Bahan Ajar Program Linear untuk Mahasiswa
Bahan Ajar Program Linear untuk Mahasiswa
KATA PENGANTAR
v
Program linear
Kami sadar bahwa bahan ajar yang disajikan ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu kami mengharapkan masukan dari pihak manapun juga guna
penyempurnaan dimasa mendatang. Akhirnya kami sampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian bahan ajar ini.
Penyusun,
vi
Program linear
Daftar Isi
SAMPUL DEPAN ............................................................................. i
SAMPUL DALAM ............................................................................ ii
IDENTITAS BUKU ............................................................................ iii
HAK CIPTA ...................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ......................................................................... v
SILABUS.......................................................................................... vi
DAFTAR ISI ..................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN
A. Sejarah Singkat Program Linear ............................................. 2
B. Pengertian Program Linear .................................................... 6
C. Asumsi-asumsi Dasar dalam Program Linear ......................... 8
D. Ruang Lingkup Program Linear ............................................. 10
E. Bentuk Umum Program Linear .............................................. 11
Ringkasan ................................................................................... 13
Latihan ....................................................................................... 14
Daftar Pustaka ............................................................................ 15
xvii
Program linear
BAB V DUALITAS
A. Teori Dualitas ....................................................................... 64
B. Hubungan Primal Dual.......................................................... 65
C. Sifat-sifat Primal Dual yang Penting ...................................... 66
Ringkasan .................................................................................. 70
Latihan ...................................................................................... 71
Daftar Pustaka ........................................................................... 73
xviii
Program linear
BAB VII PROGRAM LINEAR METODE SIMPLEKS MINIMISASI
A. Pendahuluan ......................................................................... 87
B. Formulasi Permasalahan Menurut Metode Simpleks
untuk Tanda Pertidaksamaan ................................................ 87
C. Membuat Tabel Awal Simplek ............................................... 90
Ringkasan ................................................................................... 92
Latihan ....................................................................................... 93
Daftar Pustaka ........................................................................... 94
xix
Program linear
BAB X TRANSPORTASI FUNGSI TUJUAN MINIMISASI, KASUS D = S
A. Pendahuluan ..................................................................... 128
B. Membuat Tabel Awal dengan Northwest Corner dan
Least Cost .......................................................................... 130
C. Membuat Tabel Awal Dengan The Least Cost Rule ............ 133
Ringkasan .......................................................................... 135
Latihan .............................................................................. 136
Daftar Pustaka ................................................................... 137
xx
Program linear
xxi
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Mengetahui sejarah program linear
- Menunjukkan beberapa persoalan yang dapat
dipecahkan dengan program linear
- Mengetahui langkah-langkah dalam proses program
linear
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,
karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. 3. Al-Imran :60)
1
Program linear
A. Sejarah Singkat Program Linear
Program linear ditemukan dan dikembangkan oleh beberapa matematikawan
di masa sebelum Perang Dunia ke-II. Penemuan dan pengembangan oleh
beberapa matematikawan tersebut rata – rata didasarkan karena persoalan atau
masalah yang sedang berkembang saat itu, yaitu dalam hal industri dan
peperangan. Beberapa matematikawan tersebut adalah Leonid V. Kartovich,
George B. Dantzig, John von Neumann, Leonid Khachiyan dan Naranda
Karmarkar. Berikut ini pemaparan sejarah penemuan program linear oleh
beberapa matematikawan tersebut di atas.
2
Program linear
3
Program linear
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. 45. Al-Jaatsiyah:13)
4
Program linear
5
Program linear
diamond with faces, edges and vertex. In the cases of many borders, the process
would take an a journey along them before the diamond’s point optimal corner
would be reached”.
1
[Link]
6
Program linear
model matematik yang terdiri dari sebuah fungsi tujuan linier dengan beberapa
kendala linier.2
2. Jaz Heizer dan Barry Rander
Linear programming menurut Jay Heizer dan Barry Rander mengemukakan
bahwa:
“A mathematical technique designed to help operations managers plan and
make decisions relative to the trade-offs necessary to allocate resources”3.
Yang artinya :
“Sebuah teknik matematik yang didesain untuk membantu para manajer
operasi dalam merencanakan dan membuat keputusan yang diperlukan untuk
mengalokasikan sumber daya”.
3. Tjutju Tarliah Dimyati dan Ahmad Dimyati
Menurut Tjutju Tarliah Dimyati dan Ahmad Dimyati mengemukakan bahwa
“Program linier (LP) adalah perencanaan aktivitas-aktivitas untuk
memperoleh suatu hasil yang optimum, yaitu suatu hasil yang mencapai
tujuan terbaik diantara seluruh alternatif yang fisibel”4
2
Hotniar Siringoringo, Seri Teknik Riset Operasional. Pemrograman Linear. (Yogyakarta:
Penerbit Graha Ilmu, 2005) hlm.1
3
Jay Heizer and Barry. Operations Management (10th edition). (New York, NY: Prentice
Hall. Moon, Y. 2004). Hlm 658
4
Tjutju Tarliah Dimyati dan Ahmad Dimyati. 2003. Operations Research: Model-model
Pengambilan Keputusan. (Bandung: Sinar Baru Algensindo). Hlm 17
7
Program linear
pembatasan ini harus dinyatakan dengan ketidaksamaan yang linier (linear
inequalities).
1. Linearitas
Fungsi obyektif dan kendala haruslah merupakan fungsi linier dan variabel
keputusan. Hal ini akan mengakibatkan fungsi bersifat proporsional dan
additif, misalnya untuk memproduksi 1 kursi dibutuhkan waktu 5 jam, maka
untuk memproduksi 2 kursi dibutuhkan waktu 10 jam.
2. Pembagian
Nilai variabel keputusan dapat berupa bilangan pecahan. Apabila diinginkan
solusi berupa bilangan bulat (integer), aka harus digunakan metoda untuk
integer programming.
3. Variabel non negatif
Nilai variabel keputusan haruslah tidak negatif ( ≥ 0).
8
Program linear
4. Kepastian
Semua konstanta (parameter) diasumsikan mempunyai nilai yang pasti. Bila
nilai-nilai parameternya probabilistik, maka harus digunakan formulasi
pemrograman masalah stokastik.
Secara teknis, ada lima syarat tambahan dari permasalahan linear
programming yang harus diperhatikan yang merupakan asumsi dasar, yaitu:
9
Program linear
D. Ruang Lingkup Program Linear
Pada umumnya persoalan-persoalan yang dipecahkan dalam program linear
yaitu meliputi:
1. Allocation Problem
Ini merupakan pemecahan dalam alokasi bahan-bahan/barang dalam
produksi
2. Blending Problem
Ini merupakan cara pemecahan persoalan dari berbagai bahan campuran
yang masing-masing unit dipecahkan dan digabung (blending) untuk
menghasilkan output.
3. Persoalan Transportasi
Ini merupakan pemecahan persoalan yang menyangkut adanya
unit/barang/pasokan dan lain-lain pada beberapa tempat yang akan
dipindahkan ke beberapa tempat lainnya.
4. Persoalan Personil
Ini merupakan penempatan personil sesuai dengan jabatan/tempatnya
(assigment problem).
Suatu persoalan disebut persoalan program linear apabila memenuhi hal-hal
sebagai berikut:
1. Tujuan (objective)
Apa yang menjadi tujuan permasalahan yang dihadapi yang ingin
dipecahkan dan dicari jalan keluarnya. Tujuan ini harus jelas dan tegas yang
disebut fungsi tujuan (objective function). Fungsi tujuan tersebut dapat berupa
dampak positip, manfaat-manfaat, atau dampak negatip, kerugian-kerugian,
resiko-resiko, biaya-biaya, jarak, waktu yang ingin diminimumkan.
2. Alternatif perbandingan
Harus ada sesuatu atau alternatif yang ingin diperbandingkan, misalnya
antara kombinasi waktu tercepat dan biaya tertinggi dengan waktu terlambat
dan biaya terendah, atau alternatif padat modal dengan padat karya, proyeksi
permintaan tinggi dengan rendah, dan seterusnya.
10
Program linear
3. Sumber Daya
Sumber daya yang dianalisis harus berada dalam keadaan terbatas.
Misalnya keterbatasan tenaga, bahan mentah terbatas, modal terbatas, ruangan
untuk menyimpan barang terbatas, dan lain-lain. Pembatasan harus dalam
ketidaksamaan linier (linear inequality). Keterbatasan dalam sumber daya
tersebut dinamakan sebagai fungsi kendala atau syarat ikatan.
4. Perumusan Kuantitatif
Fungsi tujuan dan kendala tersebut harus dapat dirumuskan secara
kuantitatif dalam model matematika.
5. Keterikatan Perubah
Perubah-perubah yang membentuk fungsi tujuan dan fungsi kendala
tersebut harus memiliki hubungan keterikatan hubungan keterikatan atau
hubungan fungsional.
𝑍 = ∑ 𝑐𝑗 𝑥𝑗
𝑗=1
11
Program linear
Sedemikian hingga
𝑛
, 𝑖 = 1,2, … , 𝑚
Dengan syarat 𝑥𝑗 ≥ 0, 𝑗 = 1,2, … , 𝑛. Karena persoalan pemrograman linear
merupakan masalah alokasi sumber daya, maka perumusan di atas dapat
diinterpretasikan bahwa jika (𝑏1 , 𝑏2 , … , 𝑏𝑚 ) adalah jumlah sumber daya ke-i yang
harus dialokasikan pada setiap kegiatan/aktivitas ke-j. Sumbangan laba dari setiap
kegiatan ke-j dinyatakan oleh konstanta 𝑐𝑗 , j = 1,2, ..., n.5
5
Muhammad Arif Tiro. Pengenalan Manajemen Sains. (Makassar: Andira
Fublihser, 2004). Hlm 24.
12
Program linear
Ringkasan
Program linear adalah teknik matematika yang dirancang
untuk membantu manager dalam merencanakan dan
membuat keputusan dalam mengalokasikan sumber daya
yang terbatas untuk mencapai tujuan perusahaan.
Syarat-syarat perumusan suatu masalah ke dalam bentuk
model program linear: (1) Tujuan masalah harus jelas, (2)
Harus ada sesuatu atau beberapa alternatif yang ingin
dibandingkan, (3) Adanya sumber daya yang terbatas, (4)
Bisa dilakukan perumusan kuantitatif, (5) Adanya
keterkaitan peubah (variabel).
13
Program linear
Latihan
1. Program linear sebagai metode ilmiah yang memungkinkan
para manajer mengambil keputusan dengan dasar ...
2. Aplikasi program linear dalam berbagai bidang ditandai
dengan...
3. Fungsi yang dicari solusi optimalnya disebut...
4. Batasan-batasan yang mempengaruhi persoalan terhadap tujuan
yang akan dicapai disebut...
5. Fungsi pembatas pada model program linear disebut...
14
Program linear
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Aminuddin. 2005. Prinsip-prinsip Riset Operasi. Jakarta: Erlangga.
Jay Heizer and Barry. Operations Management (10th edition). New York,
NY: Prentice Hall. Moon, Y. 2004.
Siringoringo, Hotniar. Seri Teknik Riset Operasional. Pemrograman Linear.
Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta. 2005.
15
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang
sejarah program linear, keterampilan belajar secara
mandiri dalam mempelajari masalah-masalah
pemrograman linear dari kehidupan sehari-hari,
dengan menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa
diharapkan dapat:
- Memahami lebih baik pengertian matriks yang
berkaitan dengan pemecahan sistem persamaan
linear
- Memahami lebih baik proses pemecahan sistem
persamaan linear melalui eliminasi Gauss-Jordan
- Memahami proses pemecahan sistem persamaan,
bila jumlah variabel tidak sama dengan jumlah
persamaan (pemecahan dasar atau pemecahan
basis)
16
Program linear
MATRIKS DAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR
A. Pengertian Matriks
Hubungan antara variabel-variabel, baik di dalam ilmu ekonomi maupun di
dalam ilmu lainnya, sering kali perlu diselesaikan dengan suatu persoalan yang
terdiri dari lebih dua persamaan. Bahkan di suatu negara yang telah maju,
terutama di dalam penggunaan alat berhitung otomatis yang modern, seperti
komputer tidak jarang di dalam menemukan model ekonominya harus
memecahkan suatu persamaan yang terdiri dari puluhan persamaan dengan
ratusan variabel-variabel yang harus dicari nilainya, sehingga dengan demikian
harus dihitung nilai-nilai parameter (koefisien-koefisien) yang juga ratusa
jumlahnya.
Matriks pada dasarnya merupakan salah satu alat yang ampuh di dalam
pemecahan persoalan-persoalan seperti di atas dan memudahkan di dalam
pembuatan pemecahan analisa-analisa yang mencakup hubungan antara variabel-
variabel. Di dalam statistik tidak jarang dijumpai penggunaan matriks untuk
memecahkan persoalan multiple regression, juga di dalam memecahkan persoalan
operation research/linear programming (program linear), matriks memegang
peranan penting terutama sebagai landasan yang kuat untuk memahami
pengertian-pengertian pemecahan dasr, metode simpleks dan lain sebagainya.
Di dalam analisa tabel input-output, penggunaan matriks memungkinkan
untuk mengaitkan hubungan antara sektor yang satu dengan sektor yang lainnya,
juga dapat dipergunakan untuk meramalkan output setiap sektor jika permintaan
akhir (final demand) bagi setiap sektor sudah diketahui.
Itulah sebagian kecil tentang alasan-alasan pokok perlunya mempelajari
matriks secara mendalam. Pengetahuan tentang matriks merupakan syarat pokok
untuk bisa memahami teori-teori/analisa-analisa ekonomi modern yang sifat
kunatitatif, misalnya ekonometrika, program linear, dan lain sebagainya.
17
Program linear
Definisi
Matriks ialah suatu kumpulan angka-angka (sering disebut
elemen-elemen) yang disusun menurut baris dan kolom
sehingga berbentuk empat persegi panjang, dimana panjangnya
dan lebarnya ditunjukkan oleh banyaknya kolom-kolom dan
baris-baris.1
18
Program linear
B. Matriks Khusus
Matriks khusus yang ditemukan dalam pembahasan matematika, antara lain:
matriks diagonal, matriks identitas, dan matriks transpos.
1. Matriks diagonal
Matriks diagonal adalah matriks bujursangkar dengan 𝑎𝑖𝑗 = 0, dengan
𝑖 ≠ 𝑗 berarti seluruh elemen yang tidak terdapat pada posisi 𝑖 ≠ 𝑗 bernilai
0.
Contoh:
Di bawah ini adalah contoh-contoh matriks diagonal yang berukuran
3 × 3:
5 0 0 1 0 0
[0 6 0] , [0 4 0]
0 0 7 0 0 5
2. Matriks identitas
Matriks identitas, dilambangkan dengan I. Matriks identitas adalah
matriks diagonal yang semua elemen diagonalnya sama dengan 1.
Contoh:
Di bawah ini adalah contoh-contoh matriks I, masing-masing 3 × 3
dan 4 × 4.
1 0 0 0
1 0 0
0 1 0 0
[0 1 0], [ ]
0 0 1 0
0 0 1
0 0 0 1
19
Program linear
4. Matriks transpos
Matriks transpos adalah matriks yang diperoleh dengan
mempertukarkan baris-baris dan kolom-kolom. Misalkan 𝐴 = [𝑎𝑖𝑗 ]
berukuran 𝑚 × 𝑛, maka transpos matriks A, ditulis 𝐴𝑇 , adalah matriks 𝑛 ×
𝑚 yang dalam hal ini jika 𝐴𝑇 = [𝑏𝑖𝑗 ], maka 𝑏𝑖𝑗 = 𝑎𝑗𝑖 untuk 𝑖 = 1,2,3, … , 𝑛
dan 𝑗 = 1,2,3, … , 𝑚.
Contoh:
Di bawah ini adalah sebuah matriks A dan transpos-nya 𝐴𝑇 .
9 6
9 8 7
𝐴=[ ] , 𝐴𝑇 = [8 5]
6 5 4
7 4
5. Determinan matriks
Determinan suatu matriks bujursangkar A dilambangkan dengan
det(𝐴) adalah bilangan yang diperoleh dari unsur-unsur A dengan
pengerjaan tertentu seperti di bawah ini:
- Untuk 𝐴1×1 = [𝑎] maka det(𝐴) = 𝑎
𝑎11 𝑎12
- Untuk 𝐴2×2 = [𝑎 ] maka
21 𝑎22
𝑎11 𝑎12
det(𝐴) = |𝑎 𝑎22 |
21
20
Program linear
2 3
𝑀31 = [ ]
5 6
sehingga
1 2 3
det(𝐴) = |4 5 6|
7 8 9
5 6 2 3 2 3
= (−1)1+1 (1) | | + (−1)2+1 (4) | | + (−1)3+1 (7) | |
8 9 8 9 5 6
= (1)(−3) − (4)(6) + (7)(−3)
= −48
Sifat-sifat determinan
Untuk A matriks bujur sangkar
1. Jika tiap unsur dalam suatu baris (kolom) adalah nol maka det(𝐴) = 0
2. Jika B diperoleh dari A dengan
a. Mempertukarkan dua baris (kolom) maka det(𝐵) = −det(𝐴)
b. Mengalikan semua unsur suatu baris (kolom) dengan skalar k maka
det(𝐵) = 𝑘det(𝐴)
c. Setiap unsur suatu baris (kolom) dikalikan dengan skalar k
kemudian dilambangkan kepada unsur yang sesuai pada baris
(kolom) lain maka det(𝐵) = det(𝐴)
C. Operasi Matriks
Definisi:
Dua matriks A dan B dikatakan sama yaitu A = B jika A dan
B mempunyai jumlah baris dan kolom yang sama dan disamping
itu elemen-elemen pada baris dan kolom yang bersangkutan
harus sama, artinya 𝑎𝑖𝑗 = 𝑏𝑖𝑗 , untuk semua nilai i dan j, dimana:
𝑎𝑖𝑗 = elemen matiks A dari baris i dan kolom j
𝑏𝑖𝑗 = elemen matiks B dari baris i dan kolom j
Jika A dan B tidak sama, ditulis 𝐴 ≠ 𝐵 ini berarti 𝑎𝑖𝑗 ≠ 𝑏𝑖𝑗
untuk beberapa i dan j.3
3
J. Supranto, Pengantar Matriks. (Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 1974). Hlm 13
21
Program linear
Contoh:
1 2 1 2
1. 𝐴 = [ ], 𝐵 = [ ]
3 4 3 4
𝐴=𝐵
6 7 5 7
2. 𝐴 = [ ],𝐵 = [ ],
8 9 3 9
𝐴 ≠ 𝐵 karena 𝑎11 ≠ 𝑎21
1 2 3 1 3
3. 𝐴 = [ ], 𝐵 =[ ]
4 5 6 6 9
𝐴 ≠ 𝐵 karena jumlah kolom pada matriks A tidak sama dengan jumlah
kolom pada matriks B.
1. Penjumlahan matriks
Matriks 𝐴 = 𝑎𝑖𝑗 , dengan m baris dan n kolom, dan matriks 𝐵 = 𝑏𝑖𝑗 , juga
m baris dan n kolom, dijumlahkan (dikurangkan) maka diperoleh matriks yang
ketiga, yaitu matriks 𝐶 = 𝑐𝑖𝑗 dengan m baris dan n kolom dimana elemen-
elemennya diperoleh dengan menjumlahkan (mengurangkan) elemen-elemen
matriks A dengan elemen-elemen matriks B yaitu bahwa: 𝑐𝑖𝑗 = 𝑎𝑖𝑗 + 𝑏𝑖𝑗 ,
untuk semua i dan j, dimana 𝑐𝑖𝑗 merupakan elemen dari baris ke-i dan kolom
ke-j.
𝐴+𝐵 =
𝑎11 𝑎12 … 𝑎1𝑗 … 𝑎1𝑛 𝑏11 𝑏12 … 𝑏1𝑗 … 𝑏1𝑛
𝑎21 𝑎22 … 𝑎2𝑗 … 𝑎2𝑛 𝑏21 𝑏22 … 𝑏2𝑗 … 𝑏2𝑛
⋮ ⋮
𝑎𝑖1 𝑎𝑖2 … 𝑎𝑖𝑗 … 𝑎𝑖𝑛 + 𝑏𝑖1 𝑏𝑖2 … 𝑏𝑖𝑗 … 𝑏𝑖𝑛
⋮ ⋮
[𝑎𝑚1 𝑎𝑚2 … 𝑎𝑚𝑗 … 𝑎𝑚𝑛 ] [𝑏𝑚1 𝑏𝑚2 … 𝑏𝑚𝑗 … 𝑏𝑚𝑛 ]
𝑐11 𝑐12 … 𝑐1𝑗 … 𝑐1𝑛
𝑐21 𝑐22 … 𝑐2𝑗 … 𝑐2𝑛
⋮
= 𝑐 𝑐𝑖2 … 𝑐𝑖𝑗 … 𝑐𝑖𝑛 = 𝐶
𝑖1
⋮
[𝑐𝑚1 𝑐𝑚2 … 𝑐𝑚𝑗 … 𝑐𝑚𝑛 ]
Contoh:
1 2 1 2
1. 𝐴 = [ ], 𝐵 = [ ]
3 4 3 4
1 2 1 2 2 4
𝐴+𝐵 =[ ]+[ ]=[ ]
3 4 3 4 6 8
22
Program linear
2. Pengurangan matriks
𝐴 − 𝐵 = 𝐴 + (−1)𝐵
Contoh:
1 2 1 2
1. 𝐴 = [ ], 𝐵 = [ ]
3 4 3 4
𝐴 − 𝐵 = 𝐴 + (−1)𝐵
1 2 −1 −2 0 0
=[ ]+[ ]=[ ]
3 4 −3 −4 0 0
Catatan:
Penjumlahan dan pengurangan
dua matriks dapat dilakukan jika
kedua matriks tersebut mempunyai
jumlah baris dan kolom yang sama.
Hukum Asosiatif dan komutatif
berlaku juga pada penjumlahan
matriks.
𝐴 + 𝐵 = (𝑎𝑖𝑗 + 𝑏𝑖𝑗 ) =
(𝑏𝑖𝑗 + 𝑎𝑖𝑗 ) = 𝐵 + 𝐴
3. Perkalian matriks
Definisi
Jika 𝐴𝑚×𝑛 = (𝑎𝑖𝑗 ) yaitu matriks dengan m baris dan n kolom, 𝐵𝑛×𝑝 =
(𝑏𝑖𝑗 ) matriks dengan n baris dan p kolom, kemudian dengan perkalian matriks
𝐴 × 𝐵 = 𝐴. 𝐵 = 𝐴𝐵, kita makudkan suatu matriks 𝐶𝑚×𝑝 ; (𝐴𝐵 =), yaitu
matriks dengan m baris dan p kolom, dimana elemen C dari baris ke-i kolom
ke-j diperoleh dengan rumus:
𝑐𝑖𝑗 = 𝑎𝑖1 𝑏1𝑗 + 𝑎𝑖2 𝑏2𝑗 + ⋯ + 𝑎𝑖𝑛 𝑏𝑛𝑗
𝑛
23
Program linear
𝑎11 𝑎12 … 𝑎1𝑗 …
𝑏11 𝑎1𝑛 𝑏12 … 𝑏1𝑗 … 𝑏1𝑝
𝑎21 𝑎22 … 𝑎2𝑗 …
𝑏21 𝑎2𝑛 𝑏22 … 𝑏2𝑗 … 𝑏2𝑝
⋮ ⋮
𝑎𝑖1 𝑎𝑖2 … 𝑎𝑖𝑗 … 𝑎𝑖𝑛 + 𝑏𝑖1 𝑏𝑖2 … 𝑏𝑖𝑗 … 𝑏𝑖𝑛
⋮ ⋮
𝑎
[ 𝑚1 𝑎𝑚2 … 𝑎𝑚𝑗 … 𝑎𝑚𝑛 ] [𝑏𝑚1 𝑏𝑚2 … 𝑏𝑚𝑗 … 𝑏𝑚𝑝 ]
𝑐11 𝑐12 … 𝑐1𝑗 … 𝑐1𝑝
𝑐21 𝑐22 … 𝑐2𝑗 … 𝑐2𝑝
⋮
= 𝑐 𝑐𝑖2 … 𝑐𝑖𝑗 … 𝑐𝑖𝑝 = 𝐶
𝑖1
⋮
[𝑐𝑚1 𝑐𝑚2 … 𝑐𝑚𝑗 … 𝑐𝑚𝑝 ]
Catatan:
Perkalian dua matriks
dapat dilakukan jika jumlah
kolom dari matriks pertama
sama dengan jumlah baris pada
matriks kedua.
𝐴𝑚×𝑛 𝐵𝑛×𝑝 = 𝐶𝑚×𝑝
Jika jumlah kolom matriks pertama sama dengan matriks kedua maka
dikatakan conformable.
Contoh:
𝑎11 𝑎12 𝑏 𝑏12
1. 𝐴 = [𝑎 𝑎 ], 𝐵 = [ 11 ]
21 22 𝑏21 𝑏22
1 2 5 6
2. 𝐴 = [ ],𝐵 = [ ]
3 4 7 8
1 2 5 6
𝐴𝐵 = [ ][ ]
3 4 7 8
1.5 + 2.7 1.6 + 2.8 19 24
=[ ]=[ ]
3.5 + 4.7 3.6 + 4.8 43 50
24
Program linear
Pada matriks tidak berlaku sifat komutatif, yaitu 𝐴𝐵 ≠ 𝐵𝐴, jika 𝐴𝐵 =
𝐵𝐴 maka kedua matriks itu dikatakan commute.
4. Perkalian matriks dengan skalar
Jika matriks A dikalikan dengan skalar k maka semua elemen dari matriks
A harus dikalikan dengan k. Jadi jika 𝐴 = (𝑎𝑖𝑗 ) maka 𝑘𝐴 = 𝑘(𝑎𝑖𝑗 ) =
(𝑎𝑖𝑗 )𝑘 = 𝐴𝑘.
Contoh:
1 2
𝑘 = 3, 𝐴 = [ ]
3 4
1 2 3.1 3.2 3 6
𝑘𝐴 = 3𝐴 = 3 [ ]=[ ]=[ ]
3 4 3.3 3.4 9 12
1 2 3
4 5 6
7 8 9
0 1 2
25
Program linear
Dapat bahwa nilai matriks yang dimasukkan berada dalam kurung siku.
Elemen-elemen setiap baris harus dipisahkan dengan spasi (blanks) atau dengan
tanda koma. Akhir dari tiap baris, kecuali baris yang terakhir dapat dinyatakan
dengan “ ; “ (semicolon).
Jika diketahui matriksnya berukuran 3 × 3 dengan elemen-elemennya sebagai
berikut:
1 2 3
𝐷 = [4 5 6]
7 8 9
Maka untuk input ke Matlab selain dengan cara yang dituliskan sebelumnya,
dapat dilakukan seperti berikut ini:
» D=[1 2 3
456
7 8 9]
D=
1 2 3
4 5 6
7 8 9
1. Transpos matriks
Transpos matriks dapat dilakukan dengan memberikan tanda apostrope
pada notasi matriks tersebut.
Contoh:
0 9 8
𝐴 = 7 6 5]
[
4 3 2
Maka untuk mendapatkan tranpos dari matriks A adalah dengan
mengetikan perintah berikut di Matlab:
A=
0 9 8
7 6 5
4 3 2
» B=A'
26
Program linear
B=
0 7 4
9 6 3
8 5 2
atau
» conj(A')
ans =
0 7 4
9 6 3
8 5 2
2. Invers Matriks
Fungsi inv dalam Matlab digunakan untuk menghitung invers matriks.
Misalnya diketahui matriks A didefinisikan sebagai berikut:
A=[0 9 8; 7 6 5;4 3 2]
A=
0 9 8
7 6 5
4 3 2
Maka,
» B=inv(A)
B=
-0.1000 0.2000 -0.1000
0.2000 -1.0667 1.8667
-0.1000 1.2000 -2.1000
3. Determinan
Pada aplikasi aljabar, pengetahuan tentang determinan suatu matriks
dibutuhkan. Matlab memlunyai fungsi built-in untuk ini, yaitu function det
dirancang untuk perhitungan determinan.
Contoh:
𝐴 = 𝑚𝑎𝑔𝑖𝑐(3)
» K=magic(3)
27
Program linear
K=
8 1 6
3 5 7
4 9 2
» det(K)
ans =
-360
4. Penjumlahan dan Pengurangan
Dua matrisk A dan B, kedua matriks tersebut dapat dijumlahkan atau
dikurangkan jika mempunyai ukuran yang sama atau berdimensi sama.
Contoh:
1 2 7 8
a. Jika diketahui 𝐴 = [3 4] , 𝐵 = [9 0]
5 6 1 2
Dengan menggunakan Matlab maka kedua matriks tersebut dapat
dioperasikan untuk operasi penjumlahan dan pengurangan.
» A=[1 2;3 4;5 6]
A=
1 2
3 4
5 6
» B=[7 8;9 0;1 2]
B=
7 8
9 0
1 2
» C=A+B
C=
8 10
12 4
6 8
» D=A-B
28
Program linear
D=
-6 -6
-6 4
4 4
b. Jika diketahui vektor x adalah:
1
𝑥 = 2] dan y mengurangi 1 dari setiap elemen vektor x, 𝑦 = 𝑥 − 1,
[
3
maka dengan Matlab hal di atas dapat dikerjakan sebagai berikut:
» x=[1;2;3]
x=
1
2
3
» y=x-1
y=
0
1
2
5. Perkalian matriks
a. Perkalian matriks dengan skalar
Jika A adalah suatu matriks dan c adalah suatu skalar maka hasil kali
cA adalah matriks yang diperoleh dengan mengalikan masing-masing entri
dari A oleh c.
Contoh:
1 2
𝐴 = [3 4] dan 𝑐 = 8,
5 6
Maka diperoleh hasilnya dengan Matlab:
» A=[1 2;3 4; 5 6]
A=
1 2
29
Program linear
3 4
5 6
» c=3
c=
3
» Q=c*A
Q=
3 6
9 12
15 18
b. Perkalian matriks dengan matriks
Jika A adalah matriks dengan ukuran 𝑚 × 𝑟 dan B adalah matriks 𝑟 ×
𝑛, maka hasil kali AB adalah matriks 𝑚 × 𝑛.
Perkalian matriks dalam Matalb dinotasikan dengan “ * “.
Contoh:
Jika matriks A berukuran 2 × 3 dan matriks B adalah 3 × 4 maka akan
diperoleh hasilnya matriks C dengan ukuran 2 × 4.
» A=[1 2 3;4 5 6]
A=
1 2 3
4 5 6
» B=[9 8 7 6; 5 4 3 2; 1 0 9 8]
B=
9 8 7 6
5 4 3 2
1 0 9 8
» C=A*B
C=
22 16 40 34
67 52 97 82
30
Program linear
E. Sistem Persamaan Linear
Garis dalam bidang 𝑥𝑦 merupakan himpunan pasangan berurutan (𝑥, 𝑦),
secara aljabar dapat dinyatakan dengan persamaan yang berbentuk:
𝑎11 𝑥 + 𝑎12 𝑦 = 𝑏1 .............................................. (1) disebut persamaan
linear, karena pangkat dari variabel (peubah) 𝑥 dan 𝑦 adalah satu.
Secara umum persamaan linear dalam n variabel 𝑥1 , 𝑥2 , 𝑥3 , … , 𝑥𝑛 dapat
dinyatakan dalam bentuk
𝑎11 𝑥1 + 𝑎12 𝑥2 + 𝑎13 𝑥3 + ⋯ + 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 = 𝑏1 ....... (2)
𝑎11 , 𝑎12 , 𝑎13 , … , 𝑎1𝑛 dan 𝑏1 adalah konstata linear.
31
Program linear
𝑎11 𝑎12 𝑥 𝑏1
[𝑎 ]
𝑎22 𝑦[ ] = [ ]
21 𝑏2
atau 𝐴 × 𝑋 = 𝐵,
dengan
𝑎11 𝑎12 𝑥 𝑏1
𝐴 = [𝑎 𝑎22 ] , 𝑋 = [ 𝑦 ] , 𝐵 = [ ]
21 𝑏2
terdapat dua kemungkinan:
a) Jika det(𝐴) = 0 maka tidak terdapat 𝐴−1
b) Jika det(𝐴) ≠ 0 maka terdapat 𝐴−1
Catatan:
32
Program linear
𝑦 𝑦 𝑦 𝑔1
𝑔2 𝑥 𝑥 𝑔2 𝑥
𝑔1 𝑑𝑎𝑛𝑔2
𝑔1
Contoh:
𝑥+𝑦 =5
a) } sistem persamaan tidak mempunyai penyelesaian (tidak
𝑥+𝑦 =7
konsisten)
3𝑥 + 4𝑦 = 5
b) } sistem persamaan mempunyai penyelesaian tak berhingga
6𝑥 + 8𝑦 = 10
(konsisten)
2𝑥 + 4𝑦 = 24
c) } sistem persamaan mempunyai satu penyelesaian
3𝑥 + 5𝑦 = 31
(konsisten)
Penyelesaian:
det(𝐴) = 2.5 − 4.3 = 10 − 12 = −2
det(𝐴𝑥 ) = 24.5 − 31.4 = −4
det(𝐴𝑦 ) = 2.31 − 3.24 = −10
−4 −10
𝑥= = 2, 𝑦 = =5
−2 −2
33
Program linear
𝑎11 𝑎12 … 𝑎1𝑗 … 𝑎1𝑛
𝑎21 𝑎22 … 𝑎2𝑗 … 𝑎2𝑛
⋮
𝑎𝑖1 𝑎𝑖2 … 𝑎𝑖𝑗 … 𝑎𝑖𝑛
⋮
[𝑎𝑚1 𝑎𝑚2 … 𝑎𝑚𝑗 … 𝑎𝑚𝑛 ]
34
Program linear
−𝑦 − 7𝑧 = −22
b. Kalikan baris ketiga dengan (-1) kemudian pertukanrkan dengan baris kedua
𝑥 + 2𝑦 + 4𝑧 = 16
𝑦 + 7𝑧 = 22
−5𝑦 − 13𝑧 = −44
c. Kalikan baris ii dengan (-2) kemudian tambahkan ke baris i dan kalikan baris
ii denga (5), setelah itu tambahkan ke baris iii
𝑥 − 10𝑧 = −28
𝑦 + 7𝑧 = 22
22𝑧 = 66
1
d. Kalikan iii dengan 2
𝑥 − 10𝑧 = −28
𝑦 + 7𝑧 = 22
𝑧=3
Kalikan iii dengan (10) kemudian ke i
Kalikan iiii dengan (-7) kemudian tambahkan ke ii
𝑥=2
𝑦=1
𝑧=3
atau matriks diperbesar sistem terakshir adalah
1 0 0 2
[0 1 0 1 ]
0 0 1 3
adalah matriks dalam bentuk eselon baris yang direduksi.
35
Program linear
Ringkasan
Matriks dalam bentuk eselon baris yang direduksi harus
mempunyai sifat:
1. Jika suatu matriks tidak terdiri seluruhnya atas nol, maka
bilangan tak nol pertama di dalam baris tersebut ialah 1
(dinamakan 1 utama)
2. Jika ada beberapa baris yang terdiri seluruhnya atas nol,
maka semua baris seperti itu dikelompokkan bersama-
sama pada baris urutan bawah (di bawah matriks)
3. Di dalam sebarang dua baris yang berturutan yang tidak
terdiri seluruhnya atas nol, maka 1 utama di dalam baris
yang lebih rendah terdapat lebihjauh ke kanan daripada 1
utama di dalam baris yang lebih tinggi.
4. Setiap kolom yang mengandung sebuah 1 utama
mempunyai nol di tempat lain.
Matriks yang mempunyai sifat 1, 2, dan 3 dikatakan
berada di dalam bentuk eselon baris.
Prosedur penyelesaian sistem persamaan dengan
menggunakan operasi baris elementer untuk memperoleh
matriks diperbesar di dalam bentik eselon baris yang
direduksi merupakan algoritma yang digunakan dalam
analisis persoalan program linear dengan cara simpleks.
36
Program linear
Latihan
1. Kondisi apakah yang harus dipenuhi p supaya sistem persamaan linear
2𝑥 + 3𝑦 = 15
𝑝𝑥 − 6𝑦 = 18
Mempunyai penyelesaian 𝑥 > 0?
2. Sistem persamaan
𝑥 + 2𝑦 + 3𝑧 = 5
𝑥 + 8𝑧 = 17
2𝑥 + 5𝑦 + 3𝑧 = 3
a. Nyatakan sebagai 𝐴. 𝑋 = 𝐵
b. det(𝐴) = ⋯ ?
3. Sistem persamaan 𝐴. 𝑋 = 𝐵
4 −1 −3 𝑥 1
𝐴 = [8 1 −1], 𝑋 = [𝑦] , 𝐵 = [5]
2 1 2 𝑧 5
det(𝐴𝑥 )= ...?
37
Program linear
DAFTAR PUSTAKA
38
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang
sejarah program linear, keterampilan belajar secara
mandiri dalam mempelajari masalah-masalah
pemrograman linear dari kehidupan sehari-hari,
dengan menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
mampu:
- Mengenal program linear sebagai penunjang
pengambilan keputusan
- Memahami syarat-syarat pemecahan persoalan
program linear
- Menyelesaikan persoalan program linear dengan
metode grafik maksimasi
- Memahami masalah teknis dalam program linear
39
Program linear
FUNGSI TUJUAN MAKSIMISASI
A. Formulasi Permasalahan
Metode grafik hanya bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan
dimana hanya terdapat dua variabel keputusan. Untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
memformulasikan permasalahan yang ada ke dalam bentuk Linear Programming
(LP). Langkah-langkah dalam formulasi permasalahan adalah :
40
Program linear
TABEL 1.1 Informasi Permasalahan Ikhwan Mandiri
Mengingat produk yang akan dihasilkan adalah meja dan kursi, maka
dalam rangka memaksimumkan profit, perusahaan harus memutuskan berapa
jumlah meja dan kursi yang sebaiknya diproduksi. Dengan demikian dalam kasus
ini, yang merupakan variabel keputusan adalah meja (X1) dan kursi (X2).
Setelah kita mendefinisikan variabel keputusan, maka langkah selanjutnya
adalah menuliskan secara matematis fungsi tujuan dan fungsi kendala.
1. Fungsi tujuan
Tujuan perusahaan adalah maksimisasi keuntungan, sehingga kita dapat
menuliskan fungsi tujuan sebagai berikut :
2. Fungsi kendala
Berkaitan dengan sumber daya yang digunakan, perusahaan tidak bisa
memperkirakan secara tepat kebutuhan sumber daya yang digunakan untuk
mencapai keuntungan tertentu. Biasanya perusahaan menyediakan sumber daya
tertentu yang merupakan kebutuhan minimum atau maksimum. Kondisi seperti ini
secara matematis diungkapkan dengan pertidaksamaan.
41
Program linear
adalah 240 jam. Kalimat ini bisa dirumuskan dalam pertidaksamaan matematis
menjadi :
4 X1 + 3 X2 ≤ 240
Seperti halnya pada kendala yang pertama, maka pada kendala kedua
dapat diketahui bahwa total waktu yang diperlukan untuk pengecatan X1 (meja)
dimana untuk mengecat satu unit meja diperlukan waktu 2 jam kerja dan untuk
pembuatan X2 (kursi) dimana untuk mengecat satu unit kursi dibutuhkan waktu 1
jam kerja adalah 100 jam. Kalimat ini bisa dirumuskan dalam pertidaksamaan
matematis menjadi :
2X1 + 1 X2 ≤ 100
Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam Linear Programming adalah
asumsi nilai X1 dan X2 tidak negatif. Artinya bahwa
Fungsi tujuan :
Fungsi kendala :
42
Program linear
B. Penyelesaian Linear Programming Secara Grafik
Kasus Ikhwan Mandiri tersebut akan kita selesaikan dengan metode grafik.
Keterbatasan metode grafik adalah bahwa hanya tersedia dua sumbu ordinat,
sehingga tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus yang lebih dari dua
variabel keputusan.
4 X1 + 3 X2 = 240
Sebagaimana halnya yang sudah kita pelajari dalam aljabar, bahwa untuk
menggambarkan fungsi linear yang tidak lain merupakan garis lurus, maka kita
akan mencari titik potong garis tersebut dengan kedua sumbu. Suatu garis akan
memotong salah satu sumbu apabila nilai variabel yang lain sama dengan nol.
Dengan demikian kendala pertama akan memotong X1, pada saat X2 = 0,
demikian juga kendala ini akan memotong X2, pada saat X1 = 0.
Kendala I: 4 X1 + 3 X2 = 240
4 X1 + 0 = 240
X1 = 240/4
X1 = 60.
0 + 3 X2 = 240
X2 = 240/3
X2 = 80
43
Program linear
Kendala I memotong sumbu X1 pada titik (60, 0) dan memotong sumbu
X2 pada titik (0,80).
2 X1 + 0 = 100
X1 = 100/2
X1 = 50
0 + X2 = 100
X2 = 100
44
Program linear
Titik potong kedua kendala bisa dicari dengan cara substitusi atau
eliminasi
2 X1 + 1 X2 = 100
X2 = 100 - 2 X1
4 X1 + 3 X2 = 240
4 X1 + 300 - 6 X1 = 240
- 2 X1 = 240 - 300
- 2 X1 = - 60
X1 = -60/-2 = 30.
X2 = 100 - 2 X1
X2 = 100 - 2 * 30
X2 = 100 - 60
X2 = 40
Sehingga kedua kendala akan saling berpotongan pada titik (30, 40).
Tanda ≤ pada kedua kendala ditunjukkan pada area sebelah kiri dari garis
kendala. Sebagaimana nampak pada Peraga 1. 1, feasible region (area layak)
meliputi daerah sebelah kiri dari titik A (0; 80), B (30; 40), dan C (60; 0).
Untuk menentukan solusi yang optimal, ada dua cara yang bisa digunakan
yaitu :
45
Program linear
mengganti nilai Z dengan sembarang nilai yang mudah dibagi oleh koefisien pada
fungsi profit. Pada kasus ini angka yang mudah dibagi angka 7 (koefisien X1) dan
5 (koefisien X2) adalah 35. Sehingga fungsi tujuan menjadi 35 = 7X1 + 5 X2.
Garis ini akan memotong sumbu X1 pada titik (5, 0) dan memotong sumbu X2
pada titik (0, 7).
Dari Peraga 1. 2 dapat dilihat bahwa iso profit line menyinggung titik B
yang merupakan titik terjauh dari titik nol. Titik B ini merupakan titik optimal.
Untuk mengetahui berapa nilai X1 dan X2, serta nilai Z pada titik B tersebut, kita
mencari titik potong antara kendala I dan kendala II (karena titik B merupakan
perpotongan antara kendala I dan kendala II). Dengan menggunakan eliminiasi
atau subustitusi diperoleh nilai X1 = 30, X2 = 40. dan Z = 410. Dari hasil
perhitungan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa keputusan perusahaan yang
akan memberikan profit maksimal adalah memproduksi X1 sebanyak 30 unit, X2
sebanyak 40 unit dan perusahaan akan memperoleh profit sebesar 410.
46
Program linear
Penyelesaian dengan menggunakan titik sudut (corner point) artinya kita
harus mencari nilai tertinggi dari titik-titik yang berada pada area layak (feasible
region). Dari peraga 1, dapat dilihat bahwa ada 4 titik yang membatasi area layak,
yaitu titik 0 (0, 0), A (0, 80), B (30, 40), dan C (50, 0).
Ringkasan
47
Program linear
Latihan
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban
yang disediakan !
48
Program linear
49
Program linear
X ≥ 0
Y ≥ 0
2) Dari gambar di atas yang merupakan area layak adalah area yang dibatasi titik
A. 0ABC
B. ABE
C. CDB
D. 0EBD
3) Jumlah batako semen dan batako kapur yang harus diproduksi agar profit
maksimum adalah :
A. Batako semen 80 unit dan batako kapur 200 unit
B. Batako semen 200 unit dan batako kapur 80 unit
C. Batako semen 320 unit dan batako kapur 0 unit
D. Batako semen 0 unit dan batako kapur 480 unit
4) Besarnya keuntungan maksimum adalah :
A. Rp 80.000,-
B. Rp. 72.000,-
C. Rp. 62.000,-
D. Rp 55.000,-
5) Solusi optimal terjadi pada :
A. Titik A
B. Titik B
C. Titik D
D. Titik C
50
Program linear
DAFTAR PUSTAKA
51
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- Mengenal program linear sebagai penunjang
pengambilan keputusan
- Memahami syarat-syarat pemecahan persoalan
program linear
- Menyelesaikan persoalan program linear dengan
metode grafik masalah minimisasi
- Memahami masalah teknis dalam program linear
52
Program linear
FUNGSI TUJUAN MINIMISASI
53
Program linear
Kandungan protein dalam jagung (J) dan kacang (K) adalah (0,09 J + 0,6
K). Kandungan protein ini sekurang-kurangnya 30% dari campuran makanan.
Oleh karena itu persamaannya menjadi demikian
0,09 J + 0,6 K ≥ 0,3 (J + K)
0,09 J + 0,6 K ≥ 0,3 J + 0,3K
(0,3 J - 0,09 J) + (0,3K - 0,6 K) ≤ 0
0,21 J - 0,3 K ≤ 0
Dengan cara yang sama, kendala dari kandungan serat bisa dirumuskan demikian:
0,02 J + 0,06 K ≤ 0,05 (J + K)
0,02 J + 0,06 K ≤ 0,05 J + 0,05 K
(0,05 J - 0,02 J) + (0,05K - 0,06 K) ≥ 0
0,03 J – 0,01 K ≥ 0
Dari uraian di atas dapat dirumuskan formulasi permasalahan secara lengkap
sebagai berikut :
Fungsi tujuan :
Minimize Z = 0,3 J + 0,9 K
Fungsi kendala :
J + K ≥ 800 (kendala kebutuhan makanan per hari)
0,21 J - 0,3 K ≤ 0 (kendala kandungan protein)
0,03 J – 0,01 K ≥ 0 (kendala kandungan serat)
J ≥ 0 (kendala non negatif pertama)
K ≥ 0 (kendala non negatif kedua)
Langkah pertama untuk menyelesaikan kasus Valentine Meal adalah dengan
menggambarkan fungsi kendala sebagaimana tampak pada Peraga 1.3.
54
Program linear
Peraga 1. 3. Grafik Valentine Meal
Titik potong ketiga kendala bisa dicari dengan cara substitusi atau eliminasi Titik
potong kendala 1 (Protein: 0.21 J – 0.3 K ≤ 0) dan 3 (Kebutuhan per hari: 1
Jagung + 1 Kacang ≥ 800)
0.21 J - 0.3 K = 0
0.21J = 0.3 K
J = (0.3/ 0.21) K
J + K = 800
(0.3 / 0.21) K + K = 800
2,43 K = 800
K = 800/2,43
K = 329,22 dibulatkan menjadi 329.
J + 329,22 = 800
J = 470,78 dibulatkan menjadi 471.
Jadi titik potong kendala 1 (Protein: 0.21 J – 0.3 K ≤ 0) dan 3 (Kebutuhan per
hari: 1 Jagung + 1 Kacang ≥ 800) terletak pada titik B (471, 329).
Titik potong kendala 2 (Serat: 0.03 J – 0.01 K ≥ 0) dan kendala 3 (Kebutuhan per
hari: 1 J + 1 K ≥ 800)
0.03 J – 0.01 K = 0
0.03 J = 0.01 K
55
Program linear
J = (0.01/ 0.03) K
J = 0.33 K
J + K = 800
0.33 K + K = 800
1.33 K = 800
K = 800 / 1.33
K = 600
J + 600 = 800
J = 200
Jadi titik potong kendala 2 (Serat: 0.03 J – 0.01 K ≥ 0) dan kendala 3 (Kebutuhan
per hari: 1 J + 1 K ≥ 800) terletak pada titik B (200, 600).
Tanda ≥ pada kendala Serat dan Kebutuhan per hari ditunjukkan pada area
sebelah kanan dari garis kendala. Sebagaimana nampak pada Peraga 1.3, feasible
region (area layak) meliputi daerah sebelah kanan dari titik A (200; 600), B (471;
329), atau di sebelah kanan kendala II dan III serta di sebelah kiri kendala I.
Untuk menentukan solusi yang optimal, ada dua cara yang bisa digunakan
yaitu
1. dengan menggunakan garis biaya (iso cost line)
2. dengan titik sudut (corner point)
Penyelesaian dengan menggunakan iso cost line adalah penyelesaian dengan
menggambarkan fungsi tujuan. Kemudian fungsi tujuan tersebut digeser ke kiri
sampai menyinggung titik terdekat dari titik nol, tetapi masih berada pada area
layak (feasible region). Untuk menggambarkan garis isocost, kita mengganti nilai
Z dengan sembarang nilai yang mudah dibagi oleh koefisien pada fungsi biaya.
Pada kasus ini angka yang mudah dibagi angka 0.3 (koefisien J) dan 0.9
(koefisien K) adalah 270. Sehingga fungsi tujuan menjadi 270= 0.3 J + 0.9 K.
Garis ini akan memotong sumbu J pada titik (900, 0) dan memotong sumbu K
pada titik (0, 300).
56
Program linear
Peraga 1. 3. Garis Iso Cost pada Valentine Meal
Dari Peraga 1.3 dapat dilihat bahwa iso cost line menyinggung titik A
yang merupakan titik terdekat dari titik nol. Titik A ini merupakan titik optimal.
Untuk mengetahui berapa nilai J dan K, serta nilai Z pada titik A tersebut, kita
mencari titik potong antara kendala I dan kendala III (karena titik A merupakan
perpotongan antara kendala I dan kendala III). Dengan menggunakan eliminiasi
atau substitusi diperoleh nilai J = 471, K = 329. dan Z = 437. Dari hasil
perhitungan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa keputusan perusahaan yang
akan memberikan biaya minimal adalah J sebanyak 471 unit, K sebanyak 329 unit
dan perusahaan akan mengalokasikan biaya sebesar 437.
Penyelesaian dengan menggunakan titik sudut (corner point) dari Peraga
1.3 dapat dilihat bahwa ada 2 titik yang dekat yang membatasi area layak, yaitu
titik A yang merupakan perpotongan kendala I dan III serta titik B yang
merupakan perpotongan kendala II dan III. Untuk penyelesaian dengan
menggunakan titk sudut kita mencari nilai Z di kedua titik tersebut kemudian kita
pilih nilai Z yang paling kecil. Titik A nilai J = 471 dan K = 329. Dengan
substitusi angka tersebut ke fungsi tujuan kita peroleh 0,3 J + 0,9 K = (0,3 x 471)
+ (0,9 x 329) = 437,4 dibulatkan menjadi 437. dan pada titik B nilai J = 200 dan K
= 600. Dengan mensubstitusikan nilai J dan K pada fungsi tujuan, kita peroleh:
57
Program linear
0,3 J + 0,9 K = (0,3 x 200) + (0,9 x 600) = 600. Ternyata nilai Z pada titik A lebih
kecil daripada titik B. Dengan demikian titik A adalah titik optimal.
58
Program linear
Unboundedness adalah suatu kondisi dimana area layak tidak terbatas.
Kasus ini biasanya muncul pada fungsi tujuan maksimisasi. Misalkan saja Krisna
Furniture lebih dahulu menentukan kendala dari pemasaran dan belum
menentukan kendala dari segi operasi untuk assembling dan finishing. maka
objective function menjadi tidak berhingga.
Fungsi tujuan :
Maksimisasi Z = $7X1 + $5X2.
Fungsi kendala :
1 X1 ≥ 60
1 X2 ≥ 60
X1 ≥ 0 (kendala non negatif pertama)
X2 ≥ 0 (kendala non negatif kedua)
Peraga 1. 5 Unboundedness
59
Program linear
Alternatif Optima adalah situasi dimana terdapat lebih dari satu solusi
optimal. Hal ini akan terjadi apabila garis profit sejajar dengan salah satu kendala.
Misalkan kita rubah profit margin untuk Meja dan Kursi pada kasus Krisna
Furniture menjadi 8 dan 6. Garis profit ini jika kita gambarkan akan sejajar
dengan kendala I karena kemiringannya sama. Solusi optimalnya terletak
sepanjang garis AB. Jadi solusi optimalnya bisa terletak pada alternatif I X1 = 0
dan X2 = 80 atau X1 = 30 dan X2 = 40 atau kombinasi lain sepanjang garis AB.
Fungsi tujuan :
Maksimisasi Z = $8X1 + $6X2.
Fungsi kendala :
4 X1 + 3 X2 ≤ 240 (kendala departemen pembuatan)
2X1 + 1 X2 ≤ 100 (kendala departemen pengecatan)
X1 ≥ 0 (kendala non negatif pertama)
X2 ≥ 0 (kendala non negatif kedua)
Peraga 1. 7. Alternatif Optima
60
Program linear
Ringkasan
Pada kasus minimisasi kendala diberi tanda ≥ yang secara
grafis titik-titik di sebelah kanan kendala yang memenuhi syarat.
Pada kasus minimisasi solusi optimal dapat ditentukan dengan 2
cara yaitu dengan isocost line dan corner point. Untuk mencari
solusi optimal denan isocost line, solusi optimal adalah titik yang
paling dekat dengan titik nol tetapi masih berada pada area layak.
Sedangkan penentuan solusi optimal dengan corner point, solusi
optimal ditentukan dengan cara mencari nilai Z yang paling
rendah.
Dalam Linear Programming dengan metode grafik sering
dijumpai permasalahan secara teknis, yaitu: infeasibility ,
unboundedness, redundancy, alternate optimal solutions.
61
Program linear
Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda
mengerjakan latihan berikut ini !
1) Bagaimana cara menentukan solusi optimal dari permasalahan LP dengan
fungsi tujuan
2) minimisasi dengan isocost line?
3) Bagaimana cara menentukan solusi optimal dari permasalahan LP dengan
fungsi tujuan
4) minimisasi dengan corner point?
5) Apa yang dimaksud redundancy?
6) Apa yang dimaksud infeasibility?
7) Apa yang dimaksud alternative optima?
8) Apa yang dimaksud unboundedness?
62
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,
karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. 3. Al-Imran :60)
63
Program linear
A. Teori Dualitas
Teori dualitas merupakan salah satu konsep programa linier yang penting dan
menarik ditinjau dari segi teori dan praktisnya. Ide dasar yang melatarbelakangi
teori ini adalah bahwa setiap persoalan programa linier mempunyai suatu
programa linier lain yang saling berkaitan yang disebut “dual”, sedemikian
sehingga solusi pada persoalan semula (yang disebut "primal”) juga memberi
solusi pada dualnya.
Pendefinisian dual ini akan tergantung pada jenis pembatas, tanda-tanda
variabel, dan bentuk optimasi dari persoalan primalnya. Akan tetapi, karena setiap
persoalan programa linier harus dibuat dalam bentuk standar lebih dahulu sebelum
modelnya dipecahkan , maka pendefinisian dibawah ini akan secara otomatis
meliputi ketiga hal di atas.
Bentuk umum masalah primal dual adalah sebagai berikut:
Primal
Maksimumkan: 𝑍 = 𝑐1𝑥1 + 𝑐2 𝑥2 + ⋯ + 𝑐𝑛 𝑥𝑛
Berdasarkan kendala:
64
Program linear
Kalau kita bandingkan kedua persoalan di atas, ternyata terdapat
korespondensi antara primal dengan dual sebagai berikut :
1. Koefisien fungsi tujuan primal menjadi konstanta ruas kanan bagi dual,
sedangkan konstanta ruas kanan primal menjadi koefisien fungsi tujuan bagi
dual.
2. Untuk tiap pembatas primal ada satu variaebl dual, dan untuk setiap variabel
primal ada satu pembatas dual.
3. Tanda ketidaksamaan pada pembatas akan bergantung pada fungsi tujuannya.
4. Fungsi tujuan berubah bentuk (maksimasi menjadi minimasi dan sebaliknya).
5. Setiap kolom pada primal berkorespondensi dengan baris (pembatas) pada
dual.
6. Setiap baris (pembatas) pada primal berkorespondensi dengan kolom pada
dual.
7. Dual dari dual adalah primal.
Contoh:
Minimumkan: 𝑍 = 16𝑥1 + 30𝑥2 + 36𝑥3
Dengan kendala:
2𝑥1 + 3𝑥2 + 2𝑥3 ≥ 60
2𝑥1 + 5𝑥2 + 3𝑥3 ≥ 80
65
Program linear
𝑥1 , 𝑥2 , 𝑥3 ≥ 0
Soal ini kita selesaikan melalui penyelesaian dualnya, yakni :
Maksimumkan : 𝑊 = 60𝑦1 + 80𝑦2
Dengan kendala:
2𝑦1 + 2𝑦2 ≤ 16
3𝑦1 + 5𝑦2 ≤ 30
2𝑦1 + 3𝑦2 ≤ 36
𝑦1 , 𝑦2 ≥ 0
66
Program linear
pembatas dari dual, kemudian mencari selisih antara ruas kiri dan ruas kanan dari
pembatas dual tersebut.
3. Menentukan nilai ruas kanan (solusi) dari variabel-variabel basis.
Pada setiap iterasi, baik primal maupun dual, nilai ruas kanan (kolom solusi)
variabel-variabel basis pada iterasi yang bersangkutan dapat ditentukan dengan
cara sebagai berikut:
Contoh:
67
Program linear
Penyelesaian:
1. Sifat 1:
2. Sifat 2:
3. Sifat 3:
4. Sifat 4:
68
Program linear
69
Program linear
Ringkasan
Program linear adalah teknik matematika yang dirancang
untuk membantu manager dalam merencanakan dan
membuat keputusan dalam mengalokasikan sumber daya
yang terbatas untuk mencapai tujuan perusahaan.
Syarat-syarat perumusan suatu masalah ke dalam bentuk
model program linear: (1) Tujuan masalah harus jelas, (2)
Harus ada sesuatu atau beberapa alternatif yang ingin
dibandingkan, (3) Adanya sumber daya yang terbatas, (4)
Bisa dilakukan perumusan kuantitatif, (5) Adanya
keterkaitan peubah (variabel).
70
Program linear
Latihan
1. Tentukan dual dari persoalan berikut:
Maksimumkan:
Berdasarkan:
71
Program linear
72
Program linear
DAFTAR PUSTAKA
73
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Memahami metode simpleks untuk memecahkan
masalah program linear maksimasi
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,
karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. 3. Al-Imran :60)
74
Program linear
LINEAR PROGRAMMING : METODE SIMPLEKS
PERMASALAHAN MAKSIMASI
PLB1
optimal
Belum optimal
PLB2
optimal
Belum optimal
PLB3
optimal
Belum optimal
75
Program linear
tabel simpleks 2.1
cj c1 c2 . . . cn
𝑐̅i 𝑥̅ i x1 x2 . . . xn bi Ri
xj
𝑐̅1 𝑥̅ 1 a11 a12 . . . a1n b1 R1
𝑐̅2 𝑥̅ 2 a21 a22 . . . a2n b2 R2
. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .
𝑐̅n 𝑥̅ m am1 am2 . . . amn bm Rm
zj Z
zj - cj z1 – c1 z2 – c2 . . . zn - Z
cn
Keterangan:
zj : ∑𝑚
𝑖=1 𝑐̅𝑖 aij (hasil kali dari 𝑐̅𝑖 dengan kolom aij
z : ∑𝑚
𝑖=1 𝑐̅𝑖 bi (hasil kali dari 𝑐̅𝑖 dengan kolom bi
apabila tablo bersangkutan belum optimum dan xk terpilih sebagai basis baru
maka disusun kolom Ri ysng diperoleh dengan
𝑏
𝑅𝑖 = 𝑎 𝑖 , 𝑎𝑖𝑘 > 0
𝑖𝑘
Langkah-langkah menjadi:
76
Program linear
1. Menyusun tablo awal dengan matriks 𝑎𝑖𝑘 tersusut Gauss-Jordan dan 𝑏𝑖 ≥
0.
2. Menguji keoptimuman tablo (maksudnya, keoptimuman plb dalam tablo).
Bila sudah optimum berarti selesai. Bila belum optimum, langsung ke
langkah (3)
3. Memperbaiki tablo, artinya memilih peubah baru yang masuk menjadi
basis dan memilih peubah basis lama yang harus keluar (diganti)
Penyelesaian:
Misalkan
𝑥 + 2𝑦 ≤ 36
5𝑥 + 4𝑦 ≤ 90
77
Program linear
3𝑥 + 𝑦 ≤ 45
𝑥, 𝑦 ≥ 30
𝑥 + 2𝑦 + 𝑟 = 36
5𝑥 + 4𝑦 + 𝑠 = 90
3𝑥 + 𝑦 + 𝑡 = 45
𝑥, 𝑦, 𝑟, 𝑠, 𝑡 tak negatif
Dan memaksimumkan 𝑓 = 40𝑥 + 50𝑦 + 0𝑟 + 0𝑠 + 0𝑡
78
Program linear
Pada tabel simpleks 2.2 di atas pada kolom III ternyata sudah optimum dengan
penyelesaian optimum soal bentuk kanonik: (𝑥, 𝑦, 𝑟, 𝑠, 𝑡) = (6,15,0,0,12), maka
penyelesaian optimum soal asli adalah (𝑥, 𝑦) = (6,15) dengan nilai program 990.
Penafsiran kembali ke masalah nyata akan berbunyi, sebaiknya diproduksi 6 unit
almari dan 15 unit meja sehingga laba total maksimum dengan nilai 990 ribu
rupiah.
Contoh soal di atas merupakan contoh yang berpola maksimum baku, sehingga
dengan menambahkan peubah-peubah tambahan soal sudah siap dimasukkan
dalam tabel simpleks. Contoh berikut berpola maksimum tidak baku.
Contoh 2:
Menentukan 𝑥, 𝑦, 𝑧 tak negatif yang memenuhi
𝑥 + 𝑦 + 2𝑧 ≤ 12
2𝑥 − 6𝑦 − 𝑧 ≥ 4 dan
Memaksimumkan: 𝑓 = −8𝑥 + 6𝑦 + 8𝑧
Dengan menyelipkan 2 peubah tambahan 𝑠1 dan 𝑠2 sehingga diperoleh bentuk
kanonik:
Mencari 𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑠1 , 𝑠2
𝑥 + 𝑦 + 2𝑧 + 𝑠1 = 12
2𝑥 − 6𝑦 − 𝑧 − 𝑠2 = 4
𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑠1 , 𝑠2 tidak negatif
Dan memaksimumkan: 𝑓 = −8𝑥 + 6𝑦 + 8𝑧 + 0𝑠1 + 0𝑠2
Bentuk ini tersusut bagi 𝑠1 dan 𝑠2 tetapi penyelesaian basis yang bersesuaian
menjadi
(𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑠1 , 𝑠2) = (0,0,0,12, −4)
Jadi tidak layak karena memuat nilai negatif untuk 𝑠2.
Supaya tabel awal sudah memuat penyelesaian basis yang layak maka
pada penyelesaian kedua disispkan lagi satu peubah a sehingga kendala utama
berbunyi:
𝑥 + 𝑦 + 2𝑧 + 𝑠1 = 12
2𝑥 − 6𝑦 − 𝑧 − 𝑠2 + 𝑎 = 4 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎 ≥ 0
79
Program linear
Sehingga susunan ini sudah memuat suatu plb ialah (𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑠1 , 𝑠2, 𝑎) =
(0,0,0,12,0,4) , dengan 𝑠1 sebagai basis ke-i dan a sebagai basis ke-2.
Sebelum a disisipkan kendala ke-2 harus sudah dalam bentuk persamaan. Sebagai
akibat, timbul syarat perlu supaya soal asli mempunyai penyelesaian optimum,
bahwa
80
Program linear
Soal sudah optimum dengan 3 tabel. Dengan peralihan dari tabel I dan II
ternyata a sudah keluar dari basis dan tidak masuk kembali. Ini yang diharapkan,
̅
sehingga dalam tabel optimum a bernilai nol, berarti 𝑓𝑚𝑎𝑘𝑠 = 𝑓𝑚𝑎𝑘𝑠 karena bila a
= 0 maka 𝑓 ̅ = 𝑓. Penyelesaian optimum soal asli berbunyi
(𝑥, 𝑦, 𝑧) = (4,0,4)
81
Program linear
Ringkasan
Metode Simpleks adalah salah metode alternatif
penyelesaian masalah program linear jika jumlah variabel
keputusan mengandung tiga atau lebih variabel keputusan.
Gagasan metode simpleks adalah menerjemahkan definisi
geometris atau grafik dari titik ekstrim atau titik sudut
menjadi definisi aljabar.
82
Program linear
Latihan
1. Tentukan 𝑢, 𝑣, 𝑤 tak negatif yang memenuhi
2𝑢 + 3𝑣 − 5𝑤 ≤ 15
2𝑢 − 𝑣 + 3𝑤 ≤ 3
3𝑢 + 𝑣 − 2𝑤 ≤ 2
Dan maksimumkan: 𝑓 = 9𝑢 + 2𝑣 + 5𝑤
83
Program linear
84
Program linear
DAFTAR PUSTAKA
85
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Memahami metode simpleks untuk memecahkan
masalah program linear minimisasi
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,
karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. 3. Al-Imran :60)
86
Program linear
LINEAR PROGRAMMING : METODE SIMPLEKS
PERMASALAHAN MINIMISASI
A. Pendahuluan
Hingga saat ini yang telah kita pelajari adalah penyelesaian permasalahan
linear programming dengan tanda pertidaksamaan ≤ yang biasanya kita jumpai
dalam permasalahan dengan fungsi tujuan maksimisasi. Prosedur dalam
penyelesaian permasalahan maksimisasi dapat juga kita gunakan untuk
menyelesaikan permasalahan minimisasi yang biasanya mempunyai tanda dan
atau = pada fungsi kendalanya.
87
Program linear
Dalam menyelesaikan permasalahan LP dengan metode simpleks,
langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyesuaikan formulasi
permasalahan dengan standard simpleks. Dengan kata lain kita harus merubah
tanda pertidaksamaan menjadi persamaan.
Fungsi Tujuan :
88
Program linear
Minimisasikan Cost Z = 5X1 + 6X2
Fungsi kendala :
X1 + X2 = 1000
X1 ≤ 300
X2 ≥ 150
X1, X2 ≥ 0
X1 + X2 + A1 = 1000
X1 + S1 = 300
Sedangkan kendala ketiga, X2 ≥ 150, harus dikurangi dengan surplus variabel dan
ditambah dengan artificial variabel, sehingga menjadi :
X2 – S2 + A2 = 150
Terakhir kita harus menuliskan fungsi tujuan. Karena dalam fungsi kendala ada
artificial variabel, maka kita harus memberikan koefisien +M untuk artificial
variable tersebut di fungsi tujuan. Koefisien +M ini menunjukkan angka yang
sangat besar nilainya, sehingga dalam kasus ini dapat diinterpretasikan biaya yang
89
Program linear
sangat tinggi. Fungsi tujuan dalam permasalahan Galuh Chemical Company akan
menjadi :
Fungsi Tujuan :
Fungsi kendala :
X1 + X2 + A1 = 1000
X1 + S1 = 300
X2 – S2 + A2 = 150
90
Program linear
Tabel 7.1. Tabel Awal kasus Galuh Chemical Company
Angka pada baris Cj (5, 6, 0, 0, +M, +M) tersebut adalah koefisien pada
fungsi tujuan. Sedangkan angka (1, 1, 0, 0, 1, 0) pada baris A1 serta angka (1, 0,
1, 0 0, 0) pada baris S1 dan angka (0, 1, 0, -1, 0, 1) pada baris A2 adalah koefisien
pada kendala 1, 2 dan 3. Angka pada baris Zj (+M, 2M, 0, -M , +M, +M )
diperoleh dari penjumlahan hasil kali kolom Cj dengan kolom yang bersesuaian.
Sebagai contoh kita akan menentukan nilai Zj kolom X1 = (M x 1) + (0 x 1) + (M
x 0) = M. Dengan cara yang sama kita peroleh nilai Zj pada kolom yang lain.
Angka pada baris Cj – Zj diperoleh dari angka pada baris Cj dikurangi dengan
angka pada baris Zj. Sebagai contoh kita akan menghitung nilai Cj – Zj pada
kolom X1 = 5 (yaitu angka pada baris Cj) – M (angka pada baris Zj) = 5 - M .
Demikian juga untuk menghitung nilai Cj – Zj untuk kolom-kolom yang lain
digunakan cara yang sama.
91
Program linear
Ringkasan
Dalam formulasi permasalahan LP sesuai standard simpleks
untuk fungsi kendala dengan tanda ≥ harus dikurangi
dengan surplus variable dan ditambah dengan artificial
variable. Sedangkan untuk fungsi kendala dengan tanda =
hanya ditambah ariticial variable.
Pada fungsi kendala terdapat artificial variable, maka pada
fungsi tujuan harus ditambahkan koefisien -M untuk
permasalahan maksimisasi serta koefisien +M untuk
permasalahan minimisasi.
92
Program linear
Latihan
1. Tentukan 𝑢, 𝑣, 𝑤 tak negatif yang memenuhi
2𝑢 + 3𝑣 − 5𝑤 ≤ 15
2𝑢 − 𝑣 + 3𝑤 ≤ 3
3𝑢 + 𝑣 − 2𝑤 ≤ 2
5𝑥 − 2𝑦 ≥ 0
𝑥+𝑧 =6
Dan maksimumkan: 𝑓 = 3𝑥 + 𝑦 + 5𝑧
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di
atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini !
2. Apakah yang dimaksud dengan surplus variabel ?
3. Bagimanakah formulasi yang sesuai dengan standard simpleks
untuk fungsi kendala dengan tanda ≥ .
4. Variabel apa sajakah yang boleh masuk ke dalam kolom
product mix pada tabel awal simpleks?
5. Jika pada fungsi kendala terdapat artificial variable,
bagaimanakah dampaknya pada fungsi tujuan minimisasi?
6. Tentukan 𝑢, 𝑣, 𝑤 tak negatif yang memenuhi
𝑢 + 2𝑣 + 5𝑤 ≥ 4
2𝑢 − 𝑣 + 2𝑤 ≥ 3
3𝑢 + 5𝑣 + 𝑤 ≥ 1
Dan minimumkan: 𝑓 = 2𝑢 + 6𝑣 + 7𝑤
7. Tentukan 𝐴, 𝐵, 𝐶 tak negatif yang memenuhi
10𝐴 − 5𝐵 + 𝐶 ≤ 2
−15𝐴 + 10𝐵 + 𝐶 ≥ 1
Dan minimumkan: 𝑓 = −150𝐴 + 50𝐵
93
Program linear
DAFTAR PUTAKA
94
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menginterpretasikan shadow price pada tabel
simpleks
- Memahami dampak perubahan sisi kanan fungsi
kendala baik secara parsial maupun simultan
terhadap solusi optimal.
- Menentukan besarnya rentang perubahan sisi
kanan fungsi kendala
95
Program linear
ANALISIS SENSITIVITAS:
PERUBAHAN SISI KANAN FUNGSI KENDALA
A. Pendahuluan
Analisis sensitivitas akan membahas bagaimana pengaruh perubahan
sumber daya (sisi kanan fungsi kendala) atau koefisien fungsi tujuan terhadap
nilai solusi optimal. Pada bab 8 ini akan dibahas mengenai analisis sensitivitas
yang berkaitan dengan perubahan sisi kanan fungsi kendala, sedangkan analisis
sensitivitas yang berkaitan dengan perubahan koefien fungsi tujuan akan dibahas
di bab 9.
Pembahasan pada bab 8 ini akan dibagi dua, yaitu: pada bagian pertama
akan dijelaskan mengenai shadow price, dampak perubahan sisi kanan fungsi
kendala secara parsial terhadap solusi optimal serta dampak perubahan sisi kanan
fungsi kendala secara simultan terhadap solusi optimal. Pada bagian kedua
rentang peruabahan sisi kanan fungsi kendala agar solusi masih tetap optimal.
B. Shadow Price
Shadow price menyatakan berapa besarnya fungsi tujuan akan berubah
jika sisi kanan fungsi kendala ditambah satu unit. Secara umum, shadow price
untuk setiap kendala dapat dinyatakan sebagai berikut.
Shadow price ini dapat kita lihat pada tabel optimal simpleks kolom slack
variable baris Cj – Zj. Untuk lebih memahami konsep ini perhatikan kasus
Ikhwan Furniture berikut ini.
Ikhwan Furniture menghasilkan 3 jenis produk yaitu Meja (T), kursi (C)
serta Rak Buku (B) yang masing-masing produk diproses di tiga bagian yaitu
bagian assembly, finishing serta bagian packing. Untuk menghasilkan 1 unit meja
96
Program linear
dibutuhkan waktu 3 jam di bagian assembly, 2 jam di bagian finishing dan 1 jam
di bagian packing. Untuk menghasilkan 1 unit kursi dibutuhkan waktu 4 jam di
bagian assembly, 1 jam dibagian finishing serta 3 jam di bagian packing.
Sedangkan untuk menghasilkan 1 unit rak buku dibutuhkan waktu masing-masing
2 jam di bagian assembly, finishing dan packing. Keuntungan per unit meja
adalah $2, kursi $4 sedangkan rak buku $3. Permasalahan Ikhwan Furniture
tersebut jika diformulasikan dalam bentuk program linear adalah sebagai berikut:
T, C, B ≥ 0
Tabel optimal dari kasus Ikhwan Furniture jika diselesaikan dengan menggunakan
simpleks dapat dilihat pada tabel 8.1 berikut ini.
Solusi optimal tercapai bila diproduksi 6 2/3 kursi (C), 16 2/3 rak buku
(B), dan tidak memproduksi meja (T). Keuntungan yang diperoleh setiap
minggunya adalah $76,67 (atau $76 2/3) . Perlu dicatat bahwa shadow price
tersebut tampak pada baris Cj
97
Program linear
– Zj kolom slack variable. Shadow price untuk assembly adalah – 5/6, shadow
price untuk finishing adalah – 2/3, dan shadow price untuk packing adalah 0.
Nilai shadow price untuk assembly sebesar – 5/6 bisa diartikan bahwa
setiap penambahan 1 jam kerja pada bagian assembly akan menambah
keuntungan sebesar $0,83 (atau $5/6). Nilai shadow price untuk finishing sebesar
– 2/3 bisa diartikan bahwa setiap penambahan 1 jam kerja pada bagian finishing
akan menambah keuntungan sebesar $0,67 ($2/3). Sedangkan nilai shadow price
pada bagian packing sebesar 0, berarti bahwa setiap penambahan 1 jam kerja pada
bagian packing tidak menambah keuntungan. Hal ini dikarenakan waktu di bagian
packing masih tersisa 26 2/3 jam (karena S3 yang merupakan slack variable
berada pada kolom product mix).
Kapasitas sisi kanan fungsi kendala bisa saja berubah. Perubahan ini dapat
disebabkan oleh adanya karyawan yang lembur ataupun karena ada karyawan
yang sakit. Adanya karyawan yang lembur menyebabkan bertambahnya kapasitas
sisi kanan fungsi kendala, sedangkan adanya karyawan yang sakit akan
98
Program linear
menyebabkan berkurangnya kapasitas sisi kanan fungsi kendala. Adanya
perubahan sisi kanan fungsi kendala, baik berupa penambahan jam kerja ataupun
pengurangan jam kerja tentu saja akan berdampak pada solusi optimal.
Pertanyaan yang sering muncul dalam permasalahan ini adalah bagaimana
dampak penambahan atau pengurangan kapasitas sisi kanan fungsi kendala
terhadap solusi optimal? Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan
menggunakan “change Vector”. Change Vector adalah suatu angka yang
mengukur perubahan nilai optimal basic variable karena adanya penambahan satu
unit sisi kanan fungsi kendala. Change Vector ini dapat kita lihat pada baris basic
variable (variable yang berada pada kolom product mix) kolom slack variable.
Secara matematis change vector dapat dinyatakan sebagai berikut :
Untuk lebih memahami masalah ini akan kita bahas kembali kasus Ikhwan
Furniture pada bagian A bab 8 ini. Seandainya ada penambahan 1 jam kerja pada
bagian assembly. Bagaimana dampak penambahan 1 jam kerja pada bagian
assembly terhadap solusi optimal ? Untuk menjawab pertanyaan ini perhatikan
tabel 8.2 di bawah ini.
C, B dan S3 yang berada pada baris pertama tabel 8.2 adalah product mix,
sedangkan angka yang berada pada baris kedua adalah kuantitas untuk setiap
variabel keputusan, dan angka pada baris ketiga adalah perkalian antara besarnya
perubahan dengan setiap change vector S1 ( angka yang berada pada kolom S1).
Karena yang berubah bagian assembly , maka angka yang kita gunakan angka
pada kolom S1.
99
Program linear
Dengan adanya penambahan satu jam kerja di bagian assembly, akan
menambah jumlah C yang diproduksi menjadi 7, B menjadi 16 1/2. dan total
keuntungan = (4 × 7) + (3 × 16 1/2) = 77,5 Perubahan keuntungan = 77.5 - 76.7 =
0.83 atau 5/6. Artinya dengan bertambahnya 1 jam kerja pada bagian assembly
akan menambah keuntungan sebesar $0,83. Angka ini sama dengan shadow price
pada bagian assembly.
Bagaimana jika pada bagian assembly ada karyawan yang tidak masuk
kerja ? Karyawan yang tidak masuk kerja berarti akan mengurangi kapasitas sisi
kanan fungsi kendala. Misalkan di bagian assembly ada karyawan yang tidak
masuk kerja, sehingga kapasitas pada bagian assembly berkurang 1 jam kerja.
Bagaimana dampak pengurangan jam kerja ini pada solusi optimal ? Untuk
menjawab pertanyaan ini perhatikan tabel 8.3 di bawah ini.
Bagaimana jika perubahan sisi kanan fungsi kendala lebih dari 1 jam kerja.
Sebagai contoh berikut akan kita bahas jika ada penambahan jam kerja di bagian
assembly sebesar 10 jam. Bagaimana dampak perubahan ini terhadap solusi
optimalnya? Untuk menyawab pertanyaan ini, kita tinggal mengalikan besarnya
100
Program linear
penambahan jam kerja bagian assembly dengan koefisien pada kolom S1.
perhitungannya dapat dilihat pada tabel 8.4 berikut ini.
101
Program linear
Tabel 8.5 Dampak Penambahan Satu Jam Kerja pada Bagian Assembly dan
Finishing terhadap Solusi Optimal
Tabel 8.6 Dampak Pengurangan Satu Jam Kerja pada Bagian Assembly dan
Finishing terhadap Solusi Optimal
102
Program linear
tersebut adalah = (4 x 6 2/3) + (3 x 16 1/6) = 75 1/6. Sehingga perubahan
keuntungan = 75 1/6 – 76 2/3 = -1,5 . Besarnya penurunan keuntungan ini sama
dengan shadow price untuk bagian assembly ditambah bagian finishing, yaitu -
0,83 - 0,67 = -1,5.
Apa yang terjadi jika bagian assembly menaikkan jam kerja sebesar 10
jam, sedangkan bagian finishing jam kerjanya berkurang sebesar 5 jam.
Bagaimana dampak perubahan ini terhadap nilai optimal basic variabel serta nilai
optimal fungsi tujuan? Perhatikan tabel 8.7 berikut ini.
Tabel 8.7 Dampak Penambahan 10 Jam Kerja pada Bagian Assembly dan
Pengurangan sebesar 5 jam Kerja pada Bagian Finishing terhadap Solusi
Optimal
103
Program linear
dikurangi 5 kali shadow price bagian finishing (karena jam kerja bagian finishing
berkurang) atau = (10 x 5/6) + (-5 x 2/3) = 30/6 = 5.
Sejauh ini yang telah kita bicarakan adalah dampak adanya perubahan sisi
kanan fungsi kendala baik secara parsial maupun simultan terhadap nilai optimal
basic variable dan fungsi tujuan. Namun sampai seberapa besar kapasitas fungsi
kendala tersebut boleh berubah? Artinya jika perusahaan terpakasa
memberlakukan jam lembur bagi karyawannya atau mempekerjakan karyawan
paruh waktu, seberapa besar perusahaan boleh menambah jam kerja agar solusi
masih tetap optimal? Dan sebaliknya jika ada karyawan yang cuti ataupun sakit
yang berdampak pada pengurangan jam kerja, sampai seberapa besar jam kerja ini
boleh berkurang sehingga solusi masih tetap optimal?
Perhatikan tabel 8.8 dibawah ini. Informasi yang digunakan pada tabel 8.8
ini berasal dari tabel 8.1 topik 1 bab 8. Kolom pertama adalah variabel yang
berada pada kolom product mix, kolom kedua adalah angka-angka yang berada
pada kolom kuantitas, kolom ketiga berisi change vector pada kolom S1 (karena
yang kita analisa bagian assembly).
104
Program linear
Dari tabel 8.8 di atas angka positif terkecil (20) merupakan besarnya jam
kerja pada bagian assembly yang dapat diturunkan. Sedangkan angka negatif
terkecil (-40) adalah besarnya jam kerja pada bagian assembly yang dapat
ditambah. Sehingga batas terendah jam kerja bagian assembly adalah 40, yaitu (60
– 20). dan batas tertingginya adalah 100, yaitu (60 + 40). Cara yang sama bisa
digunakan untuk mengetahui rentang perubahan pada bagian lainnya.
Dari tabel 8.9 dapat disimpulkan bahwa jumlah jam kerja di bagian finishing
boleh ditambah maksimum 20 jam dan dikurangi maksimum sebesar 25 jam.
Sehinga rentang perubahan jam kerja di bagian finishing adalah antara (40-25)
sampai dengan (40+20) atau antara 15 jam – 60 jam. Artinya jam kerja di bagian
assembly boleh ditambah hingga 60 jam kerja atau dikurangi hingga 15 jam kerja.
105
Program linear
Ringkasan
Dapak perubahan secara simultan sisi kanan fungsi kendala
terhadap nilai optimal basic variable dapat dihitung dengan
mengalikan change vector dengan besarnya perubahan sisi
kanan fungsi kendala yang bersesuaian.
Besarnya rentang perubahan sisi kanan fungsi kendala
ditentukan dengan membagi angka pada kolom kuantitas
dengan change vector untuk kendala yang sedang dianalisa.
Hasil bagi negatif terkecil menunjukkan besarnya
penambahan jam kerja maksimum yang diperkenankan agar
solusi masih tetap optimal, sedangkan hasil bagi positif
terkecil menunjukkan besarnya pengurangan jam kerja
maksimum yang diperkenankan agar solusi masih tetap
optimal.
106
Program linear
Latihan
Fungsi Kendala 6 B + 8 M + 4 P ≤ 96
2 B + M + 2 P ≤ 40
5 B + 3 M + 2 P ≤ 60
B, M, P ≥ 0
107
Program linear
108
Program linear
DAFTAR PUTAKA
109
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
127
Program linear
A. Pendahuluan
Metode Transportasi juga bisa digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan liner programming. Tujuan dari metode transportasi adalah
menentukan pola pengiriman yang paling baik dari beberapa sumber (supply) ke
beberapa tujuan (demand) sehingga meminimalkan total biaya produksi dan
transportasi. Salah satu fungsi dalam dunia usaha adalah guna tempat. Panen padi
yang melimpah di Pulau Buru kehilangan nilai ekonomisnya karena kapal jarang
merapat di Pulau Buru untuk mengangkut hasil bumi ke Ambon dan sekitarnya
yang membutuhkan. Bawang merah yang melimpah di Brebes juga perlu
diangkut ke kota-kota lain agar lebih bermanfaat. Dalam hal ini alat transportasi
merupakan fungsi yang menambah nilai pada hasil bumi tersebut.
Misalnya perusahaan memiliki dua pabrik (sumber) dan tiga gudang (tujuan).
Dengan metode transportasi, kasus semacam ini bisa disederhanakan
sebagaimana tampak pada matriks 10.1.
128
Program linear
P : Pabrik
G: Gudang
m: jumlah pabrik
n: jumlah gudang
a: kapasitas Pabrik
b: kapasitas Gudang
C11 X11 + C12 X12 + C13 X13 + C21 X21 + C22 X22 + C23 X23 + ...... + Cmn
Xmn
129
Program linear
(Subject to the constraints)
X11 +X21 = b1
X12 + X22 = b2
X13 +X23 = b3
dan
130
Program linear
Matriks 10.2 menggambarkan biaya pengiriman per unit dari kota asal
(Pabrik) ke kota tujuan (Gudang). Dalam kasus ini, kota asal adalah Yogya,
Malang, dan Denpasar. Sedang kota tujuan adalah Jakarta, Semarang, dan
Surabaya. Biaya pengiriman barang per unit dari Yogya ke Jakarta adalah 5, dari
Yogya ke Semarang adalah 4 dan dari Yogya ke Surabaya adalah 3, dan
seterusnya.
Matriks 10. 2 Informasi Biaya Transportasi dari Kota Asal ke Kota Tujuan
Dari data tersebut bisa kita buat matriks transportasi. Tujuan pembuatan
matriks adalah meringkas dan menyajikan dengan jelas data yang ada.
131
Program linear
2. kaitkan dengan permintaan masing-masing gudang untuk setiap kolom.
3. Teliti kembali apakah ada kesesuaian antara persediaan dan permintaan.
Kapasitas pabrik Yogya adalah 100. Kebutuhan gudang Jakarta adalah
300. Oleh karena itu, untuk sementara seluruh hasil produksi dari Yogya dikirim
ke Jakarta. Karena daya tampung gudang Jakarta adalah 300. Sementara ini baru
mendapat kiriman dari Yogya 100 unit, maka masih terdapat kekurangan sebesar
300 – 100 = 200 unit. Kekurangan ini diambilkan dari pabrik berikutnya, yaitu
Malang. Kapasitas pabrik di Malang adalah 300. Jakarta masih kekurangan 200.
Maka 200 unit dari Malang dikirim ke Jakarta, sedangkan sisanya (100) dikirim
ke kota tujuan berikut, yaitu Semarang. Kapasitas gudang di Semarang adalah
200. Baru mendapat kiriman dari Malang sebesar 100 unit. Perlu adanya kiriman
tambahan dari kota berikut, yaitu Denpasar sebesar 100. Mengingat kapasitas
pabrik Denpasar adalah 300, dan baru terpakai 100 yang dikirim ke Semarang,
maka masih tersisa 200 untuk dikirim ke Surabaya. Jumlah ini sesuai dengan daya
tampung gudang di Surabaya. Oleh karena itu kasus ini dikenal Demand = Supply
(D = S).
132
Program linear
Berdasarkan penyebaran dengan menggunakan Northwest Corner Rule
tersebut di atas, perlu diadakan kalkulasi biaya pengiriman. Perhitungan kalkulasi
biaya terlihat pada Tabel 10.1, dimana total biaya pengiriman adalah sebesar
4.200.
1. Biaya D – C dan E – C adalah biaya yang terendah dari seluruh matriks ($3).
Untuk sementara kita alokasikan D ke C. Karena kapasitas C 200 dan
kapasitas D hanya 100, maka masih kurang 100. Karena kapasitas Pabrik D
sudah terpakai semua maka D – A dan D – B kita silang.
2. Biaya terendah dari kota yang belum tersilang adalah E – C. Kita alokasikan
dari E ke C sebesar 100 untuk memenuhi kebutuhan kapasitas gudang C. Dan
kota F – C kita silang, karena tidak memerlukan pengiriman lagi.
3. Dari empat kotak kosong yang memiliki biaya yang terendah adalah E – B
($4). Dari E kita kirim 200 unit ke B. Dan tinggal satu kota tujuan lagi yaitu
A. Seluruh kapasitas F (300 unit) kita kirim ke A.
133
Program linear
Matriks 10. 4 Transportasi dengan The Least Cost Rule
134
Program linear
Ringkasan
135
Program linear
Latihan
136
Program linear
DAFTAR PUTAKA
137
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
138
Program linear
STEPPING STONE
Dengan adanya uji coba pengiriman dari Yogya ke Semarang, terjadi perubahan
biaya yang bisa dihitung dengan menggunakan angka indeks. Angka indeks
dihitung berdasarkan penambahan atau pengurangan 1 unit dikalikan dengan
biaya pengiriman per unit. Bila angka indeks positif, berarti terjadi penambahan
biaya. Sebaliknya bila angka indeks negatif, berarti akan terjadi pengurangan
biaya pada saat kita memindahkan distribusi dari kota asal ke kota tujuan yang
berindeks negatif tersebut.
139
Program linear
Matriks 11. 5 Indeks dari Jogya ke Semarang
140
Program linear
Matriks 11. 6 Indeks dari Jogya ke Surabaya
141
Program linear
Dengan mengalikan jumlah yang dikirim dari sumber ke tujuan pada Matriks 6.7,
diperoleh total biaya pengiriman dengan distribusi yang baru sebesar 4.000. Total
biaya pengiriman berkurang (100 unit x 2) = Rp.200,-, menjadi = Rp.4000,-
142
Program linear
Ringkasan
143
Program linear
Latihan
144
Program linear
DAFTAR PUTAKA
145
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
146
Program linear
Pendahuluan
Metode Transportasi sebagaimana dibicarakan pada bab 11, diselesaikan
dengan menggunakan Norhwest corner rule. Keuntungan menggunakan northwest
corner rule adalah bahwa metode ini sistematik dan mudah diterapkan. Namun
demikian kelemahan metode ini adalah bahwa tidak sensitif terhadap biaya.
Karena tujuan metode transportasi adalah meminimumkan biaya, kita bisa
menggunakan opportunity cost dengan memilih biaya per unit yang paling rendah.
147
Program linear
Matriks 12. 1 Data Biaya Pengiriman Per Unit, Kapasitas Pabrik dan
Kapasitas Gudang
148
Program linear
Dari seluruh perhitungan tersebut terlihat bahwa selisih terbesar terdapat
pada kolom G4 (25). Hal itu berarti perusahaan akan menghemat 25 satuan biaya
kalau mengirim pertama ke kolom G4. pada kolom G4 tersebut kita pilih kotak
dengan biaya terendah dalam hal ini adalah baris PB. Sebagai percobaan awal
semua kebutuhan G4 dikirim dari PB sejumlah 40 unit.
Untuk mengisi kotak yang lain, diulangi cara yang sama, yaitu dengan
menghitung biaya peluang berdasarkan baris dan kolom, kemudian pilih biaya
peluang terbesar dan alokasikan pada kotak dengan biaya terendah, dengan
mempertimbangkan supply dan demand.
1. pada setiap baris dan kolom, pilih biaya terendah dan alternatif biaya terendah
berikutnya pada kotak yang belum terpakai. Selisih antara biaya terendah dan
altiernatif biaya terendah berikutnya merupakan opportunity cost (biaya
peluang) bagi baris atau kolom.
2. pilihlah opportunity cost yang tertinggi di antara baris dan kolom
3. alokasikan sebanyak mungkin unit pada baris atau kolom pada kotak dengan
biaya terendah.
Untuk mengisi kotak kosong yang lain, dihitung kembali biaya peluang
berdasarkan baris dan kolom. Baris PB yang kapasitasnya sudah habis digunakan,
tidak diperhitungkan dalam proses perhitungan biaya peluang. Perhitungan biaya
peluang berdasarkan baris dan kolom dapat dilihat pada Matriks 7.3.
149
Program linear
kotak PA –G2, perlu mempertimbangkan kapasitas Pabrik PA dan Gudang G2.
karena permintaan pada G2 70 sementara kapasitas Pabrik PA 150, maka kita
alokasikan sebesar 70. Sehingga kapasitas Pabrik PA masih tersisa 80 unit yang
bisa dialokasikan ke gudang lainnya.
150
Program linear
Tabel 12.1. Total Biaya dengan VAM
Ringkasan
151
Program linear
Latihan
152
Program linear
DAFTAR PUTAKA
153
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
154
Program linear
Dalam modi method, R menjadi simbol baris dan K menjadi simbol kolom.
Sehingga biaya pada kotak terisi (stone square) ij adalah sebagai berikut
Cij = Ri + Kj
1. Menghitung nilai dari masing-masing baris dan kolom; tetapi hanya kotak
yang terisi (Cij= Ri +Kj)
2. Setelah semua persamaan ditulis, tentukan R1 = 0
3. Selesaikan semua persamaan
155
Program linear
4. Hitunglah indeks untuk masing-masing kotak yang tidak terpakai Indeks =
Cij – Ri - Kj
5. Pilihlah indeks dengan nilai negatif terbesar untuk kasus minimisasi.
Berdasarkan Matriks 13.6, kita dapat menentukan nilai Ri dan Kj untuk kotak
terisi sebagai berikut.
R1 + K1 = 5
R2 + K1 = 8
R2 + K2 = 4
R3 + K2 = 7
156
Program linear
R3 + K3 = 5
R1 = 0
R1 + K1 = 5 0 + K1 = 5 K1 = 5
R2 + K1 = 8 R2 + 5 = 8 R2 = 3
R2 + K2 = 4 3 + K2 = 4 K2 = 1
R3 + K2 = 7 R3 + 1 = 7 R3 = 6
R3 + K3 = 5 6 + K3 = 5 K3 = -1
Perhatikan kembali Matriks 7.6. kotak kosong adalah D-B, D-C, E-C, dan F-A.
4 - 0 - 1 = 3
3 - 0 - (-1) = +4
157
Program linear
3 - 3 - (-1) = +1
9 - 6 - 5 = -2
1. lacak jalur tertutup (closed path) yang memiliki indeks negatif terbesar
2. beri tanda plus dan minus pada kotak lain dari jalur, dimulai dengan tanda plus
pada kotak yang tidak terpakai.
3. kotak yang mempunyai tanda negatif dan alokasi terkecil yang terdapat pada
jalur tertutup menunjukkan jumlah yang bisa dikirim pada kotak yang tidak
terpakai.
4. akhirnya, indeks pengembangan bagi solusi yang baru bisa dihitung.
Matriks 13. 7. Uji Coba Pengiriman dari Denpasar ke Jakarta
158
Program linear
Perbaikan Matriks ini akan kita lakukan sampai diperoleh indeks bertanda
positif atau nol. Untuk menguji apakah Matriks 7.7. sudah optimal atau belum
akan dihitung kembali nilai Ri dan Kj untuk kotak yang kosong dengan rumus (Cij
– Ri - Kj).
R1 = 0
R1 + K1 = 5 0 + K1 = 5 K1 = 5
R2 + K1 = 8 R2 + 5 = 8 R2 = 3
R2 + K2 = 4 3 + K2 = 4 K2 = 1
R3 + K1 = 9 R3 + 5 = 9 R3 = 4
R3 + K3 = 5 4 + K3 = 5 K3 = 1
4 - 0 - 1 = 3
159
Program linear
Indeks dari Jogya ke Surabaya (D-C) = C13 – R1 – K3
3 - 0 - 1 = +2
3 - 0 - 1 = +2
7- 4 - 1 = 2
Seperti telah dilakukan pada Matriks 13.6, dari perhitungan indeks terlihat
bahwa kotak kosong (E – C) mempunyai indeks negatif terbesar, yaitu – 1. Oleh
karena itu akan kita buat closed path (jalur tertutup) yang dimulai dari kotak E –
C, dengan tanda positif. Dari jalur tertutup ini kotak yang mempunyai tanda
negatif dan alokasi terkecil adalah kotak E – A. Matriks yang sudah diperbaiki
terlihat pada Matriks 13.8.
Untuk menguji apakah Matriks 13. 8. sudah optimal atau belum akan
dihitung kembali nilai Ri dan Kj untuk kotak yang kosong dengan rumus (Cij – Ri -
Kj).
R1 = 0
160
Program linear
R1 + K1 = 5 0 + K1 = 5 K1 = 5
R3 + K1 = 9 R3 + 5 = 9 R3 = 4
R3 + K3 = 5 4 + K3 = 5 K3 = 1
R2 + K3 = 3 R2 + 1 = 3 R3 = 2
R3 + K2 = 4 2 + K2 = 4 K3 = 2
4 - 0 - 2 = +2
3 - 0 - 1 = +2
8 - 2 - 5 = +1
7 - 4 - 2 = +1
Karena semua indeks kotak kosong bernilai positif, maka Matriks sudah optimal.
Total biaya minimum sebesar 3900 sebagaimana tampak pada Tabel 13.2.
Tabel 13. 2. Total Biaya Minimum
161
Program linear
162
Program linear
Latihan
163
Program linear
DAFTAR PUTAKA
164
Program linear
Standar Kompetensi:
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah
program linear, keterampilan belajar secara mandiri
dalam mempelajari masalah-masalah pemrograman
linear dari kehidupan sehari-hari, dengan
menekankan pada pemahaman konsep serta
penguasaan dan kemahiran teknik penyelesaiannya
menggunakan teori maupun paket program
komputer.
Indikator:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
- Menjelaskan konsep dualitas
- Interpretasi ekonomis suatu masalah program
linear
165
Program linear
A. Pendahuluan
Program POM adalah sebuah program komputer yang digunakan untuk
memecahkan masalah dalam bidang produksi dan operasi yang bersifat
kuantitatif. Tampilan grafis yang menarik dan kemudahan pengoperasian
menjadikan POM for Windows sebagai alternatif aplikasi guna membantu
pengambilan keputusan seperti misalnya menentukan kombinasi produksi yang
sesuai agar memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Menentukan order
pembelian barang agar biaya perawatan menjadi seminimal mungkin, menentukan
penugasan karyawan terhadap suatu pekerjaan agar dicapai hasil yang maksimal,
dan lain sebagainya.
1. Aggregate Planning
2. Assignment (Penugasan)
3. Balancing Assembly Line
4. Break Even/Cost-Volume Analysis
5. Decission Analysis (Pengambilan Keputusan)
6. Forecasting (Peramalan)
7. Inventory (Persediaan)
8. Job Shop Sceduling
9. Learning Curve
10. Linnier Proggraming (Pemrograman Linier)
11. Location
12. Lot Sizing
13. Material Requirements Planning
14. Operations Layout
15. Project Management (PERT/CPM)
16. Quality Control
17. Reliability
18. Simulation
19. Transportation
166
Program linear
20. Waiting Lines (Antrian)
167
Program linear
Klik start → Program → Pilih POM for Windows sehingga akan muncul
tampilan berikut :
1. Title Bar
Terdiri dari: The control Main Box, program name dan button untuk layar
yaitu Minimize, Maximize, dan close.
2. Menu Bar
Terdiri dari: File, Edit, View, Modul, Tables, Tools, Windows, dan Help.
168
Program linear
E. Model Grafik
Model grafik digunakan untuk memecahkan masalah penentuan kombinasi
optimum (maksimal dua variabel) guna memaksimumkan laba atau
meminimumkan biaya dengan kendala tertentu.
Contoh (Maksimisasi):
Dua produk diproses berangkai menggunakan 4 mesin. Waktu setiap mesin per
hari tersedia 8 jam. Waktu proses produksi dan profit sebagai berikut:
Hitung jumlah produksi optimal setiap jenis produk dan keuntungan totalnya!
Penyelesaian:
Pada kasus disebutkan waktu yang tersedia adalah 8 jam sedangkan proses
produksi mesin menggunakan satuan menit sehingga perlu penyesuaian satuan
waktu menjadi menit sehingga diperoleh angka 8 jam x 60 menit = 480 menit
Fungsi Kendala :
1) 10 X1 + 5 X2 ≤ 480
2) 6 X1 + 20 X2 ≤ 480
3) 8 X1 + 15 X2 ≤ 480
4) 30 X2 ≤ 480
5) X1, X2 ≥ 0
169
Program linear
Setelah formulasi selesai disusun maka masukkan data pada program POM for
Windows dengan langkah sebagai berikut:
Keterangan:
170
Program linear
Klik SOLVE apabila data sudah lengkap dan benar sehingga akan tampak
hasilnya.
Kemudian dengan klik menu Window akan tampil pilihan Linear
Programming Result, Ranging, Solution List, Iterations, dan Graph seperti
pada gambar berikut:
171
Program linear
Di bawah kolom Constraint Display terdapat kolom Corner Points yang
menunjukkan hubungan antara variabel X1 dan X2 serta Z. Misalkan apabila X1
= 48 dan X2 = 0 maka Z (profit) akan bernilai 480000.
1. (X1) = 34,29
2. (X2) = 13.71
Catatan:
172
Program linear
Ringkasan:
173
Program linear
Latihan
174
Program linear
DAFTAR PUTAKA
175
Program linear
GLOSARIUM
Abjad
A Additivity (penambahan). Artinya aktivitas total sama dengan
penjumlahan aktivitas individu.
Alternatif Optima adalah situasi dimana terdapat lebih dari satu
solusi optimal.
B
C Certainty/kepastian adalah fungsi tujuan dan fungsi kendala
sudah diketahui dengan pasti dan tidak berubah selama periode
analisa
corner point adalah titik-titik suduk pada area layak
D Divisibility (bisa dibagi-bagi). Maksudnya solusi tidak harus
merupakan bilangan integer (bilangan bulat), tetapi bisa juga
berupa pecahan
Dual adalah persoalan programa linier mempunyai suatu
programa linier lain yang saling berkaitan
E
F feasible region adalah daerah yang menjadi potensi
penyelesaian secara matematis
I Integer adalah bilangan bulat
iso profit line merupakan garis selidik
Infeasibility adalah suatu kondisi dimana tidak ada area layak
yang memenuhi semua kendala.
O Optimum adalah usaha memakasimalkan atau minimalkan
176