0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan6 halaman

KGD dan RJP dalam Keperawatan Darurat

Dokumen tersebut merangkum tentang tugas resume Keperawatan Gawat Darurat dan Resusitasi Jantung Paru. Isi utamanya adalah penjelasan tentang kompetensi yang harus dimiliki perawat gawat darurat, tahapan-tahapan melakukan resusitasi jantung paru, serta peran perawat dalam pelayanan gawat darurat.

Diunggah oleh

Ina Yusuf
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan6 halaman

KGD dan RJP dalam Keperawatan Darurat

Dokumen tersebut merangkum tentang tugas resume Keperawatan Gawat Darurat dan Resusitasi Jantung Paru. Isi utamanya adalah penjelasan tentang kompetensi yang harus dimiliki perawat gawat darurat, tahapan-tahapan melakukan resusitasi jantung paru, serta peran perawat dalam pelayanan gawat darurat.

Diunggah oleh

Ina Yusuf
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS RESUME

KGD DAN RJP

Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen Pengampu : Bapak Ns. Hammad, [Link]

oleh

Jinnatun Thaibah NIM P07120118072

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

JURUSAN DIII KEPERAWATAN

TAHUN 2020/2021

BANJARBARU
KEPERAWATAN GAWAT DARURAT (KGD)

Pelayanan Keperawatan gawat darurat merupakan pelayanan gawat darurat 24 jam


yang memberikan pertolongan pertama pada pasien gawat darurat menetapkan diagnosis
keperawatan, dan upya penyelamatan jiwa, mengurangi kecacatan dan kesakitan pasien
sebelum dirujuk atau dilakukan tindakan definitif di semua level rumah sakit (Standar
pelayanan gawat darurat Direktoral Jenderal Kementrian Kesehatan RI tahun 2011).
Konsep pelaksanaan keperawatan gawat darurat bertujuan,”bantuan yang diberikan
pada pasien gawat darurat bertujuan penyelamatan nyawa dan mencegah kecacatan
menggunakan proses keperawatan di IGD rumah sakit”.
Pelaksanaan pelayanan keperawat gawat darurat dengan menggunakan proses
keperawatan gawat darurat cepat, tepat dan cermat sesuai standar untuk penyerlamatan nyawa
dan mencegah kecacatan.
            Oleh sebab itu keterampilan, kompetensi dan pengetahuan perawat gawat darurat
harus sesuai dengan standar yang dan kompetensi yang telah ditetapkan oleh profesi atau
pihak yang berwenang.
            Disisi lain perawat keperawatan gawat darurat juga harus mehamami kebijakan dan
standar prosedur operasional pelayanan gawat darurat, sehingga dalam melaksanaka
pelayanan gawat darurat mampu bekeja secara profesional maupun secara mandiri.

Kompetensi yang harus  dimiliki Perawat Gawat Darurat


 (Standar pelayanan gawat darurat Direktoral Jenderal Kementrian Kesehatan RI tahun
2011), antara lain :
[Link] umum
1.      Mampu menguasai basic assesment primary survey dan secondary survey, (a)“Primary
suryey adalah pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah aktual atau
resiko tinggi dari kondisi life thereatening  (berdampak pada kemampuan pasien untuk
mempertahankan hidup. Pengkajian tetap berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi jika hal tersebut memungkinkan”.(b).Secondari survey adalah pengkajian sekunder
dilakukan setelah masalah airway, breathing,dan circulation yang ditentukan pada
pengkajhian primer sebelumnnya. Pengkajian sekunder meliputi pengkaian obyektif dan
subjektif dari riwayat keperawatan dan pengkajian head toe.
2.      Mampu memahami triase dan retriase (memilah tingkat kegawat pasien)
3.      Mampu memberikan asuhan keperawatan kegawat daruratan pengkajian, diagnosa
keperawatan, evaluasi dan tindak lanjut.
4.      Mampu melakukan tindakan keperawatan life saving antara lain resusitasi dengan tanpa alat,
stabilisasi.
5.      Mampu memahami therapi definitif
6.      Mampu menerapkan aspek etik dan legal
7.      Mampu melakukan komunikasi theraupeutik kepada pasien/keluarga
8.      Mampu bekerjasama dengan tim
9.      Mampu melakukan pendokumentasian/pencatatan dan pelaporan. 

[Link] SPO Mandiri :


1.      Triase dan retriase
2.      Pemasangan OPA, NPA
3.      Penatalaksanaan henti jantung, (BHD/RJP)
4.      Mencuci tangan
5.      Penatalaksanaan dekontaminasi
6.      Penatalaksaan isolasi
7.      Perawat luka
8.      Penatalaksanaan perdarahan
9.      Penatalaksanaan pembidaian
10.  Evakuasi dan transpotasi
11.  Keamanan dan kenyamanan
12.  Monitoring kebutuhan caiaran dan elektrolit (keseimbangan ciaran)
13.  Pemasngan bedside monitor
14.  Penyiapan alat alat dan bahan steril
15.  Discharge plan
16.  Penanganan pasien melahirkan di IGD
17.  Kasus kasus gawat darurat menyebabkan kematian.

[Link] Kolaborasi
1.      Penatalaksanaan lanjut pada henti jantung
2.      Pemberian oksigen
3.      Obat injeksi
4.      Obat injeksi peberian dopamine, dobutami, nor ephineprin, digoxin, CaClCa Gluconas,
Heparin, isoprenalin, NaBic
5.      Pemberian sreptase/stretokinase
6.      Menjahit luka
7.      Pemasangan ventilator
8.      Intubasi
9.      Defibrilasi
10.  Inhalasi
11.  Pemasangan kateter intravena
12.  Transfusi darah.   
13.  Pemasangan kateter vena sentral
14.  Pencabutan kateter vena sentral
15.  Pemasangan dower kateter
16.  Pengambilan darah urine lainnya untuk memeriksakan laboratorium
Peran perawat dalam pelayanan gawat darurat
1.      Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan
keperawatan GADAR/BENCANA yang diberikan
2.      Menginformasikan kepada individu dan masyarakat tentang pelayanan
keperawatan GADAR/BENCANA yang diberikan dan tanggung jawab para praktisi
profesional
3.      Memelihara kualitas pelayanan keperawatan BENCANA/GADAR yang diberikan
4.      Mengurangi atau meminimalkan korban yang meninggal/cacat dalam kasus  gawat darurat
sehari hari /bencana.
5.      Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan GADAR
6.      Meningkat kerjasama dengan profesi kesehatan lain dalam pelayanan gawat darurat dan
bencana

Dasar hukum pelayanan keperawatan Gawat Darurat


 UU  NO 38/2014, tentang Keperawatan Pasal 35 :
1.      Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama, Perawat dapat melakukan
tindakan medis dan pemberian obat sesuai dengan kompetensinya.
2.      Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan
nyawa Klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut.
3.      Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam
nyawa atau kecacatan Klien.
4.      Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Perawat sesuai dengan
hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya.
5.      Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Menteri.
RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)

Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan langkah pertolongan medis untuk


mengembalikan fungsi napas dan atau sirkulasi darah di dalam tubuh yang terhenti.
Resusitasi jantung paru bertujuan menjaga darah dan oksigen tetap beredar ke seluruh tubuh.
RJP atau yang dalam bahasa Inggrisnya CPR, biasanya dilakukan kepada orang-orang
yang mengalami henti jantung serta tidak mampu bernapas secara normal. Tandanya bisa
terlihat dari tiba-tiba pingsan dan tidak merespons ketika dipanggil. RJP perlu dilakukan pada
mereka yang tidak bernapas atau denyut nadinya terhenti setelah
mengalami kecelakaan, tenggelam, atau serangan jantung. Untuk melakukan RJP, seseorang
disarankan sudah pernah menjalani pelatihan yang memadai. Namun meski tidak memiliki
sertifikat pelatihan, bukan berarti Anda tidak diperbolehkan menolong orang yang
membutuhkan pertolongan RJP.
Selain itu, RJP juga wajib diberikan jika orang yang mengalami kecelakaan tidak
bergerak atau tidak merespons tindakan penyadaran yang diberikan orang lain. Untuk
melakukan RJP, seseorang disarankan sudah pernah menjalani pelatihan medis dasar.
Di rumah sakit, RJP sering kali dilakukan untuk menolong pasien yang mengalami gagal
napas atau henti jantung (code blue).

Inilah Tahapan-tahapan Melakukan Resusitasi Jantung Paru


Tahapan melakukan tindakan penyelamatan melalui RJP disingkat menjadi C-A-B yang
merupakan singkatan dari compression, airways, dan breathing. Compression atau kompresi
adalah tahap menekan dada, selanjutnya airways adalah membuka jalur pernapasan,
dan breathing adalah memberi bantuan napas.
Di bawah ini adalah sedikit penjelasan mengenai tahapan CAB atau kompresi,
pembebasan jalur pernapasan, dan bantuan napas dari mulut ke mulut. Namun sebelum
melakukan tahapan pertolongan RJP, pastikan area tempat korban berada aman untuk
dilakukan pertolongan, misalnya jika berada di jalan, orang yang hendak ditolong bisa
dipindahkan ke tepi jalan untuk menghindari lalu lintas. Periksa juga apakah si korban sadar
atau tidak sadar (pingsan), kondisi tidak sadarlah yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pastikan untuk menghubungi nomor-nomor berikut untuk meminta pertolongan lebih lanjut,
yaitu 118 untuk memanggil ambulans dan polisi di nomor 112.
[Link]
Tindakan ini dilakukan apabila tidak ditemukan denyut nadi atau detak jantung pada orang
yang tidak sadarkan diri. Melakukan pertolongan pertama dengan teknik RJP dimulai dengan
melakukan kompresi dada. Cukup dengan meletakkan salah satu telapak tangan di bagian
tengah dada korban kemudian tangan yang lainnya ditaruh di atas tangan yang pertama.
Kemudian eratkan jari-jari kedua tangan dan lakukan penekanan dada sedalam 5-6 cm,
kemudian lepaskan. Ulangi pemberian tekanan di dada sebanyak 100-120 kali tekanan tiap
menit hingga pertolongan medis datang atau hingga korban menunjukkan respons.
2. Membuka jalur napas
Tindakan RJP yang kedua adalah upaya membuka jalur pernapasan korban. Hal ini
biasanya dilakukan setelah menekan dada korban. Caranya dengan mendongakkan kepala
korban, lalu kedua tangan diletakkan di dahinya. Setelah itu, angkat dagu orang tersebut
dengan lembut untuk membuka dan mengamankan saluran pernapasannya.
3. Memberi bantuan napas
Tahap selanjutnya dari RJP adalah memberikan napas bantuan dari mulut ke mulut. Hal
ini bisa dilakukan dengan menjepit hidung korban, lalu posisikan mulut kita tepat di mulut
korban. Tiupkan napas kita ke dalam mulutnya dan periksa apakah dada korban sudah
mengembang dan mengempis seperti orang bernapas pada umumnya. Pada setiap 30 kali
kompresi dada, iringi dengan dua kali bantuan napas. Teknik pernapasan dari mulut ke mulut
sebaiknya hanya dilakukan oleh mereka yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Apabila Anda bukan tenaga kesehatan dan belum terlatih, lakukan kompresi dada dengan
tangan saja (Hands Only CPR) tanpa pemberian bantuan napas. Kompresi dada terus
dilakukan hingga perangkat gawat darurat yang disebut AED (Automated External
Defibrillator) tiba dan siap digunakan. Kompresi dada juga dapat dihentikan untuk dialihkan
kepada paramedis bila sudah tiba. Selain itu, bila korban mulai menunjukkan respons dan
bergerak spontan, kompresi dada dapat dihentikan.

Keuntungan Mampu Melakukan CPR.

 Mungkin bisa menyelamatkan seseorang dari kerusakan otak

 Bisa menyelamatkan nyawa seseorang

 Masih jarang orang yang bisa melakukan RJP


 Banyak kejadian serangan jantung di rumah

Anda mungkin juga menyukai