0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan8 halaman

Sejarah dan Pertumbuhan Sastra Indonesia

Paragraf pertama memberikan latar belakang perkembangan sastra Indonesia sejak zaman dahulu hingga masuknya pengaruh Barat pada abad ke-20. Paragraf berikutnya menjelaskan peran lembaga-lembaga seperti Balai Pustaka dan Pujangga Baru dalam memajukan sastra Indonesia pada masa itu. Dokumen ini membahas perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1900 hingga 1945, termasuk lembaga-lembaga dan karya sastra

Diunggah oleh

Ayu angely
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan8 halaman

Sejarah dan Pertumbuhan Sastra Indonesia

Paragraf pertama memberikan latar belakang perkembangan sastra Indonesia sejak zaman dahulu hingga masuknya pengaruh Barat pada abad ke-20. Paragraf berikutnya menjelaskan peran lembaga-lembaga seperti Balai Pustaka dan Pujangga Baru dalam memajukan sastra Indonesia pada masa itu. Dokumen ini membahas perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1900 hingga 1945, termasuk lembaga-lembaga dan karya sastra

Diunggah oleh

Ayu angely
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENGANTAR SASTRA INDONESIA


Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sastra indonesia ialah sastra yang berbentuk bahasa
Indonesia, sedangkan hasilnya adalah sekian banyak puisi, cerita pendek, novel, roman, dan
naskah drama berbahasa Indonesia. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa sastra Indonesia
adalah keseluruhan sastra yang berkembang di Indonesia selama ini. Pada kenyataannya juga
telah berkembang sastra daerah : Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Toraja, Lombok, dan
[Link] kata, istilah sastra Indonesia berarti sastra (kesustraan) berbahasa
Indonesia yang lahir dan tumbuh sejak awal abad ke -20 dan selanjutnya berkembang bersama
sastra daerah (Melayu, Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain) yang tampaknya justru semakin
terdesak. Adapun hasilnya melalui teks puisi, ratusan cerita pendek, ratusan novel atau roman,
dan puluhan sastra drama yang tercetak di majalah, koran dan buku

Sastra (kesusastraan) Indonesia bukanlah objek kajian yang otonom, setiap karya diciptakan
oleh pengarang, dipublikasikan oleh penerbit, dinikmati banyak pembaca, dikritik, diteliti,
dicetak ulang, dan sebagainya. Jadi, dibalik atau disekitar karya sastra tersebut terdapat
sejumlah komponen yang mendukung kehidupannya, yaitu pengarang, penerbit, dan pembaca.
Disamping itu ada juga jenis-jenis (genre) sastra : puisi, prosa, dan drama, namun belakangan
ini ada tawaran baru yakni memasukan esay ke dalam jenis sastra.

BAB II

SEJARAH SASTRA INDONESIA

Dalam mengerti sejarah ( Gottschalk,1975) Sejarah berasal dari kata benda Yunani istoria yang
berarti ‘’ilmu’’ . Oleh filsuf Aristoteles ,kata tersebut diartikan sebagai suatu pertelaan
sistematis mengenai seperangkat gejala alam ,entah susunan kronologi merupakan factor atau
tidak di dalam [Link] sederhana dapat dikatakan bahwa sejara sastra merupakan
cabang ilmu sastra yang mempelajari prtumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa,
misalnya sejarah sastra indonesia .Dengan pengertian dasar itu ,tampaklah bahwa objek sastra
adalah segala peristiwa yang terjadi padarentang masa pertumbuhan dan perkembangan suatu
[Link] pengantar ilmu sastra ( Luxemburg 1982) dijelaskan bahwa dalam sejarah sastra
dibahas periode-periode kesusastraan , aliran-aliran, jenis-jenis,pengarang-pengarang,dan juga
reaksi pembaca.

Perhatian ahli sastra di Eropa terhadap sejarah sastra sastra dimuali pada abd ke -19, berawal
dari perhatian ilmuwan pada zaman romantik. Tokoh yang berpengaruh terhadap pandangan
tersebut adalah Hypolyte Taine ( 1828-1839). Pandangannya menegaskan seorang pengaran
dipengaruhi oleh ras,lingkungan,dan [Link] sejarah sastra Jerman ,Wilhelm Scherer
(1841-1886) menggunakan tiga factor yaitu das ererbte(warisan),das erlebte ( pengalaman),das
erlente ( hasil proses belajar).Formalisme dipelopori oleh dua tokoh ilmuan Rusia yaitu Sjklovski
berpendapat bahwa tugas khas kesnian adalah mengajak manusia memandang dunia yang
melingkupinya dengan suatu cara baru, sementara itu Joeri Tynjanov memandang karya sastra
sebagai suatu system dan menekankan pada fungsi berbagai unsur di dalam sistem itu .

Dijelaskan Teuw bahwa pembicaraan awal tentang sastra Indonesia pasti terkait dengan
sejarah pertumbuhan bahasa Melayu yang bermula pada abad ke 7 hingga kemudian menjadi
bahasa Indonesia pada awal abad ke20 sebagai mana tercetus dalam sumpah pemuda 28
Oktober 1928 menurut Teuw pada pendapat Teuw penjadian bahasa Indonesia menjadi bahasa
Melayu pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan saat pemandian dan bahkan dapat
disebut pengakuan keyakinan,jadi bukaan saat kelahirannya,karena prosesnya telah berjalan
pada masa sebelumnya ditangan para tokoh pergerakan nasiona dan pemuda terpelajar,seperti
[Link], Rustam Efendi, [Link] Alisjahbana, Amir Hamja,Sanusi Pane,Armijin Pane,dan J.E
[Link] itu perintis dan pembuka jalan lahirnya sastra Indonesia.

Sementara itu ditegaskan Bakri Siregar bahwa masa awal sastra Indonesia modern tidak bisa
dipisahkan dari masalah masyarakat dan bangsa Indonesia dalam perkembangan sejarahnya
dan dengan alat sastra itu lah tampak kesadaran sosial dan politik bangsa Indonesia pada awal
abad ke 20 degan pandangan seperti itu kemudian disebutkan tokoh tokoh Multatuli ,R.A
Kartini ,Ki Hadjar Dewantara,Semaun,dan Rustam Efendi sebagai juru bicara kesadaran sosial
yang melawan kolonialism Belanda .

Menurut Ajip Rosidi dalam konteks pertumbuhan sastra Indonesia dikatakan bahwa tradisi
sastra berbahasa daerah nusantara termasuk bahasa Melayu ,telah berkembang marak selama
abad abad .Perubahan pun terjadi mulai abad ke -19 yang memperkenalkan prosa yang lugas
dan praktis untuk menyampaikan kehidupan [Link] menurut Jakob Sumardjo
mengajak masyarakat sastra Indonesia untuk menghentikan sastra Melayu rendah dan sastra
peranakan Tionghoa yang berkembang pada abad ke -19 sebagai embrio sastra Indonesia
sehingga awal sastra Indonesia tidak semata-mata pada peranan Balai Pustaka 1917.

Pertumbuhan sastra Indonesia tidak terpisahkan dari dinamika sosial budaya masyarakat
pemangkunya pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Dinamika itu dapat ditelaah dari
berbagai sudut pandang sepertipolitik, kebudayaan, kebahasaan, kemasyarakatan, dan
penerbitan. Sementara hingga sekarang sejarah sastra Indoenesia telah berlangsung relative
panjang dengan perkembangan yang terbilang pesat dan dinamik sehingga dapat ditulis secara
panjang lebar. Munculnya sejumlah persoalan sastra yag erat kaitannya dengan perubahan
zaman dan gejolak sosial politik yang secara teoritis dipercaya besar pengaruhnya terhadap
kehidupan sastra.
Ajip Rosidi ( 1969) membagi masalah sejarah sastra sebagai berikut .

[Link] kelahiran atau masa kebangkitan yang mencakup kurun waktu 1900-1945 yang dapat
dibagi lagi menjadi beberapa priode yaitu,

 Periode awal hingga 1933


 Periode 1933 -1942
 Periode 1942 -1945

2. Masa perkembangan (1945-1968) yang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa periode,yaitu

 Periode 1945 -1953


 Periode 1953-1961
 Periode 1961-1968

Adapun periodisasi Jakob Sumardjo sebagaimana terbaca pada bagian Pendahuluan lintasan
sejarah sastra Indonesia sebagai berikut.

Pembagian zaman sastra Indonesia modern telah tercatat lima angkatan yang muncul dengan
rentang waktu 10-15 tahun sehingga dapat disusn periodisasi sejarah sastra Indonesia modern
sebagai beriku:

 Sastra awal (1900-an),


 Sastra balai pustaka (1920-1942),
 Sastra pujangga baru (1930-1942),
 Sastra angkatan 45(1942-1955),
 Sastra generasi kisah (1955-1965),dn
 Sastra generasi horison(1966-)

Setelah meninjau periodisasi sejarah sastra Indonesia dari [Link],Boejoeng


saleh,Nugroho,Noto Susanto,Bakri Siegar ,dan Ajip Rosidi, maka tawaran Rachmat Djoko
Pradopo mengenai periodesasi sejarah sastra Indonesia adalah sebagai berikut.

 Periode balai pustaka: 1920-1940


 Periode pujangga baru: 1930-1945
 Periode angkatan 45 :1940-1955
 Periode angakatan 50: 1950-1970,dan
 Periode angakatan 70 : 1965-sekarang(1984)

BAB III

MASA PERTUMBUHAN SASTRA INDONESIA TAHUN 1900-1945


Pada masa pertumbuhan sastra Indonesia terjadi berbagai hal yang diantaranya menyangkut
karya-karya sastra yang ada pada masa itu.

Sekolah dan Pers


Nusantara yang kemudian menjadi bangsa Indonesia telah memiliki tradisi sastra yang hebat
selama berabad-abad dan terus berlansung sejalan dengan perubahan zaman hingga
memasuki abad [Link] zaman itu ditandai dengan munculnya sekolah-sekolah
umum yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan sistem dan isi yang
berbeda dengan pesantren dan sekolah-sekolah [Link] umum atau sekolah negeri
pada zaman itu didirikan sebagai realisasi kebijakan pemerintah Belanda terhadap desakan
kaum sosialis yang melancarkan semangat politik etika atau polotik balas [Link] kaum
sosialis tampaklah kemewahan yang berlimpah di Belanda berasal dari negara jajahan Hindia-
[Link] karena itu, mereka berpendapat seharusnya diberikan balas budi kepada rakyat
jajahan dengan memberikan pendidikan yang terbuka bagi kebanyakan orang [Link]
abad-abad silam sastra klasik atau sastra nusantara itu belum tercetak dalam buku-buku yang
rapi dan mudah di baca orang, tetapi tertulis dengan tangan pada naskah-naskah lontar, bilah
bamboo, bilah kayu dan kertas dengan jumlah yang sangat terbatas.

Balai Pustaka
Nama Balai Pustaka tersebut telah bertahan selama lebih dari 90 tahun, kalu dihitung dari
berdirinya pada tahun 1917 yang merupakan pengukuhan Komisi untuk Sekolah Bumiputra dan
Bacaan Rakyat yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 14 September
1908. Jelas bahwa badan penerbitan itu merupakan organ pemerintah kolonial yang
semangatnya boleh dikatakan berseberangan dengan penerbit-penerbit swasta, baik yang
semata-mata bervisi komersial maupun bervisi [Link] tetapi, mengigat sejarahnya
yang panjang itu maka sepantasnya menajadi bagian khusus dalam pengkajian atau telaah
sejarah sastra Indonesia. Secara teoritis dapat dikatakan banyak masalah yang dapat
diungkapkan dari Balai Pustaka selama ini, antara lain visi dan misi, status, program kerja, para
tokoh, kebijakan redaksi, pengarang, produksi, dan distribusi. Yang jelas ada beberapa
masalah esensial balai pustaka yang secara historis tidak terbantahkan.

Pujangga Baru
Seperti halnya Balai Pustaka, Pujangga Baru pun merupakan sebuah momentus penting dalam
perjalanan sejarah sastra Indonesia. Kata itu dapat diartikan sebagai majalah yang aslinya
tertulis Poejangga Baroe, dan dapat juga diartikan gerakan kebudayaan Pujangga Baru tahun
1930-an yang tidak terpisahkan dari tokoh-tokoh pemuda terpelajar Muhammad Yamin, Rustam
Effendi S., Takdir Arkistahbahna, Amirjd Pane, Sanusi Pane, J.E. Tatengkeh, dan Amier
Hamzah.

Keimin Bungka Shidosho


Keimin Bunka Shidosho yang dalam bahasa Indonesia disebut Kantor Pusat Kebudayaan
adalah sebuah lembaga atau organisasi bentukan pemerintah pendudukan Jepang yang
bertugas memobilisasi berbagai potensi seni dan budaya untuk kepentingan Perang Asia Timur
Raya uang dikorbankan Jepang. Ke dalam Keimin Bunka Shidosho atau Kantor Pusat
Kebudayaan itu terhimpunlah sejumlah seniman untuk membuat lagu-
lagu, lukisan, slogan, sajak, sandiwara, dan film yang harus bisa membakar semangat
perjuangan demi kepentingan Jepang yang menjanjikan masa depan gemilang bagi bangsa
Indonesia. Janji-janji yang lantang itu diwujudkan dalam berbagai tindakan drastis seperti
penghapusan segala sistem yang berbau Belanda, termasuk penghapusan bahasa Belanda
untuk diganti dengan bahasa Jepang yang harus segera dipelajari orang, Selanjutnya dibidang
seni budaya dibentuklah Pusat Kebudayaan sebagai penghimpun potensi kreatif seniman
budayawan, terutama yang berkedudukan di Jakarta.

Bacaan terpilih
Bacaan terpilih dimaksudkan sebagai ilustrasi, pengingat atau penyegar bagi para pembaca
yang secara umum talah mengenal sejumlah karya sastra [Link] terpilih itu bukan
bagus dan hebat dari pandangan dan kritik sastra melainkan jumlah sampel atau contoh yang
datanya dipandang pantas diungkapakan kembali dengan pertimbangan tertentu.

BAB IV

MASA PERGOLAKAN SASTRA INDONESIA TAHUN 1945-1965

Surat Kepercayaan Gelanggang

Sudah diketahui umum bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa
sejarah yang amat penting bagi bangsa karena dengan memontum itulah terbentuk atau berdiri
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tujuan mulia seperti tertulis dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Berbagai kisah awal revolusi Indonesia yang sudah ditulis banyak
orang pastilah dibaca generasi sekarang agar diperoleh gambaran historis mengenai berbagai
peristiwa dimasa awal revolusi, termasuk perubahan yang terjadi dibidang sastra.

Dari Krazt (1988a:32-33) diperoleh catatan majalah yang terbit pada tahun-tahun setelah
proklamasi kemerdekaan adalah Arena, Gelanggang, Media, Panji Masyarakat, Genta, Pedoman
Masyarakat, Panji Islam, Api, Gema Islam, Hikmah, Suara MIAI, Basis (Yogyakarta), Liberty
(Surabaya), dan Waktu (Medan). Seperti halnya kelompok Pujangga Baru yang telah berpolemik
megenai konsep kebudayaan Indonesia baru, para seniman dan budayawan pada masa awal
revolusi pun sempat memikirkan konsep kebudayaan Indonesia sebagai landasan pemikiran.
Mereka tidak lagi berpolemik, tetapi sempat merumuskan suatu konsep yang kemudian
terkenal dengan sebutan “Surat Kepercayaan Gelanggang” itu diumumkan dalam ruang
kebudayaan “Gelanggang” dalam majalah Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rival Apin, sedangkan
pimpinan majalahnya adalah Rosihan Anwar.

Lembaga Kebudayaan Rakyat

Semangat membangun kebudayaan Indonesia yang terkuang dalam Surat Kepercayaan


Gelanggang ternyata terdesak oleh perubahan yang deras dibidang sosial, budaya, dan
[Link] kedaulatan Republik Indonesia pada akhir tahun 1949 tidak dengan
sendirinya menyelesaikan berbagai krisis kehidupan bangsa yang memang sedang
[Link] demokrasi liberal dengan sistem kabinet parlementer tidak membuahkan
hasil yang menggembirakan karena yang terjadi adalah krisis dengan pergantian pedana
menteri yang jarak waktunya pendek-pendek sehingga tidak produksi dibidang
[Link] itu kemudian diakhiri dengan Deklit Presiden 5 Juli 1959 dengan prinsip
Undang-Undang Dasar 1945.

Lekra didirikan lima tahun setelah pecah revolusi Agustus, disaat revolusi tetahan oleh
rintangan hebat berupa persetujuan Konferensi Meja Bundar. Lekra didirikan untuk mencegah
kemerosotan lebih lanjut karena menyadari tugas revolusi bukan hanya milik kaum politisi,
tetapi juga tugas pekerja [Link] merupakan reaksi terhadap realitas politik
kultural yang mencemaskan dan mengusahakan pengucapan kebudayaan, khususnya sastra,
berdasarkan realitas yang sedang berkembang dan harus dipertanggungjawabkan secara
politik.

Sementara itu, sejumlah pengarang yang kemudian dikenal sebagai orang-orang Lekra adalah A.
Kohar Ibrahim, Agam Wispi, Amarzan Imail Hamid, B.A. Simanjuntak, Dodong Djiwapradja, F.I.
Risakota, Hadi S., Kuslan Budiman, Kusni Sulang, Rijono Pratikto, S. Anantaguna, S. Rukiah, S.
Wisnu Kuntjahjo, Sobro Aidit, Sugiarti Siswadi, Zubir A.A, Hadi S, dan lain-lain. Keberpihakan itu
merupakan salah satu pilihan yang mendesak agar dapat berhadap serangan [Link]
politik pada waktu itu menyulitkan orang untuk bersikap independen atau [Link],
masih banyak pengarang dan cendekiawan yang bertahan independen melalui mejalah bulanan
Kisah sebagai penerbit sastra yang mengutamakan cerita pendek.

Majalah Kisah

Majalah kisah menjadi penting dalam sejarah sastra Indonesia karena merupakan majalah
sastra yang pertama kali mengutamakan cerita pendek (cerpen).Dewan redaksinya adalah
Sudjati S.A., H.B. Jassin, M. Balfas, Idrus, dan D.S. Moeljanto. Majalah itu dapat bertahan
hampir lima tahun, mulai Juli 1953 hingga Maret 1957 dan berhasil menjadi tolak ukur
kepengarangan seseorang. Tidak lama kemudian terbit juga majalah Prosa (1955), Seni (1955),
Budaya (1953-1962), Konfrontasi (1954-1962), dan Kompas (1951-1955).Semua itu merupakan
ajang kreativitas para pengarang yang terus [Link] mereka terbukti menjadi
pengarang-pengarang terkemuka pada belasan tahun kemudian. Seperti A.A. Navis, Ajip Rosidi,
Iwan Simantupang, Motinggo Busye, Nh. Dini, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardoyo, dan
Rendra.

Tentu saja data singkat seperti itu masih dapat diperpanjang dengan sejumlah nama yang telah
tercatat sejumlah sumber. Akan tetapi, hal itu lebih tepat dikembangkan dan diperdalam para
pembaca (peneliti, kritikus) yang meminati masalah pergolakan budaya pada tahun 1960-an.
Ada pun juga yang telah terjadi pada masa itu akan tampak baru apabila dikaji kembali dalam
perspektif sejarah, tidak kecuali masalah Manifes Kebudayaan .

BAB V

MASA PEMAPAAN SASTRA INDONEIA TAHUN 1965-1998

Majalah Horizon
Nama Horizon yang berarti ‘kaki langit’ atau ‘cakrawala’ itu merupakan simbol pencarian
horison baru untuk menghapuskan batas-batas pemikiran, telaah, dan kreativitas disemua
bidang kehidupan. Majalah tersebut mengajak masyarakat meninggalkan ruang sempit yang
telah mengungkung jiwa masyarakat selama puluhan tahun sehinhha memeperoleh kehidupan
baru yang lebih segar dan terbatas dari kekuasaan yang monolitik. Sejak pertama kali majalah
tersebut sudah menjadi bulan-bulanan, hasutan dan fitnahan kelompok Lekra yang
berkehendak segala kegiatan kebudayaan, termasuk sastra, berada dibawah pengaruh dan
kekuasaannya. Wajar apabila mereka berharap Sastra akan terbit sejalan dengan Horison
karena telah memiliki suatu komunitas yang kukuh.
Dua puluh tahun kemudian, terhadap kasus tersebut Rachmat Djoko Pradopo berpendapat
bahwa pelarangan karya sastra bukan hanya terjadi sekarang, tetapi sudah pernah berlaku
pada sekian abad yang silam.

Sastra Indonesia di Mancanegara


Sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman yang semakin jauh dari semangat jajah-
menjajah maka tampaklah pertumbuhan pusat-pusat pengkajian kebudayaan Indonesia di
manca negara.

Kritik dan Esai


Boleh jadi belimpahnya novel populer itu mengaburkan batasan dengan novel sastra yang telah
memiliki jalur tersendiri. Masalah itu lebih tepat dibahas oleh kritik sastra yang bertugas menilai
baik-buruknya karya sastra. Tentu saja pembahasan yang menyeluruh tidak akan tercapai
dalam buku ini karena cakupannya memang terbatas pada lintasan sejarah. Dengan kata
lain, dalam buku ini hanya disajikan lintasan kritik sastra Indonesia, sedangkan jiwa dan
semangatnya harus dibaca dan dikaji dalam sejumlah buku kritik sastra Indonesia yang
jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.
Hingga sekarang tradisi kritik sastra yang tertuang dalam artikel resensi, tinjuan, atau ulasan
terus berjalan dan berkembang di berbagai koran dan majalah.

Anda mungkin juga menyukai