0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan101 halaman

Driver Relay dan Sensor dalam Elektronika

Dokumen tersebut membahas mengenai driver relay dengan sensor. Secara singkat, dokumen menjelaskan bahwa transistor akan berfungsi sebagai driver relay, dimana transistor akan dikonfigurasikan sebagai sakelar elektronik untuk mengontrol relay. Dokumen juga menjelaskan prinsip kerja relay yang menggunakan medan magnet untuk mengontrol perpindahan kontak.

Diunggah oleh

MIKAEL SARAGI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan101 halaman

Driver Relay dan Sensor dalam Elektronika

Dokumen tersebut membahas mengenai driver relay dengan sensor. Secara singkat, dokumen menjelaskan bahwa transistor akan berfungsi sebagai driver relay, dimana transistor akan dikonfigurasikan sebagai sakelar elektronik untuk mengontrol relay. Dokumen juga menjelaskan prinsip kerja relay yang menggunakan medan magnet untuk mengontrol perpindahan kontak.

Diunggah oleh

MIKAEL SARAGI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

DRIVER RELAY DENGAN SENSOR

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : IRFAN SYAHPUTRA SIANTURI

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR


DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transistor merupakan komponen elrktronika yang berfungsi sebagai penguat arus,
stabilisasi, penyaklaran, dll. Dalam adaptor transistor berfungsi sebagai sebagai stabilizer,
untuk penyetabil arus yang keluar dari blok filter. Pada umumnya transistor dibagi dua
yaitu transistor PNP dan transistor NPN. Dan dari pembagian ini akan di klasifikasikan lagi
tergantung jenis jenis transistor tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis
transistor dapat dilihat pada bab pembahasan. Sensor adalah suatu alat yang dapat merubah
suatu gejala atau besaran fisis menjadi besaran listrik. Jenis-jenis sensor dapat dibagi
menjadi sensor cahaya, sensor jarak dan sensor suara. Di dalam sensor kita harus
mengetahui rangkaian antarmuka sensor, rangkaian detektor puncak, serta rangkaian
Sample and Hold. Transistor PNP ( P-Channel ) adalah transistor yang sumbernya terletak
pada gate positif. Sedangkan transistor NPN ( N-Channel )adalah transistor yang
sumbernya terletak pada gate negative. Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai
sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi
tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam
kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET),
memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Relay
adalah komponen listrik yang bekerja berdasarkan prinsip kerja induksi medan
elektromagnetis. Jika sebuah penghantar dialiri oleh arus listrik, maka disekitar penghantar
tersebut timbul medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik tersebut selanjutnya
diinduksikan ke logam ferromagnetis. Pada percobaan ini akan membahas mengenai driver
relay dengan sensor, dimana transistor sebagai driver relay, transistor disini
dikonfigurasikan sebagai transistor cut off dan saturasi atau bisa juga disebut sebagai
saklar elektronik.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis jenis dari sensor
2. Untuk mengetahui kontak kontak relay
3. Untuk memahami karakteristik dari relay
4. Untuk mengetahui fungsi dai sensor dan relay
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II
BAB II

DASAR TEORI

Relai adalah pengontrol yang dikendalikan dengan cara menghantam arus ke gulungan.
Ketika koil diberi energi, medan magnet yang dihasilkan menarik tempat logam ke arahnya,
menekan kontak nwinch yang menempel pada kontak yang terbuka. Dengan cara ini, arus
kecil dapat mengontrol yang jauh lebih besar, hanya transimor yang dibuat. Relai dapat
memiliki sejumlah kontak untuk mempesonakan beberapa sirkuit yang tidak terhubung pada
saat yang bersamaan. Seperti dengan rwitches, set cach disebut kutub. Juga, beberapa kontak
mungkin biasanya terbuka (NC), yang berarti bahwa mereka tidak menyentuh sampai relai
diberi energi, dan beberapa mungkin tertutup secara non-lokal (NC), yang berarti sebaliknya.
Setiap arah disebut shrow. Dengan demikian, relay dua-pule, double-chrow (DPDT) akan
memiliki dua wirch, masing-masing tiga kontak di sisi NO, kontak bergerak dan sisi NC
Relai Penanda dapat ditandai secara skematis untuk konstruksi internal -yaitu, di mana
sambungan koil dan jenis sakelar apa yang ada di dalamnya. Anda mungkin dapat
menemukan peringkat tegangan: yang menentukan tegangan koil, bukan tegangan maksimum
yang diizinkan pada kontak sakelar. Balap resistensi juga untuk koil. Jika Anda
menemukannya, Anda dapat menghitung arus tarik koil dengan hukum Ohm. Ini juga
membantu Anda saat menguji koil dengan DMM Anda. Beberapa relay termasuk dioda
internal di seluruh panggilan untuk mencegah reverse voitage yang dihasilkannya ketika
listrik dilepas dari memberi makan kembali ke sirkuit dan merusaknya. Jika relai
menunjukkan tanda polaritas (+ dan -), ia memiliki dioda. Maksimum cunent yang bisa
ditangani oleh kontak saklar biasanya tidak terlihat, tapi mungkin saja. Jika tanda bertuliskan
"12 VDC, 3 A." yang menunjukkan kumparan 12 volt yang dimaksudkan untuk digerakkan
dengan daya DC, yang beralih kontak yang mampu rwitching 3 amp.
Beberapa relay dibuat secara khusus untuk operasi AC col, juga, dengan pawai yang
sesuai. Penggunaan Relay pernah banyak digunakan untuk mengganti arus besar dengan yang
lebih kecil. Saat ini, semikonduktor biasanya melakukan pekerjaan itu, tetapi beberapa
aplikasi masih menggunakan relay. Sirkuit tunda catu daya, yang mencegah daya mencapai
sirkuit selama beberapa saat setelah suplai dinyalakan, sering memiliki relay. Circulta
proteksi speaker di amplifier audio daya tinggi menggunakannya t00, karena sinyal audio arus
tinggi tidak terhambat oleh relay, tetapi akan dengan semikonduktor. Sebagian besar relay
membuat klik terdengar ketika mereka mengalah, memberikan kehadiran mereka. Apa yang
Tewaskan Masalah Relai Mereka secara tidak langsung melibatkan kontak sakelar. Korosi
dari usia dan oksidasi, serta pitting dari arcing ketika arus besar tersihir, menyebabkan
resistensi atau kontak serpihan. Sekali waktu, relay akan menjadi lengket, tidak ingin
membuka kembali setelah daya saya dihapus dari koil. Kondisi ini dapat disebabkan oleh
lengkungan pada kontak yang membuat mereka saling menempel, dan oleh melemahnya
pegas yang digunakan untuk menarik piring menjauh dari inti besi koil. Kadang-kadang, relai
akan menempel karena pelat penarik termagnetisasi, sehingga menempel ke inti logam di
sekitar koil. Demagnetisasi dengan demagnetizer head tape atau magnet dari polaritas yang
berlawanan dapat mengembalikan operasi yang tepat. Jika relai memiliki penutup yang dapat
dilepas, Anda mungkin dapat mematikannya dan membungkam atau melepas kontak. Hati-
hati saat membuka penutup miniatur relay.
Penutup itu bisa sangat ketat, membutuhkan menggunakan pisau X-Acto untuk
mengorek plastik. Sangat penting untuk menghancurkan koil relay seperti itu jika pisau
tergelincir ke dalam dan mengiris lilitan setipis rambut. Saya sudah melakukannya. Lihat
cune wordi di Daftar Istilah. Kadang-kadang hanya dengan menarik selembar kertas yang
direndam di dalam pembersih kontak di antara kontak-kontak tersebut akan merapikannya dan
mengembalikan operasi yang benar. Jika itu tidak cukup, menyeka sangat ringan dengan
ampelas tine dapat merusak lapisan luar gunk. Semir perak juga berfungsi, tetapi pastikan
untuk menyelesaikannya setelah selesai. Berhati-hatilah untuk tidak membengkokkan kontak,
dan jangan mengampelas, itu penting untuk kelangsungan hidup jangka panjangnya. Apapun
metode yang Anda gunakan, bersihkan kontak dengan kertas yang dibasahi bersih untuk
menghilangkan residu sebelum Anda memasang kembali penutup relai. Pengujian Di Luar
Sirkuit Gunakan kesinambungan DMM Anda atau skala ohm terendah.
Periksa koil terus-menerus, Jika ada dioda, pastikan untuk memeriksa di kedua arah.
Jika bunyinya sangat dekat dengan nol pada relai yang memiliki dioda, curigai dioda
korsleting, terutama jika rymptom ruggesta yang koilnya tidak ingin menarik penyihirnya,
karena tranaistor yang memberi energi pada relai berjalan hor atau terbakar. Jika dioda ada di
papan, di luar relai, Anda menarik satu kaki dan memeriksa lagi untuk pendek. Juga, periksa
apakah tidak ada kontinu di antara koil dan merupakan inti logam. Jika ada, che coil memiliki
pendek, dan Anda memperhatikan relay baru. Transistor yang ditiupkan juga dapat
disebabkan oleh dioda perlindungan terbuka di koil relay. Tujuan dioda adalah untuk
menyerap lonjakan arus mundur yang terjadi ketika daya ke coild dihilangkan dan medan
magnetnya runtuh. Jika dioda terbuka, lonjakan itu diterapkan pada transirtor dan dapat
menghancurkannya. Setiap kali Anda menemukan tranaistor driver estafet yang ditiup,
tangkap kumparan sborted atau dioda proteksi yang terbuka atau singkat. Periksa NC Mereka
harus membaca dosis yang sangat untuk itu. Gunakan catu anda untuk memberi energi pada
koil. Jika memiliki dioda, pastikan polaritasnya benar, dengan katoda dioda, bukan anoda.
Ingat, dioda ingin ditransfer ke belakang, sehingga tidak akan berfungsi ketika daya
diterapkan. (Geier, M. 2016)
Ketika arus diterapkan ke koil, medan magnet dihasilkan. Medan magnet ini menarik
armature baja, membuka kontak atas, dan menutup kontak bawah, normal terbuka (NO).
Kontak membentuk saklar kutub tunggal, lemparan ganda (SPDT). Ketika daya terputus dari
koil, medan magnet berhenti, dan kontak kembali ke keadaan awal karena pegas. Relay coil
dirancang untuk dioperasikan. Kadang-kadang Anda akan mendengar ungkapan bahwa relay
telah "diambil" atau diambil "Ini berarti bahwa daya telah diterapkan ke koil relay, dan
kontaknya telah dipindahkan sesuai dengan fungsinya, dan pergantian cir cuit telah terjadi.
relay biasanya memiliki lebih dari satu set kontak, sehingga beberapa operasi switching dapat
dilakukan secara bersamaan. Berbagai lengan kontak digabung bersama sehingga mereka
beroperasi bersama ketika daya diterapkan ke koil. Konfigurasi yang umum adalah dua
bentuk-kontak A yang digabungkan untuk membentuk relai kutub ganda, lemparan tunggal
(DPST), Menyatukan dua kontak bentuk-C bersama pada relai yang sama menghasilkan relai
kutub ganda, lemparan ganda (DPDT). Jenis relai lain yang banyak digunakan adalah relai
buluh, diilustrasikan dalam Gambar 12.15. Jantung dari reed relay adalah saklar buluh yang
terdiri dari dua kontak tipis, logam, buluh disegel dalam tabung gelas. Kontak buluh terbuat
dari bahan magnetik, sehingga mereka akan bermagnet ketika medan magnet diterapkan pada
mereka. Sebuah kumparan yang terdiri dari banyak lilitan kawat halus dililit pada suatu
bentuk dan ditempatkan di atas buluh. Ketika daya diterapkan ke koil, medan magnet
dihasilkan. Medan magnet ini menarik kedua buluh seolah magnet batang. Satu ujung setiap
buluh akan memiliki kutub utara dan kutub selatan. Rcedes diposisikan sedemikian rupa
sehingga kutub utara satu akan menarik kutub selatan yang lain. Remenmber, teori magnetik
mengatakan bahwa tidak seperti kutub berhenti, sedangkan kutub seperti mengusir. Hasilnya
adalah bahwa kontak akan bergerak satu sama lain dan menyentuh, membuat koneksi listrik
yang baik. Ketika daya dilepaskan dari koil, kontak menjadi mengalami kerusakan magnetik
dan pegas terpisah. Relai buluh akan juga beroperasi dengan menggerakkan magnet
permanen di dekatnya. (Frenzel, L. 2010)
Jenis relai lain yang banyak digunakan adalah relai buluh, diilustrasikan dalam Jantung dari
reed relay adalah saklar buluh yang terdiri dari dua kontak tipis, logam, buluh disegel dalam
tabung gelas. Kontak buluh terbuat dari bahan magnetik, sehingga mereka akan bermagnet
ketika medan magnet diterapkan pada mereka. Sebuah kumparan yang terdiri dari banyak
lilitan kawat halus dililit pada suatu bentuk dan ditempatkan di atas buluh. Ketika daya
diterapkan ke koil, medan magnet dihasilkan. Medan magnet ini menarik kedua buluh seolah
magnet batang. Satu ujung setiap buluh akan memiliki kutub utara dan kutub selatan. Rcedes
diposisikan sedemikian rupa sehingga kutub utara satu akan menarik kutub selatan yang lain.
Remenmber, teori magnetik mengatakan bahwa tidak seperti kutub berhenti, sedangkan kutub
seperti mengusir. Hasilnya adalah bahwa kontak akan bergerak satu sama lain dan
menyentuh, membuat koneksi listrik yang baik. Ketika daya dilepaskan dari koil, kontak
menjadi mengalami kerusakan magnetik dan pegas terpisah. Relai buluh akan juga beroperasi
dengan menggerakkan magnet permanen di dekatnya.
Ketika magnet sudah dekat, kontak th akan menutup. Ini adalah cara umum untuk
merasakan jendela atau pintu terbuka di sistem keamanan rumah. Pengkodean transistor
Sistem eropa untuk mengklasifikasi transistor me- libatkan penggunaan kode alfanumerik
yang terdiri dari dua huruf dan tiga angka (transistor serbaguna) atau tiga huruf dan dua angka
(transistor khusus). Identifikasilah masing-masing transistor berikut ini: (a) AF115 (c) BD135
(d) BFY51. Penyelesaian Transistor (a) adalah transistor germanium serbaguna, daya-rendah,
frekuensi-tinggi. Transistor (b) adalah sebuah transistor silikon ser- baguna, daya-rendah,
frekuensi-rendah. Transistor (c) adalah transistor silik serbaguna, daya-tinggi, frekuensi-
rendah. Transistor (d) adalah transistor silikon khusus, daya-rendah, frekuensi-tinggi. Cara
kerja transistor Transistor bipolar umumnya dibentuk dari sam bungan NPN atau PNP dengan
bahan silicon. Sambungan ini dihasilkan dari iris silikon yang dicampurkan dengan bahan
pengerjaan proses pembuatan yang tereduksi menggunakan foto grafis). Transistor-transistor
silikon lebih unggul dibandingkan dengan transistor-transistor germanium untuk sebagian
besar aplikasi (terutama pada sub-tinggi) dan, oleh karena, perangkat germanium sangat
jarang ditemukan. NPN bersama dengan lambang lambang rangkaiannya (Tooley, M. 2003)
Dalam bab ini akan dibahas rangkaian yang tidak hanya mengandung komponen resistor saja,
tetapi juga mengandung in- duktor dan kapasitor. Adanya tiga macam komponen ini dengan
masing-masing sifatnya ternyata akan menimbulkan karakteristik yang baru dalam rangkaian.
Resistor yang bersifat membuang daya dalam bentuk panas, induktor yang bersifat
menyimpan arus bolak balik atau alternating current (ac), dan kapasitor yang bersifat
menyimpan tegangan searah atau direct current (de), akan me- nimbulkan adanya sifat
sementara (transien) dalam rangkaian. Sifat sementara rangkaian ini mudah dipahami
mengingat simpanan energi dalam rangkaian oleh unsur induktif atau kapasitif, lambat laun
akan dibuang oleh unsur resistif dalam bentuk panas. Jadi rangkaian tidak bisa menyimpan
energi selamanya, dengan kata lain hanya bersifat sementara. Dalam kondisi sementara ini,
sebelum diterapkan sumber-sumber bebas dari luar, tanggapan rangkaian disebut dengan
tanggapan sementara. Setelah lenyapnya tanggapan sementara, rangkaian dikatakan dalam
keadaan mantap atau tunak . Untuk membuat rangkaian mempunyai tanggapan sesuai dengan
yang diinginkan maka perlu diterapkan sumber-sum- ber bebas dari luar, baik sumber
tegangan atau sumber arus.
Tanggapan yang diakibatkan oleh adanya sumber-sumber bebas dari luar ini
dinamakan dengan tanggapan paksa. Kombinasi tanggapan tran- sien dan tanggapan paksa
inilah yang merupakan tanggapan lengkap rangkaian. 1. Induktor Induktansi didefinisikan
sebagai konstanta pembanding yang berlaku pada persamaan tegangan dalam eksperimen
mengenai kumparan konduktor yang selanjutnya disebut dengan induktor ini ditemukan oleh
dua ilmuwan, yaitu Michael Faraday (Inggris) dan Joseph Henry (Amerika). Untuk
menghargai jasa penemuan ini, nama penemunya digunakan sebagai nama satuan induktansi
(Henry yang disingkat sebagai H). Berdasarkan persamaan di atas, karena besarnya tegangan
sebanding dengan perubahan arus terhadap waktu, arus yang tidak berubah terhadap waktu
akan menyebabkan tegangan menjadi nol. Hal ini berarti bahwa induktor bagi de merupakan
rangkaian hubungan pendek. Apabila pada induktor bisa diterapkan arus yaitu arus yang
berubah secara mendadak dari suatu harga ke harga tertentu, maka akan dihasilkan bentuk
tegangan yang besarnya tak berhingga () yang berlangsung hanya sesaat. Bentuk tegangan ini
disebut dengan impuls yang tidak pernah terjadi dalam dunia praktis (Zukhri, Z. 2007)
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan dalam mendesain suatu peranti elektronik dan
memahami kerja suatu peranti elektronik, maka pada akhimya kita akan menemukan realisasi
subsistem dengan sesuatu device, untuk dapat menggantikan suatu subsistem dengan suatu
device dan untuk menggabungkan antar-device dalam kesatuan sistem sangat dibutuhkan
pemahaman mengenai device elektronika tersebut. Dunia itu indah, dan objek yang ada
didunia selalu diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan berpasangan. Di dalam elektronika, kita
umumnya bermain dengan 2 bentuk sinyal, yaitu sinyal analog dan sinyal digital. Sinyal
analog adalah sebuah kuantitas variabel fisik atau listrik secara kontiniu dengan bentuk sinyal
seperti gelombang sinus. Sedangkan sinyal digital bentuk gelombangnya seperti kotak.
Umumnya secara alami kuantitas fisik di dunia ini dalam bentuk analog. Lalu
mengapa kita butuh representasi digital yang sebenarnya secara alami adalah analog?
Jawabannya adalah jika kita ingin alat elektronik menginterpretasikan, berkomunikasi, dan
menyimpan informasi analog akan lebih mudah jika kita mengkonversikan terlebih dahulu ke
format digital. Sebagai contoh, termometer analog yang menunjukkan suhu 30 derajat celcius
dapat direpresentasikan sebagal deretan level tegangan on dan off yang dikenal oleh media
penyimpanan elektronik tersebut. Zener memiliki karakter yang unik karena bekerja pada
reverse bias, berbeda dengan dioda bins. Perbedaan lain antara zener dan dioda lainnya adalah
doping yang lebih banyak pada sambungan P dan N. (Budiharto, 2010)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen
1. Relay 5 V DC
Fungsi : Untuk pengontrol sistem tegangan tinggi tapi dengan tegangan rendah.
2. Transistor
Fungsi : Sebagai switching untuk mendrive relay.
3. LED
Fungsi : Sebagai induktor cahaya
4. LDR
Fungsi : Untuk menghantarkan arus listrik dan menghambat arus listrik.

3.1.2. Peralatan
1. Multimeter
Fungsi : Untuk mengukur hambatan arus listrik.
2. Protoboard
Fungsi : Untuk merangkai rangkaian sementara
3. Jumper
Fungsi : Untuk Sebagai penghubung antara komponen-komponen.
4. Catu Daya
Fungsi : Untuk mengubah arus AC menjadi arus DC ( Sumber tegangan)
3.2 Prosedur Percobaan
1. Rakitlah rangkaian seperti pada gambar pada protoboard
2. Ukurlah tegangan pada titik titik tertentu dan catat hasilnya
3. Tutup dan buka sensor LDR dan perhatikan perubahan pada relay dan keadaan LED,
kemudian catat hasilnya
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan

Intensitas Hambatan (Ω)

Gelap 2,56 (20K)

Terang 0,56 (20K)

Medan, 03 April 2020


Asisten Praktikan

(Irfan Syahputra Sianturi) (Mikael Petrus Saragi )


4.2 Analisa Data

Keadaan Gelap

Keadaan Terang

4.3 Gambar Proteus


(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Jenis-jenis sensor
Menurut klasifiasinya terbagi atas :
- Sensor Pasif : adalah jenis sensor yang dapat menghasilkan sinyal output tanpa
memerlukan pasokan listrik dari eksternal.
- Sensor Aktif : adalah jenis sensor yang membutuhkan sumber daya eskternal untuk dapat
beroperasi.
Berdasarkan sifatnya terbagi atas :
- Sensor Analog adalah sensor yang menghasilkan sinyal output yang kontinu atau
berkelanjutan. Sinyal keluaran kontinu yang dihasilkan oleh sensor analog ini sebanding
dengan pengukuran.
- Sensor Digital adalah sensor yang menghasilkan sinyal keluaran diskrit. Sinyal diskrit
akan non-kontinu dengan waktu dan dapat direpresentasikan dalam “bit”.
Berdasarkan penggunaannya terbagi atas :
- Akselerometer (Accelerometer) : adalah sensor yang mendeteksi perubahan posisi,
kecepatan, orientasi, goncangan, getaran, dan kemiringan dengan gerakan indra.
Akselerometer analog ini dapat digolongkan lagi menjadi beberapa yang berbeda
berdasarkan variasi konfigurasi dan sensitivitas.
- Sensor Cahaya (Light Sensor) : adalah Sensor analog yang digunakan untuk mendeteksi
jumlah cahaya yang mengenai Sensor tersebut. Light dependent resistor atau LDR dapat
digunakan sebagai sensor cahaya analog yang dapat digunakan untuk menghidupkan dan
mematikan beban secara otomatis berdasarkan intensitas cahaya yang
diterimanya. Resistansi LDR akan meningkat apabila intensitas cahaya menurun.
Sebaliknya, Resistansi LDT akan menurun apabil intensitas cahaya yang diterimanya
bertambah.
- Sensor Suara (Sound Sensor) : adalah Sensor analog yang digunakan untuk merasakan
tingkat suara. Sensor suara analog ini menerjemahkan amplitudo volume akustik suara
menjadi tegangan listrik untuk merasakan tingkat suara. Proses ini memerlukan beberapa
sirkuit, dan menggunakan mikrokontroler bersama dengan Mikrofon untuk menghasilkan
sinyal output analog.
- Sensor Tekanan (Pressure Sensor) : adalah Sensor yang digunakan untuk mengukur
jumlah tekanan yang diterapkan pada sebuah sensor. Sensor tekanan akan menghasilkan
sinyal keluaran analog yang sebanding dengan jumlah tekanan yang diberikan.
- Sensor Suhu (Temperature Sensor) : adalah Sensor tersedia secara luas baik dalam bentuk
sensor digital maupun analog. Ada berbagai jenis sensor suhu yang digunakan untuk
aplikasi yang berbeda. Salah satu Sensor Suhu adalah Termistor, yaitu resistor peka termal
yang digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu. Apabila Suhu meningkat, resistansi
listrik dari termistor akan meningkat juga. Sebaliknya, jika suhu menurun, maka resistansi
juga akan menurun.
2. Kontak-kontak Relay ada tiga jenis, yaitu:
- Normally Open (NO), apabila kontak-kontak tertutup saat relay dicatu
- Normally Closed (NC), apabila kontak-kontak terbuka saat relay dicatu
- Change Over (CO), relay mempunyai kontak tengah yang normal tertutup, tetapi ketika
relay dicatu kontak tengah tersebut akan membuat hubungan dengan kontak-kontak yang
lain.
3. Karakteristik dari relay
- Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay), Relay yang bekerja seketika (tanpa
waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja
dalam waktu beberapa mili detik (10 – 20 ms). Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi
umumnya dikombinasikan dengan relay arus lebih dengan karakteristik yang lain.
- Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay) , relay ini akan memberikan
perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya arus
gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up
sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya arus
yang mengerjakan relay.
- Relay arus lebih waktu terbalik, relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang
tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin
kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap pabrik dapat
membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam
tiga kelompok : Standar invers, Very inverse dan Extreemely inverse
4. Fungsi dari sensor secara umum adalah untuk mendeteksi adanya perubahan
lingkungan fisik atau kimia dan dapat digunakan untuk mengkonversi suatu besaran
tertentu menjadi satuan analog sehingga dapat dibaca oleh suatu rangkaian elektronik.
Fungsi dari relay adalah mengendalikan sirkuit tegangan tinggi dengan menggunakan
bantuan signal tegangan rendah, menjalankan logic function atau fungsi logika,
memberikan time delay function atau fungsi penundaan waktu, dan melindungi motor
atau komponen lainnya dari korsleting atau kelebihan tegangan.
5.2 Saran
- Sebaiknya praktikan selanjutnya mengetahui tentang Relay
- Sebaiknya praktikan selanjutnya mengetahui fungsi dari masing-masing komponen
yang digunakan
- Sebaiknya praktikan selanjutnya aplikasi dari percobaan ini dalam kehidupan sehari-hari
DAFTAR PUSTAKA

Budiharto, Widodo. 2010. Elektronika Digital Dan Mikroprosesor. Yogyakarta : ANDI


Halaman : 8 – 9 ; 46 - 47
Frenzel, Louis. 2010. Electronics Explained. United States of America : Newnes
Pages : 289 – 291
Geier, Michael. 2016. How to Diagnose and Fix Everything Electronic. United States of
America : McGraw Hill Education
Pages :149 -151
Tooley, Michael. 2003. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Jakarta : Erlangga
Halaman : 91 – 92
Zukhri, Zainuddin. 2007. Analisis Rangkaian Edisi Dua. Yokyakarta : Graha Ilmu
Halaman : 35 – 37

Medan, 03 April 2020


Asisten Praktikan

(Irfan Syahputra Sianturi) (Mikael Petrus Saragi)


LAMPIRAN
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

KARAKTERISTIK DAN APLIKASI THYRISTOR

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : LUKVI ADITYA ARIEFF

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara umum, thyristor dibagi menjadi tiga, yaitu SCR, DIAC, dan [Link]
merupakan singkatan dari Silicon Controlled Rectifiers, yang merupakan alat
semikonduktor empat lapis, terdiri dari dua transistor dan menggunakan tiga kaki, anoda,
katoda, dan gerbang (gate).Transistor dipakai secara luas sebagai sakelar pada rangkkaian
[Link] dalam hal lain-lain seperti pengendalian daya yang agak besar. Pada
percobaan ini akan dibahas mengenai bagian thyristor, terutama SCR, yaitu karakteristrik
dan prinsip kerjanya, sehingga diketahui penggunaan SCR dalam fungsi penyearah
ataupun sebagai switching, serta aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Thyristor adalah
komponen semi konduktor dengan sedikitnya tiga sambungan PN. Operasi thyristor sama
dengan operasi dari saklar.
Ciri-ciri thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan semikonduktor silikon.
Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang dimilikinya lebih kompleks
dibanding transistor bipolar atau MOS. Namun, kelemahan utamanya adalah bahwa
transistor memerlukan arus basis kontinu dan tinggi dalam kedaan ON. Lain halnya
dengan piranti semikonduktor berlapis banyak yang disebut thyristor yang mempunyai
kemampuan pengendalian daya besar dengan energi kendali minimum. Oleh karena itu,
piranti ini biasa dipakai pada penerapan canggih seperti penyearahan pengendalian laju
motor listrik dengan tingkat daya dari beberapa miliwatt hingga ratusan kilowatt. DIAC
merupakan gabungan dua dioda, dan TRIAC merupakan gabungan dua SCR. SCR adalah
perangkat empat lapis dengan tiga terminal, yaitu, anoda, katoda, dan gerbang. Ketika
anoda dibuat positif sehubungan dengan katoda, persimpangan J2 bias terbalik dan hanya
arus bocor yang akan mengalir melalui perangkat. SCR kemudian dikatakan berada
dalam kondisi blok maju atau mati.
.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara kerja dari SCR penyearah.
2. Untuk mengetahui aplikasi dari SCR.
3. Untuk mengetahui cara penggunaan SCR sebagai switching.
4. Untuk mengetahui fungsi peralatan dan komponen.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB II

DASAR TEORI

Thyristor merupakan devais semikonduktor 4 lapisan berstruktur pnpn dengan tiga pn-
junction. Devais ini memilit: nga terminal: anode, katode dan gerbang. Ketika tegangan anode
dibuat lebih positif dibandingkan dengan tegangan katode, sambungan J1, dan J3 berada pada
kondisi forward bias. Sambungan J2, berada pada kondisi reverse bias , dan akan mengalir
arus bocor yang kecil antara anode ke katode. Pada kondisi ini thyristor menyatakan pada
kondisi forward blocking atau kondisi off-state, dan arus bocor dikenal sebagai arus off-state
ID. Jika tegangan anode ke katode VAK ditingkatkan hingga suatu tegangan tertentu ,
sambungan J2, akan bocor. Hal ini dikenal dengan avalanche breakdown dan tegangan VAK
tersebut dikenal sehagai forward breakdown voltage, VBO Dan karena J1, dan J3, sudah berada
pada kondisi forward-bias, maka akan terdapat lintasan pembawa muatan bebas melewati
ketiga sambungan, yang akan menghasilkan arus anode yang besar.
Thyristor pada kondisi ini disebut berada pada keadaan konduksi atau keadaan hidup.
Tegangan jatuh yang terjadi dikarena tegangan ohmic antara empat layer dan biasanya cukup
kecil sekitar 1 V. Pada keadaan on, arus anode dibatasi oleh resistansi atau impedansi luar R L.
Arus anode harus lebih besar dari suatu nilai yang disebut menemp latching current IL, agar
diperoleh cukup banyak aliran pembawa muatan bebas yang melewati sambungan-
sambungan; jika tidak devais akan kembali ke kondisi blocking ketika tegangan anode ke
katode berkurang. Latching current IL, adalah arus anode minimum yang diperlukan agar
dapat membuat thyristor tetap pada kondisi hidup begitu suatu thyristor telah dihidupkan dan
sinyal gerbang dihilangkan. Karakteristik v-i umum dari suatu thyristor. Ketika berada pada
kondisi on, thyristor akan bertindak seperti diode yang tidak dapat dikontrol. Devais ini akan
terus berada pada kondisi on karena tidak ada lapisan deplesi pada sambungan J2, karena
pembawa-pembawa muatan yang bergerak bebas. Akan tetapi, jika arus maju anode berada di
bawah suatu tingkatan yang disebut holding curent LH, daerah deplesi akan terbentuk di
sekitar J2, karena adanya pengurangan banyak pembawa muatan bebas dan thyristor akan
berada pada keadaan blocking. Holding current terjadi pada orde milliamper dan lebih kecil
dari latching current IL,IH>IL. Holding current IH adalah arus anoda minimum untuk
mempertahankan thyristor pada kondisi on. thyristor keadaan tunak (0,91T). Ton adalah jumlah
tunda td, dan waktu mulai t1,td didefenisikan sebagai interval waktu antara 10% arus gerbang
(0,1IG) dan 10% arus keadaan on thyristor (0,1I T).tr adalah waktu yang diperlukan agar arus
anoda naik dari 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT) ke 90% arus keadaan on thyristor
(0,9IT). Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan ketika merancang rangkaian kendali
gerbang: Sinyal gerbang harus dihilangkan setelah thyristor dihidupkan. Suatu sinyal
penggerbangan kontinyu akan meningkatkandaya yang terbuang di sambung gerbang. Ketika
thyristor pada kondisi reverse bias, tidak boleh ada sinyal gerbang; jika ada sinyal gerbang,
thyristor akan rusak karena peningkatan arus bocor. Lebar pulsa gerbang t G harus lebih lama
dari waktu yang diperlukan untuk arus anoda meningkat ke nilai arus holding IH. Secara
praktis, lebar pulsa TG dapat biasanya diambil lebih dari waktu ton dari rhyristor. Suatu
thyristor memerlukan waktu minimum untuk menyebarkan kondisi tersambung ke semua
sambungannya secara merata. Jika peningkatan arus anode lebih cepat dibandingkan
kecepatan penyebaran dari proses turn-on, titik-titik pemanasan akan terjadi pada devais
karena adanya daerah-daerah dengan kepadatan arus yang tinggi dan devais akan rusak
sebagai hasil dari suhu yang berlebihan. Pada prakteknya, devais harus diproteksi terhadap
di/dt yang tinggi. Pada keadaan lunak. D in tersambung ketika thyristor T1 off. Jika T1,
dihidupkan (fired), ketika Din, masih tersambung di/dt akan sangat tinggi dan terbatas hanya
oleh induktansi stray dari rangkaian. Thyristor yang berada dalam kondisi on dapat dimatikan
dengan mengurangi arus maju ke tingkat di bawah arus holding IH. Ada beberapa variasi
teknik untuk membuat thyristor off. Pada semua teknik komutasi, arus anode dipindahkan di
bawah arus holding cukup lama. sehingga semua kelebihan pembawa muatan pada keempat
layer dapat dikeluarkan. Thyristor dibuat hampir seluruhnya dengan proses difusi. Arus anoda
memerlukan waktu tertentu untuk menyebar ke seluruh daerah dari sambungan tertentu, dari
suatu titik dekat gerbang ketika sinyal gerbang yang diberikan untuk membuat thyristor on.
Pabrik pembuat thyristor menggunakan banyak struktur gerbang untuk mengendalikan di/dt.
waktu turn-on dan waktu turn-off. Tergantung pada konstruksi fisiknya, dan perilaku turn-on
dan turn-off, thyristor dapat diklasifikasi secara umum menjadi sembilan kategori: Phase-
control thyristor (SCR), thyristor cepat-beralih (SCR), Gate-turn-off thyristor (GTO),
thyristor triode dua arah (TRIAC), thyristor pembalikan (RCT), thyristor induksi statis
(SITH), Penyearah terkontrol silikon yang diaktifkan-cahaya (LASCR), thyristor yang
dikendalikan oleh FET (FET-CTH), thyristor yang dikendalikan MOS (MCT). (Rashid,1999)
Penggunaan thyristor dalam pengaturan motor membawa beberapa keuntungan seperti:
pengaturan yang halus (kontinu), kerugian yang kecil, dan pemeliharaan yang lebih
sederhana. Motor arus searah dengan karakteristik putarannya yang sangat menguntungkan,
lebih banyak digunakan dalam pengaturan motor. Sedangkan pengaturan motor arus bolak-
balik, karena memerlukan biaya lebih tinggi, hanya digunakan dalam keadaan tertentu saja.
Di sini pembahasan penggunaan thyristor beserta rangkaiannya dalam pengaturan motor
sederhana sekali, sekadar memberikan gambaran umum saja. Perkembangan mengatur motorr
ini tidak terbatas pada penggunaan thyristor saja, melainkan sudah mencapai komputerisasi,
yang menggunakan suatu sistem pengaturan digital. Oleh karena itu, pada bab ini dibahas juga
mengenai sistem pengaturan digital dan contoh-contohnya yang disetujui dengan pengaturan
motor. Penggunaan thyristor dalam konversi daya, pada pembagian daya listrik dapat dibagi
atas 4 kelompok: Konversi arus bolak-balik (ac) menjadi arus searah (dr). Konversi arus
searah (dc) menjadi arus searah (dc). Konversi arus searah menjadi arus bolak-balik.
Konversi arus bolak-balik menjadi arus bolak-balik. Hubungan antara putaran dengan
tegangan adalah linier. Sedangkan karakteristik kopel terhadap perubahan sesuai dengan
kebutuhan beban yang membutuhkan kopel mula besar. Dengan demikian putaran dan
terminal dapat dikendalikan secara baik dengan mengatur tegangan terminal. Pengaturan
tegangan motor arus searah selama ini dilakukan dengan cara Ward-Leonard atau dengan
memasang tangga tahanan secara seri dengan kumparan jangkar untuk mengurangi tegangan
masuk motor. Jelas semua cara ini kurang efisien. Jika sumber tegangan merupakan arus
bolak-balik, thyristor dengan hubungan tertentu dapat menghasilkan tegangan searah, dan
tegangan searah ini dapat diatur dengan sudut penyalaan pada kisi (gerbang = gate) thyristor.
Rangkaian dasar thyristor untuk mengatur tegangan dari sumber iegangan ac ini telah
disetujui pada bab sebelumnya. Melukiskan rangkaian penyarah thyristor setengah gelombang
3 fasa yang digunakan untuk mengatur putaran dan kopel motor. V m dan pergantian kursor
pada pengatur kisi. (Zuhal,1988)
Thyristor dioda adalah sakelar automatis yang tak-canggih; dia ON jika tegangan yang
dikenakan memberikan bias sakelar; arus kolektor mengalir bila ada cukup arus basis yang
menyebabkan sakelar ON. Transistor dipakai secara luas sebagai sakelar pada rangkaian
digital. Namun, kelemahan yang dimaksud adalah transistor memerlukan arus berbasis
kontinu dan tinggi dalam keadaan ON. Lain halnya dengan piranti semikonduktor berlapis-
banyak (multi-layered) yang disebut tiristor yang memiliki kemampuan mengendalikan daya
besar dengan energi minimum. Oleh karena itu, piranti ini biasa digunakan pada penerapan
canggih seperti penyearahan (ac ke dc), pembalikan (dc ke ac), perelaian (relaying),
pewaktuan (timing), penyulutan (ignition), dan mengendalikan motor penggerak dengan
tingkat daya dari beberapa miliwatt untuk meningkatkan kilowatt. Operasi Piranti Empat-
Lapis Dioda silikon pnpn atau empat-lapis tersusun dari tiga sambungan pn seri. Lambang
mengandung angka 4 dengan pucuk (atas) menunjuk arah aliran arus positif. Pada penyajian
tiga-dioda, untuk tegangan anoda-ke-katoda negatif VAK, sambungan tengah J2 terbias-maju,
tetapi kedua sambungan lainnya terbias-balik. Menampilkan, suatu dioda "penghalang-balik"
dan karakteristik untuk VAK negatif, keadaan OFF, mirip dengan dioda terbias-balik. Tidak
ada arus-balik yang mengalir kecuali jika tegangan dadal avalan dilatasi. Untuk VAK positif,
arus pada pengaturan rendah bias bias-balik sambungan J2. Saat tegangan yang diterapkan
dinaikkan, arus naik hingga tegangan patah- balik "breakover" VBo tercapai. Pada titik
tegangan ini arus naik mendadak dan tegangan naik tajam; dioda telah beralih ke keadaan
ON. Pada trioda pnpn di mana ada hubungan gerbang ke lapisan p-di dalam terdapat di
gerbang yang mengubah tiristor ini ke keadaan di pada tegangan-tegangan di bawah VBO
untuk dioda yang dibutuhkan Penyearah terkendali silikon (SCR - rectifier terkontrol silikon)
seperti ini memungkinkan penyakelaran yang fleksibel dan, karena arus gerbang hanya
diperlukan sementara, pengontrolan daya yang terjadi dengan sangat efisien. Hubungan
gerbang adalah basis ruas transistor npn. (Pada sakelar terkendali silikon, SCS, sinyal gerbang
dapat diterapkan pada basis transistor pnp juga.) Injeksi arus basis menaikkan dan
menurunkan tegnagan patah-balik (breakover) secukup- nya. ( Smith,1998)
Pengonversi Thyristor Prinsip operasi dari konverter thyristor mirip dengan konverter dioda
kecuali untuk kenyataan bahwa tegangan motor dapat disesuaikan dengan mengubah waktu
gating thyristor. Diagram sirkuit dan bentuk gelombang karakteristiknya diberikan pada.
Agar thyristor melakukan, pulsa gating harus diterapkan selama interval waktu ketika
tegangan sumber lebih tinggi dari ggl kembali. Untuk meningkatkan kinerja konverter, dioda
freewheeling, ditunjukkan oleh garis putus-putus, juga dapat dimasukkan dalam rangkaian.
Efeknya pada bentuk gelombang saat ini ditunjukkan oleh garis putus-putus. Area yang
ditetaskan dalam setengah siklus negatif juga akan hilang. Untuk perbaikan lebih lanjut,
konverter gelombang penuh atau konverter tiga fase dapat digunakan. Konverter dc-to-dc
dikenal sebagai chopper. Rangkaian chopper membantu mengendalikan nilai rata-rata sumber
sebelum menerapkannya pada motor dc. Chopper pada dasarnya adalah rangkaian switching
statis yang menghidupkan dan mematikan tegangan de pada terminal motor pada frekuensi
tertentu. Asumsikan bahwa saklar S, pada awalnya terbuka pada t = 0. Penutupan dan
pembukaan saklar menghasilkan aplikasi tegangan sumber ke rangkaian jangkar dalam
serangkaian pulsa, seperti ditunjukkan pada Tegangan dinamo menyala selama periode t2 - ti
dan mati selama waktu t3 dari t ke t3 dikenal sebagai periode waktu pulsa. Arus jangkar
selama masing-masing periode waktu hidup dan mati juga ditunjukkan pada gambar. Nilai
rata-rata tegangan terminal jangkar adalah t2, dan siklus diulang setelahnya. Interval waktu
total Ini terlihat dari Persamaan. Bahwa nilai rata-rata dari tegangan yang diberikan ke
terminal jangkar dari motor yang tereksitasi terpisah dapat dikontrol dengan memvariasikan
baik waktu, periode waktu, atau keduanya. Jika periode waktu dipertahankan konstan dan
waktu meningkat atau menurun, nilai rata-rata tegangan yang diberikan juga akan meningkat
atau menurun. Skema pengontrolan tegangan terminal jangkar ini disebut sebagai teknik
pulse-width-modulation (PWM). Di sisi lain, dengan menambah atau mengurangi periode
waktu sambil menjaga waktu yang sama, nilai rata-rata dari tegangan yang diberikan dapat
menurun atau meningkat. Teknik ini dikenal sebagai kontrol frekuensi-pulsa. dijelaskan
dengan bantuan sirkuit switching yang diberikan. Asumsikan thyristor tidak bekerja dan
kapasitor terisi penuh. Setelah thyristor ditembakkan, sakelar S ditutup itu mulai melakukan
dan menyediakan jalan bagi energi kapasitor untuk mengalir bolak-balik antara kapasitor dan
induktor. Arus melalui cabang LC berosilasi pada frekuensi alami. Arus bersih melalui
thyristor sama dengan jumlah aljabar dari arus berosilasi dan arus beban. Selama osilasi dari
arus kapasitor, arus bersih melalui thyristor berbalik dan segera menyebabkan thyristor mati.
Ini menyebabkan sakelar S pada Gambar 12.23c terbuka, dan arus beban mengikuti jalur baru
melalui sumber. kapasitor, induktor, dioda, dan beban. Selama periode ini kapasitor mengisi
ke sumber tegangannya. Setelah itu, energi magnetik yang tersimpan dalam motor
mengalami dekavasi melalui dioda freewheeling, seperti yang ditunjukkan pada Gambar.
Periode luar dari thyristor dapat diakhiri dengan mengisi ulangnya, dan seluruh siklus
berulang dengan sendirinya (Huseyin,1988)
Apa itu Perangkat Kerusakan? Ini adalah perangkat solid-state yang kerjanya tergantung pada
fenomena longsoran salju. Mereka kadang-kadang disebut dengan nama generik thyristor
yang merupakan saklar semikonduktor yang tindakan bistable tergantung pada umpan balik
regeneratif P-N-P-N. Kita akan membahas perangkat berikut: Unijunction Transistor (UJT),
Silicon Controlled Rectifier (SCR), Triac (kependekan dari 'triode ac'), Diac (kependekan dari
'diode ac'), Silicon Controlled Switch (SCS). Perangkat ini memiliki dua atau lebih
persimpangan dan dapat dinyalakan atau dimatikan pada tingkat yang sangat cepat. Mereka
juga disebut sebagai perangkat latching. Sebuah gerendel adalah sejenis saklar yang awalnya
ditutup, tetap tertutup sampai seseorang membukanya. Unijunction Transistor Pada dasarnya,
ini adalah dioda silikon tiga terminal. Seperti namanya, itu hanya memiliki satu persimpangan
P-N. Ini berbeda dari dioda biasa karena ia memiliki tiga lead dan berbeda dari FET dalam
hal ia tidak memiliki kemampuan untuk transistor Unijunction. Namun, ia memiliki
kemampuan untuk mengontrol karakteristik resistansi daya negatif yang besar yang
membuatnya berguna sebagai OSE (a) Konstruksi. Ini terdiri dari panel yang didoping ringan
dengan tipe-D yang didoping. Aterial paduan ke satu sisi (B lebih dekat,) untuk
menghasilkan persimpangan PN tunggal A ditunjukkan pada Gambar. 27.1 (a), ada tiga
Eminals: satu emitor, E dan dua basis dan B, di bagian atas dan bawah bilah licon . Kaki
emitor ditarik pada sudut n ke vertikal dan panah menunjukkan arah arus konvensional.
Kemudian UJT dalam kondisi konduksi. Interbase Resistance (RRR) ,Basis Emitor Silikon
bar B, Basis Ini adalah perlawanan antara B, dan B, yaitu, itu adalah resistensi total dari bar
silikon dari satu ujung ke ujung lainnya dengan terminal emitor terbuka . Dari rangkaian
ekivalen Gambar 27.2 (b), terlihat bahwa Rap = R2 + R Perlu dicatat juga bahwa titik A
sedemikian rupa sehingga E. RB> R2 Biasanya, R = 60% dari Rpp: (c) Intrinsik Rasio Stand-
off Seperti yang terlihat pada Gambar 27.3 (a), ketika baterai 30 V diterapkan pada B, B, ada
penurunan tegangan secara progresif terhadap RBn asalkan E terbuka. (Theraja,2005)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3. 1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen dan Fungsi
1. SCR 2P4M
Fungsi: sebagai switching atau saklar pada rangkaian
2. Resistor (220Ω)
Fungsi: sebagai penghambat arus
3. Saklar (2 buah)
Fungsi: untuk menghidupkan dan mematikan LED
4. LED
Fungsi: sumber cahaya
5. Resistor 200 K
Fungsi: penghambat arus

3.1.2 Peralatan dan Fungsi


1. Protoboard
Fungsi : tempat merangkai percobaan
2. Multimeter
Fungsi: untuk mengukur arus dan tegangan
3. Jumper
Fungsi: untuk menghubungkan antarkomponen
4. Power Supply
Fungsi: sebagai sumber tegangan
6. Baterai
Fungsi: penyimpan tegangan
3.2 Prosedur Percobaan
1. Dipersiapkan semua peralatan dan komponen.

An
Battery od
a +

Ga
Resistor 200 K SCR
te

Sw Ka
itc to
h da -

Switch 2

8U

Power Supply Multimeter

2. Dipasang SCR pada papan protoboard


3. Dipasang Switch 1 pada protoboard dan Switch 2 dipasang pada kaki 3 SCR (katoda)
4. Dipasang LED dan resistor 200 K pada protoboard pada arah yang sama
5. Dihubungkan baterai pada kaki LED dan Switch 2
6. Dihubungkan PSA dengan Anoda dipasang di Switch 1 sedangkan Katoda dipasang di
Switch 2.
7. Digunakan jumper untuk menghubungkan LED dengan Ground
8. Dihitung tegangan yang dihasilkan LED dengan menghubungkan jumper pada ground
dan kaki LED
9. Hasil bisa dilihat pada multimeter
BAB IV

HASIL DAN ANALISA

4.1 Data Percobaan

No. S1 S2 Vout
1 ON ON 3
2 OFF OFF 0
3 ON OFF 3.02
4 OFF ON 0

Medan, 17 April 2020

Asisten Praktikan

(Lukvi Aditya Arieff) (Mikael Petrus Saragi)


4.2 Analisa Data
1. Tuliskan Pengertian Thyristor dan jenis-jenisya?
Jawab:
Thyristor merupakan devais semikonduktor 4 lapisan berstruktur pnpn dengan tiga pn-
junction. Devais ini memiliki tiga terminal yaitu : anode, katode, dan gerbang.
Thyristor biasanya digunakan sebagai saklar/bistabil, beroperasi antara keadaan non
konduksi ke konduksi. Pada banyak aplikasi thyristor dapat diasumsi sebagai saklar
ideal, akan tetapi dalam prakteknya thyristor memiliki batasan dan karakteristik
tertentu.
Jenis-Jenis Thyristor
- Silicon Controlled Rectifier (SCR)
- Fast-Switching Thyristor
- Gate-Turn-Off Thyristor (GTO)
- Bidirectional Triode Thyristor (TRIAC)
- Revers-Conducting Thyristor (RCT)
- Static Induction Thyristor (SITH)
- Light-Activated Silikon-Controlled Rectifier (LASCR)
- FET-Controlled Thyristor (FET-CTH)MOS-Controlled Thyristor (MCT)

2. Jelaskan Perbedaan NPN dan


PNP? Jawab:
 Kedua transistor tersebut dikumpulkan dari bahan khusus dan aliran arus dalam
transistor ini juga berbeda.
 Dalam transistor NPN, arus mengalir dari terminal kolektor ke terminal Emitter,
sedangkan di transistor PNP, aliran arus mengalir dari terminal emitor ke terminal
kolektor.
 Transistor PNP terdiri dari dua lapisan bahan tipe-P dengan lapisan sandwich tipe-N.
transistor NPN terdiri dari dua lapisan material tipe-N dengan lapisan sandwich tipe-P.
 Dalam transistor NPN-transistor, tegangan +ve diatur ke terminal kolektor untuk
menghasilkan aliran arus dari kolektor. Untuk transistor PNP, tegangan +ve diatur ke
terminal emitor untuk menghasilkan aliran arus dari terminal emitor ke kolektor.
 Prinsip kerja utama dari transistor NPN adalah, ketika arus dinaikkan ke terminal
basis, maka transistor ON & berkinerja penuh dari terminal kolektor ke terminal
emitor.
 Ketika Anda mengurangi arus ke basis, transistor akan ON dan aliran arus sangat
rendah. Transistor tidak lagi berfungsi di terminal kolektor ke terminal emitor, dan
ternyata OFF.
 Prinsip kerja utama dari transistor PNP adalah, ketika arus ada di basis transistor PNP,
dan kemudian transistor tersebut OFF. Ketika tidak ada aliran arus di basis transistor,
maka transistor ON.

3. Sebutkan Karateristik dan Prinsip Kerja Thyristor


(SCR) Jawab:
 Karakteristik dan prinsip kerja dari SCR adalah:
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari SCR adalah apabila tegangannya kecil
maka rangkaian pada SCR itu akan berfungsi sebagai switching atau arus akan
mengalir dan apabila tegangan atau arus yang yang masuk pada rangkaian SCR besar,
maka rangkaian tersebut tidak dapat menghantarkan arus atau tidak berfungsi sebagai
switching. Dalam data tersebut dapat disimpulkan bahwa rangbkaian SCR akan
berfungsi sebagai switching, apabila tegangan dan arus yang melaluinya kecil.

Karakteristik dan prinsip kerja SCR adalah arus yang melalui anoda ke katoda relatif
sangat kecil selama tegangan di antaranya melwati VBO (Break Over Voltage). Setelah
arus terlewati makategangan antara anoda ke katoda, akan turun hingga mencapai
harga VH (Hold Voltage). Dioda akan tetap menghantar selama arus yang melewatinya
tidak kurang dari nilai IH.
 Cara kerja SCR sebagai penyearah adalah sebagai berikut:
Apabila tegangan keluaran yang bsia diubah-ubah, digunakan thyristor sebagai
pengganti dioda. Tegangan keluaran penyearah thyristor dapat diubah-ubah atau
dikendalikan dengan mengendalikan delay atau sudut penyalaan dari thyristor.
penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa Trigger pada gate thyristor. pulsa
Trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian Trigger. Rangkaian Trigger
dirancang untuk memberikan pulsa dengan ketinggkian dan kelebaran tertentu
disesuaikan dengan thyristor yang [Link] ini juga dapat digeser-geser
sudutnya sehingga penyalaan thyristor dapat dilakukan setiap saat dalam rangenya.
Bila thyristor disulut pada sudut α, Thyristor Q1 akan konduksi maka tegangan
keluaran Q1 akan muncul pada beban. Keadaan konduksi ini berlangsung hingga
tegangan kembali ke nol dan mulai negatif atau komutasi [Link] tegangan
negatif, maka Q1 dalam keadaan [Link] dari tegangan mulai beranjak ke
arah positif sampai dengan thyiristor mulai konduksi disebut sudut penyalaan atau
sudut penyulutan α.
Dengan demikian, tegangan keluaran penyearah dapat diatur-atur dengan mengatur
sudut penyalaan pada gatenya, dalam hal ini dari nol sampai 180 derajat bila sudut
penyalaan α kecil, berarti thyristor konduksi secara dini sehingga tegangan VD dan
daya keluaran akan besar. Sebaliknya, bila sudut α besar, tegangan dan daya keluaran
akan kecil.

4. Aplikasi dari SCR?


Jawab:
Aplikasi SCR:
SCR tepat digunakan sebagai saklar solid-state, namun tidak dapat memperkuat sinyal
seperti halnya transistor. SCR juga banyak digunakan untuk mengatur dan
menyearahkan suplai daya pada motor DC dari sumber AC, pemanas, AC, melindungi
beban yang mahal (diproteksi) terhadap kelebihan tegangan yang berasal dari catu
daya, digunakan untuk “start lunak” dari motor induksi 3 fase dan pemanas induksi.
Sebagian besar SCR mempunyai perlengkapan untuk penyerapan berbagai jenis panas
untuk mendisipasi panas internal dalam [Link] SCR:

An
od
Battery a +

Ga
Resistor 200 K te SCR

S Ka
wi to
tc da -
h

Switch 2

8U

Power Supply Multimeter


4.3 Gambar Proteus
(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Karakteristik dan prinsip kerja dari SCR adalah:
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari SCR adalah apabila tegangannya kecil
maka rangkaian pada SCR itu akan berfungsi sebagai switching atau arus akan
mengalir dan apabila tegangan atau arus yang yang masuk pada rangkaian SCR besar,
maka rangkaian tersebut tidak dapat menghantarkan arus atau tidak berfungsi sebagai
switching. Dalam data tersebut dapat disimpulkan bahwa rangbkaian SCR akan
berfungsi sebagai switching, apabila tegangan dan arus yang melaluinya kecil.

Karakteristik dan prinsip kerja SCR adalah arus yang melalui anoda ke katoda relatif
sangat kecil selama tegangan di antaranya melwati VBO (Break Over Voltage). Setelah
arus terlewati makategangan antara anoda ke katoda, akan turun hingga mencapai
harga VH (Hold Voltage). Dioda akan tetap menghantar selama arus yang melewatinya
tidak kurang dari nilai IH.

2. Cara kerja SCR sebagai penyearah adalah sebagai berikut:


Apabila tegangan keluaran yang bsia diubah-ubah, digunakan thyristor sebagai
pengganti dioda. Tegangan keluaran penyearah thyristor dapat diubah-ubah atau
dikendalikan dengan mengendalikan delay atau sudut penyalaan dari thyristor.
penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa Trigger pada gate thyristor. pulsa
Trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian Trigger. Rangkaian Trigger
dirancang untuk memberikan pulsa dengan ketinggkian dan kelebaran tertentu
disesuaikan dengan thyristor yang [Link] ini juga dapat digeser-geser
sudutnya sehingga penyalaan thyristor dapat dilakukan setiap saat dalam rangenya.
Bila thyristor disulut pada sudut α, Thyristor Q1 akan konduksi maka tegangan
keluaran Q1 akan muncul pada beban. Keadaan konduksi ini berlangsung hingga
tegangan kembali ke nol dan mulai negatif atau komutasi [Link] tegangan
negatif, maka Q1 dalam keadaan [Link] dari tegangan mulai beranjak ke
arah positif sampai dengan thyiristor mulai konduksi disebut sudut penyalaan atau
sudut penyulutan α.
Dengan demikian, tegangan keluaran penyearah dapat diatur-atur dengan mengatur
sudut penyalaan pada gatenya, dalam hal ini dari nol sampai 180 derajat bila sudut
penyalaan α kecil, berarti thyristor konduksi secara dini sehingga tegangan VD dan
daya keluaran akan besar. Sebaliknya, bila sudut α besar, tegangan dan daya keluaran
akan kecil.

3. Cara kerja SCR sebagai switching adalah sebagai berikut:


Dalam keadaan gate tidak diberikan pemicu atau trigger, SCR tidak menghantarkan
arus, istilahnya dalam keadaan demikian ini “OFF” atau “Blocked”. Hal ini dapat
dipersamakan (antara anoda dan katoda) dengan switch dalam keadaan terbuka.
Apabila tegangan pemicu diberikan pada gate maka SCR akan menghantarkan atau
“ON”. Jadi, SCR akan bekerja sebagai silikon dioda biasa dan dapat menghantarkan
arus dari anoda ke katoda, akan tetapi “Bloked” dari katoda ke anoda.
Sewaktu SCR telah “ON”, kemudian secara mendadak tegangan positif pada gate
kita putuskan, maka SCR tetap ON. Jelasnya untuk menmbuat SCR dapat ON, cukup
dengan memberikan tegangan positif dalam waktu yang pendek karna dalam
pemakaian tegangan (DC), SCR akan bekerja terus-menerus seperti halnya Silicon
Rectifier biasa bahkan kita dapat melakukan pengendalian SCR dengan memberikan
pulsa positif pada gatenya.
Hubungan antara gate dan katoda pada SCR bersifat seperti dioda silikon, sehingga
antara gate dan katoda berimpedansi rendah pada arah forward atau conduct.
Pengendalian tegangan gate dibutuhkan antara 1-2 Vol t saja dengan arus gate
beberapa puluh mili Ampere. Tegangan dan arus ini sudah cukup untuk membuat SCR
yang berkemampuan menghantarkan arus sebesar beberapa puluh Ampere (arus
anoda-katoda). Apabila SCR dalam keadaan ON, cara untuk meng-OFFkan kembali
tak dapat dilakukan melalui gate, melainkan kita harus menurunkan besarnya arus
anoda-katoda sampai batas di bawah nilai IH atau “Holding Current”(nilai mendekati
nol). apabila sekarang SCR digunakan untuk keperluan arus tukar AC, kita tak
mendapat kesulitan sebab setiap setengah periode positif akhir, tegangan arus AC akan
menurun dan kemudian nol.
4. Fungsi peralatan dan komponen sebagai
berikut: Komponen dan Fungsi
7. SCR 2P4M
Fungsi: sebagai switching atau saklar pada rangkaian
8. Resistor (220Ω)
Fungsi: sebagai penghambat arus
9. Saklar (2 buah)
Fungsi: untuk menghidupkan dan mematikan LED
10. LED
Fungsi: sumber cahaya
11. Resistor 200 K
Fungsi: penghambat arus
Peralatan dan Fungsi
5. Protoboard
Fungsi : tempat merangkai percobaan
6. Multimeter
Fungsi: untuk mengukur arus dan tegangan
7. Jumper
Fungsi: untuk menghubungkan antarkomponen
8. Power Supply
Fungsi: sebagai sumber tegangan
12. Baterai
Fungsi: penyimpan tegangan

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya teliti dalam merangkai peralatan dan komponen pada
percobaan.
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya mengetahui cara kerja SCR sebagai penyearah dan
sebagai switching.
3. Sebaiknya praktikan selanjutnya lebih teliti dalam mengukur tegangan yang
digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Calvin, H.U. 2010.“Modern Semiconductor Devices for Integral Circuits”.USA: Pearson


Education,inc.
Pages : 108-115
Rashid, M.H.1999 “Elektronika Daya Rangkaian, Devais, Dan Aplikasinya”. Jilid 1.
Jakarta: PT Prenhallindo.
Halaman : 74-81.
Ramdhani, M. 2008. “Rangkaian Listrik”.Jakarta : Penerbit Erlangga
Halaman : 41-42, 121-124
Sigit, W.B. 1998. “Elektronika Digital Dan Mikroprosesor”. Yogyakarta : ANDI
Halaman : 29-35
Theraja, B.L. 2005. “Basic Electronics”. India : RAM NAGAR, NEW DELHI
Pages : 472-473.

Medan, 17 April 2020


Asisten Praktikan

(Lukvi Aditya Arieff) (Mikael Petrus Saragi )


LAMPIRAN
LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

OSILATOR

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : HAIDAR ISMAIL HARAHAP

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR


DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Osilator atau oscillator adalah suatu rangkaian elektronika yang menghasilkan sejumlah
getaran atau sinyal listrik secara periodik dengan amplitudo yang konstan. Jadi sinyal arus
DC (searah) dari rangkaian alat pencatu daya atau power supply dikonversikan oleh
rangkaian osilator menjadi sinyal AC(bolak-balik) sehingga menghasilkan sinyal listrik
pada periodik yang memiliki amplitudo konstan. Periodik yang dimaksud dalam
pengertian osilator ini adalah waktu yang dibutuhkan pada satu siklus gelombang bolak-
balik. Sedangkan amplitudo adalah simpangan terjauh yang diukur dari titik
keseimbangan dalam suatu getaran. Gelombang yang dihasilkan pada osilator adalah
gelombang sinus, gelombang kotak.
Osilator dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori. Berdasarkan
pembangkitannya osilator dibagi menjadi dua, yaitu osilator self sustaining dan osilator
nonself sustaining. Selanjutnya osilator juga dapat dikelompokkan bedasarkan gelombang
yang dibangkitkan, yaitu osilator sinusoidal dan osilator relaksasi. Osilator sinusoidal
menghasilkan suatu bentuk gelombang sinusoidal atau mendekati sinusoidal pada
frekuensi tertentu. Sedangkan osilator relaksasi menghasilkan suatu bentuk gelombang
seperti segi empat dan gigi gergaji. Kemudian osilator dapat pula dikelompokkan
berdasarkan frekuensi keluarannya, yaitu osilator frekuensi rendah atau low frequency
oscillator, osilator audio atau audio oscillator.
Osilator dapat dibuat dengan menggunakan beberapa teknik dasar, yang pertama
dengan menggunakan komponen-komponen yang memperlihatkan karakteristik resistansi
negatif serta pada umumnya menggunakan dioda terobosan dan UJT. Yang kedua dengan
menggunakan umpan balik positif pada penguat. Umpan balik positif ini menguatkan
desah internal yang terdapat pada penguat. Jika keluaran penguat sefasa dengan
masukannya, maka osilasi akan terjadi.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan mempelajari serta merakit rangkaian osilator
2. Untuk membuat osilator monostable dan astable
3. Untuk menghitung Frekuensi, Waktu, dan Duty-Cycle
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB II

LANDASAN TEORI

Menghasilkan gelombang sinus yang hampir sempurna. Osilator frekuensi rendah ini
menggunakan penguat operasional dan rangkaian resonansi RC untul menentukan frekuensi
osilasinya. Di atas 1 MHz, digunakan osilator LC. Osilator tinggi ini menggunakan transistor
dan rangkaian resonansi LC Bab ini juga membicarakan chip yang cukup banyak digunakan
yaitu timer 555. LC ini digunakan pada beberapa aplikasi untuk menghasilkan tunda waktu,
osilator vang dikendalikan tegangan, dan sinyal keluaran termodulasi. Bab ini diakhiri dengan
rangkaian komunikasi yang disebur dengan Phase Locked Loop (PLL). Teori Osilasi
Sinusoidal Untuk membentuk osilator sinusoidal, kita menggunakan penguat dengan umpan
balik positif. Idenya adalah dengan menggunakan isyarat umpan balik pada sinyal keluaran
Jika sinyal umpan balik cukup besar dan mempunyai fase yang benar, akan menyebabkan
adanya sinyal keluaran meskipun tidak ada sinyal masukan eksternal. Oleh karena itu, kita
memperoleh umpan balik maksimum pada satu frekuensi. Tegangan umpan balik yang
dikembalikan pada tegangan ini akan menggerakkan rangkaian umpan balik yang biasanya
berupa titik x adalah, jika pergeseran fase yang melalui penguat dan rangkaian umpan balik
adalah 0 Anggap bahwa kita menghubungkan titik x dengan titik y dan secara simultan
membuang sumber tegangan Kemudian tegangan umpan balik AB mendorong masukan
penguat. Akan tetapi ikat AB lebih besar dari pada 1, AB akan lebih besar dari pada dan
keluaran Apa yang terjadi dengan tegangan keluaran, akan lebih kecil ciaripada dan sinyal
keluaran akan melemah. Jika AB sama dengan 1, AB akan sama dengan input dan tegangan
keluaran adalah gelombang sinus steady. Pada kasus ini, rangkaian mencari sinyal masukan
sendiri pada beberapa osilator penguatan kalang adalah lebih besar daripada 1 saat power
pertama kali dinyalakan. Tegangan awal yang kecil diberikan pada terminal masukan, dan
kemudian tegangan keluaran membesar. Setelah tegangan keluaran mencapai nilai tertentu,
AB secara otomatis berubah menjadi 1, dan nilai puncak ke puncak menjadi konstan.
Tegangan awal adalah derau suhu. Dari manakah tegangan awal berasal?, setiap resistor
terdiri dari beberapa elektron bebas. Karena suhu yang berubah, elektron bebas ini bergerak
secara acak dalam arah yang berbeda dan menghasilkan tegangan derau pada resistor.
Pergerakannya adalah secara acak dan mempunyai frekuensi lebih dari 1000 GHz.
Anda dapat memikirkan bahwa tiap-tiap resistor mempunyai sumber tegangan ac kecil yang
menghasilkan semua frekuensi. Terjadi proses sebagai berikut, saat anda menyalakan power
untuk pertama kali, hanya terdapat derau tegangan yang dibangkitkan oleh resistor yang
terdapat pada sistem. Derau tegangan kemudian dikuatkan dan terdapat pada termiral output.
Derau yang telah dikuatkan, yang terdiri dari semua frekuensi, memicu rangkaian umpan
balik esonansi. Dengan perancangan yang disengaja, kita dapat membuat penguatan kalan
lebih besar daripada 1 dan pergeseran fase kalang 0° pada frekuensi resonansi. Di atas dan di
bawah frekuensi resonansi, pergeseran fase tidak lagi 0. Sebagai hasilnya, osilasi hanya akan
membesar pada rekuensi resonansi dari rangkaian umpan balik. (Malvino, 2004)
Mengapa kita perlu bersabar sewa di cabang kapasitas, dan membaca oleh ammeter, akan 0,1
A dan akan memimpin tegangan sumber oleh, arus mengalir melalui cabang deduktif, seperti
yang dibaca oleh ammeter A juga akan 0,1 A. Tetapi dalam hal ini arus akan charging
voltage dengan ketika grafik 90 dari zaman sumber volt, dua arus berada di arah yang
berlawanan. Ini berarti bahwa jika ada 0,1 A reda di kapasitor, pada saat yang sama pasti ada
0.1 A mengalir ke atas melalui kumparan, pada saat ini juga, berapa banyak curent
dimasukkan ke sirkuit LC oleh sumber. Jawabannya adalah nol arus satu setengah siklus
kemudian akan ada 0,1 A yang mengalir ke atas dalam kapasitor dan 0,1 bawah di inductor
masih tidak memerlukan arus dari sumbernya. Jika suatu muatan tidak memerlukan arus dari
suatu sumber, apa impedance bebannya. Dari hukum ohm 2 harus berada jauh tinggi. Dengan
demikian sirkuit antiresonansi dengan resistansi yang berarti tidak ada pada sumbernya
setelah sumber memang mampu mendirikan anak saat ini. Tahan (bandingkan dengan sirkuit
resonant, yang memiliki 0-2 impedansi, menjadi essentially sebuah sirkuit pendek diseberang
sumber jika tidak ada perlawanan) Untuk sumber tertentu em ini, dan sumber tidak lagi
diperlukan untuk energy ke LC circuit LC circuit bertindak sebagai tangki di mana elektron
ada dengan ditransfer dari capacitor ke kumparan dan kembali lagi.
Karena tidak ada penolakan, tidak ada kehilangan energi, dan secara teori kita sepakat
untuk memutus rangkaian tangki LC dari sumber dan elektron akan terus meluncur bolak-
balik antara pada frekuensi yang berfrekuensi circuit adalah anti resonant oleh merumuskan
frekuensi ini sering satu setengah putaran osilasi elektron dalam sirkuit tank LC. Kapasitor
telah diisi tegangan oleh, menyentuhnya untuk sekejap di sumber. Satu piring negatif dan
yang lain positif, dan energi disimpan dalam bentuk elektrostatik dalam kapasitor. Elektron
dari capacitor mulai mengalir melalui kumparan ke piring positif. Ketika, mereka
mengembangkan medan magnet, menyimpan beberapa dari mereka di bidang ini. Waktu
dicapai ketika ada begitu banyak electrons yang hadir di atas pelat kapasitor seperti di bawah,
dan di sepanjang kapasitor, dan sirkuit, adalah nol. Pada saat ini arus mencapai maksimum
(maksimum jumlah elektron bergerak per detik). Semua energi telah meninggalkan kapasitor
sekarang. (Shrader,1977) Tanggapan total sebuah rangkaian listrik linear terdiri dari dau
bagian, yaitu tanggapan alamiah dan tanggapan paksaan. Tanggapan alamiah adalah
tanggapan transien yang hanya ada untuk
waktu yang sangat singkat sebagai tanggapan rangkaian terhadap perubahan mendadak yang
terjadi padanya. Tanggapan paksaan adalah tanggapan kondisi – tunak atau steady state yang
akan bertahan untuk waktu yang sangat malam sebagai tanggapan rangkaian terhadap sumber-
sumber bebas yang dikenakan padanya. Hingga saat ini tanggapan paksaan yang telah kita
kenal hanyalah yang berasal dari sumber-sumber DC, atau fungsi-fungsi paksaan yang
bernilai konstan. Fungsi paksaan lain yang juga umum digunakan adalah fungsi-fungsi
gelombang sinusoid. Fungsi semacam ini dapat dijumpai penggunaannya pada stop-kontak
listrik di rumah- rumah, juga pada kabel-kabel listrik yang mendistribusikan daya ke daerah
permukiman dan industri.
Perhatikan sebuah tegangan yang nilainya berubah-ubah secara sinusoid, yaitu
v(t)=Vm sin ωt. Amplitudo gelombang sinus ini adalah Vm, dan argumennya adalah ωt.
Frekuensi radian, atau frekuensi sudut gelombangnya adalah ωt, dan sifat periodik gelombang
sinus dapat terlihat jelas di sini. Fungsi ini berulang setiap 2π radian sekali, dan karena itu
periode gelombangnya adalah 2π radian. Sebuah gelombang sinus yang memiliki periode T
harus menyelesaikan 1/T siklusnya dalam setiap detik, dikatakan bahwa frekuensi gelombang
tersebut adalah 1/T hertz, atau disingkat satuannya menjadi Hz.
Terminologi kondisi-tunak(steady-state) digunakan secara sinonim dengan tanggapan
paksaan, dan rangkaian-rangkaian yang akan kita jumpai di sini umumnya dikatakan berada
dalam keadaan “kondisi-tunak sinusoid”. Akan tetapi, istilah kondisi-tunak ini seringkali
diartikan sebagai “tidak berubah terhadap waktu” oleh banyak mahasiswa. Hal ini boleh jadi
benar untuk tanggapan dari fungsi-fungsi paksaan DC, namun tanggapan kondisi-tunak
sinusoid jelas-jelas mengalami perubahan seiring bertambahnya waktu. Maka, kata “kondisi-
tunak” hanya merujuk pada keadaan atau kondisi yang berlaku pada rangkaian setelah semua
tanggapan alamiah atau transien hilang sepenuhnya. Secara umum, tanggapan paksaan
sinusoid memiliki bentuk sinusoid memiliki bentuk matematis berupa fungsi paksaan itu
sendiri, ditambah semua derivative dari fungsi tersebut, ditambah integral pertamanya.
Dengan pengetahuan ini, salah satu metode yang dapat dikembangkan untuk mencari
tanggapan paksaan adalah dengan mengasumsikan sebuah solusi yang merupakan jumlah dari
fungsi- fungsi tersebut, di mana tiap-tiap fungsi memiliki sebuah amplitudo yang belum
diketahui, yang harus ditentukan dengan substitusi langsung ke dalam persamaan diferensial.
Seperti akan segera kita lihat, proses ini menjadi cukup panjang dan rumit, sehingga suatu
cara yang lebih sederhana akan disukai. Sumber tegangan sinusoid Vs = Vm cos ωt telah
tersambung ke rangkaian sejak nun jauh di masa lampau, dan semua tanggapan transien telah
hilang sama sekali. (Hayt, 2005)
Metode lain untuk mengubah arus bolak-balik adalah proses tidak langsung yang pertama-tama
mengubah arus bolak-balik menjadi panas untuk menghasilkan arus searah. Telah ditemukan
bahwa jika dua kawat atau strip logam yang berbeda bergabung pada satu ujung dan
sambungan ini dipanaskan, tegangan langusng kecil akan muncul di antara ujung yang dingin
dan terbuka. Selanjutnya, tegangan ini berbanding lurus dengan perbedaan suhu antara panas
tersebut, dan ujung yang dingin. Fenomena ini dikenal sebagai termoelektrik dan kombinasi
kawat atau strip logam disebut termokopel. Jika kita menghubungkan resistor(disebut sebagai
pemanas) secara seri dengan garis a-c, arus memanaskan resistor saat mengalir melalui itu.
Jumlah panas sebanding dengan persegi. Pemanasan seperti ini diterapkan ke persimpangan
termokopel. Sebagai hasilnya, tegangan langsung, berbanding lurus dengan panas, muncul
pada ujung yang dingin dan terbuka. Kita dapat mengukur tegangan ini dengan menggunakan
millivoltmeter atau milliammeter kumparan bergerak, pembacaan dalam meter, kemudian,
akan menjadi indikasi arus bolak-balik yang mengalir dalam garis.
Dua logam berbeda dapat digunakan untuk termokopel. Namun, adal dua paduan yang
berbeda, konstantan, dan manganin sering digunakan. Termokopel dan pemanas umumnya
dibentuk menjadi satu unit. Untuk mengukur arus hingga sekitar 100 miliampere, seluruh unit
biasanya disegel ke dalam tabung gelas yang dievakuasi untuk mengurangi kehilangan panas
ke udara di sekitarnya. Kawat timah disegel ke dalam gelas yang membuat kontak dengan
berbagai elemen. Untuk arus yang lebih tinggi, di mana kehilangan panas tidak serius, seluruh
unit dapat terpapar ke udara. Gabungan dari termokopel, pemanas dan millivoltmeter disebut
thermocouple meter. Beberapa alat ukur dapat digunakan untuk mengukur arus atau tegangan.
Jarak pengukuran mereka mungkin berada pada rentang yang kecil/karena arus dari efek
pemanas menggunakan sirkuit tinggi. Catat bahwa skala dari alat ukur tersebut menggunakan
tipe square law, sejak alat pemanas didesain untuk mengukur arus. Skalanya dapat diubah
dengan mengubah bagian kotak. Perhatikan bahwa ketika kumparan bergerak dalam posisi
skala rendah, ia memotong bagian yang lebih kuat dari medan magnet. Ketika kumparan
berada dalam posisi tinggi, dia berada pada medan magnetik yang terlemah. Melemahnya
medan magnet ketika kumparan bergerak ke posisi tinggi untuk mengurangi sensitivitas meer
bagian skala dan cenderung untuk mengubah hubungan hukum kuadrat menjadi linear.
Sebuah variasi dari termokopel adalah pyrometer, alat ini digunakan untuk mengukur suhu. Di
sini, termokopel dan millivoltmeter digunakan juga. Persimpangan termokopel menjadi probe
yang diterapkan pada objek yang suhunya akan diukur. (Marcus, 1964)
Gelombang elektromagnetik dapat merambat pada medium tak berbatas. Jalur gelombang
adalah lurus, dan intensitasnya seragam pada bidang melintang/potong. Sekarang kita akan
meninjau sebuah permasalahan menarik mengenai pengiriman daya elektromagnetik dari satu
titik ke titik yang lain (dengan suatu cara sehingga intensitas gelombang dibatasi oleh
penampang melintang berhingga sehingga intensitas gelombang tidak seragam pada bidang
potong) dan dengan suatu cara sehingga gelombang dapat dipandu sepanjang jalur kurva.
Struktur pengiriman gelombang elektromagnetik dengan cara ini disebut waveguide
(pemandu gelombang) atau saluran transmisi. Kawat yang kita lihat bergelantungan pada
menara raksasa di daerah pedalaman adalah saluran transmisi pemandu daya elektromagnetik
frekuensi rendah(60 Hz) dari pembangkir ke stasiun distribusi. Kabel bawah tanah atau kabel
air adalah saluran koaksial yang menyalurkan ratusan ribu percakapan telepon melintasi
daratan dan lautan oleh gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi (hingga beberapa
gigahertz). Pengembangan serat optik akhir-akhir ini telah membantu penciptaan sistem
telekomunikasi pada frekuensi optis. Sistem ini menyediakan volume fisik yang kecil,
kapasitas kanal yang besar, dan bandwidth yang lebar. Serat optic adalah bidang yang
berkembang pesat dengan berbagai aplikasit transmisi data, pemrosesan dara, piranti
fotolistrik, dan peralatan biomedis seperti fiberscope.

Gambar 2.1 Pemandu gelombang plat parallel


Gambar 2.1 memperlihatkan pemandu gelombang plat paralel. Kita anggap bahwa kedua plat
adalah konduktor sempurna dan bahwa dimensi plat w pada arah ŷ sangat besar sehingga
tidak ada vector medan yang tergantung pada ya, sehingga ∂/∂y= 0. Asumsi terakhir ini
dibenarkan secara fisik ketika medan dibatasi di antara plat dan bila secara konsekuen ada
medan pinggir uang diabaikan keluar batas y=0 dan y = w. Dengan menggunakan fakta bahwa
∂/∂y= 0 pada persamaan Maxwell, kita perluas persamaan itu dalam koordinat rectangular.
Sehingga:
𝜕
− 𝐸 = −𝑗𝜔𝜇𝐻 …………………………………………………………………(2.1)
𝜕𝑧 𝑦 𝑥

Medan listrik Ey untuk gelombang TE pada pemandu gelombang plat paralel mengikuti
kondisi batas Ey=0, pada x=0 dan x=a. Hukum gauss ada hubungan penting antara iniegral
komponen normal medan listrik pada permukaan tertutup dengan muatan total yang
dilingkupi permukaan itu. Hubungan ini, dikenal sebagai hukum gauss, dan sekarang akan
dibahas secara lebih rinci. Medan listrik di titik r yang ditimbulkan olch muatan-titik g yang
terletak di titik asal. Proyeksi pada pada bidang yang tegak lurus r. Bilang yang diproyeksikan
(Shen,1995)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen dan Fungsi
1. IC Timer 555
Fungsi: Sebagai multivibrator dan untuk membuat modulator lebar pulsa
2. Resistor 1 (Kꭥ)
Fungsi: Sebagai tahanan atau hambatan aliran listrik
3. Kapasitor 10 (μF)
Fungsi: Sebagai pengatur waktu
4. LED
Fungsi: Sebagai indikator cahaya
5. Potensiometer
Fungsi: Sebagai pembagi tegangan

3.1.1 Peralatan dan Fungsi


1. Protoboard
Fungsi: Sebagai tempat merangkai sementara
2. Jumper
Fungsi: Untuk menghubungkan komponen dalam rangkaian
3. Multimeter Dgital
Fungsi: Sebagai alat untuk mengukur besar hambatan, tegangan dan arus pada
rangkaian
4. Stopwatch
Fungsi: Untuk menghitung waktu terjadinya osilasi
5. Baterai
Fungsi: Sebagai sumber listrik

3.2 Prosedur Percobaan


1. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan.
2. Rangkailah peralatan dan bahan tersebut di protoboard
3. Setelah dirangkai, kemudian ukurlah berapa hambatan yang ada di potensiometer
menggunakan multimeter digital
4. Lalu amati LED, lihat berapa detik LED mati dan menyala menggunakan stopwatch
dan catat hasilnya di data percobaan
5. Ulangi hal tersebut hingga 15 kali.

3.3 Gambar Percobaan

Multimeter Digital

9V

10 Ω
10 F

Stopwatch

0.00

potensiometer
BAB IV

DATA DAN ANALISA DATA

4.1 Data Percobaan


R2 = 46,6 ohm
R1 = 10 ohm
C = 10 F

NO. R2 (ꭥ) R2 (ꭥ) C (F) T1 On (s) T2 Off (s)


1. 10 46,6 10 5,88 6,25
2. 10 46,6 10 4,34 4,54
3. 10 46,6 10 3,33 3,70
4. 10 46,6 10 2,85 3,12
5. 10 46,6 10 2,43 2,70
6. 10 46,6 10 2,04 2,38
7. 10 46,6 10 1,85 2,12
8. 10 46,6 10 1,66 1,92
9. 10 46,6 10 1,53 1,72
10. 10 46,6 10 1,40 1,58
11. 10 46,6 10 1,29 1,47
12. 10 46,6 10 1,21 1,36
13. 10 46,6 10 1,13 1,28
14. 10 46,6 10 1,06 1,20
15. 10 46,6 10 1,00 1,13

Medan, 06 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Haidar Ismail Harahap) (Mikael Petrus Saragi)


4.2 Analisa Data
T1 ON :
T1.1 = 0,693 (R1+R2) C + T1.1 = 0,693 (10+46,4) 10 + 5,88 = 390,852 + 5,88 = 396,732

T1.2 = 0,693 (R1+R2) C + T1.2 = 0,693 (10+46,4) 10 + 4,34 = 390,852 + 4,34 = 395,192

T1.3 = 0,693 (R1+R2) C + T1.3 = 0,693 (10+46,4) 10 + 3,33 = 390,852 + 3,33 = 394,182

T1.4 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,85 = 390,852 + 2,85 = 393,702

T1.5 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,43 = 390,852 + 2,43 = 393,282

T1.6 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,04 = 390,852 + 2,04 = 392,892

T1.7 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,85 = 390,852 + 1,85 = 392,702

T1.8 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,66 = 390,852 + 1,66 = 392,512

T1.9= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,53 = 390,852 + 1,53 = 392,382

T1.10 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,40 = 390,852 + 1,40 = 392,252

T1.11 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,29 = 390,852 + 1,29 = 392,142

T1.12= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,21 = 390,852 + 1,21 = 392,062

T1.13= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,13 = 390,852 + 1,13 = 391,982

T1.14 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,06 = 390,852 + 1,06 = 391,912

T1.15 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,00 = 390,852 +1,00 = 391,852

T2 OFF :
T2.1 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 6,25 = 321,552 + 6,25 = 327,802

T2.2 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 4,54 = 321,552 + 4,54 = 326,092

T2.3 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 3,70 = 321,552 + 3,70 = 325,252

T2.4 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 3,12 = 321,552 + 3,12 = 324,672

T2.5 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,70 = 321,552 + 2,70 = 324,252

T2.6 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,38 = 321,552 + 2,38 = 323,932

T2.7 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,12 = 321,552 + 2,12 = 323,672

T2.8 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,92 = 321,552 + 1,92 = 323,472

T2.9 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,72 = 321,552 + 1,72 = 323,272

T2.10 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,58 = 321,552 + 1,58 = 323,132

T2.11= 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,47 = 321,552 + 1,47 = 323,022
T2.12 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,36 = 321,552 + 1,36 = 322,912

T2.13 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,28 = 321,552 + 1,28 = 322,832

T2.14= 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,20 = 321,552 + 1,20 = 322,752

T2.15 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,13 = 321,552 + 1,13 = 322,682

4.3 Gambar Proteus


(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Untuk mengetahui dan mempelajari serta merakit rangkaian osilator
Osilator berfungsi mengubah daya arus searah (DC) dari catu daya kedaya arus
bolak- balik (AC) dalam beban. Osilator umumnya digunakan dalam pemancar dan
penerima radio dan tv, dalam radar dan dalam berbagai sistem komunikasi. Pesawat
penerima radio dan tv juga menggunakan osilator untuk mengolah isyarat yang
datang. Dengan menggunakan penguat atau dapat digunakan dengan Op-Amp
sebagai penguat pembalik. Hal tersebut tidak hanya dapat memperkuat sinyal input,
tetapi juga dapat menggeser fasa 1800. Namun, umpan balik dapat menghasilkan
osilasi dan kita harus dapat memiliki umpan balik positif dengan jumlah yang cukup.
Umpan balik positif dapat terjadi jika hanya tegangan kembali ke fasa dengan sinyal
input yang aslinya.

2. Untuk membuat osilator monostable dan astable


 Rangkaian Dasar Osilator IC 555 Astabil

Dalam rangkaian Osilator IC 555 di atas, pin 2 dan pin 6 dihubungkan bersama-
sama memungkinkan rangkaian untuk memicu kembali dirinya sendiri pada setiap
siklus yang memungkinkannya untuk beroperasi sebagai osilator free-running.
Selama setiap siklus kapasitor, C mengisi melalui kedua resistor waktu, R1 dan R2
tetapi melepaskan dirinya sendiri hanya melalui resistor.
Kemudian kapasitor mengisi hingga 2/3Vcc (batas pembanding atas) yang
ditentukan oleh kombinasi 0.693 (R1 + R2) C dan melepaskannya sendiri ke 1/3Vcc
(batas pembanding yang lebih rendah) yang ditentukan oleh 0.693 (R2*C)
kombinasi. Ini
menghasilkan bentuk gelombang Output yang level voltasenya kira-kira sama
dengan Vcc - 1.5V dan yang periode output "ON" dan "OFF" ditentukan oleh
kombinasi kapasitor dan resistor. Oleh karena itu, waktu individual yang diperlukan
untuk menyelesaikan satu siklus pengisian dan pengosongan output diberikan
sebagai
 Rangkaian Multivibrator Monostabil

Transistor dasar Collector-gabungan Multivibrator Monostabil dan bentuk gelombang


yang terkait ditunjukkan di atas. Ketika daya pertama kali diterapkan, base transistor
TR2 terhubung ke Vcc melalui resistor biasing, RT dengan demikian mengubah
transistor "sepenuhnya-ON" dan menjadi saturasi dan pada saat yang sama mengubah
TR1 "OFF" dalam proses. Ini kemudian mewakili rangkaian "Status Stabil" dengan
output nol. Arus yang mengalir ke terminal dasar jenuh dari TR2 karena itu akan sama
dengan Ib = (Vcc - 0.7)/RT.

3. Osilator berdasarkan metode pengoperasiannya dapat dikelompokkan menjadi dua,


yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi. Namun, pada dasarnya ada empat macam
osilator, yaitu osilator RC, osilator LC, osilator Kristal dan osilator relaksasi.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan mengetahui prosedur percobaan
2. Sebaiknya Praktikan memahami alat alat pada praktikum
3. Sebaiknya asisten lebih baik lagi
4. Sebaiknya laboratorium diperbaiki dan diperbarui
DAFTAR PUSTAKA
Hayt,William H,[Link] [Link]:Penerbit Erlangga
Halaman : 3 dan 310
Malvino, albert. 2004. Prinsip-prinsip elektronika. Jakarta : salemba teknika.
Halaman : 262-266
Marcus,[Link] [Link] States of America : Prentice-Hall
Pages: 181-183
Shen,Liang [Link] [Link]:Penerbit Erlangga
Halaman: 99-100
Shrader,[Link] Fundamentals For [Link]:Printed in United States
Pages: 109-113

Medan, 06 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Haidar Ismail Harahap) (Mikael Saragi)


LAMPIRAN
LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

PENGUAT OP-AMP

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : GIFTERIUS NICO MANALU

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR


DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Op-amp pada dasarnya merupakan sebuah blok komponen yang sederhana. Sebuah op-
amp akan memiliki dua buah terminal masukan di mana salah satu masukan disebut
sebagai masukan pembalik (diberi tanda -) sementara satu masukan lainnya disebut
dengan masukan non-pembalik (diberi tanda +). Pada umumnya op-amp memiliki sebuah
keluaran atau keluaran tunggal. Akan tetapi beberapa jenis op-amp khusus yang umumnya
digunakan pada rangkaian-rangkaian frekuensi radio dapat memiliki dua buah terminal
keluaran. Dalam bahasan buku ini, hanya op-amp keluaran tunggal yang akan dibahas
secara mendalam. Sebuah op-amp juga memiliki dua buah rel hubungan catu daya yang
masing masing adalah rel hubungan positif dan rel hubungan negatif. Amplifier
Operasional Sirkuit terpadu Op amp yang telah kami pilih untuk diselidiki dibangun pada
semikondukktor. Integrasi beberapa rangkaian penguat dasar ke dalam satu chip telah
menghasilkan unit yang tidak lebih besar dari, dan biaya tidak lebih dari, satu transistor
tunggal. Operasional (Op-amp) istilah penguat operasional (operational amplifier) secara
umum menggambarkan tentang sebuah rangkaian penguat penting yang membentuk dasar
dari rangkatan rangkaian penguat audio dan video, penyaring atau, penggerak-penggerak
saluran, penguat instrumentasi, komparator atau pembanding, osilator, dan berbagai
macam rangkaian analog lainnya. Penguat operasional dikenal juga secara umum dengan
nama singkat op-amp. Meskipun rangkaian penguat operasional dapat dirancang dari
komponen-komponen diskrit, namun demikian hampir seluruhnya selalu digunakan.
Oleh karena itu melalui praktikum ini, diharapkan dapat membantu dalam menunjang
plajaran baik didalam ruangan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

1.2. Tujuan percobaan


1. Untuk mempelajari rangkaian dan prinsip kerja penguat differensial
2. Untuk mempelajari rangkaian dan prinsip kerja penguat penjumlah
3. Untuk mempelajari rangkaian dan prinsip kerja penguat integrator
4. Untuk mempelajari rangkaian dan prinsip kerja penguat differensiator
5. Untuk mengetahui aplikasi dari OP-AMP
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Rangkaian input adalah penguat diferensial menggunakan JFETS saluran-p yang cocok
sebagai pengikut sumber. Potensiometer 10-kN eksternal dapat digunakan untuk
menyeimbangkan penguat diferensial dan mengimbangi offset apapun. Input yang berbeda
menyediakan input inverting dan noninverting dan untuk CMRR yang sangat baik. JFETS
juga menyediakan impedansi input yang sangat tinggi dan arus bias input yang sangat rendah.
Transistor BJT (ditampilkan sebagai transistor tunggal) digabungkan bersama untuk
menghasilkan tahap kedua dengan gain arus tinggi. Tahap ini adalah State Switches dan
Amplifier biasanya pasangan Darlington dengan gain saat ini kira-kira sama dengan produk
dari nilai B dari dua transistor. Tahap keluaran adalah kaskade pelengkap emitor-pelengkap
bertingkat yang memiliki impedansi keluaran rendah yang diperlukan <1 n dengan fecedha
negatif untuk menggerakkan beban eksternal. Ringkasan Spesifikasi Op Amp Setiap op amp
komersial memiliki sct spesifikasi. Meskipun beberapa di antaranya memiliki telah dijelaskan
sebelumnya, spesifikasi yang paling penting diringkas di sini sebagai referensi usetul Input
non inverting Gain loop terbuka. Gain loop terbuka adalah gain tanpa umpan balik dalam
desibel Karena gain (dB) berarti bahwa A = 100 000.20 log (vV) gain loop terbuka 100 dB.
Respons frekuensi Karakteristik respons frekuensi mencerminkan variasi penguatan loop
terbuka dengan frekuensi. Biasanya diberikan sebagai titik 3 dB atau bandwidth-gain gain
bandwidth tegangan offset input.
Penguat Operasional Penguat operasional yang diperkenalkan pada bab 5 adalah
ratusan cara berbeda untuk memberikan solusi elegan untuk masalah pengukuran dan kontrol.
Tentu saja, tidak perlu mengetahui apa yang ada di dalam blok op amp (hanya diwakili oleh
simbol segitiga) agar dapat menggunakan op amp secara menguntungkan. Namun, sebagian
besar pengguna merasa lebih nyaman ketika mereka memiliki beberapa cara tentang
bagaimana op amp dirancang, dan tentu saja pengguna dapat menghargai spesifikasi dan
batasan lebih baik setelah menyelidiki operasi internal khas op amp. Oleh karena itu, bagian
pertama dari bagian ini dikhususkan untuk tampilan di dalam simbol segitiga. Bagian ini
diakhiri dengan ringkasan spesifikasi untuk amplifier operasional. Amplifier Operasional
Sirkuit terpadu Op amp yang telah kami pilih untuk diselidiki dibangun pada semikondukktor.
Integrasi beberapa rangkaian penguat dasar ke dalam satu chip telah menghasilkan unit yang
tidak lebih besar dari, dan biaya tidak lebih dari, satu transistor tunggal. Tujuan umum op amp
adalah berfungsi sebagai blok penguatan dengan integritas tinggi, impedansi masukan tinggi.
Impedansi keluaran rendah, dan respons frekuensi pita lebar dengan umpan balik negatif.
Cara-cara di mana karakteristik ini diperoleh dapat dipahami dengan mempelajari, diagram
sirkuit yang disederhanakan dari IC op amp.
Karena penguat diferensial input tidak sepenuhnya seimbang, ada tegangan offset
kecil yang relatif konstan, tetapi tergantung suhu antara terminal input. Tegangan offset
menyebabkan output. Keseimbangan ketika kedua input berada pada 0 V potensiometer
keseimbangan eksternal dapat diasumsikan untuk meniadakan tegangan olfset dan
mengurangi kesalahan tegangan offset. Tegangan offset berubah seiring dengan suhu,
tegangan pasokan, dan waktu. Input blas saat ini. Bahkan ketika tegangan input nol, ada arus
input di terminal input cach yang, untuk tahap input JFET, hasil dari arus gerbang JEET dan
setiap arus bocor dalam amplifier. Arus bias tipikal untuk op amp yang baik berada dalam
kisaran 0.1. 100 pA pada 25 C Arus bias cukup serisitif terhadap perubahan suhu: biasanya
dua kali lipat untuk perubahan suhu 10C cach. Perbedaan antara dua arus bias masukan
disebut arus offset masukan inverting input Amplifier FET modern memiliki resistansi input
input yang sangat tinggi. Impedansi, biasanya dalam kisaran 10-10 n. Sebuah penguat dengan
resistansi input 10 dapat menjaga arus input dalam kisaran subpicoampere untuk perubahan
tegangan mode umum penuh +10 V. Input noise. Resolusi bervariasi sebagai fungsi
impedansi sumber dan frekuensi. Grafik perubahan khas dari input noise dengan resistansi
sumber biasanya tersedia dari pabrikan. Kebisingan input penguat adalah faktor yang
membatasi sinyal. (Malmstadt, 1981)
Bab ini memperkenalkan satu keluarga seri terpadu analog yang serbaguna. 'Blok-blok gain'
amplifier operasional ini menawarkan karakteristik-karakteristik yang ideal (yaitu gain
tegangan yang praktis mencapai nilai tak-hingga dan resistansi input yang dikopling dengan
output resistansi yang rendah dan bandwidth yang lebar).
Komponen-komponen eksternal ditambahkan ke penguat operasional untuk
mendukung fungsi amplifier tersebut di dalam suatu rangkaian. Dengan menambahkan dua
buah resistor, kita dapat membuat amplifier yang memiliki gain yang sangat akurat. Sebagai
alternatif, hanya dengan resistor dan kapasitor kita dapat membuat integrator aktif. Bab ini
memperkenalkan konsep-konsep dasar penguat (biasanya + operasional dan menguraikan
penggunaannya dalam aplikasi-aplikasi rangkaian praktis. Dalam dengan d. Peneraan pol
dengan samb masing-masing menghasilkan lebih dari 180 derajat. Karena sebagian amplifier
operasi memungakinkan tegangan positif (di 0 V). Berdasarkan aku lambang-lambang dan
kaki-kaki lepaskan sumber r Lambang untuk penguat operasional di perlainan harus
mempertimbangkan tentang ini.
Penguat operasional memiliki dua kaki sambungan input dan satu sambungan
keluaran. Tidak terkait sambungan langsung ke umum. Lebih jauh, untuk menyambung
derakan koneksi kita tidak perlu harus menginstal kaki-kaki sambungan ke sumber
Ditempatkan pada gambar dengan pasangan. Sama besar bersama (ini yaitu umum dan output
ini). Rangkaian sumber gain karakteristik yaitu gain dengan koneksi-koneksi sumber
(hubungan tak-hingga n lebar). Tambahkan rangkaian definisikan. kita dap saya mendapatkan
yang dengan kita dapat, salah-satu input ditandai dengan - (negatif) dan yang lainnya ditandai
dengan + (positif). Penerangan polaritas ini tidak ada sangkut-pautnya mentransfer fase total
antara masing-masing input dengan output. Tanda + mengubah fase pergeseran nol
sedangkan tanda mengindikasikan perubahan fase 180°. Karena pergeseran fase 180°
menghasilkan bentuk-gelombang yang terbalik, input beralih disebut sebagai input pembalik
(inverting input). Demikian pula, input + dikenal sebagai input non-pembalik. Sebagian besar
(namun tidak semua) penguat operasional membutuhkan sumber simetris. Penguat Bab ini
(Biasanya +5 V hingga ± 15 V). Hal ini memung- nnya dalam tegangan keluaran untuk
berayun ke Arah positif (di atas 0 V) dan ke arah negatif (di bawah 0 V). Membahas
bagaimana sambungan-sambungan sumber akan tampak jika kita meminta izin. Terkait
dengan kita biasanya memiliki dua sumber terpisah, sumber positif dan sumber negatif yang
sama, sementara berlawanan. Sambungan bersama (koneksi umum) dari kedua sumber ini
(yaitu jalur 0 V) sambungan sebagai jalur bersama (common rail) pada rangkaian kita. Input
dan keluaran Tegangan relatif terhadap jalur ini. Bagaimana menggunakan sumber.
Gain tengangan loop terbuka dari sebuah amplifier operasional didefenisikan sebagai
rasio dari tengangan output terhadap tegangan input yang diukur tanpa penerapan umpan
balik. Gain loop terbuka oleh karenanya dapat dipandang sebagai gain tegangan ‘internal’ dari
perangkat tersebut. Dalam prakteknya, nilai ini sangat tinggi (biasanya lebih besar dari
10.000). Namun, dapat bervariasi dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Gain loop terbuka
adalah rasio dari tegangan output terhadap tegangan input yang diukur tanpa penerapan
umpan balik. Maka:
AVOL = Vout/Vin...........................................................................................................(2.1)
Dimana AVOL adalah gain loop terbuka, Vout dan Vin adalah masing-masing tegangan output
dan input pada kondisi loop terbuka. Pada aplikasi-aplikasi penguatan tegangan linear, umpan
balik negatif yang cukup besar akan diterapkan dan gain tegangan loop terbuka dapat
dipandang sebagai gain tegangan internal yang diberikan oleh perangkat. Gain tegangan loop
seringkali dinyatakan dalam dalam desibel (dB) dan bukannyasebagai suatu nilai rasio. Dalam
kasus ini adalah:
AVOL = 20 log 10(Vout/Vin)...........................................................................................(2.2)
Gain tegangan loop tertutup adalah rasio dari tegangan output terhadap tegangan input ketika
umpan balik negatif diterapkan. Maka:
AVCL = Vout/Vin...........................................................................................................(2.3)
Dimana AVCL adalah bagian dari gain tegangan loop tertutup, Vout dan Vin adalah masing-
masing dari tegangan output dan input pada kondisi loop tertutup. Gain tegangan loop tertutup
normalnya jauh lebih kecil dari gain tegangan loop terbuka. (Tooley, 1995)
Bila OP-AMP dipakai untuk memproses sinyal AC, maka besaran distorsi yang berhubungan
dengan pembatasan laju ubah mejadi penting. Distorsi berarti sinyal pada sisi keluaran secara
bentu dan fasa tidak tepat sama dengan sinyal pada sisi masukan. Pembatasan laju ubah pada
sebuah OP-AMP disebabkan kapasitor intenalnya. Ini berbeda dengan penampilan DC yang
berhubungan satu tingkat rangkaian ke rangkaian berikutnya dan mencegah arus dan tegangan
DC tidak mempengaruhi rangkain beikutnya. Pembahasan sinyal AC dan ketepatan laju OP-
AMP berarti berhubungan dengan frekuensi sinyal dan tanggapan frekuensi OP-AMP.
Umumnya produsen komponen OP-AMP telah menyediakan fasilitas lewat terminal
tersedia untuk komponsasi dalam OP-AMP, yaitu memasang sebuah kapasitor internal untuk
mencegah komponen OP-AMP berosilasi pada frekuensi tinggi. Dimana kapasitor ini akan
menurunkan bati OP-AMP seiring dengan naiknya frekuensi sinyal masukan. Ini akan
mecegah OP-AMP mempunyai bati cukup besar pergeseran fasa pada frekuensi tinggi yang
akan diumpan balikkan ke terminal masukan yang pada akhirnya dapat menyebabkan osilasi
(catatan: jika kita lihat kembali osilator jenis pergeseran fasa, kita akan paham bahwa terdapat
syarat tertentu yang membuat rangkaian OP-AMP berfungsi sebagai osilator, yaitu bati yang
cukup panjang AB ≈ 1 dan beda fasa 1800).
Tanggapan frekuensi kecil OP-AMP yang disebut bati tegangan rangkaian terbuka
terhadap frekuensi, biasanya kompensasi untuk menurunkan bati terhadap frekuensi
diskalakan dalam satuan dekade. Satu dekade diartikan penurunan bati sebesar 10 kali
bersamaan dengan kenaikan frekuensi 10 kali.
Untuk memahami lebih detail kenapa diperlukan kompensasi untuk frekuensi tinggi
dan bagaimana kompensasi dilakukan, dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Bila OP-AMP
digunakan untuk memberikan penguatan besar, misalnya 1000 kali maka tanggapan
frekuensinya dapat mencapai 600 kHz. (2) Tetapi Operasional OP-AMP cenderung
berguncang pada frekuensi tinggi. (3) Rangkaian yang goyah, tidak dapat diramal hasil
keluarannya, sekalipun tidak diberikan sinyal masukan. (4) Untuk mengatasi operasi tidak
stabil, maka perlu diberikan kompensasi eksternal. (5) Untuk memperoleh kestabilan operasi
OP-AMP. Maka grafik kelengkungan hasil kompensasi penguatan rangkaian tertutup terhadap
frekuensi tidak bersilangan dengan grafik kelengkungan rangkaian terbuka terhadap
frekuensi. Sebagaimana diketahui bahwa bati rangkaian terbuka OP-AMP adalah sangat
besar, umunya sekitar 106 dB atau kira-kira 200.000 kali. Besaran bati ini adalah untuk
frekuensi sinyal masukan rendah, yaitu dibawah 0.1 Hz atau praktis adalah arus atau tegangan
sinyal masukan DC. (Muis,2017)
Penguat umpan balik tegangan tak terbalik penguat tegangan yang terkait kesepakatan
impedansi masuknya tinggi, impedansi keluarnya rendah, dan bati tegangannya yang mantap.
Marilah kita amati beberapa rangkaian yang menggunakan umpan balik tegangan tak terbalik.
Pada beberapa penggunaan, anda tak memperlukan tanggapan yang melebar hingga frekuensi
nol karena hanya sinyal ac yang menggerakkan masukan. Dalam hal ini, Anda dapat me-
nyelipkan kapasitor penggandeng pada sisi-sisi masukan dan keluaran, Sementara itu, Anda
dapat meminimalkan tegangan pengaturan keluaran dengan menyelipkan kapasitor pintas
(kapasitor pintas) pada umpan balik sederhana seperti yang dihasilkan. Pada gambar tersebut
pada pita tengah dari penguat, kapasitor, pintas tampak seperti terhubung pendek, dan bati
tegangan ac simpal tertutup adalah R1/R2+1. Tetapi pada frekuensi nol, kapasitor yang
tampak seperti terbuka dan bagian umpan balik naik sampai harga 1. Dengan demikian
desensitivitas untuk sinyal de adalah I + A harga ini merupakan harga maksimum yang dapat
dimudahkan. Hal ini dapat dikurangi hingga ke harga maksimumnya. Dengan kata lain, Anda
mendapatkan persetujuan dari maksimum, jika Anda menggunakan kapasitor pintas. Kolektor
pada tahap bipolar biasanya memiliki voltase tenang sekitar Vcc Dengan demikian, kita dapat
menggandeng langsung tahapan ini dengan masukan yang tidak dapat dihapuskan kapasitor
penggandeng dan pembagi tegangan. Cara ini ditampilkan sebelumnya, sementara itu
memberikan bati tegangan tambahan. Dari pembahasan-pembahasan awal, kita sudah
menggunakan sebagian besar komponen pada tahap bipolar. Misalnya, R, dan R, menyajikan
prategangan pembagi tegangan, dengan C2 memintaskan emiter ke tanah pada bau tegangan
maksimam. Kom ponen-komponen yang baru hanya Rs dan Ca. Rangkaian Tertinggi ini
disebut jaringan pelepas gandeng (jaringan decoupling). Tegangan pengendali untuk
mengganti JFET dari rangkaian lain yang menghasilkan keluaran dua tingkat, 0 V atau
tegang- an yang sama dengan VGs (put). Bila tegangan pengendali sama dengan VG (put),
Switch JFET terbuka dan bati tegangan simpal tertutup perhitungan R1 / R2 + 1. Bila
tegangan pe- ngendali sama dengan nol, Pada banyak rancangan-rancang, R3 dibuat jauh
lebih besar dari rdston) agar rdston) tidak perlu bati tegangan simpal pakai. Kadang-kadang
kita melihat switch-switch JFET dan tahanan-tahanan yang dipasang paralel dengan R2 untuk
memberikan pilihan bati tegangan simpal tertutup. (Dapat digunakan sebagai pengendali
TTL. TTL adalah yang kompatibel dengan digital yang didukung dengan dua tingkat: tinggi
dan rendah). (Malvino, 2004)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen
1. Resistor (1 KΩ, 6,8 KΩ)
Fungsi : Sebagai hambatan tegangan pada rangkaian.
2. IC LM 741
Fungsi : Sebagai penguat tegangan pada rangkaian.

i. Peralatan dan Fungsi


a. Op-Amp Trainer : CPE – E02240
Fungsi : Sebagai penguat sinyal yang dimasukkan baik DC maupun AC.
b. Protoboard
Fungsi : Sebagai tempat untuk membuat rangkaian.
c. Sinyal Generator
Fungsi: Untuk membangkitkan atau menghasilkan gelombang berbentuk sinus.
d. Power Supply double polarity
Fungsi : Untuk sebagai sumber tegangan DC dan penyalur tegangan listrik ke
seluruh komponen lainnya dalam suatu rangkaian elektronika.
e. Multimeter
Fungsi : Untuk mengukur besar hambatan, tegangan dan kuat arus.

b. Prosedur Percobaan
3.1.1 Penguat penjumlah
1. Disiapkan peralatan dan komponen.
2. Dirangkaila rangkaian pada analog desgin unit untuk R1 = 1 KΩ dan R2 = 6,8
KΩ.
3. Dihubungkan analog design analog unit ke sumber arus PLN.
4. Dihidupkan analog design unit.
5. Dihidupkan (+) PSA ke (+) Op-amp circuit, (−) PSA ke (−) Op-amp circuit,
dan ground PSA ke ground Op-amp circuit.
6. Dihubungkan Rf = 2 KΩ ke kaki 2 IC LM 741 dan kaki satunya lagi ke kaki 6.
7. Dihubungkan R1 = 1 KΩ ke kaki 21C LM 741 dan kaki satunya lagi ke kaki
input.
8. Dihubungkan R2 = 6,8 KΩ ke kaki searah dengan R1 dan kaki satunya lagi ke
kaki input.
9. Dihubungkan kaki 3 IC LM741 ke kaki ground.
10. Dihubungkan kaki ground op-amp circuit ke kaki ground osiloskop.
11. Dihubungkan kaki 2 IC LM741 ke kaki (+) osiloskop.
12. Dihubungkan kaki output IC LM741 ke (+) multimeter dan kaki ground ke (−)
multimeter.
13. Diatur input tegangan.
14. Dilihat output dari tegangan.
15. Dicatat hasil output.
16. Dimatikan peralatan yang digunakan dan disusun kembali.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan


- Rangkaian Inverting
V out = V in

R in (Ω) R f (Ω) V out Teori V out Praktek


1K 2K 1K 1,5K

Medan, 13 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Gifterius Nico Manalu) (Mikael Petrus Saragi)


4.2 Analisa Data
1. Menghitung Persen Deviasi (Ralat)
 Rangkaian Inverting Amplifier
𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖− 𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑃𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
%D=| 𝑉𝑜𝑢𝑡 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖 | 𝑥 100 %
(10−11)
=| | 𝑥 100%
10

=1%

2. Berapa kali penguatannya


Inverting :
AV = 𝑅𝑓
𝑅𝑖

2
=1
=2

3. Sumber Ralat pada Percobaan


 Jumper ( Kabel Penghubung)
Kabel penghubung yang digunakan memiliki luas penampang dan panjang yang
berbeda. Saat luas penampang dan panjang bernilai besar maka, hambatan yang
terjadi pun akan semakin besar sehingga memengaruhi nilai yang masuk pada
rangkaian.
 Power Supply
Power supply yang digunakan tidak dalam kondisi yang baik, sehingga
menyebabkan arus yang dihasilkan tidak stabil. Karena arus yang mengalir pada
rangkaian tidak stabil maka arus yang terukur di multimeter akan mengalami ralat.
 Ketidaktelitian praktikan
Orang yang menglihat power supply juga merupakan sumber ralat karena tidak
ketelitian si penglihat.

4.3 Gambar Proteus


(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Op-Amp Inverting adalah rangkaian Op-Amp yang bekerja sebagai penguat
tegangan pembalik pada tegangan input negatif (V-). Maksud dari pembalik adalah
bahwa hasil penguatan yang ada ditegangan output Op-Amp akan berbeda fase 180º
dari tegangan input. Sedangkan Op-Amp Non-Inverting adalah rangkain Op-Amp
yang bekerja sebagai penguat tengan pada tegangan input positif (V+). Pada rangkaian
ini penguatan yang ada ditegangan output Op-Amp akan sefase (0º) dari tegangan
inputnya, atau dengan kata lain jika inputnya berupa tegangan positif, maka outputnya
berupa tegangan positif pula

2. Aplikasi dari OP-AMP


 Sebagai rangkaian dasar filter aktif
 Sebagai penguat sinyal AC dan DC pada computer
 Sebagai komparator analog
 Sebagai Integrator dan diferensiator
 Sebagai penguat tegangan

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya memahami teori yang akan dipraktikumkan.
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya mengetahui cara menentukan warna resistor.
3. Sebaiknya praktikan selanjutnya kompak.
DAFTAR PUSTAKA

Malmstadt, H.V., Enke, C.G., Crouch, S.R. 1981. Electronics And Instrumentations For
Scie- ntists. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, lnc
Pages: 187-188
Muis, S. 2017. Penguat Operasional (OP-AMP) Teori Lanjutan dan Pemakaian. Yogyakarta:
Teknosain
Halaman: 1-2
Offner, Franklin, 1967. Electronic For Biologists. New York: McGraw-Hill Book Company
Pages: 52-53
Tewari, K.K, 1987. Electricity And Magnetism With Electronics. New Delhi: [Link] & Co-
mpany LTD
Pages: 860-867
Tooley, M, 1995. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Jakarta: Erlangga
Halaman: 141-142

Medan, 13 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Gifterius Nico Manalu) (Mikael Petrus Saragi)


LAMPIRAN

PENGUAT INVERTING

PENGUAT NON INVERTING


LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

FILTER AKTIF
DASAR

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : IQBAL SYUHADA

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I

PENDAHULUA

1.1 Latar Belakang


Filter adalah suatu rangkaian yang digunakan untuk membuang tegangan output pada
frekuensi tertentu. Untuk merancang rangkaian filter dapat digunakan komponen pasif
(R,L,C) dan komponen aktif (Op-Amp, transistor). Dengan demikian filter dapat
dikelompokkan menjadi filter pasif dan filter aktif. Filter Aktif yaitu filter yang
menggunakan komponen aktif, biasanya transistor atau penguat operasi. Kelebihan filter
ini yaitu frekuensi kurang dari 100 kHz dan relatif lebih murah untuk kualitas yang
cukup baik. Beberapa macam yang termasuk ke dalam filter aktif adalah tapis pelewat
rendah atau tapis lolos rendah atau low-pass filter digunakan untuk meneruskan sinyal
berfrekuensi rendah dan meredam sinyal berfrekuensi tinggi. Sinyal dapat berupa sinyal
listrik seperti perubahan tegangan maupun data-data digital seperti citra dan suara.
Filter lolos atas atau high pass filter adalah jenis filter yang melewatkan
frekuensi tinggi, tetapi mengurangi amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada
frekuensi cutoff. Nilai-nilai pengurangan untuk frekuensi berbeda-beda untuk tiap-tiap
filter ini . Band pass filter digunakan terutama di nirkabel pemancar dan penerima.
Fungsi utama filter seperti di pemancar adalah untuk membatasi bandwidth sinyal
output minimum yang diperlukan untuk menyampaikan data pada kecepatan yang
diinginkan dan dalam bentuk yang diinginkan. Filter tolak rendah, dalam pemrosesan
sinyal, filter band-stop atau band-penolakan filter adalah filter yang melewati frekuensi
paling tidak berubah. Biasanya, lebar stopband kurang dari 1-2 dekade. Penguatan dan
frekuensinya mudah diatur, selama op-amp masih memberikan penguatan dan sinyal
input tidak sekaku seperti pada filter pasif. Pada dasarnya filter aktif lebih gampang
diatur. Tidak ada masalah beban, karena tahanan inputtinggi dan tahanan output rendah.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui rangkaian low pass filter
2. Untuk mengetahui rangkaian high pass filter
3. Untuk mengetahui prinsip kerja low pass filter
4. Untuk mengetahui prinsip kerja high pass filter
5. Untuk mengetahui aplikasi dari filter aktif
BAB II

DASAR

TEORI

Filter adalah perangkat yang melewatkan sinyal frekuensi tertentu dan menolak atau
melemahkan frekuensi lain. Filter pasif dibangun dengan induktor, kapasitor, dan resistor,
tetapi untuk induktor rentang frekuensi tertentu, karena ukurannya dan keterbatasan kinerja
praktis, tidak dapat dipungkiri. Akibatnya, ada kecenderungan untuk mengganti induktor oleh
perangkat aktif yang mensimulasikan efek induktor. Ini telah dipercepat dengan kemajuan
miniaturisasi yang telah membuat perangkat aktif tersedia dengan harga yang kompetitif, dan
dalam banyak kasus lebih murah daripada, orang-orang dari induktor. Perangkat aktif yang
digunakan adalah penguat operasional sirkuit terpadu (IC). Grafik disajikan untuk setiap jenis
filter tergantung pada spesifikasi yang tepat dan nilai elemen sirkuit. Elemen dasar yang akan
kita gunakan dalam konstruksi filter aktif adalah penguat operasional (op-amp). Hanya tiga
terminal yang ditunjukkan pada gambar, terminal input pembalik (-), terminal input non-
pembalik (+), dan terminal output. Namun, op-amp praktis sebenarnya adalah perangkat
multiterminal. Terminal lainnya ditentukan oleh pabrikan dan mencakup, secara umum,
koneksi catu daya, terminal kompensasi frekuensi, dan tujuan mengimbangi terminal nol.
Ada tiga jenis resistor yang umum digunakan. Resistor komposisi karbon adalah yang
paling banyak digunakan dan dapat diterima di sebagian besar aplikasi filter nonkritis. Ini
khususnya benar jika filter digunakan pada temperatur ruangan. Dalam semua contoh kami,
filter dibangun dengan resistor komposisi karbon toleransi 5%. Ini digunakan karena mereka
yang paling ekonomis dan tersedia secara umum. Untuk aplikasi berkinerja tinggi, atau dalam
kasus di mana suhu penting, seseorang harus menggunakan resistor metal-film atau resistor
kawat. Pada kapasitor, kapasitor cakram keramik adalah jenis yang sangat umum dan
ekonomis. Namun, ini harus digunakan dalam aplikasi yang paling tidak kritis. Jenis umum
yang lebih dapat diterima adalah kapasitor Mylar, yang merupakan jenis yang digunakan di
sebagian besar contoh. Untuk aplikasi kritis dan kinerja tinggi, kapasitor polystyrene dan
teflon adalah pilihan yang baik dalam banyak kasus.
Pada dasar sirkuit op-amp, filter yang dirancang dalam buku ini bekerja paling baik
ketika sinyal input berasal dari sumber impedansi output rendah. Jika sinyal yang akan
disaring bukan dari jenis ini, mungkin diinginkan untuk melakukan prasyarat, atau
preamplify, sinyal dengan rangkaian op-amp sebagai dan resistor. Filter dibuat untuk
memberikan keuntungan yang ditentukan dengan tambahan fleksibilitasnya. (Hilburn, 1953)
Filter low-pass aktif dirancang menggunakan urutan operasi yang mirip dengan desain filter
LC. Persyaratan low-pass yang ditentukan pertama kali dinormalisasi dan tipe filter tertentu
dari kompleksitas yang diperlukan dipilih menggunakan karakteristik. Filter yang sesuai
didenormalisasi oleh penskalaan frekuensi dan impedansi. Filter aktif juga dapat dirancang
langsung dari kutub dan nol. Pendekatan ini terkadang menawarkan beberapa derajat
kebebasan tambahan. Fungsi transfer jaringan RC pasif memiliki kutub yang hanya terletak
pada sumbu nyata negatif dari bidang frekuensi kompleks. Untuk mendapatkan kutub
kompleks yang diperlukan oleh fungsi transfer semua kutub. Amplifier operasional sirkuit
terintegrasi sudah tersedia yang memiliki sifat hampir ideal seperti gain tinggi. Namun, sifat-
sifat ini terbatas pada frekuensi di bawah beberapa ratus kilohertz. Penguat operasional
dikonfigurasi dalam konfigurasi pengikut tegangan, yang memiliki gain loop, impendansi
masukan sangat tinggi, dan impendansi keluar hampir nol. Fungsi transfer dari tiga bagian
kutub yang dinormalisasi diberikan oleh:
1
𝑇 (𝑠) = ..............................................................................................(2.1)
𝑠3𝐴+ 𝑠2𝐵+𝑠𝐶+1

dimana
A = C1C2C3...............................................................................................................(2.2)
B = 2C3 (C1+C2).......................................................................................................(2.3)
dan
C = C2 + 3C3.............................................................................................................(2.4)
Solusi dari persamaan ini untuk menemukan nilai C1,C2, dan C3, dalam hal kutub dan
paling baik dilakukan dengan komputer digital. Jika urutan filter n adalah urutan genap,
bagian filter dua kutub n/2 diperlukan. Dimana n ganjil, (n-3)/2 bagian dua kutub dan satu
bagian tiga kutub diperluka. Ini terjadi karena filier bahkan-order memiliki kutub kompleks
saja, sedangkan fungsi transfer orde ganjil memiliki kutub nyata tunggal di samping kutub
kompleks. Di DC, kapasitor menjadi sirkuit terbuka sehingga gain sirkuit menjadi sama
dengan amplifier, yang merupakan kesatuan. Ini juga dapat ditentukan secara analitik dari
fungsi transfer. Dalam passband filter low-pass, respons masing-masing bagian mungkin
memiliki puncak yang tajam dan beberapa kenaikan yang sesuai. (Williams, A.B. 1988)
Filter atau saringan yang dirancang khusus untuk pita frekuensi dan sinyal sinyal di luar pita.
Filter pada dasarnya terdiri dari dua tipe, yaitu filter pasif dan filter aktif. Filter pasif
dirancang dari komponen resistor / penghambat, kapasitor dan induktor, sebaliknya filter aktif
selain terdiri dari komponen-komponen yang dipakai oleh filter pasif, juga komponen
transistor atau Op-Amp. Terdapat empat macam filter yang dikenali dalam praktik, yaitu filter
pelewat bawah atau dikenai sebagai low pass filter, filter pelewat atas atau dikenal sebagai
high pass filter, filter pelewat pita atau dikenal sebagai bass pass filter dan dan filter eliminasi
pita, atau dikenali sebagai band stop filter atau takik. Filter pelewat bawah atau low pass
filter, akan melewati semua sinyal di bawah fc dan meredam sinyal-sinyal dengan frekuensi di
atas fc. Frekuensi fc di mana penguatan / bati sebesar 0,707 dari maksimum atau -3 dB. F c
sering disebut sebagai frekuensi cutoff atau frekuensi putus. Filter pelewat atas atau high pass
filter, adalah kebalikan dari tipe filter pelewat bawah, di mana sinyal-sinyal dengan frekuensi
di atas fc yang dilewatkan, sedangkan sinyal-sinyal dengan frekuensi di bawah fc, akan
diredam. Sama halnya karakteristik filter pelewat bawah, pada filter pelewat atas juga tidak
ideal dalam praktik, garis putus-putus merupakan ciri filter pelewat atas yang dijumpai dalam
pratek. Filter pelewat pita atau band pass filter sangat berbeda dengan 2 tipe filter di atas,
filter pelewat pita akan melewati sinyal-sinyal dengan frekuensi tengah f r, dan mulai meredam
sinyal-sinyal dengan frekuesi diluar fL dan fH, jadi filter pelewat pita akan melewati pita dan
melepaskan semua sinyal di luarnya. Sebaliknya filter eliminasi pita yang bekerja
kebalikannya, yaitu meredam sinyal-sinyal dengan frekuensi tengah fr, dan melevati sinyal-
sinyal dengan frekuesi di luar fL dan fH.
Rangkaian filter yang sering ditemui adalah pelewat bawah atau low pass, komponen
yang digunakan adalah RC sedangkan Op-Amp hanya sebagai penguat bati 1. Pada
umumnya, peralatan audio yang bekerja dari frekuensi sekitar Hz sampai 20 kHz,
menggunaan lass pass filter untuk menghilangkan derau pada daerah frekuensi tinggi.
Sebagaimana kita tahu pada Op-Amp, antara terminal 2 dan 3 diasumsikan 0 V, dan
rangkaian adalah pengikut tegangan, sehingga dengan demikian tegangan yang mengisi
kapasitor C haruslah sebesar Vo.
Vo = [(1 / jωC) / (R + 1 / jωC)] x Ei.........................................................................(2.5)
ω = 2πf adalah frekuensi yang berkaitan dengan sinyal input Ei, dengan satuan radian per
1/2
detik dan j adalah simbol imajinir atau (-1) , Bila kita atur kembali persamaan 2.5, untuk
memperoleh besaran bati rangkaian Op-Amp tertutup ACL,
ACL= Vo / Ei= 1 / (1+ jωRC)....................................................................................(2.6)
Parameter ω diganti frekuensi cutoff atau frekwensi potong atau frekwensi pojok ω c di mana
pada titik tersebut penguat bati rangkaian tertutup ACL adalah sebesar 0,707 kali atau - 3 dB.
ωc = 1/RC = 2πfc....................................................................................................... (2.7)
satuan untuk ωc adalah radian per detik, fc adalah Hz. (Muis, S. 2017)
Filter rangkaian yang diperlukan adalah rangkaian yang mengerjakan untuk faktor ripple yang
terjadi pada suatu rangkaian penyearah. Umumnya komponen yang digunakan adalah
kapasitor yang dikeluarkan secara paralel pada keluaran terminal penyearah dan Induktor
yang dihubungkan secara seri pada penyearah. Penggunaan Kapasitor C sebagai filter, pada
keadaan 0 <t <T/2, dioda konduksi dan kapasitor akan terisi muatan. Pada T/2 <t<T, dioda
off dan kapasitor akan membuang. Berdasarkan sifat kapasitor yang manyatakan tegangan
pada kapasitor tersebut tidak dapat berubah dengan tiba-tiba. Penggunaan L dan C sebagai
filter, gabungan pemakaian L dan C pada penyearah akan menyebabkan tegangan dc yang
dihasilkan makin baik dengan faktor ripple sangat kecil. Rangkaian pulsa ini sangat berguna
pada penggunaan rangkaianppengaturan.
Umumnya digunakan sebagai pulsa picu (pemicu) untuk menyalakan SCR dan
thyristor atau sebagai pulsa. Ada 3 jenis rangkaian pulsa yaitu :
1. Rangkaian bistabil. kadang-kadang disebut juga rangkaian flip-flop
2. Rangkaian monostabil.
3. Rangkaian astabil kadang-kadang ini disebut juga rangkaian osilator relaksasi.
Jenis yang banyak digunakan pada rangkaian pengaturan adalah rangkaian stabil. Di
bawah ini diberikan beberapa contoh pengaturan pulsa dengan menggunakan komponen-
komponen thyristor, transistor, dan UJT.
Rangkaian astabil dengan transistor. Transistor1 (Tr1) dan transistor 2 (Tr2) berkelakuan
sebagai switching transistor. Oleh karena itu, transistor-transistor tersebut selalu bekerja pada
daerah jenuh dan terputus. Selain itu Tr 1 dan Tr2 on atau off-nya selalu bergantian. Sekarang
anggap Tr1 off dan Tr2 on (saturasi), maka terjadi kapasitor 2 (C2) mengisi (charge) dan
kapasitor 1 (C1) membuang (discharge). Rangkaian astabil dengan thyristor. Persyaratan yang
harus dipenuhi untuk rangkaian ini adalah:
1. Input tegangan dan beban penyalaan Vho thyristor.
2. Arus Vdc/R1 harus selalu di bawah arus genggam (1H) dari thyristor tersebut.
3. Harga tahanan R1 harus jauh lebih besar dari R2 (R1 >> R2). (Zuhal, 1993)
Bati tegangan simpal tertutup diberikan oleh:
......................................................................................................................................
ACL= 𝑍 2 (2.8)
𝑍1

di mana Z1 dan Z2 adalah impedansi-impedansi yang kompleks. Impedansi-impedansi ini


menentukan frekuensi dari rangkaian. Pada frekuensi rendah kapasitor nampak seperti terbuka
dan rangkaiannya sebagai penguat pembalik ntuk engan bati tegangan R2/R1. Apabila
frekuensi meningkat, reaktansi kapasitif menurun, mengakibatkan bati tegangan menurun.
Apabila frekuensi mencapai frekuensi pancung, keluarannya semakin menjadi 0,707 kali
harga pada frekuensi rendahnya. Dibuktikan, berapa frekuensi pancung yang diberikan oleh :
1
fc = ................................................................................................................(2.9)
2πR2C

Kapasitor C yang dapat diubah-ubah besarnya, dalam mengendalikan frekuensi


pancung dan R, yang dapat diubah-ubah mengatur bati tegangan. Pada frekuensi dan kapasitor
seperti dalam hubungan terbuka, bati tegangan partisipasi nol. Pada frekuensi kapasitor tinggi
itu nampak seperti dalam hubungan, dan sambungan tersebut [Link] penguat pembalik
dengan bati tegangan sebesar R1 / R1. Dengan analisis lebih lanjut kita dapat membuktikan,
frekuensi pancungnya diberikan oleh :
𝑓𝑐 1 ..............................................................................................................(2.10)
= 2𝜋𝑅1 𝐶

Op amp dapat meningkatkan daya kerja dari rangkaian dioda. Memang sebuah op-
amp dengan umpan balik negatif mengurangi efek dari dioda, yang memungkinkan
penyearahan, pengamatan puncak, memotong dan menjepit sinyal kecil. Pada penyearah
setengah gelombang yang aktif, sebuah pengarah yang berisi buah op amp. Bila tegangan
masukan positif, maka keluaran akan positif dan dioda tersebut menghantar arus. Maka
putaran tersebut berfungsi sebagai pengikut tegangan, dan setengah siklus yang positif
muncul lintas tahanan. Di pihak lain, ganti masukan menjadi negatif, keluaran dari op amp
akan negatif dan dioda tersebut tidak dihantar. Oleh karena dioda dalam keadaan terputus, tak
ada tegangan yang muncul lintas resistor beban. Oleh karena itu keluarannya hampir
merupakan simpal setengah gelombang yang sempurna. Bati tegangan op amp yang tinggi,
hampir meniadakan perbedaan tegangan ofset dioda. Sebagai contoh tegangan 0,7 V dan bati
tegangan simpal terbuka 100.000, maka tegangan masukan dari dioda adalah
𝑣𝑖𝑛 0,7 𝑉 = 7𝜇𝑉..............................................................................................(2.11)
= 100,000

Untuk melacak puncak dari sinyal kecil, dapat menggunakan detektor puncak yang
aktif. Oleh karena bati op-amp, potensial ofset masukan φ berada dalam daerah mikrovolt. Ini
berarti rangkaian dapat mendeteksi puncak yang jauh lebih kecil dari 1 volt. Selanjutnya
apabila dioda menghantar, umpan balik negatif yang kuat menghasilkan impedansi keluaran
Thevenin yang mendekati nol. Oleh karena itu tetapan waktu pengisian menjadi sangat kecil,
dan menghilangkan pengaruh-pengaruh sumber. Penggunting positif yang aktif, dengan
ujung tahanan geser sama sekali di sebelah kir, vref = 0 dan masukan non-inverting
dihubungkan dengan bumi. Apabila vin menjadi positif, tegangan simpangan menjalankan op
amp yang negatif dan melepaskan dioda. Ini berarti bahwa v out berada di bumi semu untuk
setiap harga vin yang positif. Apabila Vin menjadi negatif, keluaran op amp adalah positif.
Pada saat ini terjadi vout bebas untuk mengikuti siklus yang negatif dari tegangan masukan.
Pada penjepit positif yang aktif, Setengah siklus negatif yang pertama menghasilkan
keluaran op amp yang positif yang dikirim dioda ini, memungkinkan pengisian kapasitor
hingga sampai nilai puncak dari tegangan masukan. Ketika baru melewati puncak yang
negatif, dioda terputus, simpalnya terbuka dan bumi virtual hilang. Oleh karena tegangan vp
ditambahkan pada tegangan masukan sinusoidal, bentuk gelombang keluaran yang terakhir
berjumlah vp dalam arah yang positif. Oleh karena potensi ofset masukan berada dalam
daerah mikrovolt, dapat menjepit sinyal-sinyal lemah dalam arah positif. (Malvino, 1985)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen dan Fungsi
1. Resistor (68 KΩ, 27KΩ, 47KΩ, 22KΩ)
Fungsi : sebagai hambatan tegangan pada rangkaian.
2. Kapasitor 2 buah (0,33μF)
Fungsi : untuk melewatkan gelombang sinyal listrik dan menyimpan muatan
listrik.
3. IC Op-Amp LM 741 (1 buah)
Fungsi: sebagai penguat tegangan pada rangkaian.

3.1.2 Peralatan dan Fungsi


1. Jumper
Fungsi : sebagai penghubung antar komponen.
2. Analog Design Unit
Fungsi : sebagai sumber tegangan.
3. Multimeter
Fungsi : untuk mengukur besar hambatan, tegangan, dan kuat arus.
4. Protoboard
Fungsi : sebagai tempat untuk membuat rangkaian.
5. Power Supply Double Polarity
Fungsi : sebagai sumbet tegangan DC dan penyalur tegangan listrik ke
seluruh komponen lainnyadalam suatu rangkaian.

3.2 Prosedur Percobaan


1. Disediakan peralatan serta komponen yang akan digunakan sesuai dengan
percobaan.
2. Dirangkai komponen pada protobroad seperti pada gambar:
V+

LM 471

V-

3. Dipasangjumper ke analog design unit


4. Dihubungkan analog unit design ke sumber tegangan,Kemudian ditekan saklar pada
peralatan (On).
5. Dihubungkan osiloskop ke analog design unit dengan penjepit buaya.
6. Diatur frekuensi 100 Hz dan dilihat gelombang yang ditampilkan pada Osiloskop.
7. Diukur besar tegangan keluaran (Vout) melalui tampilan osiloskop.
8. Dicatat besar Vout yang diperoleh.
9. Diulangi prosedur 6-8 untuk frekuensi 100 Hz, 300 Hz, 500 Hz, 700 Hz, 900 Hz,
1000 Hz, 1200 Hz.
10. Dicatat data yang diperoleh pada kertas data
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan


Frekuensi V0 Vi/V0 dB Gain
200 Hz 9 Volt 9/10 Volt 0,915

Medan, 20 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Iqbal Syuhada) (Mikael Petrus Saragi)


GRAFIK PERCOBAAN FILTER AKTIF

1. INPUT

M = 1,0 ms
V = 5 volt

2. OUTPUT

M = 2,0 ms
V = 9 volt

Medan, 20 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Iqbal Syuhada) (Mikael Petrus Saragi)


4.2 Analisa Data
1. Menentukan dB tegangan dengan rumus:
G = -20 log 𝑉𝑜
𝑉𝑖𝑛

Jawab:
Frekuensi 200 Hz
G = -20 log 𝑉𝑜
𝑉𝑖𝑛

G = -20 log 9
10

G = -20 log 0,9


G = 0,915 dB

2. Tentukan fc dari rangkaian dengan rumus:


fc = 1
2𝜋√𝑅1𝑅2𝐶1𝐶2

Jawab:
fc = 1
2𝜋√𝑅1𝑅2𝐶1𝐶2

fc = 1
2𝜋√(47𝑥102𝛺)𝑥 (47𝑥102𝛺)𝑥(33𝑥10−4𝐹)𝑥(33𝑥10−4𝐹)

fc= 1
2𝜋√(240.56 )

fc= 1
2𝜋 𝑥 15.51

fc = 1
97.4

fc= 0,0102 Hz

3. Apa yang menyebabkan kerapatan dari gelombang berbanding lurus dengan


frekuensi? Jelaskan!
Jawab:
Hal yang menyebabkan kerapatan atau banyaknya gelombang berbanding lurus
dengan frekuensi yaitu karena semakin tinggi frekuensi maka banyak gelombang
yang ditampilkan pada osiloskop akan semakin rapat/semakin banyak gelombang
yang terbentuk.

4. Menentukan banyak gelombang dari masing-masing frekuensi dengan rumus:


f=𝑛
𝑡

Jawab:
Pada saat f = 200 Hz; t = 2 ms = 0,002 s; (output)
maka:
f=𝑛
𝑡

n=fxt
n = 200 Hz x 0,002 s
n = 0,4

4.3 Gambar Percobaan

COUNTER & OSC ANALOG DESIGN UNIT DIGITAL METER

PROGRAMMABLE ( R ) DECADE CAPACITOR INPUT

8421 8421 8421


EXT

Hz kHz x 0 . 1 x 0 . 01 x 0. 001 x 10000 x 1000 x 100 DC V


x 100 k? x 10 k? x 1 k? INT AC V
10 - 100 0. 1 - 1 1 - 10 10 - 100
RANGE
µF pF

OFF
POWER INPUT
ACTIVE FILTER
+ _

FREQ CONTROL V+
GND 68 KΩ 68 KΩ EXT . C
INPUT +

DC & AC POWER
( 10 v) _
OUTPUT
4.7 KΩ 4.7 KΩ
10 v
27 KΩ
V- +
G

+ OVER LOAD
1v 0 . 033 µF 0. 033 µF 47 KΩ
AMPLITUDE
( SINE WAVE ONLY ) 0 – 15 V

LOW PASS FILTER


COM
MINMAX
VCC
POWER
VOLTAGE

ON Jumper
ON AC 15 V AC 15 V
OFF
ON OFF
AC INPUT
( MAX 0. 1 A)
100 K? SPDT PUSH ON 1000 ?

OSILOSKOP DIGITAL

4.4 Gambar Proteus


(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Pengaruh frekuensi terhadap banyak gelombang adalah dimana frekuensi
berbanding lurus dengan banyak gelombang, semakin besar frekuensi maka banyak
gelombang akan semakin banyak dan sebaliknya, apabila frekuensi kecil maka
banyak gelombang juga akan kecil, atau dapat ditulis: f = n/ t.
2. Prinsip kerja dari low pass filter, high pass filter,band pass filterdan band reject
filteradalah sebagai berikut:
a. Low Pass Filter (LPF), yaitu jenis filter yang melewatkan frekuensi rendah
serta meredam atau menaikkan frekuensi tinggi.

b. High Pass Filter (HPF), yaitu jenis filter yang melewatkan frekuensi tinggi dan
meredam atau menahan frekuensi rendah.

c. Band Pass Filter adalah sebuah pita frekuensi yang melewatkan frekuensi di
daerah sekitar saja dan menolak frekuensi d luar daerah.
d. Band Reject Filter (BPF) yaitu filter band elimination menolak pita frekuensi
tertentu dan melewatkan frekuensi di luar pita tersebut.

3. Aplikasi filter aktif adalah yaitu pada audio amplifier yang bekerja dalam mengatur
sinyal yang dilewatkannya, pada rangkaian pembangkit gelombang (rangkaian
osilator) maupun transmitter, dalam mengatur frekuensi yang akan dihasilkannya,
dan juga pada receiver pemancar dalam menentukan frekkuensi gelombang yang
akan diterimanya.
4. Fungsi Op-amp pada rangkaian filter aktif adalah Pada masing masing filter aktif
menggunakan op-amp sebagai elemen aktifnya dan tahanan, kapasitor sebagai
elemen pasifnya. Op-amp dengan high speed seperti LM301, LM318 danlainnya
digunakan pada rangkaian filter aktif untuk mendapatkan slew rate yang cepat dan
penguatan serta bandwidth bidang kerja lebih baik.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya lebih memahami rangkaian percobaan.
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya mempelajari prosedur percobaan.
3. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

Hilburn, John.L. 1983. Manual Of Active Filter Design. Second Edition. USA : McGraw-Hill
Pages : 1-4
Malvino, Albert.P. 1985. Aproksimasi Rangkaian Semikonduktor. Edisi Keempat.
Jakarta : Erlangga
Halaman : 458-461
Muis, S. 2017. Penguat Operasional (Op-Amp). Yogyakarta : Teknosain.
Halaman : 25-30
Williams, A.B. 1988. Electronic Filter Design Handbook. Second Edition.
New York: McGraw-Hill
Pages : (3-5) – (3-17)
Zuhal. 1993. Dasar Teknik Tenaga Listrik Dan Elektronika Daya. Jakarta: Gramedia Pustaka
Halaman : 202-207

Medan, 20 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Iqbal Syuhada) (Mikael Petrus Saragi)


LAMPIRAN
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
DASAR II S1 - FISIKA

STATE VARIABLE AKTIF

NAMA : MIKAEL PETRUS SARAGI


NIM : 180801056
KELOMPOK : III
GELOMBANG :B
ASISTEN : ROBIN SIMATUPANG

LABORATORIUM ELEKTRONIKA
DASAR DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada rangkaian dibagian listrik sering disebut rangkaian seleksi frekuensi untuk
melewatkan band frekunsi tersentuh dan menahannya dari frekuensi diluar jaringan itu.
Filter dapat diklafisikasikan dengan arahan analog atau digital, pasif atau aktif, audio (AF)
atau radio frekuensi (RF).
Filter analog dirancang untuk memproses sinyal analog, sedang filter digital
memproses sinyal analog dengan menggunakan teknik digital. Filter tergantung dari tipe
elemen yang digunakan pada rangkaiannya, filter akan dibedakan padamenjadi dua, yakni
filter aktif dan filter pasif.
Elemen pasif adalah tahanan, kapasitor dan induktor. Filter aktif dilengkapi dengan
transistor atau op-amp selain tahanan dan kapasitor. Tipe elemen ditentukan oleh
pengoperasian range frekuensi kerja rangkaian. Misal RC filter umumnya digunakan
untuk audio atau operasi frekuensi rendah dan filter LC atau kristal lebih sering digunakan
pada frekuensi tinggi.
State variable filter itu sendiri merupakan gabungan dari beberapa rangkaian penguat
OP-AMP yang dihubungkan secara simultan dengan beberapa buah rangkaian low pass
filter dengan sebuah rangkaian bandpass filter.
Pada percobaan ini, The State Variable Filter, akan membahas filter aktif bertingkat,
dimana dalam filter aktif ini digunakan komponen IC op-amp sebagai penguat frekuensi
dan untuk menyempurnakan kinerja filter, serta menjadi suatu bentuk penyederhanaan
rangkaian yang lebih kompleks dari filter pasif.
Filter aktif sangat handal digunakan pada komunikasi dan sinyal prosesing, tapi juga
sangat baik dan sering digunakan pada rangkaian elektronika seperti radio, televisi,
telepon ,radar, satelit ruang angkasa dan peralatan biomedik.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui rangkaian state variable filter
2. Untuk mengetahui rangkaian bandpass filter
3. Untuk mengetahui rangkaian bandstop filter
4. Untuk mengetahui aplikasi rangkaian state variablel filter
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
BAB II

DASAR TEORI

Penyaringan (filter), rangkaian penyearah yang sempurna harus memberikan tegangan mantap
bebas kerutan lewat resistansi bebannya. Keluaran dari penyearah setengah gelombang atau
gelombang penuh terdiri dari komponen-komponen kerutan ditambah suku dc (searah).
Penampilan penyearah demikian dapat diperbaiki dengan memasukkan rangkaian tambahan
antara penyearah dan beban untuk mengurangi komponen-komponen kerutan. Rangkaian
tambahan ini dinamakan penyaringan (filter). Dalam peristiwa yang sederhana, filter terdiri
dari kapasitor C yang ditempatkan bercabang dengan resistansi beban RL, atau suatu induktor
L yang ditempatkan seri dengan resistansi beban RL. Isi kerutan dari keluaran penyearah
dapat diperkecil lebih lanjut dengan menggunakan rangkaian filter LC seksi “L” atau seksi
”π”. Aksi rangkaian filter dapat dimengerti dengan cara berikut. Dalam peristiwa filter
kapasitor yang digunakan paralel dengan resistansi beban, reaktansi dari kapasitor C pada
frekwensi sinyal masuk diambil sangat kecil dibandingkan dengan RL. Maka komponen
kerutan dipintas oleh kapasitor dan fluktuasi tegangan dekat resistansi berkuramg.
Dalam peristiwa induktor yang seri dengan resistansi beban, reaktansi induktor pada
frekuensi sinyal masuk diambil jauh lebih besar daripada RL. Maka komponen ac dari
keluaran penyearah terutama akan muncul lewat induktansi. Komponen dc dilewatkan
induktor tanpa mengalami banyak perlemahan kalau resistansi induktor ke arus searah
diabaikan. Jelas, fluktuasi dari tegangan lewat RL akan kecil. Dalam rangkaian LC, aksi
penyaringan baik dari filter induktor maupun filter kapasitor ditunjukkan. Tegangan kerutan
diperlemah oleh induktor seri dan kapasitor cabang, dan hasilnya tegangan keluaran yang rata
lewat RL. Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan menggunakan filter cabang
kapasitor. Akan kita anggap kerja suatu rangkaian lebih terperinci. Kalau kapasitor tidak ada,
selama setengah siklus sinyal masukan, salah satu tabung dan penyearah gelombang penuh
dengan filter kapasitor paralel. Penguat gelombang penuh akan menghantar dan, kalau
masukkannya sinusoidal, keluarannya muncul tegangan setengah siklus sinusoidal. Harga
puncak tegangan setengah sinusoidal sama dengan harga penuh tegangan yang terinduksi
dalam setengah bagian sekunder transformator (asalkan penurunan tegangan lewat tabung
diabaikan). Kalau kapasitor ada, tegangan ini memberi muatan kapasitor C sampai harga
puncaknya. Penghantaran tabung berarti memberikan arus pengisian muatan. Pada fase
penurunan gelombang masuk, kapasitor C mengosongkan muatan lewat resistansi beban RL
dengan konstanta waktu yang diberikan oleh hasil kali CRL.
Reaktansi dari kapasitor pada frekuensi kerutan jauhh lebih kecil daripada resistansi
beban. Ini berarti bahwa konstanta waktu CRL jauh lebih besar daripada periode waktu T dari
tegangan bolak-balik. Kalau salah satu tabung menghantar, kapasitor penyaring mengisi
muatan. Karena tabung dimisalkan ideal, maka selama periode menghantar, tabung-tabung
tersebut seperti rangkaian terhubung singkat dan kapasitor mengisi muatan sampai tegangan
maksimum, yang sama dengan harga maksimum dari sinyal masuk. Selama penghantaran
kalau sinyal masuk jatuh lebih rendah harga puncak, tabung tidak bekerja dan kapasitor
mengosongkan muatan dengan perlakuan dengan konstanta waktu CRL. Selama setengah
periode sinyal masuk lain, tabung kedua akan mulai menghantar kalau tegangan masuk
menjadi lebih besar daripada e0. Penghantaran tabung berhenti kalau tegangan masuk
berkurang lebih rendah harga puncaknya. (Chattopadhyay, 1989)
Filter, filter aktif, bati tegangan simpal tertutup diberikan oleh:

Acl ……………………………………………………………………..(2.1)

di mana Z1 dan Z2 adalah impedansi-impedansi yang kompleks. Impedansi-impedansi ini


menentukan tanggapan frekuensi dari rangkaian.
Kapasitor nampak seperti terbuka dan rangkaiannya bersifat sebagai penguat inverting
dengan bati tegangan R2/R1. Bila frekuensi meningkat, reaktansi kapasitif menurun menjadi
0,707 kali harga pada frekuensi rendahnya. Dapat dibuktikan, bahwa frekuensi pancungnya
diberikan oleh.
……………………………………………………………………..(2.2)

Kapasitor C yang dapat diubah-diubah besarnya,mengendalikan frekuensi pancung dan R 1


yang dapat diubah-ubah mengatur bati tegangan.
Rangkaian dioda yang aktif, op amp dapat meningkatkan daya kerja dari rangkaian
dioda. Memang sebuah op amp dengan umpan balik negatif memperkecil efek ofset dari
dioda, yang memungkinkan penyearahan, pengamatan puncak (peak-detect), memotong dan
menjepit sinyal kecil kecil (yang puncaknya lebih kecil dari tegangan ofset dioda). Penyearah
setengah gelombang, sebuah penyearah setengah gelombang yang aktif, sebuah pengarah
yang mengandung sebuah op amp.
Apabila tegangan masukan positif, maka tegangan keluaran akan positif dan diode
tersebut menghantar arus. Maka rangkaian terebut bekerja sebagai pengikut tegangan, dan
setengah siklus yang positif muncul lintas tahanan bebas. Di pihak lain, apabila masukan
menjadi negatif, keluaran dari op amp akan negatif dan dioda tersebut tidak
[Link] dioda dalam keadaan terputus, ada tegangan yang muncul lintas resistor
beban. Oleh karena itu keluarannya hampir merupakan simpal setengah gelombang yang
sempurna.
Bagi tegangan op amp yang tinggi, hampir meniadakan pengaruh tegangan ofset
dooda. Misalnya apabila tegangan ofset 0,7 V dan bati tegangan simpal terbuka 100.000,
maka tegangan masukan dari dioda adalah

…………………………………………………………………...(2.3)

Detector puncak yang aktif, untuk melacak puncak dari sinyal kecil, kita dapat
menggunakan detector puncak yang aktif. Oleh karena bati op amp, potensial ofset masukan φ
berada dalam daerah mikrovolt. Ini berarti rangkaian dapat mendeteksi puncak yang jauh
kebih kecil dari 1 volt. Selanjutnya apabila dioda menghantar (menyala), umpan balik negatif
yang kuat menghasilkan impedansi keluaran Thevenin yang mendekati nol.
Oleh karena itu tetapan waktu pengisian menjadi sangat kecil dan menghilangkan
pengaruh-pengaruh sumber. Penggunting positif yang aktif , dengan ujung tahanan geser sama
sekali disebelah kiri, vref =0 dan masukan non-inverting dohubungkan dengan bumi. Apabila
Vin menjaid positif, tegangan simpangan (error-voltage) menjalankan keluaran op amp yang
negatif dan menyalakan dioda.
Ini berarti bahwa vout berada dibumi semu untuk setiap harga vin yang positif . Apabila
vin menjadi negatif, keluaran op amp adalah positif yang memutuskan dioda dan membuka
simpal. Pada saat ini terjadi bumi virtual hilang dan keluaran vout bebas untuk mengikuti
bagian siklus yang negatifdari tegangan masukan. (Malvino, 1994)
Filter aktif, dalam filter semacam itu penguaat operasional (disingkat OP AMP) digunakan
bersama dengan elemen rangkaian pasif seperti resistor dan kapsitor. Filter aktif memiliki
karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda dari filter pasif. Fitur yang menonjol dari
filter aktif adalah : (i) Filter aktif berukuran kecil dan berat, dan kasar. Dalam kebanyakan
kasus, filter aktif tidak mahal dan tidak memerlukan induktor berbiaya tinggi. (ii). Filter aktif
memberikan isolasi yang sangat baik antara setiap tahapan karena impedansi input tinggi
mulai dari beberapa kilo ohm hingga beberapa ribu megohm dan impedansi otput rendah
mulai dari kurang dari satu ohm hingga beberapa ratus ohm.
Karena filter aktif memicu OP AMP, kami memberikan karakteristik dasar OP AMP
di bawah ini. Meskipun OP AMP praktis tidak sepenuhnya ideal, cukup bagi diskusi kita
untuk menganggapnya sebagai yang ideal yang memiliki sifat-sifat berikut.
(i) Gain tegangan tak terbatas
(ii) Lebar pita tak terbatas
(iii)Impedansi input tanpa batas
(iv)Impedansi keluaran nol
(v) Keseimbangan sempurna yaitu, output adalah nol ketika tegangan yang sama
diterapkan pada dua terminal input dan
(vi)Karakteristik tidak berubah dengan suhu
Simbol sirkuit OP AMP tipikal diberikan fig.14.1. Terminal 1 (bertanda) disebut terminal
input pembalik. Tanda negatif menyiratkan bahwa sinyal yang diterapkan pada terminal 1
akan muncul di terminal output 'O' dengan polaritas yang berlawanan dengan yang di terminal
1. Terminal 2 (bertanda +) adalah terminal input noninverting. Sinyal keluaran pada terminal
'O' memiliki polaritas yang sama dengan sinyal yang diterapkan pada suhu 2. Jika V adalah
tegangan sinyal di terminal 1 dan V2 adalah sinyal di terminal 2. (Rakshit,2000)
filter atau saringan yang dirancang khusus untuk pita frekuensi dan meredam sinyal-sinyal di
luar pita. Filter pada dasarnya terdiri dari dua tipe, yaitu (1) filter pasif dan (2) filter aktif.
Filter pasif dirancang dari komponen resistor / hambatan, kapasitor dan induktor, filter
sebaliknya aktif selain terdiri dari komponen-komponen yang dipakai oleh filter pasif, juga
komponen transistor atau Op-Amp. Silahkan bahas bab ini, kita perbaiki tipe filter tipe aktif.
Ada empat macam filter yang dikenali dalam praktik, yaitu filter pelewat bawah atau dikenal
sebagai filter low pass, filter pelewat atas atau dikenal sebagai filter high pass, filter pelewat
pita atau dikenal sebagai bass pass filter dan filter eliminasi pita, atau dikenali sebagai band
stop filter atau takik. Mendeskripsikan karakteristik filter-filter yang menantang. Filter
pelewat bawah atau low pass filter, akan melewati semua sinyal di bawah dan meredam
sinyal-sinyal dengan frekuensi di atas fe. Frekuensi fe di mana penguatan / bati sebesar 0,707
dari maksimum atau -3 dB. fe sering disebut sebagai frekuensi cutoff atau frekuensi putus.
Garis penuh adalah karakteristik ideal sedangkan garis putus-putus adalah ciri filter pelewat
bawah dalam praktik.
Filter pelewat atas atau high pass filter, adalah kebalikan dari tipe filter pelewat
bawah, di mana sinyal-sinyal dengan frekuensi di atas fe yang dilewatkan, sedangkan sinyal-
sinyal dengan frekuensi di bawah fe akan diredam. Sama halnya dengan karakteristik filter
pelewat bawah, pada filter pelewat atas juga tidak ideal dalam praktik, garis putus-putus
merupakan karakteristik filter pelewat atas yang dijumpai dalam pratek. Filter pelewat pita
atau band pass filter sangat berbeda dengan 2 tipe filter di atas, filter pelewat pita akan
melewati sinyal-sinyal dengan frekuensi tengah f, dan mulai meredam sinyal-sinyal dengan
frekuesi di luar fi dan fu jadi filter pelewat pita akan lewat pita dan Hentikan semua sinyal di
luarnya. Singkirkan filter menghilangkan pita yang bekerja kebalikannya, yaitu meredam
sinyal-sinyal dengan frekuensi tengah f, dan melewati sinyal dengan frekuesi di luar fi dan fh.
Rangkaian filter yang sering ditemui adalah pelewat bawah atau low pass, komponen
yang digunakan adalah RC sedangkan Op-Amp hanya sebagai penguat bati 1. Pada
umumnya, peralatan audio yang bekerja dari frekuensi sekitar Hz sampai 20 kHz,
menggunaan lass pass filter untuk menghilangkan derau pada daerah frekuensi tinggi.
Sebagaimana kita tahu pada Op-Amp, antara terminal 2 dan 3 diasumsikan 0v, dan rangkaian
adalah pengikut tegangan, sehingga dengan demikian tegangan yang mengisi kapasitor C
haruslah sebesar Vo.
……………………………………………… (2.4)

= 2nf adalah frekuensi yang terkait dengan sinyal masukan E, dengan satuan radian per

detik dan j adalah simbol imajinir atau (-1) / 2. Bila kita atur kembali persamaan 2.4, maka
akan diperoleh besaran bati rangkaian Op-Amp tertutup ACL. (Muits, 2017)
Filter bandpass diklasifikasikan dalam bagian 2.1 sebagai narTOw-band atau wide-band. Jika
rasio frekuensi cutoff atas dengan frekuensi cutoff lebih rendah lebih dari satu oktaf, filter
dianggap sebagai jenis pita lebar. Spesifikasi ini dipisahkan menjadi persyaratan low-pass
dan high-pass individual dan diperlakukan sebagai riam filter low-pass dan high-pass.
Desain filter pita sempit menjadi agak lebih sulit. Konfigurasi rangkaian harus dipilih
dengan tepat dan transformasi yang sesuai mungkin harus diterapkan untuk menghindari nilai
elemen yang tidak praktis. Selain itu, saat filter menjadi lebih sempit, persyaratan elemen Q
meningkat dan toleransi dan stabilitas komponen menjadi lebih kritis.
Pita pita lebar pita diperoleh dengan mengalirkan filter low-pass dan filter high-pass.
Validitas pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa filter mempertahankan tanggapan
masing-masing meskipun mereka mengalir. Impedansi yang diamati pada terminal input atau
output dari filter low-pass LC atau high-pass mendekati terminasi resistif di ujung lainnya
pada frekuensi yang baik dalam passband. Ini terlihat dari rangkaian ekivalen filter low-pass
di DC dan filter high-pass pada frekuensi tak terbatas. Di DC induktor menjadi sirkuit pendek
dan kapasitor menjadi sirkuit terbuka, dan pada frekuensi tak terbatas kondisi yang
berlawanan terjadi. Jika filter low-pass dan high-pass mengalir dan kedua filter dirancang
untuk memiliki pengakhiran sumber dan beban yang sama dan impedansi yang sama, masing-
masing filter akan diakhiri dengan benar dalam passband mereka jika frekuensi cutoff
dipisahkan oleh setidaknya satu.
Desain langsung dari filter denormalized sangat menguntungkan ketika formula desain
memungkinkan pemilihan kapasitor yang sewenang-wenang dan semua kapasitor jaringan
sama. Nilai kapasitansi standar kemudian dapat dipilih. Menunjukkan bahwa output bandpass
juga disediakan. (Williams, 1998)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan


3.1.1 Komponen
1. Resistor
Fungsi: untuk meneruskan/meloloskan frekuensi
2. Kapasitor
Fungsi: untuk meredam frekuensi
3. IC LM 741
Fungsi: sebagai penguat tegangan pada rangkaian

3.1.2 Peralatan
1. Osiloskop
Fungsi: untuk mengamati frekuensi output
2. Jumper
Fungsi: untuk menghubungkan rangkaian
3. Unit Design Analog
Fungsi: sebagai tempat rangkaian dan memasukkan nilai frekuensi
a. PSA
Fungsi: sebagai sumber bertegangan listrik DC
b. Signal Generator
Fungsi: untuk membangkitkan signal
c. Multimeter
Fungsi: untuk mengetahui tegangan input dan output yang dihasilkan

3.2 Prosedur Percobaan


3.3.1 High Pass Filter
1. Disediakan semua peralatan yang akan digunakan
2. Di test peralatan dan komponen apakah dalam keadaan baik atau tidak
3. Dirangkai komponen seperti pada skema rangkaian
332 3
INPUT

-
3,3K?
G

HPF

4. Dihubungkan Unit Design Analog pada arus PLN


5. Diatur frekuensi input, dimulai dengan 2 KHz
6. Diamati frekuensi output pada osiloskop
7. Dicatat hasil percobaan
8. Diubah frekuensi input menjadi 4 KHz hingga 20 KHz dengan range
pertambahan 2 KHz, 20 KHz hingga 120 KHz dengan range pertambahan
20 KHz
9. Diamati setiap frekuensi yang dihasilkan dan dicatat.

3.3.2 Band Pass Filter


1. Disediakan semua peralatan yang akan digunakan
2. Di test peralatan dan komponen apakah dalam keadaan baik atau tidak
3. Dirangkai komponen seperti pada skema rangkaian
68K? 180K?
INPUT 103 V+

LM 471
-
2.7K? V-
103 OUT

47 K?

BPF

4. Diatur frekuensi input, dimulai dengan 1 KHz


5. Dihubungkan Unit Design Analog pada arus PLN
6. Diamati frekuensi output pada osiloskop
7. Dicatat hasil percobaan
8. Diubah frekuensi input menjadi 2 KHz, 4KHz, 6 KHz, 8 KHz, 10 KHz, 12
KHz, 14 KHz, 20 KHz, 40 KHz, 60 KHz, 80 KHz, 100 KHz, 120 KHz,
dan 140 KHz
9. Diamati setiap frekuensi output yang dihasilkan pada osiloskopdan dicatat
10. Dimatikan osiloskop dan diputuskan hubungan Unit Design Analog pada
arus PLN.

3.4 Skema Rangkaian


3.4.1 High Pass Filter

EXT.R

332 332 V+
INPUT
+

LM 471
-
3,3K? V-
G
OUT

HPF

3.4.2 Band Pass Filter

68K? 180K?
INPUT 103 V+

LM 471
-
2.7K? V-
103 OUT

47 K?

BPF
BAB IV

HASIL DAN ANALISA

4.1 Data Percobaan


Kapasitor : 0.22μF
Vin : 7.85 volt
R1 : 10 kΩ
R2 : 12 kΩ
R3 : 150 kΩ
No Frekuensi (Hz) Vout (Volt) Frekuensi Tengah (Hz)

1 500 0,14 72.37

2 1000 0.06 60.31

3 5000 0,00096 4.82

Medan, 27 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Robin Simatupang) (Mikael Petrus Saragi)


4.2 Analisa Data
1. Nilai Frekuensi Tengah (F)

 Fc1 =

=
= 72,37 Hz

 Fc2 =

=
= 60,31 Hz

 Fc3 =

=
= 4,82 Hz
2. Grafik Frekuensi-Vs-Vout

3. Prinsip Kerja dan Aplikasi dari State Variabel Filter


Prinsip Kerja :
Menggunakan komponen op-amp (operasional amplifier) yang dikombinasikan
dengan beberapa komponen pasif resistor dan kapasitor sehingga dapat memberikan
kinerja filter pada frekuensi tertentu saja. State variable filter digunakan untuk
membentuk integaror dan jaringan umpan balik untuk menciptakan puncak resonansi
untuk meningkatkan atau memotong frekuensi tertentu. Rangkaian ini adalah
menggabungkan Low pass filter, Band pass filter, dengan High pass filter. Sehingga
menggunakan 3 buah IC 741.
Aplikasi :
- Berfungsi sebagai penguat dalam rangkaian alarm kebakaran
- Berfungsi dalam peralatan bell
- Bermanfaat dalam peralatan sound system
- Sebagai penguat pada speaker dan Tap recorder
- Filter aktif seri banyak digunakan untuk memfilter harmonisa dan
memkompensasi distorsi tegangan seperti tegangan kedip, fliker tegangan dan
tegangan tidak seimbang pada level sistem tegangan tinggi dan tegangan rendah.
4. Hubungan antara frekuensi dengan tegangan adalah berbanding lurus. Semakin tinggi
nilai frekuensi yang diberikan maka semakin tinggi pula tegangan listrik yang
dihasilkan. Hal ini pada umumnya terdapat pada generator listrik. Semakin cepat
kumparan berputar, maka semakin tinggi GGL induksi (tegangan) yang dihasilkan.
4.3 Gambar Proteus
(Terlampir)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Rangkaian State Variabel Filter

2. Rangkaian Band Pass Filter

68K? 180K?
INPUT 103 V+

LM 471

-
2.7K? V-
103 OUT

47 K?

BPF
3. Rangkaian Bandstop

4. Aplikasi Rangkaian State Variabel Filter


- Berfungsi sebagai penguat dalam rangkaian alarm kebakaran
- Berfungsi dalam peralatan bell
- Bermanfaat dalam peralatan sound system
- Sebagai penguat pada speaker dan Tap recorder
- Filter aktif seri banyak digunakan untuk memfilter harmonisa dan
memkompensasi distorsi tegangan seperti tegangan kedip, fliker tegangan dan
tegangan tidak seimbang pada level system tegangan tinggi dan tegangan rendah.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya telah mempelajari teori mengenai state variable
filter sebelum praktikum
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya dapat menggunakan multimeter dengan teliti
3. Sebaiknya praktikan selanjutnya dapat saling bekerja sama dalam
melakukan praktikum
DAFTAR PUSTAKA

Chattopadhayy, D. 1989. Dasar Elektronika. Jakarta: Universitas Indonesia.


Halaman: 56-58
Malvino, Albert. 1994. Aproksimasi Rangkaian Semikonduktor. Jakarta: Erlangga.
Halaman: 458-460
Muits, S. 2017. Penguat Operasional (Op-Amp) Teori Lanjutan Dan Pemakaian.
Yogyakarta : Teknosain
Halaman : 25-37.
Rakshit, P. 2000. Fundamentals Of Electric Circuit Theory. New Delhi: S. Chand &
Company LTD.
Pages:319-320
Williams, A. B. 1998. Electronic Filter Design Handbook. Second Edition.
New York : McGraw Hill Publishing Company.
Pages : 330-340

Medan, 27 Maret 2020


Asisten Praktikan

(Robin Simatupang) (Mikael Petrus Saragi)


LAMPIRAN

Band Pass Filter

High Pass Filter

Anda mungkin juga menyukai