0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat

Dokumen tersebut membahas tentang pemberdayaan masyarakat sebagai proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan komunitas. Pemberdayaan dijelaskan sebagai proses pembelajaran dan penguatan kapasitas individu serta lembaga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal dan mengatasi tantangan pembangunan. Dibahas pula bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam pengambil

Diunggah oleh

abi qisthon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat

Dokumen tersebut membahas tentang pemberdayaan masyarakat sebagai proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan komunitas. Pemberdayaan dijelaskan sebagai proses pembelajaran dan penguatan kapasitas individu serta lembaga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal dan mengatasi tantangan pembangunan. Dibahas pula bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam pengambil

Diunggah oleh

abi qisthon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

Mata Kuliah Community Development.


Pertemuan ke 4 (empat).

BAB. IV COMMUNITY DEVELOPMENT.


PEMBERDAYAAN SEBAGAI PROSES PENGEMBANGAN PARTISIPASI MASYARAKAT.

I. PEMBERDAYAAN SEBAGAI PROSES.


1. Pemberdayaan sebagai proses.
Pada BAB. II sudah dijelaskan tentang pemberdayaan sebagai proses. Pemberdayaan
adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat atau mengoptimalkan keberdayaan
atau kemampuan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu
yang mengalami kemiskinan.
Sedangkan pemberdayaan masyarakat adalah proses partisipatif yang memberi
kepercayaan dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengkaji tantangan utama
pembangunan mereka, dan mengajukan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk
mengatasi masalah yang ada.
Pemberdayaan bisa berbentuk sebagai proses pembelajaran, sebagai proses
penguatan kapasitas baik kapasitas individu, kapasitas kelembagaan maupun
kapasitas sistem.

2. Pemberdayaan sebagai proses perubahan sosial.


Pemberdayaan tidak hanya merupakan proses perubahan perilaku pada diri
seseorang, tetapi juga merupakan proses perubahan sosial. Proses perubahan sosial
ini mencakup banyak aspek, termasuk aspek politik dan ekonomi.
Perubahan sosial tidak hanya perubahan perilaku yang berlangsung pada diri
seseorang, tetapi juga perubahan-perubahan hubungan antar individu dalam
masyarakat, termasuk struktur, nilai-nilai dan pranata sosialnya seperti
demokratisasi, transparansi, supremasi hukum dan sebagainya.
Dalam proses perubahan sosial juga dikenal istilah pemasaran sosial (social
marketing), yaitu penerapan konsep dan atau teori-teori pemasaran dalam proses
perubahan sosial.
Hal ini dimaksudkan untuk menawarkan (to do for) sesuatu kepada masyarakat,
pengambilan keputusan sepenuhnya ditangan masyarakat itu sendiri.
Disamping itu penggunaan konsep-konsep pemasaran dalam upaya untuk
menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam
kegiatan pembangunan yang ditawarkan dan akan dilaksanakan oleh dan untuk
masyarakat itu sendiri.

3. Pemberdayaan sebagai proses pembangunan masyarakat (community


development).
Pembangunan masyarakat adalah proses dimana untuk memperbaiki keadaan
ekonomi, sosial dan kultural masyarakat serta menyatukan masyarakat-masyarakat
itu dalam kehidupan bangsa.
Community development sebagai alat untuk menjadikan masyara4444kat semakin
komplek dan kuat (Bartle, 2003). Hal ini merupakan suatu perubahan sosial yang
2

menjadikan masyarakat lebih komplek, institusi lokal tumbuh, collective power- nya
meningkat serta terjadi perubahan secara kualitatif pada organisasinya.
Pengertian pemberdayaan menurut Tim Deliveri 2004, pemberdayaan sebagai suatu
proses yang bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan
taraf hidupnya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya setempat
sebaik mungkin. Proses tersebut menempatkan masyarakat sebagai pihak utama
atau pusat pengembangan.
Lingkungan strategis yang dimiliki oleh masyarakat lokal antara lain mencakup
lingkungan produksi, ekonomi, sosial dan ekologi. Melalui upaya pemberdayaan,
warga masyarakat didorong agar mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan
sumber daya yang dimilikinya secara optimal serta terlibat secara penuh dalam
mekanisme produksi, ekonomi, sosial dan ekologinya.

4. Aspek penting dalam program pemberdayaan masyarakat.


Aspek pentingnya adalah :
a. Program disusun sendiri oleh masyarakat.
b. Mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
c. Mendukung keterlibatan kaum miskin dan kelompok yang terpinggirkan lainnya.
d. Dibangun dari sumber daya lokal.
e. Sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal.
f. Memperhatikan dampak lingkungan.
g. Tidak menciptakan ketergantungan.
sensti
h. Berbagai pihak terkait terlibat dan dilakukan berkelanjutan.
Pihak yang terlibat adalah instansi pemerintah, lembaga penelitian, perguruan
tinggi, LSM, swasta dan pihak lainnya.

II. PARTISIPASI MASYARAKAT.


1. Pengertian partisipasi.
a. Pengertian secara umum, partisipasi adalah keikutsertaan seseorang atau
sekelompok anggota masyarakat dalam suatu kegiatan.
b. Menurut kamus Sosiologi (Theodorson, 1969) disebutkan bahwa partisipasi
merupakan keikutsertaan seseorang di dalam kelompok sosial untuk mengambil
bagian dari kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Keikutsertaan tersebut dilakukan sebagai akibat dari terjadinya interaksi sosial
seorang individu dengan anggota masyarakat yang lain.
c. Verhangen (1979) menyatakan bahwa sebagai suatu kegiatan, partisipasi
merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan
dengan pembagian kewenangan, tanggungjawab, dan manfaat.
Tumbuhnya interaksi dan komunikasi dilandasi oleh adanya kesadaran yang
dimiliki oleh yang bersangkutan mengenai :
1) Kondisi yang tidak memuaskan dan harus diperbaiki.
2) Kondisi tersebut bisa diperbaiki melalui kegiatan manusia atau
masyarakatnya sendiri.
3) Kemampuannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat dilakukan.
4) Adanya kepercayaan diri bahwa ia dapat memberikan sumbangan yang
bermanfaat bagi kepentingannya.
3

2. Lingkup partisipasi masyarakat dalam pembangunan.


Partisipasi atau peran serta pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlibatan
dan keikutsertaan secara aktif dan sukarela, baik karena alasan-alasan dari dalam
(intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses kegiatan.
Ada empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam
kegiatan pembangunan yaitu :
a. Partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui
dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi
langsung di dalam proses pengambilan keputusan. Yaitu pengambilan keputusan
tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di tingkat
lokal.
b. Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan.
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai
pemerataan sumbangan masyarakat. Sumbangan tersebut dalam bentuk tenaga
kerja, uang tunai, beragam bentuk pengorbanan lainnya yang sepadan dengan
manfaat yang akan diterima oleh masing-masing warga masyarakat.
Selain itu juga partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan proyek-proyek
pembangunan kemasyarakatan yang telah berhasil diselesaikan. Untuk itu perlu
kegiatan khusus untuk mengorganisir warga masyarakat guna memelihara hasil-
hasil pembangunan agar manfaatnya dapat terus dinikmati dan tetap berkualitas
untuk jangka panjang.
c. Partisipasi dalam pemantauan evaluasi pembangunan.
Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat
diperlukan, agar tujuan dapat tercapai dan juga untuk memperoleh umpan balik
tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan
pembangunan.
Partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk mengumpulkan informasi yang
berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan.
d. Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan.
Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan merupakan unsur terpenting
yang sering terlupakan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki
mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan
merupakan tujuan utama.

3. Bentuk-bentuk partisipasi.
Beragam bentuk-bentuk partisipasi masyarakat, Dusseldorp (1981) mengidentifikasi
keragaman bentuk kegiatan partisipasi yang dilakukan oleh setiap warga masyarakat
yaitu :
a. Menjadi anggota kelompok-kelompok masyarakat.
b. Melibatkan diri pada kegiatan diskusi kelompok.
c. Melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan organisasi untuk menggerakkan
partisipasi masyarakat yang lain.
d. Menggerakkan sumber daya masyarakat.
e. Mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.
f. Memanfaatkan hasil-hasil yang dicapai dari kegiatan masyarakatnya.
4

Selain itu menurut Slamet (1985) ada juga keragaman partisipasi berdasarkan input
yang disumbangkan, dan berdasarkan keikutsertaannya dalam memanfaatkan hasil
pembangunan.

4. Tingkatan partisipasi dan upaya meningkatkan partisipasi masyarakat.


Menurut Wilcox (1988) ada lima tingkatan atau tahapan partisipasi yaitu :
a. Memberikan informasi (information).
b. Konsultasi (consultation), yaitu menawarkan pendapat dan sebagai pendengar
yang baik untuk memberikan umpan balik tetapi tidak terlibat dalam
implementasi ide dan gagasan tersebut.
c. Pengambilan keputusan (deciding together), yaitu memberikan dukungan
terhadap ide, gagasan, pilihan-pilihan serta mengembangkan peluang yang
diperlukan untuk pengambilan keputusan.
d. Bertindak bersama (acting together), artinya tidak sekedar ikut dalam
pengambilan keputusan, tetapi juga terlibat dan menjalin kemitraan dalam
pelaksanaan kegiatannya .
e. Memberikan dukungan (supporting independent community interest), yaitu
kelompok-kelompok lokal menawarkan pendanaan, nasehat dan dukungan lain
untuk mengembangkan agenda kegiatan.

5. Derajat kesukarelaan partisipasi.


Partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah karena adanya kesukarelaan
anggota masyarakat untuk terlibat dan atau melibatkan diri dalam kegiatan
pembangunan.
a. Menurut Dusseldorp (1981), tingkat kesukarelaan masyarakat untuk
berpartisipasi ada beberapa jenjang yaitu :
1) Partisipasi spontan.
Yaitu peran-serta yang tumbuh karena motivasi instrinsik (dari dalam)
berupa pemahaman, penghayatan dan keyakinannya sendiri.
2) Partisipasi terinduksi.
Yaitu peran-serta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi
ekstrinsik (dari luar) berupa bujukan, pengaruh, dorongan. Meskipun yang
bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.
3) Partisipasi tertekan oleh kebiasaan.
Yaitu tumbuhnya peran-serta karena adanya tekanan yang dirasakan, atau
peran-serta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan, nilai-nilai atau
norma-norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Ada kekhawatiran
apabila tidak berperan-serta akan dikucilkan oleh masyarakatnya.
4) Partisipasi tertekan oleh alasan sosial ekonomi.
Yaitu peran-serta yang dilakukan karena rasa khawatir atau takut kehilangan
status sosial atau menderita kerugian karena tidak memperoleh bagian
manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan.
5) Partisipasi tertekan oleh peraturan.
Yaitu peran-serta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari
peraturan ataupun ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan.

b. Bentuk partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan kemauan politik penguasa/


pemerintah (political will) dengan tujuan memberikan kesempatan kepada
5

masyarakat untuk berpartisipasi. Menurut Raharjo (1983) ada tiga variasi bentuk
partisipasi yang berkaitan dengan political will yaitu :
1) Partisipasi terbatas.
Yaitu partisipasi yang hanya digerakkan untuk kegiatan-kegiatan tertentu
demi tercapainya pembangunan. Tetapi untuk kegiatan tertentu yang
dianggap menimbulkan kerawanan bagi stabilitas nasional dan kalangan
pembangunan sulit diatasi.
2) Partisipasi penuh.
Yaitu partisipasi seluas-luasnya dalam segala aspek kegiatan pembangunan.
3) Mobilisasi tanpa partisipasi.
Yaitu partisipasi yang dibangkitkan oleh pemerintah/penguasa, tetapi
masyarakat sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mempertimbangkan
kepentingan pribadi, turut mengajukan tuntutan ataupun mempengaruhi
jalannya kebijakan pemerintah.

III. SYARAT TUMBUHNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DAN MASALAH-MASALAH YANG


DIHADAPI.
1. Syarat tumbuhnya partisipasi masyarakat.
Pada hakikatnya pemberdayaan adalah untuk menyiapkan masyarakat agar mampu
dan mau secara aktif berpartisipasi dalam setiap program dan kegiatan
pembangunan. Tujuannya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat baik dalam
hal sosial, ekonomi, fisik maupun mental.
Partisipasi masyarakat merupakan sesuatu yang harus ditumbuhkembangkan dalam
proses pembangunan, namun dalam kenyataannya hal ini tidak selalu diupayakan
dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak tumbuh dan kembangnya partisipasi
masyarakat dalam pembangunan mensyaratkan adanya kepercayaan dan
kesempatan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk terlibat
secara aktif dalam proses pembangunan.
Hal ini memberikan indikasi adanya pengakuan aparat pemerintah bahwa
masyarakat bukan sekadar objek atau penikmat hasil pembangunan, tetapi
masyarakat adalah subyek atau pelaku pembangunan yang memiliki kemampuan
dan kemauan yang bisa diandalkan.

2. Tumbuh dan kembangnya partisipasi masyarakat.


a. Tumbuh kembangnya partisipasi masyarakat seringkali terhambat karena
persepsi yang kurang tepat antara lain :
1) Menganggap masyarakat hanya sebagai obyek pembangunan.
2) Menilai masyarakat sulit diajak maju.
3) Masyarakat sudah terlalu lama direkayasa penguasa untuk tidak perlu
berpikir, sehingga lebih suka menerima apapun yang harus
dilakukan/diinstruksikan. Daripada harus ikut bersusah payah berpikir,
merencanakan, mamantau dan mengevaluasi kegiatan yang ditawarkan.

b. Pernyataan dari Slamet (1985) bahwa tumbuh dan kembangnya partisipasi


masyarakat dalam pembangunan sangat ditentukan oleh tiga unsur pokok yaitu :
1) Adanya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi.
Dalam kenyataan banyak program pembangunan yang kurang mendapatkan
partisipasi dari masyarakat karena kurangnya kesempatan yang diberikan
6

pada masyarakat. Selain itu juga masyarakat sering kurang informasi tentang
kapan dan dalam bentuk apa masyarakat dituntut untuk berpartisipasi.
2) Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.
Adanya kesempatan-kesempatan yang disediakan tidak banyak berarti,
kalau masyarakatnya sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk
berpartisipasi.
3) Adanya kemauan masyarakat untuk berpartisipasi.
Kemauan untuk berpartisipasi yang utama ditentukan oleh sikap mental
yang dimiliki oleh masyarakat untuk membangun atau memperbaiki
kehidupannya.

c. Upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat.


Berlandaskan ketiga unsur pokok tumbuh kembangntya partisipasi masyarakat,
upaya yang bisa dilakukan adalah :
1) Pemberian kesempatan yang dilandasi oleh pemahaman bahwa masyarakat
memiliki kemampuan dan kearifan tradisional yang berkaitan dengan
sumber daya alam dan lingkungan hidupnya.
2) Penyuluhan yang intensif dan berkelanjutan, berupa penyampaian informasi
tentang kesempatan yang diberikan, dorongan dan harapan-harapan agar
masyarakat mau berpartisipasi, upaya terus menerus untuk meningkatkan
kemampuannya berpartisipasi.
3) Penjelasan kepada masyarakat tentang besarnya manfaat yang akan
dinikmati sendiri maupun oleh generasi mendatang baik yang ekonomis,
non ekonomis, langsung maupun tidak langsung.

3. Masalah-masalah partisipasi masyarakat.


Beberapa masalah yang berkaitan dengan pengembangan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan seperti di-identifikasikan oleh Soetrisno (1995) adalah :
a. Belum dipahaminya makna sebenarnya tentang partisipasi oleh pihak perencana
dan pelaksana pembangunan.
b. Dengan dikembangkannya pembangunan sebagai ideologi baru yang harus
diamankan dan dijaga ketat, kemudian mendorong aparat pemerintah menjadi
otoriter. Kondisi seperti itu dapat menimbulkan reaksi balik berupa “budaya
diam” yang pada akhirnya menumbuhkan keengganan masyarakat untuk
berpartisipasi.
c. Banyaknya peraturan yang meredam keinginan masyarakat untuk berpartisipasi.

4. Komunikasi pembangunan untuk pengembangan partisipasi masyarakat.


Tumbuh dan kembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan bisa
diupayakan melalui kegiatan pemberdayaan yang dalam praktiknya dilakukan
melalui kegiatan komunikasi pembangunan.
Tujuan komunikasi pembangunan adalah untuk :
a. Memasyarakatkan pembangunan dan menyampaikan pesan pembangunan.
b. Menumbuhkan, menggerakkan dan memelihara partisipasi masyarakat dalam
proses pembangunan.
7

Komunikasi pembangunan tidak selalu hanya dimaksudkan untuk menumbuhkan


partisipasi sukarela, tapi dalam hal-hal tertentu komunikasi pembangunan dapat
diarahkan untuk tumbuhnya partisipasi paksaan (mobilisasi tanpa partisipasi).
Di dalam komunikasi pembangunan perlu diupayakan agar semua lapisan
masyarakat ikut berpartisipasi, terutama dalam pemberian input dan
keikutsertaannya memanfaatkan hasil-hasil pembangunan.

Jakarta, 9 Oktober 2015


Pengajar, Dwitularsih Sukowati,[Link].

Anda mungkin juga menyukai