100% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
3K tayangan7 halaman

SOP Hauling dan Loading Tambang Batubara

Dokumen tersebut merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengangkutan batuan dari tambang ke crusher yang mencakup pengertian, tujuan, tanggung jawab, prosedur loading, hauling, dan dumping secara aman dan efisien sesuai standar K3. Prosedur mencakup persiapan, zona loading, hauling, dan dumping untuk menjamin keselamatan kerja.

Diunggah oleh

budip23gmailcom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
3K tayangan7 halaman

SOP Hauling dan Loading Tambang Batubara

Dokumen tersebut merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengangkutan batuan dari tambang ke crusher yang mencakup pengertian, tujuan, tanggung jawab, prosedur loading, hauling, dan dumping secara aman dan efisien sesuai standar K3. Prosedur mencakup persiapan, zona loading, hauling, dan dumping untuk menjamin keselamatan kerja.

Diunggah oleh

budip23gmailcom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STANDARD

OPERASIONAL
PROSEDUR
HAULING
(Pengangkutan)

PERUSAHAAN : PT. ATLASINDO UTAMA


DEPARTEMEN : QUARRY
NO :
MULAI BERLAKU :

I. PENGERTIAN :
1. Hauling :
Kegiatan pengangkutan Andesit yang menggunakan Alat Angkut (Dump Truck) dari
Bench (Tambang) ke mesin Crusher.
2. Loading :
Kegiatan pemuatan Andesit yang menggunakan Alat Berat (Excavator) dan dalam
pemuatannya dilakukan di area Bench (Tambang) atau Stock Gudang Batu yang telah
ditentukan.
3. Dumping :
Kegiatan penumpahan di Hopper Crusher yang menggunakan Alat Angkut (Dump Truck)
dan stock gudang batu yang ditentukan.

II. MAKSUD :
1. Memberikan pedoman kepada semua karyawan serta semua pihak yang terkait dengan
proses pekerjaan di pengangkutan dari Bench ( Tambang ) ke mesin Crusher.
2. Agar proses pelaksanaan kerja pengangkutan dapat tercapai secara optimal, lebih efektif
dan efisien.
3. Memastikan pelaksanaan proses kerja pengangkutan dari Bench ke Crusher dapat berjalan
sesuai dengan Standar mutu Kualitas, Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan.
III. TUJUAN :
1. Tata cara pengisian ke dalam alat angkut (Dump Truck) sesuai dengan prosedur
keselamatan kerja.
2. Tata cara proses pengangkuatan (hauling) melalui jalan hauling dan jalan di tambang
sesuai dengan prosedur keselamatan kerja.
3. Tata cara Dumping ke area yang ditentukan (Hopper) sesuai dengan prosedur
keselamatan kerja.

1
4. Tata cara Dumping ke crusher yang telah ditentukan sesuai dengan prosedur keselamatan
kerja.
5. Tata cara Parkir sesuai dengan prosedur keselamatan kerja.

IV. STANDAR DAN PERATURAN RUJUKAN


1. Kepmen Tambang No. 555.K/26/[Link]/1995, Tentang K3 Pertambangan Umum.

V. TANGGUNG JAWAB
1. General Manager/Kepala Teknik Tambang
a. Memastikan bahwa pekerjaan terkait dilaksanakan sesuai dengan standar keselamatan
dan kesehatan kerja serta Lingkungan.
b. Memastikan bahwa pekerjaan terkait dilaksanakan sesuai rencana kerja yang telah
ditentukan sehingga dapat tercapai standar mutu dan kualitas serta efesiensi kerja
dapat tercapai.
2. Safety Departemen
Safety Departemen bersama dengan Pengawas Lapangan terkait melakukan pemantauan
kegiatan dan identifikasi/penilaian resiko bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan
tersebut untuk mengurangi terjadinya accident.
3. Kepala Produksi
Bertanggung jawab untuk memastikan pekerjaan tersebut berjalan sesuai dengan standar
keselamatan dan kesehatan kerja serta sesuai dengan metode kerja yang telah ditentukan.
4. Semua Karyawan
Bertanggung jawab untuk memahami bahaya dan resiko yang berkaitan dengan
pekerjaannya tersebut, dan selalu mengutamakan kedisiplinan dalam bekerja agar
tercapainnya keselamatan dan kesehatan kerja yang optimal.
VI. WEWENANG
Kepala Produksi, Safety Departemen berwewenang mengatur proses pengangkutan Andesit
dari Bench sampai ke Crusher.

VII. PROSEDUR
A. ALAT PELINDUNG DIRI dan PERLENGKAPAN
1. SIMPER (Surat Ijin Mengemudi Perusahaan)
2. Safety Shoes
3. Helmet
4. Safety Glasses
5. Safety vest
6. Masker

2
B. PERSIAPAN OPERASI
1. Operator alat angkut harus memastikan dirinya sehat untuk bekerja, dan tidak merasa
mengantuk. Jika tidak sehat atau mengantuk, jangan teruskan operasi dan segera
menghubungi pengawas lapangan yang bertanggung jawab pada shift tersebut.
2. Operator alat angkut bertanggung jawab untuk melakukan P2H, yang waktu
pelaksanaannya saat awal shift atau bersamaan dengan refueling/daily maintenance.
3. Saat akan “start-up engine” ataupun sedang beroperasi, bunyikan sinyal peringatan
dengan klakson :
 1 kali, start-up engine
 2 kali, maju
 3 kali, mundur (jika tidak ada back alarm)
4. Operator alat angkut harus mengerti dan mengetahui dimana lokasi “Loading
Point” dan “Dumping Point”-nya.

C. ZONA LOADING
1. Operator alat angkut harus mengerti sinyal klakson dari alat muat.
 1 kali, berarti alat angkut harus berhenti atau berangkat.
 2 kali, berarti alat angkut harus mundur.
 3 kali, berarti alat angkut harus maju.
 4 kali, berarti pembersihan atau reposisi.
 1 kali panjang berarti ada bahaya, alat angkut harus segera meninggalkan area
loading. Atau menggunakan radio komunikasi sesuai dengan frekwensi.
2. Bila tidak ada instruksi atau kondisi khusus, alat angkut menghampiri area loading
searah jarum jam dengan streeing radius yang optimal. Untuk menghindari kerusakan
ban, kurang kecepatan bila harus melakukan belokan tajam.
3. Operator alat angkut harus menghubungi/menginformasikan pengawas lapangan
yang bertanggung jawab pada bench tersebut jika pada area dumping ( hopper )
terdapat batuan berserakan, dan harus menunggu sampai area tersebut dibersihkan.
4. Saat loading berlangsung, posisi ban belakang harus lurus terhadap ban depan.
5. Saat menunggu loading atau saat loading berlangsung, operator alat angkut dilarang
keluar dari kabin operator.
6. Alat angkut baru boleh berangkat apabila mendapat sinyal klakson 1 kali dari operator
alat muat/excavator atau telah diinformasikan lewat radio.

3
7. Loading dengan Excavator.
 Centre Loading
Posisi loading alat angkut tegak lurus terhadap jenjang kerja dan segaris dengan
posisi excavator.
Pada saat mundur, operator alat angkut harus memperhatikan posisi bucket siap
menumpah sebagai pedoman posisi loading point.
 Double Side Loading
Posisi loading point alat angkut tegak lurus terhadap jenjang kerja dan jarak antar
alat angkut sama dengan jarak sisi bagian dalam track excavator (dinding bak alat
angkut segaris dengan track bagian dalam).
Apabila lebih dari satu unit alat angkut yang menunggu, alat angkut ketiga
berjarak sekurang-kurangnya 10 meter dan posisinya menghadap atau tegak lurus
terhadap alat angkut pertama. Alat angkut keempat berjarak sekurang-kurangnya
10 meter dan posisinya tegak lurus terhadap alat angkut pertama.
 Drive by Loading
Posisi loading point alat angkut sejajar dengan arah penggalian dan kabin alat
angkut segaris dengan counterweight. Posisikan alat angkut sedekat mungkin
dalam jarak aman kepada loading face atau jenjang kerja.
Posisi alat angkut yang sedang menunggu/mengantri berada di belakang alat
angkut yang sedang dimuat dengan jarak 2 kali panjang alat angkut. Jika yang
mengantri lebih dari satu maka semua harus menunggu dalam 1 barisan dengan
jarak antri sekurang-kurangnya 10 meter.
D. ZONA HAULING
1. Pakailah kecepatan yang aman sesuai atau dibawah batas kecepatan yang diizinkan,
dengan gigi transmisi yang benar.
2. Gunakan jalur kiri kecuali ada arahan lain oleh rambu-rambu.
3. Operator alat angkut (DT) selalu mematuhi rambu-rambu lalulintas/rambu
keselamatan yang dipasang di sekitar jalan hauling
4. Tidak boleh berbalik arah atau berbelok U ( U turns ) di sepanjang jalur haulroads.
5. Ketika menghampiri rambu STOP atau GIVE WAY, jangan berhenti disebelah
kendaraan/peralatan lain yang juga sedang menghampiri rambu-rambu tersebut.
Berhentilah dibelakang kendaraan/peralatan tersebut guna menunggu giliran untuk
menyeberang atau membelok di persimpangan jalan.
6. Ketika akan melewati persimpangan yang memberikan prioritas alat angkut untuk
lewat, bunyikan klakson panjang sampai melewati persimpangan tersebut.

4
7. Ketika melewati Jembatan pastikan kecepatan dikurangi sesuai rambu-rambu lalu
lintas hauling yang diwajibkan.
8. Ketika melewati persimpangan jalan pastikan mengurangi kecepatan sesuai rambu-
rambu yang diwajibkan dan berhenti sejenak bila ada rambu-rambu STOP. Serta
personil pemandu senantiasa selalu menjaga pada saat aktifitas pengangkutan
(hauling).
9. Pada waktu jalan beriringan dengan alat angkut lain, beri jarak 4 kali panjang alat
angkut (+/- 40 meter) dengan alat angkut itu. Jika kondisi jangkauan pandang terbatas
akibat debu atau licin, jarak tersebut ditambah menjadi 6 kali panjang alat angkut
(+/- 100 meter).
10. Alat angkut hanya diizinkan mendahului alat angkut yang sedang berhenti, grader
yang sedang bekerja, dan track type lainnya, dengan menggunakan sinyal klakson.
(kondisi khusus).
11. Jangan mendahului sesama alat angkut di jalan menurun, atau kendaraan atau
peralatan apapun dibelokan dan persimpangan.
12. Gunakan retarder bila perlu, dan aktifkan sebelum mulai menuruni jalan. Jangan
gunakan retarder secara berlebihan karena mengakibatkan ban kehilangan cengkram
dan overheat. Jangan menempuh jalan menurun dengan transmisi di posisi netral.
13. Untuk menghindari tumpahan material dan kerusakan ban, kurang kecepatan bila
harus melakukan belokan tajam, kondisi jalan rusak.
14. Untuk menghindari insiden dan kerusakan ban, hindari melewati genangan air, batu-
batuan, dan jalan berlubang.
15. Laporkan genangan air, ceceran batuan, dan kerusakan jalan serta potensi
bahaya di jalan (kondisi Tindakan Tidak Aman dan Tindakan Tidak Aman),
kepada pengawas lapangan.

E. ZONA DUMPING.
1. Area Stock Samping.
 Operator alat angkut (DT) selalu mematuhi rambu-rambu lalulintas/rambu
keselamatan yang dipasang di Area
 Operator alat angkut harus mengetahui dan mengerti lokasi dan batas
pembuangan yang informasinya berupa pita survey, atau mematuhi aba-aba dari
spotter yang bertugas.
 Alat angkut harus menghampiri dumping point searah dengan jarum jam, untuk
menghindari tumpahan material dan kerusakan ban, kurang kecepatan bila harus
melakukan belokan tajam.

5
 Jalankan alat angkut mundur secara perlahan kearah dumping point dan hentikan
jika menyentuh tanggul pengaman (safety berm). Bila tidak ada safety berm,
hentikan alat angkut 10 meter dari ujung tebing pembuangan (tip head). Apabila
terdapat lebih dari satu unit alat angkut yang bersamaan menumpah muatan pada
dumping point tersebut, pertahankan jarak minimum 5 meter diantara masing-
masing alat angkut.
 Disaat akan menumpah (dumping), pastikan kedudukan alat angkut benar-benar
rata. Untuk mengosongkan muatan, gerakkan alat angkut maju +/- 3 meter.
 Pastikan kedudukan dump body benar pada chassis, lalu bergerak/berjalan
meninggalkan dumping point.
 Laporkan genangan air dan potensi bahaya di dumping point kepada pengawas
lapangan.

2. Crusher/ROM
 Operator alat angkut harus mengetahui dan mengerti klasifikasi atau kwalitas
komoditas yang diangkut serta lokasi penimbunan/penumpahan yang
informasinya berupa papan informasi, atau mematuhi aba-aba dari spotter yang
bertugas.
 Bila tidak ada instruksi atau rambu-rambu khusus, alat angkut harus menghampiri
dumping point searah dengan jarum jam. Untuk menghindari insiden, tumpahan
material, dan kerusakan ban, kurangi kecepatan bila harus melakukan belokan
tajam.
 Bila penumpahan langsung ke Hopper, jalankan alat angkut mundur secara
perlahan dan hentikan jika menyentuh tanggul pengaman (safety berm) pada sisi
hopper/bin, atau mengikuti aba-aba spotter yang bertugas.
 Bila ROM Stockpile, jalankan alat angkut mundur secara perlahan dan hentikan
jika menyentuh stockpile, atau mengikuti aba-aba spotter/operator alat berat yang
bertugas.
 Disaat akan menumpah (dumping), pastikan kedudukan alat angkut benar-benar
rata. Bila penumpahannya ke ROM stockpile, pengosongan muatan, dilakukan
dengan menggerakkan alat angkut maju +/- 3 meter.
 Pastikan kedudukan dump body benar di chassis, baru bergerak/berjalan
meninggalkan dumping point.
 Laporkan kondisi tidak standar dan potensi bahaya yang dapat menghambat
produksi di dumping point kepada pengawas lapangan.

6
F. PARKING SYSTEM
1. Tempat parkir (parking area) harus rata, aman dan keras.
2. Aktifkan rem parkir dan netralkan transmisi saat parkir. Jika setelah selesai operasi,
lakukan pengecekan dengan mengelilingi alat angkut, buang tekanan udara serta cek
tekanan ban.
3. Apabila pada kondisi tertentu harus parkir di lokasi turunan, arahkan alat angkut ke
tanggul (safety berm) atau tebing.
4. Pada waktu istirahat atau standby menunggu alat muat, alat angkut harus parkir dekat
loading area. Demikian pula saat shift change, jika tidak ada area khusus untuk shift
change.
5. Jika parkir pada tempat parkir (parking area), posisi parkir mundur dan berdampingan
dengan jarak sekurang-kurangnya 5 meter antara alat angkut untuk mempermudah
refueling, lubricating/greasing.
6. Pada saat kondisi unit mengalami kerusakan (breakdown) pastikan parkir kendaraan
dengan aman, menyalakan lampu bahaya/hazard, memasang safety corn depan dan
belakang, memasang ganjal pada ban serta informasi lewat radio atau teman yang
melintas.

Anda mungkin juga menyukai