SKRIPSI
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT
PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI
PONDOK PESANTREN MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI
KECAMATAN WIDODAREN
KABUPATEN NGAWI
Oleh :
TRI MOHAMAD FARHAN HADI
201403042
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI KESEHATAN MASYARAKAT
STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2018
i
SKRIPSI
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT
PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI
PONDOK PESANTREN MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI
KECAMATAN WIDODAREN
KABUPATEN NGAWI
Diajukan untuk memenui salah satu persyaratan
dalam mencapai gelar Serjanan Kesehatan Masyarakat (S. KM)
Oleh :
TRI MOHAMAD FARHAN HADI
201403042
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI KESEHATAN MASYARAKAT
STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2018
i
ii
iii
LEMBAR PERSEMBAHAN
Dengan segenap syukur kepada Allah SWT, saya persembahkan skripsi ini
kepada:
1. Allah SWT, karena hanya atas ridho dan karunia-Nya maka skripsi ini
dapat dibuat dan selesai tepat waktu.
2. Kedua orang tua (Bapak Timbul Hidayat dan Ibu Pakarti) yang sangat
saya hormati dan cintai, selama ini telah memberikan semangat, dukungan,
dan doa tiada henti untuk kesuksesan dan kelancaran dalam mengerjakan
skripsi ini.
3. Kedua dosen pembimbingku Ibu Riska Ratnawati, S. KM., M. Kes dan
Bapak H. Edy Bachrun. S. KM., [Link] yang telah dengan sabar
membimbing dalam pengerjaan skripsi ini hingga selesai.
4. Kakak saya Ardila Rahama Yulianti, Nikma Alfia Hidayati dan teman-
teman Merpati Putih dengan dukungan yang luar biasa saya dapat
menyelesaikan skripsi ini.
5. Alayers Crew, Arif, Udin, Armin, Yudis, Fino, Krenawati, Linda, Putri,
Arika, Elfira, Lutfi, Ninies, Jiwani, dengan semangat kerja keras dan
gotong royong saling membantu saya mampu menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun yang
senantiasa memberikan ilmu yang bermanfaat dan membimbing saya
dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh kawan – kawan S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2014 yang
memberikan bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Tri Mohamad Farhan Hadi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat Tanggal Lahir : Ngawi, 22 Februari 1995
Agama : Islam
Alamat : Dsn. Prayungan RT01/RW01, Ds. Cangakan,
Kec. Kasreman, Kab. Ngawi
Email : Trifarhan119@[Link]
Riwayat Pendidikan : 1. TK DARMA WANITA
2. SD Negeri 1 Cangakan
3. SMP Negeri 1 Kasreman
4. SMK PGRI 1 Ngawi
5. STIKES Bhakti Husada Mulia Kota Madiun
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua berkat dan rahmat-
Nya sehingga dapat terselesaikannya Skripsi yang berjudul “Hubungan Personal
Hygiene Dan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Pediculosis Capitis Di
Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten
Ngawi”, sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Sarjana Kesehatan
Masyarakat pada Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES Bhaksti Husada
Mulia Madiun.
Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,
karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada :
1. Bapak Zaenal Abidin, SKM., [Link] (Epid) selaku Ketua STIKES Bhakti
Husada Mulia Madiun.
2. Ibu Avicena Sakufa Marsanti, SKM., [Link] selaku Ketua Program Studi
Kesehatan Masyarakat STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun, sekaligus
sebagai dosen dosen penguji.
3. Ibu Riska Ratnawati, S. KM., M. Kes selaku dosen pembimbing 1.
4. Bapak H. Edy Bachrun. S. KM., [Link] selaku dosen pembimbing 2.
5. Bapak Haris Ma’mun Manfaluthi pemilik pondok pesantren Ma’hadul
Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi yang memberikan
izin dan telah membantu dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini.
6. Seluruh teman S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2014 yang memberikan
bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
vii
7. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, berbagai saran, tanggapan, dan kritik yang bersifat
membangun senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan laporan skripsi ini.
Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi penulis serta orang-orang yang peduli dengan dunia kesehatan
masyarakat pada khususnya.
Demi perbaikan skripsi ini, maka diharapkan adanya kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun.
Madiun, 05 september 2018
Penulis
viii
Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat
Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun Tahun 2018
ABSTRAK
Tri Mohamad Farhan Hadi
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN TINGKAT PENGETAHUAN
DENGAN KEJADIAN Pediculosis Capitis DI PONDOK PESANTREN
MA’HADUL MUTA’ALIMIN DI KECAMATAN WIDODAREN
KABUPATEN NGAWI
111 Halaman + 12 tabel + 6 gambar +3 lampiran
Kutu kepala (Pediculsis capitis) merupakan penyakit yang disebabkan
ektoparasit obligat pemakan darah dikepala manusia. Penyakit ini masih sering
dialami oleh para santri pondok pesantren karena kurangnya menjaga kebersihan
diri, kebiasaan yang kurang baik serta kurangnya pengetahuan para santri untuk
menjaga kesehatan dan dari 50 santri yang ada di pesantren Di Pondok Pesantren
Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi. Menurut
keterangan dari pengurus pesantren kurang lebih 35 santri yang mengalami
kejadian capitis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan
personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis Di
Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten
Ngawi.
Metode dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross
sectional. teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Jumlah sampel
50 santri dipondok pesantren dan dianalisis menggunakan chi-square.
Hasil penelitian : (1). Personal hygiene buruk 60%, (2). Tingkat
pengetahuan Pediculosis Capitis buruk 66%, (3). Kejadian Pediculosis Capitis
buruk 58%, (4). Ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian
Pediculosis Capitis (p-velue 0,[Link] RP = 3,954 >1). (5). Ada hubungan antara
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis (p-value =
0,006 dan Nilai RP = 5.316 > 1.)
Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dianjurkan adalah untuk menjaga
kesehatan diri dengan mengaja kebersihan rambut, menjaga kebersihan kulit dan
juga menjaga kebersihan pakaian serta kurangi kebiasaan-kebiasaan yang buruk
tentang kesehatan dan juga menambah ilmu pengetahuan tentang kesehatan agar
dapat mencegah dan mengatasi segala penyakit.
Kata kunci : personal hygiene, tingkat pengetahuan, pediculosis capitis
Kepustakaan : 40 (1999-2018)
ix
S1 Public Health Program
Institute of Health Science Bhakti Husada Mulia Madiun 2018
ABSTRACT
Tri Mohamad Farhan Hadi
The Associated Between Personal Hygiene and Knowledge levels with the
incidence of pediculus capitis In Mahadul mutaalimin Muslim boarding
school in widodaren, Ngawi
111 Pages + 12 table + 6 Picture +3 Enclousures
Head lice (Pediculsis capitis) was a disease caused by ectoparasites
obligate eater blood in human head. This disease was still often experienced by
Islamic boarding school students because of lack of personal hygiene, unfavorable
habits and lack of knowledge of students to maintained health and from 50 santri
in the Ma'hadul Muta'alimin Islamic Boarding School in Widodaren District,
Ngawi Regency.. According to information from pesantren administrators
approximately 35 santri experienced the disease. The purpose of this study was to
determine the relationship of personal hygiene and level of knowledge with the
incidence of pediculosis capitis at the Ma'hadul Muta'alimin Islamic Boarding
School in Widodaren District, Ngawi Regency.
The method in this research was analytic survey with cross sectional
design. The sampling technique used is total sampling. The Sample Of 50 students
at Islamic Boarding Schools Was Analyzed Using Chi-Square.
The results of this study : (1). low personal hygiene 60%, (2). low
knowledge of Pediculosis Capitis was 66%, (3). Pediculosis Capitis incidence was
58%, (4). There was relationship between personal hygiene and incidence of
pediculosis capitis (p-velue 0.010 and RP = 3.954> 1). (5). There was relationship
between the level of knowledge with the incidence of pediculosis capitis (p-value
= 0.006 and RP = 5.316> 1.)
Based on the results of the study, the recommended was to mainted
personal health by improved the cleanliness of the hair, maintained the cleanliness
of the skin and also maintained the cleanliness of clothes and reduced low habits
about health and also added knowledge about health in order to prevent and
overcome all diseases.
keywords : personal hygiene, knowledge level, pediculosis capitis
Reading list : 40 (1999-2018)
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................... ........ i
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. ...... ii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ...... iii
LEMBAR PERSEMBAHAN ................................................................................. iv
LEMBAR PERNYATAAN .....................................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... ....... vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................... .... vii
ABSTRAK .................................................................................................... ....... ix
DAFTAR ISI ....................................................................................................... .... xi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ... xvi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... .. xviii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... .... xix
DAFTAR SIGKATAN ............................................................................................xx
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian
1.1.1 Tujuan Umum ................................................................................6
1.1.2 Tujuan Khusus ...............................................................................6
1.4 . Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan .................................................................. 7
1.4.2 Bagi Peneliti ..................................................................................7
1.4.3 Bagi Masyarakat .............................................................................7
xi
1.4.4 Bagi Pesantren ................................................................................7
1.5 Keaslian Penelitian .................................................................................... 8
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Personal Hygiene
2.1.1. Definisi Personal Hygiene ..........................................................10
2.1.2. Tujuan Personal Hygiene ....................................................... 10
2.1.3. Jenis-jenis Personal Hygiene .................................................. 11
2.1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene ............ 15
2.2. Pengetahuan
2.2.1. Defisini Pengetahuan ..................................................................17
2.2.2. Tingkat Pengatahuan ..................................................................18
2.3. Pedikulosis kapitis
2.3.1. Definisi Pediculosis Capitis ........................................................20
2.3.2. Epidemiologi Pediculosis Capitis...............................................20
2.3.3. Etiopatologi Pediculosis Capitis
[Link] Kutu rambut dewasa ............................................................21
[Link] Nimfa ...................................................................................22
[Link] Telur......................................................................................22
[Link] Siklus ...................................................................................23
[Link] Faktor resiko ........................................................................24
2.3.4. Gambaran Klinis Pediculosis Capitis ..........................................25
2.3.5. Diagnosa Pediculosis Capitis ......................................................26
2.3.6. Pencegahan dan Pemberantasan Pediculosis Capitis ..................26
xii
2.3.7. Pengobatan Pediculosis Capitis ...................................................28
2.3.8. Penyebab Terjadinya Kejadian Pediculosis Capitis
Dipesantren ................................................................................29
2.4. Pondok pesantren
2.4.1 .Definisi ..................................................................................... ..32
2.4.2 .Jenis-Jenis Pondok Pesantren .................................................. . 32
2.4.3 .Tujuan ...................................................................................... . 33
2.4.4 .Fungsi Dan Peran Pondok Pesantren ........................................ . 34
2.4.5 .Kebiasaan Di Pesantren ............................................................ . 34
2.5. Kerangka Teori .....................................................................................36
BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual ...........................................................................37
3.2 Hipotesa Penelitian ...............................................................................38
BAB 4. METODE PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian ..................................................................................39
4.2. Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi .......................................................................................39
4.2.2 Sampling .....................................................................................40
4.2.3 Tehnik Sampling .........................................................................40
4.3. Kerangka Kerja Penelitian ...................................................................41
4.4. Variabel Penelitian
4.4.1 Variabel Penelitian ......................................................................42
xiii
4.4.2 Definisi Operasional ...................................................................43
4.5. Instrumen Penelitian
4.7.1 Obsevasi ......................................................................................45
4.7.2 Kuesioner ...................................................................................45
4.6 Uji Validitas Dan Uji Rebilitas
4.6.1 .Uji validitas ........................................................................... ..45
4.6.2 .Uji reabilitas ........................................................................... ..47
4.7 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................48
4.8 Prosedur Pengumpulan Data
4.8.1 Pengumpulan data
[Link] Sumber Data ........................................................................ ..49
[Link] Cara Pengumpulan ............................................................... ..49
[Link] Pengolahan Data ................................................................. ..50
4.9 Analisis Data
4.9.1 Analisis Univariat...........................................................................50
4.9.2 Analisis Bivariat ............................................................................51
4.9.3 Etika Peneliti .................................................................................52
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum .................................................................................54
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1 Hasil Penelitian Univariat ............................................................55
5.2.2 Hasil Bivariat ...............................................................................57
5.3 Pembahasan
5.3.1 Hubungan personal hygiene dengan kejadian pediculosis
xiv
Capitis ............................................................................................60
5.3.2 Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis
capitis ..............................................................................................61
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ........................................................................................64
5.2 Saran ...................................................................................................65
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian...................................................................................8
Tabel 4.1Definisi Operasional............................................. ............................... 43
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Koesioner Personal Hygiene ........................................... 46
Tabel 4.3 Hasil Validitas Koesioner Tingkat Pengetahuan Pediculosis Capitis............ .. 47
Tabel 4.4 Realisasi Kegiatan ......................................................................................... .. 55
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus
2018 .................................................................................................. 55
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Di
Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus 2018 ........ 55
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Personal
Hygiene Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus
2018 .................................................................................................. 56
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan Tentang Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren
Ma’hadul Muta’alimin Bulan Agustus 2018 ...................................... 56
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian
Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin
Bulan Agustus 2018 ........................................................................... 57
Tabel 5.6 Tabulasi Silang Hubungan Antara Personal Hygiene Reponden Dengan
Kejadian Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin ........................................................................................ 58
xvi
Tabel 5.7 Tabulasi Silang Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Reponden
Dengan Kejadian Pediculosis Capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin ........................................................................................ 59
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Telur Kutu Kepala ........................................................................ 22
Gambar 2.2 Siklus Hidup Pedikulosisi Kapits ..................................................... 23
Gambar 2.3 Kerangka Teori ................................................................................. 36
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ............................................................ 37
Gambar 4.1. Kerangka Kerja Penelitian ............................................................... 41
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kartu Bimbingan
Lampiran 2 : Kuesioner
Lampiran 3 : Observasi
Lampiran 4:Out put
xix
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH
Pediculsis capitis : Kutu Kepala
Personal hygiene : Perawatan Diri
Screening : Penyaringan
Cross Sectional : Potong Lintang
Total Sampling : Semua Sampel
Editing : Pengeditan
Coding : Pemberian Kode-kode
Entry : Memasukkan
Cleaning : Pengecekan
Tabulating : Pengelompokkan
Informed Consent : Lembar persetujuan
Anonymity : Tanpa nama
Confidentiality : Kerahasiaan
Pondok pesantren : Tempat Belajar Ilmu Agama Islam
Continuity correction : koreksi kontinuitas
xx
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kutu kepala (Pediculsis capitis) merupakan penyakit yang disebabkan
ektoparasit obligat pemakan darah dikepala manusia (Yousefi, 2012).
Pediculosis capitis dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin
dan umur (Doroodgar et al, 2014). Pediculosis capitis menyebabkan gatal
dan iritasi di kulit kepala karena tuma ini menghisap darah dikulit kepala,
sementara rasa gatal itu sendiri disebabkan saliva dan fessesnya. Kebiasaan
menggaruk yang intensif dapat menyebabkan iritasi, luka, mengganggu
konsentrasi, serta infeksi sekunder. Pada infestasi berat dapat terjadi infeksi
sekunder oleh jamur dan bakteri sehingga menimbulkan demam. pediculosis
capitis di antara siswa sekolah dapat menyebabkan anemia yang
mengakibatkan menjadi lesu, mengatuk dikelas dan mempengaruhi kinerja
belajar dan fungsi kognitif, selain itu yang terinfeksi juga mengalami
gangguan tidur di malam hari karena rasa gatal dan sering menggaruk kepala.
Pediculosis capitis juga dapat menyababkan tekanan sosial,
ketidaknyamanan, kecemasan, dan memalukan (Yousefi et al, 2012).
Penyakit ini telah membawa suatu stigma sosial yang kuat karena
masyarakat telah lama menghubungkan penyakit ini dengan kemiskinan atau
status sosial dan ekonomi yang rendah, serta lingkungan yang kumuh
(Yustisia, 2013). Pediculosis capitis adalah suatu penyakit yang sering
1
diabaikan karena dianggap ringan, terutama dinegara dimana terdapat
prioritas kesehatan lain yang lebih serius. Walaupun demikian, penyakit ini
telah menyebabkan morbiditas yang signifikan diseluruh dunia. Beberapa
faktor yang dapat membantu penyebaran infestasi pediculosis capitis adalah,
tingkat pengetahuan, personal hygiene buruk, dan karakteristik individu
(umur, panjang rambut, dan tipe rambut) (Korturk et al, 3003; Yousefi.,
2012).
Personal hygiene merupakan cara perawatan diri manusia untuk
memelihara kesehatan mereka secara fisik dan mental. Dalam kehidupan
sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan kebersihan dan psikis seseorang. Oleh karena itu, personal
hygiene merupakan salah satu pencegahan primer yang sepesifik. Personal
hygiene menjadi aspek yang penting dalam kesehatan individu karena
personal hygiene dapat meminimalkan masuknya mikroorganisme, terjadinya
penyakit, baik penyakit kulit dan penyakit infeksi (Hidayat, 2008).
Pediculosis capitis banyak terdapat pada anak-anak yang belum
terlalu memperdulikan kebersihan diri terutama di Negara berkembang dan
pediculosis capitis is ini juga masih terdapat pada remaja dan orang-orang
dewasa namun hanya sebagian dari mereka yang menderita penyakit ini,
terutama yang tidak memperhatikan kebersihan diri mereka. Prevalensi
pediculosis capitis pada anak usia sekolah de Negara maju seperti Belgia
8,9%, di Negara berkembang seperti india 16,59%, argentia 81,9% (Alatas,
2013). Sementara di wilayah asia, di Malaysia sekitar 11% anak umur 3-11
2
tahun terinfeksi dan sekitar 40% di Taiwan. Sedangkan di Indonesia sendiri
belum ada data yang pasti pada penyakit pediculosis capitis tis ini, namun
diperkirakan 15% anak di Indonesia mengalami masalah kutu rambut ini
(Eliska, 2015). Prevalensi pediculosis capitis di Indonesia masih tercatat
tinggi dan banyak ditemukan pada asrama, sekolah dan pesantren. Pada
penelitian di salah satu pesantren Yogyakarta pada tahun 2010 menunjukkan
sebesar 71,3% santri terinfeksi pediculosis capitis (saleh alatas & luwis,
2013)
Angka tersebut mungkin sangat jauh di bawah angka sesungguhnya
karena banyak penderita yang mengobati sendiri dan tidak melapor ke
petugas kesehatan maka disimpulkan bahwa pediculosis capitis telah menjadi
endemik diseluruh dunia baik negara maju maupun berkembang dan baik di
Negara beriklim tropis maupun iklim sedang.
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan dipondok
pesantren PPAI An-Nahdiyah di Kabupaten Malang dengan jumlah santri 160
santri, diantaranya 80 santri dan 80 santriwati, 80 santri diantaranya
menderita pediculosis capitis. Kejadian tersebut dikarenkana salah satu
faktornya adalah personal hygiene pada santri yang kurang baik dan
mengakibatkna penularan pediculosis capitis menjadi mudah (Nengtyas,
2014).
Sementara dari hasil studi pendahuluan dengan observasi dan
wawancara yang dilakukan di salah satu Pondok Pesantren di Pondok
3
Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi
. Di pondok pesantren ini juga masih manganut budaya tradisional bahwa
mereka harus saling bertukar makanan, tempat tidur, dan ilmu. Kondisi
seperti ini sangat menunjang kelangsungan daur hidup tungau, kutu dan
infestasi parasit lainnya seperti jamur. Hal ini sebernarnya sangat berlawanan
dengan ilmu fiqih islam tawarruf yaitu menjaga kebersihan.
Dari hasil dengan wawancarai salah satu pengurus pondok pesantren
dari 50 santri yang ada di pesantren tersebut. Menurut keterangan dari
pengurus pesantren kurang lebih 35 santri yang mengalami penyakit tersebut.
Dan dari hasil studi pendahuluan melakukan pemeriksaan dengan
memberikan pertanyaan tentang ciri penyakit pediculosis capitis dan
pemeriksaan rambut kepala pada 10 santri dari perwakilan setiap kamar 7
diantarnya mengalami penyakit pediculosis capitis karena kebiasaan seperti,
mengatuk saat belajar mengajar, dan mempengaruhi kinerja belajar dan
fungsi kognitif, rasa gatal dan sering menggaruk kepala. Masih belum tahu
awal mula penyakit tersebut dapat menular ke santri-santri di pesantren
tersebut, di perkirakan penularan pediculosis capitis tersebut dari santri yang
sebelum masuk pesantren sudah menderita pediculosis capitis dan menular ke
santri yang lain
Dan dari hasil observasi yang sudah dilakukan kepadatan hunian
merupakan salah satu penyebab pediculosis capitis tersebut dapat menular
dengan mudah, menurut keterangan dari pengurus pesantren mengatakan
bahwa pada pesantren ini di setiap kamarnya di huni kurang lebih 4 sampai 5
4
santri. Serta letak pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin berada di Lereng
Gunung Lawu dengan keadaan yang lembab dari segi sanitasi lingkungan
(pencahayaan dan ventilasi) yang kurang memadai, juga seringnya cuaca
yang mendung dan hujan yang menghalangi para santri menjemur kasur dan
bantal mereka yang juga sebagai salah satu faktor penularan atau
perkembangbiakan pediculosis capitis. Serta kesadaran diri para santri untuk
menjaga kebersihan kamar tidur, kebersihan pakaian dan kesehatan diri
seperti sering membersihkan rambut agar penyakit pediculosis capitis tidak
menular.
Berdasarkan permasalahan diatas perlu memperhatikan personal
hygiene, kondisi lingkungan pondok pesantren, kepadatan hunian dan
pengetahuan tentang personal hygiene seperti cara memberisihkan kamar tidur
(bantal, kasur harus sering dijemur dan selimut), membersihan barang-barang
pribadi (sisir rambut, kerudung), dan pengetahuan tentang penyakit
pedikulosis kapitis agar penularan pedikulosis kapitis dapat dicegah dan dapat
atasi mulai dari sendiri.
Oleh karena itu, penulis ingin meneliti Hubungan personal hygiene dan
tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di sekolah pesantren
dan diharapkan agar dapat mencegah terjadinya infestasi pediculosis capitis.
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah terdapat
hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian
5
pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Ngrambe
Kabupaten Ngawi.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan personal hygiene dan tingkat
pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis pada santri Pondok
Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten
Ngawi
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi personal hygiene di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?
2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi i?
3. Mengidentifikasi kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren
Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?
4. Menganalisis Hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan
dengan kejadian pediculosis capitis pada siswa Pondok Pesantren
Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi?
6
1.4 Manfaat Penelitian
1 Bagi ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini dilakukan sebagai pengembangan dalam bidang ilmu
infeksi penyakit kulit dan bidang ilmu parasitologi khususnya penyakit
pediculosis capitis dan sebagai bahan refisi untuk penelitian selanjutnya.
2 Bagi peneliti
Menambah pengetahuan mangenai hubungan personal hygiene dan
tingkat pengatahuan dengan kejadian pedikulosis kapitis di Pondok
Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten
Ngawi.
3 Bagi masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi masyarakat
tentang faktor-faktor yang berperan dalam penyebaran pediculosis capitis
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan penyakit.
4 Bagi santri
Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi para pengurus dan semua
warga pondok pesantren dalam mencegah penularan pediculosis capitis di
sekolahan.
7
1.5 Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Judul dan Hasil
No Penyusun Metode Variabel
tahun
1 Rizqy Hubungan Cross - Variabel Ada
ristiajuan, siti berbagai sectional bebas : hubungan
aminah, faktor resiko hubungan signifikan
Muhammad terhadap berbagai antara
Nuurumathi, angka faktor kejadian
karya tulis kejadian resiko pediculosis
ilmiah S1 pediculosis capitis
- Variabel
Universitas capitis di dengan
terikat :
Muhammadiyah asrama, faktor resiko
kejadian
Yogyakarta tahun 2010 tingkat sosial
pediculosis
ekonomi,
capitis
kepadatan
hunian,
hygiene
pribadi, serta
karakteristik
individu.
2 Zakaria Aulia Faktor- Cross - Variabel Adanya
Rahman, Jurnal Faktor Yang sectional bebas : hubungan
Media Medika Berhubungan Faktor- antara Faktor-
Muda, Fakultas Dengan Faktor Faktor Yang
Kedokteran Kejadian Yang Berhubungan
Universitas Pediculosis Berhubung Dengan
8
Diponegoro Capitis Pada an Kejadian
Santri Pediculosis
- Variabel
Rhodlotul Capitis Pada
terikat :
Quran Santri
kejadian
Semarang Rhodlotul
pediculosis
Quran
capitis
Semarang
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu dalam hal
lokasi penelitian, sampel dan variabel yang akan diteliti. Lokasi penelitian ini
berada di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Ngrambe
Kabupaten Ngawi sampel yang diteliti meliputi jenis kelamin perempuan karena
pondok pesantren tersebut untuk pondok pesantren perempuan. Variabel bebas
yang diteliti personal hygiene dan juga mengukur tingkat pengetahuan santri
tentang pediculosis capitis. Sementara variabel terikatnya kejadian pediculosis
capitis.
9
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Personal Hygiene
2.1.1 Definisi Personal Hygiene
Hygiene adalah ilmu pengatahuan tentang kesehatan dan
pemeliharaan kesehatan. Sedangkan Personal hygiene berasal dari bahasa
yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti
sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara
kenersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikis(Tarwoto & Wartonah, 2010).
Personal hygiene adalah perawatan diri sendiri yang dilakukan
untuk mempertahankan kesehatan baik secara fisik maupun psikologis
(Hidayat, 2008). Personal hygiene merupakan kegiatan membersihkan
seluruh bagian tubuh termasuk wajah, rambut, tubuh, kaki, dan tangan
(UNICEF, 2012). Dengan menjaga personal hygiene maka penyakit dapat
di mencegah penyakit Pediculosis Capitis dan dapat diatasi cara penularan
Pediculosis Capitis dengan baik.
2.1.2 Tujuan Personal Hygiene
Tujuan dari personal hygiene adalah untuk menjaga kebersihan diri
dan mencegah terjadinya infeksi pada tubuh seseorang. Personal hygiene
lebih dari sekedar bersih namun mancakup banyak kegiatan yang dapat
10
membantu orang menjadi bersih dan sehat. Dengan menjaga kebersihan,
siswa tidak akan menyebarkan kuman kepada orang lain (YUFA, 2010)..
2.1.3 Jenis-Jenis Personal Hygiene
Ada pun jenis-jenis tindakan personal hygiene menurut Potter dan
Perrry (2012), untuk menjaga kebersihan dan kesehatan seseorang yaitu
dengan kebersihan kulit, kebersihan rambut, perawatan mulut, kebersihan
mata, kebersihan telinga, kebersihan, kebersihan tangan, kaki, kuku
sebagai berikut:
a. Kebersihan kulit
Pemeliharaan kesehatan kulit tidak dapat terlepas dari kebersihan
lingkungan, makanan yang dikonsumsi, serta kebiasaan hidup sehari-
hari. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara kebersihan
kulit yaitu:
1. Memegang barang-barang kerperluan sehari-hari milik sendiri.
2. Mandi minimal 2 kali sehari.
3. Mandi memakai sabun.
4. Menjaga kebersihan pakaian.
5. Makan yang bergizi terutama sayuran dan buah
6. Menjaga kebersihan lingkungan .
11
b. Kebersihan rambut
Karakteristik rambut yang perlu diperhatikan dalam kaitanya
terjadinya infestasi kutu kepala adalah
1. Jenis rambut yaitu lurus, bergelombang (ikal) atau keriting.
2. Ketebalan rambut yaitu tebal,sedang atau tipis.
3. Panjang rambut yaitu pendek (diatas kerah dan telinga), sedang
(diatas bahu), panjang (lebih dari bahu). Karakteristik rambut
tersebut ditentukan secara visual.
Cara mencuci rambut Menurut Maryunani (2012)
1. Mencuci rambut dengan bahan pembersih atau shampoo, paling
sedikit 2 kali seminggu secara teratur atau tergantung pada
kebutuhan dan keadaan.
2. Rambut disiram dengan air bersih, setelah basah semua (merata)
kemudian digosok dengan shampoo dan disebaiknya sambil
dilakukan pemijatan pada seluruh kulit kepala untuk meangsang
persarafan pada kulit kepala sehingga rambut tumbuh sehat dan
normal.
3. Bila ramut dirasa masih kurang bersih, gosok kembali menggunakan
shampoo, setelah itu dibilas sampai rambut tersa kesat.
12
4. Kemudian rambut dikeringkan dengan handuk bersih dan disisir.
c. Perawatan mulut
Perawatan mulut dapat membantu mempertahankan status
kesehatan mulut, gusi, dan bibir dengan cara sebagi berikut yaitu
dengan:
1. Mengosok gigi secara benar dan teratur setiap hari untuk
membersihkan gigi dari pertikel-pertikel makanan, plak, dan bakteri.
2. Menghindari makan-makanan yang merusak gigi.
3. Membiasakan makan buah-buahan yang menyehatkan gigi.
4. Memakai sikat gigi sendiri.
5. Memeriksa gigi secara teratur.
d. Kebersihan mata
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara kebersihan
mata yaitu:
1. Membaca ditempat yang terang.
2. Memakan makanan yang bergizi.
3. Istirahat yag cukup dan teratur.
4. Memakai peralatan sendiri dan bersih
5. Memelihara kebersihan lingkungan .
13
e. Kebersihan telinga
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memlihara kebersihan
telinga yaitu:
1. Membersihkan telinga secara teratur.
2. Jangan mengorek-ngorek kuping dengan benda tajam.
f. Kebersihan tangan, kaki dan kuku
Dalam membersihkan tangan, kaki dan kuku seringkali
memerlukan perhatian yang khusus untuk mnecegah infeksi, bau, dan
cidera pada jaringan. Untuk itu perlu diperhatikan dalam memelihara
kebersihan tangan, kaki dan kuku, yaitu dengan :
1. Mencuci tangan sebelum makan.
2. Memotong kuku secara teratur.
3. Kebersihan lingkungan.
4. Mencuci kaki sebelum tidur.
g. Kebersihan pakaian
Pakaian berguna untuk melindungi kulit dari sengatan matahari
atau cuaca melindungi dan kotoran yang berasal dari luar seperti debu,
lumpur dan sebagainya. Pakian banyak menyerap keringat, lemak dan
kotoranyang dikeluarkan oleh badan. Dalam sehari saja, pakian
berkeringat dan berlemak ini akan berbau busuk dan mengganggu.
Untuk itu perlu mengganti pakaian dengan yang bersih setiap hari.
14
Selain itu, pakaian juga berfungsi untuk membantu mengatur suhu
tubuh dan mencegah masuknya bibit penyakit (Maryunani, 2013).
2.1.4 Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Personal Hygiene
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi personal hygiene antara
lain citra tubuh, praktik sosial, status sosial-ekonomi, pengetahuan,
budaya, kebiasaan, dan kondisi fisik seseorang (ambrawati. 2014) :
a. Citra tubuh
Gambaran individu terhadap keadaan dirinya sangat mempengaruhi
diri seseorang, seperti perubahan fisik pada masa remaja. Maka, harus
terdapat suatu usaha yang lebih untuk meningkatkan personal
hygiene.
b. Praktik sosial
Kelompok sosial wadah untuk berhubungan dapat mempengaruhi
prakti personal hygiene. Pada masa kanak-kana seseorang
mendapatpraktik hygiene dari orang tua mereka mangikuti kebiasaan
keluarga dengan fasilitas yang ada, seperti ketersediaan air mengalir.
Hal tersebut hanyalah beberapa faktor yang mempengaruhi
kebersihan.
c. Status sosial-ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang digunakan. Personal hygiene memerlukan alat dan
bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat, sampo, deodorant dan lain-lain
15
sebagai bagian dari kebiasaan sosial seseorang. Berbagai produk
tersebut memerlukan uang untuk mendapatkannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya personal hygiene dan implikasi bagi
kesehatan mempengaruhi praktik personal hygiene. Semakin baik
pengetahuan seseorang maka semakin baik pula pemeliharaan
personal hygiene seseorang sehingga dapat meningkatkan kesehatan.
e. Kebudayaan
Kepercayaan, kebudayaan, dan nilai pribadi akan mempengaruhi
personal hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang beberda
melakukan perilaku personal hygiene yang berbeda pula.
f. Kebiasaan
Setiap inividu memiliki keinginan tersendiri kapan untuk melakukan
perawatan personal hygiene seperti mandi, keramas, memotong kuku
dan lain-lain. Selain itu, seseorang memiliki selera tersendiri dalam
memilih produk yang berbeda untuk perawatan hygiene mereka.
g. Kondisi fisik
Orang yang menderita penyakit tertentu atau menjalankan operasi
sering kali kekurangan energy fisik untuk melakukan perawatan
personal hygiene sehingga, orang tersebut memerlukan bantuan untuk
melakukannya.
16
2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu, terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pencaindra manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari
mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya suatu tindak seseorang (Overt behavior)
(Notoatmodjo, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2012), Pengetahuan (knowledge) adalah
hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “what”.
Pengetahuan adalah informasi, fakta, hukum prinsip, proses, kebiasaan
yang terakumulasi dalam pribadi seseorang sebagai hasil proses interaksi
dan pengalamannya dengan lingkungan. Pengetahuan manusia tdak saja
diperoleh melalui pengalaman dalam lingkungan hidupnya, namun juga
dapat melalui catatan (buku, kepustakaan dan lainnya). Pengetahuan ini
harus disesuikan dan dimodifikasi dengan realita baru dalam lingkungan.
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil
penggunaan panca indranya. Penginderaan dapat melalui panca indra
manusia baik melalui indera penglihatan, pendegaran, penciuman, rasa
maupun indera perabaan. Pengetahuan juga dapat di peroleh dari
pendidikan, pengalaman, media masa, maupun lingkungan. Dengan
17
demikian maka pengetahuan sangat penting untuk membentuk seseorang
(Notoatmodjo, 2010).
2.2.2 Tingakat pengetahuan
Notoatmodjo (2010) menjelaskan tingkat pengetahuan dalam domain
kognitif terbagi menjadi 6 tingkatan, yakni:
a. Tahu
Tahu artinya mengingat suatu materi yang sudah
[Link]. termasuk dalam pengetahuan ini adalah
mengingat kembali sesuatu yang spesifikasi dari seluruh bahan yang
dipelajari anara lain yaitu : menyebut, menguraikan, mendefinisikan
atau menyatakan. Sebagai contohnya seseorang maupun menyatakan
pengertian penyakit pediculosis capitis.
b. Memahami
Memahami artinya suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, orang yang telah paham terhadap obyek
atau materi harus dapat menjelaskan, misalnya dapat menejelaskan
tentang manfaat melakukan pengobatan pediculosis capitis dengan
benar.
c. Aplikasi
Aplikasi artinya kemampuan untuk menggunakan materi uang telah
dipelajari pada situsi atau kondisi ril (sebenarnya).aplikasi di sini
artinya sebagai penggunaan hukum, rumus, metode dan lain
18
sebagainya, misalnya cara melakukan kebersihan rambut dengan cara
melakukan keramas secara baik agar kejadain pediculosis capitis dapat
dicegah dan tidak menular.
d. Analisis
Analisis artinya kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tertentu, dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
Kemampuan ini dapat dilihat dengan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan
sebagainya. Contohnya dengan menganalisis tentang manfaat
melakukan pencegahan pediculosis capitis..
e. Sintesis
Sintesis yaitu menunjukkan pada kemampuan unutk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keselururhan yang
baru. Misalnya menyusun, merencanakan atau meringkas teori tentang
pediculosis capitis.
f. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan penilaian terhadap suatu
materi atau objek. Misalnya dapat membandingkan antara anak yang
terkena pediculosis capitis dan yang tidak. Pengukuran pengetahuan
dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
tentang materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden
19
ke dalam pengetahuan yang ingin di ketahui atau diukur. Hai ini dapat
de sesuiakan dengan tingakat yang ada (Notoatmodjo, 2010).
2.3 Pediculosis Capitis
2.3.1 Definisi
Pediculosis Capitis adalah penyakit kulit kepala yang di akibatkan oleh
aktoparasit obligat (tungau/lice). Pediculosis capitis ini termasuk parasit yang
menghisap darah dan menghabiskan seluruh hidupnya di manusia (Yousefi,
2012)..
2.3.2 Epidemiologi Pediculosis Capitis
Pediculosis capitis banyak terdapat pada anak-anak yang belum terlalu
memperdulikan kebersihan diri. Di beberapa Negara seperti Amerika Utara
Dan Selatan, Eropa, Asia, Dan Australia tercata sejak pertengahan tahun
1960 an adanya peningkatan infestasi kutu kepala setiap tahunya. Terutama
di Negara berkembang dan pediculosis capitis ini juga masih terdapat pada
remaja dan orang-orang dewasa namun hanya sebagian dari mereka yang
menderita penyakit ini, terutama yang tidak memperhatikan kebersihan diri
mereka.
Pediculosis capitis sering menyerang anak perempuan terutama pada
anak perempuan, karena memiliki rambut yang panjang dan sering memakai
asesoris rambut (Moradi, 2009). Selain itu kondisi apabila hygiene yang
tidak baik seperti jarang membersihkan rambut itu juga merupakan salah
20
satu faktor resiko penyakit ini. Penyakit ini menyerang semua umur, ras,
dan semua tingkat sosial, namun penyakit ini kebanyaan menyerang pada
orang yang mememiliki status ekomi yang rendah. Penularan penyakit dapat
melalui konak langsung dengan rambut atau melalui kontak langsung yaitu
rambut dengan rambut atau melalui kontak tidak langsung atau perantara
seperti bantai, sisir, kasur, jilbab dan kucir rambut (Rachman, 2014).
2.3.3 Etiopatologi Pediculosis Capitis
[Link] Kutu rambut dewasa
Pediculosi capitis memiliki tubuh yang pipih dorsovontal, memiliki
tipe mulut tusuk untuk menghisap darah pada kepala manusia, badannya
bersegmen-segmen, memiliki 3 buah pasang kaki dan berwarna kuning
kecoklatan atau putih ke abu-abuan sampai gelap. Tungau ini tidak
memilki sayap, oleh karena itu parasit ini tidak bisa terbang dan
penjalaran infeksinya harus dari benda atau rambut yang saling
menempel. Tungau memiliki cakar di kaki untuk benrgantung dirambut.
Bentuk tungau betina dewasa lebih besar dari pada tungau yang jatan.
pediculosis capitis dapat bertahan selama kurang lebih 30 hari di kulit
kepala manusia, sedangkan tanpa host kutu akan mati dalam waktu 1-2
hari (Bolh, 2015).
21
[Link] Nimfa
Setelah menetas nimfa muda akan mencari makan. Jika nimfa tidak
makan, maka tidak bisa bertahan hidup. Nimfa memiliki bentuk seperti
kutu rambut dewasa namun berbentuk kecil
[Link] Telur
Gambar 2.1. Telur kutu kepala
(Sumber: Weems dan Fasulo, 2013)
Telur (nits) berbentuk oval/bulat lonjong dengan panjang sekitar
0,8 mm, berwarna putih sampai kuning kecoklatan. Telur diletakkan di
sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin
keujung terdapat telur yang lebih matang. Daerah favorit tempat
melekatnya telur adalah didekat telinga dan bagian belakang kepala
(Sutanto, dkk, 2008). Telur kutu selain diletakkan pada serat pakaian dan
kadang-kadang pada rambut tubuh manusia.
22
[Link] Siklus
Lingkaran hidup kutu rambut merupakan metamorfosis tidak
lengkap, yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa
dalam waktu 5-10 hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut.
Sesudah mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi
kutu rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari. Dalam keadaan cukup
makan kutu rambut dewasa dapat hidup 27-30 hari lamanya (weem,
2007)
Gambar 2.2 siklus hidup pedikulosis kapitis
Sumber: (CDC, 2013)
Tungau adalah sejenis parasit penghisap darah. Kelainan kulit
yang muncul disebabkan oleh gigitan tungau dan garukan untuk
23
menghilangkan rasa gatal. Rada gatal itu sendiri diakibatkan dari air liur
dan ekskresi tungau yang ikut masuk kedalam kulit kepala ketika ungau
sedang menghisap darah. Menurut peneliti tungau ini dapat bertahan
hidup kurang dari 48 jam tanpa menghisap darah atau berada di kulit
kepala. Sementara telurnya dapat bertahan sekitar seminggu jika tidak
berada dikulit maupun di rambut manusia.
[Link] Faktor Resiko
Beberapa faktor resiko yang dapat mempenaruhi terjadinya
pediculosis capitis:
1. Usia, terutama pada kelompok usia anak-anak 3-11 tahun dan pada
remaja 12-18 tahun.
2. Jenis kelamin perempuan lebih serign terkena penyakit pediculosis
capitis karena perempuan hampir semua memiliki rambut yang
panjang dari pada laki-laki.
3. Menggunakan tempat tidur atau bantal bersama.
4. Menggunakn sisir atau aksesoris rambut beersama, pada keadaan
menggunakan sisir secara bersama akan membuat telur bahkan
tungau dewasa menempel pada sisir maka akan tertular, begitu juga
dengan aksesoris rambut seperti kerudung, bando dan pita.
5. Panjang rambut, seseorang yang memiliki rambut yang panjang sulit
untuk membersihkannya dibandingkan orang rambut pendek.
24
6. Frekuensi cuci rambut yang kurang.
7. Ekonomi tingkat ekonomi yang rendah merupakan resiko uang
signifikan dengan adanya infestasi tungau, selain itu juga
dikarenakan ketidakmampuan untuk mengobati infestasi secara
efektif.
8. Bentuk rambut, pada orang afrika atau negro afrika-amerika yang
mempunyai rambut keriting jarang yang terinfeksi kutu kepala
karena tungau dewasa betina sulit meletakkan telurnya pada jenis
rambut tersebut (Nuqsah, 2010).
2.3.4 Gambaran Klinis Pediculosis Capitis
Gejala utama dari infestasi tungau kepala ialah rasa gatal, namun
sebagian orang asimtomatik dan dapat sebagai karier. Masa inkubasi sebelum
terjadi gejala sekitar 4-6 minggu. Tungau dan telur paling banyak terdapat
pada daerah oksipital kulit dan retroaurikuler.
Tungau dewasa dapat ditemukan dikulit kepala berwarna kuning
kecoklatan sampai putih ke abu-abuan, tetapi dapat berwarna hitam gelap bila
tertutup oleh darah. Tungau akan berwarna gelap pada orang yang berambut
gelap. Telur (nits) berada di rambut dan berwarna kuning kecoklatan atau
putih, tetapi dapat berubah menjadi gelap apabila embryo didalamnya mati.
Gigitan dari tungau dapat menghasilkan kulit berupa eritema, macula
dan papula, tetapi pemeriksaaan yang sering hanya menemukan eritema dan
25
ekskoriasi saja. Ada beberapa individu yang mengeluh dan menunjukan tanda
demam serta pembesaran kelenjar limfa setempat.
Garukan pada kulit kepala dapat menyebabkan terjadinya erosi,
eksokoriasi dan infeksi sekunder berupa pus dan krusta, pada infeksi
sekunder berat bisa terjadi infeksi sekunder hingga helaian rambut akan
melekat satu sama lain atau rambut akan bergumpal akibat dari banyaknya
pus dan krusta. Keadaan ini terjadi plica polanica yang dapa ditumbuhi
jamur. Tungau kepala adalah penyebab utama penyakit pioderma sekunder
dikulit kepala diseluruh dunia
2.3.5 Diagnosa
Diagnose ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaaan fisik serta
ditemukan kutu dewsa, nimfa atau telur di daerah predileksi atau rambut
kelapa (Bohl, 2015). pediculosis capitis paling sering dujumapi diderah
oksipital dan retroaurikular. Namun apabila tidak dijumpia kutu dewasa,
maka pedikulosis kpaitis dapt detegakkan dengan menemukan telur kutu yang
menempel di batang rambut melalui pemeriksaan mikroskop.
2.3.6 Pencegahan Dan Pemberantasan
Pemberantasan kutu rambut kepala dapat dilakukan dengan
menggunakan tangan, sisir serit atau dengan menggunakan insektisida
glongan klorin (Benzen heksa klorid). Beberapa pengendalina yang bisa
dilakukan adalah sebagai berikut :
26
a. Hindari head-to-head (hair-to-hair) kontak selama bermain dan kegiatan
lain dirumah, sekolah, dan tempat lain (olahraga, taman bermain, pesta
tidur, berkemah, atau di pondok pesantren).
b. Tidak bebagi alat-alat pribadi seperti topi, syal, mantel, seragam,kucir
rambut dan kerudung.
c. Tidak berbagi sisir rambut, dan handuk. Untuk membersihkan sisir
rambut agar tehindar dari penularan pediculosis capitis dengan cara
merendamnya dengan air panas yang bersuhu kurang lebih 40 C selama
5-10 menit.
d. Jangan bebaring di tempat tidur, sofa, atau benda-benda yang sudah
berkontak langsung dengan orang yang menderita kutu rambut
([Link]
e. Meningkatkan personal hygiene seperti sering menganti dan
membersihkan tempat tidur, pakian, kerudung, sarung bantal dan juga
memjemur kasur.
f. Meningkatkan keasdaran tentang pentingnya perawatan badan dan
rambut perlu ditanamkan kepada semua santriwati.
g. Ketika salah satu anggota keluarga terkena utu kepala maka dianjurkan
juga untuk memeriksa kutu kepala pada anggota keluarga yang lainya.
27
2.3.7 Pengobatan
Pengobatannya juga harus dilakukan jika seseorang sudah terjangkit
yang ditandai dengan gatal-gatal di kepala. Berikut macam-macam obat
untuk pediculosis capitis menurut (Ween dan Fasulo, 2013) :
a. Shampo lindane 1%. Gamma Benzene Heksa atau piretrin. Dosis,
shampoo dibiarkan selama 4-10 menit, kemudian dibilas. Tindakan
selanjutnya periksa rambut 1 minggu setelah pengobatan untuk telut
dan kutu rambut.
b. Salep Lindane (BHC 10%); atau bedak DDT 1% dalam pyrophylite;
atau Benzaos benzylicus emulsion. Dosis, kepala dapat digosok dengan
salep Lindane (BHC 1%) atau dibedaki dengan DDT 10% atau BHC
1% dalam pyrophylite atau baik dengan penggunaan 3-5 gram dari
campuran tersebut untuk sekali pemakaian. Bedak itu dibiarkan selama
seminggu pada rambut, lalu rambut dicuci dan disisir intuk melepaskan
telurnya. Emulsi dari Benzyl benzoate ternayta berhasil.
c. Cair/peditox/Hexachlorocyclohexane 0,5. Dosis, gosokkan pada
rambut dan kepala sampai merata biarakan semalaman kemudian
dicuci lalu dikeringkan (Wijayanti, 2007).
d. Untuk menghilangkan ketombe dengan menggunakan cara-cara
tradisional/herbal sebagai berikut:
28
- Oleskan air perasan 1-2 jeruk nipis ke seluruh kulit kepala. Biarkan
selama 20-30, lalu keramas. Setelah 3 kali melakukan (setiap kali
akan melakukan cuci rambut)
- Siapkan 2-3 buah mengkudu matang lalu dilumat, deberi air, peras,
airnya dipakai untuk keramas. Biarkan selama 5 menit, bilas dengam
air, dan gunakan sampo untuk menghilangkan baunya.
2.3.8 Penyebab Terjadinya Kejadian Penyakit Pedikulosis Capitis Di
Pesantren
Ada beberapa Faktor penyebab terjadiya infestasi pediculosis
capitis (Nuqsah, 2010). antara lain:
a. Usia
Penderita pediculosis capitis ini tidak memandang usia , semua
usia pasti mengalaminya apabila tidak menjaga kebersihan rambut
maupun personal hygiene masing-masing individu sendiri. Namun
dari hasil penelitian kebanyakan penderita penyakit ini berkisaran
pada usia anak-anak 3-11 tahun dan remaja 12-18 tahun.
b. Jenis kelamin perempuan
Penderita Pedikulosis kapitis ini sering dijumpai pada
perempuan, karena kebanyakan perempuan suka memiliki rambut
yang panjang dan tebal.
29
c. Menggunakan tempat tidur atau bantal bersama
Penggunaan tempat tidur dan bantal secara bersamaan
merupakan tempat yang sangat baik bagi pediculosis capitis untuk
menular. Apabila di gunakan bersama otomatis telur tungau yang
menempel pada bantal atau tempat tidur akan menempel pada orang
yang mengunakanya.
d. Menggunakan sisir atau asesoris rambut secara bersama
Penggunan sisir atau asesoris rambut secara bersama merupakan
fakor yang sangat efektif bagi pediculosis capitis dalam penularanya,
telut atau tungau yang masih menempel akan menempel atau pindah
kerambut yang lain sewaktu digunakan.
1. Prevalensi rambut yang panjang
Rambut yang panjang adalah tempat yang sangat di sukai
untuk pediculosis capitis tinggal.
2. Frekuensi cuci rambut
Dalam mengatasi penyakit pediculosis capitis ini perlu
melakukan keramas atau cuci rambut minimal seminggu 3 kali
3. Pengetahuan dan Ekonomi yang rendah.
Kebanyakan orang yang mengalami penyakit pediculosis
capitis ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan juga satus
ekonomi.
30
e. Kepadatan hunian rumah tidur
Dalam menentukan hunian rumah perlu mengethui luas kamar
yang akan ditempati dan, dalam luas ruang tidur minimal 8 m, dan
tidak dianjurkan dihuni oleh 2 orang atau pun lebih dalam ruang tidur
tersebut, kecuali anak dibawah umur 5 tahun (MENKES RI, 1999) .
Biasanya pesantren menyediakan pondok atau tempat tinggal yang
murah biayanya bahkan ada yang digratiskan, biasanya para santri harus
tinggal bersama dalam satu kamar dengan 4-5 santri yang lain, ada yang
satu tempat tidur dan ada yang terpisah (Zarkasy, 1998).
Keadaan kamar dengan penghuni yang banyak dapat memper mudah
penularan pediculosis capitis atau penyakit kulit lainya (Rachman, 2014).
Ada beberapa budaya tradisional bahwa para santri harus saling bertukar
makanan, tempat, tidur dan ilmu. Kondisi seperti ini sangat menjunjung
kelangsungan daur hidup tungau atau infestasi parasit lainnya serta jamur
(Ansyah, 2013).
Faktor lingkungan juga merupakan faktor yang mempengaruhi
penyebaran pediculosis capitis, pada lingkungan yang serba terbatas
seperti di pesantren atau asrama, penyebaran pediculosis capitis dapat
terjadi secara cepat dan mudah maluas. pediculosis capitis dan scabies
merupakan penyakit tersering dan merupakan penyakit yang khas terjadi di
pesantren, hal ini berkaitan erat dengan lingkungan di pesantren yang
padat serta kebersihan yang kurang baik (Nuqsah, 2010).
31
2.4 Pondok Pesantren
2.4.1 Definisi Pondok Pesantren
Pesantren merupakan lembaga tertua di Indonesia. Pesantren adalah
satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genius, dan aktif dalam
perkembangan zaman. Pondok pesantren telah tumbuh sejak 7 abad yang
lalu bersama dengan proses Islamisasi di Nusantara. Pesantren hingga
sekarang tetap bertahan dan tikad tercabut dari akar kulturalnya, bahkan
lembaga ini begitu dinamis, kreatif, inovatif, dan memiliki daya sui
(adaptasi) yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat (suryadharma,
2013).
Soergarda poerbkawan juga menjelaskan bahwa pesantren berasal
dari kata santri, yaitu seseorang yang belajar agama islam, sehingga
pesantren dapat diartikan sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar
agama islam (nurhayati, 2010).
2.4.2 Jenis-Jenis Pondok Pesantren
Menurut data dari Direktori Pondok Pesantren Departemen Agama tahun
2006/2007, pondok pesantren dapat di golongkan menjadi tiga model yaitu :
a. Pertama, model pondok pesantren tradisional masih mempertahankan
sistem salafiahnya, dan menolak intervensi kurikulum dari luar.
Pesantrem ini masih dijadikan alternative oleh masyarakat, karena
sejumlah pondok pesantren yang diseleksi masyarakat sudah mulai
32
berguguran, secara cultural dan moral, sehingga masyarakat
menengok kembali model asli pendidikan salafiah.
b. Kedua, model pesantren yang sudah melebur dengan moderenisasi.
Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan ada kurikulum umum.
Tetapi karena tuntunan populisme sosial terlalu dituruti akhirnya
karakteristik pesantrenya hilang begitu saja. Karena sistem kurukulum
aslinya hilang, hanya karena menuruti kurikulum Departemen Agama
Atau Departemen Pendidikan Nasional
c. Ketiga,model pondok pesantren yang mengikuti proses perubahan
modernitas, tanpa meninggalkan kurikulum lama yang salafi. Ada
pendidikan umum, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan kurikulum
Depertemen Agama,. Sebab, kurikulum
2.4.3 Tujuan Pesantren
Pesantren memiliki tujuan yang mana menciptakan dan
mengembangkan kepribadian musim, yaitu kepribadian ynag beriman dan
bertqwa kepada tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dan
berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kewula atau abdi
masyarakat tetapi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagai mana
kepribadian nabi Muhammad (mengikuti sunah nabi), mampu berdiri
sendiri, bebas, dan teguh dalam kepribadian, menyabarkan agama atau
menegakkan islam dan kejayaan umat di tengah-tengah masyarakat dan
mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian manusia.
33
2.4.4 Fungsi Dan Peran Pesantren
Peran pesantren dapat dibedakan mejadi 2, yaitu: internal dan
eksternal. Peran internal adalah mengelola pesantren kedalam yang berupa
pembelajaran ilmu agama kepada para santri. Sadangkan peran eksternal
adalah berinteraksi dengan masyarakat termasuk pemberdayaan dan
pengambangannya. Kebanyakan pesantren mutakhir hanya berperan pada
sudut internalnya saja, yaitu pembelajaran bagi para santri, dan
meninggalkan peran eksternalnya sebagai media pemberdayaan
masyarakat. Sehingga pengaruh pesantren mulai menipis dan tidak sekuat
sebelumnya.
Fungsi dan peran pesantren dapat juga dapat diukur dari bahan ajar
yang disuguhkan kepada para santri. Karena bahan ajaran merupakan
bagian kurikulum yang dapat membentuk midset dan kiprah santri
ditengah masyarakat kelak. Setidaknya setiap pesantren membekali para
santri dengan 6 pengetahuan, yaitu: ilmu syariah, ilmu empiris, ilmu yang
membuat kemamuan berpikir kritis dan berwawasan luas, ilmu
penggemblengan mental dan karakternya (Abdul, 2008).
2.4.5 Kebiasan di Pondok Pesantren
Kebiasaan santri di pondok pesantren pada umumnya kurang
mendapat perhatian yang kurang baik, ditambah lagi dengan kurangnya
tingkat pengetahuan mengenai kesehatan dan perilaku kurang baik seperti
manggantung pakaian di kamar, tidak memperbolehkan menjemur pakaian
34
di terik matahari pada santri wanita, saling bertukar pakaian, dan benda
pribadi seperti sisir rambut dan lainya. Proses pembentukan dan perubahan
perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri
individu (internal) berupa kecerdasan, persepsi, motivasi, monat dan emosi
unutk memproses pengaruh dari luar. Faktor yang berasal dari luar
(eksternal) meliputi objek, orang kelompok, dan hasil-hasil kebudayaan
yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Promosi
kesehatan yang berisi niali-nilai kesehatan yang berisi nilai-nilai kesehatan
yang dapat mempegaruhi kondisi internal dan luar diri individu, cenderung
dapat mempengaruhi kondisi internal dan eksternal individu atau
masyarakat (Notoatmodjo, 2010).
Kebersihan dan kesehatan di pondok pesantren perlu diperhatikan.
Karena santri hidup besama dengan banyak orang, bercanpur baur dengan
macam kepribadian yang berbeda. Dengan kadaan seperti itu dapat
menimbulkan berbagai penyakit menular dapat berkembang dengan cepat,
seperti penyakit pediculosis capitis yang sangat berpengaruh dengan
kebersihan diri dan penularanya sangat berpengaruh dengan perilaku atau
kebiasaan para santri yang suka tidur bersama, saling bertukar alat-alat
pribadi kepadatan hunian dan sebagaianya.
35
Umur
2.5 Kerangaka teori
Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
Host
Riwayat kontak
Personal Hygiene
- Kebersihan kulit
- kebersihan rambut
- Kebersihan pakaian
Pengetahuan
Agent Pediculosis Capitis Kejadian Pediculosis
Capitis
Penggunaan tempat tidur secara
bersama
Enviroment
Kepadatan hunian rumah
tidur
Gambar 2.3 Kerangka Teori
Sumber: Teori Segitiga Epidemiologi (Notoatmodjo, 2011) 36
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara
konsep-kosep atau variabel-varabel yang akan diamanati (diukur) melalui
penelitian yang dimaksud (Notoatmodjo, 2012). Berdasrakan tujuan pustaka
yang telah diuraikan dan kerangka teori yang telah disajikan di bab
sebelumnya dapat diketahuai bahwa masalah personal hygiene dan
pengetahuan yang rendah merupakan masalah yang rumit dan disebabkan
multifactor penyebab. Adanya ketidak jangkauan peneliti untuk mengetahui
semua faktor penyebab terjadinya pedikulosis kapitis sehingga ada beberapa
faktor resiko yang terdapat dalam kerangka teori dihilangkan, maka untuk
penelitian ini dibuat kerangka konseptual penelitian, yaitu
Variabel bebas Variabel terikat
Personal hygiene
- Kebersihan kulit
- kebersihan
rambut
- Kebersihan
pakaian
Kejadian Pediculosis
Capitis
Tingkat Pengetahuan
tentang Pediculosis
Capitis
37
: diteliti
Gambar 3.1 Kerangka konsep
: tidak diteliti
1. Variabel bebas ( independent): personal hygiene dan tingkat pengetahuan
Pediculosis Capitis..
2. Variabel terikat (dependent): kejadian pediculosis capitis.
3.2 Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah
dirumuskan dalam perencanaan penelitian, untuk mengarahkan pada hasil
penelitian maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban
sementara dari penelitian (Notoatmodjo, 2012). Adapun hipotesis dalam
penelitian adalah sebagai berikut :
1. Ha: Ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian pediculosis
capitis Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan
Widodaren Kabupaten Ngawi.
2. Ha: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang Pediculosis Capitis
dengan kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi.
38
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desian Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Analitik yaitu penelitian
tersebut bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel menurut
Notoatmodjo (2012) survey analitik adalah survey atau penelitian yang
mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi.
Desian penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian
analitik cross sectional. Menurut Notoatmodjo (2012) desain cross sectional
ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara, hubungan
personal hygiene dan tingkat pengetahuan dengan kejadian pediculosis
capitis dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus
pada suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo 2012). Pada penelitian
ini peneliti ingin mengetahui Personal Hygiene Dan Tingkat Pengetahuan
Dengan Kejadian pediculosis capitis Di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
4.2 Populasi Dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan yang terdiri dari obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Wiratna,
39
2012). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santriwati yang ada
atau yang mondok di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin
Dikecamatan Ngrambe KabupatenNgawi dengan jumlah santri sekitar 50
orang.
4.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki
oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Wiratna, 2012). Dalam
penelitian ini sampelnya adalah sebagian santri di pondok pesantren
Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi dengan
jumlah santri 50 orang dan untuk mengetahui santri yang terkena
pediculosis capitis
4.2.3 Tehnik Sampling
Menurut Nursalam, (2008) Sampling adalah suatu cara yang
ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-benar sesaui dengan
keseluruhan obyek penelitian. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah
non probabiliy sampling dengan jenis total sampling yaitu seluruh
populasi diambil untuk dijadikan sebagai sampel (Nursalam, 2008).
Sugiyono, (2011) menjelaskan alasan mengambil total sampling
adalah karena jumlah populasi yang kurang dari 100, maka seluruh
populasi dijadikan sampel penelitian.
40
4.3 Kerangka Kerja Dan Penelitian
Kerangka kerja penelitian merupakan kerangka pelaksanaan penelitian
mulai dari pengambilan data sampai menganalisis hasil penelitian, kerangka
dalam penelitian ini adalah :
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian
Populasi
Seluruh santri di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan widodaren
Kabupaten Ngawi dengan jumlah santri 50 orang
Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh santri di pondok pesantren Ma’hadul
Muta’alimin Dikecamatan widodaren Kabupaten Ngawi jumlah santri 50 orang
Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan observasi & kuesioner
Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional
Pengolaahn Data
Editing, coding, entry, cleaning, tabulating, dan analisis data
Analisa data
dengan SPSS uji chi- square
Hasil dan Kesimpulan
41
4.4 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Penelitian
Variable penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Sugiyono
(2000) dalam Sujarweni (2014)). Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini ada dua, yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat
(Saryono, 2011).
1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Adalah variabel yang mempengaruhi atau dianggap menentukan
variabel terikat. Variabel ini dapat merupakan factor resiko, predictor,
kausa/penyebab (Saryono, 2011). Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah personal hygiene santri (Kebersihan kulit, kebersihan rambut,
Kebersihan pakaian) dan pengetahuan.
2. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel terikat disebut juga
kejadian, luaran, manfaat, efek atau dampak. Variabel terikat juga
disebut penyakit/outcome (Saryono, 2011). Dalam penelitian ini,
variabel terikat adalah kejadian pediculosis capitis di pondok
pesantren Ma’hadul Muta’alimin di Kecamatan Ngrambe Kabupaten
Ngawi
42
4.4.2 Definisi Operasional
Adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan
(Notoadmodjo. 2012).
Tabel [Link] Operasional
Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala Skor
data
Personal Personal hygiene adalah Menurut Potter dan Perrry Observasi Nominal 0 = kurang baik
Hygiene perawatan diri sendiri yang (2012), untuk menjaga 1 = baik
dilakukan untuk kebersihan dan kesehatan
mempertahankan kesehatan baik seseorang yaitu - Baik = apabila personal hygiene
secara fisik maupun psikologis - Kebersihan kulit pada santri sudah dilaksakan
(Hidayat, 2008). - Kebersihan rambut dengan baik. Dengan penilaian
- Kebersihan pakaian Baik > 50%
- Kurang baik = apabila personal
hygiene pada santri belum
dilaksanakan dengan baik. Dengan
penilaian Kurang ≤ 50%
43
Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil Meliputi tentang Test Nominal Penilaian dengan memberi skor
Pediculosis tahu, terjadi setelah orang pengertian personal kuesioner
Capitis melakukan pengindraan hygiene : Benar = 1
terhadap suatu objek tertentu. Salah = 0
Pengindraan terjadi melalui - Definisi Pediculosis Dengan hasil penilaian
pencaindra manusia. Sebagian Capitis Baik ≥ 50%
besar pengetahuan manusia Buruk <50% (Sunyoto, Danang,
- Jenis-jenis Pediculosis
diperoleh dari mata dan telinga. 2013).
Capitis
Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya
suatu tindak seseorang (Overt
behavior) (Notoatmodjo, 2010).
Pediculosis Kutu kepala (Pediculsis capitis) Positif: jika ditemukan - Observasi Nominal Ditemukan adanya telur, nimfa atau
Capitis merupakan penyakit yang pediculosis capitis kutu dewasa
disebabkan ektoparasit obligat dewasa, telur, nimfa - Kuesinoner 0: positif
pemakan darah dikepala atau kutu dewasa dari 1 : negatif
manusia (Yousefi, 2012). rambut kepala dengan
menggunakan sisir serit.
Negatif : jika tidak
ditemukan pediculosis
capitis dewasa, telur,
nimfa atau kutu dewasa
dari rambut kepala
dengan menggunakan
sisir serit.
44
4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik (cermat, lengkap dan sistematis) sehingga lebih mudah
diolah (Saryono, 2011). Adapun instrumen dalam penelitian ini ini adalah
Observasi Dan Pengukuran.
4.5.1 Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian ( Sujarweni, 2014).
Alat yang digunakan dalam melakukan observasi adalah dengan cara
Check list : daftar pengecek, berisi subjek dan identitas dari sasaran
pengamatan
4.5.2 Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara member seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
kepada para responden untuk dijawab ( Sujarweni, 2014)
4.6 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
4.6.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar-benar mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui apakah
kuesioner yang sudah dibuat peneliti tersebut mampu mengukur apa yang
hendak peneliti ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara nilai tiap-
45
tiap pertanyaan dengan skors total kuesioner tersebut (Notoatmodjo,
2012).
Dari hasil analisis di dapat nilai skor total. Nilai ini kemudian kita
bandingkan dengan dengan nilai R tabel. R tabel dicari pada signifikan 5%
dengan n=15 (df=n-2=13), maka di dapat R tabel sebesar 0,441. Penentuan
kevalidan suatu instrumen diukur dengan membandingkan r-hitung
dengan r-tabel. Adapun penentuan disajikan sebagai berikut:
r-hitung > r-tabel atau nilai sig r < 0,05 : Valid
r-hitung > r-tabel atau nilai sig r < 0,05 : Tidak Valid
Jika ada butir yang tidak valid, maka butir yang tidak valid tersebut
dikeluarkan, dan proses analisis diulang untuk butir yang valid saja.
Adapun hasil uji validitas kuesioner adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Kuesioner personal hygiene
No Butir R hitung Keterangan Interpretasi
1 0,978 ≥0,441 Valid
2 0,583 ≥0,441 Valid
3 0,465 ≥0,441 Valid
4 0,621 ≥0,441 Valid
5 0,689 ≥0,441 Valid
6 0,621 ≥0,441 Valid
7 0,490 ≥0,441 Valid
8 0,689 ≥0,441 Valid
9 0,742 ≥0,441 Valid
46
10 0,586 ≥0,441 Valid
11 0,637 ≥0,441 Valid
12 0,560 ≥0,441 Valid
13 0,465 ≥0,441 Valid
14 0,535 ≥0,441 Valid
Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Kuesioner tingkat pengetahuan pediculosis capitis
No Butir R hitung Keterangan Interpretasi
1 0,691 ≥0,441 Valid
2 0,478 ≥0,441 Valid
3 0,596 ≥0,441 Valid
4 0,598 ≥0,441 Valid
5 0,598 ≥0,441 Valid
6 0,517 ≥0,441 Valid
7 0,517 ≥0,441 Valid
8 0,624 ≥0,441 Valid
9 0,679 ≥0,441 Valid
Berdasarkan dari tabel 4.2 dan 4.3 dapat diketahui bahwa hasil uji
validitas kuesioner Hubungan personal hygiene dan tingkat pengetahuan
dengan kejadian pediculosis capitis di pondok pesantren adalah valid,
karena nilai r hitung > r tabel.
4.6.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran alat ukur tersebut tetap konsisten bila
47
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama,
dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012).
Uji reliabilitas dapat dilihat dari nilai Cronbach’s Alpha dengan taraf
signifikan 5%. Kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha >
0,60. Adapun hasil uji reliabilitas Hubungan personal hygiene dan tingkat
pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di pondok pesantren
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha 0,761 > 0,60 hal ini berarti reliabel.
4.7 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai pada awal bulan April 2018 dari perencanaan
(penyusunan proposal) sampai dengan penyusunan laporan akhir bulan Juni
2018. Adapun pengumpulan data primer dilakukan pada bulan April 2018.
Dan penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin
Dikecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
Tabel 4.4 Realisasi Kegiatan
No Kegiatan Tanggal pengajuan
Pengajuan Judul 28 Maret - 15 April 2018
1
Penyusunan Dan Konsultasi Proposal 15 April – 10 Juli 2018
2
Skripsi
3 Seminar Proposal Skripsi 18 Juli 2018
Revisi Ujian Seminar Proposal 30 Juli – 6 Agustus 2018
4 Skripsi
5 Pengambilan Dan Pengolahan Data 12 Agustus- 2 September 2018
6 Sidang Skripsi 05 September 2018
7 Konsultasi Skripsi 12 September 2018
48
4.8 Prosedur Pengumpulan Data
4.8.1 Pengumpulan Data
[Link] Sumber Data
a. Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari hasil survei pendahuluan
dan observasi oleh peneliti secara langsung pada pondok pesantren
Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi.
Observasi yang dilakukan mengenai personal hygiene antara lain :
(Kebersihan kulit, kebersihan rambut,Kebersihan pakaian), dan tingkat
pengetahuan santri.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari pengurus pesantren berupa data
jumlah santri di pondok pesantren Ma’hadul Muta’alimin Dikecamatan
Widodaren Kabupaten Ngawi. Serta melihat dan melakukan penelitian
adanya kejadian pediculosis capitis di setiap santri
[Link] Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan
observasi dan pengukuran oleh peneliti secara langsung personal hygiene
antara lain: (Kebersihan kulit, Frekuensi rambut dan kebersihan
rambut,Kebersihan pakaian) dan tingkat pengetahuan santri.
49
[Link] Pengolahan Data
Kegiatan dalam proses pengolahan data meliputi editing, coding,
entry, cleaning, dan tabulating (Notoadmodjo, 2012).
1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban,
konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner.
2. Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses
pengolahan data.
3. Entry, memasukkan data untuk diolah menggunakan computer
4. Cleaning, mengecek kembali data yang sudah dimasukkan untuk
melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan
kode, kelengkapan, dan sebagainya kemudian dilakukan pembetulan
atau koreksi.
5. Tabulating, yang mengelompokkan data sesuai variable yang akan
diteliti dan memudahkan analisis data.
4.8 Analisis Data
4.8.1 Analisis Univariat
Penelitian analisis univariat adalah analisis yang dilakukan
menganalisis tiap variabel yang dilakukan menganalisis tiap variabel dari
hasil penelitian Notoadmodjo (2005). Analisis univariat berfungsi untuk
meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga
kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna, dan
pengolahan datanya hanya satu variabel saja, sehingga dinamakan univariat
(Sujarweni, 2014). Analisis yang dilakukan penelitian ini adalah
50
menggambarkan masing-masing variabel, baik variabel bebas berupa
personal hygiene dan tingkat pengetahuan maupun variabel terikat berupa
kejadian pediculosis capitis.
4.8.2 Analisis Bivariat
Penelitian analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan lebih dari
dua variabel (Notoadmodjo, 2005). Analisis bivariat berfungsi untuk
mengetahui hubungan antar variabel. Dua variabel tersebut diadu misalnya
dengan mencari hubungan antara variabel x1 dengan x2, (Sujarweni, 2014).
Penelitian ini menggunakan analisis hubungan dengan menggunakan
korelasi chi square . Dengan pengambilan keputusan dengan tingkat
signifikan adalah :
1. Apabila p > 0,05, maka H0 diterima, sehingga antara kedua variabel
tidak ada hubungan yang bermakna jadi H1ditolak.
2. Apabila p value ≤ 0,05, maka H0 ditolak, sehingga antara kedua variabel
ada hubungan yang bermakna jadi H1diterima.
Syarat rasio prevalens, sebagai berikut :
1. RP (Rasio prevalens) < 1, artinya ada hubungan namun varibel tersebut
tidak menjadi faktor resiko.
2. RP (Rasio prevalens) > 1, artinya ada hubungan dan variabel tersebut
menjadi faktor resiko.
3. RP (Rasio prevalens) = 1, artinya variabel bebas tersebut tidak menjadi
faktor resiko.
51
Syarat uji Chi Square, sebagai berikut :
1. Dalam analisis data terdapat output person chi-square yang digunakan.
2. Untuk tabel lebih dari 2 x 2, continuity correction untuk tabel 2 x 2
dengan expected count < 5.
3. Sedangkan Fisher’s exact digunakan untuk tabel 2 x 2 dengan expected
count > 5.
4.8.3 Etika Penelitian
Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk
setiap kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti, pihak
yang diteliti (subjek penelitian) dan masyarakat yang akan memperoleh
dam pak hasil penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2012).
a. Lembar persetujuan (Informed Consent)
Responden bersedia diteliti,setelah diberikan lembar permintaan
menjadi responden harus mencantumkan tanda tangan. Jika responden
menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap
menghormati hak-hak responden (Notoatmodjo, 2012).
b. Tanpa nama (Anonymity)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak
mencantumkan nama responden. Peneliti hanya mencantumkan nama
inisial responden. Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data
yang diberikan harus dirahasiakan, sehingga tidak perlu
mencantumkan nama identitas subyek (Nursalam, 2011).
52
c. Kerahasiaan (Confidentiality)
Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang
diberikan harus dirahasiakan. Kerahasiaan responden dan informasi
yang telah dikumpulkan dijamin oleh peneliti. Data tersebut hanya
disajikan dan dilaporkan kepada beberapa kelompok yang
berhubungan dengan penelitian (Nursalam, 2011).
53
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin didirikan diatas tanah
seluas 276 m². Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin didirikan oleh
Bapak Haris Ma’mun Manfaluthi, pondok pesantren Ma’hadul
Mutta’alimin memiliki 50 santri yang sebagian besar masih sebagai pelajar
SMP dan SMA. Pondok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin adalah pondok
yang dikhususkan untuk pondok pesantren perempuan, pondok tersebut
terletak di Dusun Katerban, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren.
Widodaren adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Ngawi, Propinsi Jawa
Timur. Kecamatan ini terletak sekitar + 30 Km barat daya kota Ngawi,
sedangkan jarak dengan Ibukota Propinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar +
251 Km. Luas wilayah Kecamatan Widodaren 58,50 Km. Kecamatan
widodaren terdiri dari 12 desa.
54
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1 Hasil Analisis Univariat
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin
Bulan Agustus 2018
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Perempuan 50 100,0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.1 di atas, dapat diketahui bahwa responden berjenis
kelamin perempuan yaitu sebanyak 50 orang (100%)
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Umur di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Bulan
Agustus 2018 Kategori Umur Menurut Depkes RI
No Umur Jumlah Persentase (%)
1 12-16 Tahun 42 84.0
2 17-25 Tahun 8 16.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.2 di atas sesuai dengan Kategori Umur Menurut
Depkes RI, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden dengan
ketegori remaja awal berumur 12-16 tahun yaitu sebanyak 42 orang (84%)
55
dan responden dengan kategori remaja akhir berumur 17-25 tahun yaitu
sebanyak 8 orang (16%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Personal Hygiene
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Personal Hygiene di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin
Bulan Agustus 2018
No Higiene Perorangan Jumlah Persentase (%)
1 Buruk 30 60,0
2 Baik 20 40,0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.3 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden memiliki tingkat Personal Hygiene buruk yaitu sebanyak 30
orang (60%).
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan tentang
pediculosis capitis.
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tingkat Pengetahuan tentang di Pondok Pesantren Ma’hadul
Mutta’alimin Bulan Agustus 2018
No Pengetahuan Jumlah Persentase (%)
1 Buruk 33 66.0
2 Baik 17 34.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.4 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden memiliki tingkat pengetahuan tentang pedikulosis capitis yang
buruk yaitu sebanyak 33 orang (66%).
56
5. Karakteristik Responden Berdasarkan kejadian pediculosis capitis.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
kejadian pediculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul
Mutta’alimin Bulan Agustus 2018
No Kejadian Jumlah Persentase (%)
1 Positif 29 58.0
2 Negatif 21 42.0
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.5 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden memiliki kejadian pedikulosis capitis yang negatif yaitu
sebanyak 29 orang (58%).
5.2.2 Hasil Analisis Bivariat
Analisis Bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara
Personal Hygiene dan Tingkat pengetahuan Pediculosis Capitis dengan
kejadian Pediculosis Capitis. Analisis Bivariat pada penelitian ini
menggunakan uji chi-square, Berikut adalah hasil analisa bivariat
penelitian menggunakan aplikasi pengolah data statistik SPSS 16.0 :
57
1. Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis di
Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin
Tabel 5.6 Tabulasi Silang Hubungan antara Personal Hygiene Responden
dengan Kejadian Pediculosis Capitis di Pondok Pesantren
Ma’hadul Mutta’alimin
Kejadian Pediculosis Capitis
Personal RP
Positif Negatif Total P-value
Hygiene 95% CI
N % N % N %
BURUK 22 73,3 8 26,7 30 100,0 2.095
BAIK 0,016 (1,110 –
7 35,0 13 65,0 20 100,0 3,954)
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat diketahui bahwa responden dengan
kejadian pediculosis capitis sebanyak 22 (73,3) pada personal hygiene yang
baik 7 (26,7). Hasil analisis uji chisquare (continuity correction) hubungan
antara tingkat pengetahuan pediculosis capitis dengan kejadian pediculosis
capitis menunjukkan bahwa nilai, dengan P-Value 0,016 < 0,050, yang berarti
ada hubungan antara personal hygiene dengan dengan kejadian pediculosis
kapitis di pondok pesantren ma'hadatul muta'alinin yang menunjukkan bahwa
nilai RP = 2,095(95% CI= (1,110 – 3,954). yang berarti bahwa personal hygiene
yang buruk mempunyai risiko 2,1 kali mengakibatkan kejadian pediculosis
capitis yang tinggi dari pada personal hygiene yang baik
58
2. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis di
Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin
Tabel 5.7 Tabulasi Silang Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan
Kejadian Pediculosis Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul
Mutta’alimin
Tingka Kejadian Pediculosis Capitis
t Positif Negaif Total RP
P-value
Penget 95% CI
ahuan N % N % N %
BURU
24 72,7 9 27,3 33 100 2.473
K
0,008
BAIK (1.150–
5 29.4 12 70,6 17 100
5.316)
Sumber: Data Primer & Hasil Penelitian Bulan Agustus
Berdasarkan tabel 5.7 diatas dapat diketahui bahwa responden yang
memiliki kejadian pediculosis capitis sebanyak 24 santri (72,7) pada tingkat
pengetahuan pediculosis capitis sebanyak 5 santri (29,4). Hasil analisis uji
chisquare (continuity correction) hubungan antara tingkat pengetahuan
pediculosis capitis dengan kejadian pediculosis capitis menunjukkan bahwa nilai
P-Value = 0,008< 0,050 . Maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik
ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pediculosis capitis di pondok
pesantren ma'hadatul muta'alinin dengan Nilai RP = 2,473 (95% CI= (1.150–
5.316). yang berarti bahwa tingkat pengetahuan yang buruk mempunyai risiko
2,5 kali mengakibatkan kejadian pediculosis capitis yang tinggi dari pada
tingkat pengetahuan yang baik.
59
5.3 Pembahasan
5.3.1 Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis
Berdasarkan dari hasil uji statistic yang sudah dilakukan dapat
diketahui hasil analisis uji chisquare dengan p-velue 0,016<0,05, ada
hubungan antara personal hygiene dengan dengan kejadian pediculosis
kapitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di Kecamatan
Widodaren Kabupaten Ngawi yang menunjukkan bahwa nilai RP = 2.095
(95% CI= 2.095-3.954).
Menurut penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh Susi
Darmayanti yang menyatakan bahwa Personal hygiene dengan kejadian
pediculosis capitis di SDN Kloposawit, Turi, Sleman, Yogyakarta dengan
nilai P= 0,331 yang berati tidak ada hubungan, dikarenakan responden
sudah menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh
kesejahteraan fisik dan psikologi. Pediculosis capitis mudah menyerang
semua orang yang tidak memperhatikan kebersihan tubuhnya. Kurangnya
kesadaran untuk menjaga personal hygiene dapat menigkatkan terjadinya
infestasi pediculosis capitis.
Dari penelitian yang sudah dilakukan masih banyak santri yang
belum menerapkan personal higiene dengan baik contohnya dari
kebersihan rambut kebersihan pakaian dan juga kebersihan kulitnya
Di dukung dengan kuesioner sebagai alat ukur untuk mengetahui
tingkat pengetahuan santri tentang personal hygiene, dan menunjukan
bahwa tingkat pengetahuan sebagian santri masih kuranga baik. Dari hasil
60
keterangan para santri, masih banyak santri yang pinjam meminjam
barang-barang pribadi. Dan dari wawancara kepada pengurus pesantren
sendiri sudah sering mengingatkan kepada santri untuk sering melakukan
perawatan diri (personal hygiene) namun dari kesadaran santri sendiri
kurang mananggapi nasihat dari pengurus pondok pesantren tersebut.
Untuk memperkuat, penelitian ini melakukan observasi pada
pondok pesantren tersebut, dan dari hasil observasi yang dilakukan banyak
pakaian yang menggantung di kamar,para santri juga masih melakukan
tidur bersama-sama. Manurut keterangan dari pengurus pondok pesantren
pada waktu penelitian dilaksanakan ada beberapa santri yang belum mandi
dan menurut keterangan santri tersebut karena hari libur. Maka dari itu
dapat disimpulkan kurangnya kesadaran santri kurang baik dalam menjaga
personal hygiene .
Maka dari itu untuk menjaga personal hygiene yang baik pengurus
santri membuat peraturan yang harus di taati tentang cara menjaga
perawatan diri (personal hygiene) agar di laksanakan dan ditanam pada
didiri para santri masing-masing dan manjadi kebiasaaan para santri agar
terjaga kesehatanya. Dan apabila peraturan dapat dilaksanaakan dengan
baik maka kejadian pedicuolosis capitis dapat dicegah.
5.3.2 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Pediculosis Capitis
Berdasarkan dari hasil uji stasistik dapat diketahui hasil analisis uji
chisquare bahwa nilai p-value = 0,008<0,05 . Maka dapat diambil
kesimpulan bahwa secara statistik ada hubungan antara pengetahuan
61
dengan kejadian pidiculosis capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul
Muta’alimin Di Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi dengan Nilai
RP = 2.473(95%=1.150-5.316).
Menurut penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh Anisa
Anggraini yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan mengenai
pediculosis capitis terhadap kejadian pediculosis capitis Pada Anak Asuh
Dipanti Asuhan Liga Dakwah Sumatera Barat dengan nilai P= 0,126 yang
berati tidak ada hubungan, dikarenakan seseorang yang lebih tua memiliki
pengetahuan yang lebih baik dan lebih luas, seseorang yang berusia lebih
dewasa maka pengetahuannya juga akan lebih banyak dan cenderung
untuk berperilaku lebih baik. Tingkat pengetahuan sangat erat kaitannya
dengan sikap individu, orang yang memiliki tingkat pengetahuan yang
tinggi tetapi tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak di sertai kemauan
dan tidak disikapi dengan tindakan untuk mengurangi penularannya untuk
bersikap sesuai dengan tingkat pengetahuannya maka akan meningkatkan
prevalensi suatu penyakit seperti pediculosis capitis.
Dari penelitian yang sudah dilakukan dengan menggunakan alat ukur
kuesioner, sebagian santri belum banyak mengetahui tentang pengetahuan
pediculosis capitis karena sebagian dari meraka masih berpendidikan SMP
yang belum mengetahui dampak dari penyakit pediculosis capitis tersebut
dan mungkin cuek terhadap kesehatan. Ada beberapa santri yang
mengatakan bahwa penyakit kutu kepala atau pediculosis capitis adalah
62
penyakit yang tidak awam lagi bagi santri dan sering di alami oleh santri
perempuan.
Dari hasil observasi yang dilakukan banyak santri yang memiliki
kebiasaan menggaruk kepala bila gatal, bahkan ada juga yang kepalanya
sampai luka akhibat rasa gatal dan sering menggaruk kepala. Ditambah
lagi dengan cara menyisir rambut para santri menggunakan sisir serit dan
banyak santri yang mengalami kejadian pediculosis capitis. Selain
dilakukan menyisir rambut para santri tingkat kepadatan hunian dapat
mempengaruhi kejadian pediculosis capitis dan di dalam pondok pesantren
tersebut jumlah santri dan jumlah huniannya tidak sesuai. Satu kamar
ditempati lebih dari 3 orang itu menyebabkan prevalensi penyebaran
pediculosis capitis lebih cepat ditambah lagi dengan kebiasaan-kebiasaan
yang buruk para santri.
Sebaiknya para santri untuk membiasakan diri tidak melakukan
pinjam meminjam barang pribadi dan juga mengurangii kebiasaan-
kebiasaan yang dapat menularkan penyakit. Untuk itu pengurus pondok
pesantren perlu memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para santri
tentang pentingnya menjaga kesehatan.
63
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di uraikan tentang
Hubungan Personal Hygiene dan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian
Pedikulosis Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Muta’alimin Di
Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi, peneliti dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Dari hasil penelitian, sebagian besar santri memiliki tingkat personal
hygiene buruk.
2. Dari hasil penelitian, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan tentang
pedikulosis capitis buruk.
3. Dari hasil penelitian sebagian besar santri yang mengalami kejadian
pedikulosis capitis.
4. Dari hasil analisis yang sudah dilakukan;
a. ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian Pediculosis
Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan
Widododaren Kabupaten Ngawi.
b. ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian Pediculosis
Capitis di Pondok Pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan
Widododaren Kabupaten Ngawi.
64
6.2 Saran
1. Bagi Pondok Pesantren
Bagi warga pondiok pesantren Ma’hadul Mutta’alimin Kecamatan
Widododaren Kabupaten Ngawi. sebaiknya lebih menjaga personal
hygiene atau kebersihan diri seperti memperhatikan kebersihan rambut,
kebersihan pakaian dan kebersihan kulit dan juga menambah pengetahuan
agar kejadian pediculosis capitis tidak menyebar ke lingkungan sekitar
dan luas ke wiayah yang lain.
2. Bagi STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sebuah strategi dalam pelayanan
kesehatan yang dapat untuk meningkatkan pelayanan dan sebagai bahan
kajian serta pemikiran untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat melakukan penelitian dengan berdasarkan faktor
lainnya, variabel yang berbeda, jumlah sampel yang lebih banyak, tempat
yang berbeda, desain yang lebih tepat dan tetap berpengaruh dengan
kejadian pediculosis capitis tersebut.
65
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hakim Sudarnoto. 2008. Bunga Rampaipemikiran Islam Kebangsaan.
Jakarta: Baitul Muslim.
Alatas, S S. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Pediculosis Capitis
Dengan Karakteristik Demografi Santri Pesantren X Jakarta
Timur. Skripsi dipublikasikan universitas Indonesia, Jakarta.
Anggraini Anisa, Anum Qaira, Masri Machdawaty. 2018. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Dan Personal Hygiene Terhadap Kejadian
Pediculosis Capitis Pada Anak Asuh Di Panti Asuhan Liga
Dakwah Sumatera Barat. Padang : universitas andalas padang.
Ambarawati, fitri respati. 2014. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta:
Dua Satria Offset.
Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis Kesehatan.
Universitas Muhamadiyah Semarang.
Ansyah, Achmad Nur. 2013. Hubungan Antara Personal Hygiene Dengan Angka
Kejadian Pediculosis Capitis [Ada Santri Putri Pondok Pesantren
Modern Islam Assalam Surakarta. Skripsi. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Muhamadiah Surakarta.
Bohl B. 2015. Clinical Practice update: Pediculosis Capitis. Pediatric
Nursing,41(5):227-34.
CDC. 2013. Parasites – Lice – Head Lice. [Link] Diakses tanggal
29 Maret 2018. Departement of
Darmayanti Susi. 2017. Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian
Pediculosis Capitis Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri
Klosoposawit, Turi, Sleman, Yogyakarta. Yogyakarta : Stikes Wira
Husada.
Departemen Agama.2006. Data Statistik Pesantren Di Indonesia.
[Link]/[Link], 20 Juli 2018.
Doroodgar A, Sadr F, Doroodgar M, Doroodgar M, Sayyah M. 2014. Examining
The Prevalence Rate Of Pediculus Capitis Infestation According To
Sex And Social Factors In Primary School Children. Asia Pac J
Trop.
Eliska. N. 2015. Pedikulosis Kapitis. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit
66
Dr. Mohamad Hoesin Plembang (Naskah Publikasi). Palembang.
Diakses pada tanggal 12 mei 2018.
Fan, C. K., Liao, C.W., Wu, M. S., Hu, N. Y., & Su, K. E. 2004. Prevalence Of
Pediculus Capitis Infestation Among School Children Of Chinese
Refugees Residing In Mountainouns Areas Of Northern Thailand.
The kaoshiung jurnal of medical sciences, 20 (4), 183-187.
Frankowski, Barbara L., Joseph A. Bocchini, Jr and Council on School Health and
Committee on Infectious Diseases. Head Lice. Journal Pediatrics.
Hal : 392-403.
Gandahusada Srisasi, D. Ilahude Herry, Pribadi Wita, 2003. Parasitologi
Kedokteran,( edisi ketiga). Jakarta. FKUI.
Hadidjaja, P. 2011. Dasar Parasitologi Klinik. Edisi I. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Health, victoria, Australia. 2011. Treating and controlling head lice.
[Link] Diakses tanggal 29 Maret 2014
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008,Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta:
Salemba Medika.
KEMENKES RI: nomor 829/MENKES/SK/VII/1999.
Koktruk, A., Baz, K., Bugdayci, R., Sasmaz T., Tursen U., Kaya T. I., & Ikizoglu,
G. 2003. The prevalence of pediculosis capitis in schoolchildren in
Mersin, Turkey. International journal of dermatologi.
Maryunani, A., 2013. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). In Jakarta: CV.
Trans Info Media, pp. 30-56.
Moradi AR, Zahirnia, Alipour, Eskandari Z. 2009. The Prevalance of Pediculosis
Capitis in Primary School students in Bahar, Hamadan province,
irian. JRES. 9 (1): 45-9.
Nengtyas Wahyu A. 2014. Hubungan Antara Perilaku Hiup Bersih Dan Sehat
Dengan Kejadian Pedikulosis Kapitis Pada Santri Pondok
Pesantren An-Nahdliyah Desa Kepuharjo Kecamatan Karang
Ploso Kabupaten Malang. (Skripsi). Malang: Universitas
Muhamadiyah Malang.
Nala Abu. 2003. Manfaat apotik hidup untuk perawatan kesehatan dan
kecantikan. Temanggung: yayasan bina karya temanggung.
Natadisatra D, Agoes R. 2005. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
67
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2010 Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Prof, DR Soekidjo. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan:
Jakarta: Rineka Cipta.
Nurhayati, Anin. 2010. Kurikulum inovasi telaah terhadap pengembangan
kurikulum pendidikan Pesantren. Yogyakarta: TERAS
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan petodologi penelitian ilmu keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Nuqsah. 2010. Gambaran Perilaku Personal Hygiene Santri Di Pondok
Pesantren Jihadul Ukhro Turi Kecamatan Tempuran Kabupaten
Karawang Tahun 2010 (Skripsi). Jakarta. Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.
Perry dan potter. 2010. Fundamental Perawatan. Edisi IV. Jakarta: EGC
. 2012. Fundamental Perawatan. Edisi IV. Jakarta: EGC
Ranchman Z. 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubunngan Dengan Kejadian
Pedikulosis Capitis Pada Santri Pesantren Rhodlotul Quran
Semarng. (skripsi). Semarang. Fakultas Kedokteran Diponegoro.
Sarudji, D. 2006. Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Media Ilmu
Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitaif Kualitatif dan R & B. Bandung:
Alfabeta.
Sujarweni, Wiratna. 2012. Statistik Untuk Penelitian. Yogakarta: Graha Ilmu.
Suryadharma, Ali. 2013. Paradigma Pesantren Memperluas Horizon Kajian Dan
Aksi. Malang: UIN-Maliki pers.
Suryono. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogjakarta : Nurha Medika.
68
Sutanto, Inge dkk. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran : Edisi Keempat.
Jakarta.
Tarwoto & Wartono. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Wijayanti Fitrianti. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat Dengan Angka
Kejadian Pedikulosis Kapitis Pada Santriwati Pondok Pesantren
Darul’ulum Jombang. Skripsi. Jember: Universitas Jember.
Weems, H. V. Jr. and T. R. Fasulo. 2013. Human Lice: Body Louse, Pediculus
humanus humanus Linnaeus and Head Louse, Pediculus humanus
capitis De Geer (Insecta: Phthiraptera (=Anoplura): Pediculidae).
Ifas Extension. University Of Florida.
Wijayati, Fitriana. 2007. Hubungan Antara Perilaku Sehat dengan Angka
Kejadian Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren
Darul ‘Ulum Jombang. Skripsi. Universitas Jember. Jember.
Yousefi, S, Shamsipoor F, Abadi YS. 2012. Epidemiologi Study Of Head Luose
(Pediculus Humanus Capitis) Infestation Among Primary School
Students In Rural Areas Of Sirjan Country, South Or Iran. Thrita J
Med Sci.
Yustisia, F.I. 2013. Pengetahuan Pengobatan Pediculosis Capitis Da Hubungan
Dengan Karakteristik Santri Pesantren X Di Jawa Timur.
Zarkasy, Amal Fathullah. 1998. Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan
Dan Dakwah ” Dalam Adi Sasono..(et Al). Solusi Islam Atas
Problematika Umat: (Ekonomi, Pendidikan Dan Dakwah).
Jakarta: Gema Risalah Press.
69
KUESIONER PENELITIAN
No. Responden :
Identitas Responden
Usia :
Jenis kelamin : Perempuan
Pilihlah jawaban dengan tanda silang (X)
I. Personal Higiene
A. Rambut
1. Berapa kali anda mencuci rambut dalam 1 minggu?
a. Lebih dari 3 kali b. kurang dari 3 kali
2. Apakah anda menggunakan handuk yang bersih dan kering setelah rambut
dicuci?
a. Ya b. tidak
3. Apakah pada saat mencuci rambut anda melakukan pemijatan pada seluruh
kulit kepala?
a. Ya b. tidak
4. Apakah memotong rambut-rambut merupakan personal hygiene?
a. Ya b. tidak
B. Pakaian
1. Berapa kali anda mencuci pakaian ?
a. Mencuci pakaian setiap hari
b. Mencuci pakaian 2 kali dalam seminggu
c. Mencuci pakaian kalo sudah menumpuk
2. Apakah anda menjemur pakaian yang dicuci dibawah terik matahari?
a. Ya b. tidak
3. Apakah anda mengganti baju setelah berkeringat?
a. Ya b. tidak
4. Apakah pakaian merupakan sumber penularan penyakit?
a. Ya b. tidak
5. Apakah anda mencuci pakaian dengan detergen?
a. Ya b. tidak
C. Kulit
1. Berapa kali sebaiknya mandi dalam sehari ?
a. 1 kali sehari b. 2 kali sehari
2. Bagaimana cara anda mandi ?
a. Mandi dengan air lalu menggosok kulit kemudian seluruh tubuh
disiram dengan air secukupnya.
b. Mandi dengan air dan sabun dan menggosok kulit kemudian
seluruh tubuh disiram sampai bersih.
3. Bagaimana kebiasaan anda dalam penggunaan sabun?
a. Memakai sabun sendiri.
b. Memakai sabun secara bergantian dengan anggota lain.
4. Apakah anda menggosok badan saat mandi?
a. Ya b. tidak
5. Apakah anda mandi setelah melakukan kegiatan seperti olahraga?
a. Ya b. tidak
II. Tingkat Pengetahuan Tentang Pediculosis Capitis
1. Apakah anda merasa gatal-gatal pada kepala ?
a. Ya b. tidak
2. Apakah anda memiliki kebiasaan menggaruk kepala bila gatal menyerang?
a. Ya b. tidak
3. Apakah dilingkungan anda ada teman satu asrama anda yang mempunyai
penyakit seperti ini?
a. Ya b. tidak
4. Apakah anda pernah mendapatkan penanganan untuk penyakit ini?
a. Ya b. tidak
5. Apakah anda pernah menggunakan/meinjam sisir, topi, bando, pita,
kerudung secara bergantian dengan teman anda?
a. Ya b. tidak
6. Apakah jumlah penghuni kamar pesantren anda ?
a. Lebih dari 2 orang b. kurang dari 2 orang
7. Apakah anda pernah menjemur tempat tidur / bantal yang anda pakai ?
a. Ya b. tidak
8. Berapa kali anda mencuci rambut dalam 1 minggu?
a. Lebih dari 3 kali b. kurang dari 3 kali
9. Apakah anda tidur satu tempat tidur dengan teman anda ?
a. Ya b. tidak
LEMBAR OBSERVASI
Beri tanda centang (√) pada tabel jika menurut anda benar
1. Personal hygiene
No Keterangan Kurang
Baik
baik
1 Kebersihan tangan santri (kuku tidak boleh panjang,di
sela kuku tidak ada kotoran, dan tangan terlihat bersih)
2 Kebersihan pakaian para santri (tidak menggantungkan
pakaian,pakaian kurang bersih )
3 Kebersihan tempat tidur para santri (harus rapi, sprei
sering diganti)
4 Kebersihan rambut para santri (ada ketombe, tungau,
jorok dan bau )
5 Kebersihan kulit para santri (tidak ada atau tidak
menderita penyakit kulit)
6 Keadaan sprei para santri (tidak ada jamur pada sprei)
7 Kebesihan kamar tidur para santri (tidak ada kotoran,
pakaian yang menggantung, lantai bersih, tida k
lembab)
8 Badannya bau
2. Pediculosis Capitis
No Keterangan Ya Tidak
1 Sering menggaruk kepala
2 Adanya telur pedikulosis kapitis/tumo
3 Menggaruk kepala sampai luka
4 Pernahkah Pinjam meminjam alat-alat pribadi
5 Pernahkah melihat teman anda memiliki pedikulosis
kapitis/tumo
6 Adanya ketombe di rambut
Gambar 1. Izin penelitian kepada pemilik pondok pesantren
Gambar 2. Perkenalan pada santriwati pondok pesantren
Gambar 3. Pembagian kuesioner dan Pengisian kusioner
Gambar 4. Menyisir rambut
Gambar 5. Kutu kepala/Pediculosis Capitis
Gambar 6. Kamar santri
Gambar 8 Memberikan kenang-kenangan pada pemilik pesantren
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
PERSONAL_HYGIENE *
50 100.0% 0 .0% 50 100.0%
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
PERSONAL_HYGIENE * KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS Crosstabulation
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITI
S
POSITIF NEGATIF Total
PERSONAL_HYGIEN BURU Count 22 8 30
E K
Expected Count 17.4 12.6 30.0
% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 73.3% 26.7%
%
E
BAIK Count 7 13 20
Expected Count 11.6 8.4 20.0
% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 35.0% 65.0%
%
E
Total Count 29 21 50
Expected Count 29.0 21.0 50.0
% within
100.0
PERSONAL_HYGIEN 58.0% 42.0%
%
E
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.239 1 .007
b
Continuity Correction 5.751 1 .016
Likelihood Ratio 7.336 1 .007
Fisher's Exact Test .010 .008
Linear-by-Linear
7.094 1 .008
Association
b
N of Valid Cases 50
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.40.
b. Computed only for a 2x2 table
Symmetric Measures
Value Approx. Sig.
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .356 .007
N of Valid Cases 50
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for PERSONAL_HYGIENE
5.107 1.501 17.375
(BURUK / BAIK)
For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = 2.095 1.110 3.954
POSITIF
For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = .410 .209 .806
NEGATIF
N of Valid Cases 50
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
50 100.0% 0 .0% 50 100.0%
* KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS * KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
Crosstabulation
KEJADIAN_PEDICULOS
IS_CAPITIS
POSITIF NEGATIF Total
PENGETAHUAN_PEDICUL BUR Count 24 9 33
OSIS_CAPITIS UK
Expected Count 19.1 13.9 33.0
% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 72.7% 27.3%
0%
OSIS_CAPITIS
BAIK Count 5 12 17
Expected Count 9.9 7.1 17.0
% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 29.4% 70.6%
0%
OSIS_CAPITIS
Total Count 29 21 50
Expected Count 29.0 21.0 50.0
% within
100.
PENGETAHUAN_PEDICUL 58.0% 42.0%
0%
OSIS_CAPITIS
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 8.642 1 .003
b
Continuity Correction 6.955 1 .008
Likelihood Ratio 8.759 1 .003
Fisher's Exact Test .006 .004
Linear-by-Linear
8.469 1 .004
Association
b
N of Valid Cases 50
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.14.
b. Computed only for a 2x2 table
Symmetric Measures
Value Approx. Sig.
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .384 .003
N of Valid Cases 50
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS 6.400 1.754 23.351
(BURUK / BAIK)
For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = 2.473 1.150 5.316
POSITIF
For cohort
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS = .386 .205 .730
NEGATIF
N of Valid Cases 50
Statistics
KAT
PERSONAL_HY PENGETAHUAN_PEDICULOSI KEJADIAN_PEDICULOSIS UM UM
GIENE S_CAPITIS _CAPITIS UR UR
N Valid 50 50 50 50 50
Missi
0 0 0 0 0
ng
PERSONAL_HYGIENE
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid BURUK 30 60.0 60.0 60.0
BAIK 20 40.0 40.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
PENGETAHUAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid BURUK 33 66.0 66.0 66.0
BAIK 17 34.0 34.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
KEJADIAN_PEDICULOSIS_CAPITIS
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid POSITIF 29 58.0 58.0 58.0
NEGATIF 21 42.0 42.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
UMUR
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 12 5 10.0 10.0 10.0
13 9 18.0 18.0 28.0
14 13 26.0 26.0 54.0
15 10 20.0 20.0 74.0
16 5 10.0 10.0 84.0
17 8 16.0 16.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
KAT UMUR
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 12-16 TAHUN 42 84.0 84.0 84.0
17-25 8 16.0 16.0 100.0
Total 50 100.0 100.0