0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan12 halaman

SOP Kegiatan Peledakan PT Atlasindo

Dokumen tersebut membahas prosedur standar operasi peledakan di tambang andesit, meliputi tugas juru ledak, kru drilling dan blasting, petugas pengamanan, dan formen peledakan. Kegiatan peledakan harus dilaksanakan sesuai prosedur keselamatan dan peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

budip23gmailcom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan12 halaman

SOP Kegiatan Peledakan PT Atlasindo

Dokumen tersebut membahas prosedur standar operasi peledakan di tambang andesit, meliputi tugas juru ledak, kru drilling dan blasting, petugas pengamanan, dan formen peledakan. Kegiatan peledakan harus dilaksanakan sesuai prosedur keselamatan dan peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

budip23gmailcom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PT.

ATLASINDO UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Kegiatan peledakan di tambang Andesit umumnya difokuskan untuk
pemberaian ( breaking & loosening ) batuan induk Secara garis besar,
rangkaian kegiatan peledakan meliputi kegiatan

 Pembuatan pengumuman .
 Penyimpanan bahan peledak
 Pengangkutan bahan peledak
 Penyimpanan bahan peledak
 Pengisian bahan peledak ke dalam lubang tembak
 Pengisian steaming dalam lubang ledak
 Penyalaan atau proses peledakan
 Penanganan mist fire
Pada kegiatan peledakan ini, peran seorang pengawas adalah
memastikan pengamanan areal dan bahan peledak dari alat dan orang
yang tidak berkepentingan.

Pada kegiatan ini , seorang pengawas tambang mutlak berkewajiban


mengontrol terlaksananya kegiatan peledakan yang aman sesuai dengan
Standard Operating Prosedur.

Selanjutnya , tentang kegiatan peledakan dan pekerjaan lain yang


berkaitan , harus dituangkan dalam Standard Operation Procedure agar
kegiatan peledakan dapat berjalan dengan baik dan mencapai sasaran
produksi

B. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

I. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB JURU LEDAK

a. Bertanggung jawab untuk mengambil, mendistribusian dan mengembalikan


bahan peledak, serta melakukan pencatatan terhadap penggunaan
aksesoris dan bahan peledakan yang dikelola
b. Melakukan penanganan bahan peledak menurut prosedur yang berlaku.
c. Mencegah orang yang tidak sah memasuki lokasi ledakan.
d. Menjaga persediaan bahan peledak (termasuk dokumentasi ) dan
kebersihan.
e. Melarang masuknya personil yang tidak sah masuk ke dalam gudang bahan
peledak.
f. Melakukan brifing tentang K3 pada awal di mulainya peledakan
g. Membuat daftar hadir team peledakan
h. Memeriksa dan menguji peralatan inisiasi ledakan.
i. Memastikan semua peralatan dalam kondisi baik sebelum digunakan.
j. Blasting machine berfungsi sempurna

Page | 1
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
k. Mengambil Kunci gudang dan menjamin keamanan kunci gudang setiap saat
Menyerahkan kunci gudang pada pihak yang bertanggung jawab setiap akhir
shift.
l. Menentukan posisi aman terhadap blasting machine sebelum waktu
ledakan.
m. Melakukan inspeksi secara tepat pada peralatan yang dioperasikan.
n. Memberikan pemberitahuan kepada seluruh org yang terkait terhadap
kegiatan peledakan
o. Melakukan inspeksi visual harian bahan peledak termasuk pembersihan
rumput atau sampah yg mudah terbakar dalam jarak 20 m dari gudang
handak
p. Mengawasi tugas-tugas harian team drilling and blasting
q. Melakukan laporan harian , inspeksi visual dari semua area kerja.
r. Memastikan penempatan yang tepat barikade dan sesuai arah pelemparan
peledakan di sekitar lokasi ledakan
s. Memberikan laporan ledakan sesuai dengan posisi lubang tembak
t. Memeriksa hasil peledakan yang disesuaikan dengan fragmentasi yang
diharapkan
u. Menentukan delay untuk masing masing baris dalam peledakan
v. Berkoordinasi dengan kepala gudang handak untuk memastikan inventori
bahan dan aksesoaris peledakan

II. TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB KRUE DRILLING AND BLASTING

a. Menangani bahan peledak  Sesuai dengan prosedur yang diterapkan  


b. Mencegah orang yang tidak berkepentingan memasuki lokasi ledakan. 
c. Melarang masuknya personil yang tidak berkepentingan ke dalam gudang
handak
d. Memeriksa dan menguji peralatan inisiasi peledakan.
e. Melakukan inspeksi  pada peralatan yang dioperasikan. 
f. Melakukan pemberitahuan tentang kegiatan peledakan.
g. Melakukan kontrol di daerah yang akan diledakkan
h. Melakukan pembersihan area gudang handak terhadap material yang mudah
terbakar, hingga radius 30 m dari gudang handak
i. Memastikan Batas daerah aman  di sekitar lokasi ledakan. 
j. Mentaati Tugas-tugas lain yang diberikan oleh master blasting

III. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB SECURITY ATAU PETUGAS


PENGAMANAN

a. Ikuti prosedur perusahaan teradap aturan peledakan .


b. Tiba di lokasi daerah yang  ditetapkan sebelum  kegiatan peledakan dimulai
c. Memilih posisi yang tepat di lokasi yang akan diledakkan sehingga bisa
mengontrol semua aktivitas pada daerah yang akan di ledakkan

Page | 2
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
d. Tetap waspada dan segera memberitahu juru ledak jika
terjadi pelanggaran atau kondisi tidak aman di daerah yang akan diledakkan
e. Tidak terlibat dalam percakapan apa pun  yang akan mengurangi kesiagaan
dalam melakukan tugas.

[Link] DAN TANGGUNG JAWAB FORMEN PELEDAKAN

a. Memastikan Bahwa pemberitahuan tentang pelaksanaan peledakan di lokasi


yang ditunjuk tidak lebih dari jam 9 a.m. pada hari yang sama ketika kegitan
peledakan dilakukan
b. Memverifikasi bahwa standar dan prosedur serta peraturan hukum telah
sesuai dengan ketetapan yang ada.
c. Bertanggung jawab atas perubahan jadwal peledakan,yang akan di lakukan
d. Berkoordinasi dan meminta persetujuan dengan atasan yang ditunjuk.
e. Tidak membiarkan setiap orang yang tidak berkepentingan untuk masuk
areal yang berisikan bahan peledak; Apalagi memungkinkan mereka untuk
menangani bahan peledak.
f. Secara berkala, menilai kembali keterampilan personil yang bekerja pada
kegiatan peledakan dan untuk menangani bahan peledak.
g. Menentukan lokasi aman daerah peledakan.
h. Menangani dan menggunakan bahan peledak sesuai dengan standar
keselamatan dan peraturan.
i. Membuat laporan dan memeriksa bahan peledak bulanan untuk
memverifikasi persediaan, kondisi bahan peledak dan keamanan daerah
sekitarnya.
j. Melakukan pemberitahuan setiap 3 menit sebelum peledakan dilakukan
k. Mengkomunikasikan ke semua pihak jika terdapat perubahan prosedur &
persyaratan hukum
l. Melakukan pertemuan keselamatan bulanan dengan semua anggota kru.
m. Memastikan bahwa team peledakan memiliki radio genggam yang memadai
untuk melakukan pra dan pasca ledakan
n. Harus memperoleh persetujuan dari KTT atas perubahan jadwal peledakan
karena adanya penyebab yang lain, misalnya cuaca.
o. Menghadiri pertemuan tambang produksi harian untuk meninjau aktivitas
sehari-hari.
p. Melakukan pemeriksaan rencana bulanan konsumsi bahan peledak,
q. Melakukan training personil kru peledakan terhadap penggunaan bahan
peledak yang aman.

[Link] OPERASIONAL

I. PROSEDUR UMUM

Semua kegiatan peledakan dalam perusahaan yang akan dilakukan sesuai dengan
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/26/ [Link]/1995 tanggal

Page | 3
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
22 Mei 1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.
Prosedur perusahaan dan SOP yang dibuat akan mencerminkan persyaratan
peraturan ini.

Semua SOP peledakan yang dibuat akan sesuai dengan isi dari prosedur yang
disebutkan dalam dokumen ini dan akan mengikuti semua rekomendasi dari
pembuat produk dan peralatan yang digunakan

Dilarang Merokok, melakukan pekerjaan pengelasan, atau penggunaan api hingga


radius jarak 15 meter dari setiap bahan peledak termasuk mesin pencampuran anfo.

Personil yang berwenang dan kendaraan yang diperbolehkan untuk memasuki


tempat peledakan terbatas hanya personil dan kendaraan yang telah mendapat
persetujuan sebelumnya

Penanganan bahan peledak harus melibatkan aparat keamanan yang terkait

Radius Kegiatan pengeboran yang diizinkan adalah berjarak 10 meter dari lubang
yang telah diisi bahan peledak

Ahli Geologi akan memberikan informasi terkait dengan kondisi batuan sebagai
berikut:

• Kandungan sulfida pada batuan yang akan diledakkan


• Kekerasan kekerasan batuan yang akan diledakkan

Jika terjadi hujan petir, semua personil dilarang memasuki daerah peledakan,
daerah peledakan akan diblokir hingga menunggu selesainya hujan dan petir.
Peledakan akan diselenggarakan hingga kondisi aman atau terhentinya hujan petir.
Foreman produksi bertanggung jawab atas keamanan daerah yang di bloker

II. PROSEDUR PEMASANGAN PENGUMUMAN KEGIATAN PELEDAKAN

Papan Pengumuman Mengenai Kegiatan Peledakan Harus terpasang di pintu


masuk utama ke lokasi Tambang, dan juga lokasi lainnya, Isi pengumumna harus
diperbarui pada awal shift setiap hari dengan jadwal peledakan untuk hari
bersangkutan.

Jika terjadi penundaan peledakan karena alasan apapun, Foreman blasting akan
memberitahukan ke semua departemen yang bersangkutan melalui radio atau
telepon.

Page | 4
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
[Link] PENYIMPANAN BAHAN PELEDAK

Bahan Peledak harus diberi label yang sesuai, label yang dibuat menunjukkan isi
bahan peledak dan label dapat terbaca dari jarak dekat .

Bahan peledak harus disimpan dalam kemasan aslinya dan dicantumkan tanggal
penyerahan bahan peledak tersebut ke gudang, tulisan harus jelas pada
kemasannya dan mudah dibaca tanpa memindahkan kemasan

(1) Detonator harus tersimpan terpisah dengan bahan peledak lainnya di dalam
gudang bahan peledak peka detonator.
(2) Bahan peledak peka detonator tidak boleh disimpan di gudang bahan peledak
peka primer atau di gudang bahan ramuan bahan peledak.
(3) Bahan peledak peka primer dapat disimpan bersama-sama di dalam gudang
bahan peledak peka detonator tetapi tidak boleh disimpan bersama-sama
dalam gudang bahan ramuan bahan peledak.
(4) Bahan ramuan bahan peledak dapat disimpan bersama-sama di dalam gudang
bahan peledak peka primer dan atau di dalam gudang bahan peledak peka
detonator.
(5) Amunisi dan jenis mesiu lainnya hanya dapat disimpan dengan bahan peledak
lain di dalam gudang bahan peledak apabila ditumpuk pada tempat terpisah
dan semua bagian yang terbuat dari besi harus dilapisi dengan pelat tembaga
atau alumunium atau ditutupi dengan beton sampai tiga meter dari lantai.
(6) Temperatur ruangan bahan peledak untuk:
a. bahan ramuan tidak boleh melebihi 55 Celcius; dan
b. peka detonator tidak boleh melebihi 35 Celcius.
(1) Kepala Teknik Tambang yang menggunakan bahan peldak harus:
a. dapat memastikan bahwa bahan peledak tersimpan di tambang dengan
aman;
b. mengangkat orang yang cakap sebagai petugas administrasi bahan
peledak di tambang dan orang tersebut setidak-tidaknya harus mem-punyai
sertifikat juru ledak kelas II dan diyakini telah memahami peraturan-
peraturan bahan peledak; dan
c. dapat memastikan bahwa petugas gudang bahan peledak diangkat dalam
jumlah yang cukup untuk mengawasi gudang dengan baik.
(2) Gudang dan bahan peledak hanya dapat ditangani oleh petugas yang telah
berumur 21 tahun ke atas, berpengalaman dalam menangani dan
menggunakan bahan peledak dan mempunyai wewenang secara tertulis yang
dikeluarkan oleh Kepala Teknik Tambang untuk menjadi petugas gudang
bahan peledak dan namanya harus didaftarkan dalam Buku Tambang.
(3) Petugas gudang bahan peledak harus memeriksa penerimaan, penyimpanan,
dan pengeluaran bahan peledak.
(4) Petugas gudang bahan peledak harus memastikan bahwa gudang bahan
peledak harus selalu terkunci kecuali pada saat dilakukan pemeriksaan,
inventarisasi, pemasukan, dan pengeluaran bahan peledak.

Page | 5
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(5) Dilarang masuk ke dalam gudang bahan peledak bagi orang yang tidak
berwenang, kecuali Pelaksana Inspeksi Tambang dan Polisi.
(6) Bahan peledak hanya boleh ditangani oleh juru ledak an petugas gudang
bahan peledak.

IV. PROSEDUR TRANSPORTASI BAHAN PELEDAK

(1) Dalam pengangkutan Bahan peledak , dilarang melakukan penundaan


pengangkutan bahan peledak ke area penyimpanan atau ke lokasi peledakan.
Bahan peledak harus diserahkan dan disimpan di gudang dalam jangka waktu
tidak lebih dari 24 jam sejak tibanya dalam wilayah kegiatan pertambangan.
(2) Dilarang mengangkut bahan peledak ke atau dari gudang bahan peledak atau
di sekitar tambang kecuali dalam peti aslinya yang belum dibuka atau wadah
tertutup yang digunakan khusus untuk keperluan itu. Apabila dalam
pemindahan bahan peledak dari peti aslinya ke dalam wadah tertutup terdapat
sisa, maka sisa tersebut harus segera dikembalikan ke gudang bahan peledak.
(3) Bahan peledak dan detonator tidak ditransportasikan pada kendaraan sama
kecuali mereka dipisahkan dalam kompartemen kotak dari kayu dengan
ketebalan kayu pembuat kotak minimal 4 inchi, Partisi kayu harus diikat ke
kendaraan
(4) Kendaraan yang digunakan untuk mengangkut bahan peledak akan:
Dilengkapi dengan minimal satu alat pemadam kebakaran.
(5) Pengawalan kendaraan pengangkut bahan peledak harus dilakukan oleh
orang yang kompeten

V. PROSEDUR PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN PELEDAK

(1) Di dalam gudang bahan peldak harus tersedia buku catatan bahan peledak
yang berisi:
a. nama, jenis, dan jumlah keseluruhan bahan peledak serta tanggal
penerimaan; dan
b. lokasi dan jumlah bahan peledak yang disimpan.
(2) Pada setiap gudang bahan peledak harus tersedian daftar persediaan yang
secara teratur selalu disesuaikan dan dalam rinciannya tercatat:
a. nama dan tanda tangan petugas yang diberi wewenang untuk menerima
dan mengeluarkan bahan peledak yang namanya tercatat dalam Buku
Tambang;
b. jumlah setiap jenis bahan peledak dan atau detonator yang masuk dan
keluar dari gudang bahan peledak;
c. tanggal dan waktu pengeluaran serta pengembalian bahan peledak;
d. nama dan tanda tangan petugas yang menerima bahan peledak; dan
e. lokasi peledakan dan tujuan permintaan/pengeluaran bahan peledak.

Page | 6
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(3) Kepala Teknik Tambang harus mengirimkan laporan triwulan mengenai
persediaan persediaan dan pemakaian bahan peledak kepada Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang; dan bentuk laporan triwulan sebagaimana
dimaksud butir (a) ayat ini ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang

(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) pasal ini harus
diarsipkan, setidak-tidaknya untuk satu tahun.
Penerimaan dan Pengeluaran Bahan Peledak dilakukan sebagai berikut:
(1) Petugas yang mengambil bahan peledak harus menolak atau
mengembalikan bahan peledak yang dianggap rusak atau berbahaya atau
tidak layak digunakan.
(2) Penerimaan dan pengeluaran bahan peledak harus dilakukan pada ruangan
depan gudang bahan peledak dan pada saat melakukan pekerjaan pintu
penghubung harus ditutup.
(3) Jenis bahan peledak yang dibutuhkan harus dikeluarkan dari gudang sesuai
dengan urutan waktu penerimaan.
(4) Bahan peledak dan detonator yang dikeluarkan harus dalam kondisi baik dan
jumlahnya tidak lebih dari jumlah yang diperlukan dalam satu gilir kerja.
(5) Bahan peledak sisa pada akhir gilir harus segera dikembalikan ke gudang.
Membuka kembali kemasan bahan peledak yang dikembalikan tidak perlu
dilakukan apabila bahan peledak tersebut masih dalam kemasan atau peti
aslinya seperti waktu dikeluarkan.
(6) Bahan peledak yang rusak supaya segera dimusnahkan dengan cara yang
aman mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(7) Data dari bahan peledak yang rusak meliputi jumlah, jenis, merek, dan
kerusakan yang terlihat harus dilaporkan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang untuk mendapatkan saran penanggulangannya.
(8) Kemasan yang kosong atau bahan pengemas lainnya tidak boleh disimpan di
gudang bahan peledak atau gudang detonator.
(9) Membuka kemasan bahan peledak dan detonator harus dilakukan dibagian
depan gudang bahan peledak

VI. PROSEDUR PERSIAPAN PENGISIAN LUBANG

Pekerjaan yang harus dilakukan menjelang pengisian setiap lubang adalah:


(1) memeriksa lubang tersebut agar pada saat pengisiannya tidak ada hambatan.
Beberapa aspek yang harus diperiksa adalah sebagai berikut:

Page | 7
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
a. Memeriksa kedalaman: Untuk mengecek kedalaman dapat digunakan
meteran dengan diberi pemberat secukupnya atau menggunakan
tongkat berskala (biasanya dibuat dari bambu) Bila lubang ledak tidak
sesuai dengan yang direncanakan, maka yang harus dilakukan adalah:
b. Apabila terlalu dalam, isilah dengan bahan untuk stemming kemudian
dipadatkan sampai kedalamannya berkurang dan sesuai dengan yang
direncanakan
c. Apabila kurang dalam, harus dilakukan pengeboran untuk memper-
dalamnya agar sesuai dengan kedalaman lubang yang direncanakan

(2) Memeriksa adanya penghambat: Apabila terasa ada hambatan atau penyumbat
lubang dapat digunakan tongkat bambu untuk mendorong material penghambat
(tamping). Atau dapat pula menggunakan tali yang diberi pemberat untuk
memukul dan mendorong material penghambat
(3) Memeriksa air: Untuk memeriksa adanya air di dalam lubang dapat dengan
menjatuhkan batu kecil ke dalam lubang dan bila sampai pada air akan
terdengar gema suara benda jatuh ke dalam air. Dapat digunakan pompa atau
kompresor alat bor untuk mengeluarkan air. Apabila air masuk kembali dengan
cepat ke dalam lubang, disarankan untuk menggunakan bahan peledak yang
tahan terhadap air, misalnya watergel, emulsi atau cartridge. Bila mengguna-kan
ANFO, pakailah tabung atau selubung plastik yang cukup kuat agar tidak bocor
dengan diameter lebih kecil sedikit dibanding diameter lubang ledak
(4) Memeriksa rongga dan retakan: Adalah sangat penting mengetahui adanya
rongga atau retakan besar di dalam lubang ledak. Sulit untuk mengetahui
seberapa besar rongga tersebut, sehingga apabila bahan peledak diisikan ke
dalamnya akan menambah volume dari yang seharusnya. Efek peningkatan
volume berakibat buruk karena akan menyebabkan batu terbang (fly rock),
ledakan udara (airblast), atau getaran yang hebat. Cara memeriksa adanya
rongga dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Menggunakan kaca (atau kaca jam tangan) yang diarahkan ke dalam
lubang dan dengan batuan pantulan sinar matahari dapat terlihat ada-
tidaknya rongga.
b. Cek data log-bor dari Juru Bor yang menginformasikan adanya kenaikan
perubahan penetrasi mendadak pada kedalaman tertentu

VII. PROSEDUR PENGISIAN LUBANG DENGAN BAHAN PELEDAK

Terdapat tiga jenis bahan dalam kolom lubang ledak, yaitu primer, “isian utama”
dan ditutup oleh penyumbat (stemming). Berikut ini akan diuraikan tentang cara
pengisian ketiga bahan tersebut.

(1) Pengisian primer


a. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika mengisi primer
kedalam lubang ledak adalah :
b. Hati-hati pada saat memasukkan primer ke dalam lubang ledak, sehingga
detonator atau sumbu tidak terlepas dari cartridge

Page | 8
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
c. Setelah primer terletak pada posisinya, ikatlah kawat atau sumbu dengan
batu atau kayu di bagian luar agar tidak merosot masuk kembali ke dalam
lubang ledak.
d. Kawat detonator listrik (legwire) jangan sampai terkelupas akibat
bergesekan dengan dinding lubang. Disamping itu hindari legwire yang
terlalu pendek, kalau terpaksa dapat disambung dan sambungannya
harus diisolasi agar air tidak masuk ke kawat.
e. Dilarang memadatkan (tamping) primer secara berlebihan.
f. Diameter primer harus lebih kecil sedikit dari diameter lubang ledak. Bila
waktu memasukkan primer agak susah turunnya, maka dapat dibantu
didorong dengan tongkat kayu dengan perlahan-lahan.
g. Untuk lubang tegak mengarah ke atap pada bukaan bahwa tanah
diperlukan
h. Retainer untuk menahan primer agar tidak jatuh. Setelah itu “isian utama”,
misalnya ANFO
(2) Pengisian “isian utama”
Pengisian dilakukan secara manual, bahan peledak ( ANFO) dituang
langsung ke dalam lubang ledak menggunakan tempat sederhana, misalnya
ember plastik, yang telah ditetapkan volumenya. Penuangan bahan peledak
sedikit demi sedikit diiringi dengan pengukuran ketinggiannya menggunakan
selang plastik atau tongkat berskala sampai batas yang telah direncanakan.
Bila dituangkan bahan peledak ANFO ke dalam lubang ledak yang berair,
maka ANFO harus diproteksi menggunakan selubung plastik.
(3) Pengisian penyumbat (stemming)
Penyumbat sebaiknya adalah material 0,5 – 1,0 cm atau batu split karena
setelah dipadatkan akan terjadi ikatan kuat antar butir dan saling mengunci.
Maksud penguncian antar butir adalah agar cukup kuat menahan energi
peledakan, sehingga tidak terjadi stemming ejection dan selbagian besar
energi didistribusikan kearah horizontal. Apabila tidak tersedia, baik juga
digunakan cutting hasil pengeboran. Sebaiknya tidak menggunakan tanah liat,
pasir halus, kertas karton

VIII. PROSEDUR PENYAMBUNGAN RANGKAIAN


(1) Penyambungan antar kawat
Penyambungan hanya dilakukan antar kawat pada sistem rangkaian
peledakan listrik. Penyambungan tersebut sangat kritis, terutama kalau
terpaksa berada dalam lubang ledak yang apabila tidak diisolasi dengan kuat
dapat menyebabkan arus pendek akibat adanya dari arus liar (stray current)
dan arus statis (static current). Untuk menghindari kemungkinan tersebut
harus dilakukan pengukuran menggunakan blast oh mete (BOM) pada setiap
titik sambungan danlegwire yang telah dimasukkan ke dalam lubang ledak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penyambungan kawat pada
peledakan listrik adalah:

Page | 9
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
(2) Sambungan Legeire dengan connecting wire
Sambungan legwire dengan connecting wire atau kabel pembantu di dalam
lubang harus diisolasi dengan baik dan kuat, Penyambungan rangkaian antar
lubang harus dilaksanakan secepatnya dengan cara penyambungan Ujung
kawat jangan terbuka, tetapi harus selalu diikat, baik legwire secara terpisah
maupun ujung kawat dari rangkaian yang akan disambung kelead wire
(3) Kerapian Sambungan
Rangkaian harus dibuat rapih dan efektif. Upayakan agar kawat tidak kusut
Sebelum rangkaian disambung ke kawat utama atau lead wire, tahanan listrik
dan kesinambungan arus dari rangkaian harus diukur dengan blast oh meter
(BOM). Tahanan listrik rangkai harus sesuai dengan perhitungan teoritis dan
toleransi 10% dapat dianggap baik.
(4) Tenaga Kerja yang berhak untuk menangani sambungan
Secara terpisah “kawat utama” harus diukur juga tahanannya. Pemegang
kunci blasting machine dan pelaku inisiasi hanya diijinkan kepada orang yang
benar-benar mengerti, cukup berpengalaman dan memiliki Kartu Ijin
Meledakkan (KIM) atas nama yang bersangkutan dan perusahaan.

IX. PROSEDUR PENGAMANAN PELEDAKAN

(1) PENGAMANAN UMUM PELEDAKAN


Pengamanan lebih ditujukan kepada orang atau karyawan yang mendekati
atau melewati area peledakan. Maka dari itu beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pengamanan area peledakan tersebut adalah:

a. Hari-hari peledakan setiap minggu serta jam-jam peledakan pada hari


tersebut diatur dengan jadual tetap dan semua karyawan atau orang-
orang yang ada disekitar penambangan harus mengetahuinya.
b. Setiap kali akan melaksanakan peledakan persiapannya dapat
dilakukan sesuai jam kerja pagi hari, tetapi detik-detik peledakannya
diatur pada jam istirahat siang.
c. Tanda peringatan berupa bendera dengan warna menyolok (biasanya
merah) dengan ukuran yang cukup dapat dilihat dari jauh dipasang di
tempat-tempat yang strategis atau di jalan-jalan yang biasa dilalui oleh
penduduk dan karyawan, sedemikian rupa sehingga orang lain tahu
bahwa saat itu ada kegiatan persiapan peledakan.
d. Area yang akan diledakkan harus dibatasi oleh pita pengaman dan
hanya team peledakan, inspektur tambang, polisi, kepala teknik dan
satpam setempat (perusahaan) yang sedang bertugas yang
diperkenankan ada di dalam area yang akan diledakkan, itupun kalau
luas area memungkinkan.
e. Setelah bahan peledak dan perlengkapannya sampai di area
peledakan, maka secepatnya didistribusikan ke dekat setiap lubang
yang telah disiapkan sesuai dengan kebutuhan jumlah masing-masing
lubang.

Page | 10
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
f. Pada saat membuat primer periksa terlebih dahulu yaitu:sebaiknya diuji
dahulu oleh blasting ohm meter. Pada waktu pengujian detonator
dimasukkan ke dalam lubang ledak yang masih kosong. Setelah diuji
kedua ujung legwire harus diikat atau digabung kembali satu dengan
lainnya.

(2) PERSIAPAN SEBELUM PELEDAKAN


Saat-saat menjelang peledakan, di mana peringatan sudah dilaksanakan dan
seluruh rangkaian sudah selesai pula diperiksa serta diputuskan siap ledak,
adalah waktu yang penting bagi seluruh team peledakan. Keselamatan dan
keamanan di area peledakan benar-benar terletak pada kekompakan team
peledakan tersebut.
a. Periksa keadaan sekeliling tempat berlindung terhadap kemungkinan
jatuhnya benda atau batuan Harus dipertimbangkan arah dan jarak
lemparan batu, ambil posisi yang berlawanan.
b. Periksa keadaan sekeliling tempat berlindung, khususnya bila ada
bongkahan batu lepas disekitarnya yang cukup besar untuk berlindung
c. Bila keadaan area peledakan tidak ada tempat untuk berlindung
dengan cukup aman, maka harus disiapkan shelter yaitu tempat
perlindungan khusus terbuat dari besi dengan ukuran minimal panjang
dan lebar 1,50 m dan tinggi secukupnya untuk berlindung team
peledakan.
d. Pemegang blasting machine harus orang yang berpengalaman dan
memiliki Kartu Ijin Meledakkan (KIM) atas nama yang bersangkutan
dan perusahaan.
e. Tanda peringatan sebelum peledakan (aba-aba) Beberapa hal yang
perlu diperhatikan adalah:
 Sebelum dilakukan peledakan orang-orang disekitar daerah
pengaruh gas dan lemparan batu harus diberi aba-aba
peringatan agar berlindung atau menyingkir. Demikian juga
halnya dengan peralatan, sebelumnya harus sudah diamankan.
 Aba-aba dapat berupa peringatan lewat megaphone, pluit atau
sirine. Sementara itu pada batas jalan masuk ke area
peledakan harus diblokir atau ditutup oleh barikade atau oleh
petugas yang memegang bendera (biasanya berwarna merah)
 Menutup jalan menggunakan barikade
 Menggunakan sinyal bendera
 Menggunakan megaphone atau sirine yang keras
f. Jeda waktu antara aba-aba peringatan dengan saat peledakan harus
cukup untuk memberi kesempatan kepada orang-orang untuk
berlindung. Sebaiknya aba-aba dilakukan dalam beberapa tahapan dan
tiap tahap mempunyai arti tersendiri serta dimengerti oleh team
peledakan dan seluruh karyawan.
g. Foreman atau Pengawas Peledakan harus memeriksa area sekitar
peledakan sebelum aba-aba terakhir untuk menyakinkan bahwa lokasi
tersebut aman dari orang-orang yang ada disekitarnya.

Page | 11
[Link] UTAMA
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KEGIATAN PELEDAKAN
h. Semua orang yang berada di area peledakan harus menyingkir dan
berlindung
i. Minta ijin ke sentral informasi bahwa jalur komunikasi untuk sementara
diambil alih oleh team peledakan, jadi seluruh bagian tidak
diperkenankan menggunakan jalur tersebut, kecuali bila mengetahui di
area peledakan terdapat sesuatu yang membahayakan.
j. Semua jalan masuk ke area peledakan ditutup atau diblokir Pada saat
itu kedua ujung kawat utama (lead wire) masih terkait satu sama
lainnya
k. Pekerjaan pada aba-aba pertama sudah dilaksanakan dan Mandor
atau Foreman atau Pengawas Peledakan sedang melakukan
pemeriksaan akhir bidang bebasUjung kawat utama diikat sebelum
dihubungkandengan BM Kawat utama(lead wire)
l. Kawat utama sudah disambung dengan pemicu ledak (exploder)
Sampai tahap kedua ini masih memungkinkan terjadi penundaan
peledakan, apabila Pengawas Peledakan melihat sesuatu yang
dinilainya dalam kondisi tidak aman melalui komunikasi dan aba-aba
khusus.
m. Tombol atau tangkai pemicu ditekan sesuai prosedur pemakaian alat
dan peledakan terjadi. Sampai tahap ini jalur komunikasi masih
dikuasai team peledakan sebelum dilakukan pemeriksaan hasil
peledakan dan dinyatakan bahwa peledakan aman dan terkendali.
(3) PEMERIKSAAN SETELAH PELEDAKAN
a. Setelah peledakan selesai area tempat peledakan dan sekitarnya
masih menjadi tanggung jawab team peledakan sebelum dilakukan
pemeriksaan. Beberapa pekerjaan yang perlu dilakukan setelah
peledakan adalah: 1) Sekitar 15 menit setelah ledakan, pemeriksaan
dilakukan terhadap gas-gas beracun dan kemungkinan adanya lubang
yang gagal ledak (misfire).
b. Apabila terdapat lubang yang gagal ledak, terlebih dahulu harus
dilaporkan ke Pengawas Peledakan, kemudian segera ditangani.
Lubang yang gagal ledak harus ditandai dengan bendera merah.
c. Apabila kondisi lubang yang gagal ledak dinilai oleh Pengawas
Peledakan membutuhkan waktu beberapa jam untuk menanganinya,
maka kembalikan dahulu jalur komunikasi kepada sentral informasi.
d. Apabila seluruh lubang meledak dengan baik dan konsentrasi gas
sudah cukup aman, segera laporkan ke Pengawas Peledakan untuk
diinformasikan ke seluruh karyawan dan masyarakat disekitarnya.
Pengawas Peledakan akan mengumumkan bahwa “ peledakan 100
lubang (misalnya) telah meledak seluruhnya dan kondisi dinyatakan
aman dan terkendali, kepada seluruh karyawan dan masyarakat
dipersilahkan kembali pada aktifitasnya masing- masing. Dengan ini
jalur komunikasi dikembalikan ke sentral informasi, terima kasih

Page | 12

Anda mungkin juga menyukai