0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan16 halaman

Strategi Pembelajaran REACT dalam Kimia

Strategi pembelajaran REACT merupakan pendekatan yang membantu siswa menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, belajar secara aktif melalui pengalaman dan eksperimen, menerapkan konsep-konsep yang dipelajari, bekerja sama dalam kelompok, serta dapat mentransfer pengetahuan ke konteks baru."

Diunggah oleh

Andi Ka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan16 halaman

Strategi Pembelajaran REACT dalam Kimia

Strategi pembelajaran REACT merupakan pendekatan yang membantu siswa menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, belajar secara aktif melalui pengalaman dan eksperimen, menerapkan konsep-konsep yang dipelajari, bekerja sama dalam kelompok, serta dapat mentransfer pengetahuan ke konteks baru."

Diunggah oleh

Andi Ka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

” Strategi Pembelajara REACT (Relating, Experiencing, Applying,


Cooperating, Transfering)

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK X

KSAIPAN BONGKAOMBO A25117074

ANDIKA SU’NANG A25118089

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan


rahmat, hidayah serta anugerah nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan makalah ini. Makalah yang berjudul “Stratgri Pemeblajaran REACT
(relating, experiencing, applying, cooperating, transefering)

Dalam penyusunan makalah ini kami sadar bahwa masih banyak


kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami mengharapakan kritikan positif,
sehingga bisa diperbaiki seperlunya.

Akhirnya kami tetap berharap semoga makalah ini menjadi butir-butir


amalan kami dan bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi seluruh
pembaca.

Sese, 13 oktober 2020

Penyusun

Kelompok X
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULIAN

1.1 Latar belakang


1.2 Rumusan masalah

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Relating Experiencing Applying Cooperating


Transfering (REACT)
2.2 prinsip penerapan strategi pembelajaran REACT (Experiencing,
Aplyying, Cooperation, Transfering)
2.3 langkah-langkah pembelajaran strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering)
2.4 kelebihan dan kekuranagan strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering)
2.5 contoh penerapan strategi pembelajaran REACT (Experiencing,
Aplyying, Cooperation, Transfering) dalam pembelajaran materi kimia
sifat koligatif larutan

BAB III PENUTUP


3.1 kesimpilan
3.2 saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mata pelajaran kimia sebagai salah satu rumpun dari Ilmu Pengetahuan
Alam menuntut siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran
kimia menekankan pada cara siswa menguasai konsep-konsep dan bukan
menghafal fakta satu sama lain. Konsep-konsep kimia mempunyai tingkat
generalisasi dan abstraksi tinggi yang menyebabkan siswa mengalami kesukaran
dalam penguasaan. Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia yang tidak
terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta,
konsep, prinsip, hukum, dan teori) temuan ilmuwan dan kimia sebagai proses
(kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar
kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk.
Selain itu, pembelajaran kimia juga menekankan pada pemberian pengalaman
belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan
proses dan sikap ilmiah.

Keterampilan proses sains merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah


yang terarah dan dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip
atau teori, dan untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya
(Indrawati, 2000). Pendekatan ini sangat diperlukan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir siswa. Pendekatan ini pada dasarnya memacu pengembangan
potensi siswa berupa keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber
dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada pada diri
siswa (Dimyati, 2002). Untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa
diperlukan metode pembelajaran yang tepat. Salah satunya metode
eksperimen/praktikum yang dapat meningkatkan keterampilan proses sains.

Djamarah (2010) menyatakan bahwa praktikum akan memberikan


kesempatan pada siswa untuk mengalami sendiri, mengikuti proses, mengamati
suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu, sehingga pengalaman siswa bermakna
karena keterampilan proses sains lebih beragam dan materi yang diajarkan lebih
luas.

Strategi REACT dijabarkan oleh Crawford, bahwasannya ada lima strategi


yang harus tampak yaitu: Relating, Experiencing, Applying, Cooperating,
Transferring. Relating (mengaitkan) adalah pembelajaran dengan mengaitkan
materi yang sedang dipelajari dengan konteks pengalaman kehidupan nyata atau
pengetahuan yang sebelumnya. Experiencing (mengalami) merupakan
pembelajaran yang membuat siswa belajar dengan melakukan kegiatan (learning
by doing) melalui eksplorasi, penemuan, pencarian, aktivitas pemecahan masalah,
dan laboratorium. Applying (menerapkan) adalah belajar dengan menerapkan
konsep-konsep yang telah dipelajari untuk digunakan, dengan memberikan
latihan-latihan yang realistik dan relevan. Cooperating (bekerjasama) adalah
pembelajaran dengan mengkondisikan siswa agar bekerja sama, sharing,
merespon dan berkomunikasi dengan para pembelajar yang lainnya. Kemudian
Transferring (mentransfer) adalah pembelajaran yang mendorong siswa belajar
menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya ke dalam konteks atau situasi
baru yang belum dipelajari di kelas berdasarkan pemahaman.

Hasil penelitian yang dilakukan Ismawati (2010) menunjukkan adanya


pengaruh strategi pembelajaran REACT terhadap hasil belajar kimia siswa sebesar
33,64%. Penelitian lain yang dilakukan oleh Meita (2012) tentang pengaruh
strategi pembelajaran REACT terhadap prestasi belajar ditinjau dari keterampilan
proses sains siswa, menunjukkan hasil keterampilan proses sains kelas yang
diberikan strategi pembelajaran REACT lebih baik dibandingkan dengan kelas
yang tidak menerapkan strategi pembelajaran REACT.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka


permasalahan yang akan diambil adalah :
1. Pengertian Strategi Relating Experiencing Applying Cooperating
Transfering (REACT) ?
2. Bagaimana prinsip penerapan strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering) ?
3. Apa saja langkah-langkah pembelajaran strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering) ?
4. Apa saja kelebihan dan kekuranagan strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering) ?
5. sebutkan contoh penerapan strategi pembelajaran REACT
(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering) dalam
pembelajaran materi kimia sifat koligatif larutan
BAB II
PEBMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Relating Experiencing Applying Cooperating


Transfering (REACT)

Sounders (dalam Komalasari, 2010) menjelaskan bahwa REACT


merupakan fokusan dari pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa dan/atau mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Strategi REACT merupakan salah satu strategi pembelajaran yang
dapat membantu guru untuk menanamkan konsep pada siswa, sehingga siswa
tidak sekedar menghafal rumus, akan tetapi siswa dapat menemukan sendiri,
bekerjasama, dapat menerapkan dalam kehidupan dan dapat mentransfer dalam
konteks baru, sekaligus belajar untuk selalu mengaitkan dengan konteks.

REACT merupakan akronim dari Relating, Experiencing, Applying,


Cooperating dan Transfering. (Relating: belajar dalam konteks pengalaman hidup;
Experiencing: belajar dalam konteks pencarian dan penemuan; Applying: belajar
ketika pengetahuan diperkenalkan dalam konteks penggunaannya; Cooperating:
belajar melalui konteks komunikasi interpersonal dan saling berbagi; Transfering:
belajar penggunaan pengetahuan dalam suatu konteks atau situasi baru).

Dari penelitian Herlina, dkk (2012), Febriyanti (2014) dan peneliti


lainnya, menyebutkan bahwa Model REACT efektif meningkatkan kemampuan
matematika dan hasil belajar siswa. Hal didasarkan pada 5 kriteria yang
menyatakan efektivitas model REACT. Kriteria efektivitas model REACT
tersebut adalah:

 Siswa dapat mentransfer pengetahuan yang diperoleh di sekolah dalam


kehidupan sehari-hari dan dunia kerja
 Siswa tidak takut pada mata pelajaran matematika dan IPA (fisika, kimia,
dan biologi)
 Siswa lebih tertarik dan termotivasi serta memiliki pemahaman yang lebih
baik pada materi yang diajarkan di sekolah karena pembelajaran
dilaksanakan dengan mengaktifkan siswa secara fisik dan mental
 Materi ajar yang diajarkan di sekolah memiliki koherensi dengan
pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi)
 Hasil belajar siswa yang diperoleh dengan REACT lebih baik daripada
pembelajaran tradisional. Sehingga dinilai lebih efektif dari pembelajaran
konvensional.
 Siswa akan menjadi lebih paham pada konsep baru karena konsep-konsep
lama tidak ditinggalkan.

Strategi REACT dinilai relevan dengan pendekatan saintifik. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Herlina, dkk (2012), menyatakan mengenai pembelajaran
dengan strategi REACT mampu mengarahkan siswa untuk memulai pembelajaran
dengan mengaitkan materi pelajaran yang sedang dipelajari dengan kehidupan
sehari-hari mereka (bersifat kontekstual), siswa diarahkan untuk terlibat aktif
dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mengembangkan berfikir analitik,
kritis, mampu menemukan sendiri konsep, memecahkan masalah dan
keterampilan berkomunikasi, menyajikan ide-ide dan konsep dari segala
perspektif, mentransfer dari pengetahuan yang dibangun tentang yang diketahui
kemudian menjadi bekal untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar,
dan dalam strategi ini terdapat kelompok-kelompok belajar siswa sebagai usaha
untuk. sharing-responding-communicating dengan siswa lain secara efektif.

2.2 prinsip penerapan penerapan strategi pembelajaran REACT


(Experiencing, Aplyying, Cooperation, Transfering)

Dalam proses pembelajaran agar lebih bermakna diperlukan model


pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami ateri-materi
pelajaran. Salah satunya dengan model pembelajaran REACT yang merupakan
pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran REACT yang terdiri dari lima
tahapan:relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying
(menerapkan), cooperating (bekerja sama), transferring (mentransfer). Dimana
dalam model pembelajaran REACT menekankan pada pemberian informasi yang
berkaitan dengan informasi yang sebelumnya telah diketahui oleh siswa, sehingga
siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang disampaikan oleh guru
karena sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

a). Relating (mengaitkan/menghubungkan)


Relating (mengaitkan/menghubungkan) merupakan strategi pembelajaran
kontekstual yang paling kuat sekaligus merupakan inti dari konstruktivistik. Guru
dikatakan menggunakan strategi menghubungkan ketika guru mengaitkan konsep
baru dengan sesuatu yang tidak asing bagi siswa. Guru membantu
menghubungkan apa yang telah diketahui oleh siswa dengan informasi yang baru.

b). Experiencing (mengalami)


Experiencing (mengalami) adalah menghubungkan informasi baru dengan
berbagai pengalaman atau pengetahuan sebelumnya. Pengalaman yang dimaksud
disini adalah yang dialami siswa selama proses belajar. Experiencing ini disebut
juga learning by doing, melalui exploration (penggalian), discovery (penemuan),
dan invention (penciptaan). Relating dan experiencing merupakan dua strategi
untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari berbagai konsep baru.
Tetapi guru harus tahu kapan dan bagaimana caranya mengintegrasikan strategi-
strategi dalam pembelajaran tidaklah sederhana. Di sini guru memerlukan
ketelitian, kolaborasi dan kecermatan dalam menyajikan materi-materi
pembelajaran. Guru dapat mengetahui kapan saatnya mengaktifkan pengalaman
dan pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya, sehingga dapat membantu
menyusun pengetahuan baru bagi siswa.

c). Applying (menerapkan)


Pada strategi Applying (menerapkan) ini siswa belajar untuk menerapkan
konsep-konsep ketika mereka melakukan aktivitas pemecahan masalah. Guru
harus mampu memotivasi siswa untuk memahami konsep-konsep yang diberikan
dengan latihan-latihan yang lebih realistis dan relevan dengan kehidupan nyata.
Agar proses pembelajaran dapat menunjukkan motivasi siswa dalam mempelajari
konsep-konsep serta pemahaman siswa menjadi lebih mendalam,
merekomendasikan untuk memfokuskan pada aspek-aspek aktivitas pembelajaran
yang bermakna. Setelah itu merancang tugas-tugas untuk sesuatu yang baru,
bervariasi, beraneka ragam dan menarik. Terakhir merancang tugas-tugas yang
menantang tetapi masuk akal dalam kaitannya dengan kemampuan siswa.

d). Cooperating
Siswa yang melakukan aktivitas belajar secara individual kadang-kadang
tidak mampu menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam menyelesaikan
masalah. Belajar dalam kelompok kecil dapat membuat siswa lebih mampu
menghadapi latihan-latihan yang sulit. Mereka lebih mampu menjelaskan apa
yang mereka sudah pahami kepada teman-teman satu kelompok. Untuk
menghindari adanya siswa yang tidak berpartisipasi dalam aktivitas kelompok,
menolak atau menerima tanggung jawab atas pekerjaan kelompok, atau mungkin
kelompok yang terlalu tergantung pada bimbingan guru, atau kelompok yang
terlibat dalam konflik.

e). Transferring (mentransfer)


Dalam strategi Transferring (mentransfer) ini siswa diharapkan dapat
menggunakan pengetahuan ke dalam konteks yang baru atau situasi yang baru.
Pembelajaran diarahkan untuk menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan
dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan pengetahuan yang sudah
dimilikinya. Disini guru dituntut untuk merancang tugas-tugas untuk mencapai
sesuatu yang baru dan beraneka ragam sehingga tujuan-tujuan, minat, motivasi,
keterlibatan dan penguasaan siswa terhadap pelajaran dapat meningkat.

2.3 Langkah-langkah Pembelajaran Model REACT


langkah pembelajaran kontekstual strategi REACT diuraikan sebagai
berikut:
a). Relating (menghubungkan/mengaitkan):
Pembelajaran dimulai dengan mengaitkan konsep-konsep baru yang akan
dipelajari dengan pengalaman atau konteks kehidupan siswa. Dalam penelitian ini,
siswa akan mempelajari tentang pengaruh interaksi sosial terhadap kehidupan
sosial dan kebangsaan sub bab mobilitas sosial. Sebelum membagikan lembar
kerja siswa, terlebih dahulu dilakukan apersepsi mengenai materi pra-syarat. Pada
setiap pertemuan siswa dituntut mengerjakan LKS yang selalu dimulai dengan
ilustrasi yang relevan dengan kehidupan siswa.

b). Experiencing (mengalami)


Pada tahap ini, siswa membangun dengan mengaitkan konsep-konsep baru
dipelajarinya berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang telah ia peroleh
sebelumnya. Oleh karena itu, dalam lembar kerja siswa disajikan pernyataan dan
pertanyaan yang mendorong siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya
mengenai konsep yang disajikan dalam tahapan ilustrasi (relating).

c). Applying (menerapkan)


Tahap applying ini akan mengukur pemahaman siswa sejauh mana siswa
paham akan suatu konsep dan bagaimana siswa mengaplikasikan konsep tersebut.
Sisw dihadapkan kepada masalah-masalah yang relevan dengan kehidupannya.
Melalui permasalahan tersebut siswa mengaplikasikan konsep-konsep yang telah
ia pahami dari tahapan atau kegiatan sebelumnya.

d). Cooperating (bekerja sama)


Pembelajaran berkelompok telah dimulai saat siswa diberikan ilustrasi
yaitu pada tahap relating. Bersama teman sekelompoknya, siswa dapat saling
berbagi pengetahuan. Pada tahap ini, siswa di beri kesempatan untuk
mengemukakan gagasan-gagasannya dalam presentasi dan tanya jawab. Guru
berperan sebagai fasilitator dan menghidupkan jalannya diskusi sambil
membimbing dan meluruskan pemahaman siswa.

e). Transferring (mentransfer)


Bentuk kegiatan ini berupa pemahaman konsep yang baru bagi siswa.
Masalah yang disajikan sedikit berbeda dari masalah yang biasanya diberikan.
Letak perbedaannya bisa dari konteks yang digunakan ataupun kombinasi konsep
yang digunakan dalam penyelesaian masalah.

2.4 Kelebihan dan kekurangan pembelajaran relating, experiencing,


applying, cooperating, transferring (REACT)

2.4.1 kelebihan REACT


a) Memperdalam pemahaman siswa dalam pembelajaran siswa bukan hanya
menerima informasi yang disampaikan oleh guru, melainkan melakukan
aktivitas mengerjakan LKS sehingga bisa mengkaitkan dan mengalami
sendiri prosesnya.
b) Mengembangkan sikap menghargai diri siswa dan orang lain dalam
pembelajaran, siswa bekerja sama melakukan aktivitas dan menemukan
sendiri maka siswa memiliki rasa menghargai diri atau percaya diri
sekaligus menghargai orang lain.
c) Mengembangkan sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki belajar
dengan bekerja sama akan melahirkan komunikasi sesama siswa dalam
aktivitas dan tanggung jawab, sehingga dapat menciptakan sikap
kebersamaan dan rasa memiliki.
d) Mengembangkan keterampilan untuk masa depan. Disini siswa dilibatkan
dalam proses pemecahan masalah. Pada kenyataannya, siswa akan
dihadapkan dalam masalah-masalah ketika hidup di masyarakat. Ketika
siswa terbiasa memecahkan masalah, diharapkan siswa dapat
mengembangkan keterampilan memecahkan masalah di masa depan.27
e) Memudahkan siswa mengetahui kegunaan materi dalam kehidupan sehari-
hari. Strategi REACT menekankan proses pembelajaran dalam konteks.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran selalu mengkaitkan pengalaman
siswa dalam kehidupan sehari-hari.
f) Membuat belajar secara inklusif. Strategi REACT melibatkan siswa dalam
proses penyelesaian masalah melalui aktivitas mengalami. Selain itu,
siswa dihadapkan pada pengaplikasikan dan pentransferan konsep yang
juga merupakan aktifitas pemecahan masalah.

2.4.2 Kekurangan REACT


a) Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa dan guru dalam melakukan
aktivitas pembelajaran. Sehingga sulit untuk mencapai target kurikulum.
b) Membutuhkan kemampuan khusus guru, kemampuan guru yang paling
dibutuhkan adalah adanya keinginan untuk melakukan kreatifitas, inovasi
dan komunikasi dalam pembelajaran, sehingga tidak semua guru dapat
melakukan atau menggunakan strategi ini.
c) Menuntut sifat tertentu siswa dengan menekankan pada keaktifan siswa
untuk belajar dan guru hanya sebagai mediator. Siswa harus bekerja keras
menyelesaikan masalah dalam kegiatan experiencing dan mau bekerja
sama dalam kelompok.

2.5 contoh penerapan reach pada materi kimia sifat koligatif larutan

Tahap pertama, guru memulai pembelajaran dengan tahap relating


dengan cara orientasi di mana guru menjelaskan secara singkat gambaran
mengenai materi pokok dari kompotensi dasar misal pada materi sifat koligatif
larutan. Setelah itu menjelaskan manfaat setelah mempelajari materi sifat koligatif
larutan kemudian memberikan sebuah analogy thinking kepada siswa mengenai
sifat koligatif larutan mislanya guru menceritakan bahwa ia kemarin memasak air
menggunakan kompor setelah beberapa menit kemudian air yang direbus tersebut
mendidih, terasa panas dan memiliki banyak gelumbung dan uap air, kemudian
ibu mematikan kompor tersebut dan seketika air yang tadinya mendidih tidak
medidih lagi dan setelah beberapa menit air tersebut mengalami penurunan panas
yang tadinya panas menjadi hangat.

Pada tahap experience siswa diminta untuk membuat kesimpulan dari


kasus yang guru ceritakan sebelumnya yaitu kenaikan titik didih. Dimana, guru
meminta kesimpulan dari kenaikan titik didih, titk didih, serta apa saja yang
menyebabkan air tersebut mendidih. Setelah siswa meberikan jawaban dari
kesimpulan tersebut guru memberikan penjelasan serta arahan mengenai kenaikan
titik didih beserta contoh soalnya.

Tahap applying dimana siswa dibagi menjadi beberapa kelompok


kemudian guru memberikan buku atau LkS tentang materi sifat koligatif larutan
pada sub materi kenaikan titik didih serta siswa diminta untuk mengamati
permaslahan semisal membuat rumus atau konsep serta soal yang terdapat pada
buku atau LKS tersebut kemudian siswa mendiskusikan masalah dalam lembar
kerja yang terdapat pada buku atau LKS. Serta siswa diminta untuk menerapkan
materi yang telah dipelajari untuk dipeljari pada situasi lain yang berbeda.

Tahap cooperating atau tahap kerja sama di mana siswa yang telah
berkelompok harus melakukan lembar kerja tersebut dengan bersama-sama
dengan di awasi guru dan mengarahkan siswa untuk menyelesaikan masalah yang
disajikan melalui materi yang terdapat pada lembar kerja yang terdapat pada buku
teks. Kemudian mempersentasikan hasil diskusi dalam kelompok masing-masing
dan dievaluasi oleh guru. Kemudian siswa beserta guru menyimpulkan bersama-
sama materi kenaikan titik didih yang telah di presentasikan.

Tahap transfering dimana guru melakukan tanya jawab sambil


mengarahkan siswa untuk menemukan jawaban dari permasalah yang diberikan,
setelah itu guru bersama-sama dengan siswa mengevaluasi hasil dari permaslahan
yang telas di sajikan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
model pembelajaran REACT yang merupakan pembelajaran kontekstual.
Model pembelajaran REACT yang terdiri dari lima tahapan:relating (mengaitkan),
experiencing (mengalami), applying (menerapkan), cooperating (bekerja sama),
transferring (mentransfer). Dimana dalam model pembelajaran REACT
menekankan pada pemberian informasi yang berkaitan dengan informasi yang
sebelumnya telah diketahui oleh siswa, sehingga siswa akan lebih mudah
memahami konsep-konsep yang disampaikan oleh guru karena sering dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi REACT merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat


membantu guru untuk menanamkan konsep pada siswa, sehingga siswa tidak
sekedar menghafal rumus, akan tetapi siswa dapat menemukan sendiri,
bekerjasama, dapat menerapkan dalam kehidupan dan dapat mentransfer dalam
konteks baru, sekaligus belajar untuk selalu mengaitkan dengan konteks.

3.2 Saran
Untuk pengembangan lebih lanjut kami menyarankan agar pembaca lebih
memahami tentang strategi pembelajaran REACT yang terdiri dari lima
tahapan:relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying
(menerapkan), cooperating (bekerja sama), transferring (mentransfer). Dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

Semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi


pembaca. Kami mohon maaf apabila penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA

Akmal farid, “ pengaruh penerapan pembelajaran kimia dengan strategi REACT


terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI MAN babakan lobaksiu tegal.”
Skripsi, ( semarang,:universitas negeri semarang,2013)

Herlina, dkk (2012). “ efektivitas strategi REACT dalam upaya peningkatan


kemampuan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama.”
Jurnal fmipa. Volume no 1[online]

Isnawati. R, 2010 “pengaruh model pembelajaran inkuiri berstrategi REACT


terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI SMA Negeri 4 semarang”,
skripsi, universitas negeri malang.

Komalasari kokom. (2010) “ pembelajaran kontukestual konsep dan aplikasi .”


bandung : PT. REFIKA ADITAMA

Anda mungkin juga menyukai