0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan23 halaman

Depresi Lansia dan Konstipas ICD 10

Dokumen tersebut membahas tentang depresi pada lansia. Depresi pada lansia ditandai dengan gejala somatik yang dominan dibanding mood depresi, dan dapat berdampak buruk pada kualitas hidup serta peningkatan morbiditas dan mortalitas jika tidak ditangani. Skala Geriatric Depression Scale (GDS) digunakan untuk mengukur tingkat depresi pada lansia.

Diunggah oleh

anesty lasty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan23 halaman

Depresi Lansia dan Konstipas ICD 10

Dokumen tersebut membahas tentang depresi pada lansia. Depresi pada lansia ditandai dengan gejala somatik yang dominan dibanding mood depresi, dan dapat berdampak buruk pada kualitas hidup serta peningkatan morbiditas dan mortalitas jika tidak ditangani. Skala Geriatric Depression Scale (GDS) digunakan untuk mengukur tingkat depresi pada lansia.

Diunggah oleh

anesty lasty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN DEPRESI

OLEH :
JESLIN TARRUA
C1714201080
IIIB

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS MAKASSAR


STUDI SARJANA KEPERAWATAN 2019/2020
A. Pengertian

Depresi merupakan suatu gangguan mood. Mood adalah suasana perasaan yang m
eresap dan menetap yang dialami secara internal dan yang mempengaruhi perilaku
seseorang dan persepsinya terhadap dunia(Sadock & Sadock, 2007).
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan
dan kesedihan yang mendalam dan berkelan
jutan sehingga hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai
realitas (Reality Testing Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami
keretakan kepribadian (Splitting of personality), prilaku dapat terganggu tetapi dalam
batas-batas normal (Hawari Dadang, 2001).
Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen
psikologis seperti rasa sedih, susah, merasa tidak berguna, gagal, putus asa dan
penyesalan atau berbentuk penarikan diri, kegelisahan atau agitasi (Wahyulingsih dan
Sukamto, 2004).
Depresi adalah suatu bentuk gangguan suasana hati yang mempengaruhi kepribadian
seseorang. Depresi juga merupakan perasaan sinonim dengan perasaan sedih, murung, kesal,
tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya menggunakan istilah depresi untuk merujuk
pada keadaan atau suasana yang melibatkan kesedihan, rasa kesal, tidak mempunyai harga
diri, dan tidak bertenaga. (Suryantha Chandra, 2002:8)

B. Etiologi
Etiologi diajukan para ahli mengenai depresipada usia lanjut (Damping, 2003) adalah:

a. Polifarmasi
Terdapat beberapa golongan obat yang dapatmenimbulkan depresi, antara lain: an
algetika, obatanti inflamasi nonsteroid, antihipertensi,antipsikotik, antikanker,
ansiolitika,danlain-lain.
b. Kondisi medis umum
Beberapa kondisi medis umum yang berhubungandengan
depresi adalah gangguan endokrin,neoplasma, gangguan neurologis, dan lain- lain.
c. Teori neurobiology
Para ahli sepakat bahwa faktor genetik berperanpada depresi [Link] beberapa
penelitian juga ditemukan adanya perubahan neurotransmiter pada depresi lansia,
seperti menurunnya konsentrasi serotonin, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, serta
meningkatnya konsentrasi monoamin oksidase otak akibat proses penuaan. Atrofi
otak juga diperkirakan berperan pada depresi lansia.
d. Teori psikodinamik
Kemarahan terhadap objek yang hilang tersebut ditujukan kepada diri
[Link] terjadi perasaan bersalah ataumenyalahkan diri sendiri, merasa diri
tidak berguna,dan sebagainya.
e. Teori kognitif dan perilaku
Konsep Seligman tentang learned helplessnessmenyatakan bahwa terdapat
hubungan antarakehilangan yang tidak dapat dihindari akibat prosespenuaan seperti
keadaan tu buh, fungsi seksual, dansebagainya dengan sensasi passive helplessness
padapasien u sia lanjut. Salah satu teori psikologis tentang terjadinya gangguan depresif
adalah terjadinya distorsi kognitif. Dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana interpretasi
seseorang terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialaminya.
f. Teori psikoedukatif

Hal-hal yang dipelajari atau diamati individu padaorang tua usia lanjut
misalnya ketidakberdayaanmereka, pengisolasian oleh keluarga, tiadanya sanaksauda ra
ataupun perubahan-perubahan fisik yangdiakibatkan oleh proses penuaan dapat memicu
terjadinya depresi pada usia lanjut.

D. Manifestasi Klinik
Individu dengan depresi juga harus mengalami paling sedikit empat gejala tambahan yang
ditarik darisuatu daftar yang meliputi perubahan-perubahan dalamnafsu makan atau berat
badan, tidur, dan aktivitaspsikomotorik; energi y ang berkurang; perasaan tidakberharga atau
bersalah; kesulitan dalam berpikir,berkonsen trasi, atau membuat keputusan; ataupemikiran-
pemikiran berulang tentang kematian ataupemikiran, rencana-rencana, atau usaha untuk
bunuhdiri (American Psychiatric Association). Dalam Gallo & Gonzales (2001) disebutkan
gejala-gejala depresi lain pada lanjut usia:
a. Kecemasan dan kekhawatiran
b. Keputusasan dan keadaan tidak berdaya
c. Masalah-masalah somatik yang tidak
d. Iritabilitas
e. Kepatuhan yang rendah terhadap terapi medis ataudiet
f. Psikosis

Manifestasi depresi pada lansia berbeda dengandepresi pada pasien yang lebih
[Link] ala-gejala depresi sering berbaur dengan keluhan [Link] somatik
cenderung lebih dominan dibandingkan
dengan mood depresi. Gejala fisik yangdapat menyertai depresi dapat bermacam-
macam seperti sakit kepala, berdebar-debar, sakit pinggang,gangguan gastrointestinal dan
sebagainya.

Sedangkan menurut Greg Wilkinson, tanda dan gejala depresi terbagi atas:
1) Suasana Hati
- Sedih
- Kecewa
- Murung
- Putus Asa
- Rasa cemas dan tegang
- Menangis
- Perubahan suasana hati
- Mudah tersinggung

2) Fisik
- Merasa kondisi menurun, lelah
- Pegal-pegal
- Sakit
- Kehilangan nafsu makan
- Kehilangan berat badan
- Gangguan tidur
- Tidak bisa bersantai
- Berdebar-debar dan berkeringat
- Agitasi
- Konstipas
[Link] Depresi padaLansia

Menurut Depkes RI tahun 2001 tingkatan depresi yaitu:

a. Depresi ringan
Suasana perasaan yang depresif, Kehilangan minat, kesenangan dan mudah lelah,
konsentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaan diri kurang, perasaan
salah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram, gagasan dan perbuatan
yang membahayakan diri, tidak terganggu dan nafsu makan kurang.
b. depresi sedang
kesulitan nyata mengikuti kegiatan social. Pekerjaan dan urusan rumah tangga
c. Depresi berat tanpa gejala manic
Biasanya Gelisah, kehilangan harga diri dan perasaan tidak berguna, keinginan bunuh
diriGangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan, sedang dan berat sesuai
dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan
seseorang. Menurut ICD 10, pada gangguan depresi ada 3 gejala utama yaitu:
- Mood terdepresi (suasana perasaan hati
murung/sedih), - Hilang minat atau gairah,
- Hilang tenaga dan mudah lelah, yang disertai dengan gejala lain
seperti:

1) Konsentrasi menurun,
2) Harga diri menurun,
3) Perasaan bersalah,
4) Pesimis memandang masa depan,
5) Ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri,
6) Pola tidur berubah,
7) Nafsu makan menurun

. F. Dampak Depresi Pada Lansia

Pada usia lanjut depresi yang berdiri sendirimaupun yang bersamaan dengan
penyakit lainhendaknya ditangani dengan sungguh-sungguh karenabila tidak diobati
dapat memperburuk perjalanan penyakit dan memperburuk prognosis.

Pada depresi dapat dijumpai hal-hal sepertidibawah ini (Mudjaddid, 2003):


a. Depresi dapat meningkatkan angka kematian pada pasien dengan penyakit
kar diovaskuler.
b. Pada depresi timbul ketidakseimbangan hormonal yang dapat memperburuk penyakit
kardiovaskular (Misal: peningkatan hormone
adrenokortikotropin akan meningkatkan kadarkortisol).
c. Metabolisme serotonin yang terganggu padadepresi akan menimbulkan efek trombo
genesis.
d. Perubahan suasana hati (mood) berhubungandengan gangguan respons
imunitas termasukperubahan fungsi limfosit dan penurunan jumlah
limfosit.
e. Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas selnatural killer.

f. Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang burukpada


program pengobatan maupun rehabilitasi.
Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapatberlangsung bertahun-
tahun dan dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi
sosial dan fisik, kepatuhan yang jelek terhadap terapi, danmeningkatnya
morbiditas
dan mortalitas akibat bunuhdiri dan penyebab lainnya (Unützer, 2007).
Beberapapenel itian menunjukkan bahwa depresi pada lansia menyebabkan
peningkatan penggunaan r umah sakitdan outpatient medical services (Blazer, 2003).

G. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia

Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap


lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai dengan gejala
yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus dilakukan pengkajian dengan alat
pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercayai serta valid dan memang dirancang
untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang paling mudah digunakan untuk di
interprestasikan diberbagai tempat, baik oleh peneliti maupun praktisi klinis adalah
Geriatric Depression Scale (GDS). Alat ini diperkenalkan oleh Yesavagepada tahun 1983
dengan indikasi utama pada lanjut usia, dan memiliki keunggulan mudah digunakan dan
tidak memerlukan keterampilan khusus dari pengguna. Instrument GDS ini memiliki
sensitivitas 84 % danspecificity 95 %. Tes reliabilitas alat ini correlates
significantly of 0,85 (Burns, 1999). Alat ini terdiri dari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat
penapisan depresi pada lansia. GDS menggunakan format laporan sederhana yang diisi
sendiri dengan menjawab “ya” atau “tidak” setiap pertanyaan, yang memrlukan waktu sekitar
5-10 menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan alat psikomotorik dan tidak mencakup
hal-hal somatik yang tidak berhubungan dengan pengukuran mood lainnya. Skor 0-10
menunjukkan tidak ada depresi, nilai 11-20 menunjukkan depresi ringan dan skor 21-30
termasuk depresi sedang/berat yang membutuhkan rujukan guna mendapatkan evaluasi
psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci, karena GDS hanya merupakan alat penapisan.

H. Penatalaksanaan Depresi

a. Terapi fisik

1) Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan jenis
antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan terhadap
berbagai jenis antidepresan. Biasanya pengobatan dimulai dengan dosis separuh
dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala.
2) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh diri atau
retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman. ECT
diberikan 1- 2 kali seminggu pada pasien rawat nginap, unilateral untuk
mengurangi confusion/memory [Link] ECT diberikan sampai ada
perbaikan mood(sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan untuk
mencegah kekambuhan.
b. Terapi Psikologik
1) Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan
bersama- sama dengan pemberian antidepresan. Baik pendekatan psikodinamik
maupun kognitif behavior sama keberhasilannya. Meskipun mekanisme
psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan
terapis dalam proses terapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih
nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.

2) Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu
negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak mampu dan
sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif. Ternyata pasien usia lanjut
dengan depresi dapat menerima metode ini meskipun penjelasan harus diberikan
secara singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas
tertentu terapi kognitif bertujuan merubah perilaku dan pola pikir.

3) Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi,
sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting. Proses penuaan
mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi dari dominan menjadi
dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi terhadap keluarga pasien yang
depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan
memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang menghambat proses
penyembuhan pasien.

4) Penanganan Ansietas (Relaksasi)


Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif baik
secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis okupasional) atau
melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan dalam praktek umum sehari-
hari. Untuk menguasai teknik ini diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.
Penanganan depresi dapat dilakukan pada lansia itu sendiri, keluarga lansia dan
masyarakat,

a. Diri Sendiri (Lansia)

1) Berfikir positif
2) Terbuka bila ada masalah
3) Menerima kondiri apa adanya
4) Ikut Kegiatan pengajian
5) Tidur yang cukup
6) Olahraga teratur
7) Optimis
8) Rajin beribadah
9) Latihan relaksasi
10) Ikut beraktivitas dan bekerja sesuai kemampuan
b. Keluarga
1) Dukung lansia tetap berkomunikasi
2) Ajak lansia berdiskuasi setiap minggu sekali
3) Mendengarkan keluahan lansia
4) Berikan bantuan ekonomi
5) Dukung kegiatan lansia
6) Ikut serta anak dan cucu merawat lansia
7) Memberikan kesempatan lansia beraktivitas sesuai dengan kemampuan

c. Masyarakat
1) Sediakan sarana posbindu untuk pelayanan kesehatan lansia
2) Siapkan tempat dan waktu latihan aktivitas lansia
3) Support group
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN
DEPRESI

PENGKAJIAN KEPERAWATAN GERONTIK ( REVISI)

Tgl Pengkajian : 31 juli 2020 Autoanamnese : ………………...


Alloanamnese : …………………

I. DATA BIOGRAFI KLIEN


A. IdentitasKlien
Nama lengkap : Ny. N
Agama : PROTESTAN
Tempat/tgl. Lahir : mamuju 27 maret 1950 Jenis kelamin : PEREMPUAN
Status perkawinan : IBU RT Diagnosa medis : DEPRESI
Pendidikan terakhir : SMA Suku bangsa : RI
Alamat Rumah : Jl polmas tobadak
:
B. Riwayat Keluarga
1. Pasangan
Hidup/Mati : HIDUP
Jikahidup Jikamati
Nama (Inisial) : Tn M Sebabkematian :-
Umur : 72 Tahun kematian :-
Pekerjaan : PNS
2. Anak
Jumlah anak : Dua
Jumlah anak hidup : Dua
Alamat : Jl. Polmas
Jumlah anak mati :-
Sebabkematian :-

Keluarga yang dapat dihubungi


Nama (Inisial) :
Umur :
JenisKelamin :
Hubungan dengan klien :
Alamat rumah/tlp :
C. RiwayatPekerjaan
1. Pekerjaan sebelumnya : PNS
2. Pekerjaan saatini/sumber pendapatan : PNS
D. Riwayat Keluarga (Genogram) dan Kesehatan Keluarga

E. Riwayat Lingkungan Hidup Sekarang


Tipe tempat rumah : permanen
Jumlah kamar : 4 kamar
Jumlah tingkat :1
Jumlah penghuni rumah :6
Kondisi rumah : kondisi rumah tampak bersih

II. PENGKAJIAN RIWAYAT KESEHATAN


A. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Penyakit serius/kronik :
Perawatan di RS (alasan, bulan,tahun dan lamanya) : pasien mengatakan tidak pernah dirawat di
rumah sakit
Operasi (alasan, jenis operasi, bulan, tahun, tempat, hasil) : pasien mengatakan tidak pernah
menjalani operasi

B. Riwayat Kesehatan Sekarang


Alergi
Obat-obatan : Ny J mengatakan tidak memiliki alergi alergi terhadap obat-obatan
Makanan : Ny J mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan apapun
Lingkungan : Ny J mengatakan tidak memiliki alergi terhadap lingkungan
Penyakit yang sedang diderita : Ny J mengatakan penyakit yang dideritanya sekarang
adalah depresi
Obat-obatan yang sedang dikonsumsi :
Nutrisi (diet 24 jam) :
Masalah dalam pemenuhan nutrisi :
BB dan TB
*( TL ) Jika lansia bungkuk :
IMT :
Kesimpulan :

III. PEMERIKSAAN FISIK melalui TINJAUAN SISTEM


A. KeadaanUm
1. Inspeksi : keadaan pasien tampak kurang baik
2. KeluhanUtama (saatini) : keluarga pasien mengatakan pasien sering mengeluh apabila
pasien berkomunikasi dan sedang membaca karena pasien bermasalah dengan
pendengarannya dan penglihatannya menurun dan pasien seringkali menangis.
B. Sistem Integumen
1. Keadaan kulit secara umum : keadaan kulit pasien tampak bersih tidak ada lesi
2. Keadaan rambut : keadaan rambutpasien tampak beruban
3. Kuku : keadaan kuku pasien tampak bersih
4. Keluhan/Gangguan kulit : tidak ada
5. Lain-lain :-
C. Sistem Respirasi
1. Frekuensi pernafasan : 22 x/mnt
2. Suaranafas : didapat2an suara nafas Vesicular
3. Suara tambahan : tidak ada
4. Alat bantu pernafasan : tidak ada
5. Keluhan pada fungsi pernafasan : tiadak ada
6. Lain-lain :tidak ada
D. SistemMuskuloskeletal
1. Bentuk tulang belakang : Normal
2. Tingkat mobilisasi : Mandiri
3. Pergerakan sendi : bebas
4. Kontraktur sendi : tidak ada
5. Uji kekuatan otot : kekuatan otot penuh
6. Refleks biseps : positif
7. Refleks triseps : positif
8. Reflex kuadriseps : positif
9. Keluhan pada otot dan sendi : tidak ada nyeri (-)
10. Lain-lain :-
E. SistemKardiovaskuler
1. Frekuensi nadi : 90x/menit
2. Frekuensi denyut jantung :-
3. Tekanan darah perifer :-
4. MAP :96 (sistol ditambah 2 diastol : 3)
Kesimpulan : perfusi ginjal memadai
5. Kelainan bunyi jantung : tidak terdengar kelainan bunyi jantung
6. Kelainan pembesaran jantung : tampak tidak ada kelainan dan pembesaran
jantung
7. Tanda-tanda edema : tampak tidak ada edema
8. Tekanan vena jugularis : 5-2 mmh2O
9. Acral (warna, kehangatan) :-
10. Keluhan pada fungsi kardiovaskuler : tidak ada
11. Lain-lain :-
F. Sistem Gastrointestinal
1. Status gizisecaraumum : tampak gizi dan nutrisi pasien terpenuhi secara umum
2. Keadaan gigi : tampak gigi utuh dan tidak terpasang gigi palsu
3. Peristaltic dan bising usus : 8x/menit (normal 5-3x/menit)
4. Distensi abdomen : tidak ada
5. Konstipasi/obstipasi : tidak ada
6. Diare : tidak ada
7. Inkontinensia alvi :
8. Keluhan mual/muntah : tidak ada
9. Kemampuan mengunyah makanan : pasien mampu mengunyah makanan
10. Asupan diit (jenis dan frekuensi) : tidak dikaji
11. Lain-lain :-
G. SistemPerkemihan
1. Jumlah intake cairan / 24 jam : pasien mengatakan minum air sehari 5-7
gelas
2. Frekuensi berkemih dan jumlah output urine / 24 jam : pasien mnegatakan 3-5 kali buang
air kecil
3. Warna urine : putih jernih
4. Bau urine : normal
5. Distensi kandung kemih : tidak dikaji
6. Tanda-tanda disuria : tidak dikaji
7. Poliuri : tidak dikaji
8. Anuri : tidak dikaji
9. Lain-lain :-
H. SistemPersyarafan
1. Paralisis : tidak ada (kemampuan)
2. Parese/hemiplegic :tidak ada( lemah tapi bisa
digerakkan)
3. Reflex babinski :negative (reflex patologis, diperiksa
dikaki)
4. Keluhan : tidak ada
5. Lain-lain :-
Penglihatan
1. Jelas atau kabur : tampak pasien mengeluh karena
penglihatannya mulai menurun
2. Pandangan ganda : tidak ada
3. Jarak pandang untuk menulis dan membaca : >30cm
4. Lain-lain :-
Pendengaran : tampak pasien memiliki gangguan pada pendengarannya
Pengecapan : Baik
Penghiduan : Baik
Lain-lain :-

I. Sistem endokrin
1. Kelenjar getah bening leher, sub mandibula, dan sekitar telinga : tidak dikaji
2. Kelenjar tyroid : tidak dikaji
3. Kelenjar getah bening axial / mammae :tidak dikaji
4. Keluhan : tampak tidak ada keluhan
5. Lain-lain :-

J. Sistem Genito reproduksi


1. Kelainan pada genitalia eksterna : tampak tidak ada kelainan
2. Keluhan mengenai fungsi genitalia dan seksualitas : tidak ada keluhan
3. Lain-lain :-

Nama Mahasiswa Yang Mengkaji : JESLIN TARRUA


NIM : C1714201080

IV. PENGKAJIAN STATUS FUNGSIONAL


Modifikasi Indeks Kemandirian Katz
Pengkajian status fungsional didasarkan pada kemandirian klien dalam menjalankan aktivitas kehidupan
sehari-hari. Kemandirian berarti tanpa pengawasan, pengarahan atau bantuan orang lain. Pengkajian ini
didasarkan pada kondisi aktual klien dan bukan pada kemampuan, artinya jika klien menolak untuk
melakukan suatu fungsi dianggap sebagai tidak melakukan fungsi meskipun sebenarnya ia mampu.

Tergan-
Mandiri
No Aktivitas tung
(1)
(2)
1. Mandi di kamar mandi (menggosok, membersihkan dan 1
mengeringkan badan)
2. Menyiapkan pakaian, membuka dan mengenakannya 1
3. Memakan makanan yang telah disiapkan 1
4. Memelihara kebersihan diri untuk penampilan diri (menyisir 1
rambut, mencuci rambut, menggosok gigi, mencukur kumis)
5. Buang air besar di WC (membersihkan dan mengeringkan 1
daerah bokong)
6. Dapat mengontrol pengeluaran feses (tinja) 1
7. Buang air kecil di kamar mandi (membersihkan dan 1
mengeringkan daerah kemaluan)
8. Dapat mengontrol pengeluaran air kemih 1
9. Berjalan di lingkungan tempat tinggal atau keluar ruangan 1
tanpa alat bantu, seperti tongkat
10. Menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang 1
dianut
11. Melakukan pekerjaan rumah, seperti merapikan tempat tidur, 2
mencuci pakaian, memasak dan membersihkan ruangan
12. Berbelanja untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan keluarga 2
13. Mengelola keuangan (menyimpan dan menggunakan uang 2
sendiri)
14. Menggunakan sarana transportasi umum untuk berpergian 2
15. Menyiapkan obat dan minum obat sesuai dengan aturan 1
(takaran obat dan waktu minum obat tepat)
16. Merencanakan dan mengambil keputusan untuk kepentingan 2
keluarga dalam hal penggunaan, uang, aktivitas sosial yang
dilakukan dan kebutuhan akan pelayanan kesehatan
17. Melakukan aktivitas di waktu luang (kegiatan keagamaan, 1
sosial, rekreasi, olahraga dan menyalurkan hobi)
Jumlah 12 5
Analisis hasil :
 Skor 13-17 : mandiri
 Skor 0-12 : ketergantungan

V. PENGKAJIAN STATUS KOGNITIF


Mendeteksi adanya kerusakan Intelektual dengan menggunakan : Short Portable Mental Status
Questionnaire (SPMSQ)
Pengkajian fungsi kognitif dilakukan dalam rangka mengkaji kemampuan klien berdasarkan daya orientasi
terhadap waktu, orang, tempat serta daya ingat.
Petunjuk : Isilah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan respon klien
No Item pertanyaan Benar Salah
1. Jam berapa sekarang? 
Jawab : jam 16:20
2. Tahun berapa sekarang? 
Jawab : 2020
3. Kapan bapak/ibu lahir? 
Jawab : 1875
4. Berapa umur bapak/ibu sekarang? 
Jawab : 84
5. Dimana alamat bapak/ibu sekarang? 
Jawab : jl polmas tobadak
6. Berapa jumlah anggota keluarga yg tinggal bersama bapak/ibu? 
Jawab : 6 orang
7. Siapa nama anggota keluarga yg tinggal bersama bapak/ibu? 
Jawab : jetty
8. Tahun berapa Hari Kemerdekaan Indonesia? 
Jawab : 1945
9. Siapa nama Presiden Republik Indonesia sekarang? 
Jawab : jokowidodo
10. Coba hitung terbalik dari angka 20 ke 1 
Jawab : 20, 19. 18. 17. 16. 15, 15, 13, 12, 11, 10, 9,8,7,6,5,4,3,2,1
Jumlah benar 10

Analisis hasil :
 Skor benar 8-10 : tidak ada gangguan
 Skor benar 0-7 : ada gangguan

VI. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL


Pengukuran status afektif adanya depresi pada lansia menggunakan Skala Depresi Geriatric Yesavage.
(GDS) Long Version atau Geriatric Depresion scale
Keterangan :untuk setiap respon klien yang cocok dengan jawaban setelah pertanyaan (Ya/Tidak)
mendapatkan nilai 1.
Jika tidak cocok mendapatkan nilai 0.
Status Psikologis (modifikasi Skala Depresi Geriatrik Yesavage, 1986)
No Apakah bapak/ibu dalam satu minggu terakhir : Ya Tidak
1. Merasa puas dengan kehidupan yang dijalani? Ya
1
2. Banyak meninggalkan kesenangan/minat dan aktivitas anda? 1 Tidak
3. Merasa bahwa kehidupan anda hampa? 1 Tidak
4. Sering merasa bosan? 1 Tidak
5. Penuh pengharapan akan masa depan? Ya
1
6. Mempunyai semangat yang baik setiap waktu Ya 0

7. Diganggu oleh pikiran-pikiran yang tidak dapat diungkapkan? 0 Tidak

8. Merasa bahagia di sebagian besar waktu? Ya


1
9. Merasa takut sesuatu akan terjadi pada anda? Tidak
1
10. Sering kali merasa tidak berdaya? 1 Tidak
11. Sering merasa gelisah dan gugup? 0 Tidak

12. Memilih tinggal di rumah daripada pergi melakukan sesuatu yang Tidak
bermanfaat? 0
13. Sering kali merasa khawatir akan masa depan? 1 Tidak
14. Merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan daya ingat 1 Tidak
dibandingkan dengan orang lain?
15. Berpikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan sekarang? Ya 1
16. Sering kali merasa merana? 1 Tidak
17. Merasa kurang bahagia? 1 Tidak
18. Sangat kuatir terhadap masa lalu? Tidak
0
19. Merasakan bahwa hidup ini sangat menggairahkan? Ya 1
20. Merasa berat untuk memulai sesuatu hal yang baru? Tidak
1
21. Merasa dalam keadaan penuh semangat? Ya 0
22. Berpikir bahwa keadaan anda tidak ada harapan? Tidak
1
23. Berpikir bahwa banyak orang yang lebih baik daripada anda? 0 Tidak
24. Sering kali menjadi kesal oleh hal yang sepele? 0 Tidak
25. Sering kali merasa ingin menangis? 0 Tidak
26. Merasa sulit untuk berkonsentrasi? 0 Tidak
27. Menikmati tidur? Ya 0
28. Memilih menghindar dari perkumpulan sosial? Tidak
1
29. Mudah mengambil keputusan? Ya 1
30. Mempunyai pikiran yang jernih? Ya
0
Jumlah

Keterangan :
: terganggu  nilai 1 Analisis hasil :
: normal  nilai 0
Analisis hasil :
 Nilai 16-30 : depresi berat
 Nilai 6-15 : depresi ringan sampai sedang
 Nilai 0-5: normal
VII : PENGKAJIAN FUNGSI SOSIAL LANSIA
Alat Skrining Singkat Yang dapat digunakan untuk mengkaji Fungsi Sosial lansia : Adaption, Patnership,
Growth,Affection,Resolve ( AFGAR )
No PERNYATAAN Selalu KK HTP
1. Saya puas bisa kembali pada keluarga saya yang ada untuk membantu 1
pasa waktu sesuatu yang menyusahkan saya (Adaptasi )
2. Saya puas dengan keluarga saya membicara sesuatu dan 1
mengungkapkan masalah saya ( Hubungan)
3. Saya puas bahwa keluarga saya menerima dan mendukung keinginan 1
saya untuk melakukan aktivitas ( Pertumbuhan )
4. Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresiakn afek dan 0
berespon terhadap emosi saya seperti marah, sedih, atau mencintai
( Afek )
5. Saya puas dengan cara teman saya dan saya menyediakan waktu 2
bersama-sama
Jumlah 2 3 0
Keterangan :
Selalu :

Nilai 2
Kadang-kadang : Nilai 1
Hampir tidak pernah : Nilai 0
Kesimpulan :
Skor :
0-3 : Disfungsi Keluarga sangat tinggi
4-6 : Disfungsi keluarga sedang
7-10 : Tidak ada disfungsi keluarga

Makassar,…………………………
Mahasiswa Yang Mengkaji

(JESLIN TARRUA)
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan persepsi sensorik : penglihatan b/d


2. Gangguan persepsi sensorik : pendengaran b/d
3. Ketidakefektifan koping b/d depresi
4. Gangguan citra tubuh b/d koping

INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA NOC NIC


Ketidakefektifan Setalah dilakukan tindakan Peningkatan coping :
koping b/d stres keperawatan selama 3x24 jam 1. Gunakan pendekatan yang
diharapkan masalah tenang dan memberikan
keperawatan dapat teratasi jaminan.
dengan criteria hasil : 2. Berikan penilaian
- Pasien memiliki koping mengenai pemahaman
yang dan dapat pasien terhadap proses
mengerti dengan penyakit
keadannya. 3. Bantu pasien dalam
mengidentifikasi respon
positif dsri orang lain
4. Evaluasi kemampuan
pasien dalam membuat
keputusan.
5. Dukung pasien untuk
mengidentifikasi kekuatan
dan kemampuan diri.

Gangguan citra Setalah dilakukan tindakan Pengurangan kecemasan :


tubuh b/d koping keperawatan selama 3x24 jam 1. Kaji untuk tanda verbal dan
diharapkan masalah non verbal kecemasan.
keperawatan dapat teratasi 2. Berikan aktivitas pengganti
dengan criteria hasil : yang bertujuan untuk
- Pengurangan mengurangi tekanan.
kecemasan pada lansia 3. Bantu pasien
dan lansia dapat mengidentifikasi situasi
merasa nyaman. yang memicu kecemasan
4. Pertimbangan kemampuan
pasien dalam mengambil
keputusan.
5. Dukung penggunaan
mekanisme koping yang
sesuai.
6. Dukung penggunaan
mekanisme koping yang
sesuaGunakan pendekatan
yang tenang dan
meyakinkan
7. Dengarkan klien

ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah


Ds : - keluarga pasien Depresi Ketidakefektifan koping
mengatakan pasien
mudah tersinggung
dan mudah
menangis
Do : - saat pengkajian
pasien tampak sedih
dan murung.
Ds : - keluarga Koping Gangguan citra tubuh
mengatakan pasien
mudah cemas,
keluarga pasien
mengatakan pasien
selalu curhat tentang
keadaan yang
dialaminya.
Do : - saat dilakukan
pengkajian pasien
tampak cemas dan
tampak sedih.

TERAPI MODALITAS
1. Terapi rekreasi
Terapi rekreasi dapat dilakukan dengan melibatkan beberapa anggota
keluarga untuk melakukan rekreasi seperti berlibur ke tempat wisata, mengunjungi
saudara, melakukan aktivitas kelompok sepeti senam, berenang da lain sebagainya.
Tujuan diterapkannya terapi rekreasi kepada lansia adalah untuk membuatnya
tetap aktif, kreatif dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Dampingilah
lansia dan ajaklah untuk melakukan terapi rekreasi yang ringan anmun tetap
mengasikkan seperti berjalan ditaman atau olahraga di pag hari dan lain-lain.
Buatlah lansia merasa tetap dibutuhkan dan jangan biarkan dia merasa bosan atau
jenuh.

2. Terapi berkebun
Terapi berkebun atau hortikultura ternyata cukup efektif untuk
meningkatkan kesehatan mental dan [Link] sebuah penelitian yang dialkukan
kepada 69 partisipan diajak untuk melakukan bercocok tanam diajak untuk
melakukan bercocok tanam sebanyak sepekan sekali selama 12 pekan. Selama itu,
lansia diajak untuk mengujungi taman yang berbeda-beda untuk berkebun dan
sesekali mengikuti kelas seperti membuat kerajianan tangan menggunakan bunga.
Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa terapi berkebun atau terapi
hortikultura dapat meningkatkan kesejahteraan psikoligis para lansia, hal ini
diungkapkan oleh peserta yang mengaku puas dengan kehidupannya.

3. Terapi keagamaan
Terapi ini juga disebut dengan terapi religius yang mana tujuan utamanya
adalah untuk mendamaikan jiwa dan membuat lansia semakin dekat dengan
agama. Dalam sebuah penelitian yagn dilakukan oleh komariah dan kokom dalam
Thesis yang berjudul “Terapi religius sebagai peningkatan motivasi hidup usia
lanjut” di Universitas islam Negeri Gunung djati Bandung memaparkan bahawa
sebagian besar lansia merasa mendapatkan motivasi hidup, ketenagaan dan
kedamaian setelah rutin melakukan aktivitas keagamaan. Adapun contoh dati
terapi keagamaan ini dapat berupa suatu kegiatan bakti social, sedekah, mengikuti
pengkajian atau ceramah dan lain-lain.

4. Beberapa banyak yang kerepotan untuk merawat orang tua sering kali memilih
panti jompo sebagai solusi untuk membuat orang tua menjadi lebih terawat.
Padahal hal ini justru akan membuat orang tua merasa tidak lagi dibutuhkan dan
disayangi lagi oleh anaknya. Terapi keluarga dihadirkan bersama dengan seluruh
anggota seperti anak-anak dari orang tua tersebut. Jalinan kasih sayang dari anak
kepada orang tua sangat dibutuhkan, berikanlah beberapa perhatian walau itu
kecil. Harap diingatkan bahwa focus dari terapi keluarga buakanlah kepada
individu saja melainkan kepada seluruh keluarga.

5. Terapi kognitif
Terapi kognitif dilakukan untuk merangsang system kerja kognitif seperti
car berpikir, mengambil keputusan dan membuat solusi dengan carat tap focus,
aktif dan meningkatkan daya ingat yang lebih baik. Beberapa contoh permainan
yang dapat mengasah otak lansia adalah menyusun puzzle, bermain catur atau
bermain kartu. Beberapa pelayanan layanan jasa perawat lansia yang dapat
membantu lansia untukmendapatkan seluruh terapi khusus lansia. Perawat lansia
tidak hanya memberikan terapi saja melainkan juga bertanggung jawab dalam
segala hal terhadap lansia yang ia rawat seperti memandikan, membuatkan makan,
memberikan kegiatan untuk mengasah otak dan mengajaknya untuk melakukan
kegiatan yang lansia inginkan.

Anda mungkin juga menyukai