0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan109 halaman

Hubungan Kebersihan Diri dan Pengetahuan Pediculosis

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma'hadul Muta'alimin di Ngawi. (2) Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis. (3) Saran yang diberikan adalah meningkatkan kebersihan diri, pen

Diunggah oleh

Naufal Sati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan109 halaman

Hubungan Kebersihan Diri dan Pengetahuan Pediculosis

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma'hadul Muta'alimin di Ngawi. (2) Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis. (3) Saran yang diberikan adalah meningkatkan kebersihan diri, pen

Diunggah oleh

Naufal Sati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT


PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI
PONDOK PESANTREN MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI
KECAMATAN WIDODAREN

KABUPATEN NGAWI

Oleh :

TRI MOHAMAD FARHAN HADI

201403042

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN

PRODI KESEHATAN MASYARAKAT

STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN

2018

i
SKRIPSI

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT


PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI
PONDOK PESANTREN MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI
KECAMATAN WIDODAREN

KABUPATEN NGAWI

Diajukan untuk memenui salah satu persyaratan

dalam mencapai gelar Serjanan Kesehatan Masyarakat (S. KM)

Oleh :

TRI MOHAMAD FARHAN HADI

201403042

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN

PRODI KESEHATAN MASYARAKAT

STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN

2018

i
ii
iii
LEMBAR PERSEMBAHAN

Dengan segenap syukur kepada Allah SWT, saya persembahkan skripsi ini
kepada:

1. Allah SWT, karena hanya atas ridho dan karunia-Nya maka skripsi ini
dapat dibuat dan selesai tepat waktu.
2. Kedua orang tua (Bapak Timbul Hidayat dan Ibu Pakarti) yang sangat
saya hormati dan cintai, selama ini telah memberikan semangat, dukungan,
dan doa tiada henti untuk kesuksesan dan kelancaran dalam mengerjakan
skripsi ini.
3. Kedua dosen pembimbingku Ibu Riska Ratnawati, S. KM., M. Kes dan
Bapak H. Edy Bachrun. S. KM., [Link] yang telah dengan sabar
membimbing dalam pengerjaan skripsi ini hingga selesai.
4. Kakak saya Ardila Rahama Yulianti, Nikma Alfia Hidayati dan teman-
teman Merpati Putih dengan dukungan yang luar biasa saya dapat
menyelesaikan skripsi ini.
5. Alayers Crew, Arif, Udin, Armin, Yudis, Fino, Krenawati, Linda, Putri,
Arika, Elfira, Lutfi, Ninies, Jiwani, dengan semangat kerja keras dan
gotong royong saling membantu saya mampu menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun yang
senantiasa memberikan ilmu yang bermanfaat dan membimbing saya
dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh kawan – kawan S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2014 yang
memberikan bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Tri Mohamad Farhan Hadi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat Tanggal Lahir : Ngawi, 22 Februari 1995

Agama : Islam

Alamat : Dsn. Prayungan RT01/RW01, Ds. Cangakan,

Kec. Kasreman, Kab. Ngawi

Email : Trifarhan119@[Link]

Riwayat Pendidikan : 1. TK DARMA WANITA

2. SD Negeri 1 Cangakan

3. SMP Negeri 1 Kasreman

4. SMK PGRI 1 Ngawi

5. STIKES Bhakti Husada Mulia Kota Madiun

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua berkat dan rahmat-

Nya sehingga dapat terselesaikannya Skripsi yang berjudul “Hubungan Personal

Hygiene Dan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Pediculosis Capitis Di

Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten

Ngawi”, sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Sarjana Kesehatan

Masyarakat pada Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES Bhaksti Husada

Mulia Madiun.

Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,

karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terimakasih

kepada :

1. Bapak Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid) selaku Ketua STIKES Bhakti

Husada Mulia Madiun.

2. Ibu Avicena Sakufa Marsanti, SKM., [Link] selaku Ketua Program Studi

Kesehatan Masyarakat STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun, sekaligus

sebagai dosen dosen penguji.

3. Ibu Riska Ratnawati, S. KM., M. Kes selaku dosen pembimbing 1.

4. Bapak H. Edy Bachrun. S. KM., [Link] selaku dosen pembimbing 2.

5. Bapak Haris Ma’mun Manfaluthi pemilik pondok pesantren Ma’hadul

Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi yang memberikan

izin dan telah membantu dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini.

6. Seluruh teman S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2014 yang memberikan

bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

vii
7. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh

dari sempurna. Oleh karena itu, berbagai saran, tanggapan, dan kritik yang bersifat

membangun senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan laporan skripsi ini.

Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada

umumnya dan bagi penulis serta orang-orang yang peduli dengan dunia kesehatan

masyarakat pada khususnya.

Demi perbaikan skripsi ini, maka diharapkan adanya kritik dan saran dari

semua pihak yang bersifat membangun.

Madiun, 05 september 2018

Penulis

viii
Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat
Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun Tahun 2018
ABSTRAK

Tri Mohamad Farhan Hadi

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT PENGETAHUAN


DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI PONDOK PESANTREN
MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI KECAMATAN WIDODAREN
KABUPATEN NGAWI
111 Halaman + 12 tabel + 6 gambar +3 lampiran
Kutu kepala (Pediculsis capitis) merupakan penyakit yang disebabkan
ektoparasit obligat pemakan darah dikepala manusia. Penyakit ini masih sering
dialami oleh para santri pondok pesantren karena kurangnya menjaga kebersihan
diri, kebiasaan yang kurang baik serta kurangnya pengetahuan para santri untuk
menjaga kesehatan dan dari 50 santri yang ada di pesantren Di Pondok Pesantren
Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi. Menurut
keterangan dari pengurus pesantren kurang lebih 35 santri yang mengalami
kejadian capitis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan
personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis Di
Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten
Ngawi.
Metode dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross
sectional. teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Jumlah sampel
50 santri dipondok pesantren dan dianalisis menggunakan chi-square.
Hasil penelitian : (1). Personal hygiene buruk 60%, (2). Tingkat
pengetahuan Pediculosis Capitis buruk 66%, (3). Kejadian Pediculosis Capitis
buruk 58%, (4). Ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian
Pediculosis Capitis (p-velue 0,[Link] RP = 3,954 >1). (5). Ada hubungan antara
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis (p-value =
0,006 dan Nilai RP = 5.316 > 1.)
Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dianjurkan adalah untuk menjaga
kesehatan diri dengan mengaja kebersihan rambut, menjaga kebersihan kulit dan
juga menjaga kebersihan pakaian serta kurangi kebiasaan-kebiasaan yang buruk
tentang kesehatan dan juga menambah ilmu pengetahuan tentang kesehatan agar
dapat mencegah dan mengatasi segala penyakit.

Kata kunci : personal hygiene, tingkat pengetahuan, pediculosis capitis

Kepustakaan : 40 (1999-2018)

ix
S1 Public Health Program
Institute of Health Science Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRACT
Tri Mohamad Farhan Hadi

The Associated Between Personal Hygiene and Knowledge levels with the
incidence of pediculus capitis In Mahadul mutaalimin Muslim boarding
school in widodaren, Ngawi

111 Pages + 12 table + 6 Picture +3 Enclousures

Head lice (Pediculsis capitis) was a disease caused by ectoparasites


obligate eater blood in human head. This disease was still often experienced by
Islamic boarding school students because of lack of personal hygiene, unfavorable
habits and lack of knowledge of students to maintained health and from 50 santri
in the Ma'hadul Muta'alimin Islamic Boarding School in Widodaren District,
Ngawi Regency.. According to information from pesantren administrators
approximately 35 santri experienced the disease. The purpose of this study was to
determine the relationship of personal hygiene and level of knowledge with the
incidence of pediculosis capitis at the Ma'hadul Muta'alimin Islamic Boarding
School in Widodaren District, Ngawi Regency.
The method in this research was analytic survey with cross sectional
design. The sampling technique used is total sampling. The Sample Of 50 students
at Islamic Boarding Schools Was Analyzed Using Chi-Square.
The results of this study : (1). low personal hygiene 60%, (2). low
knowledge of Pediculosis Capitis was 66%, (3). Pediculosis Capitis incidence was
58%, (4). There was relationship between personal hygiene and incidence of
pediculosis capitis (p-velue 0.010 and RP = 3.954> 1). (5). There was relationship
between the level of knowledge with the incidence of pediculosis capitis (p-value
= 0.006 and RP = 5.316> 1.)
Based on the results of the study, the recommended was to mainted
personal health by improved the cleanliness of the hair, maintained the cleanliness
of the skin and also maintained the cleanliness of clothes and reduced low habits
about health and also added knowledge about health in order to prevent and
overcome all diseases.
keywords : personal hygiene, knowledge level, pediculosis capitis

Reading list : 40 (1999-2018)

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... ........ i

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. ...... ii

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ...... iii

LEMBAR PERSEMBAHAN ................................................................................. iv

LEMBAR PERNYATAAN .....................................................................................v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... ....... vi

KATA PENGANTAR ....................................................................................... .... vii

ABSTRAK .................................................................................................... ....... ix

DAFTAR ISI ....................................................................................................... .... xi

DAFTAR TABEL .............................................................................................. ... xvi

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... .. xviii

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... .... xix

DAFTAR SIGKATAN ............................................................................................xx

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................5

1.3 Tujuan Penelitian

1.1.1 Tujuan Umum ................................................................................6

1.1.2 Tujuan Khusus ...............................................................................6

1.4 . Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan .................................................................. 7

1.4.2 Bagi Peneliti ..................................................................................7

1.4.3 Bagi Masyarakat .............................................................................7

xi
1.4.4 Bagi Pesantren ................................................................................7

1.5 Keaslian Penelitian .................................................................................... 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Personal Hygiene

2.1.1. Definisi Personal Hygiene ..........................................................10

2.1.2. Tujuan Personal Hygiene ....................................................... 10

2.1.3. Jenis-jenis Personal Hygiene .................................................. 11

2.1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene ............ 15

2.2. Pengetahuan

2.2.1. Defisini Pengetahuan ..................................................................17

2.2.2. Tingkat Pengatahuan ..................................................................18

2.3. Pedikulosis kapitis

2.3.1. Definisi Pediculosis Capitis ........................................................20

2.3.2. Epidemiologi Pediculosis Capitis...............................................20

2.3.3. Etiopatologi Pediculosis Capitis

[Link] Kutu rambut dewasa ............................................................21

[Link] Nimfa ...................................................................................22

[Link] Telur......................................................................................22

[Link] Siklus ...................................................................................23

[Link] Faktor resiko ........................................................................24

2.3.4. Gambaran Klinis Pediculosis Capitis ..........................................25

2.3.5. Diagnosa Pediculosis Capitis ......................................................26

2.3.6. Pencegahan dan Pemberantasan Pediculosis Capitis ..................26

xii
2.3.7. Pengobatan Pediculosis Capitis ...................................................28

2.3.8. Penyebab Terjadinya Kejadian Pediculosis Capitis

Dipesantren ................................................................................29

2.4. Pondok pesantren

2.4.1 .Definisi ..................................................................................... ..32

2.4.2 .Jenis-Jenis Pondok Pesantren .................................................. . 32

2.4.3 .Tujuan ...................................................................................... . 33

2.4.4 .Fungsi Dan Peran Pondok Pesantren ........................................ . 34

2.4.5 .Kebiasaan Di Pesantren ............................................................ . 34

2.5. Kerangka Teori .....................................................................................36

BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual ...........................................................................37

3.2 Hipotesa Penelitian ...............................................................................38

BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian ..................................................................................39

4.2. Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi .......................................................................................39

4.2.2 Sampling .....................................................................................40

4.2.3 Tehnik Sampling .........................................................................40

4.3. Kerangka Kerja Penelitian ...................................................................41

4.4. Variabel Penelitian

4.4.1 Variabel Penelitian ......................................................................42

xiii
4.4.2 Definisi Operasional ...................................................................43

4.5. Instrumen Penelitian

4.7.1 Obsevasi ......................................................................................45

4.7.2 Kuesioner ...................................................................................45

4.6 Uji Validitas Dan Uji Rebilitas

4.6.1 .Uji validitas ........................................................................... ..45

4.6.2 .Uji reabilitas ........................................................................... ..47

4.7 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................48

4.8 Prosedur Pengumpulan Data

4.8.1 Pengumpulan data

[Link] Sumber Data ........................................................................ ..49

[Link] Cara Pengumpulan ............................................................... ..49

[Link] Pengolahan Data ................................................................. ..50

4.9 Analisis Data

4.9.1 Analisis Univariat...........................................................................50

4.9.2 Analisis Bivariat ............................................................................51

4.9.3 Etika Peneliti .................................................................................52

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum .................................................................................54

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Hasil Penelitian Univariat ............................................................55

5.2.2 Hasil Bivariat ...............................................................................57

5.3 Pembahasan

5.3.1 Hubungan personal hygiene dengan kejadian pediculosis

xiv
Capitis ............................................................................................60

5.3.2 Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis

capitis ..............................................................................................61

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ........................................................................................64

5.2 Saran ...................................................................................................65

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian...................................................................................8

Tabel 4.1Definisi Operasional............................................. ............................... 43

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Koesioner Personal Hygiene ........................................... 46

Tabel 4.3 Hasil Validitas Koesioner Tingkat Pengetahuan Pediculosis Capitis............ .. 47

Tabel 4.4 Realisasi Kegiatan ......................................................................................... .. 55

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis

Kelamin Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus

2018 .................................................................................................. 55

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Di

Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus 2018 ........ 55

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Personal

Hygiene Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus

2018 .................................................................................................. 56

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat

Pengetahuan Tentang Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren

Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus 2018 ...................................... 56

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian

Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin

Bulan Agustus 2018 ........................................................................... 57

Tabel 5.6 Tabulasi Silang Hubungan Antara Personal Hygiene Reponden Dengan

Kejadian Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin ........................................................................................ 58

xvi
Tabel 5.7 Tabulasi Silang Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Reponden

Dengan Kejadian Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin ........................................................................................ 59

xvii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Telur Kutu Kepala ........................................................................ 22

Gambar 2.2 Siklus Hidup Pedikulosisi Kapits ..................................................... 23

Gambar 2.3 Kerangka Teori ................................................................................. 36

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ............................................................ 37

Gambar 4.1. Kerangka Kerja Penelitian ............................................................... 41

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kartu Bimbingan

Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Observasi

Lampiran 4:Out put

xix
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

Pediculsis capitis : Kutu Kepala

Personal hygiene : Perawatan Diri

Screening : Penyaringan

Cross Sectional : Potong Lintang

Total Sampling : Semua Sampel

Editing : Pengeditan

Coding : Pemberian Kode-kode

Entry : Memasukkan

Cleaning : Pengecekan

Tabulating : Pengelompokkan

Informed Consent : Lembar persetujuan

Anonymity : Tanpa nama

Confidentiality : Kerahasiaan

Pondok pesantren : Tempat Belajar Ilmu Agama Islam

Continuity correction : koreksi kontinuitas

xx
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kutu kepala (Pediculsis capitis) merupakan penyakit yang disebabkan

ektoparasit obligat pemakan darah dikepala manusia (Yousefi, 2012).

Pediculosis capitis dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin

dan umur (Doroodgar et al, 2014). Pediculosis capitis menyebabkan gatal

dan iritasi di kulit kepala karena tuma ini menghisap darah dikulit kepala,

sementara rasa gatal itu sendiri disebabkan saliva dan fessesnya. Kebiasaan

menggaruk yang intensif dapat menyebabkan iritasi, luka, mengganggu

konsentrasi, serta infeksi sekunder. Pada infestasi berat dapat terjadi infeksi

sekunder oleh jamur dan bakteri sehingga menimbulkan demam. pediculosis

capitis di antara siswa sekolah dapat menyebabkan anemia yang

mengakibatkan menjadi lesu, mengatuk dikelas dan mempengaruhi kinerja

belajar dan fungsi kognitif, selain itu yang terinfeksi juga mengalami

gangguan tidur di malam hari karena rasa gatal dan sering menggaruk kepala.

Pediculosis capitis juga dapat menyababkan tekanan sosial,

ketidaknyamanan, kecemasan, dan memalukan (Yousefi et al, 2012).

Penyakit ini telah membawa suatu stigma sosial yang kuat karena

masyarakat telah lama menghubungkan penyakit ini dengan kemiskinan atau

status sosial dan ekonomi yang rendah, serta lingkungan yang kumuh

(Yustisia, 2013). Pediculosis capitis adalah suatu penyakit yang sering


1
diabaikan karena dianggap ringan, terutama dinegara dimana terdapat

prioritas kesehatan lain yang lebih serius. Walaupun demikian, penyakit ini

telah menyebabkan morbiditas yang signifikan diseluruh dunia. Beberapa

faktor yang dapat membantu penyebaran infestasi pediculosis capitis adalah,

tingkat pengetahuan, personal hygiene buruk, dan karakteristik individu

(umur, panjang rambut, dan tipe rambut) (Korturk et al, 3003; Yousefi.,

2012).

Personal hygiene merupakan cara perawatan diri manusia untuk

memelihara kesehatan mereka secara fisik dan mental. Dalam kehidupan

sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus

diperhatikan kebersihan dan psikis seseorang. Oleh karena itu, personal

hygiene merupakan salah satu pencegahan primer yang sepesifik. Personal

hygiene menjadi aspek yang penting dalam kesehatan individu karena

personal hygiene dapat meminimalkan masuknya mikroorganisme, terjadinya

penyakit, baik penyakit kulit dan penyakit infeksi (Hidayat, 2008).

Pediculosis capitis banyak terdapat pada anak-anak yang belum

terlalu memperdulikan kebersihan diri terutama di Negara berkembang dan

pediculosis capitis is ini juga masih terdapat pada remaja dan orang-orang

dewasa namun hanya sebagian dari mereka yang menderita penyakit ini,

terutama yang tidak memperhatikan kebersihan diri mereka. Prevalensi

pediculosis capitis pada anak usia sekolah de Negara maju seperti Belgia

8,9%, di Negara berkembang seperti india 16,59%, argentia 81,9% (Alatas,

2013). Sementara di wilayah asia, di Malaysia sekitar 11% anak umur 3-11
2
tahun terinfeksi dan sekitar 40% di Taiwan. Sedangkan di Indonesia sendiri

belum ada data yang pasti pada penyakit pediculosis capitis tis ini, namun

diperkirakan 15% anak di Indonesia mengalami masalah kutu rambut ini

(Eliska, 2015). Prevalensi pediculosis capitis di Indonesia masih tercatat

tinggi dan banyak ditemukan pada asrama, sekolah dan pesantren. Pada

penelitian di salah satu pesantren Yogyakarta pada tahun 2010 menunjukkan

sebesar 71,3% santri terinfeksi pediculosis capitis (saleh alatas & luwis,

2013)

Angka tersebut mungkin sangat jauh di bawah angka sesungguhnya

karena banyak penderita yang mengobati sendiri dan tidak melapor ke

petugas kesehatan maka disimpulkan bahwa pediculosis capitis telah menjadi

endemik diseluruh dunia baik negara maju maupun berkembang dan baik di

Negara beriklim tropis maupun iklim sedang.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan dipondok

pesantren PPAI An-Nahdiyah di Kabupaten Malang dengan jumlah santri 160

santri, diantaranya 80 santri dan 80 santriwati, 80 santri diantaranya

menderita pediculosis capitis. Kejadian tersebut dikarenkana salah satu

faktornya adalah personal hygiene pada santri yang kurang baik dan

mengakibatkna penularan pediculosis capitis menjadi mudah (Nengtyas,

2014).

Sementara dari hasil studi pendahuluan dengan observasi dan

wawancara yang dilakukan di salah satu Pondok Pesantren di Pondok

3
Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi

. Di pondok pesantren ini juga masih manganut budaya tradisional bahwa

mereka harus saling bertukar makanan, tempat tidur, dan ilmu. Kondisi

seperti ini sangat menunjang kelangsungan daur hidup tungau, kutu dan

infestasi parasit lainnya seperti jamur. Hal ini sebernarnya sangat berlawanan

dengan ilmu fiqih islam tawarruf yaitu menjaga kebersihan.

Dari hasil dengan wawancarai salah satu pengurus pondok pesantren

dari 50 santri yang ada di pesantren tersebut. Menurut keterangan dari

pengurus pesantren kurang lebih 35 santri yang mengalami penyakit tersebut.

Dan dari hasil studi pendahuluan melakukan pemeriksaan dengan

memberikan pertanyaan tentang ciri penyakit pediculosis capitis dan

pemeriksaan rambut kepala pada 10 santri dari perwakilan setiap kamar 7

diantarnya mengalami penyakit pediculosis capitis karena kebiasaan seperti,

mengatuk saat belajar mengajar, dan mempengaruhi kinerja belajar dan

fungsi kognitif, rasa gatal dan sering menggaruk kepala. Masih belum tahu

awal mula penyakit tersebut dapat menular ke santri-santri di pesantren

tersebut, di perkirakan penularan pediculosis capitis tersebut dari santri yang

sebelum masuk pesantren sudah menderita pediculosis capitis dan menular ke

santri yang lain

Dan dari hasil observasi yang sudah dilakukan kepadatan hunian

merupakan salah satu penyebab pediculosis capitis tersebut dapat menular

dengan mudah, menurut keterangan dari pengurus pesantren mengatakan

bahwa pada pesantren ini di setiap kamarnya di huni kurang lebih 4 sampai 5
4
santri. Serta letak pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin berada di Lereng

Gunung Lawu dengan keadaan yang lembab dari segi sanitasi lingkungan

(pencahayaan dan ventilasi) yang kurang memadai, juga seringnya cuaca

yang mendung dan hujan yang menghalangi para santri menjemur kasur dan

bantal mereka yang juga sebagai salah satu faktor penularan atau

perkembangbiakan pediculosis capitis. Serta kesadaran diri para santri untuk

menjaga kebersihan kamar tidur, kebersihan pakaian dan kesehatan diri

seperti sering membersihkan rambut agar penyakit pediculosis capitis tidak

menular.

Berdasarkan permasalahan diatas perlu memperhatikan personal

hygiene, kondisi lingkungan pondok pesantren, kepadatan hunian dan

pengetahuan tentang personal hygiene seperti cara memberisihkan kamar tidur

(bantal, kasur harus sering dijemur dan selimut), membersihan barang-barang

pribadi (sisir rambut, kerudung), dan pengetahuan tentang penyakit

pedikulosis kapitis agar penularan pedikulosis kapitis dapat dicegah dan dapat

atasi mulai dari sendiri.

Oleh karena itu, penulis ingin meneliti Hubungan personal hygiene dan

tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di sekolah pesantren

dan diharapkan agar dapat mencegah terjadinya infestasi pediculosis capitis.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah terdapat

hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian


5
pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Ngrambe

Kabupaten Ngawi.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan personal hygiene dan tingkat

pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis pada santri Pondok

Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten

Ngawi

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi personal hygiene di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?

2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi i?

3. Mengidentifikasi kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren

Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?

4. Menganalisis Hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan

dengan kejadian pediculosis capitis pada siswa Pondok Pesantren

Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?

6
1.4 Manfaat Penelitian

1 Bagi ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini dilakukan sebagai pengembangan dalam bidang ilmu

infeksi penyakit kulit dan bidang ilmu parasitologi khususnya penyakit

pediculosis capitis dan sebagai bahan refisi untuk penelitian selanjutnya.

2 Bagi peneliti

Menambah pengetahuan mangenai hubungan personal hygiene dan

tingkat pengatahuan dengan kejadian pedikulosis kapitis di Pondok

Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten

Ngawi.

3 Bagi masyarakat

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi masyarakat

tentang faktor-faktor yang berperan dalam penyebaran pediculosis capitis

sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan penyakit.

4 Bagi santri

Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi para pengurus dan semua

warga pondok pesantren dalam mencegah penularan pediculosis capitis di

sekolahan.

7
1.5 Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Judul dan Hasil


No Penyusun Metode Variabel
tahun

1 Rizqy Hubungan Cross - Variabel Ada


ristiajuan, siti berbagai sectional bebas : hubungan
aminah, faktor resiko hubungan signifikan
Muhammad terhadap berbagai antara
Nuurumathi, angka faktor kejadian
karya tulis kejadian resiko pediculosis
ilmiah S1 pediculosis capitis
- Variabel
Universitas capitis di dengan
terikat :
Muhammadiyah asrama, faktor resiko
kejadian
Yogyakarta tahun 2010 tingkat sosial
pediculosis
ekonomi,
capitis
kepadatan
hunian,
hygiene
pribadi, serta
karakteristik
individu.

2 Zakaria Aulia Faktor- Cross - Variabel Adanya


Rahman, Jurnal Faktor Yang sectional bebas : hubungan
Media Medika Berhubungan Faktor- antara Faktor-
Muda, Fakultas Dengan Faktor Faktor Yang
Kedokteran Kejadian Yang Berhubungan
Universitas Pediculosis Berhubung Dengan

8
Diponegoro Capitis Pada an Kejadian
Santri Pediculosis
- Variabel
Rhodlotul Capitis Pada
terikat :
Quran Santri
kejadian
Semarang Rhodlotul
pediculosis
Quran
capitis
Semarang

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu dalam hal

lokasi penelitian, sampel dan variabel yang akan diteliti. Lokasi penelitian ini

berada di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Ngrambe

Kabupaten Ngawi sampel yang diteliti meliputi jenis kelamin perempuan karena

pondok pesantren tersebut untuk pondok pesantren perempuan. Variabel bebas

yang diteliti personal hygiene dan juga mengukur tingkat pengetahuan santri

tentang pediculosis capitis. Sementara variabel terikatnya kejadian pediculosis

capitis.

9
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Personal Hygiene

2.1.1 Definisi Personal Hygiene

Hygiene adalah ilmu pengatahuan tentang kesehatan dan

pemeliharaan kesehatan. Sedangkan Personal hygiene berasal dari bahasa

yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti

sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara

kenersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan

psikis(Tarwoto & Wartonah, 2010).

Personal hygiene adalah perawatan diri sendiri yang dilakukan

untuk mempertahankan kesehatan baik secara fisik maupun psikologis

(Hidayat, 2008). Personal hygiene merupakan kegiatan membersihkan

seluruh bagian tubuh termasuk wajah, rambut, tubuh, kaki, dan tangan

(UNICEF, 2012). Dengan menjaga personal hygiene maka penyakit dapat

di mencegah penyakit Pediculosis Capitis dan dapat diatasi cara penularan

Pediculosis Capitis dengan baik.

2.1.2 Tujuan Personal Hygiene

Tujuan dari personal hygiene adalah untuk menjaga kebersihan diri

dan mencegah terjadinya infeksi pada tubuh seseorang. Personal hygiene

lebih dari sekedar bersih namun mancakup banyak kegiatan yang dapat
10
membantu orang menjadi bersih dan sehat. Dengan menjaga kebersihan,

siswa tidak akan menyebarkan kuman kepada orang lain (YUFA, 2010)..

2.1.3 Jenis-Jenis Personal Hygiene

Ada pun jenis-jenis tindakan personal hygiene menurut Potter dan

Perrry (2012), untuk menjaga kebersihan dan kesehatan seseorang yaitu

dengan kebersihan kulit, kebersihan rambut, perawatan mulut, kebersihan

mata, kebersihan telinga, kebersihan, kebersihan tangan, kaki, kuku

sebagai berikut:

a. Kebersihan kulit

Pemeliharaan kesehatan kulit tidak dapat terlepas dari kebersihan

lingkungan, makanan yang dikonsumsi, serta kebiasaan hidup sehari-

hari. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara kebersihan

kulit yaitu:

1. Memegang barang-barang kerperluan sehari-hari milik sendiri.

2. Mandi minimal 2 kali sehari.

3. Mandi memakai sabun.

4. Menjaga kebersihan pakaian.

5. Makan yang bergizi terutama sayuran dan buah

6. Menjaga kebersihan lingkungan .

11
b. Kebersihan rambut

Karakteristik rambut yang perlu diperhatikan dalam kaitanya

terjadinya infestasi kutu kepala adalah

1. Jenis rambut yaitu lurus, bergelombang (ikal) atau keriting.

2. Ketebalan rambut yaitu tebal,sedang atau tipis.

3. Panjang rambut yaitu pendek (diatas kerah dan telinga), sedang

(diatas bahu), panjang (lebih dari bahu). Karakteristik rambut

tersebut ditentukan secara visual.

Cara mencuci rambut Menurut Maryunani (2012)

1. Mencuci rambut dengan bahan pembersih atau shampoo, paling

sedikit 2 kali seminggu secara teratur atau tergantung pada

kebutuhan dan keadaan.

2. Rambut disiram dengan air bersih, setelah basah semua (merata)

kemudian digosok dengan shampoo dan disebaiknya sambil

dilakukan pemijatan pada seluruh kulit kepala untuk meangsang

persarafan pada kulit kepala sehingga rambut tumbuh sehat dan

normal.

3. Bila ramut dirasa masih kurang bersih, gosok kembali menggunakan

shampoo, setelah itu dibilas sampai rambut tersa kesat.

12
4. Kemudian rambut dikeringkan dengan handuk bersih dan disisir.

c. Perawatan mulut

Perawatan mulut dapat membantu mempertahankan status

kesehatan mulut, gusi, dan bibir dengan cara sebagi berikut yaitu

dengan:

1. Mengosok gigi secara benar dan teratur setiap hari untuk

membersihkan gigi dari pertikel-pertikel makanan, plak, dan bakteri.

2. Menghindari makan-makanan yang merusak gigi.

3. Membiasakan makan buah-buahan yang menyehatkan gigi.

4. Memakai sikat gigi sendiri.

5. Memeriksa gigi secara teratur.

d. Kebersihan mata

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara kebersihan

mata yaitu:

1. Membaca ditempat yang terang.

2. Memakan makanan yang bergizi.

3. Istirahat yag cukup dan teratur.

4. Memakai peralatan sendiri dan bersih

5. Memelihara kebersihan lingkungan .

13
e. Kebersihan telinga

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memlihara kebersihan

telinga yaitu:

1. Membersihkan telinga secara teratur.

2. Jangan mengorek-ngorek kuping dengan benda tajam.

f. Kebersihan tangan, kaki dan kuku

Dalam membersihkan tangan, kaki dan kuku seringkali

memerlukan perhatian yang khusus untuk mnecegah infeksi, bau, dan

cidera pada jaringan. Untuk itu perlu diperhatikan dalam memelihara

kebersihan tangan, kaki dan kuku, yaitu dengan :

1. Mencuci tangan sebelum makan.

2. Memotong kuku secara teratur.

3. Kebersihan lingkungan.

4. Mencuci kaki sebelum tidur.

g. Kebersihan pakaian

Pakaian berguna untuk melindungi kulit dari sengatan matahari

atau cuaca melindungi dan kotoran yang berasal dari luar seperti debu,

lumpur dan sebagainya. Pakian banyak menyerap keringat, lemak dan

kotoranyang dikeluarkan oleh badan. Dalam sehari saja, pakian

berkeringat dan berlemak ini akan berbau busuk dan mengganggu.

Untuk itu perlu mengganti pakaian dengan yang bersih setiap hari.

14
Selain itu, pakaian juga berfungsi untuk membantu mengatur suhu

tubuh dan mencegah masuknya bibit penyakit (Maryunani, 2013).

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Personal Hygiene

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi personal hygiene antara

lain citra tubuh, praktik sosial, status sosial-ekonomi, pengetahuan,

budaya, kebiasaan, dan kondisi fisik seseorang (ambrawati. 2014) :

a. Citra tubuh

Gambaran individu terhadap keadaan dirinya sangat mempengaruhi

diri seseorang, seperti perubahan fisik pada masa remaja. Maka, harus

terdapat suatu usaha yang lebih untuk meningkatkan personal

hygiene.

b. Praktik sosial

Kelompok sosial wadah untuk berhubungan dapat mempengaruhi

prakti personal hygiene. Pada masa kanak-kana seseorang

mendapatpraktik hygiene dari orang tua mereka mangikuti kebiasaan

keluarga dengan fasilitas yang ada, seperti ketersediaan air mengalir.

Hal tersebut hanyalah beberapa faktor yang mempengaruhi

kebersihan.

c. Status sosial-ekonomi

Keadaan ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik

kebersihan yang digunakan. Personal hygiene memerlukan alat dan

bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat, sampo, deodorant dan lain-lain

15
sebagai bagian dari kebiasaan sosial seseorang. Berbagai produk

tersebut memerlukan uang untuk mendapatkannya.

d. Pengetahuan

Pengetahuan tentang pentingnya personal hygiene dan implikasi bagi

kesehatan mempengaruhi praktik personal hygiene. Semakin baik

pengetahuan seseorang maka semakin baik pula pemeliharaan

personal hygiene seseorang sehingga dapat meningkatkan kesehatan.

e. Kebudayaan

Kepercayaan, kebudayaan, dan nilai pribadi akan mempengaruhi

personal hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang beberda

melakukan perilaku personal hygiene yang berbeda pula.

f. Kebiasaan

Setiap inividu memiliki keinginan tersendiri kapan untuk melakukan

perawatan personal hygiene seperti mandi, keramas, memotong kuku

dan lain-lain. Selain itu, seseorang memiliki selera tersendiri dalam

memilih produk yang berbeda untuk perawatan hygiene mereka.

g. Kondisi fisik

Orang yang menderita penyakit tertentu atau menjalankan operasi

sering kali kekurangan energy fisik untuk melakukan perawatan

personal hygiene sehingga, orang tersebut memerlukan bantuan untuk

melakukannya.

16
2.2 Pengetahuan

2.2.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu, terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

pencaindra manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari

mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya suatu tindak seseorang (Overt behavior)

(Notoatmodjo, 2010).

Menurut Notoatmodjo (2012), Pengetahuan (knowledge) adalah

hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what”.

Pengetahuan adalah informasi, fakta, hukum prinsip, proses, kebiasaan

yang terakumulasi dalam pribadi seseorang sebagai hasil proses interaksi

dan pengalamannya dengan lingkungan. Pengetahuan manusia tdak saja

diperoleh melalui pengalaman dalam lingkungan hidupnya, namun juga

dapat melalui catatan (buku, kepustakaan dan lainnya). Pengetahuan ini

harus disesuikan dan dimodifikasi dengan realita baru dalam lingkungan.

Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil

penggunaan panca indranya. Penginderaan dapat melalui panca indra

manusia baik melalui indera penglihatan, pendegaran, penciuman, rasa

maupun indera perabaan. Pengetahuan juga dapat di peroleh dari

pendidikan, pengalaman, media masa, maupun lingkungan. Dengan

17
demikian maka pengetahuan sangat penting untuk membentuk seseorang

(Notoatmodjo, 2010).

2.2.2 Tingakat pengetahuan

Notoatmodjo (2010) menjelaskan tingkat pengetahuan dalam domain

kognitif terbagi menjadi 6 tingkatan, yakni:

a. Tahu

Tahu artinya mengingat suatu materi yang sudah

[Link]. termasuk dalam pengetahuan ini adalah

mengingat kembali sesuatu yang spesifikasi dari seluruh bahan yang

dipelajari anara lain yaitu : menyebut, menguraikan, mendefinisikan

atau menyatakan. Sebagai contohnya seseorang maupun menyatakan

pengertian penyakit pediculosis capitis.

b. Memahami

Memahami artinya suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, orang yang telah paham terhadap obyek

atau materi harus dapat menjelaskan, misalnya dapat menejelaskan

tentang manfaat melakukan pengobatan pediculosis capitis dengan

benar.

c. Aplikasi

Aplikasi artinya kemampuan untuk menggunakan materi uang telah

dipelajari pada situsi atau kondisi ril (sebenarnya).aplikasi di sini

artinya sebagai penggunaan hukum, rumus, metode dan lain

18
sebagainya, misalnya cara melakukan kebersihan rambut dengan cara

melakukan keramas secara baik agar kejadain pediculosis capitis dapat

dicegah dan tidak menular.

d. Analisis

Analisis artinya kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur

organisasi tertentu, dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

Kemampuan ini dapat dilihat dengan kata kerja seperti dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan

sebagainya. Contohnya dengan menganalisis tentang manfaat

melakukan pencegahan pediculosis capitis..

e. Sintesis

Sintesis yaitu menunjukkan pada kemampuan unutk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keselururhan yang

baru. Misalnya menyusun, merencanakan atau meringkas teori tentang

pediculosis capitis.

f. Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan penilaian terhadap suatu

materi atau objek. Misalnya dapat membandingkan antara anak yang

terkena pediculosis capitis dan yang tidak. Pengukuran pengetahuan

dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan

tentang materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden

19
ke dalam pengetahuan yang ingin di ketahui atau diukur. Hai ini dapat

de sesuiakan dengan tingakat yang ada (Notoatmodjo, 2010).

2.3 Pediculosis Capitis

2.3.1 Definisi

Pediculosis Capitis adalah penyakit kulit kepala yang di akibatkan oleh

aktoparasit obligat (tungau/lice). Pediculosis capitis ini termasuk parasit yang

menghisap darah dan menghabiskan seluruh hidupnya di manusia (Yousefi,

2012)..

2.3.2 Epidemiologi Pediculosis Capitis

Pediculosis capitis banyak terdapat pada anak-anak yang belum terlalu

memperdulikan kebersihan diri. Di beberapa Negara seperti Amerika Utara

Dan Selatan, Eropa, Asia, Dan Australia tercata sejak pertengahan tahun

1960 an adanya peningkatan infestasi kutu kepala setiap tahunya. Terutama

di Negara berkembang dan pediculosis capitis ini juga masih terdapat pada

remaja dan orang-orang dewasa namun hanya sebagian dari mereka yang

menderita penyakit ini, terutama yang tidak memperhatikan kebersihan diri

mereka.

Pediculosis capitis sering menyerang anak perempuan terutama pada

anak perempuan, karena memiliki rambut yang panjang dan sering memakai

asesoris rambut (Moradi, 2009). Selain itu kondisi apabila hygiene yang

tidak baik seperti jarang membersihkan rambut itu juga merupakan salah

20
satu faktor resiko penyakit ini. Penyakit ini menyerang semua umur, ras,

dan semua tingkat sosial, namun penyakit ini kebanyaan menyerang pada

orang yang mememiliki status ekomi yang rendah. Penularan penyakit dapat

melalui konak langsung dengan rambut atau melalui kontak langsung yaitu

rambut dengan rambut atau melalui kontak tidak langsung atau perantara

seperti bantai, sisir, kasur, jilbab dan kucir rambut (Rachman, 2014).

2.3.3 Etiopatologi Pediculosis Capitis

[Link] Kutu rambut dewasa

Pediculosi capitis memiliki tubuh yang pipih dorsovontal, memiliki

tipe mulut tusuk untuk menghisap darah pada kepala manusia, badannya

bersegmen-segmen, memiliki 3 buah pasang kaki dan berwarna kuning

kecoklatan atau putih ke abu-abuan sampai gelap. Tungau ini tidak

memilki sayap, oleh karena itu parasit ini tidak bisa terbang dan

penjalaran infeksinya harus dari benda atau rambut yang saling

menempel. Tungau memiliki cakar di kaki untuk benrgantung dirambut.

Bentuk tungau betina dewasa lebih besar dari pada tungau yang jatan.

pediculosis capitis dapat bertahan selama kurang lebih 30 hari di kulit

kepala manusia, sedangkan tanpa host kutu akan mati dalam waktu 1-2

hari (Bolh, 2015).

21
[Link] Nimfa

Setelah menetas nimfa muda akan mencari makan. Jika nimfa tidak

makan, maka tidak bisa bertahan hidup. Nimfa memiliki bentuk seperti

kutu rambut dewasa namun berbentuk kecil

[Link] Telur

Gambar 2.1. Telur kutu kepala

(Sumber: Weems dan Fasulo, 2013)

Telur (nits) berbentuk oval/bulat lonjong dengan panjang sekitar

0,8 mm, berwarna putih sampai kuning kecoklatan. Telur diletakkan di

sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin

keujung terdapat telur yang lebih matang. Daerah favorit tempat

melekatnya telur adalah didekat telinga dan bagian belakang kepala

(Sutanto, dkk, 2008). Telur kutu selain diletakkan pada serat pakaian dan

kadang-kadang pada rambut tubuh manusia.

22
[Link] Siklus

Lingkaran hidup kutu rambut merupakan metamorfosis tidak

lengkap, yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa

dalam waktu 5-10 hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut.

Sesudah mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi

kutu rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari. Dalam keadaan cukup

makan kutu rambut dewasa dapat hidup 27-30 hari lamanya (weem,

2007)

Gambar 2.2 siklus hidup pedikulosis kapitis

Sumber: (CDC, 2013)

Tungau adalah sejenis parasit penghisap darah. Kelainan kulit

yang muncul disebabkan oleh gigitan tungau dan garukan untuk

23
menghilangkan rasa gatal. Rada gatal itu sendiri diakibatkan dari air liur

dan ekskresi tungau yang ikut masuk kedalam kulit kepala ketika ungau

sedang menghisap darah. Menurut peneliti tungau ini dapat bertahan

hidup kurang dari 48 jam tanpa menghisap darah atau berada di kulit

kepala. Sementara telurnya dapat bertahan sekitar seminggu jika tidak

berada dikulit maupun di rambut manusia.

[Link] Faktor Resiko

Beberapa faktor resiko yang dapat mempenaruhi terjadinya

pediculosis capitis:

1. Usia, terutama pada kelompok usia anak-anak 3-11 tahun dan pada

remaja 12-18 tahun.

2. Jenis kelamin perempuan lebih serign terkena penyakit pediculosis

capitis karena perempuan hampir semua memiliki rambut yang

panjang dari pada laki-laki.

3. Menggunakan tempat tidur atau bantal bersama.

4. Menggunakn sisir atau aksesoris rambut beersama, pada keadaan

menggunakan sisir secara bersama akan membuat telur bahkan

tungau dewasa menempel pada sisir maka akan tertular, begitu juga

dengan aksesoris rambut seperti kerudung, bando dan pita.

5. Panjang rambut, seseorang yang memiliki rambut yang panjang sulit

untuk membersihkannya dibandingkan orang rambut pendek.


24
6. Frekuensi cuci rambut yang kurang.

7. Ekonomi tingkat ekonomi yang rendah merupakan resiko uang

signifikan dengan adanya infestasi tungau, selain itu juga

dikarenakan ketidakmampuan untuk mengobati infestasi secara

efektif.

8. Bentuk rambut, pada orang afrika atau negro afrika-amerika yang

mempunyai rambut keriting jarang yang terinfeksi kutu kepala

karena tungau dewasa betina sulit meletakkan telurnya pada jenis

rambut tersebut (Nuqsah, 2010).

2.3.4 Gambaran Klinis Pediculosis Capitis

Gejala utama dari infestasi tungau kepala ialah rasa gatal, namun

sebagian orang asimtomatik dan dapat sebagai karier. Masa inkubasi sebelum

terjadi gejala sekitar 4-6 minggu. Tungau dan telur paling banyak terdapat

pada daerah oksipital kulit dan retroaurikuler.

Tungau dewasa dapat ditemukan dikulit kepala berwarna kuning

kecoklatan sampai putih ke abu-abuan, tetapi dapat berwarna hitam gelap bila

tertutup oleh darah. Tungau akan berwarna gelap pada orang yang berambut

gelap. Telur (nits) berada di rambut dan berwarna kuning kecoklatan atau

putih, tetapi dapat berubah menjadi gelap apabila embryo didalamnya mati.

Gigitan dari tungau dapat menghasilkan kulit berupa eritema, macula

dan papula, tetapi pemeriksaaan yang sering hanya menemukan eritema dan
25
ekskoriasi saja. Ada beberapa individu yang mengeluh dan menunjukan tanda

demam serta pembesaran kelenjar limfa setempat.

Garukan pada kulit kepala dapat menyebabkan terjadinya erosi,

eksokoriasi dan infeksi sekunder berupa pus dan krusta, pada infeksi

sekunder berat bisa terjadi infeksi sekunder hingga helaian rambut akan

melekat satu sama lain atau rambut akan bergumpal akibat dari banyaknya

pus dan krusta. Keadaan ini terjadi plica polanica yang dapa ditumbuhi

jamur. Tungau kepala adalah penyebab utama penyakit pioderma sekunder

dikulit kepala diseluruh dunia

2.3.5 Diagnosa

Diagnose ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaaan fisik serta

ditemukan kutu dewsa, nimfa atau telur di daerah predileksi atau rambut

kelapa (Bohl, 2015). pediculosis capitis paling sering dujumapi diderah

oksipital dan retroaurikular. Namun apabila tidak dijumpia kutu dewasa,

maka pedikulosis kpaitis dapt detegakkan dengan menemukan telur kutu yang

menempel di batang rambut melalui pemeriksaan mikroskop.

2.3.6 Pencegahan Dan Pemberantasan

Pemberantasan kutu rambut kepala dapat dilakukan dengan

menggunakan tangan, sisir serit atau dengan menggunakan insektisida

glongan klorin (Benzen heksa klorid). Beberapa pengendalina yang bisa

dilakukan adalah sebagai berikut :

26
a. Hindari head-to-head (hair-to-hair) kontak selama bermain dan kegiatan

lain dirumah, sekolah, dan tempat lain (olahraga, taman bermain, pesta

tidur, berkemah, atau di pondok pesantren).

b. Tidak bebagi alat-alat pribadi seperti topi, syal, mantel, seragam,kucir

rambut dan kerudung.

c. Tidak berbagi sisir rambut, dan handuk. Untuk membersihkan sisir

rambut agar tehindar dari penularan pediculosis capitis dengan cara

merendamnya dengan air panas yang bersuhu kurang lebih 40 C selama

5-10 menit.

d. Jangan bebaring di tempat tidur, sofa, atau benda-benda yang sudah

berkontak langsung dengan orang yang menderita kutu rambut

([Link]

e. Meningkatkan personal hygiene seperti sering menganti dan

membersihkan tempat tidur, pakian, kerudung, sarung bantal dan juga

memjemur kasur.

f. Meningkatkan keasdaran tentang pentingnya perawatan badan dan

rambut perlu ditanamkan kepada semua santriwati.

g. Ketika salah satu anggota keluarga terkena utu kepala maka dianjurkan

juga untuk memeriksa kutu kepala pada anggota keluarga yang lainya.

27
2.3.7 Pengobatan

Pengobatannya juga harus dilakukan jika seseorang sudah terjangkit

yang ditandai dengan gatal-gatal di kepala. Berikut macam-macam obat

untuk pediculosis capitis menurut (Ween dan Fasulo, 2013) :

a. Shampo lindane 1%. Gamma Benzene Heksa atau piretrin. Dosis,

shampoo dibiarkan selama 4-10 menit, kemudian dibilas. Tindakan

selanjutnya periksa rambut 1 minggu setelah pengobatan untuk telut

dan kutu rambut.

b. Salep Lindane (BHC 10%); atau bedak DDT 1% dalam pyrophylite;

atau Benzaos benzylicus emulsion. Dosis, kepala dapat digosok dengan

salep Lindane (BHC 1%) atau dibedaki dengan DDT 10% atau BHC

1% dalam pyrophylite atau baik dengan penggunaan 3-5 gram dari

campuran tersebut untuk sekali pemakaian. Bedak itu dibiarkan selama

seminggu pada rambut, lalu rambut dicuci dan disisir intuk melepaskan

telurnya. Emulsi dari Benzyl benzoate ternayta berhasil.

c. Cair/peditox/Hexachlorocyclohexane 0,5. Dosis, gosokkan pada

rambut dan kepala sampai merata biarakan semalaman kemudian

dicuci lalu dikeringkan (Wijayanti, 2007).

d. Untuk menghilangkan ketombe dengan menggunakan cara-cara

tradisional/herbal sebagai berikut:

28
- Oleskan air perasan 1-2 jeruk nipis ke seluruh kulit kepala. Biarkan

selama 20-30, lalu keramas. Setelah 3 kali melakukan (setiap kali

akan melakukan cuci rambut)

- Siapkan 2-3 buah mengkudu matang lalu dilumat, deberi air, peras,

airnya dipakai untuk keramas. Biarkan selama 5 menit, bilas dengam

air, dan gunakan sampo untuk menghilangkan baunya.

2.3.8 Penyebab Terjadinya Kejadian Penyakit Pedikulosis Capitis Di

Pesantren

Ada beberapa Faktor penyebab terjadiya infestasi pediculosis

capitis (Nuqsah, 2010). antara lain:

a. Usia

Penderita pediculosis capitis ini tidak memandang usia , semua

usia pasti mengalaminya apabila tidak menjaga kebersihan rambut

maupun personal hygiene masing-masing individu sendiri. Namun

dari hasil penelitian kebanyakan penderita penyakit ini berkisaran

pada usia anak-anak 3-11 tahun dan remaja 12-18 tahun.

b. Jenis kelamin perempuan

Penderita Pedikulosis kapitis ini sering dijumpai pada

perempuan, karena kebanyakan perempuan suka memiliki rambut

yang panjang dan tebal.

29
c. Menggunakan tempat tidur atau bantal bersama

Penggunaan tempat tidur dan bantal secara bersamaan

merupakan tempat yang sangat baik bagi pediculosis capitis untuk

menular. Apabila di gunakan bersama otomatis telur tungau yang

menempel pada bantal atau tempat tidur akan menempel pada orang

yang mengunakanya.

d. Menggunakan sisir atau asesoris rambut secara bersama

Penggunan sisir atau asesoris rambut secara bersama merupakan

fakor yang sangat efektif bagi pediculosis capitis dalam penularanya,

telut atau tungau yang masih menempel akan menempel atau pindah

kerambut yang lain sewaktu digunakan.

1. Prevalensi rambut yang panjang

Rambut yang panjang adalah tempat yang sangat di sukai

untuk pediculosis capitis tinggal.

2. Frekuensi cuci rambut

Dalam mengatasi penyakit pediculosis capitis ini perlu

melakukan keramas atau cuci rambut minimal seminggu 3 kali

3. Pengetahuan dan Ekonomi yang rendah.

Kebanyakan orang yang mengalami penyakit pediculosis

capitis ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan juga satus

ekonomi.

30
e. Kepadatan hunian rumah tidur

Dalam menentukan hunian rumah perlu mengethui luas kamar

yang akan ditempati dan, dalam luas ruang tidur minimal 8 m, dan

tidak dianjurkan dihuni oleh 2 orang atau pun lebih dalam ruang tidur

tersebut, kecuali anak dibawah umur 5 tahun (MENKES RI, 1999) .

Biasanya pesantren menyediakan pondok atau tempat tinggal yang

murah biayanya bahkan ada yang digratiskan, biasanya para santri harus

tinggal bersama dalam satu kamar dengan 4-5 santri yang lain, ada yang

satu tempat tidur dan ada yang terpisah (Zarkasy, 1998).

Keadaan kamar dengan penghuni yang banyak dapat memper mudah

penularan pediculosis capitis atau penyakit kulit lainya (Rachman, 2014).

Ada beberapa budaya tradisional bahwa para santri harus saling bertukar

makanan, tempat, tidur dan ilmu. Kondisi seperti ini sangat menjunjung

kelangsungan daur hidup tungau atau infestasi parasit lainnya serta jamur

(Ansyah, 2013).

Faktor lingkungan juga merupakan faktor yang mempengaruhi

penyebaran pediculosis capitis, pada lingkungan yang serba terbatas

seperti di pesantren atau asrama, penyebaran pediculosis capitis dapat

terjadi secara cepat dan mudah maluas. pediculosis capitis dan scabies

merupakan penyakit tersering dan merupakan penyakit yang khas terjadi di

pesantren, hal ini berkaitan erat dengan lingkungan di pesantren yang

padat serta kebersihan yang kurang baik (Nuqsah, 2010).

31
2.4 Pondok Pesantren

2.4.1 Definisi Pondok Pesantren

Pesantren merupakan lembaga tertua di Indonesia. Pesantren adalah

satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genius, dan aktif dalam

perkembangan zaman. Pondok pesantren telah tumbuh sejak 7 abad yang

lalu bersama dengan proses Islamisasi di Nusantara. Pesantren hingga

sekarang tetap bertahan dan tikad tercabut dari akar kulturalnya, bahkan

lembaga ini begitu dinamis, kreatif, inovatif, dan memiliki daya sui

(adaptasi) yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat (suryadharma,

2013).

Soergarda poerbkawan juga menjelaskan bahwa pesantren berasal

dari kata santri, yaitu seseorang yang belajar agama islam, sehingga

pesantren dapat diartikan sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar

agama islam (nurhayati, 2010).

2.4.2 Jenis-Jenis Pondok Pesantren

Menurut data dari Direktori Pondok Pesantren Departemen Agama tahun

2006/2007, pondok pesantren dapat di golongkan menjadi tiga model yaitu :

a. Pertama, model pondok pesantren tradisional masih mempertahankan

sistem salafiahnya, dan menolak intervensi kurikulum dari luar.

Pesantrem ini masih dijadikan alternative oleh masyarakat, karena

sejumlah pondok pesantren yang diseleksi masyarakat sudah mulai


32
berguguran, secara cultural dan moral, sehingga masyarakat

menengok kembali model asli pendidikan salafiah.

b. Kedua, model pesantren yang sudah melebur dengan moderenisasi.

Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan ada kurikulum umum.

Tetapi karena tuntunan populisme sosial terlalu dituruti akhirnya

karakteristik pesantrenya hilang begitu saja. Karena sistem kurukulum

aslinya hilang, hanya karena menuruti kurikulum Departemen Agama

Atau Departemen Pendidikan Nasional

c. Ketiga,model pondok pesantren yang mengikuti proses perubahan

modernitas, tanpa meninggalkan kurikulum lama yang salafi. Ada

pendidikan umum, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan kurikulum

Depertemen Agama,. Sebab, kurikulum

2.4.3 Tujuan Pesantren

Pesantren memiliki tujuan yang mana menciptakan dan

mengembangkan kepribadian musim, yaitu kepribadian ynag beriman dan

bertqwa kepada tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dan

berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kewula atau abdi

masyarakat tetapi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagai mana

kepribadian nabi Muhammad (mengikuti sunah nabi), mampu berdiri

sendiri, bebas, dan teguh dalam kepribadian, menyabarkan agama atau

menegakkan islam dan kejayaan umat di tengah-tengah masyarakat dan

mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian manusia.


33
2.4.4 Fungsi Dan Peran Pesantren

Peran pesantren dapat dibedakan mejadi 2, yaitu: internal dan

eksternal. Peran internal adalah mengelola pesantren kedalam yang berupa

pembelajaran ilmu agama kepada para santri. Sadangkan peran eksternal

adalah berinteraksi dengan masyarakat termasuk pemberdayaan dan

pengambangannya. Kebanyakan pesantren mutakhir hanya berperan pada

sudut internalnya saja, yaitu pembelajaran bagi para santri, dan

meninggalkan peran eksternalnya sebagai media pemberdayaan

masyarakat. Sehingga pengaruh pesantren mulai menipis dan tidak sekuat

sebelumnya.

Fungsi dan peran pesantren dapat juga dapat diukur dari bahan ajar

yang disuguhkan kepada para santri. Karena bahan ajaran merupakan

bagian kurikulum yang dapat membentuk midset dan kiprah santri

ditengah masyarakat kelak. Setidaknya setiap pesantren membekali para

santri dengan 6 pengetahuan, yaitu: ilmu syariah, ilmu empiris, ilmu yang

membuat kemamuan berpikir kritis dan berwawasan luas, ilmu

penggemblengan mental dan karakternya (Abdul, 2008).

2.4.5 Kebiasan di Pondok Pesantren

Kebiasaan santri di pondok pesantren pada umumnya kurang

mendapat perhatian yang kurang baik, ditambah lagi dengan kurangnya

tingkat pengetahuan mengenai kesehatan dan perilaku kurang baik seperti

manggantung pakaian di kamar, tidak memperbolehkan menjemur pakaian


34
di terik matahari pada santri wanita, saling bertukar pakaian, dan benda

pribadi seperti sisir rambut dan lainya. Proses pembentukan dan perubahan

perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri

individu (internal) berupa kecerdasan, persepsi, motivasi, monat dan emosi

unutk memproses pengaruh dari luar. Faktor yang berasal dari luar

(eksternal) meliputi objek, orang kelompok, dan hasil-hasil kebudayaan

yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Promosi

kesehatan yang berisi niali-nilai kesehatan yang berisi nilai-nilai kesehatan

yang dapat mempegaruhi kondisi internal dan luar diri individu, cenderung

dapat mempengaruhi kondisi internal dan eksternal individu atau

masyarakat (Notoatmodjo, 2010).

Kebersihan dan kesehatan di pondok pesantren perlu diperhatikan.

Karena santri hidup besama dengan banyak orang, bercanpur baur dengan

macam kepribadian yang berbeda. Dengan kadaan seperti itu dapat

menimbulkan berbagai penyakit menular dapat berkembang dengan cepat,

seperti penyakit pediculosis capitis yang sangat berpengaruh dengan

kebersihan diri dan penularanya sangat berpengaruh dengan perilaku atau

kebiasaan para santri yang suka tidur bersama, saling bertukar alat-alat

pribadi kepadatan hunian dan sebagaianya.

35
Umur
2.5 Kerangaka teori
Jenis kelamin

Tingkat pendidikan
Host
Riwayat kontak

Personal Hygiene
- Kebersihan kulit
- kebersihan rambut
- Kebersihan pakaian

Pengetahuan

Agent Pediculosis Capitis Kejadian Pediculosis


Capitis

Penggunaan tempat tidur secara


bersama
Enviroment

Kepadatan hunian rumah


tidur
Gambar 2.3 Kerangka Teori
Sumber: Teori Segitiga Epidemiologi (Notoatmodjo, 2011) 36
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara

konsep-kosep atau variabel-varabel yang akan diamanati (diukur) melalui

penelitian yang dimaksud (Notoatmodjo, 2012). Berdasrakan tujuan pustaka

yang telah diuraikan dan kerangka teori yang telah disajikan di bab

sebelumnya dapat diketahuai bahwa masalah personal hygiene dan

pengetahuan yang rendah merupakan masalah yang rumit dan disebabkan

multifactor penyebab. Adanya ketidak jangkauan peneliti untuk mengetahui

semua faktor penyebab terjadinya pedikulosis kapitis sehingga ada beberapa

faktor resiko yang terdapat dalam kerangka teori dihilangkan, maka untuk

penelitian ini dibuat kerangka konseptual penelitian, yaitu

Variabel bebas Variabel terikat

Personal hygiene

- Kebersihan kulit
- kebersihan
rambut
- Kebersihan
pakaian

Kejadian Pediculosis
Capitis

Tingkat Pengetahuan
tentang Pediculosis
Capitis

37
: diteliti
Gambar 3.1 Kerangka konsep
: tidak diteliti

1. Variabel bebas ( independent): personal hygiene dan tingkat pengetahuan

Pediculosis Capitis..

2. Variabel terikat (dependent): kejadian pediculosis capitis.

3.2 Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah

dirumuskan dalam perencanaan penelitian, untuk mengarahkan pada hasil

penelitian maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban

sementara dari penelitian (Notoatmodjo, 2012). Adapun hipotesis dalam

penelitian adalah sebagai berikut :

1. Ha: Ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian pediculosis

capitis Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan

Widodaren Kabupaten Ngawi.

2. Ha: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang Pediculosis Capitis

dengan kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi.

38
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desian Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Analitik yaitu penelitian

tersebut bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel menurut

Notoatmodjo (2012) survey analitik adalah survey atau penelitian yang

mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi.

Desian penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian

analitik cross sectional. Menurut Notoatmodjo (2012) desain cross sectional

ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara, hubungan

personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis

capitis dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus

pada suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo 2012). Pada penelitian

ini peneliti ingin mengetahui Personal Hygiene Dan Tingkat Pengetahuan

Dengan Kejadian pediculosis capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.

4.2 Populasi Dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan yang terdiri dari obyek atau subyek

yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Wiratna,

39
2012). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santriwati yang ada

atau yang mondok di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin

Dikecamatan Ngrambe KabupatenNgawi dengan jumlah santri sekitar 50

orang.

4.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki

oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Wiratna, 2012). Dalam

penelitian ini sampelnya adalah sebagian santri di pondok pesantren

Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi dengan

jumlah santri 50 orang dan untuk mengetahui santri yang terkena

pediculosis capitis

4.2.3 Tehnik Sampling

Menurut Nursalam, (2008) Sampling adalah suatu cara yang

ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-benar sesaui dengan

keseluruhan obyek penelitian. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah

non probabiliy sampling dengan jenis total sampling yaitu seluruh

populasi diambil untuk dijadikan sebagai sampel (Nursalam, 2008).

Sugiyono, (2011) menjelaskan alasan mengambil total sampling

adalah karena jumlah populasi yang kurang dari 100, maka seluruh

populasi dijadikan sampel penelitian.

40
4.3 Kerangka Kerja Dan Penelitian

Kerangka kerja penelitian merupakan kerangka pelaksanaan penelitian

mulai dari pengambilan data sampai menganalisis hasil penelitian, kerangka

dalam penelitian ini adalah :

Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian

Populasi
Seluruh santri di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan widodaren
Kabupaten Ngawi dengan jumlah santri 50 orang

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh santri di pondok pesantren Ma’hadul
Muta’alimin Dikecamatan widodaren Kabupaten Ngawi jumlah santri 50 orang

Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan observasi & kuesioner

Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional

Pengolaahn Data
Editing, coding, entry, cleaning, tabulating, dan analisis data

Analisa data

dengan SPSS uji chi- square

Hasil dan Kesimpulan

41
4.4 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional

4.4.1 Variabel Penelitian

Variable penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi

tentang hal tersebut, dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Sugiyono

(2000) dalam Sujarweni (2014)). Variabel yang digunakan dalam

penelitian ini ada dua, yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat

(Saryono, 2011).

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Adalah variabel yang mempengaruhi atau dianggap menentukan

variabel terikat. Variabel ini dapat merupakan factor resiko, predictor,

kausa/penyebab (Saryono, 2011). Variabel bebas dalam penelitian ini

adalah personal hygiene santri (Kebersihan kulit, kebersihan rambut,

Kebersihan pakaian) dan pengetahuan.

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel terikat disebut juga

kejadian, luaran, manfaat, efek atau dampak. Variabel terikat juga

disebut penyakit/outcome (Saryono, 2011). Dalam penelitian ini,

variabel terikat adalah kejadian pediculosis capitis di pondok

pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Ngrambe Kabupaten

Ngawi

42
4.4.2 Definisi Operasional

Adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan

(Notoadmodjo. 2012).

Tabel [Link] Operasional

Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala Skor


data

Personal Personal hygiene adalah Menurut Potter dan Perrry Observasi Nominal 0 = kurang baik
Hygiene perawatan diri sendiri yang (2012), untuk menjaga 1 = baik
dilakukan untuk kebersihan dan kesehatan
mempertahankan kesehatan baik seseorang yaitu - Baik = apabila personal hygiene
secara fisik maupun psikologis - Kebersihan kulit pada santri sudah dilaksakan
(Hidayat, 2008). - Kebersihan rambut dengan baik. Dengan penilaian
- Kebersihan pakaian Baik > 50%
- Kurang baik = apabila personal
hygiene pada santri belum
dilaksanakan dengan baik. Dengan
penilaian Kurang ≤ 50%

43
Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil Meliputi tentang Test Nominal Penilaian dengan memberi skor
Pediculosis tahu, terjadi setelah orang pengertian personal kuesioner
Capitis melakukan pengindraan hygiene : Benar = 1
terhadap suatu objek tertentu. Salah = 0
Pengindraan terjadi melalui - Definisi Pediculosis Dengan hasil penilaian
pencaindra manusia. Sebagian Capitis Baik ≥ 50%
besar pengetahuan manusia Buruk <50% (Sunyoto, Danang,
- Jenis-jenis Pediculosis
diperoleh dari mata dan telinga. 2013).
Capitis
Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya
suatu tindak seseorang (Overt
behavior) (Notoatmodjo, 2010).

Pediculosis Kutu kepala (Pediculsis capitis) Positif: jika ditemukan - Observasi Nominal Ditemukan adanya telur, nimfa atau
Capitis merupakan penyakit yang pediculosis capitis kutu dewasa
disebabkan ektoparasit obligat dewasa, telur, nimfa - Kuesinoner 0: positif
pemakan darah dikepala atau kutu dewasa dari 1 : negatif
manusia (Yousefi, 2012). rambut kepala dengan
menggunakan sisir serit.
Negatif : jika tidak
ditemukan pediculosis
capitis dewasa, telur,
nimfa atau kutu dewasa
dari rambut kepala
dengan menggunakan
sisir serit.

44
4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik (cermat, lengkap dan sistematis) sehingga lebih mudah

diolah (Saryono, 2011). Adapun instrumen dalam penelitian ini ini adalah

Observasi Dan Pengukuran.

4.5.1 Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik

terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian ( Sujarweni, 2014).

Alat yang digunakan dalam melakukan observasi adalah dengan cara

Check list : daftar pengecek, berisi subjek dan identitas dari sasaran

pengamatan

4.5.2 Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara member seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis

kepada para responden untuk dijawab ( Sujarweni, 2014)

4.6 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

4.6.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu

benar-benar mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui apakah

kuesioner yang sudah dibuat peneliti tersebut mampu mengukur apa yang

hendak peneliti ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara nilai tiap-

45
tiap pertanyaan dengan skors total kuesioner tersebut (Notoatmodjo,

2012).

Dari hasil analisis di dapat nilai skor total. Nilai ini kemudian kita

bandingkan dengan dengan nilai R tabel. R tabel dicari pada signifikan 5%

dengan n=15 (df=n-2=13), maka di dapat R tabel sebesar 0,441. Penentuan

kevalidan suatu instrumen diukur dengan membandingkan r-hitung

dengan r-tabel. Adapun penentuan disajikan sebagai berikut:

 r-hitung > r-tabel atau nilai sig r < 0,05 : Valid

 r-hitung > r-tabel atau nilai sig r < 0,05 : Tidak Valid

Jika ada butir yang tidak valid, maka butir yang tidak valid tersebut

dikeluarkan, dan proses analisis diulang untuk butir yang valid saja.

Adapun hasil uji validitas kuesioner adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Kuesioner personal hygiene


No Butir R hitung Keterangan Interpretasi

1 0,978 ≥0,441 Valid

2 0,583 ≥0,441 Valid

3 0,465 ≥0,441 Valid

4 0,621 ≥0,441 Valid

5 0,689 ≥0,441 Valid

6 0,621 ≥0,441 Valid

7 0,490 ≥0,441 Valid

8 0,689 ≥0,441 Valid

9 0,742 ≥0,441 Valid

46
10 0,586 ≥0,441 Valid

11 0,637 ≥0,441 Valid

12 0,560 ≥0,441 Valid

13 0,465 ≥0,441 Valid

14 0,535 ≥0,441 Valid

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Kuesioner tingkat pengetahuan pediculosis capitis

No Butir R hitung Keterangan Interpretasi

1 0,691 ≥0,441 Valid

2 0,478 ≥0,441 Valid

3 0,596 ≥0,441 Valid

4 0,598 ≥0,441 Valid

5 0,598 ≥0,441 Valid

6 0,517 ≥0,441 Valid

7 0,517 ≥0,441 Valid

8 0,624 ≥0,441 Valid

9 0,679 ≥0,441 Valid

Berdasarkan dari tabel 4.2 dan 4.3 dapat diketahui bahwa hasil uji

validitas kuesioner Hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan

dengan kejadian pediculosis capitis di pondok pesantren adalah valid,

karena nilai r hitung > r tabel.

4.6.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan

sejauh mana hasil pengukuran alat ukur tersebut tetap konsisten bila

47
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama,

dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012).

Uji reliabilitas dapat dilihat dari nilai Cronbach’s Alpha dengan taraf

signifikan 5%. Kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha >

0,60. Adapun hasil uji reliabilitas Hubungan personal hygiene dan tingkat

pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di pondok pesantren

menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha 0,761 > 0,60 hal ini berarti reliabel.

4.7 Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai pada awal bulan April 2018 dari perencanaan

(penyusunan proposal) sampai dengan penyusunan laporan akhir bulan Juni

2018. Adapun pengumpulan data primer dilakukan pada bulan April 2018.

Dan penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin

Dikecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.

Tabel 4.4 Realisasi Kegiatan

No Kegiatan Tanggal pengajuan


Pengajuan Judul 28 Maret - 15 April 2018
1
Penyusunan Dan Konsultasi Proposal 15 April – 10 Juli 2018
2
Skripsi
3 Seminar Proposal Skripsi 18 Juli 2018

Revisi Ujian Seminar Proposal 30 Juli – 6 Agustus 2018


4 Skripsi

5 Pengambilan Dan Pengolahan Data 12 Agustus- 2 September 2018

6 Sidang Skripsi 05 September 2018

7 Konsultasi Skripsi 12 September 2018

48
4.8 Prosedur Pengumpulan Data

4.8.1 Pengumpulan Data

[Link] Sumber Data

a. Data Primer

Data primer diperoleh langsung dari hasil survei pendahuluan

dan observasi oleh peneliti secara langsung pada pondok pesantren

Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi.

Observasi yang dilakukan mengenai personal hygiene antara lain :

(Kebersihan kulit, kebersihan rambut,Kebersihan pakaian), dan tingkat

pengetahuan santri.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pengurus pesantren berupa data

jumlah santri di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan

Widodaren Kabupaten Ngawi. Serta melihat dan melakukan penelitian

adanya kejadian pediculosis capitis di setiap santri

[Link] Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan

observasi dan pengukuran oleh peneliti secara langsung personal hygiene

antara lain: (Kebersihan kulit, Frekuensi rambut dan kebersihan

rambut,Kebersihan pakaian) dan tingkat pengetahuan santri.

49
[Link] Pengolahan Data

Kegiatan dalam proses pengolahan data meliputi editing, coding,

entry, cleaning, dan tabulating (Notoadmodjo, 2012).

1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban,

konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner.

2. Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses

pengolahan data.

3. Entry, memasukkan data untuk diolah menggunakan computer

4. Cleaning, mengecek kembali data yang sudah dimasukkan untuk

melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan

kode, kelengkapan, dan sebagainya kemudian dilakukan pembetulan

atau koreksi.

5. Tabulating, yang mengelompokkan data sesuai variable yang akan

diteliti dan memudahkan analisis data.

4.8 Analisis Data

4.8.1 Analisis Univariat

Penelitian analisis univariat adalah analisis yang dilakukan

menganalisis tiap variabel yang dilakukan menganalisis tiap variabel dari

hasil penelitian Notoadmodjo (2005). Analisis univariat berfungsi untuk

meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga

kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna, dan

pengolahan datanya hanya satu variabel saja, sehingga dinamakan univariat

(Sujarweni, 2014). Analisis yang dilakukan penelitian ini adalah


50
menggambarkan masing-masing variabel, baik variabel bebas berupa

personal hygiene dan tingkat pengetahuan maupun variabel terikat berupa

kejadian pediculosis capitis.

4.8.2 Analisis Bivariat

Penelitian analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan lebih dari

dua variabel (Notoadmodjo, 2005). Analisis bivariat berfungsi untuk

mengetahui hubungan antar variabel. Dua variabel tersebut diadu misalnya

dengan mencari hubungan antara variabel x1 dengan x2, (Sujarweni, 2014).

Penelitian ini menggunakan analisis hubungan dengan menggunakan

korelasi chi square . Dengan pengambilan keputusan dengan tingkat

signifikan adalah :

1. Apabila p > 0,05, maka H0 diterima, sehingga antara kedua variabel

tidak ada hubungan yang bermakna jadi H1ditolak.

2. Apabila p value ≤ 0,05, maka H0 ditolak, sehingga antara kedua variabel

ada hubungan yang bermakna jadi H1diterima.

Syarat rasio prevalens, sebagai berikut :

1. RP (Rasio prevalens) < 1, artinya ada hubungan namun varibel tersebut

tidak menjadi faktor resiko.

2. RP (Rasio prevalens) > 1, artinya ada hubungan dan variabel tersebut

menjadi faktor resiko.

3. RP (Rasio prevalens) = 1, artinya variabel bebas tersebut tidak menjadi

faktor resiko.

51
Syarat uji Chi Square, sebagai berikut :

1. Dalam analisis data terdapat output person chi-square yang digunakan.

2. Untuk tabel lebih dari 2 x 2, continuity correction untuk tabel 2 x 2

dengan expected count < 5.

3. Sedangkan Fisher’s exact digunakan untuk tabel 2 x 2 dengan expected

count > 5.

4.8.3 Etika Penelitian

Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk

setiap kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti, pihak

yang diteliti (subjek penelitian) dan masyarakat yang akan memperoleh

dam pak hasil penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2012).

a. Lembar persetujuan (Informed Consent)

Responden bersedia diteliti,setelah diberikan lembar permintaan

menjadi responden harus mencantumkan tanda tangan. Jika responden

menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap

menghormati hak-hak responden (Notoatmodjo, 2012).

b. Tanpa nama (Anonymity)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak

mencantumkan nama responden. Peneliti hanya mencantumkan nama

inisial responden. Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data

yang diberikan harus dirahasiakan, sehingga tidak perlu

mencantumkan nama identitas subyek (Nursalam, 2011).

52
c. Kerahasiaan (Confidentiality)

Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang

diberikan harus dirahasiakan. Kerahasiaan responden dan informasi

yang telah dikumpulkan dijamin oleh peneliti. Data tersebut hanya

disajikan dan dilaporkan kepada beberapa kelompok yang

berhubungan dengan penelitian (Nursalam, 2011).

53
BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin didirikan diatas tanah

seluas 276 m². Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin didirikan oleh

Bapak Haris Ma’mun Manfaluthi, pondok pesantren Ma’hadul

Mutta’alimin memiliki 50 santri yang sebagian besar masih sebagai pelajar

SMP dan SMA. Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin adalah pondok

yang dikhususkan untuk pondok pesantren perempuan, pondok tersebut

terletak di Dusun Katerban, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren.

Widodaren adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Ngawi, Propinsi Jawa

Timur. Kecamatan ini terletak sekitar + 30 Km barat daya kota Ngawi,

sedangkan jarak dengan Ibukota Propinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar +

251 Km. Luas wilayah Kecamatan Widodaren 58,50 Km. Kecamatan

widodaren terdiri dari 12 desa.

54
5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Hasil Analisis Univariat

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Jenis Kelamin di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin

Bulan Agustus 2018

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


1 Perempuan 50 100,0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.1 di atas, dapat diketahui bahwa responden berjenis

kelamin perempuan yaitu sebanyak 50 orang (100%)

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Umur di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Bulan

Agustus 2018 Kategori Umur Menurut Depkes RI

No Umur Jumlah Persentase (%)


1 12-16 Tahun 42 84.0
2 17-25 Tahun 8 16.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.2 di atas sesuai dengan Kategori Umur Menurut

Depkes RI, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden dengan

ketegori remaja awal berumur 12-16 tahun yaitu sebanyak 42 orang (84%)

55
dan responden dengan kategori remaja akhir berumur 17-25 tahun yaitu

sebanyak 8 orang (16%).

3. Karakteristik Responden Berdasarkan Personal Hygiene

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Personal Hygiene di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin

Bulan Agustus 2018

No Higiene Perorangan Jumlah Persentase (%)


1 Buruk 30 60,0
2 Baik 20 40,0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.3 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden memiliki tingkat Personal Hygiene buruk yaitu sebanyak 30

orang (60%).

4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan tentang

pediculosis capitis.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Tingkat Pengetahuan tentang di Pondok Pesantren Ma’hadul

Mutta’alimin Bulan Agustus 2018

No Pengetahuan Jumlah Persentase (%)


1 Buruk 33 66.0
2 Baik 17 34.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.4 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden memiliki tingkat pengetahuan tentang pedikulosis capitis yang

buruk yaitu sebanyak 33 orang (66%).

56
5. Karakteristik Responden Berdasarkan kejadian pediculosis capitis.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul

Mutta’alimin Bulan Agustus 2018

No Kejadian Jumlah Persentase (%)


1 Positif 29 58.0
2 Negatif 21 42.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.5 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden memiliki kejadian pedikulosis capitis yang negatif yaitu

sebanyak 29 orang (58%).

5.2.2 Hasil Analisis Bivariat

Analisis Bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara

Personal Hygiene dan Tingkat pengetahuan Pediculosis Capitis dengan

kejadian Pediculosis Capitis. Analisis Bivariat pada penelitian ini

menggunakan uji chi-square, Berikut adalah hasil analisa bivariat

penelitian menggunakan aplikasi pengolah data statistik SPSS 16.0 :

57
1. Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis di

Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin

Tabel 5.6 Tabulasi Silang Hubungan antara Personal Hygiene Responden

dengan Kejadian Pediculosis Capitis di Pondok Pesantren

Ma’hadul Mutta’alimin

Kejadian Pediculosis Capitis


Personal RP
Positif Negatif Total P-value
Hygiene 95% CI
N % N % N %
BURUK 22 73,3 8 26,7 30 100,0 2.095
BAIK 0,016 (1,110 –
7 35,0 13 65,0 20 100,0 3,954)
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat diketahui bahwa responden dengan

kejadian pediculosis capitis sebanyak 22 (73,3) pada personal hygiene yang

baik 7 (26,7). Hasil analisis uji chisquare (continuity correction) hubungan

antara tingkat pengetahuan pediculosis capitis dengan kejadian pediculosis

capitis menunjukkan bahwa nilai, dengan P-Value 0,016 < 0,050, yang berarti

ada hubungan antara personal hygiene dengan dengan kejadian pediculosis

kapitis di pondok pesantren ma'hadatul muta'alinin yang menunjukkan bahwa

nilai RP = 2,095(95% CI= (1,110 – 3,954). yang berarti bahwa personal hygiene

yang buruk mempunyai risiko 2,1 kali mengakibatkan kejadian pediculosis

capitis yang tinggi dari pada personal hygiene yang baik

58
2. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis di

Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin

Tabel 5.7 Tabulasi Silang Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan

Kejadian Pediculosis Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul

Mutta’alimin

Tingka Kejadian Pediculosis Capitis


t Positif Negaif Total RP
P-value
Penget 95% CI
ahuan N % N % N %
BURU
24 72,7 9 27,3 33 100 2.473
K
0,008
BAIK (1.150–
5 29.4 12 70,6 17 100
5.316)
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus

Berdasarkan tabel 5.7 diatas dapat diketahui bahwa responden yang

memiliki kejadian pediculosis capitis sebanyak 24 santri (72,7) pada tingkat

pengetahuan pediculosis capitis sebanyak 5 santri (29,4). Hasil analisis uji

chisquare (continuity correction) hubungan antara tingkat pengetahuan

pediculosis capitis dengan kejadian pediculosis capitis menunjukkan bahwa nilai

P-Value = 0,008< 0,050 . Maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik

ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di pondok

pesantren ma'hadatul muta'alinin dengan Nilai RP = 2,473 (95% CI= (1.150–

5.316). yang berarti bahwa tingkat pengetahuan yang buruk mempunyai risiko

2,5 kali mengakibatkan kejadian pediculosis capitis yang tinggi dari pada

tingkat pengetahuan yang baik.

59
5.3 Pembahasan

5.3.1 Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis

Berdasarkan dari hasil uji statistic yang sudah dilakukan dapat

diketahui hasil analisis uji chisquare dengan p-velue 0,016<0,05, ada

hubungan antara personal hygiene dengan dengan kejadian pediculosis

kapitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan

Widodaren Kabupaten Ngawi yang menunjukkan bahwa nilai RP = 2.095

(95% CI= 2.095-3.954).

Menurut penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh Susi

Darmayanti yang menyatakan bahwa Personal hygiene dengan kejadian

pediculosis capitis di SDN Kloposawit, Turi, Sleman, Yogyakarta dengan

nilai P= 0,331 yang berati tidak ada hubungan, dikarenakan responden

sudah menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh

kesejahteraan fisik dan psikologi. Pediculosis capitis mudah menyerang

semua orang yang tidak memperhatikan kebersihan tubuhnya. Kurangnya

kesadaran untuk menjaga personal hygiene dapat menigkatkan terjadinya

infestasi pediculosis capitis.

Dari penelitian yang sudah dilakukan masih banyak santri yang

belum menerapkan personal higiene dengan baik contohnya dari

kebersihan rambut kebersihan pakaian dan juga kebersihan kulitnya

Di dukung dengan kuesioner sebagai alat ukur untuk mengetahui

tingkat pengetahuan santri tentang personal hygiene, dan menunjukan

bahwa tingkat pengetahuan sebagian santri masih kuranga baik. Dari hasil
60
keterangan para santri, masih banyak santri yang pinjam meminjam

barang-barang pribadi. Dan dari wawancara kepada pengurus pesantren

sendiri sudah sering mengingatkan kepada santri untuk sering melakukan

perawatan diri (personal hygiene) namun dari kesadaran santri sendiri

kurang mananggapi nasihat dari pengurus pondok pesantren tersebut.

Untuk memperkuat, penelitian ini melakukan observasi pada

pondok pesantren tersebut, dan dari hasil observasi yang dilakukan banyak

pakaian yang menggantung di kamar,para santri juga masih melakukan

tidur bersama-sama. Manurut keterangan dari pengurus pondok pesantren

pada waktu penelitian dilaksanakan ada beberapa santri yang belum mandi

dan menurut keterangan santri tersebut karena hari libur. Maka dari itu

dapat disimpulkan kurangnya kesadaran santri kurang baik dalam menjaga

personal hygiene .

Maka dari itu untuk menjaga personal hygiene yang baik pengurus

santri membuat peraturan yang harus di taati tentang cara menjaga

perawatan diri (personal hygiene) agar di laksanakan dan ditanam pada

didiri para santri masing-masing dan manjadi kebiasaaan para santri agar

terjaga kesehatanya. Dan apabila peraturan dapat dilaksanaakan dengan

baik maka kejadian pedicuolosis capitis dapat dicegah.

5.3.2 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis

Berdasarkan dari hasil uji stasistik dapat diketahui hasil analisis uji

chisquare bahwa nilai p-value = 0,008<0,05 . Maka dapat diambil

kesimpulan bahwa secara statistik ada hubungan antara pengetahuan


61
dengan kejadian pidiculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul

Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi dengan Nilai

RP = 2.473(95%=1.150-5.316).

Menurut penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh Anisa

Anggraini yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan mengenai

pediculosis capitis terhadap kejadian pediculosis capitis Pada Anak Asuh

Dipanti Asuhan Liga Dakwah Sumatera Barat dengan nilai P= 0,126 yang

berati tidak ada hubungan, dikarenakan seseorang yang lebih tua memiliki

pengetahuan yang lebih baik dan lebih luas, seseorang yang berusia lebih

dewasa maka pengetahuannya juga akan lebih banyak dan cenderung

untuk berperilaku lebih baik. Tingkat pengetahuan sangat erat kaitannya

dengan sikap individu, orang yang memiliki tingkat pengetahuan yang

tinggi tetapi tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak di sertai kemauan

dan tidak disikapi dengan tindakan untuk mengurangi penularannya untuk

bersikap sesuai dengan tingkat pengetahuannya maka akan meningkatkan

prevalensi suatu penyakit seperti pediculosis capitis.

Dari penelitian yang sudah dilakukan dengan menggunakan alat ukur

kuesioner, sebagian santri belum banyak mengetahui tentang pengetahuan

pediculosis capitis karena sebagian dari meraka masih berpendidikan SMP

yang belum mengetahui dampak dari penyakit pediculosis capitis tersebut

dan mungkin cuek terhadap kesehatan. Ada beberapa santri yang

mengatakan bahwa penyakit kutu kepala atau pediculosis capitis adalah

62
penyakit yang tidak awam lagi bagi santri dan sering di alami oleh santri

perempuan.

Dari hasil observasi yang dilakukan banyak santri yang memiliki

kebiasaan menggaruk kepala bila gatal, bahkan ada juga yang kepalanya

sampai luka akhibat rasa gatal dan sering menggaruk kepala. Ditambah

lagi dengan cara menyisir rambut para santri menggunakan sisir serit dan

banyak santri yang mengalami kejadian pediculosis capitis. Selain

dilakukan menyisir rambut para santri tingkat kepadatan hunian dapat

mempengaruhi kejadian pediculosis capitis dan di dalam pondok pesantren

tersebut jumlah santri dan jumlah huniannya tidak sesuai. Satu kamar

ditempati lebih dari 3 orang itu menyebabkan prevalensi penyebaran

pediculosis capitis lebih cepat ditambah lagi dengan kebiasaan-kebiasaan

yang buruk para santri.

Sebaiknya para santri untuk membiasakan diri tidak melakukan

pinjam meminjam barang pribadi dan juga mengurangii kebiasaan-

kebiasaan yang dapat menularkan penyakit. Untuk itu pengurus pondok

pesantren perlu memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para santri

tentang pentingnya menjaga kesehatan.

63
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di uraikan tentang

Hubungan Personal Hygiene dan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian

Pedikulosis Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di

Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi, peneliti dapat menarik kesimpulan

sebagai berikut :

1. Dari hasil penelitian, sebagian besar santri memiliki tingkat personal

hygiene buruk.

2. Dari hasil penelitian, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan tentang

pedikulosis capitis buruk.

3. Dari hasil penelitian sebagian besar santri yang mengalami kejadian

pedikulosis capitis.

4. Dari hasil analisis yang sudah dilakukan;

a. ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian Pediculosis

Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan

Widododaren Kabupaten Ngawi.

b. ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian Pediculosis

Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan

Widododaren Kabupaten Ngawi.

64
6.2 Saran

1. Bagi Pondok Pesantren

Bagi warga pondiok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan

Widododaren Kabupaten Ngawi. sebaiknya lebih menjaga personal

hygiene atau kebersihan diri seperti memperhatikan kebersihan rambut,

kebersihan pakaian dan kebersihan kulit dan juga menambah pengetahuan

agar kejadian pediculosis capitis tidak menyebar ke lingkungan sekitar

dan luas ke wiayah yang lain.

2. Bagi STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sebuah strategi dalam pelayanan

kesehatan yang dapat untuk meningkatkan pelayanan dan sebagai bahan

kajian serta pemikiran untuk penelitian selanjutnya.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat melakukan penelitian dengan berdasarkan faktor

lainnya, variabel yang berbeda, jumlah sampel yang lebih banyak, tempat

yang berbeda, desain yang lebih tepat dan tetap berpengaruh dengan

kejadian pediculosis capitis tersebut.

65
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim Sudarnoto. 2008. Bunga Rampaipemikiran Islam Kebangsaan.


Jakarta: Baitul Muslim.

Alatas, S S. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Pediculosis Capitis


Dengan Karakteristik Demografi Santri Pesantren X Jakarta
Timur. Skripsi dipublikasikan universitas Indonesia, Jakarta.

Anggraini Anisa, Anum Qaira, Masri Machdawaty. 2018. Hubungan Tingkat


Pengetahuan Dan Personal Hygiene Terhadap Kejadian
Pediculosis Capitis Pada Anak Asuh Di Panti Asuhan Liga
Dakwah Sumatera Barat. Padang : universitas andalas padang.

Ambarawati, fitri respati. 2014. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta:


Dua Satria Offset.

Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis Kesehatan.


Universitas Muhamadiyah Semarang.

Ansyah, Achmad Nur. 2013. Hubungan Antara Personal Hygiene Dengan Angka
Kejadian Pediculosis Capitis [Ada Santri Putri Pondok Pesantren
Modern Islam Assalam Surakarta. Skripsi. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Muhamadiah Surakarta.

Bohl B. 2015. Clinical Practice update: Pediculosis Capitis. Pediatric


Nursing,41(5):227-34.

CDC. 2013. Parasites – Lice – Head Lice. [Link] Diakses tanggal


29 Maret 2018. Departement of
Darmayanti Susi. 2017. Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian
Pediculosis Capitis Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri
Klosoposawit, Turi, Sleman, Yogyakarta. Yogyakarta : Stikes Wira
Husada.
Departemen Agama.2006. Data Statistik Pesantren Di Indonesia.
[Link]/[Link], 20 Juli 2018.
Doroodgar A, Sadr F, Doroodgar M, Doroodgar M, Sayyah M. 2014. Examining
The Prevalence Rate Of Pediculus Capitis Infestation According To
Sex And Social Factors In Primary School Children. Asia Pac J
Trop.
Eliska. N. 2015. Pedikulosis Kapitis. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit

66
Dr. Mohamad Hoesin Plembang (Naskah Publikasi). Palembang.
Diakses pada tanggal 12 mei 2018.
Fan, C. K., Liao, C.W., Wu, M. S., Hu, N. Y., & Su, K. E. 2004. Prevalence Of
Pediculus Capitis Infestation Among School Children Of Chinese
Refugees Residing In Mountainouns Areas Of Northern Thailand.
The kaoshiung jurnal of medical sciences, 20 (4), 183-187.

Frankowski, Barbara L., Joseph A. Bocchini, Jr and Council on School Health and
Committee on Infectious Diseases. Head Lice. Journal Pediatrics.
Hal : 392-403.

Gandahusada Srisasi, D. Ilahude Herry, Pribadi Wita, 2003. Parasitologi


Kedokteran,( edisi ketiga). Jakarta. FKUI.
Hadidjaja, P. 2011. Dasar Parasitologi Klinik. Edisi I. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Health, victoria, Australia. 2011. Treating and controlling head lice.


[Link] Diakses tanggal 29 Maret 2014

Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008,Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta:


Salemba Medika.

KEMENKES RI: nomor 829/MENKES/SK/VII/1999.

Koktruk, A., Baz, K., Bugdayci, R., Sasmaz T., Tursen U., Kaya T. I., & Ikizoglu,
G. 2003. The prevalence of pediculosis capitis in schoolchildren in
Mersin, Turkey. International journal of dermatologi.

Maryunani, A., 2013. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). In Jakarta: CV.
Trans Info Media, pp. 30-56.

Moradi AR, Zahirnia, Alipour, Eskandari Z. 2009. The Prevalance of Pediculosis


Capitis in Primary School students in Bahar, Hamadan province,
irian. JRES. 9 (1): 45-9.

Nengtyas Wahyu A. 2014. Hubungan Antara Perilaku Hiup Bersih Dan Sehat
Dengan Kejadian Pedikulosis Kapitis Pada Santri Pondok
Pesantren An-Nahdliyah Desa Kepuharjo Kecamatan Karang
Ploso Kabupaten Malang. (Skripsi). Malang: Universitas
Muhamadiyah Malang.

Nala Abu. 2003. Manfaat apotik hidup untuk perawatan kesehatan dan
kecantikan. Temanggung: yayasan bina karya temanggung.
Natadisatra D, Agoes R. 2005. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
67
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2010 Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Prof, DR Soekidjo. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan:
Jakarta: Rineka Cipta.
Nurhayati, Anin. 2010. Kurikulum inovasi telaah terhadap pengembangan
kurikulum pendidikan Pesantren. Yogyakarta: TERAS
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan petodologi penelitian ilmu keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.

Nuqsah. 2010. Gambaran Perilaku Personal Hygiene Santri Di Pondok


Pesantren Jihadul Ukhro Turi Kecamatan Tempuran Kabupaten
Karawang Tahun 2010 (Skripsi). Jakarta. Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.
Perry dan potter. 2010. Fundamental Perawatan. Edisi IV. Jakarta: EGC
. 2012. Fundamental Perawatan. Edisi IV. Jakarta: EGC
Ranchman Z. 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubunngan Dengan Kejadian
Pedikulosis Capitis Pada Santri Pesantren Rhodlotul Quran
Semarng. (skripsi). Semarang. Fakultas Kedokteran Diponegoro.
Sarudji, D. 2006. Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Media Ilmu

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitaif Kualitatif dan R & B. Bandung:


Alfabeta.
Sujarweni, Wiratna. 2012. Statistik Untuk Penelitian. Yogakarta: Graha Ilmu.

Suryadharma, Ali. 2013. Paradigma Pesantren Memperluas Horizon Kajian Dan


Aksi. Malang: UIN-Maliki pers.
Suryono. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogjakarta : Nurha Medika.

68
Sutanto, Inge dkk. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran : Edisi Keempat.
Jakarta.

Tarwoto & Wartono. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.

Wijayanti Fitrianti. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat Dengan Angka


Kejadian Pedikulosis Kapitis Pada Santriwati Pondok Pesantren
Darul’ulum Jombang. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Weems, H. V. Jr. and T. R. Fasulo. 2013. Human Lice: Body Louse, Pediculus
humanus humanus Linnaeus and Head Louse, Pediculus humanus
capitis De Geer (Insecta: Phthiraptera (=Anoplura): Pediculidae).
Ifas Extension. University Of Florida.

Wijayati, Fitriana. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat dengan Angka


Kejadian Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren
Darul ‘Ulum Jombang. Skripsi. Universitas Jember. Jember.

Yousefi, S, Shamsipoor F, Abadi YS. 2012. Epidemiologi Study Of Head Luose


(Pediculus Humanus Capitis) Infestation Among Primary School
Students In Rural Areas Of Sirjan Country, South Or Iran. Thrita J
Med Sci.

Yustisia, F.I. 2013. Pengetahuan Pengobatan Pediculosis Capitis Da Hubungan


Dengan Karakteristik Santri Pesantren X Di Jawa Timur.

Zarkasy, Amal Fathullah. 1998. Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan


Dan Dakwah ” Dalam Adi Sasono..(et Al). Solusi Islam Atas
Problematika Umat: (Ekonomi, Pendidikan Dan Dakwah).
Jakarta: Gema Risalah Press.

69
KUESIONER PENELITIAN

No. Responden :

Identitas Responden

Usia :

Jenis kelamin : Perempuan

Pilihlah jawaban dengan tanda silang (X)

I. Personal Higiene

A. Rambut

1. Berapa kali anda mencuci rambut dalam 1 minggu?

a. Lebih dari 3 kali b. kurang dari 3 kali

2. Apakah anda menggunakan handuk yang bersih dan kering setelah rambut
dicuci?

a. Ya b. tidak

3. Apakah pada saat mencuci rambut anda melakukan pemijatan pada seluruh
kulit kepala?

a. Ya b. tidak

4. Apakah memotong rambut-rambut merupakan personal hygiene?

a. Ya b. tidak
B. Pakaian

1. Berapa kali anda mencuci pakaian ?

a. Mencuci pakaian setiap hari

b. Mencuci pakaian 2 kali dalam seminggu

c. Mencuci pakaian kalo sudah menumpuk

2. Apakah anda menjemur pakaian yang dicuci dibawah terik matahari?

a. Ya b. tidak

3. Apakah anda mengganti baju setelah berkeringat?

a. Ya b. tidak

4. Apakah pakaian merupakan sumber penularan penyakit?

a. Ya b. tidak

5. Apakah anda mencuci pakaian dengan detergen?

a. Ya b. tidak

C. Kulit

1. Berapa kali sebaiknya mandi dalam sehari ?

a. 1 kali sehari b. 2 kali sehari

2. Bagaimana cara anda mandi ?

a. Mandi dengan air lalu menggosok kulit kemudian seluruh tubuh


disiram dengan air secukupnya.

b. Mandi dengan air dan sabun dan menggosok kulit kemudian


seluruh tubuh disiram sampai bersih.
3. Bagaimana kebiasaan anda dalam penggunaan sabun?

a. Memakai sabun sendiri.

b. Memakai sabun secara bergantian dengan anggota lain.

4. Apakah anda menggosok badan saat mandi?

a. Ya b. tidak

5. Apakah anda mandi setelah melakukan kegiatan seperti olahraga?

a. Ya b. tidak

II. Tingkat Pengetahuan Tentang Pediculosis Capitis

1. Apakah anda merasa gatal-gatal pada kepala ?

a. Ya b. tidak

2. Apakah anda memiliki kebiasaan menggaruk kepala bila gatal menyerang?

a. Ya b. tidak

3. Apakah dilingkungan anda ada teman satu asrama anda yang mempunyai
penyakit seperti ini?

a. Ya b. tidak

4. Apakah anda pernah mendapatkan penanganan untuk penyakit ini?

a. Ya b. tidak

5. Apakah anda pernah menggunakan/meinjam sisir, topi, bando, pita,


kerudung secara bergantian dengan teman anda?

a. Ya b. tidak

6. Apakah jumlah penghuni kamar pesantren anda ?

a. Lebih dari 2 orang b. kurang dari 2 orang


7. Apakah anda pernah menjemur tempat tidur / bantal yang anda pakai ?

a. Ya b. tidak

8. Berapa kali anda mencuci rambut dalam 1 minggu?

a. Lebih dari 3 kali b. kurang dari 3 kali

9. Apakah anda tidur satu tempat tidur dengan teman anda ?

a. Ya b. tidak
LEMBAR OBSERVASI

Beri tanda centang (√) pada tabel jika menurut anda benar

1. Personal hygiene

No Keterangan Kurang
Baik
baik

1 Kebersihan tangan santri (kuku tidak boleh panjang,di


sela kuku tidak ada kotoran, dan tangan terlihat bersih)

2 Kebersihan pakaian para santri (tidak menggantungkan


pakaian,pakaian kurang bersih )

3 Kebersihan tempat tidur para santri (harus rapi, sprei


sering diganti)

4 Kebersihan rambut para santri (ada ketombe, tungau,


jorok dan bau )

5 Kebersihan kulit para santri (tidak ada atau tidak


menderita penyakit kulit)

6 Keadaan sprei para santri (tidak ada jamur pada sprei)

7 Kebesihan kamar tidur para santri (tidak ada kotoran,


pakaian yang menggantung, lantai bersih, tida k
lembab)

8 Badannya bau
2. Pediculosis Capitis

No Keterangan Ya Tidak

1 Sering menggaruk kepala

2 Adanya telur pedikulosis kapitis/tumo

3 Menggaruk kepala sampai luka

4 Pernahkah Pinjam meminjam alat-alat pribadi

5 Pernahkah melihat teman anda memiliki pedikulosis


kapitis/tumo

6 Adanya ketombe di rambut


Gambar 1. Izin penelitian kepada pemilik pondok pesantren

Gambar 2. Perkenalan pada santriwati pondok pesantren

Gambar 3. Pembagian kuesioner dan Pengisian kusioner

Gambar 4. Menyisir rambut


Gambar 5. Kutu kepala/Pediculosis Capitis

Gambar 6. Kamar santri

Gambar 8 Memberikan kenang-kenangan pada pemilik pesantren


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

PERSONAL_HYGIENE *
50 100.0% 0 .0% 50 100.0%
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS

PERSONAL_HYGIENE * KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS Crosstabulation

KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITI
S

POSITIF NEGATIF Total

PERSONAL_HYGIEN BURU Count 22 8 30


E K
Expected Count 17.4 12.6 30.0

% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 73.3% 26.7%
%
E

BAIK Count 7 13 20

Expected Count 11.6 8.4 20.0

% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 35.0% 65.0%
%
E

Total Count 29 21 50

Expected Count 29.0 21.0 50.0

% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 58.0% 42.0%
%
E
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.239 1 .007
b
Continuity Correction 5.751 1 .016

Likelihood Ratio 7.336 1 .007

Fisher's Exact Test .010 .008

Linear-by-Linear
7.094 1 .008
Association
b
N of Valid Cases 50

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.40.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Value Approx. Sig.

Nominal by Nominal Contingency Coefficient .356 .007

N of Valid Cases 50

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for PERSONAL_HYGIENE


5.107 1.501 17.375
(BURUK / BAIK)

For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = 2.095 1.110 3.954
POSITIF

For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = .410 .209 .806
NEGATIF

N of Valid Cases 50
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
50 100.0% 0 .0% 50 100.0%
* KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS

PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS * KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
Crosstabulation

KEJADIAN_PEDICULOS
IS_CAPITIS

POSITIF NEGATIF Total

PENGETAHUAN_PEDICUL BUR Count 24 9 33


OSIS_CAPITIS UK
Expected Count 19.1 13.9 33.0

% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 72.7% 27.3%
0%
OSIS_CAPITIS

BAIK Count 5 12 17

Expected Count 9.9 7.1 17.0

% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 29.4% 70.6%
0%
OSIS_CAPITIS

Total Count 29 21 50

Expected Count 29.0 21.0 50.0

% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 58.0% 42.0%
0%
OSIS_CAPITIS
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 8.642 1 .003
b
Continuity Correction 6.955 1 .008

Likelihood Ratio 8.759 1 .003

Fisher's Exact Test .006 .004

Linear-by-Linear
8.469 1 .004
Association
b
N of Valid Cases 50

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.14.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Value Approx. Sig.

Nominal by Nominal Contingency Coefficient .384 .003

N of Valid Cases 50

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for


PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS 6.400 1.754 23.351
(BURUK / BAIK)

For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = 2.473 1.150 5.316
POSITIF

For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = .386 .205 .730
NEGATIF

N of Valid Cases 50
Statistics

KAT
PERSONAL_HY PENGETAHUAN_PEDICULOSI KEJADIAN_PEDICULOSIS UM UM
GIENE S_CAPITIS _CAPITIS UR UR

N Valid 50 50 50 50 50

Missi
0 0 0 0 0
ng

PERSONAL_HYGIENE

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid BURUK 30 60.0 60.0 60.0

BAIK 20 40.0 40.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid BURUK 33 66.0 66.0 66.0

BAIK 17 34.0 34.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid POSITIF 29 58.0 58.0 58.0

NEGATIF 21 42.0 42.0 100.0

Total 50 100.0 100.0


UMUR

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid 12 5 10.0 10.0 10.0

13 9 18.0 18.0 28.0

14 13 26.0 26.0 54.0

15 10 20.0 20.0 74.0

16 5 10.0 10.0 84.0

17 8 16.0 16.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

KAT UMUR

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 12-16 TAHUN 42 84.0 84.0 84.0

17-25 8 16.0 16.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

Anda mungkin juga menyukai