0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Penerapan TTW Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

(1) Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X di SMK Negeri 2 Singosari dengan menerapkan model pembelajaran Think Talk Write (TTW). (2) Saat ini pembelajaran matematika kurang bervariasi dan siswa kesulitan memahami materi secara mandiri. (3) Peneliti menggunakan metode tindakan kelas melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi untuk m

Diunggah oleh

Suzuhara Inami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Penerapan TTW Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

(1) Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X di SMK Negeri 2 Singosari dengan menerapkan model pembelajaran Think Talk Write (TTW). (2) Saat ini pembelajaran matematika kurang bervariasi dan siswa kesulitan memahami materi secara mandiri. (3) Peneliti menggunakan metode tindakan kelas melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi untuk m

Diunggah oleh

Suzuhara Inami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN: Seminar Nasional FST 2019

Volume 8, Tahun 2019 Universitas Kanjuruhan Malang

PENERAPAN PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE (TTW)


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS X EI 2 SMK NEGERI 2 SINGOSARI

Maksimianus Hendra J1 Sumadji2, Riski Nur Istiqomah D3


Universitas Kanjuruhan Malang, Pendidikan Matematika1
jayamaksimianus97@[Link]

Abstrak. Berdasarkan observasi siswa dan wawancara yang dilakukan peneliti di


SMK Negeri 2 Singosari terhadap guru mata pelajaran matematika, diperoleh
informasi bahwa pembelajaran matematika kurang berfariasi, susah memahami
materi, siswa sulit sekali mengkonstruksi sendiri konsep-konsep matematika.
Melihat fenomena tersebut, maka model pembelajaran Think Talk Write perlu
diterapkan untuk melibatkan peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran, guna
meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini mengunakan metode pembelajaran
TTW (Think Talk Write). Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah lembar
observasi aktivitas guru dan siswa, catatan lapangan dan soal tes. Hasil penelitian ini
menunjukan persentase hasil belajar siswa meninggkat yaitu siklus I sebesar 58,82%
yang mengalami tuntas belajar, kemudian pada siklus II meningkat menjadi 88,23%
yang mengalami tuntas belajar Berdasarkan lembar observasi guru 84,21% dan
meningkat menjadi 98,68%, sedangkan persentase berdasarkan lembar observasi
siswa 86,76% dan meningkat menjadi 98,52%. Dengan demikian hasil penelitian
disimpulkan bahwa penerpan pembelajaran Think Talk Write dapat meningkatkan
hasil belajar matematika siswa pada materi SPLDV kelas X EI 2 SMK Negeri 2
Singosari.

Kata Kunci: Pembelajaran TTW, dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memiliki peranan penting dalam
menunjang pembangunan bangsa dan negara khususnya dalam bidang pendidikan. Matematika
bisa dikatakan sebagai salah satu dasar yang harus dikuasai oleh setiap individu, karena setiap
manusia tidak akan terlepas dengan permasalahan yang berkenaan dengan ilmu matematika.
Oleh karena itu, bidang studi matematika perlu diberikan kepada semua siswa untuk menumbuh
kembangkan pemahaman konsep matematika dan komunikasi matematis yang dibutuhkan
dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Bercermin terhadap masalah ini banyak hal atau masalah yang kita jumpai dalam proses
pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan informal. Terkait dengan pendidikan
formal salah satu permasalahan yang sering kita jumpai adalah pembelajaran di sekolah yang
masih banyak berpusat pada guru (teacher centered). Pembelajaran cendrung abstrak dan
kurang terkait dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan dalam dunia pendidikan yang
harus segera dilaksanakan.
Oleh karena itu upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari
peningkatan kemampuan dan keterampilan seorang guru yaitu bagaimana merancang dan
melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai, oleh karena itu
pemilihan metode, strategi dan pendekatan dalam mendesain model pembelajaran adalah
tuntutan yang mesti dipenuhi oleh guru
Bagian ini menyajikan paling sedikit tiga gagasan: (1) latar belakang atau rasional
penelitian, (3) masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah, dan rumusan tujuan
penelitian (dan harapan tentang manfaat hasil penelitian). Untuk penelitian kualitatif, bagian ini
Maksimianus Hendra J 1
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

perlu menyajikan penjelasan fokus penelitian dan uraian konsep yang berkaitan dengan fokus
penelitian.
Berdasarkan hasil pengamatan di kelas X EI 2 SMK Negeri 2 Singosari dalam
pelaksanaan pembelajaran Matematika, masih terdapat beberapa permasalahan yaitu:
Pada saat pembelajaran matematika siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi
sehingga menyebabkan siswa cepat bosan dikarenakan guru dalam memberikan materi
pelajaran didominasi dengan ceramah dan tanya-jawab, Pada saat guru melakukan pembelajaran
dengan metode diskusi kelompok, siswa takut dan tidak berani bertanya sehingga menyebabkan
siswa tidak mengerti materi yang telah disampaikan dan kurang kerjasama antara kelompok
sehingga pada saat presentasi kelompok hanya didominasi siswa yang pandai saja, Model
pembelajaran yang digunakan masih kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran
sehingga siswa cenderung hanya menerima apa yang diberikan oleh guru, dan jarang secara
mandiri berupaya memperoleh pengetahuan tersebut, sebagai dampaknya interaksi antara siswa
dengan siswa dan siswa dengan guru dalam menguasai kompetensi yang dipelajari belum
optimal.
Hal ini akan berdampak pada nilai mata pelajaran Matemtika di kelas X EI 2 SMK
Negeri 2 Singosari dalam kategori masih rendah sehingga diusahakan agar hasil belajarnya
dapat ditingkatkan. Hal ini terlihat dari 34 siswa rata-rata nilai ulangan hariannya hanya 6
siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan maksimal (KKM) atau sebesar 17,64% sedangkan 28
siswa yang lainnya mendapatkan nilai dibawah kriteria ketuntasan maksimal (KKM) atau
sebesar 82,35%. Sementara kriteria yang ditetapkan disekolah SMK Negeri 2 Singosari adalah
75. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika
pada materi SPLDV masih perlu diperbaiki.
Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin
(Yamin dan Ansari, 2008) yang dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Arus
pergerakan model Think Talk Write (TTW) dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau
berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi
ide dengan temannya kemudian menulis hasil diskusi. Model ini lebih efektif jika dilakukan
dalam kelompok heterogen dengan 4-5 siswa. Dalam kelompok ini semua siswa diminta
membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar dan membagi ide bersama teman
kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Masing-masing kelompok memiliki kemampuan yang berbeda-beda manfaatnya untuk
bisa saling berkerja sama dan menghargai pendapat orang lain. Antara siswa yang satu dengan
siswa lainnya saling berdiskusi (Talk) dan berbagi ide untuk membahas catatan yang telah di
buat pada tahap berpikir guna bisa mengidentifikasi atau memecahkan masalah yang ada. Siswa
mengkonstribusi yaitu siwa mampu membangun pengetahuan sendiri yang dimuat kedalam
tulisan argumentasi (Write) siswa di minta untuk menulis hasil diskusi kedalam bentuk catatan
kecil tujuan ini untuk membuat siswa lebih mudah mengingat materi pelajaran. Dapat
disimpulkan bahwa langkah-langkah pada penerapan pembelajaran model Think Talk Write
(TTW) dapat meningkatkan hasil belajar.
Berdasarkan konteks permasalahan diatas, maka penulis mengambil judul penelitian,
Penerapan Pembelajaran Think Talk Write (TTW) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas X EI 2 SMK Negeri 2 Singosari.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian
tindakan kelas PTK adalah peroses pengumpulan untuk menemukan dan memecakan
permasalahan dalam kelas. Tahap penelitian tindakan kelas ini, mengikuti model tindakan
sepiral yang di kemukakan Kemmis dan Taggart (Aqip, 2006:36). Penelitian ini terdiri dari
tahap-tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi :

Maksimianus Hendra J
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

1. Perencanaan disusun untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran yang berisi tujuan
yang harus dicapai, serta lebih ditonjolkan perlakuan guru dalam pembelajaran. Perencanaan
disusun mengacu pada hasil evaluasi pembelajaran sebelumnya dengan tujuan untuk
memperbaikinya.
2. Pelaksanaan adalah perlakuan yang dilaksanakan guru berdasarkan perencanaan yang telah
disusun dan mengacu pada fokus masalah. Tindakan dilaksanakan dalam program pembelajaran
apa adanya, dengan demikian tindakan itu tidak direkayasa untuk kepentingan penelitian,
namun dilaksanakan sesuai dengan program pembelajaran yang disusun.
3. Observasi bertujuan untuk mengumpulkan informasi kelemahan dan kekuatan pembelajaran,
sehingga dapat dijadikan masukan saat refleksi untuk menyusun rencana ulang siklus
berikutnya.
4. Refleksi adalah aktivitas melihat berbagai kekurangan dari hasil observasi pembelajaran,
sehingga guru dapat mencatat berbagai kekurangan yang perlu diperbaiki, yang dapat
dijadikan dasar dalam penyusunan rencana ulang.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMKN 2 Singosari. Lokasi penelitian
tersebut dipilih karena dari hasil pengamatan awal yang peneliti lakukan terhadap kegiatan
pembelajaran matematika di sana menunjukkan bahwa kegiatan belajar-mengajarnya berjalan
kurang aktif bagi siswa, khususnya siswa kelas X EI 2. Hal ini karena guru terlalu mendominasi
kegiatan pembelajaran, sedangkan siswa kurang berperan aktif.
Penggunaan tes diakhir siklus sangat penting untuk mengetahui, seberapa besar
peningkatan hasil belajar siswa, yang ditunjukan dengan skor yang diperoleh. Observasi
dimaksudkan untuk mengetahui, mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi selama peroses
pembelajaran. Lembar observasi digunakan merekam semua keaktifan sisiwa selama penerapan
model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dan lembar observasi dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam penyempurnaan pada tingkat selanjutnya, sehingga sangat perlu
untuk dilakukan. Pencatatan lapangan digunakan peneliti untuk mendokumentasikan segala
peristiwa selama peroses pembelajaran berlangsung.

Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW)


Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) pertama kali diperkenalkan oleh
Huinker dan Laughlin (1996) model pembelajaran ini pada dasarnya mendorong siswa untuk
berpikir, berbicara, dan kemudian menuliskan hasil yang didapat selama pembelajaran. Alur
model Think Talk Write (TTW) dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog
dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide dengan
temannya kemudian menulis hasil diskusi.
Menurut Kusumaningtyas (2014:20), Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW)
merupakan salah satu dari model pembelajaran kooperatif yang membangun secara tepat untuk
berpikir dan refleksikan serta untuk mengkordinasikan ide-ide serta mengetes ide tersebut
sebelum peserta didik diminta untuk menulis.
Yamin dan Ansari (2012:84) menyatakan bahwa.
Secara garis besar model pembelajaran Think Talk Write (TTW) diterapkan untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa yang dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau
berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca masalah (think), selanjutnya berbicara
dan membagi ide dengan temannya (talk) untuk menyelesaikan masalah tersebut sebelum
menulis (write). Dalam tahap talk disebutkan bahwa siswa berbicara dan membagi ide dengan
temannya.
Langkah-langkah pembelajaran yang diperkenalkan Huinker dan Laughlin dalam
Yamin dan Ansari, (2012:90) adalah.
a. Guru membagi teks bacaan berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) yang di dalamnya memuat
masalah atau soal Matematika terkait materi yang sedang dipelajari untuk dikerjakan oleh siswa
dan didalamnya disertai petunjuk serta prosedur pelaksanaannya.
b. Siswa membaca teks bacaan berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan kemudian
membuat catatan kecil secara individu (think) untuk selanjutnya dibawa ke forum diskusi.
Maksimianus Hendra J 3
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

c. Siswa menyampaikan apa yang telah didapatkan pada tahap (think) kemudian berdiskusi
dengan teman sekelompoknya membahas catatan yang telah dibuat masing-masing anggota
(talk).
d. Dari hasil diskusi, siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka ke dalam lembar
jawaban masing-masing (write) sebagai hasil diskusi kolaborasi.
e. Dipilih satu atau beberapa siswa sebagai perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil
diskusinya sedangkan kelompok yang lain memberi tanggapan. Pembelajaran diakhiri dengan
membuat refleksi dan kesimpulan dari materi yang telah dipelajarinya.
Berdasarkan uraian di atas diperoleh karakteristik dari model pembelajaran Think Talk
Write (TTW) adalah:
1) siswa berpartisipasi langsung dalam pembelajaran.
2) setiap siswa secara aktif melakukan eksplorasi suatu konsep.
3) memadukan pengetahuan awal yang dimiliki siswa dengan informasi yang diterima.
4) model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dibangun oleh kemampuan berpikir, berbicara,
dan menulis.
Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) memiliki kelebihan dan kelemahan.
a. Kelebihan
Menurut Yamin dan Ansari (2012: 88) kelebihan dari model pembelajaran Think Talk
Write (TTW) adalah:
1) Memberi kesempatan siswa berinteraksi dan berkolaborasi membicarakan tentang
penyelidikannya atau catatan-catatan kecil mereka dengan anggota kelompoknya.
2) Siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga termotivasi untuk belajar.
3) Model ini berpusat pada siswa, misalkan memberi kesempatan pada siswa dan guru berperan
sebagai mediator lingkungan belajar. Guru menjadi monitoring dan menilai partisipasi siswa
terutama dalam diskusi.
b. Kelemahan
Selain kelebihan di atas, model pembelajaran Think Talk Write (TTW) menurut
Suyatno (2009: 52) memiliki kekurangan diantaranya sebagai berikut:
1) Model Think Talk Write (TTW) adalah model pembelajaran baru di sekolah sehingga siswa
belum terbiasa belajar dengan langkah-langkah pada model Think Talk Write (TTW) oleh
karena itu cenderung kaku dan pasif.
2) Kesulitan dalam mengembangkan lingkungan sosial siswa.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model Think Talk Write
(TTW) dapat membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dapat
mengkomunikasikan pemikirannya dengan temannya, dapat melatih siswa untuk menuliskan
hasil diskusinya kebentuk tulisan secara sistematis dengan demikian siswa dapat saling
membantu dan saling bertukar pikiran sehingga pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik.

Nilai Hasil Belajar


Untuk mengetahui nilai hasil belajar secara keseluruhan didalam kelas,
maka bisa dihitung rata-rata jumlah skor yang diperoleh siswa pada tes akhir siklus dengan skor
total. Selanjutnya skor akan diubah dengan cara sebagai berikut :

KB= Jumlah siswa yang memperoleh skor ≥ 75 × 100


Jumlah seluruh siswa

Keterangan:
KB: Ketuntasan hasil belajar siswa.
Setiap tindakan berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat nilai diatas 75 melebihi 75%.
KKM yang ditentukan dalam penelitian ini adalah 75, sesuai dengan KKM yang diterapkan
di sekolah tempat dilakukan penelitian.
.
Maksimianus Hendra J
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Belajar Siswa Siklus I
Data keseluruhan hasil belajar siswa kelas X EI 2 pada siklus I dapat dilihat pada Tabel
1 berikut.
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siklus I

No Keterangan F (%) Huruf


1 80 – 100 8 23,52 A
2 60 – 79 21 61,76 B
3 40 – 59 5 14,70 C
4 0 –39 0 0 D
Jumlah 34 100
Berdasarkan tabel 1 nilai belajar siklus I pada lam.4 dapat diketahui rata-rata adalah
69,38. Dimana terdapat 8 siswa mendapatkan skor 80-100 dengan kriteria sangat baik (A), 21
siswa mendapatkan skor 60-79 dengan kriteria baik (B), 5 siswa mendapatkan skor 40-59
dengan kriteria cukup (C), dan sisanya yaitu 0 siswa mendapar skor 0-39 dengan kriteria kurang
(D). Untuk mengetahui presentasi ketuntasan belajar siswa disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Siklus I

Ketuntasan Belajar å siswa å seluruh siswa (%)


Tuntas Belajar 20 34 58,82
BelumTuntas Belajar 14 34 41,17
Berdasarkan tabel 2 diatas diketahui bahwa terdapat 20 siswa atau 58,82% yang telah
mencapai ketuntasan belajar dan 14 siswa atau sekitar 41,17% yang belum mencapai ketuntasan
belajar. Pada siklus ini hasil belajar siswa mengalami kenaikan dari pada hasil belajar pada pra
tindakan. Sedangkan ketuntasan belajar juga mengalami kenaikan yang semula hanya 6 siswa
atau 17,64% menjadi 20 siswa atau sebesar 58,82%. Berdasarkan hasil tes akhir tindakan yang
telah dianalisis oleh peneliti, diperoleh hasil belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran TTW (think talk write). Nilai rata-rata siswa keseluruhan pada siklus I yaitu
sebesar 69,00% dimana siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM pada siklus I sebanyak 20
siswa atau 58,82% . Hasil tersebut menunjukkan siklus I belum berhasil karena persentase
keberhasilan masih dibawah KKM yaitu 75%. Akan tetapi hasil belajar pada siklus I meningkat
jika dibandingkan dengan hasil belajar pratindakan yaitu 17,64%. Sibuea (2017:51)
penggunaan model TTW dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil observasi yang dilakukan guru bidang studi selaku pengamat I terhadap aktivitas
peneliti dalam kegiatan pembelajaran menunjukan telah mencapai kriteria keberhasilan 84,21%
atau berada pada kategori baik. Hasil observasi yang dilakukan teman sejawat selaku pengamat
II dalam mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran telah mencapai kriteria
keberhasilan 86,76% atau berada pada kategori baik. Dari pelaksanaan pembelajaran pada
siklus I, peneliti, guru dan teman sejawat kelas X EI 2 SMK Negeri 2 Singosari menemukan
beberapa hal yang harus diperbaiki diantaranya:
1. Siswa tidak tekun dalam mencari solusi atas permasalahan yang diberikan guru
2. Siswa cepat bosan pada saat mengikuti kegiatan belajar di kelas.
3. Berdasarkan hasil belajar pada siklus pertama masih perlu ditingkatkan, sebab masih jauh di
bawah kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75.

Hasil Balajar Siklus II


Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran siklus I, peneliti bersama guru kelas X EI 2
SMK Negeri 2 Singosari akan mengadakan perbaikan melalui siklus II. Pembelajaran yang
diadakan setiap pertemuan dilakukan kegiatan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Data keseluruhan hasil belajar siswa kelas X EI 2 pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3
berikut.

Maksimianus Hendra J 5
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siklus II

No Keterangan F (%) Huruf


1 80 – 100 24 70,58 A
2 60 – 79 10 29,41 B
3 40 – 59 0 0 C
4 0 – 39 0 0 D
Jumlah 34 100
Tabel 3 nilai belajar siklus II pada dapat diketahui rata-rata adalah 79,08. Dimana
terdapat 24 siswa mendapatkan skor 80-100 dengan kriteria sangat baik(A), 10 siswa
mendapatkan skor 60-79 dengan kriteria baik(B), 0 siswa mendapatkan skor 41-60 dengan
kriteria cukup (C), sedangkan sisanya mendapatkan skor 0-20 dengan kriteria (E). Untuk
mengetahui presentasi ketuntasan belajar siswa disajikan dalam tabel 4.

Tabel 4 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Siklus II

Ketuntasan Belajar åsiswa åseluruh siswa (%)


Tuntas Belajar 30 34 88,23
BelumTuntas Belajar 4 34 11,76
Berdasarkan tabel 4 bahwa terdapat 30 siswa atau 88,23% yang telah mencapai
ketuntasan belajar dan 4 siswa atau sekitar 11,76% yang belum mencapai ketuntasan belajar.
Pada siklus II hasil belajar siswa mengalami kenaikan dari pada hasil belajar siklus I.
Ketuntasan belajar siswa mengalami kenaikan yang semula hanya 20 siswa atau 58,82%
menjadi 30 siswa atau sebesar 88,23%. Hal Ini Disebabkan sebagian besar siswa telah berhasil,
serta siswa berani aktif dalam pembelajaran.
Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) merupakan salah satu strategi
pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar. Hal ini dikarenakan model pembelajaran Think
Talk Write (TTW) dilakukan berdasarkan tahap-tahap pembelajaran yaitu: tahap berpikir, tahap
berbicara, dan tahap menulis. Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW)
merupakan strategi yang memungkinkan siswa belajar agar dapat mengaitkan dan
mengembangkan pengetahuan yang dimiliki terhadap apa yang di temukannya dalam
kehidupan sehari-hari, serta dapat memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir, merespon
dan saling membatu antara satu sama lain.

Kendala-Kendala Yang Dihadapi Peneliti Dan Solusinya


Kendala
Kendala yang dihadapi pada saat melakukan penelitian mencakup beberapa hal yaitu:
a. Pada saat pembelajaran berlangsung, masih ada siswa yang mengobrol sendiri di belakang
dan tidak memperhatikan materi yang dijelaskan guru.
b. Terdapat nilai siswa yang masih dibawah KKM
c. Terdapat siswa yang kurang aktif pada saat diskusi kelompok.

Solusi
a. Peneliti menegur langsung siswa yang yang ramai dan melakukan pendekatan kepada siswa
yang sering memprovokasi teman lainnya.
c. Memberi perhatian lebih dan memberi motivasi pada siswa yang belum memncapai KKM.
a. Memberi pemahaman bahwa kelompok itu sangata penting, siswa bisa saling bertanya satu
dengan yang lain.

Maksimianus Hendra J
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan paparan data, hasil analisis data, dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa,
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa SMK Negeri 2 Singosari kelas X EI 2 terhadap materi
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil belajar awal
siswa siklus I 58,82% dan 88,23% pada siklus II, untuk lebih jelas bisa dilihat pada tabel 5.

Tabel 5 Perbandingan Hasil Belajar Siswa

Ketuntasan Belajar åsiswa åseluruh siswa (%)


Tuntas Belajar Pratindakan 6 34 17,64
Tuntas Belajar Siklus I 20 34 58,82
Tuntas Belajar Siklus II 30 34 88,23

Belajar Kelompok
Setiap pertemuan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang
diajarkan. Siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Guru mengawasi jalannya proses belajar,
guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk memberikan bantuan
jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompoknya. Lalu guru membagikan
LKS kepada setiap siswa, kemudian siswa membaca teks bacaan berupa Lembar Kerja Siswa
(LKS) yang diberikan kemudian membuat catatan kecil secara individu (think) untuk
selanjutnya dibawa ke forum diskusi. Dilanjutkan dengan diskusi kelompok, siswa
menyampaikan apa yang telah didapatkan pada tahap (think) kemudian berdiskusi dengan teman
sekelompoknya membahas catatan yang telah dibuat masing-masing anggota (talk). Dari hasil
diskusi, siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka ke dalam lembar jawaban masing-
masing (write) sebagai hasil diskusi kolaborasi. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir
bersama untuk menyelsaikan dan memahami soal-soal yang diberikan guru.

Presentasi kelompok
Dalam tahap ini, guru mempersilakan perwakilan dari tiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi dan meminta siswa untuk mengoreksi hasil presentasi
temannya, apabila ada yang salah untuk segera diperbaiki.

Hasil presentasi
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan.

Memberikan penghargaan
Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan
memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
Pemberian materi dengan menggunakan model TTW siswa diminta untuk memahami materi
SPLDV dan hasilnya menunjukan peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil
belajar pada siklus I dan siklus II.

Saran
Bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian serupa, hendaknya dapat
mengembangkan dan menerapkan pada pokok bahasan yang lainnya, dengan tujuan untuk
mengembangkan model Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan belajar matematika siswa
dengan memperhatikan kendala-kendala yang ada.

Maksimianus Hendra J 7
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK. CV
Yrama Widya. Bandung.
Ananda, A. T., Makmuri, M., & Ambarwati, L. 2017. Penerapan Pendekatan Saintifik dengan
Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk Meningkatkan Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswapada Materi Pythagoras Kelas VIII-E SMP Negeri 115
Jakarta. Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Sekolah, 1(1): 76-85
Azizah. 2018. Penerapan Model TTW Berbasis Saintifik Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Tema Kebersamaan Siswa Kelas. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran),4 (2): 160-
171
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineke Cipta
Darnimung. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write (Ttw) Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas X1 Ipa 4 SMA Negeri 1 Sumber
[Link] Malang. Tidak diterbitkan. Malang: FKIP Universitas Kanjuruhan
Malang.
Dewayani, Dian Ayu. 2016. Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) Terhadap Hasil
Belajar Pemecahan Soal Cerita Bilangan Bulat Matematika Siswa Tunarungu. Jurnal
Pendidikan Kusus 8(1): 1-16
Djamarah, Syaful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Gintings, Abdorrahman. 2010. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora
Hartis. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI-IPS 1 SMP Negeri 1
Tumpang Kabupaten Malang. Tidak diterbitkan. Malang: FKIP Universitas Kanjuruhan
Malang.
Hartanto, 2017. Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) dengan Bantuan
Lembar Kerja Siswa untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Terpadu
Siswa Kelas VII A SMP Negeri 2 Rantau Panjang. Jurnal Inovasi Dan Pembelajaran
Fisika 4(1): 10-17
Huinker, D. & Laughlin. C. 1996. Talk Your Way Into Writing. Dalam Communication in
Mathematics K-12 and Beyond, 1996 Year Book. The National Counsil of Teacher of
Mathematics.
Kushartanti, A. 2009. Prilaku Menyontek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri. Tidak Diterbitkan.
Malang: Fakultas Psikologi UM.
Kusnandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo
Kusumanigtyas, 2014. Ekspermentasi Model Pembelajaraan Think Talk Write (TTW) dan
Numbered Head Together (NHT) Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas
VII di SMP Negeri SeKabupaten Blora. Skripsi Hasil Penelitian Universitas Sebelas
Maret Tahun 2014. Progam Pasca Sarjana UNS.
Masnur Muslich. 2009. Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas itu Mudah. Jakarta: Bumi
Aksara.
Moleong, Lexy. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rosda Karya
Sanjaya, Wina. 2012. Penelitian Tindakan Kelas Cetakan II. Jakarta : Kencana Prenada Media
Group.
Sardiman, A.M. 2008. Interaksidan Motivasi dan Motivasi Melajar Mengajar. Bandung:
Rajawali Pers
Sibuea. 2017. Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW)
Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Journal of Mathematics Education
and Science 2 (2): 44-51.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sugihartono., dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Maksimianus Hendra J
Seminar Nasional FST 2018 ~ Universitas Kanjuruhan Malang

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Masmedia Buana Pustaka. Sidoarjo.


Syahrul, 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW)
Terhadap Keaktifan Dalam Pembelajaran IPS Kelas V SDN 020 Kuok. Jurnal Basicedu,
2(1): 111–119
Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pada bab IV pasal (10) ayat (1)
Wahab. 2009. Metode dan Model-Model Mengajar. Bandung: Alfabeta
Yamin, Martinis & Bansu I. Ansari. 2012. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual
Siswa. Jakarta: Referensi

Maksimianus Hendra J 9

Anda mungkin juga menyukai