SOP Kegiatan Peledakan PT Atlasindo
SOP Kegiatan Peledakan PT Atlasindo
ATLASINDO UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Kegiatan peledakan di tambang Andesit umumnya difokuskan untuk
pemberaian ( breaking & loosening ) batuan induk Secara garis besar,
rangkaian kegiatan peledakan meliputi kegiatan
Pembuatan pengumuman .
Penyimpanan bahan peledak
Pengangkutan bahan peledak
Penyimpanan bahan peledak
Pengisian bahan peledak ke dalam lubang tembak
Pengisian steaming dalam lubang ledak
Penyalaan atau proses peledakan
Penanganan mist fire
Pada kegiatan peledakan ini, peran seorang pengawas adalah
memastikan pengamanan areal dan bahan peledak dari alat dan orang
yang tidak berkepentingan.
Page | 1
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
k. Mengambil Kunci gudang dan menjamin keamanan kunci gudang setiap saat
Menyerahkan kunci gudang pada pihak yang bertanggung jawab setiap akhir
shift.
l. Menentukan posisi aman terhadap blasting machine sebelum waktu
ledakan.
m. Melakukan inspeksi secara tepat pada peralatan yang dioperasikan.
n. Memberikan pemberitahuan kepada seluruh org yang terkait terhadap
kegiatan peledakan
o. Melakukan inspeksi visual harian bahan peledak termasuk pembersihan
rumput atau sampah yg mudah terbakar dalam jarak 20 m dari gudang
handak
p. Mengawasi tugas-tugas harian team drilling and blasting
q. Melakukan laporan harian , inspeksi visual dari semua area kerja.
r. Memastikan penempatan yang tepat barikade dan sesuai arah pelemparan
peledakan di sekitar lokasi ledakan
s. Memberikan laporan ledakan sesuai dengan posisi lubang tembak
t. Memeriksa hasil peledakan yang disesuaikan dengan fragmentasi yang
diharapkan
u. Menentukan delay untuk masing masing baris dalam peledakan
v. Berkoordinasi dengan kepala gudang handak untuk memastikan inventori
bahan dan aksesoaris peledakan
Page | 2
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
d. Tetap waspada dan segera memberitahu juru ledak jika
terjadi pelanggaran atau kondisi tidak aman di daerah yang akan diledakkan
e. Tidak terlibat dalam percakapan apa pun yang akan mengurangi kesiagaan
dalam melakukan tugas.
[Link] OPERASIONAL
I. PROSEDUR UMUM
Semua kegiatan peledakan dalam perusahaan yang akan dilakukan sesuai dengan
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/26/ [Link]/1995 tanggal
Page | 3
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
22 Mei 1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.
Prosedur perusahaan dan SOP yang dibuat akan mencerminkan persyaratan
peraturan ini.
Semua SOP peledakan yang dibuat akan sesuai dengan isi dari prosedur yang
disebutkan dalam dokumen ini dan akan mengikuti semua rekomendasi dari
pembuat produk dan peralatan yang digunakan
Radius Kegiatan pengeboran yang diizinkan adalah berjarak 10 meter dari lubang
yang telah diisi bahan peledak
Ahli Geologi akan memberikan informasi terkait dengan kondisi batuan sebagai
berikut:
Jika terjadi hujan petir, semua personil dilarang memasuki daerah peledakan,
daerah peledakan akan diblokir hingga menunggu selesainya hujan dan petir.
Peledakan akan diselenggarakan hingga kondisi aman atau terhentinya hujan petir.
Foreman produksi bertanggung jawab atas keamanan daerah yang di bloker
Jika terjadi penundaan peledakan karena alasan apapun, Foreman blasting akan
memberitahukan ke semua departemen yang bersangkutan melalui radio atau
telepon.
Page | 4
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
[Link] PENYIMPANAN BAHAN PELEDAK
Bahan Peledak harus diberi label yang sesuai, label yang dibuat menunjukkan isi
bahan peledak dan label dapat terbaca dari jarak dekat .
Bahan peledak harus disimpan dalam kemasan aslinya dan dicantumkan tanggal
penyerahan bahan peledak tersebut ke gudang, tulisan harus jelas pada
kemasannya dan mudah dibaca tanpa memindahkan kemasan
(1) Detonator harus tersimpan terpisah dengan bahan peledak lainnya di dalam
gudang bahan peledak peka detonator.
(2) Bahan peledak peka detonator tidak boleh disimpan di gudang bahan peledak
peka primer atau di gudang bahan ramuan bahan peledak.
(3) Bahan peledak peka primer dapat disimpan bersama-sama di dalam gudang
bahan peledak peka detonator tetapi tidak boleh disimpan bersama-sama
dalam gudang bahan ramuan bahan peledak.
(4) Bahan ramuan bahan peledak dapat disimpan bersama-sama di dalam gudang
bahan peledak peka primer dan atau di dalam gudang bahan peledak peka
detonator.
(5) Amunisi dan jenis mesiu lainnya hanya dapat disimpan dengan bahan peledak
lain di dalam gudang bahan peledak apabila ditumpuk pada tempat terpisah
dan semua bagian yang terbuat dari besi harus dilapisi dengan pelat tembaga
atau alumunium atau ditutupi dengan beton sampai tiga meter dari lantai.
(6) Temperatur ruangan bahan peledak untuk:
a. bahan ramuan tidak boleh melebihi 55 Celcius; dan
b. peka detonator tidak boleh melebihi 35 Celcius.
(1) Kepala Teknik Tambang yang menggunakan bahan peldak harus:
a. dapat memastikan bahwa bahan peledak tersimpan di tambang dengan
aman;
b. mengangkat orang yang cakap sebagai petugas administrasi bahan
peledak di tambang dan orang tersebut setidak-tidaknya harus mem-punyai
sertifikat juru ledak kelas II dan diyakini telah memahami peraturan-
peraturan bahan peledak; dan
c. dapat memastikan bahwa petugas gudang bahan peledak diangkat dalam
jumlah yang cukup untuk mengawasi gudang dengan baik.
(2) Gudang dan bahan peledak hanya dapat ditangani oleh petugas yang telah
berumur 21 tahun ke atas, berpengalaman dalam menangani dan
menggunakan bahan peledak dan mempunyai wewenang secara tertulis yang
dikeluarkan oleh Kepala Teknik Tambang untuk menjadi petugas gudang
bahan peledak dan namanya harus didaftarkan dalam Buku Tambang.
(3) Petugas gudang bahan peledak harus memeriksa penerimaan, penyimpanan,
dan pengeluaran bahan peledak.
(4) Petugas gudang bahan peledak harus memastikan bahwa gudang bahan
peledak harus selalu terkunci kecuali pada saat dilakukan pemeriksaan,
inventarisasi, pemasukan, dan pengeluaran bahan peledak.
Page | 5
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(5) Dilarang masuk ke dalam gudang bahan peledak bagi orang yang tidak
berwenang, kecuali Pelaksana Inspeksi Tambang dan Polisi.
(6) Bahan peledak hanya boleh ditangani oleh juru ledak an petugas gudang
bahan peledak.
(1) Di dalam gudang bahan peldak harus tersedia buku catatan bahan peledak
yang berisi:
a. nama, jenis, dan jumlah keseluruhan bahan peledak serta tanggal
penerimaan; dan
b. lokasi dan jumlah bahan peledak yang disimpan.
(2) Pada setiap gudang bahan peledak harus tersedian daftar persediaan yang
secara teratur selalu disesuaikan dan dalam rinciannya tercatat:
a. nama dan tanda tangan petugas yang diberi wewenang untuk menerima
dan mengeluarkan bahan peledak yang namanya tercatat dalam Buku
Tambang;
b. jumlah setiap jenis bahan peledak dan atau detonator yang masuk dan
keluar dari gudang bahan peledak;
c. tanggal dan waktu pengeluaran serta pengembalian bahan peledak;
d. nama dan tanda tangan petugas yang menerima bahan peledak; dan
e. lokasi peledakan dan tujuan permintaan/pengeluaran bahan peledak.
Page | 6
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(3) Kepala Teknik Tambang harus mengirimkan laporan triwulan mengenai
persediaan persediaan dan pemakaian bahan peledak kepada Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang; dan bentuk laporan triwulan sebagaimana
dimaksud butir (a) ayat ini ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang
(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) pasal ini harus
diarsipkan, setidak-tidaknya untuk satu tahun.
Penerimaan dan Pengeluaran Bahan Peledak dilakukan sebagai berikut:
(1) Petugas yang mengambil bahan peledak harus menolak atau
mengembalikan bahan peledak yang dianggap rusak atau berbahaya atau
tidak layak digunakan.
(2) Penerimaan dan pengeluaran bahan peledak harus dilakukan pada ruangan
depan gudang bahan peledak dan pada saat melakukan pekerjaan pintu
penghubung harus ditutup.
(3) Jenis bahan peledak yang dibutuhkan harus dikeluarkan dari gudang sesuai
dengan urutan waktu penerimaan.
(4) Bahan peledak dan detonator yang dikeluarkan harus dalam kondisi baik dan
jumlahnya tidak lebih dari jumlah yang diperlukan dalam satu gilir kerja.
(5) Bahan peledak sisa pada akhir gilir harus segera dikembalikan ke gudang.
Membuka kembali kemasan bahan peledak yang dikembalikan tidak perlu
dilakukan apabila bahan peledak tersebut masih dalam kemasan atau peti
aslinya seperti waktu dikeluarkan.
(6) Bahan peledak yang rusak supaya segera dimusnahkan dengan cara yang
aman mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(7) Data dari bahan peledak yang rusak meliputi jumlah, jenis, merek, dan
kerusakan yang terlihat harus dilaporkan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang untuk mendapatkan saran penanggulangannya.
(8) Kemasan yang kosong atau bahan pengemas lainnya tidak boleh disimpan di
gudang bahan peledak atau gudang detonator.
(9) Membuka kemasan bahan peledak dan detonator harus dilakukan dibagian
depan gudang bahan peledak
Page | 7
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
a. Memeriksa kedalaman: Untuk mengecek kedalaman dapat digunakan
meteran dengan diberi pemberat secukupnya atau menggunakan
tongkat berskala (biasanya dibuat dari bambu) Bila lubang ledak tidak
sesuai dengan yang direncanakan, maka yang harus dilakukan adalah:
b. Apabila terlalu dalam, isilah dengan bahan untuk stemming kemudian
dipadatkan sampai kedalamannya berkurang dan sesuai dengan yang
direncanakan
c. Apabila kurang dalam, harus dilakukan pengeboran untuk memper-
dalamnya agar sesuai dengan kedalaman lubang yang direncanakan
(2) Memeriksa adanya penghambat: Apabila terasa ada hambatan atau penyumbat
lubang dapat digunakan tongkat bambu untuk mendorong material penghambat
(tamping). Atau dapat pula menggunakan tali yang diberi pemberat untuk
memukul dan mendorong material penghambat
(3) Memeriksa air: Untuk memeriksa adanya air di dalam lubang dapat dengan
menjatuhkan batu kecil ke dalam lubang dan bila sampai pada air akan
terdengar gema suara benda jatuh ke dalam air. Dapat digunakan pompa atau
kompresor alat bor untuk mengeluarkan air. Apabila air masuk kembali dengan
cepat ke dalam lubang, disarankan untuk menggunakan bahan peledak yang
tahan terhadap air, misalnya watergel, emulsi atau cartridge. Bila mengguna-kan
ANFO, pakailah tabung atau selubung plastik yang cukup kuat agar tidak bocor
dengan diameter lebih kecil sedikit dibanding diameter lubang ledak
(4) Memeriksa rongga dan retakan: Adalah sangat penting mengetahui adanya
rongga atau retakan besar di dalam lubang ledak. Sulit untuk mengetahui
seberapa besar rongga tersebut, sehingga apabila bahan peledak diisikan ke
dalamnya akan menambah volume dari yang seharusnya. Efek peningkatan
volume berakibat buruk karena akan menyebabkan batu terbang (fly rock),
ledakan udara (airblast), atau getaran yang hebat. Cara memeriksa adanya
rongga dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Menggunakan kaca (atau kaca jam tangan) yang diarahkan ke dalam
lubang dan dengan batuan pantulan sinar matahari dapat terlihat ada-
tidaknya rongga.
b. Cek data log-bor dari Juru Bor yang menginformasikan adanya kenaikan
perubahan penetrasi mendadak pada kedalaman tertentu
Terdapat tiga jenis bahan dalam kolom lubang ledak, yaitu primer, “isian utama”
dan ditutup oleh penyumbat (stemming). Berikut ini akan diuraikan tentang cara
pengisian ketiga bahan tersebut.
Page | 8
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
c. Setelah primer terletak pada posisinya, ikatlah kawat atau sumbu dengan
batu atau kayu di bagian luar agar tidak merosot masuk kembali ke dalam
lubang ledak.
d. Kawat detonator listrik (legwire) jangan sampai terkelupas akibat
bergesekan dengan dinding lubang. Disamping itu hindari legwire yang
terlalu pendek, kalau terpaksa dapat disambung dan sambungannya
harus diisolasi agar air tidak masuk ke kawat.
e. Dilarang memadatkan (tamping) primer secara berlebihan.
f. Diameter primer harus lebih kecil sedikit dari diameter lubang ledak. Bila
waktu memasukkan primer agak susah turunnya, maka dapat dibantu
didorong dengan tongkat kayu dengan perlahan-lahan.
g. Untuk lubang tegak mengarah ke atap pada bukaan bahwa tanah
diperlukan
h. Retainer untuk menahan primer agar tidak jatuh. Setelah itu “isian utama”,
misalnya ANFO
(2) Pengisian “isian utama”
Pengisian dilakukan secara manual, bahan peledak ( ANFO) dituang
langsung ke dalam lubang ledak menggunakan tempat sederhana, misalnya
ember plastik, yang telah ditetapkan volumenya. Penuangan bahan peledak
sedikit demi sedikit diiringi dengan pengukuran ketinggiannya menggunakan
selang plastik atau tongkat berskala sampai batas yang telah direncanakan.
Bila dituangkan bahan peledak ANFO ke dalam lubang ledak yang berair,
maka ANFO harus diproteksi menggunakan selubung plastik.
(3) Pengisian penyumbat (stemming)
Penyumbat sebaiknya adalah material 0,5 – 1,0 cm atau batu split karena
setelah dipadatkan akan terjadi ikatan kuat antar butir dan saling mengunci.
Maksud penguncian antar butir adalah agar cukup kuat menahan energi
peledakan, sehingga tidak terjadi stemming ejection dan selbagian besar
energi didistribusikan kearah horizontal. Apabila tidak tersedia, baik juga
digunakan cutting hasil pengeboran. Sebaiknya tidak menggunakan tanah liat,
pasir halus, kertas karton
Page | 9
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(2) Sambungan Legeire dengan connecting wire
Sambungan legwire dengan connecting wire atau kabel pembantu di dalam
lubang harus diisolasi dengan baik dan kuat, Penyambungan rangkaian antar
lubang harus dilaksanakan secepatnya dengan cara penyambungan Ujung
kawat jangan terbuka, tetapi harus selalu diikat, baik legwire secara terpisah
maupun ujung kawat dari rangkaian yang akan disambung kelead wire
(3) Kerapian Sambungan
Rangkaian harus dibuat rapih dan efektif. Upayakan agar kawat tidak kusut
Sebelum rangkaian disambung ke kawat utama atau lead wire, tahanan listrik
dan kesinambungan arus dari rangkaian harus diukur dengan blast oh meter
(BOM). Tahanan listrik rangkai harus sesuai dengan perhitungan teoritis dan
toleransi 10% dapat dianggap baik.
(4) Tenaga Kerja yang berhak untuk menangani sambungan
Secara terpisah “kawat utama” harus diukur juga tahanannya. Pemegang
kunci blasting machine dan pelaku inisiasi hanya diijinkan kepada orang yang
benar-benar mengerti, cukup berpengalaman dan memiliki Kartu Ijin
Meledakkan (KIM) atas nama yang bersangkutan dan perusahaan.
Page | 10
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
f. Pada saat membuat primer periksa terlebih dahulu yaitu:sebaiknya diuji
dahulu oleh blasting ohm meter. Pada waktu pengujian detonator
dimasukkan ke dalam lubang ledak yang masih kosong. Setelah diuji
kedua ujung legwire harus diikat atau digabung kembali satu dengan
lainnya.
Page | 11
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
h. Semua orang yang berada di area peledakan harus menyingkir dan
berlindung
i. Minta ijin ke sentral informasi bahwa jalur komunikasi untuk sementara
diambil alih oleh team peledakan, jadi seluruh bagian tidak
diperkenankan menggunakan jalur tersebut, kecuali bila mengetahui di
area peledakan terdapat sesuatu yang membahayakan.
j. Semua jalan masuk ke area peledakan ditutup atau diblokir Pada saat
itu kedua ujung kawat utama (lead wire) masih terkait satu sama
lainnya
k. Pekerjaan pada aba-aba pertama sudah dilaksanakan dan Mandor
atau Foreman atau Pengawas Peledakan sedang melakukan
pemeriksaan akhir bidang bebasUjung kawat utama diikat sebelum
dihubungkandengan BM Kawat utama(lead wire)
l. Kawat utama sudah disambung dengan pemicu ledak (exploder)
Sampai tahap kedua ini masih memungkinkan terjadi penundaan
peledakan, apabila Pengawas Peledakan melihat sesuatu yang
dinilainya dalam kondisi tidak aman melalui komunikasi dan aba-aba
khusus.
m. Tombol atau tangkai pemicu ditekan sesuai prosedur pemakaian alat
dan peledakan terjadi. Sampai tahap ini jalur komunikasi masih
dikuasai team peledakan sebelum dilakukan pemeriksaan hasil
peledakan dan dinyatakan bahwa peledakan aman dan terkendali.
(3) PEMERIKSAAN SETELAH PELEDAKAN
a. Setelah peledakan selesai area tempat peledakan dan sekitarnya
masih menjadi tanggung jawab team peledakan sebelum dilakukan
pemeriksaan. Beberapa pekerjaan yang perlu dilakukan setelah
peledakan adalah: 1) Sekitar 15 menit setelah ledakan, pemeriksaan
dilakukan terhadap gas-gas beracun dan kemungkinan adanya lubang
yang gagal ledak (misfire).
b. Apabila terdapat lubang yang gagal ledak, terlebih dahulu harus
dilaporkan ke Pengawas Peledakan, kemudian segera ditangani.
Lubang yang gagal ledak harus ditandai dengan bendera merah.
c. Apabila kondisi lubang yang gagal ledak dinilai oleh Pengawas
Peledakan membutuhkan waktu beberapa jam untuk menanganinya,
maka kembalikan dahulu jalur komunikasi kepada sentral informasi.
d. Apabila seluruh lubang meledak dengan baik dan konsentrasi gas
sudah cukup aman, segera laporkan ke Pengawas Peledakan untuk
diinformasikan ke seluruh karyawan dan masyarakat disekitarnya.
Pengawas Peledakan akan mengumumkan bahwa “ peledakan 100
lubang (misalnya) telah meledak seluruhnya dan kondisi dinyatakan
aman dan terkendali, kepada seluruh karyawan dan masyarakat
dipersilahkan kembali pada aktifitasnya masing- masing. Dengan ini
jalur komunikasi dikembalikan ke sentral informasi, terima kasih
Page | 12