0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan9 halaman

Asal Usul Kerapan Sapi Madura

Kerapan sapi awalnya merupakan tradisi rakyat Madura yang diselenggarakan setelah panen untuk merayakan hasil panen. Namun kini kerapan sapi telah bergeser dari tradisinya dan lebih banyak mengandung sisi negatif. Kontes sapê sono' dan sapi hias dinilai lebih layak untuk dilestarikan sebagai representasi budaya Madura.

Diunggah oleh

Dzikra Nasyaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan9 halaman

Asal Usul Kerapan Sapi Madura

Kerapan sapi awalnya merupakan tradisi rakyat Madura yang diselenggarakan setelah panen untuk merayakan hasil panen. Namun kini kerapan sapi telah bergeser dari tradisinya dan lebih banyak mengandung sisi negatif. Kontes sapê sono' dan sapi hias dinilai lebih layak untuk dilestarikan sebagai representasi budaya Madura.

Diunggah oleh

Dzikra Nasyaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERAPAN SAPI; “PESTA” RAKYAT MADURA

(Perspektif Historis-Normatif)

Mohammad Kosim

(Dosen tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan, Peserta Program Doktor
IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Abstrak :
Semula, kerapan sapi diselenggarakan sebagai kesenian rakyat khas Madura yang diadakan setiap selesai
panen dalam rangka “pesta panen”. Kini, kerapan sapi telah bergeser jauh dari tradisi aslinya, tercerabut
dari akarnya. Bergeser dari yang semula kesenian ke komersialisasi, dari festival ke bullraces. Dengan
perubahan orientasi tersebut, kerapan sapi masa kini mengandung lebih banyak sisi negatif dibanding
positifnya. Karena itu, menjadi tidak arif dan tak bijaksana mempertahankan tradisi yang kini cenderung
anarkis tersebut, kecuali dikembalikan pada tradisi aslinya. Jika tidak, masih ada tradisi khas Madura
lainnya—terkait dengan perlombaan sapi-- yang lebih layak dilestarikan dan lebih cocok dengan
karakter orang Madura yang andep asor. Tradisi tersebut adalah kontes sapê sono’ dan sapi hias.

Kata Kunci :
Madura, kerapan sapi, sapê sono’, sapi hias

Pendahuluan kali digelar kerapan sapi, utamanya


Pulau Madura, yang oleh sementara kerapan sapi gubeng, Madura dibanjiri
kalangan dipandang sebagai “ekor” pengunjung dari luar Madura termasuk
kebudayaan Jawa, ternyata memiliki wisatawan mancanegara. Oleh karena itu,
beberapa tradisi unik yang tidak ditemukan sangat beralasan apabila kerapan sapi
di Pulau Jawa, termasuk di pulau lainnya di dinobatkan sebagai salah satu obyek wisata
Indonesia. Diantara tradisi unik tersebut budaya primadona andalan Jawa Timur.
adalah ‘kerapan sapi’. Kuntowidjoyo Bahkan ketika Jawa Timur menjadi tuan
menggambarkan tradisi khas Madura ini rumah PON XV tahun 2000 lalu, kerapan
sebagai suatu kombinasi dari perayaan sapi dipilih sebagai simbol kemegahan
rakyat, hiburan, pertunjukan kesehatan spesifik pesta olahraga paling prestisius di
ternak, dan pacuan sapi.1 Tradisi yang telah tanah air itu.2
berlangsung turun temurun ini selalu Makalah berikut, dengan segala
menarik perhatian masyarakat luas. Setiap keterbatasannya, berupaya men-
deskripsikan beberapa hal terkait dengan
1Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris
Madura 1850-1940 (Yogjakarta : Mata Bangsa, 2002), hlm. 2M. Sjamsul Arif, Musim Kerapan Sapi di Madura
371. ([Link] com/news), hlm. 2.
Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

kerapan sapi, utamanya mengenai asal-usul kepada mereka. Ketika menancapkan


kerapan sapi, pelaksanaan kerapan sapi tongkat ke tanah harus didahului dengan
masa kini plus manfaat-mudaratnya. Tulisan membaca basmalah. Pada saat memasukkan
ini juga mengetengahkan kontes sapi sono’ benih jagung ke tanah yang telah dilubangi,
dan sapi hias sebagai alternatif lain dalam harus diawali dengan membaca dua
perlombaan sapi di Madura. kalimah syahādat. Kemudian setelah panen,
harus dibarengi dengan ungkapan rasa
Asal Usul Kerapan Sapi syukur kepada Allah Sang Maha Pencipta.
Disebut kerapan sapi karena dua Untuk tujuan ini, kaum petani diajari cara
pasang sapi jantan diadu cepat larinya (ê melaksanaan ibadah salat lima waktu.
kerrap) sejauh jarak tertentu. Setiap satu Demikian seterusnya, cara tersebut diulang-
pasang sapi dikendalikan seorang joki ulang sampai akhirnya pemeluk Islam
(bhuto/tokang tongko’) dengan memakai semakin bertambah.
peralatan/perlengkapan berupa pangonong Suatu ketika, kyai Baidawi melaporkan
dan kalêlês. Yang paling awal sampai ke keberhasilan misi dakwahnya kepada
garis finis dianggap sebagai pemenang. Sunan Kudus yang telah mengutusnya.
Berdasar cerita yang berkembang di Atas keberhasilan tersebut, kyai Baidawi
masyarakat Madura, keberadaan kerapan diperintahkan untuk tinggal menetap di
sapi tak bisa dilepaskan dari figur Kyai Madura meneruskan misi dakwahnya.
Ahmad Baidawi (yang dikenal dengan Namun sebelum kembali ke Madura,
sebutan Pangeran Katandur), salah seorang keduanya berdoa kepada Allah agar jagung
penyebar Islam di Madura.3 Konon, kyai yang ditanam tidak lagi berumur 1 hari,
Baidawi menyebarkan Islam di Madura melainkan 100 hari. Dan doa tersebut
(utamanya di Sumenep) atas perintah Sunan dikabulkan. Maka, setiba kembali di
Kudus, salah seorang dari sembilan wali Madura kyai Baidawi menjelaskan kepada
berpengaruh dalam penyebaran Islam di masyarakat tentang perubahan masa panen
tanah Jawa. Sebelum berangkat ke Madura, dari 1 hari menjadi 100 hari. Karena sudah
Sunan Kudus memberi bekal kepada kyai merasakan manfaat tanaman jagung,
Baidawi berupa dua tongkol jagung perubahan masa panen tidak menyurutkan
(janggel) yang masih utuh. Setiba di semangat petani menamam jagung.
Madura, beliau tidak langsung berdakwah, Semakin hari masyarakat yang bercocok
melainkan mengajarkan pola bercocok tanam jagung terus bertambah. Maka
tanam jagung. Yang membuat masyarakat jadilah jagung sebagai makanan pokok
tertarik adalah cara bercocok tanam yang orang Madura. Yang unik, jagung Madura
unik. Umur jagung hanya 1 hari. Begitu berbeda dengan jagung Jawa. Ukurannya
jagung ditanam pagi hari, besoknya bisa kecil tapi manis, tahan iklim kering, tidak
langsung dipanen. Sudah bisa diduga, peka pada serangan hama dan penyakit.
masyarakat sangat antusias belajar bercocok Selain bijinya dipanen untuk makanan
tanam kepada sang kyai. Kesempatan pokok, bunga dan daunnya menjadi sumber
tersebut tidak disia-siakan oleh beliau untuk makanan utama ternak sapi.
sambil mengajarkan dasar-dasar Islam Dalam perkembangan berikutnya,
karena pengolahan tanah pertanian dengan
3Sutjitro,“Gengsi, Magic, dan Judi; Kerapan Sapi di tenaga manusia dirasa kurang efektif,
Madura”, dalam Soegianto (ed), Kepercayaan, Magi, dan muncul ide kyai Baidawi untuk
Tradisi dalam Masyarakat Madura (Jember; Tapal Kuda,
2003), hlm. 157-159.
menggunakan tenaga hewan, yaitu sapi.

KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007 69


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

Caranya, sepasang sapi dilengkapi dengan ternak sapi. Ternyata benar, penggunaan
pangonong dan nangggeleh atau salageh, tenaga sapi dalam bercocok tanam dan
kemudian seorang petani—sambil diadakannya kerapan sapi setiap pasca
memegang ujung nanggeleh/salageh-- panen secara tidak langsung merangsang
mengikuti dari belakang untuk membajak orang Madura beternak sapi. Makin lama
tanah-tanah yang hendak ditanami. Cara orang Madura semakin banyak memelihara
seperti ini oleh orang Madura disebut asaka’ sapi, sampai akhirnya hampir setiap
dan/asalageh. Bagi para petani, mengolah keluarga memelihara sapi. Motif
tanah dengan cara baru ini cukup memelihara sapipun semakin berkembang,
menyenangkan, lebih-lebih jika diselingi tidak sekedar sebagai alat untuk bertani,
dengan permainan yang menggembirakan tapi juga untuk diperdagangan, sebagai alat
dengan cara mengadakan lomba adu lari transportasi (penarik jikar/dokar), dan
sapi sambil me-nyaka’ sawah. Dengan cara disembelih pada waktu-waktu tertentu.
ini, betapapun banyaknya pekerjaan asaka’ Singkatnya, ternak sapi kemudian
yang harus diselesaikan, karena dikerjakan berkembang menjadi sumber ekonomi
sambil berlomba, para petani tak merasakan kedua yang penting setelah tanah pertanian.
beratnya pekerjaan. Dalam sejarahnya, orang Madura
Bertani dengan menggunakan jasa sapi dikenal sebagai peternak yang baik
membuat petani lebih cepat mengolah lahan meskipun rerumputan jarang dan tidak
dan hasil pertanianpun lebih banyak dari terdapat tanah kosong atau padang rumput,
sebelumnya. Dampaknya, kehidupan kecuali di pulau-pulau bagian timur.
masyarakat semakin makmur. Untuk Diceritakan bahwa seorang pemilik sapi,
mensyukuri hasil tani yang semakin apabila datang dari bepergian, pertama-
melimpah, setiap pasca panen kyai Baidawi tama sekali akan langsung menuju ke
menyelenggarakan “pesta panen” di sebuah kandang ternaknya baru kemudian ke
alun-alun dengan hiburan lomba lari sapi keluarganya. Diceritakan pula orang
yang diiringi musik-musik tradisional. Madura terbiasa tidur di kandang sapi
Momentum itu, oleh kyai Baidawi, juga mereka daripada di rumah bagus bersama
digunakan sebagai forum pembagian zakat keluarganya.5
hasil tani kepada yang berhak (mustahiqqîn). Sapi Madura berbeda dengan sapi
Sejak itu, kerapan sapi menjadi tradisi turun wilayah lainnya. Memiliki ukuran kecil dan
temurun yang tetap lestari hingga sekarang. berwarna kuning kecoklat-coklatan.
Istilah ‘kerapan’ atau ‘karapan’ yang Menurut ahli peternakan Belanda, sapi
dipakai hingga kini sebenarnya berasal dari Madura merupakan trah khusus. Sekalipun
kata ‘garapan’, karena pada awalnya bertubuh kecil--sehingga berdaging sedikit--
perlombaan sapi diadakan para petani dan tak menghasilkan susu, sapi Madura
sambil ‘menggarap’ sawahnya.4 sangat cocok untuk alam Madura yang
Maksud kyai Baidawi beriklim kering. Oleh karena itu, di masa
menyelenggarakan kerapan sapi setiap Belanda dibuat aturan yang melarang
pasca panen tidak hanya sebatas menghibur masuknya sapi luar ke Madura untuk
para petani, melainkan juga memotivasi menjaga kemurnian trah yang mapan. Sapi
petani untuk meningkatkan pemeliharaan khas ini pulalah yang menyebabkan tradisi
kerapan sapi Madura dapat membudaya
4Rosida, Madura; Kebudayaan dan Mata Pencaharian
Rakyatnya (Jakarta : Pustaka Jaya, 1986), hlm. 18. 5Kuntowijoyo, Perubahan Sosial, hlm. 371.

70 KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

dan terus terlestarikan sampai saat ini.6 tergantung kebutuhan penyelenggara.


Menurut Glenn Smith, sapi Madura berasal Termasuk dalam kategori ini adalah
dari perkawinan silang antara banteng lokal kerapan sapi pesanan, kerapan adat, dan
(bos javanicus) dengan jenis Sinhala atau kerapan nadzar.
Ceylon dari Zebu yang sudah dijinakkan Pada kerapan sapi formal, agenda
(bos indicus). Hal ini ditunjukkan dengan lomba diawali dari tingkat kecamatan
adanya sejumlah sapi Madura yang (berlangsung antara bulan Agustus-
memiliki kulit sangat gelap atau garis hitam September), kemudian tingkat kabupaten
yang membujur sepanjang punggung, dan (berlangsung antara bulan September-
sebagian besar mempunyai kaki putih Oktober), dan puncaknya adalah tingkat
(tanda-tanda keturunan banteng). karesidenan/tingkat Madura yang
Sedangkan darah keturunan Zebu berlangsung antara bulan Oktober-
ditunjukkan oleh adanya punuk kecil yang 9
Nopember. Yang terakhir ini biasa disebut
sangat menonjol pada sapi jantan.7 dengan kerapan sapi gubeng, yang diikuti
empat kabupaten di Madura, dan
Kerapan Sapi Masa Kini hadiahnya sangat bergengsi, yakni
Kerapan sapi masa kini tidak sama memperebutkan piala bergilir presiden RI.
dengan di masa lampau. Kini, pelaksanaan Dalam kerapan sapi gubeng, pesertanya
kerapan sapi sangat kompleks, banyak terdiri atas 24 pasang sapi mewakili empat
pihak terlibat di dalamnya, motif dan jenis kabupaten di Madura (Bangkalan,
kerapan sapi-pun beragam. Secara umum Sampang, Pamekasan, dan Sumenep).
penyelenggaraan kerapan sapi masa kini Masing-masing kabupaten mengirim 6
dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, pasang hasil seleksi jenjang di bawahnya.
yakni jenis kerapan sapi formal dan non- Pelaksanaan kerapan sapi gubeng harus
formal.8 Kerapan sapi formal diseleng- memenuhi standar sebagaimana telah
garakan secara rutin tiap tahun oleh panitia diatur dalam Konferensi Karesidenan
yang dibentuk pemerintah. Waktu pelak- Madura tahun 1956. Diantara ketentuan
sanaannya relatif tetap dan pemenangnya yang harus diikuti adalah; umur sapi
mendapat hadiah. Puncak kerapan sapi peserta minimal 2 tahun, tinggi sapi peserta
formal adalah kerapan sapi gubeng yang harus mencapai 120 cm, jarak tempuh kerap
memperebutkan piala bergilir Presiden RI. 130 meter, dan sapi peserta dalam keadaan
Sedangkan kerapan sapi non-formal tidak sehat yang dinyatakan oleh dokter hewan.10
selalu diselenggarakan panitia tertentu, Kerapan sapi gubeng biasanya diawali
walaupun pelaksanaannya tetap diawasi dengan acara êpamantan, yakni “pawai”
aparat kepolisian karena menyangkut keliling lapangan yang diikuti 24 pasang
ketertiban dan keamanan. Pemenangnya sapi peserta lomba, guna mempertontonkan
ada yang mendapat hadiah ada yang tidak. betapa anggun, tegar dan gagahnya semua
Pelaksanaannya bersifat insidentil, pasangan sapi kerap yang siap berlaga.
Dalam acara ini setiap pasang sapi
6Mien A. Rifai, Lintasan Sejarah Madura (Surabaya : Yayasan dilengkapi hiasan dan aksesoris khas
Lebbur Legga, 1993), hlm. 65 Madura di hampir sekujur tubuhnya, mulai
7Glenn Smith, “Pentingnya Sapi dalam Masyarakat

Madura”, dalam Huub de Jonge, Agama, Kebudayaan, dan


Ekonomi; Studi-Studi Interdisipliner Tentang Masyarakat 9Selayang Pandang Pamekasan (Pamekasan; Dinas Infokom,
Madura (Jakarta : Rajawali, 1989), hlm. 277-278. 2003), hlm. 37.
8Sutjitro, “Gengsi, Magic, dan Judi; Kerapan Sapi di 10A. Sulaiman Sadik, Mengenal Selintas Tentang Budaya

Madura”, hlm. 159. Madura (Tanpa Penerbit), hlm. 80-81.

KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007 71


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

dari kedua tanduk, leher, moncong mulut, Tentang ramuan jamu untuk calon sapê
bahkan sampai ekornyapun dibungkus kerrap, Sulaiman Sadik12 menceritakan;
dengan hiasan gemerlap. “Pawai” pasangan untuk empê’ (anak sapi)—agar cepat besar—
sapi kerap tersebut bertambah semarak ramuannya meliputi daun sirih temu urat
karena diiringi atraksi menarik musik 20 lembar, buah asam dan gula merah.
tradisional khas Madura, saronên, yang Setelah empê’ berumur 3 bulan diberi
dimainkan oleh 6 sampai 8 orang. Dengan ramuan jamu yang terbuat dari air kopi,
pakaian tradisional khas Madura yang kaya daun kedelai, nasi yang sudah basi,
asesoris dan corak warna menyolok, bahkan gaddung, bawang merah, tepung terigu, dan
kadang lengkap dengan udeng dan gula merah. Jamu ini dimaksudkan agar
kacamata hitamnya, para pemain saronên sapi bisa lahap makan. Kemudian, agar sapi
menunjukkan kelihaian berjingkrak- bisa berlari kencang, ramuan jamunya
jingkrak dan keterampilan memainkan adalah anggur, arak/bir, 20 butir telur, jahe,
tetabuhan, sambil melantunkan kidung- cuka, madu, air perasan lombok, cabe jamu,
kidung bernada sakral yang buah asam, gula merah, kunyit, garam,
menggambarkan heroisme pasangan sapi daging ayam yang sudah direbus. Jamu
kerap yang siap berlaga. Disamping musik tersebut diberikan setiap minggu, kian
saronên, para penonton juga disuguhi tari dekat acara kerapan pemberian jamu
pecut massal khas Madura. Setelah itu, semakin sering dan semakin meningkat.
barulah acara kerapan dimulai.11 Misalnya, jika hari-hari biasa sapê kerrap
membutuhkan 10-20 butir telur, menjelang
Mempersiapkan Sapê Kerrap lomba bisa menghabiskan 80-100 butir telur
Untuk meraih juara dalam setiap even perharinya. Alhasil, biaya pemeliharaan
kerapan sapi tidak mudah, apalagi di ajang sapi kerapan sangat tinggi, sehingga tidak
kerapan sapi gubeng. Diperlukan ikhtiar semua orang bisa melakukannya.
maksimal dari pemilik kerapan sapi, mulai Selain perawatan di atas, calon sapê
dari persiapan hingga pelaksanaan. Untuk kerrap sejak dini harus dibiasakan berlatih
mendapatkan sapi yang tangguh dan siap lari di lapangan. Latihan ini biasanya
tanding tidak mudah, dan biaya dimulai sejak usia sapi mencapai delapan
perawatannya sangat besar. Sapi harus bulan. Melatih sapi secara rutin
dipilih dari bibit yang unggul. Merawatnya dimaksudkan agar sapi terbiasa berlari dan
harus ulet, telaten, sabar, dan ahli. Oleh kenal medan lapangan pertandingan. Di
karena itu, pemilik sapi harus mengupah samping itu, agar pasangan sapi kompak
perawat yang ahli dan telah paham benar dan serasi berlari di tengah lapangan.
dengan karakter sapi. Diantara Kekompakan sepasang sapê kerrap sangat
perawatannya adalah, setiap hari sapi penting agar bisa berlari serempak dan
dimandikan, dijemur di bawah terik kencang.13 Membuat sapi kompak dan
matahari pagi, dipijat, diberi makan dan serasi bukan pekerjaan mudah, mengingat
jamu-jamuan. Makanan utamanya adalah setiap sapi memiliki karakter berbeda. Oleh
rumput dan daun jagung muda yang selalu karena itu, pelatih di samping harus ahli
harus dalam keadaan segar. juga harus sabar dan sayang kepada sapi.

Sadik, Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura, hlm. 81.


12
13Sutjitro,
“Gengsi, Magic, dan Judi; Kerapan Sapi di
11 Sjamsul Arif, Musim Kerapan Sapi di Madura, hlm. 2. Madura”, hlm. 165.

72 KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

Semua proses perawatan dan pelatihan berdarah-darah. Semua itu dilakukan agar
sapê kerrap tersebut dilakukan oleh joki. Hal sapi bisa berlari sekencang-kencangnya
ini dimaksudkan agar joki dan sapê kerrap dalam rangka memenangkan pertandingan.
memiliki ikatan emosional yang erat. Dengan berbagai upaya di atas, kecepatan
Bahkan untuk membangun ikatan tersebut, lari yang ditunjukkan setiap pasang sapi
sang joki tak jarang tidur di kandang sapi, sangat spektakuler. Arena lapangan kerap
terutama 40 hari menjelang kerapan sapi sepanjang 130 meter kadang ditempuh
digelar. Karena uniknya perawatan sapi hanya dalam durasi 9 sampai 10 detik,
kerap tersebut, Dinas Pariwisata Jawa sungguh mengagumkan16.
Timur menjadikan ‘perawatan sapi kerap’ Pada akhirnya, yang diidam-idamkan
sebagai obyek wisata terbaik di Jawa Timur para pemilik sapi kerap adalah menang.
dengan menobatkannya sebagai pemenang Karena dengan memenangkan
“The Most Achievement of Development” pertandingan, piala bergilir Presiden bisa
dalam kelompok obyek wisata budaya. 14 diraih, harga sapi akan naik sampai
Persiapan yang tak kalah pentingnya puluhan bahkan ratusan juta, dan yang
adalah saat mendekati pelaksanaan paling penting gengsi pemilik akan
kerapan. Pemilik sapi tidak cukup hanya terangkat. Tidak jarang, agar menjadi juara,
dengan persiapan-persiapan rasional di cara-cara tidak fair pun dilakukan oleh para
atas. Pendekatan magic-pun dilakukan. pemilik sapi, sehingga di arena kerapan sapi
Mereka perlu “berdo’a” kepada Yang Maha seringkali terjadi konflik.
Kuasa dan mendatangi “orang pintar” atau
dukun untuk mendapatkan jampi-jampi Kerapan Sapi; Menimbang Manfaat dan
demi kemenangan sapi miliknya. Selain Mudarat
upaya magic, usaha lain yang biasa Sejumlah uraian di atas
dilakukan, terutama pada saat kerapan akan menunjukkan bahwa kerapan sapi masa
dimulai, adalah membuat sapi marah agar kini berbeda jauh dengan di masa lampau.
bisa berlari kencang. Upaya ini dilakukan Kerapan sapi masa kini telah bergeser jauh
dengan cara menyiksa pasangan sapi yang dari tradisi aslinya, tercerabut dari akarnya.
akan bertanding. Cara-cara yang biasa Bergeser dari yang semula kesenian ke
dilakukan adalah; mengolesi seluruh badan komersialisasi, dari festival ke bullraces.17
sapi dengan lombok, matanya diolesi Pergeseran orientasi tersebut menjadikan
rheumason, pantatnya dilukai dengan paku, kerapan sapi masa kini sarat dengan sisi
dan di atas luka tersebut dilumuri dengan negatif, misalnya; pertama, unsur
cabe dan rheumason. Dengan cara demikian, penyiksaan terhadap binatang sangat
sapi menjadi marah dan seakan kesurupan, kentara, dipertontonkan (oleh joki) di
matanya melotot dan nafasnya mendesis.15 hadapan ribuan pengunjung sambil diiringi
Pada saat bertandingpun penyiksaan tetap tepuk tangan meriah penonton. Menyiksa
dilakukan oleh si joki. Sambil duduk di binatang jelas merupakan perbuatan tak
kalêlês, si joki berusaha sekuat tenaga manusiawi, anarkis, amoral, bertolak
mencambuk sapi dengan paku yang telah
dibentuk seperti parut sampai pantat sapi 16Bandingkan dengan kecepatan lari sprinter top dunia
setara Carl Lewis, Ben Johnson, Linford Christie atau
Mitchel Green, yang hanya mampu berlari dalam kisaran 9
14Taufiqurrahman, “Bhuto Tidur dengan Sapinya 40 Hari di detik untuk nomor lari 100 meter.
Kandang”, Radar Madura (Selasa, 26 September 2006), hlm. 17Wawancara dengan Edi Setiawan SH, salah seorang

29-31. pemerhati masalah-masalah Madura, tinggal di Sumenep


15Ibid., hlm. 166. [wawancara dilakukan pada bulan Oktober 2006].

KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007 73


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

belakang dengan nilai-nilai budaya Madura yang sebagian “disediakan” untuk pesta
yang andep asor, dan bertentangan dengan esek-esek dan mabuk-mabukan.
ajaran agama. Rasanya tidak ada agama Di samping sisi negatif, kerapan sapi
apapun di dunia yang membolehkan juga memiliki sejumlah catatan “positif”,
menyiksa binatang. Bahkan, dalam agama misalnya; pertama, acara kerapan sapi dapat
tertentu, sapi merupakan simbol kesucian. menjadi pelestari tradisi dan budaya
Kedua, biaya pemeliharaan sapê kerrap sangat Madura, karena mengiringi acara tersebut
berlebihan dan terkesan boros, juga ditampilkan beberapa tradisi dan
mengalahkan biaya hidup pemilik dan budaya Madura lainnya, seperti tari pecut
keluarganya. Kalaupun memenangkan dan musik saronên. Kedua, dengan kerapan
pertandingan, hadiah yang diterima tidak sapi, pariwisata Madura bisa terus
akan sebanding dengan biaya pemeliharaan berkembang. Kerapan sapi diakui telah
yang telah dikeluarkan, kecuali hanya mampu menyedot banyak wisatawan, baik
untuk menaikkan gengsi pemiliknya. Ketiga, wisatawan domestik maupun mancanegara.
arena kerapan sapi biasanya menjadi ajang Kedatangan mereka ke pesta kerapan sapi
empuk bagi para petaruh. Antara kerapan di samping memberi keuntungan secara
sapi dan taruhan/judi bagai gula dan ekonomis juga bisa mengenalkan
semut. Di mana ada kerapan mesti ada “kekayaan” Madura kepada orang luar.
taruhan/judi. Memang bukan hanya acara Ketiga, pelaksanaan kerapan sapi yang
kerapan sapi yang bisa menjadi ajang mampu menyedot ratusan bahkan ribuan
pertaruhan, akan tetapi taruhan di arena ini pengunjung, merupakan berkah tersendiri
lebih “bergengsi” karena melibatkan bagi para pedagang kaki lima. Acara
banyak petaruh kelas kakap yang bukan tahunan tersebut tentu selalu ditunggu oleh
saja petaruh lokal melainkan juga petaruh para pedagang untuk mengais rezeki di
dari luar Madura. Keempat, dalam arena tengah himpitan hidup yang semakin sulit.
kerapan sapi sering terjadi konflik yang
kadang-kadang bisa menelan korban jiwa. Sapê Sono’ dan Sapi Hias; Sisi Lain
Konflik tersebut bisa terjadi antar pemilik Perlombaan Sapi
sapi dan antar petaruh. Konflik antar Di samping kerapan sapi, rakyat
pemilik sapi biasanya dipicu oleh upaya Madura juga memiliki tradisi lain terkait
permainan curang, seperti berkolusi dengan dengan perlombaan sapi, yakni sapê sono’
juri atau joki untuk memenangkan dan sapi hias. Kedua tradisi ini lebih
pertandingan. Konflik tersebut tidak jarang mengarah pada ‘kontes’ kecantikan,
diselesaikan—sebagaimana terkadang keanggunan, dan kegagahan sapi. Pada
dilakukan orang Madura—melalui carok,18 kontes sapê sono’ pesertanya terdiri dari
baik di arena kerapan atau di luar arena. sepasang sapi betina dengan postur tubuh
Kelima, arena kerapan sapi seringkali yang sehat dan menarik. Setiap pasang sapi
digunakan sebagai ajang praktik pelacuran dirangkai dengan pangonong dilengkapi
dan mabuk-mabukan. Kendati kerapan sapi pakaian dan hiasan menarik khas Madura.
digelar siang hari, keramaian telah dimulai Disebut sapê sono’ karena beberapa pasang
malam hari sebelumnya. Di sekitar sapi diarak berjalan santai dengan diiringi
lapangan telah berdiri puluhan warung atraksi musik saronên. Setiap pasang sapi
akan melewati (nyono’) pintu gerbang. Di
18Kajian cukup mendalam tentang carok bisa dibaca dalam; bagian atas pintu gerbang dipasang cermin
A. Latief Wiyata, Carok; Konflik Kekerasan dan Harga Diri
besar sehingga bayangan sapi yang
Orang Madura (Yogyakarta : LKiS, 2002).

74 KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

melewatinya akan tampak jelas. Bagi diberikan. Hiasan yang dikenakan


pasangan sapi yang penakut dan tak kontestan sapi hias tidak jauh berbeda
terlatih, ketika melihat bayangannya, tidak dengan sapê sono’, yakni aksesoris beraneka
akan masuk (nyono’) melewati pintu ragam seperti penutup dahi, tutup tanduk,
gerbang, bahkan akan mundur dan sabuk, anting, janggut, kalung, dan kalêlês.
menjauh. Sebaliknya, pasangan sapi yang Tidak diketahui secara pasti, sejak
terlatih dan berani akan terus melangkah kapan dan apa motivasi dari tradisi kontes
melewati (nyono’) pintu gerbang tersebut.19 sapê sono’ dan sapi hias mulai ada?. Menurut
Kontes sapi hias agak berbeda dengan sebagian pendapat, tradisi tersebut lahir
sapê sono’. Jika dalam kontes sapê sono’ sebagai sebuah dampak sosial masyarakat,
pesertanya sepasang sapi betina, pada sapi yakni terkait dengan kondisi keterpurukan
hias diikuti sepasang sapi jantan. Demikian ekonomi masyarakat Madura. Di tengah
pula, cara penilaiannyapun berbeda. Pada situasi itulah muncul sikap apatisme
kontes sapê sono’, yang dinilai adalah masyarakat. Mereka enggan beraktivitas,
keserasian dalam cara berjalan setiap bekerja dan sebagainya. Mereka hanya
pasangan sapi pada jalur sepanjang 25 melampiaskan kepada ternak sapi yang
meter yang harus ditempuh dalam waktu 2 menjadi harta berharganya. Mereka
menit. Setiap pasang sapi harus mengelus, memandikan, menghias, hingga
menginjakkan 2 kakinya di atas papan yang sapi-sapi itu “cantik dan anggun”.21Alasan
telah disediakan. Sedangkan pada kontes lain, tradisi tersebut dilakukan sebagai
sapi hias, yang dinilai adalah aspek sêgeg ungkapan tasyakur kepada Allah karena
(kekokohan), aggung (hiasan), dan tandhang sapi telah banyak membantu masyarakat
(tarian).20 Oleh karena itu, peserta kontes Madura dalam menggarap lahan pertanian
sapi hias tidak berjalan di jalur sepanjang 25 dan menjadi tumpuan dalam memenuhi
meter dalam waktu 2 menit (sebagaimana biaya hidup.
pada kontes sapê sono’).
Pada kontes sapi hias, setiap pasang Penutup
sapi jantan dihentikan setiap berjalan 3 Kontes sapê sono’ dan sapi hias sangat
meter. Sapi lalu dinilai kekokohan berbeda dengan lomba sapê kerrap. Pada
berdirinya. Semakin banyak dia bergerak, kontes sapē sono’ pesertanya adalah
semakin berkurang nilainya. Saat pasangan sepasang sapi betina, kemenangan lomba
sapi berhenti, orang yang mengendalikan diukur dari aspek keindahan postur tubuh
sapi harus menari diiringi irama musik sapi, keanggunan dalam berjalan, dan
saronên (musik khas Madura). Tarian ini kelihaian dalam mengikuti instruksi pelatih.
juga dinilai juri. Setelah itu, di depan Pada kontes sapi hias, kendati diikuti
panggung tempat para juri, sapi berhenti sepasang sapi jantan, kriteria penilaianya
untuk dinilai hiasannya. Saat berhenti di berbeda dengan sapê kerrap. Yang dinilai
depan panggung, pengendali menari lagi. dalam kontes sapi hias adalah aspek sêgeg
Para penonton memberikan uang dengan (kekokohan), aggung (hiasan), dan tandhang
cara memasukkan ke kantong baju sebagai (tarian). Sedangkan pada sapê kerrap,
tanda terima kasih atas hiburan yang pesertanya adalah sepasang sapi jantan
yang kuat dan tangguh. Pemenangnya
19Selayang Pandang Pamekasan, hlm. 38 ; Sadik, Mengenal
Selintas Budaya Madura, hlm. 84.
20Antonius Ponco Anggoro, “Sapi Hias : Atêngka’ Laonan, 21“Demi Kelestarian, Demi Budaya, Demi Solidaritas …”,
Alap-Alap!”, Kompas (Selasa, 5 September 2006). Radar Madura (25 Juni 2006), hlm. 40.

KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007 75


Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura
Mohammad Kosim

ditentukan oleh kecepatan berlari. Pasangan tidak akan mengurangi apresiasi


yang lebih awal melewati garis finis akan masyarakat pencinta kerapan sapi. Kedua,
menjadi pemenang, walaupun untuk tujuan jika kerapan sapi tetap bertahan dengan
itu pasangan sapi harus mendapat siksaan model penyelenggaraan seperti masa kini,
bertubi-tubi dari joki. maka tradisi ini menjadi tidak arif dan tak
Dengan demikian, kontes sapê sono’ bijaksana untuk tetap dilestarikan. Karena--
dan sapi hias sangat kontradiktif--dalam sebagaimana dijelaskan di muka--sisi
banyak hal--dengan lomba sapê kerrap, negatifnya lebih besar daripada positifnya,
terutama dalam hal perlakuan terhadap mudarat-nya lebih besar daripada
binatang. Pada kontes sapē sono’ dan sapi manfaatnya. Meniadakan kerapan sapi
hias, binatang sangat dihormati, sedangkan tidak akan merendahkan martabat orêng
dalam lomba sapē kerap binatang justru Madura. Justru sebaliknya, memper-
mendapat siksaan. tahankan tradisi sapê kerrap seperti yang
Membanding ketiga jenis perlomba- berlangsung masa kini, akan semakin
an sapi (sapê kerrap, sapē sono’, dan sapi hias), meneguhkan pandangan sebagian orang
ada beberapa usulan untuk me- luar terhadap orêng Madura, sebagai suku
ngembangkan ketiga tradisi khas Madura bangsa yang keras dan angkuh, suatu
ini di masa mendatang; pertama, ketiga jenis ungkapan bernada peyoratif yang tak
perlombaan sapi tersebut tetap layak mengenakkan orêng Madura.
dilestarikan, dengan catatan kerapan sapi Jika kerapan sapi ditiadakan, kontes
yang berlangsung seperti masa kini sapê sono’ dan sapi hias bisa menjadi
dikembalikan ke tradisi aslinya, yang tidak alternatif. Apalagi jika kedua kontes ini
menyiksa binatang dan lebih diramaikan dengan tari pecut, musik saronên,
mengedepankan unsur kesenian dan dan acara semalam di Madura, tentu akan
festival, bukan komersialisasi dan bullrace bertambah meriah. Kenapa tidak dicoba?.
(balapan/pertarungan sapi). Wa Allâh a’lam bi al-shawâb
Penyelenggaraan kerapan sapi dengan
model lama diyakini akan tetap meriah dan 

76 KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007

Anda mungkin juga menyukai