"When you saw me or they. Just keep it in your mind that we are your superheroes."
🌱🌱🌱
"Rasakan itu.."
Aku tersungkur jatuh dengan pandangan tak percaya. Lumuran tepung bercampur telur dan air kotor
membuat diriku benar-benar tampak menyedihkan sekarang.
"Dengarkan ini, Kang Y/N. Aku benar-benar tak suka dengan siswa seperti dirimu ada di sekolah ini.
Kamu mengotori halaman sekolah kami."
Rahangku dicengkram oleh salah satu dari mereka membuatku mendongak. Tatapan mencela dan
meremehkan terpampang jelas dari ketiga orang yang membully-ku.
Ya. Menyedihkan bukan. Alih-alih melawan, aku malah menerima semua perlakuan mereka. Bukannya
aku tak bisa, tapi aku cukup tahu diri untuk tak melawan mereka yang berkuasa.
"Shin Rachel, apa salahku denganmu? Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?" Lirihku
mengepalkan tangan menunduk tanpa mau menatap yeoja yang memasang senyuman miring di sana.
"Salahmu banyak, Y/N. Dengan menginjakkan kakimu di sekolah ini juga merupakan kesalahan
terbesarmu."
Aku meringis merasakan jambakan di rambutku membuatku menitikkan air mata.
"Ra-Rachel.."
"Oh oh lihat betapa menyedihkannya dirimu sekarang, Kang Y/N. Siswa kebanggaan sekolah hanyalah
seorang sampah!"
Plak
Aku terjatuh kembali dengan rasa sakit berdenyut di pipi membuatku mendongak menatap ketiga yeoja
cantik berhati keji itu.
"Ayo girls, kita pergi. Aku sudah selesai mengurus sampah ini."
Setelah mengatakan hal itu mereka bertiga pergi dengan santai tanpa memikirkan aku yang menangis
meratapi semua perlakuan mereka.
"Aku benci ini. Aku benci diriku yang lemah ini."
Tanganku meremat kasar rokku membuat bentukan lipatan abstrak tercetak. Aku berdiri dengan sekuat
tenaga lalu berjalan tanpa mengindahkan semua pasang mata yang menatapku kasihan.
Tak ada gunanya mereka mengasihaniku kalau tak ada satupun orang yang mau menolongku. Aku hidup
sendiri di sekolah ini tak ada yang mau berteman dengan siswa kasta rendah sepertiku yang hanya bisa
mengandalkan beasiswa.
"Benar kata mereka. Aku hanyalah sampah."
🌱
"Astaga, Y/N. Apa yang terjadi denganmu?"
"Eomma.."
Aku menghambur ke pelukannya menyamankan diri di dalam dekapan penuh hangat itu.
"Apa yang terjadi, sayang? Kenapa anak eomma seperti ini. Ceritakan semuanya pada eomma."
Aku terkekeh melihat ekspresi khawatir eomma membuatku terhibur sendiri.
"Gwenchana, eomma. Aku--"
"Mereka membully mu lagi?"
Aku terdiam mendengar pertanyaan eomma yang memotong perkataanku. Tubuhku membeku karena
aku tak pernah menceritakan apapun padanya.
Aku selalu menyimpannya sendiri karena aku tak mau eomma merasa terbebani.
"Semua yang eomma katakan benar, bukan?" Aku menunduk enggan menjawabnya. Tanganku gelisah
tak bisa menyembunyikannya lagi. "Eomma--"
"Keluarlah. Keluarlah dari sekolah itu, Y/N-ah. Eomma tak ingin terjadi hal yang buruk pada anak eomma
satu-satunya."
Tubuhku menegang. Tak satupun pikiranku menyetujui perkataan eomma. Aku menggeleng keras.
"Eomma, jika aku keluar lalu aku akan sekolah dimana? Aku tak mau, eomma. Lagipula keuangan kita tak
cukup untuk membiayai sekolahku. Aku tak setuju, eomma."
Eomma menatapku sendu lalu menangis membuatku merasa bersalah. "Ini semua salah, eomma.
Seharusnya eomma membahagiakanmu, bukan malah membuatmu menderita, Y/N-ah."
Aku memeluk tubuh ringkih itu mengusap penuh kasih sayang pada punggung yang bergetar milik
eomma membuatku ikut menangis dalam diam.
"Bukan salah eomma. Tenanglah. Aku sudah terbiasa menghadapinya jadi eomma tak perlu khawatir.
Hanya tinggal satu tahun lagi," Bisikku membuat eomma memelukku erat mengatakan kata maaf
berulang-ulang kali.
"Aku menyayangi eomma. Jangan menangis. Aku akan merasa bersalah telah membuat eomma
menangis."
Setelah kejadian tangis-menangis antara aku dan eomma membuat kami merasa lebih baik sekarang.
Aku juga sudah membersihkan diri lalu duduk menatap sajian sederhana yang eomma buat.
"Waah, sup rumput laut? Kenapa eomma membuatnya?"
Eomma tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku. "Song ahjumma memberikan ini untuk eomma olah.
Jadi setelah ini, kamu bisa kan mengantarkannya pada Song ahjumma, Y/N-ah?"
Aku mengangguk patuh. Kusuapkan sesendok nasi dan jangan lupa sup rumput laut buatan eomma.
Membuatku merasa lebih baik daripada tadi.
"Masakan eomma memang paling enak. Tak heran Song ahjumma sering meminta eomma membuatkan
makanan untuknya." Ujarku menunjukkan cengiran lebar.
Eomma tertawa mendengar perkataanku. "Ne. Eomma memang pintar memasak, jadi kamu juga harus
bisa mewarisi keahlian eomma dalam memasak, Y/N."
Aku mengerucutkan bibir mendengar penuturan eomma. "Eomma.. Eomma kan tahu aku paling benci
masuk ke dapur. Apalagi memasak, membayangkannya saja aku sudah merinding sendiri." Ucapku
bergidik ngeri membayangkan rasa masakannya yang pasti jauh dari masakan eomma.
"Makanya belajar, sayang. Kamu tidak akan tahu hasilnya tanpa mencobanya."
Setelah selesai makan yang dibumbui petuah-petuah eomma, membuatku sekarang ini sudah berjalan
menelusuri blok perumahan besar yang tak jauh dari rumahku.
Sebuah kotak makan di genggamanku membuat kalian pasti tahu apa yang sedang aku lakukan
sekarang. Yap. Mengantarkan makanan pada Song ahjumma yang rumahnya berjarak beberapa meter
dari rumahku.
Hushh
Seketika angin besar berkelebat menyapu jalanan membuatku mengerjapkan mata merasakan angin
yang membuatku kesulitan berjalan.
"Oh ada apa ini? Kurasa ini masih musim panas, kenapa anginnya besar sekali?" Aku menggerutu
melindungi wajahku dengan satu tangan.
"Kang Y/N."
Langkahku berhenti begitu mendengar seseorang memanggil namaku membuatku menoleh ke
belakang.
Aku memiringkan wajah begitu melihat seorang pria paruh baya menatapku dengan pandangan
teduhnya. Siapa dia?
"Eoh--"
"Kang Y/N, pejamkan matamu. Aku akan membawamu keluar dari rasa sakit yang membelenggumu."
Aku mengerutkan dahi begitu mendengar perkataan orang di hadapanku ini. Menggaruk kepalaku yang
tak terasa gatal.
"Ahjussi, kamu ini siapa?"
Aku mengerjapkan mata begitu merasa kelopak mataku yang terasa berat. "Uh, kenapa tiba-tiba aku
mengantuk sekali."
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba berdenyut sakit hingga pandanganku memburam semakin
menggelap membuatku jatuh terjerembat hingga tak ingat apa-apa setelahnya.
"Y/N.."
"Bangun, sayang.."
Aku mengerjapkan mata membuka kelopak mataku yang berat. "Eomma?"
"Bangun, kamu harus sekolah, Y/N."
Aku mengedarkan pandangan melihat sisi kamarku. Aku mengerutkan dahi, pikiranku berkelana
memikirkan kejadian yang baru saja aku alami. Lalu kenapa aku bisa ada di kamar sekarang?
"Eomma, bukankah aku mengantarkan makanan ke rumah Song ahjumma."
Eomma mengernyit menatapku bingung. "Apa yang kamu bicarakan, sayang? Cepat bersiap-siap.
Eomma tak ingin kamu terlambat."
Setelah mengatakan hal itu eomma keluar dari kamarku membuat beberapa pertanyaan berseliweran di
kepalaku.
"Apa aku bermimpi? Lalu siapa ahjussi itu?"
Aku menggeleng keras tak mau memikirkan hal ini lebih lanjut lagi. Kepalaku pusing memikirkan ini
nyata atau tidak. Dengan segera aku beranjak bersiap-siap ke sekolah.
"Pagi, eomma." Aku mendudukkan diri di depan meja makan sembari menatap punggung eomma yang
sedang menyiapkan makanan. Setelah mandi dan siap dengan balutan seragam di tubuhku.
"Telat, Y/N. Seharusnya kamu mengatakan itu setelah eomma membangunkanmu tadi."
Aku menyengir memamerkan gigiku mendengar perkataan eomma. Setelah beberapa menit menyantap
sarapan, aku pamit berangkat sekolah dengan menggunakan kendaraan sehari-hariku. Bus.
Dengan berbekal kendaraan umum itu aku sampai di sekolahku dengan tepat waktu. Aku mengeratkan
genggaman di tas begitu memasuki area sekolah.
Tak ada yang berubah. Mereka masih sama. Memandangku dengan pandangan kasihan dan
meremehkan.
"Yha! Masih berani menginjakkan kaki disini?!"
Aku meremat rokku begitu rombongan Rachel mencegatku membuatku tak bisa lolos pagi ini.
Mataku jatuh melihat bawaan mereka membuatku menelan ludah. Oh tidak. Aku tak mau telur-telur itu
hinggap di bajuku lagi.
"Kamu bisu, Kang Y/N?!" Aku mendongak begitu suara bentakan terdengar di telingaku.
"Mi-mian, Rachel. Kumohon biarkan aku pergi kali ini." Aku merutuki perkataanku setelahnya. Bisa-
bisanya aku memohon pada sekumpulan iblis yang menjelma menjadi manusia di hadapanku.
"Apa yang kamu bicarakan," Ia menyeringai kepadaku sebelum menjentikkan tangan membuat sebuah
aba-aba kepada sekumpulan yeoja di belakangnya.
"Sudah kubilang bukan, kamu mengotori sekolah ini. Dan aku tak suka!" Serunya mengindahkan
perkataanku.
Aku membulatkan mata begitu mereka bersiap melemparkan telur-telur itu padaku. Aku memejam
mencoba untuk tak menghirup bau amis lagi dari badanku.
Prak
Tunggu dulu.
Kenapa tak terasa sakit?
Aku membuka mataku begitu melihat tubuh besar di hadapanku yang membuatku mengernyit bingung
lalu pandanganku mendongak melihat senyuman indah membuatku tak dapat berpaling darinya.
"Gwenchana?"
Suara alunan lembut itu membuatku melayang dan jangan lupakan tatapan teduh dan senyuman lembut
yang menyejukkan.
"Yha!"
"Berhenti disitu, Shin Rachel."
"Dasar para perempuan tak tahu diri. Pergilah dari sini, sebelum aku turun tangan mengusir kalian
dengan cara kasar."
Aku mengernyit begitu mendengar beberapa suara dengan nada ancaman membuat yeoja disana
angkat kaki dengan berdecih melirikku tajam.
Tapi tunggu dulu--
Sebenarnya apa yang terjadi?
Aku menatap dua orang namja yang menghampiriku dan satu namja lagi yang tetap setia di sebelahku
dengan membersihkan diri dari telur-telur di belakang punggungnya.
Tunggu? Telur?! Aku membulatkan mata melihat namja bersurai coklat itu dengan pandangan bersalah.
"Mianhae.."
Namja bersurai coklat itu menggeleng sembari tersenyum penuh lembut membuatku terbuai.
"Jaemin, gwenchana?"
"Gwenchana, hyung."
"Lagipula kenapa kamu tidak menghindar?" Aku mengerjapkan mata begitu melihat namja bersurai
blonde kecoklatan ini membentakku.
"A-apa?"
"Sudahlah, Haechan. Jangan membentaknya."
"Aku kesal dengannya, Mark hyung. Dia benar-benar bodoh sampai tak bisa menghindar satu inchi pun."
Ujar namja bernama Haechan menatapku tajam dengan mata bulatnya.
Aku menjatuhkan rahang mendengar perkataannya. Hei, itu memang benar sih. Tapi aku tak terima ia
mengatai aku bodoh. Kalau aku bodoh, mana mungkin aku di terima di sekolah mewah ini dengan jalur
beasiswa?!
"Aku tidak bodoh!" Ujarku menghentakkan kaki menatapnya kesal.
"Lalu apa kalau kamu tak bodoh, Kang Y/N?! Kamu tuli, buta sampai tak bisa melihat banyak telur-telur
busuk itu terjun bebas kearahmu."
Aku menggeram kesal. Hei bukan salahku jika aku tak bisa melawan. Hanya saja aku ingin mencari aman
di sekolahku hingga satu tahun ke depan nanti.
"Sudahlah. Y/N, maafkan Haechan, ne. Ia memang suka seperti itu," Ujar namja bersurai hitam dengan
pandangan menenangkan itu.
"Mark hyung!"
"Diamlah."
Aku memandang ketiganya dengan perasaan campur aduk sebelum pikiranku jernih menatap ketiganya.
"Oh ya, kalian siapa?"
Walaupun aku tak punya teman tapi aku tahu aku tak pernah melihat wajah ketiga namja asing ini
berkeliaran di sekolahku.
Namja bersurai hitam bernama Mark itu tersenyum. Ia mengusap belakang kepalanya mengurangi rasa
gugup.
"Aku Mark. Yang menolongmu itu tadi Jaemin. Dan yang berdebat denganmu itu Haechan."
Aku mengernyit. Telingaku tak tuli hingga bisa mendengar nama mereka tadi sebelum perkenalan resmi
ini. Namun yang kubingungkan siapa mereka? Kenapa--
"When you saw me or they. Just keep it in your mind that we are your superheroes."
Aku memiringkan kepala mendengar perkataan namja bersurai hitam itu yang kuyakini namanya Mark.
"Your superheroes?"
Aku tidak bodoh untuk tak bisa mengartikan perkataannya tapi kenapa? Siapa? Kenapa tiba-tiba mereka
datang?
"Hei.."
Aku mendongak menatap namja bersurai coklat itu lalu kemudian pandanganku beralih mengedar
kepada mereka semua. "Kenapa? Sebenarnya siapa kalian?"
"Apa ini mimpi?"
Aku menggeleng kepala mencubit lenganku hingga merasakan sakit. Kembali pandanganku melebar
kearah mereka.
"Who are you? Tell me. Ini semua seperti mimpi? Kalian jatuh dari atas untuk menolongku, begitu?"
Tanyaku membulatkan mata menatap mereka.
"Kang Y/N, kami hanya ditugaskan untuk menolongmu. Aku dan yang lainnya akan membawamu keluar
dari rasa sakit yang membelenggumu."
Aku mengerjapkan mata mendengar perkataan namja bersurai coklat yang bernama Jaemin itu. Kenapa
rasanya aku tak asing mendengar perkataan itu?
Tapi-- Apa semua ini? Aku masih tidak paham. Seseorang tolong jelaskan ini semua padaku.
"Setidaknya sampai kamu bisa menompang tubuhmu sendiri." Ujar Haechan menatapku datar.
Apa?
Aku mengerjapkan mata mendengar semua perkataan dari mereka bertiga. "Kalian--"
"Aah.."