0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan24 halaman

Pengembangan Pariwisata Warisan Denpasar

Dokumen tersebut membahas kajian pustaka mengenai pengembangan pariwisata warisan (heritage tourism) di Kota Denpasar. Beberapa penelitian sebelumnya meneliti potensi budaya dan sejarah Kota Denpasar untuk dijadikan daya tarik wisata, serta mengidentifikasi produk dan jalur interpretasi wisata. Dokumen ini juga membahas potensi ekonomi dan aktivitas masyarakat di pusat Kota Denpasar yang dapat dikembangkan untuk pariw

Diunggah oleh

achnia tiffany
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan24 halaman

Pengembangan Pariwisata Warisan Denpasar

Dokumen tersebut membahas kajian pustaka mengenai pengembangan pariwisata warisan (heritage tourism) di Kota Denpasar. Beberapa penelitian sebelumnya meneliti potensi budaya dan sejarah Kota Denpasar untuk dijadikan daya tarik wisata, serta mengidentifikasi produk dan jalur interpretasi wisata. Dokumen ini juga membahas potensi ekonomi dan aktivitas masyarakat di pusat Kota Denpasar yang dapat dikembangkan untuk pariw

Diunggah oleh

achnia tiffany
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN TEORI ANALISIS

2.1 Kajian Pustaka

Pada kajian pustaka ini akan memaparkan beberapa penelitian yang sudah

dilakukan serta memiliki relevansi terhadap penelitian ini. Kajian pustaka yang

diangkat dalam penelitian ini merupakan penelitian yang terkait dengan model

pengembangan heritage tourism. Ada empat penelitian memiliki lokasi yang sama

di Kota Denpasar diantaranya penelitian dari Ari, dkk (2013), Murjana (2011),

Putra, Paturusi, Widiastuti, (2016), Geriya (2011). Penelitian lainnya memiliki

fokus yang sama yaitu tentang pengembangan pariwisata warisan (heritage

tourism) diantaranya Priono (2012), Rai (2013), Sugihartoyo, dkk (2010). Untuk

lebih memperjelas dari penelitian tersebut berikut penjelasanya masing-masing.

Priono (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Identifikasi Produk

Wisata Pariwisata Kota (Urban Tourism) Kota Pangkalan Bun sebagai Urban

Heritage Tourism” dalam penelitian ini, pertama menguraikan tentang potensi

yang dimiliki oleh Kota Pangkalan Bun yang dikaji menggunakan elemen-elemen

pariwisata kota. Penelitian sebelumnya cenderung mengarah kepada

mengidentifikasi produk-produk urban tourism , karena Kota Pangkalan Bun ini

memiliki desa tradisional di tepi sungai arut dan arsitekturnya sangat unik

sehingga menciptakan domestik image yang unik dank khas.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini, dari segi metode

dan konsep sama-sama menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, guna

menginterpretasikan hasil serta temuan di lapangan. Sama-sama menggunakan

1
konsep pariwisata kota guna menjelaskan fokus penelitian. Perbedaan dari

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah, dari segi lokus yang jauh

berbeda dari segi letak geografis. Perbedaan berikutnya yaitu penelitian

sebelumnya tidak menggunakan teori destination area life cycle.

Ari, dkk (2013) dalam penelitiannya yang berjudul "Perencanaan Jalur

Interpretasi Wisata Warisan Sejarah Budaya di Pusat Kota Denpasar" pertama

penelitian ini menguraikan tentang potensi yang dimiliki oleh Kota Denpasar dari

segi sejarah maupun kebudayaannya. Penelitian ini meneliti tentang rencana jalur

interpretasi wisata yang dibagi menjadi tiga yaitu pertama, jalur interpretasi

aternatif satu (Representasi Masa Kerajaan di Pusat Kota Denpasar). Kedua, jalur

interpretasi alternatif dua (Representasi Masa Kolonial di Pusat Kota Denpasar).

Ketiga jalur interpretasi alternatif tiga (Representasi Masa Kemerdekaan di Pusat

Kota Denpasar). Tujuan dari rencana interpretasi adalah agar wisatawan

mendapatkan pesan (message) berupa pengalaman dan pemahaman tentang

perjalanan sejarah budaya di Pusat Kota Denpasar.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan

sekarang adalah sama-sama mengambil lokasi (lokus) di Pusat Kota Denpasar

dengan memanfaatkan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki oleh Kota

Denpasar. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu dari segi

tema maupun judul yang diususng oleh kedua penelitian ini berbeda, penelitian

sebelumnya mengarah pada perencanaan jalur wisata bagi wisatawan yang

berkunjung ke pusat Kota Denpasar. Sedangkan penelitian ini lebih cenderung

kepada model pengembangan heritage tourism (mengembangkan sarana dan


prasarana wisata) serta memberdayakan masyarakat lokal sebagai aktor dalam

mengembangkan pariwisata di pusat Kota Denpasar.

Rai (2013) dalam penelitiannya yang berjudul "Pengembangan Wisata

Kota Sebagai Pariwisata Masa Depan Indonesia" Penelitian ini menjelaskan

Pertama, Pariwisata perkotaan merupakan pariwisata alternatif yang perlu

dikembangkan pada masa mendatang. Pengembangan pariwisata perkotaan akan

menjadi prospek yang menjanjikan dimasa yang akan datang untuk dikembangkan

di Indonesia dengan berbagai alasan yang rasional dan dapat

dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Melihat dari segi

potensi produk wisata, Indonesia merupakan negara yang terdiri atas kepulauan

dimana setiap pulau/daerah memiliki adat istiadat, kebudayaan, sejarah, dan

peninggalan purbakala yang beragam. Inilah yang nantinya dapat dikembangkan

dan dikemas menjadi sebuah produk wisata baru khususnya di perkotaan.

Kedua, penelitian ini menjelaskan tentang potensi yang terdapat pada

sebuah kota dan dapat dikemas menjadi daya tarik wisata, yakni: (1) Balai kota:

hampir setiap kota memiliki balai kota yang sengaja dibangun untuk di gunakan

sebagai jantung pemerintahan kota. Bangunan ini biasanya dibangun dengan

arsitektur yang sangat indahnya dan memiliki karakteristik tertentu sesuai ciri

khas sebuah kota; (2) Kawasan jalan tertentu yang biasanya memiliki mitologi

tertentu seperti horor, nostalgia, historis, heroik, dan sebagainya yang biasanya

melekat dan menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap kota; (3) Monumen Kota,

yang memiliki pesan edukasi historis atau sosial dan religius yang biasanya juga

dimiliki oleh kota-kota di Indonesia; (4) Kuliner, menjadi daya tarik tersendiri
yang dapat dikemas oleh setiap kota di Indonesia untuk menjadi daya tarik wisata

yang menarik; (5) Kampus atau Universitas yang memang dirancang sebagai aset

kota yang dapat dijadikan daya tarik wisata edukasi, dan ciri ini juga dimiliki

hampir sebagian besar kota-kota di Indonesia; (6) Mall atau pusat perbelanjaan

atau pasar tradisional juga menjadi ciri khas bagi setiap kota dan akan menjadi

daya tarik yang amat penting untuk dikemas menjadi daya tarik wisata kota; (7)

Alun-alun dan taman kota adalah ruang terbuka yang biasanya menjadi daya tarik

wisata kota dan juga melekat pada identitas sebuah kota; (8) Museum Kota juga

dimiliki sebagian besar kota-kota didunia yang biasanya dikelola sebagai bagian

dari wujud pelestarian terhadap benda-benda purbakala warisan sebuah kota yang

mungkin bernilai mitos, atau warisan budaya; (9) Pasar Malam juga menjadi ciri

khas sebuah kota dan pasar malam merupakan denyut jantung perekonomian

sebuah kota, dan jika dapat dikelola secara profesional akan dapat menjadi daya

tarik wisata kota. Banyak lagi potensi daya tarik wisata kota yang dapat

dikembangkan seperti misalnya taman rekreasi dan sebagainya mengikuti

kreatifitas dan daya inovasi pemerintah kota setempat.

Ketiga, penelitian ini menjelaskan tentang motivasi wisatawan yang

melakukan pariwisata di perkotaan. Pada umumnya manusia menginginkan

keseimbangan dalam hidupnya. Keseimbangan antara pekerjaan dan waktu luang

sangat penting dimiliki bagi kehidupan manusia pada saat ini. Hal ini dibutuhkan

untuk menetralisir tingkat stres manusia dari rutinitas mereka agar pikiran mereka

bisa tenang kembali. Pada umumnya motivasi seseorang melakukan pariwisata

adalah untuk menghilangkan rasa penat akibat rutinitas pekerjaan. Motivasi


wisatawan yang berkunjung ke kota untuk berwisata itu ada beberapa hal yang

mempengaruhinya. Seperti contohnya (1) ada yang untuk menengok sanak sodara

mereka, sesekali mereka menyempatkan diri untuk berwisata di perkotaan; (2)

urusan bisnis, kota merupakan pusat kegiatan bisnis, berbagai perusahaan terdapat

di perkotaan, mereka yang biasanya melakukan kunjungan bisnis, sesekali juga

mereka melakukan kegiatan berwisata di tempat tersebut; (3) Kunjungan belajar,

khususnya bagi para pelajar, mereka melakukan kunjungan ke kota untuk

mengunjungi Universitas-universitas yang ada di kota yang diperkenalkan oleh

para guru mereka sebagai gambaran bagi para siswa tersebut untuk melanjutkan

pendidikan mereka nantinya. Disana mereka sesekali menyempatkan berkunjung

juga ke tempat wisata yang ada di kota seperti museum, mall dan tempat lainnya

yang terdapat di kota.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan

dilaksanakan yaitu sama sama berfokus terhadap pariwisata perkotaan. Penelitian

sebelumnya juga menggunakan jenis dan sumber data yang sama dengan

penelitian yang sekarang dilakukan. Selain itu juga menggunakan konsep yang

sama yaitu konsep pariwisata perkotaan. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan

penelitian yang sekarang dilakukan yaitu dari segi lokasi atau lokus penelitian.

Penelitian sebelumnya menggunakan Indonesia sebagai lokus dan mengambil

beberapa sampel antara lain Denpasar, Malang, Surabaya. Sedangkan lokus

penelitian yang dilakukan sekarang ini hanya mengambil lokasi di Kota Denpasar

dan pusat kota denpasar sebagai fokus lokasi penelitian.


Murjana (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Simpul-simpul

Ekonomi Penunjang Pelestarian Pusaka Kota Denpasar Pada Kawasa Zona Z”.

Penelitian ini membahas tentang simpul ekonomi yang terdapat di pusat Kota

Denpasar. Nilai ekonomi terlihat dari berbagai aktivitas masyarakat yang terjadi di

seputaran pusat Kota Denpasar. Ini dilihat jelas dari keberadaan pasar (Pasar

Badung), Pasar Kumbasari, Pasar Satrya, Pasar Burung), Komplek Pertokoan

Gajah Mada, beberapa Kantor Perbankan, dan Hotel. Kegiatan transaksi

tradisional (jual-beli) terlihat pada setiap pasar dan Pertokoan Gajah Mada.

Berbagai jenis barang dagangan khususnya untuk keperluan sehari hari terdapat

disini. Keunikan lain yang kini mulai bangkit yaitu pasemetonan china sebagai

pengembangan image ‘pecinan’ pada zona heritage.

Keunikan lainnya yang terdapat di sini yaitu pasemetonan India dalam

pengembangan image ‘gujarat’ yang pada masa sejarah sangat terkenal dengan

aktivitas dagang anatara Indonesia dengan India atau yang lebih dikenal dengan

pedagang dari Gujarat. Keunikan berikutnya menjelaskan tentang keberadaan

Hotel Inna Bali yang terletak tidak jauh dari pasar yaitu di jalan Veteran. Hotel ini

merupakan peninggalan pada masa penjajahan Belanda yang saat ini masih terjaga

dan terpelihara dengan baik. Konservasi terhadap hotel ini sangat perlu dilakukan

untuk menjaga nilai sejarah, dan keberadaan hotel ini perlu dikembangkan image

‘hotel bersejarah’. Selain itu benda bersejarah yang mendukung keberadaan hotel

ini perlu disinergikan agar kesan pada masa kolonial masih tetap terjaga. Benda

bersejarah tersebut dapat dijadikan sebagai bagian dari daya tarik bagi wisatawan

untuk berkunjung dan menginap di hotel terseut.


Penelitian ini nantinya akan dijadikan sebuah acuan dalam

mengembangkan sebuah model produk pariwisata di pusat Kota Denpasar.

Melalui penelitian ini, semua permasalahan terutamanya tentang simpul

perekonomian masyarakat lokal dapat dianalisis terutama mata pencaharian

masyarakat, prtisipasi masyarakat, serta peluang usaha yang dapat dikembangkan

nantinya bila pariwisata telah masuk sebagai industry baru dalam mensejahterakan

masyarakat. Melalui penelitian ini juga digunakan untuk menentukan data apa

yang nantinya harus dikumpulkan guna memenuhi dan menyempurnakan

penelitian ini. Persamaan dari penelitian ini yaitu pusat Kota Denpasar khususnya

jalur kegiatan city tour sebagai obyek penelitian, serta permasalahan lain yang

terdapat disini seperti: masalah mata pencaharian masyarakat, keberadaan etnis-

etnis, serta potensi Kota Denpasar sebagai heritage tourism.

Geriya (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “ Museum, Monumen

Diorama Puputan Badung Asa Pusaka Kota Denpasar”. Penelitian sebelumnya

menjelaskan tentang potensi pusaka yang dimiliki oleh Kota Denpasar. Potensi

pusaka pusat Kota Denpasar sangat beragam seperti; pusaka arkeologi, pusaka

sejarah, pusaka permukiman urban, yang mencakup pusaka tangible dan

intangible. Potensi ini hadir sebagai kekayaan tinggalan masa lalu yang

keberadaanya masih terjaga hingga sekarang. Kemudian museum, monumen dan

diorama dijadikan sebuah modal dalam mengapresiasikan budaya, sosial, dan

spiritual yang luhur serta dijadikan pula sebagai Asa Pusaka Kota Denpasar masa

depan.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu sama-sama

memanfaatkan potensi pusaka sebagai objek penelitian. Kesamaan tempat dan

teknik analisis yang digunakan. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan

penelitian ini yaitu dari segi judul dan tema yang diusung oleh kedua penelitian

ini. Penelitian sebelumnya memanfaatkan peninggalan pusaka sebagai simbol

pemahaman rakyat Denpasar tentang darma negara dan bela negara. Penelitian ini

memanfaatkan potensi pusaka sebagai daya tarik wisata di Kota Denpasar.

Putra, Paturusi, Widiastuti, (2016) dalam penelitiannya yang berjudul "

Titik-titik Simpul Potensi Heritage Tourism Kota Denpasar" dalam penelitian ini

pertama, mencoba melihat berbagai potensi serta latar belakang warisan budaya di

Denpasar. Kota Denpasar memiliki berbagai macam peninggalan sejarah yang

mana potensi tersebut dapat dijadikan sebagai heritage tourism. Melalui potensi

tersebut penelitian ini mencoba merencanakan sebuah paket wisata dengan

memanfaatkan warisan budaya sebagai daya tarik wisata.

Kedua, paket wisata tersebut berupa Denpasar Heritage Track yang mana

paket ini terbagi menjadi dua yaitu: Paket DHT Sanur dan Paket DHT Denpasar.

Adapun paket rintisan ini adalah Paket DHT Sanur (Bali Beach, Cagar Budaya

Prasasti Blanjong, Pasar Tradisional Intaran, Bajra Sandhi, Museum Le Mayour

dan kembali ke Bali Beach). Berikutnya, Paket DHT Denpasar (Inna Bali Hotel,

Patung Catur Muka, Patung Puputan Badung, Pura Jagatnatha, Puri Agung Jro

Kuta, Pura Maospahit, Jalan Gajah Mada, dan terakhir kembali ke Inna Bali

Hotel).
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu sama-sama

memanfaatkan potensi pusaka sebagai objek penelitian. Kesamaan tempat dan

teknik analisis yang digunakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya yaitu Penelitian sebelumnya meneliti tentang titik simpul yang

berpotensi dikembangkan sebagai heritage tourism. Penelitian yang dilakukan

sekarang lebih cenderung pada model heritage tourism yang cocok dikembangkan

di Pusat Kota Denpasar.

Sugihartoyo, dkk (2010) dalam penelitiannya yang berjudul "Strategi

Pengembangan Wisata Kota Tua Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Urban

Heritage: Studi Kasus Koridor Kali Besar, Jakarta Barat". Pertama, penelitian ini

menjelaskan tentang potensi yang dimiliki oleh Kota Tua Jakarta. Kawasan Kota

Tua Jakarta, dahulu dikenal dengan sebutan "Oud Batavia" merupakan bagian

penting dalam sejarah pembentukan dan perkembangan Kota Jakarta. Kota Tua

Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi dan pusat kegiatan pemerintahan baik

pada masa kekuasaan Pangeran Jayakarta, Potugis, Belanda dan Cina. Bahkan

pada masa Kolonialisme Belanda, Batavia dikenal sebagai pelabuhan yang sangat

ramai dan bayak didatangi pelaut-pelaut dan pedagang asing untuk mendapatkan

rempah-rempah. Salah satu kawasan Kota Tua yang merupakan cermin sejarah

Kota Jakarta yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata kota

tua adalah Kali Besar atau De Groote Rivier.

Kawasan ini dibagi dua oleh aliran Sungai Ciliwung menjadi Jl. Kali Besar

Timur dan Jl. Kali Besar Barat. Sebagai pusat benteng Kota Batavia, pada masing-

masing ruas jalan tersebut berjajar situs peninggalan Kota Tua Batavia berupa
bangunan-bangunan dari abad 17 dan 18. Sejumlah bangunan yang saat ini masih

berdiri dengan ciri khas bangunan Eropa tempo dulu adalah Gedung Asuransi

Lloyd, Standard Chartered Bank, PT. Samudra Indonesia, PT. Bhanda, Graha

Raksa, dan Toko Merah. Kedua, penelitian ini membahas tentang strategi dalam

merencanakan Kota Tua Jakarta sebagai salah satu upaya pelestarian urban

heritage. Variabel penelitian yang digunakan mencakup beberapa aspek, yaitu

kondisi fisik bangunan, sarana dan prasarana penunjang kegiatan, lalu lintas serta

aksesibilitas, dan kondisi lingkungan, baik alamiah maupun buatan, termasuk di

dalamnya kondisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan lingkungan.

Penilaian dilakukan melalui pengamatan langsung, penyebaran kuesioner

dan wawancara. Didukung dengan data sekunder yang diperoleh. Data variabel

penelitian yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan analisis

SWOT. Analisis SWOT merupakan teknik analisis yang digunakan untuk

menyusun suatu strategi. Strategi diperoleh dengan cara melakukan analisis

internal dan eksternal untuk mengetahui faktor-faktor strength, weakness,

opportunity serta threat yang dimiliki oleh obyek studi. Kemudian tiap faktor

dimasukkan kedalam mariks SWOT sehingga keluarlah strategi pengembangan

SO, ST, WO dan WT yang diharapkan.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan

sekarang, sama-sama mengambil fokus tentang Urban Heritage . Dimana sama-

sama memanfaatkan peninggalan-peninggalan yang terdapat kota, baik dari segi

budaya, alam, dan peninggalan sejarah dijadikan sebuah daya tarik wisata. Hal ini

dilakukan untuk melestarikan warisan yang dimiliki oleh kota serta sebagai salah
satu sumber untuk meningkatkan perekonomian khususnya bagi masyarakat kecil.

Persamaan berikutnya, menggunakan konsep, jenis data, dan sumber data yang

sama. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan

sekarang yaitu lokusnya yang berbeda. Penelitian sebelumnya mengambil Kota

Tua sebagai lokasi penelitian, sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang

mengambil pusat Kota Denpasar sebagai lokasi penelitian. Perbdaan berikutnya

yaitu dari segi teknik analisis data yang digunakan. Penelitian sebelumnya

menggunakan matrik SWOT guna menjawab segala permasalahan, sedangakan

penelitian sekarang menggunakan Deskritif Kualitatif untuk menjabarkan dan

menjawab permasalahan yang diteliti.

2.2 Konsep

2.2.1 Model Pengembangan Pariwisata

Model merupakan sebuah kerangka konseptual dalam memvisualisasikan

sebuah peristiwa dan sebagai pedoman dalam melakukan sebuah kegiatan.

Komarudin, (2000) ada beberapa pemahaman tentang model sebagai berikut: (1)

Model dapat diartikan sebagai tipe atau desain; (2) Model juga dapat diartikan

sebagai suatu deskripsi atau analogi yang digunakan untuk membantu proses

visualisasi sesuatu yang tidak dapat langsung diamati; (3) Model merupakan

sebuah sistem yang saling berkaitan, karena memiliki suatu fungsi masing-masing

dalam menjalankan tugasnya. Model mengacu pada asumsi-asumsi, data, dan

refrensi-refrensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu

objek atau peristiwa; (4) Model merupakan suatu desain yang disederhanakan

yang berasal dari realita; (5) Model merupakan suatu sistem yang dideskripsikan
secara imajinatif; (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan

menunjukan sifat bentuk aslinya.

Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian atau upaya untuk

mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya khususnya di

bidang pariwisata, serta mengintegrasikan segala bentuk aspek yang berkaitan

secara langsung maupun tidak langsung demi kelangsungan pengembangan

pariwisata. Swarbrooke, (1996) Terdapat beberapa jenis pengembangan, yaitu :

1. Membangun atraksi baru pada situs yang tadinya tidak digunakan sebagai

tempat atraksi.

2. Membangun atraksi baru ataupun yang sudah ada pada situs yang

sebelumnya telah digunakan sebagai tempat atraksi.

3. Melakukan revitalisasi terhadap sebuah atraksi menjadi lebih inovatif namun

tanpa mengurangi makna yang terdapat dalam atraksi tersebut guna menarik

kunjungan wisatawan lebih banyak. Selain itu juga menciptakan pangsa

pasar baru bagi wisatawan, agar kunjungannya lebihh bertambah.

4. Pengembangan baru pada keberadaan atraksi yang bertujuan untuk

meningkatkan fasilitas pengunjung atau mengantisipasi meningkatnya

pengeluaran sekunder oleh pengunjung.

5. Menciptakan kegiatan-kegiatan baru yang lebih variatif atau kegiatan yang

berpindah dari satu tempat ke tempat lain dimana kegiatan tersebut

menawarkan berbagai fasilitas yang menarik agar merasa puasdan nyaman

dalam menikmati sebuah atraksi wisata.


Menurut Inskeep (1991:94) daya tarik dapat dibagi menjadi 3 kategori,

yaitu

a) Natural attraction : atraksi wisata yang terbentuk secara alami

b) Cultural attraction : atraksi yang terbentu dari proses cipta, karsa, dan

karya manusia

c) Special types of attraction : merupakan atraksi buatan seperti theme park,

circus, shopping. Yang termasuk dalam natural attraction diantaranya

iklim, pemandangan, flora dan fauna serta keunikan alam lainnya.

Sedangkan cultural attraction mencakup sejarah, arkeologi, religi dan

kehidupan tradisional. Seprti yang kita temukan di pusat Kota Denpasar,

yang termasuk Natural attraction yaitu sungai badung. Berikutnya yang

termasuk Cultural attraction yaitu Museum Bali, pertokoan Gajah Mada,

Pura, Puri, dan Taman Puputan Badung. Terakhir yang termasuk Special

types of attraction yaitu Ramayana Malls, Matahari Malls, Robinson

Malls.

Model pengembangan pariwisata merupakan gambaran dalam

mengilustrasikan peristiwa dengan memadukan potensi yang ada dan dijadikan

sebuah produk baru khususnya di dunia pariwisata. Model merupakan suatu

gambaran sementara yang menginterpretasikan sebuah kegiatan yang akan

dilakukan. Dalam hal ini model yang dimaksud yaitu Heritage Tourism. Model ini

melibatkan berbagai potensi yang di miliki kota khususnya Kota Denpasar yang

berkaitan dengan warisan perkotaan. Contoh warisan perkotaan seperti Museum,

Taman Kota, Pasar Tradisional, serta Peninggalan kolonial. Potensi tersebut


dipadukan dengan keterlibatan masyarakat sebagai aktor dalam berjalannya

kegiatan pariwisata di Kota Denpasar.

2.2.2 Pariwisata Perkotaan

Konsep pariwisata perkotaan berkembang seiring dengan perkembangan

pariwisata perkotaan di seluruh dunia. Kota sejarah sebenarnya sudah mulai

berkembang sejak abad ke-16 (Ashworth dan Tunbridge, 1990), sedangkan

konsep kota sejarah sebagai sumber daya pariwisata berkembang seiring dengan

perkembangan pariwisata perkotaan (Ashworth dan Tunbridge, 1990). Konsep

kota wisata sejarah merupakan konsep pariwisata perkotaan yang menjadikan

peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisatanya. Komponen-komponen dari kota

wisata peninggalan sejarah ini antara lain lingkungan dengan arsitektur sejarah

dan morfologi perkotaan, artefak budaya, serta keindahan artistik yang merupakan

bahan baku dari konsep ini (Ashworth dan Tunbridge, 1990). Konsep pariwisata

perkotaan ini harus memperhatikan upaya-upaya konservasi terhadap peninggalan

sejarah di kota. Penentuan jenis kegiatan wisata sejarah dan segmen pasar

wisatawan yang akan dituju harus disesuaikan dengan karakteristik dan sifat

peninggalan sejarah yang dijadikan daya tarik wisata (Ashworth dan Tunbridge,

1990).

Selain itu konsep kota budaya seringkali diidentikkan dengan kota sejarah

atau kota heritage. Komponen-komponen kota yang dijadikan acuan untuk

dijadikan daya tarik wisata utama bagi kota-kota budaya adalah: 1) museum dan

wisata heritage, 2) distrik-distrik budaya (pecinan, kampong arab), 3) masyarakat

etnis, 4) kawasan hiburan, 5) wisata ziarah, 6) trail sastra (Evans dalam Richards
dan Wilson, 2007). Sama dengan konsep kota sejarah, pengembangan konsep kota

budaya juga mengutamakan upaya konservasi asset budaya, baik itu yang

bersifat tangible maupun intangible. Pada konsep kota budaya ini, wisatawan

memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat budaya di

kota yang dikunjunginya.

Konsep kota kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1990 di Inggris dan

selalu dikaitkan dengan pariwisata budaya. Kota kreatif merupakan bentuk

generasi baru dari pariwisata perkotaan. UNESCO telah menetapkan kota-kota

kreatif di dunia pada tahun 2001. Kota kreatif ditetapkan berdasarkan kriteria

tertentu untuk masing-masing spektrum industri kreatif (new urban tourism)

(Richard and Wilson, 2008). Urban ecotourism merupakan konsep pariwisata

perkotaan yang berwawasan lingkungan. Konferensi Internasional tentang Urban

Ecotourism pada tahun 2004 menghasilkan deklarasi tentang urban ecotourism.

Isi deklarasi tersebut menyatakan bahwa urban ecotourism dikembangkan untuk

tujuan:

· Memulihkan dan mengkonservasi warisan alam dan budaya, termasuk lanskap


alam dan keanekaragaman hayati dan juga budaya asli.
· Memaksimalkan manfaat lokal dan melibatkan masyarakat kota sebagai
pemilik, investor, tamu, dan pemandu. Semua proses perencanaan harus
dikerjakan langsung oleh masyarakat lokal, agar masyarakat terberdayakan
sehingga tidak lagi ada kemiskinan.
· Memberikan pembelajaran kepada pengunjung dan penduduk tentang
lingkungan, sumber daya heritage, serta keberlanjutan.
· Mengurangi jejak ekologis.

Urban ecotourism sudah berkembang di Amerika (Bicycle City).

Pariwisata perkotaan secara sederhana sebagai sekumpulan sumber daya atau

kegiatan wisata yang berlokasi di kota dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas


perkotaan, serta peningalan peninggalan sejarah dan kebudayaan setempat

menjadi daya tarik wisatanya. Dalam penelitian ini urban tourism merupakan

wisata yang memanfaatkan segala potensi baik sumber daya alam maupun

manusia dan warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Pariwisata

perkotaan sangat perlu dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap

kota di manapun itu tanpa kecuali. Selain untuk meningkatkan perekonomian,

juga dapat melestarikan kebudayaan atau tempat bersejarah yang terdapatdi kota

tersebut (Klingner, 2006). Selain manfaat ekonomi dan budaya, manfaat

lingkungan juga menjadi perhatian utama dalam pariwista jenis ini. Tempat

bersejarah akan terjaga keberadaanya, lingkungannya akan dipelihara dengan

baik, mengurangi polusi udara, karena pariwisata ini lebih menekankan kepada

back to nature (kembali ke alam).

2.2.3 Heritage Tourism

Heritage Tourism merupakan wisata yang memanfaatkan

warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Heritage hadir sebagai

kesatuan dari aspek fisik suatu bangunan, ruang publik dan morfologi kota yang

diwariskan untuk generasi saat ini dan yang akan dating (Ardika, 2015).

Keberadan heritage sebagai warisan sejarah dan kebudayaan dapat menunjukkan

identitas asli sebuah kota. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan

heritage semakin tersingkir dan terlupakan akibat modernisasi yang terjadi.

Padahal apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat, tidak menutup

kemungkinan heritage tourism dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang

dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kota (Sugihartoyo, dkk, 2010).


Warisan berarti, mewarisi peradaban dari pendahulunya, dan tidak terbatas

pada bahasa, sastra dan berpikir sendiri, melainkan mencakup semua unsur fisik,

emosional, pemikiran, filsafat, agama, ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur,

termasuk semua masyarakat. Secara umum warisan perkotaan merupakan

peninggalan peninggalan yang memiliki nilai nilai sejarah, budaya yang masih

keberadaannya kemudian diwarisi untuk generasi-generasi berikutnya guna

dipelihara dan dilestarikan keberadaannya (SCTA, 2016). Melihat dari segi

potensi Kota Denpasar, warisan kota yang dimiliki ada 11 yaitu: bagunan-

bangunan/situs-situs diantaranya Kantor Walikota, Patung Catur Muka, Inna Bali

Hotel, Puri Satria, Pasar Burung Satria, Patung & Alun-Alun Puputan Badung,

Pura Jagatnatha, Museum Bali, Pasar Kumbasari & Pasar Badung, Pecinan Gajah

Mada dan Puri Pemecutan (Ari, dkk, 2013). Heritage Tourism merupakan wisata

yang memanfaatkan warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata.

Amor (2015) menegaskan bahwa ada perbedaan antara pariwisata budaya

dengan pariwisata pusaka (heritage tourism) antara lain: pariwisata budaya lebih

mengutamakan pengalaman di bidang budaya seperti pertunjukan kesenian, dan

berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Sedangakan pariwisata pusaka (heritage tourism), mengunjungi tempat-tempat

bersejarah, seperti museum, monument dan berfokus pada elemen-elemen alam

yang unik serta tinggalan sejarah dan budaya dari masa lalu. Dengan kata lain,

pariwisata pusaka dapat dianggap sebagai bagian dari pariwisata budaya.

Heritage tourism salah satu jenis pariwisata yang memanfaatkan

peninggalan sejarah, dan warisan budaya sebagai daya tarik wisata. Wisatawan
akan menikmati berbagai jenis peninggalan sejarah dan peninggalan budaya yang

terdapat pada suatau daerah. Kegiatan yang ditawarkan dalam heritage tourism ini

lebih cenderung kepada kegiatan tradisional masyarakat. Keberadaan warisan

yang terdapat di pusat Kota Denpasar menjadikan kota ini memiliki sebuah daya

tarik baru yang patut dikembangkan sebagai atraksi pariwisata.

Melihat dari segi ekonomi, dengan memanfaatkan potensi ini menjadi

sebuah daya tarik baru di Kota Denpasar, dapat membuka peluang usaha baru bagi

masyarakat. Bahkan keberadaan transpot-transpot lokal bisa dibangkitkan lagi,

dan memberikan efek ganda bagi masyarakat sekitar. Efek ganda ini akan

dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, karena tidak hanya menguntungkan

bagi mereka yang ikut terjun langsung dalam kegiatan pariwisata, namun

masyarakat lain juga akan merasakan manfaatnya tersebut. Melihat dari segi

lingkungan, keberadaan warisan budaya tersebut akan lebih terjaga dan terawat

dengan baik. Pasalnya jika warisan tersebut dikembangkan sebagai atraksi wisata,

sudah barang tentu keberadaanya akan terjaga dengan baik. Pihak terkait akan

mengupayakan dengan segala cara agar warisan ini tidak rusak dan dibuatkan

sebuah peraturan guna menjaga keberadaan warisan tersebut.


2.3 Teori

2.3.1 Teori Destination Area Life Cycle

Dalam mengembangkan pariwisata baik pengembangan destinasi, kawasan

pariwisata, maupun daya tarik wisata pada umumnya mengikuti alur atau siklus

hidup pariwisata. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan posisi pariwisata

yang akan dikembangkan. Dalam penelitian ini siklus hidup pariwisata di

guanakan untuk membahas permasalahan pertama yaitu sejauh mana

perkembangan pariwisata Kota Denpasar khususnya khususnya urban heritage

tourism. Tahapan pengembangan pariwisata (tourism area life cycle) mengacu

pada pendapat (Butler, 1980) yang dikutip oleh (Cooper and Jackson, 1997) dapat

dilihat pada Gambar 2.1 dibawah :

Gambar 2.1 Destination Area Life Cycle


Sumber: Butler, 1980
Adapun tahapannya terdiri dari:

1. Tahap eksplorasi (exploration) tahapan ini menggali potensi yang dimiliki

oleh suatu destinasi, mengacu kepada 4 A, Attraction, Acsesbilitas,

Amenities, Ancilary.

2. Tahap keterlibatan (involvement) tahapan ini mengajak semua elemen guna

(masyarakat, pemerintah dan swasta) untuk bersama merancang sebuah

strategi guna membangun dan mengkonstruksi potensi yang dimiliki. Pada

fase ini kunjungan wisatawan mulai meningkat dengan adanya beberapa

promosi dan juga sebagai awal terjadinya perubahan dari segala bidang

(ekonomi, sosial, budaya).

3. Tahap pengembangan (development) tahap ini mulai para investor melihat

peluang dengan cara berinvestasi membangun segala fasilitas penunjang

kegiatan pariwisata, dengan harapan wisatawan akan banyak berkunjung.

4. Tahap konsolidasi (consolidation) pada fase ini sudah banyak di dominasi

berbagai jenis perusahaan. Fasilitas yang tersedia semakin banyak dan

modern, sehingga fasilitas yang terdahulu mulai ditinggalkan.

5. Tahap kestabilan (stagnation) pada fase ini kapasitas daya dukung sudah

melebihi, sehingga berbagai dampak banyak ditimbulkan. Citra awal pada

suatu destinasi pada fase ini sudah mulai tergantikan dengan adanya atraksi

wisata buatan dan sudah mulai ditinggalkan oleh wisatawan.

6. Tahap penurunan kualitas (decline) pada fase ini suatu destinasi mengalami

titik kejenuhan, wisatawan mulai mengalihkan kunjungannya ke destinasi


lain. Beberapa fasilitas pariwisata telah diubah bentuk dan fungsinya

menjadi tujuan lain.

7. Tahap peremajaan kembali (rejuvenate), pada fase ini suatu destinasi perlu

adanya peremajaan seperti pembenahan fasilitas, sarana dan prasarana,

menciptakan atraksi baru, memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap

wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi tersebut.

2.4 Model Penelitian

Pariwisata Kota Denpasar saat ini mulai berbenah dalam segala aspek.

Berbagai upaya telah dilakukan guna memperbaiki pembangunan pariwisata yang

cenderung ke arah modernisasi dan kapitalis. Salah satu upaya yang dilakukan

yaitu mengembangkan pariwisata perkotaan dimana didalamnya memanfaatkan

potensi heritage dan partisipasi masyarakat sebagai sebuah model pengembangan

pariwisata yaitu heritage tourism. Model pariwisata ini merupakan sebuah

alternatif dalam menanggulangi terjadinya mass tourism. Heritage tourism

memanfaatkan potensi yang ada khususnya di pusat Kota Denpasar seperti;

peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, museum, pasar tradisional dan

kebudayaan masyarakat.

Keberadaan heritage sites di Kota Denpasar saat ini sudah mulai di

eksplorasi. Namun belum sepenuhnya di kelola dan dikembangkan menjadi daya

tarik wisata. Kota Denpasar memiliki banyak peninggalan purbakala dan

peninggalan sejarah salah seperti Museum Bali, Pura Maospahit, kawasan jalan

Gajah Mada, jalan Sulawesi dan lapangan Puputan Badung. Heritage sites

merupakan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah dan kebudayaan


masyarakat lokal yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, baik itu tangible atau

pun intangible (Salain, 2011). Keberadaan heritage sites di pusat Kota Denpasar

ini memiliki keunikan masing-masing dan terbentuk akibat proses alam dan

budaya pada masing-masing heritage sites tersebut.

Masyarakat Kota Denpasar sangat beragam, berbagai etnis, ras, dan suku

semua terdapat disini. Seperti contoh di kawasan jalan Gajah Mada dan jalan

Sulawesi, smua pertokoan tersebut dikuasai oleh etnis minoritas. Etnis yang

mendiami kawasan tersebut sebagian besar adalah etnis Cina dan etnis Arab.

Fenomena ini memberikan suatu daya tarik yang menarik di kawasan ini.

Partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan heritage tourism sangat

diutamakan. Hal ini dilakukan guna memberdayakan mereka agar memberikan

peluang ekonomi dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.

Kawasan jalan Gajah Mada ini merupakan pusat kegiatan ekonomi dan pusat

perdagangan. Peluang kerja serta lapangan kerja bagi masyarakat tersedia sangat

banyak khususnya dalam bidang pariwisata.

Beragai teknik dilakukan guna mengumpulkan data dan informasi dari

fenomena diatas. Teknik yang dilakukan berupa observasi mengenai lokasi

penelitian serta fenomena yang terjadi di lapangan, wawancara mendalam kepada

pemerintah, masyarakat, pedagang, dan masyarakat. Selain itu juga menggunakan

beberapa studi kepustakaan, serta konsep dan teori. Hasil temuan dari fenomena di

atas nantinya akan dianalisis terlebih dahulu menggunakan konsep dan teori serta

hasil di lapangan guna menemukan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian


ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Landasan pemikiran tersebut

dituangkan pada Gambar 2.2

Pariwisata Kota
Denpasar

Heritage Tourism Pariwisata Perkotaan Pengembangan


Heritage Tourism

Model Pengembangan 1. Pengembangan


1. Potensi Heritage yang sudah
Pariwisata Kota
Tourism berjalan.
2. Eksistensi Denpasar sebagai
2. Pengembangan
Heritage Heritage Tourism yang beum
Tourism berjalan

Teori Destination Area


Life Cycle

Hasil Penelitian

Rekomendasi

Gambar 2.2 Model Penelitian


117

Anda mungkin juga menyukai