limitations like discomfort, interference with eating or speaking, and potential CO2 trapping, it is practical for non-critical scenarios where non-rebreather masks aren’t necessary .

The simple face mask avoids suffocation risks by incorporating holes on either side of the mask instead of one-way valves, allowing ambient air to enter the mask freely. This feature ensures that if the oxygen delivery is interrupted, the patient can still breathe surrounding air, mitigating the risk of suffocation which might occur with other mask types that lack this open design .

The design of a simple face mask, which includes a plastic body that covers the nose and mouth, allows it to maintain a reservoir of pure oxygen that the patient inhales, leading to increased inspired oxygen tension (FiO2). This is complemented by a higher flow rate capability compared to nasal cannulas, facilitating a higher FiO2 of up to 60%. The absence of valves prevents CO2 build-up and regulates the mix of atmospheric air with supplied oxygen, thus contributing to maintaining the desired oxygen levels .

To effectively adjust a simple face mask for various patients, the mask must be shaped to contour precisely over the nose, mouth, and chin. The metallic strip on the mask is molded over the bridge of the nose to prevent air leakage, and the elastic bands are adjusted around the head to secure the mask firmly without excessive tightness, which could cause discomfort. Proper alignment ensures the effectiveness of oxygen delivery and minimizes environmental contamination. Regular adjustments may be necessary due to changes in head position or swelling .

Two key disadvantages of using a simple face mask during prolonged therapy are discomfort and limited facial access. The mask's tight fit, required to prevent oxygen leakage, can cause skin irritation or pressure sores, particularly if used for extended periods. Additionally, the mask restricts access to the patient's mouth, complicating tasks like eating, talking, or oral hygiene. This physical obstruction can also hinder necessary medical examinations or procedures involving the nose or mouth .

Monitoring arterial blood gases (ABG) provides detailed information about the patient's blood pH, CO2, and bicarbonate levels, in addition to oxygen saturation, offering a comprehensive view of a patient’s respiratory status. While pulse oximetry provides quick and non-invasive monitoring of blood oxygen saturation, it lacks the ability to assess CO2 levels, which is critical for conditions affecting ventilation. Therefore, ABG is more clinically useful as it helps in identifying issues like hypoxemia or hypercapnia, conditions pulse oximetry alone may miss .

Humidification in a simple face mask enhances patient comfort by humidifying dry oxygen, which can otherwise cause mucosal dryness and irritation. Humidified oxygen therapy is critical in cases where therapies are administered over long periods as it prevents dryness-induced respiratory discomfort, making the therapy more tolerable and effective. This is especially beneficial for patients with sensitive airway linings or those prone to dehydration .

The recommended flow rate of oxygen for a simple face mask is at least 5 liters per minute. This rate is important to prevent the accumulation of CO2, which is exhaled by the patient, ensuring it is not re-inhaled (rebreathing). If the flow rate is too low, CO2 might accumulate inside the mask, leading to potential respiratory issues for the patient .

A simple face mask offers several advantages over nasal cannula for oxygen delivery. It provides a higher oxygen concentration, achieving up to 60% FiO2 compared to the lower concentration available via nasal cannulas. The mask allows for the increased humidification capability through the use of larger perforated masks. Furthermore, it can deliver oxygen therapy in aerosol form, offering versatility for different patient needs .

The simple face mask is unsuitable for patients requiring an oxygen concentration below 40% FiO2 because it cannot be adjusted to deliver oxygen concentrations lower than this threshold. Its design inherently delivers a higher concentration of oxygen, which may lead to oxygen toxicity if used for patients who do not need such levels, thus necessitating alternative methods like nasal cannula for lower oxygen needs .

Anda mungkin juga menyukai