BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN TEORI ANALISIS
2.1 Kajian Pustaka
Pada kajian pustaka ini akan memaparkan beberapa penelitian yang sudah
dilakukan serta memiliki relevansi terhadap penelitian ini. Kajian pustaka yang
diangkat dalam penelitian ini merupakan penelitian yang terkait dengan model
pengembangan heritage tourism. Ada empat penelitian memiliki lokasi yang sama
di Kota Denpasar diantaranya penelitian dari Ari, dkk (2013), Murjana (2011),
Putra, Paturusi, Widiastuti, (2016), Geriya (2011). Penelitian lainnya memiliki
fokus yang sama yaitu tentang pengembangan pariwisata warisan (heritage
tourism) diantaranya Priono (2012), Rai (2013), Sugihartoyo, dkk (2010). Untuk
lebih memperjelas dari penelitian tersebut berikut penjelasanya masing-masing.
Priono (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Identifikasi Produk
Wisata Pariwisata Kota (Urban Tourism) Kota Pangkalan Bun sebagai Urban
Heritage Tourism” dalam penelitian ini, pertama menguraikan tentang potensi
yang dimiliki oleh Kota Pangkalan Bun yang dikaji menggunakan elemen-elemen
pariwisata kota. Penelitian sebelumnya cenderung mengarah kepada
mengidentifikasi produk-produk urban tourism , karena Kota Pangkalan Bun ini
memiliki desa tradisional di tepi sungai arut dan arsitekturnya sangat unik
sehingga menciptakan domestik image yang unik dank khas.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini, dari segi metode
dan konsep sama-sama menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, guna
menginterpretasikan hasil serta temuan di lapangan. Sama-sama menggunakan
1
konsep pariwisata kota guna menjelaskan fokus penelitian. Perbedaan dari
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah, dari segi lokus yang jauh
berbeda dari segi letak geografis. Perbedaan berikutnya yaitu penelitian
sebelumnya tidak menggunakan teori destination area life cycle.
Ari, dkk (2013) dalam penelitiannya yang berjudul "Perencanaan Jalur
Interpretasi Wisata Warisan Sejarah Budaya di Pusat Kota Denpasar" pertama
penelitian ini menguraikan tentang potensi yang dimiliki oleh Kota Denpasar dari
segi sejarah maupun kebudayaannya. Penelitian ini meneliti tentang rencana jalur
interpretasi wisata yang dibagi menjadi tiga yaitu pertama, jalur interpretasi
aternatif satu (Representasi Masa Kerajaan di Pusat Kota Denpasar). Kedua, jalur
interpretasi alternatif dua (Representasi Masa Kolonial di Pusat Kota Denpasar).
Ketiga jalur interpretasi alternatif tiga (Representasi Masa Kemerdekaan di Pusat
Kota Denpasar). Tujuan dari rencana interpretasi adalah agar wisatawan
mendapatkan pesan (message) berupa pengalaman dan pemahaman tentang
perjalanan sejarah budaya di Pusat Kota Denpasar.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan
sekarang adalah sama-sama mengambil lokasi (lokus) di Pusat Kota Denpasar
dengan memanfaatkan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki oleh Kota
Denpasar. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu dari segi
tema maupun judul yang diususng oleh kedua penelitian ini berbeda, penelitian
sebelumnya mengarah pada perencanaan jalur wisata bagi wisatawan yang
berkunjung ke pusat Kota Denpasar. Sedangkan penelitian ini lebih cenderung
kepada model pengembangan heritage tourism (mengembangkan sarana dan
prasarana wisata) serta memberdayakan masyarakat lokal sebagai aktor dalam
mengembangkan pariwisata di pusat Kota Denpasar.
Rai (2013) dalam penelitiannya yang berjudul "Pengembangan Wisata
Kota Sebagai Pariwisata Masa Depan Indonesia" Penelitian ini menjelaskan
Pertama, Pariwisata perkotaan merupakan pariwisata alternatif yang perlu
dikembangkan pada masa mendatang. Pengembangan pariwisata perkotaan akan
menjadi prospek yang menjanjikan dimasa yang akan datang untuk dikembangkan
di Indonesia dengan berbagai alasan yang rasional dan dapat
dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Melihat dari segi
potensi produk wisata, Indonesia merupakan negara yang terdiri atas kepulauan
dimana setiap pulau/daerah memiliki adat istiadat, kebudayaan, sejarah, dan
peninggalan purbakala yang beragam. Inilah yang nantinya dapat dikembangkan
dan dikemas menjadi sebuah produk wisata baru khususnya di perkotaan.
Kedua, penelitian ini menjelaskan tentang potensi yang terdapat pada
sebuah kota dan dapat dikemas menjadi daya tarik wisata, yakni: (1) Balai kota:
hampir setiap kota memiliki balai kota yang sengaja dibangun untuk di gunakan
sebagai jantung pemerintahan kota. Bangunan ini biasanya dibangun dengan
arsitektur yang sangat indahnya dan memiliki karakteristik tertentu sesuai ciri
khas sebuah kota; (2) Kawasan jalan tertentu yang biasanya memiliki mitologi
tertentu seperti horor, nostalgia, historis, heroik, dan sebagainya yang biasanya
melekat dan menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap kota; (3) Monumen Kota,
yang memiliki pesan edukasi historis atau sosial dan religius yang biasanya juga
dimiliki oleh kota-kota di Indonesia; (4) Kuliner, menjadi daya tarik tersendiri
yang dapat dikemas oleh setiap kota di Indonesia untuk menjadi daya tarik wisata
yang menarik; (5) Kampus atau Universitas yang memang dirancang sebagai aset
kota yang dapat dijadikan daya tarik wisata edukasi, dan ciri ini juga dimiliki
hampir sebagian besar kota-kota di Indonesia; (6) Mall atau pusat perbelanjaan
atau pasar tradisional juga menjadi ciri khas bagi setiap kota dan akan menjadi
daya tarik yang amat penting untuk dikemas menjadi daya tarik wisata kota; (7)
Alun-alun dan taman kota adalah ruang terbuka yang biasanya menjadi daya tarik
wisata kota dan juga melekat pada identitas sebuah kota; (8) Museum Kota juga
dimiliki sebagian besar kota-kota didunia yang biasanya dikelola sebagai bagian
dari wujud pelestarian terhadap benda-benda purbakala warisan sebuah kota yang
mungkin bernilai mitos, atau warisan budaya; (9) Pasar Malam juga menjadi ciri
khas sebuah kota dan pasar malam merupakan denyut jantung perekonomian
sebuah kota, dan jika dapat dikelola secara profesional akan dapat menjadi daya
tarik wisata kota. Banyak lagi potensi daya tarik wisata kota yang dapat
dikembangkan seperti misalnya taman rekreasi dan sebagainya mengikuti
kreatifitas dan daya inovasi pemerintah kota setempat.
Ketiga, penelitian ini menjelaskan tentang motivasi wisatawan yang
melakukan pariwisata di perkotaan. Pada umumnya manusia menginginkan
keseimbangan dalam hidupnya. Keseimbangan antara pekerjaan dan waktu luang
sangat penting dimiliki bagi kehidupan manusia pada saat ini. Hal ini dibutuhkan
untuk menetralisir tingkat stres manusia dari rutinitas mereka agar pikiran mereka
bisa tenang kembali. Pada umumnya motivasi seseorang melakukan pariwisata
adalah untuk menghilangkan rasa penat akibat rutinitas pekerjaan. Motivasi
wisatawan yang berkunjung ke kota untuk berwisata itu ada beberapa hal yang
mempengaruhinya. Seperti contohnya (1) ada yang untuk menengok sanak sodara
mereka, sesekali mereka menyempatkan diri untuk berwisata di perkotaan; (2)
urusan bisnis, kota merupakan pusat kegiatan bisnis, berbagai perusahaan terdapat
di perkotaan, mereka yang biasanya melakukan kunjungan bisnis, sesekali juga
mereka melakukan kegiatan berwisata di tempat tersebut; (3) Kunjungan belajar,
khususnya bagi para pelajar, mereka melakukan kunjungan ke kota untuk
mengunjungi Universitas-universitas yang ada di kota yang diperkenalkan oleh
para guru mereka sebagai gambaran bagi para siswa tersebut untuk melanjutkan
pendidikan mereka nantinya. Disana mereka sesekali menyempatkan berkunjung
juga ke tempat wisata yang ada di kota seperti museum, mall dan tempat lainnya
yang terdapat di kota.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan
dilaksanakan yaitu sama sama berfokus terhadap pariwisata perkotaan. Penelitian
sebelumnya juga menggunakan jenis dan sumber data yang sama dengan
penelitian yang sekarang dilakukan. Selain itu juga menggunakan konsep yang
sama yaitu konsep pariwisata perkotaan. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan
penelitian yang sekarang dilakukan yaitu dari segi lokasi atau lokus penelitian.
Penelitian sebelumnya menggunakan Indonesia sebagai lokus dan mengambil
beberapa sampel antara lain Denpasar, Malang, Surabaya. Sedangkan lokus
penelitian yang dilakukan sekarang ini hanya mengambil lokasi di Kota Denpasar
dan pusat kota denpasar sebagai fokus lokasi penelitian.
Murjana (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Simpul-simpul
Ekonomi Penunjang Pelestarian Pusaka Kota Denpasar Pada Kawasa Zona Z”.
Penelitian ini membahas tentang simpul ekonomi yang terdapat di pusat Kota
Denpasar. Nilai ekonomi terlihat dari berbagai aktivitas masyarakat yang terjadi di
seputaran pusat Kota Denpasar. Ini dilihat jelas dari keberadaan pasar (Pasar
Badung), Pasar Kumbasari, Pasar Satrya, Pasar Burung), Komplek Pertokoan
Gajah Mada, beberapa Kantor Perbankan, dan Hotel. Kegiatan transaksi
tradisional (jual-beli) terlihat pada setiap pasar dan Pertokoan Gajah Mada.
Berbagai jenis barang dagangan khususnya untuk keperluan sehari hari terdapat
disini. Keunikan lain yang kini mulai bangkit yaitu pasemetonan china sebagai
pengembangan image ‘pecinan’ pada zona heritage.
Keunikan lainnya yang terdapat di sini yaitu pasemetonan India dalam
pengembangan image ‘gujarat’ yang pada masa sejarah sangat terkenal dengan
aktivitas dagang anatara Indonesia dengan India atau yang lebih dikenal dengan
pedagang dari Gujarat. Keunikan berikutnya menjelaskan tentang keberadaan
Hotel Inna Bali yang terletak tidak jauh dari pasar yaitu di jalan Veteran. Hotel ini
merupakan peninggalan pada masa penjajahan Belanda yang saat ini masih terjaga
dan terpelihara dengan baik. Konservasi terhadap hotel ini sangat perlu dilakukan
untuk menjaga nilai sejarah, dan keberadaan hotel ini perlu dikembangkan image
‘hotel bersejarah’. Selain itu benda bersejarah yang mendukung keberadaan hotel
ini perlu disinergikan agar kesan pada masa kolonial masih tetap terjaga. Benda
bersejarah tersebut dapat dijadikan sebagai bagian dari daya tarik bagi wisatawan
untuk berkunjung dan menginap di hotel terseut.
Penelitian ini nantinya akan dijadikan sebuah acuan dalam
mengembangkan sebuah model produk pariwisata di pusat Kota Denpasar.
Melalui penelitian ini, semua permasalahan terutamanya tentang simpul
perekonomian masyarakat lokal dapat dianalisis terutama mata pencaharian
masyarakat, prtisipasi masyarakat, serta peluang usaha yang dapat dikembangkan
nantinya bila pariwisata telah masuk sebagai industry baru dalam mensejahterakan
masyarakat. Melalui penelitian ini juga digunakan untuk menentukan data apa
yang nantinya harus dikumpulkan guna memenuhi dan menyempurnakan
penelitian ini. Persamaan dari penelitian ini yaitu pusat Kota Denpasar khususnya
jalur kegiatan city tour sebagai obyek penelitian, serta permasalahan lain yang
terdapat disini seperti: masalah mata pencaharian masyarakat, keberadaan etnis-
etnis, serta potensi Kota Denpasar sebagai heritage tourism.
Geriya (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “ Museum, Monumen
Diorama Puputan Badung Asa Pusaka Kota Denpasar”. Penelitian sebelumnya
menjelaskan tentang potensi pusaka yang dimiliki oleh Kota Denpasar. Potensi
pusaka pusat Kota Denpasar sangat beragam seperti; pusaka arkeologi, pusaka
sejarah, pusaka permukiman urban, yang mencakup pusaka tangible dan
intangible. Potensi ini hadir sebagai kekayaan tinggalan masa lalu yang
keberadaanya masih terjaga hingga sekarang. Kemudian museum, monumen dan
diorama dijadikan sebuah modal dalam mengapresiasikan budaya, sosial, dan
spiritual yang luhur serta dijadikan pula sebagai Asa Pusaka Kota Denpasar masa
depan.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu sama-sama
memanfaatkan potensi pusaka sebagai objek penelitian. Kesamaan tempat dan
teknik analisis yang digunakan. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan
penelitian ini yaitu dari segi judul dan tema yang diusung oleh kedua penelitian
ini. Penelitian sebelumnya memanfaatkan peninggalan pusaka sebagai simbol
pemahaman rakyat Denpasar tentang darma negara dan bela negara. Penelitian ini
memanfaatkan potensi pusaka sebagai daya tarik wisata di Kota Denpasar.
Putra, Paturusi, Widiastuti, (2016) dalam penelitiannya yang berjudul "
Titik-titik Simpul Potensi Heritage Tourism Kota Denpasar" dalam penelitian ini
pertama, mencoba melihat berbagai potensi serta latar belakang warisan budaya di
Denpasar. Kota Denpasar memiliki berbagai macam peninggalan sejarah yang
mana potensi tersebut dapat dijadikan sebagai heritage tourism. Melalui potensi
tersebut penelitian ini mencoba merencanakan sebuah paket wisata dengan
memanfaatkan warisan budaya sebagai daya tarik wisata.
Kedua, paket wisata tersebut berupa Denpasar Heritage Track yang mana
paket ini terbagi menjadi dua yaitu: Paket DHT Sanur dan Paket DHT Denpasar.
Adapun paket rintisan ini adalah Paket DHT Sanur (Bali Beach, Cagar Budaya
Prasasti Blanjong, Pasar Tradisional Intaran, Bajra Sandhi, Museum Le Mayour
dan kembali ke Bali Beach). Berikutnya, Paket DHT Denpasar (Inna Bali Hotel,
Patung Catur Muka, Patung Puputan Badung, Pura Jagatnatha, Puri Agung Jro
Kuta, Pura Maospahit, Jalan Gajah Mada, dan terakhir kembali ke Inna Bali
Hotel).
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu sama-sama
memanfaatkan potensi pusaka sebagai objek penelitian. Kesamaan tempat dan
teknik analisis yang digunakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya yaitu Penelitian sebelumnya meneliti tentang titik simpul yang
berpotensi dikembangkan sebagai heritage tourism. Penelitian yang dilakukan
sekarang lebih cenderung pada model heritage tourism yang cocok dikembangkan
di Pusat Kota Denpasar.
Sugihartoyo, dkk (2010) dalam penelitiannya yang berjudul "Strategi
Pengembangan Wisata Kota Tua Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Urban
Heritage: Studi Kasus Koridor Kali Besar, Jakarta Barat". Pertama, penelitian ini
menjelaskan tentang potensi yang dimiliki oleh Kota Tua Jakarta. Kawasan Kota
Tua Jakarta, dahulu dikenal dengan sebutan "Oud Batavia" merupakan bagian
penting dalam sejarah pembentukan dan perkembangan Kota Jakarta. Kota Tua
Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi dan pusat kegiatan pemerintahan baik
pada masa kekuasaan Pangeran Jayakarta, Potugis, Belanda dan Cina. Bahkan
pada masa Kolonialisme Belanda, Batavia dikenal sebagai pelabuhan yang sangat
ramai dan bayak didatangi pelaut-pelaut dan pedagang asing untuk mendapatkan
rempah-rempah. Salah satu kawasan Kota Tua yang merupakan cermin sejarah
Kota Jakarta yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata kota
tua adalah Kali Besar atau De Groote Rivier.
Kawasan ini dibagi dua oleh aliran Sungai Ciliwung menjadi Jl. Kali Besar
Timur dan Jl. Kali Besar Barat. Sebagai pusat benteng Kota Batavia, pada masing-
masing ruas jalan tersebut berjajar situs peninggalan Kota Tua Batavia berupa
bangunan-bangunan dari abad 17 dan 18. Sejumlah bangunan yang saat ini masih
berdiri dengan ciri khas bangunan Eropa tempo dulu adalah Gedung Asuransi
Lloyd, Standard Chartered Bank, PT. Samudra Indonesia, PT. Bhanda, Graha
Raksa, dan Toko Merah. Kedua, penelitian ini membahas tentang strategi dalam
merencanakan Kota Tua Jakarta sebagai salah satu upaya pelestarian urban
heritage. Variabel penelitian yang digunakan mencakup beberapa aspek, yaitu
kondisi fisik bangunan, sarana dan prasarana penunjang kegiatan, lalu lintas serta
aksesibilitas, dan kondisi lingkungan, baik alamiah maupun buatan, termasuk di
dalamnya kondisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan lingkungan.
Penilaian dilakukan melalui pengamatan langsung, penyebaran kuesioner
dan wawancara. Didukung dengan data sekunder yang diperoleh. Data variabel
penelitian yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan analisis
SWOT. Analisis SWOT merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
menyusun suatu strategi. Strategi diperoleh dengan cara melakukan analisis
internal dan eksternal untuk mengetahui faktor-faktor strength, weakness,
opportunity serta threat yang dimiliki oleh obyek studi. Kemudian tiap faktor
dimasukkan kedalam mariks SWOT sehingga keluarlah strategi pengembangan
SO, ST, WO dan WT yang diharapkan.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan
sekarang, sama-sama mengambil fokus tentang Urban Heritage . Dimana sama-
sama memanfaatkan peninggalan-peninggalan yang terdapat kota, baik dari segi
budaya, alam, dan peninggalan sejarah dijadikan sebuah daya tarik wisata. Hal ini
dilakukan untuk melestarikan warisan yang dimiliki oleh kota serta sebagai salah
satu sumber untuk meningkatkan perekonomian khususnya bagi masyarakat kecil.
Persamaan berikutnya, menggunakan konsep, jenis data, dan sumber data yang
sama. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan
sekarang yaitu lokusnya yang berbeda. Penelitian sebelumnya mengambil Kota
Tua sebagai lokasi penelitian, sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang
mengambil pusat Kota Denpasar sebagai lokasi penelitian. Perbdaan berikutnya
yaitu dari segi teknik analisis data yang digunakan. Penelitian sebelumnya
menggunakan matrik SWOT guna menjawab segala permasalahan, sedangakan
penelitian sekarang menggunakan Deskritif Kualitatif untuk menjabarkan dan
menjawab permasalahan yang diteliti.
2.2 Konsep
2.2.1 Model Pengembangan Pariwisata
Model merupakan sebuah kerangka konseptual dalam memvisualisasikan
sebuah peristiwa dan sebagai pedoman dalam melakukan sebuah kegiatan.
Komarudin, (2000) ada beberapa pemahaman tentang model sebagai berikut: (1)
Model dapat diartikan sebagai tipe atau desain; (2) Model juga dapat diartikan
sebagai suatu deskripsi atau analogi yang digunakan untuk membantu proses
visualisasi sesuatu yang tidak dapat langsung diamati; (3) Model merupakan
sebuah sistem yang saling berkaitan, karena memiliki suatu fungsi masing-masing
dalam menjalankan tugasnya. Model mengacu pada asumsi-asumsi, data, dan
refrensi-refrensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu
objek atau peristiwa; (4) Model merupakan suatu desain yang disederhanakan
yang berasal dari realita; (5) Model merupakan suatu sistem yang dideskripsikan
secara imajinatif; (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan
menunjukan sifat bentuk aslinya.
Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian atau upaya untuk
mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya khususnya di
bidang pariwisata, serta mengintegrasikan segala bentuk aspek yang berkaitan
secara langsung maupun tidak langsung demi kelangsungan pengembangan
pariwisata. Swarbrooke, (1996) Terdapat beberapa jenis pengembangan, yaitu :
1. Membangun atraksi baru pada situs yang tadinya tidak digunakan sebagai
tempat atraksi.
2. Membangun atraksi baru ataupun yang sudah ada pada situs yang
sebelumnya telah digunakan sebagai tempat atraksi.
3. Melakukan revitalisasi terhadap sebuah atraksi menjadi lebih inovatif namun
tanpa mengurangi makna yang terdapat dalam atraksi tersebut guna menarik
kunjungan wisatawan lebih banyak. Selain itu juga menciptakan pangsa
pasar baru bagi wisatawan, agar kunjungannya lebihh bertambah.
4. Pengembangan baru pada keberadaan atraksi yang bertujuan untuk
meningkatkan fasilitas pengunjung atau mengantisipasi meningkatnya
pengeluaran sekunder oleh pengunjung.
5. Menciptakan kegiatan-kegiatan baru yang lebih variatif atau kegiatan yang
berpindah dari satu tempat ke tempat lain dimana kegiatan tersebut
menawarkan berbagai fasilitas yang menarik agar merasa puasdan nyaman
dalam menikmati sebuah atraksi wisata.
Menurut Inskeep (1991:94) daya tarik dapat dibagi menjadi 3 kategori,
yaitu
a) Natural attraction : atraksi wisata yang terbentuk secara alami
b) Cultural attraction : atraksi yang terbentu dari proses cipta, karsa, dan
karya manusia
c) Special types of attraction : merupakan atraksi buatan seperti theme park,
circus, shopping. Yang termasuk dalam natural attraction diantaranya
iklim, pemandangan, flora dan fauna serta keunikan alam lainnya.
Sedangkan cultural attraction mencakup sejarah, arkeologi, religi dan
kehidupan tradisional. Seprti yang kita temukan di pusat Kota Denpasar,
yang termasuk Natural attraction yaitu sungai badung. Berikutnya yang
termasuk Cultural attraction yaitu Museum Bali, pertokoan Gajah Mada,
Pura, Puri, dan Taman Puputan Badung. Terakhir yang termasuk Special
types of attraction yaitu Ramayana Malls, Matahari Malls, Robinson
Malls.
Model pengembangan pariwisata merupakan gambaran dalam
mengilustrasikan peristiwa dengan memadukan potensi yang ada dan dijadikan
sebuah produk baru khususnya di dunia pariwisata. Model merupakan suatu
gambaran sementara yang menginterpretasikan sebuah kegiatan yang akan
dilakukan. Dalam hal ini model yang dimaksud yaitu Heritage Tourism. Model ini
melibatkan berbagai potensi yang di miliki kota khususnya Kota Denpasar yang
berkaitan dengan warisan perkotaan. Contoh warisan perkotaan seperti Museum,
Taman Kota, Pasar Tradisional, serta Peninggalan kolonial. Potensi tersebut
dipadukan dengan keterlibatan masyarakat sebagai aktor dalam berjalannya
kegiatan pariwisata di Kota Denpasar.
2.2.2 Pariwisata Perkotaan
Konsep pariwisata perkotaan berkembang seiring dengan perkembangan
pariwisata perkotaan di seluruh dunia. Kota sejarah sebenarnya sudah mulai
berkembang sejak abad ke-16 (Ashworth dan Tunbridge, 1990), sedangkan
konsep kota sejarah sebagai sumber daya pariwisata berkembang seiring dengan
perkembangan pariwisata perkotaan (Ashworth dan Tunbridge, 1990). Konsep
kota wisata sejarah merupakan konsep pariwisata perkotaan yang menjadikan
peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisatanya. Komponen-komponen dari kota
wisata peninggalan sejarah ini antara lain lingkungan dengan arsitektur sejarah
dan morfologi perkotaan, artefak budaya, serta keindahan artistik yang merupakan
bahan baku dari konsep ini (Ashworth dan Tunbridge, 1990). Konsep pariwisata
perkotaan ini harus memperhatikan upaya-upaya konservasi terhadap peninggalan
sejarah di kota. Penentuan jenis kegiatan wisata sejarah dan segmen pasar
wisatawan yang akan dituju harus disesuaikan dengan karakteristik dan sifat
peninggalan sejarah yang dijadikan daya tarik wisata (Ashworth dan Tunbridge,
1990).
Selain itu konsep kota budaya seringkali diidentikkan dengan kota sejarah
atau kota heritage. Komponen-komponen kota yang dijadikan acuan untuk
dijadikan daya tarik wisata utama bagi kota-kota budaya adalah: 1) museum dan
wisata heritage, 2) distrik-distrik budaya (pecinan, kampong arab), 3) masyarakat
etnis, 4) kawasan hiburan, 5) wisata ziarah, 6) trail sastra (Evans dalam Richards
dan Wilson, 2007). Sama dengan konsep kota sejarah, pengembangan konsep kota
budaya juga mengutamakan upaya konservasi asset budaya, baik itu yang
bersifat tangible maupun intangible. Pada konsep kota budaya ini, wisatawan
memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat budaya di
kota yang dikunjunginya.
Konsep kota kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1990 di Inggris dan
selalu dikaitkan dengan pariwisata budaya. Kota kreatif merupakan bentuk
generasi baru dari pariwisata perkotaan. UNESCO telah menetapkan kota-kota
kreatif di dunia pada tahun 2001. Kota kreatif ditetapkan berdasarkan kriteria
tertentu untuk masing-masing spektrum industri kreatif (new urban tourism)
(Richard and Wilson, 2008). Urban ecotourism merupakan konsep pariwisata
perkotaan yang berwawasan lingkungan. Konferensi Internasional tentang Urban
Ecotourism pada tahun 2004 menghasilkan deklarasi tentang urban ecotourism.
Isi deklarasi tersebut menyatakan bahwa urban ecotourism dikembangkan untuk
tujuan:
· Memulihkan dan mengkonservasi warisan alam dan budaya, termasuk lanskap
alam dan keanekaragaman hayati dan juga budaya asli.
· Memaksimalkan manfaat lokal dan melibatkan masyarakat kota sebagai
pemilik, investor, tamu, dan pemandu. Semua proses perencanaan harus
dikerjakan langsung oleh masyarakat lokal, agar masyarakat terberdayakan
sehingga tidak lagi ada kemiskinan.
· Memberikan pembelajaran kepada pengunjung dan penduduk tentang
lingkungan, sumber daya heritage, serta keberlanjutan.
· Mengurangi jejak ekologis.
Urban ecotourism sudah berkembang di Amerika (Bicycle City).
Pariwisata perkotaan secara sederhana sebagai sekumpulan sumber daya atau
kegiatan wisata yang berlokasi di kota dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas
perkotaan, serta peningalan peninggalan sejarah dan kebudayaan setempat
menjadi daya tarik wisatanya. Dalam penelitian ini urban tourism merupakan
wisata yang memanfaatkan segala potensi baik sumber daya alam maupun
manusia dan warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Pariwisata
perkotaan sangat perlu dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap
kota di manapun itu tanpa kecuali. Selain untuk meningkatkan perekonomian,
juga dapat melestarikan kebudayaan atau tempat bersejarah yang terdapatdi kota
tersebut (Klingner, 2006). Selain manfaat ekonomi dan budaya, manfaat
lingkungan juga menjadi perhatian utama dalam pariwista jenis ini. Tempat
bersejarah akan terjaga keberadaanya, lingkungannya akan dipelihara dengan
baik, mengurangi polusi udara, karena pariwisata ini lebih menekankan kepada
back to nature (kembali ke alam).
2.2.3 Heritage Tourism
Heritage Tourism merupakan wisata yang memanfaatkan
warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Heritage hadir sebagai
kesatuan dari aspek fisik suatu bangunan, ruang publik dan morfologi kota yang
diwariskan untuk generasi saat ini dan yang akan dating (Ardika, 2015).
Keberadan heritage sebagai warisan sejarah dan kebudayaan dapat menunjukkan
identitas asli sebuah kota. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan
heritage semakin tersingkir dan terlupakan akibat modernisasi yang terjadi.
Padahal apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat, tidak menutup
kemungkinan heritage tourism dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang
dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kota (Sugihartoyo, dkk, 2010).
Warisan berarti, mewarisi peradaban dari pendahulunya, dan tidak terbatas
pada bahasa, sastra dan berpikir sendiri, melainkan mencakup semua unsur fisik,
emosional, pemikiran, filsafat, agama, ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur,
termasuk semua masyarakat. Secara umum warisan perkotaan merupakan
peninggalan peninggalan yang memiliki nilai nilai sejarah, budaya yang masih
keberadaannya kemudian diwarisi untuk generasi-generasi berikutnya guna
dipelihara dan dilestarikan keberadaannya (SCTA, 2016). Melihat dari segi
potensi Kota Denpasar, warisan kota yang dimiliki ada 11 yaitu: bagunan-
bangunan/situs-situs diantaranya Kantor Walikota, Patung Catur Muka, Inna Bali
Hotel, Puri Satria, Pasar Burung Satria, Patung & Alun-Alun Puputan Badung,
Pura Jagatnatha, Museum Bali, Pasar Kumbasari & Pasar Badung, Pecinan Gajah
Mada dan Puri Pemecutan (Ari, dkk, 2013). Heritage Tourism merupakan wisata
yang memanfaatkan warisan/peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata.
Amor (2015) menegaskan bahwa ada perbedaan antara pariwisata budaya
dengan pariwisata pusaka (heritage tourism) antara lain: pariwisata budaya lebih
mengutamakan pengalaman di bidang budaya seperti pertunjukan kesenian, dan
berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Sedangakan pariwisata pusaka (heritage tourism), mengunjungi tempat-tempat
bersejarah, seperti museum, monument dan berfokus pada elemen-elemen alam
yang unik serta tinggalan sejarah dan budaya dari masa lalu. Dengan kata lain,
pariwisata pusaka dapat dianggap sebagai bagian dari pariwisata budaya.
Heritage tourism salah satu jenis pariwisata yang memanfaatkan
peninggalan sejarah, dan warisan budaya sebagai daya tarik wisata. Wisatawan
akan menikmati berbagai jenis peninggalan sejarah dan peninggalan budaya yang
terdapat pada suatau daerah. Kegiatan yang ditawarkan dalam heritage tourism ini
lebih cenderung kepada kegiatan tradisional masyarakat. Keberadaan warisan
yang terdapat di pusat Kota Denpasar menjadikan kota ini memiliki sebuah daya
tarik baru yang patut dikembangkan sebagai atraksi pariwisata.
Melihat dari segi ekonomi, dengan memanfaatkan potensi ini menjadi
sebuah daya tarik baru di Kota Denpasar, dapat membuka peluang usaha baru bagi
masyarakat. Bahkan keberadaan transpot-transpot lokal bisa dibangkitkan lagi,
dan memberikan efek ganda bagi masyarakat sekitar. Efek ganda ini akan
dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, karena tidak hanya menguntungkan
bagi mereka yang ikut terjun langsung dalam kegiatan pariwisata, namun
masyarakat lain juga akan merasakan manfaatnya tersebut. Melihat dari segi
lingkungan, keberadaan warisan budaya tersebut akan lebih terjaga dan terawat
dengan baik. Pasalnya jika warisan tersebut dikembangkan sebagai atraksi wisata,
sudah barang tentu keberadaanya akan terjaga dengan baik. Pihak terkait akan
mengupayakan dengan segala cara agar warisan ini tidak rusak dan dibuatkan
sebuah peraturan guna menjaga keberadaan warisan tersebut.
2.3 Teori
2.3.1 Teori Destination Area Life Cycle
Dalam mengembangkan pariwisata baik pengembangan destinasi, kawasan
pariwisata, maupun daya tarik wisata pada umumnya mengikuti alur atau siklus
hidup pariwisata. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan posisi pariwisata
yang akan dikembangkan. Dalam penelitian ini siklus hidup pariwisata di
guanakan untuk membahas permasalahan pertama yaitu sejauh mana
perkembangan pariwisata Kota Denpasar khususnya khususnya urban heritage
tourism. Tahapan pengembangan pariwisata (tourism area life cycle) mengacu
pada pendapat (Butler, 1980) yang dikutip oleh (Cooper and Jackson, 1997) dapat
dilihat pada Gambar 2.1 dibawah :
Gambar 2.1 Destination Area Life Cycle
Sumber: Butler, 1980
Adapun tahapannya terdiri dari:
1. Tahap eksplorasi (exploration) tahapan ini menggali potensi yang dimiliki
oleh suatu destinasi, mengacu kepada 4 A, Attraction, Acsesbilitas,
Amenities, Ancilary.
2. Tahap keterlibatan (involvement) tahapan ini mengajak semua elemen guna
(masyarakat, pemerintah dan swasta) untuk bersama merancang sebuah
strategi guna membangun dan mengkonstruksi potensi yang dimiliki. Pada
fase ini kunjungan wisatawan mulai meningkat dengan adanya beberapa
promosi dan juga sebagai awal terjadinya perubahan dari segala bidang
(ekonomi, sosial, budaya).
3. Tahap pengembangan (development) tahap ini mulai para investor melihat
peluang dengan cara berinvestasi membangun segala fasilitas penunjang
kegiatan pariwisata, dengan harapan wisatawan akan banyak berkunjung.
4. Tahap konsolidasi (consolidation) pada fase ini sudah banyak di dominasi
berbagai jenis perusahaan. Fasilitas yang tersedia semakin banyak dan
modern, sehingga fasilitas yang terdahulu mulai ditinggalkan.
5. Tahap kestabilan (stagnation) pada fase ini kapasitas daya dukung sudah
melebihi, sehingga berbagai dampak banyak ditimbulkan. Citra awal pada
suatu destinasi pada fase ini sudah mulai tergantikan dengan adanya atraksi
wisata buatan dan sudah mulai ditinggalkan oleh wisatawan.
6. Tahap penurunan kualitas (decline) pada fase ini suatu destinasi mengalami
titik kejenuhan, wisatawan mulai mengalihkan kunjungannya ke destinasi
lain. Beberapa fasilitas pariwisata telah diubah bentuk dan fungsinya
menjadi tujuan lain.
7. Tahap peremajaan kembali (rejuvenate), pada fase ini suatu destinasi perlu
adanya peremajaan seperti pembenahan fasilitas, sarana dan prasarana,
menciptakan atraksi baru, memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap
wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi tersebut.
2.4 Model Penelitian
Pariwisata Kota Denpasar saat ini mulai berbenah dalam segala aspek.
Berbagai upaya telah dilakukan guna memperbaiki pembangunan pariwisata yang
cenderung ke arah modernisasi dan kapitalis. Salah satu upaya yang dilakukan
yaitu mengembangkan pariwisata perkotaan dimana didalamnya memanfaatkan
potensi heritage dan partisipasi masyarakat sebagai sebuah model pengembangan
pariwisata yaitu heritage tourism. Model pariwisata ini merupakan sebuah
alternatif dalam menanggulangi terjadinya mass tourism. Heritage tourism
memanfaatkan potensi yang ada khususnya di pusat Kota Denpasar seperti;
peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, museum, pasar tradisional dan
kebudayaan masyarakat.
Keberadaan heritage sites di Kota Denpasar saat ini sudah mulai di
eksplorasi. Namun belum sepenuhnya di kelola dan dikembangkan menjadi daya
tarik wisata. Kota Denpasar memiliki banyak peninggalan purbakala dan
peninggalan sejarah salah seperti Museum Bali, Pura Maospahit, kawasan jalan
Gajah Mada, jalan Sulawesi dan lapangan Puputan Badung. Heritage sites
merupakan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah dan kebudayaan
masyarakat lokal yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, baik itu tangible atau
pun intangible (Salain, 2011). Keberadaan heritage sites di pusat Kota Denpasar
ini memiliki keunikan masing-masing dan terbentuk akibat proses alam dan
budaya pada masing-masing heritage sites tersebut.
Masyarakat Kota Denpasar sangat beragam, berbagai etnis, ras, dan suku
semua terdapat disini. Seperti contoh di kawasan jalan Gajah Mada dan jalan
Sulawesi, smua pertokoan tersebut dikuasai oleh etnis minoritas. Etnis yang
mendiami kawasan tersebut sebagian besar adalah etnis Cina dan etnis Arab.
Fenomena ini memberikan suatu daya tarik yang menarik di kawasan ini.
Partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan heritage tourism sangat
diutamakan. Hal ini dilakukan guna memberdayakan mereka agar memberikan
peluang ekonomi dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Kawasan jalan Gajah Mada ini merupakan pusat kegiatan ekonomi dan pusat
perdagangan. Peluang kerja serta lapangan kerja bagi masyarakat tersedia sangat
banyak khususnya dalam bidang pariwisata.
Beragai teknik dilakukan guna mengumpulkan data dan informasi dari
fenomena diatas. Teknik yang dilakukan berupa observasi mengenai lokasi
penelitian serta fenomena yang terjadi di lapangan, wawancara mendalam kepada
pemerintah, masyarakat, pedagang, dan masyarakat. Selain itu juga menggunakan
beberapa studi kepustakaan, serta konsep dan teori. Hasil temuan dari fenomena di
atas nantinya akan dianalisis terlebih dahulu menggunakan konsep dan teori serta
hasil di lapangan guna menemukan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian
ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Landasan pemikiran tersebut
dituangkan pada Gambar 2.2
Pariwisata Kota
Denpasar
Heritage Tourism Pariwisata Perkotaan Pengembangan
Heritage Tourism
Model Pengembangan 1. Pengembangan
1. Potensi Heritage yang sudah
Pariwisata Kota
Tourism berjalan.
2. Eksistensi Denpasar sebagai
2. Pengembangan
Heritage Heritage Tourism yang beum
Tourism berjalan
Teori Destination Area
Life Cycle
Hasil Penelitian
Rekomendasi
Gambar 2.2 Model Penelitian
117