67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
11K tayangan14 halaman

Manfaat Sistem Informasi Ritel Terintegrasi

Sistem informasi retail adalah sistem yang mendukung kegiatan perusahaan ritel dengan menggunakan teknologi. Sistem ini terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, basis data, prosedur manual, dan petugas. Sistem ini memungkinkan koordinasi antara pembelian, penyediaan, dan distribusi barang untuk meningkatkan ketersediaan produk dan pengembalian investasi perusahaan.

Diunggah oleh

Nicole Williams
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
11K tayangan14 halaman

Manfaat Sistem Informasi Ritel Terintegrasi

Sistem informasi retail adalah sistem yang mendukung kegiatan perusahaan ritel dengan menggunakan teknologi. Sistem ini terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, basis data, prosedur manual, dan petugas. Sistem ini memungkinkan koordinasi antara pembelian, penyediaan, dan distribusi barang untuk meningkatkan ketersediaan produk dan pengembalian investasi perusahaan.

Diunggah oleh

Nicole Williams
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

B AB

4 Sistem Informasi Retail

Kompetensi Dasar
3.4 Menerapkan sistem informasi ritel
4.4. Melakukan sistem informasi ritel

Sistem Informasi Retail 51


Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Menjelaskan pengertian sistem informasi dalam bisnis ritel.
2. Memahami elemen-elemen sistem informasi dalam bisnis ritel.
3. Menganalisis peran sistem informasi dalam bisnis ritel.
4. Melakukan sistem informasi ritel.

Peta Konsep

Pengertian Sistem Informasi Retail

Elemen-Elemen Sistem Informasi Ritel

Keputusan dalam Penerapan Sistem


Informasi dalam Ritel
Sistem Informasi
Retail

Peranan SIM pada Sebuah Perusahaan Ritel

Menganalisis Manajemen Persediaan


dalam Bisnis Ritel

Contoh Sistem Informasi Manajemen

52 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


Materi Pembelajaran

A. Pengertian Sistem Informasi Retail

Dalam bisnis ritel atau disebut juga eceran dilakukan pencatatan dalam arus barang
untuk memberikan informasi secara terperinci mengenai keluar masuknya barang dalam
inventory. Dengan dilakukan pencatatan maka dapat mengendalikan dan mengawasi barang
yang masuk maupun barang yang keluar secara akurat dan tepat.

Penggunaan sistem informasi yang tepat dapat membantu mempersiapkan informasi


yang akurat. Dengan perkembangan bisnis yang semakin ketat, untuk dapat bersaing
secara kompetitif maka perusahaan retail perlu mempertimbangkan penggunaan sistem
informasi. Sistem informasi ritel adalah sistem yang berbasis pada pemanfaatan teknologi
dalam menunjang kegiatan perusahaan.
Sistem Informasi Ritel (SIM Ritel) adalah suatu sistem informasi yang dikembangkan
dengan menggunakan pendekatan yang berbasis pada pemanfaatan teknologi terpadu
peralatan sistem mekanisasi pengolah data sebagai penyedia informasi untuk menunjang
semua aspek kegiatan yang berhubungan dengan operasional, manajemen, analisis maupun
dalam hal pembuatan keputusan.
Secara umum struktur SIM Ritel tidak berbeda dengan sistem informasi manajemen
lainnya, meliputi:
1. Tingkatan informasi untuk proses transaksi, dalam hal ini fungsinya adalah sebagai
inquiry response. Tingkatan ini biasanya menjadi tanggung jawab dari staf atau clerk.
2. Tingkatan informasi untuk perencanaan operasional, pengendalian dan pengambilan
keputusan. Informasi yang berkaitan dengan kegiatan operasional setiap harinya
dibutuhkan oleh Lower Management yang berada pada tingkatan ini untuk pengambilan
keputusan.
3. Tingkatan informasi untuk perencanaan taktis dan pengambilan keputusan. Pada
tingkatan ini Middle Management membutuhkan informasi yang datangnya dari tingkat
perencanaan operasional maupun informasi dari luar lingkungan perusahaan seperti
informasi tentang pesaing. Informasi tersebut nantinya akan menjadi dasar pembuatan
rencana taktis perusahaan contohnya pembuatan anggaran maupun pengambilan
keputusan seperti penentuan jenis dan harga barang.
4. Tingkatan informasi untuk perencanaan strategi, kebijakan, dan pengambilan
keputusan. Tujuan dan arah perusahaan ditentukan oleh Top Management. Karena itu
informasi yang berkaitan dengan kinerja perusahaan dan keadaan lingkungan luar
perusahaan perlu dimiliki oleh tingkat ini demi kemajuan perusahaan.

Sistem Informasi Retail 53


Untuk membangun suatu Sistem Informasi Ritel dibutuhkan beberapa elemen, meliputi:
1. Perangkat keras
2. Perangkat lunak
3. Database
4. Manual procedur
5. Petugas pengoperasian sistem
Jadi bisnis retail tidak bisa terdiri dari satu kegiatan saja. Setelah mengetahui definisi
Manajemen dan Retail maka bisa dirumuskan manajemen retail adalah pengaturan
keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam perdagangan retail, yaitu perdagangan
langsung barang dan jasa kepada konsumen. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis
retail adalah place, price, product, dan promotion yang dikenal sebagai 4P.

Retailtech Japan

B. Elemen-Elemen Sistem Informasi Ritel

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) menyebutkan terdapat elemen sistem informasi
manajemen ritel, meliputi:
1) Perangkat keras yaitu merupakan bagian fisik dari suatu teknologi, misalnya komputer,
bagian dari perangkat keras merupakan bagian fisik dari komputer yang bisa dilihat,
disentuh.
2) Perangkat lunak yaitu merupakan bagian data yang disimpan secara digital, tidak bisa
dilihat bukti fisiknya.
3) Database yaitu merupakan sekumpulan software atau berbentuk data yang disimpan
secara digital.
4) Manual procedure yaitu merupakan langkah dalam melakukan sesuatu, sehingga
mempunyai kejelasan dalam melakukan sesuatu.
5) Petugas pengoperasian sistem yaitu petugas yang bekerja dalam pengoperasian sistem.
mereka bekerja sesuai job description dan SOP tertentu.
Elemen-elemen di atas berinteraksi dalam suatu sistem yang saling terkoneksi untuk
membentuk jaringan informasi. Dalam memetakan kebutuhan informasi yang diperlukan
perusahaan maka terdapat beberapa jaringan interkoneksi antara beberapa bagian berikut ini.

54 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


Gambar 4.1 Arus Informasi dan Arus Barang dalam Industri Ritel
Sumber: Levy & Weitz, 2004 (dalam Utami 2010, p.167)
Dalam proses ini sistem informasi memberikan bantuan untuk pelaksanaan kegiatan
retail dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan usaha retail. Proses penyediaan
barang merupakan sistem yang terintegrasi antara konsumen, usaha retail dan supplier-nya.
Proses yang dijelaskan dalam gambar alur informasi dan barang dagangan (gambar di atas)
memberikan penjelasan atas rangkaian dari keinginan konsumen hingga akhirnya perusahaan
ritel menyediakannya. Menurut Utami (2010, p. 167) rangkaian pesan informasi sepanjang
sistem dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Informasi atas pembelian barang dari konsumen dicatat dalam terminal POS (Point
of Sales). Data ini akan dikirimkan ke bagian pembelian atau perencanaan. Informasi
yang masuk diterima dan dimasukkan sebagai bagian perencaaan untuk melakukan
pembelian tambahan ataupun membuat keputusan mark down (pemberian diskon).
b) Informasi pembelian barang juga secara khusus akan diterima oleh komputer
pedagang ritel, yang memberikan informasi untuk melakukan pemesanan dan dikirim
pada toko dengan suatu sistem server yang disebut pertukaran data elektronik (Electronic
Data Interchange = EDI). Data yang dipertukarkan antara bagian ini dapat berupa
dokumen bisnis, yang berasal dari pedagang ritel ke penjual, dan sebaliknya. Dengan
demikian, untuk suatu barang yang sudah diorder secara rutin, akan dapat dilakukan
pemesanan secara otomatis.
c) Kemudian bagian pembelian atau perencanaan melakukan komunikasi dengan vendor
atau penjual untuk konfirmasi pemesanan barang. Dalam taraf ini biasanya ditentukan
tanggal pengiriman, syarat maupun termin pembayaran.
d) Pembeli atau perencanaan kemudian memberikan informasi itu kebagian distribusi
untuk melakukan koordinasi aktivitas pengantaran.
e) Para manajer toko juga dapat melakukan komunikasi dengan pusat distribusi meminta
pengantaran dan memeriksa status persediaan.
Lebih lanjut pembahasan mengenai terminologi dan penggunaan EDI dan POS akan
dijelaskan pada bagian lain dari modul ini.
Sistem informasi yang baik akan mampu mengoordinasi mulai dari bagian pembelian
dan penyediaan, yang memungkinkan adanya keuntungan dari peluang pembelian khusus
dengan jumlah tertentu. Di sisi lain, dengan data pelanggan yang tepat maka akan dapat
menurunkan biaya operasional yang memotong biaya penyimpanan, biaya transportasi,
dan biaya overhead lainnya.

Sistem Informasi Retail 55


C. Keputusan dalam Penerapan Sistem informasi dalam Ritel

Setelah vendor melakukan pengiriman barang dagang ke pusat distribusi ataupun


melakukan pengiriman langsung kepada peritel. Peritel dapat mengumpulkan informasi
pembelian bagi pelanggan, informasi ini juga bisa digunakan oleh pemasok untuk
merancanakan transaksi dalam bisnis ritel.

Setelah mengetahui kebutuhannya, kemudian manajemen perlu mempertimbangkan


peningkatan informasi yang akan memberikan dampak pada perusahaan. Beberapa
keuntungan yang akan didapat perusahaan dengan menerapkan sistem informasi dalam
perusahaan retail.
Keuntungan dalam sistem informasi dan jaringan manajemen menurut Utami (2010) adalah:
a. Menambah ketersediaan produk
Dengan adanya sistem informasi maka perusahaan ritel dengan cepat memenuhi
kepentingan dalam pemenuhan persediaan barang dagangan yang habis (berkurang)
dan mendapatkan informasi selera pelanggan terhadap pilihan barang dagangan
dengan jelas mengenai “apa”, “berapa” dan “di mana”. Untuk memenuhi kebutuhan
spesifik, terutama untuk perusahaan retail yang besar maka perusahaan ritel dapat lebih
baik mempersiapkan barang dengan menyimpan lebih banyak untuk barang-barang
kategori cepat habis.
b. Meningkatkan return on invesment
Kinerja perusahaan ritel dapat dilihat dengan kemampuannya untuk meningkatkan
target pengembalian atas investasi (return on investment/ROI). Dengan menerapkan
sistem informasi yang menunjang rantai pasokan yang lebih efisien maka laba
perusahaan dapat meningkatkan laba dan mengurangi biaya-biaya pembelian,
penyimpanan dan kerusakan. Dengan adanya sistem informasi maka penjualan
bersih dapat meningkat dengan menyediakan produk-produk yang lebih tepat dan
memberikan insentif sesuai dengan informasi yang dihasilkan dari sistem tersebut.
Demikianlah keuntungan yang dapat diperoleh dalam menerapkan sistem informasi
untuk rital dalam menunjang tujuan perusahaan. Keputusan dalam melakukan investasi
untuk menerapkan sistem informasi atau tidak, sangat bergantung dari kalkulasi return on
investment yang akan diberikan dari sistem tersebut.

D. Peranan SIM pada Sebuah Perusahaan Ritel

Dengan terminologi yang sudah dijelaskan di atas, sangat jelas bahwa adanya pusat
data (database) dalam SIM sangat menunjang kegiatan dalam bisnis ritel, karena melalui
sistem informasi ini banyak informasi yang didapatkan sehingga memudahkan transaksi
dalam bisnis ritel. SIM ritel yang banyak digunakan adalah sebagai berikut (O’Brien dan
Marakas, 2010):

56 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


a. Transaction Processing Systems (TPS)
TPS digunakan untuk kegiatan internal maupun eksternal perusahaan yang masih
menyangkut dengan masalah barang dalam perusahaan seperti gaji karyawan, order
pembelian konsumen.
b. Process Control Systems (PCS)
PCS berguna untuk proses dalam pelaksaanaan bisnis ritel misalnya barang masuk,
barang keluar, pencatatan dalam gudang.
c. Office Automation Systems (OAS)
OAS berfungsi untuk menyimpan data atau dokumen yang terkait dengan perusahaan.
Peranan sistem informasi dalam bisnis dapat semakin meningkatkan laba perusahaan
dengan cara (Rangkuti, 2004):
a. Meningkatkan efisiensi operasional
Ketika banyak hal yang harus dilakukan, melalui sistem manajemen informasi ini kita
hanya cukup untuk mengunduh atau membuka web berkaitan mengenai hal yang
ingin diketahui, tanpa harus datang ke perusahaan untuk informasi umum. Di sana
terjadi efisiensi. Untuk efisiensi operasional maka perusahaan menjalankan strategi
low-cost leadership.
b. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis
Inovasi baru membuat semua pekerjaan lebih efisien seperti ATM dalam dunia
perbankan. Untuk usaha ritel misalnya penggunaan mesin kasir dan sistem pembelian.
c. Membangun sumber-sumber informasi strategis
Fungsi dari sistem informasi tidak lagi hanya memproses transaksi, penyedia informasi,
atau alat pengambilan keputusan. Tetapi, dapat berfungsi sebagai penolong end user
untuk meghadapi tantangan dari persaingan yang ketat.

E. Menganalisis Manajemen Persediaan dalam Bisnis Ritel

1. Pengertian Inventory Management (Manajemen Persediaan)


Manajemen persediaan merupakan hal yang harus diperhatikan dalam dunia usaha
bisnis retail. Untuk melihat seberapa profesionalnya suatu bisnis ritel dapat dilihat
dari sistem pengelolaannya, salah satunya pengelolaan stok dan persediaan barang.
Kurangnya pengelolaan dalam persediaan juga dapat menurunkan keuntungan yang
diperoleh oleh perusahaan itulah mengapa perusahaan sangat harus mementingkan
manajemen persediaan. Persediaan barang dagangan mencakup semua persediaan
barang pada gudang maupun yang sudah di display (stock in hand).
Persediaan barang dagangan berarti barang dagangan yang ada pada gudang maupun
barang yang di display pada rak, gondola, dan lain-lain. Satu hal yang harus diperhatikan
lagi bahwa barang yang ada di gudang ataupun di display tidak boleh terlalu banyak
karena menyebabkan barang menumpuk ketika barang tersebut tidak fast moving, lalu
ditakutkan adanya kerusakan barang dalam gudang.
2. Fungsi Persediaan
Menurut Yamit (2003) ada empat faktor penting perlunya melakukan manajemen
persediaan untuk operasional perusahaan retail, yaitu:
a) Faktor waktu
Berkaitan dengan proses produksi dan distribusi.

Sistem Informasi Retail 57


b) Faktor ketidakpastian waktu datang dari supplier
Karena waktu yang tidak pasti dalam kedatangan bahan maka perusahaan harus
menyediakan persediaan lebih untuk mengantisipasi adanya keterlambatan atas
pesanan.
c) Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan
Hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin,
keterlambatan operasi, bahan cacat, dan berbagai aspek lainnya juga dapat
mengganggu jalannya perusahaan.
d) Faktor ekonomis
Merupakan kegiatan perusahaan di mana perusahaan meminimalkan biaya atau
memilih jalan yang lebih efisien untuk melaksanakan transaksi dalam perusahaan.
Menurut Rangkuti (2004, p.15) menyebutkan bahwa fungsi persediaan adalah sebagai
berikut:
a) Fungsi Decoupling adalah persediaan dari perusahaan yang tidak tergantung oleh
supplier, dikarenakan persediaan bahan mentah sudah ada dalam perusahaan
sehingga hanya bergantung pada proses pengiriman dan waktu pengiriman.
b) Fungsi Economic Lot Sizing adalah persediaan yang lebih mempertimbangkan
kepada penghematan harga atau potongan dalam pembelian. Biasanya hal ini dapat
dilakukan karena perusahaan melakukan pembelian bahan baku secara banyak
sehingga mengurangi nilai pada pengiriman. Lalu dalam persediaan diusahakan
untuk meminimalkan stok agar mengurangi ruangan untuk gudang sehingga
biaya sewa lebih murah.
c) Fungsi Antisipasi. Ketika permintaan tidak bisa diperkirakan atau diramal, contohnya
dalam permintaan musiman maka perusahaan menyiapkan persediaan yang lebih
banyak dari persediaan biasanya.
3. Maksud Persediaan
Maksud dari perencanaan persediaan adalah untuk memudahkan proses dalam transaksi
bisnis ritel. Maksud adanya persediaan menurut Rangkuti (2004, p.2):
a) Dibutuhkannya waktu untuk penyelesaian operasi, distribusi disebut persediaan
dalam proses dan pemindahan.
b) Setiap bagian membuat jadwal yang tidak terikat dengan bagian lainnya.
4. Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan suatu usaha untuk menyediakan bahan
yang diperlukan dalam proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan dengan
mengeluarkan keputusan-keputusan agar dapat meminimalkan risiko. Tujuan
perusahaan melakukan pengendalian ini yaitu untuk mengontrol alur proses maupun
transaksi yang terjadi di dalamnya dapat berjalan dengan baik dan benar. Apabila terjadi
suatu penyimpangan dalam proses produksi maka akan mengakibatkan adanya selisih
antara jumlah dan nilai persediaan. Persediaan teoritis merupakan suatu perhitungan
persediaan masukan dan keluaran yang didasarkan pada konsep keseimbangan
dinamis. Sedangkan persediaan aktual merupakan jumlah persediaan yang tersedia
setelah dilakukannya proses arus barang.
Merchandising harus melakukan pencatatan (recording) terhadap setiap proses yang
sedang terjadi karena adanya perbedaan di antara nilai harapan dengan keadaan yang
sebenarnya. Kegiatan pencatatan ini dilakukan agar dapat mencapai kondisi di mana
persediaan sesuai dengan yang diharapkan. Merchandise telah menangani banyak usaha
dan item dalam proses produksi. Dengan demikian, perlu dilakukan pengadministrasian

58 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


yang baik dan rapi. Pada saat ini, untuk menangani dan mengendalikan persediaan
haruslah memakai komputer. Pencatatan dengan komputer ini akan memberikan
kemudahan bagi penggunanya, karena stok dapat dilihat melalui sistem dan dengan
mudah dapat dicocokkan dengan buku maupun stok riil di lapangan. Apabila dalam
hasil laporan dari sistem dan buku memiliki kesamaan maka gross margin teoritis dan
aktual akan memilki kesamaan. Bagi grocery retailer, keadaan ini sangat jarang terjadi
karena pada item barang terjadi selisih persediaan yang disebabkan oleh kesalahan
administrasi, pencurian, dan lain sebagainya.
5. Pentingnya Pengendalian Persediaan dalam Usaha Ritel
Menurut Truboly (2006) bisnis ritel pada saat ini adalah bisnis yang menyenangkan. Pada
zaman dahulu binis ritel masih menjalankan sistem tradisional. Pada masa sekarang
ini sudah terdapat dukungan teknologi yang baik. Oleh karena itu, perlu adanya
sistem manajemen persediaan untuk mengelola persediaan. Arti penting manajemen
persediaan:
a) Aliran barang lebih terkontrol dan terkendali dengan baik tanpa mengganggu
operasional yang lainnya.
b) Menjamin barang tetap ada jika dibutuhkan konsumen. Konsumen akan merasa
puas apabila mereka mendapatkan barang yang mereka inginkan. Kepuasan
tersebut akan menimbulkan loyalitas terhadap perusahaan.
c) Menekan barang-barang yang memiliki pergerakan barang yang lambat. Dengan
penekanan tersebut perusahaan akan terhindar dari kebangkrutan karena barang
tidak laku.
d) Meminimalkan risiko kosong stok. Adanya barang-barang yang ada di gudang
membuat perusahaan akan aman dari kekurangan stok. Hal ini juga merupakan
antisipasi apabila pemasok telat dalam memasok barang ke perusahaan.
Menganalisis Teknologi dalam Bisnis Ritel
Kini bantuan teknologi untuk berbagai aktivitas keamanan operasi ritel sudah sangat
banyak. Peritel bisa mendapatkan berbagai peralatan yang paling sederhana hingga
yang sangat mutakhir untuk mengamankan toko dan operasinya. Beberapa di antaranya
adalah menggunakan sistem keamanan elektronik, kaca pengaman (security mirror),
atau bahkan kamera cctv dan sistem tag (tag system). Semua bisa digunakan sebagai
alat bantu pengawasan toko yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan format
ritelnya. Sebuah sistem cctv (close ciscuit tv) akan memberikan informasi siapa, kapan,
serta tindakan apa yang dilakukan orang yang masuk ke dalam toko. Kaca pengaman
(security mirror) akan membantu mengurangi blind spot serta mengurangi nilai jelek
pengutil. Tag system bisa digunakan sebagai pengawas “tidur” dan secara otomatis akan
memberikan tanda bila ada orang yang tidak bertanggung jawab.
Penggunaan aplikasi teknologi informasi ini sangat penting dalam dunia bisnis,
khususnya dalam industri ritel karena bisa membantu meningkatkan efisiensi
operasional dalam menjalankan sebuah bisnis, meskipun penggunaan teknologi
informasi ini hanya sebagai perantara saja.
1. Pengertian Teknologi Informasi
Yolanda (2011) menyatakan bahwa Teknologi Informasi adalah kemampuan
proses elektronikal dalam memasukkan proses input, penyimpanan, keluaran,
penyampaian, dan penerimaan data dan informasi. Usaha Ritel adalah semua
aktivitas yang melibatkan penjualan barang atau pelayanan pada konsumen
akhir. Contoh dari aktivitas ini yaitu seperti peramalan permintaan dan penjualan,

Sistem Informasi Retail 59


manajemen persediaan, manajemen toko, transportasi, dan lain-lain.
2. Teknologi Informasi dalam Usaha Ritel
Teknologi Informasi mempunyai peran yang sangat penting dalam menjalankan
sebuah bisnis, karena dengan menggunakan teknologi informasi ini bisa membantu
meningkatkan efisiensi dalam mengoperasikan sebuah perusahaan untuk mencapai
hasil yang lebih akurat. Meskipun teknologi informasi ini hanya sebagai perantara
saja dalam menjalankan sebuah bisnis.
Dalam bisnis ritel sudah banyak teknologi yang berkembang untuk memudahkan
transaksi dengan konsumen ataupun administrasi dalam perusahaan ritel itu sendiri.
Beberapa teknologi yang sudah lazim digunakan dalam bisnis ritel adalah sebagai
berikut (Levy dan Weitz, 2004):
a. Electronic Data Interchange (EDI)
Electronic Data Interchange (EDI) adalah suatu alur informasi bisnis yang
digunakan dalam pertukaran data antaraplikasi dan antarorganisasi yang
terintegrasi antara satu komputer dan komputer lainnya. Electronic Data
Interchange (EDI) ini banyak digunakan dalam hubungan antara perusahaan dan
supplier-nya untuk melakukan pertukaran informasi persediaan yang berada di
perusahaan baik di dalam gudang maupun dalam display (inventory on hand).
Teknologi informasi ini juga digunakan untuk melakukan pemesanan barang
yang dibutuhkan oleh perusahaan ritel, untuk pemberitahuan pengiriman
barang yang dipesan perusahaan, untuk penerimaan barang dagangan dan
sebagainya. Dengan menggunakan Electronic Data Interchange (EDI) ini maka
sebuah perusahaan ritel akan lebih mudah melakukan pengaturan persediaan
barangnya. Hanya dengan memasukkan data barang yang dibutuhkan ke
dalam sistem EDI ini maka data tersebut akan langsung terhubung ke komputer
perusahaan vendor, ke komputer gudang dan juga ke manajemen sebagai
dasar pengambilan keputusan.
Manfaat menggunakan Electronic Data Interchange (EDI) (Levy dan Weitz,
2004):
1) Adanya penghematan biaya dalam proses transaksi, misalnya dalam
pembayaran peralatan dalam bisnis ritel.
2) Adanya penghematan waktu dalam proses transaksi, dalam proses
transaksi untuk pemesan dan sebagainya biasanya menggunakan kertas
dan dilakukan secara tertulis manual tapi dengan menggunakan Electronic
Data Interchange (EDI) maka transaksi dalam kertas dapat digantikan
secara elektronik.
3) Meminimalkan kesalahan, dalam melakukan pemesanan barang sering kali
terjadi kesalahan dikarenakan kurang jelasnya pemesanan dalam kertas
karena tulisan setiap orang yang berbeda sehingga dapat memunculkan
persepsi yang berbeda, dalam menggunakan Electronic Data Interchange
(EDI) apa yang dikirimkan oleh perusahaan kepada supplier akan sama
sehingga kesalahan dapat diminimalkan, jika terjadi kesalahan mungkin
hanya dikarenakan kesalahan pengiriman barang bukan dari kesalahan
pemesanan barang.
4) Respons yang lebih cepat dibandingkan pemesanan dengan kertas
karena pemesanan dengan ketas membutuhkan waktu lebih lama untuk
pesanan sampai ke tangan supplier dibandingkan dengan Electronic Data

60 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


Interchange (EDI). Dengan menggunakan EDI maka data yang dikirim
langsung diterima dalam waktu bersamaan.
5) Pelaksanaan penyediaan persediaan akan lebih mudah karena barang
yang dibutuhkan untuk persediaan dengan mudah dipesan oleh
perusahaan.
6) Memiliki kemampuan untuk menyimpan data dengan baik sehingga
segala sesuatu yang sudah pernah dilakukan masih dapat dilihat sebagai
bukti dari pemesanan dan penerimaan.
7) Ada beberapa kegagalan dalam keamanan dalam menggunakan
Electronic Data Interchange (EDI) yaitu misalnya kehilangan data, dalam
menghindari hal tersebut perusahaan dapat melakukan beberapa
hal untuk mencegah yaitu orang yang melaksanakan transaksi dalam
Electronic Data Interchange (EDI) sudah memiliki izin untuk melakukan
permintaan.
b. Radio Frequency Identification (RFID)
Radio Frequency Identification (RFID) atau identifikasi frekuensi radio, biasanya
alat ini dipasang dalam produk, ada beberapa bentuk dari Radio Frequency
Identification (RFID). Dari yang besar sampai bentuk terkecil, berbeda dengan
barcode yang hanya bisa digunakan atau diidentifikasi dengan kode tapi Radio
Frequency Identification (RFID) dilakukan dengan menggunakan gelombang
radio. Dalam perusahan bisnis ritel misalnya saja beberapa toko sudah banyak
yang memasang alat ini, alat ini digunakan untuk menghindari adanya barang
yang diambil tanpa membayar misalnya, ketika melewati pintu yang sudah
dipasang alat maka alat tersebut akan berbunyi dalam hal tersebut Radio
Frequency Identification (RFID) dilakukan untuk pelacakan barang.
Manfaat dalam menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) yaitu
(Singh, 2014, p. 1052):
1) Dapat mengurangi biaya-biaya yang akan timbul, misalnya untuk biaya
gudang dan tenaga kerja, karena dalam pelacakan tidak diperlukan
banyak tenaga dari tenaga kerja karena sudah digantikan dengan mesin.
2) Dapat melacak keberadaan produk dengan lebih cepat.
Tetapi dalam menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) ada beberapa
hal yang harus dipertimbangkan yaitu (Levy dan Weitz, 2004):
1) Harga Radio Frequency Identification (RFID) yang relatif mahal.
2) Biasanya lebih diutamakan untuk digunakan pada barang dengan harga
yang tinggi.
3) Harus menggunakan data yang sangat banyak dalam pemrosesannya,
padahal terkadang alat yang digunakan dapat memproses data yang
terbatas saja.
c. Universal Price Code (UPC)
Universal Price Code (UPC) atau biasa disebut kode batang pada barang
(barcode). Universal Price Code (UPC) yaitu kode pada satu barang yang
digunakan secara universal atau menyeluruh pada satu produk misalnya
produk A mempunyai barcode yang sama untuk seluruh Indonesia. Untuk
membaca barcode dibutuhkan mesin khusus pada mesin kasir.
Manfaat dalam menggunakan kode barcode ini yaitu:

Sistem Informasi Retail 61


1) Proses input barang ke sistem akan lebih cepat karena cukup dengan
men-scan kode maka barang otomatis langsung masuk ke dalam sistem.
2) Proses dalam input data suatu produk akan lebih tepat karena sudah
menggunakan sistem yang dibuat dengan ketepatan tinggi tanpa
melibatkan kegiatan yang dilakukan manusia di dalamnya sehingga
mengurangi risiko human error.
3) Adanya peningkatan kinerja manajemen dalam perusahaan bisnis ritel
karena proses yang lebih cepat dan tepat sehingga hampir tidak terjadi
kesalahan dalam input barang.
3. Teknologi dalam Distribusi
Secara mendasar, menurut Singh (2014) perkembangan yang cukup signifikan atas
penggunaan teknologi untuk perusahaan dalam industri retail ini. Perkembangan
penggunaan teknologi ini utama dipengaruhi oleh:
a) Menurunnya biaya pembelian komputer.
b) Meningkatnya variasi mesin yang tersedia.
c) Meningkatnya kepedulian manajemen akan teknologi.
d) Meningkatnya pilihan paket perangkat lunak yang tersedia.
e) Meningkatnya kemampuan dan kecanggihan alat pemrogaman dan
perancangan dalam industri ini.
f ) Meningkatnya tuntutan akan kecanggihan alat perencanaan taktis dan strategis.
g) Meningkatnya kemampuan komunikasi yang menghasilkan keseimbangan
antara pengolahan terbesar dan basis data terpusat.
h) Cukup meningkatnya teknologi pengumpulan data dengan adanya terminal
jinjing, radio, unit EPOS, dan scanner laser.
6. Contoh Sistem Informasi Manajemen
Beberapa contoh konkret penerapan sistem informasi manajemen yaitu sebagai berikut:
1) Enterprise Resource Planning (ERP)
Sistem ERP ini biasanya digunakan oleh sejumlah perusahaan besar dalam mengelola
manajemen dan melakukan suatu pengawasan yang saling terintegrasi terhadap
unit bidang kerja Keuangan, Accounting, Sumber Daya Manusia, Pemasaran,
Operasional, dan Pengelolaan Persediaan.
2) Supply Chain Management (SCM)
Sistem SCM ini sangat bermanfaat bagi pihak manajemen di mana data data yang
disajikan terintegrasi mengenai manajemen suplai bahan baku, mulai dari pemasok,
produsen, pengecer, hingga konsumen akhir.
3) Transaction Processing System (TPS)
TPS ini berguna untuk suatu proses data dalam jumlah yang besar dengan transaksi
bisnis yang rutin. Program ini biasa diaplikasikan untuk manajemen gaji dan
inventaris. Contohnya yaitu pada aplikasi yang digunakan untuk Bantuan Keuangan
Desa Pemprov Jawa Timur.
4) Office Automation System (OAS)
Sistem aplikasi ini berguna untuk melancarkan sebuah komunikasi antardepartemen
dalam suatu perusahaan dengan cara mengintegrasikan server-server komputer
pada setiap user di perusahaan. Contohnya yaitu email.
5) Knowledge Work System (KWS)
Sistem informasi KWS ini mengintegrasikan satu pengetahuan baru ke dalam

62 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK


organisasi. Dengan ini, diharapkan para tenaga ahli mampu menerapkannya dalam
pekerjaan mereka.

Rangkuman

1. Sistem Informasi Ritel (SIM Ritel) adalah suatu sistem informasi yang dikembangkan
dengan menggunakan pendekatan yang berbasis pada pemanfaatan teknologi
terpadu peralatan sistem mekanisasi pengolah data sebagai penyedia informasi
untuk menunjang semua aspek kegiatan yang berhubungan dengan operasional,
manajemen, analisis maupun dalam hal pembuatan keputusan.
2. SIM sangat menunjang kegiatan dalam bisnis ritel, karena melalui sistem informasi
ini banyak informasi yang didapatkan sehingga memudahkan transaksi dalam bisnis
ritel.
3. Perencanaan persediaan adalah untuk memudahkan proses dalam transaksi bisnis
ritel.
4. Pengendalian persediaan merupakan suatu usaha untuk menyediakan bahan
yang diperlukan dalam proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan dengan
mengeluarkan keputusan-keputusan agar dapat meminimalkan risiko.

Uji Kompetensi
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Komponen sistem informasi berupa data yang masuk ke dalam sistem informasi disebut
dengan…
a. Input
b. Model
c. Output
d. Basis data
e. Proses
2. Sistem informasi yang mencatat transaksi ke dokumen-dokumen dasar kemudian
mengolahnya ke dalam sistem informasi yang diolah untuk dijadikan informasi-informasi
pencatatan nilai disebut…
a. Transaction processing systems
b. Speedsheet
c. Buku besar
d. Neraca
3. Sistem yang dapat menunjukkan pergeseran selera konsumen dari satu tempat ke
tempat yang lain dengan menggunakan tampilan geografis disebut…
a. ANN
b. GIS
c. DSS
d. SIS

Sistem Informasi Retail 63


4. Era di mana perusahaan-perusahaan sudah dihubungkan dengan jaringan sistem
teknologi informasi secara global dengan teknologi telekomunikasi melalui internet
merupakan ciri dari…
a. Operasi c. Era jejaring global
b. Informasi d. Akuntansi
5. Tingkatan manajer yang melakukan keputusan yang sifatnya terstruktur adalah
manajemen tingkat…
a. Atas d. Atas dan bawah
b. Menengah e. Sedang
c. Bawah
6. Urutan yang benar siklus pengolahan data dari sistem informasi adalah…
a. Input - model - output
b. Input - output - model
c. Model - input - output - informasi
d. Input - model - output – informasi
e. Semua benar
7. Penerapan sistem-sistem informasi di dalam fungsi-fungsi organisasi atau di tingkatan-
tingkatan organisasi merupakan penerapan sistem informasi secara…
a. Eksternal
b. Internal
c. Perencanaan strategi
d. Pengendalian
e. Terstruktur
8. Tujuan dari pengendalian kerusakan perangkat keras adalah…
a. Pengontrol data
b. Data processing feedback
c. Mendeteksi kesalahan
d. Analisis sistem
e. Penghematan
9. Sistem komputer yang dihubungkan dengan internet juga dapat diberi protokol jasa
nama domain. Contoh dari domain pendidikan adalah…
a. Com d. Gov
b. Edu e. [Link]
c. Net
10. Suatu sistem informasi dikatakan mendukung strategi jika dapat menyediakan produk
atau jasa yang berbeda atau unik dengan nilai yang lebih besar kepada pelanggan
dibandingkan pesaing-pesaingnya, yaitu dengan cara…
a. Menggunakan sistem informasi antarorganisasi untuk menghubungkan sistem-
sistem informasi perusahaan lain
b. Membantu perusahaan memfokuskan pada produk atau jasa khusus di suatu niche
khusus di dalam organisasi
c. Menurunkan secara drastis biaya proses bisnis dengan melakukan rekayasa proses
bisnis
d. Menggunakan teknologi informasi untuk membuat produk atau jasa yang berbeda
e. semua benar

64 Pengelolaan Bisnis Ritel Kelas XI untuk SMK/MAK

Common questions

Didukung oleh AI

Technology, specifically Retail Information Systems, influences operational efficiency by automating routine tasks, reducing errors, and optimizing inventory management through integrated data systems like EDI. It supports innovation by providing platforms for new service offerings and customer interactions, such as omni-channel retailing and personalized marketing. Online and automated systems allow for more responsive and flexible business operations, encouraging continuous improvement and innovative practices in retail management .

Retail Information Systems (RIS) facilitate competitive advantages by enhancing operational efficiencies, improving customer service, and enabling data-driven decision-making. They support real-time inventory management, optimize supply chain processes, and streamline transaction operations, reducing costs and improving product availability. Additionally, RIS integrate customer data, allowing retailers to tailor services and promotions, thereby improving customer loyalty and satisfaction. These systems also provide insights that help in differentiating products and services, ultimately leading to a stronger market position .

A Retail Information System (RIS) enhances inventory management by providing accurate and detailed tracking of goods within inventory, thereby improving control and oversight of stock movement. This ultimately leads to more efficient inventory management as the system ensures the accurate preparation of information which assists in decision-making and supports the competitiveness of the retail business . By integrating Electronic Data Interchange (EDI) systems, businesses can better manage inventory by streamlining communication between the retailer and suppliers, reducing storage and operational costs .

To ensure the successful implementation of a Retail Information System (RIS), several factors must be considered: infrastructure readiness, such as hardware and software compatibility; employee training and readiness to accept change; integration capabilities with existing systems such as EDI; alignment with business objectives and processes; and a clear understanding of the return on investment. Thorough planning and continuous evaluation during the implementation process are crucial to ensure the system meets dynamic business needs and supports strategic goals .

A Transaction Processing System (TPS) is crucial for processing internal and external transactions related to goods within a retail company, such as employee payroll and customer orders. Its integration into retail operations significantly impacts management by optimizing transaction processing efficiency, reducing errors in data entry, and improving data accuracy. This system supports operational efficiency by ensuring that transaction data is systematically and consistently updated, providing a reliable basis for decision-making .

'Low-cost leadership' refers to a strategy where a retail company aims to become the lowest cost producer in its industry. This is intrinsically linked to Information Systems through increased operational efficiencies achieved via systems like Management Information Systems (MIS). These systems streamline operations, help in reducing unnecessary costs, and facilitate cost-effective decision-making by providing precise and relevant data that help in optimizing processes and reducing overhead .

Information systems are critical in bolstering the strategic planning processes in retail organizations by providing the necessary performance data and external business environment analysis. This enhanced data allows top management to make informed strategic decisions, align business objectives with current market dynamics, and develop competitive advantages. Systems like Business Intelligence (BI) gather and interpret data, granting insights into market trends, consumer behavior, and operational efficiencies, thus supporting the formulation of effective strategies .

Security technologies such as CCTV and electronic tagging help maintain operational efficiency in the retail sector by acting as deterrents to shoplifting and inventory shrinkage. These technologies provide real-time monitoring and record-keeping, which helps in quickly identifying and mitigating security breaches. The presence of such systems also reassures employees and customers alike, thereby fostering a secure retail environment conducive to smooth operational processes. Efficient security measures reduce losses, indirectly contributing to higher profit margins .

Retail information systems support decision-making across various managerial levels by tailoring information relevant to each level's decision-making needs. For lower management, these systems provide essential operational data for daily decision-making tasks. Middle management utilizes this information for tactical planning and managerial decision-making, integrating operational data with competitive intelligence. For top management, the systems provide strategic insights, encompassing company performance data and macro-environmental analyses, supporting high-level strategic decision-making and policy formulation .

Electronic Data Interchange (EDI) systems play a pivotal role in enhancing supplier relationships by streamlining and expediting communication between retailers and their suppliers. By automating data exchange, such as orders, shipment notices, and inventory levels, EDI minimizes manual errors and speeds up the processing of transactions. This results in more accurate inventory management, reduction of overstock and understock situations, and improved supplier coordination. The seamless integration of supplier data into the retailer's system helps in better aligning inventory levels with demand .

Anda mungkin juga menyukai